A Cup Of Lee (Part 7)

Sebagai penulis, aku akan memberitahumu akhir kisah ini: bahagia.

Menurutku sih, begitu.

Tapi aku tidak bisa menentukan apakah akhir kisah ini akan bahagia bagimu atau tidak.

Kutegaskan, konsep kebahagiaan berbeda-beda tiap orang.

Aku akan memberimu gambaran, cerita ini tentang Song Ji Hyo, wanita yang mencintai Lee.

Tapi dia bertemu dengan Lee lain yang membuatnya menggila.

Dan sampai pada satu titik, wanita sialan ini harus menentukan kebahagiaannya sendiri.

Lee mana yang harus dipilih?

Tenang saja, cerita ini akan berakhir bahagia.

Setidaknya, menurutku sih begitu.

.

.

.

Author : Sophie Maya

Title     : A Cup Of Lee (Part 7)

Cast     : Song Ji Hyo, Lee Hyuk Jae, Lee Dong Hae

Support Cast: Song Joong Ki, Ryeowook

Genre  : unknown

Rated  : PG-19+

Length: chaptered

Type    : ?

Summary         : Lee itu seperti toxin, kau bisa jadi zombie jika terkena virusnya. Kau bisa jadi zombie… yang sedang jatuh cinta… dan hidup dengan satu tujuan: mencintainya.

ACOL 6b

Disclaimer       : this story is MINE.

 

Ji Hyo memiringkan kepalanya, membiarkan air mata mengalir perlahan dari kelopak mata indahnya, merembes turun mengaliri pipi tirusnya.

Ji Hyo melipat kedua kakinya di atas sofa, kedua tangannya di letakkan di atas paha. Dan kedua bola matanya terus menatap pada sosok wajah di depannya.

Dong Hae duduk di depannya, melipat kedua kakinya pula di atas sofa, persis seperti apa yang dilakukan Ji Hyo. Dong Hae memandangi Ji Hyo dalam diam, napasnya sudah teratur, meski wajahnya masih pucat, dan penampilannya super berantakan.

Ji Hyo membiarkan menit-menit berlalu dalam kesepian. Tak ada seorang pun yang berniat angkat bicara lebih dulu. Dia terus-menerus menatap Dong Hae, dan pemuda itu pun tak ingin tidak melakukan hal yang sama.

Ini seperti film The Artist, semua terjebak dalam dialog bisu dan ekspresi adalah penanda penting. Ji Hyo sudah tak tahu lagi bagaimana bentuk rupanya, tapi dia yakin ekspresi wajahnya menunjukkan dengan jelas betapa dia amat terluka saat ini. Dan dia begitu naïf hingga tak mampu berbuat apapun untuk menghapus lukanya.

Ji Hyo kini tahu rasanya, bagaimana tetap merindukan sesorang yang ada di depan kita. Ji Hyo merindukan Dong Hae. Meski pemuda itu hanya berjarak semeter saja dari tempatnya duduk. Meski mereka saling bertukar tatap, tapi tetap saja terasa rindu. Terasa amat sangat rindu.

Ji Hyo kini tahu rasanya, bagaimana tak bisa menyentuh saat kita bisa memegang tangan seseorang. Ji Hyo ingin menyentuh Dong Hae. Ingin menggenggam tangan pemuda itu, ingin memeluknya, entah untuk sekedar menenangkan keadaan atau menyalurkan kerinduannya yang membuncah tak terkendali. Tapi kedua tangan ini seolah kaku, tak bisa bergerak dari tempatnya. Ji Hyo seolah hanya berani “menyentuh” Dong Hae lewat tatapan matanya, menandai dengan semiotika bahwa semua tindakannya adalah pertanda dia begitu memperhatikan apapun tentang pemuda itu.

Entah itu memperhatikan bagaimana sembabnya mata Dong Hae,

bagaimana kosongnya kedua bola mata Dong Hae,

bagaimana bibir tipis Dong Hae terlihat pucat,

bagaimana berantakannya rambut cokelat gelapnya,

atau bagaimana mungkin disaat pemuda itu tampil urakan dengan baju putih kebesaran nan kusut, dia tetap saja terlihat luar biasa tampan?

Tapi jauh lebih dari pada itu, Ji Hyo tahu benar Dong Hae sedang tersiksa. Dalam kebisuan yang ditampilkan pemuda itu, Ji Hyo tahu ada nada berontak keras yang menggelegak dalam diri Dong Hae.

Mungkin pemuda itu ingin berteriak marah, mungkin pemuda itu ingin melayangkan tangannya pada apa saja untuk melampiaskan kekesalan, mungkin juga pemuda itu justru sudah tak kuat lagi dan mulai berpikir untuk ambruk ke tanah. Mengakhiri semuanya.

Ji Hyo memejamkan matanya yang terasa panas, membiarkan tetesan-tetesan air mata kembali jatuh membasahi wajahnya. Dia menggigit bibirnya yang bergetar, berusaha menahan guncangan di sekujur tubuhnya.Dia merasa sungguh tolol. Disaat dia berpikir dirinya adalah orang paling malang di dunia, dia tak pernah tahu pemuda yang disayanginya jauh lebih terluka.

Sungguh…

Ji Hyo menutup bibirnya dengan kedua tangan, dia mulai terisak.

Dia benar-benar…

Kepalanya pusing, dan air mata mengalir tanpa henti hingga dadanya sesak.

Naif…

Ji Hyo merasakan sofa yang didudukinya sedikit bergoyang. Lalu sebuah bayangan gelap seolah menaunginya. Ji Hyo membuka matanya perlahan dan tertegun melihat Dong Hae telah berada di depannya persis.

Pemuda itu mengulas sebuah senyum tipis. Tangannya terulur ke depan, ke wajah Ji Hyo. Dan pemuda itu mengusap air mata di wajah Ji Hyo dengan lembut.

“Hei…” suara Dong Hae terdengar serak. Pemuda itu menelan ludah sesaat, dan masih terus tersenyum saat kembali melanjutkan ucapan, “kau tahu aku sedari tadi menahan diri?”

Ji Hyo menatap nanar Dong Hae. “Menahan diri?”

“Sedari tadi, tiap melihat air mata jatuh dari wajahmu, aku ingin mendekat dan menghapusnya sampai tak bersisa. Tapi aku menahan diriku sendiri untuk tak melakukan ini.” Dong Hae mengembuskan napas pelan, “dan sekarang aku menyerah, aku kalah, aku… tak bisa menahan diri lagi untuk membiarkanmu menangis di depanku.”

Kata-kata Dong Hae benar-benar lembut, menyentuh hati Ji Hyo. Dan gadis itu merasa semakin sedih. Dia menundukkan kepala dan berusaha menahan tangisan.

“Hei, jangan menangis… aku yang terluka disini, kenapa kau yang menangis?”

Entahlah. Ji Hyo juga tak mengerti kenapa dia yang menangis di sini. Kenapa dia yang merasa sesak dan ingin mati.

“A-aku…”

“Namanya Samantha.”

Ji Hyo terdiam mendengar Dong Hae seperti akan mulai bercerita tentang semuanya.

“Dia dulu kekasihku, dia seorang artis pendatang baru, dan aku seorang juru masak.” Dong Hae menatap Ji Hyo lekat-lekat. Pemuda itu terus mengusap wajah Ji Hyo saat bercerita, dan Ji Hyo tak pernah merasa harus menolak sentuhan Dong Hae. “Dia meninggalkanku untuk menikah dengan produser yang bisa membuat namanya melambung.”

Ji Hyo melihat Dong Hae tetap tersenyum saat menceritakan masa lalunya seolah hanya sebuah kejadian lampau tanpa arti. Hal itu sempat membuat Ji Hyo bingung, karena Ji Hyo berpikir bahwa hal yang membuat Dong Hae terlihat semerana ini adalah karena Samantha, kan?

“Namanya benar-benar melambung, kau tahu. Wajahnya ada di tiap reklame besar di pinggir jalan, dia mendapatkan kontrak film-film sebagai artis utama, dan semua orang mengenalnya. Samantha, Samantha, Samantha…” Dong Hae menurunkan tangannya dari wajah Ji Hyo. “… Samantha. Ada gadis itu dimana-mana.”

Ji Hyo memandangi Dong Hae dalam bisu.

“Aku sempat ingin mati karena gadis itu. Menyakiti diri sendiri yang kupikir sekarang, adalah tindakan terbodoh yang pernah kulakukan. Aku berada di titik terendah saat itu, hingga akhirnya aku bisa memperbaiki diriku perlahan-lahan. Aku akan punya satu ambisi yang kupikir akan membuatku melupakannya. Aku akan jadi Chef dan menjadi Chef terhebat, dan aku akan melakukan apapun untuk mencapainya.”

Dong Hae merapikan rambut Ji Hyo lembut dan menepuk kepala gadis itu. Dong Hae tersenyum dan berkata itu adalah masa lalunya yang cukup kelam.

Ji Hyo masih diam mencerna cerita Dong Hae. Dia tahu, itu masa lalu yang sungguh buruk. dan sebenarnya dia seperti pernah mendengar hal ini, sekarang dia sadar alasan Dong Hae memiliki dua sifat bertolak belakang dalam waktu bersamaan.

Alasan kenapa pemuda itu punya dua kepribadian. Dong Hae ingin melindungi dirinya sendiri dan mengejar hal yang dianggapnya bisa membuatnya terus hidup.

“Aku…” Ji Hyo menelan ludah. “Aku mengerti semuanya sekarang… hanya saja, aku belum bisa memahami mengapa kau… menceritakan semuanya seolah hanya masa lalu belaka?”

“Karena ini memang hanya masa lalu.” Dong Hae tersenyum.

Ji Hyo mengangkat wajahnya. “Lantas… jika itu hanya masa lalu, kenapa sekarang aku melihatmu terluka begini?”

Dong Hae terdiam sesaat. Pemuda itu memiringkan kepala dan seolah sedang merangkai kata-kata yang ingin diucapkannya. “Aku…”

“Kau belum bisa melupakan Samantha?” Ji Hyo merasakan sensasi aneh saat mengucapkan kalimat itu. Entahlah, dia merasa kecewa sendiri karena baru saja melontarkan pertanyaan yang sebenarnya amat dihindarinya.

“Aku sudah melupakan gadis itu. Dia masa laluku.”

“Lantas? Oh, aku sungguh tak—”

“Aku hanya baru menyadari… bahwa sepertinya aku akan terluka lebih dalam lagi, dan itu karenamu,” potong Dong Hae. Seketika Ji Hyo terbelalak bingung, namun Dong Hae tak mengubah ekspresi seriusnya. Pemuda itu menarik napas panjang dan berkata pelan, “kau pikir, ada orang yang tidak patah hati saat tahu orang yang dicintainya, mencintai orang lain?”

“A-apa?”

Mata Dong Hae menerawang. “Kau pikir, hatiku ini sedingin es sampai-sampai aku akan membuang muka pada kenyataan bahwa dirimu sudah bertunangan?”

Ji Hyo ingin memastikan bahwa dia tak salah dengar. Sungguh, sungguh… dia tidak tahu bahwa Dong Hae menaruh perhatian pada masalah pertunangannya. Ji Hyo pikir, Ji Hyo pikir… karena saat di Aldantѐ itu Dong Hae bersikap biasa saja, maka itu berarti… mungkin saja pemuda itu hanya main-main dengannya…

“Sudah aku bilang, Song Ji Hyo… aku selalu menahan diri, di depanmu. Aku selalu menahan diri untuk tak bertingkah naïf, tapi kurasa semakin lama kutahan, aku semakin tak kuat. Aku tak bisa menahan apapun jika ini berhubungan denganmu. Katakanlah, aku gila. Dan semakin lama aku semakin kehilangan akal sehat, karenamu.” Dong Hae menjauhkan tubuhnya dari Ji Hyo. “Yang membuatku begini, bukan Samantha. Yang membuatku begini, adalah ketakutanku, karena kupikir aku sudah punya ambisi lain selain menjadi Chef.”

Ji Hyo mengerjapkan matanya. Dia sungguh tak tahu harus bereaksi bagaimana atas pengakuan mendadak Dong Hae. Ini, sungguh di luar dugaannya. Ini di luar ekspektasi terliarnya sekali pun.

“Dong Hae-ah…”

Pandangan Dong Hae meredup dan pemuda itu beringsut semakin menjauh.

Ottokke, Song Ji Hyo? Bagaimana… caranya agar aku melupakanmu sebelum jatuh… terlalu dalam?”

Dan Ji Hyo merasakan matanya kembali panas.

.

.

.

.

.

.

Aldantѐ masih seperti kemarin-kemarin, kecuali kenyataan bahwa mulai hari ini Ji Hyo tak akan lagi menyentuh internal Aldantѐ . Dia seharusnya senang karena inilah yang dulu diimpi-impikannya di hari pertama menjadi asisten dapur II di Aldantѐ .

Dapur dan kesibukan melayani pesanan adalah sesuatu yang membuatnya alergi. Dan Ji Hyo bersumpah tak akan lagi mengenal Aldantѐ jika masa kerjanya telah habis. Dia akan kembali ke kehidupan normal nan bahagia miliknya—menjadi model dan menyiapkan rencana pernikahnnya.

Tapi kenyataan justru berkata lain. Sekarang, Ji Hyo justru menjejakkan kaki di pintu depan Aldantѐ , mendorong pintunya dan masuk dengan langkah tegap.

Aldantѐ sudah buka dua jam lalu dan cukup ramai menjelang akhir pekan seperti ini. Dia melemparkan pandangan pada beberapa pegawai yang sibuk melayani tamu, dan beberapa pegawai itu tampak bingung melihat kehadirannya.

Noona, kau bukannya sudah tak berkerja lagi?” Ryeowook menghampiri Song Ji Hyo dan menatapnya dari atas sampai bawah. “Wah, Noona, tumben kau tidak pakai pakaian yang seperti karung beras. Ternyata kau juga punya pakaian layak pakai!” cengir pemuda itu.

Song Ji Hyo membenarkan kacamatanya dan tersenyum kecil. “Aku hanya ingin melihat-lihat restoran ini…”

“Oh, begitu ya.”

“Apa aku boleh memesan disini?”

“Boleh, tentu boleh, Noona.” Ryeowook mengangguk kencang, lalu menyeringai. “Aha, aku tahu. Ini klasik sekali. saat seorang asisten dapur berhenti bekerja, dia akan datang ke tempat dia dulu bekerja dan memesan pesanan yang membuat Chef kelimpungan dan menyesal kenapa memberhentikan sang asisten.”

Song Ji Hyo tertawa kecil. “Astaga, aku ketahuan sekali, ya? Aku memang sedang ingin membuat Lee Dong Hae kerepotan.”

Ryeowook mempersilahkan Ji Hyo masuk ke ruangan bagian dalam tempat tamu bisa menyantap makanan lebih privasi. Ji Hyo memandangi pantulan bayangannya di dinding keramik sepanjang koridor.

Dia masih terlihat seperti “Cheon Ji Yeon” ciptaan Dong Hae meski penampilannya sudah berubah. Mungkin karena kacamata super besar pemberian Dong Hae ini sukses sempurna menyamarkan kecantikkan wajah Ji Hyo. Atau mungkin karena seluruh karyawan Aldantѐ sebegitu bodohnya tak bisa mengenali wajah seorang model yang menyamar jadi asisten dapur?

Ji Hyo mengumpat dalam hati.

“Oh, Noona, kurasa kau harus menunggu giliran kalau ingin merepotkan Chef.” Ryeowook menghentikan langkah Ji Hyo ketika mereka sudah sampai di ruang dalam. “Lihat, Chef sedang melayani protes dari tamu.”

Ji Hyo menegakkan kepalanya dan melihat Dong Hae tengah berdiri di depan sebuah meja, mendengarkan ucapan seorang gadis. Mata Ji Hyo menyipit demi memastikan sosok gadis yang menurutnya familiar, dan Ji Hyo sedikit tersentak menyadari gadis itu adalah Samantha.

“Itu bukannya Samantha?” tanya Ji Hyo pada Ryeowook.

“Ya, sepertinya begitu.” Ryeowook mengerling jahil. “Sepertinya Samantha punya ide yang sama dengan Noona, hendak merepotkan Chef—Noona, kau mau ke mana?!”

Ji Hyo tak menggubris panggilan Ryeowook. Kakinya melangkah cepat menuju Samantha, dan ketika dia berada beberapa langkah dari gadis itu, Dong Hae menoleh menyadari kehadiran Ji Hyo. Pemuda itu melotot lebar.

“Ji… kenapa di sini?” tanya Dong Hae kaget campur heran, namun berusaha untuk bersikap dingin seperti yang biasa ditunjukkannya saat di Aldantѐ.

Mata Ji Hyo hanya menatap Samantha lurus-lurus. “Kau tahu, kau tak bisa mengganggu Chef untuk urusan pribadimu yang tak akan kelar-kelar itu, Nona Samantha!” teriak Ji Hyo.

Samantha menengadahkan kepala dan mengernyit bingung memandangi Ji Hyo. “Maaf…” kata Samantha, “kau siapa?”

“Seseorang yang berkuasa untuk memerintahkan Chef kembali ke dapur dan tidak mengurusi komplain bermodus seperti yang sedang kau lakukan,” ujar Ji Hyo.

Ryeowook berhasil menyusul Ji Hyo dan kelihatan sekali pemuda itu kelabakan dengan tingkah kurang ajar Ji Hyo.

Noona, kembali ke tempatmu… Noona… jangan mengganggu pelanggan lain…” Ryeowook menarik-narik tangan Ji Hyo.

“Seseorang yang berkuasa? Siapa?” Samantha memandang Ji Hyo dari atas sampai bawah.

Dong Hae tak bereaksi apapun dan hanya menatap tajam Ji Hyo, seolah berusaha menahan gadis itu melakukan hal-hal konyol.

“Aku yang berkuasa di sini,” ujar Ji Hyo.

Ryeowook semakin kencang menarik lengan Ji Hyo. “Noona, hentikan…”

“Memang kau siapa, ya?” Samantha mengerucut sebal.

Ji Hyo menarik napas kencang. Dia menoleh ke arah Dong Hae dan berkata dengan nada ketus, “kau boleh memarahiku karena kembali ke Aldantѐ lagi. Jangan berpikir macam-macam, aku hanya ingin mengembalikan kacamatamu ini.”

Ji Hyo membuka kacamatanya dan menyerahkan pada Dong Hae.

“Dan aku juga ingin berkata, aku mulai muak karena semua orang mengusirku dari Aldantѐ . Jadi aku pikir, mulai sekarang aku akan memegang kendali Aldantѐ saja.” Ji Hyo membuka topi kupluknya.

Dong Hae menatap Ji Hyo dalam diam.

Ryeowook terkaget melihat sosok Ji Hyo yang berbeda sekali ketika membuka topi super buluk itu. Dan lebih kaget lagi ketika mendengar Ji Hyo berkata pada Samantha,

“Aku… Song Ji Hyo. Aku pemilik Aldantѐ .”

Samantha tersedak pelan, tak percaya dengan siapa yang dihadapinya sekarang.

Dan si polos Ryeowook hampir-hampir menjatuhkan nampannya.

“Samantha, aku tahu apa yang sudah kau perbuat dan kau bisa membuat kinerja Chef kami terganggu. Jadi, silahkan keluar dari Aldantѐ sekarang, selagi aku mengusirmu baik-baik.”

Semua orang memandangi Ji Hyo dengan kaget, entah itu tamu atau pegawai Aldantѐ . Ada berita baru yang tak pernah mereka ketahui sebelumnya. Perihal rumor itu, benar adanya. Song Ji Hyo ternyata memang pemilik Aldantѐ .

Lebih-lebih, Song Ji Hyo selama ini memainkan peran sebagai asisten dapur II di restorannya sendiri. Jabatan terendah di restoran, dipegang oleh pemilik restoran?

Beberapa pegawai yang sempat memarahi dan memberikan tatapan rendah pada Ji Hyo kini serba salah dan ketakutan, berharap setelah ini tak akan ada pemecatan hubungan kerja besar-besaran.

Samantha memicingkan matanya. “Kau ingin mengusir tamu? Aku ini pengunjung disini, aku berhak—“

“Kau mau membanding-bandingkan hakmu dan hakku?” potong Ji Hyo tegas.

Skak matt. Samantha tergugu begitu saja mendengar ucapan Ji Hyo. Samantha melirik ke arah Dong Hae meminta bantuan. Wajah gadis itu dibuat murung dan bibir mungilnya mengerucut sebal.

Ji Hyo melirik pada Dong Hae, dan tak bisa mengartikan arti ekspresi di wajah Dong Hae yang balik menatap Samantha lekat-lekat.

Hal itu membuat Ji Hyo meneguk ludah, apa Dong Hae akan membela Samantha? Bagaimanapun juga Samantha adalah orang yang pernah mengisi hati Dong Hae, bagaimanapun juga wajah memelas Samantha diyakini mampu membuat seluruh pria bertekuk lutut untuk membelanya, dan bagaimanapun juga—

“Samantha…—“ Dong Hae mengeluarkan suara dengan penuh wibawa. “Pemilik Aldantѐ mengusirmu, apa kau tak dengar?”

“Tuh, dia benar-benar pemilik Aldantѐ ! Dia sungguhan Song Ji Hyo!”

Ji Hyo bisa mendengar pekikan beberapa pegawai, dan bahkan Ji Hyo merasakan tubuh Ryeowook mengerut di sampingnya. Pemuda itu menunduk mengheningkan cipta.

Samantha berdiri dari tempat duduknya dengan gelagat gusar. “Aiden, kau tak serius, kan? Aiden… kau harus membelaku…” Samantha menarik tangan Dong Hae dengan manja.

Dong Hae melepas tangan Samantha dengan gaya sedingin salju—yang entah kenapa Ji Hyo suka melihatnya.

“Pergilah.”

“Aiden…” Samantha merengek.

“Kau tidak perlu beralibi menjadi pelanggan Aldantѐ untuk menemuiku. Jangan, Samantha. Bukankah kau sendiri yang bilang tidak ingin menjadi bagian dari kehidupan seseorang yang terus-menerus di dapur? Katamu, seorang Chef tak akan pernah berhasil. Seseorang yang berada di dunia dapur yang sebegitu sempit, tak akan mampu melihat luasnya dunia? Kalau begitu kau tak pantas berada di sempitnya duniaku.”

Kepala Ji Hyo menoleh cepat ke arah Dong Hae tatkala pemuda itu meluncurkan kalimat demi kalimat yang terasa familiar.

Raut muka Ji Hyo berubah pucat saat menyadari kalimat itu sering sekali mampir di mimpinya, dan mendorong sebuah kepastian dari alam bawah sadar untuk muncul ke permukaan.

Tubuh Ji Hyo sedikit terhuyung ke belakang, tak ada yang menyadari betapa tegangnya tubuh gadis itu ketika semua pandangan orang berfokus pada Samantha yang akhirnya meraih tas dan meninggalkan Aldantѐ dengan langkah lebar-lebar penuh kesal. Barulah, ketika Samantha sengaja menyenggol pelan bahu Ji Hyo, semua orang langsung menatap Ji Hyo karena gadis itu dengan mudah terjatuh ke lantai.

“Song Ji Hyo!”

“Ji Hyo-ah!”

Noona!”

Joong Ki masuk ke dalam ruangan dengan tergesa, seorang pegawai tadi memberitahukan perihal keributan di ruang VIP dan kedatangan Song Ji Hyo. Joong Ki, beberapa pegawai, dan Dong Hae, mendekati Ji Hyo memastikan gadis itu baik-baik saja.

Namun, sekujur badan Ji Hyo justru gemetar hebat dan kedua tangannya saling memeluk penuh ketakutan.

“Tinggalkan aku sendiri! Jangan sentuh aku!” jerit Ji Hyo membuat semua orang sontak mundur ke belakang.

“Noona…” Joong Ki memandangi Ji Hyo bingung. “Ada apa—“

“Dong Hae,” panggil Ji Hyo dengan suara serak. Dong Hae menoleh penuh cemas ke arah Ji Hyo—mengabaikan tingkah angkuh yang biasa dijunjung tinggi olehnya selama di Aldantѐ.

“Ji, kau tak kenapa-kenapa? Ji, sudah kubilang jangan datang ke Aldantѐ lagi, jangan menemui—“

“Seseorang yang berada di dunia dapur yang sebegitu sempit, tak akan mampu melihat luasnya dunia…—“ Ji Hyo bergumam tak jelas, kepalanya seperti berputar-putar. “Siapa yang mengatakan itu padamu?”

Wajah Joong Ki berubah pucat begitu mendengar serentetan kalimat dari bibir Ji Hyo. Joong Ki berusaha menyentuh lengan Ji Hyo, tapi kakak perempuannya justru mengerut menghindarinya. Joong Ki menyuruh Ryeowook untuk membubarkan pengunjung di ruang VIP dan beberapa pegawai yang ikut menonton kejadian ini dari balik pintu. Ruangan ini harus ditinggalkan secepatnya oleh orang-orang yang tak berkepentingan.

“Tapi, Direktur…” Ryeowook terlihat bingung, “Noona ini memang Song Ji Hyo? Memang pemilik Aldantѐ ?” tanyanya memberanikan diri.

Joong Ki melempar tatapan membunuh pada Ryeowook. Membuat Ryeowook cepat-cepat menunduk dan melaksanakan tugasnya. Dalam waktu kurang dari semenit, ruang VIP sudah kosong, hanya tersisa Ji Hyo, Dong Hae, dan Joong Ki.

Ji Hyo masih terduduk di lantai, mendekap tubuhnya, dan peluh-peluh keringat membasahi pelipisnya.

Dia ingat… dulu, dulu, ada seseorang yang pernah mengatakan hal itu padanya. Mengatakan hal yang sama persis dengan yang dikatakan Dong Hae pada Samantha barusan.

Ji Hyo memejamkan mata ketakutan.

Dia ingat… ingat… ada suara kaca pecah, suara debuman keras benda tumpul yang berdentum berkali-kali, dan lalu… dan lalu… dan lalu… sesuatu meledak, bunyi yang memekakkan telinga serta api yang berkobar-kobar… disusul suara jeritan seorang gadis.

Napas Ji Hyo mendadak tersendat.

Bayangan di kepalanya semakin jelas.

…jeritan itu, miliknya.

“Samantha yang mengatakan itu padaku.” Dong Hae berjongkok di hadapan Ji Hyo dan mengamati wajah sang gadis penuh kekhawatiran. “Ji Hyo, ada apa?”

“Bukan, bukan, bukan!” Ji Hyo menggeleng cepat. “Bukan Samantha yang mengatakan hal itu! Bukan! Bukan!” Tanpa disadari, air mata mengalir di pipi Ji Hyo. Gadis itu merengek sambil menendang-nendang kakinya ke depan. “Bukan dia, bukan dia yang mengatakan itu! Siapa yang mengatakannya, siapa? Siapa?”

Noona, kau jangan bertingkah kekanak-kanakkan!” seru Joong Ki menarik paksa Ji Hyo untuk berdiri dan mengguncang-guncangkan bahu kakaknya. “Noona, sadar! Jaga tingkah lakumu! Jangan merepotkan semua orang!”

“Joong Ki, aku mengingatnya!” jerit Ji Hyo memotong ucapan Joong Ki. “Aku ingat! Ada seseorang yang berkata begitu padaku! Aku tak pernah bisa mengingat apapun tentang masa laluku sebelum ini, dan sekarang aku mengingatnya!” Ji Hyo menggeleng-gelengkan kepala. “Siapa yang mengatakan itu padaku, Joong Ki? Siapa yang mengatakan bahwa menjadi Chef sebegitu buruknya? Siapa? Siapa? Siapa?” Ji Hyo menangis terisak sambil memukul-mukul dada Joong Ki. “Kau pasti tahu siapa, kan? Siapa, adikku…? Siapa…? S-sia…pa…?”

Noona!” Mata Joong Ki berkaca-kaca, pemuda itu menggeleng keras. “Tidak ada yang mengatakan hal itu!”

Dong Hae menatap kedua kakak beradik di depannya dengan bingung. Dia tak mengerti apa yang tengah terjadi, namun dia yakin ada sesuatu yang begitu buruk di balik ini semua.

Sesuatu yang mungkin sungguh amat mengerikan.

“Kau dan seluruh keluarga selalu menutupi segala sesuatunya dariku!” teriak Ji Hyo.

Joong Ki menggeleng kencang. “Noona, bukan begitu. Kau salah paham.”

“Kalau begitu, katakan padaku apa yang terjadi lima tahun lalu?”

Noona, kenapa tiba-tiba…”

“Kau menyembunyikannya! Benar, kan? Kau bahkan menyuruhku menjauh dari Aldantѐ karena sesuatu yang tak kumengerti! Kau… kau…” napas Ji Hyo tersengal-sengal. “Aku akan mencari tahunya sendiri!”

Noona!”

Joong Ki berusaha menahan Ji Hyo yang hendak pergi. Namun kekuatan Ji Hyo lebih besar dibanding Joong Ki. Sehingga dengan mudah gadis itu bisa melepaskan diri dan berlari keluar ruangan.

Noona!” Joong Ki mengacak-acak rambutnya frustasi. Dia hendak menyusul Ji Hyo, namun tangannya justru ditahan Dong Hae.

“Apa yang sebenarnya terjadi disini, Direktur?” tanya Dong Hae. “Aku tahu aku lancang, aku tahu ini bukan urusanku, tapi kumohon… bisakah kau memberitahuku? Aku benar-benar peduli dengan keadaan Song Ji Hyo,” Dong Hae memberi jeda sejenak, “kau pasti sudah tahu seberapa besar kepedulianku padanya.”

Joong Ki menatap Dong Hae dengan luka di matanya. Tapi tak ayal Joong Ki meregangkan otot-ototnya yang sedari tadi menegang, dan dia menatap balik Dong Hae seolah paham benar maksud ucapan pemuda itu.

Joong Ki tahu, seberapa besar perhatian Dong Hae pada Ji Hyo sejak pertama kali pemuda itu datang ke Aldantѐ . Dong Hae sering bercerita padanya, meski tidak begitu lengkap dan meskipun dengan berusaha menyembunyikan ekspresi wajahnya dibalik keangkuhan.

Begitu mendengar informasi bahwa gadis yang tanpa sengaja ditemui Dong Hae di lampu lalu lintas saat hari pertamanya di Korea Selatan adalah pemilik Aldantѐ , Dong Hae langsung terlihat tertarik padanya. Joong Ki tahu, itu bukan ketertarikan biasa.

Saat mendengar Dong Hae berkata, Ji Hyo satu-satunya gadis yang membuat dirinya bernyanyi dan tertawa setelah bertahun-tahun hanya tertawa karena memenangkan penghargaan memasak, Dong Hae menceritakannya dengan binar di bola matanya. Joong Ki tahu, binar itu pertanda cinta.

Dan ketika akhirnya Joong Ki mendapati hubungan Ji Hyo serta Dong Hae begitu cepatnya akrab. Joong Ki tahu, dia sudah terlampau jauh membiarkan semua ini tanpa berbuat apa-apa.

Namun, di satu sisi,Joong Ki merasa Dong Hae bisa jadi satu-satunya orang yang mengerti kesakitan yang diderita kakaknya. Dong Hae dengan segala masa lalu kelamnya, mungkin bisa mengerti kenapa Ji Hyo harus melupakan jati dirinya.

“Aku hanya—kami semua hanya…” Joong Ki menundukkan kepala lemas. “hanya tidak ingin Ji Hyo tahu orang yang membuatnya celaka.”

Dong Hae terdiam. Menunggu kalimat selanjutnya yang akan dilontarkan oleh Joong Ki. “Orang yang membuatnya celaka?”

Joong Ki mengangguk. “Kecelakaan mobil lima tahun lalu itu…”

.

.

.

.

.

.

Heels Ji Hyo berhenti tepat di depan pintu apartemen Lee Hyuk Jae. Satu-satunya orang yang ingin dilihatnya, ingin direngkuhnya, dan ingin menangis di bahu bidangnya saat ini.

Menurutnya, semua orang mendadak menjadi jahat. Semua menjadi arogan dengan tingkah masing-masing. Terlebih soal masa lalunya.

Ji Hyo menatap kosong pintu apartemen.

Masa lalu? Apa yang sebenarnya terjadi lima tahun lalu? Ji Hyo ingin tahu. Terlebih karena ingatan itu muncul lagi. Terlebih ingatan itu lama-lama membuatnya kesal. Terlebih… terlebih…

Ji Hyo membuka pintu apartemen itu dan melangkah masuk dengan tertunduk lesu. Hyuk Jae tadi mengiriminya pesan sedang tidak berada di apartemen jadi sebaiknya nanti malam saja Ji Hyo mengunjungi pemuda itu. Namun Ji Hyo tidak tahu harus kemana lagi. Dia yakin Joong Ki berpikir Ji Hyo pulang ke apartemen pribadinya dan akan menyusul ke sana. Ji Hyo tak ingin bersitatap dengan Joong Ki untuk sementara waktu.

Ji Hyo membuka sepatu dan menaruhnya di rak. Kemudian menggantungkan coatnya di gantungan dekat pintu. Rambutnya meriap-riap ke segala arah namun tak dipedulikannya sama sekali.

Sebuah suara percakapan dari ruang tivi mengusik perhatian Ji Hyo, membuat langkahnya terhenti.

Hyuk Jae bilang, dia sedang latihan lari di lapangan.

Tapi, Ji Hyo jelas-jelas mendengar suara serak milik Hyuk Jae. Apa mungkin pemuda itu sudah pulang?

Bibir Ji Hyo mengulum senyum. Langkahnya sedikit meringan ketika berjalan menyusul ke ruang tivi. Sedikit mengendap-endap karena dia berniat mengejutkan tunangannya. Dan Ji Hyo nyaris terkikik membayangkan wajah terkejut Hyuk Jae jika melihat kedatangannya nanti, tepat saat dilihatnya Hyuk Jae duduk di sofa yang memunggunginya, merangkul bahu seorang gadis, lalu tertawa-tawa renyah.

Ji Hyo tertegun. Dan matanya membeliak lebar ketika melihat Hyuk Jae mencium lembut bibir gadis itu…

Gadis itu…

astaga.

—Song Chae Rin?

.

.

.

.

.

.

[Author’s Cucuap Cuap-ap: Hyuk Jae’s Dirtiness Part II]

“Oke, jadi begini… kalau kau saja yang datang ke apartemenku saat Ji Hyo tak sempat datang, bagaimana?”

Aku mendelik dan memandangi Hyuk Jae dengan mata pelototan maksimal. “Kau kira aku pembantu?!”

Hyuk Jae menunjukkan cengiran lebar. “Bukan begitu, kau tahu kan… kau juga yang membuat karakterku begini.”

“Oh, ya? Masa?”

“Sophie…”

Aku mengangkat bahu tak peduli.

Lee Hyuk mendesis sebal dan mulai mengetik sesuatu di ponselnya. Entah apa itu, aku tak tahu. Tebakanku sih, dia tidak sedang mengetik pesan pada agen pencari pembantu. Dan tidak juga mengetik pesan pada Ji Hyo.

Dan tebakanku, selalu betul.

Aku mendongakkan kepala ketika pintu kafe terbuka dan bunyi “klinting klinting” memenuhi ruangan yang sedikit lengang ini. Seorang gadis masuk ke dalam kafe sembari memegang clutch berkilau, tebakanku, Vuiltton.

Gadis itu mengedarkan mata ke sekeliling, lalu saat bersibobrok dengan mataku, gadis itu tersenyum. Gadis itu melangkah ringan ke booth-ku.

“Hai, Sophie…” sapanya.

Aku mengangguk kaku. “Hai.” Lalu memandang Hyuk Jae seolah meminta penjelasan.

“Oh, kau lupa dia siapa?” tanya Hyuk Jae melihat ekspresi bingungku.

“Tidak, aku tidak lupa. Hanya saja aku bingung kenapa dia ada disini,” ujarku pelan.

Kutatap Hyuk Jae dan gadis itu bergantian. Sang gadis duduk di lengan kursi tempat Hyuk Jae duduk, dan Hyuk Jae melingkarkan tangannya di pinggang sang gadis.

“Dia kekasihku, masa kau lupa?” Hyuk Jae tersenyum sambil menengadah menatap sang gadis. “Setiap kejuaraan yang kulalui, selalu kupersembahkan untuknya…—Song Chae Rin.”

“Ahh… aku ingat…” aku mengangguk-anggukkan kepala. “Song Chae Rin.”

Gadis itu, Song Chae Rin, mengangguk. “Ya, Sophie. Aku tadi baru dapat pesan dari Hyuk Jae untuk menyusulnya ke sini.”

“Oh… jadi Hyuk Jae mengirimimu pesan?” aku melirik Hyuk Jae. “Kukira dia mengirim pesan ke agen pembantu,” gumamku tak jelas.

Aku menatap Song Chae Rin dan Hyuk Jae yang saling melempar canda, bergantian. Dan sebersit senyum canggung menghiasi bibirku.

.

.

.

.

.

.

See you next part~

.

.

.

hei, setelah aku dapat banyak banget komen dan masukan yang sebenernya udah kutampung dari setahun lalu ttg ff Too Young To Marry, dengan ini aku menyatakan bakal buat satu ff tentang Kyuhyun dan Suzy, pengganti Too Young To Marry yang rencananya bakal di delete secara permanen. Dan nanti ff Kyuhyun dan Suzy itu bakal beda ceritanya dengan Too Young To Marry. Bagaimana? Apa kalian setuju?🙂

33 thoughts on “A Cup Of Lee (Part 7)

  1. aaahh.. feelingku bener, kirain khayalanku aja yg terlalu liat bin ngawur ternyata emang bener.

    joongki sama chaerin gak mau jihyo deket sama lingkungan aldante karena takut jihyo bakal inget. joongki takut jihyo tersakiti, chaerin takut rahasianya kebongkar. terus kenapa pas sadar yg diinget jihyo itu hyukjae? karena sebelum kecelakaan dia terakhir kali ketemu hyujae dan ji itu suka ama hyuk. alam bawah sadarnya nyuruh dia melupakan kejadian buruk buat melindungi dirinya supaya gak tersakiti, mirip konsep drama secret garden (dikit). jadi ji semacam suggest dirinya sendiri kalo hyuk sayang sama dia dan mereka pacaran..

    astagaaa.. komentarku sotoy ya kak? hahaha itu imajinasiku aja, jadi kalo aneh abaikan aja

  2. part ini plng seru,,
    sebenarnya sudah curiga hyukjae selingkuh sama chae rin, pas chae rin tau hyukjae gk pulang, padahal kan ji hyo gk ksh tau k chae rin..

  3. yaampun. jahat banget bikin ceritanya.
    aku kira tadinya jihyo yg jahat, ternyata itu semua salah. fix parah bgt part ini.
    gue benci sekaligus cinta sama tulisanlo sop!!!!!!

  4. Annyeong, new reader ^^
    Daebaaakkkk!!! Bagus banget ceritanya setelah ngikutin dari part 1 (mian baru comment)
    Alurnya bener2 bagus bgt! Ketata bgt gitu, suka banget deh pokoknya!
    Ohiya aku jg mau request dong, ff nya song jihyo-song joongki couple atau song joongki-sunny coupke. Aku shipper mereka😀 hehe
    Sekali lagi ffnya keren! Gomawo ^^

  5. ya ampuun, hyukjae!!!!
    kasian ji😦 aku nyesek baca author cuap cuapnya, huaaaa
    aku selalu suka cara kamu nulis deh soph, di antara humor, kamu bisa nyelipin angst dengan pas banget, sesuatu yang aku masih coba buat belajar tapi susah. saluuut

    PS : maafin langsung komen di part 7 ya mbaak

  6. ikut cape bacanya jadi jihyo… di part ini, semuanya bkin aku deg2an… pas bagian jihyo mw ngagetin calon tunangannya juga aku g bisa ketawa, ttp waswas…
    selalu g sabar nunggu part selanjutnya…
    dan untuk yg head stone ak blm berani baca… takut kembali harap2 cemas menunggu datangnya part selanjutnya…hihi
    aku pikir yang bikin ke celakaan jihyo itu eunhyuk deh…
    *maaf komennya random….
    aku sih yes, keren banget lah….
    *tuh kan random lagi….^^

  7. jihyo kasian😥 itu… Sama awalannya aku bingung thor, aku udah lupa sama cerita part sebelumnya:v bahkan aku lupa siapa song chaerin-_-v kalo ngga salah itu temennya jihyo sendiri .-. aku pelupa thor😥 hyuk selingkuh??😮 udah jihyo kamu sama dongdong lee aja :3
    setuju.. setuju!! too young to marry, aku ngga tau ff itu ._.v
    Keep writing authoooooorr~^^

  8. Ini nunggunya luama shop, dan dapetnya kependekan. Next part minta yg panjangnya kayak sepur kelinci hehe oh ya mengenai ffnya.. Kalo gt dah ga ada alasan lagi buat donghae mundur dekatin jihyo ya kannn ?! Btw masih penasaran sama yg nyelakain jihyo dulu, apa itu hyuk? ato chaerin? Mungkinkah keluarga jihyo sendiri ?

  9. Oh my god, banyak kejadian memilukan disini, entah itu donghae atau ji hyo, apalagi bagian akhir ya ampun g nyangka *gelengkepala..
    Jangan” yg bikin ji hyo celaka 5 thun lalu itu si kunyuk, eh maksud aku eunhyuk, tp knp?

  10. Ah, iya! too young to marry!
    Aih, aku aja sudah melupakannya.
    Ya, ganti aja soph…
    Terserah kau saja.😀

    Soph, jgn bilang penyebab kecelakaan jihyo itu si eunhyuk jelek!
    Jgn bilang dia cuma manfaatin jihyo!
    Jgn bilang hyukjae jelek sok jd playboy!
    Ya ampun, aku ga tega ngelihat cowok jelek macam hyukjae jd playboy soph…
    Ga tega banget.

    hawa-hawanya kau bakalan misahin couple favoritku ya kayaknya soph..
    jihyo-hyukjae itu tak boleh dipisahkan soph…
    Ga boleh.

  11. Apa apaaaan iniiiii???????? #tiupterompet
    Okeee masuh belum jelas pake bangeeet itu tentang kecelakaan ji hyo masih banyak banget yg belum ke ungkap dan aku tau endingnya ji hyo bakalan sama siapa yaaah walaupun agak2 gk setuju sih tapi mau gimana lagi dong yaaa itu mah terserah penulis aja hahaha
    Tuhkan bener hyuk pasti punya cewek lain soalnya kelihatan banget dia agak kurang peduli sama ji hyo dan apa itu! Dia udah pacaran lama sama chaerin? Hufft makin ribet gitu
    Hmm menurut aku ji hyo sama hyuk dulunya teman akrab atau ji hyo pernah naksir sama hyuk tp hyuk keburu sama chaerin dan ji hyo kecelakaan, hilang ingatan dan utk menebus rasa bersalah hyuk milih buat pura2 jd pacar ji hyo? Hmmmm asli sumpah aku gaje banget wkwkw
    Ditunggu lanjutannya >.<

  12. ja.ngan.bi.lang.hyuk.itu…..penyebab jihyo kecelakaan?!?! /zoom in zoom out/ oh shiet jangan eonni, udah cukup saya diduain sama jihyo, masa sekarang sama song chaerin juga.

    SAKITNYA TUH DISINI!! /menangis dramastis;meraung kemudian tertawa ironis/ memang sulit menjadi separuh dari pria terkenal itu /mendadak gila/

    SOMEONE CALL THE DOCTOR!!!

    (**: pasti saya komentator paling….. itu deh. lupakan. kau akan sakit kepala, eonni /sigh/)

    o-oke, then… –kukira akan ada jihyuk moment di part ini seperti yang kuharapkan ~,~ ternyata tidak, oke… (seharusnya saya berterima kasih, pesaingku berkurang satu /?)

    setelah mengagumi fanfict oreo yang membuat saya tiba tiba kesemsem sama sifat gay donghae, sekarang berubah, jadi si angkuh donghae, si hangat donghae. semua berubah. dan kukira fanfict oreo akan ada hyukjae…–LAGI?!?!

    Oke, mungkin hanya sampai sini saja. terimkasih sudah membuatku seperti ini sakitnya luar biasa :’)

    -kecup hangat,

    skylar ziv a.k.a sabella friska–

  13. Merinding baca author cuap2nya
    Ada sambungannya dr author cuap2 part berapa itu:/
    Ga suka hyukkk

    Plis jgn buat yg macam2 lagi.donghae smaa ji. Dan donghae jgn mati –“

  14. Kenapa joongki rahasiain ini semua?
    Apa maksudnya?
    Joongki jgn2jg tau hyuk selingkuh???
    Aduhhh pusinggg
    Banyak teka teki.ini
    Always ya sophie…bikin org penasaran

  15. Disini komen2ya malah bikin lucu
    Aduh gue gak jadi sedih deh
    Bualakakaka
    Hanya berharap seperti yg lain
    Donghae kagak mati
    Itu aja
    Kekeke

  16. Chaerin sahabat apaan tuh
    Sumpah ya nyebelin

    Betewe aq suka bgt adegan d apartemen
    Sweet

    Dan ff kyuhyun suzy? SETUJUUUU

  17. Ih jadi sebel sama hyukjae
    Cewek kyk jihyo diselingkuhi
    Y udh jihyo selingkuh sama donghae aja
    Biar sama2selingkuh *eh

  18. Aku nangis
    Donghae trnyata galau gara2 jihyo
    Ya ampun segitunya

    Aku jadi ngepans sama donghae
    Ini ff rekomendasi banget ini
    Semua dapet
    Lucu romantis sedih
    Onnie lanjutannya dong
    Tgl nyari tau apa yg trjadi 5 taon lalu

  19. Apaaaaa
    Hyukjae selingkuhhhh???
    Jadi jadi pacar hyuk jae itu… chaerin?
    Sumpah chaerin?
    Waaaaaaa geram banget
    Jangan2 itu yg d blg samantha kl pacar hyuk itu bukam ji?
    Aduh part ini penuh teka teki
    Huhuhu
    Penasaran next part jgn lama2 soph….

    Dan itu ff kyuhyun sama suzy? Waaaa couple kesukaan aku itu
    Fufufufu
    Aq setuju kl ada ff ttg mereka :3

  20. well, tiba2 pengin jambak rambut hyukjae >_< knp dia selingkuuh~ sama chae rin pula :3 pdhl tendensi aku berpihak ke jihyo-hyukjae. tapi tapi tapi… ah… *speechless*
    dan disini msh belum terungkap kisah utuh masa lalu ji hyo:/
    can't wait for the next part :3

  21. Donghae-ji hyo…donghae-ji hyo!!!
    tuh kan pasti ada apa-apa sama hyuk. tp ga nyangka kl dia selingkuh sama chae rin. ji hyo sama chae rin kan sahabatan!! hyuk-chae rin pinter banget yag akting na. pantes jongki ga suka sama hyukjae. pokoknya ji harus happy sama donghae

  22. aigoo eunhyuk berani beraniny engkau selingkuh d belakang song jihyo, ckck dasar sok tampan monkey satu ini. sedih bgt kenapa kluargany jihyo nyembunyiin kejadian kayak gitu, waktu tau gini kan jadiny jleb jleb bgt, mudahmudahan d ff ini donghaeny gk mati seperti ff ff sebelumnya dan berakhir bahagia sentosa:D
    d tggu part selanjutny ya kk sophie:)

  23. Nungguin ff ini satu lama banget
    Seneng akhirnya muncul sambungannya
    Tapi
    Kenapa trrnyata hyukjae selingkuh?
    Huhuhuhu
    Ceritanya makin ga ketebak

  24. apa??! *teriak pake TOA
    ga kepikiran banget deh hyukjae selingkuh sm chae rin, jangan2 hyukjae jg yg dimaksud sm jongki,

    tadinya ga tega kalo donghae ngerebut jihyo dr hyukjae tp kalo gni ceritanya aku jadi tambah dukung donghae sm jihyo.

Just talking...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s