Angel’s Call (016)

angels call2

“Him.”

-Bae Suzy-

note: sorry not sorry for any harsh words in this chapter

 

Apa skenario buruk yang pernah diciptakan Tuhan sepanjang hidup Kyuhyun? Kalau dipikir-pikir, salah satunya mungkin saat Ayah dan Ibu tirinya bertengkar. Saat itu Kyuhyun merasa hidupnya sudah tak ada guna lagi, saat itu Kyuhyun merasa Tuhan sedang melewati garis dalam mengujinya. Saat itu, Kyuhyun berpikir untuk tak lagi berpikir saking lelahnya.

Kini, sekarang, Kyuhyun harus berpikir ulang soal skenario buruk Tuhan. Karena ternyata skenario soal pertengkaran Ayah dan Ibu tampaknya telah punya pesaing yang cukup kuat. Ternyata, ada pula fakta yang lebih buruk yang tengah dihadapinya saat ini.

Kyuhyun menurunkan ponsel dari telinga dan memandangi Siwon tajam.

Pun, dengan Siwon yang memandanginya nyaris tak berkedip.

Dan Sungmin, yang tidak mengerti apa-apa, sibuk memandangi kedua temannya bergantian.

Siwon berkata tersendat. “Kau pria dari Busan…?”

“Dan kau… sepupunya Bidadari…?” Kyuhyun menunjuk Siwon, kata-kata yang disusun di otaknya seketika buyar berantakan saat menyadari satu fakta yang menyerang otaknya. “Berarti, Bidadari itu…”

Kyuhyun hampir-hampir jatuh. Kakinya kebas.

Be-berarti… Bidadari itu adalah…?!

“…Suzy.” Ujar Kyuhyun dan Siwon dengan aura penuh ketegangan. Dan masing-masing dari mereka seketika merinding saat menyebutkan nama itu. Seolah ada pusaran takdir mistis yang luar biasa, terjadi tepat di depan mereka.

Sungmin kini mulai paham dengan apa yang terjadi dan dirinya pun turut terperanjat kaget. Ditatapnya Kyuhyun dan Siwon bergantian dengan cemas. Pantas saja, tadi dia sempat merasa aneh saat Siwon menyebut-nyebut perihal Busan. Tadinya dia pikir hanya kebetulan, tetapi kalau dipikir-pikir timing-nya tepat sekali.

“Jadi kau…” Kyuhyun kehilangan kata-kata. Otaknya mendadak kacau dan bibirnya tak bisa lagi mengeluarkan kalimat yang benar. Kyuhyun mengerang. Dia menarik kursi dan membanting tubuh di atasnya.

Siwon sibuk menggeleng-geleng kepala. “Ini benar-benar membingungkan. Jadi kau… selalu berhubungan dengan Suzy lewat telepon?”

“Jadi orang yang selama ini kuhubungi adalah Suzy?” Kyuhyun mengusap-usap wajahnya kasar. “Arrghhh… ini gila!”

Kyuhyun berjalan mondar-mandir sembari berusaha mengkolasekan semua urutan kejadian yang telah terjadi. Kepindahan Suzy ke Seoul, telepon nyasar ke Bidadari, percakapan-percakapan yang selama ini terjadi, tebakan-tebakan yang terlontar… brengsek, kenapa dia tidak pernah menyangka bahwa Bidadari itu adalah Bae Suzy?

Semakin lama memikirkan urut-urutan alur yang kian terlihat jelas di mata Kyuhyun, semakin melemas pula tubuh pemuda itu. Pada akhirnya Kyuhyun terduduk merosot di hadapan Siwon. Wajahnya pias dan sorot matanya bagai orang linglung. Dia tidak tahu harus bertindak bagaimana karena seluruh skenario Tuhan bernama “kebetulan” ini mulai dinilainya sebagai skenario sutradara picisan, murahan, dan memuakkan sekali.

Kyuhyun melempar ponsel Bidadari—oh, mulai hari ini harus disebutnya sebagai ponsel Suzy— kepada Siwon. “Ini, ponsel Bida—Suzy maksudku. Kukembalikan.”

Siwon menerima ponsel itu masih dengan ekspresi tak kalah linglung dari Kyuhyun. Pemuda itu mengangguk kaku, berusaha tersenyum, tetapi urat-urat di sekitar bibirnya terasa kaku untuk bergerak. Jadi, Siwon hanya menggumamkan sebuah kalimat ini: “ba… bagaimana kalian bisa kenal?”

Kyuhyun menatap Siwon lantas mendesis sinis, “kenal yang mana? Kenal saat di SD atau saat di telepon?”

Siwon merubah tatapan linglungnya menjadi sedikit lebih tegas. “Yang di telepon!” tukasnya.

Kyuhyun membuang napas keras. “Aku iseng, asal pencet nomor.”

Siwon menatap Kyuhyun aneh. “Asal pencet nomor?”

“Iya.”

“Diantara lebih dari sejuta nomor ponsel di Korea Selatan, kau justru memencet nomor Suzy?” Sungmin ikut menyambar tak percaya.

Kyuhyun memandang Sungmin. “Begitulah.”

“Ini benar-benar tidak mungkin. Aku tak percaya,” gumam Siwon.

“Jangankan kau, aku saja tak percaya.” Kyuhyun geleng-geleng kepala.

Sungmin teringat sesuatu. “Jadi, kemarin malam itu… saat kau buru-buru keluar dari Aldante…”

“Aku pergi ke restoran seafood. Aku janjian dengan Bida—Suzy, di sana.”

“Apa-apaan ini!” seru Sungmin heboh. Sekujur tubuh Sungmin merinding membayangkan kebetulan yang maha kebetulan ini.

Siapa yang bisa percaya? Kyuhyun dan Suzy, ternyata sudah sering berkomunikasi melalui ponsel. Kyuhyun dan Suzy, yang susah payah dipertemukan di dunia nyata, justru amat selalu berbagi cerita akrab di ponsel. Skenario Tuhan yang benar-benar bagai alur labirin.

“Kau memanggilnya Bidadari?” cicit Siwon lagi.

Kyuhyun mengangguk. “Ya, dan dia memanggilku Malaikat.”

“Jadi, kalian tak tahu sosok asli satu sama lain?” tanya Sungmin penasaran.

Kyuhyun menggeleng pelan.

Ketiganya, lalu berada dalam keheningan yang amat sangat lama.

.

.

.

.

.

.

Siwon membuka galeri ponsel Suzy dan menunjukkan sebuah foto pada Kyuhyun. “Ini Suzy…” ujarnya, susah payah bicara. Tangannya sedikit gemetaran saat menggeser layar kursor ke kanan. Menampilkan wajah Suzy yang berbalut pakaian serba putih dan terlihat sangat cantik. Siwon sebenarnya masih tak habis pikir bahwa si Pria Asing yang semalaman dikata-katainya, yang dikiranya ingin mencelakai sepupunya, tak lain dan tak bukan adalah teman SD sepupunya dan dirinya sendiri. “Ini Suzy… sedang bersama mm…”

“Suaminya?” Potong Kyuhyun. Menunjuk foto Suzy di dalam mobil, bersama seorang pemuda seusia mereka. Dengan tulisan tanggal tercantum di bagian bawah foto.

Siwon sedikit tercengang. Tak menduga Kyuhyun sudah tahu soal status Suzy. Sungmin saja, malah tampaknya baru tahu dan melongo kaget.

“Suzy sudah punya suami?!” jeritnya.

“Sudah, namanya Lee Dong Hae.” Yang menjawab justru Kyuhyun.

Sungmin tersedak. Matanya melotot lebar-lebar.

“Suaminya meninggal… karena kecelakaan… dan itu… yang bikin Suzy katamu dulu apa? Tidak bisa lagi jadi atlet lari?” Kyuhyun melempar tatapan kosong ke Sungmin.

Sungmin mengangguk-angguk tolol. Sungmin malah hanya tahu Suzy tidak bisa jalan dengan benar karena kecelakaan, Sungmin tidak tahu ada embel-embel suami segala. Siwon tak pernah cerita.

Siwon berdeham untuk mengatasi suasana absurd yang menggelung diantara ketiganya. Siwon menarik kembali ponsel Suzy dan menyimpannya ke dalam kantung celana.

“Kau sudah tahu wajah Dong Hae dan Suzy rupanya,”ujar Siwon.

“Kemarin aku hanya lihat foto Suzy saja,” aku Kyuhyun. “Dan tadi, soal Lee Dong Hae, hanya tebakanku saja. Karena, kupikir Suzy bukan orang yang sembarangan menyimpan foto pria di ponselnya.”

Siwon mengangguk-angguk membenarkan logika Kyuhyun. “Kau tampaknya sudah tahu kalau… Suzy itu…”

Kyuhyun mengangguk. “Janda.”

Sungmin tersedak mendengar ucapan Kyuhyun. Aduh, kenapa temannya satu ini to the point sekali? Janda? Kedengarannya tidak bagus untuk dibicarakan di usia mereka yang masih warna-warni seperti pelangi.

“Brengsek, sebenarnya aku ingin sekali menghajarmu, Kyuhyun…” Siwon menghembuskan napas panjang. Dia kebingungan menghadapi situasi macam begini. “Aku bahkan sudah mengajak Sungmin kesini agar bisa menghajari si pria dari Busan itu.”

Wait, kalau prianya Kyuhyun, aku angkat tangan! Aku bisa balik dihajar lebih sadis!” tukas Sungmin.

Siwon melempar senyum pada Sungmin. “Iya, tahu. Aku juga tidak menduga kalau ternyata jadinya begini. Si pria dari Busan itu… malah Kyuhyun.” Siwon mendesah panjang, mengurai perlahan-lahan kalimat yang ingin diutarakannya. “Tetapi Kyuhyun, meski aku sebenarnya lega karena kutahu kau pasti tak akan berniat jahat pada Suzy seperti dugaan awalku… aku tetap ingin, kau tak menganggu sepupuku lagi.”

Ada keheningan lagi diantara ketiganya.

“Setidaknya, tidak sebagai Malaikat,” imbuh Siwon.

Kyuhyun mengangkat kepala dan memandangi Siwon. “Kenapa?”

“Kau ingat saat kau menelepon sepupuku di jam pelajaran? Kau menyuruh sepupuku menelepon ibumu?”

Kyuhyun mengangguk.

Siwon memandang Kyuhyun lurus-lurus. “Saat itu, untuk pertama kalinya, kupikir kau adalah jelmaan Lee Dong Hae.”

Kyuhyun terdiam.

“Sebelum Lee Dong Hae meninggal, dia mengatakan hal serupa dengan yang kau katakan pada Suzy waktu itu.”

“Aku… kenapa?” Kyuhyun memiringkan kepala.

“Sebelum Lee Dong Hae meninggal, dia menyuruh Suzy menelepon ibunya… sama seperti yang kau lakukan saat itu.” Siwon mengamati wajah Kyuhyun berubah tegang. Dan dia melanjutkan, “kau membuat Suzy menangis seharian dan semua luka yang dipendam gadis itu tumpah ruah ke permukaan. Tahu kau betapa cemasnya aku melihat kondisi Suzy saat itu?” Siwon menelan ludah sembari berusaha mengkontrol emosi. “Aku tidak ingin itu terulang lagi.”

“Aku tidak mengerti inti pembicaraanmu,” ujar Kyuhyun.

“Malaikat bukan hanya sekedar teman bagi Suzy, Kyuhyun. Tahukah kau itu?” Siwon menatap Kyuhyun tepat di bola mata pemuda itu. “Kau itu… sudah dianggap seperti cermin baginya. Dan aku takut, dengan posisimu yang selalu bertengkar, yang anak berandal—aku bukan ingin mengataimu, tapi kau paham sendiri kau ini bagaimana—kau bisa membuat gadis itu hanya hidup untuk mencemaskanmu. Tidakkah kau kasihan pada Suzy? Dia punya banyak hal lain yang patut dicemaskannya. Salah satunya, yang paling penting, adalah mencemaskan dirinya sendiri.”

Siwon berusaha agar suaranya tidak terdengar bergetar. Dia tahu dan sadar benar kata-kata yang keluar dari mulutnya berpotensi membuatnya lemah. Dia benar-benar iba pada kondisi Suzy, pada kondisi sepupunya, sungguh Siwon tak ingin ada orang yang menggoreskan luka lagi kepada Suzy. Keberadaan Malaikat tak bisa dipungkiri membuat Suzy berbeda. Gadis itu punya orang yang selalu dicemaskannya, yang selalu diperhatikannya, dan itu buruk… buruk jika sang Malaikat ternyata pemuda bertingkah setan seperti Kyuhyun. Mengerti kan, apa yang Siwon rasakan?

“Jauhi Suzy, Kyuhyun… maksudku, jauhi Bidadari, Malaikat.” Siwon memandang Kyuhyun dengan tatapan memohon. “Hiduplah hanya sebagai Cho Kyuhyun, teman SD Bae Suzy. Bukan sebagai Malaikat, sinonimnya Bidadari.”

.

.

.

.

.

.

Kyuhyun menjatuhkan diri di atas pipa bekas tak terpakai dari pabrik tua dekat lapangan kosong yang didatanginya sekarang. Sungmin, melangkah mengikuti dengan loyo. Kaki pemuda itu menendang palang air rusak yang melintang di dekat tumpukan sampah bau terabaikan. Sungmin lalu menyeret tubuhnya susah payah ke samping Kyuhyun, tangannya merogoh kantung celana untuk mengeluarkan sebatang rokok.

Udara panas Seoul tak terbantahkan lagi meski siang telah beranjak berganti dengan sore. Jika Kyuhyun memandang ke atas, rona matahari bisa membuat matanya berkunang-kunang seketika.

“Hei, perlu kita telepon Zhoumi dan Henry? Biar kita bisa jalan ke mana… ngapain… atau apa.” Sungmin mengembuskan asal rokok dari mulutnya.

“Aku lagi tidak minat.”

Sungmin menoleh ke arah Kyuhyun dengan pandangan penuh arti. “Suzy itu…” Sungmin melompat duduk di atas pipa. “Dia benaran sudah pernah nikah?”

Kyuhyun mengangguk.

Pandangan Sungmin kosong ke depan. “Aku patah hati dong.”

“Kau tidak jadi lagi suka pada Suzy gara-gara dia pernah nikah?” tanya Kyuhyun.

Sungmin mengerjapkan mata sesaat. Lalu menyeringai canggung. “Kan masih cinta monyet-monyetan, Kyu.”

“Kau memang sudah mirip dengan monyet kok,” sindir Kyu sadis.

Anehnya, Sungmin malah tertawa. “Memangnya, kau mau suka sama Suzy kalau tahu dia pernah nikah?”

Kyuhyun memandangi Sungmin lekat-lekat. Kedua alisnya berkedut-kedut seperti berpikir keras. Dan kemudian, Kyuhyun mengumpat marah, “Brengsek!”

“A-apa?” Sungmin kaget melihat Kyuhyun tahu-tahu melompat turun dari pipa dan menendang-nendang rumput meranggas di bawah sana.

“Siwon bilang aku harus menjauh dari Bidadari!” Kyuhyun mengerang. “Tapi sialnya…” Kyuhyun tak melanjutkan ucapannya. Dia justru semakin random mengumpat-umpat kosa kata kebun binatang.

Udara terik Seoul telah membakar seluruh amarahnya hingga ke ubun-ubun.

Anjing! Memang kenapa kalau sudah nikah?

Babi! Memang kenapa kalau janda?

Monyet! Memang kenapa kalau suaminya mati duluan?

Brengsek! Anjing! Babi! Sialan! Monyet! Setan! Bajingan! Sampai sakaratul maut pun, Kyuhyun tidak akan pernah peduli soal status Suzy, mengerti kan?!

.

.

.

.

.

.

Suzy kaget saat malam itu Siwon menyerahkan ponsel kepadanya.

“Ponselmu.”

“Ketemu?” mata Suzy berbinar cerah. “Dimana? Kok bisa?”

“Pemilik restoran menyimpannya.”

Suzy mengangguk-angguk kesenangan. Tangannya mengutak-atik layar ponsel penuh semangat.

“Aku sudah menghapus nomor Malaikat dari ponselmu.”

Kalimat dari Siwon barusan membuat Suzy terdiam. Gadis itu menatap Siwon dengan kening berkerut.

“Kau… hapus?”

“Kau tak perlu lagi berhubungan dengan pemuda berbahaya itu, Sepupu.”

“Sudah kubilang dia pemuda yang baik!” seru Suzy tak terima.

Siwon geleng-geleng kepala. “Sudah, sudah… lagipula, kalau dia baik, dia akan meneleponmu lagi. Kalau tidak, dia akan melupakanmu karena menganggapmu tak penting!”

Siwon melenggang pergi dari hadapannya. Suzy menatap punggung Siwon dengan pandangan campur aduk. Diceknya jejak rekaman pesan, kontak, dan telepon-telepon demi mencari nomor Malaikat. Tapi hasilnya nihil. Siwon benar-benar telah menghapus semua hal yang berhubungan dengan Malaikat.

Suzy terduduk lesu.

Padahal dia merasa perlu minta maaf pada Malaikat karena pertemuan mereka tempo hari tidak jadi terlaksana.

Kini dirinya hanya berharap, Malaikat akan menghubunginya secepatnya.

Yang mana, harapan itu, sulit untuk jadi kenyataan sebab di tempat lain di waktu yang sama, Malaikat yang dimaksud Suzy baru saja menarik paksa sim card dari ponsel… dan membuangnya ke tong sampah.

.

.

.

.

.

.

To be continued.

.

.

pic spam, foto Suzy yang ditunjukkan Siwon pada Kyuhyun:

suzy-bae

dan, foto Suzy-Dong Hae yang ditunjukkan Siwon pada Kyuhyun:

suzy dong

100 thoughts on “Angel’s Call (016)

  1. aihhhhh Siwonnnn, ugh aku jadi kesal sama dia (`ε´) butuh perjuangan banget tau buat Kyuhyun dan Suzy bertemu dan ka–kau, aishhh kesal jadinya..
    iya sih Kyuhyun itu siswa bandel, tapi kyuhyun pasti gak akan menyakiti Suzy kok. akhh pokoknya kesal banget sama Siwon di part ini walau maksud dia baik sih ψ(`∇´)ψ

  2. minn aku minta PW yg ep 17 dong..
    aku udh nge e-mail kakak.. klo bisa di sini kasi taunya klo nga di fb..
    aku udah komen dri ep 1 sampe 16 kok..

Just talking...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s