Angel’s Call (012)

angels call

“The 240×320 pixel of your smile, it comes blur and undetected.”

-Bae Suzy-

Kyuhyun membuka matanya, terbangun saat mendengar kicauan burung gereja di luar sana. Saat itu, Ibu tirinya duduk menungguinya di samping tempat tidur tengah membaca bibel, menoleh cepat menyadari gerakan kepala Kyuhyun.

“Kenapa jendelanya dibuka?” tanya Kyuhyun.

“Pemandangan di luar sangat indah dan udaranya hangat.”

“Oh.”

Kyuhyun menatap langit biru di luar jendela dan mengangguk kecil. Lalu dia menguap panjang dan matanya terasa lelah.

“Aku mengantuk. Aku tidur dulu, ya,” ujar Kyuhyun.

“Kyu…”

Kyuhyun tidak sempat menjawab panggilan ibu tirinya, juga tidak sempat bertanya kenapa mata Ibu tirinya tampak berkaca-kaca, karena rasa kantuk benar-benar menyerang tubuhnya. Kyuhyun memilih memejamkan mata rapat.

 

.

.

.

.

.

.

 

 

“Kyuhyun, bangun…”

Kyuhyun membuka matanya dan melihat seberkas sinar menyambar penglihatannya. Suara burung gereja berganti dengan suara burung gagak yang terdengar nyaring di luar jendela. Saat itu, ibu kandungnya, mengguncang-gucangkan lengan Kyuhyun dan wajahnya tampak kesal. Tangan wanita itu mendekap bibel erat-erat di dada.

“Pemalas sekali, bangun!” tekan Ibunya. “Bangun, bangun, bangun, Kyuhyun. Bangun, Cho Kyuhyun!”

Kyuhyun mengerjapkan mata sekali, dua kali, tiga kali, dan memandangi langit yang berubah gelap. Jendela kamar masih terbuka dan udara dingin masuk merembes hingga ke kulitnya yang terbalut sweater.

“Kenapa, Bu?” tanya Kyuhyun dengan suara lemah.

“Jangan tidur!” seru ibu kandungnya.

Kyuhyun merasa kepalanya sedikit berat dan godaan untuk kembali tidur terdengar amat menarik, tapi Ibu malah mengetuk kepalanya dengan bibel!

Kyuhyun mengaduh, Ibu kandungnya, kembali menepuk-nepuk lengannya. Mengguncang-guncangkan tubuhnya, mencubit pipinya, dan bahkan menahan kelopak mata Kyuhyun yang ingin terpejam. Menyuruhnya tetap terjaga dan tidak boleh kembali tidur.

Dan… Kyuhyun baru sadar, di mana ibu tirinya yang tadi duduk menemaninya?

.

.

.

.

.

.

Telinga Kyuhyun mendengar suara-suara ribut dari sebelah ruangan, suaranya memantul-mantul sampai ke dalam ruangan dalam. Kyuhyun mendengar suara mesin-mesin berisik merusak ketenangan tidurnya. Suara langkah kaki dua, tiga, empat, ah… mungkin tujuh orang, berderap-derap di sekelilingnya.

Seorang pria dengan suara berat mengatakan kata-kata “satu… dua… tiga!” dan dihitungan ketiga, Kyuhyun merasakan tubuhnya dialiri kejutan listrik berarus tinggi. Kyuhyun merasakan kepalanya berputar-putar dan perutnya mual. Dia ingin membuka mata dan meneriaki siapapun yang telah membuatnya merasakan mual begini, tetapi belum sempat itu terjadi, tubuhnya kembali terlompat dengan keras. Kejutan listrik itu datang lagi. Lalu, datang lagi. Lalu, datang lagi. Lalu, bertubi-tubi datang lagi.

Lalu, ada satu suara mesin yang berubah, suara “tiiit…” panjang melengking kini berubah lebih lembut dan terputus-putus. Seiring dengan itu tubuh Kyuhyun terasa rileks. Perutnya tidak mual.

Dan dia merasa tidak mengantuk sama sekali.

Tapi entah kenapa, dia malah jatuh tertidur, lagi.

Meski begitu, sempat Kyuhyun mendengar samar-samar suara seorang pria yang familiar di telinganya.

“Dokter, ba-bagaimana… keadaan anak saya?”

.

.

.

.

.

.

“Masa-masa kritisnya sudah lewat, Sayang…”

“Syukurlah, Bibi… syukurlah, Tuhan maha penyayang, Tuhan maha pemurah hati.”

Nyonya Moon mengembuskan napas kelewat lega tatkala menyandarkan punggung di kursi kayu ruang tunggu rumah sakit subuh itu. Dia mendengarkan suara seorang gadis di seberang sana yang juga terdengar lega saat mendapat kabar terakhir tentang Cho Kyuhyun.

Gadis itu, yang meneleponnya beberapa hari lalu demi mengabarkan bahwa ada kemungkinan Kyuhyun diserang preman di sebuah tempat. Gadis itu menyebut-nyebut tentang kemungkinan Kyuhyun berada di sekiatar area pasar malam yang sudah tidak terpakai. Nyonya Moon langsung berlari ke tempat yang dimaksud dan benar saja, di sana dia menemukan Kyuhyun tergeletak bersimbah darah dan tak sadarkan diri. Tubuhnya penuh luka dan bajunya robek sana-sini. Saat menemukan kondisi Kyuhyun begitu, seketika Nyonya Moon menjerit meminta pertolongan dan menangis meraung-raung.

Kyuhyun mengalami patah tulang rusuk dan kepalanya kehilangan darah banyak sekali.

Kyuhyun koma sejak saat itu.

Dia dirawat di rumah sakit dengan perawatan intensif. Suaminya, ayah dari anak yang disayanginya ini, akhirnya datang ke Busan.

Tuan Cho tampak terpukul melihat kondisi Kyuhyun dan memutuskan untuk membatalkan semua pekerjaannya di Seoul demi menemani Kyuhyun. Sekarang Tuan Cho berada di ruangan ICU, berusaha mengobrol dengan Kyuhyun, meskipun pemuda itu tak sadarkan diri.

Kata dokter, orang-orang terdekat Kyuhyun harus sering mengajak ngobrol pemuda itu, hal itu sangat membantu agar spirit Kyuhyun yang masih melayang-layang bisa kembali ke tubuhnya. Dan agar Kyuhyun merasa nyaman.

Perihal itu, Nyonya Moon kembali teringat kejadian kemarin sore yang cukup membuatnya terguncang. Saat Kyuhyun tahu-tahu terbangun dan menanyakan kenapa jendela ruangan terbuka. Saat itu jantung Nyonya Moon mencelos, dia sungguh terkejut melihat Kyuhyun begitu dan bahkan tak bisa memberikan jawaban yang baik untuk pertanyaan Kyuhyun.

Dan apalagi, setelah itu, Kyuhyun kembali tak sadarkan diri, dan mesin pendeteksi detak jantung, yang tadinya menampilkan riak irama tak beraturan, berubah jadi garis lurus panjang dengan disertai bunyi “titttt” yang amat sangat nyaring.

Saat itu Nyonya Moon merasa seluruh dunianya runtuh seketika.

Dia berlari mengecek kondisi Kyuhyun, berteriak histeris, keluar ruangan, memanggil-manggil dokter dengan teriakan penuh kepanikan.

“Kumohon… kumohon… kumohon… ya Tuhan, Kyuhyun-ku Sayang, anakku Sayang, terkasihku, kumohon… kumohon… jangan pergi…” Nyonya Moon memeluk tubuhnya yang bergetar hebat saat para dokter berbondong datang ke ruangan. Kakinya terasa kelu dan matanya benar-benar pedih. Tapi dia berusaha untuk terus melihat, dia harus melihat anaknya, anak tersayangnya, Cho Kyuhyun, yang berjuang dalam kebisuan disaat para dokter menghentakkan alat kejut ke tubuh ringkihnya. Seolah, Nyonya Moon dapat merasakan kesakitan yang dirasakan putranya.

“Tuhan kumohon, yang Maha Pengasih, yang Maha Pemberi Kesempatan, tarik pulang malaikat maut manapun yang ingin membawa Kyuhyun-ku Sayang dari pelukanku. Kumohon… kumohon…” Nyonya Moon memeluk Nenek Bi, ibunya, dengan segenap kekuatan yang tersisa saat mendapati tubuh Kyuhyun terguncang tak berdaya di atas ranjang.

Detik demi detik seolah berjalan lambat saat para dokter berusaha mengembalikan detak jantung Kyuhyun ke kondisi semula. Nyonya Moon dan Tuan Cho saling menggenggam tangan dan hanya bisa berharap Tuhan sedikit memberikan kebaikan pada mereka.

Saat itu, saat itu adalah titik terbawah yang pernah Nyonya Moon rasakan selama empat puluh tahun dalam hidupnya.

 

“Yang terpenting, Bibi… kondisi anak anda sudah sedikit membaik. Kita perlu lebih banyak lagi berdoa,” suara gadis di seberang sambungan itu menyadarkan Nyonya Moon dari lamunannya.

Nyonya Moon tersenyum kecil seraya mengusap air mata yang merembes di pipinya. “Terimakasih ya, Sayang…”

“Sama-sama, Bibi… mm… aku tutup teleponnya ya. Aku harus siap-siap ke sekolah.”

.

.

.

.

.

.

Nyonya Moon memandang layar ponsel saat mendengar bunyi “klik” di seberang. Ponsel yang dipakainya untuk berhubungan dengan gadis itu adalah ponsel milik Cho Kyuhyun. Sejak Kyuhyun dirawat, Nyonya Moon sering mendapat telepon dari gadis itu, awalnya lewat telepon rumah, tapi akhirnya lebih sering memakai ponsel Kyuhyun. Dari gadis itu, Nyonya Moon tahu semua tentang masalah Kyuhyun. Tentang keinginan Kyuhyun untuk memperbaiki kondisi keluarganya yang berantakan. Tentang kenekatan yang telah Kyuhyun perbuat sejauh ini, ternyata hanya demi Nyonya Moon dan Tuan Cho kembali bersama. Mendengar itu, Nyonya Moon menjadi terharu. Dia tidak menyangka anak tirinya, yang bukan dilahirkan dari perutnya, sedemikian mencintainya. Nyonya Moon telah membicarakan hal itu kepada Tuan Cho dan keduanya sama-sama telah merenungi diri.

Mungkin hubungan keduanya tak akan dengan mudah kembali ke awal, tetapi keduanya telah berkomitmen untuk melakukan yang terbaik demi kebahagiaan Kyuhyun.

“Kamu belum makan…”

Nyonya Moon menengadahkan kepala dan melihat Tuan Cho membawakan sekotak nasi dan segelas teh hangat. Disodorkannya kedua benda itu ke arah istrinya.

“Saya baru meneleponnya.”

“Bidadari?” tanya Tuan Cho.

Nyonya Moon mengangguk kecil. Cho Kyuhyun memberikan nama “Bidadari” pada kontak sang gadis.

Mungkin memang itu namanya, Nyonya Moon tak pernah bertanya tentang hal itu. Tapi yang dia tahu pasti, nama “Bidadari” terasa pas dengan gadis pemilik suara lembut itu.

“Teman Kyuhyun satu itu…” Nyonya Moon tak melanjutkan ucapannya dan memilih tersenyum. “Kapan-kapan, pokoknya, kita harus menemui anak itu dan mengucapkan terimakasih padanya. Saya senang ada teman Kyuhyun yang seperhatian itu.”

Tuan Cho duduk di samping Nyonya Moon dan menggenggam kedua tangan istrinya erat-erat. “Maafkan saya ya, selama ini saya keras kepala. Saya juga tidak pernah perhatian pada apapun kecuali keegoisan saya.”

Nyonya Moon menoleh ke arah Tuan Cho, memandangi suaminya lekat-lekat. “Saya juga keras kepala, kok. Saya susah merubah keyakinan saya pada sesuatu. Keyakinan bahwa kamu tidak mencintai saya lagi, susah mengubahnya.”

Tuan Cho menghela napas. “Kita janji kan, kita akan memulai semua dari awal?”

Nyonya Moon mengangguk.

“Saya berjanji, saya akan merubah keyakinan kamu soal saya yang tidak mencintai kamu lagi. Saya… masih mencintai kamu.”

“Iya, saya tahu.”

“Tuh, sudah tahu, kan. Berarti keyakinannya sudah berubah dong?”

Nyonya Moon memukul lengan Tuan Cho pelan dan tersenyum tipis.

 

.

.

.

.

.

.

.

Kyuhyun mendadak terbangun dan membuka matanya lebar-lebar. Keringat membasahi pelipisnya. Dia seperti baru saja terjatuh dari tempat tinggi dan sekarang semua tubuhnya terasa sakit sekali. Kyuhyun ingin bergerak tapi seluruh sendinya terasa mati suri. Saat menoleh ke samping, dilihatnya Ayah duduk di sisi tempat tidur. Tangannya memegang bibel.

Sepertinya semua orang akhir-akhir ini sering membaca bibel.

Kyuhyun tak tahu pasti apa alasannya, tapi dia sangat lega ketika melihat sosok Ayahnya. Apalagi saat Ayah menoleh ke arahnya dan keduanya saling bersitatap sekian detik. Kyuhyun sempat berpikir Ayah akan berlari ke arahnya, mengguncang-guncang tubuhnya, lalu berkata dengan kalimat dramastis “kau sudah sadar?! Kau sudah sadar?! Kau sudah sadar! Oh, Kyuhyun…” tapi itu tidak mungkin, ayahnya bukan penyuka sinetron, jadi tidak akan bertingkah berlebihan begitu.

Ayahnya hanya berdeham kecil dan berkata dengan suara dalam, “sudah bangun?”

Kyuhyun memandangi sekeliling. Dia tidak sedang berada di kamarnya dan Kyuhyun tahu dia sedang ada di rumah sakit. Ada selang, ada mesin-mesin entah apa itu, dan juga ada bau seprai khas rumah sakit. Tidak perlu berpura-pura amnesia dan bertanya-tanya “aku dimana? Aku siapa? Kenapa aku bisa di sini?”, karena Kyuhyun toh masih ingat jelas kenapa dirinya bisa ada di rumah sakit. Penyerangan Kangin dan preman-preman padanya itu masih tercetak jelas di otaknya. Bagaimana Kangin memukul telak kepalanya dengan besi panjang dan menendang perutnya tanpa ampun. Kyuhyun yang sedikit lengah dan kalah jumlah terang saja langsung tersungkur tak berdaya.

Ibu dan Nenek Bi masuk tak lama kemudian, membawa tas jinjing berwarna cokelat tua. Keduanya malah seolah masa bodoh Kyuhyun sudah sadar atau tidak, keduanya asyik membicarakan acara radio tadi malam sembari tertawa-tawa. Ibu sempat menoleh sekilas padanya, tapi hanya untuk mengatakan, “kalau sudah kentut, baru boleh minum.” Setelah itu balik membicarakan artis-artis trot dengan serunya.

Sebenarnya Kyuhyun hampir mau kesal karena semua bertingkah cuek padanya, dia lagi sakit loh, lagi sakit… kepala dan tangannya di perban, dan dia tiduran seperti mayat siap dimumikan; tapi ayahnya malah terus membaca bibel, ibunya ke kamar mandi karena kebelet pipis, dan Nenek Bi menyetel drama KBS di tivi. Tapi kemudian Kyuhyun tertegun saat melihat ibunya keluar dari kamar mandi dan berjalan ke samping ayahnya, mengecup sekilas pipi pria itu, dan kemudian membongkar isi tas jinjing yang ternyata berisi baju-baju ayah.

Lalu, saat Ayah bangun dari duduknya dan bergabung bersama Nenek Bi untuk menonton drama yang tidak pernah ditonton sebelumnya. Bagaimana Ayah yang sibuk bertanya nama-nama pemeran dan jalan cerita, dan Nenek Bi menjelaskannya dengan raut sebal karena Ayah mengganggu konsenterasinya menonton. Lalu Ibu menyiapkan potongan apel untuk Ayah dan Nenek hanya tersenyum-senyum melihat tingkah keduanya.

“Aku masih harus dirawat disini sampai kapan?” tanya Kyuhyun hati-hati.

Ketiganya menoleh ke arah Kyuhyun.

“Mm, beberapa hari lagi.” Ibu yang menjawab.

“Yang jagain aku nanti malam Ayah?” tanya Kyuhyun lagi.

“Ayah sama Ibu,” ralat Ayah.

Kyuhyun menganggukkan kepala. Dan dia merasa lega sekali. Juga senang. Juga terharu. Juga ingin nangis. Juga ingin memeluk kedua orang tuanya.

Iya, sekarang dia yakin, dia punya dua orang tua, utuh, ada ayah dan ada ibu.

Semua telah kembali ke semula.

.

.

.

.

.

.

Malam telah beranjak naik ke singgasana dan Kyuhyun bisa melihat seberkas kegelapan merambati jendela kamarnya yang terang benderang. Nenek Bi bergerak maju untuk menarik korden dan meninggalkan kegelapan di luar sana. Wanita itu berjalan terbungkuk-bungkuk sambil mengunyah sirih di mulutnya. Matanya sempat bersibobrok dengan Kyuhyun selama sepersekian detik, sebelum akhirnya dari mulut merahnya terdengar kekehan kecil.

“Besok lusa kau boleh pulang, Cucuku… senangkah kau dengan berita ini?” katanya.

Kyuhyun menatap sosok neneknya sejenak, sebelum menganggukkan kepala pelan.

Ayah dan Ibu baru saja keluar dari kamar untuk memesan makan malam di kantin. Untuk sementara Nenek Bi yang menjagai Kyuhyun. Baru setelah itu, katanya, ayahnya akan mengantar Nenek Bi pulang ke rumah.

Nenek Bi duduk di kursi yang ditarik mendekat ke samping ranjang. Tangannya berkeriput, dan sedikit bergetar saat meraih bibel yang diletakkan di atas meja kecil. Nenek Bi memandangi Kyuhyun sekali lagi dan berkata, “Mau nonton Myu Sik Beng? Kata tetangga sebelah rumah, anak remaja suka nonton itu…”

Kyuhyun menggeleng. “Music Bank, Nek…” ralatnya.

“Iya, Myu Sik Beng…” ulang Nenek Bi mengeja nama itu sedikit kesusahan. “Itu nama orang korea? Kok aneh sekali… Nenek lebih suka nama Choi Myung Sik atau Kim Myung Soo dibanding Myu Sik Beng.”

Kyuhyun tak bisa membendung tawanya saat mendengar perkataan polos neneknya. Terutama, ekspresi neneknya yang sungguh-sungguh terlihat serius saat mengucapkan hal tersebut.

Nenek Bi akhirnya menyalakan televisi dan bergumam agar Kyuhyun bisa menonton acara yang ada Myu Sik Beng nya—Nenek Bi pasti berpikir bahwa Music Bank sejenis drama dengan pemeran utama bernama Myu Sik Beng yang menjalani kehidupan naik turun karena harus menghadapi kenyataan dirinya anak pungut, dibenci saudara tirinya, dan hampir terkena amnesia akibat kecelakaan dengan pangeran tampan…

Blah, blah, blah… Kyuhyun menggeleng-gelengkan kepala. Kenapa pikirannya jadi melantur-lantur?

Televisi menyala. Suara lagu-lagu dari penyanyi wanita berkumandang memenuhi kamar. Tetapi Kyuhyun justru terus menatap neneknya yang tekun membaca bibel.

Dia kembali bertanya-tanya, kenapa semua orang sering membaca bibel akhir-akhir ini? Tadi ayahnya juga ikut membaca, padahal ayah bukan orang yang terlalu taat agama.

Waktu itu dia juga lihat ibu tirinya membaca bibel, dan juga ibu kandungnya…

Kyuhyun tertegun

Sebentar, dia melihat ibu kandungnya?

Ibu kandungnya yang sudah… meninggal? Dia melihatnya?

Mata Kyuhyun mengerjap. Ibu kandungnya, apa wanita nomor satu yang dicintainya itu, kemarin mengunjunginya?

Kyuhyun berusaha mengingat-ingat saat dia membuka mata dan sungguhan melihat ibu kandungnya, Nyonya Lim, duduk di pinggir ranjangnya, rambut panjangnya yang terurai halus, wajah tirusnya yang tanpa cela, senyuman lembutnya, semuanya tampak nyata kemarin.

Dan, saat Nyonya Lim memarahinya agar jangan tertidur… semua juga tampak nyata.

Apa maksudnya…? Kyuhyun tak boleh tertidur? Memang apa yang akan terjadi jika Kyuhyun tertidur terus?

Kyuhyun terdiam

Entah kenapa, dia seolah tahu jawaban atas pertanyaan yang dilontarkannya sendiri itu.

Jika dia lanjut tidur, mungkin saja… mungkin saja… dia tak akan pernah terbangun lagi.

.

.

.

.

.

.

 

Siwon masuk ke dapur dan duduk di bawah lantai, sama seperti yang tengah Suzy lakukan. Siwon menatap Suzy dengan ekspresi kosong. Tapi gadis itu tak menyadari karena sibuk mengupas bawang.

“Mau bikin apa?” tanya Siwon.

“Bawang goreng.”

“Tidak pedih?” Siwon menunjuk tumpukan bawang merah yang sudah Suzy iris-iris dengan pisau. Irisannya tipis dan teratur seperti irisan bawang yang biasa Siwon lihat di supermarket.

“Tidak, mau coba?” Suzy menyodorkan pisau ke arah Siwon.

“Nanti aku nangis,” elak Siwon.

“Kalau nangis, tinggal di foto. Ditaruh di SNS.”

“Hehehe, kamu tahu SNS juga?”

“Memangnya aku nenek-nenek, tidak tahu SNS?”

“Bukan nenek-nenek…” Siwon menyimpan kelanjutan kalimatnya dalam hati. Tapi…

“Mau coba bawang yang sudah digoreng?” tawar Suzy.

“Di mana?”

“Di atas meja makan.”

Siwon bangkit menuju meja makan, mengambil sendok di rak dan mencicipi beberapa potong bawang goreng dan mencicipinya. Renyah dan gurih. Siwon menyendok beberapa bawang lagi dan memasukkannya ke mulut. Menyendoknya lagi, lagi, dan…

“Jangan dihabisin bawangnya!” teriak Suzy, membuat Siwon terlonjak dan spontan tersedak.

“Uhuk! Uhuk! Uhuk!”

Suzy tertawa berderai-derai melihat tingkah Siwon yang kelabakan mencari-cari air.

“Makanya, jangan rakus!”

Siwon kembali duduk setelah berhasil menenggak air putih sebanyak dua gelas. Kali ini dia membantu Suzy memotong-motong buah melon dan semangka. Sementara Suzy mulai memasak sup hangat di kompor. Hari ini ada peringatan kematian di rumah Suzy dan Siwon membantu sepupunya mempersiapkan berbagai keperluan. Meski sebenarnya, Siwon justru merepotkan karena dari tadi pekerjaannya tidak ada yang beres. Suzy menyuruhnya membawa meja besar, tapi yang dibawa Siwon malah meja ruang tamu. Suzy menyuruh Siwon mengganti korden tapi Siwon malah mematahkan biji-biji kordennya. Suzy sampai geleng-geleng kepala.

Tidak biasanya Siwon begini. Biasanya, pemuda kekar itu seperti kuli bangunan yang disuruh melakukan pekerjaan seberat apapun bisa beres dengan sempurna.

“Ibumu mana?” tanya Siwon.

“Keluar sebentar. Katanya ada tetangga dari Mokpo mau bertandang ke sini.”

“Ikut peringatan kematian juga?”

“Tidak tahu.” Suzy mengikat rambut panjangnya yang meriap-riap berantakan. Tugas memasak sebenarnya mudah, tetapi Suzy selalu tidak tahan dengan panas kompor yang menerpa kulitnya. Dia berkeringat dengan mudah.

“Oh ya, temanmu yang dari Busan itu…” Siwon teringat kejadian tempo hari, saat Suzy bercerita bahwa dia punya teman yang sedang dalam musibah. Beberapa hari setelah itu wajah Suzy selalu tampak mendung dan gadis itu nyaris tidak mau bicara sama sekali. Tetapi kemarin, Suzy kembali ceria seperti sedia kala. Tebakan Siwon, ada hubungannya dengan teman di Busan itu. Tetapi Siwon belum berani bertanya karena ingin memilih waktu yang tepat untuk membicarakan itu. Dan mungkin, sekarang waktu yang tepat.

“Dia sudah sadar.” Suzy menoleh ke arah Siwon dengan senyuman lebar. “Sudah sadar… syukurlah… syukurlah…”

Siwon terdiam di tempat, tanpa sadar menelan ludah. Ada sorot aneh dalam mata Suzy saat mengucapkan kata syukur. Itu bentuk kebahagiaan yang sedikit berlebihan. Siwon seharusnya bisa menebak kenapa Suzy seperti itu, tetapi dia memilih untuk tidak sensitif dan bertanya hal lain.

“Eh, ini melonnya dibentuk bunga beneran?”

“Iya, bisa kan?” Suzy mencicipi kuah sup buatannya, menerka-nerka bumbu apa yang dirasa kurang.

“Bisa tapi sedikit lama bikinnya. Tidak apa-apa?”

“Hm… tidak apa-apa.”

Terdengar suara pintu pagar terbuka. Suzy dan Siwon menoleh ke luar dapur. Suara Ibu dan beberapa orang terdengar memasuki rumah. Itu pasti tamu dari Mokpo yang dimaksud Ibu. Suzy buru-buru mengecilkan api kompor begitu Ibu memanggilnya dan Siwon ke ruang tamu. Siwon sedikiti menggerutu karena dia sedang dalam masa-masa berkonsenterasi penuh untuk mengukir buah melon di tangannya. Tapi tetap saja, Siwon mengekori langkah Suzy.

“Ini Siwon, keponakan saya. Dan ini Suzy. Suzy, ini keluarga Kim. Ini Tuan Kim, ini Nyonya Park, dan ini anak mereka, Kim Ryeowook.”

Ibu mendorong Suzy mendekat ke arah sepasang suami-istri dan seorang pemuda yang berdiri berjejer dengan senyum manis di wajah mereka. Suzy membungkuk hormat dan mengucapkan salam.

“Aduh, ini yang namanya Suzy? Waktu itu sempat lihat tapi sudah lama sekali, sekarang tambah cantik aja ya,” puji wanita itu seraya memeluk erat Suzy.

Suzy tersenyum kecil. Menoleh sekilas ke arah Ibu dengan raut bingung.

“Suzy kamu lupa? Ini Bibi Jae, dulu waktu SD kamu sering minta buah persimon di rumahnya. Suzy ini kan tidak tidak tinggal di desa kita waktu SMP, jadi agak lupa sama tetangga,” jelas Ibu.

“Iya… iya… saya ingat, makanya saya senang sekarang bisa bertemu dengan Suzy,” ujar Nyonya Park.

“Saya juga senang bertemu dengan Bibi,” sahut Suzy.

“Aduh… anak yang manis.” Nyonya Park tersenyum lebar. “Oh, oh, ini Ryeowook… anak Bibi… baru selesai kuliah, baru lulus Oktober kemarin. Kenalan dulu ayo…”

Suzy sekali lagi, menatap Ibunya. Kali ini bukan dengan raut bingung, tapi dengan pandangan tak nyaman seolah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Namun Suzy berusaha menunjukkan sikap terbaik dengan tetap memasang seulas senyuman di bibir tipisnya.

Siwon melirik Suzy, memperhatikan segalanya dalam diam.

“Suzy sama Ryeowook mengobrol saja dulu berdua… biar bisa akrab…” lanjut Tuan Kim, yang disusul dengan tawa berderai oleh orang-orang dewasa di ruang tamu.

Dan, sekali lagi, Siwon melirik Suzy, yang semakin tampak tak nyaman dengan posisinya.

.

.

.

.

.

.

Namanya Kim Ryeowook. Ryeowook panggilannya. Lulusan KAIST Jurusan Bisnis. Ryeowook punya senyum yang menawan dan mata yang berbinar penuh semangat. Pun dengan tutur kata yang keluar dari bibirnya terdengar berapi-api namun tetap berstruktur teratur. Ryeowook bilang dirinya sempat jadi anggota senat saat kuliah, dia sering melakukan demonstrasi atas kebijakan pemerintah Korea Selatan, dirinya bahkan beberapa kali mendapat tawaran wawancara ekslusif dari wartawan. Saat lulus kemarin, Ryeowook bercerita dirinya mendapat tawaran menduduki salah satu posisi anggota partai pemerintah. Namun Ryeowook menolak dengan sopan karena dia tak tertarik terjun di bagian politik.

Ibu dan Nyonya Park “menitipkan” Ryeowook pada Suzy. Yang artinya, Suzy harus menemani pemuda itu mengelilingi rumah; seolah pemandu wisata yang bertandang ke kuil penuh sejarah. Meski akhirnya mereka berdua berakhir dengan duduk di halaman belakang, di bawah jemuran seprai yang belum kering, sembari menyeruput secangkir teh hangat.

Seekor kucing betina duduk di atas pagar, tidur tepatnya. Tubuh berbulunya terlihat bergelung nyaman di atas bata dengan mata terpejam. Pulas sekali. Sampai kucing itu tak sadar ada beberapa kupu-kupu melintas di atas kepalanya dan singgah sementara untuk istirahat di tumpukan bulu nyaman itu.

Ryeowook pemuda yang bisa berbicara apa saja dengan cara cerdasnya. Seolah tak pernah kehabisan topik, seperti guru yang punya segudang dongeng bagi para muridnya. Dia membicarakan soal kemungkinan-kemungkinan Korea Selatan mendepak Jepang sebagai industri elektronik terbesar di dunia, dia juga menceritakan penemuan baru tentang fosil purba di bagian selatan Jeju, dan bahkan membahas tentang girlband G-Friend yang baru debut beberapa bulan lalu. Suzy larut dalam percakapan, mengimbuhi dengan beberapa pengetahuannya, berdebat dengan fakta yang tertanam dalam otaknya, dan akhirnya tersenyum mendapati bahwa Ryeowook mampu membuat pengetahuan Suzy bertambah banyak hanya dalam beberapa menit kebersamaan mereka.

Namun, Suzy tak bisa menyatakan dirinya nyaman dengan segala hal yang terjadi. Suzy mengerti maksud Ibu untuk mengenalkannya pada Ryeowook.

Dan Suzy tahu, Ibu tampaknya berniat menjodohkannya dengan Ryeowook.

Pemuda berlatar keluarga baik-baik, tetanggaan satu distrik, hubungan yang erat sesama orang tua, hal itu sudah menjadi dasar kuat terjadinya perjodohan di Mokpo. Pun meski Suzy pindah ke Seoul, dia tidak akan lepas dari hal-hal seperti itu.

Perjodohan… adalah hal yang umum di Mokpo

Perjodohan… adalah hal yang enggan Suzy hadapi

“Jadi, kamu masih SMA? Kelas dua?” tanya Ryeowook kemudian.

“He-em. Kelas dua,” Suzy tersenyum sopan.

“Lulus SMA mau kuliah?”

“Belum tahu.”

“Kalau kuliah di KAIST, bisa bareng sama aku. Aku mau lanjut S2 di sana.” Ryeowook menggigit biskuit yang baru diambilnya di atas piring.

Suzy menoleh sekilas.

“Kamu cantik,” puji Ryeowook.

Suzy tersenyum sopan. “Terimakasih.”

“Kamu tahu kan… kemana arah pertemuan ini akan berakhir, Suzy-ah?” ujar Ryeowook lagi, dengan senyum cerah.

Suzy memandang Ryeowook sejenak. “Tahu.”

“Aku suka dengan pilihan ibuku.” Ryeowook mengedipkan matanya.

Suzy tersenyum lagi. Dia menaruh cangkir di meja dan memandangi langit siang yang terik.

“Aku… sebenarnya marah pada ibuku, Oppa… dia melakukan hal ini lagi,” ujar Suzy tiba-tiba.

“Maksudmu?” Ryeowook menoleh tak mengerti.

“Aku sudah sering menghadapi situasi begini, dipertemukan, dijodohkan, dan selalu tidak berhasil.”

“Oh ya?” Ryeowook mengerjapkan mata. “Kenapa?”

Suzy yakin pasti, Ryeowook akan mengatakan kalimat yang sering didengarnya dari pemuda-pemuda yang berkenalan dengannya sebelum ini: kamu cantik, kamu baik, kamu punya senyum manis… kenapa perjodohan malah tidak berhasil?

“Kamu kan cantik Suzy… kok tidak berhasil dengan perjodohan?” tanya Ryeowook heran.

Dan, biasanya, jika sudah ditanyakan dengan pertanyaan seperti itu, Suzy akan langsung menjawab dengan jujur.

“Ibu berkali-kali melarangku menceritakan ini. Ibu berkali-kali menyuruhku tak bicara soal ini. Tetapi berkali-kali pun, aku tetap mengatakan hal yang sama. Cerita yang sama. Cerita yang sejujurnya. Dan, setelah menceritakan hal itu, aku yakin Oppa akan sama dengan pemuda-pemuda sebelumnya, menolak perjodohan ini.” Suzy menatap ke arah dapur, tempat Siwon sedang sibuk-sibuknya mengukir kulit-kulit buah melon. Suzy menatap meja di ruang tivi yang sebagian dipenuhi dengan makanan-makanan dan lilin yang belum dinyalakan. Suzy lalu memandangi bola mata Ryewook lekat. “Hari ini, peringatan kematian ayahku.” Suzy menatap lambaian seprai yang tertiup angin di depan matanya. Dia menghela napas sejenak untuk menyusun blueprint kata-kata di otaknya. “Dan sebenarnya…”

.

.

.

.

.

.

Kyuhyun menaruh, lebih tepatnya melempar jaketnya ke sofa begitu mereka tiba di rumah. Setelah beberapa hari di rumah sakit, akhirnya, benar-benar akhirnya, mereka pulang ke rumah. Baiklah, bukan rumah yang di Seoul, tetapi rumah Nyonya Moon yang di Busan. Tapi, tapi, tapi tetap saja, bagi Kyuhyun, ini adalah rumah.

Rumah, tempat tinggal sekelompok orang yang menamakan diri mereka keluarga, dan bertingkah laku selayaknya keluarga.

Kyuhyun tersenyum memikirkan itu.

Dia menoleh ke arah ruang tamu. Ayah dan Ibu sibuk menarik tas-tas bawaan masuk ke dalam rumah. Mengobrol dengan beberapa tetangga yang langsung berdatangan mendengar kabar Kyuhyun baru pulang dari rumah sakit. Meskipun tampaknya, mereka juga tak begitu kenal dengan wajah Kyuhyun, tetapi kabar bahwa anak Nyonya Moon diserang preman tak dikenal di dekat pasar malam membuat Busan sedikit gempar.

Dari hasil curi dengar, Kyuhyun bahkan tahu polisi sudah bergerak mencari para preman ke segala penjuru Busan. Kyuhyun memilih untuk tak menanggapi dengan, “aku tahu siapa yang menyerangku, namanya Kangin, dia anak Seoul berbadan besar tapi berotak udang, kalau mau tangkap dia, aku beri alamatnya, dan hukum saja dia seberat-beratnya.”

Kyuhyun memilih diam. Bahkan Kyuhyun berniat untuk menyuruh Ayah mencabut tuntutan kepada para preman itu dan agar polisi tak lagi mencari mereka. Alasannya, Kyuhyun tidak ingin memperpanjang urusan ini. Biarkan saja keadilan, Tuhan Maha Kuasa, dan Malaikat pencatat kebaikan dan kuburukan lah yang menghukum Kangin atas segala kesalahan yang diperbuatnya.

…. ngg, baiklah, Kyuhyun yakin tak akan ada yang percaya jika dirinya bilang begitu. Dia terlampau setanisme untuk bersikap baik begitu. Dia malah, sebenarnya pengin agar Kangin dipenjara seumur hidup, dikeluarkan dari sekolah, dan dibuat merasa kalah telak dari Kyuhyun. Tetapi, entah kenapa, di satu sisi, Kyuhyun juga berpikir dirinya perlu berterimakasih kepada Kangin. Dengan dikeroyok Kangin, Kyuhyun bisa masuk rumah sakit, koma, dan hampir mati. Dia benar-benar harus berterimakasih pada Kangin.

Kenapa? Karena dengan masuk rumah sakit, koma, dan hampir mati… Kyuhyun berhasil mengembalikan keluarganya seperti sedia kala. Dia berhasil membuat Ayah dan Ibunya kembali akrab dan dia berhasil mengendalikan seluruh gengsi dan emosinya.

Harga yang cukup mahal untuk membayar kehidupan yang bahagia memang. Tetapi Kyuhyun merasa bersyukur.

.

.

.

.

.

.

Siwon menaruh melon di atas meja ketika mendengar suara pelan Suzy dan Nyonya Oh di dalam kamar. Tangan Siwon berhenti bergerak ketika memandang foto ayah Suzy yang tersenyum penuh wibawa, tatkala didengarnya seloroh kalimat Nyonya Oh yang terdengar lirih.

“Suzy… ibu sudah bilang, tak perlu kau ceritakan hal itu pada pemuda-pemuda yang menemuimu. Sayang, hal itu membuat mereka bergerak mundur menjauhimu…”

Siwon menghembuskan napas tanpa sadar. Jari-jarinya bergerak menyusun piring-piring di atas meja.

“Ibu, dengarkan aku… Ibu…” suara Suzy terdengar lembut. “Aku ingin pemuda yang menerimaku apa adanya.”

Napas Siwon tercekat.

“Aku ingin orang yang menerima keburukanku terlebih dahulu, sebelum mereka mencintai kebaikanku.”

Suara air mendidih di teko membuat Siwon berdiri dan bergegas ke dapur untuk mematikan kompor.

Setelah itu dia sempat berkeliling dapur tanpa tujuan, sembari mengacak-acak rambut frustasi, sebelum akhirnya kembali lagi ke ruang tengah. Dia tidak ingin mencuri dengar ucapan Suzy dan Nyonya Oh, tetapi dia ingin tahu… dirinya ingin mengerti, setidaknya, sedikit saja, pola pikir sepupunya.

“Suzy… itu tidak mungkin—”

“Tidak mungkin akan ada pemuda yang mau memahami keburukanku?”

Siwon menoleh ke arah pintu kamar yang tertutup. Saat itu dirinya justru melihat foto ayah Suzy yang masih terpampang di atas meja yang penuh makanan. Saat itu juga, Siwon juga melihat ada foto lain di sana… di samping foto ayah Suzy. Tersenyum dengan mata berbinarnya, dengan rambut hitam kelamnya, dengan bibir tipisnya, seolah menindas siapapun yang melihatnya untuk merasakan keruntuhan yang amat dalam.

“Ibu, jika begitu, jangan jodohkan aku lagi.”

.

.

.

.

.

.

Kyuhyun tersentak mendapat telepon dari Bidadari malam itu. Dia baru saja mengepak barang ke koper dan berniat untuk menelepon Bidadari untuk membicarakan kembali rencana pertemuan mereka yang sempat tertunda, tetapi ternyata seolah mendapat telepati, Bidadari justru menghubunginya terlebih dahulu.

Kyuhyun terlampau bersemangat saat mengangkat teleponnya. “Hei, tumben sekali menelepon dulu—“

“Tebak-tebak…”

Mata Kyuhyun membulat kaget. Dia sedikit mengernyit dan menjauhkan sejenak layar ponsel dan telinganya hanya untuk memastikan yang meneleponnya sungguhan Bidadari.

“Kau ingin bermain tebak-tebakan? Kau pernah bilang tidak pandai dalam hal membuat tebak-tebakan?” tanya Kyuhyun tanpa bisa menutupi rasa senangnya.

“Aku tidak pandai membuat tebak-tebakan… jadi kuharap dengan sangat kau bisa menebaknya dengan cepat,” kata Bidadari.

Kyuhyun terkekeh. Dia berjalan dan duduk di tepi ranjang. “Baiklah…”

“Tebak-tebak, siapakah aku?”

“Siapakah kau?” Jenis pertanyaan yang aneh, gumam Kyuhyun dalam hati.

Kyuhyun mendengar suara Bidadari sedikit parau. Tidak biasanya. Selama ini Kyuhyun selalu mendengar suara lembut dari bibir Bidadari.

“Aku pernah berniat bunuh diri saat pertama kali mendapat telepon darimu…”

Kyuhyun menegakkan kepalanya.

“Itu karena… aku baru saja kehilangan hidup, orang yang kusayang baru saja pergi dari dunia ini. Kami sedang pergi berlibur saat itu. Dan kecelakaan terjadi, tetapi jahatnya, hanya aku yang selamat. Benar-benar tidak adil. Aku benar-benar merasa bersalah dan merasa tak berarti apa-apa lagi. Tiap hari aku merasa kesepian dan merasa bersalah. Aku pergi kemana kakiku melangkah dan merasa bersalah. Aku berhenti pergi, berbalik pulang, dan merasa bersalah lagi… dan terus-menerus merasa bersalah.”

Sekujur tubuh Kyuhyun merinding mendengarnya. Bidadari pernah cerita perihal niat bunuh diri itu, tetapi Kyuhyun baru tahu alasannya sekarang ini. Kyuhyun baru tahu bahwa Bidadari ditinggal pergi… kecelakaan… dan hanya dirinya yang selamat?

“Senyumannya sangat manis dan menenangkan hati, dulunya. Sekarang senyuman itu seperti gambar berukuran 240×320, perlahan memudar dan tak terdeteksi.”

Kyuhyun menyentuh dadanya, seolah mampu mengkolase semua kejadian yang tak pernah dialaminya.

“Hari ini peringatan kematiannya.” Suara Bidadari terdengar tersendat-sendat. “Dan Ibu justru menjodohkanku dengan orang lain…”

Terdengar isakan kecil di seberang sana. Isakan penuh pilu. Dan Kyuhyun terdiam di tempatnya. Dia tak mengerti, bagaimana, apa yang, dan mengapa, tetapi tangisan lirih itu membuat matanya berkaca-kaca. Membuat rongga di dadanya menyempit hingga napasnya terasa sesak.

“Aku…” Kyuhyun menelan ludah berkali-kali. “…tidak bisa menebak tebakanmu, aku tidak tahu siapa kau…”

“Petunjuk terakhir…” potong Bidadari, “yang meninggal itu ayah, dan… suamiku.”

Kyuhyun terjatuh dari ranjang dan menimbulkan bunyi gedebuk keras.

Kakinya kebas seketika.

Matanya melotot lebar-lebar.

A-apa?! Si-siapa?!

Kemudian suara lirih Gadis Bidadari kembali terdengar. “Deng…deng…deng… waktu menebakmu habis, Malaikat. Kau kalah. Jawaban dari tebakanku…”

Kyuhyun merasa seluruh dunianya jungkir balik ketika Gadis Bidadari mengucapkan kalimat selanjutnya:

“… aku adalah seorang janda.”

.

.

.

.

.

.

.

To be continued

.

.

.

.

.

.

sengaja part ini panjang banget, sebagai permohonan maaf karena jarak updatenya agak lama

*bow*

dan siapa yang tebakannya soal Suzy betul sampai sejauh ini?

PASTINYA nggak ada yaaa ~ hehe

berarti kalian kayak kyu, nggak pandai nebak ih~ *mehrong~

next part  tunggu dengan sabar, kalau nggak ditunggu sih nggak apa2, sebodo amat, suka2 kalian lah~  aku sih nyantai aja~

honest smile,

Sophie Maya

91 thoughts on “Angel’s Call (012)

  1. A–apa? uhh bukan hanya Kyu, akupun juga terkejut sekali. Kupikir Donghae itu pacarnya Suzy, tapi yang terjadi adalah suaminya Suzy, woahhh benar-benar mengejutkan. Dan sekarang apa yang akan kamu lakukan setelah tahu rahasia Bidadari Kyu? (;_;)

  2. Asli langsung shock merinding gak jelas pokoknya uwaaaa gaknyangka bgt jadi kapan dia nikah and lee donghae itu suaminya kan right? Berarti tebakanku yg aku susun panjang kali lebar kali tinggi tu salah semua yaaa yaaampun gaknyangka banget gmn coba ceritanya addduuh penasaran addduh baca dulu deeeeh

  3. Ohh.. ceritanya suzy nikah muda. Trs suaminy meninggal dan suaminy yg meninggal… itu donghae(?) g kepikir ceritakyk gini. Daebak

  4. Gilaaa UNEXPECTED bgt. Pas ada nama donge muncul udah nebak “ah paling mantannya suzy”… Trus pas ada foto sma bpknya juga jd nebak lagi “atau jgn2 kakaknya ya” ternyata OMG donge suaminya dan suzy udh janda umur sgitu..!

  5. Astagaaa shock banget? Aduh ga pernah kefikiran coba dan emang ga kebaca banget ceritanya uwaaah ko bisa? Nikah usia berapa emang? Astagaa gimana kelanjutannya? Akankan ketemu sama kyuhyun? Penasaraaaaaan

  6. Waaahhh,,,
    Tebakan ku salah dong ya,
    Aku kira suzy mncoba bunuh diri krn pnya pnyakit parah,trnyata krn suami’a mninggal krn kecelakaan nd skrg dy janda toh,,,
    WHAT,,,!!!!!
    Suami ??? Janda ????
    What the hell,,,
    Oke next lah,,

  7. Waow janda… sumpah ngga kepikiran sampe situ, aku kira Suzy begitu gara-gara kecelakaan ayahnya sama pacarnya Donghae, tapi nyatanya itu diluar nalar… tapi sampe sekarang masih mengganjal dipikiranku walaupun ini sebenarnya ngga penting, kenapa Suzy ngga boleh nyuci waktu di part2 sebelumnya?? Ahahahha
    Kereen euy!!😀

  8. kirain suzy bunuh diri karena penyakit eh ternyata karena suaminya meninggal karena kecelakaan. aigoo
    tebakanku salah berarti
    pasti suaminya itu lee dong hae

  9. speechless

    sumpah. kamu membuat saya speechlees authornim
    nggak sedikitpun saya berpikir suzy sudah menikah. kupikir donghae hanya mantan pacara atau kakak
    dan ternyata
    #mangap

    cerita masalalu suzy memilukan😦 kyuhyun tetap mau kan menerima segala keburukan suzy?
    kuharap.

    ff ini sudah tamat atau masih ongoing? bisa mati penasaran kalo ongoing hihihi
    lanjut ya ke chap berikut

  10. Daebakk thor… aku ga pernah nyangka kalo si suzy itu janda. Dan kerennya di umur 16 tahun janda ????!!! Donghae ya suaminya . omggg bener bener ga ketebak dan bikin penasaran di setiap partnya. Kerennnn 😱

  11. agak aneh suzy sih sebenernya dan akhirnya ketebak juga. tapi .. suzy nikah muda berarti ???? .
    kurang jelas .
    lanjut ~~~

  12. Ngakak gara – gara nenek kyuhyun nyebut myu sik beng.. kwkw..
    Langsung melongo dan tak bisa berkata apa.apa.saat suzy ngomong dia janda..
    Ya ampun kk. Banyak banget kejutannya..

    Iya kyuhyun kan setan mana mungkin semudah itu maafin kangin.. ya setan tetap aja setan.. kwkwk

  13. Wow, chapter yg penuh kejutan
    Diawal nggak nyangka kalau kyuhyun koma krn waktu dia bangun, respon ibu tirix biasa, nggak kayak di sinetron, ternyata dia kaget makax jd gak bs respon
    Waktu bc bagian ini, jadi ingat kecelakaan kyuhyun yg dulu T_T
    Bagian lebih heboh kayakx waktu suzy blg dia janda. Gila! Masih kelas 2 Sma udah janda! Pantas perjodohanx gagal semua, penasaran dgn responx kyuhyun

  14. suzy janda? ya ampun ga nyangka bgt–
    ryeowook pasti ga nerima perjodohan itu kan waktu tau suzy janda
    suzy pasti jandanya donghae yah? trus donghae meninggal sama ayah suzy di kecelakaan ituu
    ahh makin penasaran, next ijin baca ^

  15. Jadi suzy sebelumnya udah pernah nikah, kemungkinan suami suzy itu lee donghae. Apa mereka menikah juga karena perjodohan? Karena suzy hilang perjodohal hal biasa di mokpo.
    Pasti kyuhyun kaget denger cerita yg sebenernya dari suzy, sekarang kyuhyun udah tahu kalo suzy pernah nikah, semoga kyuhyun ngga menjauh dari suzy

  16. annyeong, aq baca lagi,
    ouw jadi sebelumnya ceritanya kyuhyun bs di pukulin ma kangin.
    syukur deh klo keluarga kyu bisa balikan lagi.
    aduh sumpah, nyesek ma cerita suzy.
    kecil-kecil, ternyata udah janda.
    ya ampun. kasian.

  17. APAAAAAA…??????????? JAAANDAAAAA?????? Aku syok sumpah… nggak bakalan ada yang nyangka kalo suzy itu janda, dan janda Dongek lagi😦 … Tapi aku salut lah sama imajinasi kamu kak sophie.. Bisa2nya punya ide yang bikin mulut menganga gini😀😀
    Reaksi si kyu gimana ya??? Tetap semangat ya kak… Maaf juga.. aku komennya lagsung lompat dari part 1 ke part 12😀😀
    Gumawo

  18. Pingback: Trailer: Angel’s Call | sophiemorore

  19. Ah ternyata parah banget kondisi kyuhyun sampe koma gitu.., dan parah banget juga si kangin itu ckckck.., tp aku penasaran deh kenapa kangin ampe segitunya banget..

    What? Aku nggak liat eon, tiba” teksnya burem gitu pas si suzy bilang janda.., dia janda? Beneran? Kenapa? Suaminya? Jangan-jangan….

  20. Eonni aku reader baru salam kenal sebelumnya *bow 90°.
    Ahh bolehkah aku manggil eonni?

    Aku baca kilat dari chapter 1 sama chapter yg ini, dan pas selesai baca chapter ini aku shock waktu suzy bilang kalo dia itu janda.
    Pasti Kyuhyun jg shock banget sampai sampai dia jatuh segala, aku kira donghae itu pacarnya suzy bukan suaminya pantesan aja dia berniat bunuh diri..
    mudah mudahan sikap kyuhyun ga berubah..

  21. *Masih shock* Suzy ….. itu…. janda… ?? Eh.. kok bisa ?!?!? kan masih 2 sma , Kalau aku jadi Kyu, mungkin juga bakalan mendarat bebas di lantai, yang sabar ya Suzy sayang… :-*

  22. anjir janda😦

    dari fanfiction mellow, duo Lee, sekarang? Fanfiction makin mellow-dan-berakhir-plot-twist?!

    Ini karena saya makan telur dadar, barusan, kenapa bahasa dan pola pikir saya menjadi amat-sangat-frontal:(

    Maafkan aku, Suzy:(

    Eh tapi seriusan loh, shock. Baca berulang ulang part “suamiku” dan kemudian mengerjap. Mengerjap. Baca ulang. Resapi. Baca ulang lagi. Mengerjap. Lanjutin baca, dan makin bingung!:””””)

    what the freak:(

    Ini sumpah plot twist lah, ga bisa ditebak. Entah si taokenoi pedas itu bakal ilfeel—nyerah, atau bahkan nyemangatin si bidadari—sama kaya bidadari semangatin taokenoi, atau bahkan perkiraan saya ga ada yang bener :””””””D

    disitu, kadang saya merasa sedih :”D

    Apa lagi yeu…

    Oh iya, hanya menyampaikan. Telur dadar, ternyata bisa meningkatkan ke—alay—an saya yang sempat vakum.😦

    BTW GFRIEND NYEMPIL DISITU. HUAAAA YERIN!!! SINBI!!!! EUNHA!!! OY OY OY! *angkat kiko beku rasa anggur* Saya kira kakak terlalu berkutat dengan fanfiction, dan skripsi atau mungkin udah lulus—karena sesungguhnya, kamu itu bener bener misterius:(— jadi kukira, kamu itu udah tutup mata tentang GB BB baru korea :””””””””)

    BTW, KENAL BERRY GOOD GA?! Sekumpulan cewe cewe muka aegyo, yang didepak tiga dari lima, kemudian menjebloskan tiga cewe lainnya. Jadi, lima cewe; ori member, sama new member.

    Lupakan yang barusan.

    Sempet nangis saya :”””””) kan keren ya sambil nonton Oh Hani sambil mewek mewek kucing, sok sokan kuat, padahal bantal tetep aja basah;(

    untuk kesimpulan, berhasil! SELAMAT! *brb kasih pop**mie soto*

    XOXO,

    Skylar Ziv aka sabella.

    • lo.kudu.nggak.makan.telur.dadar.lagi
      parah ini komen atau fanfiction? kayaknya fanfiction angels call aja jarang2 sepanjang ff eh komen elo -_-
      iyaaa si suzy janda diaaa
      dia udah nikah
      jeng jeng jeng
      bagaimanakah dengan kyuhyun? kita nantikan part selanjutnya~

  23. Makasihya soph part ini panjang tapi kenyataan membuat aku gak mengerti, suzy jandaaa?!!! Kyuhyun ntar sama janda doong, gak enak banget bayangin suzy janda😀

  24. kagak papa kak update lama lama, kita mah setia nungguin kelanjutan cerita kyuzy apalagi buatanny kk sophiemorore, author paling badaaiii dan cetar membahanaXD.
    itu si kyu malang amat, baru bangun dari koma malah dicuekin, tega amat ini yang nulis, eh emak bapaknya. haha:D
    suzy jandaa? apa? JANDAA? emang gak ada nih yg bisa nebak fikiranny kk sophieXD
    eh ngomong ngomong nenek nenek di korea ngunyah sirih juga ya?😀

    • huaaa makasih yaaa
      jadi malu dipuji2 begitchuuu kekekekekeke

      suzy janda oh janda senangnya dalam hati~
      dari awal mmg suzy janda kok
      keliatan bgt kan dia lebih “dewasa” dibanding seumurannya xD

      iya nenek di korea ngunyah sirih juga kok

  25. asiiiikkkk kyunya beneran dibikin luka dan koma, dan ayah+ibu tirinya bersatu lagi.. makasih kaka sophie calon istri mudanya yesung karna seenggaknya bagian ini sesuai dengan otak sinetronku…ahahahaaa….
    suzy janda???? suzy janda???? kok bisa? bukannya dia masih kelas 2 SMA??
    aq sealu nungguin kelanjutan ff-ff mu soph, tapi kalo boleh nawar sih jangan bikin aku nunggunya sampe jamuran yaaa #nyengir sok inosen :))

    • asiik iya aku lagi kejam nih
      makanya tak bikin begitu
      sama sama dedeeeeekkk xD
      berterimakasihlah pada sinetron tukang bubur naik haji yang selalu kutonton~

      suzy janda
      iya suzy janda
      DIA JANDA~ lalalala
      makanya lanjutan ff ini jangan ditunggu
      dilupain aja nggak apa2
      daripada aku dikira PHP~ kekeke *diketok

  26. ya ampuuun sophie,,aku sih gak ikut2an nebak cuma gak nyangka aja tebak2an yg dibuat suzy bikin kyu shock berat apalagi jawabannya!!ya klo tunangan aja sih aku gak syok bgd,wkwwkwk dan aku baru tau nenek di busan makan sirih!!ada2 aja emang dikata nenek2 disini
    fighting sophie

  27. #air mata melorot jatuh

    Sophieee kamu harus tnggung jawab dah buat q drop sedalam2 x pas tau suzy tuh ‘janda’??? Really. Janda? Sama Donghae kah??
    Aduh nih ff plg sedih yg pernah q baca.
    Berharap z suzy tabah n kyu bisa mengobati luka suzy.

  28. Hah? Hampir aku jatuh kaya Kyu hyun, pas terakhir Kyu bilang dia ikut sedih dgn ceritanya, aku mah sedih dri mana, deg degan yg ada. Sebenernya apa yg terjadi di kejadian meninggalnya ayah suzy.
    Dan apa? Janda? Diusia segitu? Kelas dua sma? G kebayang laaah.. Hahahaha
    Penasaran sama sikap Kyu nantinya sama Suzy.
    Akankah (gaya presenter silet) Kyu dapat menerima kekurangan suzy, akan terjadi kah kopi darat yang sempat direncanakan.

    Ditunggu part selanjutnya. Part ini panjang bgt, lumayan mengobati kesedihan menunggu… Hahahah

    • ikutan jatuh yaaa kekeke
      duh malah deg2an? eh aku juga bikinnya sambil deg2an gaje gitu kok kekekeke
      dan iya emang suzy janda…
      kan nikah dini
      dia kan tglnya di desaaaa… begicu…

      sengaja nih dipanjangin partnya keke
      akhirnya ada jg yg blg partnya panjang
      dr kemarin dibilangnya partnya kependekan mulu aku kan jadi tedihhhh~ xD

  29. Heh??? Cengo seketika, benar-benar nggak menyangka, aku nggak pernah berpikir kearah situ. Jadi Suzy adalah seorang janda toh, kalau boleh aku tebak, Suzy adalah janda Lee Dong Hae. Benar kan? Benar dong? Dia nikah muda ternyata. Berharap semoga sikap Kyu Hyun tidak berubah ma Suzy, nggak ada yang salah dengan janda, seperti kata orang, “janda semakin didepan”😀

    • daaan gue ketawa baca komen loh *serius sop serius yang serius napaa ini cerita sedih nihh
      wkwkwkwkwkwkk
      iyaa suzy janda
      jandanya siapa blm mau aku ksh tahu wkwkwkwk
      jangan2 malah jandanya sungmin? eaaa sungmin baru nikah udah ninggalin seorang janda *diketok
      oke oke serius ah yang serius

      makasih ya udah baca
      dan ya kita liat aja nnti reaksi kyu gimana
      temannya, yang bhkn blm pernah dia temui, yg seumuran sama dia, trnyata seorang janda~

Just talking...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s