Mr.Headstone (Track 01)

Author : Sophie Maya

Title     : Mr.Headstone (Track 01)

Cast     : Cho Kyuhyun, Choi Siwon, Lee Sungmin, Kim Ryeowook, Lee Hyuk Jae, Mia

Support Cast: Park Jungsoo

Genre  : romance

Rated  : G/AU

Length: chaptered

Type    : ?

Summary         : The one that had head like a stone

mr-headstone-copy

Disclaimer       : this story is MINE.

Track 01: Back To Life

 

Apa yang kalian ketahui tentang ‘fans’?

Banyak orang bilang, fans adalah sekumpulan orang kurang kerjaan yang mendewakan sesuatu. Sesuatu yang mereka dewakan.

Is it right?

Beberapa orang juga berpendapat, jadi fans itu merepotkan! Mencari berita ini-itu, si dia ngapain ya? Dia kemana? Sama siapa? Semalam berbuat apa??

Menangis hanya karena sang idola batal tampil di tivi, berteriak penuh semangat ketika idola kalian memenangkan award.

Is it right?

Fans bukannya sekumpulan orang kurang kerjaan, kurasa begitu. Karena memang ‘kerjaan’ fans itu ya mencintai dan menyemangati idolanya. Kalau ‘kerjaan’ fans itu bakar-bakar daging ayam yang ditusuk-tusuk.. itu mah tukang sate namanya. Haha.

Menjadi fans itu tidak perlu ‘harus’ selalu ngintilin idola mereka. Dan tidak perlu formulir khusus untuk menjadi seorang fan.

Kamu cuma perlu dua hal: mencintai idolamu dan menyemangatinya. Gampang kan? Sama sekali tidak merepotkan.

Lantas, jika aku sudah menyangkal semua anggapan kalian tentang fans, kalian masih mau menganggap fans itu orang yang bagaimana?

 

Regards,

Mia Narafa. Nagoya, 30 Juni 2009. Pukul 20:16 WIB.

 

 

“TARATATTATATATATATAAATTTTAAA!!!! NA YEOGIISSEO…!!! SARANGHAGO BOGO…DANGSIN…!!”

Kaget!

Ringtone ponsel yang dipasang Mia dengan volume maksimal itu berdentum-dentum keras menyentakkannya. Suara perpaduan rock dan pop dengan lengkingan setinggi tiga oktaf sontak membuatnya menutup kedua kupingnya rapat sembari mengatur debaran jantung yang berdetak cepat akibat ringtone yang begitu mendadak berbunyi.

Mia yang tadinya masih dalam posisi tengkurap langsung bangkit terduduk dan mencari-cari sumber “suara pengganggu” konsentrasi itu. Meski harus ia akui, itu adalah lagu kesayangannya. Terkadang ia juga merasa menyesal memasang ringtone ponsel dengan lagu itu, karena suaranya benar-benar bikin orang support jantung.

“TARATATTATATATATA…”

“Dimana ponselku?” setengah kesal Mia membalik-balikkan belasan buku yang tergeletak malang melintang di atas kasur, menyingkirkannya setengah paksa. Mengangkat tumpukan bantal dan koleksi boneka Hello Kitty miliknya. Tidak ada.

Mia berdiri di atas tempat tidur. Matanya berputar mencari ponsel yang terus berdering cerewet.

YEAH… WE ARE MR.HEADSTONE… IN RAINING TASTE… MAKE YOU FEEL THE HEAT…! NA YEOGIISSEO!! TARATTTATATATA.”

Mata Mia tajam mengawasi meja belajarnya. Ponselnya tidak ada di situ. Di atas lemari pakaian? Tidak ada juga. Di lantai? Juga Tidak.

Lantas kenapa suaranya terdengar sangat keras dan amat dekat??

Mia mengatupkan mulutnya. Menggaruk kepala yang tak gatal. Suara ringtone itu masih terdengar amat dekat, namun tidak bisa dideteksi keberadaannya. Sempurna menyebalkan.

Dengan asal Mia meraba tubuhnya dan gerakan tangan terhenti saat dirogohnya kantung piyama, ponselnya bersembunyi disitu ternyata. Layar ponsel berkedap-kedip tak sabaran, ditambah suara penyanyi yang masih berkoar-koar memekakkan telinga. Ada telepon. Mia memutuskan mengangkatnya sebelum kupingnya sakit akibat mendengar suara menggelegar itu.

“Halo?”

“Mia? Kamu bisa ke Melbourne sekarang?!” sebuah suara tak kalah mengejutkan membuatnya menjauhkan ponsel dari telinga sembari menatap layarnya dengan kening berkerut. Uh, oh, suara penelepon dan penyanyi lagu ringtone ponsel sama-sama membuat telinganya sakit.

“Maaf, salah sambung sepertinya…” ujar Mia kebingungan.

“Mia, gimana mau salah sambung. Ini Mia Narafa, kan?” tanya suara di seberang.

“Iya, benar…”

Terdengar helaan napas panjang di sana. “Nak, ini Okaa-san.”

“Heh?” Mia melirik layar hapenya. Astaga, saking terburu-burunya pengin melenyapkan suara ringtone dari ponsel, ia sampai tak melihat siapa yang meneleponnya. Bodoh sekali. “Ah… Okaa-san. Ada apa?”

“Kamu bisa ke Melbourne tanggal enam nanti? Penting.” Suara Ibu terdengar buru-buru.

“Melbourne?” Mia berusaha mengingat-ingat. “Melbourne itu dimana?” tanyanya polos.

“Miaaaa!!!” teriakan Ibu terdengar keras campur nada sebal. “ Gimana, sih? Tempat tinggal Okaa-san malah dilupain.”

Ah, Mia lagi-lagi menepuk jidatnya. Lagi-lagi. Ia lupa. Sungguh, sama sekali tidak ingat kalau Ibu tinggal di Melbourne, Australia.

Kadang Mia memang suka agak pikun kalau disuruh mengingat sesuatu. Masih ingat kalau namanya adalah ‘Mia Narafa’ aja sudah bagus. Masih ingat kalau jabatannya adalah murid kelas XII—bukan tukang benerin pipa ledeng, itu sudah syukur. Mia mudah sekali menghilangkan semua kejadian yang sudah ia alami dari dalam otak. Sempat Mia pikir itu akibat kapasitas otaknya yang lebih kecil dibanding orang kebanyakan—praduga aneh tak terbukti.

Maka dari itu Mia suka menulis segala sesuatu di buku diary-nya, paling tidak biar dia ingat… kalau semenit lalu dia habis mandi sore dan tak perlu balik lagi ke kamar mandi buat mandi ulang. Sempat Mia kalang kabut gara-gara diary-nya hilang, ia lupa apakah tadi ia sudah makan malam atau belum. Soalnya di diary, semua kegiatan Mia memang ditulis sedetail-detailnya. Memang, pikun Mia bisa dibilang akut.

Satu-satunya yang tidak bisa Mia lupakan sampai detik ini cuma satu: lirik lagu yang jadi ringtone ponselnya! Soalnya setiap ada telepon atau sms masuk, lagu inilah yang mengganggu pendengarannya hingga mau tak mau Mia selalu ingat.

“Iya, Ibu… Mia lupa. Hehehe, ada apa? Kenapa harus ke Melbourne? Ibu tahu tidak kalau jarak Melbourne dengan Tokyo jauhnya itu pakai ‘banget’? Ibu kira Melbourne itu letaknya di Universitas Tokyo, apa? Atau disebelah rumah kita?” cerocosnya berentetan. Merasa sudah mengingat Melbourne, kebiasaan Mia selain pikun mulai muncul: cerewet akut.

Terdengar helaan napas panjang. “Mia Narafa, anak Okaa-san yang manis…, Okaa-san yakin ada dua hal yang pasti bikin kamu datang ke Melbourne tanggal enam nanti. Begini…”

.

.

.

.

.

.

 

Seoul, 1 Juli 2009.

Gedung depan SBS, salah satu stasiun TV terkenal di Korea Selatan, dipadati beratus-ratus remaja berbaris mengantri di depan pintu gedung dengan membawa kertas karton dengan tulisan bertinta glitter warna-warni. Pakaian mereka kebanyakan masih mengenakan seragam sekolah, karena hari masih sore dan baru beberapa jam lalu sekolah-sekolah membubarkan murid-muridnya untuk pulang.

Meski begitu, mereka jelas tidak akan langsung pulang. Hari ini jam empat sore di gedung SBS akan ada acara musik yang menampilkan Mr.Headstone, band papan atas Korea yang baru comeback beberapa hari lalu. Mereka semua mengantri ingin penampilan idolanya.

“Kyuhyun keluar dari gedung! Mereka keluar! KYYAAA!”

Entah dari mana teriakan itu dimulai, barisan remaja yang tadinya teratur mendadak jadi amburadul, semua orang kocar-kacir dan semakin berdesakan ke arah pintu keluar.

“Kyuhyun! Sungmin! Ryeowook! Eunhyuk!”

“Kyaaa! Itu mereka, itu mereka, itu mereka!”

“Tampannya!”

Kyuhyun, pemuda dengan rambut cepak yang pertama kali keluar disusul para member lain. Mereka berjalan sambil menunduk dan berusaha menyerobot kerumunan dengan bantuan para bodyguard.

“Kyuhyun!!!”

Para fans semakin memaksa maju ke depan, terkadang saling dorong dan sikut-menyikut, membuat ara bodyguard mulai kewalahan.

“Kyuhyun jangan pergi!!!” seorang wanita menarik tangan Kyuhyun dan membuat pria itu tersentak. “Kyuhyun, kau di sini saja.”

Kyuhyun memberikan kode agar para bodyguard memisahkannya dengan fan itu. Tapi mereka tidak melihat Kyuhyun, sibuk melindungi member Mr.Headstone lain.

Lalu semua terjadi dengan cepat, kerumunan fans itu semakin agresif dan mendorong dari segala arah. Membuat keramaian dan keriuhan. Kyuhyun yang tadinya berdiri di belakang bodyguard, terdorong ke samping dan tanpa sengaja tangannya reflek menampik fan yang sedari tadi menariknya. Fan itu terjatuh dan tersungkur tak sadarkan diri.

“KYAAAA!!!”

Teriakan heboh terdengar dimana-mana saat tubuh wanita itu ambruk. Kyuhyun terpana. Anggota Mr.Headstone terdiam. Para bodyguard terdiam. Semua orang terdiam. Dari balik tubuh wanita itu darah perlahan mengalir.

Kemudian terdengar suara jepretan blitz kamera menyambar-nyambar wajah kaget Kyuhyun, merekam kejadian na’as yang baru saja dilakukannya.

 

.

.

.

.

.

.

 

 

Melbourne, 6 Juli 2009.

Gadis itu bernama Mia Narafa, berusia 17 tahun dan masih menjadi siswa SMA Nishima, salah satu sekolah favorit di Tokyo. Selama di Jepang Mia tinggal sendiri ditemani oleh Bibi Ryoko, pembantu sekaligus pengasuhnya sejak bayi.

Telepon beberapa hari lalu membuat Mia tanpa basa-basi pergi ke Melbourne, kota yang letaknya di Australia. Meski sebenarnya Mia benci datang ke kota ini di tengah bulan Juli. Tahu sendiri, bulan sekarang adalah musim saljunya di Melbourne. Memang agak berbeda dengan negara kebanyakan yang musim salju di akhir tahun, Australia mengalami musim salju di bulan Juli. Sehingga mau tak mau, Melbourne yang berada di Negara Australia ikutan terkena dampak salju.

Mia benci musim salju. Ia tak terbiasa dengan gumpalan es yang turun dari langit dan lantas membuat hidungnya memerah karena flu. Dan bahkan hawa dingin pun Mia musuhi, karena Mia alergi udara dingin. Masih sama masalahnya: udara dingin dan salju sama-sama membuatnya flu.

Sialnya, karena Mia punya kebiasaan pikun, lupa dengan alerginya, akibatnya ikut lupa membawa sapu tangan. Jadilah Mia sekarang kelimpungan dengan hidung tersumbat, berjalan sempoyongan meninggalkan airport sambil menarik koper kecilnya. Baju hangat yang dipakai sama sekali tak membantu, hanya hangat di badan. Sementara hidungnya benar-benar butuh pertolongan.

Mia menginjakkan sepatu ugg boots-nya di pelataran parkir Melbourne International Airport atau Tullamarine Airport. Masih dengan sedikit rasa pusing akibat flu, Mia berjalan menyusuri parkiran yang sepi. Ada beberapa mobil terparkir milik para penerima turis yang baru berdatangan. Sebagian adalah guide dari turis tersebut, yang akan mengajak mereka berjalan-jalan mengelilingi Melbourne dan memperkenalkan keindahan kota taman ini.

Mia melirik guide yang mengantarkan turis masuk ke dalam mobil. Terdengar obrolan singkat dari mereka, dalam bahasa yang Mia tak mengerti. Bukan Bahasa Inggris, juga bukan Bahasa Jepang.

Mia menghela napas dan berusaha membuat tubuhnya senyaman mungkin di balik balutan sweater yang cukup tebal. Sesekali membenarkan topi beanies berwarna putih yang dikenakan sembari menarik setengah paksa koper berwarna cokelat susu yang dibawa dari Jepang. Koper yang cukup kecil untuk ukuran para pengunjung dari luar negeri yang hendak berlibur di Melbourne. Jelas karena Mia ke sini bukan untuk berlibur, sama sekali bukan. Jadi tidak peduli dengan koper dan perlengkapan yang ia bawa terlalu sedikit atau sama sekali jauh dari perlengkapan menghadapi Melbourne di musim salju. Toh kalaupun nanti Mia kekurangan perlengkapan, dia bisa menghubungi Ibu dan meminta dibelikan baju atau apapun yang dia mau.

Dengan catatan: kalau ia ingat mau minta beliin.

“TARATATTATATATATATAAATTTTAAA!!!! NA YEOGIISSEO…!!! SARANGHAGO BOGO… DANGSIN…!!”

Teriakan ringtone kembali terdengar. Memekakkan telinga.

Setengah malas Mia merogoh kantung sweater-nya dan melihat layar ponsel. Ibu.Mia mengangkatnya, ”halo?”

”Mia kamu sudah sampai di Melbourne?”

”Sudah.” Mia melirik ke kiri dan ke kanan. Mencari-cari keberadaan Ibu. Kemarin Ibu bilang akan menjemputnya di airport, tapi yang dilihatnya di parkiran ini hanya deretan mobil-mobil tak dikenalnya.

”Mia, kamu langsung ke apartemen Okaa-san, ya. Kamu hapal jalannya kan? Okaa-san masih di kantor dan¾”

”Jadi Okaa-san tidak jemput aku?” potong Mia cepat.

”Err… Mia, maaf…, Okaa-san ada klien penting yang ingin bertemu mendadak…”

Hening

”Aku mengerti. Aku naik taksi aja.”

”Oke. Tapi kamu ingat kan jalannya? Hapal kan?” suara Ibu terdengar amat cemas.

Mia menggerutu kecil. Ibu memang tahu Mia itu pikun, tapi tidak perlu sampai sekhawatir itu. ”A.k.u h.a.p.a.l….,” eja Mia dengan nada tegas.

”Baiklah, Okaa-san percaya. Tapi kalau lupa, kamu bisa catat alamat apartemen Okaa-san. Nanti Okaa-san sms-in alamat lengkapnya. Kita ketemu di apartemen ya.”

Mia mengerling sebal, ”ya…”

Klik.

Selalu begini. Ibu selalu berjanji akan menjemputnya di airport yang sejauh ini selama beberapa kali Mia ke Melbourne, tidak pernah sekalipun Ibu menepati janjinya. Alasan sibuk mengurusi kerjaan kantornyalah, rapat sama klienlah, observasi tempat barulah, rapat penandatanganan kontraklah, inilah, itulah. Semua menjadi alasan rutin yang digunakan Ibu saat membatalkan janjinya.

Mia mengambil diary-nya dari dalam koper dan membacanya sekilas. Mengingat kembali tujuannya datang ke Melbourne.

 

Dua alasan kenapa harus ke Melbourne:

  1. Menghadiri perceraian Okaa-san dengan Daddy, and I must do something for them…

 

Senyum terkembang di wajah Mia. Ada dua alasan kenapa Mia pergi ke Melbourne sekarang. Membuatnya rela pergi saat musim salju yang benar-benar mengganggu kesehatan tubuh yang sedikit lemah.

Pertama, Mia akan menghadiri sidang perceraian Ibu di Pengadilan Tinggi di Melbourne. Ibu akan bercerai dengan Mister Alex setelah resmi menikah lima tahun lalu. Mister Alex bukanlah ayah kandung Mia. Ayah kandungnyameninggalkan Mia yang masih bayi dan Ibu yang tengah merintis usaha hotel. Demi perekonomian yang sedikit labil gara-gara ditinggal Ayah, Ibu memutuskan lebih bekerja keras dan fokus mengembangkan usaha hotelnya menjadi besar. Hingga bertemu dengan Mister Alex, yang kini menjadi suami Ibu, menjadi ayahnya Mia.

 

Beberapa tahun menikah dengan Mister Alex yang berkebangsaan Australia, Ibu lalu diboyong ke Melbourne meninggalkan Mia sendiri di Jepang. Meski sebenarnya Mia sudah ditawari Ibu untuk ikut pergi, tapi ia menolak. Itulah kenapa Mia tinggal sendirian di Tokyo.

Mia merapatkan sweater-nya begitu menyadari ia sudah cukup lama melamun sampai tak sadar sudah berada jauh dari bandara. Tanpa sadar bukannya memanggil taksi, ia malah berjalan kaki meninggalkan bandara.

”Pasti karena lupa!” rutuk Mia memukul-mukul kepalanya. Sepertinya kepikunannya mulai kumat. Lupa kalau ia tidak tahan dingin, lupa kalau tidak bawa sapu tangan, dan malah memilih berjalan kaki menantang salju.

Langit terlihat mulai gelap, arus lalu lintas sudah padat merayap. Lampu-lampu di pertokoan sisi kiri-kanan jalan mulai dinyalakan dan musik pelan dinyalakan. Hanya dalam hitungan detik, pengunjung berdatangan silih berganti meramaikan suasana pinggir jalan itu.

Mia merasa lapar. Diliriknya ke kiri dan ke kanan, memastikan ada atau tidaknya restoran yang menunya bisa mengenyangkan perutnya.Saat matanya tengah menyusuri sepanjang trotoar, Mia terpaku melihat sebuah plakat besi yang sangat besar terpampang disebelah restoran itali. Plakat itu membuat kakinya melangkah mendekat.

Inilah alasan kedua kenapa Mia datang ke Melbourne…

 

  1. Jika aku mau datang ke Melbourne, Ibu berjanji akan membelikan tiket menonton konser Mr.Headstone di Melbourne, asiiiik! Aku bisa pamer sama Naomi dan Yui!

 

MR.HEADSTONE CONCERT on 14 July 2009 at Melbourne Town Hall. One Of A Kind, One In A Million.

 

Konser Mr.Headstone!

Ini dia alasan Mia ngotot mati-matian datang ke Melbourne di tengah salju mendera dan udara dingin yang bisa membuat staminanya anjlok!

Mr.Headstone, band asal Korea Selatan yang sangat terkenal hingga ke seluruh dunia. Penjualan album mereka selalu berada di penjualan teratas, dengan lagu-lagu yang selalu memasuki billboard dunia. Band yang terdiri dari empat pemuda berumur dua puluh tahunan—Kyuhyun sebagai leader dan lead vocal, Ryeowook sebagai guitarist dan second vocal, Sungmin sebagai keyboardist dan rapper, Eunhyuk sebagai drummer—cukup menggemparkan dunia musik. Penampilan mereka yang total di setiap pertunjukan menjadikan mereka salah satu band yang selalu ditunggu-tunggu konsernya.

Sama seperti Mia. Begitu inginnya ia menghadiri konser mereka sekali saja.

Mia adalah Stone—sebutan untuk fans-nya Mr.Headstone. Mia memajang semua poster mereka dari sejak mereka debut tahun 2003 silam di kamar tidurnya, mengoleksi album mereka dari yang pertama sampai yang baru keluar Januari lalu, mengumpulkan artikel-artikel mereka, menghapal semua lagu mereka yang sebagian besar berbahasa Korea, berdoa setiap hari untuk kesuksesan dan kesehatan mereka sebelum tidur, memasang lagu mereka sebagai ringtone ponsel—well sekarang tahu kan siapa pemilik suara melengking memekakkan telinga yang selalu terdengar di ponselnya? Itu suara Mr.Headstone, suara empat oktaf milik Kyuhyun dan Ryeowook, yang meski mengganggu, tetap dengan kerelaan dipasang Mia sebagai ringtone.

Satu mungkin yang belum pernah dilakukan Mia sebagai seorang Stone: men-da-tang-i kon-ser me-re-ka.

Bukannya apa. Sebagai seorang siswa kelas XII, Ibu selalu melarangnya untuk pergi ke luar negeri sekedar menonton konser idolanya. Bahkan untuk menonton konser artis ibu kota saja tak akan diijinkan oleh beliau. Ibu memang sedikit protektif dan selalu khawatiran.

Maka saat Ibu berkata akan mengijinkannya menonton Mia langsung mengangguk setuju. Ia akan melakukan apapun untuk menonton konser Mr.Headstone, yang akan jadi konser pertama yang ditontonnya.

Hey, watch out!”

Seorang pria tua gemuk berteriak ke arah Mia sambil berlari susah payah. Mia menoleh dan mengerutkan dahi.

Girl, watch out!!” pria itu kembali berteriak. Mia tidak terlalu memahami apa yang diteriakkan pria itu. Bukannya tidak mengerti Bahasa Inggris, tapi pria itu berteriak dengan napas terengah-engah dari jarak yang cukup jauh, sehingga telinganya tidak terlalu peka menangkap apa yang diucapkannya.

Watch out NOW!!!” pria itu masih berteriak dan berlari semakin dekat.

Watch out??Menghindar, maksudnya?

Menghindar dari apa?

Mia melihat kepanikan yang tak terkira dari pria tua gemuk itu. Sementara pria itu dengan segera mengacungkan tangannya dan menunjuk sesuatu, membuatnya mengikuti arah telunjuk pria itu dan terbelalak kaget.

Plakat di depan Mia bergoyang pelan lalu dengan perlahan plakat itu miring ke depan dan semakin miring ke depan, sepertinya tiang plakat tidak cukup kuat tertancap di tanah sehingga tidak berdiri dengan kokoh. Ia baru menyadari hal itu sekarang.

The placard will fall!

Mia tidak bisa lagi mendengar teriakan pria tua gemuk itu. Ia terlanjur panik dan berusaha mundur menjauhi plakat itu—tapi sia-sia, kakinya terasa berat untuk beranjak dari tempat. Mendadak merasakan perih di bagian tubuhnya yang menjalar hingga ke kepala, membuat keseimbangannya melemah dan tenaganya seakan menguap.Bola matanya membesar ketakutan melihat tulisan plakat semakin dekat ke arahnya.

Plakat itu semakin oleng ke arah depan, dan… jatuh menimpanya!!

BRUKK

.

.

.

.

.

.

.

Cho Kyuhyun Mendorong Fansnya Hingga Terjatuh?

 

Leader Mr.Headstone Membuat Salah Seorang Fan Terluka

 

Kim Jin Ah, Fan Yang Didorong Kyuhyun Mengalami Luka Serius di Bagian Kepala

 

Berpuluh-puluh bendel majalah hingga koran dilempar Park Jungsoo ke atas meja dengan kasar. Manajer Mr.Headstone itu menatap keempat anak asuhannya dengan tatapan tajam, lebih-lebih saat menatap Kyuhyun, ia justru mendengus kesal bercampur kecewa.

”Kau tidak mau melakukan klarifikasi?! Ini berita yang sangat besar! Banyak penggemar akan kecewa padamu jika kau tidak memberikan sanggahan atau tanggapan atau apapun itu!!” Telunjuk Manajer Park terarah ke wajah Kyuhyun. Menatap pemuda berumur 22 tahun berambut cepak yang kini malah meregangkan otot-otot lehernya.

”Aku malas,” jawab Kyuhyun cuek.

”Kau ini… Yaa!!” Manajer Park menggebrak meja penuh kesal. ”Aku tidak tahu apa masalahmu, tapi—”

”Kau tahu masalahku, Manajer. Kau tahu itu—semua anggota Mr.Headstone tahu, agensi tahu, semua orang Korea mungkin juga tahu—meski mereka mungkin sudah lupa. Kau tahu kan, aku tidak akan membuat klarifikasi apapun. Dan aku tidak ingin hari-hariku dihabiskan hanya untuk mengurusi permasalahan dengan para fans.”

Manajer Park terdiam. Ia jelas saja tahu mengapa Kyuhyun bisa sekeras ini menolak klarifikasi, lebih memilih publik terombang-ambing dengan berita miring seputar dirinya. Ia tahu sekali mengapa pemuda itu bersikap acuh dan tidak peduli dengan semua masalah di sekitarnya, terutama hal-hal yang menyangkut publik dan fans.

Manajer Park menarik napas panjang. ”Baik, Kyuhyun. Jika itu maumu. Tetapi aku akan tetap melakukan apapun agar kau bisa dimaafkan oleh publik karena tidak sengaja membuat fans-mu jatuh dan terluka itu. Aku akan membuat ketenaran kalian semakin bersinar meski adanya berita buruk ini. Kalian… dan terutama kau…Kyuhyun! Tidak boleh menolak apa yang aku rencanakan!”

Kyuhyun tertawa kecil dan menggeleng-gelengkan kepalanya. ”Asal itu tidak berhubungan dengan klarifikasi, tidak masalah.”

”Memang kau merencanakan apa, Manajer?” tanya Ryeowook hati-hati.

Manajer Park mengulum senyum. ”Kalian harus menunjukkan simpati pada salah satu fans kalian di Melbourne… yang baru saja meninggal kemarin…”

.

.

.

.

.

.

 

Melbourne, 7 Juli 2009.

 

Mata Mia mengerjap perlahan. Udara dingin Melbourne sepertinya sudah bisa sedikit ia atasi, jadi dengan mudah gadis itu mendudukkan tubuhnya dari posisi tidur, lalu menggoyangkan kepala ke kiri dan ke kanan untuk membuat dirinya sedikit santai. Tulang-tulangnya terasa agak kaku sehingga perlu waktu agar bisa berkompromi dengan otak untuk membuat gerakan-gerakan kecil.

Saat tangannya terjulur ke depan ia baru menyadari kalau kuku-kukunya terlihat pucat.

Mia mimpi buruk semalam, ia tertawa kecil mengingatnya. Mimpi bahwa ia baru saja mengalami kejadian mengerikan, tertimpa plakat konser band terkenal Mr.Headstone, band yang jadi idolanya sejak kelas tujuh.

Mia berdiri dengan malas. Sekilas kembali menatap tangan yang pucat lalu beralih memandang gaun putih tipis yang melekat erat membalut tubuh. Hei, gaun putih tipis?

Mia mengernyit heran.

Matanya kembali melirik gaun itu. Sepanjang pengetahuannya, Mia sama sekali tidak pernah memiliki gaun berwarna putih, apalagi setipis ini. Berniat memancing penyakit alerginya kambuh lagi?

Pandangan Mia terusik ke arah lain, kali ini ke sekitarnya. Lalu ia tercekat.

Mimpi? Sepertinya mimpinya tentang tertimpa plakat itu bukan cuma mimpi belaka.

Mia sekarang berdiri di sebelah restoran itali, di sebelah sebuah plakat yang tergeletak dalam posisi rata dengan tanah, sementara di bawah plakat tampak cairan berwarna merah kecokelatan yang berbaur dengan salju dan garis polisi berwarna kuning tampak mengelilingi plakat tersebut. Gendang telinga Mia mulai menangkap sirene polisi meraung-raung di sekitar, serta beberapa wartawan yang menjepret plakat itu, saling berdesakan dengan orang-orang yang juga ingin melihat plakat itu dari dekat.

Poor girl… dia jatuh tertimpa plakat kemarin.”

Mia mendengar seseorang berujar dalam Bahasa Inggris seraya menatap garis polisi di depannya.

”Ini pelajaran untuk pemasang plakat agar lebih hati-hati.”

Plakat? Mata Mia membulat tak percaya. Dengan ragu Mia menatap gaun putihnya, lalu menatap tangannya yang pucat, lalu kakinya… kakinya tidak menginjak tanah?!

“Tidak… ini tidak mungkin…”

Mia menggelengkan kepala beberapa kali, mengusir kemungkinan-kemungkinan buruk yang sedang dia hadapi. Mia berjalan mendekati orang-orang di sekitar dan ingin menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, tapi sesuatu yang mengejutkan membuatnya menahan napas.

Mia tembus pandang! Mia berkali-kali mencoba memegang pundak mereka, tapi tangannya terus saja tembus melewati pundak mereka. Mia berusaha menyapa mereka tapi mereka tetap diam dan justru sibuk berbicara dengan yang lain. Mereka tidak tuli, Mia tahu itu. Pikiran Mia kembali pada mimpi semalam, kali ini lebih jelas. Dan kali ini Mia yakin seyakin-yakinnya, itu bukan mimpi.

Adegan demi adegan terlintas di kepalanya. Cukup cepat, namun juga jelas. Membuat semuanya terasa lebih nyata. Mia menatap ngeri ke kakinya. Sekarang Mia merasa kakinya semakin jauh jaraknya dari permukaan tanah, badannya mulai melayang-layang ringan.

Orang-orang yang tadi sedang berbicara di sekitar plakat kembali mengucapkan kata-kata yang membuat Mia yakin sesuatu yang buruk telah terjadi padanya.

”Nama gadis itu Mia Narafa dan dia dari Jepang, itu yang kudengar dari penjelasan polisi. Sekarang gadis malang itu akan dimakamkan setelah jenazahnya diberikan ke ibunya.”

 

.

.

.

.

.

.

 

 

You’re dead, Mia! Now you’re a ghost!

”Kenapa aku bisa meninggal? Kenapa?” teriak Mia parau. Ditutup wajahnya dengan kedua tangan.

Tubuhnya melayang-layang di langit pagi Melbourne, menatap kesibukan penduduk yang berlalu lalang di jalanan. Terburu-buru seakan dikejar waktu, sebuah pemandangan yang membuat hatinya sakit. Mia sudah jadi hantu, tidak akan lagi diburu waktu, ia akan ’hidup’ tanpa mengenal waktu.

Matanya terasa perih dan perlahan ia mengeluarkan air mata yang membasahi pipi. Ia menangis sekencang mungkin. Melepas semua sesak yang menghujam tubuhnya. Tidak peduli tetesan air matanya bahkan tidak jatuh ke bumi, tapi langsung menghilang begitu melewati pipinya. Ia masih tetap tidak habis pikir kenapa bisa secepat ini meninggal.

Tertimpa plakat? Meninggal? What a joke!

“Ini bukan lelucon!” sebuah suara mengagetkan Mia. Sesosok pria tinggi menggunakan sepasang sayap melayang-layang.

Pria itu terlihat sangat muda, wajahnya putih pucat dengan bibirnya menyunggingkan senyum, matanya seakan bercahaya tertimpa sinar matahari, rambutnya berwarna pirang—bahkan sedikit keputih-putihan bergerak lembut dipermainkan angin pagi. Ia memakai baju yang hampir sama dengan Mia, bedanya ia memakai sayap besar yang tampak berat sekali.

“Siapa?” agak takut Mia melihat pria itu. Melihat dirinya yang bisa melayang-layang seperti ini saja sangat menyeramkan, ditambah dengan seorang yang sama dengan dirinya. Hantu juga kah?

“Jangan takut. Apa yang perlu kamu takutkan? Aku ke sini datang untuk menjemputmu.” ujar pria itu pelan.

Mia mengusap wajahnya. ”Menjemputku?”

”Aku akan membawa arwahmu pergi melaksanakan kewajibanmu selanjutnya. Kamu sudah meninggal, kan?” ujar pria itu lagi. Masih menyunggingkan senyum dari bibir pucatnya, kontras dengan binar terang di matanya.

Mia memperhatikan pria di depannya itu. Pria itu membawa-bawa tongkat putih panjang di tangannya yang mengeluarkan cahaya putih menyilaukan. Persis seperti tokoh-tokoh dalam film fiksi.

Apa tadi pria itu bilang…? Mau membawanya pergi…?Mia menggelengkan kepala keras-keras. Beringsut pelan menjauhi pria itu.

”Pergi kau dari hadapanku! Aku tak mau ketemu siapapun saat ini. Biarkan aku sendiri!!” bentak Mia mengusir pria itu. Meski rasa takut tetap menyelimutinya. Melihat penampilan aneh sang pria, entah siapa pria itu. Pagi-pagi sudah mengenakan kostum aneh-aneh.

”Lho kok ngusir? Aku kan mau menjemputmu.” ujar pria itu bingung.

”Aku tidak mau lihat wajahmu!” usir Mia lagi.

Pria itu memandangnya lekat-lekat. ”Meskipun wajahku tampan?” tanyanya polos.

Mia terdiam. Dipandang pria didepannya. ”Ya! Meskipun wajah kau tampan!”

Pria itu menahan senyum gelinya. Tangannya mengeluarkan sebuah kertas dari balik jubah panjang yang berjumbai-jumbai, lalu diangsurkan kertas itu pada Mia. ”Tapi kau kan sudah mati… aku harus menjemputmu. Aku malah tak boleh membiarkanmu sendiri. Nanti kalau kau bergentayangan dan makan orang gimana? Masih mending kalau kau makan orang, kalau kau yang dimakan orang alias diburu sama para pemburu hantu gimana?”

Mia membulatkan matanya kaget. ”Lho, jadi aku hantu? Memang aku kapan meninggalnya?”

Pria itu melongo.

”Ah, iya! Aku baru ingat! Aku sudah mati ya?” Mia menepuk jidatnya beberapa saat kemudian. ”Eh, aku tadi kenapa nangis ya? Seharusnya aku catat di diary-ku kenapa aku bisa nangis… eh, eh, diary-ku mana? Kok tidak ada sih?”

Pria itu semakin melongo.

Mia kalang kabut sendiri. Meraba-raba sekujur gaunnya, berputar melayang-layang seperti komedi putar, melesat menembus awan-awan dan terjun ke bawah bumi dengan cepat sekali. Ia sibuk mencari diary yang terselip entah dimana, mengacuhkan pria yang terus melayang di depannya.

”Ah, ini apa sih?” tahu-tahu Mia malah memperhatikan kertas di tangannya, membaca lamat-lamat, dan berseru histeris, ”Wow, jadi kau malaikat kematianku?!!”

Mia menunjukkan kertas ditangannya, yang tadi memang diberikan pria itu padanya. Sejenis surat tugas dari atasan:

 

 

Yang bertanda tangan dibawah ini,

Nama              : Siwon

Umur               : 1900 tahun

Pekerjaan        : Malaikat Kematian

Dengan ini menugaskan Siwon menjalankan tugasnya pada manusia,

Nama              : Mia Narafa

Umur               : 17 tahun

Pekerjaan        : Siswi SMA

P.S. Gadis ini pikun akut. Berhati-hatilah!

 

Kalau boleh jujur, surat itu persis seperti surat penugasan dinas ke luar kota, atau seperti surat ijin pengambilan barang—itu kalau Mia rela disebut sebagai ”barang”. Sayang tidak ada kepala suratnya, yang mungkin bisa ditulis dari Dinas Kematian dimana Siwon berasal, atau alamat gedung kantornya beserta nomor telepon yang bisa dihubungi.

”Ini serius aku mati?” Mia tampak ragu.

Pria bernama Siwon itu mengerling. ”Iya…, aku makanya mau jemputmu.”

Mia memasang wajah sedih. ”Jadi aku beneran mati, ya… kok bisa…?” gumamnya bingung.

”Hei, tidak usah sedih lagi.” Siwon bersimpati melihat gadis yang masih cukup muda seperti Mia sudah harus meregang nyawa. Seharusnya dengan umur semuda ini, pasti masih banyak yang ingin dilakukannya. Entah itu belajar, jalan-jalan, atau sekedar nongkrong di tempat-tempat ramai bersama orang terdekatnya.

”Berarti aku sekarang jadi hantu?” Mia menoleh ke bawah dan melihat orang berlalu-lalang di bawahnya. Tampak amat sibuk, tapi juga terlihat menyenangkan.

Siwon hendak menjawab sesuatu, tapi tiba-tiba benda berbentuk walkie-talkie berwarna putih transparan yang tengah dipegangnya mendadak saja berkedap-kedip cepat. ”Se-sebentar, aku ada panggilan dari atasan.” Siwon mengkodekan Mia untuk diam. Ia memencet sebuah tombol pada benda itu dan mendengarkannya seksama, menganggukkan kepala penuh khidmat, kemudian malah memandang Mia dengan raut kaget sembari menutup mulutnya, lalu berbicara dengan gaya berbisik dan kembali menganggukkan kepala.

Mia tadinya tak peduli dengan siapa yang tengah Siwon hubungi. Pikirannya mulai melayang-layang tak tentu arah—tidak fokus, dan mendadak saja Mia kembali lupa kenapa ia bisa ada di langit seperti sekarang.

”Ahh, Siwon—”

”Ck! Kau pasti lupa kenapa kau ada disini!” Siwon seakan bisa membaca pikiran gadis itu. Dipandangnya Mia dengan raut agak kesal, ”kau itu sudah mati, kau sudah jadi hantu, makanya bisa melayang-layang seperti saat ini. Oh, dan bahkan setelah kau mati pun kepikunanmu tidak berkurang sedikitpun!” decaknya.

Mia hanya menggaruk-garuk kepalanya dan memasang wajah polos. Siwon benar, beberapa detik lalu Mia memang kembali lupa kenapa bisa berada di atas langit seperti ini. Siwon hebat sekali bisa membaca pikirannya.

Siwon memandang Mia dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Kemudian Siwon menghela napas dalam-dalam. ”Tidak menyangka kalau kau meninggal secara tidak wajar seperti itu…”

”Maksudnya?” Mia memiringkan kepala dan memandang Siwon tak mengerti.

Tapi Siwon tahu-tahu malah tertawa pelan, ”Hei, kau tahu… yang mencabut nyawamu itu bukan aku, tapi malaikat lain. Aku hanya ditugaskan untuk mengantarmu ke alam kematian, jadi maafkan aku tak mengetahui asal-usul kematianmu.” Siwon menepuk bahu Mia akrab.

”Oh ya? Aku baru tahu.” Mia terlihat bingung.

”Iya, makanya aku benar-benar minta maaf,” ucap Siwon tulus. Mia mengangguk-anggukkan kepala meski heran dengan maksud ucapan Siwon.

”Memangnya aku sudah mati? Kapan?” batin Mia bingung. Beruntung lima detik kemudian Mia kembali ingat kalau Siwon adalah malaikat dan hanya ”makhluk tertentu” yang bisa melihat malaikat.

”Jadi gini, aku baru saja dapat telepon—”

”Telepon?” Mia menyela cepat. Menatap Siwon kaget. ”Memang malaikat bisa main telepon-teleponan segala?”

”Ya bisalah! Jaman udah canggih tahu! Memang cuma manusia saja yang boleh main laptop, telepon, dan gadget lainnya? Kita juga.”

Mia terlongo takjub. Tapi lalu ikut mengangguk paham—atau sok paham, entahlah.

”Jadi aku baru saja dapat telepon dari atasanku. Dia bilang aku tidak boleh membawamu ke alam kematian.”

”Heh? Kenapa tidak boleh?!” Mia terlonjak.

”Iya, tidak boleh. Soalnya kau mati secara tidak wajar.”

”Heh? Masa?” Mia kaget bukan kepalang. Ada ya peraturan seperti itu? Tidak boleh ke alam kematian kalau matinya tidak wajar? Kenapa Mia baru tahu?

”Aku mau tanya, kau matinya karena apa ya?” tanya Siwon hati-hati.

Mia terdiam, berusaha mengingat-ingat—pekerjaan yang agak sulit baginya. ”Tertimpa… plakat…”

Dipandangnya Siwon dengan agak ragu. Masalahnya ingatan Mia memang tidak bisa diandalkan sama sekali. Tapi kayaknya memang benar ia mati tertimpa plakat kok, seingatnya sih gitu… eh, eh, eh, iya tidak sih?

Siwon memasang senyum prihatin.

”Kasihan sekali ya, orang itu mati ketabrak kereta… kelindas truk… atau biar ekstrimnya tabrakan antara mobil dengan bus gede sampai akhirnya jatuh menggelinding ke jurang sementara mobilnya terbakar tanpa bekas.”

”Ihhh… malah berharap aku mati mengenaskan seperti itu, ya?” gerutu Mia sebal. Siwon tertawa.

”Yah, tapi kematianmu itu, Mia… termasuk dalam ’kematian tidak wajar’, jadi kalau matinya seperti kau itu, harus menyelesaikan urusan yang tertunda dulu di dunia… baru bisa bebas pergi ke alam kematian.” Siwon mencoba menjelaskan.

”Oh ya?” Mia termangu. ”Memang apa urusan dunia yang belum aku selesaikan?”

”Wah, mana kutahu itu! Cuma kau yang bisa menjawabnya sendiri. Ah ya, dan kau diberi ’kesempatan hidup kembali’ untuk menyelesaikan urusanmu itu dalam tujuh hari. Dengan syarat, tidak ada yang boleh mengenalimu sebagai ’Mia Narafa’.” lanjut Siwon panjang lebar.

Mia terkesiap. ”EH?”

Gadis itu memandang Siwon penuh curiga. Seseorang yang tahu-tahu datang menghampirinya, memberinya surat tugas, dan sekarang malah menerangkan padanya bahwa ia bisa hidup kembali menjadi manusia??

Siwon melihat keraguan di mata Mia. ”Kau tidak percaya padaku?”

”Entahlah, aku bahkan masih ragu kau adalah malaikat kematian—meskipun dengan surat tugas aneh ini.” ucap Mia jujur sembari mengibas-ngibaskan kertas di tangannya.

Siwon tersenyum simpul. ”Lambat laun kau akan percaya. Sekarang kau cukup pikirkan saja satu urusan paling penting di dunia yang belum kau selesaikan, karena kesempatan ini langka sekali, Mia. Pikirkan yang paling penting, karena kalau itu tidak penting… kesempatanmu tidak akan bisa dipergunakan.”

”Hanya satu?” Mia tampak protes. Siwon mengangguk. ”Tapi…”

”Percayalah…” Siwon terlihat tak sabar. ”Pejamkan matamu, lalu sebut urusan yang ingin kau selesaikan, dan percayalah.. begitu kau membuka mata, kau akan kembali lagi menjadi manusia lagi.”

Sejenak Mia masih melayangkan pandangan sangsi. Tapi akhirnya ia menghembuskan napas. Lebih baik dicoba saja. Lagipula pria ini tampak jujur. Tidak ada salahnya mempercayai kata-katanya.

”Ah ingat, jika kau salah memilih ’urusan yang ingin kau selesaikan di dunia’, maka kesempatanmu hidup kembali akan hilang.”

Mia mengangguk dan memejamkan mata. Mulai memikirkan satu hal paling penting yang membuatnya ingin hidup. Satu hal yang membuatnya datang ke Melbourne dari Jepang. Satu hal yang harus dia tuntaskan selama seminggu.

Masalahnya… satu hal itu tidak cukup! Mia menggigit-gigit bibir bawahnya dan berusaha berkonsentrasi. Begitu banyak hal penting yang sebenarnya harus dia lakukan jika dia benar-benar bisa ’hidup kembali’.

”Mia Narafa, pikirkan hal yang paling penting. Kalau yang kau pikirkan itu tidak terlalu penting, maka kesempatan itu tidak bisa digunakan.” Siwon kembali mengulang kata-katanya sementara mata Mia masih terpejam erat.

”Benarkah? Jika aku memikirkan hal yang tidak penting, maka kesempatan itu tidak bisa digunakan?”

”Ya, akan hangus. Makanya pikirkanlah yang benar-benar penting!” seru pria itu. Membuat Mia menarik napas panjang.

Hal penting apakah yang paling penting? Hal apakah yang seharusnya bisa Mia selesaikan jika dia ’hidup kembali’?

.

.

.

.

.

.

.

See you next part~

 

.

.

.

Hei, rencananya aku mau menghapus ff Too Young To Marry dan menggantinya dengan ff Kyuhyun Suzy yang baru. Gimana menurut kalian? setuju?🙂

11 thoughts on “Mr.Headstone (Track 01)

  1. kyu.. mukamu pantes jadi muka antagonis haha =)) btw, Mia pikunya akut yg se-akut”nya nih-_- knp kok bisa sampe pikun segitunya? kasih tau thor, aku menduga dia kena alzheimer lol xD ya ngga hbs pikir aja, bayangin gimana sama pelajarannya disekolah coba kalo pikun gitu-__- bahkan baru 5 detik aja udah lupa:v kasih tau ya thor knp sampe pikun akut yg se-akut”nya gitu😀
    keep writing!! :p

  2. duh penyakit pikunnya mia ini bikin jengkel banget deh, mudah2an aja pas dia hidup lg pikunya agak berkurang,

    kyuhyun kenapa itu ga mau disuruh klarifikasi bener2 headstone deh, wajar dia jd leadernya.

  3. ya ya ya…
    Dan mati karena tertimpa plakat itu benar-benar lucu.😀

    Oke, si kyuhyun ini memang sengak banget ya!
    Klarifikasi kan ga susah..
    Tinggal ngomong bla bla bla, bikin alasan, selesai.
    Knp jg dia ga mau.
    Tp ya emg orang ganteng itu wajar kalo agak susah diatur.😀

  4. eonnie itu si Mia kasihan banget baru muncul udah langsung mati aja, mana dia mati mengenaskan lagi
    Trus yg lebih kasihan lagi saya bukannya prihatin malah ngetawain dia, abis pikunnya itu ampun-ampunan😄

  5. mia apes bgt,blm sempet nonton konser mr.headstone,udh mati duluan.matinya konyol pula,ketimpa plakat.LoL
    itu kyu oppa cuek bebek trs g mw klarifikasi soal fans yg terluka gr2 dia n mlh tenang2 aj.bnr2 di sini dia jd nyebelin bgt,,emg manajernya smpt kesel tp bwt byr kesalahan atau mgkn pencitraan,dia ma grup bandnya hrs nunjukin simpatik sm fansnya pas konser di melbourne.
    hmm..apa ini yg ngehubungin mia sm hal penting yg hrs dia lakuin selama jd mns,spy bs pergi alam baka dg tenang?

  6. keren seperti biasa unni. huwaaaa pas baca meninggal karena ‘plakat dari idolanya’ sumpah konyol banget sampai aku ketawa sendiri2 didepan leptop

  7. Bagus banget,,,ide na beda dari ff kam yang lain soph. Ampun dech,, mia itu pikun na keterlaluan banget ya. Beli alat perekam aja sekalian, ato rumah na di kasih CCTV. Part pertama udah serius gini. Humor na minim dech soph..
    Ga sabar nunggu interaksinya mia sama kyu!!

Just talking...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s