Angel’s Call (003)

angels-call-copy

“She teach me a true happiness behind the sadness.”

-Cho Kyuhyun-

 

“Tebak-tebak, aku sedang dimana, Bu?”

Cho Kyuhyun mengulum lollipop stoberi sambil berdiri bersandar di dinding. “Petunjuknya: aku tidak melihat seorangpun melintas disini meski jam sekolah sudah selesai dari tadi. Di dekatku ada pohon maple tapi sudah tua, daunnya tidak ada dan hanya ada ranting meranggas di sekujur tubuh pohon ini.”

Terdengar tawa Lim, ibunya, dari seberang sana. “Hei, anak nakal… kau mau membuat ibu mencarimu, ya?”

Kyuhyun terkekeh.

“Hm… kau ada di gerbang belakang? Dekat lapangan bola?”

Kyuhyun menyeringai senang. “Ding dong, benar, Bu!”

“Baiklah, Ibu akan jemput kau disana. Ibu terpaksa harus memutar nih, Ibu terlanjur ada di gerbang depan.”

Kyuhyun tertawa-tawa. “Tebal-tebak, Bu… apa yang sedang kulakukan?”

“Mm… menunggu Ibumu tercinta?”

Kyuhyun tertawa lagi. Ibunya suka sekali membuatnya tertawa terpingkal-pingkal begini. Dan sekali lagi, Ibu selalu bisa membuat Kyuhyun tahan untuk menunggu jemputan berlama-lama. Lagipula, jika Kyuhyun mulai bosan, dia cukup menghubungi Ibu dan mengajaknya bermain tebak-tebakan.

Itu permainan rahasia antara keduanya, bermain tebak-tebakan. Ayah pun tak mengetahui permainan ini.

Baik Kyuhyun dan Lim selalu memulai sapaan di telepon dengan kata-kata: “Tebak-tebak…”

Bukannya, “halo apa kabar”. Ibu yang mengajarkan hal itu pada Kyuhyun awalnya. Ibu bilang, siapa yang bisa menjawab tebakan dengan benar selama sepuluh kali berturut-turut, maka orang itu pantas dapat hadiah. Apapun yang dia mau.

Kyuhyun menanggapinya dengan semangat. Dia sudah pernah mendapatkan Robotaku karena berhasil menebak keberadaan Ibu sebanyak sepuluh kali. Dan Ibu sudah berkali-kali mendapat ciuman sayang Kyuhyun karena selalu benar dalam menebak apapun yang ditanyakan Kyuhyun.

Di mata Kyuhyun, Lim adalah ibu yang seperti sinar matahari. Ibu yang selalu ceria dan membuatnya ikut ceria. Ibu yang selalu mengulurkan senyum hangat, hingga Kyuhyun belajar untuk tersenyum hangat kepada orang lain. Ibu yang selalu mengajarkan kata “terimakasih” sehingga Kyuhyun tahu bagaimana cara untuk bersyukur dan membalas kebaikan orang lain dengan tulus.

Meskipun, kini keadaan sudah berbeda, meskipun di samping Kyuhyun tak ada lagi Lim yang mengajarkannya banyak hal, meski Kyuhyun tidak bisa bebas menunjukkan senyumannya seperti dulu, namun Kyuhyun tahu benar bahwa dia harus mengucap syukur ketika kebahagiaan menghampirinya.

Ketika Kyuhyun menghubungi lagi Bidadari dan kembali memainkan permainan tebak-tebakannya, dia sungguh bahagia gadis itu meresponnya sama seperti kemarin. Gadis itu menjawabnya lagi, dengan jawaban yang benar pula.

“Kau ini cenayang, ya?” tanya Kyuhyun pada gadis di seberang. Lalu Kyuhyun bisa mendengar ada suara tawa, begitu merdu, dan membuatnya tersenyum tanpa sadar. “Hei, kau tertawa…” ujar Kyuhyun pelan. Ada senyum bercampur geli dalam suara Kyuhyun. Dia menduga-duga apakah gadis itu berpikir Kyuhyun adalah badut kurang kerjaan yang meneleponnya, lalu menuduhnya sembarangan. Eh, atau jangan-jangan gadis itu malah lupa dengan Kyuhyun?

“Hei, mmm… aku yang semalam lho.” Kyuhyun hanya ingin mengingatkan gadis itu, mungkin saja gadis itu lupa.

“Aku tahu.” jawab gadis itu.

“Mm… sudah dulu, ya. Aku harus tampil.” Kyuhyun merasa sedikit bahagia atas percakapan singkat ini. Dan dia harus bersyukur, dia harus berterimakasih pada siapapun penyebab kebahagiaannya. “Terimakasih.”

“Sama-sama.”

Kyuhyun mematikan sambungan telepon. Melangkah menuju podium tempat beberapa orang guru lesnya memasangkan mata tajam padanya. Hari ini mereka mengadakan tes kemampuan bagi siswa-siswi di tempat les demi memperbaiki dan meningkatkan kemampuan tiap murid. Kyuhyun bukan murid terampil dan berbakat seperti teman-teman lesnya yang lain. Kyuhyun selalu lupa letak-letak tuts piano dan bagaimana cara menjaga tempo sebuah permainan agar tidak terlalu cepat atau justru sebaliknya.

Kyuhyun memainkan piano secara asal, dan terburu-buru, seolah ingin mengakhiri permainannya. Sehingga bisa ditebak, tiga orang gurunya langsung memberikan komentar negatif atas penampilannya. Meski begitu, Kyuhyun tetap mengangguk kepala dan mengucapkan terimakasih atas kritikan para guru. Dia bahkan sempat melemparkan senyum pada guru yang paling banyak memberinya kritikan sebelum kembali ke tempat duduk.

Dua pasang mata milik Sungmin memandangi Kyuhyun keheranan ketika pemuda itu duduk di sampingnya.

“Permainanmu bagus,” ucap Sungmin pelan.

Kyuhyun tersenyum. “Permainanku tidak pernah lebih bagus daripada kau.”

“Ya, tapi…” Sungmin mengamati raut Kyuhyun sebentar. “Penampilanmu hari ini terlihat lebih baik dibanding sebelumnya. Setidaknya, kau memainkan satu lagu sampai habis dan bukan hanya tiga nada kemudian langsung berhenti dan melenggang keluar ruangan.”

“Itu hanya sebagai ungkapan bahagia saja,” ucap Kyuhyun.

“Kau sedang bahagia?” tanya Sungmin.

“Memangnya aku tak boleh bahagia?”

“Bukan begitu, hanya saja…”

Kyuhyun memotong ucapan Sungmin dengan satu gerakan tangan. Sungmin menurut dan memilih menutup mulutnya rapat-rapat meski sungguh, dia penasaran sekali apa yang terjadi dengan Kyuhyun.

.

.

.

.

.

.

Suzy diperkenalkan sebagai murid pindahan baru oleh wali kelasnya, Ha Neul, seorang wanita tua yang tampak baik hati dengan seulas senyum di bibir. Suzy membungkuk dalam-dalam dan memperkenalkan dirinya dengan lancar. Semua orang di kelas menyambut kedatangannya dengan ramah, mereka menanyai Suzy macam-macam mulai dari nama lengkap Suzy, kenapa Suzy pindah sekolah, dan dimana tempat tinggal Suzy. Ada juga yang bertanya apakah Suzy ada waktu luang untuk diajak makan siang bersama di kantin, dan kontan pertanyaan itu memicu sorakan riuh menggoda dari penjuru kelas.

Guru Ha Neul segera meredamkan kegaduhan murid-muridnya dan menyudahi sesi tanya-jawab itu. “Kalian bisa bertanya lagi pada Suzy saat istirahat tiba.”

Sepenjuru kelas menggerutu. Guru Ha Neul mengkodekan Suzy untuk duduk di salah satu bangku kosong, dekat jendela, di sebelah gadis kurus berambut kemerahan.

“Hai, Suzy! Aku Nara. Ha Nara. Senang bisa sebangku denganmu.” Nara menjulurkan tangannya.

Suzy membalas uluran tangan Nara dan tersenyum. “Aku juga senang sebangku denganmu.”

“Siwon, sekarang kau bisa pimpin kelas untuk berdoa,” ujar Guru Ha Neul menunjuk deretan bangku kedua dari depan.

Suzy mengangkat kepalanya mendengar nama yang disebut, dan dia baru menyadari bahwa sepupunya, Siwon, sekelas dengannya. Suzy tersenyum, ini lebih dari sekedar menyenangkan, dia mengenal seseorang di kelas ini sehingga tak akan terasa canggung.

Siwon memerintahkan semua orang untuk berdiri dan mereka berdoa penuh khusyuk.

.

.

.

.

.

.

“Kau ingat kan, Suzy… kau dulu pernah tinggal di Seoul selama setahun?”

Siwon duduk di samping Suzy sambil menyerahkan sepotong roti keju padanya. Suzy mengucapkan terimakasih dan membuka bungkusan roti.

“Iya, ingat… waktu umur delapan tahun.”

Siwon mengangguk cepat. “Kamu tidak lupa kan kalau dulu kita satu kelas pas SD?” tanya Siwon lagi.

Suzy mengangguk. “Tidak akan lupa. Masa-masa itu paling lucu, kalau diingat-ingat.”

Dulu Suzy pernah menetap setahun di Seoul, saat ibunya ditugaskan keluar negeri selama sembilan bulan. Karena Suzy tidak ingin dititipi oleh tetangga, dan mereka tak punya saudara di Mokpo, Suzy akhirnya dititipi di rumah Siwon di Seoul selama sembilan bulan. Suzy bersekolah di sekolah yang sama dengan Siwon, mereka sekelas, dan bahkan satu klub binamusika di sekolah. Siwon berperan memegang simbal waktu itu dan Suzy memegang pianika.

Sayang hanya sembilan bulan, karena Suzy harus pindah lagi ke Mokpo begitu Ibu selesai penugasan. Yang diingatnya, dia dan Siwon berpelukan nyaris satu jam sambil menangis tersedu-sedu. Siwon adalah anak tunggal dan baginya Suzy sudah seperti adik kandung, begitu juga dengan Suzy yang menganggap Siwon seperti kakak laki-laki yang bisa diandalkan. Mereka berjanji untuk saling berkirim surat atau menelepon tiap minggu.

Baik Suzy dan Siwon sama-sama punya banyak sepupu. Tapi mereka yang paling dekat, mungkin karena mereka sudah sering tinggal bersama.

“Aku sudah memberitahukan teman kita di SD dulu, yang sekelas denganmu juga, kalau kau kembali ke Seoul. Kau tahu, mereka ternyata masih banyak yang mengingatmu,” cerita Siwon.

Suzy mengerjapkan mata. “Benarkah?”

Siwon mengangguk. “Kau mau bertemu mereka?”

“Mau! Tentu saja mau!” seru Suzy bersemangat. “Kapan? Dimana? Jam berapa? Siapa saja?”

“Wow… tahan dulu, Suzy…” Siwon kaget melihat semangat Suzy yang begitu besar. Tapi Siwon juga terlihat senang karena Suzy merespon positif tawarannya. “Hm, aku akan membicarakan hal ini lagi pada mereka. Sedikit susah bertemu dengan mereka, kau tahu kan… kita sudah SMA dan sama-sama sibuk, lagipula sekolah mereka berlainan dengan kita.”

“Baiklah, itu tidak masalah. Memang siapa saja?”

“Hm… aku baru bicara dengan anak-anak binamusika. Mereka yang paling akrab dengan kita saat SD dulu, kan? Aku sudah menghubungi Sungmin, kau ingat Sungmin kan? Yang memegang pianika sama sepertimu.”

Suzy menerka-nerka nama Sungmin di kepalanya, dan begitu menemukan gambaran seorang anak dengan mata berbinar seperti kucing Garfield dan gigi seperti kelinci, Suzy langsung mengangguk kencang. “Sungmin? Ya, ya, ya… aku ingat.”

“Dia sekarang sudah sering mengadakan resital musik lho.”

“Oh, ya?” Suzy tampak tertarik.

Siwon mengangguk. “Dia seorang pianis sekarang, masih pemula, tapi permainannya tak pernah mengecewakan.”

Mulut Suzy membentuk huruf ‘O’. Dia baru mendapat kabar ini sekarang dan sungguh mengejutkan. Orang yang dulu selalu berbaris di sampingnya saat upacara, orang yang sama-sama dengannya menghapalkan hymne kemerdekaan Korea Selatan, kini sudah menjadi seorang pianis?

“Kau tak pernah menceritakannya di telepon!” Suzy memukul pelan paha Siwon.

“Hahaha, ada banyak hal yang ingin kuceritakan padamu, tapi begitu di telepon… aku lupa apa saja yang harus kulakukan.” Siwon menggaruk tengkuknya.

“Pikun.” Suzy menjulurkan lidah.

“Nanti aku akan bertemu dengan Sungmin lagi, kau mau ikut?” tawar Siwon. “Dia ada les piano sampai jam delapan. Kita akan menunggu di Kim’s jam setengah sembilan.”

Suzy berpikir sebentar.

“Oh, tak usah pura-pura berpikir. Aku yakin kau amat sangat mau!”

Suzy tertawa malu karena tebakan Siwon tepat sasaran. “Ya, baiklah, aku ikut kalau kau memaksa.”

“Aku tak pernah bilang memaksa!” cicit Siwon. Dan keduanya langsung tertawa keras.

.

.

.

.

.

.

Kyuhyun menatap lawan di depannya dengan seringai lebar. Lawannya dari SMA sebelah, sudah jatuh tersungkur di hadapannya. Pemuda dengan tubuh kekar dan mata setajam elang, Kangin. Tubuhnya kini penuh luka dan kemungkinan tulang hidungnya patah—Kyuhyun tadi kelepasan saat meninju hidung Kangin, dia terlalu emosi karena Kangin berhasil membuat punggungnya terkena ikat pinggang bergerigi. Kyuhyun bisa merasakan di balik seragam sekolahnya, cairan merah segar merembes membasahi singlet dan mungkin malah sudah tembus ke luar.

Disamping Kangin, ada tiga-empat-lima orang lain yang bernasib sama dengan sang bos. Terkapar tanpa daya dan hanya terdengar rintihan dari

“Kita pergi?” ujar Henry tersengal-sengal.

“Tunggu,” cegah Kyuhyun saat Henry dan Zhoumi bersiap-siap pergi.

Kyuhyun berjongkok di depan Kangin, menyentuh kerah kemeja pemuda itu dengan ujung telunjuknya. Kyuhyun membungkuk sedikit dan berbisik pelan, “jadi, sudah kubilang… jangan ganggu murid SMA kami. Kau tahu, dosa itu kadang dibalas secara langsung oleh Tuhan. Anggap saja, Tuhan sedang membalas dosamu melalui aku.”

Kyuhyun menepuk-nepuk kepala Kangin dan berdiri. Dia sempat menyepak ransel Kangin hingga terlempar jauh dari pemuda itu. Kemudian, Kyuhyun berbalik dan menyusul Henry serta Zhoumi yang sudah berjalan duluan. Mereka berhenti di depan kedai jajanan dekat pasar yang selalu menjadi tempat berkumpul mereka.

“Mana Sungmin?” tanya Kyuhyun. “Seharusnya dia sudah selesai latihan piano. Kenapa malah belum menyusul juga?”

“Entahlah, mungkin ada urusan.” Zhoumi menendang kaleng bekas yang tergeletak di tengah jalan.

“Coba hubungi dia, Henry,” ujar Kyuhyun.

Henry mengangguk dan mengeluarkan ponselnya. “Tapi, Kyu, bagaimana nanti kalau Sungmin bertanya alasan kau tidak ikut les piano?”

Pertanyaan Henry dibalas desisan sebal Kyuhyun. Henry meringis pelan dan cepat-cepat menghubungi Sungmin tanpa bertanya lagi pada Kyuhyun.

Zhoumi masuk ke dalam kedai dan memesan beberapa makanan serta minuman. Henry menyusul masuk dan mengambil meja di pinggir. Kyuhyun sendiri malah tetap berada di luar, ada pesan singkat masuk di ponselnya, dari Ayah.

 

Kau bolos lagi? Lihat apa yang akan kau dapatkan sepulang nanti.

 

Kyuhyun memandang layar ponselnya dengan ekspresi kosong. Pesan singkat itu membuat seluruh mood Kyuhyun rusak. Kyuhyun tidak membalas pesan itu dan hanya memandangi langit malam yang cerah. Beberapa mobil berlalu lalang dengan kecepatan tinggi seolah pengemudinya ingin segera sampai ke rumah, ironis dengan Kyuhyun yang selalu mencari alasan agar bertahan lebih lama di luar rumah.

Jemari Kyuhyun mengusap-usap layar ponselnya lagi, dia memutuskan untuk menelepon Bidadari. Entah apa alasannya, tapi Kyuhyun hanya sedang ingin bicara pada seseorang.

Terdengar nada sambung, suara Tiffany SNSD menyanyikan lagu Genie. Kyuhyun menunggu dengan sabar sampai akhirnya telepon itu diangkat.

“Tebak-tebak,” nada suara Kyuhyun berubah sedikit bersemangat, “aku sedang ada dimana? Tak ada petunjuk yang akan kuberikan kali ini.”

Samar-samar Kyuhyun bisa mendengar suara dentingan garpu dan sendok yang beradu, dan orang-orang yang berteriak memesan makanan. Tebakannya, gadis Bidadari ini sedang ada di restoran atau tempat makan umum.

“Di suatu tempat di bumi,” jawab Bidadari.

Kyuhyun tersenyum lebar. Jawaban gadis ini tidak salah sama sekali. “Tebak-tebak, apa yang sedang aku lakukan?”

“Meneleponku.”

Kyuhyun menjentikkan jari bersemangat, terlalu amat sangat bersemangat malah. Mood jeleknya seketika menghilang begitu saja. Bidadari ini pintar, tebak Kyuhyun. Siapapun gadis yang disebutnya Bidadari, dia bukan orang biasa. Mungkin dia memang manusia, tapi entahlah, Kyuhyun merasa Bidadari beda dari gadis kebanyakan.

Dari caranya bertutur kata, struktur kalimatnya yang terdengar teratur dan indah, juga pembawaannya yang tenang. Kyuhyun selalu dibuat tercengang ketika berbicara dengan gadis Bidadari.

“Aku mau menanyakan pendapatmu…” Kyuhyun berjalan sedikit menjauh dari jalan raya. “Kemana kau akan pergi jika kau tidak ingin pulang ke rumah?”

Kyuhyun berperasangka bahwa gadis itu mungkin akan mengusulkannya untuk pergi karaoke, sauna, atau bar. Tempat-tempat sempurna untuk mengasingkan diri. Namun dia kembali harus mengakui bahwa gadisi ini berbeda, tatkala yang keluar dari bibir gadis itu adalah, “rumah.”

“Rumah?” Kyuhyun memastikan tak salah dengar.

“Iya, rumah. Rumahmu.”

“Aku sedang tak ingin pulang ke rumah tapi kenapa kau justru menyuruhku pergi ke rumahku?”

“Karena saat kau bilang tidak ingin pulang, sesungguhnya kau amat sangat ingin pulang. Mungkin ada masalah yang harus kau selesaikan di rumah atau ada hal penting di rumah yang ingin kau jauhi. Melarikan diri dan menghindar tak akan membuat perasaan lebih baik.”

Kyuhyun duduk di jalanan aspal dengan posisi bersila. Merenungi ucapan yang terlontar di seberang sambungan. Kyuhyun menimbang-nimbang apakah dia harus menceritakan masalahnya.

“Sebenarnya… kemungkinan aku akan bertengkar dengan ayahku jika pulang ke rumah,” ujar Kyuhyun. “Aku melakukan sesuatu yang tidak disukainya. Tapi itu kupikir karena aku tak suka dia selalu mengatur-ngaturku, dia terlalu mencampuri segala macam urusanku. Dia menyuruhku melakukan sesuatu yang tak kusuka, yang tak kukuasai, hanya semata-mata demi menjaga egonya.”

Sunyi beberapa saat. Kyuhyun bisa mendengar suara napas teratur gadis Bidadari.

“Kau pernah mengatakan apa yang kau pikirkan pada ayahmu?”

“Tidak. Buat apa?”

“Kenapa tidak? Itu berguna banyak buatmu.”

“Maksudmu?”

“Kau pernah mengatakan pada ayahmu kau tidak suka diatur olehnya?”

“Aku tidak bisa mengatakannya. Dia tak akan mendengar.”

“Kau yakin?”

Kyuhyun terlihat bimbang. “Ya…”

“Kau sepertinya bimbang.”

Kyuhyun terdiam sesaat, kemudian tersenyum. “Kau tahu…,” Kyuhyun menarik napas panjang. “…aku akan mencoba mengatakan pendapatku.”

“Bagus.”

“Tapi aku tidak yakin akan berhasil. Aku pernah mengatakan padanya agar dia tak melarangku mencari kebahagiaan sendiri. Tapi pada akhirnya dia tetap mencampuri kebahagiaanku.”

“Apakah dalam konteks kebahagiaan yang kau buat, tidak ada nama ayahmu di dalamnya?” tanya gadis itu.

Kyuhyun termenung. Pertanyaan itu seperti menamparnya dengan keras. Kebahagiaan… tidak ada nama ayah di dalam kebahagiaan yang direncanakannya?

Iya, dia berharap kebahagiaan akan timbul ketika dia tak menganggap Ayah sebagai ayahnya lagi.

Jelas sekali, bahwa dia tak mencantumkan, bahkan mendepak nama Ayah dari konsep kebahagiaan yang dibuatnya.

“Kalau aku boleh tahu, apa yang membuatmu bahagia?” tanya gadis Bidadari lagi.

“A-aku…” Kyuhyun menundukkan kepala. Matanya mendadak terasa panas. Dia tidak bisa mengeluarkan kata-kata dengan benar untuk menjawab pertanyaan itu. “A-aku… aku…”

 

“Kebahagiaanku, saat aku tak lagi menganggapmu sebagai ayah.”

 

Kyuhyun mengusap matanya yang berair. Dia terisak-isak pelan, masih dengan ponsel yang ditempelkan di telinga.

“Kebahagiaanku adalah menganggap ayahku bukan lagi sebagai ayahku… tapi kenapa… kenapa… aku tetap merasa menderita ketika aku memalingkan wajah darinya?”

Gadis Bidadari itu menghela napas panjang. “Mudah sekali jawabannya, itu bukan kebahagiaan sejati yang kau inginkan.”

Ucapan gadis itu benar, Kyuhyun menyadari sepenuhnya. Ucapan itu tak terbantahkan oleh kalimat apapun yang biasa Kyuhyun gunakan untuk mendebat orang lain. Kyuhyun tak bisa menyangkalnya. Itu benar, sebenar-benarnya kebenaran.

Menganggap Ayah bukan lagi sebagai ayahnya… bukan itu kebahagiaan yang diinginkannya.

Kyuhyun kembali menangis pelan. Pelan sekali agar tak didengar Zhoumi dan Henry. Pelan, dan hanya perlu didengar oleh gadis Bidadari saja.

Ya, hanya dia saja yang boleh tahu sisi lemah Kyuhyun. Hanya gadis asing yang dikenalnya lewat telepon saja, yang boleh tahu hal ini.

.

.

.

.

.

.

To be continued.

hanya akan dilanjut jika ada 20 loud readers

komen, kritik, bashing, diterima dgn senang hati🙂

141 thoughts on “Angel’s Call (003)

  1. suzy’nya dewasa. banget. cara Suzy komunikasi sama kyu keren banget, tp itu pasti karna ka Shopie yg keren bisa nulis cerita top kaya ini..akhirnya kyu punya tempat buat curhat & nangis, ikut seneng ^^

  2. bagus,, bikin aku tersenyum² sendiri membacanya,, tapi aku sedih pas baca bagian percakapan kyu Ama suzy,,
    mereka cocok,, saling membantu,,,

  3. Emang kyu aslinya suka berantem kaya di ff ini juga kak ?
    Oh iya suka sekali sama ff yang inii
    kalo ada waktu sama cerita baru di share lagi yakk

  4. ommo,,,memang cuma suzy yg selalu bisa mengerti kyu 😍😍😍😍,,,kyu sepertinya sangat kesepian….Dia butuh orang bisa mendengarkan keluh kesahnya dan dia menemukan orang yang tepat….Semoga cepat ketemu suzy….

  5. uhh Suzy dewasa banget, cocok sama julukan yg Kyuhyun berikan ‘Bidadari’. Kyuhyun, walau disini berwatak anak nakal, sebenarnya dia cuma sedih dan kesepian huhu (;_;)

  6. Ternyata ceritanya masih SMA.. aku kira kyuhyun sesosok org dewasa y engga ad kerjaan atau org y lagi stress berat. tapi cocok juga sih cuma anak SMA yang bisa ngelakuin hal” aneh nelponin org” dgn no y diacak. hehe aku pas SMA dulu juga pernah ngelakuin hal itu.
    oke.. part ini masih menyisakan pertanyaan” ada apa dengan suzy.. aku akan lanjut part berikutnya.

  7. dari telpon iseng sekarang jadi deket gitu, kyuhyun sampai curhat masalah pribadinya, suzy sama sungmin mau ketemuan, kyuhyun kali aja berkesempatan ketemu suzy ini

  8. Wah wah wah, kyuhyun sma auzy jadi makin deket nih, kira kira kpan ya suzy sma kyuhyun ketemu?
    Lanjut baca besok yaa, udah malam mau bobo hehehe

  9. Ya ampun tingkah Suzy gemesin duh.
    Iya Suzy benar. Kyuhyun hanya perlu menyampaikan pendapatnya kepada ayahnya. Dan kembali memasukan nama ayahnya kedalam daftar kebahagiaannya.
    Kyuhyun teman Suzy waktu SD juga kah? Wah ini semakin menarik.

  10. sedihnya kyu curhat sama suzy sampe nangis2 gitu, suzynya juga jadi sedih kan, chemistry mereka emang dapet banget, kyu gampang curhat, suzynya juga pendengar dan penasehat yang baik banget. makin suka sama merekaaa~

  11. emang dasar cenayang. seneng ih kalo ngobrol sama suzy kaya ngobrol sama psikolog. kerennn. gimana gak kesengsem kyuhyun nemu perempuan yg always listening kaya suzy gini😀

  12. ouuu.. Suzy emang cerdas. dikehidupan nyata, jarang yang bakal punya jawaban kaya SuZy.. pantes KyuHyun makin sering telfon suZy.. jadi pengen telfon Kyu.. *eh

Just talking...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s