Angel’s Call (009)

PhotoGrid_1413501159485

“All of a sudden your yellow just erase my blue”

-Cho Kyuhyun-

 

“Semua orang membicarakanmu dan Changmin. Kalian seperti sepasang kekasih di lapangan tadi.”

Suzy melirik ke arah Siwon dan terkekeh. “Masa?”

Siwon mengangguk. Matanya terus menatap ke depan. Hari sudah malam sehingga dia harus menyetir mobil dengan hati-hati. Mereka baru saja pulang dari pertandingan bisbol antar sekolah. Tadinya Suzy hendak diantar oleh Changmin, pemuda itu memaksa Suzy naik mobilnya, kebetulan pula tim bisbol sekolah mereka akan mengadakan perayaan atas kemenangan 3-1 mereka.

Tapi Suzy bilang dia sudah keburu janji akan pulang bersama sepupunya, Suzy meminta maaf dan berkata lain kali dia pasti datang ke pesta perayaan tim bisbol. Changmin akhirnya merelakan Suzy meski dengan wajah terpaksa.

“Kami hanya berteman,” jelas Suzy.

“Hari ini, entah kalau besok,” kata Siwon.

“Ih, Siwon… bukan begitu!” seru Suzy sambil terkekeh geli.

Siwon melirik Suzy. Ada yang aneh dengan Suzy hari ini. Gadis itu tersenyum dan tertawa lebih banyak dibanding hari-hari kemarin. Dan senyum serta tawa itu terdengar begitu tulus. Tawa yang selama ini tidak terdengar lagi oleh Siwon.

Apa karena Changmin?

Siwon tahu Changmin pemuda yang sempurna. Dan di pertandingan tadi, sudah rahasia umum kalau Changmin berkali-kali menoleh ke arah tribun barisan pertama. Changmin tak pernah begitu sebelumnya. Dan semua orang tahu siapa yang sedang Changmin lihat.

Suzy.

Siapa lagi?

Ditambah dengan ajakan memaksa Changmin saat memintanya pulang bersama. Seolah telah menjelaskan segalanya. Bahwa Changmin mungkin tertarik pada sepupunya dari Mokpo ini.

“Kau senang sekali hari ini,” celetuk Siwon.

“Masa?” ujar Suzy lagi. Gadis itu kembali tertawa.

Siwon meliriknya. Suzy tengah mengetikkan pesan di ponsel.

Ah, Siwon juga baru sadar, sedari pertandingan selesai, Suzy selalu memainkan ponselnya. Apa itu karena Changmin mengirimkan pesan pada sepupunya?

“Dari Changmin?” tanya Siwon berusaha tak terlihat penasaran meski sejujurnya dia amat sangat penasaran sekali.

Suzy menengadahkan kepala. “Apa? Oh, bukan…”

“Kelihatannya seru sekali, kau membaca pesan dari siapa? Changmin?”

“Sudah kubilang bukan dari Changmin,” Suzy menggelengkan kepala. “Dari temanku.” Suzy menatap jalanan. “Siwon, aku ingin berhenti di supermarket depan sana. Aku mau membeli sesuatu.”

Siwon mengangguk. Dia menepikan mobilnya di supermarket yang ditunjuk Suzy. Gadis itu berkata dia hanya keluar lima menit, jadi Siwon menunggu di dalam mobil saja. Siwon kembali mengangguk.

Siwon menatap langit cerah malam ini dan bersenandung kecil mengusir kebosanan. Dia mengetuk-ngetuk setir dan akhirnya memilih menyalakan radio karena sudah lebih dari lima menit Suzy tidak muncul-muncul juga.

Siwon mengintip dari kaca jendela, gadis itu masih berkutat di salah satu rak dengan wajah kebingungan. Siwon hanya tersenyum kecil.

Tiitt… tiittt…

Tiba-tiba suara pesan masuk berbunyi. Siwon mengecek ponselnya, namun tak ada pesan yang masuk. Lalu matanya menangkap ponsel Suzy tergeletak di jok. Sepertinya itu pesan di ponsel Suzy.

Siwon melirik nama di layar ponsel Suzy, berpikir bahwa nama Changmin akan muncul di sana.

Tetapi dia salah, ada sebuah nama aneh yang justru berkedap-kedip di layar:

Malaikat

….siapa? Siwon tak mengenal seorang pun yang bernama seaneh itu.

Siwon mengetuk nama itu dan deretan history pesan Suzy segera terpampang dengan jelas. Sebenarnya dia tahu itu perbuatan tidak baik, tapi dia hanya ingin memastikan siapa itu malaikat. Mungkin teman sekelas mereka? Atau teman Suzy di Mokpo? Atau siapa? Siwon berjanji dalam hati bahwa dia hanya akan melihat untuk memastikan dirinya kenal dengan si Malaikat-Malaikat itu.

Tapi Siwon kembali tertegun saat melihat sebuah gambar balon kuning dikirim oleh ‘Malaikat’ lalu dijawab oleh Suzy. Percakapan mereka membuat Siwon mengerutkan dahi.

yellow balloon

Aku membeli balon kuning dan menerbangkannya di tengah laut Busan tadi siang. Bagaimana? Lucu?

 

Lucu sekali, aku akan tertawa sekarang

 

Kau tidak tertawa. Aku tak mendengarmu tertawa

 

Kau hanya akan melihat tulisanku tertawa: hahaha

 

Lucu, Bidadari. Lucu sekali.

 

Terimakasih, Malaikat

 

Sama-sama, Bidadari. Aku akan menerbangkan balon kuning besok lagi, besok, besok, dan besok di Busan.

 

Siwon mengerutkan dahi. Suzy dan sang penerima pesan ini saling memanggil dengan sebutan “Bidadari” dan “Malaikat”? Apa Malaikat ini sahabat Suzy di Mokpo? Jelas tidak sepertinya. Jelas-jelas sang Malaikat bilang dia di Busan.

Siwon berkomat-kamit memohon pengampunan dosa karena sudah membaca pesan orang lain. Dia meletakkan ponsel Suzy kembali tepat saat Suzy keluar dari supermarket. Gadis itu melompat masuk dengan riang dan bersenandung kecil. Ditangannya tergenggam plastik hitam.

“Kau beli apa sih? Lama sekali?” tanya Siwon.

Suzy mengeluarkan belanjaaannya. “Beli balon.”

Siwon menoleh cepat ke arah Suzy, menatap balon-balon berwarna kuning di tangan gadis itu. “Balon… kuning…?” tanya Siwon dengan nada tercekat. Dia teringat pesan di ponsel Suzy tadi.

Suzy menganggukkan kepala. “Besok mau kuterbangkan di langit Seoul dan memfotonya.”

“Dan mengirimkannya pada Malaikat,” gumam Siwon tak jelas.

“Eh, apa?” tanya Suzy tak mendengar ucapan Siwon.

Siwon menggelengkan kepala cepat-cepat. Dia menyalakan mesin mobil dan melajukannya dengan kecepatan lambat. Siwon sedang tidak berkonsenterasi sekarang. Ucapan Suzy dan pesan-pesan di ponsel gadis itu sibuk berkeliaran di otak, menuntut sebuah jawaban yang sulit didapatkan.

Siapa itu Malaikat? Yang Siwon tahu pasti, itu bukan Changmin.

Yang Siwon tahu pasti juga, seseorang bernama Malaikat itulah yang hari ini membuat Suzy terus tertawa dengan tulus.

Tapi… siapa?

.

.

.

.

.

.

Kyuyun mengulurkan kedua tangannya ke atas api unggun dan meresapi kehangatan yang menjalar di telapak tangan. Dia menyukai api unggun. Hangat. Tubuhnya, wajahnya, dan dadanya menghangat. Rasanya sangat berbeda dibanding ketika dia memakai penghangat ruangan otomatis di rumah ayah. Meski lebih ringkas, namun Kyuhyun tak bisa merasakan hal-hal indah lainnya selain kecanggihan teknologi gadget yang bertebaran di rumahnya.

Omong-omong soal rumah…

Mm, omong-omong soal rumah, sudah berapa lama kah Kyuhyun tak pulang ke rumahnya?

Bibir Kyuhyun membentuk sebaris senyum hambar

Mm, memangnya, rumah ayah yang di Seoul itu rumahnya? Mengenang banyak sekali lubang-lubang hitam yang menjadi ranjau ketidakbahagiannya di bangunan mewah berlantai dua di Seoul itu, Kyuhyun sangsi menyebutnya sebagai rumahnya.

Sinar mata Kyuhyun meredup.

Mm, jadi… omong-omong soal rumah, Kyuhyun sebenarnya tidak punya rumah…

Bunga-bunga api memercik ke atas dan hilang di telan angin. Kyuhyun bisa mendengar bunyi rintihan kayu yang berdansa bersama cahaya api. Ibu keluar dari dalam rumah sembari membawa beberapa ubi yang diplastik aluminium foil. Ibu melemparkan ubi-ubi tersebut ke dalam tarian api di depan Kyuhyun.

“Malam ini kita akan makan ubi bakar,” kata Ibu.

Kyuhyun bergeser sedikit memberikan tempat duduk pada Ibu. Keduanya duduk bersebelahan dalam diam. Kyuhyun memandang sekeliling. Halaman rumah Ibu sangat luas untuk melakukan kegiatan outdoor seperti api unggun ini. Kyuhyun sempat berpikir sewaktu-waktu mereka juga harus membangun tenda dan mengadakan kemah kecil-kecilan di halaman rumah. Nenek bisa ikut kalau dia tidak kecapaian, tapi Kyuhyun tak akan memaksa. Tapi yang pasti Ibu harus ikut. Biar mereka bisa merasakan rasanya kemah sekeluarga.

….—ah, apa Ayah juga harus ikut jika begitu?

Kyuhyun mengembuskan napas.

“Kenapa?” tanya Ibu menyadari tingkah aneh Kyuhyun.

Kyuhyun menatap Ibu sejenak, tapi kemudian kembali memandangi api. “Kemarin Sungmin meneleponku, Bu.”

“He-em?”

“Dia tanya kapan aku balik ke Seoul.”

Ibu memandangi Kyuhyun. “Lalu? Kapan kau akan balik ke Seoul?”

Kyuhyun menggeleng-gelengkan kepala. “Ralat, Bu. Kapan kita akan balik ke Seoul?”

Kyuhyun balas memandangi Ibu. Wanita itu terpekur dengan sorot mata kosong. Kyuhyun lagi-lagi hanya bisa mendengar suara rintihan kayu diantara mereka.

“Bu, aku ingin kau dan aku… pulang bersama-sama ke Seoul.”

Ibu menurunkan pandangan ke tanah. Menatap kakinya yang tak beralas. Bibirnya menggumamkan sesuatu. “Itu tak mungkin, Kyu.”

Tubuh Kyuhyun menggeliat gusar. “Kenapa? Kukira dengan kedatanganku, aku bisa membawamu kembali ke rumah, Bu.”

“Aku sudah di rumah, Kyu… ini rumahku.”

Kyuhyun menahan napas.

“Rumahmu di Seoul, kau lah yang harus kembali ke rumahmu, Nak.”

“Jadi… ini tak berhasil?” ujar Kyuhyun menahan suara seraknya yang mendadak keluar. Dia tidak bisa percaya perjuangan yang telah dilaluinya selama ini di Busan, berusaha berdamai dengan masa lalu, menekan emosinya hingga ke titik terbawah, melalui hari-hari di samping wanita yang perlahan membuatnya ingin merajut benang kehidupan, sama sekali tak akan merubah apapun?

“Masalahku dan Ayahmu tidak sesederhana yang kau pikirkan, Kyu. Aku sudah berusaha bersikap sabar, namun perilakunya membuat dadaku sakit. Aku tidak bisa pura-pura menganggap perkataan Ayahmu tak pernah terjadi, dan lantas ikut bersamamu kembali ke Seoul. Aku tak bisa melakukannya. Semenjak Ayahmu menunjuk pintu keluar dan menyuruhku angkat kaki dari kehidupannya, sejak saat itu pula namanya sudah kuhapus dari daftar catatan hidupku. Ayahmu telah menganggapku orang asing, rumah di Seoul itu pun telah menjadi rumah asing bagiku…”

“Dan aku juga adalah anak asing bagimu?” suara Kyuhyun terdengar bergetar.

Ibu memandanginya nelangsa. “Kyu…”

“Astaga…, aku tidak tahu aku sebegitu tidak berharganya.” Kyuhyun tertawa parau. Ibu menatapnya dengan sorot sedih, tapi Kyuhyun tak peduli.

Dia berdiri dari duduknya. Menatap gemericik api yang perlahan memudar, seiring dengan pandangannya yang memburam.

Dia tahu ini konyol, tapi rasa-rasanya, matanya berair sekarang. Dia berusaha menahannya mati-matian. Dia anak lelaki, tak boleh cengeng. Dia ini preman, biasa meninju orang, jadi kini bahunya tak boleh gentar. Dia biasa berdiri sombong, jadi kini dia tak boleh gemetaran.

“Baiklah, Bu. Aku akan pergi dari sini. Tenang saja, aku tak akan memaksa Ibu untuk ikut denganku,” ucap Kyuhyun sembari tersenyum. “Oh, ya, omong-omong, Bu… aku… tidak punya rumah…”

Kyuhyun berbalik badan dan berjalan menyusuri halaman, melangkah keluar pagar. Ibu memandanginya dalam diam, tak di dengar Kyuhyun panggilan dari bibir wanita itu.

Ibu hanya duduk, dan memandangi punggung Kyuhyun yang semakin menjauh. Menghilang dari balik belokan.

Jadi ini ya, Bu…

Kau tak akan mencegahku

Kyuhyun semakin mempercepat langkahnya

Oh ya, maaf, aku lupa

Kau tak punya alasan sama sekali untuk mencegahku

Dada Kyuhyun sungguh sesak. Dia memutuskan untuk berlari. Berlari sekuat tenaga, sekuat yang dia bisa, sekuat-kuatnya.

Aku ini hanya anak asing yang kebetulan muncul di rumahmu

Kyuhyun berhenti. Tangannya mengacak-acak rambutnya kasar. Kakinya menendang-nendang angin. Kyuhyun melolong kencang. Sekencang yang dia bisa, sekencang yang dia ingin, dia ingin melampiaskan segalanya. Sesaknya, emosinya, amarahnya, kecewanya.

Dia lelaki, tetapi kakinya gemetaran, tubuhnya gentar, matanya panas, dan dadanya seperti tercabik-cabik. Dia lelaki, tapi dia konyol. Masa bodoh, dia tidak peduli. Mana ada orang yang peduli apapun disaat hal yang paling berharga kembali hilang dari hadapannya?

Di jalanan yang sepi, angin berhembus kecil, dan suara gonggongan anjing terdengar sayup; Kyuhyun menangis keras-keras.

Menangis… seperti anak kecil yang tersesat, dan kehilangan ibunya.

.

.

.

.

.

.

Mereka membiarkan taman bermain tetap dibuka meski ada perbaikan saluran air bawah tanah. Suzy dapat mencium aroma sibuk yang melayang sampai ke tempatnya duduk sekarang. Dia mencoba memilah-milahnya. Ini bau tanah lembab bekas hujan tadi malam. Yang ini pastilah bau dedaunan pohon gingko yang terpaksa berguguran karena tersenggol mesin-mesin besar dari para pekerja perbaikan saluran. Dan apakah ini bau asap mesin yang menyengat?

Suzy menghirup udara lebih dalam lagi. Rasanya, dia bahkan bisa meraba apa yang tengah terjadi di bawah sana, para pekerja yang mencangkul tanah-tanah, mengebornya, memasukkan selang-selang besar dan menimbunnya kembali dengan tanah campur semen. Tapi, masih ada lagi—aroma sibuk yang paling santer tercium. Aroma teriakan bercampur peluh keringat dari para pekerja.

Aroma sibuk, Suzy menamainya dengan unik. Karena baginya, segala yang terjadi di bawah sana sungguh terlihat sibuk,serba cepat, serba terburu-buru, serba memusingkan sekaligus unik. Kontras dengan dirinya yang menganggur sendirian di salah satu perosotan anak-anak bercat kusam.

Suzy masih menunggu bel sekolah berdentang, hari ini dia tidak ingin tiba sekolah tepat waktu. Lagipula dia baru mengirimkan pesan singkat ke Malaikat dan tengah menunggu-nunggu pemuda itu membalasnya.

Suzy baru saja menerbangkan beberapa balon kuning yang ditiup dan sengaja difotonya. Fotonya tentu dikirimkan ke Malaikat sebagai balasan foto yang kemarin dikirimkan pemuda itu. Suzy menyesap udara pagi segar dalam-dalam, mengisi rongga paru-paru dengan oksigen sebanyak yang dia bisa.

Selalu, dengan melihat balon kuning mampu membuat harinya baik.

“Bu, Bu, lihat, balon terbang!” seruan anak kecil membuat senyum tersemat di bibir Suzy.

Itu balonnya. Balonnya sudah terbang semakin tinggi.

Suzy menengadahkan kepala. Menatap beberapa balon yang melambung-lambung dipermainkan angin.

Suzy kembali menatap ponselnya. Belum ada balasan dari Malaikat. Mungkin Malaikat sedang memancing di sungai, mungkin sedang membantu ibunya di dapur, atau mungkin sedang keasyikkan bermain harmonika.

Suzy sibuk berandai-andai dan akhirnya memutuskan untuk melangkah ke bangunan sekolah. Bel sekolah sudah berbunyi dengan sangat keras.

.

.

.

.

.

.

Suzy kembali menatap ponselnya. Belum ada balasan.

Dia kembali menatap Park Seonsaengnim di depan kelas, tengah menjelaskan pelajaran logaritma yang sudah dimengerti Suzy, namun sulit sekali dipahami sebagian besar teman-temannya. Suzy membuka-buka buku tugas dan mengerjakan beberapa soal dari bab selanjutnya. Dia sudah paham pelajaran Matematika sampai bab terakhir di buku, jadi dia bisa dengan mudah menjawab soal manapun yang dia mau.

Suzy kembali menatap ponselnya. Belum ada balasan.

Siwon maju ke depan kelas, menjawab soal di papan tulis. Pemuda itu tampak serius dan bersikap keren dengan melipat kedua tangan di depan dada serta pasang alis berkerut-kerut. Beberapa gadis saling berbisik dan bersikap heboh melihat Siwon berdiri bak model di depan kelas, nyaris tak seperti murid sekolah biasa yang sedang mengerjakan tugas.

Tapi Suzy tahu Siwon sebenarnya sedang kebingungan setengah mati bagaimana cara menjawab soal tersebut. Siwon sedikit lemah di bagian Matematika. Mm, tepatnya, Siwon sedikit lemah hampir di seluruh bagian pelajaran sekolah. Mm, oke ralat lagi, bukan sedikit lemah, tapi benar-benar lemah. Sangat lemah. Tidak menguasai sama sekali seluruh pelajaran sekolah. Jika bukan karena tubuh dan wajah sempurnanya, dia tidak akan jadi ketua kelas saat ini karena dia bodoh sekali.

Suzy kembali menatap ponselnya. Belum ada balasan.

Suara derit kapur bergesekan dengan papan tulis terdengar menusuk telinga. Suzy menengadah,menatap punggung Siwon yang masih sibuk mengerjakan soal penuh keragu-raguan.

Suzy menatap ponselnya. Belum ada balasan.

Suzy mendesah. Memijit-mijit keningnya.

Suzy menatap ponselnya. Belum ada balas—astaga, Malaikat menelepon!!

Suzy menutup mulutnya dengan tangan, dia hampir menjerit kaget melihat nama Malaikat berkedap-kedip di layar ponsel.

Malaikat sedang meneleponnya! Ampun, sepagi ini? Kenapa meneleponnya? Tumben sekali jam segini menelepon? Apa Malaikat tidak tahu Suzy sedang belajar—meski yang sebenarnya Suzy lakukan dari tadi hanyalah bolak-balik menatap ponsel? Bagaimana ini? Harus diangkat atau tidak? Nanti kalau kena marah guru bagaimana?

Pertanyaan-pertanyaan itu berkeliaran di kepala Suzy. Dan jelas dia penasaran sekali kenapa Malaikat meneleponnya. Dia juga, kalau boleh jujur, menantikan kabar apapun tentang Malaikat. Tapi dia bimbang, ini sedang jam belajar. Dia bisa kena marah guru. Dia akan membuat anak-anak heboh. Dia akan mengganggu keberlangsungan belajar.

Lantas, bagaimana ini? Suzy menggigit-gigit bibir bawahanya.

Malaikat masih terus menelepon.

Malaikat masih tetap terus menelepon.

Telepon mati.

Suzy terdiam sesaat. Dia masih menatap layar ponsel dengan pikiran berkecamuk, sedikit menyesali kenapa dirinya tak mengangkat telepon tadi. Bagaimana jika telepon tadi sesuatu yang penting? Bukankah dia memang sedang menunggu-nunggu kabar dari Malaikat? Mungkin Malaikat ingin menyampaikan sesuatu yang tidak bisa disampaikan melalui pesan singkat? Kenapa tak mencoba mengangkatnya, Suzy? Kenapa? Kenapa?

Lagi-lagi, pikiran Suzy dibombardir tanda tanya bertubi-tubi. Sejalan dengan itu, dirinya semakin menyesal kenapa tak membiarkan Malaikat bicara padanya.

Dan tampaknya Tuhan sedang berbaik hati di bulan April ini, karena lima detik kemudian ponsel Suzy kembali berkedap-kedip.

Malaikat kembali meneleponnya.

Namanya berkedap-kedip di layar ponsel Suzy.

Kali ini, mengalahkan segala ketakutannya akan dimarahi guru, Suzy dengan cepat memutuskan untuk menjawab telepon itu.

Park Seonsaengnim fokus dengan jawaban Siwon di papan tulis, sama sekali tak memperhatikan murid-murid lainnya. Suzy membungkukkan badan dan masuk ke kolong meja, dia melirik ke kiri dan kanan berusaha memastikan tak ada murid yang menyadari tingkahnya, barulah dia menjawab telepon Malaikat.

“Ha-halo?” bisik Suzy berusaha tak terdengar siapapun.

“Tujuh…”

Suara parau terdengar di seberang. Disusul dengan batukan keras. Suzy mengernyitkan dahi, mencium sesuatu yang tak beres. Suara Malaikat terdengar tidak biasa.

“Hei, ada apa? Suaramu…”

“Uhukk… tujuh delapan… tujuh…hhh…. empat… hhh… satu satu empat…”

Bruk. Sebuah suara benda tumpul beradu terdengar di seberang sambungan. Suzy terperanjat seketika. Kedua bola matanya melebar. “Hei, ada apa…? Apa yang terjadi? Hei…”

Tut… tutt… tutt…

Sambungan terputus. Suzy masih terdiam di tempatnya.

“Suzy, apa yang kau lakukan di bawah sana?” Park Seonsaengnim menyadari tingkah Suzy dan memasang wajah garang karena melihat seorang murid baru saja menggunakan telepon di saat jam pelajaran. “Suzy, kau tahu kan menelepon saat pelajaran berlangsung adalah pelanggaran!”

Suzy berdiri, tangannya masih memegang ponsel yang berbunyi “tutt…. tutt…” terus-menerus. Beberapa murid menoleh padanya dengan pandangan heran. Ekspresi wajah Suzy tidak seperti biasa. Gadis itu pucat dan matanya berkaca-kaca. Tangannya terlihat gemetaran. Napasnya tersengal-sengal.

“Suzy…” Park Seonsaengmin menelan ludah tak enak. Merasa sudah keterlaluan karena kini wajah muridnya seperti ingin menangis. “Mm, maksud Bapak, kamu seharusnya mematikan ponsel saat pelajaran…”

“Maaf, Pak, saya permisi dulu.” Suzy berlari keluar kelas terburu-buru tanpa meminta ijin pada gurunya. Dia harus keluar kelas sekarang juga. sesuatu yang penting sedang terjadi. Dia tahu, sesuatu yang penting dan membutuhkannya!

Dia memencet-mencet tombol ponsel dan mencari sesuatu di internet. Jari-jemarinya gemetaran sementara air matanya mulai berleleran keluar. Pandangannya jadi tak fokus. Tapi dia terus berusaha mencari dan mencari.

“Suzy!” Suzy merasakan tangannya ditarik seseorang. Siwon ternyata mengikutinya sampai keluar kelas. Sepupunya itu tampak heran sekaligus cemas. “Kau kenapa… astaga, kau menangis?!”

Suzy tak menghiraukan Siwon. Dia menepis pelan tangan Siwon.

“Suzy, kau kenapa?!” teriak Siwon ketakutan. “Suzy? Kenapa menangis?!”

Suzy menggeleng-gelengkan kepala. Dadanya sesak. Sungguh sesak. Apa ini yang dirasakan Malaikat sekarang? Atau mungkin lebih dari ini? Suzy sampai harus memegangi dadanya dan memukul-mukulnya. Dia menangis terisak-isak, air matanya tak bisa dicegah. Dia sampai harus bersandar ke dinding karena kakinya benar-benar lemah.

“Suzy…” Siwon semakin khawatir dengan keadaan Suzy.

“Busan…” Suzy akhirnya mengeluarkan suara, tersendat-sendat. “Berapa… ko-kode…” Suzy menarik napas susah payah. “… wilayah Busan? Berapa kodenya?”

“Apa yang kau bicarakan? Aku tak mengerti, Suzy!” seru Siwon bingung.

Suzy tak kuat lagi. Dia terduduk di lantai dan menangis kencang.

“Suzy… kau jangan membuatku ketakutan seperti ini. Katakan, apa yang sedang terjadi? Kau kenapa?” Siwon mencengkeram kedua lengan Suzy dan menggoncang-goncangkannya.

Suzy menggeleng-gelengkan kepala. Dia semakin menangis terisak. “Oh, tolonglah, seseorang sedang berada dalam bahaya di Busan. Seseorang butuh bantuan. Jika aku tak menolongnya…, mungkin dia bisa mati, hiks, mungkin dia bisa mati… hiks… mungkin dia… hiks, m-mungkin…” kepala Suzy terasa berputar-putar. Dadanya sakit luar biasa. “…kode Busan… katakan padaku… berapa kodenya…!!”

.

.

.

.

.

.

To be continued

112 thoughts on “Angel’s Call (009)

  1. ommo ada apa dengan kyuhyun????dia gak dipukul orang kan disana????aigoo sesoang tolong selamatkan kyu…….Masalah kyuhyun dengan keluarganya ternyatabelum selesai malah semakin rumit…

  2. aihh apakah nanti akan ada benih-benih cinta diantara Kyuhyun dan Suzy?😄

    kau gak melakukan sesuatu yang berbahaya kan? semoga tidak ;_____; makin kesini ceritanya makin bikin penasarannn >.<

  3. Ada apa dengan Kyuhyun? Apa ia baik-baik saja? Tolong semoga ia baik-baik saja.
    Suzy begitu peduli pada Kyuhyun meskipun pada kenyataannya, dia gak tau Kyuhyun itu siapa. Ah ralat, dia belum tau kalau Kyuhyun adalah temannya sewaktu di SD dulu.

Just talking...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s