Angel’s Call (007)

PhotoGrid_1413501159485

“Out of sight, close to the heart”

-Cho Kyuhyun-

Suzy melangkah masuk ke dalam sebuah ruangan besar menyerupai aula dengan lantai berbentuk trap yang berfungsi pula sebagai kursi. Di ujung ruangan yang menceruk ke bawah terdapat sebuah panggung besar, dengan piano grand berwarna hitam, berdiri di sana.

Suzy melihat punggung Sungmin dari salah satu tingkat trap, Sungmin tengah menekan-nekan tuts piano, menghasilkan alunan nada yang indah di atas panggung. Suzy tak mengerti musik apa itu, yang pasti terdengar begitu menenangkan. Suzy terpaku beberapa saat, tak menyadari di mana dirinya berada, sampai Siwon lalu menarik tangannya agar mendekat pada Sungmin.

“Ayo… kita lihat sang pianis dari dekat,” bisik Siwon sambil tersenyum tipis.

Suzy menatap Siwon dan mengangguk kecil. Meniti satu persatu trap penuh hati-hati, nyaris seperti balita yang baru belajar jalan, dia selalu mengalami sedikit kesulitan jika menaiki atau menuruni undakan. Siwon memandangi Suzy tanpa banyak bicara, namun semakin mengeratkan genggaman tangannya tiap kali Suzy hampir oleng.

Beruntung sekali, akhirnya mereka sampai di podium tepat ketika permainan Sungmin selesai.

“Kalian datang juga?” Sungmin menoleh dan menatap antusias ke arah Siwon dan Suzy.

“Tentu saja, Siwon sudah begitu gencarnya mempromosikan permainan pianomu hingga membuatku penasaran.” Suzy tersenyum.

“Benarkah?” Sungmin memandang Siwon sejenak. “Kukira dia hanya bisa bertengkar denganku.”

“Yah, tidak untuk saat ini Sungmin. Tidak untuk saat ini.” Siwon tertawa.

“Suzy, duduk di sebelahku sini.” Sungmin menggeser tubuhnya sedikit.

Suzy mengangguk, menaruh tas sekolahnya di lantai, dan duduk di samping Sungmin. Kedua bola matanya memandang tuts-tuts piano dengan kagum.

“Kau ingin memainkannya?” tawar Sungmin.

“Aku tidak bisa bermain piano,” elak Suzy halus.

“Kau sudah punya dasarnya, Suzy. Kau kan dulu memegang bagian pianika.” Sungmin menuntun tangan Suzy untuk memencet beberapa tuts. “Ini sama saja dengan pianika, ada do… re… mi…” terdengar alunan nada dari do hingga si yang dipencet oleh Suzy.

Suzy mengangguk-angguk antusias. “Tidak terlalu sulit.” Suzy kembali memencet-mencet tuts, memainkan lagu anak-anak yang diingatnya dan meskipun lupa beberapa nada, Suzy cukup puas mengetahui kemampuan mengingat tangga nadanya masih cukup baik.

“Tentu tidak. Aku bisa, kau pasti bisa. Apa kau mau daftar les di sini? Jadi kita bisa bermain piano tiap hari?” ujar Sungmin semangat.

Suzy menoleh pada Siwon yang ikut menganggukkan kepala dan terlihat sama bersemangatnya dengan Sungmin. Kemudian Suzy kembali beralih menatap Sungmin. “Akan aku pertimbangkan, sungguh.”

Sungmin bersorak kegirangan.

“Hei, Sungmin… Kyuhyun mana? Dia seharusnya sudah datang, kan?” tanya Siwon saat melihat dua tiga murid les yang baru datang ke ruangan dan mengucapkan salam pada Sungmin.

Sungmin menelan ludah dengan canggung. “Maaf sekali teman-teman, hari ini Kyuhyun bolos sekolah dan aku tidak bisa menghubunginya sama sekali.”

Suzy memandang Sungmin. “Kyuhyun… bolos?”

“Iya…” Sungmin menggaruk-garuk kepalanya. “Tadi aku sempat ke rumahnya sepulang sekolah dan yang kudengar dari tetangganya, kemarin Kyuhyun bertengkar hebat dengan ayahnya. Lalu sepertinya… Kyuhyun kabur dari rumah. Ibu tiri Kyuhyun juga tidak terlihat di mana pun, sepertinya ibu tiri Kyuhyun juga kabur dari rumah.”

“Ya Tuhan…” Suzy memandangi Sungmin tak percaya. Dia tak menyangka kehidupan Kyuhyun lebih buruk dari yang dikiranya. Mendengar cerita Sungmin tempo hari tentang kematian ibu kandung Kyuhyun dan sikap Kyuhyun yang berubah, Suzy tidak pernah berpikir dampaknya bisa begtiu besar. “Lalu kau sudah bertanya pada ayahnya?

“Ya, dan ayahnya justru masih di kantor, aku tidak enak untuk menyusul beliau dan menanyakan kabar Kyuhyun. Hubungan mereka memang sedikit renggang.”

Sorot mata Suzy berubah sedih. “Berarti belum ada kabar sama sekali dari Kyuhyun?”

Sungmin menggelengkan kepala lemas. “Aku berharap Kyuhyun tidak berpikiran bodoh, aku harap dia baik-baik saja, aku harap apapun yang sedang dilakukan Kyuhyun, ada seseorang yang tetap menjaganya untuk berpikir dan membuat keputusan rasional.”

“Amin, semoga saja.” Siwon ikut terlihat prihatin. “Jika almarhumah ibu guru kita tahu apa yang terjadi pada Kyuhyun, dia pasti sedih sekali.”

Suzy semakin merasa sedih pada nasib Kyuhyun.

“Ya, tentu saja. Pasti dia sedih.”

“Tapi apa kau sudah mengabarkan pada Kyuhyun soal reuni kita dua hari lagi?” tanya Siwon.

Sungmin menggeleng. “Belum sempat, Siwon. Aku jarang sekali bertemu Kyuhyun… dia seperti lenyap, susah dicari…”

Tiba-tiba ponsel Suzy berbunyi. Suzy berdiri dan berjalan agak menjauh ke sudut podium sementara Siwon dan Sungmin masih terus berbicara membahas masalah reuni. Suzy sempat melirik layar ponsel dan nama malaikat tertera di sana.

“Hei, tebak-tebak… apa menurutmu makan ikan mentah hasil tangkapan lima menit lalu itu enak?”

Suzy membulatkan mata mendengar suara riang di ujung sana dan refleks tersenyum kecil. “Enak, coba saja. Meski ini kali pertama kau memakannya, tapi dari suapan pertama akan membuatmu ketagihan.”

“Hei! Dari mana kau tahu ini pertama kalinya aku makan ikan mentah?” suara Malaikat terdengar penuh kekagetan. Dan itu membuat Suzy larut dalam tawa kecilnya. “Kau ini sungguh-sungguh cenayang rupanya… apa kau buka praktik ramalan masa depan?”

Suzy kembali tertawa sampai harus menutup mulutnya karena Siwon dan Sungmin sempat melirik bingung padanya. “Tidak, aku tidak begitu…” bisik Suzy pelan.

“Aku baru saja pergi memancing bersama ibuku dan aku dipaksa memakan ikan mentah. Sungguhan kan ucapanmu itu, rasa ikan mentah itu enak?” suara diseberang terdengar penuh khawatir.

“Ya, aku jamin seratus persen rasanya enak sekali.”

Terdengar bunyi krasak-krusuk di seberang. Suzy memejamkan mata. Telinganya bisa mendengar jelas hembusan angin kencang, suara mesin kapal, dan teriakan-teriakan seorang wanita yang sedang menghitung jumlah ikan “satu… dua… tiga… empat… tangkapan kita hari ini banyak!”. Suzy tersenyum. Logat Busan terdengar begitu kental dari dari suara samar-samar sang wanita.

“Bidadari…”

Suara Malaikat memanggil Suzy membuat gadis itu kembali membuka matanya.

“Aku merasa bahagia.”

Hening sejenak.

“Aku senang kau merasa bahagia,” ucap Suzy tulus.

Hening lagi, hanya terdengar pertukaran helaan napas dari Suzy maupun Malaikat di seberang. Suzy menyandarkan kepalanya di dinding dan memejamkan mata. Tak ada satu pun dari mereka yang kembali berbicara, hanya sama-sama menikmati alunan napas yang terdengar begitu jelas mengalahkan suara apapun.

“Kurasa ibu sudah memanggilku, aku harus memutus sambungan. Aku akan meneleponmu lagi nanti.” Malaikat akhirnya angkat bicara.

“Ya, baiklah,” ujar Suzy.

“Terimakasih…” kemudian, terdengar lagi terdengar helaan napas lembut, “…untuk tetap membuatku berpikir dan membuat keputusan rasional, Bidadari.”

Suzy tersenyum. “Sama-sama, Malaikat…”

.

.

.

.

.

.

“Sama-sama, Malaikat…”

Kyuhyun memandangi layar ponselnya dengan pandangan penuh arti. Dadanya menghangat dan kepalanya terasa lega, dia tidak tahu jika Gadis Bidadari memberikan nama juga padanya, dan itu membuatnya merasa senang.

Malaikat? Kyuhyun tidak merasa sesuci itu, namun entah mengapa saat Bidadari memanggilnya “Malaikat”, semua terasa benar.

Kyuhyun merasa dia bisa menjadi “seseorang” di detik gadis itu menyebutnya “Malaikat”.

Kyuhyun berbalik badan dan melihat Nyonya Moon sedang menarik jaring untuk yang kesekian kalinya. Beberapa ikan menggelepar-gelepar di balik jaring itu, mencipratkan beberapa percik air yang membasahi lantai kapal. Kyuhyun mendekat ketika Nyonya Moon melambaikan tangan dan menyuruhnya mendekat. Bibi Han, tetangga mereka, sedang menaruh beberapa potong ikan tipis-tipis yang ditaruh di atas piring.

“Kyu! Ayo, makan sushi-nya!” teriak Nyonya Moon melambaikan tangan semakin cepat karena Kyuhyun tak juga beranjak mendekat.

Kyuhyun mengangguk, sedikit ragu. Dia melangkah sembari memegangi tiang-tiang kapal agar tidak terjatuh. Kapal bergoyang ke kiri dan kanan dipermainkan ombak, Kyuhyun merasa tubuhnya juga ikut dipermainkan ombak. Perutnya bergejolak dan kepalanya berputar-putar, tapi dia berusaha tak menunjukkan sikap lemahnya di depan Nyonya Moon.

Sedari pagi, Nyonya Moon mengajak Kyuhyun pergi mendulang ikan di tengah laut. Kata-kata “mendulang” sedikit tidak tepat, karena Kyuhyun berpikir ikan tidak sebegitu berharganya selayak intan. Tapi saat dia mengatakan itu pada Nyonya Moon, dia justru kena marah. “Saat kau di Busan, jangan mengatakan ikan itu tidak berharga! Kau ingin diarak massa keliling Busan?”

Mendengar celotehan ibu tirinya, Kyuhyun langsung membungkam. Dia tahu Busan terkenal dengan laut dan mata pencaharian utama masyarakat adalah nelayan. Tapi yang tidak disangkanya, ikan sebegitu berharga sampai-sampai ibu tirinya kembali memarahinya sepanjang perjalanan ke kapal. Dan yang lebih tidak disangka Kyuhyun, selama delapan tahun dia hidup dengan Nyonya Moon, untuk pertama kalinya Kyuhyun tak merasa marah sedikit pun mendengar ceramah dari ibu tirinya itu.

Kyuhyun melakukan lompatan terakhir sebelum sampai ke lantai yang sedikit lebih rendah, tempat Nyonya Moon berada. Dia mengambil sebuah tusukan besi yang telah dipenuhi daging-daging ikan. Kyuhyun menggigitnya, mengunyahnya, dan tersenyum.

Gadis malaikat itu benar.

Rasa ikan ini seratus persen enak.

Kyuhyun kembali mengunyah daging-dagingnya. Sementara Nyonya Moon memperhatikan dengan tersenyum. Dia menyodorkan sebotol air mineral kepada Kyuhyun, mencegah kalau-kalau anaknya itu tersedak saking semangatnya mengunyah.

“Kau terlihat lebih manis,” celetuk Nyonya Moon pelan.

Kyuhyun berhenti makan dan memperhatikan ibunya dengan kedua alis bertaut. “Mm?”

Nyonya Moon memandangi Kyuhyun lekat-lekat. Bibir keringnya mengulas senyum lembut. “Aigoo, anakku, Cho Kyuhyun… kenapa tidak dari dulu-dulu kau terlihat bersemangat seperti hari ini? Kau tadi ketakutan setengah mati saat kusuruh mencoba ikan, tapi begitu selesai menelepon, kau mendadak jadi bertingkah seperti anak kecil yang melihat hujan. Ibu juga jadi ingin melihat hujan dan menanyakan resep bagaimana dia menghadirkan pelangi yang indah.” Nyonya Moon terkekeh geli. Sementara Kyuhyun memandangi ibu tirinya semakin tak mengerti.

“Maksud Ibu apa?” tanya Kyuhyun.

Bibi Han ikut menoleh dan terkekeh melihat ekspresi Kyuhyun yang begitu polos. “Ya ampun, anak jaman sekarang tidak tahu perumpamaan saja. Ibumu itu sedang bertanya siapa nama pacarmu yang sedang kau telepon itu, Kyuhyun?”

Kyuhyun tersedak. Daging ikannya nyangkut di tenggorokan. “Si-siapa…. pacar… s-siapa…”

Bibi Han dan Nyonya Moon hanya tertawa menanggapi tingkah Kyuhyun. Dan Kyuhyun sibuk menenangkan diri dari rasa tersedaknya. Dia menenggak air banyak-banyak agar bisa bicara dengan baik. Dia berusaha menjelaskan bahwa orang yang diteleponnya itu bukan pacarnya. Astaga, sadis itu bukan pacarnya. Sungguh, gadis itu bukan pacarnya. Ya ampun, gadis itu…

Kyuhyun memandangi Nyonya Moon yang terbahak-bahak. Garis matanya tenggelam dibalik pipi bulat yang terangkat ke atas. Angin mempermainkan anak-anak rambut Nyonya Moon, membuatnya terlihat seperti lukisan di tengah laut.

Mendadak, Kyuhyun mengurungkan ucapannya.

Dia tidak ingin menjelaskan kesalahpahaman itu.

Dia tidak ingin mengganggu tawa ibunya.

Dia ingin diam dan menikmatinya.

.

.

.

.

.

.

Suzy menutup teleponnya dan berjalan menuju Sungmin serta Siwon. Lalu dia mendengar Sungmin menawarkan agar Suzy tetap berada di sini sampai jam les selesai. Setelah itu Sungmin ingin mengajak Suzy dan Siwon jalan-jalan.

“Aku yang traktir. Aku masih kangen sama kalian, aku ingin kita menghabiskan waktu bersama lebih banyak,” ujar Sungmin.

“Ehm, maksudmu menghabiskan waktu bersama Suzy lebih banyak?” goda Siwon.

Sungmin meninju lengan Siwon cepat, hanya pura-pura. Tapi Siwon juga dengan over aktingnya meringis dan mengaduh-aduh seolah tinjuan Sungmin telah meremukkan tulang-tulangnya.

“Idemu boleh juga. Apa guru les mu boleh aku dan Siwon tetap disini?” tanya Suzy.

“Tentu saja boleh. Kalau tidak boleh, apa perlu aku menceritakan kisah pertemuan kembali kita bertiga yang begitu mengharukan?” Sungmin menunjukkan cengiran lebar.

Suzy tertawa. Siwon memasang wajah mual.

“Baiklah, tapi aku yang pilih restorannya,” ujar Suzy lagi.

As your wish…” Sungmin membungkuk ala pangeran eropa. “Kau mau makan di mana?”

Suzy bergumam sebentar, menimbang-nimbang tempat yang enak. Dan kemudian dia tersenyum lebar saat sebuah tempat menyembul di pikirannya. “Di mana pun, asal bisa makan sushi.”

“Setuju!” seru Siwon.

Sungmin mengangguk. “Oke. Setuju. Sushi, ya? Daging ikan mentah? Boleh juga.” Sungmin menggeliat sebentar, lalu bangun dari duduknya. “Andai Kyuhyun ada di sini, pasti seru. Dia belum pernah makan sushi sebelumnya.”

“Oh, ya?” Suzy membulatkan mata.

Sungmin mengangguk. “Yup, katanya dia tidak suka sushi. Dia tidak suka ikan mentah. tapi bukan karena alergi atau apa, dia hanya takut mencoba sesuatu yang baru. Ck, anak payah satu itu…”

Suzy dan Siwon tertawa.

“Kalau ada Kyuhyun, aku akan membujuknya makan ikan mentah,” ujar Suzy.

Sungmin mengerling ke Suzy. “Aku tidak yakin kau akan berhasil. Selama ini tidak ada yang berhasil memaksa Kyuhyun makan sushi. Tidak aku, tidak juga teman-temanku.” Sungmin memberi jeda sesaat. “Mungkin kalau ada keajaiban, barulah Kyuhyun mau makan sushi. Keajaiban seperti bidadari jatuh dari langit misalnya—“

“Hahaha, itu sih tidak mungkin!” tawa Siwon berderai. Sungmin ikut tertawa. Suzy juga. Ketiganya akhirnya berkesimpulan bahwa tidak mungkin seorang Kyuhyun makan daging ikan mentah.

Sayangnya, mereka tidak tahu di sudut Busan sana, Kyuhyun sedang menyantap daging ikan mentah dengan lahapnya.

Dan itu karena, seorang bidadari memang telah jatuh dari langit.

.

.

.

.

.

.

Langit benar-benar gelap ketika Suzy dan Siwon sampai di rumah. Bunyi sikat terdengar samar-samar saat mereka sampai di halaman depan. Keduanya saling bertukar pandang sesaat. Seolah telah mencapai pemikiran yang sama, keduanya langsung berjalan memutar ke halaman samping.

Di sana, Ibu sedang mencuci baju-baju kotor. Merendamnya di bak-bak berisi air yang telah ditaburi diterjen.

“Ibu…” Suzy memanggil Ibu dengan nada cemas. Hari telah malam dan Suzy tahu Ibu baru pulang kerja. Kenapa malah mencuci baju? Tentu tubuhnya bisa amat kelelahan.

Ibu menoleh ke arah Suzy dan tersenyum. Kemudian menyadari kehadiran Siwon. “Siwon, kau baru selesai jalan-jalan dengan Suzy?”

“Iya, Bi…” Siwon memasang tampang sama cemasnya dengan Suzy. “Bibi, ini sudah malam… kenapa tidak pagi saja mencucinya?”

“Ya ampun, kalau pagi-pagi, Bibi sibuk sekali. Harus pergi ke kantor dan menyiapkan sarapan. Bisa terlambat nanti.”

Siwon dan Suzy kembali saling berpandangan.

“Ibu, biar aku yang mencuci baju bagaimana?” tawar Suzy.

Ibu menggeleng tegas. “Tidak, Suzy! Kamu tidak boleh menyentuh air dingin malam-malam begini!”

Suzy terdiam. Wajahnya berubah sedih. Tubuh Ibu terlihat jelas sedang kelelahan. Suzy sungguh tak tega melihat bagaimana punggung ringkih itu menyikat tumpukan baju yang tak ada habis-habisnya.

“Bibi, biar aku yang bantu mencuci bagaimana? Aku terbiasa melakukan itu di rumah bersama ibuku…” Siwon berjalan mendekati Ibu dan membujuk wanita paruh baya itu untuk menyerahkan urusan cucian pada Siwon. “Bibi istirahat saja…”

“Aduh, Siwon… tidak perlu melakukan itu…”

“Bi…” Siwon memasang wajah memelas. “Ya…?”

Ibu memandangi Siwon luluh. Wanita itu menganggukkan kepala dan berat hati menyerahkan cucian kepada Siwon. “Tapi jangan biarkan Suzy menyentuh cucian ini…” Ibu melirik Suzy yang langsung mengajukan protes padanya.

“Ibu… itu tidak adil!”

Siwon tertawa untuk meredakan perseteruan kecil antara ibu dan anak tersebut. Siwon berjanji akan menjaga Suzy dan menyuruh bibinya kembali ke dalam rumah karena hari semakin dingin. Siwon juga sempat menyuruh Suzy masuk ke dalam, tapi gadis itu bersikeras. Dia seolah telah menancapkan sepatunya pada tanah sehingga tidak bisa bergerak sama sekali.

Siwon hanya tersenyum.

Ibu masuk ke dalam rumah setelah memberi instruksi sederhana apa saja yang harus dilakukan Siwon. Sepenuhnya telah dipahami pemuda itu karena mencuci adalah tugas yang biasa dilakukannya di rumah.

Malam semakin larut. Siwon justru menyingkap jaketnya dan duduk di kursi kecil, dia menarik sikat dan sabun yang tergeletak agak jauh darinya. Siwon mulai menyikati baju-baju itu dalam diam. Suara angin yang bergesekan dengan daun terdengar pun dengan suara sikat baju yang terus menggerus kain-kain di hadapannya.

Suzy terus menatap Siwon dari tempatnya. Dia ingin membantu Siwon, sungguh ingin membantu. Dia tidak enak hati. Baju-baju yang Siwon cuci adalah baju miliknya, milik ibunya, dan bagaimana mungkin dia bisa diam membiarkan sepupu tersayangnya membersihkan semua ini tanpa bantuannya?

Tetapi Suzy tahu, jika selangkah saja dia mendekati Siwon, Ibu bisa marah besar. Suzy telah dilarang menyentuh cucian itu, jika melanggar, akibatnya akan besar sekali. Besar bagi dirinya. Karena Suzy juga paham benar tubuhnya akan bereaksi berlebihan atas hal-hal kecil yang menjadi pantangannya. Hal itu tak bisa dicegah, sekeras apapun berusaha tetap tak bisa dicegah.

Suzy menundukkan kepala. Mulai terisak. Mula-mulai hanya pelan tanpa suara, namun kemudian isakannya bertambah keras. Bahunya terguncang kencang. Dia berusaha menutup wajahnya, mengusap air matanya, meredam isakannya, namun yang ada dia justru semakin terpukul. Dia semakin tersiksa.

Isakan Suzy membuat Siwon menoleh ke belakang, mendapati sepupunya menangis, Siwon benar-benar terkejut. Dia berdiri, menatap Suzy yang menutupi wajah dengan kedua tangan. Siwon memandangi Suzy lekat, ekspresi wajahnya berubah khawatir.

“Suzy…”

Suzy menggelengkan kepala. “Aku tidak apa-apa.”

Siwon mendekat selangkah. “Kau…”

“Aku tidak menangis,” tegas Suzy.

Siwon menelan ludah susah payah. Suzy jelas sedang kenapa-kenapa. Dia jelas sedang menangis. Siwon cukup peka dan punya mata yang normal untuk bisa merasakan serta melihat itu semua.

Siwon melangkah lagi, pelan-pelan. Namun Suzy justru mundur teratur.

“Kembali mencuci sana,” ujar Suzy dengan suara bergetar.

Siwon menggeleng, dia semakin melangkah dengan cepat hingga tiba di depan Suzy.

“Aku tidak marah pada diriku sendiri,” kata Suzy.

Kau jelas marah pada dirimu sendiri, sepupuku. Siwon memandang Suzy kasihan.

“Aku menerima semuanya dengan lapang dada,” ujar Suzy lagi.

Kau jelas memberontak dengan takdirmu, sepupuku sayang. Siwon mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

“Jangan khawatir, aku tidak menangis…”

Suzy terdiam saat menyadari Siwon mencipratkan busa sabun ke wajahnya. Gelembung-gelembung busa itu menempel di kening, pipi, dan dagunya.

“Ada busa di wajahmu…” ujar Siwon tenang. Kemudian mencipratkan lagi busa itu di rambut dan pundak Suzy. “Sekarang, ada busa di pundak dan kepalamu.”

Suzy diam, menatap Siwon tak mengerti.

“Sini, biar kubersihkan.”

Siwon mengusap lembut wajah Suzy hingga busa-busa itu menghilang, pun dengan air mata yang membasahi wajah Suzy. Semua diusapnya hilang hilang tak berbekas. Siwon menepuk kepala Suzy pelan seolah sedang menenangkannya dan mencengkeram bahunya seperti ingin berkata semua baik-baik saja.

“Aku tidak khawatir padamu, aku hanya membersihkan busa-busa ini…” ucap Siwon lirih. Tangan besar Siwon menyentuh wajah Suzy penuh kehati-hatian.

Suzy menggigit bibir. Dadanya menghangat mendengar ucapan Siwon. Dia menatap Siwon dengan pandangan penuh terimakasih. Siwon sengaja mencipratkan busa di wajahnya agar bisa menghapus tangisannya. Dan pemuda itu juga sengaja mencipratkannya di kepala dan pundak untuk membuat Suzy merasa lebih baik.

Ya, Siwon bukan hanya membersihkan busa-busa, namun juga menghilangkan sedikit banyak sesak di dadanya.

“Te… te…terimakasih…” ujar Suzy terbata.

“Apa perlu aku mencipratkan busa di punggungmu? Agar aku bisa memelukmu?” kata Siwon lagi.

Suzy tersenyum manis, sepertinya air matanya ingin kembali keluar. “Silahkan…” ujar Suzy lembut, “…dengan senang hati.”

Suzy memejamkan mata saat Siwon menariknya dalam dekapan hangat. Tangan pemuda itu menepuk-nepuk punggungnya dan membisikkan kata-kata bahwa semua akan baik-baik saja. Yakinlah, semua akan baik-baik saja. Dia berjanji, semua akan baik-baik saja. Maka tenang sajalah, semua akan baik-baik saja.

Suzy mengangguk pelan mengamini kata-kata Siwon. Dia tak bisa berkata apa-apa selain merasa bahwa dirinya butuh dekapan yang lebih erat.

 

.

.

.

.

.

.

To be continued

 hanya akan dilanjut kalau ada 20 loud reader

thx ^^

 

cre poster: 

118 thoughts on “Angel’s Call (007)

  1. jangan bilang nanti sungmin naksir suzy????tapi gak salah sih kalau banyak yg naksir suzy dia kan cantik dan lembut dan siwon oppa benar2 sepupu idaman…..Pengen punya sepupu seperti siwon oppa…..

  2. Keselek deh itu kyuhyun yang lagi makan ikan di busan
    Ahh suzy gak sadar kalau dia sendiri yang bikin kyu tetep rasional
    Dan duh Suzy sama Siwon kok nyess ya liatnya , mungkin karna terlalu lembut dan sensitif jadi suzy suka menyalahkan diri sendiri ya

  3. hahahaha gimana reaksi Kyuhyun ya, diomongin mulu sama mereka bertiga XDD. jadi sebenarnya Suzy kenapa? apakah dia menderita suatu penyakit? duhh penasaran ;____;

  4. Masih panjang ternyata part untuk mengetahui ttg sebenarny apa terjadi pada suzy..
    oya.. siwon sweet banget ya.. nanti jangan” naksir suzy pula.
    aku masih ga bs ngebayangin muka oppa oppa suju ini pake seragam SMA.. serasa ga pantes krn umur mereka hehe

  5. Tingkah Kyuhyun semakin manis saat sedang bersama ibunya. Makin jatuh cinta sama dia :*
    Hubungan Suzy dan Siwon begitu manis dan hangat. Mereka begitu saling menjaga satu sama lain sebagai saudara. Aku jadi iri huhu

  6. Hahaha ibu tirinya baik banget yaa halmeoninya juga huhuhu
    Ihh siwon peluk2 nda terima, masa siwon duluan yg meluk2😦

  7. Jangan” suzy pindah ke soul gara” dia kecelakaan abis tu kakinya patah agak bermasalah gitu di mokpo makanya dia pengen bunuh diri gitu kali yaaa
    Yaaampun kyu pasti dia baper dipanggil malaikat
    Emangnya sushi enak yaa? Penasaran tapi yaaa gitu wkwk

  8. hadeeehhhh…
    roman2nya suzy nya ‘penyakitan’ niiy..
    oya… kalo djadiin drama, kayanya perannya dkasih ke anak2 shinee kali yah.
    secara.. member suju mah dah pada ga pantes pake sragam skolah.. wkwkwkwkwk #plakk!!#

Just talking...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s