Angel’s Call (010)

angels call

“Our twist, beyond the imagination”

-Bae Suzy-

 

6 hours before the incident…

Perjalanan kaki Kyu terhenti di depan gerbang pasar malam yang sudah hampir tutup. Seorang tukang bersih-bersih mengangkat sekarung sampah dan menyeretnya ke depan gerbang. Seorang anak kecil menangis keras karena baru saja dipaksa orang tuanya turun dari Merry Go Round. Pipi anak itu merah dan ingusnya berleleran. Lolipopnya jatuh, tapi sang anak tak memperdulikannya.

Kyuhyun merapatkan jaket, menyibakkan poni acak-acakan miliknya agar tidak menghalangi pemandangan. Lampu warna-warni norak yang melingkar di sisi-sisi gerbang pasar malam tampak berkelap-kelip dengan malas, kemungkinan baterainya sudah mau habis.

Niatan Kyuhyun pada awalnya adalah berjalan sampai ke halte dan naik bus mana saja yang ditemuinya pertama kali. Kyuhyun sudah nekat untuk membiarkan takdir membawanya ke tempat aneh manapun di Korea ini. Setidaknya, dimana dia bisa menenangkan dirinya.

Tetapi lalu Kyuhyun merogoh sakunya dan menyadari tidak ada sekeping logam pun yang dia bawa. Dia memeriksa kantung celananya, bahkan kaos kakinya, tapi dia benar-benar tak menemukan uang sama sekali. Dia hanya menemukan ponselnya—sempat terpikir untuk menggadaikan ponsel itu agar punya uang, tetapi Kyuhyun entah kenapa punya firasat, ponsel harus tetap dipegangnya bahkan sampai mati. Kyuhyun itu lelaki, tapi kali ini dia lebih mendengarkan perasaannya sendiri dibanding logika otaknya.

Jadi Kyuhyun mendengus keras. Dia akan tertahan di Busan sebagai gelandangan tanpa uang tanpa rumah. Tambahan, gelandangan tanpa uang tanpa rumah dengan ponsel merk terbaru di tangannya.

Duh, mana ada gelandangan seperti itu? Kyuhyun hanya melihatnya di drama Korea. Orang miskin yang selalu mengeluh tidak punya apa-apa, punya hutang bertumpuk, baru saja diusir dari apartemen, serta seluruh uang warisan yang direbut saudara tiri maha jahat, tapi hebatnya di tangannya tergenggam android keluaran terkini.

Mendadak saja, Kyuhyun merasa kehidupannya seperti sebuah drama korea murahan berepisode ratusan. Yang mungkin akan dihentikan penayangannya karena para pemeran di dalamnya tidak pernah menemukan akhir yang bahagia…

“Pasar malamnya sudah tutup, Nak. Kau bisa kembali besok kalau sudah buka.”

Seorang pria berperawakan pendek dengan kumis dan rambut putih, mendatangi Kyuhyun. Pria itu berjalan terbungkuk-bungkuk, sementara mulutnya sibuk mengepulkan asap rokok.

Kyuhyun menoleh canggung ke pria itu seraya menggeleng. “Saya tidak ingin bermain ke sini.”

“Oh…” pria itu memandangi Kyuhyun sejenak. “Kabur dari rumah?”

Kepala Kyuhyun tegak mendengar tebakan sang pria yang nyata betulnya.

Pria itu tertawa-tawa. Tawanya terdengar parau. Dia mengetuk batang rokoknya hingga abunya berjatuhan ke tanah. Kemudian dia berbalik dan berjalan masuk ke pasar malam. “Ikut aku, Nak.”

Kyuhyun sebenarnya bisa menolak. Tapi entah kenapa kakinya justru terseret mengikuti sang pria.

Omong-omong soal pria itu, sebenarnya dia sudah seperti kakek-kakek. Wajahnya punya banyak keriput dan bola matanya memutih, mungkin terkena rabun tua, penyakit orang usia lanjut kebanyakan. Pria itu memakai jaket tebal dari wol yang rajutannya sudah mencuat-cuat keluar. Serta beanis warna cokelat kusam dan celana kargo yang kumal sekali. Pria itu terbatuk sesekali saat mereka melewati toko boneka.

Kyuhyun sempat mengira pria itu gelandangan, kebanyakan gelandangan memang suka menetap di sudut-sudut kegelapan di tempat umum. Mungkin pria ini tinggal di balik toko atau di rumah kardus pojokan pasar malam. Tapi sepertinya tebakan Kyuhyun salah, pria itu tampaknya cukup terkenal di sini dan bukan seorang gelandangan.

Beberapa petugas kebersihan sempat menyapa pria itu dan melambaikan tangan padanya. Segerombolan anak kecil, yang sepertinya menjadi pengunjung terakhir pasar malam, berlarian mengitari pria itu dan mengucapkan terimakasih karena masih menyalakan mesin bianglala meski sudah tengah malam. Mereka keluar dari gerbang masih dengan ucapan terimakasih yang terlontar terus menerus ke arah sang pria.

Kyuhyun menatap anak-anak itu sampai akhirnya mereka benar-benar pergi dari pasar malam.

“Anak-anak… hal sepele dibesar-besarkan,” celoteh sang pria.

Dia menuju bianglala dan menarik tuas mesin permainan itu. Perlahan, perputaran bianglala terhenti.

“Kau penjaga pasar malam?” tebak Kyuhyun.

Pria itu mengangguk. “Ya. Kau mau roti lapis?”

Kyuhyun menerima sepotong roti isi telur dan daging ikan dari tangan pria itu. Dia tidak bisa menolak karena pada kenyataannya perutnya memang keroncongan. Kyuhyun menggigitnya, dan rasanya… tidak terlalu buruk.

“Darimana kau tahu aku sedang kabur?” tanya Kyuhyun.

“Anak berwajah bersih, berlogat Seoul, berjalan malam-malam sendirian dengan ekspresi linglung? Siapapun akan menebak kau sedang kabur.”

Kyuhyun menyeringai. Benar juga ucapan pria ini.

“Mesin-mesin permainan di pasar malam ini harus dimatikan sebelum jam dua, agar tidak terlalu panas. Besok jam sepuluh sudah harus dinyalakan lagi. Kasihan ya, mesin-mesin ini kerjanya lebih dari sepuluh jam sehari. Kalau manusia, mereka pasti sudah mengajukan surat pengunduran diri dari dulu-dulu.” Pria itu mengusap pagar bianglala dengan tangan keriputnya.

Kyuhyun mendongak dan memandangi bangku-bangku bianglala yang bergoyang-goyang tenang. Butuh waktu lebih dari lima belas menit untuk membuat bianglala benar-benar berhenti beroperasi sejak mesin dimatikan.

“Kau sudah lama kerja disini?” tanya Kyuhyun.

“Seingatku, ya.”

“Seingatmu?”

“Kapan menurutmu kita bisa mulai mengingat?”

Kyuhyun mengerutkan dahi mendengar pria itu justru balik bertanya. tapi dia memikirkan pertanyaan pria itu. Seingatnya, kalau tidak salah, dia mulai bisa mengingat ketika umur lima tahun, ketika dia membuka mata di pagi hari dan almarhum ibunya menyiapkan omelette wortel yang enak sekali . Kyuhyun berangkat ke Taman Kanak-Kanak diantar oleh ibunya. Mereka berjalan kaki dengan tangan saling bergandengan, sembari terus menyanyikan lagu kartun anak-anak.

“Kau sejak kecil sudah kerja disini?” kata Kyuhyun akhirnya.

Pria itu menoleh ke arah Kyuhyun dan terkekeh. “Ya. Aku lahir di sini, besar di sini, hidup di sini. Orang tuaku dulunya penjaga pasar malam dan begitu aku mulai bisa mengingat, aku sudah langsung tahu suatu saat kelak aku yang akan bertugas menggantikan mereka.”

Pria itu mengajak Kyuhyun berjalan memutari bianglala, di dekat sana ada boneka dari karton yang sedang memegang lingkaran hitam-putih. Kyuhyun langsung tahu boneka itu bagian dari permainan dart. Mereka melangkahkan kaki melewati stand permainan itu, menyusuri pertokoan yang sudah tutup, rerimbunan rumput setinggi bahu, sampai akhirnya tiba di rumah pohon setinggi lima meter yang terbuat dari kayu.

“Ayo, naik.”

Pria itu terlebih dahulu menapaki tangga-tangga. Kyuhyun harus meralat kalau tadi dia mengatakan pria ini menyerupai kakek-kakek. Meskipun sudah keriput dan kelihatan tua, staminanya masih prima. Dia naik tangga tanpa kesulitan.

Dari atas rumah pohon, Kyuhyun bisa melihat dengan jelas keadaan pasar malam. Sudah gelap, karena mesin-mesinnya sudah dimatikan. Namun lampu warna-warna di gerbang masih tetap menyala. Jadi Kyuhyun seperti bisa melihat parade permen natal bersinar-sinar dari kejauhan.

“Namaku Tan,” ujar pria itu.

Oh, Kyuhyun baru sadar, mereka telah bercakap-cakap lama tapi Kyuhyun belum tahu nama pria ini.

“Apa aku perlu menyebutkan namaku juga?”

Tan memandangi Kyuhyun sejenak. “Tidak,” katanya.

Kyuhyun menyeringai sebentar.

“Aku sering kedatangan pemuda sepertimu.”

Kyuhyun menoleh.

“Anak-anak remaja jaman sekarang, mereka seringkali berlaku sok dewasa dengan berpikir bisa melakukan semuanya sendiri. Bisa menjalani hidup sendiri, bisa kabur tanpa kesulitan. Tapi pada akhirnya mereka masih memelihara ‘anak kecil’ dalam diri mereka, makanya mereka justru sering terdampar di pasar malam atau di tempat-tempat di mana ‘anak kecil’ dalam diri mereka memberontak ingin keluar.”

Kyuhyun terdiam mendengarkan ucapan Tan.

Tan menghisap rokoknya lagi. “Kau tidak ingin tahu kenapa kau malah datang ke sini? Bukannya pergi ke halte terdekat dan naik ke bus pertama yang kau temui?”

Kyuhyun ingin menyebut Tan itu peramal, bagaimana bisa Tan tahu apa yang sempat Kyuhyun pikirkan?

“Jangan sekaget itu dong wajahmu. Semua anak remaja yang datang ke pasar malam menjelang pagi begini, juga punya cerita yang sama denganmu tahu. Jadi jangan berpikir aku bisa meramal,” seloroh Tan.

Kyuhyun menunjukkan cengirannya. “Apa benar-benar banyak, anak… mm… sepertiku yang kabur dari rumah?”

Tan menganggap pertanyaan Kyuhyun begitu polos sampai-sampai dia tertawa kegelian. “Banyak, banyak sekali.”

Kyuhyun menggigit sisa roti lapisnya.

“Kepada mereka semua, dan juga kepadamu, aku selalu bilang: apapun yang terjadi, menjadi dewasa bukanlah bertindak seolah kau bisa melakukan semuanya sendiri. Tetapi bertindaklah seolah kau bisa mati tanpa orang lain.”

Mata Tan menerawang menatap langit malam yang gelap, hanya ada beberapa bintang yang sekiranya masih berkilauan. Sebentar lagi fajar datang.

“Bukankah bergantung pada orang lain tandanya kita itu kekanak-kanakkan?” sela Kyuhyun.

“Kan aku tidak bilang kau harus ‘bergantung’. Aku juga hanya bilang ‘seolah-olah’.”

Kyuhyun mencerna ucapan Tan. Seolah-olah…? itu artinya… bukan arti yang sesungguhnya?

“Manusia itu saling membutuhkan satu sama lain. Mereka tidak bergantung satu sama lain, tapi mereka bisa mati jika tidak ada manusia lainnya dalam kehidupan mereka. Mulailah berpikir seperti itu.”

“Aku masih tidak begitu paham.”

“Singkirkan gengsimu, rasa egoismu, dan rasa sok dewasamu. Masalah apapun yang sedang kau hadapi, kau tidak bisa menyelesaikannya seorang diri. Kau butuh bala bantuan.”

“Bala bantuan?”

Sesuatu menggelitik otak Kyuhyun. Bala bantuan? Jika dia tidak bisa membawa Ibu kembali ke Seoul seorang diri, itu artinya dia butuh bala bantuan… seseorang yang bisa membantunya untuk mengakhiri semua masalah ini. Seseorang…

Kyuhyun menelan ludah susah payah.

ayahnya?

“Kau sudah menemukan jawabannya?” tanya Tan dengan senyuman lebar menghiasi wajahnya. Seolah pria itu sudah tahu bahwa Kyuhyun telah menemukan jawabannya, tapi hanya ingin bertanya untuk memastikan.

“Orang yang kubenci…” gumam Kyuhyun.

“Tuh, kau masih egois…” tegur Tan.

Kyuhyun terdiam sejenak. Lalu terkekeh. “Astaga, kau benar. Aku masih egois.”

Kyuhyun menyadari kebodohannya. Astaga, apa yang selama ini dipikirkannya? Pergi ke Busan dan berusaha menyelesaikan masalah seorang diri? Kyuhyun melupakan satu hal yang penting, bahwa dia juga butuh ayahnya, untuk membujuk kembali ibunya. Ayah, sebesar apapun rasa muaknya pada pria yang menyumbang sperma dalam DNA-nya, adalah kunci agar semua masalah ini selesai.

Jika Kyuhyun bisa membawa Ayah ke Busan dan membicarakan semua ini secara enam mata—Ayah, Ibu, dan dirinya—dengan menghapus semua egoisme, sikap sombong, dan apapun yang menghalangi komunikasi mereka, maka mereka akan bisa bicara dari hati ke hati. Menyelesaikan masalah keluarga mereka dengan baik.

Bibir Kyuhyun mengulas senyum. Dia telah menghabiskan sandwich-nya, dan rokok di mulut Tan juga telah habis. Pria itu melempar puntungnya sembarangan.

“Bagaimana? Apa jawabannya sudah ketemu?” Tan mengerling ke arah Kyuhyun. Kali ini sinar matanya berubah jenaka.

Kyuhyun tertawa terkekeh-kekeh. Kepalanya mengangguk-angguk seperti orang mabuk. “Ini benar-benar berhasil. Aku jadi tahu apa yang harus kulakukan sekarang.”

“Kubilang juga apa, percaya padaku.”

“Kau ini benar-benar cenayang, ya. Kau selalu tahu apapun…” Kyuhyun menatap ke samping, ke arah Tan, pria tua itu, yang perlahan-lahan menghilang dari pandangannya. Hingga akhirnya Kyuhyun hanya bisa melihat kegelapan semata yang ada di hadapannya.

Tan menghilang. Hanya ada dirinya di atas rumah pohon ini.

Kyuhyun tersenyum. Dia menuruni tangga hati-hati.

“Aku bukan cenayang, Malaikat…” suara itu kembali terdengar. Kali ini bukan suara parau milik Tan, tapi suara lembut seorang gadis yang sedari tadi menemani Kyuhyun melalui sambungan headset yang terpasang di ponsel.

“Ya, kau ini cenayang, Bidadari…” Kyuhyun berjalan menyusuri rerumputan yang tinggi, pertokoan yang telah tutup, dan pasar malam yang sudah tak beroperasi lagi. Kyuhyun memandang kesekeliling. Gelap gulita dan sepi. Hanya terdengar suara jangkrik yang bersembunyi entah di mana. “Terimakasih sudah menciptakan sosok Tan, dia benar-benar hebat. Sehebat dirimu.”

“Terimakasih atas pujiannya, tapi itu sungguh berlebihan.”

Kyuhyun ingin sekali memeluk sosok yang tengah diteleponnya ini. Sungguh, untuk sekali lagi, gadis yang hanya bisa ditemuinya melalui saluran telepon ini telah membantunya menyelesaikan sebuah puzzle rumit dari otaknya.

.

.

.

.

.

.

Kyuhyun kembali memutar ulang kejadian beberapa jam lalu saat dia masuk ke gerbang pasar malam yang sudah tak lagi beroperasi. Kyuhyun pernah mendengar cerita dari warga sekitar bahwa pasar malam ini mengalami kebakaran hebat lima tahun lalu dan pihak pemerintah tidak berkenan memperbaikinya sehingga pasar malam jadi terbengkalai begitu saja. Kyuhyun awalnya berniat untuk bermalam di tempat ini, mungkin dia bisa menemukan kursi di dekat pertokoan tua yang terbengkalai atau menaiki salah satu kereta bianglala. Apapun itu.

Dan entah kenapa, saat itu, Kyuhyun justru menelepon Gadis Bidadari. Dia memasang headset agar tidak melulu memegangi ponselnya.

“Tebak-tebak, aku ada di mana? Busan. Tempat ini seharusnya ramai oleh tawa anak-anak, seharusnya ada banyak lampu warna-warni, toko mainan yang dipenuhi para orang tua….”

“Pasar malam?”

“Bingo, kau memang cenayang rupanya.”

Kyuhyun masuk melewati gerbang pasar malam. Berkas sinar dari lampu jalanan lah yang membuat pasar malam ini tidak terlalu gelap. Meski tidak terang juga. Kyuhyun bukan pemuda penakut, jadi kegelapan tidak akan membuatnya gentar.

“Kau terdengar kebingungan,” ujar Gadis Malaikat. “Apa aku salah?”

Kyuhyun berhenti melangkah. Menarik napasnya sepelan mungkin. “Aku ingin cerita padamu… tentang masalahku… tapi aku bimbang.”

“Bimbang kenapa?”

Kyuhyun menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Dia selalu, selalu menceritakan segala hal pada gadis ini. Kyuhyun selalu merasa heran kenapa dia bisa dengan lancarnya membocorkan segala hal pada gadis yang belum pernah ditemuinya. Kyuhyun bahkan pernah menangis saat menelepon gadis itu, dia juga pernah tertawa, bernyanyi, dan melakukan hal-hal yang tidak pernah dilakukannya kepada siapapun.

Kyuhyun itu pemuda kuat, jago berkelahi, dan ditakuti semua teman-teman sekolahnya. Tetapi kenapa dia selalu merasa rapuh ketika berbicara dengan gadis bersuara lembut ini?

Kyuhyun jadi bimbang. Jika dia cerita lagi ke gadis ini soal acara kaburnya dari rumah, apakah gadis ini akan berpikir bahwa Kyuhyun pemuda yang amat sangat lemah? Kyuhyun jadi tidak enak hati memikirkan hal itu.

“Kau perempuan…” Kyuhyun mengambil jeda beberapa saat. “Bukannya aku menyinggungmu, aku tahu kita ini friends on the phone... tapi entah kenapa aku berpikir, apa aku boleh menunjukkan masalahku yang satu ini kepadamu? Aku sedang butuh solusi dan aku tidak yakin seseorang gadis remaja bisa memberikannya.”

“Tentu saja boleh.” Gadis Bidadari terdiam sebentar. “Apa ini masalah berat?”

“Ini menyangkut harga diri.”

“Kalau menyangkut harga diri, lebih baik kau bicara dengan sesama pria. Atau yang lebih tua darimu.”

Kyuhyun mengangguk-angguk. Dia lega Gadis Bidadari mengerti.

“Aku akan menghadirkan seorang pria tua untukmu,” ujar gadis itu lagi.

Kyuhyun mengernyit. “Apa maksudmu?”

“Aku sering melakukan ini untuk temanku di Mokpo dulu. Mereka sulit menceritakan seseuatu karena berpikir lawan bicara mereka tidak sepadan dengan masalah yang akan mereka ceritakan. Sebentar, kau sedang di pasar malam, kan? Coba pejamkan matamu.”

Kyuhyun masih bingung maksud ucapan sang bidadari. Tapi dia entah kenapa, menurut untuk menutup kedua kelopak matanya.

“Ketika nanti kau membuka mata, di depanmu adalah pasar malam yang masih beroperasi. Hanya saja ini sudah jam-nya tutup.”

Kyuhyun diam saja mendengarkan.

“Sekarang, buka matamu,” perintah gadis itu.

Kyuhyun membuka matanya ragu-ragu. Dan dia, benar-benar terlompat kaget saat melihat pasar malam yang tadinya gelap gulita, kini terang benderang. Lampu-lampu kecil yang tadinya rusak, berkelap-kelip indah. Beberapa manusia berlalu lalang di sekitarnya.

“A-ada apa ini…?” Kyuhyun menoleh ke kiri dan ke kanan. “Kenapa pasar malamnya…”

“Ramai?” potong Gadis Bidadari.

Kyuhyun mengangguk, meski yakin benar lawan bicaranya tak akan melihat apa yang dilakukannya.

“Ini hanya imajinasi, Malaikat. Tenang saja, ini tidak nyata. Tapi, ikuti aku saja. Setelah ini, kujamin, kau akan menemukan solusi dari masalahmu.”

“Ini semua imajinasi?”

“Iya… coba kau pejamkan matamu lagi dan kemudian lihat apa yang terjadi.”

Kyuhyun memejamkan matanya lagi dan membukanya. Ternyata benar, pasar malam itu kembali sepi tanpa ada tanda-tanda kehidupan.

“Nah, sekarang… mari kita sedikit berimajinasi, mau kan?”

Kyuhyun mengangguk tanpa suara. Dan tampaknya sang bidadari tahu bahwa Kyuhyun setuju-setuju saja dengan idenya.

“Ada seorang tukang bersih-bersih mengangkat sekarung sampah dan menyeretnya ke depan gerbang. Ada juga sepasang orang tua bersama anaknya, ah… sang anak menangis kencang karena dipaksa turun dari Merry Go Round. Pipi anak itu seperti Chibi Maruko Chan, kemerahan dan menggemaskan. Dia menangis sampai ingusnya berleleran, bahkan lolipop yang jatuh juga tak dipedulikan.”

Kyuhyun merapatkan jaket, menyibakkan poni acak-acakan miliknya untuk melihat secara jelas bagaimana “imajinasi”-nya bisa berjalan dengan sempurna.

“Ada pria, tubuhnya pendek dan dia sudah tua. Dia mendatangimu. Pria itu aku, jadi ikuti saja kemanapun pria itu pergi. Suara pria itu lebih parau dariku karena dia sudah tua dan dia perokok berat. Nanti kau akan kenalan dengannya dan mendengar banyak cerita darinya. Pria itu akan membantumu menjawab seluruh masalahmu.”

Dan… Kyuhyun akhirnya bertemu dengan sosok pria tua yang berjalan terbungkuk-bungkuk menghampirinya. Kyuhyun sempat terpaku beberapa saat. Mengagumi dahsyatnya skenario yang diciptakan Gadis Bidadari, yang mengalir begitu saja ke dalam sel-sel imajinasi Kyuhyun.

Sosok pria itu terlihat amat sangat… nyata.

“Pasar malamnya sudah tutup, Nak. Kau bisa kembali besok kalau sudah buka.” Suara bidadari berubah menjadi lebih parau dan dalam.

Kyuhyun menahan senyum saat menggelengkan kepalanya, “Saya tidak ingin bermain ke sini.”

“Oh…” Bidadari terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan suara serak, “kabur dari rumah?”

Kyuhyun hampir tersedak.

Astaga, apa, bagaimana, kok?

Kyuhyun belum menyebut-nyebut soal “kabur dari rumah” pada Bidadari. Bulu kuduk Kyuhyun meremang. Kyuhyun sudah terbiasa dengan kemampuan Bidadari yang seolah mampu membaca semua pikirannya. Tapi tetap saja dia selalu dibuat tercengang olehnya.

Gadis ini beda, dia sungguh beda, pikir Kyuhyun dengan senyum lebarnya.

Dan, semua cerita enam jam lalu mengalir begitu saja dalam imajinasi Bidadari dan Malaikat.

.

.

.

.

.

.

“Aku harus sekolah, hari sudah pagi.”

“Baiklah.”

“Nanti aku akan memberimu kejutan.”

“Kejutan apa?”

“Lihat nanti, kalau ada pesan dariku, dibaca ya!”

Kyuhyun tersenyum. Dia duduk di atas Merry Go Round yang sudah karatan. Mereka masih terus berteleponan meski sudah berjam-jam lamanya.

“Hei… Bidadari,” panggil Kyuhyun.

“Hm?”

Kyuhyun menarik napas. “Aku ingin bertemu denganmu.”

Hening di seberang.

“Bukan hanya lewat ponsel. Tapi dalam dunia nyata. Aku… sungguh-sungguh ingin bertemu denganmu,” lanjut Kyuhyun.

Kyuhyun berpikir dia akan mendengar penolakan dari sang Bidadari. Mungkin permintaan Kyuhyun terlalu berlebihan. Mereka sudah nyaman dalam hubungan seperti ini—friends on the phone maksudnya. Gadis yang tak diketahuinya tinggal di mana, namanya siapa, dan informasi umum lainnya. Tapi lebih dari itu, Kyuhyun merasa punya ikatan kuat dengan gadis ini.

Sungguh, dia tidak sedang menggombal.

Dia merasa benar-benar punya sifat elastisitas dengan sang Bidadari. Karena sejauh apapun Kyuhyun memantul, dia akan kembali ke Bidadari.

“Aku juga…” terdengar sebuah suara amat pelan, “apa boleh aku berharap untuk bertemu denganmu secepatnya?”

Kyuhyun tersenyum mendengar suara lembut di seberang sana. Suara yang penuh sopan santun, suara yang menenangkan hati, suara yang seperti nyanyian di padang rumput.

“Kau tinggal di mana?”

“Seoul.”

“Aku juga. Umurmu?”

“16.”

“Aku juga. Masih sekolah berarti?”

“Iya.”

“Aku juga!” Kyuhyun hampir terlompat saking bersemangatnya. “Namamu?”

Gadis itu terdiam sebentar. “Angel.”

Kyuhyun mengerjapkan mata, lalu terkekeh geli. “Aku juga. Namaku Angel.”

Bidadari dan Malaikat adalah sinonim, Kyuhyun menyeringai memikirkan itu.

“Kita harus bertemu,” ujar Kyuhyun lagi.

“Ya, kita harus bertemu.” Terdengar suara krasak-krusuk sesaat. “Dan aku harus pergi mandi sekarang, Malaikat.”

“Oke… baiklah.”

Kyuhyun benar-benar mematikan sambungan kali ini. Dia melompat menuruni Merry Go Round dan bersenandung riang meninggalkan pasar malam. Fajar benar-benar telah tiba. Matahari perlahan naik dan suara burung berlomba berkicauan di langit. Dia dan Gadis Bidadari sudah mengobrol hampir empat jam lamanya. Dan Kyuhyun bahkan tak peduli pulsanya terkuras habis atau tidak. Kyuhyun menimang-nimang ponselnya. Sekarang dia harus kembali ke rumah, menelepon Ayahnya, dan kalau perlu “memaksa” Ayah agar pergi ke Busan, kemudian mereka akan membujuk Ibu untuk kembali ke Seoul. Dan sembari menunggu kedatangan Ayah, Kyuhyun akan memancing ikan bersama Ibu.

Membayangkan banyak kejadian menyenangkan yang bisa saja terjadi, membuat langkah Kyuhyun semakin ringan.

Sampai akhirnya, Kyuhyun terpaksa menghentikan langkahnya secara tiba-tiba.

Wajah sumringahnya berubah kaku seketika. Rahangnya mengeras. Sorot matanya berubah garang. Sepatu ketsnya berdecit tertahan. Kedua tangannya terkepal kuat-kuat.

Di depannya… berdiri Kangin dan para preman yang membawa banyak senjata.

Siap menyerang Kyuhyun.

.

.

.

.

.

.

See you next part~

94 thoughts on “Angel’s Call (010)

Just talking...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s