[FF/ Oneshot/ G/ The Skeptic One]

skepticone2

God create angel to make sure everything going right; based on that sometimes I think God not really great.

-The Skeptic One-

 

Cannes adalah tempat paling menjijikkan saat festival film tiba. Kau hanya akan melihat manekin-manekin berlapis gemerlap—entah itu dari berlian, mutiara, atau batu mulia lain—dan dengan bangga dipamerkan ke seluruh makhluk apapun; manusia, binatang, tumbuhan, setan kalau perlu.

Kaum-kaum menjijikkan itu kau namai dengan sebutan “orang super kaya” atau “mereka yang tidak tahu bagaimana lagi cara menghabiskan simpanan uang”. Mereka berlenggak-lenggok di ajang pemutaran film berkelas dunia dan bertingkah seperti pelacur suka rela.

Tidak ada yang tahu kenapa festival film menjadi tolak ukur keberhasilan sebuah film, padahal yang muncul di majalah-majalah hanyalah siapa yang mengenakan kostum terbaik atau terburuk.

Kalau kau bilang suatu film dapat sambutan hangat di Cannes; kau patut ragu. Karena siapa yang menyambut film itu? Siapa yang menontonnya? Para manekin berduit itu? Si orang kaya yang hanya ingin pamer itu? Oh, berhentilah berkhayal, mereka hanya datang dan duduk di kursi undangan karena mereka tahu itu satu-satunya cara untuk memamerkan rancangan Gucci yang mereka miliki.

Jadi… tak ada gunanya kau ke Cannes saat ini

Juga, tidak ada gunanya duduk di depan gedung penyambutan festival film di hari mendung seperti ini

Tidak ada gunanya memakai riasan tebal begini jika pada akhirnya luntur dan tampak menyeramkan seperti gadis gotik yang baru dicampakkan mucikarinya.

“Jadi… Kris…”

Aku melipat kedua tanganku di depan dada. Melirik satu-satunya makhluk yang sudi duduk di sampingku, mendengarkan seluruh skeptismeku, dengan ekspresi dinginnya yang kentara sekali.

Aku mendesah lagi. Menggesek-gesekkan telapak kakiku yang tak beralas ke jalanan aspal berbecek.

Kris masih memandangi segerembolan orang-orang yang berteriak di sepanjang jalan, menyerukan nama artis yang mobilnya baru tiba di karpet merah. Angin kencang tidak menghalangi mereka untuk terus berteriak hingga suara terasa kerontang. Tidak peduli apa motivasi sesungguhnya dibalik teriakan mereka; apa itu teriakan sebagai bentuk kekaguman, histeria peer group, atau hanya karena mereka ingin tampil heboh karena sedang disorot kamera yang menyala 24 jam tanpa henti.

“Kris… kau tahu kenapa Tuhan menciptakan malaikat?” tanyaku berusaha mengalihkan perhatiannya.

Kris sedikit berkutik. Bola matanya melirikku sekilas. Hanya sepersekian detik sebelum wajah pucatnya kembali menatap ke depan.

“Tuhan menciptakan makhluk yang mengerjakan banyak hal; ada yang menjaga neraka, menjaga surga, mencatat dosa, memberi rejeki… ya ampun, jika malaikat hampir mengerjakan seluruh tugas, lalu apa yang dilakukan Tuhan?”

“Duduk di kursi malas dan menyeruput es jeruk?” balas Kris dingin.

Aku terbahak. Kris itu punya selera humor, sedikit sih, dan perlu dipancing-pancing.

“Kau tahu ada pepatah ‘guru kencing berdiri, murid kencing berlari’? Tuhan itu guru… malaikat itu murid… dan setiap murid pasti lebih hebat dari guru. Buktinya, semua anak yang sekolah bisa jadi insinyur hingga presiden, tapi guru mereka tetap saja jadi guru.”

Kris tampak berminat dengan penjelasanku.

“Jadi kau pikir malaikat itu hebat?”

“Melampaui Tuhan,” ujarku.

Kris menyeringai.

“Melihat Tuhan menciptakan malaikat, kadang membuatku berpikir, Tuhan ternyata nggak hebat-hebat amat,” ujarku.

Kris menyentuh puncak kepalaku. “Kau jadi tambah sakit ya saat kuajak ke Cannes?”

“Tidak, aku hanya jadi sedikit lebih skeptisme karena berada di antara ciptaan Tuhan yang tak berguna; manusia.”

“Kau harus sering-sering bergaul dengan manusia, Jess…”

Untuk pertamakalinya dalam hari ini, Kris memanggil namaku. Aku sampai tersenyum mendengar suaranya yang dingin dan rendah berusaha terdengar lembut. Meskipun usahanya itu sia-sia. Dia masih terdengar seperti makhluk es di telingaku.

“Kenapa kau ajak aku ke sini?” tanyaku lagi.

Kris memandang sekeliling. Rambutnya yang sedikit pirang itu bergerak ke sana ke mari. Kris semakin pucat, aku tahu itu, dan aku merasa tak nyaman. Tapi aku tetap ingin menatapnya semenyeramkan apapun wajah beku Kris.

“Aku ingin kau tak menganggap malaikat hebat, aku tak ingin kau mengeluh betapa tidak masuk akalnya ide Tuhan dalam menciptakan manusia, aku ingin kau menghargai Tuhan dan tak perlu marah-marah terus padanya,” jawab Kris. Jawabannya tumben panjang.

Aku tersenyum samar. “Dengan membawaku ke tempat yang paling kubenci?”

Kris mengangguk.

Aku menarik napas panjang. Kutatap lagi manusia-manusia yang berkeliaran di depan gedung. Hujan akhirnya turun. Wajahku basah dan make-up ku luntur. Kutoleh Kris untuk kembali memandanginya. Namun ternyata Kris juga tengah menatapku. Dan tangannya terjulur ke atas kepalaku, berusaha memayungiku dari rinai hujan.

“Aku mencontoh mereka…” bisik Kris menunjuk ke depan dengan dagunya.

Aku menoleh.

Manusia-manusia itu, yang berpakaian mewah, yang berpakaian biasa saja, sampai yang kumal, semuanya sibuk memayungi diri dengan tangan, mereka berlarian ke segala arah.

Semua… yang saling tak mengenal, sibuk menarik tangan-tangan agar merapat ke sisi gedung. Satu demi satu, hingga akhirnya semua orang, berjejer di bawah kanopi gedung. Semuanya saling menanyakan keadaan masing-masing, apakah dingin atau tidak, kapan hujan akan berhenti, kapan acara akan mulai, dan lalu akhirnya tertawa menyadari dandanan mereka jadi super berantakan.

Aku terdiam.

“Manusia itu hebat, mereka bisa tertawa saat kehujanan begitu. Mereka bisa menarik tangan siapa saja saat merasa bahwa orang itu dalam bahaya. Mereka tidak ditugaskan oleh Tuhan untuk menjaga neraka atau surga, tapi mereka punya insting untuk menjaga diri dan banyak orang.”

Aku masih terdiam.

Kris masih terus memayungiku dengan tangannya.

“Malaikat juga hebat, karena mereka menjaga manusia dan hal-hal lain sesuai yang ditugaskan Tuhan.”

Wajah Kris semakin memucat.

Aku menundukkan kepala. Menatap kakiku yang semakin memudar. Pandanganku seketika memburam.

“Dan Tuhan itu, benar-benar sangat hebat sekali, karena dia yang menciptakan kita berdua…”

Suara Kris melemah.

Aku menangis pelan. Rambutku basah, rambut Kris basah, dan kami berdua basah kuyub.

“Sekarang… bagaimana?” tanya Kris. “Apakah kau sudah tak benci siapapaun? Kau tak benci manusia, malaikat, atau Tuhan lagi, kan?”

Aku tetap terisak, namun menjawab pelan, “….yeah, kurasa.”

Wajah Kris nyaris seperti kehilangan segalanya. Dia menurunkan tangannya dan berganti menggenggam tanganku erat-erat.

“Bisa kita pergi sekarang?” ujar Kris.

Aku mengangguk. “Bisa.”

“Jangan berantem sama Tuhan di surga nanti, oke?”

“Memangnya aku bakal masuk surga?”

“Mm… nggak yakin, sih, Jess. Aku malah heran kalau nanti Tuhan masukin kamu ke surga, makhluk skeptis sepertimu…”

“Kris!” pekikku sebal, “kau lupa apa tugasmu di dunia?”

Kris tersenyum lebar. “Ingatlah. Mencabut nyawamu setelah rasa skeptismu pada segala hal menghilang?”

“Benar! Karena aku sudah tak skeptis, tidak diragukan lagi, aku pasti masuk surga.”

Kris mencibir. Tapi pemuda itu tetap menarikku ke atas. “Saatnya kembali berpulang, Jessica…” bisiknya lembut.

Terlihat dari atas segalanya secara perlahan tampak semakin kecil. Aku hanya bisa melihat puncak-puncak kepala manusia. Lalu melebar ke jalanan, gedung-gedung. Beberapa orang mengecek ponsel mereka dan ekspresi mereka tampak terbelalak ngeri. Dengungan-dengungan simpati berkeliaran di udara.

“Jessica Jung… meninggal, baru saja…”

Aku menatap Kris yang semakin pucat. Tubuhnya transparan, setransparan tubuhku.

“Siapa itu Jessica?”

Kris menoleh dan menatapku dingin.

“Ugh, dasar malaikat tanpa darah… wajah pucatmu itu membuatku seram,” bisikku gemas.

“Oh, ya? Wajahmu sekarang juga pucat, Jessica,” balas Kris. “Kau kan juga sekarang tak lagi punya darah.”

Aku mengedikkan bahu. Sebuah suara kembali terdengar di telingaku.

“Sungguh kau tidak tahu Jessica Jung? Dia… penggagas festival film Cannes ini, bodoh!”

Aku menyeringai lebar. Dan manusia semua tampak semakin kecil, kecil, kecil… lalu menghilang.

.

.

God create human to make angel more knows about the skeptic one in galaxies; based on that I understands why I met Jessica

-Kris Wu, The death angel-

.

.

END

.

.

.

.

 this story dedicated to all human who never satisfied with the fate

Ada yang bingung sama cerita ini? *kunyah kunyah popcorn*

ini cerita dibikin pas lagi ngutak atik buku filsafat dan jadilah otakku berfilosofi ria gaje gini

klo ada yg bisa nangkap intinya, monggo dijabarin

kalau nggak, yaudah baca lagi sanah~! xD

*jangan bahas soal Angels’ Call atau A cup of lee, lagi ngeblank~

12 thoughts on “[FF/ Oneshot/ G/ The Skeptic One]

  1. lama ga berkunjung dan berkunjung lagi *hela napas* wah~ ternyata udah ketinggalan beberapa postingan, ya? Payah sekali aku xD

    uhm—mm.. buat yang ini… fanfiction ini… *usap usap dagu ala si SS Maha Sempurna Siwon* kak Sophie, ini sudah cukup. Tidak perlu revisi lagi, dan kau sudah menghabiskan titik darah terakhir *jabat tangannya* selamat, ya?

    —Coret komentar barusan—

    Sumpah, awal-awalnya belum ngeh. Apa itu Canner, atau apapun. Belun ngeh siapa itu Jesse, siapa itu Krease —nama disamarkan—, pas baca, baca, baca… Kok enjoy, ya? Akhirnya terusin baca, dan…

    dan…

    speechless.

    Kukira Kris itu pesakitan yang bentar lagi meninggal. But, well, bukan kak Sophie namanya kalau bukan Plot Twist, iya ga? jadi akhirnya nebak-nebak lagi. Pas mentok, ternyata baru ngeh kalau Krease itu pencabut nyawa.

    Keliatan, sih, yang ga baca quote-nya *Slapped.

    Apa lagi, ya? Uhm…

    Sebenernya aku mau aja ngajuin satu permintaan. Tapi, karena Kak Sophie bukan jin BTS *coret* jin yang di iklan rokok (?), akhirnya kutarik ulang. Mengenai fanfiction pacar kesayangan, oh tidak, suami, uhm… lebih tepatnya jodoh. Siapa? Lee Hyukjae /slapped, again/ Walau emang makruh hukumnya mengingat masa lalu *coret juga*

    Untuk penutup, Wallaaaa~ Ini bener bener nyentuh dan nyentil dari segi moral /apan banget ini/ Pokoknya ini keren deh, plot twistnya!

    XOXO, Hug and Kiss.
    Skylar Ziv aka Sabella F.

  2. HAIIII SOPHIE…. BOGOSHIPOOOO…..
    Firstly, aku kangen tereakan di sini… dan komen-komen berbakat dan keren..
    Trus ketemu notof oneshot ini, hmm.. judulnya menarik..
    Skeptic one… kadang aku kayak Jess ini, skeptik dan berpikir tentang Tuhan yang Maha Besar itu, lantas meragukan Dia di tingkat yang aku sendiri jadi bingung. Apa Sophie juga pernah kayak gitu? Kayak aku, kayak Jess ini?
    Dan pada akhirnya: no solution. Karena Tuhan Sang Maha, kenapa mencoba memahamiNya?
    Aku belum pernah baca ceritanya kamu pakai cast 2 manusia ini,, uups.. they are not human here hehe… Kenapa pilih mereka Sophie?

    Aaah… kangen ngobrol gini..
    Dan Ya… nasib duo Lee itu gimana? You remind me of them! Responsible please / tarik-tarik baju Sophie…

    Hmm, not find a good word to say goodbye.. so will see you soon.. aku pengen liat drama kamu so bad.. if the connection allow… annyeong… ♥

  3. agak paham dgn jalan ceritanya. ternyata skeptis itu parah abis.
    Q krg paham masalah filsafat jd bingung mw komen apa.
    baca pesan terakhir lgsung down #pingsan cantik
    tapi thanks, ngunjungin wp mu ada hsilnya. KEEP WRITING

  4. wah udh lama ga main ke sini~~liat notification baru,jd kepengen main lg
    hmm…bahasanya agak2 gmn gt ya?aku rada ga connect tp intinya kris sm jessica ini bkn manusia alias malaikat maut & arwah ,mrk merhatiin segala tingkah laku manusia.*bayangin mrk ngelayang di langit nontonin pr manusia*
    duh ice princess jessica kok negative thinking trs komennya,cara pandangnya kyk meremehkan gt.
    haha..kris si malaikat yg ga up-to-date nih,masa gtw siapa jessica?

  5. hmmm yaaa karna aku g begitu ngerti” bgt sama filsafat jadi aku harus menelaah ff ini berkali” hingga membuat kedua alisku menyatu hehehe .., ffnya bagus eon, yaaa aku sedikit banyak paham kok maksud dari ff ini..

  6. jujur soph, aku sebenernya agak bingung sama ceritanya #plak xD mgkn karena aku terlalu buta filsafat kali yaaa
    tapi abis baca komen2 jadi agak ngerti. ooh jadi orang skeptis tuh sampe segitunya yaa, terlalu banyak ingin tahu sampe bisa ragu sama Tuhannya
    nice soph😀

  7. Ooow first!! 🙌 keren keren thor!! Org skeptis emg gitu yah, jln pemikirannya… Serem…
    Kita musti banyak bersyukur nih, otak masih di jalur yg tepat..

    N seperti biasanya, aku sukaaa bgt ma ff mu..
    😘 👍👍👍

Just talking...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s