Mr.Headstone (Track 04)

Author : Sophie Maya

Title     : Mr.Headstone (Track 04)

Cast     : Cho Kyuhyun, Choi Siwon, Lee Sungmin, Kim Ryeowook, Lee Hyuk Jae, Mia

Support Cast: Park Jungsoo

Genre  : romance

Rated  : G/AU

Length: chaptered

Type    : ?

Summary         : The one that had head like a stone

Cek Mr.Headstone’s Music video here

mr-headstone-copy

poster thx to springsabila@cafeposterart

Disclaimer       : this story is MINE.

 

Track 04: Magical Girl

 

”Siwon membayarku untuk membantumu selama kau ada di dunia ini,” ujar Kyuhyun.

”Kau pria bayaran…” Mia menggeleng-gelengkan kepala tak percaya. Sementara Kyuhyun hanya mengangkat bahu tak peduli. ”Kenapa kau mau dibayar? Berapa sih Siwon membayarmu?”

”Bayarannya cukup tinggi, kau tidak perlu tahu. Kau hanya perlu tahan-tahan saja melihat orang menyebalkan ini berkeliaran di sekitarmu.”

Mia menahan tawa mendengar Kyuhyun menyebut dirinya sendiri sebagai ”orang menyebalkan”, akhirnya Kyuhyun menyadari betapa mengesalkan dirinya itu.

”Lantas kau mau bantu aku bagaimana? Membantu membujuk ibuku supaya bercerai? Ah, apa kau tidak berpikir bahwa perbuatanku itu jahat? Tega-teganya membuat orang tua sendiri berpisah.”

”Kurasa tidak juga,” potong Kyuhyun cepat. ”Kamu pasti punya alasan agar orang tuamu cepat bercerai. Tidak mungkin tidak.” Kyuhyun menoleh ke arah Mia. ”Orang tuaku juga dulu bercerai.”

Mia tahu soal itu. Orang tua Kyuhyun bercerai saat Kyuhyun masih berusia dua belas tahun. Kyuhyun memutuskan tingal bersama ayahnya dan melanjutkan hidup di Seoul. Sementara ibunya tetap berada di Itaewon bersama adik perempuannya. Namun Mia memilih diam dan tak berkomentar.

Kyuhyun terlihat merapatkan jaketnya dan mengambil sunglasses hitam dari saku, lalu mengenakannya. Mereka baru saja keluar dari restoran beberapa saat lalu dan sekarang sudah berada kembali di jalanan kecil yang membatasi antara pertokoan dan jalan raya. Beberapa orang yang berjalan di sekitar mereka tampak memerhatikan mereka sungguh-sungguh. Bahkan ada yang terang-terangan berhenti di depan mereka dan menatap wajah mereka lama-lama.

Kyuhyun yang sudah mengenakan sunglasses buru-buru memalingkan wajahnya. Pria itu juga langsung mengenakan beanies putih yang dari tadi tidak dia pakai selama jalan dengan Mia.

Sorry…but, are you Cho Kyuhyun Mr.Headstone?” Dua orang gadis berhenti di depan mereka dan menghalangi langkah mereka.

Oh, Mia mulai sadar apa yang terjadi. Pantas saja Kyuhyun tiba-tiba memakai sunglasses dan topinya. Ternyata banyak orang yang memerhatikan mereka dan curiga bahwa yang berjalan disampingnya adalah Kyuhyun Mr.Headstone.

No, I think he looks more like Kyuhyun Super Junior,” sambung gadis satunya. Eh, ternyata bukan cuma curiga dia adalah Kyuhyun Mr.Headstone…., tapi juga Kyuhyun Super Junior?

I think he is Kyuhyun Mr.Headstone, not Kyuhyun Super Junior. Seriously.

No, he is Kyuhyun Super Junior.

Yakk, dan kedua gadis itu sekarang malah berdebat.

”Ah…” mata Mia mengerling ke Kyuhyun lalu kembali menatap kedua gadis di depannya. ”No, he is not Kyuhyun Mr.Headstone nor Kyuhyun Super Junior. He is my friend and we are from Japan. Sorry, he may look like Kyuhyun Mr.Headstone or Kyuhyun Super Junior but he’s none of them,” ujar Mia sambil membungkukkan kepala.

”Oh, kukira benar Kyuhyun Mr.Headstone. Sangat mirip, apalagi tadi saat dia belum mengenakan sunglasses. Sekilas kulihat mirip. Maaf kalau aku mengganggu acara Anda…”

”Ya, aku kira dia malah seorang anggota Super Junior, kau tahu… Super Junior juga akan konser di sini.”

Kedua gadis itu ikut membungkukkan kepala lalu berjalan meninggalkan Mia.

Mia tersenyum dan menganggukkan kepala.

”Syukurlah tidak ketahuan.” Mia mendengar Kyuhyun berkata tepat saat kedua gadis itu pergi dari hadapan mereka. Kyuhyun tampak panik, tapi buru-buru ia menetralisir perasaannya dan terlihat tenang kembali.

”Benar-benar takut ketemu fans-mu?” Mia bertanya heran.

”Bukan takut, bodoh! Tapi hanya tidak berani membuat kegaduhan di kota ini,” kata Kyuhyun dengan nada… ergh, lagi-lagi dengan nada angkuh! Ck, padahal jelas-jelas Mia lihat pria itu tadi panik setengah mati.

Mia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah aneh Kyuhyun. ”Yang aku heran, bisa-bisanya ada yang menyangka kamu adalah Kyuhyun Super Junior.”

”Hahhh, wajahku dan Kyuhyun Super Junior memang beda tipis.” gumam Kyuhyun yang langsung membuat Mia mendelik.

”Sama-sama tinggi sih iya, tapi selebihnya jauh banget!” Mia menggeleng cepat. ”Yang mirip cuma nama. Selain itu, beda.”

”Tapi Kyuhyun Super Junior dan aku sama-sama penyanyi,” sambung Kyuhyun tak mau kalah.

”Kyuhyun Super Junior jauh lebih baik seribuuuu kali lipat dibanding kamu. Dia itu hebat nge-dance, nyanyi, MC, dan akting! Dia juga pantas mengenakan apapun seperti pria-pria tampan lainnya. Tidak seperti kau yang kemana-mana pake beanies melulu, seperti orang penyakitan!”

”Oke. Jadi kamu itu ELF dan anti-fans Mr.Headstone? Bagus!”

Mia tergelak, puas melihat wajah marah Kyuhyun karena cemburu dengan pipinya yang terlihat menggembung, sangat menggemaskan.

Mereka kembali berjalan menyusuri pertokoan. Mia asyik memainkan ujung-ujung bajunya sambil mengingat-ngingat berapa angka yang tadi tertulis di tag harga baju ini. Seharusnya ia melihatnya tadi.

Mereka berjalan dengan tenang di sepanjang trotoar, meski masih ada beberapa orang yang melihat mereka dan saling berbisik, tapi Mia dan Kyuhyun berusaha tidak mengambil pusing, sambil tetap berdoa supaya tidak ada lagi orang yang berhenti di depan mereka dan menanyakan apakah benar pria disebelah Mia adalah Kyuhyun Mr.Headstone atau Kyuhyun Super Junior.

”Aku pernah membantu seorang arwah, nasibnya sama sepertimu,” ucap Kyuhyun memecah kesunyian. ”Makanya aku tahu apa yang harus kulakukan.”

Mia menghentikan gerakan tangannya. Ditatapnya Kyuhyun sungguh-sungguh. ”Kau… pernah… membantu… seseorang… yang sepertiku?”

”Seseorang yang diberikan ’kesempatan hidup kembali’ oleh malaikat kematiannya.” Kyuhyun mengangkat wajahnya ke atas, membiarkan angin malam menerpa bibir pucatnya yang kini tersungging sebuah senyuman pahit.

Ia mengorek kembali ingatannya pada kejadian beberapa tahun lalu, kejadian yang sesungguhnya ingin ia lupakan jika saja hari ini tidak datang ke kehidupannya. Jika saja tadi Siwon tidak menceritakan semuanya, ia tentu tidak akan menjadi senekat ini.

Beberapa tahu lalu, saat umur Kyuhyun baru lima belas tahun dan ia baru saja merasakan bagaimana rasanya dikelilingi gemerlap lampu panggung dan blitz kamera yang menyinari wajah ayahnya, yang membuat Kyuhyun yang tinggal bersama pria itu ikut merasakan gemerlapnya dunia keartisan.

Ayahnya bernama Cho Jun Woo, seorang aktor sekaligus penyanyi boyband beranggotakan tiga orang yang amat terkenal di masanya. Banyak orang bilang, ayahnya adalah tambang emas agensinya. Ayah adalah orang yang berbakat, ia ditawari banyak film, iklan, kerjasama dengan majalah ini-itu, juga sukses dengan boyband-nya. Ayahnya bisa segalanya, bisa semuanya, apapun pekerjaannya bisa dilakukan dengan baik.

Fans mereka sangat banyak waktu itu, semua mengeluk-elukkan kemanapun Blue Sign, nama boyband mereka waktu itu.

Sampai saat itu datang.

Hari itu konser Blue Sign di Gwangju setelah mereka comeback dengan album Fantastic Love. Pembukaan tiket tiga hari sebelum konser. Banyak fans mereka memadati area pembelian tiket konser dua hari sebelum loket dibuka, itu karena tiket konser Blue Sign bisa habis hanya dalam sepuluh detik sejak pembukaan loket. Para fans mengantri di tengah salju yang turun saat itu. Dan tiba-tiba saja sehari sebelum pembukaan loket, tersiar kabar akan ada badai salju di wilayah Gwangju. Seluruh warga diharapkan jangan keluar rumah dan bersembunyi di tempat aman.

Badai salju itu diperkirakan akan sangat kencang. Semua warga berbondong-bondong mengunci pintu rumah mereka dan merapatkan jendela-jendela. Semua bersiap menunggu datangnya badai salju di dalam rumah masing-masing.

Tapi ternyata hal itu tidak berlaku bagi para fans Blue Sign yang menunggu di loket tiket. Mereka tidak perduli dengan peringatan dari petugas sekitar untuk berlindung dan meninggalkan tempat mereka mengantri. Mereka bersikeras bahwa badai salju pun tidak akan menyurutkan keinginan mereka berada di sana.

Hingga akhirnya kejadian buruk itu terjadi. Badai salju benar-benar menepati janjinya untuk datang, menyapu seluruh wilayah Gwangju dengan angin dingin dan hujan salju yang deras. Menenggelamkan rumah-rumah, mobil, bahkan gedung perkantoran dengan tumpukan salju.

Para fans Blue Sign pun terkena badai salju itu. Lima puluh orang meninggal tertimbun salju, dua ratus orang mengalami pneumonia, tiga puluh orang mengalami luka-luka dan harus dirawat di Rumah Sakit. Berita tentang para fans yang terkena badai salju itu gempar dibicarakan masyarakat Korea, mereka menyayangkan sikap para fans dan menyalahkan pihak Blue Sign yang tidak memberikan larangan untuk mengantri di tengah salju deras.

Blue Sign yang sama sekali tidak tahu tentang antrian itu terus menerus disorot media. Meninggalnya lima puluh orang fans membuat para fans lain berang dan anehnya malah menyalahkan agensi, manajer, hingga anggota Blue Sign. Mereka diminta mempertanggungjawabkan puluhan nyawa yang melayang itu, memaki sikap Blue Sign yang dianggap tidak berempati.

Konser Blue Sign pun ditunda. Album baru mereka dianggap membawa sial, dan lagu-lagu mereka mendadak dilarang berputar di seluruh radio. Mereka diboikot oleh fans sendiri.

Fans yang dulu mengelu-elukan mereka, mendukung mereka, tersenyum mendoakan keberhasilan mereka, kini berbalik memusuhi dan memandang mereka dengan sorot amarah.

Ayah Kyuhyun, Jun Woo, adalah leader dari Blue Sign. Ia yang paling disalahkan di antara semuanya. Entah bagaimana caranya media mengemas berita, semua orang setuju bahwa Blue Sign lah yang patut bertanggung jawab atas semuanya. Jun Woo menjadi stres dan frustasi. Para keluarga fans yang meninggal maupun terluka akibat mengantri terus mendatanginya dan menghujatnya. Bahkan mereka ingin agar Blue Sign bubar karena mungkin bisa menimbulkan kecelakaan bagi fans-nya lain waktu.

Kyuhyun hanya bisa memandangi ayahnya dengan prihatin tanpa berani berbuat banyak. Ia hanya bisa meringkuk di dalam kamar dan menangis melihat ayahnya lebih sering minum dan memecahkan barang di rumah. Ia terus saja menutup kuping dari tetangga-tetangga yang ikut menyalahkan mereka, bahkan menyuruh mereka pindah dari sana.

Lalu malam itu Kyuhyun mendapat kabar ayahnya kecelakaan mobil dan jatuh ke jurang. Media memberitakannya sebagai kecelakaan akibat kelalaian menyetir di saat mabuk. Tapi Kyuhyun sendiri mendapat kabar dari manajer ayahnya, rem mobilnya blong, disabotase seseorang. Makanya waktu di tikungan saat ayahnya hendak melambatkan mobil, laju kendaraan itu malah semakin cepat dan tidak bisa dihentikan hingga akhirnya menabrak pembatas jalan dan masuk ke jurang. Agensi merahasiakan penyebab kecelakaan agar tidak muncul skandal-skandal lainnya yang pasti akan sulit diselesaikan.

Ayahnya meninggal akibat kecelakaan itu.

Di tengah masalah yang menghadapi Blue Sign dan para fans yang membencinya setengah mati, semua ditinggalkannya.

Tetapi esoknya Kyuhyun malah menemukan ayahnya berdiri di depan rumah dan menatapnya dengan senyum lebar.

Ayahnya kembali. Diberikan kesempatan ”hidup kembali” oleh malaikat kematiannya untuk menyelesaikan satu urusan penting di dunia ini sebelum pergi untuk selamanya.

Apa yang harus diselesaikan? Kyuhyun bertanya polos pada ayahnya waktu itu, dan ia benar-benar terdiam saat sosok ayahnya itu menjawab pelan: aku ingin dimaafkan oleh semua fans, Kyuhyun-ah…

”Jadi apakah urusan ayahmu itu bisa diselesaikan?” Mia menghapus air mata yang menetes membasahi pipinya. Ia tidak bisa membayangkan betapa menyedihkannya masa lalu Kyuhyun, ditinggalkan orang yang disayangi di umur semuda itu. Dengan banyak tekanan yang juga ikut ia alami. Pasti rasanya sulit.

Kyuhyun menoleh ke arah Mia. pandangannya tidak seangkuh tadi, malah sekarang cenderung rapuh. Mia bisa melihat mata Kyuhyun memerah dan bibir pria itu bergetar.

”Ayahku jelas tidak bisa menyelesaikannya… hati fans tidak bisa semudah itu diluluhkan…”

Mia merinding mendengar pengakuan Kyuhyun barusan. Rasanya seperti ada duri-duri tajam yang tersangkut di tenggorokan, rasa sakitnya sampai ke kepala.

”Tapi mereka kan fans…” Mia bergumam lirih.

”Memang kau kira fans itu seperti apa?” Kyuhyun menggertakkan rahang. ”Fans itu hanya ada saat kami bersinar, ketika kami redup mereka akan meninggalkan kami. Iya kan?”

Mia menggelengkan kepala. ”Fans tidak seperti itu…”

”Kau tahu apa tentang fans…”

”Aku juga seorang fan dan aku tidak seperti itu. Ketika aku menyukai sesuatu, aku akan menyemangatinya apapun yang terjadi. Aku senang ketika kalian senang, dan ketika kalian sedih aku selalu berharap kesedihan itu akan hilang. Aku, dan banyak orang lainnya, menjadi fans yang baik dan tidak seperti itu. Kau harus tahu hal ini.”

”Oh, ya?” Kyuhyun menatap Mia dengan sorot aneh. ”Kalau begitu beruntung sekali idola yang kau kagumi itu, punya fans sebaik dirimu. Tapi bagiku tidak ada fans yang seperti itu sayangnya.”

Mia menatap Kyuhyun.

”Selain tidak suka diwawancara, sejujurnya ada hal lain yang tidak kusukai: fans-ku.”

Mia merasa dadanya kembali sesak.

Kyuhyun mengalihkan pandangannya sambil menghapus sisa-sisa air matanya. Ia menyesal kenapa bisa tampak begitu cengeng di depan Mia. Belum pernah ia berlaku serapuh ini di depan siapapun. Kyuhyun selalu memasang image kuat dan angkuh pada semua orang, agar mereka tidak berani macam-macam padanya. Agar ia juga tidak akan mudah tersakiti.

”Jadi, meskipun aku dulu sempat gagal membantu ayahku untuk mewujudkan keinginannya, aku berjanji tidak akan gagal untuk kali ini. Aku berjanji. Lagipula kau tidak akan bisa melakukan hal ini sendirian.”

Mia menghembuskan nafas keras-keras. Ia berusaha melupakan pernyataan menyakitkan Kyuhyun barusan. Ia tidak ingin sakit hati dan semakin benci pada idolanya sendiri. Setidaknya, ia berjanji tidak akan membenci salah satu bagian dari Mr.Headstone sampai kapanpun. ”Kau yakin bisa berhasil?”

”Ini mudah. Tidak sesulit meminta maaf pada fans yang jumlahnya berjuta-juta.” Ada nada sarkastik dalam ucapan Kyuhyun. Disembunyikan pun, Mia tetap tahu betapa sakit hatinya leader Mr.Headstone satu itu.

”Aku senang kalau kau mau membantuku,” ucap Mia tulus.

”Pertama-tama, aku akan membantumu mencari tahu kenapa ayah dan ibumu batal bercerai.”

Mia memandang Kyuhyun kaget. Entah berapa banyak cerita yang diketahui Kyuhyun saat ini, padahal ia tidak pernah memberitahukan kalau Ibu dan Daddy batal bercerai, namun pria itu bisa mengetahuinya.

”Aku sudah menemui Ibu tadi, tapi malah tidak bisa berkata apapun. Aku terlalu sedih.” Mia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

”Besok… maukah kau besok kembali menemui ibumu, tapi kali ini bersamaku.” Suara Kyuhyun terdengar seperti memerintah. ”Jam enam sore kita bertemu di apartemen ibumu.”

”Memang kau tahu di mana apartemen ibuku?” kernyit Mia heran. Ia jadi penasaran apa saja yang diketahui pria ini tentangnya. Lagaknya sudah seperti Siwon, tahu semuanya.

Kyuhyun menganggukkan kepala angkuh. ”Tentu saja.”

 

.

.

.

.

.

.

 

 

 

Ryeowook menatap jam dinding di kamar hotel mereka. Sudah pukul tiga pagi. Tapi dia masih saja tidak dapat memejamkan matanya. Anggota Mr.Headstone yang lain sudah terlelap di alam mimpi berjam-jam lalu, tapi tetap saja rasa ngantuk tak menyergapinya.

”Kau dari mana saja, Kyuhyun?!”

Sebuah suara dari depan pintu membuat Ryeowook sedikit tersentak. Buru-buru dia terbangun dari kasurnya dan berjalan mendekati sumber suara. Ternyata itu suara Kyuhyun dan Manajer Park. Sepertinya Kyuhyun baru saja kembali ke hotel dan langsung ditahan Manajer Park. Pasti Kyuhyun akan diinterogasi habis-habisan, pikir Ryeowook.

Mianhamnida, Seonsaengnim…” Kyuhyun menundukkan kepalanya dalam-dalam.

”Mendadak hilang dari ruang ganti, semua anggota mencarimu kemana-mana, para staf sampai kelimpungan. Kau tahu, ini Melbourne! Kau tidak pernah ke sini sebelumnya, kami berpikir kau tersesat dan terjadi sesuatu denganmu!” seru Manajer Park penuh emosi. Pria berumur empat puluh tahun itu menatap Kyuhyun seakan ingin memakan Kyuhyun hidup-hidup.

Mianhamnida….

”Kamu kemana saja, hah? Kabur dari jadwal latihan dan sekarang malah pulang jam tiga pagi! Kita itu datang seminggu lebih awal dari jadwal konser, jadi harus benar-benar mempersiapkan konser, kita juga punya banyak kegiatan lainnya, wawancara pemotretan! Kau jangan menganggapnya sebagai acara jalan-jalan. Kau itu leader, Kyuhyun! bertanggung jawablah!” suara Manajer Park begitu keras di pagi hari ini.

Ryeowook yang dari tadi menyaksikan adegan itu hanya bisa geleng-geleng heran. Kyuhyun, leader mereka itu, tidak pernah seperti ini sebelumnya. Kabur tanpa sepengetahuan, setelah tadi bilangnya mau istirahat di ruang ganti sebelum melakukan rehearsal. Tapi saat dicari ke sana, Kyuhyun sudah tidak ada. Dicari keseluruh sudut gedung, tetap batang hidungnya tidak tampak juga. Manajer Park sampai marah-marah dan membatalkan latihan mereka.

Kyuhyun punya dua ponsel, tapi saat dihubungi tidak ada yang aktif. Pria itu benar-benar seperti hilang ditelan bumi.

Mianhamnida, aku…” Kyuhyun tampak berpikir sesaat. ”…aku ada urusan penting, Manajer. Mianhamnida…” Kyuhyun membungkukkan badannya beberapa kali. Tanda dia benar-benar minta maaf.

”Urusan apa yang sebegitu penting, Kyuhyun?! Oh ya Tuhan… kenapa kau jadi seperti ini, membuatku hampir gila!” seru Manajer Park seraya mengacak-acak rambutnya hingga kusut. ”Baik, aku akan memaafkanmu. Untuk sekali ini. Kuharap kau tidak mengulangi hal ini lagi! Sekarang segera masuk ke kamar dan beristirahatlah! Lima jam lagi kita pergi Taman Marinna untuk melakukan live perfomance kalian di sana, hitung-hitung pemanasan sebelum konser. Setelah itu kita ke Melbourne Town Hall untuk melakukan rehearsal lagi, lalu ada pihak Melz Magazine ingin mewawancari kalian.” suara Manajer Park mulai melembut.

Kyuhyun mengangguk pelan. Sambil masih tetap menunduk, ia berjalan melewati Ryeowook yang tengah menguping pembicaraan mereka.

”Kau kemana saja, Kyuhyun?” tanya Ryeowook bingung.

Sayang Kyuhyun tak menjawab. Dia hanya mengangkat bahu dan terus berjalan masuk ke kamar.

 

.

.

.

.

.

.

 

 

Marinna Park, 10 Juli 2009.

Suara para Stone yang berebutan duduk di bangku depan ruangan seperti membelah Taman Marinna pagi itu. Mereka membawa lightstick berwarna emas dan banner bertuliskan ’Mr.Headstone’ yang diacung-acungkan penuh semangat tatkala para anggota Mr.Headstone memasuki panggung sambil membawa perlengkapan.

Hari ini salah satu stasiun musik di Melbourne mengundang Mr.Headstone untuk mengisi acara mereka. Ini undangan yang mendadak, stasiun TV mengajukannya saat mereka tahu Mr.Headstone akan menetap selama seminggu sebelum konser akbar mereka dilakukan.

Kyuhyun, Ryeowook, Sungmin, dan Eunhyuk berjalan beriringan memasuki panggung seraya memamerkan senyuman mereka. Suasana pagi hari sudah ramai sekali. Para fans berkumpul di depan panggung dan terus berteriak-teriak histeris. Banyak di antara mereka adalah fans yang ditemui di Melbourne Town Hall kemarin. Heran bagaimana bisa para fans ini tahu mereka sedang berada dimanapun? Padahal jelas sekali jadwal manggung di taman ini waktunya mendadak, tapi tetap saja Stone tahu.

Kelima anggota Mr.Headstone berusaha mengabaikan pertanyaan yang berputar di kepala mereka dan memilih fokus pada penampilan kali ini.

Kyuhyun maju ke bibir panggung dan merentangkan tangannya lebar-lebar. ”Annyeonghaseo!!!” serunya bersemangat. Ia mengenakan jubah panjang berwarna hitam dengan celana senada.

”Kyuhyun!! Mr.Headstone!! Kyaaa!!!”

Para fans kembali histeris. Kerumunan semakin terdesak ke depan panggung. Semakin padat.

Kyuhyun melirik pembawa acara musik yang sampai harus mundur ketakutan karena kaget melihat histeria massa yang semakin agresif.

”Ahhh… kita pertama-tama mengucapkan terima kasih karena sudah diundang ke acara musik seperti ini…” Ryeowook membungkukkan badan beberapa kali.

”Cho Kyuhyun! Kim Ryeowook! Lee Sungmin! Lee Hyukjae!” Seruan, teriakan, histeria, semua bercampur jadi satu. Taman Marinna pagi ini terasa panas di tengah salju seperti ini.

”Kami masih bertanya-tanya bagaimana kalian bisa tahu kami ada di sini, wow…” Sungmin menelan ludah, ”aku lihat di official site Mr.Headstone bahkan tidak ada update jadwal kami sedikitpun di Melbourne. Jadi kami bingung bagaimana caranya kalian tahu?”

Terdengar berbagai teriakan dari para fans, beberapa di antaranya menjawab pertanyaan Sungmin dengan kata-kata ’kami para fans jelas tahu!’ atau ’kami menanyakannya pada berbagai koneksi yang kami punya!’ dan juga ’kami selalu mencari tahunya dengan cara apapun, Oppa!’

”Ini keren!” puji Eunhyuk sambil menyusuri lautan manusia di depannya. Sorot matanya memancarkan rasa takjub dan bahkan bisa dilihat pria itu hampir saja menangis terharu. ”Stone, kalian benar-benar keren!!”

Suara teriakan bercampur tepuk tangan terdengar. Mr.Headstone ingin berbicara lebih banyak lagi, tapi sang pembawa acara sudah mengkodekan mereka untuk mulai bernyanyi. Jadi mereka hanya membungkukkan badan dan mengambil posisi masing-masing. Eunhyuk langsung mengambil stick drumnya dan berjalan menuju tempatnya. Sementara Ryeowook mulai sibuk meneliti senar gitarnya dan mencocokkan nada-nada. Begitu juga dengan yang lainnya, semuanya sibuk mempersiapkan peralatan mereka.

”Kukira mereka tahu kita di sini dari pihak stasiun TV ini sendiri,” cengir Sungmin.

Kyuhyun mengangguk pelan. Ia mengerling ke beberapa fans yang terus menerus meneriaki namanya. ”Aku tidak terlalu suka tersenyum, karena tampak seperti pura-pura tersenyum…,” ringisnya.

”Kau memang tidak bisa benar-benar ’tersenyum’ di depan fans-mu kan, leader?” decak Sungmin.

Kyuhyun mengangkat bahu. Ia membenarkan pegangan mikrofon sembari menyusuri pandangannya ke para Mr.Headstone, tapi tiba-tiba saja sesuatu mengenai kepalanya dengan keras.

Pluk.

Suasana mendadak hening diiring dengan napas tertahan dari para penggemar.

”Cho Kyuhyun pembunuh! Plakat konser kalian membunuh orang! Kau pembunuh!”

Seseorang dari barisan belakang berteriak keras sebelum akhirnya berlari meninggalkan tempat karena dikejar satpam. Keadaan menjadi sedikit ricuh, beberapa fans ikut mengejar orang tersebut dan beberapa lainnya berteriak menenangkan Kyuhyun—yang justru membuat barisan menjadi kacau.

Kyuhyun masih terdiam di tempatnya tanpa melakukan apapun. Diraba kepalanya yang terasa sakit.

Sebuah telur lah yang tadi menghantam kepalanya, tidak terlalu sakit memang, tetapi cukup membuat wajahnya berlumuran bau busuk dan amis yang dengan cepat menguar. Anggota Mr.Headstone lain menghampiri Kyuhyun dan ikut membantu membersihkan lumuran telur. Namun Kyuhyun segera menepis tangan mereka.

”Tinggalkan aku sendiri!” seru Kyuhyun parau.

”Tapi…”

”Tinggalkan aku sendiri!” Kyuhyun menggertakkan rahangnya. Beberapa bodyguard berlarian menghampiri Kyuhyun dan mengawalnya turun dari panggung. Pembawa acara yang tadinya terlihat bingung dengan peristiwa yang baru saja terjadi, buru-buru naik ke atas dan berusaha menenangkan penonton.

”Bukankah Kyuhyun itu sama saja seperti ayahnya? Tidak pernah menghargai fansnya. Tidak tahu apa fansnya sering kali terluka bahkan meninggal karenanya? Idola seperti itu lebih baik melepaskan statusnya sebagai penyanyi, sama sekali tak pantas! Cih!”

Sebuah suara sinis membuat Kyuhyun menengadahkan kepala dan menatap sesosok gadis yang memandanginya tajam, dengan mengacungkan jari tengah ke arah Kyuhyun.

”Kau mati saja Kyuhyun!” serunya keras.

Kyuhyun menundukkan kepala dan membiarkan gadis itu dikerubuti para fans yang marah mendengar pernyataannya.

 

.

.

.

.

.

.

 

”Jadi apa yang kau lakukan hari ini?” Siwon bertanya pada Mia yang tengah sibuk membuat boneka dari salju. Mia begitu asyiknya menggelundungkan salju kesana kemari hingga membuat dua gundukan bola yang cukup besar kemudian menumpuknya menjadi satu.

Gadis itu tersenyum lebar. Sudah lama sekali ia ingin membuat boneka salju. Dulu saat masih tinggal di Jepang, dia tidak pernah bermain salju, dia pilek dan bisa sakit dibiarkan berlama-lama di luar saat musim salju. Tapi sekarang dia tak perlu takut jatuh sakit. Perasaannya benar-benar puas. Hal yang selama ini hanya ia lihat di TV dan di dalam film-film, sekarang tengah dilakukannya.

Mia seakan tak mengindahkan pertanyaan Siwon barusan. Ia asyik meneliti apa lagi yang kurang dari boneka salju pertamanya itu. Gadis itupun mengitari boneka salju beberapa kali sambil mengernyit memandangi satu persatu bagian boneka itu.

Is there something wrong?

Apakah bonekanya sudah sempurna?

Mia terdiam sesaat. Memutar otaknya sekuat tenaga, berusaha mengingat-ingat seperti apa bentuk boneka salju yang pernah dia lihat di TV. Mia tadi sudah mengumpulkan beberapa ranting kering dan dijadikan kaki serta tangan boneka ini. Lalu biji-biji buah-buahan sebagai matanya. Sekarang apa lagi yang kurang?

”Kurasa boneka ini belum mempunyai bibir…” Mia seakan berbicara dengan dirinya sendiri, tapi cukup keras untuk didengar oleh Siwon.

Tanpa terduga-duga, Siwon reflek memberikannya selembar daun berwarna merah agak oranye yang ditemukan di dekat Mia membuat boneka.

”Nih, letakkan daun ini di tempat bibirnya.” saran Siwon.

Mia menerima daun dari Siwon dan menempelnya di bagian bibir boneka. Daun berwarna merah itu membuat bibir boneka salju lebih berwarna dan lebih ’hidup’. Mia tertawa kecil begitu mengetahui boneka salju buatannya sudah sangat sempurna. Rasanya seperti kembali ke masa kanak-kanak, bermain sangat senang dan tanpa beban apapun.

”Daun yang bagus.” komentar Mia saat melihat daun itu begitu serasi terpajang di bonekanya. ”Daun apa ini, Siwon?”

”Jangan tanya aku, aku kan bukan ahli tanaman,” jawab Siwon sekenanya.

Mia mengangguk-angguk maklum. Buat malaikat kematian seperti Siwon, menghapal nama-nama tanaman bukanlah tugasnya, jadi sangat sulit dilakukan. Siwon hanya bisa menghafal daftar nama-nama manusia yang harus dicabut nyawanya hari ini, jam sekian, di tempat tertentu. Kemudian mengantar mereka ke alam kematian. Pekerjaan itu akan terdengar menakutkan jika kau belum pernah mencicipi rasanya mati, begitu pikir Mia.

”Jadi apa yang akan kau lakukan hari ini?” Siwon mengulangi pertanyaannya, seraya berharap untuk kali ini Mia tidak akan mengacuhkannya.

”Bertemu dengan Kyuhyun di apartemen Okaa-san jam enam nanti. Laki-laki bayaran itu hanya mengatakan hal bernada perintah yang menyebalkan.” tanpa sadar Mia mencibir kesal saat menceritakan Kyuhyun. Siwon menyadari tingkah Mia dan mengulum senyum tipis.

”Jadi sampai jam satu nanti, kau menganggur saja? Kasihan sekali kau, sudah mati, dikasih ’kesempatan hidup lagi’, eh malah tidak ada yang dilakukan. Hantu yang menganggur itu benar-benar terdengar menyedihkan.”

”Kau meledekku, heh? Dasar malaikat kematian! Kan kau yang membuatku mati dan harus hidup lagi, kau juga yang membuatku harus menyelesaikan urusan aneh ini sebelum aku pergi ke alam kematian! Kau ini tidak sadar ya kau sudah membuatku susah, ck. Malah meledekku seperti itu!”

”Hahaha… lagian kau ini jadi hantu galau sekali, sih? Kenapa kau harus menunggu si Kyuhyun segala? Heran aku, kau bisa langsung percaya dan nurut saja dengan perkataan pria itu. Padahal bukannya kemarin pagi kau masih saja menjelek-jelekkannya? Kau bahkan tidak mau mengakui dia adalah idolamu. Kau bahkan kemarin bersikeras agar aku tidak meninggalkanmu berdua saja dengannya. Tapi kenapa sekarang kau malah jadi nurut padanya seperti ini?” Siwon mencondongkan tubuhnya ke Mia dan berbisik, ”kau… tidak diapa-apakan olehnya sehingga jadi seperti ini kan…?”

”Kau ini!!” Mia memukul kepala Siwon keras. Pria itu sontak mengaduh kesakitan. ”Apa semua malaikat kematian semenyebalkan dirimu?!” Mia menendang tumpukan salju di depannya.

”Dasar wanita galak,” decak Siwon mundur beberapa langkah ke belakang. Takut terkena pukulan Mia lagi.

Mia berjalan meninggalkan Siwon dengan langkah lebar-lebar.

”Dia pikir aku diapakan oleh si leader kerempeng itu?!” gerutu Mia kesal. Ia tak menghiraukan teriakan Siwon yang memanggilnya. Sebodo amat dengan malaikat yang sama sekali tak membantunya itu, malah selalu menghilang saat dibutuhkan. Kemarin jika saja Kyuhyun tidak mengajaknya pergi, entah apa yang akan ia lakukan. Mungkin meringkuk di bawah pohol mapple dan memutar-mutar telunjuk ke tanah, membuat lingkaran tanpa putus. Benar-benar seperti orang terlantar.

”Hehehehe, maaf. Aku tidak bermaksud berkata seperti itu. Jangan cemberut dong,” bujuk Siwon mensejajari langkah Mia. ”Begini saja, sebagai permintaan maafku, aku kasih tahu kau sesuatu.” Siwon melingkarkan tangannya ke pundak Mia dan tersenyum lebar. Mia masih mengacuhkannya dan memilih terus berjalan sembari menatap lurus ke depan.

”Kau tahu, Kyuhyun baru saja dilempar telur busuk oleh salah seorang anti-fans saat manggung di Taman Marinna tadi!” sebuah suara dari beberapa gadis yang melintas di depan Mia membuatnya menghentikan langkah.

Kyuhyun? Mereka sedang membicarakan Kyuhyun? Kyuhyun MR.HEADSTONE, kan?

”Kasihan sekali Kyuhyun itu… gara-gara kejadian pemukulan di Seoul dan seorang penggemar yang meninggal tertimpa plakatnya, dia jadi punya banyak sekali anti-fans.”

”Seharusnya Kyuhyun itu mengadakan konferensi pers. Minimal dia harus menjelaskan semuanya pada orang-orang. Hah, sikap angkuhnya itu justru membuatnya dibenci banyak orang. Kau tahu, aku pun lama-lama bisa tidak menyukainya. Hahaha.”

Mia terdiam mendengar percakapan kedua gadis yang berjalan semakin menjauh, suara mereka terdengar cukup keras untuk didengar Mia. Ternyata benar Kyuhyun Mr.Headstone yang mereka bicarakan. Mia menggeleng tak percaya, tak bisa membayangkan Kyuhyun baru saja dilempar telur busuk? Dan itu… gara-gara Mia? Ya, gara-gara kematian Mia…

”Apa yang kulakukan?” bisik Mia parau. Mia menoleh pada Siwon yang memandanginya penuh simpati. ”Siwon… apa yang telah kulakukan? Aku membuat idolaku memiliki banyak anti-fans.”

”Mia ini bukan salahmu.”

”Tidak, ini salahku. Ini salahku.”

”Mia…”

”Kyuhyun pasti terluka. Kau bisa bayangkan, Siwon… telur busuk. Orang yang melemparnya benar-benar keterlaluan. Aku sama sekali merasa Kyuhyun tidak bersalah atas kematianku, tetapi kenapa mereka justru menggunakan hal itu untuk menyerang Kyuhyun? Ini tidak adil, Siwon… tidak adil.” Mia menggelengkan kepala frustasi. Diam-diam ia merasa kesal telah banyak melibatkan Kyuhyun dalam masalahnya.

 

.

.

.

.

.

.

 

Saat Mr.Headstone keluar menuju parkiran, wartawan sontak berlari mendekati mereka sembari menghujamkan kilatan kamera ke wajah mereka berkali-kali. Alat perekam disodorkan persis ke wajah Kyuhyun. Ryeowook dan anggota lainnya ingin menarik leader mereka dan menyuruhnya berjalan belakangan, tapi dorongan dan desakan dari wartawan membuat mereka tertahan tidak bisa bergerak.

Ryeowook menatap Kyuhyun cemas. Kyuhyun terlihat lebih pendiam semenjak insiden pelemparan telur itu. Meskipun sang pelaku sudah tertangkap dan sekarang tengah berurusan dengan polisi, tetapi raut wajah Kyuhyun tetap terlihat murung dan tak bersemangat. Ryeowook mengisyaratkan agar bodyguard menggiring Kyuhyun terlebih dahulu menuju mobil mereka.

”Cho Kyuhyun, tadi anda dilempar telur oleh salah seorang anti-fans. Apa yang akan anda lakukan pada anti-fans itu?”

”Dengar-dengar pihak Mr.Headstone akan menuntut ganti rugi pada anti-fans itu? Benarkah? Ganti rugi seperti apa?”

”Bagaimana perasaan Anda mengetahui salah seorang meninggal tertimpa plakat konser kalian dan menyebabkan Mr.Headstone memiliki beberapa masalah akhir-akhir ini?”

Ryeowook menggenggam tangan Kyuhyun erat-erat. Ketika Kyuhyun menoleh ke arahnya, Ryeowook segera mengkodekan Kyuhyun untuk terus berjalan tanpa menghiraukan pertanyaan wartawan yang begitu menyudutkannya.

”Lantas bisakah anda berkomentar terkait berita Anda memukul seorang fans Korea sampai terjatuh dan terluka?”

Deg.

Seorang wartawan dengan lantangnya berteriak. Membuat wartawan lainnya terdiam dan beberapa saat suara-suara gaduh menjadi sepi. Semua orang kini menatap Kyuhyun yang terpaku di tempatnya.

Ryeowook bergerak maju hendak berbicara, tapi tubuhnya ditahan Manajer Park.

Wae…?” bisik Ryeowook dengan nada protes. Ryeowook tidak bisa melihat leader-nya dituding seperti ini.

Manajer Park hanya mengkodekan Ryeowook untuk menunggu.

Kyuhyun memandang satu persatu wartawan di depannya tanpa berkedip. Mereka tampak tegang menunggu kalimat yang akan meluncur dari bibirnya.

Kyuhyun teringat kembali kejadian beberapa hari lalu saat seorang fan tidak sengaja ia dorong hingga terjatuh, kepala fan itu terkena undakan tangga hingga berdarah, lalu ia mendengar orang-orang berteriak, Manajer Park yang panik memanggil ambulans, para fans lainnya menangis dan berteriak pada Kyuhyun untuk menyelamatkan fan itu. Teriakan mereka terdengar memaksa, marah, kecewa, dan takut bercampur jadi satu.

Kyuhyun memejamkan matanya. Semua ingatan itu melukai hatinya. Membuat kepalanya ingin pecah.

Semua ingatan itu bahkan bergonta-ganti dengan kenangannya saat para fans Blue Sign ramai-ramai mendatangi rumahnya dan melempar kaca jendela dengan batu. Mereka berteriak penuh marah, kecewa, dan rasa takut.

Dan terakhir, ucapan dari gadis yang meneriakinya saat Kyuhyun turun dari panggung.

 

”Bukankah Kyuhyun itu sama saja seperti ayahnya? Tidak pernah menghargai fansnya. Tidak tahu apa fansnya sering kali terluka bahkan meninggal karenanya? Idola seperti itu lebih baik melepaskan statusnya sebagai penyanyi, sama sekali tak pantas! Cih!”

 

Kyuhyun membuka matanya perlahan dan menarik napas berkali-kali.

Saat itulah… dilihatnya Mia—gadis hantu itu—berdiri di belakang para wartawan dan tersenyum tipis. Kepala gadis itu berayun ke kiri dan kanan hingga rambut tipisnya bergerak tertiup angin. Entah dari mana datangnya Mia dan sejak kapan Mia datang ke Taman Marinna, Kyuhyun tak mengerti. Namun ketika dilihatnya Siwon berdiri di sebelah Mia sembari mengangguk penuh arti padanya, Kyuhyun seakan diberi kekuatan untuk menatap wartawan yang mengerubutinya.

”Kyuhyun, kematianku bukan kesalahanmu. Bukan kesalahan Mr.Headstone. Bicaralah pada mereka Kyuhyun, katakan bahwa kau ini bukan pembunuh…” Kyuhyun seperti mendengar suara Mia bergema di kepalanya. Saat ia menengadahkan kepala dan menatap Mia, dilihatnya gadis itu tersenyum manis ke arahnya.

Kyuhyun seperti mendapat kekuatan saat melihat gadis itu dan entah kenapa senyumnya kembali terkembang—kali ini bukan senyum pura-pura seperti tadi. Ia tulus melakukannya. ”Aku bukan pembunuh seperti yang selama ini dibicarakan. Sungguh ini kecelakaan yang benar-benar mengejutkan kami semua, Mr.Headstone, Stone, agensi, dan orang-orang terdekat kami. Jika ada yang bilang kami bersalah, mungkin ya… kami bersalah, telah membuat kalian merasa kami tidak melakukan apapun. Tetapi sungguh, kami sudah melakukan yang terbaik sebagai wujud rasa duka kami. Saya juga merasa menyesal kenapa kejadian itu bisa terjadi, tetapi itu kuasa Tuhan yang untuk manusia sekecil kami tidak bisa melawannya.

Terkait pemukulan fans di Seoul… aku minta maaf membuat kegaduhan itu… sesungguhnya waktu itu suasana benar-benar ramai dan aku tidak bisa melihat apapun yang ada di depanku. Kami semua tampak kelelahan hingga manajer dan bodyguard pun juga tampak letih. Aku benar-benar pusing hingga tanganku tidak sengaja terulur ke depan, niatku ingin cepat-cepat pulang, tapi ternyata aku malah tidak sengaja mendorong salah seorang fans hingga terjatuh, aku tidak sengaja… aku minta maaf atas kejadian itu…

Dan anti-fans yang merasa kesal padaku dan melempariku tadi, aku mengucapkan maaf telah membuatnya terlibat masalah lebih jauh lagi. Aku tidak ingin dia menghabiskan waktunya untuk mengukir kebencian pada Mr.Headstone, kami sudah berusaha yang terbaik. Dan kupikir anti-fans tidak sepernuhnya bersalah, pihak Mr.Headstone memutuskan untuk membebaskannya tanpa syarat. Bagaimanapun juga, anti-fans adalah pendorong yang membuat kami bersemangat untuk terus maju dan membuat banyak anti-fans beralih menjadi fans kami.”

Kyuhyun melihat semua orang terdiam mendengar penjelasannya. Bahkan ia melihat Manajer Park menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

Klarifikasi. Akhirnya ia melakukan klarifikasi.

Kyuhyun menoleh ke arah Mia yang masih berdiri di belakang para wartawan. Gadis itu memandangnya penuh lembut dan mengacungkan jempol ke arahnya.

Gadis itu ajaib, benar-benar ajaib.

Melihat pancaran bola matanya membuat Kyuhyun seakan mampu menghadapi semua masalah yang bergelayut selama ini. Senyuman Mia membuat beban Kyuhyun runtuh sedikit demi sedikit.

Untuk pertama kalinya selama menjadi penyanyi, baru kali ini Kyuhyun menyadari semangat dari satu orang pendukungnya saja bisa memberi kekuatan sangat besar untuk terus tersenyum.

.

.

.

.

.

.

.

See you next part~

 

7 thoughts on “Mr.Headstone (Track 04)

  1. Kasian kyu…
    Tragis amat masa kecilnya.
    Tp itu ayahnya masih jd member boyband walaupun udh punya anak?
    Wew, keren bgt ayahnya ya…

    Untungnya kau ga menghilangkan siwon-mia moment meskipun kau udah bikin kyu terlibat banyak dalam urusan mia. karena sungguh aku suka sama momen malaikat-hantu itu soph!😀

    Pokonya aku tetap berada di tempat yg nyaman sebagai siwon-mia shipper deh soph!😀

  2. liat videonya ntaran aja -_-v cho kyuhyun SJ sama cho kyuhyun Mr. Headstone xD yg di sj gembul yg di Mr. headstone cungkring gitu :’D cerita ayahnya kyu nyesek😥 apalagi perjalanan hidupnya😥 kyu kena imbasnya jadinya._. itu yg terakhir mia hebat bisa menghancurkan (?) keras kepalanya kyu :3 jgn” ntar mereka falling in love lagi😄
    keep writing authooorrr \(‘_’)/ love u always :^)

  3. Ooooh ternyata di masa lalu, kyu punya pengalaman yg g enak dan itu alesannya dia dingin banget sama fansnya? But, finally, he did a clarification to his fans… *sok bahasa inggris* 😁

    By the way eonni, kapan nih a cup of leenya?? Aku udah penasaran banget banget sama lnjutannya… pokoknya keep writinglah buat sophie eonni… 😉

  4. akhirny si kyuhyun itu ngomong juga, trauma emg agk mengerikan untuk masa depan yaa. Ngomong-ngomong kk sophie msih sangat sibuk yaa? aku jd kangen balas-balasan komen lg ㅠㅠ

Just talking...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s