Dear

Owen_Roth-July_12_2011-Rainey_Day_Wob-6451-00113_xlarge

Derit pintu masih terdengar sama ketika aku mendorongnya hingga tertutup. Kaca longgar pada kusennya menimbulkan suara yang hampir-hampir membuat orang berpikir akan ada bunyi pecahan kaca setelah ini.

Hal yang tak pernah lagi kulakukan, berusaha kulakukan.

Menyalakan lilin beraroma cokelat manis dengan pemantik yang kutemukan di meja pajangan. Lalu mengernyit, saat kudapati aku terganggu dengan aroma cokelat itu.

“Dari mana saja kau?”

Suara Donghae terdengar.

“Aku baru sadar aku benci aroma cokelat,” ucapku lalu meniup mati lilin itu.

Donghae menatap lilin yang mati, seperti ingin mengomentari. Tapi kepala laki-laki itu menggeleng dan mengeluarkan pertanyaan interogasi yang mungkin sudah disusunnya selama ini. “Kau tahu berapa kali kulihat pintu usang itu dan memastikan suatu saat kau pulang?”

“Kau tahu kalau kalau aku sekarang penggila strawberry? Lucu, ya… setelah aku pernah cerita padamu aku pernah muntah gara-gara dipaksa menenggak susu strawberry saat kecil.” Aku terkekeh seraya membuka mantelku, menanggalkannya begitu saja di ujung bangku.

Aku menarik kursi, lalu duduk.

Donghae menatapku, selama sekitar sepuluh detik.

“Kukira kau tak kembali,” ujarnya dengan suara nyaris hilang.

Aku balas menatapnya. Lalu membuka mulut, “kau tahu, aku sekarang tidak suka—”

“AKU TAK PEDULI!” bentak Donghae refleks.

Aku diam.

“Bisa tidak sih kau jawab saja pertanyaanku? Bukannya bercerita tentang apa yang kau suka dan kau tak suka? Aku butuh jawabanmu, tentang kenapa kau menghilang? Tentang bagaimana kau tahu-tahu muncul, tentang penantian dan rasa tersiksa saat menunggumu? Kenapa kau tak jawab dan justru bercerita??”

Aku menarik kursi maju dan menempelkan telunjukku di tengah meja. Mataku menatapnya dalam. “Yang kuceritakan tadi adalah….. jawabanku.”

“……..”

“Aku berubah.”

“Apa?”

“Bukan jadi power ranger atau avanger… tapi aku berubah, entah menjadi yang lebih baik atau buruk. Yang kusadari hanyalah, aku tak lagi menyukai cokelat dan terbiasa dengan strawberry. Yang kumengerti adalah, aku tak lagi kenal dengan masa laluku dan begitu saja berkutat dengan masa kini.”

Ini ekspresi yang pernah kulihat darinya. Dia terjebak dalam keterkejutan dan kesedihan yang muncul tanpa bisa dihindar.

“Lantas… kenapa kau pulang?” suaranya terdengar gersang.

Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling dapur. Merekam secepat mungkin deretan panci dan spatula yang tersusun rapi, piring-piring yang baru dipakai ditaruh di atas wastafel menunggu di cuci, dan semangkuk sawi yang masih direndam air ditaruh di atas meja.

“Aku pulang karena aku sayang.”

“Pada?” dia bertanya.

“…. mu.” Aku memakukan pandanganku pada wajahnya. “Padamu, aku sayang. Padamu, aku pulang.”

 

 

.

.

.

.

END

Hi, Sophie try to back

even it’s not the same Sophie anymore.

Because times and problems changed me so much

ask me, Why I’m back?

Because This blog like Donghae, it’s ‘a home’ to me.

 

Advertisements

4 thoughts on “Dear

    • Welcome home dear… Donghae change too, because the ‘old’ Donghae surely run to you and hug you tight.. But, people change, it’s a natural things even I prefer they (and me) change to the better version.
      But, I guess the ‘old’ Sophie (that I like so much) is still there, seperti kalimat ini: aku berubah, ga berubah kayak power ranger atau avenged tapi… Hhee..

Just talking...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s