Mr.Headstone (Track 05)

Author : Sophie Maya

Title     : Mr.Headstone (Track 05)

Cast     : Cho Kyuhyun, Choi Siwon, Lee Sungmin, Kim Ryeowook, Lee Hyuk Jae, Mia

Support Cast: Park Jungsoo

Genre  : romance

Rated  : G/AU

Length: chaptered

Type    : ?

Summary         : The one that had head like a stone

mr-headstone-copy

poster thx to springsabila@cafeposterart

Disclaimer       : this story is MINE.

 

Track 05: One Step Closer

 

”Anda sedang apa, Bibi?”

Mia mengernyit heran melihat Ibu berdiri di parkiran sambil berkacak pinggang. Wajah Ibu terlihat kesal dan kakinya berkali-kali mengetuk-ngetuk lantai sambil berdecak. Di sebelah Ibu berdiri seorang pria berusia empat puluh tahunan dengan pakaian kucel dan wajah penuh oli. Pria itu mengelap keringat yang mengucur di dahinya dan menoleh ke arah Mia sambil melemparkan senyum kakunya.

”Ah, Yui… kau datang lagi hari ini?” Ibu terlonjak girang dan berjalan mendekati Mia. ”Kau bawa apa itu?” Ibu menunjuk kotak berwarna merah marun yang dibawa Mia.

Mia tersenyum lebar. ”Cookies. Aku bawakan buat Bibi.”

”Wow, terima kasih, Yui.”

Mia menyerahkan kotak berwarna merah marun itu pada Ibu. Tadi ia membelinya di toko dekat Taman Marinna sebelum berangkat ke apartemen Ibu. Cookies makanan kesukaan Mia dan Ibu, mereka berdua biasa memakannya ditemani teh hangat di sore hari yang cerah.

Mia melirik pria yang kini kembali mengutak-atik mobil di dekat mereka. Pria itu membuka pintu depan dan mencoba menyalakan mesin mobil. Ibu ikut memandangi mobil itu dan tertawa renyah, ”Mobil Bibi memang harus sering-sering di service, sudah tua rupanya. Tadi Bibi mau pergi ke kantor, tapi mobilnya malah tidak bisa direm dan nabrak pohon. Satpam apartemen sampai memarahi Bibi, hahaha…”

Mia menoleh ke arah pohon pinus di depan mobil. Batang pohon itu sudah rubuh menimpa karpet rumput di sekelilingnya, beberapa bunga juga ikut rusak dan jatuh berserakan membuat taman kecil itu berantakan.

”Bibi harus mengganti rugi atas rusaknya taman ini.” Ibu menepuk bahu Mia, membuyarkan lamunannya. ”Mungkin Bibi memang tidak ditakdirkan ke kantor hari ini. Sambil menunggu montir selesai membetulkan rem mobil Bibi, kau mau menemani Bibi menghabiskan cookies ini di apartemen Bibi?”

”Itu bukan ide yang buruk.” Mia menganggukkan kepalanya sementara matanya terus-menerus menatap mobil Ibu. Bemper depan mobil penyok dan catnya terkelupas sedikit. Kaca di bagian depan juga tampak retak.

Mendadak ada ingatan aneh yang mendadak menyengat otak Mia, membuatnya terlonjak dan berjengit ketakutan. Segera saja ia menggelengkan kepala dan menghilangkan hal aneh itu dari otaknya.

Ibu berjalan mendahului Mia masuk ke dalam gedung apartemen. Wanita itu membalikkan badan sesaat dan mengkodekan Mia untuk mengikutinya. Mia mengangguk dan buru-buru berlari menyusul Ibu.

 

.

.

.

.

.

.

 

Para staff khusus Mr.Headstone masuk terburu-buru ke dalam van yang disediakan. Lokasi mereka pindah ke MNR Building, stasiun TV yang menjadi promotor konser mereka. Hari ini akan ada konferensi pers menyambut kedatangan Mr.Headstone ke Melbourne. Meski sudah lewat beberapa hari, tapi pihak stasiun TV tetap memaksa mengadakannya. Tentu saja karena penampilan Mr.Headstone akan menambah rating mereka.

Manajer Park berdiri di sebelah pintu van dan menatap anggota Mr.Headstone dengan senyum lebar. ”Aku senang kalian berhasil melewati pagi ini dengan baik meskipun ada kejadian tak mengenakkan tadi. Ah, kau Eunhyuk, jangan lupa basuh wajahmu sebelum tampil di TV nanti. Kau terlihat seperti orang baru bangun tidur! Ada lingkaran hitam di kantung matamu.”

Eunhyuk mendengus kesal sambil meraba kantung matanya. ”Aku lelah, Manajer.”

”Aku juga lelah mengatur kalian semua,” balas Manajer Park tak mau kalah. ”Tapi aku senang karena Kyuhyun mau menjawab pertanyaan wartawan tadi, lega sekali rasanya melihat dia bisa menjelaskan semuanya dengan baik… dan…” Tiba-tiba pria itu mengernyit heran. Instingnya sebagai seorang manajer selama bertahun-tahun membuatnya tahu ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi. Ditatapnya satu persatu anggota Mr.Headstone seraya menghitung jumlah mereka, Hana…. tul… set…

”Kyuhyun mana?!” tanya Manajer Park.

Sungmin mengangkat bahu. Eunhyuk hanya menggeram pelan dan malah bersiap-siap untuk tidur. Ryeowook menatap Manajer Park dengan pandangan kosong, sebelum akhirnya menggelengkan kepala.

”Aku tidak melihatnya dari selesai wawancara tadi. Apa ia mati terinjak-injak?” celetuk Eunhyuk yang langsung dihadiahi pukulan dari Ryeowook dan Sungmin.

”Kau berharap leader kita mati?!” decak Sungmin kesal.

Manajer Park menatap Ryeowook lekat-lekat. ”Ryeowook…, kau kan yang paling dekat dengan Kyuhyun.”

”Aku tidak tahu dia dimana, sungguh.”

Manajer Park menggaruk kepalanya kencang. ”Ck, pasti kabur lagi!” umpat pria itu kesal. ”Kemana lagi si Kyuhyun itu! Apa dia tidak tahu jadwal kita di Melbourne benar-benar padat! Di saat seperti ini malah keluyuran!!!”

Brak.

Manajer Park membanting pintu van keras. Ketiga anggota Mr.Headstone serempak melonjak kaget. Dari kaca van, mereka melihat manajer itu berlari menuju backstage bersama para bodyguard. Beberapa di antara mereka ditugaskan menjaga van secara ketat dan memastikan salah satu dari anggota Mr.Headstone lainnya tidak akan kabur.

 

.

.

.

.

.

.

 

Kyuhyun menutup kepalanya dengan tudung jaket yang dia kenakan, tangannya sibuk merogoh sunglasses hitam disaku jaket dan buru-buru mengenakannya saat langkah kakinya menginjak rerumputan tak jauh dari backstage panggung. Sedetik kemudian Kyuhyun mengumpat kesal, dia baru sadar kalau hanya mengenakan kaos tipis yang dibalut jaket dan juga sepatu kets—pakaian yang tidak mendukung saat salju masih bertebaran di jalan. Tadi setelah mereka ditanya ini-itu oleh wartawan, Kyuhyun sukses menyelinap pergi tanpa baju memadai dan bau telur yang masih tercium di wajahnya. Sial sekali.

Kyuhyun mengangguk kecil ketika menatap dua buah kartu nama di tangannya. Kartu ini diberikan oleh Siwon saat malaikat itu menemuinya di ruang ganti Melbourne Town Hall. Ini kartu nama kedua orang tua Mia. Siwon bilang Kyuhyun akan membutuhkannya suatu saat—dan pasti akan membutuhkannya.

Tangan Kyuhyun sibuk melambai-lambai untuk menyetop taksi, di Melbourne taksi merupakan kendaraan yang jumlahnya cukup banyak dan bertebaran di mana-mana, jadi mudah saja jika ingin berpergian jauh tanpa berjalan kaki, pilih taksi. Bus juga bisa sih, tapi masalahnya Kyuhyun tidak mengerti bus mana yang harus dinaiki untuk sampai ke tempat tujuannya.

”Pak, saya mau pergi ke tempat ini,” ujar Kyuhyun menyerahkan kartu nama di tangannya pada supir taksi. Sang sopir taksi mengangguk mengerti dan langsung menjalankan taksi, sementara Kyuhyun duduk tenang di samping sang supir.

Banyak hal yang bisa dilihat dari Melbourne sepanjang jalan, kota yang megah ini punya gedung-gedung indah dan tertata artistik. Jadi tidak bosan meski terus-menerus menatapnya.

Kyuhyun jatuh tertidur dan tidak sempat melihat keindahan sepanjang jalan Melbourne. Pria itu terbangun saat taksi yang ia tumpangi berhenti di depan gedung berwarna coklat muda dengan gaya Eropa di depannya.

”Kita sudah sampai, Pak.” Sopir itu menepi ke teras gedung.

Kyuhyun mengangguk pelan dan menyerahkan beberapa lembar uang, lalu dia keluar dari taksi.

”Gedung periklanan? Jadi Mister Alex ini kerja di periklanan? Wow…” Kyuhyun terkagum-kagum. Ia mengambil kartu nama yang disimpannya di kantung. Benar, tidak salah lagi. Berdasarkan informasi di kartu nama, ini memang tempat kerja ayah tiri Mia.

Kyuhyun melangkahkan kakinya menaiki tangga-tangga kecil sebelum akhirnya masuk ke dalam lobby gedung. Gedung ini cukup ramai dihuni orang yang berlalu lalang dan saling mengobrol membicarakan prospek, proyek, atau apapun itu. Langkah mereka tampak cepat, terkesan buru-buru dikejar waktu.

Can I help you?” seorang wanita blonde berumur tiga puluh tahunan menyambut Kyuhyun dengan senyum. Membuat Kyuhyun mengalihkan pandangannya dari lalu lalang karyawan di sini.

”Oh… aku mencari Mister Alex.” Kyuhyun menyerahkan kartu nama di tangannya.

Wanita itu meneliti kartu dengan teliti. ”Mister Alex? Dia direktur kami. Apa Anda sudah membuat janji dengannya untuk bertemu hari ini?” tanya wanita itu.

”Belum.”

”Kalau begitu maaf… Anda tidak bisa menemuinya. Anda harus membuat janji dulu dengan Mister Alex jika Anda ingin bertemu dengannya.” Wanita itu menjelaskan.

”Tapi ini benar-benar penting.” Kyuhyun bersikeras. ”Aku harus menemuinya.”

”Maaf tapi tidak bisa.” Wanita itu kembali meminta maaf.

Kyuhyun menghembuskan nafas. Apa ia benar-benar harus membuat janji? Merepotkan sekali. ”Aku harus berbicara hal yang sangat penting.”

”Anda siapanya, ya? Apa Anda anggota keluarganya?”

Kyuhyun menggelengkan kepalanya seraya membuka sunglasses yang dari tadi dia pakai. Terlalu lama memakai sunglasses bisa membuat mata cepat lelah dan terasa panas.”Aku bukan keluarganya, ak—”

”Kyuhyun Mr.Headstone??!!” belum sempat Kyuhyun menyelesaikan ucapannya, wanita itu menjerit tiba-tiba, kontan membuat Kyuhyun terlonjak dan mundur beberapa langkah ke belakang, lalu mengusap-usap dadanya. Kaget. ”Benarkah Anda adalah Kyuhyun Mr.Headstone? Yang akan konser di Melbourne Town Hall tanggal empat belas nanti?” Wanita itu membelalakkan matanya lebar-lebar.

Beberapa orang di lobby yang mendengar teriakan wanita itu ikut menghampiri Kyuhyun dan berteriak histeris.

Kyaaa!! Kyuhyun Mr.Headstone!! He is here!”

Is he??

So handsome!

Kini semua orang di sekitar lobby mengerumuni Kyuhyun, baik itu perempuan maupun laki-laki. Mereka memandang Kyuhyun dari kepala sampai kaki, seperti memandangi patung-patung pajangan di museum.

”Ah, ya… aku memang Kyuhyun Mr.Headstone,” cengir Kyuhyun menutupi kegugupannya.

”Wah, aku salah satu fans Anda! Lagu-lagu kalian sangat bagus!” seru wanita yang tadi menanyai Kyuhyun, hm… namanya Lucia. Kyuhyun membaca sekilas name tag yang terpasang di baju wanita itu. Mungkin Kyuhyun harus memanggilnya Mrs.Lucia.

”Senangnya kalian sudah menyukai lagu Mr.Headstone.” Kyuhyun membungkukkan badannya. Sementara beberapa orang di sekitarnya sibuk membidikkan kamera hape ke wajahnya, memotret dirinya dan mengabadikan momen-momen adanya seorang Kyuhyun Mr.Headstone di kantor mereka.

”Hm, karena Anda Kyuhyun Mr.Headstone, mungkin saja hal yang ingin Anda bicarakan itu benar-benar penting. Mister Alex sedang ada rapat pimpinan, tapi mungkin sebentar lagi selesai. Anda pergi saja menunggu di ruangannya di lantai tiga,” jelas Mrs. Lucia.

Kyuhyun mengangguk senang. ”Oh, terimakasih… Mrs. Lucia.” Kyuhyun mengedipkan matanya dan berjalan cepat menuju lift untuk ke lantai tiga. Untungnya beberapa karyawan langsung menyingkir dan membuat jalan untuk dirinya.

”Hei, kalian dengar kata Kyuhyun Mr.Headstone tadi??? Dia memanggil namaku! Wow! Suaranya terdengar indah saat memanggilku!! Dan dia juga mengedipkan matanya padaku, seharusnya kalian merekamnya!” Mrs.Lucia berteriak bangga.

Kyuhyun tersenyum lebar. Ia tadi sempat berpikir akan diusir dari kantor ini. Tapi ternyata dengan hanya melepas sunglasses dan menunjukkan wajah seorang Kyuhyun, membuat urusan bisa jadi gampang.

Beberapa menit kemudian lift sampai di lantai tiga. Begitu pintu lift terbuka, Kyuhyun semakin takjub dengan penataan ruangan yang begitu unik. Tidak seperti kantor pada umumnya yang membatasi ruang kerja satu pekerja dengan pekerja lainnya hanya sebuah bilik kayu, tapi kantor ini tidak. Ketika keluar dari dalam lift, yang terlihat disekeliling lantai tiga hanyalah tivi-tivi kecil yang menayangkan berbagai iklan, mungkin itu iklan hasil produksi perusahaan ini, beberapa diantara iklan tersebut pernah Kyuhyun lihat saat di penginapan mereka, atau saat dia berada di Seoul, karena di antaranya ada beberapa iklan pariwisata Australia.

Tivi-tivi itu tergantung di sepanjang dinding dan ada juga yang membentuk sebuah pola piramid besar dan diletakkan di tengah-tengah lantai tiga. Semuanya menayangkan iklan-iklan yang berbeda, yang jika dihitung bisa berpuluh-puluh ribu iklan!

Lalu dimana ruangan para pekerja?

Inilah yang membuat Kyuhyun semakin takjub. Seperti sudah disebutkan, kantor ini punya tata letak ruang pekerja berbeda dari kantor umumnya. Tidak ada bilik-bilik kayu di sini, tidak ada ruang kotak-kotak berlapis kaca tempat para pekerja menyusun dokumen atau melakukan tugas mereka, tidak ada. Dari sini, yang terlihat hanya tivi-tivi kecil yang menampilkan iklan-iklan, tidak ada satupun pekerja disekitarnya.

Yang terlihat hanya beberapa pintu yang didesain seperti balkon sebuah rumah bertingkat, ada banyak pintu di sini, dan semua berbentuk seperti itu. Di masing-masing pintu tertulis nama orang beserta jabatannya. Yap, itulah ruang kerjanya. Unik memang, tapi ini benar-benar nyata. Rasanya seperti melihat banyak ’balkon rumah’ di lantai tiga ini.

”Tadi katanya Mister Alex itu direktur?” gumam Kyuhyun mendatangi satu-persatu pintu di depannya. Tidak terlalu sulit mencari ruang kerja Mister Alex, karena ruang kerja direktur itu terletak di tengah-tengah, dihimpit dengan ruang kerja yang lain.

Kyuhyun membuka pintu dan masuk ke ruang kerja Mister Alex, ruang kerjanya sama seperti ruang kerja biasa, tidak aneh-aneh. Kyuhyun berjalan menuju sofa dan duduk di sana, memperhatikan sudut-sudut ruang Mister Alex dengan teliti. Ruang kerja yang nyaman dan hangat, karena ada heater yang cukup besar terpasang di dinding ruangan, membuat Kyuhyun hampir saja tertidur di sofa saking nyamannya ruangan itu. Namun saat matanya mengerjap-ngerjap mengusir rasa kantuk, sebuah benda di samping meja Mister Alex menarik perhatiannya.

Sambil berusaha menahan matanya agar tidak tertutup, Kyuhyun beringsut mendekati benda yang ternyata adalah tumpukan koran.

”Tumpukan koran?” Kyuhyun mengernyit.

Bukan tumpukan koran biasa, itu menurut Kyuhyun. Karena setelah dicek, koran yang satu dengan yang lainnya sama, koran dengan merek sama dan tanggal terbit yang sama. Buat apa koran-koran itu ada di sini?

Tangan Kyuhyun terjulur ke arah koran dan mengambil satu di antaranya. Diamatinya koran itu seksama. Mendadak dia merasa ada yang ganjal dengan koran ini.

 

’Melbourne Times Newspaper, July 7th 2009.’

 

Mata Kyuhyun menyusuri tanggal terbit koran itu dan mengecek koran lainnya, sama. Memang sama tanggalnya. Lalu Kyuhyun ganti mengamati headline koran itu.

”Tidak mungkin… ini…” Kyuhyun menunjuk headline yang terpampang dengan wajah ngeri. Matanya beralih ke arah tumpukan koran lainnya, di ceknya satu persatu, dan Kyuhyun menyadari ada sesuatu yang salah di sini.

Headline koran itu… memuat berita kematian Mia Narafa! Terpampang gambar plakat konser yang rata dengan tanah dan garis polisi yang mengitarinya, juga bercak-bercak darah kering bercampur dengan salju. Heran, kenapa Mister Alex mengumpulkan banyak koran yang headline-nya tentang kematian anaknya? Ada apa ini? Perusahaan ini bukan perusahaan koran kan?

Klek.

Tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Seorang pria berumur sekitar lima puluhan masuk ke dalam ruangan dan terkejut melihat Kyuhyun yang duduk di atas sofa.

”Anda siapa?”

Kyuhyun buru-buru berdiri dari duduknya dan membungkukkan badan. ”Saya Cho Kyuhyun, saya datang ke sini untuk meminta maaf atas… kematian anak Anda.”

”Ya, saya Mister Alex,” jawab pria itu bingung. Tapi sesaat kemudian pria itu tersenyum. ”Anda Cho Kyuhyun? Kenapa Anda meminta maaf ?”

Kyuhyun tersenyum. ”Karena gara-gara plakat konser saya dan teman-teman saya, anak Anda jadi meninggal.”

”Oh, Anda anggota Mr.Headstone?” Mister Alex balik bertanya.

Kyuhyun tersenyum kecut.”Ya. Saya leader Mr.Headstone, Cho Kyuhyun.”

”Ahhh… Anda seharusnya tidak usah meminta maaf,” ujar Mister Alex seraya mempersilahkan Kyuhyun duduk kembali. ”Itu bukan kesalahan Anda ataupun teman-teman Anda. Kematian anak saya… itu sudah takdir. Jadi jangan merasa bersalah seperti itu.”

”Ya…, tetap saja. Saya mewakili teman-teman saya dan para staf konser meminta maaf pada Anda.”

 

.

.

.

.

.

.

 

 

Mia membenarkan kacamata hitamnya untuk kesekian kalinya. Matanya memandang jalanan Melbourne dari balik jendela kaca. Beberapa orang tampak berjalan terburu-buru untuk menghindari hujan salju yang semakin lebat.

”Ada yang menarik perhatianmu?” sebuah suara mengagetkan lamunannya. Mia refleks menoleh dan tersenyum saat mendapati Ibu tengah memandanginya.

”Bibi… ah… itu,” Mia menatap sekilas jalanan Melbourne. ”Ternyata Australia itu benar-benar dingin,” celetuknya polos.

Ibu tertawa pelan. ”Ya, terutama di musim salju. Setidak-tidaknya udara Melbourne sekarang lebih dingin dibanding Jepang.”

”Kalau di Jepang sekarang masih musim panas, masuk musim pancaroba,” ujar Mia mengingat-ingat.

Ibu tersenyum dan mengangguk. Wanita itu mempersilahkan Mia duduk di sofa empuk, lalu menyalakan TV sembari membuka kotak pemberian Mia. ”Ada perlu apa kamu ke apartemen Bibi siang-siang begini? Kamu belum pulang ke Jepang?” tanya Ibu penasaran.

Mia menunduk sedikit sambil menarik nafas dalam-dalam. ”Aku kan masih punya waktu seminggu untuk di sini, Bibi. Aku tidak ingin berpisah dari Mia untuk saat ini… aku ingin melihatnya di pemakaman setiap hari…”

”Bibi terharu mendengarnya. Kau tahu, Mia benar-benar beruntung memiliki teman sepertimu, Yui.”

”Ini bukan apa-apa, Bibi.”

”Mungkin suatu saat kita bisa mengunjungi makam itu bersama-sama.”

”Ya, itu bukan ide buruk…”

Mia menatap keluar jendela dan tersenyum tipis. Untung di saat-saat seperti ini kepikunannya tidak bekerja. Kalau tidak, Mia bisa saja lupa dan malah menceritakan siapa dia sebenarnya pada Ibu. Mia rindu sekali pada Ibu dan melihatnya seperti sekarang rasanya ingin memeluk wanita yang sudah melahirkannya dan merawatnya sejak bayi ini.

”Apa Bibi benar-benar berniat akan masuk kerja hari ini?” tanya Mia.

”Ya… ada kerjaan penting yang harus diurus. Tadi sekretaris Bibi menelepon, katanya ada beberapa surat perjanjian yang mesti ditandatangani. Bibi bangun jam delapan pagi dan rencananya sehabis makan siang mau pergi, tapi yah… ternyata mobil Bibi rusak, hahaha dan Bibi juga membuat taman di depan gedung apartemen rusak. Sepertinya Bibi harus menunda jam masuk kerja Bibi, tadi kaki Bibi sampai lecet-lecet terkena benturan akibat tabrakan mobil itu.”

Tok… tok… tok…

Ibu dan Mia saling berpandangan.

”Siapa ya?” Ibu memandang Mia heran. Mia hanya membalasnya dengan gelengan kepala. ”Bibi bukakan pintu dulu, Yui.” Ibu beranjak menuju pintu dan Mia mengikutinya diam-diam dari belakang.

Mia melirik sekilas jam di dinding. Jam enam kurang lima, ternyata sudah selama ini ia di apartemen Ibu. Ia bahkan tidak sadar sudah menghabiskan banyak waktu di sini.

Oh my God, Kyuhyun!!

Langkah Mia terhenti seketika melihat pemandangan di depannya membuat ia kaget setengah mati! Mia buru-buru mengatupkan mulutnya dengan kedua tangan dan menatap Kyuhyun shock.

”Alex!” kali ini Mia mendengar Ibu juga berteriak kaget. Sama sepertinya.

Mia dan Ibu saling melempar pandang sebelum akhirnya berlari ke arah pintu.

”Ini ada apa?” tanya Mia kebingungan.

”Maaf… Mister Alex… dia mabuk,” ucap Kyuhyun pelan. Kyuhyun mengkodekan agar Mia diam dan tak perlu banyak bicara. Mia mengangguk dan menuruti perintahnya, meski masih diliputi kebingungan.

”Mabuk…?” Mia menatap Mister Alex dengan perasaan campur aduk. Tanpa sadar keringat dingin membasahi telapak tangannya. Mia beringsut menjauh, ada sebuah ingatan samar-samar yang mengantam kepalanya dan membuat perutnya bergejolak.

Kyuhyun terlihat membopong tubuh Mister Alex sekuat tenaga, sementara Mister Alex terus saja meracau tak jelas.

Where is she? She’s alive? Still alive…ukh, hahahaha.” Mister Alex mengacung-acungkan jarinya. Pandangan pria itu tampak tak fokus. Dari tadi tertawa terus.

”Alex kamu mabuk!” seru Ibu tak percaya.

”Hikk… oh, really? I wanna fly… hahahaha, hikk.” Mister Alex masih saja tertawa. Bau alkohol yang keluar dari mulutnya sampai memenuhi ruangan, membuat pusing yang menciumnya.

”Lebih baik kamu masuk ke kamar, Alex.” Ibu terlihat geram. Lalu dengan bantuan Kyuhyun, mereka berdua menggotong tubuh Mister Alex dan membawanya ke kamar tidur. Setelah itu Ibu langsung meminta maaf pada Kyuhyun. ”Suamiku… maafkan suamiku ya. Dia… mabuk. Terimakasih sudah mengantarkannya,” ujar Ibu sambil membungkukkan badan berkali-kali.

”Tidak apa-apa, Nyonya.” Kyuhyun menunjukkan senyumannya. ”Tadi aku menemui suami Anda di jalan, dia tengah mabuk dan jalannya sempoyongan, jadi kupikir lebih baik aku mengantarkannya pulang. Kulihat di dompetnya, ada alamat apartemen ini, jadi kuantar saja. Kebetulan sekali.”

”Oh, benar-benar terima kasih…,” ucap Ibu lagi. Lalu Ibu seakan tersadar sesuatu dan buru-buru menoleh ke arah Mia dengan pandangan tak enak. Untung gadis itu segera menyadari maksud pandangan Ibu dan langsung angkat bicara.

”Kurasa Anda harus menjaga Mister Alex, suami Anda itu,” ujar Mia pelan. ”Jadi aku lebih baik pulang dulu, Bibi. Sampai jumpa besok.”

”Kau tidak mengingat sesuatu yang tidak-tidak?” Kyuhyun tiba-tiba angkat bicara, membuat Mia dan Ibu terdiam. Saling berpandangan tak mengerti.

”Maksudmu?” Mia menggelengkan kepala. Diliriknya Mister Alex dengan pandangan aneh. Perasaan itu muncul lagi. Membuat tubuhnya lemas. ”Aku harus pergi sekarang, Bibi…”

Mia beranjak pergi dari apartemen diikuti Kyuhyun.

.

.

.

.

.

.

Ryeowook, Sungmin, dan Eunhyuk mengetuk-ngetukkan sepatu keds mereka di lantai. Wawancara dengan stasiun TV sebentar lagi akan dimulai. Para staf dan kru sudah bersiap di tempat masing-masing. Lampu-lampu sudah dinyalakan, dan kamera stand by.

Salah satu MC terkenal di Melbourne, Mr.Frans, tampak duduk di sebelah kiri mereka. Tadi mereka sudah berkenalan dengan beliau dan langsung cukup akrab karena beliau adalah orang yang ramah. Beliau berusia sekitar lima puluh tahun dan memiliki seorang anak seumuran dengan mereka. Mengobrol dengannya seperti berbicara dengan orang tua sendiri.

”Oke, wawancara dimulai. Satu, dua, tiga, action!” suara sutradara menandakan acara dimulai. Acara itu akan ditayangkan secara live di TV.

Ketiga anggota Mr.Headstone memperbaiki posisi duduk mereka dengan lebih nyaman, sambil terus menyunggingkan senyum.

”Oke, pertama… yang saya tahu Mr.Headstone itu beranggotakan empat orang, kenapa sekarang cuma ada tiga?” tanya Mr.Frans bingung.

Ketiga anggota Mr.Headstone saling berpandangan.

”Ah, itu karena leader kami, Kyuhyun, dia sedang… dia sedang sakit. Kami minta maaf, dia sepertinya mengalami flu berat hingga harus tetap berada di hotel. Tidak diperbolehkan pergi kemana-mana.” tukas Ryeowook buru-buru. Ia memasang senyum tipis.

”Ya… Kyuhyun memang punya sedikit alergi terhadap udara dingin,” sambung Sungmin.

”Dia terpaksa istirahat di hotel. Mungkin besok dia sembuh dan bisa mengikuti jadwal seperti semula.” Eunhyuk menimpali.

”Kami minta maaf karena cuma bisa datang bertiga,” ujar Ryeowook.

Ryeowook melempar pandangan pada Sungmin dan Eunhyuk. Kemudian ketiganya saling tersenyum penuh arti. Mereka tahu, mereka baru saja membuat kebohongan pada publik. Kyuhyun jelas tidak sedang sakit, tapi mereka tidak bisa menemukan leader itu dari tadi. Entah kemana perginya Kyuhyun sampai belum balik-balik juga. Makanya untuk tidak membuat kontroversi, mereka—atas kesepakatan dengan Manajer Park—terpaksa membuat cerita kalau Kyuhyun tengah jatuh sakit. Jadi tidak bisa hadir wawancara.

”Wah, sangat sedih mendengar leader kalian sakit. Semoga dia cepat sembuh,” ucap Mr.Frans penuh simpati.

”Ya, kami juga berharap begitu,” ujar ketiga anggota Mr.Headstone serentak.

”….semoga saja…” Ryeowook memandang Manajer Park yang berdiri di dekat kamera. Manajer mereka terlihat sibuk menelepon kesana-kemari dengan wajah kesal. Ryeowook bisa memastikan manajernya itu kalang-kabut mencari Kyuhyun yang masih belum ada kabarnya.

Ryeowook tahu Kyuhyun paling tidak suka diwawancara, tapi pria itu tidak pernah kabur seperti ini. Sebenci-bencinya ia dengan dengan wawancara, ia tetap akan melakukannya dengan baik. Kyuhyun bukan tipe orang yang seperti ini, ia akan menghadapi semua hal yang tidak disukainya sekalipun dengan baik.

Tapi ini semenjak di Melbourne ini, Kyuhyun menjadi aneh.

Dan mungkin saja…, kejadian pertengkaran Manajer Park dan Kyuhyun kemarin malam yang sempat Ryeowook curi dengar akan kembali terjadi lagi hari ini. Ryeowook paling tidak suka melihat pertengkaran antara manajer dan leader-nya itu.

”Ya Tuhan, Kyuhyun… kau dimana sebenarnya…?”

 

.

.

.

.

.

.

 

Salju sepertinya sudah mulai mencair dan membuat pulasan jalan aspal kembali terlihat. Beberapa mobil pengeruk salju berkeliaran membereskan sisa-sisa salju yang masih memenuhi sisi-sisi jalan. Mobil itu bergerak perlahan dan membuat kenyamanan para pejalan kaki agak terganggu, meski begitu para pejalan kaki sadar diri untuk tidak protes. Mereka terus saja berjalan dengan tenangnya.

Meski salju semakin sedikit, tapi udara dingin masih tetap terasa. Bahkan justru bertambah dingin. Beberapa helai daun dari pohon yang tidak tertutup salju sampai berjatuhan tertiup hembusan angin. Beberapa orang juga semakin merapatkan jaket mereka untuk melindungi terpaan angin.

Mia memang tidak bisa merasakan hawa dingin yang berhembus. Tapi dia tetap saja merasa tidak enak saat melihat Kyuhyun yang berjalan di samping merapatkan jaket sementara bibirnya sedikit gemetar. Sakitkah dia? Mia tidak tahu.

”Kau sakit?” tanya Mia sambil meraba keningnya Kyuhyun. Tapi Mia tidak merasakan apa-apa.

Oh, bodoh! Mia mengumpat. Gadis itu segera menyadari kalau dia tidak bisa merasakan dingin atau panasnya sesuatu.

 

”Kau itu udah mati. Meski aku kasih kau kesempatan ’hidup kembali’, tidak semua fungsi-fungsi tubuhmu ’hidup kembali’ seperti semula. Ada beberapa yang tidak bisa berjalan seperti dulu. Contohnya kayak indera penciumanmu, indera perasa, dan indera pengecap. Jadi jangan harap kau bisa mencium suatu bau, merasakan panas-dingin suatu benda, atau mengetahui rasa suatu makanan. Tidak akan bisa!”

 

Siwon pernah memberikannya wanti-wanti mengenai hal ini.

Mia menurunkan tangannya perlahan dari dahi Kyuhyun.

”Aku tidak sakit,” jawab Kyuhyun pendek dan terdengar…. angkuh! Astaga, astaga, astaga, Kyuhyun!! Kenapa pria itu kembali berbicara dengan nada menyebalkan itu pada Mia?! Padahal waktu ngobrol ngalor-ngidul kemarin, nada bicara Kyuhyun perlahan berubah ramah dan menyenangkan terhadapnya.

”Jangan bohong.” Mia menggoyang-goyangkan kepalanya. ”Kamu pasti kebanyakan berjalan-jalan di luar sampai tidak enak badan.”

”Aku tidak sakit.” Kyuhyun mengulangi kata-katanya.

Ck, keras kepala! Mia menyipitkan mata. Dan sebelum sempat Kyuhyun menanyakan apa maksud ekspresi wajah Mia, gadis itu langsung menariknya ke salah satu mini market tak jauh dari mereka. Terlihat kecil dari luar, tapi cukup lengkap tersedia barang-barang yang dibutuhkan.

Mia—masih dengan menyeret Kyuhyun yang kebingungan—berjalan menuju ke tempat kasir dan menyapa mbak-mbak di sana. ”Miss…, do you have ’Squalene’?” tanya Mia dengan Bahasa Inggris yang agak patah-patah. Mungkin ini karena dia gugup tengah memegang tangan Kyuhyun—idolanya itu. Mia nekat menyeret Kyuhyun ikut masuk ke mini market ini. Untung Kyuhyun stand by memakai sunglasses sepertinya, sehingga penjaga kasir tidak akan menyadari sosok di depannya ini.

Yes, here!” Penjaga itu menyerahkan sebuah botol menerawang penuh dengan kapsul lonjong berwarna kuning. ”70 Dollar!”

Mia tersenyum manis ke arah Mbak-mbak di depannya, lalu pandangannya beralih ke arah Kyuhyun dengan tatapan memelas. ”Give me 70 Dollar, please…,” ujarnya sambil mengerjapkan mata.

”Kau tadi menarik-narikku seperti ibu tiri menarik anaknya ke tempat ini dan sekarang kau malah meminta duit dariku?!” bentak Kyuhyun galak.

”Bukankah kau sudah dapat banyak bayaran dari Siwon?”

”Ck, kau ini…” Kyuhyun menatap Mia geram, ia kehabisan kata-kata dan malah menghembuskan napas kesal. Kemudian pria itu mengeluarkan dompetnya dan memberikan lembaran sepuluh dolar sebanyak tujuh kepada Mia.

Mia menyerahkan lembaran uang itu pada penjaga kasir dan menerima botol Squalene. Lalu setelah membungkukkan badan dan mengucapkan terima kasih, ia dan Kyuhyun keluar dari mini market.

”Itu apa?” tanya Kyuhyun kebingungan. Ditunjuknya botol yang dibeli Mia di mini market.

”’Squalene’!” seru Mia polos.

Kyuhyun memutar bola matanya kesal. ”Aku tahu kalau itu! Jelas-jelas botol ini ada tulisan ’Squalene’-nya!” Kyuhyun mengetuk-ngetuk botol transparan itu dengan geram. Mungkin ia agak kesal karena harus mengeluarkan duit sebanyak 70 Dollar hanya untuk sesuatu yang asing baginya.

Mia tidak segera menjawab pertanyaan Kyuhyun. Malah kakinya melangkah terus menuju salah satu tempat karaoke di pusat keramaian. Tempat itu tampak mencolok dengan lampu merah-kuning berkedap-kedip genitnya. Mia masuk ke salah satu kedai itu dan memesan sebuah ruangan, setelah diberitahukan mana ruangan yang kosong, ia kembali menoleh pada Kyuhyun.

”Give me 35 Dollar,” ujarnya sambil menyodorkan tangan persis di depan wajah Kyuhyun. ”Cepatlah, yang punya uang kan kau!”

”Errrgghhh… kau…” Kyuhyun kembali mengeluarkan dompetnya dan kali ini malah menyerahkan dompet itu ke tangan Mia. ”Ambil saja semuanya kalau perlu!” serunya sinis.

”Nada bicaramu menyebalkan sekali.”

Mia mengambil beberapa lembar uang dari dalam dompet dan menyerahkannya pada kasir. Lalu ia berjalan masuk ke koridor dengan penerangan remang-remang. Kyuhyun mengikuti gadis itu sambil melipat kedua tangan di dada dan mengangkat dagu tinggi-tinggi. Agak berjengit saat dilihat seberapa kumuh dan kotornya tempat karaoke ini.

Now what?!” erang Kyuhyun saat Mia membuka salah satu pintu dan mengkodekan pria itu ikut masuk bersamanya. ”Apa maksudmu menyeretku ke tempat ini dan menghabiskan banyak duitku?!” Kyuhyun duduk di sofa yang sedikit berdebu, ia langsung terbatuk-batuk.

Mia tersenyum. ”Jangan marah dulu.” ujarnya menenangkan. Segelas kopi datang ke meja dibawakan oleh seorang pelayan, Mia langsung mengucapkan terima kasih pada pelayan yang berjalan keluar dan menutup pintu ruangan.

”Siapa yang bakal bayar minuman itu?” tanya Kyuhyun jutek.

”Ya kaulah! Memang siapa lagi, aku kan tidak punya duit sepeser pun!” Mia menggeser cangkir kopi itu ke depan Kyuhyun. Lalu membuka bungkusan Squalene di tangannya, dan menyodorkannya pada Kyuhyun.

”Apa lagi yang kau lakukan?” Kyuhyun terkaget-kaget melihat tingkah Mia. ”Sekarang jawab, Mia! Itu apa?”

”Ini Squalene!” ujar Mia pendek. Tapi saat melihat tampang Kyuhyun yang mulai kusut, dia buru-buru menambahkan, ”Ini obat impor dari Jepang, dari negaraku. Di sana sih harganya tidak semahal di sini. Obat ini mujarab plus praktis buat mengobati hawa dingin di malam hari, daripada masuk angin? Nah paling cocok itu setelah minum Squalene, kau minum teh seduh atau kopi, biar makin hangat dan makin nikmat!”

”Ceritanya promosi obat dari negaramu nih?” ledek Kyuhyun.

”Ya ampun, bukan begitu! Aku hanya ingin kau tidak kedinginan kayak tadi! Aku tidak ingin kau kenapa-kenapa, bikin khawatir aja tahu!” seru Mia spontan. Membuat Kyuhyun membulatkan matanya menatap Mia sehingga gadis itu jadi salah tingkah.

Kyuhyun mengamati kapsul berwarna kuning terang di tangan Mia, lalu mengambilnya, dan menelannya. Kemudian menarik gagang cangkir kopi di depannya dan menyeruputnya pelan.

Mia tersenyum samar. Dia tahu benar Kyuhyun menikmati minumannya. Dia tahu benar, pilihannya memesan kopi adalah yang terbaik. Karena dia tahu benar, Kyuhyun menyukai kopi lebih dari siapapun yang dikenalnya di dunia.

”Sssttt.. Mia, lagi ngapain?!”

Seseorang menepuk bahu Mia keras. Membuat dia kaget dan refleks membalikkan badan. Siwon tahu-tahu berdiri di belakangnya. Sayapnya tampak bersinar sesaat lalu meredup dan mengecil, tersembunyi di balik badannya. Pria itu menunjukkan cengiran lebarnya.

”Kau dari mana aja, Siwon? Kau ini selalu menghilang dan muncul tiba-tiba seperti ini. Kau ini… aku tadi ke apartemenku dan sibuk memanggil-manggilmu tapi kau tidak muncul-muncul juga. Bagaimana kalau aku tersesat di jalan dan mati tertabrak mobil?! Siwoooonnn, apa yang kau lakukan jika semua itu terjadi??!!” cerocos Mia. Kyuhyun langsung melirik tajam ke arahnya. ”Kenapa?” tanya Mia bingung.

Kyuhyun mengangkat bahu.

”Kau tidak akan mati tertabrak mobil, bodoh. Kau kan sudah mati.” Siwon terkikik-kikik geli. Ia mengambil tempat di sebelah Kyuhyun dan menatap pria itu lekat. Kyuhyun hanya menyeruput minumannya tanpa banyak bicara, ia bahkan memasang tampang menyebalkannya. ”Kyuhyun bersikap baiklah dengan Mia, tidak bisakah?” tanya Siwon menepuk-nepuk kepala Kyuhyun pelan.

Kyuhyun langsung mendongakkan kepala. Menatap tajam Siwon dan dibalas Siwon dengan tatapan tak kalah tajam. Keduanya saling bertatapan beberapa lama sampai akhirnya Kyuhyun memalingkan wajahnya dan menghembuskan napas.

”Baik. Aku mengerti, Siwon,” ujar Kyuhyun pelan.

Siwon tersenyum lebar. ”Nah, gitu dong. Jangan sampai lupa lagi, ya,” ujar Siwon sambil menepuk-nepuk bahu Kyuhyun. Siwon menunjukkan cengiran lebarnya.

Mia cuma bisa mengernyit kebingungan melihat kelakuan dua makhluk di depannya itu. Lagi-lagi mereka melakukan gelagat mencurigakan.

”Kau sudah mengingat sesuatu?” tiba-tiba Kyuhyun menoleh padanya dan menatapnya lekat.

”Apa?”

”Ada yang kau ingat tidak? Sesuatu yang penting? Kan tidak mungkin aku sia-sia saja mengajak Mister Alex pergi ke bar dan membuatnya mabuk jika kau tidak mengingat apapun.”

Mia mengerjapkan matanya beberapa kali. Jadi Kyuhyun sengaja membuat Mister Alex mabuk?

”Ada sesuatu yang harus kau ingat terkait Mister Alex, Mia… kurasa itu akan membantumu dalam membujuk ibumu,” ujar Kyuhyun.

”Maksudnya?” Siwon mewakilkan Mia untuk bertanya. Mia sampai merasa Siwon itu kurang kerjaan sekali.

Siwon bisa tahu semuanya dengan mudah, tapi tetap saja dia selalu banyak tanya seakan tidak tahu apa-apa.

Kyuhyun menghela napas. ”Dari pembicaraanku dan Mister Alex tadi, aku tahu kalau Mister Alex sudah berbuat hal yang tidak menyenangkan padamu dulu. Apakah itu benar?”

Mia terdiam. Pertanyaan Kyuhyun membuat dadanya terasa sesak tanpa sebab. Ada kelebatan gambar yang memenuhi kepalanya. Tetapi semua tampak buram dan sulit ditebak. ”Entahlah…”

”Aku hanya bisa memberimu petunjuk. Kupikir sudah saatnya kau perlu mencari diary-mu. Temukanlah, bersama Kyuhyun… kau harus mencari diary itu.” Siwon menatap Kyuhyun dan mengangguk kecil.

”Iya. Besok aku dan Mia akan pergi bersama mencari kemana perginya buku itu.”

Mia lagi-lagi mengernyit bingung. Demi apapun gadis itu kini benar-benar penasaran ada hubungan apa Siwon dengan Kyuhyun? Saat-saat seperti ini, kedua pria itu kini tampak dekat sekali dan saling mengenal satu sama lain.

Jangan bilang, kalau Kyuhyun ternyata malaikat kematian juga? Sama dengan Siwon? Tapi selama ini menyamar sebagai penyanyi?

Uh oh, Mia pusing memikirkan hal ini. Rasa-rasanya kepalanya ingin pecah. Dan diary.. ah, diary! Ya, Mia memang harus menemukan diary itu. Buku harian kesayangannya, ia tidak bisa hidup tanpa diary itu.

Kyuhyun tahu-tahu menoleh dan setengah membentaknya. ”Kau, kau kenapa mengajakku ke tempat kumuh ini? Kau ingin aku menyanyikan lullaby untukmu sampai kau tertidur pulas, ya? Atau… kau! K-kau… ingin berbuat macam-macam terhadapku?!” Kyuhyun memeluk tubuhnya sendiri dan memandang Mia dengan penuh curiga.

Mia memandang Kyuhyun speechless. Lamunannya tentang diary runtuh seketika digantikan berlipat-lipat kernyitan di dahi. Entah apa yang dipikirkan pria sok galak ini hingga berpose seperti itu. Memangnya Mia sudi melakukan apa-apa kepadanya, hah?!

”Aku ingin kau menghangatkan diri barang sebentar, tadi badanmu benar-benar demam dan kurasa berjalan kelamaan di luar tidak cukup baik untukmu. Aku tidak mungkin membawamu ke kedai-kedai kopi di luar sana, kau akan ditemukan oleh fans-mu dan menjadi incaran paparazzi dalam beberapa detik. Kau bilang kau takut dengan fans dan tidak ingin diganggu oleh mereka, jadi kubawa saja kau ke tempat ini. Kau bisa bersantai dan kau aman dari fans-mu!”

”Kenapa kau repot-repot melakukan hal ini? Kau toh anti-fans, kau pasti suka membuatku merasa repot.” Kyuhyun mengeluarkan kata-kata bernada sinis.

Mia menggelengkan kepala dan mengernyit kebingungan. ”Mana mungkin aku senang jika ditemukan berduaan denganmu. Membuatmu terjerat skandal itu bisa membuatku merasa sedih, gini-gini kau kan leader-nya Mr.Headstone. Tentu pekerjaanmu lebih berat dibanding member lainnya, kalau masih pakai skandal-skandal itu, kau bisa repot. Maaf, tapi aku tidak suka merepotkanmu seperti itu. Aku menghargai privasimu dan berusaha selalu menghargainya.”

Kyuhyun terdiam.

Andai saja Mia bukan hantu dan masih hidup, Kyuhyun pasti akan merekrut gadis itu untuk menjadi pengganti Manajer Park sekarang juga. Atau paling tidak ia akan membujuk-bujuk agensi agar gadis itu bisa bekerja mengurusi Mr.Headstone, entah itu jadi coordi, staf, ataupun bodyguard mungkin? Gadis itu selalu bisa membuat Kyuhyun terpaku dengan ucapan dan tingkahnya.

Tanpa sadar Kyuhyun tersenyum sendiri. Ada rongga di dadanya yang mendadak terisi dengan kehangatan. Tapi ia langsung memasang wajah dingin saat diliriknya Siwon tengah memandanginya dengan tatapan menggoda, Siwon pasti tahu apa yang sedang ia pikirkan.

”Apa tadi di apartemen ibumu tidak ada kejadian apapun?” Kyuhyun mengalihkan pembicaraan.

”Ti-tidak…” Mia menggeleng cepat, ”…tidak ada kejadian apapun.”

”Benar tidak ada?” nada suara Kyuhyun terdengar gelisah. ”Kau tidak ingat apapun, masa sih?”

Mia mengangguk lagi, meski kali ini tidak dengan anggukan yakin.

Seingatnya sih memang tidak ada kejadian apapun. Seingatnya ia cuma menghabiskan waktu dengan mengobrol dan menonton TV bersama Ibu. Seingatnya… ugh… seingat…nya…. —oh shit, ia tidak bisa… mengingat segala sesuatu dengan baik…

Kyuhyun menghempaskan punggungnya ke sofa dan menarik napas dalam-dalam. Wajah pria ituterlihat pucat dan kelelahan. Mia bahkan bersumpah ia bisa mendengar napas Kyuhyun yang tidak lancar, sepertinya pria itu kesulitan bernapas. Sesak napaskah? Atau pria itu punya riwayat asma? Mia hanya bisa memandangi Kyuhyun tanpa berkata-kata.

Ruangan karaoke ini mendadak hening.

Siwon menyambar remote di atas meja dan menguatak-atiknya dengan wajah tolol. Layar TV yang tadinya hitam langsung menyala terang dan mengeluarkan suara intro yang keras sekali. Siwon sontak kaget dan tidak sengaja menjatuhkan remote-nya.

Suara intro lagu anak-anak memenuhi ruangan karaoke yang kecil itu. Kyuhyun yang tadinya bersandar di sofa, menegakkan tubuhnya dan menatap layar TV dengan mata bulat lebar. Sepertinya pria itu juga kaget dengan suara yang mendadak muncul itu.

”Aisshhh, kau apakan ini?” dengus pria itu kesal. ”Lagu anak-anak? Ck,”

Siwon menunjukkan cengiran tak bersalahnya. ”Hahaha, aku asal pencet tadi… hehehe, habis ruangan ini sepi sekali…” Ia menggaruk-garuk kepalanya.

Ketiganya—Mia, Kyuhyun, dan Siwon—serempak menatap layar TV. Tempat karaoke ini sungguh payah, penerangan ruangannya gelap, sofanya apek, mejanya berdebu, dan layar TV nya kasak-kusuk. Suara intro lagu yang terdengar menjadi tidak terlalu jelas karena speaker-nya sudah lama.

”Ini lagu apa?” tanya Siwon polos.

”’Twinkle-twinkle little star’!” seru Mia cepat. Ia hafal lagu anak-anak satu ini, ia selalu menyanyikannya sejak kecil. ”Biar aku yang nyanyi—”

Seeetttt… baru saja tangan Mia hendak meraih mic, tahu-tahu Kyuhyun sudah menyambarnya cepat. Gadis itu membeliak kaget.

”Kau… kau mau nyanyi? Ck,” Kyuhyun menoleh ke Mia dan memasang wajah meremehkan. ”Jangan menambah hal-hal minus di tempat ini.” Kyuhyun berdiri dari duduknya dengan sempoyongan, hampir-hampir mau jatuh kalau tidak keburu ditahan Siwon. Kyuhyun terkikik pelan sembari menepis tangan Siwon. Kepalanya bergoyang ke kiri dan ke kanan sambil menggerakkan badannya seakan lagu ’Twinkle-Twinkle Little Star’ adalah musik paling keren di pub-pub terkenal di dunia. Gayanya sudah seperti orang mabuk, padahal ia hanya meminum secangkir kopi dicampur obat! Hah!

”Kau tahu di tur dunia Mr.Headstone yang ketiga, lagu ini diubah liriknya menjadi ’Twinkle-Twinkle Little Stone’? Karena seluruh fans Mr.Headstone dengan keras kepalanya minta lirik lagunya diganti,” ujar Kyuhyun.

”Ya, aku tahu,” Mia mengerling malas. ”Dan kau seorang diri yang tidak nyanyi karena kau bilang hal itu konyol sekali. Kau sama saja dengan kami, Kyu, sama-sama keras kepala,” gumam gadis itu, jelas agar tak terdengar oleh Kyuhyun.

Allright everybody—semua ke kanan!!” teriak Kyuhyun seperti orang tidak waras. Kyuhyun melompat-lompat ke kiri dan ke kanan, meliuk-liukkan tubuhnya dengan gaya wave berlebihan, lalu berteriak dengan suara beroktaf-oktaf seolah ruangan ini adalah stadion sepak bola.

Mia mencibir melihat kelakuan Kyuhyun. Tadinya ia prihatin melihat tubuh demam Kyuhyun, tapi lalu tingkah bocah ini sekarang justru malah membuat Mia ingin menendang Kyuhyun sampai ke hotel penginapannya sekarang juga.

Intro musik yang cukup panjang itu akhirnya berakhir dan kemudian memunculkan gambar seorang gadis gendut kecil bermata sipit memegang mic sambil bergoyang lincah. Ada lima bulatan kecil berwarna putih di sudut kiri bawah layar, menandakan hitungan mundur sebelum lagu dimulai.

Lima… empat… tiga… dua… satu…

Twinkle-twinkle little stone~… twinkle-twinkle little stone…~! Twinkle-twinkle little stone…, twinkle-twinkle….

Astaga, astaga, astaga! Mia memukul wajahnya keras dan meringis geli. Apa yang Kyuhyun nyanyikan tadi, hah? Pria itu bahkan sama sekali tidak hafal lirik lagu itu!

Kyuhyun sama sekali tidak melirik layar dan terus bernyanyi, bahkan sesekali menyelipkan jeritan tiga oktafnya disela-sela lagu. Persis seperti pria-pria galau yang baru diputusin oleh pacarnya dan memilih tempat karaoke sebagai pelabuhan terakhir sebelum mereka terkapar di lantai kamar sambil meratapi nasib percintaannya.

Tapi Mia tahu Kyuhyun sama sekali tidak patah hati, sama sekali tidak diputusin oleh siapapun. Jadi tingkah leader Mr.Headstone itu, kali ini benar-benar gila.

”Hei, hei, hei! Kyuhyun, kau kalau tidak bisa bernyanyi lebih baik berhenti sajalah!” Mia hendak merenggut mic, tapi Kyuhyun malah menarik tangannya dan mengajaknya menari bersama. Kyuhyun tertawa-tawa lebar. Wajah pucatnya terlihat semakin pucat, tapi ironisnya pria itu masih terus saja bergoyang. ”Kau ini, lemah sekali! Aku cuma memberimu secangkir kopi dan kau jadi mabuk seperti ini, heh?”

”Kau ini… hihihi… benar-benar bodoh…,” Tuk! Kyuhyun mengetuk-ngetukkan jarinya di kepala Mia. ”Aku ini… penyanyi… hihihi, jelas bisa bernyanyi. Lagu anak-anak seperti ini sihhh… gampanggg…..” Kyuhyun menjentikkan jarinya dan kembali tertawa keras. ”Twinkle-twinkle little stone… twinkle-twinkle little stone… twinkle-twinkle little…

”Arggghhhh… hentikan…!” Mia menutup kedua telingat rapat-rapat dan membalikkan tubuhnya. Tidak ingin mendengar suara tiga oktaf Kyuhyun yang amat mengganggu. ”Oh, ayolah, Mia… kau mengajakku ke tempat karaoke tapi kau melarangku bernyanyi, itu kan konyol.” Kyuhyun merentangkan kedua tangannya, lalu diliriknya Siwon yang tampak bengong sedari tadi. Seakan mendapat ’mangsa’ baru, Kyuhyun langsung melompat ke arah Siwon dan menarik tangan pria itu. ”Hei, kau, malaikat kematian! Mau battle lagu ’Twinkle-Twinkle Little Stone’ denganku? Ayolah…, kau harus melakukan hal ini. Jangan bilang saking telalu sibuknya mencabuti nyawa-nyawa orang, kau jadi tidak tahu lagu ini. Ini sangat terkenal…”

Tarikan tangan Kyuhyun begitu kuat, hingga mau tak mau Siwon berdiri dan tegak di samping pria itu. ”Kau gila, Kyuhyun? Ck, aku tidak tahu kau bisa sebahagia ini.” Siwon menggeleng-gelengkan kepala dan tersenyum geli.

”Hahaha, kau memang bisa membaca pikiran dan perasaan orang!” Kyuhyun tampak takjub.

Siwon menyambar mic dari tangan Kyuhyun dan bersiap-siap menyanyikan lirik lagu selanjutnya. Keduanya tertawa bersama dan saling berangkulan menyanyikan lagu demi lagu anak-anak yang diputar. Suara aneh keduanya beradu dengan musik-musik yang berdentum keras. Mereka melompat-lompat kesenangan dan sekali dua kali ber-high five saat berhasil menyelesaikan lagu. Tidak peduli dengan Mia yang kini duduk memojokkan diri di sudut ruangan dengan bibir manyun.

”Seharusnya aku tidak membiarkan seorang idola sok galak dan malaikat kematian sok ganteng berduet menyanyikan lagu anak-anak seperti ini, hah, bahkan mereka hafal liriknya pun tidak. Aduh, menyesal sekali aku mengajak Kyuhyun ke sini,” dengusnya sebal.

.

.

.

.

.

.

See you next part~

11 thoughts on “Mr.Headstone (Track 05)

  1. aku makin penasaran eon sama masa lalunya mia, sebenernya ada kejadian apa antara mia sama ayah tirinya? geregetan juga kenapa siiih mia itu pikunnya tingkat dewa? hahaha
    terus itu yg di tempat karaoke, asli ya aku ngakak banget bacanya hahaha..

  2. Halo..
    Aku balik soph🙂
    kemarin2 udh ke sini tp gak ninggalin jejak, gak tau. D tengah jalan blm selesai, ngantuk -.-
    alurnya melambat ya yg ini?

    Suka siwon di sini. Imut😀

  3. let’s see.. akhirnya aku kesini lagi.. baca di shopiemorore lagi :3
    aku kok ngga ada feel ya bacanya:/ kek ngga penasaran gitu, ya sebenernya penasaran sih sama apa yg dilakuin mister alex ke mia dulu :s oh mungkin ini karena dulu waktu nyamperin kesini pertama kali kejedot sama yg why why why :v dan sampe skrg blm move on(?) ughh, miss donghae in your ff ^^

    keep writing!!

  4. Aku curiga ayah tiriny mia terlibat sma kematiannya si mia. *jiwa detektif kumatXD
    Ahaha duo evil-angel ini bikin ngakak, itu si kyu dikasih apa ama si mia kayaak org mabuk ajaa. Salah kasih obat ini mia nampakny, ckck

  5. Ya ampun, itu kenapa dua lelaki absurd eksis banget!!😀
    Kyu juga, kenapa tiba-tiba jadi ga jelas gitu hidup & jiwanya?
    Kemana perginya Kyu yg angkuh & jaim?

    Terus ada misteri apa antara mia & daddy nya?
    Kok aku ngerasa ada yg busuk2 gitu ya?
    Itu ayah tirinya bermasalah deh!

  6. Akhirnya dilanjut juga FFnya. Semakin penasaran thor, Kyuhyun kalo di kopelin ama mia narafa kayak lem lengket yerus. Kocaknya bagaikan pelawak

Just talking...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s