Mr.Headstone (Track 02)

Author : Sophie Maya

Title     : Mr.Headstone (Track 02)

Cast     : Cho Kyuhyun, Choi Siwon, Lee Sungmin, Kim Ryeowook, Lee Hyuk Jae, Mia

Support Cast: Park Jungsoo

Genre  : romance

Rated  : G/AU

Length: chaptered

Type    : ?

Summary         : The one that had head like a stone

mr-headstone-copy2

Disclaimer       : this story is MINE.

Track 02: Brittle Stone

Sebuah sinar terang menyambar wajah Mia. Sinar itu tidak jelas dari mana asalnya, hanya saja Mia berpendapat sinar itu berasal dari tongkat milik Siwon yang diacungkan tepat padanya, sesaat setelah ia memutuskan urusan dunia yang akan ia selesaikan jika hidup kembali. Sambaran sinar itu membuat tubuh Mia terasa kosong dan hampa, tenaganya seperti disedot pusaran misterius. Memaksanya memejamkan mata, merasakan tubuhnya melemah, dan terjatuh ke bawah. Menembus awan yang tadi sempat ia duduki, melewati desiran angin yang menggelitik wajahnya.

Semuanya gelap.

Sunyi dan tanpa suara selama beberapa saat hingga akhirnya tubuhnya seperti terjatuh menabrak sesuatu. Bruk.

Mia meringis kesakitan. Dibuka matanya pelan dan suasana pemakaman umum langsung menyergap pandangannya. Sekarang ia berada dalam posisi duduk di tanah yang tertutup salju, dengan gaun putih yang berubah menjadi gaun hitam, rambut panjangnya yang terlihat agak berantakan dan lutut kakinya yang sedikit berdarah karena terantuk batu kecil di sela-sela tumpukan salju.

Mia mengabaikan lututnya dan memilih memperhatikan batu-batu nisan berjejer rapi di depannya. Membuat barisan tertata sebegitu kaku dan menunjukkan keangkuhan sebuah makam. Harum rumput hijau berbau salju dingin berbaur jadi satu, dipadu dengan teriakan burung gagak yang saling bersahutan.

Mia segera berdiri sebelum gaun hitamnya dipenuhi oleh balutan salju. Tangan Mia sibuk membersihkan sisa-sisa salju yang menempel di kaki, tangan, hingga rambutnya.

”Kenapa aku bisa di sini, sih?” bisiknya penuh keheranan. Mia mengedarkan pandangannya ke sekeliling.

Tiba-tiba Siwon muncul dihadapannya. Blush! Seperti angin kasat mata saja, wajah pria itu kini sudah nongol persis di depan wajah Mia.

”Hei, nyari apa?”

”Argh, hantu!” Mia kontan menjerit kaget dan langsung menutup kedua matanya. ”Tolong! Ada hantu!” Ia baru saja mau berbalik melarikan diri kalau saja tangannya tidak keburu ditahan Siwon.

”Yang hantu itu kau!” teriak Siwon setengah kesal. Tangan Mia sudah meronta-ronta minta dilepaskan.

”Hantu? Siapa yang hantu??”

”Ya kamu. Masa aku? Aku kan malaikat kematian!” seru Siwon lagi. Pria itu melepaskan tangan Mia saat dilihat Mia sudah sedikit agak tenang. Siwon menarik napas panjang-panjang. Sepertinya ia harus membiasakan diri menghadapi arwah satu ini. Arwah yang suka melupakan kodratnya sebagai arwah. Bikin pusing saja.

”Ah…, iya… iya… aku ingat sekarang.” Mia tertawa kecil. ”Sepertinya penyakit lupaku bakal sangat parah, aku butuh diary-ku.”

”Wah, aku juga tidak tahu diary atau benda apa pun yang kau cari itu.” Siwon merapikan baju kebesarannya. Pandangannya beralih menatap sekelilling. ”Hari ini pemakamanmu, Mia.” Siwon menunjuk sebuah kerumunan memakai baju hitam-hitam di tengah pemakaman. Sebagian besar dari mereka orang yang Mia kenal. Ada Ibu, Mister Alex, ada teman-teman sekolahnya yang—hei, kapan mereka datang ke Melbourne? Juga ada beberapa gurunya. Selebihnya orang-orang yang menurut Mia adalah klien Ibu.

Mereka mengitari pusara kecil di tengah pemakaman sambil terdiam tanpa suara. Mia hanya melihat sesekali isak tangis dari temannya pecah dan karena tak tahan, mereka mundur beberapa langkah ke belakang. Mia melihat siapa yang menangis sebegitu dramastisnya—Yui. Sahabatnya sekaligus teman sekelas di sekolah.

”Kenapa kamu membiarkanku melihat ini semua?” suara Mia terdengar parau seraya memalingkan wajah.

”Agar kamu tahu ada banyak orang yang menyayangimu sedih atas kepergianmu. Biasanya para arwah yang baru mati akan merasa dia hanya sendirian terluntang-lantung di sini tanpa ada yang memperdulikannya. Jadi sudah sepantasnya para arwah itu tahu, kalau mereka tidak pernah sendiri. Ada banyak orang yang ditinggalkan, yang tiap hari mengingat mereka.” suara Siwon seakan memberi penegasan pada Mia bahwa kematian bukan akhir dari segalanya.

Siwon menyerahkan sebuah kacamata berbentuk bulat besar berlensa coklat tua pada gadis itu sambil menjelaskan bahwa Mia tidak boleh menunjukkan wajahnya di depan orang yang ia kenal. Siwon tidak ingin ada cerita horor-aneh-absurd akibat arwah bergentayangan yang membuat heboh dunia manusia. Walaupun Mia sudah hidup kembali, statusnya masih tercatat sebagai arwah—arwah penasaran. Meski tubuhnya bisa disentuh dan dirasakan, Mia tetap bukan manusia—Mia hanya diberi kesempatan untuk hidup lagi.

Mengerikan rasanya jika misalkan ada orang yang mengenal wajah Mia di sini dan menjerit ketakutan melihat Mia datang dan berkumpul saat pemakamannya berlangsung.

Mia memandangi kerumunan itu sekali lagi. Ada Ibu… dengan wajah tirus dan keriput yang mulai bergelayutan, terlihat tertekan dan lebih banyak berdiam diri sembari terus mengelus nisan.

”Kau harus konsisten dengan apa yang sudah kau pilih, harus kau selesaikan dalam waktu tujuh hari sejak hari kematianmu. Aku harap kau juga tidak memberitahukan jati dirimu pada orang yang mengenalmu—atau kau bisa dianggap orang aneh atau mereka malah bisa ketakutan mengira kau ’bangkit kembali dari kubur’.”

Mia agak bergidik mendengar akhir kalimat Siwon yang mirip judul film-film horor murahan.

”Bolehkah aku tetap di sini untuk sementara waktu?” bisik Mia pelan sembari menoleh pada Siwon. Pria itu mengangguk cepat.

”Asalkan jangan sampai ada yang mengenali—”

Blush! Siwon belum menyelesaikan ucapannya dan tahu-tahu malah menghilang begitu saja. Mia hampir saja berteriak ketakutan melihat cara Siwon menghilang seperti hantu, tapi Mia buru-buru sadar tidak ada gunanya. Siwon itu malaikat, yang hantu itu dirinya sendiri!

Mia memutar tubuhnya dan melihat siapa yang datang. Seseorang dengan sunglasses hitam yang dikenakannya tampak berjalan menghampirinya dengan tergesa. Orang itu berkali-kali membenarkan sunglasses hitamnya yang kedodoran di wajah kecilnya. Pria itu berkulit kuning langsat dan memiliki rahang yang bagus. Bertubuh tegap dan berambut cepak hitam pekat.

Excuse me, Miss… Do you knowwhere Mia Narafa’s funeral is?” seseorang mencolek bahunya pelan, bertanya dengan aksen Bahasa Inggris yang asing di telinga Mia.

”Ah, kurasa pemakamannya… di sana…”Mia menunjuk kerumunan orang di tengah-tengah. ”Aku juga baru akan mau ke sana.” ujarnya berbohong. Sekedar menutupi kegugupan yang entah mengapa menyergapinya.

Pria itu tampak mengangguk-angguk. ”Bagaimana kalau kita bareng-bareng ke sana?” tawaran tak terduga dan kontan membuat Mia tercekat. Masalahnya, berbahaya sekali jika ia berada di radius cukup dekat dengan para pelayat itu.

”Errr, itu…”

”Sebentar, aku panggil teman-temanku dulu.” Pria yang tadi berbicara dengannya menoleh ke arah belakang dan mengkodekan beberapa orang untuk menghampirinya. Sementara Mia semakin risih dan berusaha mencari celah kabur dari pria di depannya.

Tiga orang pria dengan postur tubuh sama, dandanan sama, gerak langkah sama, datang mendekat.

”Dia mau pergi ke tempat yang sama dengan kita, Hyeong.” Pria itu menunjuk-nunjuk Mia dengan wajah bersemangat.

”Yaa!! Neo micheosseo?!” suara pria pertama terdengar tegas dan lugas. ”Jangan mudah percaya dengan orang asing!”

”Dia kan bukan orang asing, Hyeong.” Kali ini raut pria itu berubah murung.

”Sudah… sudah jangan bertengkar,” lerai pria kedua. Sementara pria ketiga hanya diam dan cekikikan geli.

Mia menatap keempat pria itu dengan pandangan bingung. Bahasa mereka aneh, bukan Bahasa Jepang juga bukan Bahasa Inggris. Mia sepertinya tahu bahasa apa itu, tapi otaknya sekarang tidak bisa diajak mengingatnya. Terlebih Mia benar-benar ingin pergi dari sini agar tidak ketahuan siapa dirinya sebenarnya.

Pria nomor dua tahu-tahu maju menghampirinya dan membungkukkan badan pelan. ”Are you understand our conversation? Sorry…” Pria itu tersenyum amat manis. Menampakkan lesung pipit dan bibir tipis yang menawan. Dan meskipun wajahnya tertutup sunglasses, Mia bisa menebak setampan apa wajah di balik kacamata penghalang pandangan itu.

Mia ikut tersenyum. ”It’s ok.”

Pria nomor dua itu kembali melanjutkan ucapannya dengan Bahasa Inggris lancar, ”Kita ingin melayat ke pemakaman Mia Narafa. Apa kau temannya?” tanya pria itu.

Mau tak mau Mia mengangguk. ”Iya.”

”Oh, begitu. Kami berempat dari Korea.”

”Tuh kan, Hyeong! Gadis ini temannya! Ya sudah kita bareng dia saja. Dia bukan orang asing!” seloroh pria yang tadi bicara dengan Mia, merasa menang karena insting buruk pria pertama salah. Pria itu kembali menoleh pada Mia dan tersenyum dan berkata dalam Bahasa Inggris beraksen aneh, ”Maafkan Hyeong-ku, dia memang agak sensitif sama orang. Hehe, tapi dia baik kok.”

Mia membulatkan bibirnya dan mengangguk-angguk tolol. Eh, apa tadi katanya? Dari Korea? Memang Mia pernah punya teman dari Korea?

”Seingatku Mia Narafa tidak pernah punya teman dari Korea.” Meski terdengar nada ragu saat mengucap kata ’seingatku’, tapi Mia benar-benar bersikukuh bahwa otaknya kali ini bisa sedikit diajak kompromi. Ia benar-benar tidak mengenal kelimat pria dengan pakaian sama dan kacamata-besar-norak yang tergantung di wajah mereka. Dan setahu Mia, ia tidak pernah berteman dengan segerombolan mafia—dandanan mereka benar-benar mirip mafia, sungguh.

”Iya memang… tapi kami ke sini untuk melayat gadis yang meninggal tertimpa plakat konser kami, Mia Narafa itu,” sahut pria nomor dua. Matanya melirik kaki telanjang Mia yang membuatnya mengernyit heran, ”bagaimana bisa kau tidak memakai sepatu boots dan malah bertelanjang kaki di tengah salju seperti ini?”

”Ah, itu…” Mia menatap kakinya yang tak menggunakan apapun dengan pandangan kosong. Pikirannya tengah melayang memikirkan sesuatu. Sesuatu yang janggal, hilang dalam pikirannya, dan menjadi sumber kekososongan yang harus diisi.

”Kalau seorang perempuan berjalan tanpa alas kaki di tengah musim salju seperti ini, telapak kakinya bisa terluka…” Tahu-tahu pria nomor dua menundukkan badannya dan melepas sepatu boots-nya satu persatu, lalu perlahan memasangkannya di kaki pucat Mia. Mia sempat mengelak, tapi tangan kokoh pria itu seakan setengah memaksanya untuk memakai sepatu itu. Kedodoran memang, tapi cukup pas di kakinya.

Mia memandang puncak kepala pria itu dan dari posisi seperti ini, ia seperti akrab dengan pria ini.

Hyeong…”

Mia memandang pria nomor dua dengan pandangan penuh arti. Mia menyadari siapa orang di depannya. ”Ryeowook…,” panggil Mia amat pelan.

Pria nomor dua itu menengadahkan kepalanya. Agak tertegun. Tapi kemudian pria itu memasang senyuman manisnya lalu tak lupa membuka sunglasses hitam yang sedari tadi menutupi wajahnya. ”Kau mengenaliku, ya?”

Mata Mia mulai berkaca-kaca. Tebakannya benar, pria ini Ryeowook! Kim Ryeowook. Mia ingat sekali bagaimana potongan rambut Ryeowook yang unik dan selalu tertata rapi. Tetapi melihat langsung Ryeowook di depan mata membuat Mia hampir-hampir pingsan.

”Dia tahu kamu, Hyeong…” Pria yang tadi bicara pada Mia terkekeh pelan sambil ikut membuka sunglasses-nya. Dan tebak dia siapa? Eunhyuk! Si magnae paling cool dan berambut pirang. Eunhyuk memandang Mia penuh takjub. ”Bagaimana kamu bisa mengenali kami?”

”Ini menakjubkan…” Mia menggeleng haru, ia benar-benar menangis sekarang. Bahunya tampak bergetar kecil. ”kalian datang…?”

.

.

.

.

.

.

Bagaimana rasanya bila seorang idola yang membuatmu melakukan apapun untuk bertemu dengan mereka, tiba-tiba mereka berdiri di depanmu persis? Setelah susah payah kamu mencari celah yang bisa membuatmu bertemu dengan mereka, tiba-tiba tanpa dugaanmu, mereka datang ke hadapanmu?

Mungkin sama seperti yang dilakukan Mia, ia hampir saja berteriak girang, meloncat kesenangan, dan berlari memeluk mereka—memeluk Mr.Headstone. Mengatakan bahwa ia benar-benar mengidolakan mereka!

Tapi Mia keburu sadar bahwa ia dan kelima anggota Mr.Headstone… sekarang ada di pemakaman dan sama-sama ingin menghadiri pemakaman. Bisa diusir dari sini jika membuat keributan.

Mia membatalkan rencananya untuk menjaga jarak dari pemakaman. Bersama Mr.Headstone, ia justru melangkah mendekati Ibu. Meski Mia merasa cemas, takut Ibu tahu. Ada rasa deg-degan menerpa Mia, seandainya saja penyamaran yang amat seadanya ini—hanya dengan sunglasses dan belum menutupi seluruh wajahnya—gagal atau ketahuan ibunya, ia tidak bisa membayangkan reaksi apa yang diterima. Mungkinkah Ibu akan menjerit ketakutan dan pingsan? Atau malah Ibu begitu gembira dan dengan bangga mengumumkan anaknya bisa hidup kembali meski entah bagaimana caranya? Mia rasa praduga yang terakhir amat tidak mungkin terjadi.

Berpuluh-puluh orang memadati kuburan dan Mia melihat Ibu tengah menangis pelan seraya memegangi nisan. Mia menarik napas melihat pemandangan itu. Perasaan gembira karena bertemu Mr.Headstone mendadak berganti dengan perasaan sedih. Dipegangi dadanya yang terasa sakit, melihat Ibu menangis seperti itu membuatnya juga ingin menangis. Tangan Mia terasa gemetar, pandangannya meredup, dan kepalanya tertunduk perlahan. Mia menatap nisan di depannya yang tampak dingin.

Tubuhnya… ada tubuh Mia yang terbaring di dalam sana. Meskipun sekarang Mia hidup lagi dan tetap memakai badannya, wajahnya, dan semua miliknya… tapi tetap saja tubuhnya yang asli—tubuhnya yang sudah meninggal itu—terbaring di sana dengan tenang.

”Jangan menangis…” Entah setan apa yang merasukinya, ia beranjak mendekati Ibu dan berjongkok di samping wanita itu. Tangan pucatnya menepuk pundak Ibu pelan dan penuh kasih sayang.

Ibu menoleh ke arah Mia dan tersenyum. ”Kau menggunakan Bahasa Jepang dengan baik.”

Mia mengehela napas. Ibu tidak mengenalinya, baguslah. Meskipun dadanya semakin sesak mengakui bahwa Ibu tidak sadar anaknyalah yang kini berada di sebelahnya. Ia bersyukur sekaligus merasa sedih. ”Aku… teman sekolahnya… Mia Narafa.”

Ibu tersenyum dan mengangguk pelan. ”Terimakasih sudah mau susah-susah datang ke sini.”

”Bersama teman-teman lain kami ke sini begitu mendengar kabar anak Anda.” Mia mengucapkan kalimatnya setengah berbisik, agar tidak ada yang mendengarnya.

Ibu kembali mengangguk pelan.

Excuse me… are you the girl’s mother who passed away yesterday?

Kemudian Mia mendengar Ryeowook angkat bicara dalam Bahasa Inggris. Mia memilih berdiri dan mengambil posisi agak belakang, terhalang dengan para pelayat lainnya.

Ibu menengadahkan kepalanya dan terkejut. ”Oh, bukankah kalian adalah Mr.Headstone?!” seru Ibu heran.

Kelima anggota Mr.Headstone saling berpandangan dan tersenyum kikuk. Lalu mereka menganggukkan kepala mereka.

”Kami benar-benar merasa bersalah. Karena tertimpa plakat konser kami… anak Anda jadi meninggal. Kami…” Sungmin membungkukkan badannya, diikuti yang lainnya. ”Kami minta maaf pada Anda, Nyonya.”

”Kami benar-benar minta maaf. Kami mewakili semua staf dan manajer Mr.Headstone, meminta maaf pada Anda atas kecelakaan ini,” ujar Ryeowook.

It’s not your fault…” Mia mendengar Ibu mengatakan sesuatu. Ibu tampak tersenyum meski matanya terlihat sembab. ”This is the fate… for my daughter. Kurasa ini malah salahku. Seandainya waktu itu aku menjemputnya di bandara… mungkin kejadian ini tidak terjadi. Membiarkannya berjalan sendirian di Melbourne adalah ide yang buruk. Aku ini benar-benar Ibu yang gagal.”

Mia terdiam. Kali ini dia tidak bisa lagi membendung air matanya yang tertahan sedari tadi. Ia mundur teratur sambil menyeka air matanya. Tidak ingin ada seorangpun yang menyadari tingkahnya.

Mia memutuskan pergi diam-diam dari pemakaman.

 

.

.

.

.

.

.

Menghadiri pemakaman diri sendiri adalah ide yang buruk, begitu pikir Mia mengambil kesimpulan. Banyak orang yang berduka atas kematian Mia dan mendoakannya agar tenang di sisi-Nya. Di satu sisi, sepertinya ucapan Siwon benar, gadis itu memang harus melihat pemakamannya sendiri untuk melihat betapa banyak orang bersedih atas kematiannya—sehingga setidaknya ia bisa merasa diperhatikan dan disayangi. Tapi di sisi lain, Mia tetap tidak menyangka bisa terpukul seperti ini, seakan ada putaran memori yang ingin dia lupakan, tapi justru malah dengan asyiknya bermain-main di pelupuk mata. Kejadian tadi siang di makam membuat perasaan bersalahnya muncul di permukaan, begitu menggebu-gebu, membuatnya sesak.

Kata-kata Ibu tadi menyadarkan Mia pada kenangan bersama Ibu. Meski sulit mengingatnya, tapi Mia merasakan betapa memori masa kecilnya memenuhi otaknya sekarang.

Mia dan Ibu sama sekali tidak dekat. Bahkan saat Ayah kandung Mia masih hidup, ia lebih memilih menghabiskan waktu dengan Ayah, sekedar mengikuti Ayah bermain golf atau meminta Ayah jalan ke mal. Hampir tidak ada ruang untuk memikirkan Ibu di kepala Mia, entah kenapa. Ayah berkerja di perusahaan asuransi sehingga tiap hari berangkat pagi dan pulang begitu malam. Begitu juga dengan Mia yang tiap hari menghabiskan waktu di sekolah dan selebihnya untuk les ini itu dan membuat dia pulang saat malam tiba. Jika hari Sabtu, Ayah biasa mengajak Mia pergi seharian, sampai hari Minggu tiba, mereka pergi berdua mengelilingi Jakarta. Otomatis skala waktu Mia dengan Ayah lebih banyak dibanding dengan Ibu.

Tapi sebenarnya Mia menyayangi Ibu, lebih dari yang Ibu tahu. Meski jika berbicara dengan Ibu, lidah Mia terasa kelu dan hampir tidak ada topik yang bisa dibicarakan, sungguh Mia menyayangi Ibu.

Saat Ayah meninggal, untuk kali pertama Mia memeluk erat Ibu dan berjanji akan membuat Ibu bahagia. Meski Ayah sudah tiada, Mia meyakinkan Ibu bahwa Ibu tidak akan merasa kesepian. Ada dia yang selalu di samping Ibu.

Ibu balas memeluk Mia erat dan mereka berdua bertangisan, bersama-sama. Kepergian Ayah yang begitu tiba-tiba merubah segalanya, termasuk hubungan Mia dengan Ibu. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu bersama selayaknya hubungan orang tua dan anak seharusnya. Semua berjalan baik, amat sangat baik hingga akhirnya Ibu mengenal Daddy

”Ini menyebalkan…” Mia menggigit bibirnya. Melepas sunglasses dan terduduk begitu saja di tanah beralas salju. Entah sudah berapa lama Mia berlari hingga tidak menyadari langit berubah jadi gelap. Gadis itu setengah paksa mencopot ugg boots-nya dan melemparnya sembarang arah. Tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang kebetulan melintas di jalan dan berbisik-bisik heran melihat tingkahnya. Orang-orang itu menganggap Mia tengah melakukan aksi teatrikal di tengah jalan di malam hari seperti ini, jadi mereka membiarkannya meski tetap saja membicarakannya.

Mia tidak menyangka secepat ini meninggalkan Ibu. Membuat Ibu kehilangan orang yang disayangi untuk kedua kali—Ayah dan kini malah Mia. Ia pikir waktu kebersamaannya bersama Ibu belum cukup, sangat belum cukup dan ia ingin menebus segalanya!

”Me…nye…bal…kan… hiks.” Lagi-lagi air matanya keluar.

Mia menelungkupkan wajahnya di kedua lutut, kembali terisak pelan. ’Don’t be a crybaby!’ Mia ingat Siwon berteriak saat melihatnya berlari keluar makam. Siwon mengejarnya dan ia semakin mempercepat larinya. Meninggalkan pria itu jauh di belakang.

Merasa kesal pada semuanya hingga ia ingin menjauh dari siapapun.

Crybaby? Apa Mia secengeng itu? Bukankah wajar saja jika dia menangis karena sedih melihat Ibu terpuruk seperti itu? Siwon tidak mengerti hal itukah?

Tanpa Mia sadari, Siwon yang masih terus mengejar kini menghentikan langkah tak jauh darinya. Siwon meregangkan ototnya dan sayapnya yang besar itu terlihat mulai mengecil kemudian perlahan menghilang. Pria itu berjalan mendekati Mia dengan hati-hati.

”Aish, kenapa aku susah-susah mengejarmu? Seharusnya aku tadi terbang saja.” Siwon menggerutu kecil, berusaha menarik perhatian Mia.

Mia tidak menanggapi Siwon. Air mata yang sedari tadi mengalir di pipinya masih tidak mau berhenti. Mengingat semua kenangan Ibu dan kejadian di pemakaman tadi membuatnya sangat terpukul. Terutama dengan ucapan Ibu yang menohok hatinya, membuatnya merasa amat bersalah.

”Ada apa sebenarnya?” Siwon berjalan mendekat seraya mengernyit heran. ”Aku meninggalkanmu sebentar saja, tahu-tahu kau sudah seperti ini—”

”Aku mau mati saja!” teriak Mia kasar.

”Kau sudah mati, Sayang…” ujar Siwon mengingatkan.

Mia mendengus. Tatapannya bertabrakan dengan bola mata coklat hazelnut milik Siwon. ”Aku tidak mau ’kesempatan hidup kembali’! Lebih baik aku mati! Aku…,” suara Mia terdengar melemah, ”…tidak tahan.”

Mia kembali menutup wajahnya dengan kedua tangan. Badannya seperti kehilangan tenaga dan membuatnya terduduk lesu di pinggir taman. Gadis itu menangis tersedu-sedu.

Siwon terdiam. Membungkukkan badan dan ikut duduk di sebelah Mia. Penuh hati-hati Siwon menghapus air mata Mia dan mengusap pipi gadis itu pelan. Sayap Siwon kembali membesar dan menutupi tubuh Mia seakan sayap itu memeluknya. Terasa hangat. Terasa menenangkan.

”Kau mau menyerah hanya karena ibumu terlihat begitu sedih atas kematianmu? Begitu?” tebak Siwon tepat sasaran.

Mia hanya bisa terisak.

”Sudah kubilang, kalau waktu itu kau tidak memikirkan alasan yang paling penting, maka kau tidak bisa ’hidup kembali’. Sekarang saat kau sudah hidup kembali, malah mau membuang kesempatan itu?” tanya Siwon pelan.

Mia tidak menjawab, masih terus terisak.

Siwon merapikan rambut berantakan Mia pelan-pelan sembari tersenyum tipis. ”Kau tidak akan menyerah hanya karena ini kan?”

”Tapi kau lihat, Siwon… Okaa-san..” Mia menelan ludah, mencoba mengatasi tangisannya. Entah bagaimana caranya, usapan tangan Siwon barusan seakan mengangkat semua beban di pundaknya. Tubuhnya menjadi lebih ringan dan emosinya perlahan menguap. ”Dia terlihat sangat sedih… aku tidak kuat melihatnya…”

”Justru karena dia begitu sedih, kau harus bisa membuatnya tenang…” Siwon mengerjapkan matanya.

Mia menggeleng. ”Bagaimana caranya? Bagaimana? Aku tidak tahu.” Mia menatap dalam-dalam wajah Siwon di depannya ini, keinginannya untuk menyerah bagai terendam di air hangat, menghilang tanpa bekas. Wajah Siwon bagai menerangi banyak hal di sudut hatinya, di setiap celah dalam kepalanya, membuat ia dapat berpikir dan merasakan segala sesuatu lebih tenang.

”Kau tahu,” Siwon menarik napas dalam-dalam, ”…kau yang paling tahu segalanya.”

.

.

.

.

.

.

 

”Tidak banyak orang mati bisa diberi kesempatan hidup kembali…”

Siwon memulai ceritanya. Mia dan pria itu memilih tempat di salah satu taman di pusat kota yang cukup sepi agar bisa bebas bercerita. Tidak ada yang bisa melihat Siwon kecuali Mia, dan akan aneh jika ada orang menyadari Mia berbicara sendiri seperti orang gila ketika ia tengah berbicara dengan Siwon. Untuk menghindari hal itu, Siwon memilih tempat aman untuk berbicara panjang lebar.

”Hanya untuk orang yang matinya tidak wajar…,” sambung Mia yang ajaibnya bisa mengingat ucapan Siwon beberapa waktu lalu.

Siwon menjentikkan jarinya bangga. Agak kaget mendengar ucapan Mia yang punya sederet riwayat pikun akut. ”Tapi tidak semua orang yang mati tidak wajar dapat kesempatan itu juga… masih ada beberapa syarat khusus yang harus dimiliki seorang arwah yang mati tidak wajar itu untuk diberikan hak istimewa hidup kembali…”

”Harus punya satu alasan cukup kuat yang akan dilakukannya setelah hidup?” potong Mia cepat.

Lagi-lagi Siwon dibuat terperangah dengan jawaban spontan gadis itu. Ini benar-benar keajaiban dunia per-arwah-an!

”Kau… bisa mengingatnya…!” Siwon menatap Mia kagum.

”Sepertinya setelah aku mati, kepikunanku turun stadium… dari akut jadi siaga,” candanya. Siwon tertawa renyah..

”Ya, dan kau memilih alasan yang benar.” Siwon tampaknya ingin mengulur-ngulur waktu membicarakan inti obrolan mereka.

Tapi mau tak mau Mia jadi kembali bernostalgia di detik-detik awal ia bertemu dengan malaikat kematian bernama Siwon ini. Bagaimana di tengah kebingungannya sebagai arwah, pria itu datang dan menjelaskan semuanya secara singkat, padat, dan—sialnya—membingungkan. Dimulai dari surat tugas aneh, juga obrolan di walkie-talkie dengan seseorang—atau semalaikat?—yang akhirnya membuat Siwon memberikan hak istimewa pada Mia untuk ”hidup kembali”, dengan bersyarat.

 

”Benarkah? Jika aku memikirkan hal yang tidak penting, maka kesempatan itu tidak bisa digunakan?”

”Ya, akan hangus. Makanya pikirkanlah yang benar-benar penting!” seru pria itu, membuat Mia menarik napas panjang.

Hal penting apakah yang paling penting? Hal apakah yang seharusnya bisa Mia selesaikan jika dia ’hidup kembali’?

Setelah berpikir lama, Mia memantapkan pikiran dan mengucap di dalam hati, apa yang jadi hal paling penting menurut dia. Ada dua alasan kenapa ia ke Melbourne, tapi…

Dia lebih ingin… ingin menghadiri perceraian Ibu dan Mister Alex. Ada yang ingin kukatakan padanya…

 

”Ada dua hal penting yang menjadi alasan aku untuk ke Melbourne. Salah satunya adalah menghadiri perceraian ibuku. Aku akan sangat senang jika hal itu terjadi,” kata Mia menjelaskan. Mia tersenyum kecil untuk menutupi ada secuil rasa sedih waktu ia mengabaikan konser Mr.Headstone sebagai pilihannya.

”Jika kau memilih ’hidup kembali’ untuk menghadiri konser Mr.Headstone, maka hak istimewa itu tidak akan diberikan padamu.”

Mia menoleh terkejut atas ucapan Siwon, tidak mengira Siwon bisa mengetahui alasan ke dua yang membuatnya memutuskan ke Melbourne.

Siwon meregangkan lehernya. ”Aku jelas tahu, Mia. Kau lupa kalau aku ini malaikat? Pekerjaan dasar kami adalah membaca pikiran dan hati manusia.” Ucapan Siwon menjelaskan semua hal mengapa Siwon selalu bisa menebak pikiran Mia.

”Wow, Jadi kau tahu semua?” tanya Mia antara takjub dan tidak percaya.

”Tidak juga. Ada hal-hal yang bisa kuketahui dengan cepat darimu, tapi aku memilih mengabaikannya dan berharap kau sendiri yang bercerita padaku apa yang tengah kau pikirkan.”

Saat itu Mia bersumpah mata Siwon yang tengah memandangnya terlihat amat indah. Kesempurnaan lekuk wajah Siwon yang bagai pahatan profesional, matanya yang jernih dan menenangkan, bibir tipisnya yang mampu membuat siapapun rela mengorbankan apapun untuk melihat senyumannya, atau bahkan rambut pirang keemasan yang terlihat ringan tertiup angin malam, meneguhkan bahwa malaikat itu terlihat begitu tampan dan mempesona bagi siapapun yang bisa melihatnya.

Mia buru-buru menepis pandangannya dari Siwon. Mengetahui bahwa malaikat itu bisa membaca pikirannya, membuat Mia harus ekstra hati-hati jika tengah membayangkan hal yang tidak-tidak terutama jika berkaitan dengan Siwon sendiri.

”Kau tahu kenapa alasan menghadiri perceraian ibumu bisa membuatmu hidup kembali?” tanya Siwon setelah beberapa saat keheningan melanda keduanya.

”…karena itu alasan yang sangat penting?” jawab Mia ragu.

”Iya… itu memang penting,” Siwon memutar bola matanya. ”Tapi jauh di balik itu semua… hhh…” Siwon menarik napas panjang dan memperbaiki posisi duduknya, ”…aku harus mengatakannya jujur padamu sekarang.”

Mia mengernyitkan dahi, tidak mengerti maksud ucapan dan tingkah membingungkan Siwon itu.

”Tidak akan mudah menghadiri perceraian ibumu… karena, kau harus tahu ini… ibumu, dia… memutuskan untuk tidak bercerai dengan ayahmu. Kau tahu gara-gara kematianmu, ibumu sangat terpukul hingga tidak bisa memikirkan apapun selain dirimu—tidak juga dengan perceraian itu.”

”Hah?!” Mia terlonjak kaget. ”Tidak mungkin!”

”Itulah yang aku juga heran…” Siwon menggaruk-garuk kepalanya.

Mia menggemeletukkan gigi penuh geram. ”Mereka harus berpisah.”

”Kenapa harus?”

”Aku punya firasat buruk, itu saja.” Mia memasang wajah tak berdosa. ”Dan lantas bagaimana jika mereka tidak akan bercerai, aku bagaimana? Sia-sia saja aku hidup lagi, gitu?” todong Mia.

Siwon menggeleng cepat. ”Tidak juga. Hanya saja, jika kau menyatakan alasan ingin menghadiri perceraian ibumu itu dikabulkan oleh pihak di atas sana…” Siwon menunjuk ke langit yang sudah gelap, mungkin maksud dari ’pihak di atas sana’ adalah para tetinggi di dunia kematian sana. ”…itu berarti alasan itu sangat penting juga bagi mereka dan memang harus dilaksanakannya. Kau tahu, terkadang ada juga arwah yang menyatakan ingin hidup kembali dengan alasan balas dendam dan membunuh orang. Terkadang itu dikabulkan, tapi tidak jarang alasan itu ditolak karena hanya akan membuat masalah bertambah dan tidak terlalu penting. Jika alasanmu ini diterima, berarti memang penting—amat penting malah. Jika kau tidak berhasil melakukannya, kau… kau… kau justru bisa masuk neraka.”

”APA? NERAKAAA???” Mia rasa saat itu juga ada petir menyambar tubuhnya hingga seluruh sel yang bermukim mulai dari kepala hingga ujung kakinya langsung mati rasa. Gadis itu terkejut bukan main. Siwon tidak memberitahukan hal ini sebelum-sebelumnya dan baru sekarang, saat ia sudah di tengah jalan dan tidak mungkin berhenti ataupun berbalik arah. ”Kau tidak memperingatkanku tentang neraka!”

”Maafkan aku tidak memberitahumu konsekuensinya…”

”Kau ini benar-benar ingin membuatku mati, ya!” jerit Mia putus asa.

”Tapi kan kau memang sudah mati…,” Siwon mengingatkan Mia kembali.

”Ya, dan kau ingin membuatku mati dua kali!” sewot Mia. Gadis itu berdiri dari duduknya dan menatap tajam Siwon. ”Ohh… sepertinya aku akan masuk neraka! Ini mengesalkan sekali!”

Mia mengacak-acak rambutnya hingga kusut. Ia berlari ke arah semak-semak rimbun di dekat tempat duduk mereka dan menendangnya tanpa perasaan. Ia kalut sekali, marah, kecewa, dan kesal. Jika saja ia tahu kalau ia bisa masuk neraka hanya karena tidak menjalankan hal penting yang dicetuskannya sebagai syarat hidup kembali, ia tentu sudah memohon-mohon sejak kemarin untuk langsung digiring ke alam kematian.

Persetan dengan kesempatan istimewa atau apapun itu! Ia cuma ingin hidup damai—dan mati juga dengan damai.

”Kenapa perceraian ibuku bisa begitu penting bagi atasan-atasanmu itu, heh?” bentak Mia kasar. ”Itu tidak penting. Tidak penting! Sama sekali tidak penting! Bisakah kau mencabut hakku untuk ’hidup kembali’?” pinta Mia setengah memelas. Siwon menggeleng lemah pertanda keinginan itu mustahil dikabulkan. Mereka tidak mungkin melangkahi apa yang sudah digariskan seenak jidat oleh pihak-pihak di atas sana. Bahu Mia mendadak lemas melihatnya.

”Aku akan membantumu, aku janji. Aku akan membantumu agar bisa menghadiri perceraian ibumu, membuatmu bisa mengatakan hal penting yang ingin kau ucapkan dari dulu pada ibumu,” bisik Siwon penuh tekad. Tapi sayang Mia tidak mendengarnya. Gadis itu sibuk dengan pikirannya sendiri dan hanya terpekur menatap Siwon dari kejauhan tanpa banyak berkata.

Mia menatap langit dengan perasaan gamang. Entah apa yang akan terjadi di kemudian hari.

Ibu… ada yang harus kukatakan padamu… dan itu hanya bisa kukatakan saat Ibu berpisah dengan Mister Alex…

.

.

.

.

.

.

Melbourne, 9 Juli 2009.

Hotel Clarion Suites Gateway.

 

Kyuhyun membolak-balikkan tubuhnya di sofa hotel dengan penuh risih. Menelungkupkan kepalanya di sudut sofa, kemudian mengangkat kepalanya dan berputar menghadap langit-langit, lalu kembali lagi menelungkupkan kepalanya, begitu seterusnya.

Sofa itu memang terlalu sempit untuk dipakai sekedar rebah-rebahan atau tidur di sana. Tapi Kyuhyun ngotot memakai sofa sebagai alas tidurnya malam ini. Ia menghindari tidur di kamar luas yang sudah disediakan pihak hotel, suite VIP dengan fasilitas bak raja-raja—dua kamar tidur berukuran luas, kamar mandi bergaya vintage, dan ruang tamu seukuran studio dance mereka. Sayang mood-nya yang sejak kemarin begitu buruk semakin tidak bisa membuatnya betah berada di Melbourne, meski jelas ia tidak mungkin kembali ke Korea sekarang. Bisa dituntut agensi dan staf lain tentunya.

Terdengar suara dengkuran Eunhyuk dari dalam kamar, magnae satu itu tentu kelelahan menempuh perjalan jauh Seoul-Melbourne. Padahal matahari sudah naik tinggi, tapi tidak ada tanda-tanda Eunhyuk maupun para member Mr.Headstone lainnya bangun dari tidur panjang mereka.

Hanya Kyuhyun sajalah yang sejak semalam tidak bisa tidur dan memilih pindah ke sofa, meski hasilnya sama saja—tetap tidak bisa memejamkan mata barang sedetikpun.

Ada begitu banyak hal yang dipikirkan belakangan ini. Terutama begitu mereka tiba di Melbourne sebelum jadwal konser dimulai karena ada panggilan mendadak dari pihak penyelenggara konser di Melbourne yang mengatakan plakat konser mereka jatuh. Manajer Park langsung memutuskan member MR.Headstone harus menghadiri pemakaman gadis itu, sebagai rasa simpati dan sekalian untuk menekan berita miring yang tengah menimpa Mr.Headstone.

“Hanya sekedar agar para Stone tidak meninggalkan Mr.Headstone… picik sekali…” Mata Kyuhyun berpendar menatap langit-langit hotel. Bibirnya membentuk senyuman samar yang terlihat sedih. Ia berusaha memejamkan kembali matanya, tapi kejadian yang paling menakutkan seakan hendak terulang lagi di kehidupannya.

 

“Jun Woo! Jun Woo! Bisa Anda jelaskan kejadian yang menimpa Anda baru-baru ini? Apa ini hanya usaha agensi menaikkan popularitas Anda atau Anda punya skandal tertentu?”

“Apa ada hubungannya dengan promosi ‘Fantastic Love’?”

“Apakah Anda akan mengadakan konferensi pers secepatnya?”

“Apa Anda akan mengklarifikasi hal ini di depan publik?”

“Bagaimana perasaan Anda…?”

           “Jun Woo!!”

“Jun Woo, lihat ke kamera sebentar!”

“Jun Woo!! Jun Woo!!”

 

Kyuhyun terlonjak kaget dan buru-buru bangun dari posisi tidurnya. Keringat dingin membasahi tubuhnya dan perutnya seperti bergejolak hebat, seakan tengah diterpa badai kencang. Matanya siaga menatap sekeliling hotel, ada raut cemas bercampur takut terbayang di wajahnya. Lingkaran hitam di bawah matanya sukses membuat penampilannya tampat semakin kusut seperti orang frustasi.

Kyuhyun menarik napas dalam-dalam. Kembali teringat kejadian kemarin, cukup membuat perasaannya terombang-ambing. Ia meregangkan punggungnya dan duduk bersandar di sofa. Kini napasnya sudah mulai teratur.

Kyuhyun mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, ada beberapa koper bertumpuk di sana dan kertas-kertas lirik lagu yang teronggok di meja, sisa dari sesi latihan anggota Mr.Headstone. Empat buah beanies tergantung rapi di gantungan pojok ruangan, lengkap dengan empat sunglasses yang tertata di meja sebelahnya—kedua benda itu sejauh ini masih sangat berguna sebagai alat penyamaran yang baik dari para fans.

Tangan Kyuhyun terjulur ke depan, seakan hendak menggapai sunglasses hitam itu dari kejauhan. Telunjuknya berputar-putar ke arah sunglasses dan beanies itu bergantian, sembari mencibir pelan. “Dan kenapa dia—gadis itu, gadis aneh itu… kenapa dia mengidolakan kami? Membuat masalah saja…”

.

.

.

.

.

.

Mia memutuskan untuk kembali mempercayai malaikat kematiannya.

Kemarin setelah seharian menangis sepuasnya, memaki Siwon, mengutuki semua takdirnya, bahkan sampai berteriak memarahi orang-orang yang ditemuinya di sepanjang jalan, sekarang Mia merasa jauh lebih baik. Jauh lebih bisa menerima keadaannya dan konsekuensi yang harus ia jalani.

Atas saran dari Siwon, Mia bertekad tidak akan kalah dengan situasi apapun. Ia akan berusaha menepati hal yang akan dilakukannya di dunia ini, menghadiri sidang perceraian Ibu dan Daddy.

Mia sadar cukup sulit menjalankan saran dari Siwon. Jika ia bertemu dengan Ibu dan membujuk wanita itu tetap melaksanakan perceraian, jelas ia akan dicurigai. Bagaimana mungkin seseorang yang tidak dikenal tahu-tahu meminta Ibu untuk bercerai. Tapi Mia akan tetap mencobanya, sekecil apapun hasilnya. Siwon dengan tatapannya dan senyumnya yang membius berhasil meluluhkan hati Mia dan membuat gadis itu bangkit kembali. Senyuman ajaib dari seorang malaikat kematian yang bisa membuat arwah sepertinya seakan ’hidup kembali’… benar-benar hidup dalam arti sesungguhnya.

”Jadi kita akan pergi ke?” Siwon mengerjapkan matanya lugu.

”Ke apartemen Okaa-san! Semangat!” Mia mengepalkan kedua tangannya dan memasang wajah penuh serius. Langkah kakinya tegas mengukir jejak di tumpukan salju sepanjang jalanan kota. Siwon mengikuti langkahnya dari belakang. Terkadang malaikat itu mengikutinya dengan berjalan kaki, tapi kadang karena kecapekan Siwon memilih terbang rendah di sebelah Mia.

Cukup banyak orang berlalu-lalang dengan langkah terburu-buru. Biasanya mereka adalah karyawan kantor yang baru selesai menghabiskan jatah istirahat siang dan harus kembali tepat waktu ke kantor sebelum jam istirahat habis.

Mia melihat beberapa toko menjual makanan khas dan minuman beralkohol guna mengatasi rasa dingin yang menjalar di musim salju ini. Beberapa orang juga tampak mengelilingi toko buku dan membacanya penuh tekun. Semua diabaikannya. Ia terus berjalan melewati satu kerumunan ke kerumunan lain dan begitu seterusnya sembari terus mengingat-ingat alamat apartemen Ibu.

”Hei, Siwon…” Mia menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan Siwon. ”Kurasa kita berjalan ke arah yang salah,” gumamnya penuh keraguan.

Kini ia berada di depan gedung megah yang dipenuhi orang-orang di depan pintu masuk. Melbourne Town Hall. Sebuah gedung pertunjukkan penuh kharisma yang ada di kota ini.

”Kita tidak berjalan ke arah yang salah. Jalan menuju apartemen ibumu melewati lorong sebelah Melbourne Town Hall,” ujar Siwon membuyarkan lamunan Mia. Pria itu berjalan mendahului Mia dan menunjuk ke gerbang di samping gedung Melbourne Town Hall. ”Jangan bilang kamu lupa kalau apartemen ibumu itu dekat dengan Melbourne Town Hall,” sindir Siwon sambil memamerkan seringai jahilnya.

”Siapa yang lupa. A-aku tidak lupa kok!” elak Mia bohong.

Siwon jelas tidak percaya. Kepikunan Mia sudah begitu parah, jadi kalau Mia lupa sih wajar-wajar saja. Kalau tetap ingat, itu baru namanya kebetulan yang aneh. ”Hei, kau ingat gedung apa ini?” tanya Siwon menunjuk bangunan kokoh berwarna silver mengkilat di depannya.

”Melbourne Town Hall,” jawab Mia pendek.

Siwon mengangguk lalu tersenyum jahil. ”Kau lupa, ya?”

”Lupa apa?”

”Lupa kalau gedung ini tempat konsernya Mr.Headstone?”

Mia menoleh kaget. ”Eh, masaaaa?”

Siwon tertawa dan menjitak kepala Mia gemas. ”Kepikunanmu itu benar-benar…. Apa kau tak malu, aku yang malaikat saja tahu, tapi kau yang fansnya Mr.Headstone malah tidak tahu.” Kali ini Siwon berjalan ke samping Mia dan merangkul pundak gadis itu. Siwon menatap banner gede yang terpajang di bagian atas plakat yang bertuliskan ’Melbourne Town Hall’.

Mia mengernyitkan dahi. Berusaha mengingat dengan jelas apakah tempat ini memang tempat konser Mr.Headstone nanti atau bukan. Tapi dilihat dari kerumunan gadis-gadis tak jauh dari sana yang sibuk membawa lightstick berwarna emas dan kaos bertuliskan ”PROUD TO BE A STONE”, Mia mulai yakin kalau ini memang tempat konser mereka.

Pembukaan loket tiket konser akan dimulai tiga hari lagi, tapi antrian pembeli sudah sepanjang ini. Jelas sudah bukan rahasia jika mau mendapatkan tiket konser Mr.Headstone pun perlu mengantri sampai beberapa hari lamanya—bahkan ketika loket tiket belum dibuka dan belum ada persiapan apa-apa dari pihak gedung. Biasanya tiket konser akan habis beberapa menit sesudah loket dibuka, sehingga terlambat sedikit sudah tentu kehabisan.

Tetapi di sisi lain Mia melihat beberapa orang berkerumun justru dengan membawa banner ”REALLY HATE TO BE STONE”. Kerumunan itu tengah berdebat dengan beberapa orang yang membawa lightstick emas dan memicu keributan kecil.

”Tidak beli tiket?” Siwon mengerling jahil. Mengalihkan pandangan Mia dari kejadian di depannya.

”Ck, mana mungkin.” Mia menepis tangan Siwon yang masih bertengger di pundaknya.

”Apa kau ingin menonton konser mereka?” Siwon kembali bertanya.

Mia terrmenung. Bohong sekali ia tidak menginginkan konser itu. Tapi untuk sekarang… ”tidak, Siwon… aku punya urusan yang lebih penting, kan?” Mia menggeleng sedih. ”Jangan ingatkan aku pada mereka lagi. Itu hanya membuatku merasa gerah…”

So, you’re an anti-fans?

Sebuah suara mengejutkan Mia. Ia berbalik dan mendapati Kyuhyun tengah berdiri dengan tangan terlipat didada. Heran sekali tidak ada yang mengerubuti Kyuhyun.

”Kyuhyun?” Mia menelan ludah.

”Kau gadis yang aku temui di pemakaman dua hari yang lalu?” tanya Kyuhyun dingin.

”Ah… ya… itu aku.”

Kyuhyun menaikkan sebelah alisnya dan menatap Mia sinis. ”Aku mencarimu dari kemarin. Kau tidak tampak di pemakaman bahkan setelah acaranya selesai.”

”Sudah kuduga pikiranku ini benar.” Kyuhyun berjalan mendekat. ”Apa yang kau inginkan di pemakaman kemarin? Kau ternyata anti-fans yang diam-diam suka menguntit kami, ya? Ingin menyebarkan berita buruk apa lagi sehingga aku semakin dibenci orang-orang?” Kyuhyun menunjuk kumpulan orang yang membawa banner ”HATE TO BE STONE” yang berjarak beberapa meter dari mereka. ”Kau bagian dari mereka?”

Mia segera menggelengkan kepala cepat. Ini tidak seperti yang Kyuhyun kira. Dirinya sama sekali bukan anti-fans.

”Aku bukan mereka, Kyuhyun!”

Tubuh Kyuhyun tinggal beberapa senti saja dari Mia. Kyuhyun menatap tajam gadis itu seakan bisa menelannya hidup-hidup. ”Ah…, aku tahu. Kau memang bukan bagian dari mereka. Tetapi kau mungkin saja adalah hantu yang berniat mencelakaiku. Mungkin kau dendam padaku karena telah membuatmu terbunuh?”

Mia hampir terjatuh mendengar ucapan Kyuhyun barusan. Matanya membeliak dan mulutnya menganga lebar. Kyuhyun… apa… apa yang pria itu bilang barusan…?!

.

.

.

.

.

See you next part~

9 thoughts on “Mr.Headstone (Track 02)

  1. adegan mia-siwon nano nano ya. kadang ngakak kalo pikunnya mia kambuh, kadang mewek kalo mianya ngerasa takdirnya tidak adil. tapi emang ssih aku juga kalo jadi mia bakal gatau deh harus gimana.
    kyuhyunnya punya masa lalu apa? kayaknya trauma gitu._.

  2. ciee SS jadi malaikat kematian =)) *keinget sama OREO ._. eh itu Mia pikun akut gitu :v jgn” arwah Mia kena alzheimer lagi lmao itu bagian terakhir si kyu kek org indigo aja :v bisa tau Mia.. ini dongekk ngga di keluarin disini ya :3 aku nunggu” lol yahh meskipun jadi cameo juga nggapapa-_-
    Keep writing author^^

  3. Hahaha aduh siwonnya kasian banget, butuh kesabaran yg extra pake plus plus buat ngadepin sifat pelupanya mia yg akut..
    Aaah, ternyata hal yg paling penting buat mia itu hadir di perceraian ortunya? Kok dia kayak benci banget sama Daddynya?
    O, kenapa si kyu ngomong bgtu? Jangan”..

  4. Yee…Kyuhyun sama mia ketemu, Bakalan seru pasti kl mereka udah perang. Dan aq anjurin siwon sedia obat tekanan darah tinggi deh. Kudu sabar sesabarna orang puasa kl ngadepin mia. Tp cute juga moment na mia-siwon. Malaikat boleh pacaran ga sih?

  5. Aku malah suka Siwon-Mia moment nya soph…
    Sweet dan nyebelin jd satu.😀

    kasian bgt si Mia….
    Udah jd arwah pun masih disibukkan sm urusan orang hidup.
    Tp aku doain mudah-mudahan okasan & daddy nya mia jadi cerai. *plakk*
    Terus mia nya bisa mati dgn tenang. dan hidup bahagia di akhirat dgn si malaikat Siwon.
    Maafkan pikiran kotorku ini soph.
    Malaikat harusnya ga boleh berpasangan. Tp utk malaikat yg satu ini, pengecualian.😀
    Dan Kyuhyun… Tetap sama aku.😀

  6. oh semakin menarik ceritanya eonn… huwaaa kyuhyun-mia moment suka banget ama dua anak manusia itu. dan siwon-ssi you make me crazy… siwonn kece banget jadi malaikat, apalagi si pirang Eunhyuk hwaaaaaa si magnae headstone😄

  7. wah mia,mau ke rumah ibunya aja pake kesasar mpe tpt konser mr.headstone.mn ketemu kyuhyun lagi yang nuduh dia hantu.gaswat tuh,kalau mpe tau dia hantu,trs keinginannya mia bisa keganggu ntar.

Just talking...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s