Angel’s Call (013)

angels call2

“Who are you?”

-Cho Kyuhyun-

Namanya Dong Hae, Lee Dong Hae. Suzy diperkenalkan pada Dong Hae saat kelas dua sekolah menengah pertama, sebagai orang yang akan dinikahinya. Ada adat turun-temurun di keluarga ayahnya, yang juga menjadi adat kaum tua di Mokpo, bahwa sedari kecil anak-anak mereka terbiasa untuk dinikahkan. Walau masih dini, tetapi mereka telah diperkenalkan oleh pendamping hidup mereka untuk masa tua, untuk selama-lamanya, untuk nanti sampai mereka meninggalkan dunia.

Suzy ingat pertama kali dirinya bertemu dengan Lee Dong Hae. Pemuda itu sedang bermain dengan seekor parkit yang disangkar oleh Kakek Bae di halaman depan, saat para tetua tengah bertemu di dipan belakang. Suzy didorong ibunya untuk menemani Lee Dong Hae.

“Siapa dia?” tanya Suzy saat itu.

“Anak Tuan Lee.”

“Siapa itu Tuan Lee?”

Ibu tersenyum sembari membelai poni Suzy. “Sahabat ibu sejak SMA dulu, dia sekarang punya anak laki-laki.”

Suzy langsung paham maksud pembicaraan Ibu. Dia sering melihat teman-temannya dijodohkan, dan sudah sering pula menebak kapan gilirannya tiba. Suzy tak menyangka secepat ini.

“Tuan Lee suka pada Suzy. Katanya, Suzy anak yang pintar dan cantik,” tutur ibunya.

Suzy mengangguk. “Lalu…?”

“Lee Dong Hae juga pemuda yang pintar dan tampan, Suzy. Ibu dan Ayah suka sekali lihat anak itu.”

Nampan yang tadi dipegang Ibu disodorkan ke arah Suzy. Diatasnya ada es serut berlapis sirup stroberi. Ibu bilang, pemuda bernama Dong Hae suka dengan es serut buatannya. Suzy hanya mengangguk dan menurut. Kaki kecilnya melangkah riang ke halaman depan.

Saat itu, Suzy hanya melihat punggung Dong Hae yang tegap dan rambutnya yang ditata tak beraturan. Dia menaruh nampan di atas kursi dan berjalan mendekati pemuda itu perlahan.

Kemudian, seolah menyadari kehadiran Suzy, Dong Hae berbalik badan hingga mereka berhadap-hadapan.

Suzy mengerjap sekali

Dan Dong Hae tersenyum manis sekali

Itu pertama kalinya Suzy bertemu dengan Lee Dong Hae bertemu.

“Bae Suzy?” suara lembut Dong Hae terdengar.

Rambutnya berwarna hitam kelam dan matanya berbinar cerah. Dia memakai kemeja kotak-kotak warna ungu pupus dan celana kain warna cokelat. Sepasang sepatu ketsnya bersih seperti baru dicuci.

Suzy tersenyum tipis. “Lee Dong Hae?”

Itu pertama kalinya Suzy memanggil nama Lee Dong Hae.

Nama itu menggema di tenggorokannya dan naik cepat sampai ke celah-celah otaknya. Nama itu terus berdengung-dengung seolah meminta agar beradaptasi dengan pikiran Suzy. Akhirnya, Suzy sampai pada kesimpulan bahwa, nama itu terdengar cukup bagus.

Lalu, senyuman di bibir Suzy mekar semakin lebar. “Lee Dong Hae,” ujarnya lagi, seolah ingin mematenkan nama itu di kepalanya. “Lee Dong Hae, Lee Dong Hae, Lee Dong Hae.”

“Bae Suzy.” Dong Hae ikut tersenyum. “Bae Suzy, Bae Suzy, Bae Suzy.”

Dan mereka, sama-sama tahu, mereka akan hidup sebagai pasangan sampai tua dalam waktu dekat.

Seumuran mereka, tak mengenal cinta, tak mengenal kasih sayang, tapi mereka tahu mereka bisa hidup bersama satu sama lain sampai rambut keduanya memutih. Sama seperti yang telah sering mereka lihat terjadi pada leluhur-leluhur mereka.

“Mau es serut?” tawar Suzy.

“Saya suka es serut.” Dong Hae mengangguk.

Suzy berjalan mendahului Dong Hae menuju kursi tempatnya menaruh nampan. Dong Hae mengikuti dengan langkah ringan.

“Kakekmu suka memelihara burung, ya?”

“Iya, hobi.”

“Oh.”

Suzy berbalik, dan menyerahkan mangkuk es serut ke Dong Hae.

Keduanya duduk di tanah dan memandangi langit-langit sore. Tidak ada lagi percakapan diantara keduanya, hanya hening, dan sesekali ditimpali lantunan kicauan burung.

“Suzy kelas berapa?”

“Dua.”

“Oh, saya kelas tiga.” Dong Hae memandangi es serutnya.

“Nanti mau lanjut sekolah dimana?” tanya Suzy.

“Mungkin di sekolah dekat desa saya. Kalau Suzy?”

“Mungkin di sekolah dekat desa kamu.”

Dong Hae menoleh ke arah Suzy dan Suzy juga ikut menoleh ke arah Dong Hae.

Keduanya, sama-sama tersenyum.

.

.

.

.

.

.

Air keran wastafel menetes-netes tumpah, kapasitasnya melebihi baskom yang Suzy letakkan di bawahnya. Airnya meluber kemana-mana, sampai tangan Suzy yang memegangi pinggiran baskom terkena basahan air keran. Wajahnya juga ikut kena, akibat riak air yang begitu semangatnya jatuh ke dasar wastafel tetapi justru berakhir memantul-mantul ke atas.

Mata Suzy memandang kosong ukiran ikan emas yang menghiasi dinding sekitar wastafel. Tubuhnya diam tak bergerak seolah ruhnya memang sedang absen dari raga.

Sebuah tangan besar dan kokoh terjulur dari balik punggung Suzy, bersentuhan sedikit dengan bahunya, dan kemudian meraih putaran keran untuk mematikan pancuran air.

Satu detik, dua detik, tiga detik…

Ada jeda keheningan yang menyeruak ketika keran dimatikan.

Lalu, tangan itu mendekap tubuhnya dari belakang bersamaan dengan terpejamnya mata Suzy.

“Sepupuku…”

Suzy menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Kepalanya tertunduk.

“Aku bertingkah keterlaluan pada Ibuku,” bisik Suzy lirih.

“Sepupuku…” suara dalam Siwon terdengar begitu dekat di gendang telinganya.

“Tidak seharusnya aku berkata kasar padanya.”

Suzy merasakan tangan besar yang memeluknya ini semakin mengeratkan dekapannya. Suzy merasakan kehangatan sepupunya, Siwon, yang seolah tersirat ingin melindunginya.

“Sepupuku…” Siwon menaruh kepalanya di bahu Suzy. “Jangan terus-terusan merasa bersalah.”

Napas Suzy tertahan. Matanya berkaca-kaca.

“Dalam hal ini, kau juga terluka. Jangan bertingkah seolah kau harus menjadi paling kuat dengan mengkambinghitamkan diri sendiri.”

Suzy menunduk, dan dia terisak kecil. Lalu, lama-kelamaan isakan itu semakin keras. Dekapan Siwon semakin erat terasa. Dan Suzy bisa tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak menangis. Dia menangis terus, sampai-sampai tubuhnya tak kuat lagi berdiri. Tubuh Suzy merosot, terduduk di lantai. Memukul-mukul dadanya yang sesak, kepalanya terasa penat, dan matanya terasa panas. Rasanya sakit, di dadanya. Rasanya lelah, di kepalanya. Rasanya dia ingin bersandar, tubuhnya melemah.

Sungguh, dia butuh pertolongan.

.

.

.

.

.

.

Siwon membiarkan Suzy terus menangis di lantai. Tangannya mengambil baskom di atas wastafel, membuang seperempat airnya, dan menaruh air panas di atas baskom. Setelah memastikan suhu air yang sedikit hangat, Siwon meletakkan baskom itu di lantai, di samping Suzy. Di tangan Siwon ada handuk kecil yang sudah dipersiapkannya sedari tadi.

Siwon berjongkok lalu mencelupkan handuk itu ke baskom sekian detik, setelah itu memeras airnya. Satu tangannya menarik kaki Suzy agar terjulur lurus ke depan. Kemudian, dengan gerakan hati-hati mengusapkan handuk itu ke kaki Suzy yang membengkak. Kaki itu selalu membengkak ketika malam telah tiba, atau ketika udara dingin tak bisa ditoleransi oleh Suzy, atau ketika Suzy benar-benar kecapaian.

Siwon tersenyum sendu. Dulu, waktu Suzy pernah bersekolah di Seoul, Suzy pernah mengalahkan catatan waktu lari anak laki-laki sekelas mereka. Siwon ingat benar kejadian itu dari frame ke frame-nya. Saat Suzy berlari mengalahkan Leeteuk, yang tercepat di antara teman-teman sekelas. Saat Suzy tertawa dan menjulurkan lidah ke Leeteuk. Saat Leeteuk menepuk jidat kesal tapi tetap saja tertawa, karena dia syok dikalahkan perempuan dalam lomba lari. Saat seluruh anak cowok terpingkal-pingkal dan mencap Leeteuk seperti kura-kura selama dua bulan lamanya.

Seluruh kolase itu, berputar jelas di otak Siwon. Dia ingat benar semua kenangan bersama sepupunya. Dulu.

Dan kini, Siwon berada di sini, membasuh kedua kaki Suzy. Suzy tidak bisa lagi naik tangga dengan cepat, dia butuh dibantu—kalau tak ingin bilang dia butuh “dipapah” bak orang lanjut usia. Suzy tak bisa lagi berlari secepat dulu, oh, jangankan lari, jalan saja kesulitan. Kalau sudah kelelahan, kaki Suzy akan terpincang-pincang dan dia bisa rubuh kapan saja. Kakinya punya batas maksimal untuk melangkah.

Tangan Siwon terhenti di udara, sinar matanya meredup.

Suzy masih terus menangis.

Suara jangkrik terdengar dari pekarangan belakang.

Dulu, saat Suzy menginap dirumahnya waktu kecil, gadis itu tak pernah menangis. Siwon adalah bocah cengeng dan biasanya Suzy yang selalu membelanya. Kini, asing rasanya tiap kali melihat Suzy menangis. Kini, sesak rasanya melihat orang yang telah amat disayanginya, berubah sedemikian drastis menjadi orang yang benar-benar beda.

“Sudah… enakan?” tanya Siwon, setelah memperhatikan kaki Suzy sedikit lebih baik dari tadi.

Suzy memandang sejenak kakinya lalu mengangguk.

Dulu, Siwon selalu menganggap Suzy adalah pahlawan dan bisa melindunginya dari apapun.

Kini, Siwon bersumpah sampai mati pun, dia harus jadi pahlawan bagi sepupu yang amat disayanginya ini.

.

.

.

.

.

.

“Sepupu…” panggilnya.

“Hm?”

“Mau kuceritakan kejadian setahun lalu itu?”

Siwon mengangkat kepala dan menatap Suzy. Tangisan Suzy telah berhenti meski tak sepenuhnya.

“Kau pasti belum dengar cerita selengkapnya… soal kecelakaan itu.”

Siwon meletakkan tangannya di atas kepala Suzy dan mengusapnya. “Tidak perlu.”

“Perlu,” potong Suzy. “Kau perlu tahu. Kau pasti bingung karena aku tiba-tiba ke Seoul. Dan ibumu hanya bilang agar kau menjagaku karena suamiku baru saja meninggal.”

Siwon memiringkan kepalanya. “Darimana kau tahu apa yang Ibuku bilang padaku?”

Suzy tersenyum

Dan Siwon seolah paham.

Sepupunya ini, dia punya sensitifitas yang lebih dalam dibanding orang lain. Siwon bisa bilang, Suzy dapat tahu dan paham pikiran manusia hanya dari gerak-geriknya, nyaris seperti peramal. Tapi Suzy selalu meralat dengan mengatakan bahwa, dirinya hanyalah gadis yang senang mengamati; mengamati manusia, mengamati bagaimana cara mereka melahirkan sebuah pikiran, bagaimana cara mereka meluapkan perasaan, bagaimana cara mereka mengambil suatu tindakan.

Mengamati dengan sensitifitas yang tinggi membuat Suzy mampu membawa dirinya kemanapun, mampu beradaptasi, dan bahkan bersikap dewasa dibanding anak-anak seusianya. Dan Siwon selalu menambahkan: Suzy juga mampu membuat semua orang menyukai gadis itu karena ada rasa nyaman ketika berada di medan kehadirannya.

Itu yang membuat Siwon tak pernah heran jika saat SD, hampir semua bocah laki-laki mencuri-curi perhatian pada sepupunya.

Sekarang pun, tetap sama. Tidak akan ada yang tidak menyukai Suzy.

Tidak—sampai mereka mendengar siapa sebenarnya seorang Bae Suzy.

“Kau tahu kan, namanya Lee Dong Hae.” Suzy memulai ceritanya dengan suara yang amat pelan.

Siwon berdeham sejenak. “Aku tahu.”

“Ayahnya sahabat ibuku.”

“Aku sudah dengar soal itu.”

Suzy tersenyum. “Seminggu setelah pertemuan pertama, kami dinikahkan.”

“Iya… tahu…” Siwon saat itu tak bisa datang ke pernikahan Suzy karena sedang masa-masa ujian tengah semester. Dan, Siwon sempat marah juga, mengambek tepatnya. Bisa-bisanya, sepupunya, tahu-tahu menikah begitu. Siwon saja, pacar pertama saja, susah sekali dapatnya.

“Dia orang yang baik,” kata Suzy.

“Iya, aku dengar semua orang begitu.”

Suzy terkekeh pelan. “Orang bilang dia cocok denganku.”

“Pasti kamu senang bisa nikah dengannya.” Siwon tak bisa menghindari ada nada nyinyir dalam ucapannya. Dia masih, ingat dengan jelas, sepupunya ini… bikin dia syok karena kecil-kecil sudah nikah.

Suzy tertawa ringan. “Senang sekali. Dong Hae baik; dia cenderung anak rumahan dibandingkan aku yang suka kelayapan keluar rumah. Tapi Dong Hae tak pernah marah kalau melihatku pulang dalam keadaan dekil dan bau badan. Dia malah ketawa cekikikan dan ketawanya itu, lama sekali. Tak berhenti-henti. Soalnya, Ayah Dong Hae, Tuan Lee, malah yang marah-marah padaku. Katanya, aku ini bandel sekali. Perempuan kok bau matahari.”

Siwon tertawa mendengar nada lucu dalam kalimat yang Suzy lontarkan.

“Aku tidak tinggal di rumah orangtuaku setelah menikah dengan Dong Hae. Kami tinggal di rumah orangtua Dong Hae. Setelah kecelakaan itu terjadi, juga, sebenarnya aku dipaksa untuk tetap tinggal disana. Tapi aku menolaknya. Ibu juga, mengajakku ke Seoul, jadilah kami pindah kesini.”

Siwon tercenung.

“Omong-omong soal kecelakaan itu…” Suzy menepuk-nepuk punggung tangan Siwon. “Akan aku ceritakan. Sebentar, aku tarik napas panjang-panjang dulu.”

Siwon melirik Suzy yang menarik napas berkali-kali, bagai ingin menguatkan diri dengan apa yang ingin diucapkannya sebentar lagi. Siwon, sebenarnya tak tega, dia ingin menginterupsi dan bilang pada sepupunya kalau kecelakaan itu tak perlu diceritakan. Namun, Suzy tentu tak akan mendengar ucapannya.

“Dong Hae sudah bisa bawa mobil sejak SMA. Dia selalu membawanya saat sekolah. Dia orang yang sedikit kaya sih, di Mokpo.”

Siwon mengulum senyum mendengar celotehan Suzy.

“Waktu itu, hari Minggu. Dong Hae mengetuk kamarku dan bilang: ‘ayahmu meneleponku dan kita diajak mancing ke dermaga. Mau?’. Aku jawab: ‘mau! Mau! Mau! Ayo, kapan?’. Dong Hae berseru riang: ‘sekaraaaang!’. Kami lalu pergi ke rumahku dengan mengendarai mobil setelah beres-beres rumah dan berpamitan pada kedua orang tua Dong Hae. Kami bernyanyi lagu daerah saat melintasi perbukitan dan Dong Hae mengeluarkan candaan yang sudah basi. Aku tertawa, lalu bilang kalau Dong Hae ulang tahun kelak, akan kuhadiahkan buku kumpulan lelucon terbaru.”

Apa Siwon pernah bilang, bahwa Suzy adalah pencerita yang baik?

Kalau belum, Siwon akan bilang sekarang. Iya, sepupunya ini, benar-benar pandai bercerita. Gaya cerita Suzy membuat orang yang mendengarnya mampu membayangkan tiap detil yang dituturkannya. Siwon sudah dari tadi mendekap kedua kakinya dan memandangi wajah Suzy yang berbinar saat bercerita. Sepupunya itu bahkan menggerak-gerakkan tangan dengan ekspresif, seolah lupa bahwa baru sepuluh menit lalu dia menangis tersedu-sedu. Dan tambahan lagi, seolah lupa, bahwa cerita yang dirinya lontarkan akan berakhir tragis serta menyedihkan.

“Sampai di rumahku, ayahku sudah menunggu di teras. Beliau langsung melompat naik ke mobil, padahal aku bilang: ‘ayah, aku mau bertemu Ibu dulu!’ dan ayah menggerutu panjang pendek saat aku melenggang masuk ke rumah. Ayah mengobrol dengan Dong Hae di dalam mobil sementara aku mencomot kue-kue di dapur. Aku tidak bertemu Ibu, Ibu sedang di kamar mandi. Lagi mandi… dan tahu kan, Ibu kalau mandi hampir tiga jam.”

“Jadi kau langsung balik lagi ke mobil?” tanya Siwon.

“Tiii…dak! Kan aku tadi bilang, aku mencomot kue-kue di dapur. Aku mencomotnya lamaaa sekali. Aku juga makan di sana, mengambil kotak susu di kulkas, dan bahkan menuangkan sereal di mangkuk.” Mata Suzy berbinar jenaka. “Aku bikin Ayah dan Dong Hae menunggu lama karena aku sibuk makan.”

Siwon tertawa. Otaknya membayangkan tingkah Suzy yang mengobrak-abrik dapur sementara Dong Hae dan Ayah sudah mati kebosanan di dalam mobil.

“Tapi,” lanjut Suzy, kali ini, pandangannya meredup. “Seharusnya aku tidak makan di dapur selama itu. Kalau saja aku langsung balik ke mobil saat itu, setidaknya, tabrakan dengan truk besar itu bisa terhindari.”

Siwon menelan ludah. Wajahnya berubah iba. Tapi Suzy, dia tetap tersenyum, walau tak seceria tadi. Walau matanya hampir berkaca-kaca.

“Kami telat pergi ke pemancingan dan justru kecelakaan. Mobil yang Dong Hae kemudikan terbalik dan terseret sekian meter.”

Suzy terkekeh, tapi kepalanya tertunduk, dan dia menangis.

Dan Siwon bagai lupa cara bernapas.

“Saat itu, Dong Hae menyelamatkanku. Padahal tubuhnya sudah bersimbah darah dan dia terantuk kaca keras sekali, kepalanya… ada darah banyak sekali di kepalanya. Tetapi dia ngotot bangun dan menyeret tubuhnya keluar lewat jendela mobil. Dia juga berusaha mengeluarkanku dari mobil dan menggotongku sampai pinggir jalan. Kakiku terkena pecahan kaca banyak sekali dan aku menangis keras, tapi Dong Hae menyeka air mataku dan mengecup kedua mataku. Dong Hae bilang, ‘kakimu tak kenapa-kenapa, Suzy Sayang. Kakimu akan baik-baik saja’. Aku menggeleng dan berkata, ‘kakiku sakit sekali, aku tak kuat. Aku takut…’ kemudian aku teringat sesuatu begitu saja dan kembali menangis histeris sembari menunjuk mobil, ‘Ayah… Ayah… Ayahku, Dong Hae…!’. Dong Hae berkata dia akan menyelamatkan ayahku. Dia berjalan terhuyung, kembali ke mobil, hendak mengeluarkan Ayah yang terjepit di jok belakang.”

Suara jangkrik terdengar lagi. Kali ini bersahut-sahutan dengan anjing tetangga yang menyalak keras. Gema suara kedua binatang itu terdengar hingga ke dapur ini. Berbeda dengan kedua binatang itu, Siwon rasa-rasanya telah kehilangan suaranya. Tenggorokannya seperti meranggas dan tercekat.

“Kau tahu apa yang Dong Hae katakan padaku sebelum pergi ke jok belakang?”

Kepala Siwon menggeleng tanpa tenaga. “Apa?” suaranya terdengar parau.

“Nol tiga enam tujuh delapan sembilan sembilan nol nol…”eja Suzy.

“Itu…”

“Itu… nomor telepon ibunya.” Suzy menepuk-nepuk tangan Siwon. “Dia menyuruhku menelepon Ibunya. Bukan dokter, bukan rumah sakit, bukan tim penyelamat. Tapi… ibunya. Karena Dong Hae amat menyayangi Ibunya, Siwon. Dia anak yang benar-benar patuh, dia anak yang selalu mengabari orang tuanya jika pulang terlambat dari sekolah. Dia anak yang, amat sangat, dibanggakan orang tuanya, Siwon…”

Siwon teringat apa yang pernah Suzy katakan padanya tempo hari. Tentang temannya dari Busan yang menyebutkan deretan nomor, kemudian Suzy yang kepanikan, tingkahnya yang bagai orang linglung. Seketika, bulu kuduk Siwon meremang.

“Lalu, Dong Hae berbalik, pergi ke jok belakang. Nyaris tak sampai sedetik kemudian…”

“Suzy, sudah hentikan.” Siwon menggenggam tangan Suzy, kepalanya menggeleng-geleng cepat. “Jangan teruskan.” Siwon tak ingin mendengar kelanjutannya. “Hentikan,” pinta Siwon. “Aku tak ingin mendengarnya, Sepupu.”

Suzy menghela napas panjang. Kepalanya menggeleng lemah, seolah tanda bahwa dia meminta maaf karena tak mengabulkan permohonan Siwon, pun kemudian bibirnya mengeluarkan sebuah kata yang mengakhiri segala ceritanya tentang Lee Dong Hae. Tentang bocah yang tumbuh besar bersamanya sekian tahun. Tentang pemuda yang tinggal seatap dengannya. Tentang pemuda yang pernah singgah di hatinya. Tentang pemuda yang menjelma jadi suami terbaik tak tergantikan hingga maut menjemputnya.

“…Lee Dong Hae dan Ayah ada di dalam sana saat mobil kami meledak.

.

.

.

.

.

.

Jika berada di Seoul, satu-satunya yang dibutuhkan Kyuhyun saat ini adalah showeran di kamar mandi besar miliknya seorang diri. Mungkin dengan begitu kepalanya bisa lebih segar, mm… ralat, otaknya bisa lebih segar. Kucuran air yang menderu jatuh di atas kepala bisa merontokkan kepenatan yang berkomplot membuat aksi jahat melinglungkan otaknya.

Brengsek, tetapi dirinya kini justru sberada di Busan. Dirinya tinggal di rumah ibu tirinya yang, bahkan kamar mandi letaknya terpisah dari rumah dan agak menjorok ke hutan. Jadi, tak usah bayangkan akan ada shower di dalam kamar mandi berdinding kayu tersebut. Karena, bahkan, Kyuhyun harus menimba air dahulu jika ingin mandi.

Butuh perjuangan berat untuk menghilangkan penat di daerah pelosok macam begini.

Kyuhyun mengacak-acak rambutnya, dan akhirnya memilih mengemas boxer, kaos, dan celana komprang miliknya ke dalam plastik kresek hitam. Saat itu, tiba-tiba pintu kamar diketuk dan Ibu tahu-tahu menyelonong masuk sebelum Kyuhyun sempat mengijinkan.

Bola mata Kyuhyun mengerling malas. “Ibu… minta ijin dulu kalau mau masuk kamar!”

“Tadi sudah Ibu ketuk.”

“Tapi aku belum bilang boleh masuk.”

Ibu keluar lagi dari kamar, menutup pintu rapat-rapat, lalu terdengar ketukan pintu dari luar. “Kyu… Ibu boleh masuk?”

“Tidak!”

Kriet… pintu kamarnya malah dibuka Ibu.

Kyuhyun mengerang sebal. “Ibu… aku sudah bilang tidak boleh masuk.”

“Tapi Ibu ingin masuk,” kilah Ibu.

“Tapi aku sudah bilang ‘tidak’, Bu!” rengek Kyuhyun dengan suara cempreng.

“Tapi ibu tak peduli, Kyu!” Ibu sengaja mencempreng-cemprengkan suaranya.

Kyuhyun kembali mengacak-acak rambutnya kesal. Ibu tirinya itu, argh, kembali menjadi wanita menyebalkan yang suka ikut campur dan mau menang sendiri. Tapi ya sudahlah, Kyuhyun tak peduli-peduli amat. Dia sedang fokus pada hal lain.

“Mau kemana?” tanya Ibu melihat Kyuhyun berkemas.

“Mau nyebur di pantai.”

“Malam-malam begini?” cicit Ibu.

“Iya, aku lagi frustasi.”

“Kenapa? Hampir dua minggu tidak tawuran bisa bikin frustasi?”

“Ibu… bukan itu…” bola mata Kyuhyun kembali berputar malas. “lagipula, yang kulakukan selama ini hanya membela harga diri, bukan tawuran!”

“Memang kamu punya harga diri, Nak?”

“Ibuuuu….!” kalau umur Kyuhyun lima tahun, mungkin sekarang dia sudah nangis kesal karena Ibu ngeyelnya minta ampun. “Aku mau ke pantai. Mau berenang. Mungkin bisa menghilangkan penat.”

“Ada masalah apa?” tanya Ibu, kali ini nadanya berubah lebih perhatian.

Kyuhyun membuang napas keras. Dirinya terduduk di kursi terdekat.

Masalah apa, ya? Kyuhyun juga sebenarnya tak paham benar masalah apa yang membuatnya sampai pusing begini. Dia hanya tahu, semenit setelah berteleponan dengan Bidadari, dia berdiri dari duduknya dan berjalan keluar pintu, tapi kakinya tersangkut kursi dan dia jatuh gedebuk di lantai dengan posisi wajah mencium lantai. Jidatnya berdenyut-denyut sakit sekali dan bahkan berubah warna jadi merah.

Mungkinkah karena jatuh, dia jadi pusing?

Tetapi tidak, ini bukan pusing biasa. Ini pusing yang lain.

“Ibu…” Kyuhyun membuka mulut, “aku bilang aku pusing, tapi… kenapa selain kepalaku yang penat, aku juga merasa sulit bernapas.”

Ibu memandang Kyuhyun lekat.

“Kenapa ya, Bu?”

“Operasi kamu ada yang salah?”

“Bukan itu, Bu…,” rengek Kyuhyun. Kemudian matanya mengerjap beberapa kali. Mungkin, ada baiknya dia menceritakan hal ini pada ibunya. Perihal Bidadari. Toh, ibunya juga sudah ‘kenal’ dengan Bidadari. Ibu cerita saat Kyuhyun koma, Bidadari sering meneleponnya dan mereka selalu bicara panjang lebar. Ibu bahkan bilang kalau Bidadari itu ‘teman Kyuhyun yang jadi favorit Ibu’. Jadi mungkin Ibu bisa memberikan beberapa nasehat untuk Kyuhyun dan mungkin untuk Bidadari juga. “Bu, tahu Bidadari?”

“Ya…” Ibu memperhatikan ekspresi Kyuhyun. “Kau pusing begini gara-gara dia?” pandangan mata Ibu berubah jahil.

Mata Kyuhyun terpicing seolah berkata “Ibu, ampun deh, biarkan aku meneruskan ceritaku dulu!”.

“Ibu, tahu kan… Bidadari itu baik…” Kyuhyun berusaha keras menyusun kata-kata yang berseliweran cepat di otak. “Mm, kalau misalnya ternyata Bidadari punya rahasia besar yang bikin aku kecewa… apa yang harus aku lakukan?”

Ibu memiringkan kepala dan memandangi Kyuhyun lurus-lurus. Kemudian katanya, “bagaimana kamu bisa tahu dia punya rahasia?”

“Dia yang cerita padaku.”

“Kenapa dia mau cerita padamu?”

“Aku dulu pernah bilang, aku akan membantunya untuk menghadapi rahasia besarnya.”

“Dan kau justru kecewa saat tahu rahasianya, Kyuhyun?” Ibu mendekati Kyuhyun. “Sayangku, kau perlu tahu satu hal.” Sampai di depan Kyuhyun, Ibu mengusap-usap rambut anaknya. “Wanita tak sembarangan menceritakan rahasia yang mereka punya. Kau bilang kau akan membantunya? Dan dia menceritakan rahasia itu. Tandanya, dia sudah percaya sekali padamu.”

Kyuhyun tercenung mendengar perkataan Ibu.

“Kalimatmu yang tadi salah, Kyuhyun. Ini bukan tentang apa yang harus kau lakukan jika Bidadari punya rahasia besar yang bikin kau kecewa. Ini tentang… apa yang harus kau lakukan jika Bidadari sudah sedemikian percayanya padamu?”

Senyum manis terukir di bibir Ibu.

Kyuhyun mendongak, menatap wajah Ibu dalam diam.

“Apa yang harus kau lakukan, anakku?” bisik Ibu.

Kyuhyun merenung sesaat. Bidadari, percaya padanya? Ya, Bidadari sudah menceritakan rahasia yang sedemikian besar padanya. Bidadari, yang bahkan belum pernah ditemuinya sekalipun, yang mereka hanya bertukar cerita lewat sambungan telepon, yang hanya menjalin pertemanan tanpa pernah tatap muka atau jalan-jalan bersama selayak teman pada umumnya… meletakkan kepercayaannya pada Kyuhyun?

Rasa hangat menjalar di dada Kyuhyun.

Bidadari tak pernah mengatai Kyuhyun meski dirinya menangis di telepon. Bidadari setia mendengar semua curahan hatinya. Bidadari sering membuatnya tertawa dengan cara tak terduga. Bidadari selalu membantunya ketika Kyuhyun berada di titik terbawah hidupnya. Bidadari, teman yang hanya dikenalnya lewat telepon itu, bahkan dapat dibilang telah menyelamatkan hidupnya saat dikeroyok Kangin.

Bodohnya jika Kyuhyun justru menghindar lantaran sebuah rahasia dari Bidadari. Tololnya Kyuhyun jika tak mampu berdiri di samping Bidadari disaat temannya butuh pertolongan. Munafiknya dia jika merasa kecewa hanya karena rahasia yang karena demi Kyuhyun sendirilah, Bidadari rela memberitahu.

“Ibu….” Kyuhyun mengeluarkan suara. “Siapa itu Bidadari?” Sebaris senyum tipis terpatri di bibirnya. “Siapapun dia, aku tak peduli. Rahasia apapun yang dimiliki, aku akan terus berteman dengannya.”

Ibu tersenyum dan mengangguk. “Sekarang masih mau nyebur ke pantai?”

Kyuhyun menggeleng. “Tidak, Bu.”

Langit di luar jendela telah menghitam pekat dan bintang-bintang berkelap-kelip bergantian.

“Aku ingin kita pulang ke Seoul, Bu. Aku perlu bertemu dengan Bidadari… secepat-cepatnya.

.

.

.

.

.

.

See you next part~

84 thoughts on “Angel’s Call (013)

Just talking...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s