[FF/Oneshot/G/COMING SOON]

[FF/Oneshot/G/COMING SOON]

Author        : Sophie Maya

Title            : Coming Soon

Cast            : Mia Narafa, Cho Kyuhyun

Support Cast       : Taeyon

Genre          : romance

Rated : G

Length: oneshot

Summary    : Al Insyirah, setelah kesulitan ada kemudahan.

KYUUUU

Disclaimer  : Super Junior isnt MINE. But this story is MINE.

Warning      : do you hate the CAST? DONT READ, its simple. And one more, NO BASHING oke? Oh right, one more again I HATE SILENT READERS, so comment this story right? ^^ mengandung SARA dan nggak bermaksud menjelekkan agama manapun.

 

Kadang kita merasa bertambah tua tanpa kita sadari, kita bertambah tinggi, bertambah tambun, bertambah pintar, bertambah egois meski kita selalu menganggap diri kita pendek, kecil, bodoh, dan tanpa dosa.

Hal yang paling kusesali adalah aku menyadari semua itu di tahun terakhir di masa kuliah. Ketika Miss Taeyon menatapku dengan tatapan simpatik ala dosen yang berusaha menyelamatkan mukaku, menyelamatkan mukanya, namun sekaligus ingin menjatuhkan harga diriku (kalau kau tak paham maksudku, kurasa kau harus baca Teori Negosiasi Muka yang pasti akan membuatmu menyangka seluruh teori di Jurusan Komunikasi seperti cerita rakyat yang ada tapi kadang tak kau percayai keberadaannya, atau yang kadang kau percayai keberadaannya namun ragu akan kebenarannya) saat aku menjelaskan aku baru saja akan mengambil Tugas Akhir. Di tahun ke empat kuliah, setelah sekian teman sudah lulus, nikah, dan terbang ke negara lain untuk menikah dengan orang asing (tentunya bukan menikah dengan orang “seasing” Doo Min Joon).

“Kau angkatan 2010? Mia Narafa?” tanyanya lagi dengan suara penuh wibawa dan kentara sekali ingin menarik harga diriku.

“Ya, Profesor.”

“Temanmu sudah ada yang lulus, kan?”

“Beberapa ya, beberapa tidak.”

“Lantas kenapa kau baru mendaftar?”

“Errggh… Profesor…” aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. “Aku sepertinya keasyikkan liburan menikmati masa berakhirnya magangku kemarin. Aku sampai lupa kalau aku harus mengerjakan TA supaya lulus, dan bukannya tidur-tiduran di kursi malas dengan harapan begitu bangun langsung mendapat gelar S1.”

“Aduh, ceritamu persis seperti cerita tiga mahasiswa yang konsul sebelum ini.”

“Aduh, Miss Taeyon… sepertinya tiga mahasiswa yang kau maksud itu teman-teman segrupku. Kami semua punya penyakit mahasiswa ‘tua’ yang sama.” Kataku sambil menggerakkan dua jariku seolah sedang menandai kata “tua”.

Miss Taeyon tergelak mendengar cerocosanku. “Hahaha, aku mengerti. Itu penyakit mahasiswa.” Miss Taeyon mengedipkan mata. “Aku dulu juga begitu. Yah, memang harus begitu. Dosen itu bukan sistem kasta, yang lahir langsung jadi dosen. Kayak bangsawan, yang begitu lahir langsung jadi putri mahkota. Aku juga pernah jadi mahasiswa, aku juga pernah malas, dan aku juga pernah titip absen. Oh, aku juga pernah lupa kalau aku harus lulus sampai akhirnya dosen waliku mengetok kepalaku dan berteriak ‘TAEYOOONNN KAMU KAPAN MAU LULUS? MAU JADI TANTE BANGKOTAN DI KAMPUS??’ hahaha, akhirnya aku lulus juga dengan susah payah. Makanya sekarang aku jadi dosen favorit mahasiswa, kan ya?”

Aku terkekeh. Miss Taeyon percaya diri sekali dan dia benar sekali. Dia memang salah satu dosen favorit. Dia cantik, muda, dan sudah menjadi ketua jurusan di komunikasi. Dia sering tersenyum, memaafkan keterlambatan perwalian dari mahasiswa yang bandel, tidak pernah menutup pintu ruangan bagi mahasiswa yang telat, dan membiarkan mahasiswa memanjangkan rambut dan para perempuan memakai anting di hidung.

Katanya, dia justru suka melihat Jurusan Komunikasi penuh dengan “manusia yang mengkomunikasikan kepribadian unik mereka”, begitu katanya. Dosen komunikasi saja unik-unik dan berdandan lebih seperti seniman jalanan daripada dosen bergelar S2, lantas kenapa membiarkan muridnya seperti tawanan di dalam penjara dengan harus memakai kemeja dan celana kain?

“Baiklah, kau sudah menceritakan masalahmu. Kurasa aku bisa membantumu. Maksudku, topik yang kau angkat itu menarik. Itu jarang sekali dibahas dan kau punya selera kritik yang baik. Coba kembangkan masalahmu dan bawa latar belakang dan rumusan masalahnya padaku minggu depan. Semoga saja masalah tadi bisa jadi tema Skripsimu.”

Aku menyeringai lebar. “Baiklah, akan kukerjakan. Terimakasih, Miss.”

Aku keluar dari ruangan Miss Taeyon sambil mengayunkan stopmap dengan langkah riang. Menyambut Jessica, Tiffany, dan Minho yang menungguku di luar ruangan.

“Bagaimana?” tanya Minho penasaran. “Temamu diterima?”

“Ya, tentu saja.” Aku tertawa. “Dan dia juga membicarakan kalian bertiga, lho,” kedipku.

“Apa?” Jessica menelan bolu keju yang sedang disantapnya. “Dia bilang kita kenapa?”

Aku hanya tertawa dan menggeleng pelan.

“Hm, kalau kau ajukan masalahmu ke Professor Kyuhyun kurasa tak akan diterima,” ujar Tiffany lagi. “Tahu sendiri kan,tema skripsimu… ‘begitu’…” ringisnya.

Aku berhenti sebentar mendengar nama Kyuhyun disebutkan. Aku tak melihatnya tadi di ruang dosen. Mungkin lagi mengajar. Meja Kyuhyun bersebelahan dengan meja Miss Taeyon karena mereka ketua dan sekretaris jurusan.

“Ah, ya… mungkin…” aku menunduk, menatap stopmapku dengan pandangan kosong.

.

.

.

.

.

.

Tepat seminggu aku setelah terakhir konsul dengan Miss Taeyon, aku kembali melangkah ke ruang jurusan membawa latar belakang dan rumusan masalah yang diperintahkan Miss Taeyon. Hari masih pagi, jam masih menunjukkan pukul sembilan pagi, dan penjaga jurusan baru saja mengambil kain pel untuk membersihkan lantai.

“Kau pagi sekali, Nona,” sapa penjaga jurusan.

Aku tersenyum. “Miss Taeyon ada?”

“Hm… coba kau lihat sendiri di ruangannya. Biasanya dia kan selalu datang sebelum aku.”

“Ya, aku tahu itu. Itu alasanku datang jam segini,” cengirku lantas berpamitan pada penjaga jurusan.

Pintu ruangan Miss Taeyon terbuka namun terlihat sepi. Aku melangkah masuk ke dalam dengan terus menatap meja Taeyon yang berada di dekat jendela. Sepi. Taeyon belum datang.

Oke, mungkin sebaiknya aku menunggu di luar…

“Mau kopi?”

Aku terdiam. Memutar kepalaku ke sumber suara dan hampir-hampir terlompat melihat Kyuhyun sedang duduk di atas mejanya, dengan cangkir kopi yang asapnya mengepul ke atas, dan sorot matanya yang terus memandangiku.

“Astaga, sejak kapan kau ada di situ?!” pekikku tanpa bisa menyembunyikan kekagetan. Aku sama sekali tak menyadari ada Kyuhyun di ruangan ini. Oh, oh, oh, iya… meja Kyuhyun memang berada tepat di samping meja Taeyon. Tapi kan… tapi kan… aduh, kenapa bisa tidak lihat? Kalau lihat kan seharusnya disapa, dia itu dosen lho, dosen. Bukan pria kurang kerjaan yang menclok di ruang jurusan.

“Sejak kau melangkah ke dalam ruangan, mengendap-endap, menggigit bibir bawahmu gugup, sempat-sempatnya merapikan kerudungmu yang sebenarnya sudah rapi, dan kemudian terlihat kecewa saat melihat meja Taeyon kosong. Kau menghela napas dan menundukkan kepala, meremat jari-jarimu di pinggiran stopmap… lalu kembali menghela napas…”

Astaganagabonarjadidua. Kenapa harus dijelaskan sampai sedetail itu? Astaganagabonarjadidua. Aku tahu dia dosen komunikasi dan selalu melakukan penelitian atas manusia, tapi tidak perlu sampai bersastra ria dengan mendeskripsikan tingkah lakuku yang terlihat memalukan tadi, kan? Astaganagabonarjadidua. Iya, benar, tadi aku pasti malu-maluin.

Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Antara gugup, malu, salah tingkah, kecolongan, gugup lagi, malu lagi…

“Mau kopi?” tanyanya.

“Tidak,” kataku cepat. “Ehm, maksudku… tidak, Professor…”ralatku dengan imbuhan sikap hormat yang kutujukan pada Kyuhyun.

Kyuhyun menatapku tanpa berkata-kata. Dia menyesap kopinya, sambil tetap menatapku yang langsung berdiri dalam mode frozen on. Membeku. Dan tidak tahu harus berbuat apa. Aku ingin segera keluar dari ruangan dan menunggu di luar saja. Tapi bagaimana caranya berpamitan pada Kyuhyun?

“Mau ketemu Taeyon?” tanya Kyuhyun.

Aku mengangguk.

“Hari ini Taeyon pergi ke Busan.” Kyuhyun berkata dengan nada tenang.

“Hah?” aku melongo mendengar ucapan Kyuhyun. “Miss Taeyon… ke Busan?”

Kyuhyun mengangguk. “Tadi pagi baru berangkat. Tiba-tiba, sih… dia hanya mengirimkan pesan padaku untuk menghandle Jurusan Komunikasi sementara waktu.”

Aku mengangguk-angguk tolol.

Kyuhyun memperhatikan stopmap di tanganku. “Kau baru mau ambil Skripsi? Ya ampun…”

Aku mengerucutkan bibir. Pasti Kyuhyun mengira aku ini mahasiswa malas sedunia.

“Baru tema atau sudah sampai mana?”

“Baru tema, Professor.”

“Sini aku lihat,” ujar Kyuhyun.

Aku sontak menggeleng. “Tidak perlu, Professor.”

“Kenapa?”

“Ini…” aku memandang stopmapku dengan rasa bersalah. “Tema yang mungkin tidak akan menarik untuk Professor Kyuhyun.”

“Oh, ya?” Kyuhyun meletakkan cangkirnya di atas meja dan bangun untuk duduk di kursi. “Tentang apa memangnya?” tanyanya sambil mempersilahkanku untuk duduk di depannya.

Mau tak mau aku mendekat dan duduk di kursi yang telah disediakan. Sembari dalam hati merutuki kebodohanku yang tetap saja bertahan di ruangan ini bukannya keluar saja. Bagaimana kalau nanti Kyuhyun justru mengata-ngatai temaku? Menceramahiku panjang lebar? Menjatuhkan harga diriku ke jurang terdalam? Oh, oh, memangnya aku masih punya harga diri yang tersisa? Argh.

Aku menghela napas, dengan berat hati menyerahkan stopmapku. Dan berkomat-kamit dalam hati, berdoa agar ketika Kyuhyun membukanya, pemuda itu tidak langsung membantingnya ke lantai.

“Tentang apa?” tanya Kyuhyun sambil membuka stopmap dan mulai membacanya.

“Tentang…” aku menggigit bibirku. “Fashion Hijab dalam Majalah Wanita.”

Kyuhyun mengangkat kepala dan memandangiku. “Hijab?”

“Iya…” wajahku langsung meringis penuh rasa cemas. Tuh… lihat, ekspresi Kyuhyun saja berubah aneh begitu mendengar kata “hijab”. Bagaimana kalau misalnya aku bilang aku mau mengkritik hijab yang digunakan remaja dan meniru majalah wanita itu bertentangan dengan syariah islam? Aku bahkan ragu Kyuhyun mengerti, aku bahkan tidak yakin Kyuhyun tertarik. Aku punya alasan kenapa aku lebih memilih konsul dengan Taeyon dibanding Kyuhyun. Dia pria, itu yang pertama. Dia bukan tipe orang yang peka fashion, itu yang ketiga. Dia atheis, itu yang ketiga. Dia… atheis… itu yang keempat, kelima, keenam, ketujuh, dan seterusnya.

Aku menundukkan kepalaku seolah mengheningkan cipta.

“Maaf, Profesor… bukannya ingin menyinggung, tapi saya cemas kalau anda membaca tema ini, anda akan bilang tema saya tidak menarik. Bukankah kita harus mengajukan tema yang menarik menurut dosen?”

Kyuhyun membaca tulisanku sebentar. Keheningan menerpa kami berdua. Dan aku merasakan AC ruangan bertambah dingin lima kali lipat dibanding biasanya.

Suara detak jam dinding di ruangan terdengar begitu keras menandakan sepinya keadaan ini, nyaris seperti kuburan.

Aku masih terus menatap ke bawah, menatap ke sepatuku, dan berharap sepatuku bisa bergerak sendiri dan membawaku keluar dari ruangan.

“Kalau menurut kamu ini menarik,ini berarti menarik, Mia… jangan merendahkan harga dirimu sendiri.” Kyuhyun akhirnya membuka suara.

Aku mengangkat kepala.

Kyuhyun menatapku dan tersenyum. “Ini… menarik.”

Aku mengerjapkan mata. “Su-sungguh?”

“Miss Taeyon bilang apa saat kau mengajukan ini?”

“Dia suka dengan temaku.”

Kyuhyun menganggukkan kepala. “Aku juga suka dengan temamu.”

Aku tersenyum, dadaku menghangat seketika. “Terimakasih, Professor.”

Kyuhyun mengambil pena merah dari saku kemeja dan mencoret-coret kertas di dalam stopmap. “Maksudku, aku benar-benar suka dengan temamu.”

Aku mengerjapkan mata lagi, kali ini dengan bingung.

Aku mengangkat kepala dan menyerahkan stopmapku kembali. “Aku mau jadi pembimbing skripsimu. Aku akan membantumu.”

“Hah?” aku melongo. “Ta-tapi… tapi, bagaimana dengan Miss Taeyon…”

“Tidak masalah. Nanti akan kubicarakan pada Taeyon. Kalau perlu, kami berdua jadi pembimbingmu. Tapi, aku pembimbing satumu, aku tidak mau jadi yang kedua. Oke?”

Kalau kau pikir pernah melihat petir di pagi hari, rasanya masih biasa dibanding tersambar ratusan geledek di pagi hari seperti yang kualami saat ini. Aku benar-benar bingung. Kyuhyun kan… dia kan… tidak mengerti fashion… dan ini kan membahas tentang islam… dan… dan…

“Aku akan mengerti fashion dan kau pikir aku tidak mau mengerti kalau Al-quran itu kitabmu, begitu?” Kyuhyun mengetuk kepalaku dengan penanya. Dan tertawa terkekeh-kekeh. Astaga, demi tuhan, tawa Kyuhyun terdengar begitu renyah.

Aku perlahan tersenyum. “Ya, baiklah. Terimakasih, Profesor.”

“Perbaiki typo yang kau tulis tadi. Pelajari EYD lagi ya, Mia. Tulisanmu sedikit kacau.”

Aku membulatkan mataku. Ah, itulah kenapa dia mencoret-coret kertasku tadi? Dia sudah mengoreksinya?

Aku kembali tersenyum dan mengangguk. Lalu berpamitan keluar ruangan dengan perasaan campur aduk. Senang, bingung, tidak percaya, semua jadi satu.

Aku membuka stopmapku dan membaca koreksian Kyuhyun. Pemuda itu memang benar-benar dosen, aduh, maksudku, dia benar-benar dosen yang pintar. Dalam waktu sebentar dia bisa menuliskan data-data empirik mana yang harus kutambahkan, dan typo-typo yang masih berserakan.

Aku membalik-balik kertasku sampai halaman terakhir, tapi kemudian sesuatu jatuh ke lantai. Aku memungutnya dan menyadari yang jatuh adalah sebungkus permen. Aku menatap permen itu sejenak dan tersadar ada tulisan tangan Kyuhyun yang dilingkari di bagian paling bawah halaman di kertasku:

 

Jadwal konsul:

Rabu, kamis, jumat: 09.00-10.30

Nomor ponsel: 009-34-xxx

Kau ingat, kau bilang kau suka kopi? Kenapa tadi kutawari tidak mau? Tapi kalau permen kopi ini, kau mau kan? Harus mau. Kalau mau konsul hubungi aku dulu, oke? Aku akan membalasnya, kalau tidak, kau marahi aku saja. Oke? Harus oke.

Semangat, kau pasti bisa. Meski kedepannya akan sulit, mungkin aku akan memarahimu karena telat konsul, mungkin aku akan sering mencoret kertasmu karena tulisanmu berantakan, mungkin aku akan menyuruhmu membaca ratusan buku dalam bahasa inggris, tapi kau harus semangat. Sesuai surat Al-Insyirah, setelah kesusahan akan ada kemudahan.

 

Aku tersenyum. Menggenggam bungkusan permen erat-erat. Menyandarkan tubuhku ke dinding dan mulai menangis pelan.

Kau mau tahu, alasan aku tidak pernah mau konsul dengan Kyuhyun sebelumnya?

Satu, dia pria

Dua, dia tidak peka fashion

Tiga, dia atheis

Empat, aku tidak pernah berpikir gender pria merupakan masalah

Lima, aku tidak pernah berpikir Kyuhyun tidak peka fashion

Enam, aku tidak pernah berpikir atheis adalah pertentangan yang harus diperdebatkan dalam memilih dosen pembimbing

Tujuh, jadi kenapa aku tidak ingin konsul dengan Kyuhyun?

Delapan,… karena aku menyukainya.

 

 

Kurasa kesulitan terbesarku saat konsul ke depan nanti adalah, mempertahankan bahwa aku hanya akan menganggap Kyuhyun sebagai dosenku. Mempertahankan bahwa aku tak akan berdebar-debar padanya. Mempertahankan bahwa tanganku tak akan gemetaran dan pipiku merona saat melihatnya. Mempertahankan bahwa sampai kapanpun perasaan rumit ini tak punya ujung cerita. Jika kesulitan itu bisa kulalui, apa akan ada bentuk kemudahan yang membahagiakanku nantinya?

Koridor jurusan sepi. Jam masih menunjukkan pukul sepuluh pagi. Dan pagi-pagi begini, aku sudah menangis.

 

END

 Kamu pernah baca Assalamualaikum, Kyuhyun-ah? Bisa dibilang ini side storynya. Oke ada kira-kira 50 persen bagian yang merupakan kenyataan *nangis, showeran* intinya, intinya… aku lagi pusing bikin skripsi. *digetok readers*

p.s orang kayak Professor Kyuhyun beneran asli

p.s hanya berharap dia tidak pernah membuka blog ini dan tau kalau aku menjadikannya sumber delusional *ngakak*

27 thoughts on “[FF/Oneshot/G/COMING SOON]

  1. Ide ceritanya jarang ditemuin dan enak dibaca. Walaupun ada unsur SARA disini, kebetulan aku jg islam dan pke jilbab, jdi fine aja bacanya. Aku masih kecil *sokimut* jdi blm tau rasanya jatuh cinta sama yg lain agama. Jdi feelnya blm begitu nyampe ke aku. Tapi overall aku suka ceritanya.
    Keep writing, kak…🙂

  2. Pingback: [Ficlet] Catastrophe | INDO FANFICTIONS

  3. Pingback: Catastrophe | S&W

  4. wah keren ini jarang banget ada fanfic temanya begini. jadi.. Mia itu cewe kerudung, terus dia naksir Kyuhyun yang atheis ya?
    feelnya kerasa banget soalnya kebetulan aku juga pake hijab dan naksir sama yang beda keyakinan itu susah banget dan complicated ((apalagi model-model pinter dan enak-dilihat-aka-ganteng kaya Kyuhyun ini)) jadinya kerasa banget.
    waktu aku baca alasan Mia yang sebenarnya itu aku sampe berkaca-kaca (?) #halah
    bahasanya enak juga, runtut dan gak berbelit-belit. sukaaaaaaaaaa❤
    hehe btw aku tata 99l, salam kenal ya, kak!

  5. hua…… ide ceritanya keren bgt.jarang nemu yg kyk gini. aq jg ngalamin kyk gini di kmpus tp senior. rasanya nyesek. fighting untuk skripsinya.😉

  6. satu, kayaknya ff ini based on true story yah?? hehehe
    dua, hmmm jadi pengen punya dosen pembimbing kayak kyuhyun hahaha..
    tiga, tema ffnya aku suka, karna jarang banget ada ff yg berbau dengan skripsi dan dosen pembimbing kkkk
    empat, abis ini aku jadi pengen baca assalamu’alaikum kyuhyun-ah..

  7. ini keren suka antara lawan jenis tapi gabisa bersatu menuju hubungan yg mendapat berkah dan ridho allah , tuhan emang satu tapi kita yg tak sama.
    kerennn , pengalaman pribadi kah?
    aku suka ceritanya🙂

  8. Pingback: Author’s Bank 5th edition: (01.01.2015 – 31.10.2015) | sophiemorore

  9. sophieee, ini kali pertama setelah sekian lama aku baca ffmu lagi hehe..
    satu, aku tau dong ini curhat banget. aku jg pernah bikin skripsi sampe nangis2. sayangnya dosen pembimbingku bukan profesor kyuhyun
    dua, bener banget kalo setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Maha benar Allah dengan segala firmanNya. jadi jangan sekalipun ragu yaa. *di halaman mottoku jg ada surat al -insyirah hehe*
    tiga, ffmu masih seperti biasa. simple, nylneh tapi lovable banget haha.
    empat, ditunggu side story lainnya😀

  10. ih aku prnah baca tu yg assalamualaikum kyuhyun-ah… suka banget sma kyuhyun yg gayanya kaya anak gunung ketimbang jadi dosen…..
    jadi atheis ya…? duh aga riskan ni temanya…
    di tunggu deh lanjutanya…. jdi pengen liat gimana si mia nanganin perasaannya k kyuhyun….
    mereka ga taarufan kan…?
    semangat ya buat skripsi & lanjutin ff’y… ㅋㅋㅋ

  11. eonnie, satu, penggambarannya tentang Jurusan Komunikasi bikin aku melongo, itu kok sama sih? Jangan-jangan semua Jurusan Komunikasi di berbagai universitas di Indonesia kaya begitu semua ya gayanya?😮
    dua, semoga skripsinya bisa segera beres🙂 aamiiiin
    tiga, aku bisa bayangin kalo aku ada di posisi itu. Naksir dosen yang atheis huhu😦 sedih banget ya apalagi kalo dosennya kaya Kyuhyun, tapi harus Kyuhyun yang dulu zaman Bonamana waktu kecenya ga ketulungan😄
    empat, as always aku selalu suka ffnya😀 i hope it coming really soon. fighting ^^9

  12. Wah jangan” ini curahan hatimu yaa? Tapi aku suka kok tema macam begini. Apalagi ada kyuhyunnya. Iiih jadi kangen sama kyuhyun deeeeh hihihi
    Eonni lg nyusun skripsi, ya? Semangat yaa kalo kyk gituuu hehee

  13. Yah, dia curhat~😛
    Hahhahaha…
    Aku selalu suka sama ff yg berbau-bau SARA gini soph!😀
    Apalagi ada kyuhyun nya. Anak itu kan jg suka bawa-bawa SARA *kapan ya?*
    Ah, pokoknya aku suka deh!😀

    Ciyeee, yg lg galau gara2 dibimbing sama dosen yg ditaksir!
    Muahahaaha….
    Rasakan kau soph!😛

    Btw, sukses skripsi nya ya dek sophie…😀
    Moga dapat A.😀
    Amiin….

  14. whoah! whoah! /claps; claps/ cukup salut sama tema fanfict ini. Banyak unsur yang mencangkup; sad, romance, keagamaan juga dapat. Jarang lho fanfict kaya gitu /wink/

    eo, untuk assalamualaikum Kyuhyun-ah, itu… fanfict yang cukup berat menurutku, ya dengan kata kata rumit. Banyak belajar juga dari fanfict itu. Dan, mengalihkan pandangan buruk mengenai atheis.

    Dan… Atheis? Dosen semuda-seunik-senyeleneh-tapi-manis-itu beneran ada? keren!

  15. Miris, eon. Itu lanjutan dari assalamualaikum kyuhyun-ah. Keren banget pokoknya kalo mia-kyu sosweet copel favorit aku, aku suka alur ceritanya ringan, simpel

  16. Ah, trus itu typo apa emg sengaja? Itu, yg “… dia bukan tipe orang yang peka fashion, itu yang ketiga. Dia atheis, itu yang ketiga.. ”

    oh ya, seriusan cuman dlm waktu satu jam?? It’s absolutely fantastic like Henry!!😄

    Kyu nya jg so sweet like belgian chocolate… Eh, nggak mungkin kan the professor di dunia nyata se sweet itu? #mulaingegosip

  17. Aku udh bc dr kemaren jeng tp susah amirr mo komen, wifi di rmh lg two thumbs down bgt.. #malahcurcol

    eits ehemmm bgt deh itu ff… Pasti selain pusing mikir skripsi, lg galau jg yah mikirin “the professor”.. Hayo loh ketauan wakakaka…

    Eh btw thor, knp yah aku ngerasa seumuran ma author? R u 93 liners?

  18. Wow apa ceritanya dari pengalaman pribadi kk sophie? Ekhem
    Entah kenapa aku ngerasa kyu di sini sweet bingit, jd meleleh bacanya.
    Oh ya kk sophie kok author bank bulan septmber gk ada yaa? Sukses deh buat skripsiny kk sophie.

  19. gak tau kenapa bca ff dg tema kya gni q suka banget, suka sm kyuhyun yg atheis tp sikap toleransinya keren, dan kalo itu ada dikenyataanya q kagum deh sm dia.

    akhirnya sophie update lg, udah pasti lg sibuk banget kan jd mau koar2 minta lanjutan ff jg ga deh, cukup bilang tetep semangat buat skripsi dan yg lainya aja.

  20. ya,ff ini ngingetin pas masa2 aq masih mahasiswa tingkat akhir.terlalu nyante bgt pdhl tmn2 lain udh pd sidang bhkn lulus duluan,keasyikan main n ga mikirin masa dpn.*kokjadicurhat*
    ortu jg udh ngingetin tp aqnya yg ga gubris,haha. mpe aq hrs d teken dulu br nyadar,n skrg aq udh lulus*plokplok* jd skrg mikirin nyari kerja.
    sophie eon,jgn galau!!insyaalloh bs kok d kerjain skripsinya!!
    fighting!!

Just talking...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s