Angel’s Call (006)

angls call 1

“You’re listening to me right now, my breath, voice, even my faith”

-Bae Suzy-

 

Langit berwarna lembayung ketika Kyuhyun tiba di sekitaran rumah Nyonya Moon, ibu tirinya. Suara anjing menyalak terdengar dari balik pagar kayu rumah yang tingginya hanya sebatas leher Kyuhyun. Suasana rumah Nyonya Moon terlihat damai dari luar, lampu ruang tamu terlihat menyala dan sekelebat bayangan mondar-mandir di sana.

Kyuhyun pernah bertandang ke rumah Nyonya Moon sekali, saat musim salju dan Ayah memaksanya menghabiskan malam natal di rumah itu. Sepertinya itu sudah lama sekali, enam tahun mungkin. Tapi selama enam tahun berlalu, keadaan rumah ini tetap tak berubah. Rumah sederhana dengan kebun sawi kecil di bagian pekarangan dan kandang ayam di samping rumah.

Mungkin yang berbeda sekarang adalah, rumah ini berpagar. Kyuhyun meneliti ke segala sudut pagar dan berusaha menemukan bel—sekiranya ada bel di pagar kayu ini, seperti bel elektronik di rumahnya di Seoul.

Tapi lalu dia menemukan lonceng kecil yang sedikit berkarat, tergantung di sisi kanan pagar. Kyuhyun sempat ragu untuk menyentuhnya, berpikir apakah lonceng itu adalah bel atau hanya hiasan rumah. Namun akhirnya karena tak tahan dengan suhu dingin di sekujur tubuh, Kyuhyun menarik tali lonceng itu dan menggoyangkannya.

Bunyi “klining klining klining” terdengar kencang.

Kyuhyun mundur beberapa langkah. Bersamaan dengan itu seorang wanita keluar dari rumah, melongok ke atas, dan terkejut melihat kepala Kyuhyun menyembul dari atas pagar.

“Kyuhyun!” Nyonya Moon berseru kaget.

Kyuhyun menoleh dan menatap Ibu tirinya dengan canggung. Nyonya Moon berlari untuk membuka pagar dan menarik Kyuhyun masuk, menyadari bahwa baju Kyuhyun sedikit lembab, Nyonya Moon bertanya dengan nada penuh khawatir, “Kau kehujanan?”

Kyuhyun mengangguk kecil.

“Astaga, Kyuhyun… hangatkan tubuhmu!” Nyonya Moon mendorong Kyuhyun masuk ke dalam ruang tamu.

Kyuhyun melirik sebentar ke arah perkarangan dan menatap seekor kucing yang sedang menjilati bulunya di dekat rerumputan.

Nyonya Moon membawakan Kyuhyun baju ganti dan menyuruh Kyuhyun menempati kamarnya sementara wanita itu menyeduh susu. Nenek Bi, yang mendengar kabar kedatangan Kyuhyun, langsung keluar dari kamar dan memeluk Kyuhyun begitu pemuda itu selesai berganti baju. Nenek Bi tampak girang. Wanita tua itu menarik Kyuhyun ke ruang televisi yang sedang menayangkan berita malam.

“Kenapa ke Busan tidak bilang-bilang dulu, Cucu? Aku dan ibumu kan bisa menjemputmu…” ujar Nenek Bi.

Kyuhyun menoleh pada Nenek Bi dan menggeleng canggung. “Takut merepotkan.”

“Sejak kapan kehadiran cucuku merepotkan?” Nenek Bi tertawa terkekeh sembari mengusap rambut Kyuhyun lembut. Kyuhyun merasa telapak tangan neneknya memberikan kehangatan. Dan Kyuhyun menyukainya.

Nyonya Moon datang dari dapur membawa segelas susu, sepiring sup hangat, dan sepotong bolu keju. Aromanya membuat perut Kyuhyun keroncongan. Dia baru ingat, sedari pagi dia tak sempat makan sama sekali.

“Makanlah!” ujar Nyonya Moon.

Kyuhyun mengangguk dan meraih segelas susu, tangannya sedikit gemetar, mungkin karena kedinginan. Kyuhyun melirik sekilas kea rah Nyonya Moon dan mendapati wanita itu tengah memandanginya dengan penuh cemas. Hal itu membuat Kyuhyun tak enak hati, dia memilih berpura-pura tak tahu dan meneguk susunya secepat mungkin.

.

.

.

.

.

.

Suzy menatap bayangannya di cermin kemudian mengerjap puas. Poninya sudah terpotong dengan sempurna! Sekarang jauh lebih pendek, dan Suzy bisa melihat dunia lebih jelas tanpa harus terhalangi poni tebalnya.

Ibu masuk ke dalam kamar membawa sebaskom air hangat dan menyuruh Suzy duduk di pinggir ranjang.

“Kakiku tidak sakit, kok,” ujar Suzy bingung.

“Tapi kau berjalan lebih tertatih dibanding kemarin-kemarin. Kau pasti terlampau kelelahan,” sahut Ibu.

Suzy menggumamkan sesuatu dengan tidak jelas.

Suzy menurut untuk duduk di pinggir ranjang dan membiarkan Ibu mengelap kakinya. Suzy hanya bisa diam ketika melihat garis-garis panjang berwarna biru menghiasi kaki pucatnya. Suzy memutuskan untuk menatap mengambil buku dan mulai membaca dibanding matanya terus melihat kondisi kakinya.

“Sudah selesai, sekarang kau bisa tidur.” Ibu mengangkat baskom dan melempar senyum pada Suzy. “Kau mau Ibu matikan lampu atau tidak?”

“Aku masih ingin membaca, Bu.”

“Baiklah.” Ibu keluar dari kamar.

Suzy membaca beberapa paragraf di novel, namun dia tidak bisa konsenterasi. Diliriknya ponsel yang tergeletak di atas ranjang. Tadi ada pesan dari Malaikat, dan dia belum menjawab pesan itu karena terlampau sibuk. Dan juga terlampau bingung apa yang harus dijawabnya.

Suzy meraih ponselnya dan memandanginya lekat-lekat. Membuka kembali pesan dari Malaikat itu, membacanya huruf demi huruf seolah tak ingin melewatkan makna dalam pesan itu sedikit pun. Kemudian Suzy melirik kakinya, dan dia mendesah panjang.

.

.

.

.

.

.

“Jadi, tadi naik apa ke sini?” tanya Nenek Bi.

“Kereta,” jawab Kyuhyun.

“Sama Ayah?”

Kyuhyun dan Nyonya Moon saling bertatapan. Dari yang Kyuhyun tangkap, Nyonya Moon tampaknya belum memberitahu perihal perceraian. “Tidak, sendirian.”

“Ibumu ke sini karena katanya ada yang mau diambil, hm… apa kau menyusul ke sini karena khawatir pada ibumu?” tanya Nenek Bi sambil tertawa kecil.

Kyuhyun menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Melirik kembali ke arah Nyonya Moon yang menatapnya penuh arti.

Kemudian tak ada yang bicara lagi, mereka sibuk menonton tayangan televisi yang kini sudah berganti menjadi acara reality show akhir pekan. Nenek Bi terkekeh-kekeh melihat tingkah para komedian sembari sesekali menepuk-nepuk punggung Kyuhyun. Nenek Bi sepintas lalu cerita bahwa almarhum suaminya adalah seorang komedian juga, mungkin itu satu-satunya alasan Nenek Bi ingin menikahi almarhum.

Kyuhyun tertawa kecil mendengar cerita itu. Malam sudah semakin larut dan akhirnya Nenek Bi memutuskan mematikan televisi.

“Ibu akan tidur di kamar nenekmu nanti, kau bisa pakai kamar Ibu,” celetuk Nyonya Moon sambil memberikan selimut yang baru dicuci pada Kyuhyun.

Kyuhyun mengangguk.

Nyonya Moon menatapnya sejenak.

Mereka berada dalam keadaan super canggung di depan kamar Nyonya Moon. Sampai akhirnya wanita itu memutuskan untuk berbalik badan. “Selamat malam, Kyuhyun—“

Kyuhyun menahan tangan Nyonya Moon. “Ibu…”

Nyonya Moon terdiam, kembali menoleh pada Kyuhyun. Wanita itu tersenyum kecil. “Ya, Kyuhyun?”

Kyuhyun menundukkan kepala salah tingkah. “Aku sayang Ibu.”

Hening sejenak

Kemudian Kyuhyun merasakan tangan Nyonya Moon menariknya dalam pelukan erat. Harum khas Nyonya Moon tercium di hidungnya. “Ibu juga sayang Kyuhyun,” jawab Nyonya Moon pelan.

Kyuhyun mendesah lega, ikut membalas pelukan ibunya.

Beberapa menit berlalu sampai akhirnya mereka saling melepas pelukan dan bertukar senyum.

Setelah mengucapkan selamat malam, Kyuhyun masuk ke dalam kamar dengan perasaan seringan kapas. Dia tak bisa berhenti tersenyum ketika melempar selimut ke atas kasur dan menindihnya seperti anak kecil yang bertemu tempat bermain.

Kamar ibu tirinya tiga kali lebih kecil dari kamar pribadinya di Seoul, tapi terasa jauh lebih hangat. Kyuhyun berpikir dia akan tertidur nyaman malam ini. Kyuhyun sempat melirik ponselnya dan berpikir untuk mengabari seseorang tentang perasaan bahagianya, mendadak dia ingin menelepon Bidadari. Karena gadis itu sudah banyak berjasa atas kejadian hari ini.

Tapi kemudian Kyuhyun ingat perkataan terakhir gadis itu, dan menjadi ragu apakah gadis itu masih mau dihubungi.

Tangan Kyuhyun meraih ponsel dan memandanginya. Lalu, tiba-tiba sebuah telepon masuk membuat bola mata Kyuhyun melebar. Dari Bidadari.

Kyuhyun mengangkatnya dengan perasaan campur aduk. Hanya ada desahan napas selama beberapa menit, detik-detik penuh hening. Kyuhyun menunggu sampai Bidadari berbicara, namun tampaknya gadis itu tak berniat membuka pembicaraan, hal itu membuat Kyuhyun serbasalah.

“Hei, akhirnya kau menelepon duluan…” Kyuhyun akhirnya memecah kesunyian, dia tidak tahan dengan keadaan hening begini. “Apa kau ingin gantian bermain tebak-tebakkan?” ujarnya sedikit bercanda.

“Aku hanya pintar menebak. Aku bodoh dalam membuat tebakan.” Suara Bidadari itu terdengar tenang seperti biasa.

Kyuhyun mengulum senyum.

“Maafkan aku,” ujar Bidadari lagi. “Aku belum bisa menceritakan masalahku padamu.”

Kyuhyun menggelengkan kepala. “Tidak masalah.” Kyuhyun bangkit dari tempat tidurnya. “Mm… apa kita perlu membahas hal-hal lain saja? Aku ingin melepas image sentimenku yang selalu muncul jika berteleponan denganmu.”

Kyuhyun mendengar gadis itu tertawa renyah, suaranya ringan dan merdu. Dan Kyuhyun tanpa ragu ikut tertawa bersamanya.

.

.

.

.

.

.

“Jadi apa yang kau lakukan sekarang?” tanya Malaikat pada Suzy.

“Membaca.” Suzy melirik novel di tangannya. “Novel.”

“Ugh, aku tak suka membaca,” keluh suara diseberang. “Aku lebih suka diceritakan.”

Sebelah alis Suzy terangkat ke atas.

“Kau mau menceritakan apa yang sedang kau baca padaku?” tanya Malaikat itu lagi.

Suzy tertawa. “Aku sudah curiga kau akan mengatakan itu,” semburnya geli.

Mereka kembali tertawa kecil.

Suzy membalik-balik halaman novel hingga berada di halaman awal. Suzy menggeser posisinya agar lebih nyaman dan mulai membacakan buku The Winner Stands Alone milik Paul Coelho bahkan dari kata pengantarnya, perlahan-lahan dengan intonasi yang jelas. Suzy tak yakin apakah pemuda di seberang sana mengerti cerita novel itu, namun Suzy yakin dia menyimaknya. Tidak ada suara-suara yang terdengar dari seberang kecuali bunyi napas teratur yang Suzy yakini adalah napas Malaikat di seberang sambungan. Dan itu membuat Suzy semakin nyaman membacakan ceritanya.

Ketika tiba di halaman lima puluh tiga, Malaikat itu berkata untuk berhenti dan mengakhiri sesi cerita mereka.

“Kenapa?” tanya Suzy.

“Ada berapa halaman di novel itu?”

“Empat ratusan…”

“Kita sudah di halaman berapa?”

“Lima puluhan.”

“Jika satu hari, lima puluhan halaman, aku masih punya tujuh alasan lagi untuk menelepon dan mendengar ceritamu.”

Suzy menyeringai geli mendengar penuturan pemuda itu.

Lalu Suzy mendengar suara krasak-krusuk dari seberang dan diiringi bunyi sebuah benda tumpul jatuh.

“Mm… kau mau mendengar permainan musikku?”

“Kau membawa alat musik ke Busan?” Suzy balik bertanya.

“Ya,” pemuda di seberang tertawa. “Tapi bukan alat musik yang biasa kugunakan saat latihan, ini alat musik kesukaanku. Harmonika.”

“Aku suka harmonika,” cetus Suzy.

“Kau pernah memakannya?”

“Bukan, hahaha… bukan suka yang begitu.” Suzy memutar bola mata. “Suka mendengarkan nada dari instrument harmonika.”

Suzy menunggu selama satu menit lebih sebelum akhirnya dia bisa mendengar sebuah lantunan nada lembut dari harmonika. Pemuda itu benar-benar memainkan harmonika. Lagu Hello Baby dari N.CA, artis pendatang baru. Suzy tak menyangka lagu itu bisa sedemikian indah diaplikasikan melalui harmonika.

Suzy merasa sebegitu damainya, hingga akhirnya gadis itu jatuh terlelap ditemani alunan harmonika dari pemuda malaikat.

.

.

.

.

.

.

“Siapa namamu?”

“Han Ji Min.”

“Han Chi Min?”

“Bukan, Han Ji Min. Dengan ‘J’.”

“Ah…” Sungmin mengangguk-angguk sambil membuang permen karet yang sedari tadi dikunyahnya. Henry dan Zhoumi bergerak maju mendekat dan melihat gadis bernama Han Ji Min yang kini berdiri malu-malu di depan mereka bertiga. Di tangan gadis itu terdapat sekotak bekal dengan pita warna merah muda yang disodorkan pada Sungmin.

“Bisa kalian serahkan bekal ini pada Kyuhyun Sunbaenim? Ini sebagai rasa terimakasihku karena dia sudah bersusah payah membelaku.”

Sungmin memandangi bekal tersebut dengan raut datar. “Tapi Kyuhyun tidak masuk sekolah hari ini. Dari tadi aku tak melihatnya.”

Gadis bernama Han Ji Min tampak terkejut, bola matanya membulat, namun beberapa saat kemudian gadis itu kembali tersenyum. “Kalau begitu, kapan Kyuhyun Sunbaenim datang ke sekolah?”

“Entahlah. Kau seperti bertanya kapan aku bertemu dengan presiden amerika, yang mana kemungkinannya nyaris mendekati nol persen,” ujar Sungmin.

Han Ji Min mendesah pelan. “Tapi Sungmin Sunbaenim tahu di mana Kyuhyun Sunbaenim sekarang?”

Sungmin menatap Henry dan Zhoumi bergantian, lalu menggeleng. “Maaf, tapi kami tidak tahu.”

Han Ji Min mulai terlihat putus asa.

“Tapi, aku akan mencoba menghubungi Kyuhyun lagi, dan menceritakan bahwa kau ingin mengucapkan terimakasih pada Kyuhyun,” potong Zhoumi cepat, seolah menenangkan gadis itu. “Kau pacarnya si brengsek Kangin itu, kan?”

Han Ji Min menatap Zhoumi lalu mengangguk.

“Kembalilah ke kelas, makan bekalmu bersama teman-temanmu, dan aku menjanjikan akan memberi kabar tentangmu pada Kyuhyun,” tutup Zhoumi.

Han Ji Min tersenyum lebar dan membungkukkan badan berkali-kali sambil mengucapkan terima kasih tanpa henti. Gadis itu kemudian melenggang pergi dari hadapan Sungmin, Henry, dan Zhoumi.

Sungmin memandang Zhoumi dengan pandangan curiga dan nada setengah mengejek, “ehm, memberi kabar pada Kyuhyun, eh? Kita bahkan tidak tahu apa Kyuhyun masih di muka bumi atau sudah bertransmigrasi ke bulan.”

Zhoumi mengangguk-angguk. “Ya, aku tahu. Tapi aku tidak tahan melihat gadis itu bersedih. Ekspresi wajahnya hampir sama dengan ekspresi saat dia pertama kali datang menemui Kyuhyun dan menceritakan perbuatan brengsek mantan pacarnya itu. Bagaimana bisa seorang lelaki memukul dan menendang pacarnya sendiri seolah pacarnya itu hanya pajangan rumah yang sewaktu-waktu bisa dipecahkan? Aku tidak habis pikir mendengar cerita tentang si brengsek Kangin itu. Karena itulah kan, akhirnya kita menghajar Kangin habis-habisan tempo hari? Kangin memang pantas mendapatkannya, karena melukai gadis sebaik Han Ji Min.”

Sungmin memandang punggung Han Ji Min yang mulai menjauh.

Sungmin ingat, ingat sekali. Saat tempo hari Kyuhyun mencetuskan sebuah nama yang akan jadi “korban” pemukulan mereka. Kangin, pemuda yang menjadi ketua karate di SMA Dae Hada. Sebuah ide gila yang menurut Sungmin nyaris tidak mungkin, menumbangkan Kangin sampai rata tanah. Tapi Sungmin akhirnya menyaksikan sendiri bagaimana Kyuhyun menarik kerah seragam Kangin, menyeret tubuhnya ke sudut jalanan, dan menghajarnya tanpa ampun. Pancaran mata Kyuhyun begitu tajam dan mengerikan, nyaris bisa membunuh orang hanya lewat tatapannya, Sungmin bahkan hanya berdiri terdiam di dekat tiang listrik menyaksikan bagaimana tubuh besar Kangin menghantam aspal dan bercak darah menyebar ke segala arah.

“Kyuhyun memang begitu…” Sungmin mendesah panjang. “Dia selalu menolong orang dengan cara paling mengerikan yang tidak pernah terbayangkan. Kadang… aku berpikir, dia itu setan atau malaikat. Entahlah.”

.

.

.

.

.

.

“Hei, Gadis Mokpo! Hei…”

Suzy merasa seseorang memanggilnya, meski tidak ada nama “Bae Suzy” yang terdengar. Tapi siapa lagi gadis dari Mokpo di sekolah ini jika bukan dirinya?

“Hei…!”

Suzy baru saja keluar kelas sembari memeluk tiga buku paket di tangannya, ketika tiga orang pemuda menghadang jalannya. Ketiganya mengenakan jaket bisbol warna merah marun, memiliki postur tinggi, dan bola mata besar tidak seperti orang Korea kebanyakan.

Suzy memandangi mereka tanpa berkata-kata.

“Hei, Gadis Mokpo!” salah seorang pemuda maju mendekat. “Kau kenal kami bertiga?” tanyanya sambil garuk-garuk kepala.

Suzy menggeleng pelan.

“Bagus!” pemuda itu menyeringai. “Kalau begitu kita perlu kenalan sekarang!” Pemuda itu menarik tangan Suzy yang tidak sedang memegang buku, lalu menjabatnya erat-erat. “Aku Shim Changmin. Ketua bisbol di SMA ini.”

“Aku Minho, anggota bisbol,” ujar pemuda kedua ikut mendekat dan menjabat tangan Suzy terlampau semangat.

“Aku Chansung, anggota bisbol juga,” ujar pemuda ketiga.

“Aku Suzy. Bae Suzy.” Suzy mengerjapkan mata, sedikit bingung dengan sikap akrab berlebihan dari tiga pemuda di depannya.

“Oke, Suzy… jadi begini, kami sedang mencari supporter yang cocok untuk berpartisipasi. Kami kekurangan pasukan cheers untuk menyoraki kami saat pertandingan lusa nanti,” ujar Changmin. “Kau mau datang besok lusa saat pertandingan?”

“Aku… tidak yakin bisa jadi supporter yang cocok…” ujar Suzy bingung.

Changmin, Minho, dan Chansung saling berpandangan seolah tengah bertukar kode rahasia.

“Tapi kalau kau cocok, kau mau menyemangati klub kebanggaan SMA kita ini kan?” tanya Chansung.

Suzy mengangguk tanpa ragu. “Ya, tentu saja.”

“Kau bisa teriak?” tanya Minho.

Suzy menggeleng.

“Kau bisa bernyanyi?” tanya Chansung.

Suzy menggeleng.

“Kau bisa menari?” tanya Minho lagi.

Suzy kembali menggeleng.

Changmin menatap Suzy lekat. “Kau bisa… tersenyum?”

“Tersenyum?” ulang Suzy tak yakin.

Kepala Changmin mengangguk. “Ya, kau bisa?”

“Ya… aku bisa.” Suzy mengernyit.

Changmin menjetikkan jari. “Nah, kalau begitu kau lulus kualifikasi sebagai supporter bisbol!”

“Apa?”

Suzy tidak mengerti apa maksud ucapan Changmin. Pemuda itu keburu bersorak dengan Minho dan Chansung, saling berhigh five dan tertawa besar-besar. Suzy kira Changmin hanya bercanda perihal masalah supporter dan lulus kualifikasi, namun pemuda itu lalu berkata bahwa mulai detik ini Suzy resmi jadi bagian dari supporter bisbol SMA mereka dan akan mendapat kartu anggota, kaos, dan perlengkapan lainnya yang akan diserahkan besok.

Suzy masih bingung dan ingin bertanya, tapi ketiga pemuda itu sudah pergi tanpa memberi penjelasan lebih lanjut.

“Penggemar baru, ya?” celetuk Siwon yang baru keluar dari kelas.

Suzy menoleh dan tersenyum. “Hei, kau lama sekali keluar kelasnya.”

“Memangnya kau menungguku?” tanya Siwon dengan ekspresi pura-pura kaget.

Suzy mengerucutkan bibirnya sembari memukul pelan lengan Siwon. Tadi ada rapat pengurus kelas untuk mempersiapkan acara pekan olahraga di bulan Agustus. Sebagai ketua kelas, Siwon memimpin rapat itu sampai setengah jam lamanya.

“Tadi itu Changmin, Minho, dan Chansung. Mereka bilang aku harus datang ke pertandingan mereka untuk jadi supporter.” Suzy menjelaskan.

“Hm, mereka benar-benar penggemar barumu.” Siwon mengelus-elus dagunya seolah baru menyimpulkan satu hal.

Suzy tertawa kecil. “Tidak, bukan…”

“Suzy, kau lupa kalau dari dulu kau memang banyak penggemar? Kau kan populer. Dulu seluruh anak bina musika di SD kita juga naksir padamu,” cengir Siwon.

Suzy menyeringai lebar namun tak ayal rona merah mewarnai kedua pipi bulatnya. “Tidak kok, aku tidak sepopuler itu…”

Siwon tertawa puas dan merangkul pundak Suzy. Keduanya berjalan menyusuri koridor. Beberapa orang menoleh dan menyapa Siwon, pemuda itu cukup terkenal dan Suzy sering mendengar bahwa Siwon adalah siswa favorit para siswi di SMA ini. Tapi jika Suzy menanyakan hal itu pada Siwon, sepupunya langsung tertawa dan bilang itu hanya “mitos belaka” atau “jangan percaya aib yang seperti itu”, seolah Siwon ingin menyangkal semua tuduhan positif itu.

Jika sudah begitu, Suzy hanya akan menatap Siwon dengan senyum ditahan dan kerlingan mata jahil. Kalau saja para perempuan yang menyukai Siwon tahu betapa gembul sepupunya waktu kecil dulu dan suka kentut di kelas, mungkin mereka akan pikir-pikir ulang untuk menyukai Siwon.

“Kau bilang hari ini mau mengajakku ke suatu tempat.” Suzy menoleh ke arah Siwon. Jarak mereka begitu dekat karena Siwon tak melepas rangkulannya. Dan dari jarak sedekat ini, Suzy bisa melihat Siwon punya rahang kokoh yang terlihat bagus.

“Iya, aku mau mengajakku bertemu Sungmin dan Kyuhyun.”

“Benarkah?” Suzy terlonjak girang.

Siwon menyeringai. “Kita akan ke tempat mereka latihan. Sekaligus membicarakan lebih lanjut soal reuni kita.”

Wajah Suzy berseri-seri. Ke tempat latihan Sungmin, berarti dia akan melihat Sungmin bermain piano. Orang yang dulu selalu berada di sampingnya memainkan pianika, kini sudah memegang alat musik seelegan piano. Dan Suzy juga tidak sabar melihat bagaimana rupa Kyuhyun sekarang, dan melihat permainan pemuda itu juga. Suzy sungguh tidak sabar akan bertemu keduanya.

Meski sayang, Suzy hanya akan bertemu salah satunya saja.

.

.

.

.

.

.

To be continued

103 thoughts on “Angel’s Call (006)

  1. akhirnya Kyuhyun sdar juga, bahwa dia sayang dengan ibu tirinya,
    ada² aja sih si changmin,, lucu
    jadi gak sabaran dengan reaksi mereka ketika bertemu

  2. aigo,,,jadi ikut terharu…Tidak semua ibu tiri itu jahat ternyata………Kta pepatah tak kenal maka tak sayang kalau sudah kenal pasti langsung sayan,,,seperti kyuhyun yg sudah mulai sayang sm eomma tirinya……..

  3. Duh airmata ku netes di adegan kyuhyun sama ibu tirinya… Ahh rasa memang perlu diutarakan
    Jadi jadi itu toh alasan malaikat berubah jadi mode setan 😆 duh duh duh
    Bang changmin kualifikasi macam apa itu hahaha

  4. ahhh gemes sama mereka berdua, Suzy dan Kyuhyun (>_<) jadi ingin cepat-cepat lihat Kyuhyun dan Suzy bertemu deh di acara reunian. ahh senangnya akhirnya Kyuhyun bisa mengatakan dan menunjukkan rasa sayang sama ibu tirinya ^^

Just talking...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s