A Cup Of Lee (Part 8)

Sebagai penulis, aku akan memberitahumu akhir kisah ini: bahagia.

Menurutku sih, begitu.

Tapi aku tidak bisa menentukan apakah akhir kisah ini akan bahagia bagimu atau tidak.

Kutegaskan, konsep kebahagiaan berbeda-beda tiap orang.

Aku akan memberimu gambaran, cerita ini tentang Song Ji Hyo, wanita yang mencintai Lee.

Tapi dia bertemu dengan Lee lain yang membuatnya menggila.

Dan sampai pada satu titik, wanita sialan ini harus menentukan kebahagiaannya sendiri.

Lee mana yang harus dipilih?

Tenang saja, cerita ini akan berakhir bahagia.

Setidaknya, menurutku sih begitu.

.

.

.

Author : Sophie Maya

Title     : A Cup Of Lee (Part 8)

Cast     : Song Ji Hyo, Lee Hyuk Jae, Lee Dong Hae

Support Cast: Song Joong Ki, Ryeowook

Genre  : unknown

Rated  : PG-19+

Length: chaptered

Type    : ?

Summary         : Lee itu seperti toxin, kau bisa jadi zombie jika terkena virusnya. Kau bisa jadi zombie… yang sedang jatuh cinta… dan hidup dengan satu tujuan: mencintainya.

acolend

Disclaimer       : this story is MINE.

Note: If you’re afraid you’ll become ashamed to Hyuk Jae and Dong Hae, don’t ever read this chapter. If you’re a sentimental Jewels and Fishy, leave this fanfiction and read another one. But, if just want to read, you are so curious, you just the beyotches and spammer who tend to bashing my work so much, believe me, Im really happy received your comment. You know that Sophie Maya NEVER mind about bashing and such thing, she’s just mind about your sentimental heart that may lead you to end your life just because the gorgeous idol turn to be cruel idol. LOL, sounds cheesy, but it’s so true.

.

.

.

.

.

.

Song Ji Hyo pernah mengatakan kepada Lee Hyuk Jae soal ini: “Kalau misal… misalnya, semisal, hanya misal lho… emm… kalau misal hubungan kita tidak berlanjut sampai ke altar, hanya begini saja lalu bubar, menurutmu… itu karena apa?”

Waktu itu mereka baru saja bertukar cincin pertunangan. Permata berkilauan yang konon harganya menyamai harga pembangunan Coex Mall, dibeli Hyuk Jae untuk disematkan di jari manis Ji Hyo. Pertunangan mereka dihadiri oleh pihak keluarga, kerabat, dan sebagian besar wartawan. Popularitas Hyuk Jae sebagai atlet selalu membuatnya terkungkung dalam lingkaran lapangan dan kamera reportase olahraga. Pun meski demikian, tampaknya berita pertunangan mereka akan masuk dalam segmen gosip entertainment. Dan, bersiap saja, mungkin setelah ini bukan cuma pecinta olahraga saja yang kenal dengan wajah Hyuk Jae, tetapi juga para ibu-ibu rumah tangga, dan remaja-remaja putri—yang ditakutkan Ji Hyo, karena Hyuk Jae itu punya wajah nyaris serupa dengan idol Korea, tampan dan menghipnosis. Jika semakin banyak gadis yang sadar akan eksistensi Hyuk Jae, yang kemungkinan besar ikut terseret dalam pesona tanpa batasnya, maka saingan Ji Hyo makin banyak.

Itu benar-benar gawat darurat.

Ji Hyo yakin dia cantik, tapi dia tidak yakin bisa tetap menang melawan remaja putri yang seringkali masuk dalam taraf otak geser kalau sudah mengidolakan lelaki. Mereka bisa mengejar Hyuk Jae kemana saja, menguntit Hyuk Jae ngapain saja, dan bahkan membentuk komunitas sukarelawan one night stand-nya Hyuk Jae.

Bisa, bisa, bisa… itu bisa saja terjadi.

Dan bisa, bisa, bisa, itu bisa membuat Ji Hyo histeris luar biasa.

Itu pun yang menjadi dasar Ji Hyo bertanya perihal ini pada Hyuk Jae. Yang, waktu itu dijawab Hyuk Jae, dengan kerlingan mata penuh kebingungan dan wajah yang menyeringai aneh.

“Kita baru tiga jam resmi bertunangan, baru sepuluh menit lalu berciuman, baru semenit lalu setuju untuk bercinta, dan itu kalimat pemungkas yang kau lontarkan?”

Ji Hyo mendelik, memperhatikan posisi Hyuk Jae yang berada di atasnya dan dirinya yang hampir setengah tak berbusana. Dan kemudian dia tertawa keras. “Ya ampun!”

Hyuk Jae masih menatap Ji Hyo dengan seringaiannya. “Ya ampun! Best time banget, sih.” Hyuk Jae menjauh dari tubuh Ji Hyo lalu ikut tertawa-tawa. Dia kembali memakai kemeja biru tuanya serta merapikan rambut berantakannya. “Tuh, jadi nggak nafsu lagi deh.”

“Ya maaf.” Ji Hyo meminta maaf dengan nada tak sadar dosa. Dia tak menyesal sama sekali, justru malah geli. Habisnya bagaimana yah, tapi kalimat itu tahu-tahu muncul saat Hyuk Jae mencumbunya. Dan yang jelas, langsung meruntuhkan, memporak-porandakan, seluruh nuansa romantis mereka sampai ke akar-akarnya.

Ji Hyo bangkit duduk dan meraih gaunnya. Dia menguap lebar sekali dan mengusap-usap matanya. Mendadak kok, dia mengantuk ya?

“Hei, meski tidak jadi bercinta, tetap jawab pertanyaanku bisa?” tanya Ji Hyo sembari terkikik.

“Pertanyaanmu itu 404, error, not found.” Hyuk Jae menggeleng-gelengkan kepala.

“Maksudnya?”

“Maksudnya? Ya, tidak mungkin hal kayak begituan terjadi.”

“Kayak begituan gimana?”

Hyuk Jae memakai celananya dan tersenyum manis. “Kita. Tidak ke altar. Error. Not found.”

Ji Hyo balas tersenyum.

“Aku tidak punya alasan untuk meninggalkanmu, kau tahu?” ujar Hyuk Jae lagi.

Ji Hyo tersenyum semakin lebar.

“Kalau pun ada…” Hyuk Jae menggantungkan kalimatnya, dia melompat lagi ke atas kasur dan menarik tangan Ji Hyo. “Tampar aku. Cubit aku. Pukul aku. Lakukan apapun… dengan tanganmu… untuk menyakitiku.”

Ji Hyo memandangi kedua bola mata Hyuk Jae. Mata yang berbinar ketika memperhatikan dirinya. Beberapa helai poni Hyuk Jae jatuh menutupi pelipis pemuda itu. Napas Hyuk Jae berhembus mengenai kulit wajah Ji Hyo. Aroma maskulin Hyuk Jae menguar menyibak indera penciumannya.

Ji Hyo melepaskan pegangan Hyuk Jae, dan lalu menyentuh wajah Hyuk Jae.

“Mm… bagaimana ya…” jemari Ji Hyo menyingkirkan poni Hyuk Jae. “Tanganku ini… tidak tercipta untuk melukaimu, hanya untuk mencintaimu. Gawat sekali, nih.”

Hyuk Jae tersenyum lalu mengecup tangan Ji Hyo yang bergerak menyusuri wajahnya. Hyuk Jae menarik tubuh Ji Hyo dalam pelukannya. Menyesap aroma tubuh Ji Hyo. Mendekapnya lebih dalam. Lebih erat. Hangat. Dan menguasai. Dan hangat. Dan erat. Dan…

“Sial, kayaknya aku perlu buka baju lagi, deh,” umpat Hyuk Jae.

Dan Ji Hyo tertawa terbahak.

.

.

.

.

.

.

Tangan Ji Hyo melayangkan tamparan ke wajah Hyuk Jae.

Tangannya lagi, memukul-mukul dada Hyuk Jae. Dengan keras, berkali-kali, lalu lama-kelamaan menjadi makin lemah.

Dan Ji Hyo tersedak dalam tangisannya.

Demi Tuhan, apa yang telah dilakukannya? Dia melukai orang yang dicintainya.

Demi Tuhan, pertanyaannya salah; yang benar, apa yang telah dilakukan oleh orang yang dicintainya ini? Orang ini melukainya. Melukai hatinya. Melukai perasaannya.

Hyuk Jae terdiam dalam posisi berdirinya. Song Chae Rin berdiri disamping Hyuk Jae, menutup mulut dengan kedua tangan, ekspresi terkejut jelas mewarnai mukanya.

Ji Hyo merasakan telapak tangannya berdenyut-denyut. Dia merasakan sekujur tubuhnya merinding. Dia merasakan hatinya mengerut penuh sakit. Dia benci merasakan. Dia ingin mati rasa saja.

“Katakan…” suara Ji Hyo terdengar bergetar. Dia susah payah menyusun kalimat S.P.O.K yang berantakan sekali di otaknya. “…alasannya…”

Hyuk Jae masih diam, masih terus memandangi Ji Hyo dengan bola mata yang biasanya membuat Ji Hyo terpesona. Anehnya, kini ketika Ji Hyo memandang mata itu, Ji Hyo justru menemukan setumpuk kebohongan, segudang kepalsuan, bergumul di sana.

“Error not found,” seloroh Ji Hyo dengan nada skeptis. “Berselingkuh dengan sahabatku itu…”

“Kau pernah mengalami hal yang sama, bisakah bersikap lebih lunak dan tidak kekanak-kanakkan seperti ini?” suara Hyuk Jae, tiba-tiba terdengar.

Ji Hyo menatap Hyuk Jae.

“Song Ji Hyo… sadarlah.” Hyuk Jae menyeka sudut bibirnya yang berdarah. “Ini bukan pertamakalinya, kan?”

Mata bulat Ji Hyo membeliak lebar.

Hyuk Jae mengacak-acak poninya sembari mengerang. Rahang pemuda itu mengeras dan sorot matanya terpicing tajam. Sebelah tangannya dimasukkan ke dalam saku dan ekspresi wajahnya tampak bosan.

“Apa maksudmu?” Napas Ji Hyo tertahan.

“Hyuk Jae… berhentilah.” Song Chae Rin angkat bicara.

Hyuk Jae justru tertawa. “Iya, aku memang mau berhenti, Honey. Aku mau menghentikan kegilaan ini! Mari kita akhiri segalanya!”

Tahu-tahu, Hyuk Jae menarik tangan Ji Hyo dan menyeretnya keluar apartemen. Hyuk Jae tak mempedulikan apakah Ji Hyo mengenakan sepatu atau tidak, nyatanya dibiarkan saja Ji Hyo terseret dalam tarikan tangannya tanpa mengenakan alas kaki.

“A-apa yang kau lakukan?!” teriak Ji Hyo.

Keduanya menyusuri lantai koridor gedung apartemen yang dingin. Dan cengkeraman Hyuk Jae semakin kuat melingkari pergelangan Ji Hyo.

“Sa-sakit…” rintih Ji Hyo berusaha melepaskannya.

Mereka naik lift. Beberapa orang terkejut melihat Ji Hyo dan Hyuk Jae, apalagi kondisi Ji Hyo yang berantakan tak beralas kaki dan Hyuk Jae yang penuh emosi. Bisik demi bisikan terdengar menggaung, namun Hyuk Jae tak tampak peduli. Dia malah menyeringai dengan lebar.

Mereka turun ke lantai parkiran.

Hyuk Jae merogoh saku dan melemparkan kunci mobil ke arah Ji Hyo. “Kita naik mobil! Kau yang nyetir!”

Hyuk Jae mendorong paksa Ji Hyo masuk ke bagian kemudi mobil Audi berwarna hitam yang terparkir di sektor tengah parkiran.

“Aku… kau tahu aku tidak bisa nyetir!” Ji Hyo melempar kunci mobil ke lantai parkiran.

Hyuk Jae menggeleng-geleng. Dia memungut kunci itu dan menancapkannya ke lubang kunci.

“Bisa. Kalau tidak bisa, kenapa lima tahun lalu… mobil ini jadi mobil kesayanganmu?”

“A-apa?” Ji Hyo tak mengerti apa yang Hyuk Jae ucapkan.

“Kau bisa nyetir, goblok. Masa lupa?”

.

.

.

.

.

.

.

“Kau pernah… berniat bunuh diri, kan?”

 

Dong Hae mempercepat laju mobilnya. Seratus kilometer perjam, dan dia yakin benar itu adalah kecepatan di atas rata-rata. Polisi lalu lintas mungkin saja sebentar lagi akan mengejar-ngerjarnya yang menyetir seperti kesetanan. Tetapi Dong Hae memang bukan manusia di detik ini, boleh saja kalau dibilang dia kayak setan. Setelah mendengar cerita dari Joong Ki, Dong Hae seperti baru saja dicelupkan ke neraka dan menggelinjang kepanasan.

 

“Kau tahu darimana aku…. pernah…?”

“Saat itu, Ji Hyo juga berniat bunuh diri.”

 

Mata Dong Hae terpejam erat, telinganya merasakan derum mesin yang semakin kencang terdengar. Obrolannya dengan Joongki terngiang kembali di kepala.

 

“Kau tahu Noona-ku punya tunangan, namanya Hyuk Jae? Atlet lari itu? Lima tahun lalu… saat itu Hyuk Jae sedang bertanding di Italia, dan Ji Hyo sengaja menyusulnya ke Italia untuk memberi kejutan. Tetapi, Ji Hyo justru mendapati Hyuk Jae selingkuh, dengan sahabatnya sendiri.”

 

Pedal rem diinjak Dong Hae kuat-kuat hingga mobilnya berhenti di pelataran parkir gedung apartemen. Dong Hae berlari masuk ke dalam tanpa mempedulikan satpam yang berteriak protes dengan posisi mobil Dong Hae yang melewati garis.

Dong Hae tak peduli.

Sepatunya berdebam-debam di lantai dan dia benar-benar lari tak beraturan ke lantai apartemen Ji Hyo. Dia seperti kesetanan. Oh, salah, dia memang sudah jadi setan.

 

“Ji Hyo Noona membawa mobilnya gila-gilaan dan menabrak pembatas jalan. Mobilnya ringsek, dan Ji Hyo terlempar masuk ke jurang yang ada di sisi kiri jalan. Sebuah pohon menyelamatkan Ji Hyo Noona, gadis itu tertahan di rantingnya yang rapuh, dengan tubuh penuh luka dan pendarahan hebat di otak.”

Joong Ki menghela napas berat ketika menceritakan bagian itu.

“Dia dilarikan di rumah sakit terdekat…”

 

“Song Ji Hyo! Song Ji Hyo! Buka pintunya! Ini aku, Lee Dong Hae!”

Dong Hae menggedor-gedor pintu apartemen Ji Hyo, namun tak ada jawaban.

 

“Aku dan keluargaku… kami segera menyusul ke Italia untuk melihat Ji Hyo Noona. Tebak, siapa yang kutemukan di sana?”

 

Suara Joong Ki kembali terngiang di kepala Dong Hae.

 

“Kau. Aku menemukanmu di sana. Sedang menjagai Ji Hyo. Dokter di sana bilang, kau juga baru saja selamat dari percobaan bunuh diri. Kau ingat itu? Mungkin kau tak ingat atau tak ingin mengingatnya. Kau juga tak pernah bertemu dengan kami sebab kami sengaja membiarkanmu bersama Ji Hyo Noona. Karena Dokter bilang, mengobrol denganmu membuat kondisi Ji Hyo Noona pulih dengan cepat. Kurasa sejak saat itu, secara sadar atau tidak sadar, meski kalian sudah saling terpisah, kalian akan tetap saling melindungi seperti saat di rumah sakit. ”

 

Dong Hae mondar-mandir cemas, otak kusutnya berpikir keras tentang apa yang harus dilakukannya. Dan dia memilih menghubungi Joong Ki.

“Dia tidak ada di apartemennya!” teriak Joong Ki.
“Aku baru saja dapat kabar satpam di gedung apartemen Hyuk Jae bilang kalau dia melihat Ji Hyo datang ke sana. Aku sedang menyusulnya.”

“Oh, shit. Tunggu, aku juga ke sana.”

Dong Hae menutup telepon dan segera lari ke parkiran. Dan dia kembali mengumpat saat menyadari satu hal. Dengan penuh kesal, Dong Hae mengambil ponsel di jaketnya dan kembali menghubungi Joong Ki.

“Kau belum tahu alamat Hyuk Jae, kenapa malah ditutup teleponnya?!” seru Joong Ki ketika telepon tersambung.

“Kau tahu otakku lagi kacau? Aku tidak bisa mikir apa-apa!” Dong Hae mengacak-acak rambutnya. “Beritahu aku alamatnya!”

Dong Hae masuk ke dalam mobil setelah Joong Ki mengeja alamat apartemen Hyuk Jae. Dan segera memutuskan sambungan, lalu melempar ponsel ke sembarang arah, persetan apa ponselnya itu jatuh ke jok yang empuk atau malah terantuk benda keras di lantai mobil. Sepersetan amat. Seiblis amat!

 

“Kurasa sejak saat itu, secara sadar atau tidak sadar, meski kalian sudah saling terpisah, kalian akan tetap saling melindungi seperti saat di rumah sakit…”

 

Kalimat Joong Ki kembali berputar-putar di kepala Dong Hae. Dan membuat emosinya kembali naik seketika. Tangannya menginjak pedal gas kuat-kuat hingga mobilnya melesat lebih tak karu-karuan di jalanan Seoul.

Dong Hae baru tahu latar belakang kecelakaan itu, sungguh dirinya baru tahu. Jika saja dia tahu dari dulu apa yang sebenarnya terjadi, jika saja dia tahu jika firasatnya perihal Ji Hyo selama ini benar adanya, jika saja dia lebih mau peka dengan semua ketidakwarasannya saat bersama wanita itu, tentu… tentu sudah dari lalu-lalu Dong Hae akan melakukan cara apapun untuk mempertahankan Ji Hyo di sisinya. Dia tidak perlu menahan diri lagi untuk menunjukkan kebodohan, kegilaan, dan kecanduannya pada Ji Hyo. Hanya pada Ji Hyo. Hanya pada wanita itu.

Dong Hae mendengus, dipukulnya setir keras-keras.

Sialan, sialan, bajingan! Dia benar-benar cinta sama Ji Hyo, tahu?!

.

.

.

.

.

.

Ji Hyo mengingatnya! Demi Tuhan, dia mengingatnya!

Ketika Hyuk Jae mencacinya, ketika Hyuk Jae menariknya keluar dari kemudi, ketika itu pula rentetan kejadian lima tahun lalu menabrak sel-sel kelabu di otaknya.

Kecelakaan lima tahun lalu… kecelakaan mobil itu… adalah kecelakaan tunggal, percobaan bunuh dirinya, karena baru saja putus dari Lee Hyuk Jae. Karena kekasihnya ternyata telah lama berselingkuh dengan sahabatnya sendiri.

Ji Hyo menoleh cepat ke arah Hyuk Jae.

Ya, perselingkuhan itu!

Perselingkuhan itu pernah terjadi sebelumnya, apa yang Hyuk Jae katakan benar. Tunangannya, oh salah, mantan tunangannya, memang pernah berselingkuh sebelum ini. Dan… demi Tuhan, sekarang mereka akan kemana?

“Kau bawa aku ke mana?”

“Diam!” teriak Hyuk Jae.

Sebelum ini Hyuk Jae juga pernah membentak padanya. Sebelum ini, lima tahun lalu, Hyuk Jae pernah menyuruhnya diam begini.

 

“Kau selingkuh? Dengan Song Chae Rin?” Ji Hyo baru tiba dari Seoul dan dia amat sangat ingin memberikan kejutan pesta ulang tahun untuk kekasihnya. Tetapi yang dilihatnya di Italia adalah ini, Hyuk Jae menggenggam tangan Song Chae Rin di atas balkon hotel yang diinapinya.

Song Chae Rin memandangi Ji Hyo yang mendekatinya.

“Chae Rin-ah…” Ji Hyo memanggil sahabatnya.

“Apa?”

“Ini tidak benar kan?” Ji Hyo menggeleng-gelengkan kepala. Dia menggenggam tangan Chae Rin erat-erat. Mencari kebenaran, ah tidak, kebohongan yang mungkin saja memang sengaja Chae Rin rencanakan. Ji Hyo berharap sahabatnya memang sengaja pura-pura menggenggam tangan Hyuk Jae dan memeluk tubuh kekasihnya. Ji Hyo berharap Chae Rin akan berkata, “hihihi, suprise! Aku sama Hyuk tahu kau bakal nyusul ke Italia! Makanya kita sekalian bikin kamu cemburu biar seru! Kan, ulang tahun Hyuk Jae deket-deket april mop… lewat berapa hari doang ini! Sekali-kali, yang ulang tahun yang ngerjain…!”

Ji Hyo sungguh berharap kalimat seperti itu yang keluar. Namun Chae Rin tetap diam dalam bisunya. Chae Rin perlahan, melepas genggaman tangan Ji Hyo dan mendorong pelan tubuh sahabatnya itu agar menjauh.

“Aku tidak akan minta maaf, Ji… karena kupikir mencintai seseorang bukan tindakan kriminal.”

Plak.

Tangan Ji Hyo refleks menampar Chae Rin.

Hyuk Jae mendekat cepat dan menahan tangan Ji Hyo saat hendak melayangkan tamparan kembali.

“Bukan tindakan kriminal?” dengus Ji Hyo memandang Hyuk Jae dan Chae Rin bergantian. “Selingkuh dengan sahabatmu sendiri, kau pikir itu bukan tindak kriminal? Otakmu udang sekali!!”

“SONG JI HYO!” teriakan Hyuk Jae membuat Ji Hyo terpaku. “DIAM!!”

 

Hyuk Jae mendorong paksa Ji Hyo ke kursi penumpang. Lalu, dengan gerakan terburu-buru, Hyuk Jae masuk ke kursi kemudi dan menjalankan mobil gila-gilaan. Jalanan Seoul padat tapi tak sepadat hari-hari biasa. Hyuk Jae dengan mudah meliuk-liuk menyalip kendaraan di depannya.

“Kau bawa aku ke mana?” hardik Ji Hyo.

Hyuk Jae justru mengencangkan laju mobilnya.

“Hyuk Jae, ke mana?!” Ji Hyo merasakan jantungnya bertalu-talu.

“Ke tempat seharusnya kau berada lima tahun lalu!” Hyuk Jae mendengus.

 

“Aku tidak mencintaimu, Song Ji Hyo. Aku hanya mencintai keadaanmu. Kau tidak paham juga, kau ini gadis kaya, turunan keluarga miliuner, tidak cantik, dan bodohnya tergila-gila pada pemuda yang seperti aku.” Hyuk Jae tertawa sinis. Melepas, lebih tepatnya, menyentakkan tangan Ji Hyo. Hyuk Jae membuang ludah dan mengerang bosan. “Ahhh…. kau tahu siapa itu Chae Rin? Dia artis terkenal, model, dan dipuja semua pria. Lalu, kau ini siapa? Calon Chef. Asisten Chef Aldante sialan, Song Ji Hyo. Kau tahu apa yang kau lakukan tiap hari? Bergelut dengan sayuran dan daging sialan itu? Ji Hyo, asal kau tahu, seorang Chef tidak akan pernah berhasil! Kau tahu, aku butuh orang yang bisa berpikiran luas, punya masa depan luas, dan popularitas yang meluas. Dan, seseorang yang berada di dunia dapur yang sebegitu sempit, tak akan mampu melihat luasnya dunia!”

Ji Hyo tersedak mendengar kata-kata Dong Hae. Dan tubuhnya menegang mendengar rentetan pengakuan Hyuk Jae.

“Aku benci kau,” kata Ji Hyo ke Hyuk Jae.

“Bencilah aku.”

“Aku benci kau juga, Chae Rin.” Tunjuk Ji Hyo.

Chae Rin hanya memandanginya tanpa ekspresi.

“Hyuk Jae…” tatapan tajam Ji Hyo berubah jadi nanar. “Tapi aku mencintaimu…”

“Astaga, wanita ini gila…” Song Chae Rin bergerak maju, namun ditahan Hyuk Jae.

“Aku akan melakukan apapun agar kau kembali. Aku akan memaafkan kejadian ini dan melupakannya. Aku janji akan jadi gadis yang baik, aku janji akan melakukan apa saja yang kau inginkan, aku akan jadi yang kau inginkan, aku akan tinggalkan dapur, aku akan jadi yang terbaik bagimu. Kumohon, kumohon, kumohon… jangan tinggalkan aku.” Ji Hyo mulai terisak lagi. Lebih keras dan lebih menyedihkan.

“Sebegitunya kau mencintaiku?” tanya Hyuk Jae.

Ji Hyo mengangguk cepat. “Kau ini duniaku. Kalau kau meninggalkanku… aku bisa mati.”

Hyuk Jae memandangi Ji Hyo. “Kalau begitu, matilah. Pergi dan bunuh dirilah.”

 

 

“Hal pertama yang kau lakukan setelah sadar dari kecelakaan mobil adalah, mencariku. Aduh, bodohnya… kau malah tidak ingat dengan pertengkaran kita. Dan adikmu yang sok kaya itu, justru menjanjikanku sponsorship yang besar sekali jika aku mau terus berada di sampingmu. Menjadi tunanganmu, berbaik hati padamu, berpura-pura mencintaimu. Apapun itu… demi kamera, popularitas, dan kehidupan yang amat menyenangkan.”

Ji Hyo menoleh ke arah Hyuk Jae dan napasnya seperti hilang dibawa iblis. Hyuk Jae menceritakan hal itu dengan nada ringan, seolah tak ada rasa bersalah sama sekali. Bahkan pria itu tertawa dengan santainya.

Melihat itu, air mata menetes turun ke pipi Ji Hyo. Sungguhan… sungguhan ini adalah Lee Hyuk Jae? Endorfin-nya? Mariyuana-nya? Orang yang digila-gilainya setengah mati?

Kenapa… kenapa… dia bisa mencintai pria ini?

“Kadar cintamu itu parah sekali, Ji Hyo. Maka, sudah sebaiknya kita melakukan apa yang tertunda lima tahun lalu,” seringai Hyuk Jae.

Kemudian mobil kembali mengebut, menyusuri jembatan, menysuri tol, menyusuri dan bahkan melewati daerah perbatasan Seoul.

Dan, saat itu Ji Hyo merasa, dia telah mencintai pria yang salah.

Dia telah memilih Lee yang salah.

 

.

.

.

.

.

.

.

Tidak ada Song Ji Hyo di apartemen Lee Hyuk Jae.

Lee Dong Hae justru menemukan seorang wanita yang menyambutnya dengan wajah kaget. Pun sama dengan wajah Dong Hae yang dipenuh keterkejutannya.

“Kau… kan…?” wanita itu berusaha mengingat-ingat. “Asisten dapur Aldante? Yang waktu itu dibully di reuni SMA-ku? Tapi ternyata seorang Chef di Aldante?”

Dong Hae ingat gadis itu. Song Chae Rin. Salah satu sahabat Ji Hyo. Tetapi kenapa Chae Rin ada di apartemen Hyuk Jae?

“Ji Hyo ke sini?” tanya Dong Hae.

Chae Rin tampak gugup sesaat. “Ngg… kau cari Ji Hyo?”

“Ya.”

“Tidak, dia tidak ke sini.”

Dong Hae mendorong tubuh Chae Rin dan menyerobot masuk. Chae Rin berusaha mencegah Dong Hae namun kekuatan Dong Hae jauh lebih besar dibanding dirinya yang perempuan.

“Kenapa orang Aldante mencari-cari Ji Hyo?” tanya Chae Rin sedikit kelabakan, terutama, karena tiba-tiba saja Joong Ki juga datang dan juga masuk ke dalam apartemen. “Joong Ki-ssi, kau ke sini juga…?”

“Chae Rin, mana Ji Hyo Noona?” tanya Joong Ki.

Chae Rin menggeleng. “Dia tidak ke sini.”

“Bohong.”

Dong Hae memotong ucapan Chae Rin.

Chae Rin dan Joong Ki menoleh ke arah Dong Hae dan melihat pemuda itu tengah memegang sepasang stiletto merah cerah.

“Ini stiletto yang kuberikan pada Ji Hyo. Aku. ingat. Persis.” Dong Hae merapikan napasnya yang tak beraturan saat menatap gadis bernama Song Chae Rin yang terlihat gugup mendadak. “Katakan, apa tadi Ji Hyo ke sini?!”

Song Chae Rin mengerut ketakutan. Kepalanya menggeleng berkali-kali. Dan mulutnya terkatup rapat.

“Chae Rin-ssi… sudah kukatakan, kau tak perlu merahasiakan apapun pada keluargaku.” Joong Ki berbalik ke arah Chae Rin. “Aku sudah muak kau selalu ada di sisi Ji Hyo dan dibelakang kau menusuknya, aku sudah muak kau pura-pura jadi sahabat baik baginya padahal kau bercumbu dengan kekasihnya, aku muak dan aku bisa membunuhmu sekarang juga!” Joong Ki melempar vas bunga di dekatnya hingga menimbulkan kegaduhan. Pecahannya berhamburan kemana-mana dan sebagian terkena kaki Chae Rin.

Chae Rin menjerit ketakutan dan memucat. Darah mengalir membasahi betisnya, tapi dia tak berani bergerak atau melakukan apapun.

Joong Ki tampak menyeramkan. Wajah kekanakkannya telah menghilang, senyuman polos yang biasa ditunjukkan bagai raib entah kemana. Yang ada, hanyalah Joong Ki yang siap meledak kapan saja.

“Sekarang, katakan… kemana… perginya kakakku!”

“Aku tidak tahu!” Chae Rin mulai menangis. “Aku tidak tahu, Hyuk Jae membawanya pergi! Entah kemana! Dia hanya bilang dia ingin menghentikan kegilaan ini, dia ingin mengakhiri segalanya.”

Joong Ki dan Dong Hae saling berpandangan.

Sesaat kemudian ponsel Joong Ki berdering. Joong Ki memandangi layarnya dan langsung mengangkatnya sigap. Beberapa lama mengobrol, Joong Ki langsung menutup ponsel dan memanggil Dong Hae.

“Hae, ayo pergi,” katanya.

Dong Hae menoleh ke arah Joong Ki. Di tangannya masih tergenggam kuat sepasang stilleto Ji Hyo.

“Kemana?”

“Polisi baru saja memberitahuku plat nomor Hyuk Jae melewati perbatasan Seoul.”

“Kau menghubungi polisi?” seloroh Chae Rin tercekat.

Joong Ki menoleh ke arah Chae Rin. “Kakakku berhubungan dengan orang-orang jahat seperti kalian, apa yang bisa kulakukan selain meminta bantuan pihak-pihak yang mampu menangkap para penjahat?”

.

.

.

.

.

.

Mobil yang dikemudikan Hyuk Jae berhenti di tanah lapang kosong. Tak jauh dari situ, sebuah jurang terbentang jauh ke dalam. Ji Hyo melirik ke kiri dan ke kanan, memastikan dimana mereka berada sekarang. Tapi dirinya sama sekali tak hapal daerah perbatasan, dia tak tahu ini di mana. Dan lagi, tidak ada satupun kendaraan yang melintas di sini.

Hyuk Jae turun dari mobil dan ikut menarik turun Ji Hyo.

“Kau gila!” pekik Ji Hyo.

Hyuk Jae memandang dingin Ji Hyo. “Tidak, kau yang gila. Kau wanita gila.”

Ji Hyo menampar Hyuk Jae lagi.

“Aku benci kau.”

“Bencilah aku.”

Ji Hyo merasakan lututnya lemas. Dia butuh berpegangan pada kap mobil agar tubuhnya tak ambruk.

Oh, demi Tuhan… bahkan ini kalimat yang sama yang dilontarkannya pada Hyuk Jae lima tahun lalu.

“Aku bisa ikut gila meladenimu lama-lama. Lagipula aku merasa sudah cukup mendapat apa yang aku inginkan.”

Ji Hyo menatap Hyuk Jae.

“Kemarin lusa aku baru saja menandatangani sponsorship dengan pihak lain untuk lima tahun ke depan. Dan tebak, yang ditawarkannya lima kali lipat lebih banyak dari yang ditawarkan Aldante. Berarti, aku bisa lepas dari lingkup keluargamu dan bisa memulai hidup baru yang lebih menyenangkan.”

Angin berhembus menggoyangkan rambut Hyuk Jae dan Ji Hyo. Ji Hyo merasa dirinya semakin tak mengenal Hyuk Jae. Dan angin bahkan tak bisa membuat wajah tampan Hyuk Jae terlihat menarik di matanya.

Dan lebih-lebih, kepala Ji Hyo sekarang justru terasa pusing sekali.

“Kau…”

“Ah, tadinya aku dan Chae Rin sedang berunding, memikirkan bagaimana cara menyingkir darimu. Tak disangka-sangka, kau malah datang dan menawarkan diri untuk membuat perang.”

Hyuk Jae maju selangkah ke depan. Dan refleks, Ji Hyo mengambil langkah mundur.

Mendapati itu, Hyuk Jae justru tertawa sinis.“Ya ampun, Sayang… lima tahun lalu kau bilang kau ingin mati saja jika kutinggalkan. Lima tahun lalu, kau berniat bunuh diri tapi gagal. Sekarang, mari kita ulang kejadian lima tahun lalu. Kali ini, kupastikan kau benar-benar bisa bunuh diri dengan tenang.”

Hyuk Jae meraih tangan Ji Hyo dan mendorong gadis itu masuk ke kemudi mobil. Ji Hyo memberontak melepaskan diri, namun kekuatan Hyuk Jae jauh lebih besar dibanding dirinya. Dia dengan mudah didudukkan di kursi dan tangan Hyuk Jae langsung menyalakan mesin mobil. Kontan hal itu membuat mata Ji Hyo membelalak ngeri.

Berada di kemudi mobil dengan mesin yang menyala adalah mimpi buruk.

Trauma Ji Hyo bermunculan. Perutnya terasa mual dan pandangannya berputar-putar. Tubuhnya kaku tak bisa bergerak. Tidak, apapun yang akan Hyuk Jae lakukan, Ji Hyo harus menghentikannya. Tidak, Hyuk Jae tidak boleh membuatnya menjalankan mobil. Di depan sana jurang dan tidak… Ji Hyo tak ingin bunuh diri.

Tetapi keinginannya seolah tak terkabul. Hyuk Jae justru meletakkan tangan Ji Hyo di kemudi, mengencangkan sealtbelt Ji Hyo, dan menaruh kaki telanjang Ji Hyo tepat di pedal gas.

“Jalankan,” perintah Hyuk Jae.

“Tidak.” Ji Hyo menggeleng dan terisak. Dia berharap bisa mengangkat kakinya dari pedal gas, tetapi entah kenapa, tubuhnya benar-benar tak bisa diajak kompromi.

“Jalankan!”

“Tidak.”

Hyuk Jae menekan kaki Ji Hyo kuat-kuat hingga pedal gas itu bekerja, lalu secepat kilat menutup pintu mobil Ji Hyo. Mobil itu bergerak dengan kecepatan tinggi menuju ke arah jurang.

Ji Hyo menjerit keras, meminta pertolongan Hyuk Jae menghentikan mobil. Tapi pria itu hanya menatapnya dari luar dengan wajah datar. Membiarkan mobil terus melaju.

Mobil itu bergerak. Tetapi tubuh Ji Hyo menegang kaku. Kakinya, tangannya, pikirannya, tak bisa diajak bergerak. Trauma itu membuat seluruh sistem tubuhnya mati rasa.

Dia tidak bisa mengendarai mobil

Dia takut mengendarai mobil!

Seseorang harus menolongnya!

Jurang itu semakin terlihat dekat. Dan Ji Hyo tak tahu apa yang harus dilakukannya.Apa dia akan mati? Ya, mungkin dia akan mati! Hyuk Jae tahu dia tidak bisa menyetir, dia trauma dengan menyetir dan malah menempatkannya di kemudi mobil. Dia akan dikira bunuh diri sungguhan! Ya Tuhan, Ya Tuhan, Ya Tuhan, tolonglah! Bagaimana menghentikan mobil ini?

Hyuk Jae bilang, ini mobil kesayangannya…

Tapi, tapi, tapi… bagaimana cara mengendarainya? Ji Hyo hanya bisa melihat ke depan dan menjerit keras. Mobilnya, benar-benar akan jatuh ke jurang.

Lalu tiba-tiba saja, entah darimana, sebuah mobil berkecepatan tinggi datang dari arah samping dan tahu-tahu berhenti tak jauh dari mobil Ji Hyo yang terus melaju. Mobil itu berhenti dengan posisi horisontal, menutupi akses jurang. Mobil itu, mobil Lee Dong Hae.

“Song Ji Hyo! Rem!!”

Kepala Dong Hae menyembul dari balik jendela mobil.

“Injak pedal rem-nya!!”

Ji Hyo menggeleng frustasi. “Aku tidak bisa menggerakkan kakiku!”

“Bisa! Kau bisa! Kau dulu bisa menyetir kan! Tinggal injak!”

“Aku tidak bisa menyetir!” Ji Hyo menjerit ketakutan. “Aku tidak bisa!”

“KAU BISA! INJAK REM-NYA!”

“TIDAK BISA!!”

“INJAK REM-NYA!”

Ji Hyo menatap ke depan. Mobilnya bergerak tak terkendali, lima meter menuju mobil Dong Hae… empat meter menuju mobil Dong Hae… tiga menuju mobil Dong Hae…

Tidak, ini tidak boleh terjadi. Jika posisi mobil Dong Hae begitu, maka Ji Hyo akan menabrak mobil Dong Hae dan keduanya bisa jatuh ke jurang.

Tidak, tidak, tidak…

Ji Hyo berusaha sekuat tenaga menggerakkan tangannya.

Tidak, tidak, tidak, tolonglah… tidak dengan Dong Hae…

Lee yang satu ini tidak boleh terluka sedikit pun…

Ji Hyo ingin muntah. Keringat dingin membasahi sekujur tubuh. Dan tubuhnya gemetaran tak terkendali. Kakinya terasa berat digerakkan. Dia tidak tahu mana pedal rem. Dia tidak tahu bagaimana menghentikan mobil ini. Tapi, jika dia terus-menerus menginjak pedal gas begini…

Tidak.

Ji Hyo memejamkan mata. Dan kakinya, penuh susah payah, terangkat dari pedal gas dan bergerak ke kanan. Lalu…

… dirinya menginjak pedal rem kuat-kuat.

 

“Song Ji Hyo!!”

Satu-satunya yang diingat Ji Hyo adalah, ketika akhirnya mobil yang dikemudikannya berhenti persis tepat di depan mobil VW putih yang melintang di gerbang jurang.

Ketika akhirnya dia melihat wajah Dong Hae yang penuh kecemasan meneriaki namanya dengan amat sangat keras. Lalu, pemuda itu turun dari VW dan berlari membukakan pintu mobil Ji Hyo.

“Ji Hyo, Song Ji Hyo… kau tidak apa-apa?” ujar Dong Hae mengusap pipi JI Hyo. Ji Hyo keluar dari mobil dibantu oleh Dong Hae.

Suara sirene polisi terdengar samar-samar. Entahlah, apa yang terjadi di belakang sana. Entahlah, bagaimana keadaan Hyuk Jae. Dia tidak peduli. Dia justru peduli dengan Dong Hae.

Itu karena, dia melihat pria ini mengeluarkan air mata saat menggenggam erat tangannya. Karena pria ini, membersihkan keringat di wajahnya dengan penuh ketulusan. Karena pria ini, berlaku seolah Ji Hyo amat sangat berharga. Karena, tidak pernah ada pria sebelum ini yang sebegitunya pada dirinya.

“Syukurlah, Lee Dong Hae… kau baik-baik saja….” Ji Hyo menyentuh wajah Dong Hae gemetar.

“Kenapa malah mengkhawatirkanku?” air mata terus turun ke pipi Dong Hae, jatuh membasahi wajah Ji Hyo. “Kau hampir mati tadi. Kau trauma. Kau hampir celaka. Dan kau bisa saja jatuh ke jurang.” Dong Hae meletakkan jemari ringkih Ji Hyo ke pipinya dan mengecupnya penuh kelembutan. “Wanita bodoh.”

Song Ji Hyo tersenyum. Dan, itulah yang terakhir diingatnya sebelum dia benar-benar tak sadarkan diri.

 

.

.

.

.

.

.

[Author’s Cucuap Cuap-ap: Dong Hae’s Ideal Type Before Story]

“Dong Hae-ah…”

Aku masuk ke ruangan dan mendapati Dong Hae sedang terduduk di atas kursi rodanya. Dong Hae menoleh kepadaku dan melambaikan tangan penuh riang.

Aku cemberut. “Kucari kau dikamar, tidak ada. Nyatanya malah kelayapan ke ruangan lain. Hei, ini rumah sakit, bukan tempat nongkrong. Jangan seenak jidat masuk ke kamar pasien lain begitu dong!”

Dong Hae tertawa renyah mendengar celotehanku. Dia tetap menyuruhku masuk ke dalam ruangan. Aku menurut dan melangkah mendekati ranjang putih yang sedari tadi diperhatikan Dong Hae. Mm, bukan, bukan, bukan ranjangnya yang diperhatikan Dong Hae. Tetapi orang yang tertidur di atas ranjang itu. Orang itu, hampir sekujur tubuhnya ditutupi perban, bahkan wajahnya juga. Berbagai alat infus tertancap di tubuhnya.

“Lihat?” Dong Hae menunjuk orang itu. “Dia kayak mumi, ya?”

“Hush, orang sakit malah dikatain mumi!” aku menoyor lembut kepala Dong Hae.

Dong Hae terkekeh. Tapi sedetik kemudian wajahnya berubah sendu.

“Dokter bilang, gadis ini berniat bunuh diri. Dia mengalami kecelakaan tunggal.”

Aku mengamati ekspresi Dong Hae.

“Kekasihnya selingkuh di depan matanya. Ini lebih parah dariku. Dan kudengar gosip dari para suster, bahkan katanya pacarnya itu tampak tidak peduli dan bukannya menjenguk malah sibuk kelayapan jalan-jalan bersama kekasih gelapnya. Ternyata, Soph, ada yang lebih menderita dibanding diriku.”

“Tentu saja. Kau kan tidak menderita-menderita amat. Kau saja yang berlebihan sampai mau bunuh diri, idih…”

“Sophie… aku serius, nih…” Dong Hae pura-pura merajuk.

Aku terkekeh. Kuserahkan sebuket bunga yang tadi kubawa ke tangan Dong Hae. “Buatmu, bunga mawar kuning. Tanda persahabatan.”

“Terimakasih…” Dong Hae menyesap aroma mawar di tangannya. Tapi kemudian dia bingung melihat masih ada sebuket mawar lagi di tanganku. Warnanya juga kuning. “Itu untuk siapa?”

“Oh? Ini?” Aku melirik buket mawarku dan tersenyum. “Untuk gadis ini, Song Ji Hyo. Semoga dia lekas sembuh.” Kutaruh buket bunga itu samping ranjang pasien.

Dong Hae menatapku bingung.

“Kau kenal gadis ini?” tanyanya.

Aku mengangguk. “Iya.”

“Wow.”

“Wow.” Aku mengikuti gaya bicara Dong Hae.

“Kau sepertinya kenal semua orang di dunia, ya.”

“Iyalah, aku kan Sophie Maya, Your Almighty Author.” Aku tersenyum. “Aku kenal… dan tahu… semuanya.”

Dong Hae tersenyum. “Kau tahu, Sophie…”

“Mmm…?”

“Dibalik perban muminya, aku yakin dia gadis yang cantik.”

“He-em…”

“Dia mungkin punya rambut lurus panjang…”

“Mm?”

“Wajahnya seperti boneka, baik hati, tidak merokok…”

“….”

“Gadis yang selalu terlihat cantik di mana pun dia berada.”

Aku melirik curiga ke arah Dong Hae. “Apa maksudmu bicara begitu, Lee Dong Hae?” todongku.

Dong Hae memutar kursi rodanya hingga berhadap-hadapan denganku.

“Dia mungkin saja, tipe gadis idealku,” ujar Dong Hae dengan mata berbinar.

Aku tersedak seketika. “Hei, kau sudah gila? Ya ampun, lihat dong, kau bahkan belum pernah kenal sama gadis ini sebelumnya!”

Dong Hae terkekeh. “Ya ampun, Sophie Maya, lihat dong, aku kan belum pernah kenal sama gadis ini sebelumnya!” Dong Hae mengikuti gaya bicaraku. Dan kemudian Dong Hae mengerucutkan bibir. “Kan aku baru bilang: mungkin saja!”

“Oh… kukira…”

Dong Hae semakin terkekeh. Dia dan kursi rodanya, lalu berjalan keluar ruangan. “Yuk, ke kamarku saja. Nanti gadis ini terganggu gara-gara obrolan kita.”

Aku mengangguk. Kupandangi punggung Dong Hae menghilang dari balik pintu. Kemudian aku menoleh ke arah tubuh yang terbaring di atas ranjang. “Hei, Song Ji Hyo…” panggilku pelan. “Lihat, ada yang baru saja menyebutkan tipe idealnya. Terdengar tidak rasional kan, tipenya?”

Tubuh Ji Hyo tetap tak bergerak.

“Dan kau benar-benar tak masuk dalam tipe idealnya,” kataku lagi.

Kupandangi kamar Ji Hyo yang tenang. Mungkin sebentar lagi Joong Ki dan keluarga Song lainnya akan tiba. Aku tidak boleh berada lama-lama di sini, terutama jika ada mereka. Aku tidak mau Joong Ki bertanya macam-macam tentang apapun—karena sialnya, Joong Ki tahu aku selalu tahu apapun, terutama jika menyangkut kakak perempuannya.

Aku mengusap punggung tangan Ji Hyo dan menepuk-nepuknya lembut. Terngiang lagi ucapan konyol manusia favoritku, Lee Dong Hae, barusan. Ucapan yang membuatku tersenyum-senyum sendiri. “Tapi, gimana dong, Ji Hyo… aku punya ide untuk membuatnya jatuh cinta padamu.”

Makanya Song Ji Hyo, cepatlah sadar, Cantik. Biar aku bisa menuliskan ceritamu… cerita Dong Hae… dan cerita manusia-manusia kesukaanku lainnya. Mungkin akan sedikit absurd dan kejam, mungkin akan seperti sinetron stripping murahan, dan mungkin kau malah kusuruh striptise beneran (oke bercanda). Tetapi lepas dari itu, percayalah, sebagai penulis cerita ini, aku akan membuat kolase cerita yang baik.

Setidaknya, menurutku sih, begitu.

.

.

.

.

.

.

see you next part~

.

.

.

.

.

well, OPO TOH IKI??

CERITANE EMBUHHH~ *ditempeleng D&E+J

hahahaha fiuh akhirnya ya bisa juga nerbitin ff ini

spesial bgt deh ff nya~ spesial lebainya~

hahaha

hyuk jae, sumpah deh, aku yang nulis aja masih shock dia bisa sejahat itu

ya oloh nak, kamu dikasih makan apa sama sooman ampe jadi antagonis begini?

*puk puk hyuk jae

nggak apa2lah ya…sekali2 begitu.. si tampan ini jadi orang jahat.

wkwkwkwk *sebenernya masih unbelievable bgt nih

dan maap ye kalo misalnye poster di atas rada jelek dan gaje *alah biasanya juga jelek, soph hihihi*

ini poster pertama yg kubuat pake corel, akhirnya… setelah biasanya cuma make program paint doang *apa? paint? yang buat gambar rumah patah patah ituuu?

dimaklumi ya kalo masih kacau posternya. *halah*

next part? jangan ditanyain yah, it so…. long way to go *digeplak teman teman

nggak kok, insyallah cepet. doain makanya, aku nya diyasinin, dirukiahin jg kalo perlu~

62 thoughts on “A Cup Of Lee (Part 8)

  1. kereeennn.. gatau mau komen apalagi kak, greget waktu mobilnya jalan. imajinasiku lagi2 gila, ngebayangin tiba2 dong hae muncul di ujung jurang nahan mobil ji dan ternyata selama ini donghae itu alien sejenis do minjoon O.O

  2. sumpah tegang banget pas bagian ji hyo mau masuk jurang,, sempet mikir gmn cara nolongnya kalau mobil masih jln. masa donghae harus nahan mobilnya kaya do min joon nolongin cheon song yi yg mau msk jurang,, haha, kan gk mungkin, di sini perannya donghae bkn jd alien,,😀
    tp untunglah ji hyo bsa ngerem mobilnya krn gk mau buat donghae ikt mati jga,,

Just talking...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s