Mr.Headstone (Track 06)

Author : Sophie Maya

Title     : Mr.Headstone (Track 06)

Cast     : Cho Kyuhyun, Choi Siwon, Lee Sungmin, Kim Ryeowook, Lee Hyuk Jae, Mia

Support Cast: Park Jungsoo

Genre  : romance

Rated  : G/AU

Length: chaptered

Type    : ?

Summary         : The one that had head like a stone

mr-headstone-copy

poster thx to springsabila@cafeposterart

Disclaimer       : this story is MINE.

 

Track 06 : Frozen Winter

 

Kyuhyun mengutak-atik laptop-nya dengan beberapa kerutan kening menghiasi dahinya. Ponselnya sudah tersambung dengan laptop menggunakan kabel USB, dan sekarang dia sibuk mengklik mouse-nya ke beberapa obyek, mengamatinya seksama sambil membanding-bandingkan dengan obyek lainnya. Sesekali Kyuhyun menyeruput kopinya setelah meminum’Squalene’. Ternyata obat dari Jepang itu tidak buruk juga, cukup menghangatkan badan Kyuhyun yang memang rentan terhadap udara dingin. Kyuhyun memandangi cangkir kopinya sambil tersenyum-senyum, ini sudah cangkir ke tiga yang dia minum dan benar-benar terasa nikmat. Kopi itu sangat hangat jika dicampur dengan obat itu. Mungkin sebelum pulang dari Melbourne, Kyuhyun harus membeli beberapa kotak obat itu lagi, lumayan untuk persediaan di Seoul nanti.

 

”Tidak. Kali ini aku tidak akan membiarkan kau gagal, Kyu…”

”Kalau begitu, ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi pada Mia. Semuanya, ceritakan semuanya padaku.”

Siwon memandang Kyuhyun penuh arti. ”Kau tahu kan aku tidak bisa menceritakan semuanya pada Mia, karena ini akan merubah takdir. Akupun juga tidak bisa menceritakan semuanya padamu, kau tahu kan… kau bisa saja mengubah apa yang seharusnya sudah terjadi.”

”Ya, aku mengerti itu. Kau sudah pernah mengatakannya padaku bertahun-tahun yang lalu.”

”Keinginan Mia hidup kembali adalah menghadiri perceraian ibunya dan menjelaskan pada ibunya bahwa selama ini Mia mengalami trauma berat dengan Mister Alex, suami ibunya sekarang. Sayangnya, Mia tidak mengingat apa yang membuatnya trauma. Padahal jika gadis itu mengingatnya, tentu perceraian ibunya yang ditunda ini akan segera terlaksana. Tugasmu, Kyu… kau harus membuat Mia ingat dengan rasa trauma-nya itu. Mungkin buku harian Mia bisa membantumu. Tetapi aku tidak bisa mengatakan dimana buku itu saat ini”

 

Tiba-tiba Manajer Park dan ketiga anggota Mr.headstone lainnya masuk ke kamar, mereka habis kembali dari wawancara. Kyuhyun agak bersalah karena melewati sesi wawancara itu, apalagi dilihatnya wajah Manajer Park tampak kusut.

”Kau kemana saja seharian?” tanya Manajer Park menatap Kyuhyun tajam.

”Manajer, ini sudah malam… sebaiknya Manajer tidur saja, pasti sudah capek kan? Kita juga udah capek seharian ini pergi terus.” Ryeowook berusaha meredam kemarahan Manajer Park.

Manajer Park menarik napas sebentar, sebelum akhirnya mengangguk dan pergi ke kamar sebelah. Meninggalkan keempat anggota Mr.Headstone di kamar mereka. Kamar Manajer Park dan Mr.Headstone memang dipisah di dua ruangan yang berbeda, itu disengaja agar Mr.Headstone bisa sedikit leluasa beristirahat tanpa campur tangan manajer mereka.

Hening sesaat. Sebelum akhirnya ketiga anggota Mr.Headstone mengerubungi Kyuhyun dan menatapnya penuh keingintahuan.

”Kyuhyun hyeong kau kemana aja?” tanya Sungmin.

”Aku cuma jalan-jalan sebentar.” jawab Kyuhyun pendek.

”Bohong. Masa tiap hari jalan-jalan?” Sungmin tampak tak percaya.

Kyuhyun mendesah. Bingung mau menjelaskan apa. Ia memilih untuk meregangkan tubuhnya dan melemaskan otot-ototnya yang terasa kaku gara-gara duduk lama di depan laptop.

”Jangan diulangi lagi, kau kan leader kita. Dan kalau ada masalah, cerita-cerita sama kita. Kita itu bukan cuma teman kerja, kita itu udah kayak saudara, saling bantu, saling melengkapi.” ujar Ryeowook panjang lebar. Sungmin dan Eunhyuk mengangguk mengiyakan.

”Iya, aku ngerti kok. Makasih ya. Aku cuma… belum bisa cerita ke kalian.” Kyuhyun memasang senyum lebarnya. Berharap bisa menutupi apa yang sedang dihadapinya.

”Baiklah kalau itu yang kau mau. Kita nggak pernah maksa kok.” Eunhyuk tersenyum tipis.

Kyuhyun menatap ketiga temannya dengan haru. Inilah yang membuatnya sanggup bertahan menjadi leader Mr.Headstone. Mereka bukan cuma band Mr.Headstone, mereka itu keluarga. Sebuah keluarga yang terdiri dari empat orang, Kyuhyun, Ryeowook, Sungmin, dan Eunhyuk. Selamanya akan jadi empat orang dan terus empat orang.

”Makasih ya…,” ucap Kyuhyun tulus.

”Yup. Tapi besok kita ada jadwal pemotretan lho. Kau bisa ikut, kan? Kasihan tuh Manajer Park udah mencak-mencak mencarimu,” sahut Sungmin.

”Yeahh… besok aku ikut pemotretan kok.” Kyuhyun menganggukkan kepala.

”Sip deh kalau gitu!” seru Ryeowook tersenyum puas. Kemudian matanya melirik ke arah cangkir yang tergeletak di atas meja. ”Kau minum kopi?” tanyanya pada Kyuhyun saat melihat isi cangkir yang masih agak penuh itu.

”Buat menghangatkan tubuh,” tukas Kyuhyun.

”Lalu ini apa?” tanya Ryeowook menunjuk kotak Squalene.

”Itu… Squalene…” Kyuhyun mengambil kotak dari tangan Ryeowook. ”Ini obat impor dari Jepang. Di sana sih harganya tidak semahal di sini. Obat ini mujarab plus praktis buat mengobati hawa dingin di malam hari, daripada masuk angin? Nah paling cocok itu setelah minum Squalene, kau minum teh seduh atau kopi, biar makin hangat dan makin nikmat.” Kyuhyun terdiam sebentar. Hei, hei, hei… kenapa dia jadi copy-paste ucapan Mia?

”Kok jadi kayak promosi obat ini sih?” goda Sungmin yang menangkap gelagat aneh dari Kyuhyun. ”Hayooo….”

”Hayo apa?” sambar Kyuhyun. ”Jangan berpikiran aneh-aneh deh.” Kyuhyun melirik laptop dan menurunkan layarnya perlahan. Ia tidak ingin ada yang tahu apa yang sedang dikerjakannya sekarang. Tidak untuk saat ini.

 

.

.

.

.

.

.

 

Melbourne, 11 Juli 2009

Hari ini Mr.Headstone akan melakukan pemotretan sebuah majalah di Healesville Sanctuary, sejenis dengan kebun binatang. Majalah itu nantinya akan memberitakan tentang wisata-wisata di Melbourne yang pernah didatangi Mr.Headstone. Sebenarnya ini sejenis promosi akan tempat wisata di Melbourne, dengan Mr.Headstone sebagai pengantarnya. Buat Mr.Headstone sendiri ini seperti acara jalan-jalan bagi mereka. Karena selama di Melbourne, Manajer Park sama sekali tidak memperbolehkan mereka pergi kemana-mana—kecuali Kyuhyun yang nekat beberapa kali kabur dari tugasnya—selama di Melbourne jadwal mereka tersusun padat, bahkan sangat padat. Waktu beristirahat mereka digunakan hanya untuk balik ke hotel, ganti baju, dan pergi lagi. Begitu seterusnya.

Makanya pemotretan ini benar-benar dimaksimalkan oleh Mr.Headstone. Mereka sangat bersemangat, bahkan mereka memaksa Manajer Park untuk datang setengah jam sebelum pemotretan dimulai. Tahu kenapa? Mereka ingin menikmati Healesville Sanctuary lebih lama lagi.

Healesville Sanctuary dipilih jadi tempat pemotretan mereka karena kebun binatang ini berbeda dengan Melbourne Zoo, di tempat ini para binatang dibiarkan hidup bebas alias tidak dikandang, sehingga pengunjung bisa berinteraksi langsung dengan para binatang. Di sini ada banyak koala dan kangguru yang dapat dilihat secara dekat, bahkan kalau nyali cukup berani, bisa sekalian ajak kangguru bersalaman.

Dari tadi keempat anggota Mr.Headstone berlarian di sekitar kebun binatang sambil sibuk berfoto dengan kangguru, padahal sesi foto belum dimulai, kru-kru juga pada belum datang.

Masih jam tujuh pagi, jadi kebun binatang cukup sepi dari pengunjung. Kyuhyun dan Ryeowook berjalan berdua menuju salah satu koala yang tengah duduk sendirian. Mereka sibuk bertaruh siapa yang bisa menyentuh koala itu tanpa ketakutan. Dan pertaruhan itu justru berakhir dengan debat kusir yang tampaknya tak akan selesai meski tahun baru lunar tiba.

Sementara Sungmin malah sibuk mengukur tingginya dengan kangguru.

”Sudah difoto belum??” teriak Sungmin pada Eunhyuk yang membidikkan kamera ponsel ke arahnya. Sungmin tengah berdiri di samping kangguru yang tingginya hampir sama dengannya. Eunhyuk hampir saja tertawa terbahak-bahak melihat hal itu, Sungmin seperti salah satu penghuni kebun binatang ini juga.

Akhirnya acara bermain-main mereka terpaksa berhenti sampai di situ. Para kru, fotografer, wartawan, dan sebagainya mulai berdatangan dan menyapa mereka satu persatu. Mereka disuruh berganti baju secepat mungkin karena hari sudah keburu siang. Tukang make-up juga sudah stand by menunggu mereka untuk didandani.

.

.

.

.

.

.

 

 

Mr.Headstone sibuk mencoba-coba kostum yang akan mereka pakai pada 14 Juli nanti. Akan ada sepuluh baju berbeda yang mereka pakai saat konser, dan semuanya disesuaikan dengan lagu yang mereka bawa. Berkali-kali baju itu harus dicatat kekurangannya, apa ada yang kekecilan, kebesaran, atau malah jahitannya kurang erat, semua dicek satu persatu oleh Mr.Headstone.

Kalau sudah soal baju, yang paling banyak protes tentu Eunhyuk. Dari tadi nggak ada henti-hentinya dia mengoceh masalah lengannya yang terlalu lebar membuatnya tampak gendut, atau masalah celana yang cingkrang, sampai letak kancing yang tidak sesuai di sebelah kiri dan kanannya. Eunhyuk membuat para coordi mereka sampai kewalahan dan berkali-kali memperbaiki baju pria itu. Jika sudah begitu, anggota Mr.Headstone lain hanya bisa geleng-geleng kepala. Cerewetnya Eunhyuk kambuh lagi.

”Bajunya nggak usah diperbaiki lagi, gitu sudah cukup kok.” Sungmin memegang baju Eunhyuk dan memperhatikannya teliti. Tidak ada yang salah dengan baju itu, tapi tetap saja Eunhyuk berceloteh ria agar bajunya minta diganti. Padahal menurut Sungmin pribadi, baju itu benar-benar bagus dipakai Eunhyuk.

Eunhyuk menggeleng kencang. ”Kau melihatnya tidak teliti sih, lihat nih ya…” Eunhyuk merentangkan tangannya. ”Lihat nih, ini baju lengan panjang, tapi kependekan di aku, panjangnya nggak sampai pergelangan tangan. Kan jelek.” Eunhyuk bersungut-sungut.

”Maafkan saya, nanti saya perbaiki,” ujar salah satu coordi sambil membungkukkan badannya.

”Mohon kalian maklumi keadaan Eunhyuk. Tangannya memang lebih panjang dari kakinya soalnya dia ’tangan panjang’, jadi kalau bikin lengan baju lebih panjangan lagi untuk dia,” goda Sungmin seraya mengerling pada Eunhyuk.

Eunhyuk langsung menatapnya dengan mata melotot.

”Kyuhyun, kau mau kemana?” suara Manajer Park menghentikan aktifitas semua anggota Mr.Headstone. Mereka langsung menoleh ke arah Manajer Park yang tengah berkacak pinggang dan menatap tajam Kyuhyun.

Kyuhyun tampak berdiri di depan pintu dengan memakai hoodie berwarna biru yang tudungnya menutupi kepala. Sedari tadi tangannya saling digosok-gosokkan untuk mengatasi rasa dingin, pandangan Kyuhyun terus saja tertuju ke luar pintu, seperti ingin mencari celah untuk keluar dari ruangan ini. Sementara Manajer Park menghalangi Kyuhyun, tubuhnya membloking Kyuhyun sehingga menutup kemungkinan Kyuhyun untuk pergi.

”Manajer Park… choneun…” Kyuhyun menundukkan kepalanya, matanya berpendar sesaat seakan mencari alasan yang tepat. ”Aku ada urusan sebentar, nanti aku kembali lagi ke sini.”

Manajer Park menyipitkan matanya. Meneliti ekspresi Kyuhyun dengan seksama lalu menggeleng perlahan. ”Aniyo. Kamu tetap di sini. Kyuhyun, sudah beberapa hari ini kamu selalu menghilang tanpa sebab. Kau membuatku khawatir, membuat teman-temanmu terpaksa berbohong pada wartawan bahwa kamu sakit. Kamu menghilang tanpa ada kabar dan kamu tidak pernah memberiku penjelasan mengenai hal itu. Sekarang kamu tidak boleh pergi lagi, kamu harus menyelesaikan kegiatan hari ini sesuai jadwal.”

Kyuhyun menengadah menatap Manajer Park lemas. ”Aku akan jelaskan hal ini ketika sudah saatnya. Kumohon, Manajer… ijinkan aku pergi sebentar saja. Aku.. ada perlu dengan seseorang…,” ucap Kyuhyun terbata.

Manajer Park mengernyitkan dahi. ”Nugu?”

”Aku tidak bisa memberitahu, sudah kubilang ini belum saatnya.” Kyuhyun membungkukkan kepala.

”Kalau begitu aku tidak akan membiarkanmu pergi.” Manajer Park bersikukuh.

Kyuhyun terlihat gelagapan. ”Ma-manajer

”Aku bilang tidak.”

Perdebatan itu membuat Ryeowook, Sungmin, dan Eunhyuk saling lempar pandang. Sepertinya Manajer Park sudah mulai hilang kesabaran menghadapi leader mereka satu itu. Mungkin sebagai manajer, beliau merasa sangat bertanggung-jawab atas jadwal-jadwal Mr.Headstone yang sudah ditetapkan, jadi jelas ia merasa kesal melihat tingkah Kyuhyun belakangan ini, padahal sebelum-sebelumnya Kyuhyun sama sekali tidak pernah mangkir tanpa alasan yang jelas.

”Manajer Park…” Kyuhyun terlihat memelas.

”Tidak.” Manajer Park menggelengkan kepala kuat-kuat. Semakin menghalangi pintu keluar dengan kedua tangannya.

Kyuhyun menghembuskan napas berkali-kali. Menatap Manajer Park dengan putus asa, keringat menjalar di sekujur tubuhnya. Berkali-kali Kyuhyun melirik jam di tangannya, waktu semakin mepet dan dia harus segera pergi dari sini. Kyuhyun menghela napas lagi dan memantapkan hatinya. ”Mianhamnida…,” tiba-tiba Kyuhyun membungkukkan badannya dalam-dalam.

Melihat tingkah Kyuhyun, Manajer Park malah jadi bingung. Kenapa mendadak Kyuhyun membungkukkan badan—

Belum sempat Manajer Park berkata-kata, Kyuhyun seketika mendorong kuat tubuh Manajer Park hingga terjatuh di lantai.

BRUK.

Mianhamnida, Manajer!” seru Kyuhyun dengan raut bersalah. Tapi sedetik kemudian Kyuhyun langsung berlari sekuat tenaga meninggalkan ruangan.

”Kyu-Kyuhyun!” Manajer Park tampak gelagapan, beliau berusaha berdiri lalu melirik ke arah orang-orang yang menatapnya linglung. ”Tunggu apa lagi, semua kejar Kyuhyun! Tangkap dia! Panggilkan satpam! Panggil staff! TANGKAP KYUHYUN SAMPAI DAPAT!!!” teriak Manajer Park galak, refleks membuat orang-orang yang sibuk mengurusi baju langsung berlari ke luar ruangan dan ikut mengejar Kyuhyun.

”Ya Tuhan, Kyuhyun… leader kita itu…,” geram Sungmin sambil menarik Ryeowook dan Eunhyuk ikut berlari mengejar Kyuhyun. Gedung butik tempat mereka mengepas baju mendadak ribut dan heboh. Terdengar derap-derap kaki orang berlarian sepanjang koridor. Mereka berteriak-teriak memanggil Kyuhyun yang terus saja berlari dengan kecepatan penuh.

”Naik lift! Ayo turun ke lantai satu, pasti dia mau keluar dari gedung ini. Cepat ayo!!” perintah Manajer Park seraya menarik beberapa satpam masuk ke lift dan dengan sigap menekan tombol lift menuju lantai satu.

Kyuhyun terus saja berlari dan menuruni tangga. Di belakangnya banyak orang tengah mengejar, membuatnya jadi panik. Kyuhyun melirik ke kiri dan kanan, sekarang dia berada di lantai tiga dan masih ada dua lantai lagi sebelum bisa keluar dari gedung ini. Tapi jika banyak orang yang mengejarnya seperti ini, sudah pasti ada juga yang akan menghadangnya di lantai satu, begitu pikir Kyuhyun. Dia buru-buru memutar otak untuk mencari jalan keluar. Lorong-lorong gedung mendadak terlihat semakin jauh baginya.

Kaki Kyuhyun terus saja berlari dan melompati dua-tiga anak tangga sekaligus. Dia bisa mendengar orang-orang berteriak menyuruhnya berhenti. Bahkan dia bisa mendengar Ryeowook dan Sungmin ikut berteriak memanggil namanya!

”Kyuhyun, berhenti! Manajer bisa marah besar sama kamu kalau kamu ngotot pergi!!” teriak Ryeowook dari kejauhan.

YAA!! Kyuhyun berhenti!”

”Kyuhyun!!”

Sial! Entah dari mana mereka bisa ikut-ikutan mengejar Kyuhyun seperti ini. Sebenarnya Kyuhyun nggak nyangka dia tadi bisa mendorong manajernya sendiri—itu reflek dilakukannya, di luar kesadarannya. Tadi yang ada di pikirannya hanya bagaimana cara agar bisa menemui Mia untuk mencari diary itu bersama. Diary yang akan membuat Mia mengingat semuanya. Kyuhyun melirik jam tangannya. Sudah jam dua kurang lima belas menit. Padahal letak Melbourne Town Hall dari tempat ini lumayan jauh, apa dia keburu?

Kyuhyun mengedarkan pandangannya sekeliling. Napasnya sudah tak teratur lagi ditambah dia keringatan gara-gara kecapekan. Dia merasa sangat pusing dan kantor itu seperti berputar-putar. Koridor terasa meliuk-liuk bak cacing kepanasan. Jendela-jendela di sisi kiri kanan seakan bergoyang-goyang dan berubah-ubah bentuk, kadang jadi segitiga, bundar, persegi panjang…

Aku kenapa? Aku kenapa? Kyuhyun sibuk bertanya-tanya dalam hati. Dia bisa merasakan tangannya gemetar hebat dan kakinya terasa tak bertenaga. Badan Kyuhyun semakin melemas, matanya mulai berkunang-kunang, dan kekuatannya untuk berdiripun seakan sudah raib.

”Kyuhyun!!!”

Seseorang berteriak persis di belakang Kyuhyun tepat saat tubuh Kyuhyun seketika ambruk ke tanah.

.

.

.

.

.

.

 

”Bagaimana keadaannya, Dok?” Ryeowook menatap cemas Kyuhyun yang terbaring di kasur, mata Kyuhyun masih terpejam erat. Tadi siang Kyuhyun berlari kabur dari butik tempat mereka mengepas baju, tapi tiba-tiba saja Kyuhyun pingsan. Untung saja Ryeowook berhasil berlari menyusulnya, sehingga saat tubuh Kyuhyun terjatuh, Ryeowook langsung menangkapnya. Lalu Ryeowook melaporkannya pada manajer dan anggota Mr.Headstone lainnya. Manajer Park awalnya hendak memarahi Kyuhyun, tapi begitu dilihatnya Kyuhyun pingsan, Manajer Park mengurungkan niatnya. Mereka semua memutuskan membawa Kyuhyun ke hotel dan menelepon dokter.

Kyuhyun dehidrasi. Itu kata dokter. Selama di Melbourne, Kyuhyun terlalu banyak berjalan di luar dan jarang minum, ditambah dengan kondisi fisik Kyuhyun yang memang rentan pada salju. Kyuhyun terlalu kecapekan dengan aktifitasnya di luar sehingga staminanya drop. Apalagi setelah berlari-lari di gedung dengan kecepatan tinggi, semakin memperburuk keadaan tubuhnya. Kata dokter, sebenarnya udah dari kemarin-kemarin Kyuhyun kecapekan, tapi entah apa alasannya—semua tidak ada yang tahu—Kyuhyun nggak ngasih tahu hal itu ke siapapun.

”Kyuhyun butuh istirahat lebih agar keadaannya pulih,” ujar dokter sambil memasukkan perlengkapannya. Dokter itu lalu memberi catatan kecil pada Ryeowook. ”Harap Kyuhyun meminum vitamin yang sudah saya tulis di sini dan saran saya, dia tidak boleh capek dulu. Istirahat saja sampai satu dua hari, agar staminanya bisa naik lagi.”

Ryeowook menerima catatan kecil itu dan mengangguk. ”Baik, Dok. Terimakasih atas sarannya,” ujarnya sambil tersenyum.

”Mari, saya antar, Dok,” ujar Sungmin mempersilahkan dokter itu keluar dari kamar.

Sementara Ryeowook dan Eunhyuk duduk di pinggir kasur, menatap Kyuhyun yang masih belum tersadar. Eunhyuk mencoba memegang dahi Kyuhyun dan terasa panas.

”Dia benar-benar demam…,” gumam Eunhyuk lirih.

Ryeowook menarik selimut hingga menutupi badan Kyuhyun. Berharap tubuh Kyuhyun menjadi sedikit hangat. Sorot matanya menatap Kyuhyun penuh khawatir dan berharap apapun yang membuat Kyuhyun seperti ini, tidak akan terulang lagi.

 

.

.

.

.

.

.

 

 

Setelah aku membuat Mia mengingat rasa traumanya, perceraian itu akan terjadi?”Kyuhyun menatap Siwon sangsi. ”Heran, mana mungkin ada anak yang mau orang tuanya bercerai. Ini aneh.”

”Ini tidak aneh karena ayah Mia bukan ayah kandungnya, pria itu ayah tirinya. Lagipula kau tahu kan kenapa para tetinggi di dunia kematian bisa mengabulkan permintaannya untuk dijadikan alasan hidup kembali? Itu pasti karena permintaan Mia amat penting dan bisa menjadi kebaikan bersama.”

Kyuhyun ingat bagaimana ayahnya dulu bisa hidup kembali karena ingin meminta maaf kepada seluruh fans yang terkena badai salju. Ia sadar sekarang, permintaan ayahnya itu ternyata begitu penting dan bisa menjadi sebuah kebaikan, makanya bisa disetujui. Yah, meskipun ayahnya ternyata tidak bisa melaksanakan semua urusannya itu. Tidak semua fans bisa memaafkan ayahnya, sekeras apapun ia berusaha. Sekeras apapun Kyuhyun membantu mewakili permintaan maaf ayahnya. Semua sia-sia.

Kyuhyun menarik napas.

”Ayah Mia bukan pria yang baik, Kyuhyun. Ah, aku akhirnya terpaksa mengatakan rahasia ini.” Siwon menggerutu kesal. Menyadari bahwa ia tidak bisa tidak menceritakan semuanya. ”Ibu Mia akan marah sekali jika mengetahui anaknya pernah diperlakukan sekasar itu. Kau tahu, Mister Alex pernah melakukan percobaan pembunuhan pada Mia dan jika masalah ini dibiarkan, Ibu Mia akan mencadi korban percobaan selanjutnya.”

 

Kyuhyun mimpi buruk. Percakapan demi percakapannya dengan Siwon kembali muncul di mimpinya. Membuat dadanya semakin sesak dan kepalanya ingin pecah.

Ia ingin menyelesaikan hal melelahkan ini sekarang juga.

.

.

.

.

.

.

Melbourne, 12 Juli 2009.

 

Dengar tidak, Kyuhyun Mr.Headstone katanya jatuh pingsan di butik tempat mereka ngepas baju.”

”Oh, ya? Masa?”

”Iya, Kyuhyun kan benci sama udara dingin. Pasti gara-gara salju di Melbourne, sampai drop.”

 

Mia berdiri mengamati kedua gadis yang berjalan melewatinya dengan raut bingung. Apa yang mereka bicarakan barusan itu Kyuhyun Mr.Headstone?

Ada apa dengan Kyuhyun…?

Mia berlari menghampiri dua orang gadis itu dan menghadangnya.”Maaf, aku cuma numpang tanya… apa benar yang tadi kalian bicarakan?”

Kedua gadis itu saling pandang bingung. ”Yang kita bicarakan? Yang mana?”

”Ah… yang Kyuhyun Mr.Headstone… dia pingsan…?”

Salah satu dari kedua gadis itu mengangguk. ”Ya. Tadi di TV diberitakan kalau Kyuhyun Mr.Headstone pingsan, terus akhirnya jadwal rehearsal mereka di Melbourne Town Hall yang seharusnya malam ini, jadi dibatalin.”

DEG

”Jadi… Kyuhyun… sakit…?” tanya Mia hampir tanpa suara. ”Ah, ya… kurasa aku harus pergi. Terimakasih infonya,” ucap Mia sambil menundukkan kepala dalam-dalam. Dia berjalan meninggalkan dua gadis itu dengan gamang.

Tubuhnya terasa lemas dan tak bertenaga, hampir-hampir saja ia terjatuh di jalanan saat menyinggung tubuh orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar. Mia membungkukkan badan dan sibuk meminta maaf. Pantas saja kemarin ia tidak melihat tanda-tanda pria itu di sekelilingnya. Biasanya Kyuhyun suka muncul tiba-tiba dan menyuruhnya melakukan ini-itu seakan ialah pengendali semuanya. Kemarin saat terakhir bertemu, Kyuhyun berjanji akan menemaninya mencari diary, tapi ditunggu-tunggupun tidak ada kabar. Siwon juga tidak bisa menyebutkan dimana Kyuhyun berada, yang ia tahu Kyuhyun sangat sibuk dengan jadwal padat kegiatannya.

 

”Mungkin kau akan bertemu dengan Kyuhyun besok, atau lusa…”

 

Ucapan Siwon kemarin terdengar penuh keraguan. Seakan malaikat kematian itu juga tidak bisa memastikan apakah Mia akan bertemu kembali dengan Kyuhyun atau tidak.

Tapi masa Kyuhyun seperti ini saja? Tidak memberitahunya sama sekali. Ia jadi merasa bersalah. Kalau saja ia tahu kesehatan Kyuhyun tidak begitu baik saat di Melbourne, ia juga tidak akan memaksakan pria itu membantunya. Sekarang ia jadi serba salah.

”Aku tidak menyangka Kyuhyun akan sakit. Aku tahu ini pasti salahku, ia terlalu lelah membantuku. Seharusnya aku sadar melihat tubuhnya sering demam dan wajahnya terlihat pucat… se-seharusnya… seharusnya aku tahu saat terakhir kali bersamanya, ia lebih tampak seperti boneka hidup dibanding manusia. Seharusnya aku tidak perlu merepotkannya dengan urusan duniaku yang konyol ini… seharusnya…”

Langkah Mia yang tertatih mulai berhenti. Ia sudah tidak sanggup lagi berjalan, bukan karena kakinya lelah, tapi karena pikirannya yang terus saja berkecamuk. Rasanya tubuh Mia dihujam rasa sakit melebihi sakit apapun. Bahu gadis itu terguncang pelan. Ia menangis perlahan. Membuat aliran air mata membasahi pipinya. Membuat kepalanya terasa pusing.

Kyuhyun memang leader penyakitan… dan ia membuat penyakit pria kurus itu kambuh lagi.

”….seharusnya… bukankah, seharusnya… biar aku saja yang mengurus urusanku ini, hiks? Bukankah tidak perlu ada campur tangannya…, Siwon…?” Mia menoleh ke belakang dan tahu-tahu sosok Siwon muncul dari balik pepohonan dengan salah tingkah. Bak pencuri yang ketahuan pemilik rumah.

”Kau tahu aku dari tadi mengikutimu?”

Mia tak menjawab.

Itu bukan pertanyaan. Malaikat kematian itu bisa muncul kapan saja tanpa sepengetahuan siapapun.

Mia memutar tubuhnya dan menatap Siwon dengan pandangan kosong. Tapi tahu-tahu matanya mulai berkaca-kaca. ”Hiks… Hiks… Siwon…, Kyuhyun… Kyuhyun… dia…”

Siwon berjalan menghampiri dan memeluk Mia erat, sayap yang melekat di punggung Siwon menyelimuti hampir seluruh tubuh gadis itu, seperti sedang berada di kasur empuk. Siwon menepuk-nepuk bahu Mia dan mengusap kepalanya lembut. Tidak ada satu katapun yang keluar dari bibir Siwon.

Hangat. Itu yang Mia rasakan saat Siwon memeluknya. Tubuh Siwon sangat lembut dan sedikit membuatnya merasa tenang. Siwon datang di saat yang tepat, saat Mia memang butuh penopang kesedihan, yang bisa membuat gadis itu tidak semakin terjerembab di kesedihannya.

”Aku merasa bersalah…,” bisik Mia lirih. ”Aku… hiks, aku… tidak berguna. Aku menyesal, hiks.”

Siwon tetap diam, pandangannya lurus ke depan dan tidak bisa diartikan. Malaikat kematian itu malah semakin memperkuat pelukannya, tidak ingin melepaskan Mia. Seakan ingin berkata semua akan baik-baik saja.

Aku tidak ingin membuatmu sakit. Aku tidak pernah ingin membuatmu menderita. Bisakah kau katakan padaku sekarang, bahwa kau tidak menderita? Aku membutuhkannya agar tangisan ini berhenti… agar aku tidak terus mengutuki diri sendiri…

.

.

.

.

.

.

Mia menatap area kosong di sebelah restoran Itali, ditutupi rumput setinggi badan hingga nyaris seperti penampakan hutan belantara di tengah kota. Tempat itu sudah ramai dilalui orang-orang yang pulang kerja ataupun sedang berjalan-jalan.

Ini tempat ia meninggal beberapa hari lalu. Tempat ia tertimpa plakat konser Mr.Headstone dan tempat ia harus mengakhiri semua kehidupannya. Melihat tempat ini seperti nostalgia aneh baginya. Seperti sebuah kejadian yang tidak bisa terbayang sebelumnya.

Mia maju beberapa langkah menuju rumput-rumput tinggi di depannya. Dulu, tempat inilah yang menjadi pijakan plakat konser itu. Mia masih bisa melihat dua lingkaran bekas tempat tiang-tiang plakat.

Matanya menyibak rimbunan rumput-rumput itu dengan bingung. Tiba-tiba saja ia merasa ada sesuatu di tempat ini yang membuat ingatan di kepalanya terasa diaduk-aduk. Ada yang tertinggal di tempat ini, itu kata hati nuraninya.

Ada yang janggal…

”Ya Tuhan, Siwon!!” Mia terpekik kaget dan langsung memutar tubuhnya hingga menghadap Siwon. Malaikat kematian itu berdiri di belakangnya dan melambaikan tangan sambil tersenyum lebar. Mia mengatupkan bibirnya dan mengangkat sebuah buku bersampul cokelat susu yang tertimbun tumpukan salju dan terhalang rumput tinggi.

Ini diary-nya! Buku hariannya yang selama ini ia cari-cari! Ia pikir buku itu sudah mendekam di kantor polisi, tapi ternyata buku itu masih ada di sini…? Kemarin Kyuhyun sempat bilang kemungkinan diary itu menjadi barang bukti yang ditaruh di kantor polisi. Jadi akan susah untuk mendapatkannya kembali.

”Ternyata polisi itu bisa tidak teliti juga ya. Mereka tidak melihat bagian belakang plakat dan lucunya, tidak ada seorangpun yang memeriksa tempat ini berhari-hari lamanya. Bukankah lebih baik aku merelakan dirimu sendiri kembali bisa memegang buku diary itu?” Siwon melipat kedua tangan di dada dan memasang wajah merasa jenius sekali. ”Anggap saja ini hadiah dariku. Kau itu tampak menderita sekali jika tidak bisa mengingat apapun…”

Mia menoleh ke arah Siwon dengan mata berkaca-kaca. Tadi ia sempat bingung mengapa tiba-tiba Siwon menariknya pergi ke tempat kematiannya. Ternyata malaikat itu memberikan kejutan manis. ”Aku tidak tahu harus berbuat apa…, terimakasih… benar-benar terima kasih…”

”Habisnya Kyuhyun tidak bisa menemanimu mencari diary ini. Aku terpaksa melakukannya.”

Dengan tangan gemetar Mia membuka lembar demi lembar diary-nya dan tersenyum lebar.

Puing-puing kenangannya semasa hidup, yang selama ini ia lupakan.. atau yang kadang sengaja ia lupakan…

 

Namaku Mia Narafa. Ini buku diary ke sepuluh ku, setelah tahun-tahun belakangan aku banyak menghabiskan waktu menulis diary agar aku tidak melupakan semuanya.

 

”Aku harus pergi,” ucapan Siwon menghentikan kegiatan Mia. Gadis itu menoleh dan menatapnya bingung. ”A-aku… tidak bisa melihatmu membaca diary itu…” Siwon tampak gugup, ia mengalihkan wajahnya ke arah lain. ”Aku tidak ingin tahu masa lalumu… aku tidak ingin membaca pikiranmu yang sedang membaca diary itu…”

Mia mengernyit, ”ke—”

Belum sempat Mia menahan Siwon, malaikat itu mendadak hilang dari hadapannya dan membuatnya bingung. Ada apa dengan Siwon? Kenapa ia tidak ingin melihatku membaca diary ini?

 

 

Kau tahu, ada sesuatu yang selalu ingin aku lupakan, tapi tidak pernah bisa sepenuhnya aku lupakan. Sesuatu itu membuatku terpaksa harus menjadi orang yang selalu melupakan semuanya, dan berharap agar hal buruk itu juga ikut terlupakan…

 

Hal buruk?

”Apa aku pernah mengalami hal buruk?” Mia memiringkan kepalanya dan berusaha mengingat-ingat. Tapi sialnya, ia tidak ingat apapun….

 

Ini tentang Daddy—aku benci pria ini. Pria yang selama ini bersikap sangat tidak baik di depanku. Memarahiku setiap hari, memukulku, dan mengurungku di gudang. Aku benci pria ini, secinta apapun Ibu padanya, aku benci pria ini… terlebih lagi…, aku benci Ibu tidak tahu betapa aku benci pada Daddy

 

Mia memilih duduk di bangku taman dekat bekas plakat konser dipasang. Ia kembali membuka lembar demi lembar diary penuh tekun. Menyerap semua hal yang sudah dilupakannya selama ini.

 

.

.

.

.

.

.

 

”DADDY JAHAT!!”

Mia meronta ketika Mister Alex menariknya dengan paksa ke gudang. Ia menangis keras ketika ayahnya mendorong masuk ke dalam ruangan apek dan gelap itu. Bik Imah, pembantunya, hanya meringkuk ketakutan di sudut dapur, tak berani melakukan apapun, tak berani menyelamatkan Mia dari amukan Mister Alex.

”Daddy, TIDAK!!! JANGAN LAKUKAN ITU!!” teriak Mia memberontak. Ia melirik ke Bik Imah dengan wajah pucat pasi. Sia-sia. Tidak akan ada yang menolongnya. Ibu sedang pergi ke kantor dan hanya tinggal mereka bertiga di rumah.

”Im not your Daddy! Shut up!” PLAKK. Mister Alex menampar wajah kecil Mia dan mendorong tubuh mungil itu dengan paksa ke dalam ruangan dan dalam sekejap pintunya telah berhasil dikunci Mister Alex.

”IBUU!” teriak Mia sambil terus memukul pintu gudang yang gelap. Ia benci gelap. Ia takut gelap. Dan Mister Alex selalu mengurungnya di sini.

”Your mom isn’t here!”

”BLOODY BASTARD!” sumpah serapah dari bibir mungil Mia keluar dengan nada penuh kebencian.

”SHUT UP, I SAY!!”

Prang!!

Bruk.

Prangggg!!!

Mia mendengar suara piring dan panci berjatuhan, pasti dilempar Mister Alex. kebiasaan pria itu jika lagi marah.

”Please… no… you can’t… hiks, do that, Daddy… hiks,” Mia terisak pelan. ”Jangan sakiti ibuku… jangan pergi dengan wanita itu, Daddy…”

Mia tahu ia tadi salah. Ia tidak sengaja mendengar Mister Alex berteleponan dengan seorang wanita di seberang sana yang dipanggil dengan sebutan ’honey’. Mia yakin wanita itu bukan Ibu, Mia yakin itu wanita lain, dan Mister Alex berjanji akan menemui wanita itu dan menginap di rumahnya malam ini.

Mia benci dengan Mr. Alex, playboy cap kadal, selalu pura-pura bersikap sebagai pria baik di depan Ibu. Sementara begitu tidak ada Ibu, tingkahnya pada Mia seperti serigala buas yang lapar menyiksa binatang-binatang kecil.

Mia tahu alasan Mister Alex menikahi ibunya. Ibu punya banyak cabang hotel sukses di seluruh dunia, dan Mister Alex ingin menguasainya. Mister Alex ingin merebut kekayaan Ibu.

Mia benci Mister Alex. Pria itu selalu memukulinya, menyumpahinya dengan kata-kata kasar, dan mengancamnya tidak mengadukan hal apapun pada Ibu.

”Harus lupa… harus lupain semuanya… Mia harus jadi gadis yang bisa melupakan semuanya…” Air mata Mia tumpah ruah. Ia mendekat erat kedua lutut dan menggigit-gigit jempolnya. ”Mia… ayo, lupain semuanya…”

Mia harus lupa. Itu yang ia tahu. Ia harus melupakan semua hal, agar ia tidak bisa ingat apapun yang membuatnya sakit. Tidak masalah jika ia tidak ingat, jika ia pelupa, itu lebih baik dibanding terus mengingat kelakuan Mr. Alex.

”Suatu saat anak itu akan kubuat mati, dan ibunya juga! Lihat saja!” teriakan Mister Alex kembali bergema. Membuat Mia menutup erat matanya.

.

.

.

.

.

.

Melbourne, 13 Juli 2009

 

Cklek. Cklek. Cklek. Cklek.

Kyuhyun menatap pintu di depannya dengan pandangan putus asa. Diputar tubuhnya ke belakang dan memandangi ketiga anggota Mr.Headstone lain yang tengah berdiri sambil memperhatikannya tanpa bersuara sedikitpun. Kepala Kyuhyun tertunduk pelan dan helaan nafas keluar dari bibirnya. Sebelah tangannya masih saja memegang kenop pintu sementara tangan yang satu lagi mengelap keringat dingin yang membasahi keningnya.

”Kenapa pintunya terkunci? Mana kuncinya?” tanya Kyuhyun setelah beberapa menit menenangkan emosi ditambah kondisi tubuhnya yang memburuk.

Ryeowook dan Eunhyuk saling melempar pandang.

”Manajer Park mengunci kita dari luar,” Sungmin bersuara. Dia mengucek-ucek matanya dan menatap Kyuhyun kosong. Tampaknya dia belum sadar penuh dari tidurnya. Memang, jam masih menunjukkan pukul lima, masih terlalu pagi untuk bangun.

”Dikunci?!” seru Kyuhyun kaget. Dia berbalik badan dan kembali menatap pintu itu. Tangannya terus saja membuka pintu yang memang terkunci rapat. ”Oetteokae? Kenapa Manajer Park mengurung kita seperti ini, hah!”

Duk. Duk. Duk. Kyuhyun berusaha menggedor-gedor pintu itu sekeras mungkin, berharap ada yang datang dan berbaik hati menolongnya. Tapi sayang tidak ada. Di tengah pagi buta ini, para penghuni hotel lainnya masih tidur dengan lelap.

”Kyuhyun…” Ryeowook menarik napas pelan. ”Manajer Park mengurung dari luar karena beliau tidak ingin kau kabur lagi,” ujar Ryeowook jujur. ”Kau bahkan masih demam…”

Tangan Kyuhyun terhenti di udara. Ditolehnya Ryeowook dengan pandangan aneh dan sedetik kemudian pandangannya berubah jadi tatapan pasrah. Perlahan Kyuhyun melepaskan genggaman tangannya dari kenop pintu. Tubuhnya yang masih terasa lemah dipaksanya berjalan terhuyung-huyung menuju kamar, sementara pikirannya terus saja melayang-layang jauh.

”Aku yakin akan ada sesuatu yang buruk terjadi hari ini…” Kyuhyun bergumam lirih.

Pria itu melewati Sungmin yang duduk dibangku sambil menelungkupkan kepalanya, kemudian melewati Eunhyuk yang memandanginya bingung, dan akhirnya tiba di depan Ryeowook yang berdiri persis di depan pintu kamar.

”Kau mau istirahat?” tanya Ryeowook. Pria itu mengikutinya dan menghadangnya di depan. Tangannya terjulur ke kening Kyuhyun, mengukur suhu tubuh leader mereka itu.

Kyuhyun terdiam sebelum akhirnya mendesah. ”Tidak ada lagi yang bisa aku lakukan.”

Ryeowook dan Eunhyuk kembali bertatapan seakan mereka tengah berbicara melalui telepati.

”Kalau aku punya kunci cadangan hotel, apa kau tetap akan kembali beristirahat?”

Tahu-tahu Ryeowook merogoh kantung celananya dan mengeluarkan sebuah kunci perak dari dalamnya. Menggerak-gerakkannya dengan penuh kemenangan.

Kyuhyun terkesiap. Menatap kunci dan wajah Ryeowook bergantian, tak percaya.

”Kami akan berikan kunci itu…” Sungmin berjalan mendekat dan menepuk bahu Kyuhyun, ”jika kau menceritakan semuanya pada kami. Apa yang selama ini kau lakukan saat kau kabur dari semua kegiatan, kemana kau pergi, dan dengan siapa…”

”A-aku…” Kyuhyun melirik Sungmin gugup.

”Semalam kau mengigau. ’aku harus memberitahukannya…aku harus pergi… aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi…’, kau terus meracau seperti itu sepanjang malam. Membuat kami tidak bisa tidur.” Sungmin meniru gaya bicara Kyuhyun. Sementara pria itu hanya memandangnya tak percaya. Apa ia benar-benar mengigau seperti itu semalam?

”A-aku…”

”Siapa itu Mia Narafa?” potong Ryeowook cepat. Sukses membuat Kyuhyun terlompat kaget dari tempatnya. ”Kau menyebut nama itu berkali-kali.”

Kyuhyun mundur beberapa langkah ke belakang sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing. Seluruh sistem tubuhnya masih lemah karena kejadian kemarin.

”Ceritakan pada kami, hyeong… kami ini bukan hanya member-mu, kami ini juga keluargamu, sahabatmu. Kami tidak ingin ada rahasia di sini…” Eunhyuk yang biasanya cuek kali ini angkat bicara dan memandang Kyuhyun dengan tatapan penuh harap.

Ucapan magnae itu membuat Kyuhyun tertegun beberapa saat. Menatap satu persatu-satu anggota Mr.Headstone dan perlahan-lahan senyum tipis di bibir pucatnya terukir.

Ya, mereka bukan hanya sekedar kelompok yang berkumpul sebagai rekan bisnis dalam payung ’Mr.Headstone’, tapi lebih dari itu… mereka sudah lebih dari delapan tahun menghabiskan waktu bersama menjadi trainee, lalu enam tahun sejak mereka debut. Mereka hidup seperti saudara satu sama lain.

Dengan Ryeowook yang dewasa, Sungmin yang kekanak-kanakan, atau pun Eunhyuk yang cerewet mereka berempat sudah hidup saling melengkapi. Saling berbagi semuanya.

”Aku tidak yakin kalian akan percaya ceritaku ini. Mustahil memang, tapi inilah yang sebenarnya kulakukan selama lima hari di Melbourne ini.”

Kyuhyun menarik napas dalam-dalam. Dan mulai bercerita.

.

.

.

.

.

.

To be continued

 

20 thoughts on “Mr.Headstone (Track 06)

  1. waaah ternyata di masa lalu, mia ngalamin kekerasan? kasian…
    dan aku nemuin sesuatu yg janggal pas siwon meluk si mia, jangan” siwon punya perasaan sama mia? hmmmm…

  2. Se to the Ru!😀
    Aku penasaran sm siwooooooooooooon!!!!!!
    Siwon knp? jgn bilang malaikat alay itu punya perasaan sm mia!
    Krn kalo iya, aku setuju banget! Yeay, hidup siwon-mia! Si-Mia shipper detected.😀

    Lha, si kyu ini gampang banget tumbang ya~
    Udah kurus, penyakitan pulak. HAdeh~ *plakk*

    Lanjutnya jgn lama-lama ya soph…😀

    Btw, aku merasa ada yang sedikit berubah di narasi mu.
    Semakin baik.🙂

  3. ah aku sempat mikir mia ini mendapatkan pelecehan dr daddy nya. dan tak seburuk itu. daddy nya harus masuk penjara. mia itu pikun berat krn trauma, pantes aja. krn sepikun pikunnya orang gak separah mia kalau gak ad sebab.

  4. jadi pikunya mia yg akut tuh gara2 dia trauma sm perlakuan kasar ayah tirinya, duh kasian banget sih sama nasibnya mia, trus dia akhirnya tetep meninggal ya soph, kasih dia bahagia dulu deh.

  5. Ternyata squalene itu gk bikin mabuk toh kok kmren si kyu kyk org mabuk yaa:D
    Ayah tiriny mia jahat bingit, aku agk serem byangin gmna reaksi ayah tirinya wktu ibuny tau kelakukan suaminy k anakny slma ini. Apakah bakal ada adegan action d sini?
    Tp klo si mia udh nyelesein urusanny d dunia dia bakalan mati juga kn? Ah sad ending dong? Si kyunya gmna dong? Apa mia ntr bakalan sama si malaikat alay ‘siwon’. Hahaha
    D tggu kelanjutanny deh kk soph

Just talking...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s