[FF/ Oneshot/ G / Push The Wrong Button]

donghae-114

-Please, don’t push the wrong button-

.

.

.

Jadi, begini… Dong Hae baru saja menghamili anak orang.

Sst, diam! Jangan bilang siapa-siapa!

Kalau ibunya tahu, habislah dia. Tak ada lagi uang buat beli kartu Naruto atau isi pulsa internet untuk bermain Hay Day! Yang lebih buruk, tak ada lagi pujian dari Mama yang sering mengagungkan Dong Hae sebagai ‘putra kebanggaan keluarga Lee’—bahkan kakaknya, Dong Hwa saja tidak pernah dipuji begitu.

Huh, mana mungkin… Dong Hwa yang selalu mimpi buruk dan terbangun sambil nangis di tengah malam itu jadi anak kebanggaan Ayah dan Ibu? Ha to the ha to the ha to the ha… hahahaha.

Dong Hae itu anak manis; dia selalu main di dalam rumah, kalau makan tidak pernah pilih-pilih menu, dan kalau mau tidur selalu cuci tangan dan kaki, berdoa pada Yesus, serta tidak lupa mematikan lampu mengikuti gerakan hemat listrik dari pemerintah.

Menghamili anak orang itu, sungguh, sangat, amat, tidak disengaja. Sama seperti dia tidak sengaja saat memencet mesin percepatan waktu di game Hay Day hingga menghabiskan lima diamond yang susah payah dikumpulkannya. Saat itu terjadi, Dong Hae melolong penuh derita dan terpuruk di bawah kolong kasur, tidak mau keluar kamar semalaman. Dia merutuki jempolnya yang tidak becus mengontrol Android, telunjuknya yang suka asal pencet tombol, dan otaknya yang demikian tolol karena sudah membiarkan lima diamond melayang begitu saja.

Lalu apa yang bisa disimpulkan dari pengalaman Dong Hae di atas?

Iya, benar sekali, kesimpulannya: menghamili anak orang itu sama dengan salah pencet tombol.

Tombol itu, eh maksudnya, anak itu namanya Song Ji Hyo.

Dan Dong Hae baru saja salah pencet tombol Ji Hyo.

Hal itu terjadi di siang yang terik, saat dia mengaduk-aduk ransel untuk mencari album berisi koleksi kartu Naruto dan Sasuke miliknya. Dong Hae kewalahan, seluruh isi ransel dikeluarkan, ransel diputarbalikkan dan diguncang-guncangkan hingga seluruh sampah yang ditimbun dalam ransel selama dua tahun pun ikut berjatuhan turun. Namun album itu tetap tak menunjukkan batang hidungnya. Dicari sampai bagaimana pun, album itu tak ada di ransel.

Dia pun bergerak naik ke atas meja dan berteriak lantang, “siapa yang melihat album kartuku?” pada seluruh teman-temannya.

Namun tak ada yang tahu. Mereka menggelengkan kepala.

“Kami tidak tahu, Dong Hae-ah…”

“Apa ada di ranselmu?”

“Apa tertinggal di rumah?”

“Coba cari di tong sampah, mungkin dibuang Hyuk Jae, teman sebangkumu itu. Dia kan tidak suka kartu-kartu Naruto-mu. Dia lebih suka kartu Barbie Mariposa…”

Saran dari teman-temannya membuat Dong Hae semakin bingung. Dia yakin tak ada kartu itu di ransel, dan dia juga yakin membawanya ke sekolah, dan plis… Hyuk Jae itu tidak suka kartu Barbie Mariposa! Hyuk Jae sukanya kartu Frozen!

“Hei, Dong Hae… bukannya yang dipegang Ji Hyo itu albummu?” tanya Kangin menunjuk ke deretan meja paling depan, di mana segerombolan anak perempuan sedang berkumpul dan mengobrol riuh. Salah seorang diantara mereka adalah Song Ji Hyo, sang ketua kelas.

Dong Hae melompat turun dan bergerak mendekati arah meja dengan gesit. “Song Ji Hyo, itu albumku bukan?” tanya Dong Hae menunjuk album berwarna hitam dengan ukiran emas di bagian pinggir yang kini tengah dipegang Ji Hyo.

“Bukan, ini albumku.” Ji Hyo menggeleng.

“Masa?” Dong Hae tak percaya begitu saja. Dia meliuk-liuk melewati teman-teman sekelas hingga sampai di hadapan Ji Hyo. “Album itu mirip sekali dengan punyaku.”

Ji Hyo mendekap album itu erat-erat. Kedua alisnya bertaut dan bibirnya mengerucut. “Ini punyaku! Benar!”

“Sini coba kulihat…” Dong Hae mengulurkan tangan.

Tapi Ji Hyo menggeleng, menolak permintaan Dong Hae. “Kau tidak boleh lihat.”

“Kenapa?” erang Dong Hae tak terima. “Apa jangan-jangan… itu beneran albumku ya?” Mata Dong Hae memicing dan sikapnya berubah siaga.

Ji Hyo makin mendekap album itu, dia beranjak dari tempat duduk dan mundur menjauhi Dong Hae. “Bu-bukan…”

Dong Hae sering nonton kartun Detective Conan dan Detective Kindaichi, dia tahu ekspresi Ji Hyo serupa dengan ekspresi pelaku kejahatan yang sudah tertangkap basah.

Sudut bibir Dong Hae menyeringai, dia semakin yakin bahwa album di tangan Ji Hyo adalah miliknya. “Song… Ji… Hyo… tampaknya aku perlu melihat album di tanganmu untuk memastikan milik siapakah itu…” Dong Hae bergerak maju ke arah Ji Hyo.

Ji Hyo berkelit. Tubuhnya berputar menjauhi Dong Hae. “Ini albumku, dan kau tidak boleh melihatnya!” jerit gadis itu.

“Kenapa tidak boleh? Oho, aku tahu! Pasti karena di dalam album itu ada kartu-kartu Naruto-ku!” Dong Hae melompat ke arah Ji Hyo. Ji Hyo berteriak, dia lari terbirit-birit menghindari Dong Hae.

Namun bukan Dong Hae namanya kalau cepat menyerah. Dia langsung saja mengejar Ji Hyo. Saat Ji Hyo memutari kelas, dia ikut memutarinya. Saat Ji Hyo meloncat naik ke bangku, Dong Hae juga ikut meloncat. Aksi kejar-kejaran itu kontan membuat riuh teman-teman sekelasnya. Mereka bertepuk tangan, memukul-mukul meja, dan bersorak, “Ayo! Ayo! Dong Hae! Ji Hyo! Dong Hae! Ji Hyo!”

Kelas gaduh luar biasa.

Jarak antara Ji Hyo dan Dong Hae makin lama makin menipis, kaki Dong Hae yang lebih panjang dari Ji Hyo membuatnya dengan mudah menyusul ketertinggalan. Sampai akhirnya Dong Hae bisa menangkap Ji Hyo, menarik tangan Ji Hyo, memutar tubuhnya dan…

Bruk!

Mendadak Ji Hyo kehilangan keseimbangan dan jatuh ke depan, menimpa Dong Hae. Keduanya pun roboh di atas meja, dengan tubuh Ji Hyo berada di atas tubuh Dong Hae… dan bibir gadis itu menempel tepat di bibirnya!

“AAAAAAA!!!!!” lolong Ji Hyo dan Dong Hae berbarengan.

Ji Hyo langsung menjauh dan menutup bibirnya. Sementara Dong Hae berdiri dan juga langsung menghindar.

Tidak mungkin… Dong Hae baru saja mengecup bibir ketua kelasnya! Apa yang akan terjadi selanjutnya? Dong Hae tahu, ibunya pernah bilang dirinya belum boleh ciuman. Ibu bahkan bilang Dong Hae tidak boleh nonton film yang ada adegan ciumannya. Ibu tidak bilang alasan pastinya, beliau hanya menegaskan bahwa Dong Hae dilarang menonton atau pun mencontoh adegan itu karena bisa menimbulkan marabahaya besar!

“Tidak! Song Ji Hyo dan Lee Dong Hae ciuman!” teriak teman-teman lain kaget.

“Dong Hae, kau membuat Ji Hyo hamil!!” jerit murid-murid perempuan.

“A-apa, hamil!?” Dong Hae tergagap.

“Iya, kalau laki-laki dan perempuan ciuman… nanti yang perempuan bisa hamil!” tukas Ji Eun.

Dong Hae menatap Ji Hyo.

Ji Hyo juga menatap Dong Hae.

Keduanya langsung panik.

“Tidaaaak, Ibuuuu! Aku dihamili Lee Dong Hae!!” tangis Ji Hyo pecah detik itu juga.

.

.

.

.

.

.

“Apa yang akan terjadi selanjutnya padaku? Apa aku ke kapel saja minta permohonan maaf? Mengakui kesalahanku? Atau apa? Oh, aku harus bagaimana, teman-teman?” Dong Hae menggaruk-garuk kepala frustasi.

Teman-teman yang dimintai pendapat hanya bisa terduduk dengan ekspresi tolol, mereka juga sama bingungnya. Tak tahu harus bagaimana.

Album yang tadi diperbutkan Dong Hae dan Ji Hyo ternyata adalah album milik Ji Hyo. Album itu berisi foto-foto Ji Hyo saat bayi yang rencananya hanya akan ditunjukkan pada Ji Eun dan Chae Won. Itu sebabnya Ji Hyo bersikukuh tak ingin menunjukkan pada Dong Hae.

Album kartu milik Dong Hae sendiri ternyata dipinjam oleh Leeteuk tanpa ijin. Selang sepuluh menit sejak ‘insiden’, sang pelaku pencurian album datang dengan polosnya dan mengembalikan album tanpa merasa bersalah sama sekali. Dong Hae hanya bisa geleng-geleng kepala melihatnya. Mau marah, tapi tenaganya sudah menghilang, terserap habis karena memikirkan Song Ji Hyo.

“Apa Ji Hyo akan benar-benar hamil?” bisik Sungmin.

“Iya, benar. Ibuku pernah bilang hal serupa. Kalau kita mencium anak gadis, maka mereka akan hamil…” Ryeowook balas berbisik.

“Berarti perut Ji Hyo akan gendut? Seperti bola?” mata Sungmin membulat.

“Iya…” Ryeowook melirik Dong Hae. “Nanti, kalau tidak ada lagi baju yang muat di badan Ji Hyo bagaimana ya?”

Dong Hae meremat-remat tangan gelisah.

“Nanti juga Ji Hyo bakal muntah-muntah, suka minta yang aneh-aneh, dan akan suka marah-marah…” ucapan Kyuhyun makin memperparah kekhawatiran Dong Hae.

“Aku tidak bisa membayangkan ketua kelas kita yang galak itu bertambah galak…” Ryeowook menggeleng takut.

“Tapi galak saja tidak jadi masalah, Wookie-ah. Konon katanya kalau perempuan hamil, mereka juga jadi lebih cengeng. Tidak bisa dibayangkan Ji Hyo yang tomboi akan menangis terus…” Kyuhyun menyikut lengan Dong Hae dengan sadis, “dan ini semua gara-gara kau, Lee Dong Hae!”

Dong Hae mendelik. Kenapa ini jadi salahnya? Dia kan tidak sengaja mencium Ji Hyo! Itu diluar kontrol tubuhnya! Aduh, teman-temannya ini bukannya membantu malah membuatnya pusing tujuh keliling.

Dong Hae menghembuskan napas, dia melirik ke arah Ji Hyo yang duduk tak jauh darinya.

Kepala Ji Hyo tampak tertunduk dan gadis itu sesegukan kecil. Gadis itu terpukul mendapati informasi bahwa selama sembilan bulan ke depan, perutnya akan menggelembung dan dia akan punya anak. Kedua sahabatnya, Ji Eun dan Chae Won, datang menghibur tapi tak dihiraukan. Malah dia semakin menangis. Bahunya terguncang keras.

Pemandangan itu membuat napas Dong Hae tercekat. Dia merasa sangat bersalah.

Ternyata bukan hanya tangan saja yang bisa salah pencet, tapi bibirnya juga bisa salah pencet. Dan bahkan sampai bikin anak orang hamil segala.

Adududuh… Dong Hae rasanya ingin mengubur diri hidup-hidup.

.

.

.

.

.

.

 

Ketika bel berbunyi, Dong Hae segera menarik Ji Hyo menyepi dari keramaian. Ada hal penting yang harus dibicarakan pada gadis itu.

“Ji Hyo, aku akan bertanggung jawab terhadap bayi kita,” ujar Dong Hae tegas.

Ji Hyo terdiam. Bola mata hitam lecinya menatap Dong Hae dengan berkaca-kaca. “Bagaimana caranya?”

“Aku akan jadi ayah yang baik, aku akan membiayai kehidupan kamu dan bayi yang ada di perut kamu.” Dong Hae berkata dengan sungguh-sungguh, matanya menatap Ji Hyo lurus-lurus. “Aku akan jualan kartu Naruto…”

Manik mata Ji Hyo menatap Dong Hae dalam. “Kartu Naruto?”

Dong Hae mengangguk yakin. “… dan Sasuke.”

“Kartu Naruto dan Sasuke?” ulang Ji Hyo.

Dong Hae mengangguk. Sedari tadi dia sudah memikirkan jalan keluar untuk masalah ini. Dia akan bertanggung jawab atas masa depan Ji Hyo. Untuk itu dia akan mengorbankan hal yang sangat penting dalam hidupnya, yaitu koleksi kartu-kartunya. Tentu akan banyak yang akan membeli kartu yang sedang tren itu. Hasil penjualan kartu itu nantinya akan diberikan untuk Ji Hyo, untuk memenuhi kebutuhan hidup Ji Hyo beserta calon bayi mereka.

“Kamu percaya sama aku, aku nggak akan meninggalkan kamu…” Dong Hae berbisik lirih, “…dan anak kita…”

Ji Hyo terharu mendengar perkataan Dong Hae. Kepalanya terangguk dan bibir tipisnya mengembang membentuk senyuman. “Terimakasih, Lee Dong Hae…”

Dong Hae mengenggam tangan Ji Hyo erat-erat, membimbingnya menuju ke lapangan berumput. Mereka berlari-lari sambil tertawa lepas. Angin sepoi-sepoi menerpa rambut keduanya. Daun berguguran mengenai wajah mereka.

Sampai akhirnya…

“Lee Dong Hae!”

Sebuah teriakan menghentikan langkah Dong Hae dan Ji Hyo. Disusul dengan mobil sedan hitam yang berhenti di depan keduanya. Sesosok kepala wanita menyembul keluar dari jendela. Wanita itu ibunya Lee Dong Hae.

“Ayo, pulang!” teriak ibunya.

Dong Hae menatap Ji Hyo.

Ji Hyo menatap Dong Hae.

“Aku harus pulang,” bisik Dong Hae.

Ji Hyo memberikan tatapan kecewa.

“Besok kita ketemu lagi.” Dong Hae melepas genggaman tangan Ji Hyo.

Kepala Ji Hyo tertunduk lesu.

“Jangan bersedih…” ucap Dong Hae tak tega. Dia pun merogoh saku baju dan memberikan sesuatu kepada Ji Hyo.

Ji Hyo menerima barang pemberian Dong Hae dengan kepala menengadah. “Ini…”

“Sisa uang jajanku. Buat kamu,” tukas Dong Hae.

Ji Hyo tersenyum kembali. “Terimakasih.”

Dong Hae berlari meninggalkan Ji Hyo, tangannya sibuk melambai-lambai. “Besok ketemu di sekolah lagi ya, Song Ji Hyo…! Jangan lupa besok ulangan Matematika bab perkalian!”

“Ya!”

Ji Hyo balas melambai. Di tangannya tergenggam uang kertas lucek senilai seratus won. Uang dari Dong Hae, orang yang sudah menciumnya dan membuatnya hamil.

Namun bagaimana pun, bagi Ji Hyo, Dong Hae adalah laki-laki yang bertanggung jawab karena mau memikirkan nasib dirinya. Oh ya, Dong Hae juga mengingatkannya soal ulangan Matematika. Baik sekali, ya?

Malam ini Ji Hyo harus belajar sungguh-sungguh. Soalnya dia agak bodoh di bagian perkalian. Mm, apa nanti malam telepon Dong Hae saja, ya? Dong Hae kan jenius Matematika. Dong Hae bahkan meraih peringkat satu… saat kenaikan kelas empat kemarin.

.

.

.

.

.

.

.

Kelas empat?

Ah, sudahlah.

.

.

.

.

.

.

The end

Based on half true story.

.

.

.

.

Halo, aku kembali dgn oneshot gaje yang gaje, yah namanya juga oneshot gaje *apaan sih -_-

berhubung bentar lagi ada yg mau hamil, eh wamil, aku kasih oneshot ttg dia deh *tunjuk donghae

eh ciyeee semoga balik wamil wajahnya kagak baby face lagi. masa dari dulu ampe skrg msih imut imut najis aja sih hihihi

kita disini nungguin kalian kok, tapi ga janji kalo udah balik wamil kita masih nunggu dalam status single atau udah double xDD *plak*

eniwei komen kritik diterima dgn senang hati~

35 thoughts on “[FF/ Oneshot/ G / Push The Wrong Button]

  1. hahahaha,, haduh,, smpe skt perut bacanya, pngn ngakak, tp ini udh mlm,,
    gk nyesel nemu blog ini ffnya bgs2,, humornya aku suka,,

  2. Sophieeeeeee….. Ini ficnya bikin ketawaaaaa…. Demi apa….
    Anak kecil sih ya… Masih polos sekali….
    Ciuman trus hamil. *dulu juga sering dinasehatin gitu. Ekeke
    Sophieee… Ficmu emang keren… Nggak bikin patah hati yang ada jadi hiburan. Keke

  3. ahaha donghae kecil2 udh gantle dang, ciee ciee smpai sisa uang jajan mau d ksihin k jihyo sma mau jualan kartu naruto buat menghidupi babyny hahaha poloss binggo.

  4. EHEMM!!!! *cough*
    (tanda kutip)Based on half true story (tanda kutip) –>> jadi ini adalah cerita = ……..
    Aduh Donghae sayang… kamu pasti masih ngompol yaa…?
    Hahaha.. jaman-jaman kartu Naruto yaa.. yang gw ga mudeng diterangin ama ponakan gw yang masih pitik..
    Aiishh.. mana Donghae udah pake bilang ‘bayi kita’ lagi, kkkkk… tapi salutlah gw ama Donghae, masih kecil aja udah bertanggung jawab gitu…apalagi gedenya.. tapi keknya Donghae ga gede-gede ya.. cuman lengennya doang yang tambah gede gegara kerajinan ngejim..
    Aiish.. baca ini sambil makan pempek di pinggiran jalan trus semeja ama 2 bapak-bapak yang keliatan santun banget, trus tau-tau gw nyeletuk= jaman upin ipin ,ah ini!!? (ketawa syedih mengingat dne sekarang jadi kek upin ipin versi gede -fokus ke kepala) whuaaa… ga mau jandaaa… trus bapak-bapaknya nengok dan mungkin ngebatin:stress nih anak! // ngga Pak, saya nggapapa Pak, saya tegar Pak, cuma dipanggilnya Anti, bapak siapa? Punya anak laki single ganteng mapan ga Pak?// ~~~
    Ya ampun.. gw butuh anak-anak imut marmut kek mereka sekarang.. pesen di mana sih Soph? Satuan apa grosiran? /xD
    Beneran saya pengen ketawa Soph.. tolong dong gila lagi.. ini sesek udah dari tgl 12 ampe malem-malem gw nyuci biar olahraga keringetan ga kepikiran gitu.. trus curhat ama temen yang Fishy, gw ajak dia tobat dari dunia kpop, cuman dia gamau.. dan sepertinya gw emang blm bisa.. pintu ‘EXIT’ itu ada cuma kok kaki gw beraaatt banget buat ke sana… (aaahhh… tumpahlah di sini)
    __Ah sial*n, mana bgm lagu gw syediih gini.. apa-apaan sih ini__

    Huhu.. Soph, lo kalo mo kesel bilang aj ya.. nih gw malah ga komen ceritanya tapi malah gaje begini.. Kezel aja Soph, ga usah malu-malu, anggep aja blog sendiri (?)

    Aah,, gw mo mandi keramas aah.. biar adem.. panas banget suerr Jakarta.. hope to see you around otfen… I love you (ala Donghae)
    #WeWaitForYouEunhyuk
    #WeWaitForYouDonghae
    #HappyDonghaeDay
    #Eunhae
    ♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡

  5. Bahahaaaah polos poloooos percaya aja sih hae dbilang gtu wkwkwk kyk yg di film,, emmm, apa tuh judulnya? Yg film thailand pa apa tuh lhoo?? Student ck apalah lupa judulnya…

    Kocaaaak as always thor😄

    Eh ini kan bagian hae. Bagian hyuk mana?

  6. Astagaa…. lucu banget. Dari kecil image na donghae selalu polos2 oon. Kyuhyun juga paling pinter kalo ngomporin. Tapi donghae sweet yah, dari kecil udah keren. Besok tanggal 15 😢😀. Sedih sekaligus senang

  7. wahahaha baca ini jd inget film sg yg im not stupid. dia juga gak sengaja cium si cewek terus dikira ceweknya hamil
    aduh bang dongek ill miss you😦 tetep ganteng ya banggg love love wkwkkwk

Just talking...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s