Sweetness, You (Obesity Stage 1: Cupcake)

“Bagaimana dengan… jatuh cinta pada sahabat sendiri… yang sesama jenis?” tanyaku, padanya.

Dia, memandangiku. Lama. Matanya seolah-olah menodongku dengan kalimat, ‘kau tidak sedang bercanda kan?!’

Aku tersenyum. Tidak, tentu tidak.

Masa, jatuh cinta padamu disebut bercanda?

 

.

.

jessica4

.

.

.

.

Note:  OOC.

 

Sweetness, You (Obesity Stage 1: Cupcake)

Sebelum lahir, saat masih di Surga, bersama Tuhan dan para calon teman atau musuhku di dunia, aku pasti pernah bilang seperti ini: “Tuhan, jika aku lahir nanti, aku tidak ingin makan yang manis-manis supaya aku tidak sakit gigi. Jadi gigiku akan utuh sampai nenek-nenek nanti.”

Saat aku bicara begitu, Tuhan mungkin tertawa terbahak-bahak, dikiranya aku bercanda. Atau dikiranya aku ini bibit manusia kurang ajar. Berani-beraninya mengajukan perintah konyol macam begitu. Tapi mungkin juga, Tuhan mengabulkan perintahku dengan begitu cepatnya hingga ketika lahir pun, aku selalu tersedak diberi ASI atau susu botol.

“Kau alergi protein sapi dari bayi, Sayangku,” ujar Ibu saat kutanyakan kenapa waktu bayi aku lebih mirip orang-orangan sawah ketimbang bayi normal montok lainnya. Aku kurus, ceking, dengan mata hampir mencuat keluar. Saat kupandangi foto bayiku, aku terus bertanya-tanya apakah mataku saat bayi benar-benar pernah menggelinding copot atau tidak?

Dan ibu, menganggap otakku geser karena bertanya pertanyaan konyol begitu.

“Kupikir itu bukan karena protein sapi, itu karena aku benci yang manis.” Aku meletakkan album foto ke pangkuanku dan menghisap rokokku dalam-dalam. Asapnya mengenai wajah Ibuku, tetapi wanita itu seolah tak peduli aku mau merokok atau tidak. Toh, yang mengajarkanku memegang tembakau untuk pertama kali adalah dirinya seorang.

“Sayang, kau benci manis karena waktu umur lima tahun… kau pernah muntah gara-gara dilempar kue tart oleh ayahmu—tepat di wajahmu.”

Aku ingat saat-saat sialan satu itu.

Hari ulang tahunku yang kelima. Ayah dengan baju kantornya yang bau pengharum ruangan, datang mengendap-endap saat aku sedang asyik-asyiknya mewarnai di ruang televisi. Alih-alih mengatakan, “Selamat ulang tahun putriku sayaaaang!”, Ayah justru memanggilku begini, “Hei, hei, lihat Ayah punya kejutan!”

Dan saat aku menoleh, Ayah langsung melempar tart persis ke wajahku.

Aku jatuh gedebuk ke belakang, terantuk lantai penuh suksesnya, dengan wajah penuh krim tart, dan aku menangis keras sekali. Lalu aku muntah dan dibawa ke rumah sakit. Dokter bilang, kepala bagian belakangku mengalami trauma. Untung hanya ringan, tapi tak boleh lagi aku jatuh dengan posisi kepala belakang terantuk lantai. Katanya, aku bisa mati.

Aku menangis keras mendengar penjelasan dokter. Ampun, anak umur lima tahun sudah dikata-katain mati oleh dokternya sendiri. Bisa bayangin? Aku bicara saja masih patah-patah, jalan saja masih nabrak sana-sini, dan tahu-tahu seorang dokter bilang kalau kau bakal balik lagi ke Surga buat ketemu sama Tuhan?

Ditambah, Ayah hanya tertawa mendengar penjelasan Dokter dan dia meminta maaf dengan tampang penuh tidak penyesalan, “Maaf ya, Putriku sayang… hehehe… habis tiap Ayah lihat wajahmu… hehehe… Ayah jadi gemas… hehehe.”

Aku baru divonis bakal mati dan dia malah ketawa-ketiwi, Ayah macam apa dia?

Dan lagi pula, memang tidak ada alternatif lain untuk menyalurkan kegemasannya itu ya, selain melempar anaknya yang menggemaskan ini, dengan kue tart?

Itu ulang tahun terburukku, omong-omong.

Sekaligus, ulang tahun terakhirku dengan Ayah.

Iya, Ayah meninggal lima bulan sesudah insiden vonis mati-ku yang didendangkan para dokter.

“Oh, aku lupa mematikan kompor!” Ibu berseru membuyarkan lamunanku. Dia melempar senyum sebelum pergi ke dapur tergesa-gesa.

Aku kembali menyesap rokokku dan memandang langit-langit rumah yang sudah agak usang. Aku dan Ibu adalah dua wanita malas di dunia. Kami tidak suka bersih-bersih dan kami juga suka sombong untuk menyewa binatu. Jadilah, rumahku lebih mirip tempat peristirahatan kecoak dibanding tempat peristirahatan dua manusia berkelamin perempuan.

Aku menepuk-nepuk jins hitamku saat berdiri dari duduk dan melempar sisa putung rokok ke asbak. “Bu, aku pergi dulu!” seruku.

“Kemana?” teriak Ibu dari dapur.

Aku meraih ranselku dan menyelempangkannya sembarangan. “Ke Korea.”

Kepala Ibu melongok dari pintu dapur. “Ya udah, jangan lupa bawa kunci cadangan!’

Aku memandang Ibu sejenak, “Bu, aku mau ke Korea. Bukan main ke tetangga sebelah.”

“Oh, oke!’ Ibu melambaikan tangan tak peduli. “Buang rokokmu, nanti manajermu tahu, kau bisa dibunuh.”

Aku mengerling bosan. “Ugh, dibunuh pun aku tidak akan mati cepat. Setidaknya, hanya kepala belakangku yang bisa bikin aku masuk ke peti mati, Ibu tahu itu, kan?”

Ibu kembali melongokkan kepala dari dapur, kali ini wajahnya penuh dengan seringai lebar, “Iya, aku tahu itu, Amber Josephine-ku Sayang.”

.

.

.

.

.

.

Manajer Lim, aku lebih senang memanggilnya Tuan Lim atau Mister Lim, datang menyambutku dengan palang namaku yang dicetaknya besar-besar. Aku memakai kacamataku cepat sembari beringset mendekati Tuan Lim dengan gaya tidak nyaman. “Hei, Mister Lim!” aku mengerling ke arah palang namaku. “Turunkan palangnya, kau buatku malu dengan tulisan hangulmu.”

Aku tidak tahu bagaimana bisa Tuan Lim merumuskan nama “Amber Josephie Liu” dengan huruf bulat-bulat ala hangul korea. Yang pasti, terlihat aneh dan bikin iritasi mata.

“Ini tulisan yang indah, lho,” kata Tuan Lim. “Aku buatnya penuh hati-hati.”

“Oh, aku bahkan tak tahu itu tulisan apa. Aku tak bisa baca hangul.”

“Tapi kau tahu kan, ini namamu?”

“Tahu. Tapi tak perlu menyambutku berlebihan.”

Tuan Lim memandangiku dengan senyum lebar. “Aku hanya ingin agar kau bisa paham, kalau kau ini diperhatikan oleh agensi.”

“Tanpa itu pun aku sudah tahu.” Aku menarik tangan Tuan Lim buru-buru, kami berjalan cepat menuju bandara. Aku tidak nyaman berada di bandara, atau ditempat keramaian apapun. Kata Tuan Lim, kalau aku begini terus, mana bisa aku berada di atas panggung dan bernyanyi. Dia bilang aku bisa kejang-kejang sebelum debutku tiba.

Kami tiba di gedung agensi setelah perjalanan dari bandara memakan waktu lebih dari satu jam lamanya. Tuan Lim berceloteh tentang keadaan para member, jadwal-jadwal yang sudah diatur sedemikian rupa, dan lalu blah blah blah, aku tak mendengarnya. Aku sudah jatuh tertidur lima menit sejak mobil lepas landas dari parkiran bandara.

“Hari ini gedung ramai, ya?” kataku menatap lobby yang penuh orang-orang.

Ada banyak artis, penyanyi, trainee, yang berlalu lalang dan saling berceloteh riang. Beberapa kukenal dan kusapa, beberapa kukenal dan kupilih untuk tak kusapa, beberapa lagi boro-boro kenal, lihat saja tidak pernah.

Ini gedung agensiku, gedung tempatku menghabiskan nyaris 36 jam dalam sehari untuk berlatih di lantai lima dan kadang-kadang di lapangan bawah gedung. Nyaris tidak pernah memikirkan hal lain selain berlatih; bernyanyi, menari, bernyanyi, menari, berakting, bernyanyi, bernyanyi, bernyanyi… aku tidak yakin suaraku bagus-bagus amat, tetapi percayalah, aku selalu disuruh menyanyi oleh orang-orang yang menamai diri mereka sebagai “pelatih trainee SM Entertainment”.

“Ada rapat CEO di lantai delapan,” Tuan Lim menjelaskan perihal keadaan yang sedikit riuh di lobby dibanding hari-hari normalnya.

“Oh.” Aku memandang ke depan sejenak lalu berbelok ke arah tangga darurat. Tuan Lim langsung menarik tanganku.

“Kau mau kemana?” tanyanya dengan suara heran.

“Tidak lihat?” Aku mengedikkan kepalaku ke arah lift. “Antrian di lift panjang seperti belalai gajah? Keburu beruban begitu tiba giliranku naik.”

Tuan Lim memandangiku dengan wajah mencebik. “Aku tidak kuat naik tangga darurat.”

“Kalau begitu, selamat beruban! Aku mau naik tangga dulu!” Kutepuk bahu Tuan Lim dan melompat-lompat menuju tangga darurat. Tuan Lim meneriaki namaku, tetapi mana peduli aku, dia teriak sampai tenggorokannya meranggas atau tidak, aku akan tetap naik tangga darurat.

Sebenarnya aku tidak suka naik tangga, mungkin ini karena rokok, napasku tersendat-sendat tak jelas begitu sampai di tengah jalan. Tetapi daripada aku telat ke lantai lima dan dimarahi para pelatih? Baiklah, baiklah, melangkah saja pelan-pelan… jangan keburu-buru… pasti bisa, pasti bisa.

Dan benar saja kan, baru sampai lantai dua, aku sudah banjir keringat. Oke, memang dasar manusia sombong, kenapa tadi tidak tunggu beruban saja menunggu lift? Sekarang lihat, jalan saja sudah seperti orang jompo.

Dan, aku berhenti, ketika mendengar sebuah derap langkah dari arah atas. Aku berhenti di belokan tangga dengan terengah-engah. Oke, ada manusia sombong selain aku yang mengambil jalur tangga darurat juga rupanya.

Derap langkah itu semakin lama semakin dekat. Suara sepatu yang berbunyi “tuk tuk tuk”, yang kupikir tentu heels sepatunya sangat kecil karena menciptakan gaung yang begitu riuh.

Aku mendongak ke atas.

Hingga akhirnya sebuah siluet tampak berlari dari atas, membawa sekotak besar kardus, dan memakai rok mini.

Aku menunduk. Bodoh sekali, siapapun itu, yang memakai rok mini saat turun tangga.

Suara sepatunya semakin mendekat, aku berpikir apa sebaiknya aku pura-pura tidur saja di tembok—aku tidak tahu kenapa bisa ada ide begitu melintas di otakku, tetapi aku hanya berusaha berpikir agar si-yang-lagi-turun-tangga tidak melihat keberadaanku.

Dan, lalu, ada sebuah teriakan samar-samar terdengar. Aku tak bisa menangkap teriakan itu dengan jelas. Karena tahu-tahu, yang kulihat, si-yang-lagi-turun-tangga itu, tersandung anak tangga dan menjerit ketakutan.

“Argh!”

“Awas!” teriakku berlari ke atas. Menangkap tubuh yang hampir menggelinding ke lantai bawah. Aku berhasil menahannya, menahan tubuhnya, meski tidak dengan kardus bawaannya yang menggelinding jatuh tiga empat anak tangga dan isinya berhamburan keluar. Benda warna-warni, kecil-kecil, bulat-bulat. Sudah kusipitkan mataku tetapi tak bisa terdeteksi benda apakah itu.

“Oh, astaga! Cupcake-ku!” teriak orang ini, orang yang masih kutahan tubuhnya. Dia mendorong tubuhku serta merta ke belakang dan berlari panik ke bawah.

Aku memiringkan kepala. Oke? Begitu saja? Dia tidak bilang “terimakasih sudah menolongku”? Atau paling tidak, dia tersenyum begitu?

Aku memandangi punggung orang itu, gadis itu tepatnya. Dia berlari cepat ke belokan tangga tempat benda yang tadi disebutnya “cupcake” berhamburan tak berdaya. Aku hendak berbalik, melanjutkan perjalananku ke lantai lima, tapi sesuatu seolah menahan langkahku.

Aku mendesis.

Harus kuakui, aku punya penyakit yang sangat lemah: aku ini orangnya baik hati, pakai sangat. Tidak bisa melihat orang menderita meski sebenarnya nggak menderita-menderita amat. Pokoknya, aku ini baik hati sekali. Dan bagiku, itu sikap negatif. Karena lihat, sekarang aku justru memikirkan nasib gadis yang kini sibuk berkomat-kamit cemas dengan suara yang lirih sekali.

Aku  berbalik dengan gerakan kesal dan turun tangga mendekati gadis serta cupcake-nya.

“Ada yang bisa kubantu?” kataku sesopan mungkin.

Gadis itu mengangkat kepalanya dan wajahnya tampak sembab. “Mereka… mereka… mereka pasti akan menghabisiku jika tahu aku punya simpanan cupcake.”

“Mereka?” Aku mengernyit. “Siapa?”

Mata gadis itu bergerak ke atas. Ke arah teriakan sayup-sayup yang terdengar entah dari lantai berapa.

“Kau menyimpan… apa tadi ini?” aku berjongkok, lalu mengangkat benda warna pastel dan beraroma gula dengan gaya jijik.

“Cupcake,” ujarnya.

Mataku menyipit sebelah. Nama benda ini saja sudah terdengar manis, bikin perutku mual.

“Bagaimana ini?” gadis itu menggaruk-garuk kepalanya gusar. Dan dia mulai menangis—yang mana itu membuatku melongo. “Jika mereka tahu aku tak ikuti program diet…”

“Kau lagi diet?” aku menatap tubuhnya dari atas hingga bawah. Gadis ini kurus, kurus sekali malah. Bagian lemak mana yang perlu dihilangkan sampai-sampai harus diet? Aku menggeleng-gelengkan kepala mengenyahkan gagasan itu. “Terus kalau diet, kenapa makan kapkeik?”

“Cupcake,” ralatnya.

Aku mengibaskan tangan. “Whatever.”

“Aku suka cupcake,” jawabnya. Tapi kemudian matanya membeliak lebar saat didengarnya suara pintu tangga darurat terbuka. Bukan pintu darurat di dekat kami, tapi beberapa lantai di atas kami.

“Mungkin dia disini,” ujar sebuah suara.

“Cari sampai dapat dan lihat apa yang dia sembunyikan!” sambung suara lain.

Gadis di depanku tampak panik. Dia memandangi cupcake-cupcake bawaannya penuh kecemasan. “Ba-bagaimana ini…?”

“Habiskan saja kapkeik-nya,” kataku. “Jadi barang buktinya hilang.”

“Sebanyak ini?” suara gadis itu terdengar bergetar.

Aku mengangguk datar. “Iya, kan kau bilang suka kapkeik.”

“Ta-tapi…” gadis itu kembali mengeluarkan air mata. “A-aku… tidak bisa makan sebanyak ini dalam waktu sing—nggh…” Gadis itu melotot lebar saat tahu-tahu kujejalkan sebuah cupcake ke mulutnya.

“Makan,” kataku. Tanganku mengambil sebuah cupcake dan menjejalkannya kembali ke mulut gadis itu. “Makan yang banyak.”

Gadis itu nyaris tersedak. Dia memandangiku seolah aku ini jelmaan nenek sihir super sadis yang turun dari dunia neraka.

Tanganku meraih lagi cupcake yang berserak di lantai, kali ini tiga cupcake sekaligus. Sorot mata gadis itu langsung berubah horor saat kuangkat tanganku yang penuh cupcake, dia berpikir aku akan menjejalkan lagi cupcake ke mulutnya.

Aku memandangi gadis di depanku tanpa ekspresi.

Kemudian aku, memasukkan seluruh cupcake yang kupegang… ke dalam mulutku.

Aku mengunyahnya, benda manis berwarna-warni itu.

Gadis di depanku merubah pandangannya dari horor jadi super kaget.

Aku hanya diam. Kuambil tiga cupcake lagi, dan kembali menelannya sekaligus.

.

.

.

.

.

To be continued

.

.

.

.

halo aku datang dengan cerita absurd yang baru

*bow* maaf kalau aneh

*ketawa setan* *dibantai*

dan, ini mendingan di terusin nggak ya? atau segini aja aah~ *kabur

kritik, saran, komentar sangat membantu🙂

13 thoughts on “Sweetness, You (Obesity Stage 1: Cupcake)

  1. ilama amber,bnrn kocak masa minta k tuhan,mn bisa request kyk gt?LoL..
    sophie,km jdiin amber lesbi kan?ada2 aja karakter yg km bikin sm plot cerita,pokoknya anti mainstream dr biasa
    oh ya soal cewek yg ditolong amber itu jessica?liat cover kyknya emg dia.*just my guess,i don’t know it’s right or not*

  2. Thor… 1 pertanyaan, dpt ide ff nya drmana? Kreatif bgt.
    Ceritany lucu pas awal2x. Ngakak bacanya

    Menjurus k cinta sesama trainee #perempuan kan y? Iya kan? #dr posterx

    Lanjutin….lanjutin…donk

  3. Aku mencium aroma cinta di sini #walah
    Hehe lagi2 first… Yg lain nape sih thor? #abaikan

    Ini kyknya so sweet bgt deh ceritanya… Cant wait for the next chap thoor!!!

    Btw itu sp ceweknya? Krissie kah?

Just talking...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s