Angel’s Call (005)

angls call 1

“She’s put the softness and affection through her lines”

-Cho Kyuhyun-

 

Poni Suzy telah memanjang, melewati alisnya, dan sedikit menusuk matanya. Dia menyibak helaian poni-poni itu ke atas bermaksud untuk menjepitnya, namun helaian itu dengan mulusnya jatuh meluncur kembali ke bawah, kembali menusuk matanya. Membuat matanya refleks mengerjap dan menyipit.

“Aduh…” ringis Suzy pelan. Dia memandangi bayangan dirinya melalui cermin, poni itu terlihat seperti ingin memakan kedua bola matanya.

Dari luar terdengar suara piring dan sendok berdentingan, Ibu tengah menyiapkan sarapan, begitu tebak Suzy. Dan kemudian tebakannya betul karena harum roti bakar cokelat tercium masuk ke lubang hidungnya. Tak ayal membuat perut Suzy berbunyi.

Suzy meletakkan jepit warna merah bergambar kupu-kupu di atas meja rias dan mulai berpikir untuk menyerah dalam hal menjepit-jepit poni. Untuk hari ini dia akan membiarkan penampilannya seperti Sadako dengan poni mengganggu begini. Tapi nanti sore, setelah urusannya selesai, Suzy akan memastikan dirinya mampir ke salon untuk memotong poninya.

Tepat saat itu, pintu kamar terbuka dan muncul sosok Ibu yang berbalut seragam kantor lengkap.

“Sarapan, Suzy?” ujar Ibu.

Suzy menatap Ibu melalui cermin. “Ya, Bu. Ibu mau ke kantor hari Minggu begini?”

“Iya, hanya sebentar. Ada janji dengan klien soal ekspansi ke Singapura.”

Suzy mengangguk. Ibu bekerja sebagai Public Relation perusahaan susu terbesar di Korea Selatan, Milkѐ. Pabriknya ada di Mokpo tetapi pusat kantornya di Seoul. Meskipun Ibu sudah tinggal di Seoul sekarang, dia masih sering bolak-balik ke Mokpo, tentu tanpa mengikutsertakan Suzy.

Kemarin Ibu baru saja kembali dari Mokpo dan sampai di rumah jam sebelas malam. Suzy hanya bisa mendengar pintu pagar terbuka dan suara derum mobil masuk ke halaman. Dia tak sanggup membuka mata menyambut kepulangan Ibu karena terlampau mengantuk.

“Roti bakar dan susu ada di meja makan. Ibu baru beli yogurt di toko depan, dan rasanya segar sekali, kau bisa membawanya dalam perjalanan nanti.” Ibu berdeham sebentar. “Ibu sudah memesankan taksi untukmu, jadi jangan naik bus. Naik taksi saja, Ibu sudah berpesan pada sopirnya untuk mengantarmu seharian kemana pun.”

Suzy menoleh ke belakang. “Bu… tidak perlu sampai begitu.”

Ibu tersenyum sambil menggelengkan kepala. “Ibu hanya tidak ingin kau menghilang seperti hari pertama kita di Seoul, Suzy…”

Suzy terdiam. Dia berusaha mengusir rasa bersalah yang merayap di dadanya. “Baiklah, Bu… aku akan pakai taksi.”

“Baiklah.”

Ibu menghilang dari balik pintu. Telinga Suzy bisa mendengar hak pantofel berantuk dengan lantai keramik, kemudian suara pintu pagar terbuka. Suzy menoleh kembali ke cermin dan meraih spon bedak, dia melapisi wajah bulatnya dengan bubuk bedak tipis, dan menambahkan lipgloss berwarna plum. Kemudian Suzy mengambil tasnya yang tergeletak di atas meja, keluar kamar, dan menyentuh menu di meja makan.

Bersamaan dengan itu, ada sebuah telepon masuk dari Malaikat.

“Suzy! Taksinya sudah datang!” teriak Ibu.

Suzy buru-buru menoleh dan berteriak, “ya, Bu! Aku ke depan sekarang!” tangannya yang hendak menyentuh ponsel jadi urung. Suzy berlari ke depan rumah dan tak lupa mengunci pintu depan. Ibu sudah berada di dalam mobil dan mengobrol sebentar dengan sang supir taksi.

Mungkin Ibu lagi memberi nasehat panjang lebar agar menjaga Suzy baik-baik dan mengantarnya dengan selamat, jangan mengebut ataupun menerobos lampu merah. Suzy memperhatikan Ibu sambil menahan senyum. Ibu tak berubah dari dulu, selalu mengkhawatirkannya.

“Selamat pagi, Nona Suzy,” sapa sopir taksi ketika menyadari kehadiran Suzy. Pria gembul dengan mata sipit dan pipi bulat itu tersenyum ramah menyapanya. “Saya Pam, Nona Suzy panggil saya ‘Pam’ saja tanpa embel-embel ‘Paman’, biar lebih akrab. Hari ini Nona Suzy mau diantar kemana?”

“Ke makam, Pam.” Suzy tersenyum lebar.

Ibu menatapnya sebentar namun tak bertanya lebih lanjut. Mobil Ibu bergerak meninggalkan perkarangan rumah sementara Suzy masuk ke dalam taksi yang terparkir di luar rumah. Dia kembali mengunci pagar pintu agar tak seorang pun yang berniat jahat bisa masuk.

“Makam teman Nona Suzy?” tanya Pam begitu mereka sampai di taksi.

Suzy menggeleng. “Makam guruku saat SD dulu, Pam.”

Raut Pam berubah sedikit simpati. “Oh, begitu…”

Taksi meluncur tenang di atas jalanan Seoul. Dering telepon masih berbunyi, dan kali ini Suzy punya waktu untuk mengeceknya. Masih dari orang yang sama, dari Malaikat. Suzy menempelkan ponselnya di telinga.

Hanya desahan napas terdengar tanpa ada kata-kata. Suzy memandangi bangunan-bangunan tinggi Seoul hingga kepalanya benar-benar menengadah ke atas. Malaikat belum mengeluarkan sepatah kata pun, namun sekarang Suzy bisa mendengar bunyi pengumuman tentang jadwal keberangkatan yang menggema.

Dimenit kesepuluh, pemuda Malaikat mengeluarkan suaranya. “Tebak-tebak…, aku ada di mana? Aku baru saja menitipkan motorku di parkiran dan duduk menunggu sambil memegang tiket.”

Suzy terdiam sebentar. Suara wanita di speaker pengumuman semakin kencang terdengar. “Stasiun kereta api,” jawab Suzy kemudian.

“Benar,” jawab pemuda Malaikat.

Kembali terdengar helaan napas panjang sebelum akhirnya sunyi kembali. Sudut mata Suzy melihat tangan gempal Pam memasukkan sebuah kaset dan beberapa detik kemudian musik klasik mengalun pelan memenuhi taksi.

“Suara apa itu?” tanya pemuda Malaikat kembali angkat suara.

Suzy melirik kea rah Pam. “Musik klasik.”

“Kau suka musik klasik?”

“Lumayan,” jawab Suzy. “Kau?”

“Tidak. Musik klasik mengingatkanku pada latihan musikku yang tak berkembang-kembang.”

Suzy terkekeh, lalu dia menyuruh Pam mematikan musiknya.

“Kenapa musiknya berhenti?” tanya suara di seberang heran.

“Aku menyuruh sopir taksi mematikannya. Kau bilang tidak suka.”

Pemuda itu terdiam sebentar. “Karena aku tidak suka, kau mematikannya?”

Suzy mengangguk. “Ya.”

Terdengar helaan napas lagi. Suzy menyandarkan punggung di jok. Suzy sudah mulai tahu kebiasaan pemuda Malaikat ini, dia suka sekali menghela napas. Dan suara napasnya yang berat itu seperti irama unik yang disukai Suzy.

“Terimakasih, Bidadari.”

“Sama-sama.”

Hening lagi.

“Kau sedang di taksi? Mau kemana?”

“Ke makam.”

“Oh…”

Hening lagi.

“Aku mau ke Busan,” ujar suara itu lagi. “Ibu tiriku kabur dari rumah karena kesalahpahaman dan aku harus menjelaskan sesuatu padanya.”

Suzy memiringkan kepala. Dia tahu satu lagi informasi tentang pemuda ini. Ibu tiri? Berarti dia broken home?

“Ayahku menikah dengan wanita ini, delapan tahun lalu. Dan aku tidak menyetujui pernikahan mereka. Hubunganku dengan ibu tiri tidaklah bagus, sama tidak bagusnya seperti hubunganku dengan Ayah. Waktu aku akhirnya mengatakan pada Ayah bahwa konsep kebahagiaan yang kuyakini salah, Ayah justru mengartikan bahwa semuanya harus dimulai dari nol. Ayah berpikir kalau aku kebencianku padanya disebabkan oleh ibu tiriku. Lalu… lalu… lalu… Ayah memutuskan akan menceraikan ibu tiriku. Sekarang Ibu tiriku pulang ke kampung halamannya di Busan. Aku marah saat mengetahui hal itu, dan aku… berpikir untuk menjelaskan semua pada ibu tiriku agar tak ada salah paham yang jauh lebih dalam.”

Terdengar desahan napas lagi.

Suzy hanya diam.

“Kau… apa menurutmu ceritaku sulit dipercaya?” tanya pemuda itu.

“Aku percaya dengan ceritamu,” jawab Suzy tenang.

Dan Suzy bisa menebak pemuda Malaikat itu tersenyum mendengar jawabannya.

“Terimakasih, Bidadari.”

Suzy mengangguk. “Sama-sama.”

Suzy kembali mendengarkan cerita pemuda itu dengan serius. Sebenarnya, Suzy merasa heran karena dia selalu saja tenggelam dekngan cerita pemuda yang bahkan belum pernah ditemuinya sekalipun. Tapi Suzy, dengan keyakinan hatinya, tahu bahwa pemuda ini tak pernah mengarang cerita dan masalahnya.

Nada suara pemuda itu, tak pernah menunjukkan sebuah kebohongan. Hanya, menunjukkan kesepian yang teramat dalam. Yang membuat Suzy tak mampu untuk tak mengindahkannya.

“Jadi… menurutmu, apa yang harus kulakukan? Kau punya saran? Aku yakin… mm… kau punya saran… sebagai seorang teman yang hanya berhubungan melalui telepon…?”

“Pernahkah kau mengatakan pada ibumu, kalau kau menyayanginya?” Suzy balik bertanya.

“Ibuku… yang mana? Almarhum ibuku atau ibu tiriku?”

Suzy terdiam. Dia kembali mendapat informasi baru, ibu kandung pemuda ini sudah meninggal. Diam-diam Suzy menaruh simpati padanya.

“Ibu tirimu, tentu saja.” Suzy mencoba agar suaranya terlihat normal.

“Mmm… tidak pernah.”

“Kenapa tidak pernah? Kau menyayanginya.”

“Ti-tidak, a-aku…” pemuda itu terdiam sejenak, “…apa aku menyayanginya?”  suaranya terdengar ragu.

Bibir Suzy mengulas senyum kecil. “Kau mengkhawatirkannya, kau rela menyusulnya ke Busan, kau ingin menjelaskan semua padanya… kau tak ingin dia menderita… itu berarti kau sayang padanya.” Suzy mendengar pemuda itu tak menjawab meski semenit telah berlalu, maka Suzy melanjutkan ucapannya. “Aku tak akan membujukmu untuk melakukan hal yang tidak ingin kau lakukan. Akan tetapi, coba pikirkan apakah selama ini kau menyayangi ibu tirimu atau tidak? Apa kau merasa nyaman dengan keberadaannya atau tidak? Jika kau telah menemukan jawabannya, kau bisa memutuskan apakah nantinya kau hanya akan menjelaskan kesalahpahaman ini saja, atau sekalian membawanya kembali dalam kehidupanmu.”

Tiba-tiba taksi yang ditumpanginya berguncang perlahan. Suzy menoleh ke depan, ternyata mereka sudah sampai di pemakaman umum.

“Nona Suzy, kita sudah sampai…” Pam mengumumkan.

Suzy mengangguk dan beranjak turun dari taksi. Aroma dedaunan kering langsung menyeruak masuk ke dalam hidungnya.

“Kau benar, Bidadari… aku akan memikirkan saranmu.” Suara di seberang kembali terdengar. “Aku senang kau mau mendengar ceritaku dan memberiku saran. Aku akan melakukannya, dan aku harap aku bisa menemukan jawaban yang tepat.”

“Kuharap juga begitu.” Suzy menjejakkan kakinya di jalan setapak yang berujung pada sebuah bangunan putih tinggi nan megah. Columbarium, disini tempat makam Guru Lim. Guru kesayangannya, guru favoritnya.

“Terimakasih.” Suara di seberang menyahut, membuyarkan lamunan Suzy.

Suzy mengangguk. “Sama-sama.”

Klik. Sambungan terputus bersamaan dengan Pam yang mendekati Suzy dan memberikan sebuket bunga ke tangan gadis itu.

“Aku membelinya di depan gerbang, Nona Suzy. Bunga dengan warna yang sesuai pesananmu tadi.”

Suzy melayangkan tatapan penuh terimakasih pada Pam. Tapi kemudian teleponnya kembali berbunyi. Dari Malaikat lagi dan Suzy mengangkatnya sebelum Tiffany SNSD selesai menyanyikan satu baris lagu.

“Hei, keretaku belum datang juga dan mungkin terlambat. Mmm… aku merasa bosan dan kupikir, sambil mengusir kebosananku, aku bisa mendengarkan cerita tentangmu. Aku pikir selama ini aku yang lebih banyak cerita, kini aku memberimu giliran bercerita.”

“Oh, maaf… aku sebenarnya ingin, tapi aku sudah sampai di makam.” Suzy memandang bangunan putih yang semakin lama tampak semakin jelas di depannya.

“Kau sudah sampai? Mm… baiklah… kapan-kapan saja.” suara itu terdengar penuh kekecewaan.

Suzy berhenti melangkah. “Sebentar, aku akan menceritakan satu hal tentangku.” Jemari Suzy mendekap bunga di dadanya. Angin semilir menggoyangkan rambutnya dan Suzy bisa mencium serbuk-serbuk bunga yang berterbangan. Suzy menarik napas panjang sekali dan berkata pelan-pelan, “kau ingat hari pertama kau menghubungiku?”

“Ya, aku ingat?”

“Kau bisa menebak apa yang sedang kulakukan saat itu?”

“Apa ini giliranmu bermain tebak-tebakkan?” tanya pemuda Malaikat setengah geli.

Suzy menggeleng kecil meski dia yakin pemuda Malaikat tak bisa melihatnya. “Saat kau meneleponku untuk pertamakalinya, saat itu aku ada di atas  jembatan… berdiri di besi penyangganya… malam menggoyangkan rambutku dan sekujur kakiku membeku kedinginan…”

Suzy menggigit bibirnya sejenak, kenangan itu kembali berputar dan membuat dadanya sedikit sesak.

Suzy tidak pernah menyangka dia akan menceritakan kejadian itu pada siapapun. Dia tak pernah membicarakannya pada Ibu maupun Siwon. Tapi kini, dia disini, dia menceritakan pengalaman buruk itu… pada seseorang yang hanya dikenalnya melalui telepon.

“…saat itu aku sedang berniat bunuh diri.”

.

.

.

.

.

.

Sambungan terputus.

Kyuhyun terlompat berdiri dari duduknya, sementara matanya membulat lebar-lebar, dan sekujur tubuhnya menegang.

Dengung ‘tuutt tuutt tuutt’ memenuhi gendang telinga Kyuhyun. Seiring dengan dada Kyuhyun yang berdesir pelan. Kyuhyun berusaha memastikan apa yang didengarnya barusan bukanlah lelucon atau sebuah kebohongan. Tapi Kyuhyun yakin, gadis Bidadari tak mungkin berbohong. Kyuhyun tidak pernah bertemu dengannya, tapi Kyuhyun tahu dia adalah gadis yang pintar dan jujur, gadis yang mengatakan sesuatu tanpa berlebihan, gadis apa adanya.

Pikiran Kyuhyun berputar pada kejadian di malam itu, saat dia melakukan kegiatannya yang biasa, memencet tombol sembarangan. Saat tangannya tanpa sengaja menelepon nomor Bidadari.

Gadis itu… saat Kyuhyun meneleponnya… dia akan bunuh diri?

Panggilan di speaker peron kepada penumpang jurusan Busan, membuat pikiran Kyuhyun buyar. Suara derak rel kereta api yang bergesekan dengan roda mendekat cepat. Keretanya telah tiba. Kyuhyun tergesa maju demi bergabung dengan rombongan calon penumpang.

Ketika sepatu ketsnya berhasil menginjak gerbong kereta, Kyuhyun kembali teralih pada ponsel di tangannya. Dia menimang-nimang sesaat untuk menghubungi Bidadari lagi. Namun, akhirnya dia memutuskan untuk mengirimkan pesan singkat.

 

Hei, ini aku.

Hanya untuk berjaga-jaga kalau-kalau kau belum menyimpan nomorku.

Dan hanya ingin menawarkan sesuatu yang menarik,

Mm… jika kau butuh tempat untuk cerita perihal masalahmu, atau alasan kenapa kau ingin bunuh diri waktu itu, kau bisa meneleponku. Kapanpun, telepon aku. Dimanapun, telepon aku. Mungkin tak bisa memberi pencerahan seperti yang sering kau lakukan padaku, tapi aku bisa menjadi pendengar yang baik.

 

Seseorang menyenggol bahu Kyuhyun membuat pemuda itu mendongak, dan segera tersadar bahwa ada banyak orang mengantri dibelakangnya, kesulitan untuk melintas dan mencari tempat duduk karena Kyuhyun menghalangi jalan mereka. Kyuhyun membungkuk meminta maaf dan mempersilahkan orang-orang itu untuk lewat. Dia memasukkan ponsel ke dalam kantung celananya kemudian mencari tempat duduk sesuai nomor tiket.

.

.

.

.

.

.

“Guru Lim, lama tak berjumpa…” Suzy menatap bingkai foto di salah satu rak dalam columbarium. Wajah wanita dengan senyum seperti seorang peri, masih sama dengan senyum yang terus diingat Suzy  dalam kepalanya. “Maaf baru datang sekarang, delapan tahun setelah kau meninggal aku baru mengetahui hal ini… maafkan aku…”

Seorang penjaga columbarium sedang mengelap kaca-kaca rak dan bergerak mendekati Suzy. Dia berhenti ketika tiba di rak Guru Lim. Suzy menoleh ke arahnya dan mengangguk sopan.

“Apa anda akan mengelap kaca rak ini?” tanya Suzy lembut.

Penjaga itu mengangguk. “Tapi aku akan menunggumu sampai selesai. Tenang saja,” ujarnya sambil tersenyum.

Suzy menganggukkan kepala. Dia bergerak maju untuk menaruh kembang yang dibawanya, sesaat menyadari bahwa ada sebuket bunga lain yang diletakkan di dekat kendi abu. Kepala Suzy menoleh ke kiri dan ke kanan, tak ada seorang pun disini selain dirinya dan penjaga columbarium. “Ada bunga lain di sini…” gumam Suzy.

“Ah, itu bunga dari anaknya,” ujar sang penjaga seolah tahu apa yang dipikirkan Suzy. “Dia memang sering ke sini, tadi dia juga baru dari sini.  Satu jam lalu kalau tak salah.”

“Oh, ya?” mata Suzy membulat lebar.

“Ya… tapi tadi dia buru-buru. Katanya mau pergi ke luar kota. Dia titip pesan agar aku mengelap foto ibunya dan memberikan wewangian di raknya.” Penjaga itu tertawa kecil. “Dia selalu cerewet jika menyangkut columbarium ibunya. Dasar anak itu, jarang sekali masih ada anak yang seperti dia.”

Senyum haru mengembang di bibir Suzy. Dia menoleh ke arah foto Guru Lim dan memandangi wajah teduh itu lamat-lamat. “Ibu Guru… anda beruntung sekali punya anak yang menyayangi anda seperti ini.”

Suzy melihat bunga pemberian anak Guru Lim. Mawar berwarna merah muda, warna kesukaan Guru Lim.

Warna yang sama dengan warna kembang yang dibawakan Suzy.

.

.

.

.

.

.

Kyuhyun turun dari kereta. Palang selamat datang di Busan menyambut dirinya bersamaan dengan rintik hujan yang mendadak turun. Kyuhyun berlari cepat untuk mencari tempat berteduh. Heran dia, musim panas tetapi kenapa hujan seringkali turun akhir-akhir ini.

Dan Kyuhyun lebih kesal lagi karena dia sama sekali tak membawa persiapan baju, payung, ataupun jaket. Kini tubuhnya menggigil kedinginan di bawah kanopi teras kafe. Kyuhyun tak punya cukup uang untuk membeli payung karena uangnya pas-pasan untuk membei tiket bus ke rumah ibu tirinya.

Kyuhyun memejamkan mata. Entah kenapa dia mengharapkan kehadiran ibu tirinya.

Wanita itu selalu cerewet soal kesehatan Kyuhyun. Pemuda itu ingat betul, bagaimana ibu tirinya memaksa-maksa memasukkan payung ke dalam tas saat dirinya masih SMA. Ibu tirinya juga pintar memasak, meja makan selalu penuh dengan menu berbeda tiap harinya. Kyuhyun suka juga dengan kastangel buatan ibu tirinya, rasanya hangat dan renyah. Kyuhyun selalu membawanya ke kelas dan menggerutu panjang pendek jika Sungmin dengan santai merebut kastangelnya.

Tak pernah ada percakapan-percakapan panjang terbentuk diantara keduanya. Hanya ada kalimat seperti: “Kyuhyun, jangan lupa bawa payung!”, “Kyuhyun, bekalmu di atas meja!”, “Kyuhyun mandi!”, yang kesemuanya memakai tanda seru. Kyuhyun suka sebal dan menganggap ibu tirinya suka perintah-perintah sembarangan. Dan Kyuhyun akan menghadiahi wanita itu tatapan kesal, geraman panjang pendek, namun pada akhirnya melakukan persis yang diperintahkan.

Tetapi kini, jika diingat lagi, semua itu adalah bentuk perhatiannya. Meski mereka tak pernah saling berpelukan dan mengucap kata sayang, itu adalah interaksi antara dua orang yang saling menyayangi.

 

“Kau mengkhawatirkannya, kau rela menyusulnya ke Busan, kau ingin menjelaskan semua padanya… kau tak ingin dia menderita… itu berarti kau sayang padanya.”

 

Kata-kata Bidadari di telepon kembali terngiang di kepala Kyuhyun.

 

“Aku tak akan membujukmu untuk melakukan hal yang tidak ingin kau lakukan. Akan tetapi, coba pikirkan apakah selama ini kau menyayangi ibu tirimu atau tidak? Apa kau merasa nyaman dengan keberadaannya atau tidak? Jika kau telah menemukan jawabannya, kau bisa memutuskan apakah nantinya kau hanya akan menjelaskan kesalahpahaman ini saja, atau sekalian membawanya kembali dalam kehidupanmu.”

 

Kyuhyun memejamkan mata, mengingat-ingat semua kenangannya bersama ibu tirinya. Mulai dari awal kedatangan wanita itu di kehidupannya, sama detik terakhir wanita itu ada di kamarnya.

Kyuhyun menarik napas panjang.

“Bidadari, sepertinya aku sudah menemukan sebuah jawaban…”

.

.

.

.

.

.

To be continued

102 thoughts on “Angel’s Call (005)

  1. sepertina punya teman di telfon itu menyenangkan juga yah,bisa berbagi cerita tanpa sugkan karena tidak saling mengenal tapi pasti susah memcari teman yang cocok,aigoo semakin lama ceritax semakin seru……

  2. part yang cukup sedih saling membagi masalah dan kesedihan dan syukurlah Kyuhyun tidak membenci ibu tirinya. ah, aku jadi penasaran saat mereka berdua bertemu nanti di acara reuni.

  3. Baru beberapa part baca udh kebayang cerita ini kalo dijadiin drama pasti seru.. tentunya dengan para cast yang asli🙂

  4. kyuhyun bener mau ketemu ibu tirinya?? suzy punya dampak bagus juga ya buat kyuhyun.
    cieee yg mau baikan ama ibu tiri

  5. Akhirnya Kyuhyun menyadari bagaimana perasaannya terhadap ibu tirinya.
    Semakin penasaran bagaimana jika mereka bertemu nanti. Pastinya banyak sekali kejutan yang terjadi nanti.

Just talking...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s