Mr.Headstone (Track 03)

Author : Sophie Maya

Title     : Mr.Headstone (Track 03)

Cast     : Cho Kyuhyun, Choi Siwon, Lee Sungmin, Kim Ryeowook, Lee Hyuk Jae, Mia

Support Cast: Park Jungsoo

Genre  : romance

Rated  : G/AU

Length: chaptered

Type    : ?

Summary         : The one that had head like a stone

mr-headstone-copy

poster thx to springsabila@cafeposterart

Disclaimer       : this story is MINE.

Track 03: Words I Can’t Say

 

Mia terdiam tak bergerak. Seperti ada petir yang menyambarnya di siang bolong ini, saat udara Melbourne masih saja tidak bersahabat dengan salju-salju dinginnya. Petir itu sukses membuat tubuhnya mati rasa, merusakkan semua sistem di dalam tubuh, dan membuatnya jadi tak berfungsi sama sekali.

Perkataan Kyuhun beberapa detik lalu bagai sebuah genderang perang yang dipukul bertalu-talu—yang tak berani ia hadapi. Ia hanya memandang Kyuhun dengan pias tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Ia ingin mengelak, tapi yang meluncur dari bibirnya bukanlah kata-kata penolakan melainkan hanya desahan nafas yang menandakan ia benar-benar tidak bisa mengelak tuduhan Kyuhun barusan.

Kenapa Kyuhun bisa tahu kalau ia adalah hantu? Ini rahasia besar dan tidak mungkin ia atau Siwon sengaja maupun tidak sengaja membocorkannya.

”Dan yang di belakang kau itu… apakah dia adalah malaikat kematianmu?” Perkataan Kyuhun kembali membuat Mia tersentak. Kali ini Mia menoleh ke belakang, menatap Siwon yang juga tampak terkejut.

”Kau bisa melihatku?” tanya Siwon kaget.

”Tentu saja. Aku bisa melihat makhluk tak terlihat,” ucap Kyuhun lagi. ”Dan cukup bisa mengenalimu, Mia Narafa. Aku sudah curiga dari dua hari yang lalu saat di pemakaman—auramu berbeda, bukan aura manusia. Awal kita bertemu malah pergi ke pemakaman dengan hanya menggunakan gaun tanpa alas kaki, seakan kulitmu sudah mati rasa dengan musim salju. Kau menenangkan Nyonya yang bersedih itu dengan Bahasa Jepang, kau juga memandangnya dengan tatapan beda. Aku lantas berpikir, sepertinya kau itu Mia Narafa. Benar kan? Mia Narafa, gadis yang meninggal tertimpa plakat konser Mr.Headstone.”

Perkataan Kyuhun membuat lidah Mia kelu. Dia tidak bisa membantah semua perkataan Kyuhun yang benar seratus persen itu. Tebakan pria itu benar sekali.

”A-aku…”

”Sebenarnya kenapa kau bisa hidup lagi?” tanya Kyuhun dingin. ”Benar kan kau ingin balas dendam atas kematianmu agar kau tidak menjadi arwah penasaran?” tuduh Kyuhun.

Mia menggeleng kencang. ”A-aku tidak berniat untuk balas dendam.”

”Kau mau mencelakai Mr.Headstone karena gara-gara plakat konser kami, kau jadi meninggal.” Kyuhun kembali mengeluarkan argumennya.

”Tidak, aku…” Mia menggelengkan kepala lemah. Sungguh tidak dipercaya Kyuhun bisa menyudutkannya seperti ini. Idola yang selama ini dipujanya justru menatapnya dengan sorot mata tajam dan seakan tak menginginkan kehadirannya.

”Aku memberikannya kesempatan untuk ’hidup kembali’,” celetuk Siwon membuat Mia dan Kyuhun terdiam bersamaan. Kyuhun menatap Siwon siaga saat pria itu mendekatinya sambil menatap tajam padanya.

”Kenapa kau melakukan itu? Kenapa kau memberikannya kesempatan lagi?”

”Karena aku tahu ada satu urusan penting yang harus diselesaikan gadis ini di dunia sebelum dia pergi untuk selama-lamanya,” jelas Siwon. ”Tapi tenang saja, urusannya itu bukan untuk balas dendam pada siapapun yang membuatnya mati, tidak juga anggota band Mr.Headstone.”

”Dari mana kau bisa yakin dia tidak akan balas dendam?” tanya Kyuhun melirik Mia dengan tatapan menyelidik. Pria itu kelihatan tak mempercayai penjelasan Siwon barusan.

Siwon mengerjapkan matanya bingung. ”Karena dia—”

”Sudahlah. Jangan dikatakan, Siwon,” potong Mia tiba-tiba. Mia tidak ingin Siwon membocorkan semua tentangnya di hadapan Kyuhun. Tidak dengan keadaan Kyuhun yang justru mengiranya seorang anti-fans, hantu yang akan mencelakainya.

”Ya, kuharap begitu. Karena aku tidak ingin kau bermacam-macam dengan kami. Sebaiknya kau menjaga sikap mulai dari sekarang atau kau bisa mengacaukan segalanya,” ucap Kyuhun setengah mengancam. ”Kuharap kau bisa menjauh dari kami. Kau tak sepantasnya berada di sini dan lebih baik selesaikan urusanmu secepatnya lalu pergi dari dunia ini.”

Seseorang melambaikan tangan pada Kyuhun dari arah Melbourne Town Hall, orang itu mengisyaratkan Kyuhun segera masuk gedung.

Kyuhun melirik Mia sekilas. Menatap gadis itu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tanpa berkata apa-apa, Kyuhun membalikkan badan dan berlalu dari hadapan Mia dengan angkuh.

”Kau ini… kau pantas saja dibenci banyak orang!” seru Mia kesal. Kyuhun menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Mia. ”Sikapmu itu membut banyak orang merasa kesal, sebagai idola bukankah kau seharusnya berperilaku baik dan ramah? Kau ini mengecewakan banyak sekali penggemarmu! Pantas saja ada anti-fans yang ngotot membuntutimu sampai kesini!”

”Kau tahu apa soal aku? Kau ini cuma orang yang tertimpa plakat konserku saja, jangan sok tahu.”

”Ck, jelas saja aku tahu. Dari sifatmu sekarang ini, dari gaya bicaramu, kau ini terlihat amat menyebalkan. Aku yakin diantara anggota Mr.Headstone, yang punya anti-fans paling banyak adalah kau! Kau benar-benar… seperti Mr.Headstone! Kepala batu!”

Mia mengatupkan bibirnya seusai berkata seperti itu. Ia keceplosan. Bibirnya tanpa sadar bergerak tak terkendali dan mengeluarkan kata-kata seperti itu. Dilihatnya Kyuhun kini membuang napas kesal, rahangnya terlihat mengeras dan sudut bibirnya tertarik ke atas.

”Oh…,” Kyuhun tertawa kecil. ”Memang. Aku memang kepala batu. Aku leader Mr.Headstone, leader orang-orang kepala batu, aku raja kepala batu. Terus kenapa? Masalah? Ah… kau tentu juga bisa menebak yang paling sedikit memiliki anti-fans adalah Ryeowook. Betapa baiknya dia padamu, bukan? Rela memberikan sepatu gratis untuk gadis tak dikenal.” Kyuhun melirik ke arah ugg boots yang Mia kenakan, pemberian Ryeowook dua hari lalu. Mia juga menatap sepatu itu, sepatu yang sebenarnya agak kedodoran di kakinya.

”Ya, betul sekali. Jika aku ditakdirkan menjadi fans band kalian, tentu Ryeowook akan menjadi orang yang pertama kuidolakan. Bilang padanya aku benar-benar berterima kasih atas kebaikannya!” Mia berseru.

Kyuhun tersenyum aneh.

”Untunglah. Aku tidak bisa membayangkan seorang gadis cerewet sepertimu menjadi fansku. Aku malas jika mempunyai fan sepertimu.”

Setelah berkata seperti itu Kyuhun langsung pergi berlari ke dalam gedung Melbourne Town Hall. Meninggalkan Mia yang tengah memelotot tajam menatap kepergiannya.

Benar-benar menyebalkan sekali Kyuhun itu, bagaimana bisa orang seperti dia menjadi idola, menjadi leader Mr.Headstone!

”Mia…,” panggil Siwon pelan.

”APA?!” nada suara Mia terdengar agak kasar. Ia masih kesal dengan kejadian barusan. Tapi sedetik kemudian Mia langsung sadar. ”Maaf… aku tidak bermaksud membentakmu.”

Siwon mengulum senyum tulus. ”Tidak apa-apa, itu tak masalah. Aku tahu kau sedih mendengar perkataan Kyuhun tadi,” ujar Siwon sambil menepuk pundak Mia pelan. Mia menoleh dan menatap Siwon bingung. Tapi malaikat kematian itu malah menatapnya dengan sorot lembut. ”Tapi kenapa kau tak berterus terang tentang siapa kau sebenarnya? Kau bukan anti-fans, Mia… kau ini kan penggemar mereka.”

Mia tersenyum samar. ”Memang…, hanya saja aku tidak mempunyai kesempatan untuk mengakuinya di depan Kyuhun. Kau lihat saja ekspresinya tadi? Dia ketakutan sekali seakan menyentuhku saja bisa membuatnya terbunuh.” Mia mengingat bagaimana Kyuhun berbicara padanya. Sama sekali tanpa perasaan. Ada rasa perih menjalar di dadanya mengingat hal itu. ”Mungkin sebaiknya Kyuhun tidak mengetahui siapa aku. Dia tidak perlu tahu aku adalah penggemarnya. Aku pun tak akan bertemu lagi dengannya, jadi buat apa.”

”Tetapi seharusnya kau mengakui… bahwa kau adalah Stone dan bahwa Kyuhun adalah anggota Mr.Headstone yang paling kau idolakan.”

Perkataan Siwon membuat Mia terdiam. Mia memalingkan wajah dan menarik nafas dalam-dalam. Memang benar, di antara semua anggota Mr.Headstone, orang yang paling Mia idolakan itu Kyuhun, si leader Mr.Headstone.

 

”Untunglah. Aku tidak bisa membayangkan seorang gadis cerewet sepertimu menjadi fansku. Aku malas jika mempunyai fan sepertimu.”

 

Tetapi bahkan Kyuhun sudah menyatakan tidak ingin Mia mengidolakannya. Jadi buat apa?

Jika ada kata-kata yang tak dapat Mia katakan, mungkin kata itu adalah pengakuan dirinya sebagai fans Kyuhyun.

.

.

.

.

.

.

 

Mia tiba di apartemen Ibu satu jam kemudian setelah berputar-putar di daerah Melbourne—penyakit pikunnya kumat di saat tidak tepat. Mia tiba di apartemen Ibu dan disambut seorang wanita paruh baya yang mengaku sebagai penjaga apartemen Ibu. Wanita itu mempersilahkan Mia masuk dengan senang hati saat gadis itu bilang ia berasal dari Jepang.

”Anda pasti teman anak Nyonya Risa?” tanya wanita itu dengan raut penuh harap. Mia mengangguk kecil dan menyenggol lengan Siwon, memberi kode bahwa pria itu tidak boleh meninggalkannya sendirian. Siwon harus tetap bersama Mia selama mereka di apartemen Ibu, atau Mia bisa mati kutu tak bisa berbuat apapun.

Siwon melempar senyum manisnya dan mengangguk menyetujui. Malaikat itu ikut masuk dan malah dengan sekenanya duduk di atas rak buku bergaya kuno milik Ibu. Tampaknya Siwon perlu diajari duduk di kursi itu lebih baik dibanding di atas rak.

”Ah, nama Anda siapa?” tanya wanita yang lebih dulu memperkenalkan diri bernama Lucia. Umurnya sekitar tiga puluhan. Wajahnya terlihat tirus dan matanya bulat mempesona. Tinggi badannya sekitar 150 cm, lebih pendek beberapa senti dibanding Mia. Lucia mengenakan baju terusan berwarna putih polos dengan rambut yang dikuncir tinggi-tinggi ke atas. Gayanya seperti anak muda kebanyakan, tidak kelihatan umurnya sudah cukup banyak.

”Yui—Yui Himawari,” jawab Mia asal-asalan. ”Nyonya Risa kemana?”

”Ia masih berada di kamar, mengurung diri…” Raut wajah Lucia berubah sedikit sendu saat mengucapkan kalimat itu. Sorot matanya mengarah pada sebuah pintu dengan ukiran bunga krisan di depannya. Mia juga melihat pintu yang tertutup itu, ia tahu itu kamar Ibu. Biasanya Ibu jarang berada di kamar itu lebih dari satu jam, Ibu lebih suka menghabiskan saat-saat tidurnya di sofa ruang tamu sembari menonton siaran TV. Ibu penderita insomnia, jadi Mia tidak pernah berharap Ibu akan tidur dengan jam normal seperti orang lain.

Lucia mempersilahkan Mia duduk di sofa sementara dirinya memanggil Ibu ke dalam kamar. Terdengar percakapan samar-samar di kamar sebelum akhirnya Ibu muncul dengan wajah pucat dan senyum tipis di bibirnya.

”Kau gadis yang kemarin di pemakaman?”

Mia mengangguk kikuk. Tangannya berkali-kali membenarkan sunglassnya agar tidak melorot.

”Kau tidak pulang ke Jepang, Yui-chan?”

”Aku memutuskan untuk tetap di Melbourne selama beberapa hari. Aku mau mengunjungi pemakaman Mia terus, setidaknya selama seminggu ini.” Mia mengarang alasan.

Lucia muncul dari dalam kamar Ibu dan mengangguk pelan padanya. Wanita itu berjalan menuju dapur.

”Hubunganmu dan anakku tentu sangat dekat.” Ibu tersenyum tipis. ”Bagaimana kalau selama di Melbourne kau tinggal saja di apartemen ini?” tawar Ibu.

Mia langsung menoleh Siwon yang kini sibuk melayang-layang rendah. Siwon menatapnya dan menggeleng cepat.

”Ah, aku sudah memesan kamar hotel untuk beberapa hari ini…” Mia mengalihkan pandangannya ke Ibu.

”Yah, sayang sekali…” Ibu mengangguk paham.

Kemudian Ibu beranjak masuk ke dalam salah satu ruangan dan mengisyaratkan Mia untuk mengikutinya. Itu kamar tidurnya, ia ingat. Kamar itu terletak di pinggir, sehingga terdapat balkon yang menghubungkannya dengan pemandangan di luar sana. Mia selalu menghabiskan waktunya di balkon itu untuk sekedar melamun atau mengutak-atik diary-nya.

Ada banyak boneka beruang yang memenuhi kasur dan beberapa rak buku kosong tak terpakai dan justru dipenuhi oleh album-album foto miliknya. Di tengah ruangan springbed berukuran sedang terbentang, disebelahnya terdapat meja kecil dengan lampu tidur berbentuk kepala Doraemon. Tak jauh dari kasur ada sebuah meja yang lebih besar dan panjang, meja itu biasa digunakan Mia untuk belajar atau sekedar bermain laptop di sana. Selebihya tidak ada satu bukupun bertengger di sana. Kamar ini memang lebih tepat disebut kamar ”singgah” dibanding kamarnya. Tidak banyak peralatan pribadinya di sini.

Mia mengambil boneka beruang berwarna biru dengan bulu yang terbuat dari kain beludru tebal dan mengilat. Tangannya mendekap erat boneka itu dan menyesap harum parfum yang biasa ia gunakan untuk menyemprot boneka koleksinya.

”Itu boneka kesayangan Mia,” ujar Ibu melirik sekilas boneka di pelukan Mia.

”Boneka ini bagus.”

”Itu boneka dari ayah kandungnya.”

Ibu membuka jendela kamar lebar-lebar dan berjalan menuju balkon.

Mia memutar tubuhnya ke belakang dan mencari sosok Siwon, ingin meminta pendapat apa yang harus dilakukannya sekarang. Mia bingung bagaimana memulai percakapan yang bisa menyinggung masalah perceraian Ibu. Tapi Siwon tak terlihat dimanapun. Tidak di kamar ini dan juga tidak di luar sana. Siwon menghilang begitu saja.

”Selalu tidak ada saat orang lain membutuhkan,” Mia mendengus kesal, ”malaikat macam apa itu?!”

”Kau berbicara dengan siapa?” Ibu melihat Mia dengan tatapan heran. Gadis itu buru-buru menggeleng.

”Ti-tidak, tidak ada, Bibi.”

Mia menggaruk kepala yang tak gatal dan berjalan menghampiri Ibu. Angin berhembus cukup kencang di balkon ini dan menggoyang-goyangkan rambut Mia yang panjang sampai menutupi seluruh wajahnya.

”Ada yang ingin kusampaikan pada Bibi, makanya aku datang kesini…” Mia memulai percakapan setelah terdiam cukup lama. Gaun hitamnya sedikit tersingkap begitu angin menerpa tubuhnya, ia terpaksa memperbaiki gaunnya dengan kerepotan.

”Kau memakai gaun tipis itu di tengah musim salju?” decak Ibu takjub begitu dilihatnya Mia memang hanya mengenakan gaun itu tanpa ada lembaran kain hangat apapun melekat di tubuhnya. Tidak sweater, tidak juga jaket tebal.

”Aku tidak merasa kedinginan.” Mia juga baru sadar kalau ternyata dari kemarin ia memakai gaun dan sama sekali tidak merasa menggigil, apalagi pilek. Padahal dulu kalau ada angin dikit aja, hidungnya yang sensitif bisa langsung bersin.

Ibu membulatkan mulutnya. ”Wow, kau gadis yang ajaib, Nak. Kau berbeda sekali dengan anakku. Dia itu, tidak pernah keluar rumah pakai baju tangan pendek. Dia bisa langsung terseok-seok sesampainya di rumah jika nekat melakukan itu.”

”Hahaha.” Mia tertawa canggung.

”Lantas apa yang ingin kau sampaikan padaku?” Ibu kembali meluruskan pembicaraan. ”Tentu sesuatu yang sangat penting kan? Kau teman baik Mia, tentu aku akan mendengarkan semua ucapanmu.”

”Apakah Bibi menunda perceraian Bibi?” ucap Mia hati-hati. ”Maaf kalau aku lancang, tapi aku hanya ingin menyampaikan… Mia, dia… punya sesuatu… yang selalu disembunyikannya.” Ada perasaan aneh yang mendadak menyusupi dada Mia, membuat gadis itu terpekur beberapa saat. Awalnya ia hanya berpikir untuk mengarang cerita bahwa Mister Alex suka bersikap buruk pada Mia, membujuk Ibu, dan berharap wanita itu percaya dengan ceritanya. Tapi kini, sepertinya ada yang salah dengan pikirannya itu. Bibirnya mendadak saja kelu. ”Dia… mengatakan ini hanya padaku…” Mia menelan ludah dengan berat.

Ada sesuatu yang amat mengganjal pikirannya. Ada rasa sesak yang menghantam seluruh sel tubuhnya. Ada suatu hal yang sepertinya tidak pantas untuk kembali ia ingat.

Ini seharusnya tidak dibicarakan…

”Mia mengatakan apa padamu?” Ibu memandang Mia lekat-lekat.

”…Mia…”

”Kau cuma perlu mengarang cerita saja, Mia! kenapa jadi gugup seperti ini!!” Mia menjerit dalam hati.

Ia merasa ada potongan cerita yang hilang dari hidupnya. Sekelebat bayangan masa lalu yang begitu buruk dan membuatnya berusaha melupakan segalanya, mendadak seperti diseret paksa keluar.

”…dia…”

 

”Daddy, TIDAK! JANGAN LAKUKAN ITU!”

”I’m not your Daddy!”

”IBU!”

”Your mom isn’t here!”

”BLOODY BASTARD!”

”SHUT UP, I SAY!”

Prang!

 

Tubuh Mia seketika juga lemas. Bahunya melorot begitu saja, ia hampir terjatuh jika tidak berpegangan pada tiang di sisi balkon.

Ibu tampak khawatir melihat perubahan yang terjadi pada Mia. Wanita itu sigap menahan tubuh Mia yang seakan-akan mau ambruk. ”Kau tidak apa-apa, Nak?” tanyanya cemas.

He’s a bastard…” Bibir Mia bergetar pelan. ”He’s really bad…

”Kau kenapa, Yui-chan?” Ibu bingung setengah mati. Tangannya menepuk pipi Mia lembut. ”Kau mungkin tidak enak badan, Yui-chan. Bagaimana kalau kita pindah saja ke dalam?” tawar Ibu.

Mia memejamkan mata.

 

”Kalau kau memberitahu ibumu, kau dan si wanita bodoh itu akan habis di tanganku!”

 

Ibu memapah Mia masuk kembali dan menutup pintu balkon.

”Sudah Bibi bilang, kau jangan mengenakan gaun di musim salju. Kau pasti tidak tahan dengan angin yang begitu kencang tadi…” Ibu menepuk kepala Mia lembut. ”Kau ini sama keras kepalanya seperti anak Bibi, si Mia itu…”

 

”Aku tidak boleh mengingat apapun. Ti-dak-bo-leh! Jangan mengingatnya, Mia. jangan mengingatnya, jangan mengingatnya… kau akan lupa semua kejadian setelah ini. Jadi kau akan baik-baik saja. Kau harus berusaha melupakan segalanya… kau harus lupa… harus…”

 

Mia menyesal karena sepertinya saat ini ia belum sanggup menceritakan yang sebenarnya pada Ibu. Ia bahkan belum sanggup untuk mengingat kembali kenangan yang sudah lama sengaja ia lupakan itu. Ia ingin menendang jauh-jauh ingatan itu, sungguh.

.

.

.

.

.

.

 

Kyuhun berlari-lari kecil memasuki Melbourne Town Hall. Suara para fans yang berteriak-teriak memanggil namanya dari luar gedung masih saja terdengar, tadi Kyuhun nekat menerobos fans lewat pintu depan saat dilihatnya Manajer Park—manajer Mr.Headstone—memanggilnya dan melambaikan tangan ke arahnya.

Para member Mr.Headstone lainnya juga mulai berjalan masuk sambil menutup wajah mereka. Kilatan blitz-blitz kamera menghantam wajah mereka hingga terasa silau sekali.

Hari ini mereka ada jadwal pengecekan panggung untuk pertama kalinya dan rehearsal sebentar. Karena mereka punya waktu lama di Melbourne sebelum konser dimulai, mereka melakukan rehearsal itu dengan tidak terburu-buru.

Kyuhun mendengus.

Sejujurnya alasan mereka tidak kembali ke Seoul dan malah mendekam di Melbourne merupakan ide dari Manajer Park. Manajer mereka itu bersikeras menahan Mr.Headstone di sini untuk meredam gosip-gosip seputar kejadian di depan gedung SBS dan kematian gadis yang tertimpa plakat mereka. Dengan masih maraknya berita miring itu, kematian Mia Narafa dicap oleh banyak orang sebagai kesalahan Mr.Headstone juga. Masyarakat sepertinya ingin tahu semua kejadian buruk yang berhubungan dengan Mr.Headstone.

Kata Manajer Park, demi menjaga citra baik Mr.Headstone, maka diputuskanlah selama seminggu sebelum konser ini mereka akan terus berada di Melbourne. Manajer Park sudah menandatangani beberapa kontrak kegiatan yang bisa dilakukan Mr.Headstone selama seminggu ini, agar setidaknya mereka punya kerjaan—well, manajer yang satu ini selalu tidak ingin Mr.Headstone menganggur begitu saja, ck.

Selain itu Mr.Headstone wajib ”menunjukkan” simpati terdalam mereka terhadap Mia Narafa. Mendatangi kuburannya tiap hari dan berbicara tentang penyesalan mereka di berbagai kesempatan, itu rencana Manajer Park, dan Mr.Headstone harus mengikutinya—mau tidak mau.

”Setelah ini ada wawancara dengan salah satu stasiun TV. Mereka tertarik meliput kalian terkait kecelakaan Mia Narafa. Jangan pergi kemana-mana karena banyak anti-fans yang lagi mengincar kalian saat ini, kulihat di depan mereka tengah bertengkar dengan beberapa fans. Satpam sedang memisahkan mereka.”

Anggota Mr.Headstone sudah sampai di bagian dalam gedung. Manajer Park memerintahkan beberapa bodyguard tetap berjaga-jaga di sekitar mereka.

”Dari mana mereka tahu kalau hari ini kita akan ke sini?” bisik Eunhyuk bingung.

”Aku juga tidak tahu.” Sungmin mengedikkan bahunya.

”Kenapa kita harus diwawancara?” Kyuhun membenarkan beanies-nya dan merapatkan jaketnya. Matanya menatap Manajer Park dengan heran.

”Membuat kalian tampak tak bersalah.” Manajer Park mengibaskan tangannya kesal. Mereka sudah membahas ini berkali-kali—bahwa memperbaiki citra Mr.Headstone yang sempat memburuk itu benar-benar susah. Jadi mereka harus mengorbankan segalanya, waktu, uang, tempat, dan kesempatan.

Kyuhun berdecak kesal. ”Aku benci diwawancara.”

”Karena kau harus menunjukkan sikap sok ramahmu, padahal kau selalu ingin menampar siapapun yang ingin tahu kehidupanmu?” sindir Manajer Park. Kyuhun menatap pria itu kesal. Sementara yang ditatap balik menatapnya dengan pandangan menantang. ”Kau tidak ingin mengklarifikasi apapun, dan tidak ingin diwawancarai juga?!”

”Oh, sudahlah. Jangan mulai lagi.” erang Eunhyuk. ”Hei, coba lihat! Tempat ini lumayan bagus juga, megah sekali!” Eunhyuk mengalihkan pembicaraan. Telunjuknya mengarah pada panggung bergaya artistik yang mencolok sekali, terlihat elegan dan mewah. Siapapun yang berdiri di atasnya akan terlihat jelas dari sudut manapun, ini panggung yang dibutuhkan untuk idola-idola semacam Mr.Headstone. Mereka akan terlihat oleh semua fans, dan fans akan senang menghadiri konser mereka nanti.

”Ini benar-benar menakjubkan,” bisik Ryeowook kagum.

”Aku ingin beristirahat. Kalau masuk backstage lewat mana?” tanya Kyuhun sambil mengusap hidungnya yang terasa gatal. Ia tidak terlalu tahan dengan udara dingin, sehingga berlama-lama di luar tadi cukup membuatnya merasa tidak enak badan.

”Penyakitan sekali kau,” ledek Sungmin.

”Biarin.” Kyuhun mencibir.

”Lewat sebelah kiri panggung ada pintu kecil di sana. Lalu ada koridor panjang dan ada beberapa ruang ganti, kau bisa beristirahat di sana kalau kau mau.” Manajer Park memberikan petunjuk arah tanpa menatap Kyuhun. Ia sibuk berbicara dengan salah satu penata rias.

”Oh, di situ.” Kyuhun melirik pintu yang letaknya agak tersembunyi.

”Tiga puluh menit lagi kalian rehearsal. Kalau mau istirahat dulu di backstage, istirahatlah. Lalu cepat kembali ke sini nanti.” Manajer Park mengingatkan.

Sungmin mengangguk. ”Sepertinya cuma leader kurus dan penyakitan ini saja yang perlu beristirahat, hahaha.”

Kyuhun memukul bahu Sungmin pelan dan memberikan pria itu tatapan mengancam. ”Kau, kudoakan jatuh sakit baru tahu rasa!”

Sungmin tertawa puas melihat ekspresi Kyuhun. ”Hahaha… kau ini hyeong, benar-benar mudah sekali dibuat marah!”

 

.

.

.

.

.

.

 

Ruang ganti di backstage cukup luas meski dipenuhi dengan kostum-kostum aneh di sekeliling dinding. Kyuhun masuk melalui kunci yang ia dapat dari Manajer Park, dan langsung merebahkan diri di sofa. Napasnya terdengar tersengal-sengal.

Kyuhun memang penyakitan. Meskipun ia leader Mr.Headstone dan menjadi pemimpin para anggota, tapi sebenarnya Kyuhun merasa ia sama sekali tidak bisa memimpin ketiga temannya itu. Setiap habis berpergian atau melakukan kegiatan tertentu, Kyuhun adalah orang yang pertama kali tepar dan mengalami demam panjang, atau pilek, atau pusing, atau penyakit lainnya yang silih berganti mampir di tubuh kurusnya. Kadang Kyuhun terpaksa melewatkan beberapa aktivitas Mr.Headstone jika mereka tengah melakukan serangkaian tour ke luar negeri, lagi-lagi karena kondisi tubuhnya yang tidak selalu fit.

Dibanding anggota lainnya, perawakan Kyuhun lebih menyerupai seorang magnae ketimbang seorang leader. Ia tidak terlalu tinggi, namun efek ketiga member lain yang (jauh amat sangat lebih ) pendek, membuatnya terlihat sedikit menjulang. Tubuhnya ringkih dan sedikit bungkuk ketika berjalan. Tangannya kurus sekali seperti orang busung lapar, bahkan Eunhyuk sempat bilang ia tidak berani menyentuh tangan Kyuhun karena takut patah. Meskipun semua anggota Mr.Headstone senang menggodai Kyuhun, tapi mereka sama sekali tidak berani menyentuh Kyuhun dengan kasar.

Seperti tangkai bunga yang rapuh, begitu kata Ryeowook menggambarkan sosok Kyuhun.

Bahkan pernah suatu saat para fans Mr.Headstone mendemo kantor agensi mereka selama berhari-hari, meminta agar Manajer maupun para pemilik agensi memberikan banyak makanan dan asupan gizi buat leader Mr.Headstone itu. Mereka menganggap Mr.Headstone tidak memperhatikan kesehatan tubuh Kyuhun.

Kyuhun sendiri merasa tubuhnya seperti orang kurang gizi itu merupakan hal biasa. Ia makan dengan cukup banyak, menenggak berbagai vitamin, dan bahkan di umur setua ini ia masih minum susu di pagi hari. Hanya saja tubuhnya yang kurus ini tidak bisa bertambah gendut sedikitpun, mau bagaimanapun juga ia berusaha.

Jadi ini bukan salah siapapun. Agensi selalu memberikan makanan yang bergizi, dan hanya Kyuhun yang tetap tampak seperti orang kekurangan gizi.

”Ruangan ini nyaman juga.” Kyuhun tersenyum puas memandang ruang ganti. Tubuhnya sudah agak rileks sejak ia tidur di atas sofa ini. Waktu tiga puluh menit yang diberikan Manajer Park akan dipergunakan sebaik-baiknya untuk tidur.

Dan melupakan semua yang membebani pikirannya…

”Kau ini idola yang menyebalkan ya,”

Sebuah suara mengejutkan Kyuhun. Awalnya ia pikir hanya khayalannya semata, efek dari rasa kantuk yang menyergapnya. Tetapi kemudian suara itu muncul lagi, semakin keras.

”Cho Kyuhun, leader Mr.Headstone, band terkenal dari Korea, aku berbicara denganmu sekarang!!”

Kyuhun terlonjak bangun. Ia mengusap-usap matanya dan memandangi sekeliling.

Siapa?

”Aku di atas sini…”

Matanya beralih pada deretan gantungan baju di dekat pintu dan terperanjat kaget melihat sesosok pria duduk bersandar di atas gantungan. Memasang cengiran lebar sekali padanya.

”Kau bukannya malaikat kematian Mia Narafa?” tanya Kyuhun kesal. Merasa kesempatan tidurnya terganggu, Kyuhun menguap lebar-lebar.

”Namaku Siwon. Panggil saja aku Siwon.”

”Oh, oke, Siwon… malaikat berotot yang aku heran apa kau bisa terbang dengan otot-ototmu itu…” Kyuhyun memutar bola mata, ”kau ada apa ke sini?” tanyanya malas-malasan.

Siwon melirik ototnya dan hanya tertawa. Malaikat itu melayang rendah mendekati Kyuhun. ”Lama tidak bertemu ya…”

Kyuhun terpaku beberapa saat. Ditatapnya Siwon dengan waspada. ”Kau…?”

”Dulu juga ada seorang anak yang pernah menanyakan padaku, bagaimana bisa aku terbang dengan bentuk tubuh seperti ini?” Siwon tersenyum tipis. ”Ah, aku baru ingat tadi kalau kau ternyata anak yang itu. Aku hampir-hampir tak mengenalimu, kau sudah tambah besar sekarang.”

Kyuhun memiringkan kepalanya dan memandang lekuk wajah Siwon lamat-lamat. Lalu beberapa detik kemudian ia sudah kembali mengingat kejadian beberapa tahun lalu. Pantas saja tadi ia merasa sedikit familiar dengan malaikat kematian Mia Narafa. Pantas saja ia merasa begitu kenal dengan malaikat ini. Tadi ia tak menyadarinya karena keburu marah pada si Mia. Tapi sekarang, ia ingat seingat-ingatnya. ”Kau!”

”Kau sudah mengingatku kan? Hahaha.” Siwon tertawa senang.

”Arghhh, di antara sekian banyak malaikat kematian, kenapa aku harus bertemu denganmu?” ketus Kyuhun kesal.

Siwon terkekeh. ”Mungkin ini yang namanya takdir, atau… jodoh?”

Kyuhun langsung mencibir mendengar perkataan Siwon. Dan semakin jijik saat malaikat itu mendadak sok centil dengan mengedip-ngedipkan kedua bola mata besarnya.

”Ergh, adakah yang pernah bilang padamu, kau ini malaikat paling autis?”

”Hm… tidak pernah. Autis itu apa? Sejenis kewarganegaraan, ya? Sejenis British… begitu? Negara Amerika bagian mana?”

Kyuhyun mengibaskan tangannya sembari menggumam, ”terserah kau saja”.

”Mungkin ini karena kau memang sudah ditakdirkan untuk selalu menolong orang yang sudah mati,” desah Siwon kembali membuat Kyuhyun menatapnya.

”Aku tidak akan menolongnya.” Kyuhun membuang wajah kesal.

”Ayolah, cuma kau yang bisa. Hanya orang-orang yang bisa melihat makhluk halus yang bisa membantu mereka. Dan kurasa Mia memang butuh bantuan.”

Kyuhyun menggelengkan kepala.

”Kau tidak mau atau takut gagal, Kyuhun?”

Kali ini Kyuhun benar-benar kehilangan kesabaran. Ia tidak suka Siwon mengingatkannya pada kejadian beberapa tahun lalu yang ingin dirinya lupakan.

”Kau tidak boleh seenaknya membeberkan semua masa laluku!” seru Kyuhun marah. Ia bangkit berdiri dan hendak meninggalkan ruangan, tapi tangan Siwon menahannya. Malaikat itu mencengkram kuat-kuat pergelangan tangannya seakan bisa mematahkannya kapanpun.

”Kau bisa menebus kegagalanmu yang dulu, Kyuhun…”

Kyuhun menatap Siwon nanar. Ia tahu malaikat di depannya ini tahu semua yang ada di pikirannya, semua yang ia rasakan, semua yang dilakukannya. Bahkan setelah bertahun-tahun tak bertemu dengan malaikat ini, Kyuhun masih bisa mengingat betapa tidak bisa terbantahkannya omongan Siwon ini—sama seperti beberapa tahun lalu Siwon berusaha membujuknya membantu seorang arwah.

Sama seperti bertahun-tahun lalu…

Apakah jika sekarang ia membantu arwah juga, nasibnya akan sama dengan nasib arwah bertahun-tahun lalu?

”Tidak. Kali ini aku tidak akan membiarkan kau gagal, Kyu…”

Ucapan Siwon terdengar amat tulus, sampai-sampai membuat dada Kyuhun terasa ringan dan bebas. Sorot mata Siwon memancarkan keyakinan yang membuatnya bisa ikut bersemangat, dan senyuman ajaib dari malaikat itu… perlahan… membuat Kyuhun perlahan menyunggingkan senyum yang jarang terukir di wajahnya.

”Ceritakan terlebih dahulu apa yang sebenarnya terjadi pada Mia.”

.

.

.

.

.

.

Melbourne adalah sebuah kota yang dipenuhi taman-taman indah. Ada puluhan, bahkan mungkin ratusan taman berjejer rapi membuat kota itu seperti taburan gambar bunga-bunga yang berwarna-warni. Orang-orang Melbourne betah berjalan kaki selama berjam-jam sambil sesekali mampir ke taman itu untuk sekedar duduk santai ataupun menghirup kopi yang kedainya terletak bersebelahan dengan taman. Kopi adalah santapan favorit, bahkan wajib, bagi warga Melbourne. Selain hangat, juga bisa menyegarkan otak dari aktifitas seharian yang penat. Terutama di musim salju sekarang, kopi adalah senjata ampuh yang dicari-cari orang untuk mengusir rasa dingin.

Mia juga dari tadi terus saja berjalan tanpa mengenal lelah menyusuri jalan-jalan di Melbourne, masuk dari satu gang ke gang yang lain yang terus bersambungan layaknya terowongan labirin. Sambil terus memalingkan wajah dari deretan toko yang berjejer menawarkan baju-baju ataupun perlengkapan yang menggoda mata.

Matanya sibuk berpendar berkeliling mencari-cari keberadaan Siwon. Sedari tadi Mia sibuk memanggil Siwon, tapi tidak datang-datang juga, padahal Siwon pernah bilang kalau dia akan muncul kapanpun dimanapun saat Mia memanggil namanya, saat Mia membutuhkannya.

”Mia Narafa!!”

BUKK!

Tiba-tiba seseorang menabrak Mia dari belakang dan memeluknya erat-erat. Mia langsung bisa tahu siapa yang memeluknya itu, pasti Siwon!

”Siwon jangan peluk-peluk aku kayak gitu,” protes Mia.

”Wah, Mia… kau tahu ini aku?” tanya Siwon takjub.

”Jelaslah tahu, cuma kau yang mengenalku di Melbourne ini kan?!” Mia berseru sambil membalikkan badan dan memasang aksi akan memukul Siwon. Tapi tangannya terhenti di udara saat melihat sosok dibelakangnya bukan hanya Siwon.

Deg

Jantung Mia seakan berhenti berdetak.

Meskipun jantungnya memang sudah berhenti berdetak—jelas karena Mia kan sudah mati—tapi rasanya seperti berhenti berdetak dua kali, seperti mati untuk kedua kalinya.

Mia menatap Kyuhun…

Pria itu berdiri tepat di sebelah Siwon. Mengenakan sweater putih dan jaket cokelat tebal, serta beanies putih dan sunglasses berlensa hitam. Berdiri dengan gaya angkuh dengan dagu terangkat dan sebelah tangan di pinggang—seakan pria itu tengah melakukan pemotretan baju di majalah-majalah.

Mia berjengit ketakutan seperti melihat hantu. Dipandangnya mereka berdua dengan raut kaget campur bingung, tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Kedua pria berbeda latar belakang dan berbeda sifat maupun dunia itu sekarang tengah berdiri di belakangnya dan mereka terlihat… akrab?

Bagaimana tidak, Siwon sekarang sibuk mengobrol dengan Kyuhun sambil menepuk-nepuk bahu pria itu. Sementara Kyuhun menganggukkan kepala layaknya anjing peliharaan yang patuh pada majikan.

Heiiii, ada apa ini? Apa mereka berdua habis melakukan sesuatu yang tidak terduga? Yang sama sekali tidak Mia ketahui??

Mia mengerjapkan mata beberapa kali, memastikan yang dia lihat bukan fatamorgana atau ilusi akibat efek merasa terdampar seorang diri di Melbourne. Atau bisa jadi pemandangan yang dia lihat di depan hanya sebuah bagian dari otaknya yang tengah rusak—secara dia sudah meninggal, jadi mungkin saja otaknya tidak dapat digunakan lagi meskipun dia diberi kesempatan ”hidup kembali”. Atau mungkin saja kedua makhluk ini adalah alien dari planet sebelah yang ingin menculiknya lalu mereka menyamar jadi orang yang sedang dipikirkannya?—pikiran Mia semakin melantur-lantur.

”Oh, berhentilah berpikir yang tidak-tidak, Mia. Khayalanmu itu benar-benar konyol!” seru Siwon kesal. Pasti malaikat kematian itu lagi-lagi membaca isi pikiran Mia. Siwon memutar tubuhnya dan berjalan cepat mendekati Mia. ”Jangan pernah berpikir bahwa aku adalah ilusi atau apa itu… alien?” Siwon memasang tampang jijik, padahal Mia berani jamin Siwon baru kali ini mendengar istilah aneh itu.

”Rasanya kalau aku berhadapan denganmu, lebih baik aku tidak memikirkan apapun di otakku,” gerutu Mia kesal.

Siwon tersenyum. ”Hahaha, jangan salahkan aku. Aku bukannya berniat membaca pikiranmu, tapi dengan otomatis sudah terbaca, Mia.” Siwon membela diri.

Pandangan Mia beralih ke Kyuhun. Pria itu masih setia berdiri dengan posisi siaga dan memandangi mereka berdua.

Why are you staring at me?!” Kyuhun tiba-tiba berteriak dan sukses membuat Mia kaget.

Is it a problem for you?!” Mia balas berteriak sambil berkacak pinggang. Sepertinya kejadian tadi pagi sukses membuat Mia sedikit kesal dengan Kyuhun. ”Siwon, kita pergi dari sini sekarang!” Mia menarik tangan Siwon. Namun malaikat itu tak bergeming dan justru tersenyum jahil ke arahnya.

”Mia, jangan bertengkar dengan Kyuhun,” bisik Siwon seraya mengedipkan matanya. Siwon membuat gerakan mengepalkan tangannya dan menggoyang-goyangkannya ke atas, seperti ingin mengatakan ’semangat!’ pada Mia. ”Yang harus pergi itu hanya aku,” tambahnya.

Mia mengerjapkan mata beberapa kali. ”Kau mau kemana?”

”Aku mau…” Siwon menatap Mia lekat-lekat, lalu sekilas melirik Kyuhun, dan kembali menatap Mia, ”…pergi pokoknya. Aku banyak urusan,” ucap Siwon cepat.

”Bukankah urusanmu hanya mengurusiku?” tanya Mia heran.

Siwon tertawa renyah. ”Tentu tidak! Kau kira aku baby sitter buat hantu? Tidak, Mia.” Siwon menepuk-nepuk bahu Mia. ”Aku ada urusan.” raut wajahnya berubah serius.

”Ajak aku pergi bersamamu.” Mia merengek.

Siwon menggelengkan kepala. ”Oh, tidak bisa. Ini urusan malaikat.”

”Lantas, aku sama siapa sekarang?” Mia mengerucutkan bibirnya.

”Sama Kyuhun saja!” seru Siwon sambil menunjuk Kyuhun. Mia langsung memelototkan mata, melirik sekilas ke Kyuhun, lalu buru-buru mengalihkan pandangan saat matanya bertubrukan dengan mata Kyuhun.

Siwon sepertinya lagi tidak membaca pikiran Mia, dia tidak mengindahkan segala macam pesan non-verbal yang Mia sampaikan, ataupun telepati yang berusaha Mia berikan. MIA TIDAK MAU BERSAMA KYUHUN ATAUPUN MELIHAT PRIA ITU DI SEKITARNYA. Siwon sepertinya mengabaikan semuanya, malah berbalik dan pergi menuju kerumunan orang-orang dan perlahan menghilang tiba-tiba.

Mia langsung berpikiran yang tidak-tidak. Kenapa Kyuhun di sini? Kenapa Kyuhun tadi bersama Siwon? Kenapa Kyuhun mau menemuinya lagi? Apa Kyuhun menemuinya lagi untuk (lanjut) memarahinya lagi? Kenapa Kyuhun tidak berbicara sepatah katapun? Apa tadi ia ketabrak bus dan mendadak bisu?! Apakah Kyuhun akan mencelakakan Mia dan membuatnya mati untuk ke dua kali?

Berbagai pertanyaan berputar di otak Mia, membuatnya pusing tak karuan. Jarang-jarang Mia mempergunakan otaknya seserius ini. Dan menggunakan otak di saat kau sudah mati itu adalah ide yang buruk, asal tahu saja. Kepala akan beratus kali lipat lebih sakit dibanding biasanya.

Hangugeo hal chul aseyo? (Apa kamu bisa bahasa korea?)” Kyuhun tiba-tiba mengeluarkan suara. Mia sampai terlonjak kaget gara-gara terkejut, pikiran-pikiran anehnya buyar seketika.

Hangugeoreul cheonhyeo mot’aeyo! (Aku tak bisa bahasa korea!)”

Kyuhun membulatkan matanya dan mendadak dia tertawa keras.

Mia mengerjapkan mata bingung kenapa Kyuhun malah tertawa mendengar jawabannya. Tapi sedetik kemudian ia menyadari kesalahannya dan langsung tertunduk malu.

Bodoh! Bodoh! Bodoh! Bagaimana mungkin mengatakan bahwa dia tidak bisa bahasa Korea tapi dengan pelafalan bahasa Korea yang sempurna?

Benar-benar memalukan.

Kyuhun terus saja tertawa sambil memegangi perutnya. Sepertinya dia benar-benar puas menertawai Mia—menertawai seseorang yang mengaku tidak bisa berbahasa Korea tapi malah berbicara dengan Bahasa Korea.

Seharusnya Mia terpesona menatap Kyuhun saat ini—kalau saja Mia bukanlah objek tertawaan Kyuhun. Kyuhun tertawa begitu ringan. Rambut pria itu tampak tertiup angin sore dan membuat beberapa helainya tampak melayang-layang lembut. Seperti di iklan-iklan. Sangat tampan.

”Aku… aku.. sempat belajar bahasa Korea selama tiga bulan. Cuma untuk iseng.” Mia mencoba menjelaskan. ”Tapi kurasa aku tetap tidak bisa berbahasa Korea, aku sudah lupa dengan semua pelajarannya,” lanjutnya lagi.

”Bukankah kau memang selalu melupakan apapun? Hahaha…” Kyuhun masih tertawa-tawa.

Mia merengut kesal. Entah dari mana Kyuhun tahu kebiasaan lupanya yang satu itu. Apa tadi Siwon memberitahukannya? Kalau iya, awas saja malaikat itu kalau bertemu lagi dengannya!

”Yayaya… aku memang gadis yang pikun…” Mia mengangguk-angguk sebal.

Kali ini Kyuhun menghentikan tawanya dan menatap Mia serius. ”Han-gungmari eoryeopchi anayo. (Bahasa Korea itu tidak sulit)” ujar Kyuhun. ”Learning Korean is easy,” lanjutnya dalam Bahasa Inggris, mungkin dengan maksud agar Mia mengerti apa yang dikatakannya. ”Ya sudahlah. Aku juga tidak ingin memaksamu berbicara Bahasa Korea. Kita sekarang juga lagi berada di Melbourne, gunakan saja Bahasa Inggris. Oke?” eskpresi Kyuhun kembali berubah. Ia menatap Mia dingin dan angkuh. Kemudian memutar tubuhnya dan mulai berjalan meninggalkan Mia, menuju keramaian orang-orang yang sibuk berbelanja di pertokoan.

Hari sudah mulai beranjak malam dan Melbourne semakin ramai saja, apalagi Mia sedang berada di tempat shopping terbesar di kota Melbourne, yang terdapat seratus delapan puluh toko dan restoran, bagaimana tidak ramai?

Mia memandangi punggung Kyuhun yang semakin menjauh, bahkan bentar lagi Kyuhun akan menghilang dari pandangan. Kyuhun sama sekali tidak menoleh ke arahnya dan terus saja berjalan. Dia pergikah? Sudah segini aja? Dia tidak mengajak Mia jalan bareng—atau apalah? Kenapa malah pergi?

Kepala Mia tertunduk. Dirinya berharap terlalu lebih. Kyuhun jelas masih kesal padanya, mungkin malah masih menganggapnya berniat buruk pada Mr.Headstone. Tidak mungkin seorang Kyuhun betah berlama-lama dengan Mia. Mia pun tak percaya ucapan Siwon sebelum meninggalkannya pergi, bahwa Kyuhun akan menemaninya.

Tuk!

Seseorang memukul kepalanya tiba-tiba.

”Bodoh!” umpat orang itu.

Mia reflek menengadahkan kepala dan terkejut melihat orang yang berdiri di depannya. Kyuhun!

”Kenapa kau masih di sini?!” seru Kyuhun dengan nada tinggi.

Mia tampak kebingungan. ”Eungg…?”

”Ck,” Kyuhun berkacak pinggang. ”Kenapa malah bengong gitu? Seharusnya tadi kau berjalan di belakangku!” Kyuhun kembali berseru.

Mia memiringkan kepala. ”Kenapa?” Mia justru bertanya dengan nada polos.

”Karena Siwon menitipkanmu padaku! Jadi kau harus bersamaku. Kau pikir bagaimana?” Kyuhun berusaha menenangkan emosinya. Pria itu menggigit bibir bawahnya dan menatap Mia tajam. ”Ayo, ikut aku!” Kyuhun menarik tangan Mia dan berjalan menembus keramaian malam. Kyuhun terus saja memegang pergelangan tangan Mia dan berjalan di depan gadis itu, pandangan matanya lurus menatap jalanan, tak memperdulikan Mia yang tampak kepayahan menjajari langkah Kyuhun.

”Kenapa?” Mia kembali bertanya, ”bukannya kau tampak membenciku? Tadi pagi kau…”

”Siwon menyuruhku untuk menjagamu selagi dia tak ada,” jawab Kyuhun datar.

Mia mengerjapkan matanya. ”Apa hubunganmu dengan Siwon? Kau mengenalnya?”

”Tidak juga. dia membayarku dengan upah yang tinggi jika aku mau menjaga arwah menyebalkan nan pikun sepertimu.”

Mia mendengus sebal mendengar ucapan Kyuhun. Ternyata selain tingkah dan ucapannya yang menyebalkan, jalan pikiran Kyuhun tak kalah membuat geram. Mana ada idola yang mau-maunya menemani seorang fans hanya karena dibayar? Ah… ternyata Kyuhun laki-laki bayaran.

”Kenapa? Tapi kenapa?” Mia tampak tidak puas dengan jawaban Kyuhun. Sebenarnya ia ingin Kyuhun menjawabnya dengan hal lain, mungkin dengan mengatakan bahwa ini sebagai bentuk permintaan maaf karena bersikap kasar pada Mia tadi pagi, atau apalah. Namun Kyuhun tampaknya tak menghiraukan pertanyaan Mia dan terus saja berjalan memimpin di depan.

Setelah beberapa lama berjalan menerobos orang-orang yang tengah berjalan menikmati udara malam Melbourne di musim salju, Kyuhun dan Mia berhenti di depan etalase toko yang tampak bersinar. Lampu-lampu kecil berwarna keemasan berpendar-pendar di atas dinding toko membuat toko itu lebih menarik dilihat dibandingkan toko yang lain. Apalagi toko itu adalah toko baju, berbagai baju yang terlihat cantik terpajang di sana, membuat semua mata seakan tertuju pada etalase toko itu.

”Aku akan membelikanmu baju.” ucap Kyuhun datar.

Mia menoleh ke arahnya. ”Heh?”

”Jangan seperti orang kekurangan baju di musim salju ini dengan hanya memakai gaun hitam itu dan sepatu boots. Kau bahkan seperti orang yang tidak pernah berganti pakaian.” kata Kyuhun.

”Aku memang tidak pernah ganti pakaian, pakai ini-ini aja,” ujar Mia sambil menarik-narik gaun hitam miliknya. Tidak ada yang salah kan dengan gaun itu. Gaun hitam yang dia kenakan tidak terlihat terlalu kumal.

”Benar-benar bodoh,” ucap Kyuhun menoleh ke arah Mia dan menatapnya dengan pandangan menusuk. ”Sekarang masuk ke toko ini dan belilah baju sebanyak mungkin!”

.

.

.

.

.

.

 

Sebenarnya yang bodoh itu Kyuhun, pikir Mia sambil menatap wajah tampan di depannya yang tengah menyantap salad dengan lahap. Tadi setelah Kyuhun memaksa Mia membeli baju sebanyak mungkin, sekarang pria itu malah mengajaknya ke salah satu restoran di deretan pusat perbelanjaan dan MENYURUHNYA MEMESAN MAKANAN SEBANYAK MUNGKIN.

Mia melirik berbagai makanan yang tersaji di meja mereka dan memasang tampang bingung. Karena takut dengan Kyuhun, Mia akhirnya menuruti perkataan pria itu, memesan banyak-banyak makanan. Dan sekarang setelah semua makanan itu datang, dia mulai bingung bagaimana cara menghabiskannya.

Lagi-lagi Mia melirik Kyuhun. Pria itu masih sibuk dengan saladnya, sama sekali tak mengindahkan Mia. Heran, Kyuhun menyuruhnya membeli banyak pakaian dan makanan, tapi dia sendiri tidak membeli apapun, dan sekarang hanya makan salad? Tanpa daging sapi atau ayam atau udang gitu? Atau Kyuhun kalau perlu menghabiskan makanan yang tadi Mia pesan, itu malah bagus. Tapi sepertinya pria itu sama sekali tak berminat menyentuh makanan pesanan Mia sedikitpun.

”Makanlah,” ujar Kyuhun seraya mengacung-acungkan garpunya dan menunjuk semua makanan pesanan itu. ”Kau yang memesannya, bukan?”

”Aku tidak bisa makan,” ujar Mia cepat.

”Kenapa?”

”Aku tidak bisa makan. Aku tidak perlu makan,” ujar Mia lagi. Kyuhun menghentikan kunyahannya dan menatap Mia lurus-lurus. ”Siwon bilang padaku aku tidak perlu makan, aku tidak perlu minum, aku tidak perlu tidur… bahkan aku tidak perlu mengganti bajuku.” Mia melirik baju yang sedang dikenakannya, sebuah sweater putih dengan jaket tebal berwarna cokelat, beanies putih, celana berwarna putih, syal berwarna putih, sarung tangan berwarna putih, dan sepatu ugg boots, semua dibelikan oleh Kyuhun di toko yang baru saja mereka datangi tadi. Mia bersumpah harganya pasti mahal.

Kyuhun menatap Mia meminta penjelasan.

”Aku ini hantu,” ujar Mia setengah berbisik. ”Meskipun aku sekarang diberi kesempatan hidup, tapi sebenarnya aku ini tetap hantu, tetap arwah. Seorang hantu atau pun arwah tidak membutuhkan baju, makanan, minuman, atau apapun. Lagipula tujuanku hidup lagi bukan untuk itu, kan?”

”Meskipun begitu, aku berusaha kau tidak cuma jadi manusia yang sibuk mengejar urusanmu dan melupakan hal-hal lain yang bisa kau lakukan. Meski kau sia-sia memakai baju yang kubelikan, atau memakan makanan pesananmu, tapi akan lebih baik jika kau tetap melakukannya.”

”Meskipun aku makan semua ini, aku tidak akan merasa kenyang sampai kapanpun. Karena aku juga tidak pernah merasa lapar,” ujar Mia.

”Itu tidak masalah.” Kyuhun mengacungkan garpunya dan menyuruh Mia menyantap semua yang tersaji di meja.

Mia tertawa kecil, menertawakan sikap galak Kyuhun yang lama-lama malah terlihat menggemaskan.

Tangan Mia mulai mengambil garpu dan pisau lalu menyantap semua yang ia pesan. Sementara Kyuhun terus menatap Mia dalam diam. Entah apa yang dipikirkan pria itu.

”Boleh bertanya kenapa kau selalu membawa sunglasses kemanapun?” tanya Kyuhun di sela-sela Mia makan.

”Siwon bilang aku harus menutupi wajahku saat bertemu orang tuaku. Karena mereka pasti mengenaliku. Kalau di luar itu, aku bebas tidak memakai sunglasses, kayak sekarang nih, aku tidak perlu pakai sunglasses.” Mia berkata sambil mengetuk-ngetuk sunglasses yang tergantung di leher sweater-nya.

”Sama seperti aku yang memakai kacamata di depan para fans saat aku berjalan-jalan agar mereka tidak mengenaliku?” tanya Kyuhun.

Mia mengangguk cepat. ”Ya, kurang lebih begitu. Bedanya, kalau aku membuka kacamata di depan orangtuaku, mereka akan pingsan karena ketakutan. Sementara kalau kau membuka kacamatamu disaat yang tidak tepat, maka kau akan dikejar-kejar dan dimintai tanda tangan oleh fans-mu.”

Kyuhun mengerjapkan matanya. ”Jadi kalau aku berada di depan fans-ku dan mereka melihatku, maka mereka akan meminta tanda tanganku?”

Mia mengangguk lagi. ”Iyalah. Masa tidak? Kalau fans ketemu idolanya, pasti hal yang pertama ingin dilakukan adalah meminta tanda tangan mereka!” seru Mia sambil melahap sepotong steak dan menelannya dengan nikmat seakan dia bisa mengecap rasa daging steak itu.

Sett!

”Hei!”

Mia membelalakkan mata lebar saat tiba-tiba Kyuhun menarik tangan kanan Mia dan mengeluarkan sebuah ballpoint dari saku bajunya, kemudian Kyuhun mencabut sebelah sarung tangan Mia dan mulai menggoreskan sesuatu di punggung tangan gadis itu.

 

’To Mia from Kyuhun Mr.Headstone’

 

Kyuhun menggoreskan kata demi kata lalu terakhir Kyuhun malah menandatangani punggung tangan Mia dengan tanda tangannya! Hei, hei, hei…

”Karena tidak ada kertas, aku berikan tanda tanganku di tanganmu saja,” ujar Kyuhun.

”Aku—”

”Seorang anti-fans memang tidak pernah mengharapkan tanda tangan, ya? Bahkan tadi pagi kudengar kau merasa gerah pada Mr.Headstone.” Kyuhun memotong ucapan Mia. Pria itu mengaduk-aduk segelas lemon tea dan menyeruputnya perlahan. ”Tapi jika Ryeowook, kau pasti setidaknya menerima tanda tangannya sebagai bentuk terima kasih.”

”Hei, aku bukan anti-fans. Berapa kali harus kubilang padamu?” Mia tak menyangka Kyuhun masih menganggapnya sebagai anti-fans, apa karena Kyuhun tanpa sengaja mendengar ucapan ketusnya soal konser Mr.Headstone tadi pagi? Tapi seandainya Kyuhun tahu kenapa Mia melakukan hal itu…

 

”Jangan ingatkan aku pada mereka lagi. Itu hanya membuatku merasa gerah…”

 

Mia menarik napas dalam-dalam, matanya terasa perih. Mia menyembunyikan tangannya dibawah meja. Diraba punggung tangannya yang baru saja ditandangani itu dengan perasaan sesak. Percayalah Kyuhun, Mia bukan anti-fans Mr.Headstone…

.

.

.

.

.

.

See You next part

11 thoughts on “Mr.Headstone (Track 03)

  1. 7 hari itu waktu yg bentar banget, kira” mia bisa ngga ya nyelesaiinnya ._. *pensive* nggg, Mr. Alex pasti ngejahatin Mia, sampe mia trauma gitu-_- itu, kyu indigo bener kan? bisa ngeliat makhluk tak kasat mata gitu:v kyu dulu knp? gagal nyebrangin arwah ya? ._.*efek baca novel gituan*
    keep writing author ‘_’9

  2. Lah lah itu si kyu kenapa kenal sama siwon? Masa lalu? Emang di masa lalu si kyu ngapain? Terus sekarang di jadi guardnya si mia? Haha walah makin seru nih pasti..

  3. jadi kyu itu manusia jenis apa bs liat bhkn ngerasain aura arwah dr mia?trs masa lalu kyu yg pernah diminta tlg sm arwah itu..haha..jgn bilang dia itu semacam perantara arwah sm org hidup kyk tae gong sil d drama master sun.
    kyu itu udh perjanjian kyknya sm siwon,si malaikat kematian ttg kejadian bbr thn yg lalu dia pernah nolongin arwah,spy siwon g ngasih tahu k mia<

  4. huwaaaaa, Mia-Kyu moment… seneng banget kalo mereka berdua ketemu SO SWEET. kyuhyun-ah jaga mia baik-baik yah. ^^ malaikat berotot kau juga sangat keren ^^ engak sabar tunggu part selanjutnya eonni fighting!!

  5. kayanya aku udah tau nih alasan kenapa Mia pengen Ibunya cerai
    dan itu membuatku merasa tidak enak:/

    eonnie mau jujur nih, aku jadi bingung sendiri sama Kyuhyun, kenapa di ff ini diceritakan dia kurus, smentara dulu di Don’t Trust The Liar dia ceritanya gembul? Mendalami perankah haha😄

    btw Siwon yg malaikat itu tetap berotot, pertanyaannya apakah dia super kaya jg ketika jd malaikat?😄

    oke aku sendiri bingung knapa komen ini mlh jd dipenuhi dg pertanyaan2
    buat critanya sih aku trserah eonnie aja mreka mau diapa2in jg😀

  6. emg kyu minta imbalan apa ya ama si malaikat berotot Choi Siwon, apa d buat gk bsa liat hantu lg? kkk evil bsa juga berbuat baik:D
    d tggu kelanjutanny ya kk sophie

  7. si kyu ini makhluk jenis apa ya?
    evil mungkin emang bener.
    Setan. makanya bisa liat hantu.😀

    Cerita si mia jd tambah rumit.
    Tapi jangan ada cinlok-cinlokan ya soph…
    Soalnya ntar kasian kyuhyun harus ditinggal Mia.
    Pokoknya kayak kata-kataku di awal, Mia sama siwon aja.😀

    ceritanya makin seru nih!
    Lanjutannya jgn lama-lama ya soph…😀

Just talking...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s