Angel’s Call (014)

angels call2

“He, with yellow shirt and black jeans. And sparkling smile.”

-Bae Suzy-

 

Rasa-rasanya Suzy hampir lupa bernapas saat pagi itu panggilan dari Malaikat berdering di ponselnya. Dia sedang berada di kantin bersama Changmin, Chansung, dan Minho saat suara Tiffany Girls Generation menjerit-jerit dari ponselnya.

“Wah, kau suka SNSD juga!” seru Chansung menunjuk ponsel Suzy dengan suara sumringah.

Changmin hanya memandang Suzy dalam diam. Tapi pemuda itu tampak tersenyum simpul.

“Aku angkat telepon dulu ya,” ijin Suzy.

“Sip!” Minho mengacungkan jempol.

Take your time, Suzy.” Changmin berkata lembut.

Suzy mengangguk dan melempar senyum pada Changmin.

Kantin penuh dengan siswa-siswi di jam istirahat begini, Suzy akan kesulitan jika menjawab panggilan Malaikat ditengah keramaian yang benar-benar ramai. Jadi dia memutuskan untuk berdiri dan berjalan agak menjauh dari meja. Kakinya melangkah tergesa sedangkan dadanya berdebar-debar tak karuan.

Kemarin malam saat dirinya mengajak Malaikat bermain tebak-tebakkan, Suzy telah mempersiapkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Suzy mungkin sudah beberapa kali menceritakan hal ini pada pemuda-pemuda yang berdatangan ke rumah dan berniat melamarnya. Namun itu semata-mata karena Suzy ingin mengusir keinginan mereka secara halus.

Tetapi membuka kartu paling sakral dalam hidupnya, kepada orang asing yang hanya dikenalnya lewat telepon, yang tak beniat melamarnya, yang anehnya sudah dianggap seperti sahabatnya sendiri, tentu bukan perkara mudah. Sebelum Suzy menelepon Malaikat kemarin itu, dia bahkan harus meredam seluruh kegusarannya dengan bolak-balik mengitari kamar sekian puluh kali. Pun, begitu selesai menelepon pemuda itu, Suzy bahkan nyaris tak dapat memejamkan mata semalaman. Setelah berbicara panjang lebar dengan Siwon pun, setelah bertangis-tangisan dengan sepupunya pun, Suzy hanya bisa termangu memikirkan reaksi Malaikat padanya setelah ini.

Suzy tak ingin kehilangan Malaikat setelah berkata jujur kepadanya.

Namun, dia juga ingin memberikan tanda pada Malaikat bahwa Suzy ingin, setidaknya, sedikit membuka diri dengan membiarkan pemuda itu memegang rahasianya.

Sungguh, Suzy mempertaruhkan banyak hal saat menelepon pemuda itu dan menceritakan segalanya.

Sekarang Suzy cemas, menebak-nebak tujuan Malaikat meneleponnya. Apakah Malaikat akan bersikap biasa seolah tidak pernah mendengar rahasia Suzy? Apakah Malaikat akan mengasihininya, yang mana itu adalah pilihan yang dibenci Suzy? Atau apakah, Malaikat justru akan pamit undur diri dari lingkaran pertemanan mereka?

Tangan Suzy menepuk-nepuk dadanya sebentar. Dia berdiri di pintu kantin dengan gerakan sedikit menutup diri, agar tak ada yang bisa mendengar maupun melihat dirinya. Dia benar-benar, berdebar-debar sekarang. Saat tangannya menekan tombol “terima”, Suzy sampai harus memegangi kusen pintu agar tubuhnya tak merosot jatuh.

“Hai!” seruan riang terdengar di seberang sambungan.

“H-hai!” Suzy membalas sapaan Malaikat dengan senyum lebar di bibirnya. Suara itu terdengar ceria, pertanda baikkah ini?

Dada Suzy masih terus berdebar-debar.

“Tebak-tebak…” suara itu kembali terdengar. “Aku sedang apa?”

Suzy menahan napasnya kelewat senang. Dia ingin berseru di telepon dan berkata, “Kau masih meneleponku, Malaikat? Kau tidak marah soal kemarin? Kau tidak berniat menjauhiku?” tapi kalimat itu hanya terhenti di ujung lidah. Dia memilih memusatkan perhatian pada kalimat yang dilontarkan Malaikat.

“Ahh… aku merasa ngantuk dan ayahku, kau tahu? Dia sopir yang buruk. Dari tadi, mobil kamu terus-menerus ngerem padahal cuma ada Kucing lewat di depan jalan. Sudah kubilang, Ayah itu seharusnya ke Busan bawa sopir. Malah nekat nyetir sendiri.”

Suzy tersenyum kecil. Suara mesin mobil menderum samar-samar dan tahu-tahu terdengar suara ban berdecit dan suara benda terantuk.

“Ayah! Apa lagi?! Kok berhenti lagi!”

“Di depan ada bebek!” sebuah suara pria menyahut.

Malaikat terdengar geram. “Ergh, Ayah! Itu hanya bebek!”

“Ada sepuluh bebek!” suara pria itu tak mau kalah.

“Ayaaahhhh… jalankan mobilnya!”

“Bebeknya lagi nyebrang!”

“Ayaaaahhh….!”

Suzy terkekeh geli mendengar pertengkaran ayah dan anak tersebut. Otaknya membayangkan kerumunan bebek yang berkwek-kwek mampu menjadi pemicu pertengkaran dalam keluarga.

“Maafkan aku tadi, itu Ayahku…” Malaikat kembali mengajak Suzy bicara. “Oh ya, petunjuk selanjutnya, kami sedang dalam mobil…”

“Kau teleponan dengan siapa anakku?” sebuah suara memotong ucapan Malaikat.

“Oh, Ibu, diamlah sebentar. Aku lagi bicara dengan Bidadari.” Malaikat terdengar kesal. Suzy bahkan mampu mendengar dengusannya melalui speaker ponsel.

“Bidadari? Ooo… coba kemarikan ponselmu, Ibu mau bicara dengan Bidadari!”

“Ibuuuu… Ibu! Ibu! Jangan sembarangan ambil ponselku!”

Terdengar suara grabak-grubuk yang rusuh di seberang sana.

“Halo, Bidadari… ini Bibi…” dan, akhirnya terdengar suara wanita yang menjawab teleponnya.

“Ah, Bibi…” Suzy mengubah suaranya lebih ramah lagi.

“Kami sedang perjalanan pulang ke Seoul, nih. Katanya anak Bibi satu ini ingin bertemu dengan Bidadari di Seoul…”

“IBU!!! KENAPA IBU KATAKAN KITA SEDANG APA??!!”

Suzy tertawa terbahak-bahak mendengar teriakan Malaikat, dan celotehan ibunya yang balik marah karena bingung tahu-tahu Malaikat meneriakinya. Dan juga ayah sang Malaikat yang ikut mengimbuhi dengan menyuruh Malaikat dan Ibunya diam karena itu membuatnya tak konsenterasi mengemudi.

“AKU SEDANG MAIN TEBAK-TEBAKKAN!”

“Main tebak-tebakkan? Ya ampun, sudah umur 16 tahun masih main tebak-tebakkan? Kau kurang bergaul sekali, Nak…”

Suzy mendengar ada perdebatan panjang yang terjadi, lalu bunyi rem berdecit lagi, dan gedebuk-gedebuk lagi.

“TUH, LIHAT! AYAH JADI NABRAK BEBEK KAAAN!”

“AYAAAHHH!!”

“KALIAN SIH RIBUT MELULU!”

Ampun, keluarga satu ini benar-benar riuh, batin Suzy geli.

Setelah sekian menit, tampaknya Malaikat berhasil mendapatkan kembali ponselnya. Napasnya terdengar tersengal saat bicara dengan Suzy dan pemuda itu terbatuk berulang kali. “Mm, uhuk… sampai dimana kita?”

“Sampai di saat kau memberikan petunjuk.” Suzy tersenyum sejenak, “aku tahu kau sedang apa,” lanjutnya dengan nada geli.

Erangan terdengar di sana. “Ugh, tebak-tebakkannya tidak jadi deh. Ibuku sudah membocorkan jawabannya dengan sukarela.”

Suzy tertawa ringan.

Hening sejenak.

“Apa yang terjadi?” tanya Suzy lagi. “Ayahmu menabrak bebek sungguhan?”

“Iya… sekarang Ayah dan Ibu sedang di luar mobil untuk bicara dengan sang peternak, negosiasi ganti rugi.”

Suzy terkekeh mendengarnya.

“Sebelum sampai Seoul, kami akan jadi keluarga miskin sebab aku yakin masih ada seribu bebek lagi yang kemungkinan bakal ditabrak Ayah.”

Dan kekehan Suzy berganti jadi ledakan tawa yang sangat keras. Perutnya tergelitik geli. Dia membayangkan ucapan sang Malaikat jadi kenyataan, dan anehnya, dia justru merasa lucu sekali.

“Hei… Bidadari…” Malaikat memanggil Bidadari. “Aku senang mendengarmu tertawa.”

Suzy terkekeh mendengar kalimat Malaikat barusan. Kalimat itu, membuat dadanya menghangat. “Aku tertawa karena bahagia.”

“Sungguh?”

Suzy memandang dinding kantin yang berada di depannya. Dinding itu penuh coretan nama-nama yang digoreskan murid sekolahnya. Kebanyakan berbentuk kalimat pernyataan cinta dari siapa kepada siapa. Tapi beberapa juga Suzy lihat hanya berupa gambar-gambar tak berbentuk.

“Sungguh,” jawab Suzy.

“Apa yang membuatmu bahagia?” tanya Malaikat.

Jemari Suzy menyusuri coretan-coretan itu. “Telepon darimu.”

Jeda hening diantara keduanya.

“Kenapa?” suara Malaikat terdengar lembut. Amat lembut. Sampai-sampai Suzy bisa membayangkan Malaikat mengatakannya sembari tersenyum manis.

“Kukira kau marah padaku. Karena rahasia yang kuceritakan padamu. Lalu kau menjauhiku dan tak lagi mau meneleponku.”

Suzy teringat ekspresi Ryeowook, pemuda yang berniat melamarnya, tempo hari. Saat Suzy mengatakan bahwa dirinya sedang memperingati kematian ayah dan suaminya, saat Suzy cerita dirinya adalah seorang janda, saat itulah Suzy melihat ekspresi ramah Ryeowook spontan berubah jadi raut kaku nan dingin.

“Itu tidak akan membuatku marah padamu. Apalagi menjauhimu.”

Suzy membulatkan matanya. “Sungguh?”

Sungguh? Sungguh? Sungguhan? Malaikat tidak marah padanya? Malaikat tidak akan menjauhinya? Tapi kenapa? Dia kan… dia bukan remaja perempuan seperti yang lain. Dia sudah punya suami, diumur dini, kenapa? Kenapa Malaikat tak marah seperti yang dilakukan Ryeowook atau pemuda-pemuda lain?

“Sungguh.” Malaikat bergumam sejenak, “kalau tidak… mana mungkin aku ingin cepat-cepat ke Seoul demi bertemu denganmu.”

“Kau masih ingin bertemu denganku?” Suzy bertanya dengan nada tak percaya. “Ta-tapi, kenapa…?

“Kenapa?” Malaikat balik bertanya. “Tentu karena aku adalah temanmu. Aku tak peduli kau siapa selama aku nyaman denganmu.”

Rasa hangat kembali menjalar di dada Suzy. “Sungguh?” katanya lagi, kali ini dengan lirih.

“Sungguh, Bidadari. Sungguh. Ini adalah kesungguhanku yang paling sungguh-sungguh!”

Senyum terkulum menghias wajah Suzy. Dia bahagia. Oh, salah, amat sangat bahagia sekali. Oh, tidak, lebih dari itu malahan. Tidak ada frasa membahagiakan dari kamus sastra di penjuru dunia manapun yang bisa menggambarkan betapa bahagianya Suzy kini. Ada orang, yang menerima keadaannya tanpa protes. Ada orang, yang bersikap biasa saja dengan statusnya. Ada orang, orang asing, yang belum pernah ditemuinya, yang justru ingin bersamanya tak peduli apapun.

Katakan bagian mana lagi yang bisa membuat Suzy merasa kurang bahagia?

“Kau ada waktu hari ini? Aku paling tiba di Seoul sekitar sore.”

“Sore aku ada acara kumpul dengan temanku.” Suzy teringat sms dari Sungmin semalam. Sungmin bilang akhirnya Kyuhyun mengiyakan undangan reuni teman-teman SD. Acara yang sebenarnya dijadwalkan empat hari lalu itu memang terpaksa diundur karena kata Sungmin, Kyuhyun sedang dapat masalah dengan keluarganya. Kini, Kyuhyun setuju-setuju saja jika ada reuni. Dan ujung-ujungnya Sungmin yang jadi kelabakan me-reschedule semua jadwal teman-teman SD nya dulu. Untung saja semua setuju untuk datang reuni nanti sore.

“Oh, aku juga ada acara sore ini. Tapi paling hanya sampai jam sembilan,” ujar Malaikat.

“Aku juga… paling tidak sampai malam.”

“Kalau begitu…” Malaikat berdeham, “setelah itu… bisa kita bertemu?”

Suzy mengangguk. “Bisa.”

“Baiklah, di restoran seafood dekat perpustakaan milik pemerintah, kau tahu tempat itu?”

“Tahu.”

“Baiklah.”

“Baiklah.”

Ada jeda lagi. Kali ini, Suzy yakin, dirinya dan Malaikat sedang sama-sama larut dalam senyum.

“Kita belum pernah bertemu, biar mudah mengenaliku, aku akan memakai kaos kuning dan jins hitam.”

“Akan kuingat. Kaos kuning dan jins hitam.” Suzy mencatat baik-baik dalam otaknya.

“Dan… senyuman yang berkilauan,” tambah Malaikat dengan nada jahil.

Suzy mengerjap, terkekeh sesaat, lalu berdeham. “Akan kuingat. Kaos kuning dan jins hitam… dan senyuman yang berkilauan.”

Malaikat tertawa berderai-derai mendengar nada sok serius yang diucapkan Suzy.

“Kau? Apa yang kau pakai nanti?” tanya Malaikat.

“Aku?” Suzy berpikir. “Kita belum pernah bertemu, biar mudah mengenaliku… aku akan memakai kaos kuning dan jins hitam.”

“Eh?”

Suzy tersenyum manis. “Dan… senyuman yang lebih berkilauan.”

Malaikat tersedak. “Hahaha, jadi kita pakai baju kembaran?”

“Hahaha, iya.”

“Baiklah, baiklah, baiklah. Eh, jangan lupa bawa The Winner Stands Alone. Aku ingin membacanya lagi.” Malaikat mengingatkan.

“Maksudmu, kau ingin aku membacakannya lagi untukmu?”

“Hahaha, iya.”

“Kalau begitu, jangan lupa bawa harmonika. Aku ingin memainkannya lagi.” Suzy ikut mengingatkan.

Malaikat terdiam sebentar, seperti bingung dengan maksud Suzy, tapi kemudian pemuda itu terbahak. “Maksudmu, kau ingin aku memainkannya lagi untukmu?”

Keduanya kembali larut dalam tawa berderai-derai.

Sampai-sampai Suzy tak memperhatikan, sedari tadi, Siwon berdiri tepat dibelakangnya.

Kedua tangan Siwon memegang kaleng susu. Dan wajahnya menunjukkan raut aneh.

Telinganya telah mendengar seluruh pembicaraan Suzy dengan seseorang di seberang sambungan. Seseorang yang tidak pernah ditemui Suzy sebelumnya. Seseorang yang akan ditemui Suzy nanti.

Bagaimana mungkin? Sepupunya percaya begitu saja dengan orang asing? Bagaimana kalau orang itu berniat jahat?

Siwon mencengkeram kaleng susu kuat-kuat.

.

.

.

.

.

.

Kyuhyun sebenarnya masih ingin bicara panjang sekali dan lebar sekali dengan Bidadari. Tetapi Bidadari bilang dirinya harus masuk kelas karena bel tanda istirahat berakhir telah berbunyi. Dan, sambungan yang tidak ingin Kyuhyun putuskan itu terpaksa berakhir.

Bersamaan dengan itu, Ayah dan Ibu kembali masuk ke mobil. Mereka bertengkar soal bebek dan Ibu memarah-marahi Ayah karena tidak becus menyetir. Kyuhyun hanya cengar-cengir dan pura-pura tak dengar.

Dan cengirannya harus berakhir karena tiba-tiba saja, ponselnya berdering. Telepon dari Sungmin.

“Nanti jadi datang kan, Kyu?” sambar Sungmin tanpa salam apapun.

“Iya, jadi.”

“Awas kalau tidak!”

“Datang kok, tenang aja! Repot sekali sih kau jadi orang.” Kyuhyun mendengus geli.

“Bukan repot, Kyu. Aku cuma tidak enak sama Suzy, aku sudah janji banyak sama dia.”

“Makanya jangan kebanyakan kalau janji. Kayak yang mau jadi presiden aja.”

Sungmin mencaci Kyuhyun dengan sumpah serapah. “Pokoknya harus datang, Kyu. Jam lima, di Aldante. Tahu, kan? Jam lima.”

“Iyaaaa…. tahu! Jam lima di Aldante.” Kyuhyun merapalkan jadwal itu dalam hati. “Nanti aku juga tidak bisa lama-lama, ya. Maksimal jam sembilan.”

“Lho, memang kenapa? Sejak bangkit dari koma, jadwal pulang malammu dipangkas gila-gilaan ya?”

Kyuhyun mengumpat. “Bukan, tolol! Tapi aku ada janji lain.”

“Oh, janji lain.” Terdengar krasak-krusuk sebentar. “No problemo lah. Suzy juga barusan sms aku dan bilang dia tidak bisa lama-lama reuninya, jam sembilan dia juga ada janji lain.”

“Oh, samaan dong.” Kyuhyun mengangguk-angguk.

“Kyu, jangan lupa lho! Jam lima di Aldante! Awas kalau tidak datang!” Sungmin berseru lagi.

Kyuhyun ngakak jadinya. “Iya! Iya! Aduh, semangat banget jadi panitia reuninya. Iya deh, yang lagi masa pendekatan sama cinta monyet pas SD yang bersemi kembali,” goda Kyuhyun.

“Setan, kau! Bukan begitu!” suara Sungmin terdengar gugup. Dan Kyuhyun puas menertawainya.

Telepon berakhir begitu saja, setelah sekali lagi, Sungmin menekankan agar Kyuhyun jangan sampai lupa datang reuni. Kyuhyun sampai geram dibuatnya. Lihat saja nanti kalau dia sudah sampai di Seoul dan bertemu Sungmin, temannya satu itu bakal ditekuk-tekuk dan diikat di tali jemuran.

Kyuhyun melempar ponsel ke sampingnya dan kembali menatap luar jendela. Di jok depan Ibu dan Ayah sudah berhenti bertengkar dan kini malah sibuk berceloteh soal jalanan Busan yang tumben-tumbenan macet.

Kyuhyun mengeluarkan sesuatu dari ranselnya dan memandanginya dengan senyum. Sebuah gelang dengan motif balon udara warna keperakan.

Hari ini dia akan bertemu dengan Bidadari. Jika nanti bertemu, Kyuhyun akan memberikan benda yang ada di tangannya ini pada gadis itu.

Kemarin di pasar dekat rumah ibunya, tak sengaja Kyuhyun menemukan gelang unik ini.

Oh, oke, ketahuan bohongnya. Tidak mungkin gelang seperti ini dijual di pasar. Kyuhyun memesannya. Kemarin dia sempat bertanya pada Ibu apa oleh-oleh dari Busan yang cocok buat Bidadari. Ibu tirinya bilang, ada pengrajin gelang yang handal di dekat rumah dan biasanya banyak turis memesan oleh-oleh pada pengrajin itu. Kyuhyun mendatanginya dan memesan sebuah gelang khusus untuk Bidadari.

“Bidadari pasti akan suka,” gumam Kyuhyun sembari tersenyum. Dia tak sabar untuk bisa bertemu dengan Bidadari.

Oh, dan bertemu dengan teman-teman SD nya juga. Jam lima, di Aldante. Kyuhyun tiba-tiba teringat Suzy, teman SD-nya yang membuat pertemuan reuni itu terjadi. Bertemu dengan Suzy…

Kyuhyun merapatkan jaketnya.

Hari ini dia akan bertemu dengan orang-orang yang sangat ingin ditemuinya.

.

.

.

.

.

.

“Suzy-ah, Suzy-ah! Apa kabarmu?” Ji Eun melompat-lompat riang ke arah Suzy saat melihat wajah yang familiar baginya begitu tiba di Aldante.

“Ji Eun? Lee Ji Eun?” Suzy membulatkan matanya lebar. Gadis cantik dengan gaun selutut dan pita mawar di rambut sebahunya. “Ini beneran kau?”

“Iya, Suzy! Ini beneran aku!” Ji Eun tertawa-tawa.

“Ya ampun, tambah cantik!” Suzy tersenyum lebar.

“Ya ampun kau juga benar-benar beda dari saat SD! Aku sampai pangling! Kau menakjubkan! Kenapa kau bisa tumbuh sedemikian cantik? Kalau aku lelaki, aku pasti sudah menembakmu sekarang juga!” cengir Ji Eun.

Suzy memeluk erat-erat Ji Eun, dan Ji Eun membalas pelukannya tak kalah erat. Mereka tertawa renyah.

“Succiee-nie…. Succiee-nie… kau tak peluk aku juga?” Hyuk Jae muncul dari balik pintu, membawa sekotak kado yang diiringi senyuman jahil.

Suzy melempar pandangan pada Hyuk Jae. “Sini, sini, aku pelukkk…” godanya.

“Jangaan! Nanti aku marah!” serobot Ji Eun, pura-pura marah.

Suzy mengerjap bingung. Sedangkan Ji Eun dan Hyuk Jae tertawa.

“Kita pacaran, Suzy-ah.” Ji Eun berkata riang.

“Masa? Sama Hyuk Jae? Yang dulu sering mencret di kelas?” Suzy berseru heboh.

Hyuk Jae menjitak kepala Suzy gemas. “Itu kan dulu, sebelum aku bermetamorfosis jadi kupu-kupu tampan, Succiee-nie.”

Suzy terkekeh-kekeh mendengar kalimat Hyuk Jae. Dari dulu, Suzy ingat benar, Hyuk Jae tak pernah memanggilnya “Suzy”, melainkan “Succiee-nie”, plesetan nama Suzy yang diucapkan secara sok imut. Suzy suka mual-mual kalau Hyuk Jae sudah memanggilnya begitu. Tapi untuk sekarang, dibiarkannya saja.

Hyuk Jae lalu memberikan kado di tangannya ke Suzy. Hyuk Jae bilang, “itu kue buatan ibuku, tahu kan? Dulu kau sering sengaja datang ke rumahku cuma buat minta kue ibuku. Padahal kan ibuku jualan kue, tapi kau maunya gratis melulu, dasar! Nih, sekarang kukasih sukarela sebagai ucapan selamat datang kembali di Seoul!’

Suzy mengucapkan terimakasih pada Hyuk Jae dan bilang kalau Hyuk Jae wajib menyampaikan salamnya untuk Bibi Oh, ibunya Hyuk Jae. Suzy lalu mempersilahkan Hyuk Jae dan Ji Eun bergabung dengan Shindong dan Min Soo yang telah lebih dulu datang. Siwon sibuk di meja kasir, memesan semua makanan yang terus menerus bertambah karena Shindong terus-menerus bilang “aku boleh tambah ini tidak? Aku boleh tambah itu tidak? Aku mau ini juga, juga yang ini, yang itu…”

Sedangkan Sungmin sedari tadi bolak-balik menelepon teman-teman yang belum datang, memastikan mereka untuk jadi menghadiri reuni. Pemuda itu berdiri di depan pintu masuk Aldante dengan ekspresi yang serius sekali. Suzy jadi simpati. Dia memesan segelas es jeruk dan mendatangi Sungmin.

“Hei, Pak Ketua Penyelenggara Reuni…” sapa Suzy riang.

Sungmin menoleh ke arah Suzy dan tersenyum. “Hei, ada apa?”

Suzy menyodorkan gelas ditangannya. “Minum dulu. Kau dari tadi bicara melulu di telepon. Apa tidak lelah?”

Sungmin menerima gelas dari Suzy. “Terimakasih.”

Suzy memperhatikan Sungmin kembali menelepon. “Siapa yang sedang kau hubungi?”

“Kyuhyun,” ujar Sungmin tanpa bisa menyembunyikan kecemasan dalam wajahnya. “Ponselnya mendadak tak aktif.”

“Masa?” Suzy terperanjat. “Udah coba lagi?”

“Ini sudah kucoba kelima kalinya.” Sungmin mendengus saat mematikan sambungan. Samar-samar Suzy mendengar suara “telepon yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan…”

Pintu masuk Aldante terbuka. Jung Soo datang dengan pakaian necis dan celingak-celinguk seperti mencari orang. Lalu, saat melihat Suzy, Leeteuk langsung menjitak kepala gadis itu.

“Hei! Si atlet lari!” serunya riang campur gemas.

Suzy tertawa dan balas menjitak Leeteuk. “Hei, Park Jung Soo, Leetuk-chan!”

“Lama tak bertemu, ya… senang akhirnya kau balik lagi ke Seoul.” Leeteuk menyeringai. “Oh, ya, mana anak yang lain?”

“Di dalam, masuk aja.”

Leeteuk mengangguk dan pamit ke dalam sebentar.

Suzy kembali fokus bicara pada Sungmin. “Tadi sudah diingatkan, supaya Kyuhyun datang?”

“Sudah. Berkali-kali.” Sungmin memandang kosong ke jalanan Aldante yang terlihat dari pintu kaca di depannya. “Ugh, bocah satu itu.”

Suzy ikut memandang keluar. Dia sungguh berharap Kyuhyun cepat datang agar reuni bisa dimulai.

.

.

.

.

.

.

“Pantas macet,” Nyonya Moon melongok-longok ke luar jendela mobil. “Ada kecelakaan katanya.”

“Kecelakaan?” Tuan Cho menatap bingung istrinya.

“Iya, kecelakaan beruntun. Itu orang-orang di mobil depan pada keluar dan ngobrolin itu. Katanya kejadiannya lima belas kilometer di depan itu.” Nyonya Moon membanting punggung ke sandaran jok. “Aduh, macetnya bakal lama, nih.”

Tuan Cho mendesah keras. Lalu menatap kaca spion belakang. “Kyu? Macet, nih…”

Kyuhyun yang tadinya terkantuk-kantuk di jok belakang jadi terbangun. “Apa, Yah?” dia mengusap-usap matanya.

“Macet. Ada kecelakaan.”

“Kecelakaan?” Kyuhyun melongok ke depan. Mobil-mobil serta kendaraan lain di sekitar mereka berhenti total. Tak ada pergerakan maju sama sekali. Para penumpangnya beberapa memilih keluar sembari mengipas-ngipasi diri. Sumpek terlalu lama di dalam mobil. “Biasanya berapa lama macetnya?”

“Kalau begini, tiga sampai lima jam.”

Ucapan ayahnya membuat mata Kyuhyun melotot. “Ya ampun, reuninya…!” Kyuhyun langsung mengecek ponsel dan berusaha menghubungi Sungmin untuk mengabari kemungkinan keterlambatannya. Dan, tiba-tiba saja dia mengumpat. “Sial, kenapa saat-saat begini batrei malah habis?!”

.

.

.

.

.

.

“Kibum sudah sadar dari koma, teman-teman…” Min Soo menyerahkan sebuket bunga ke tengah-tengah meja. “Dia titip ini untuk kita.”

“Sungguh?” Siwon menyentuh buket bunga lili itu dengan penuh haru. “Wah…”

“Ini permintaan maafnya karena tidak bisa datang reuni,” ujar Min Soo lagi.

“Aduh, Kibum tak perlu sampai begitu,” ujar Suzy merasa tak enak.

“Bagaimana kalau kita jenguk Kibum di rumah sakit?” usul Hye Na.

“Boleh, boleh, boleh…. mau kapan?” semua mengangguk setuju.

Hye Na berpikir sebentar. “Lusa pada ada acara?”

“Nggak deh, kan libur nasional.”

“Lusa aja,” kata Hye Na lagi.

“Oke, kabar-kabari ya. Pak Ketua, mohon diatur ya jadwalnya…” Hyuk Jae menepuk-nepuk bahu Sungmin.

Sungmin hanya tersenyum. Sedikit masam.

Suzy menyadari hal itu, dia mendekatkan diri ke Sungmin. “Bagaimana Kyuhyun…?”

Kepala Sungmin menggeleng frustasi. “Tidak ada kabar.”

Suzy mendesah. Diliriknya jam di dinding restoran. Sudah jam delapan, ternyata waktu berlalu sedemikian cepat tanpa disadarinya. Kyuhyun belum datang dan Suzy harus segera pergi jam sembilan nanti.

Pembicaraan bersama teman-teman SD kembali bergulir sampai akhirnya satu-persatu pamit pulang karena hari mulai larut. Hyuk Jae menggerutu mengumpati Kyuhyun karena pemuda itu benar-benar menebar harapan palsu soal kedatangannya. Sungmin dan Suzy hanya bisa tersenyum masam.

“Suzy, kau juga pergilah… bukannya kau ada janji lain?” tanya Sungmin tak bersemangat. Kini, tinggal Suzy, Sungmin, Siwon, dan Leeteuk yang berada di ruang tempat mereka reuni. Di depan mereka, meja telah penuh dengan piring serta gelas kotor. Leeteuk memanggil pelayan Aldante agar membersihkan sisa-sisa piring.

Suzy melirik jam di dinding, lagi. Sudah jam setengah sembilan. Jarak Aldante dan restoran seafood dekat perpustakaan memakan waktu sepuluh menit jika ditempuh dengan jalan kaki.

“Tidak apa-apa kalau aku pergi sekarang?” tanya Suzy merasa tak enak.

“Suzy, kita tunggu Kyuhyun datang, ya. Aku yakin dia bakal datang,” tukas Siwon.

Suzy memandang Siwon sejenak. “Baiklah. Kita tunggu sampai Kyuhyun datang.”

Dan setengah jam pun berlalu dalam celotehan-celotehan antara keempatnya. Suzy ikut tertawa ketika Leeteuk bernyanyi dengan suara pas-pasan dan berkata bahwa suatu saat nanti dia akan menjadi penyanyi trot yang tenar.

“Kenapa trot?” tanya Suzy.

Leeteuk mengerling. “Entah, mungkin karena sudah kebanyakan idol.”

Dan Suzy kembali melihat jam di dinding. Sudah jam sembilan tepat. Sungmin juga melihat jam dan lalu memandang Suzy.

“Mau pergi?” tanyanya.

Suzy mengangguk kecil. Dia bersiap-siap membereskan peralatannya. Dia tidak bisa membuat Malaikat menunggu. Pemuda itu sengaja pulang jauh-jauh dari Busan untuk menemuinya.

“Suzy, kita tunggu Kyuhyun lagi ya.” Siwon menahan tangan Suzy tepat ketika Suzy hendak berdiri. Siwon menatap kedua mata Suzy lekat-lekat dengan pandangan memohon. “Ya?”

.

.

.

.

.

.

“Batrei Ayah juga habis? Ibu juga?”

Kyuhyun memandangi kedua orangtuanya dengan ekspresi putus asa.

“Iya, Kyu… sudah habis dari sejak pergi malah. Ibu lupa menchargernya.”

“Aduh, kenapa sampai lupa di charger, Bu?!” tanpa sadar Kyuhyun menumpahkan kekesalannya ke Ibu.

Kyuhyun membuang badannya ke sandaran kursi. Mobil mereka bergerak bagai kura-kura. Dengar-dengar, polisi sedang mengangkut kendaraan yang terkena kecelakaan dengan mobil derek. Ibu bilang, mungkin sebentar lagi kemacetan teratasi. Mungkin sebentar lagi mereka bisa jalan dengan normal.

Kyuhyun memejamkan mata.

Mau Ibu bilang apa, dia tidak terlalu dengar. Dipikirannya hanya ada dua kata: Bidadari dan reuni.

Dan entah kenapa, tanpa disadarinya, kata-kata itu berdifusi jadi seperti ini: Bidadari… dan Bae Suzy.

.

.

.

.

.

.

“Sungmin, Leetuk, aku harus pergi… maaf sekali…” Suzy melirik ke bangku yang ditempati Siwon. Bangku itu kosong, empunya sedang berada di toilet. Suzy tidak enak kalau harus berpamitan di depan Siwon.

Entah apa sebabnya, hari ini sepupunya itu manja sekali. Dia terus merengek-rengek agar Suzy tetap di Aldante, menemaninya sampai Kyuhyun datang. Suzy bahkan tidak tahu Siwon bisa sebegitu relanya menunggu kedatangan Kyuhyun, padahal saat SD mereka tak begitu dekat. Sungmin saja sampai keheranan dengan sikap Siwon dan dengan nada kelakar berujar bahwa jangan-jangan waktu SD, Siwon itu penggemar beratnya Kyuhyun.

“Baiklah, pergilah. Aku juga tidak enak kau harus tertahan di sini.” Sungmin tersenyum.

“Aku titip salam pada Siwon. Bilang padanya, aku bisa pergi sendiri dan pulang sendiri.”

“Akan kusampaikan.” Sungmin tampak maklum. “Sekali lagi, maafkan Kyuhyun ya soal keterlambatannya.”

“Tidak masalah.” Suzy melempar senyum. Dia berkemas-kemas dengan cepat, memeluk Sungmin, memeluk Leeteuk, dan segera berjalan keluar Aldante.

Udara dingin menyambut Suzy begitu saja. Dia menggigil, tapi tetap saja melangkah menyusuri pinggiran jalan raya yang ramai. Kakinya terasa beku karena tidak biasa dengan suhu serendah ini. Namun bagaimanapun juga dia tak berhenti melangkah. Ini sudah jam sembilan lewat, Malaikat tentu sudah datang dan menunggunya.

.

.

.

.

.

.

BRAK!

Kyuhyun mendobrak pintu Aldante hingga nyaris engsel-engselnya terlepas. Tapi Kyuhyun tak peduli. Dia terus melangkah ke dalam, mencari-cari dari satu ruang VIP ke ruang VIP lainnya, ruang tertutup yang khusus digunakan untuk pertemuan. Salah satunya, pasti jadi ruang pertemuan reuni teman-teman SD-nya. Dan benar saja, di ruangan agak pojok, Kyuhyun menemukan Sungmin dan Leeteuk tengah berbincang. Tanpa babibu, Kyuhyun menyerobot masuk dan langsung merampas ponsel Sungmin.

“Hei—Kyuhyun? Yak, kau baru datang jam segini?!” Sungmin melompat berdiri dan meninju pundak Kyuhyun. “Hei, ponselku kau apakan?!”

“Kau tahu, aku terjebak macet selama perjalanan ke Seoul.” Kyuhyun menjelaskan dengan napas terengah-engah. Badannya sudah bau keringat menyengat. Dia berlari dari perempatan lampu merah sampai ke sini. Cukup jauh jaraknya. Ayah tidak mau menurunkannya di depan Aldante yang agak masuk ke gang dalam karena Ibu sudah kecapaian, ingin segera pulang. “Batrei ponselku habis, batrei ponsel Ayah dan Ibu juga habis…”

Sungmin mendengar dengan seksama.

“Sekarang…. hhh… hhh…” Kyuhyun menarik napas panjang-panjang. “Aku butuh batrei ponselmu buat jaga-jaga, karena aku ada janjian dengan orang di tempat lain.”

Kyuhyun membuka penutup ponsel Sungmin dan mencabut batreinya. Kemudian Kyuhyun mengedarkan pandangan kesekeliling ruangan dan menyadari bahwa meja telah bersih dan kursi sudah ditata rapi. “Anak-anak mana?”

“Sudah pada pulang,” dengus Sungmin. “Kita tadi pada nungguin kau, tapi tak datang-datang. Akhirnya pada pulang. Kasihan tuh Suzy, tadi dia nungguin kamu sampai telat janjian ke tempat lain. Dia baru aja pergi nih, Siwon juga tadi langsung nyusul Suzy. Dia cemas banget kelihatannya. Kata Siwon, Suzy tidak terlalu kuat jalan saat udara dingin.”

Kyuhyun ingat Suzy. Ya ampun, Suzy. Dia benar-benar merasa bersalah karena membuat gadis itu menunggu lama, sampai terlambat pergi lagi… tentu dia jadi kerepotan gara-gara ulah Kyuhyun.

Dan omong-omong soal terlambat…

Kyuhyun melirik jam di dinding dan mengerang kesal. “Shit, aku juga telat! Aku duluan ya!” Kyuhyun segera ke luar ruangan.

“Kyu, mau ke mana?!” teriak Leeteuk.

Kyuhyun tak menjawab. Dia berlari ke luar Aldante. Jarak dari Aldante ke restoran seafood dekat perpustakaan dapat ditempuh selama sepuluh menit dengan jalan kaki, tapi Kyuhyun bisa memangkasnya hingga empat menit saja dengan berlari kesetanan.

Iya, dia berlari nyaris tak lihat apa-apa. Kecepatannya tak secepat kecepatan angin, tapi Kyuhyun mengerahkan seluruh tenaga agar memacu kakinya berlari. Padahal tubuhnya benar-benar didera kelelahan karena perjalanan yang jauh dan menguras emosi tadi. Hujan yang turun deras pun tak dipedulikan Kyuhyun. Satu yang dipedulikannya: jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam, tentu Bidadari sudah datang dan menunggu.

Sesampai di restoran itu, Kyuhyun baru merasakan kakinya cenat-cenut dan napasnya berantakan luar biasa. Dia sampai harus memegang ujung pintu restoran karena hampir roboh akibat kelelahan. Tertatih, Kyuhyun menyeret kakinya masuk ke dalam restoran sembari mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru. Mencari-cari gadis yang memakai kaos kuning dan jins hitam.

Restoran agak penuh dan itu membuat Kyuhyun kesulitan mencari. Ditambah dia tidak bisa fokus lagi karena benar-benar capek. Bajunya juga basah kuyup terkena hujan.

Kyuhyun memutuskan mengambil ponsel di saku dan menghidupkannya—berkat batrei yang dicolong dari Sungmin. Kyuhyun memencet speed dial nomor pertama, kontak atas nama Bidadari.

Terdengar nada sambung jeritan Tiffany yang sudah familiar di telinga Kyuhyun. Tapi beberapa detik menunggu, tidak ada tanda-tanda nada sambung itu akan berakhir.

Kyuhyun sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya, saat tiba-tiba didengarnya suara Tiffany yang sama, yang mengalun masuk ke dalam gendang telinganya.

Kyuhyun spontan menoleh ke kiri.

Dua meja dari tempatnya berdiri.

Sebuah ponsel berkedap-kedip tak sabaran.

Suara Tiffany terdengar melengking, bersumber dari sang ponsel

Di samping ponsel itu, ada buku dengan tulisan besar-besar di sampulnya: The Winner Stands Alone.

Tangan Kyuhyun terhenti di udara.

Ditatapnya meja itu dengan dada berdebar-debar.

 

.

.

.

.

.

.

To be continued

pic spam, gelang dari Malaikat untuk Bidadari:

il_340x270.669179550_f6lc

88 thoughts on “Angel’s Call (014)

  1. aduhh aduhhh kenapa ada aja halangan buat mereka bertemu yak, bikin gregett abissssssss ψ(`∇´)ψ
    Siwon tenang aja, teman misterius Suzy itu Kyuhyun loh jadi jangan cemas begitu..

  2. aduhh aduhhh kenapa ada aja halangan buat mereka bertemu yak, bikin gregett abissssssss ψ(`∇´)ψ
    Siwon tenang aja, teman misterius Suzy itu Kyuhyun loh jadi jangan cemas begitu.

  3. hmm..
    maen baca2an cerita di telepon. ehh btw yg jadi pertanyaan aku tuh kaga abis ya pulsanya? nelpon berjam2 gitu..?

  4. Yang baju kuning jangan sampai lolos

    Hahha baru ini aku nangis karena kayanya takdir mempermainkan dua orang ini #nangisbombay

    Semangat nulisnya

  5. Hadeuhh gagal lagi ketemunya…

    Aihh bikin penasaran aja😀
    Sebelumnya maaf ya thor.. maaf banget kalo kata aku ada kalimat-kalimat yang berlebihan, kalau bisa lebih baik pake kata2 baku aja biar lebih bagus lagi, tapi secara keseluruhan baguss😀
    Tetep semangat ^_^ aku suka ceritanya

  6. Kaos kuning jins hitam nd senyum yg berkilauaaannn,,,
    Knp hrs kjebak macet si ???
    klo gk kjebak mcet psti ktmu d’acara reoni trs kaget deh pas ktmu lg d’tmpt bidadari nd malaikat ketemuan itu trnyata udh ktmu dr td,,
    Hahaha

  7. yeeeay sebentar lagi mereka ketemu, pasti mereka kaget ternyata sebenarnya mereka adalah temen SD
    penasaran sama reaksi mereka.
    oke next chap😀

  8. kaos kuning celana hitan dengan senyum yang berkilauan

    xD

    itu manis bingooooooo. seandaninya saja mereka bertemu
    ih authornim kenapa mereka gagal dipertemukan?

    yang terpasti. saya suka liat suzy lebih hidup kyuhyun juga. keduanya kayak sudah saling bergantung pada satu sama lain. menakutkan sih, tapi itu yang membuat perasaan mereka jadi lebih hidup di ff ini.
    terima kasih authornim sudah membuat ff bagus seperti ini. saya jadi pengen tanya tipsnya. tulisan kamu bisa itu nggak bertele tele tapi maknanya langsung kena. beda sama gaya tulisan ff saya wkwk

    ketemu di chap selanjutnya ya. dengan senyum saya yang berkilauan😀

  9. Lahhh kirain kyuhyun bakal ketemu suzy di part ini eh ternyata be continued duhhh wkwkwk. Wahhh daebakk aku lanjut bacanya ya thor hrhehehehe

  10. Siwon kayaknya ngga setuju kalo suzy ketemuan sama pria busan padahal itu temen SD sendiri.
    Kali ini kayaknya mereka ngga berhasil ketemu lagi jadi bikin makin penasaran

  11. Pingback: Trailer: Angel’s Call | sophiemorore

  12. sorry yah thor, bru bisa ksih komen d’part ini aku bca marathon dri part 10… Ketinggalan bgt, lpa kalo lngganan nih ff… Ska ama critanya,bkin pnasaran .. good job thor🙂

  13. Aduuuuhhh eon geregetan banget ini, aku pikir mereka bakal ketemu pas di reunian tp ternyata eonni berkata lain kkkkk..

    Itu pas di restaurant jeng jeng jeng *sound effect gagal* banget..

  14. HYUKJAE—JIEUN STAN DISINI!!!!!!

    HUWAAAAAA AKHIRNYA NEMU JUGA LAGI ITU KAPEL SATU YANG LANGKANYA MINTA AMPUN. BIASA SIH YA BANYAK HATERS PASCA SCANDAL ITU. TAPI MAKASIH LOH KAK, JIWA FANGIRL INI KEMBALI MENGGEBU/?

    BTW..

    KENAPA HARUS TBC?! KAN… KAN… ITU… MAU KETEMU. IH GEMEEYYSSS SAMA KAK SOPHIE YANG PINTER BANGET NARUH TBC DIMANA. GREGET DEH TT-TT

    • HEEEEIII NADO NADO NADO!
      aku juga shipper mereka tauukkk aaaa
      *kmbali terbayang hari2 bahagia saat skandal mreka mencuat keluar
      kekekeke

      kenapa yaa tbc? aku ga tahu siapa yg naruh tbc disitu? kekekkee
      tunggu next part ya~ makasih udh bacaa

  15. Udh nyangka.. Endingnya pasti kaya gni… Haduuuhhhh… Kalo ga macet ga bakal endingnya kya gni kan.. Wkwkwkw
    Itu suzy nya di umpetin dmn?
    Jgn bilang di bawa kabur siwon.. Ko hpnya dsmpen di meja…
    Next partnya kilat ya soph… Hihi

  16. ya ampyuun masih belum ketemuan jugaak, aku udh teriak teriak gaje ngelihat tulisan to be continued itu tuu.. kk sophie next part secepatpatpatnyaa yaaa, pleaaase #sogok pake yesungXD
    itu siwon kykny gak rela amat sepupuny dapat calon suami baru:D

  17. novel “The Winner Stands alone”??
    yakin pemiliknya Suzy? ringtonex sama sih. tapi bisa jadi orang lain??
    atau jgn2 Suzy udah pingsan duluan d tengah jalan, gr2 gk kuat dingin. trus d antar pulang sm Siwon. #ngarang.com

    Ketemuin mereka beneran donk , kasian para readers, #lupain author lol

    Hyuk jae, …..MENCRET….??? oh no. dia ternista bgt.

  18. Duh Dikit lagi mereka bakal ketemu 😫 Tbc bikin Greget eon 😭
    padahal part ini lbih panjang dr biasanya tp ttep aja belum bisa ketemu
    next mereka berdua pasti ketemu yah eon kkkk~

  19. ngakak pas suzy bilang hyuk jae suka mencret😄
    siwon sepertinya aneh,kenapa dengan.y??
    hadeuhhh udh ditempat yg sama masih aja belom ketemu lebih tepatnya bertatap muka…
    sophie lanjuuuuutttt!!!!

    • iyaaa suka mencret ya ampun maapin aku ya… aku lossss aja pas ngetik itu
      pas baca ulang, baru nyadar
      WHAT HYUKJAE HOBI MENCRET?
      kekeke kayaknya pas ngetik aku lagi nge blurr gitu otaknya keke

      oke ditunggu aja lanjutannya

Just talking...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s