♔Obsession Series♔: Zhoumi

obsession5

-Aku tidak pernah mengerti apa yang perlu kita diskusikan, karena kau ini bukan warga negara yang biasa menerima demokrasi-

“Diam itu emas, tapi bicaralah karena aku tak butuh emas, Zhoumi!”

Ini sudah sekian ratus kalinya gadis itu mengetuk-ngetuk jemarinya di atas meja kayu, dekat jendela kafe yang berembun karena terkena bias hujan siang ini. Matanya memandang keluar tanpa motif apa-apa. Mungkin sedang melamun, atau mungkin sedang menikmati wangi tanah yang terserap lewat celah-celah jendela yang sedikit terbuka.

Sebenarnya, dia, gadis itu, bisa melakukan aktifitas lain yang jauh lebih berguna. Dia bisa membaca buku Pink Slip yang dibawanya jauh-jauh dari asrama, yang memenuhi clutch kecil berwarna magenta miliknya, yang baru dibelinya di situs online bersama teman-teman seangkatannya. Dia pernah berkata mereka kembaran beli clutch, gantungan kunci, dan entah hal-hal remeh-temeh lainnya yang sebenarnya bisa dibeli di toko aksesoris ketimbang memesan lewat shipping antar negara.

Atau dia bisa mendengarkan musik; aku tak memaksa dirinya untuk mendengarkan laguku, jadi dia bisa coba untuk menscroll MelOn dan mendownload lagu apa saja yang tengah populer. Aku dengar Shannon William baru debut beberapa bulan lalu dan banyak orang jatuh cinta pada suaranya yang digadang-gadang bisa mengalahkan suara IU. Jadi, coba saja, dengarkan lagu-lagu Shannon.

Atau, atau, atau, yang paling gampang, yang paling masuk di rasionalitas otakku: dia bisa menghabiskan strawberry cake with fondue yang di pesannya dua jam lalu. Strawberry cake with fondue itu harganya tiga kali lipat dibanding harga makanan yang kupesan; spaghetti, sandwich, dan big america latte. Dan dia hanya menghabiskan cake-nya dua sendok, sebelum kemudian meletakkan sendok di pinggiran piring dan berkata, “aku lagi diet, tidak bisa makan banyak-banyak.”

Saat dia berkata dirinya tak bisa makan banyak-banyak, aku malah tidak bisa paham-paham motivasi dirinya memesan cake mahal jika hanya untuk ditelantarkan begitu saja.

Dia. Gadis itu. Bermata besar dan berwajah seperti kokeshi, boneka khas dari Jepang. Meski pada kenyataannya dia berasal dari China, bukan dari negara sakura. Namanya Vivian Song. Dia cantik, iya sangat. Dan dia kekasihku, bukan, tunangan tepatnya. Seharusnya, dia orang yang kucintai. Seharusnya, dia orang yang selalu membuatku terpesona. Tetapi kadang-kadang, seperti saat ini, perilakunya membuatku tak ingin menatapnya berlama-lama.

Hingga, akhirnya, Vivian sendiri yang memanggilku, membuatku mengangkat kepala demi memandangnya.

“Zhou…” jemari Vivian berhenti mengetuk, dan dia mengeluarkan suaranya. “Kita perlu bicara.”

Aku meletakkan sendokku di sisi piring. “Vi…” aku menenggak air minumku. “Tidak ada yang perlu kita bicarakan.”

Kepala Vivian dimiringkan dan bola mata besarnya menyipit. “Ada. Banyak. Ada banyak sekali yang perlu kita bicarakan, yang perlu kita diskusikan.”

Aku membuang napas panjang. Hujan masih membentur-bentur dinding kaca. Sepasang kekasih baru saja masuk dari pintu dengan baju kebasahan. Mereka terkikik sebentar, sebelum akhirnya saling melepas jaket masing-masing.

“Aku…”

“Aku tidak pernah mengerti apa yang perlu kita diskusikan, karena kau ini bukan warga negara yang biasa menerima demokrasi.” Vivian memotong ucapanku sedikit tertawa sinis. “Itu kan, yang ingin kau bilang? Aku sudah hapal semua kalimat stagnanmu selama tujuh tahun ini, stagnan, tidak ada berubah.”

Aku diam.

“Biar kukatakan juga, Zhoumi, kau juga bukan warga negara yang biasa menerima demokrasi. Ah, tidak, aku salah. Kau ini… bukan warga negara yang PEDULI dengan demokrasi.”

Kubiarkan Vivian terus bicara.

“Aku cuma ingin kita bicara soal hubungan kita, apa itu salah, Zhoumi? Aku ingin mendiskusikannya karena kurasa semua tingkah yang kau lakukan sudah kelewatan.”

Tenggorokanku kering lagi. Aku meraih gelas, dan menenggak isinya hampir habis.

“Aku… aku tahu kau Super Junior, anggota Super Junior. Aku tahu kau punya banyak penggemar. Tapi, tapi, tidakkah kali ini kau sudah kelewatan? Kau kemarin pergi ke Jeju tiba-tiba, padahal sehari sebelumnya aku sudah peringatkan kau untuk bersama-sama denganku ke China, bertemu keluarga besarku, karena kita mau adakan makan malam bersama.” Vivian terus memandangiku, dan kali ini sorot matanya berubah nanar. “Tapi kau pergi ke tempat lain… kau tidak datang, kau membuatku pulang ke China sendirian! Kau tiba-tiba menghilang, ponsel tak aktif, aku menghubungimu lewat media sosial pun tak ada tanggapan, semua anggota Super Junior juga tak bisa kujangkau.”

Seorang pelayan berjalan melintasi mejaku dan berhenti untuk menerima pesanan dari sepasang kekasih yang tadi baru masuk kafe, yang kini memilih duduk di sofa pojokan dekat sound system.

“Aku tunanganmu, tapi sepertinya kau tak pernah menganggapku. Dua hari lalu, dua hari lalu kau bahkan mengatakan cinta pada seorang fans. Ini bukan sekali dua kali kau begitu. Kau seringkali kali seperti ini. Aku tahu kau ini idol, tetapi kau sudah punya tunangan. Oh, ya, kau memang tak pernah bicara soal pertunangan pada semua fansmu. Kau memang tak suka ‘bicara’, kan?”

Aku mengaduk-aduk spaghettiku.

Vivian mendengus.

“Zhoumi, sekarang bicara padaku! Apa sih, maumu?”

Pembicaraan ini mulai terdengar membosankan.

Vivian melipat kedua tangannya dan mata bulatnya melotot lebar-lebar. “Diam itu emas, tapi bicaralah karena aku tak butuh emas, Zhoumi!”

Aku kembali meletakkan sendokku, kali ini dengan setengah membanting, hingga bunyi dentingannya, bagiku, terdengar cukup keras. Dari sudut mataku, kulihat, sepasang kekasih di sofa pojokan, sempat melirik ke mejaku.

“Ini pembicaraan yang tidak penting, Vivian…”

“Ini pembicaraan yang penting, Zhoumi!” cicit Vivian. “Bisakah kau tidak bertindak diam-diam melulu? Bisakah kau mengabariku, kalau misalnya kau ada di mana, kau dengan siapa, kau sedang apa? Setidaknya, tak perlu ada lagi kejadian seperti saat semua keluargaku marah karena kau lagi-lagi tak memenuhi undangan di China.”

Aku tidak tahu apa yang perlu dibicarakan dari hal ini. Semakin membahasnya, penjelasan Vivian kupikir semakin berputar-putar. Kenapa harus bicara? Kenapa wanita suka sekali membicarakan sesuatu? Bicaralah kalau mau pergi, bicaralah kalau mau membatalkan janji, bicaralah kalau ingin melakukan ini dan itu, bicaralah kalau berencana mau bicara! Kenapa wanita banyak sekali bicaranya?

“Oke, aku minta maaf. Nanti aku akan minta maaf orangtuamu,” sahutku.

“Bukan itu yang kumaksud,” tukas Vivian geram. “Jangan sekedar minta maaf, kau juga perlu bicara ke mereka. Terutama, kau juga perlu bicara ke aku, soal apa yang selalu kau pikirkan agar aku tak bingung. Jangan tahu-tahu menghilang, atau tahu-tahu melakukan kegiatan yang membuatku marah!”

Bola mataku berputar malas. Ya, ampun…

“Zhoumi, kenapa sih kau selalu diam? Bicaralah! Kau tidak bisu, kan?” nada suara Vivian terdengar sedikit putus asa.

Ada satu pertanyaan yang paling benci kudengar dari wanita. Sebagai seorang pria, sebagai seorang Zhoumi: ketika dia sudah mempertanyakan kenapa aku selalu diam.

Aku tidak seperti wanita, aku tidak suka bicara. Aku bukan bibit-bibit tukang gosip. Aku tidak suka mengeluarkan serentetan kalimat panjang namun kosong. Aku tidak suka membicarakan rencana, aku lebih suka melakukan rencana. Aku pria, aku bicara dengan tingkahku, bukan dengan mulutku.

Aku benci membahas sesuatu yang sudah lewat seolah itu adalah masalah yang bisa mempengaruhi apakah besok Perusahaan Apple akan meluncurkan produk barunya atau tidak. Karena, sejauh ini, menurutku, masalah yang ditawarkan Vivian untuk didiskusikan adalah masalah perasaan. Masalah yang tidak konkret. Masalah yang abstrak. Masalah yang kalau dibahas, sampai manusia terbang pakai mobil pun, tak bakal selesai-selesai.

“Jadi, kau maunya bagaimana deh? Aku ngalah…” ujarku akhirnya.

Vivian justru tertawa mendengar kalimatku. Aku menoleh ke arah lain. Saat itu, sepasang mataku sempat bertabrakan dengan pemandangan di pojokan kafe. Pasangan di sana, tampaknya, juga sedang berdebat. Sang gadis, menekan-nekan telunjuknya di meja dan bibirnya berkomat-kamit cepat, sementara sang pria menggaruk-garuk kepalanya bingung. Wah, wah, apa kafe ini memang cocok jadi ajang perdebatan sepasang kekasih?

“Kau ngalah? Oke, kau ngalah. Dan kalau kau mengalah, kau pasti akan berpikir: berantem sama perempuan itu tidak enak, mereka selalu mau menang sendiri, hell yeah, perempuan memang selalu benar.”

Aku memandang tajam Vivian.

“Itu kan yang pernah kau bilang ke Dong Hae? Aku pernah mencuri dengar pembicaraan kalian.” Vivian tersenyum kecut.

“Terus, sekarang maunya apa?”

“Aku ingin kita membahas masalah hubungan kita!” cicit Vivian, seolah aku ini murid TK yang diajarin tambah-tambahan berkali-kali tetap tak mengerti.

“Bukannya dari tadi kita sudah ‘membahas’ hubungan kita? Kau mengoceh lima belas menit itu, namanya bukan ‘membahas’?” kataku.

“Bukanlah! Aku hanya…” Vivian terdiam sejenak,”aku hanya menjelaskan duduk permasalahannya.”

“Dan aku juga sudah melontarkan solusinya,” jawabku.

“Yang mana?”

“Yang aku bilang aku akan minta maaf?”

“Tapi jangan hanya minta maaf!”

“Nah, dan kau pun telah mengajukan opini oposisi. Yang harus aku turuti. Wajib. Kalau tidak, kau akan terus merecok. Tuh, lihat, kita sudah diskusi panjang lebar, kan?”

Vivian terdiam lama. Bersamaan dengan itu, lagu latar di kafe memasuki jeda habis. Ada bunyi krasak-krusuk selama sekian menit. Seorang pelayan datang tergopoh mendekati sound system dan mengganti kaset tape.

Lalu, kembali terdengar lagu ballad menggema di sepenjuru kafe.

“Aku ingin kita putus.” Vivian bersuara.

Aku memandangnya. “Putus?”

“Iya. Pertunangan kita, sebaiknya dibatalkan.”

Aku diam. Ini tidak main-main, kan? Wanita memang sering merengek minta putus. Kalau ada yang bilang, yang sering mutusin duluan itu pria, itu salah besar. Wanitalah yang duluan. Dengan alasan-alasan yang tak rasional. Dan aku tak menyangka Vivian juga akan berlaku serupa dengan wanita-wanita itu, memutuskanku, dengan alasan yang tak bisa kucerna dengan otakku:

“Aku tak pernah mengerti dirimu, Zhoumi.” Vivian mulai terisak-isak. Maskaranya hampir rusak saat air mata menggenang di pelupuk matanya.

Aku mengernyit, kenapa tiba-tiba tunanganku malah menangis? Bagian mana dari pembicaraan ini yang membuatnya bersedih?

Atau dia sedang menangisi strawberry cake with fondue yang tidak bisa dihabiskannya karena diet?—oke, Zhoumi, itu tidak mungkin.

“Aku tidak pernah bisa paham dirimu.” Vivian masih terus terisak. “Kau dingin seperti es, tak terjangkau seperti gunung, dan tak bisa memahami perasaanku yang begitu mencintaimu.”

“Aku tidak seperti itu, aku mencintaimu.”

“Oh, ya? Tapi kau tak pernah peduli padaku!” teriak Vivian. Dan tangisannya makin keras. Vivian membuka paksa cincin di jari manisnya dan melemparnya ke atas meja. “Aku mau putus!” serunya, dan berlari keluar kafe.

Saat itu, kulihat, diriku, berlari mengejarnya keluar kafe. Meski hari hujan, Vivian terus berlari menembuh rerintikan, mengabaikan tubuh lemahnya yang gampang sakit terkena dingin sedikit saja. Aku berteriak memanggilnya, dan ingin mengejarnya. Tapi Vivian keburu masuk taksi, dan siluetnya lalu menghilang seiring dengan perginya taksi.

Kulihat diriku berdiri, berdiri di depan kafe, dengan wajah bingung, masih tak bisa mencerna apa yang baru saja terjadi. Masih terus bertanya-tanya dalam diam, alasan konyol Vivian memutuskanku begitu saja. Kita bukan sekedar pacaran, kita sudah tunangan. Dan dia bisa segampang itu, memutuskanku, lalu menyalahkanku? Dan, kenapa, saat putus tadi, yang tampak paling terluka adalah dirinya? Padahal, yang mengeluarkan hasil akhir berupa perpisahan adalah, dirinya?

Kulihat, tanganku menggaruk-garuk kepalaku dan dengusan kecil keluar dari bibirku. Aku lihat, aku masih terus di sana, di depan pintu kafe. Dan tak bergerak sama sekali.

“Strawberry cake with fondue, Tuan?”

Ucapan pelayan membuyarkan lamunanku. Seorang gadis bersenyum manis menaruh sepiring kue berwarna merah muda ke atas mejaku.

“Oh, terimakasih.”

“Semua pesanannya sudah datang, biar saya ulangi: satu strawberry cake with fondue dan satu medium america latte?”

Aku melirik mejaku sejenak. “Ya, semua sudah datang.”

“Butuh yang lain, Tuan?” tanya pelayan itu.

“Tidak.”

“Baiklah, terimakasih.”

Pelayan itu berlalu.

Aku mengeluarkan ponsel saat kudengar nada dering menjerit-jerit memanggil. Dari Lee Dong Hae.

“Zhoumi! Kau di mana?” seru Dong Hae, ada nada khawatir di ucapannya.

Aku menjawab, “di kafe.”

Lagi?” suaranya seperti tikus terjepit. “Zhoumi! Sudahlah, move on dong! Ini udah tiga bulan, tapi kau masih begitu-begitu saja. Masih terus ke kafe cuma buat nongkrong tidak jelas!”

Aku tertawa. Kupotong-potong kue-ku jadi potongan kecil-kecil. Pandanganku berubah sendu.

“Aku kangen Vivian, Hae.”

“Gila! Kau gila! Udahlah, move on! Perempuan lain masih banyak!”

“Ya, tapi perempuan lain itu bukan Vivian.”

“Bukannya pas putus kemarin kau bahkan tak merasa sedih sedikit pun? Kenapa akhir-akhir ini malah galau? Datang ke kafe yang sering didatangi kau dan Vivian dulu, cuma buat ngelamunin kebersamaan kalian yang udah lewat itu? Ck. Aneh!”

Aku menarik napas panjang. “Aku juga tidak tahu. Seingatku, aku tiba-tiba merasa kosong karena tidak ada lagi gadis yang hobi mengoleksi barang yang samaan dengan para sahabatnya, tidak ada lagi gadis yang suka melamun melihat hujan, tidak ada lagi gadis yang makan kue dua sendok hanya karena lagi diet… tidak ada gadis itu, tidak ada Vivian, semua rasanya hampa.”

Rintik-rintik hujan masih terdengar di luar kafe.

Dong Hae mengembuskan napas. “Move on lah, move on…”

“Kalau kau jadi aku,” tukasku memotong ucapan Dong Hae. Aku menarik napas berat. “Gimana caranya move on? Ada ide?”

Terdengar jeda sejenak. “Tidak tahu. Aku baru pacaran sekali.”

“Tapi kau kan sudah jatuh cinta ratusan kali!”

“Ei, sial kau!” Dong Hae mengumpat. “Udah, udah, buruan balik ke asrama! Nanti keburu malam! Tidak perlu galau di kafe melulu, heran deh kenapa kau susah sekali move on. Vivian aja udah move on!”

Klik.

Sambungan dimatikan Dong Hae. Aku jamin pria itu akan melapor pada member-member Super Junior lainnya tentang perilaku galauku yang sudah stadium akut. Mungkin, setengah jam lagi, mereka akan muncul di kafe ini untuk menyeretku pulang.

Aku mengambil gelas america latte-ku dan menyeruput isinya. Lagu di kafe berubah menjadi sedikit lebih beat namun tetap terdengar sendu. Lagu itu, lagu Lee Dong Hae dan Lee Hyuk Jae, Growing Pains. Saat itu, mataku bersibobrok dengan pasangan di pojokan kafe. Mereka sudah berhenti berdebat rupanya. Kini, sang prianya justru tersenyum padaku. Sedangkan sang wanitanya mengangguk dan juga tersenyum padaku.

Aku menyeruput america-ku.

 

Tapi, aku harap kamu tak sesakit diriku

Tiap harinya aku berharap begitu, harapan yang tidak lagi terhitung banyaknya

Aku berharap kau tak mengingat sebanyak diriku mengingatmu

Aku harap keadaanmu lebih baik dariku (hari ini dan esok)

 

Sial, lirik lagu Dong Hae dan Hyuk Jae akhirnya meruntuhkan pertahananku. Bahuku bergetar. Aku menyeka wajahku cepat-cepat, saat air mataku hampir turun membasahi pipi. Tidak boleh sampai ada orang yang melihatnya.

Aku membalas senyum sepasang kekasih itu dan mengacungkan gelas america latte-ku.

Sepasang kekasih di pojok itu… Vivian dan pacar barunya.

  silent1

.

.

.

“dedicated for all gentleman’s obsession that can never be understood by ladies.”

.

.

.

THE  END

 

25 thoughts on “♔Obsession Series♔: Zhoumi

  1. jomi-ya… move on tuh move on bener kata donghae..
    lain kali jangan denger lagunya D&E ntar galau loh #ditimpukhyukjae

  2. endingnya nyesek sekali ini :’v
    aku perempuan tapi kenapa isi otakku sama kyk si zhoumi ini :v lebih suka bertindak daripada merencanakan…

    bingung mau komen apalagi, itu dulu ya :v

  3. Baru sekali baca ff nya Zhoumi yang bombay bombay gini, alurnya kudu sampe bawah dulu baru mudeng :’)
    Nyesek banget sih😦 kok kak Sophie tau perasaan terdalam seorang cowo sih, jangan jangan:v jk-_-v
    Tapi bener deh masa tau banget gitu ya
    Btw, aku baru aja liat posternya yang atas, itu kok gaada Siwon nya😦 dan aku pikir yang pakai kacamata itu Siwon ternyata Hyukjae :v berarti Siwon ga dibuatin Obsession Series dong :’)

    • kekekekekkee iyaa soalnya ini ada twistnya di ending kekeke
      iyaa jangan2 gue…. cowok -_- kok gue paham banget soal relung pikiran cowok ya -_- kayaknya kudu ngecek jenis kelamin lagi nih xD
      nggak nggak, gue sering sharing aja sama cowok, soal pikiran mrk ttg cewek, soal pendapat mrk ttg hidup, obsesi, ambisi, dll lah~ dan akhirnya berusaha gue tuangin jadi cerita ini. yang kalo dipikir2 jadinya… kasian banget ya makhluk spesies cowok itu… xD
      iyaaa ga ada siwon
      ini yg jaman pas ga ada siwon kekekeke
      siwon mah tendang ke laut aja dia maaah~ males bikin ep ep ttg dia AHAHAHA

  4. Cailaaaaaah main castnya abang zhoumi *colek sophie eonni* tumben banget eon main castnya zhoumi? Dan kenapa harus sesih gini ceritanya?
    Pertama aku rada bingung pas awal baca tp kelamaan aku ngerti, karna zhoumi cuma flashback aja, kasian abang zhoumi gagal move on gitu.., dan backsongnya eon oh my god, itu lagu emang lumayan ngebeat tp artinya maaaannn oh my god sakitnya tuh disini *nyanyi* oke lupakan..
    Intinya ini ff bikin sedih dan jd pengen meluk abang zhoumi ()

    • iyaaa kan pemerannya sesuai dgn wajah yang muncul di atas nohhhh *nunjuk poster hehehe
      aku ga tahu ini pas bagian zhoumi mendadak mello gajebo begono
      kekekkee
      aaaaa growing pains itu is the best
      standing applause buat donghae pokoknya bikin lagu semiris begitu aaaaaa

      makasih ya udah baca😀

  5. oke, untuk komentarku kali ini, akan kuperpendek;

    jadi… zhoumi itu flashback? bayangan yang berantem sama vivian itu sebenernya cuma masa lalu? terus pasangan kekasih itu yang sekarang?

    well, ini udah bagus. untuk bahasa yang kurang baku, itu gapapa. kata yang sama seperti judge SJFF10, cerita ulang tahun Hyukjae, bahasa kurang baku gapapa, selama itu di percakapan. Uhm, dan karena kata kata kurang baku itu, bikin kita ga terlalu terbebani oleh kata kata ngejelimet ㅋㅋㅋ

    Xoxo,
    Skylar Z aka Sabella

    • iyaaa itu flashback semua pas awalnya kekeke
      kecuali bagian pas yg pasangan masuk ke kafe, kan itu vivian sama cowoknya hehehe
      ya ampuuun kamu masih inget aja cerita soal hyukjae *kisseu
      makasih ya udah baca

  6. Jadi si zhoumi galau galauan di tempat dimana vivian lagi asyik mesra mesra sama cowok barunya? Begitu? Aduh Mas Zhoumi fix deh kamu memprihatinkan
    Jadi ini ceritanya mas zhoumi galon alias gagal move on wkwkwk
    Makanya mas ngomong dong apa susahnya sih ngomong. Atau nonverbalnya coba diperkuat deh

    Soal penulisan, aku setuju sama komen di atas mbak, ada baiknya kalo ceritanya full bahasa baku hihi Berikutnya ini agak gak nyambung tapi aku seneng kamu sebut2 Shannon hehehe

  7. Aiish.. Sophie curhat.,. hehe.. tapi cowoknya sekarang ga jadi penyanyi kaan? Ato pencipta lagu? Hihi.. jahat iih Sophie, masak bawaan pengen nge bully.. kasian looh emak-bapaknya.. hheee..
    Ho’oh.. kata Hyuk di Sukira: He has around 200 people he’s liked .. mungkin kalo dibikin manga tuh,, Donghae mimisan kalo liat cewek idealnya lewat, gitu kali ya.. hhehe..
    Nah, akunya juga kepikiran Sungmin nih yang pantes, tapi ga jugalah.. hehe..

    Aahh, aku mah melow sih emang, bisalah ngertiin si cewek ini. Tapi karena aku ga pernah ngalamin dicuekin gegara nonton bola (aku mah ikutan nonton, orang hobby),ato maen game (akunya baca ff Sophie Maya xD) makanya aku sebel aja ama Zhoumi. Biasanya nih cowok kek gini, kalo bukan cowok kikuk, ya berarti nih cowok ga bener2 sayang ama ceweknya. Buktinya tuh cewek lelarian di kala ujan, dia mah diem aja kaga ngejar /padahal dia kan ojek payung hahaha../

    Ya ampuun.. aku berasa bebas banget yah kalo udah di sini… pengen komen serius, adaaa aj yang melintas ga jelas /duuh, tukang sekuteng langganan udah mendekat ituuh/

    Eh Soph, kamu ga domisili di Malang yaah? Aaah.. akunya mo ke Malang bulan depan.. hihi..

    Eehh iya.. ini first time-nya Zhoumi nongol di mari yaaah… aah,, semoga dia nonhol lagi kemudian-kemudian…

    Daan.. chukaee.. tumben kamu balesnya cepet… uuupss… si ‘tumben’ ikutan lagi… hihi.. selamat libur…
    Akunya lagi deg2an nunggu announce tiket ss, taon lalu dpt separuh harga featival, taon ini.. moga2 gratis hahaha….

    • eeehhh si zhou nyusul kok
      tapi ceweknya keburu masuk taksi
      kekekeke *kenapa gue jadi belain zhoumi amat? kenal juga nggak, tetangga juga bukan
      -_-

      eit udah deh kagak usah bahas masa lalu deh
      ntar lanjut curhat malah buka aib disini
      kalo yesung liat aku bisa digeretnya ke kamar *eh

      ini aku balasnya lama, sengaja lama… habis nggak mau denger kata2 “tumben” lagi kekeke

  8. Waah… cepeet seri barunya.. tumben…
    Iniiih, kenapa jadi partnya Zhoumi Sophie? Karena aku gagal banget ngebayangin si super cerewet Zhoumi jadi pendiem kayak gini.. tapi ketika liat tuh manusia-manusia di atas, yang notabene punya darah host semua kayaknya (kecuali Donghae on camera, kalo off camera dia cerewet juga -cerewet ga penting maksudnya), emang ga ada yang cocok sih yaa… mungkin Donghae hehe… tapi dia punya sejuta ide jurus romantis buat naklukin cewek.. yang kemungkinan dipraktekin oleh Hyukjae, hehe..
    Hmm ngaku, kamu abis nonton Sukira D&E kaaaan? Itu soalnya kata2 Zhoumi nyontek Hyuk… betul.. betul… betulll?

    Eh, aku belum komen ceritanya ya?
    Apik siih bahasanya. Ringan gitu..
    Dan ada liriknya As much as me.. asyiikk….
    Are you like that song as much as me Sophie? Coz I can’t move on from that song /Yaah, Afgan nyanyi.. hehe, lagi dengerin radio gw/ Lagu wajib gw kalo lagi berangkat kerja itu…
    ||balik ke storynya.. iklannya banyak iih.. ||
    Nah.. jadi Zhouminya ga bisa move on gitu? Dan dia ampe masih giat nongkrong di cafe yang dulu2 gitu? Kenapa Donghae banget iniiih Soph? Padahal ceweknya udah ada yang laen?
    Aah, tadinya aku mau ngertiin perasaan cewek itu.. kaan.. kan cewek emang maunya diperhatiin, ga diingkarin janjinya, diromantisin, didengerin, tapi ini Zhouminya kek pasif banget gitu.. yaah.. gimana yaah.. emang ga papa dia ditinggalin,, hehe.. jadinya tetep simpati dong ya aku ama si cewek..

    Tuhh bener,, diam itu ga selalu emas. Mungkin bisa berarti sariawan. Mungkin Zhoumi lagi sariawan saat itu, ditambah pusing, kurang gizi, honornya belum dibayar. /haha.. ngawur,,, ahh, siapa tahu emang bener/
    Mungkin Zhoumi yang bawel sekarang ini karena abis diputusin ama Vivian…. dia berubah… mungkiinn… eh, bener ga gitu Hae?

    • begitu kamu bilang “tumben”… itu aku tertohok banget lho xD
      iya deh besok2 updatenya ga bakal lama2 hahaha mumpung memang lagi liburan ini hehehe
      dan taraa aku mmg agak bingung siapa yang harus ambil bagian cerita ini
      awalnya mau sungmin atau ryeowook tpi mereka terlalu cabe-cabean buat dijadiin cowok romantis *apa sih
      akhirnya pilihan jatuh ke zhoumi
      yang sekilas… sekilas doang loh, sekilas tiga detik, keliatan bisa laaah romantis

      oh klo soal donghae itu, no no no… dia mmg romantis tpi dia lebih ke arah lemah lembut dan gampang ditindas pasangan HAHAHAAHAH
      aku dulu punya cowok yg persis bgt sifatnya kyk donghae dan bawaanku mmg pengin nge bully dia muluuu
      habisnya dia sok romantis sih, kan gemes jadinya, typ denger dia gombal bawaannya pengin nyumpal pake apaan gitu, barang tumpul terdekat yang lagi nganggur -_-
      jadi intinya cowok kyk donghae itu bukan romantis jatuhnya, tapi bully-able *plak

      terus emang ada kata2 zhoumi yg mirip eunhyuk? eh aku blm nntn sukira kok
      klo mirip, wah berarti aku jodoh ama hyuk, pikiranku sama kok ya sama dia gitu *mesem mesem

      dan soal zhoumi yang pasif, masalahnya gimana ya… si zhoumi aja nggak paham2 gimana bisa vivian tetiba nangis, padahal yg mulai pertengkaran mereka itu kan vivian. sama kayak cewek yang suka nggak ngertilah knp sih cowok betah seharian depan laptop buat main dota. gagal paham itu penyakit kronis, susah diperbaiki, yg bisa diperbaiki mgkn cuma sama2 mulai berpikir kalo gagal paham itu mendingan diabaikan aja~
      sayangnya zhoumi sama vivian belum nyampe pikirannya ke sana

      zhoumi nggak ngerti gimana cara ngungkapin rasa cintanya, ya sama kayak cewek nggak bisa terima dgn asiknya main game

      *ini ceritanya aku lagi ngebelain para cowok
      *dan tetiba para cowok jadi memuja saya gila2an
      *nggak gitu soph ya keles -_-

      dan endingnya boleh juga tuh, zhoumi sekarang jadi om-om cerewet alay gara2 dia ga mau ditinggal cewek lagi kekeke~ good imagination, beb~

  9. Kasihan Zhoumi oppa….. ternyata dia jauh terluka daripada Vivian. Hiks😥 #lebay :v . Kalo dilihat dari sudut pandang cewek… iya bener sih eonni, klo Zhoumi oppa keliatan nyebelin. hehe. xD . Padahal ya tadi, dia ternyata jauh lebih terluka tapi tidak mau memperlihatkn kepada orng lain. termasuk Vivian🙂

    • iyaa zhoumi nyebelin… tapi ya dia ternyata terluka
      sekarang aku ngerti kenapa cowok2 itu suka ngajakin cewek2 balikan kalo udah berbulan2 lamanya
      bikin luka di hati kita jadi terkopek2 lagi *apa sih bahasanya -_- hihii

    • iya, begitulah …. bikin sebel, tpi coba liat dari sudut pandang cowok malah kasian sama cowoknya.
      masalahnya, kita cewek sih
      jadinya kita pasti mikir zhoumi itu nyebelin banget

    • iyaa memang sengaja nggak baku say
      soalnya based on true story sih, kebawa2 deh *plak
      makasih ya kritikannya :*
      mgkn emang kl cerita serius lbh enak yang baku ya… hehe
      bentar aku edit ya say
      makasih lho :*

  10. vivian song??? cast baru lagi nih
    cowok pendiam tuh emang sulit bgt d mengerti, entah pa yg d pikirkanx.

    Wah, Donghae jatuh cinta ratusan kali??? sama siapa z?
    bingung mw komen aplgi, udah ahhhh.

    • iyaaa sebernya mau bikin victoria song xD
      tapi aku ini kyutoria, jadi agak2 ga rela gitu kl dipasangin ama vic *plak
      tapi ttp bayanginnya wajah victoria aja~ kekeke xD

      donghae itu jatuh cinta ratusan kali kok, eunhyuk yg bilang di wawancara kapan gitu
      kekeke
      siapa ya?
      aku salah satunya, pastinya

      makasih udah baca.

Just talking...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s