Angel’s Call (015)

angels call2

“The destiny are so funny, but I choose to cry rather than laugh.”

-Cho Kyuhyun-

 

“Sepupu?”

Suzy bagai ketangkap basah mencuri jemuran tetangga, saat mendapati Siwon, sepupunya, masuk ke dalam restoran seafood. Siwon memakai payung yang diletakkan di luar pintu. Hujan deras di luar sana, bunyi rintiknya terdengar sampai ke dalam.

Siwon meringsek mendekati Suzy dan mencengkeram tangan Suzy.

“Apa yang kau lakukan disini?!” bentak Siwon. Wajahnya memerah sampai ke telinga dan napas panas keluar dari hidungnya.

Suzy mengerjapkan mata. Kaget sekaligus takut melihat reaksi berlebihannya. Suzy tahu, Siwon pasti kecewa karena Suzy meninggalkannya tanpa pamit. Tapi Suzy tak mengira akan didamprat seperti ini.

Siwon menarik Suzy keluar restoran. Orang-orang memperhatikan keduanya bagai tontonan menarik di kala dinginnya hujan malam ini.

“Se-sepupu… apa yang kau lakukan?” Suzy berusaha melepaskan diri. Wajahnya memerah malu atas perlakuan Siwon. Namun Siwon seolah tak peduli. Siwon justru semakin menguatkan cengkeraman tangannya.

“Pulang!” teriak Siwon.

Suzy menggelengkan kepala. “Tidak, aku ada janji dengan orang—“

“Dengan orang asing dari Busan yang tak kau kenal itu?!”

Suzy terbelalak. “Bagaimana…”

“Aku mendengarmu bicara dengannya tadi pagi! Aku terpaksa menggeledah ponselmu dan membaca pesan-pesanmu, dia pria yang hanya kau kenal dari ponsel? Dia pria asing yang hanya suaranya saja yang kau kenal?! Apa kau tidak tahu bahwa mungkin saja dia berniat jahat padamu?!” nada tinggi yang keluar dari bibir Siwon tak dapat dikendalikan. Dia sungguh, sungguh, sungguh amat sangat marah dengan apa yang dilakukan Suzy.

“Dia tidak jahat, Siwon… dia orang baik!” bantah Suzy.

“Bagaimana kau tahu dia orang baik jika kau bahkan tak pernah bertemu dengannya?”

“Karena tebakanku tak pernah salah!”

Siwon terdiam. Memandang manik mata Suzy yang mulai berkaca-kaca. Kepala Siwon menggeleng cepat. Tidak, dia tak boleh luluh akan ratapan Suzy. Apa yang dilakukan sepupunya ini sudah berbahaya. Sepupunya bisa celaka jika bukan dirinya yang mencegah agar hal itu tak terjadi.

Siwon meraih payung di sekat pintu dan menyeret Suzy masuk ke dalam mobil. Suzy tak bisa melawan Siwon karena kekuatan sepupunya jauh lebih besar dari dirinya.

“Siwon!” Suzy menahan tangan Siwon saat akan menutup pintu mobil. Pandangannya memelas. “Aku harus bertemu orang itu… kumohon…” pintanya.

Siwon menggelengkan kepala. “Jika aku tahu pria Busan itu hanya orang asing, aku bersumpah, dari awal-awal sudah kularang kau berhubungan dengannya!”

“Siwon!” Suzy berteriak protes, tetapi Siwon tak peduli. Dia justru mengemudikan mobil gila-gilaan, menembus hujan yang mengguyur deras lewat langit gelap Seoul.

.

.

.

.

.

.

Kyuhyun masih memperhatikan ponsel yang terus menyala-nyala itu, sampai akhirnya lampu di ponsel itu berhenti berkedip, bersamaan dengan jempol Kyuhyun yang memencet tanda mengakhiri sambungan. Gemuruh di dada Kyuhyun terdengar hingga ke telinganya. Pemuda itu, meski tidak pintar main tebak-tebakkan, tapi dia bisa tahu bahwa ponsel itu… ponsel itu adalah milik Bidadari.

Kyuhyun segera melompat mendekati meja di mana ponsel dan buku novel The Winner Stands Alone tergeletak. Meja itu tak ada penghuninya. Kyuhyun celingukan ke kiri dan ke kanan, apa si empu meja sedang ke toilet?

Sekeliling restoran sangat ramai dan tak ada yang perhatian dengan meja ini.

Jari-jari Kyuhyun menyentuh buku novel di atas meja dan ada desiran hangat merajalela di dadanya. Novel itu sudah agak lusuh, tetapi covernya masih rapi bersampul plastik, dan beberapa stick note menyembul di sisi kanan novel. Kyuhyun membuka salah satu halaman yang ditandai post it dan tertegun tatkala membaca sebuah tulisan rapi disana:

Malaikat sudah membacanya sampai halaman 52 pada tanggal 22 November 2014.

Kyuhyun merasakan jantungnya berhenti berdetak. Tangannya kembali membuka post it selanjutnya

Malaikat sudah membacanya sampai halaman 111 pada tanggal 23 November 2014

 

Kyuhyun membukanya lagi, yang entah kenapa, kali ini tangannya sedikit bergetar.

Malaikat sudah membacanya sampai halaman 156 pada tanggal 24 November 2014

 

Kyuhyun berhenti sebentar, matanya terasa panas. Ada rasa haru tak terjabarkan yang membuat sekujur tubuhnya kini merinding.

Malaikat sudah membacanya sampai halaman 200 pada tanggal 25 November 2014

Dan, Kyuhyun tiba di post it terakhir

Malaikat belum menelepon… ada apa ya? Aku ingin dia menamatkan cerita ini, agar dia tahu… ada banyak orang yang kesepian dan mengaku menang, meskipun sebenarnya mereka justru kalah dalam hidupnya.

Tahukah…, ada saat-saat di mana sebuah kata bahkan tidak lagi bisa menjabarkan perasaan yang sedang dialami? Kyuhyun merasakan hal itu sekarang. Dia tidak tahu bagaimana bisa menyebutkan, apa yang sedang melanda tubuhnya sekarang. Dia merasa luar biasa hangat padahal tubuhnya basah kuyup dan udara disekitar amat dingin menusuk. Dia merasa luar biasa berada di awang-awang padahal sekarang dia hanya berdiri di tengah-tengah restoran yang ramai.

Ini novel milik Bidadari, Kyuhyun tahu itu

Ini ponsel milik Bidadari, Kyuhyun sadar benar itu

Dan mana gadis itu? Mana? Kyuhyun sungguh ingin bertemu dengan gadis luar biasa yang selalu membuatnya merasa istimewa begini. Di mana dia? Di mana dia?

Kyuhyun baru akan beranjak untuk mencari keberadaan Bidadari ke penjuru restoran, saat tahu-tahu, ponsel Bidadari kembali berkedap-kedip.

Bukan dirinya yang menelepon. Sebuah nama “Gembul Choi” muncul dari layar. Kyuhyun memandang sejenak ponsel itu, ragu apakah harus menjawab panggilan itu atau tidak. Tetapi tidak ada tanda-tanda Bidadari kembali dan itu membuat Kyuhyun curiga.

Baiklah, coba kita angkat telepon ini… batin Kyuhyun seraya meraih ponsel itu dan menyapa siapaun yang menelepon ke sini.

“Halo?” ujar Kyuhyun pelan.

“Ini siapa?” terdengar suara pemuda di seberang, dengan raut gusar.

“Oh… ini… saya…” Kyuhyun menelan ludah, bingung menjelaskan siapa dirinya. “Teman pemilik ponsel ini. Sepertinya teman saya ceroboh meninggalkan ponsel ini di atas meja dan sekarang pergi entah kemana.”

“Kau… Malaikat? Pria dari Busan itu?”

Kyuhyun terkesiap. Bagaimana orang ini bisa tahu soal nama Malaikat?

“Oh, sial. Kau benar-benar datang rupanya,” rutuk suara itu lagi. Membuat kening Kyuhyun berkerut-kerut bingung.

“Anda kenal saya, ya?” tanya Kyuhyun.

“Aku sepupu pemilik ponsel ini!” seru suara itu dengan nada tak suka.

Kyuhyun sedikit jengkel dengan cara bicara orang ini, tapi berhubung dia bilang sepupunya Bidadari, Kyuhyun menahan emosinya. “Oh… anda sepupunya.”

“Sepupuku tak sengaja meninggalkan ponselnya di restoran. Aku akan mengambilnya sekarang.”

“Gadis ini sudah pulang?” hanya itu yang terlintas di kepala Kyuhyun. Dia syok dengan kata-kata pria di seberang sambungan ini. Apa maksudnya dengan ‘tak sengaja meninggalkan ponsel di restoran’? apa itu artinya, Bidadari sudah tak ada lagi di restoran? Dia sudah pergi?

“Aku tadi menyuruhnya pulang! Dia mau bertemu dengan orang asing yang hanya dikenalnya lewat ponsel, mana setuju aku dengan ide gila itu!” ujar suara di seberang.

Kyuhyun memicingkan mata. “Kau menyuruhnya pulang?” dan nada suara Kyuhyun tak bisa lagi terdengar sabar. Dia mulai terpancing emosi. Brengsek, Kyuhyun mati-matian lari dari Aldante ke restoran ini, hujan-hujanan, cuma buat ketemu Bidadari, dan kini… ada orang ngaku-ngaku sepupunya Bidadari, MALAH MENYURUH GADIS ITU PULANG?!

“Aku akan mengambil ponsel sepupuku. Posisimu di mana?” suara itu tak mengindahkan perkataan Kyuhyun.

Kyuhyun sebal luar biasa. “Biar sepupumu saja yang mengambil ponsel ini dariku.”

“Oh, tak akan kubiarkan hal itu terjadi, Pria Asing!”

Kyuhyun mendengus. Dia mulai memutar otak. “Aku sudah pulang ke rumah. Besok saja ketemunya,” tutur Kyuhyun berbohong. “Lagipula ada banyak hal yang perlu kubicarakan denganmu.”

“Besok? Kau tak akan kabur membawa ponsel sepupuku, kan?”

“Tentu saja tidak! Memangnya aku miskin sekali apa! Sampai mau mencuri ponsel segala!” erang Kyuhyun.

Pria di seberang tampak berpikir sebentar. “Baiklah, besok. Di kedai Icecreamy daerah Gangnam. Tahu?”

Kyuhyun mendengus. “Tahu.”

“Awas kau sampai kabur membawa ponsel sepupuku. Kucari kau sampai penjuru Korea!”

“Tidak akan kabur!”

Kyuhyun mematikan sambungan duluan. Lalu dia berteriak keras-keras. Tak peduli orang serestoran mendelik padanya. Argh, sial, sial, sial! Dia kesal sekali! Kenapa bisa kejadiannya begini, sih? Kenapa dia bisa gagal bertemu dengan Bidadari? Bajingan, tampaknya takdir sedang mempermainkannya!

.

.

.

.

.

.

Siwon marah luar biasa saat pemuda diseberang memutuskan sambungan telepon terlebih dahulu. Kurang ajar! Apa maksudnya itu? Dasar orang tidak sopan! Yang seperti itu, dipanggil Suzy dengan sebutan ‘Malaikat’? MALAIKAT DARI MANA! Pemuda itu lebih pantas menyandang predikat SETAN! Dengar saja tadi gaya bicaranya yang penuh emosi, marah-marah tak jelas, benar-benar tak berpendidikan! Yang begitu, mau bertemu dengan sepupunya?! Mana Siwon biarkan!

Siwon membuang napas kesal. Dia berbalik dan melihat Suzy telah terlelap dalam tidurnya. Wajah Suzy pucat dan bulir-bulir keringat mengalir di keningnya. Suzy sedang kesakitan, Siwon tahu itu. Penyebabnya, tak lain adalah bengkaknya kaki Suzy. Ya, berjalan di tengah udara malam super dingin akhirnya menumbangkan gadis itu. Begitu mereka sampai di rumah dan Siwon mempersilahkan Suzy turun, gadis itu langsung terjatuh dan tak bisa berdiri lagi.

Siwon panik luar biasa. Dia langsung menggendong Suzy masuk ke rumah. Ibu Suzy ikut-ikutan panik melihat kaki Suzy yang sudah membiru dan tubuh Suzy yang terkulai tak bertenaga. Setelah dikompres setengah jam dan meminum pil-pil obat, Suzy akhirnya tertidur dengan keadaan kaki sedikit membaik.

Sebelum jatuh tertidur, Suzy sempat bilang padanya, “Siwon… kurasa aku meninggalkan ponselku di restoran.”

Dan itulah makanya Siwon menghubungi ponsel Suzy, berniat mengecek keberadaan ponsel sepupunya. Yang akhirnya membuat Siwon bicara dengan pemuda bernama Malaikat itu.

Ck, Siwon bahkan tak sudi menyebutnya ‘Malaikat’!

.

.

.

.

.

.

Kyuhyun masuk ke dalam kamar dan membanting pintu begitu saja. Kepenatan melanda dirinya, hingga dia memutuskan untuk masuk ke kamar mandi dan menyalakan shower volume maksimal. Dia butuh mandi, dia butuh menghilangkan rasa frustasinya yang telah bercokol hingga ubun-ubun. Kyuhyun membiarkan tubuhnya dialiri aliran hangat dari shower dan dirinya memejamkan mata erat-erat.

Bidadari…

Entah mengapa Kyuhyun terus kepikiran dengan gadis itu.

Kejadian di restoran tadi memancing emosinya, meski di satu sisi justru membuatnya sangat ingin bertemu dengan Bidadari. Oh, jika saja Busan tidak macet, jika saja kecelakaan beruntun tak terjadi, jika saja Kyuhyun tak telat… mungkin dia bisa bertemu dengan Bidadari. Mungkin dia bisa melihat wajah gadis yang selama ini menyemangatinya dengan tulus. Mungkin dia bisa bercanda dan tertawa bahagia bersama orang yang telah membuat warna dalam hidup abu-abunya.

Kyuhyun keluar dari kamar mandi dan mengeringkan badannya. Dia melirik ke arah ponsel milik Bidadari yang tergeletak di kasur dan mendekatinya. Entah apa yang merasuki Kyuhyun, pemuda itu membuka-buka pesan di ponsel Bidadari dan membacanya satu persatu. Kebanyakan pesan dari Kyuhyun dan Kyuhyun tidak mau lancang membuka pesan dari orang lain. Seluruh pesan dari Kyuhyun ternyata masih disimpan rapi oleh Bidadari dan itu membuat Kyuhyun tanpa sadar tersenyum.

Kyuhyun membuka-buka permainan di ponsel Bidadari, kontak ponselnya, dan bahkan galeri.

Jempol Kyuhyun terhenti.

Oke, galeri? Ini sudah berlebihan. Kyuhyun menaruh ponsel itu kembali di atas kasur. Dia tidak ingin terlalu kurang ajar membuka-buka ponsel orang sembarangan. Bagaimana kalau nanti Bidadari tahu dan justru marah padanya?

Kyuhyun membuang napas. Dia berdiri dan mengenakan bajunya. Kemudian mengeluarkan berbagai macam bawaan di ranselnya yang basah serta membawa ransel tersebut ke keranjang cucian. Kyuhyun berpapasan dengan Ibu di dapur, yang langsung menanyakan bagaimana pertemuannya dengan Bidadari. Kyuhyun hanya menjawab bahwa Bidadari ada keperluan mendadak sehingga pertemuan itu dibatalkan.

Kyuhyun balik lagi ke kamar. Dia mematikan lampu, naik ke ranjang, menarik selimut, dan bersiap tidur.

Tetapi, diliriknya sekali lagi ponsel milik Bidadari. Menimbang-nimbang beberapa saat sebelum akhirnya bergumam pasrah, “baiklah, baiklah… aku hanya akan melihat satu fotonya. Satu saja. Setelah itu tak akan aku otak-atik lagi. Satu foto. Hanya satu.”

Kyuhyun mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya meraih ponsel Bidadari dan membuka galerinya.

Tetapi foto yang pertama muncul di galeri bukan seperti yang diharapkan Kyuhyun. Foto itu justru foto balon kuning terbang di langit yang pernah dilihat Kyuhyun di ponselnya, karena itu memang foto yang pernah Bidadari kirimkan untuknya.

Kyuhyun mengacak-acak rambutnya frustasi. Mendadak saja, rasa penasaran akan sosok Bidadari begitu membuncah-buncah. Kyuhyun terbangun dari posisi tidurnya dan terduduk di pinggir rajngan. Kedua bola matanya menatap lekat

“Oke, satu lagi, satu foto lagi. Aku hanya perlu melihat satu foto lagi. Kali ini, aku janji, setelah ini, tak akan merusak privasi Bidadari lagi.” Kyuhyun menarik napas dalam-dalam. Jemarinya menekan tombol “next”. Dan entah kenapa, Kyuhyun tanpa sadar memejamkan mata terlebih dulu saat melihat pergantian foto di layar.

Satu detik… dua detik… tiga detik…

Perlahan-lahan, Kyuhyun membuka kelopak mata. Dan retinanya menangkap gambar sesosok gadis tengah tersenyum ke arah kamera. Rambut gadis itu panjang dan matanya bersinar cerah. Kyuhyun tertegun sejenak. Dipandanginya foto itu dalam kebisuan yang lama.

Kyuhyun pernah sesekali membayangkan seperti apa rupa Bidadari. Dari suaranya yang lembut, tawanya yang ceria, dan kepintarannya dalam bertutur kata, Kyuhyun membayangkan Bidadari adalah gadis yang amat cantik bagai turun dari langit. Tidak, dia tidak sedang menggombal, dia sungguh-sungguh.

Tapi, kadang juga Kyuhyun sering membayangkan, bahwa meskipun wajah Bidadari tak secantik imajinasinya, otaknya tetap akan mengatakan bahwa Bidadari adalah gadis yang cantik. Sering berkomunikasi dengan Bidadari membuat Kyuhyun bisa dengan jujur berkata bahwa tidak mungkin gadis seperti Bidadari tak terlihat cantik di matanya. Bagaimana sikapnya yang sederhana, pembawaannya yang sopan, gaya bicara yang menyenangkan, Kyuhyun selalu berpikir Bidadari adalah gadis luar biasa.

Kini, saat melihat foto Bidadari di depan mata, Kyuhyun baru tahu Tuhan bisa sebegitu inginnya menyombongkan diri.

Buktinya, lihat gadis ini… Kyuhyun menyentuh layar ponsel. Gadis itu punya wajah sempurna. Matanya berbinar seperti kilauan bintang di langit, pipinya memerah alami, dan senyumnya terkembang tulus. Kyuhyun sampai berpikir bahwa yang ada di layar ini bukan manusia, melainkan bidadari sungguhan. Gadis sesempurna ini, dengan perilaku yang nyaris tanpa cacat, ternyata benar-benar ada di dunia.

“Apa mungkin karena dia nyaris menyerupai Bidadari di Surga… Engkau buat dia menderita lebih dari manusia normal lain di bumi?” bisik Kyuhyun lirih.

Takdir itu suka lucu, tapi daripada tertawa, Kyuhyun ingin memilih untuk menangis.

.

.

.

.

.

.

Siwon keluar dari mobil dan memakai kacamata hitamnya. Udara panas Gangnam segera menyerang retina matanya yang sedikit sensitif dengan kadar cahaya yang tinggi. Tak jauh dari tempat Siwon berdiri, bangunan Icecreamy terlihat mencolok matanya. Hari ini Siwon janjian dengan si Pria Asing (Siwon sudah bersumpah tak akan memanggilnya dengan ‘Malaikat’). Siwon berjalan melangkah mendekati bangunan Icecreamy saat kemudian dilihatnya Sungmin melintas sembari membawa-bawa barang belanjaan yang banyak sekali.

“Sungmin?” Siwon memanggil Sungmin. “Oi, Sungmin!”

Sungmin menoleh dan memicingkan mata. “Siwon? Ngapain di sini?”

“Mau ketemu orang. Kau?”

“Baru selesai belanja nemenin Mamaku.”

“Oh.” Siwon lalu melihat Nyonya Kang menyusul dibelakang Sungmin. Siwon membungkuk penuh hormat. “Selamat siang, Tante…”

“Siang juga, Siwon-ssi…” Nyonya Kang tersenyum. “Mau main sama Sungmin, ya? Tidak apa-apa, biar Tante pulang sendiri.”

“Eh, bukan, Ma. Ini kita tidak sengaja ketemuan.” Sungmin menggeleng.

“Kalau saya culik, eh, main sama Sungmin tidak apa-apa, Tante?” Siwon justru mengajukan permintaan.

Sungmin menoleh padanya heran. Katanya mau ketemu orang, kok ini malah…?

Nyonya Kang tertawa. “Boleh, kok. Dari tadi wajah Sungmin udah bosan nemenin Tante keliling-keliling toko. Biarin  sekarang dia main sama kamu. Sungmin, mana kunci mobilnya. Biar Mama bawa sendiri mobilnya.”

Sungmin merasa tak enak pada mamanya. Namun pemuda itu pada akhirnya tetap menyerahkan kunci mobil setelah sebelumnya mengantarkan mamanya balik ke mobil di parkiran. Lalu, setelah memastikan mobil Mama bergabung bersama kendaraan lain di jalan raya, barulah kemudian Sungmin berlari kembali ke tempat Siwon. “Mau ngajak main?” tanyanya heran.

“Aku mau ketemu orang jahat,” ujar Siwon.

Sungmin mendelik. “Orang jahat?”

“Iya, dia mau nyakitin Suzy.”

“Ada orang mau nyakitin Suzy?!” Sungmin terperanjat kaget. “Siapa?!”

Siwon angkat bahu. “Belum tahu. Tapi nanti kalau udah tahu, bantu aku menghajarnya ya! Kau kan… tampang boleh imut, tapi termasuk anggota geng yang doyan tawuran, kan?”

Sungmin menyumpah serapah sejenak. Tapi akhirnya dia mengangguk setuju. Dia mengikuti langkah Siwon yang masuk ke Icecreamy. Mereka memilih duduk di tengah-tengah, biar nanti kalau ada acara hajar-hajaran, lebih seru dan dilihatin orang banyak—ini murni idenya Sungmin yang bilang, kalau sudah lama sekali dia gatal pengin mukul orang. Sejak Kyuhyun tidak masuk sekolah hampir dua minggu, kegiatan tawuran mereka otomatis terhenti.

Keduanya memesan es krim seadanya dan duduk menunggu hampir setengah jam. Dari situ, Siwon bercerita soal si Pria Asing. Yang berdasarkan hasil penggeledahan ponsel Suzy, Siwon tahu kalau Suzy dan si Pria Asing sering berkomunikasi, terakhir kali yang Siwon ingat, saat Suzy sampai nangis di sekolah gara-gara katanya si Pria Asing dalam bahaya. Suzy sampai nyari-nyari nomor kode wilayah Busan.

“Busan?” Sungmin mengernyit. “Pemuda itu anak Busan?”

“Kayaknya anak Seoul, tapi ada keperluan di Busan jadi tinggal disana hampir dua minggu,” ujar Siwon.

Sungmin mengernyit sesaat, seolah gagasan yang aneh tiba-tiba melintas di otaknya. Tapi pemuda itu menggeleng dan hanya berkata, “oh…”

Pintu Icecreamy terbuka, baik Siwon dan Sungmin langsung melihat ke arah pintu. Seorang gadis kecil dan ibunya masuk ke dalam. Si gadis kecil berteriak-teriak minta dibelikan es krim strawberry ukuran besar.

“Orang yang janjian sama Suzy kemarin itu, si Pria Asing.” Siwon melanjutkan ucapannya.

“Eh? Masa?” Sungmin terbelalak. “Terus? Ketemu Suzy sama orangnya?”

“Tidak, untung aku cegah. Untung aku berhasil menyusul Suzy sebelum si Pria Asing datang. Aku udah tahu mereka janjian, makanya kemarin aku tahan-tahan Suzy buat pergi.”

“Ya ampun… jadi itu alasannya kemarin kau jadi orang rese banget? Tumben-tumbenan semangat nungguin Kyuhyun segala…” Sungmin geleng-geleng kepala, dan lalu teringat sesuatu. “Kemarin Kyuhyun akhirnya datang. Telat banget. Katanya kejebak macet, ada kecelakaan beruntun di Busan.”

“Busan?” Siwon memiringkan kepala.

“Oh, aku belum kasih tahu kau ya? Kyuhyun sudah hampir dua minggu ini di Busan, ada keperluan.”

Siwon mengernyit. “Oh…”

“Terus Kyuhyun cuma bentar di Aldante, dia pergi lagi. Katanya ada janji sama orang lain dan udah telat banget…”

Bersamaan dengan itu pintu Icecreamy kembali terbuka. Siwon dan Sungmin segera menoleh kompak. Dan keduanya sama-sama kompak pula mengernyit saat melihat siapa yang datang.

Orang yang baru saja mereka bicarakan, Cho Kyuhyun.

“Oi, Kyu!” panggil Sungmin sembari melambaikan tangan.

Kyuhyun celingak-celinguk mencari siapa yang memanggilnya, dan begitu menemukan Sungmin, Kyuhyun langsung menghampiri pemuda itu dengan kebingungan.

“Ngapain di sini?” tanya Kyuhyun heran.

“Nemenin Siwon,” ujar Sungmin menunjuk Siwon dengan dagunya.

Kyuhyun menoleh dan menyapa riang Siwon. “Hei, Gembul!” serunya, “kurusan kau sekarang!”

“Kyuhyun, lama tak bertemu!” seru Siwon cengar-cengir panjang. “Iya nih kurusan. Bagaimana? Mirip member Super Junior kan?” Siwon memamerkan otot-ototnya yang seperti hiasan marshmallow sepanjang lengan.

Kyuhyun pura-pura pasang wajah mau muntah. Sungmin tergelak habis-habisan.

“Eh, Kemarin kita pada nungguin kamu, tahu! Kemana aja! Kasihan Suzy, dia ampe sakit nungguin kamu!” lanjut Siwon lagi.

“Maaf deh…” Kyuhyun garuk-garuk kepala. “Eh, Suzy sakit? Gara-gara aku?” Kyuhyun terkaget-kaget.

“Hahahaha, tidak. Bukan gara-gara kau. Gara-gara itu… ada… orang jahat. Dia mau nyelakain Suzy.” Wajah Siwon berubah cemberut.

Kyuhyun tampak terbelalak. “Masa? Siapa orangnya?!”

“Belum tahu! Nanti kalau udah ketemu, bantuin hajar orangnya ya! Kau kan ketua preman!” ujar Siwon.

Kyuhyun tertawa. “Siip, pasti kuhajar! Sampai babak belur!” Kyuhyun tampak mengeluarkan sebuah ponsel dan mengutak-atik keypadnya.

“Kamu ke sini ngapain, Kyu?” tanya Sungmin lagi.

“Oh, itu… ketemu orang rese. Nanti kalau ketemu, bantu hajar juga ya!” kelakar Kyuhyun.

Sungmin ketawa. “Ini kedai es krim atau arena tawuran, sih? Kok pada mau main hajar-hajaran.”

Siwon ikut tertawa mendengar kelakar Sungmin. Pun dengan Kyuhyun.

“Ini mau aku telepon orangnya…. aku janjian sama dia di tempat manis-manis begini…” Kyuhyun memasang wajah jijik saat menyebut kata “manis-manis”. Preman sekolah macam dirinya anti masuk ke kedai yang wallpaper dindingnya warna merah muda dan menu-nya serba glukosa. Rasanya kok… jomplang aja begitu. Bertampang sangar, seragam berantakan, tato di lengan, dan rokok di bibir, masuk ke kedai yang background musiknya girlband Lovelyz.

Tadi aja pas Kyuhyun buka pintu kedai, dua-tiga remaja yang duduk di dekat pintu sudah mengkerut sambil mendekap tas masing-masing. Mereka siap-siap kabur kalau tahu-tahu Kyuhyun bakal malak. Kalau tidak salah juga, Kyuhyun sempat lihat satu diantaranya sudah kepingin nangis. Dan Kyuhyun bahkan juga sempat melirik remaja-remaja itu langsung ngacir keluar begitu Sungmin mengatakan “arena tawuran” dengan nada ringan tanpa dosa.

“Kyuhyun, duduk…, ini ada kursi.” Siwon menarik kursi dan meletakkannya di samping Sungmin.

Kyuhyun mengangguk seraya mengucapkan terimakasih tanpa suara.

“Aku pesenin minum, mau apa?” tanya Siwon lagi.

“Apapun, yang pahit.” Kyuhyun masih terus menempelkan ponsel di telinganya, sembari pandangannya menyebar ke sepenjuru kedai.

Siwon mengangguk dan beranjak menuju kasir. Lalu, tiba-tiba, Siwon merasakan ponselnya bergetar.

Panggilan dari ponsel Suzy.

Siwon menghentikan langkahnya menuju kasir, pandangannya menyebar ke seruangan kedai.

“Halo?” ujar Siwon.

“Halo?” ujar Kyuhyun.

Dan, keduanya, bersitatap.

.

.

.

.

.

.

To be continued

.

.

pic spam, foto Bidadari yang dilihat Malaikat:

suzy-bae

89 thoughts on “Angel’s Call (015)

  1. suzy emang cantik banget >.< ga tau tapi agak berharap aja Suzy dan Kyuhyun saling jatuh cinta😄. nah nah Siwon udah tahu kan siapa pria Busan itu, akhhh apakah kali ini Kyu bakal langsung bertemu dengan Suzy?

Just talking...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s