OREO [2/2-END]

Ji’s Roomate Rule:

  1. You must be a girl, I don’t even want to imagine that I will falling in love and having sex with my roommate.
  2. You must be a genius when it comes to kitchen, I can’t cook and don’t tell me to turning on the stove or our apartement will be on fire.
  3. You have paid 35% from the rent cost, why not 50%? Because it will be difficult kick you off when you have a half investement with this apartement.
  4. Don’t yelling at me or staring at me because I’m more pretty than you, and don’t even think to invite your boyfriend if you knew he will falling in love with me and broke your heart.
  5. We are roommate, we are best buddies, we are family, so feel free to naked in front of me—as long you proud of your belly button.

Regards,

Song Ji Hyo.

 

Author : Sophie Maya

Title     : OREO

Cast     : Song Ji Hyo, Lee Dong Hae

Support Cast: Siwon, Leeteuk

Genre  : unknown

Rated  : PG-19+

Length: 2/2

Type    : ?

Summary         : Oreo; Song Ji Hyo Sandwich Cookies With Dong Hae Flavor

oreo34h

Disclaimer       : this story is MINE.

 

Ji Yong menatapku dengan kedua mata super sipitnya. Baju seragam kebesarannya sengaja dikeluarkan dan ketiga kancing atas sengaja dibuka. Kupikir itu seksi, dan memang begitulah kenyataannya. Ji Yong itu seksi. Semua orang mengakuinya. Ji Yong merokok dan bibirnya terlihat kehitaman, itu pun menambah beberapa tingkat nilai keseksiannya.

Aku memuja Ji Yong seperti seorang sesaeng fan yang menggilai idolanya. Bagiku Ji Yon itu sumber inspirasi tanpa batas. Mungkin itu juga yang membuatku menerima Ji Yong menjadi kekasihku, orang bilang kami sempurna jika bersanding, seperti angin yang berarak menerbangkan serbuk bunga di sore hari. Aku dan Ji Yong tak terpisahkan dan begitu indahnya ketika bersama.

“Aku menyukaimu karena kau cantik,” ujar Ji Yong sambil tersenyum kecil dan menghembuskan asap rokoknya ke wajahku. “Kau mau menjadi kekasihku?”

Itu setahun yang lalu, ketika Ji Yong mengatakan betapa dia ingin memilikiku. Aku menyukainya dan dia menyukaiku. Kami berada dalam tawa tiap harinya, dalam hal-hal gila dan menakjubkan yang dilakukan bersamanya, terasa begitu sempurna.

Tapi kini, rasa-rasanya semua kenangan itu hancur berkeping-keping, melihat Ji Yong berdiri di depanku, menatapku dengan sorot dinginnya.

“Ji Hyo… aku membencimu karena kau cantik,” ujar Ji Yong sepatah demi sepatah kata dan suara seraknya terdengar semakin samar. “Aku rasa cukup sampai disini.”

Aku memandang Ji Yong dengan sorot tak percaya. Semua orang di koridor sekolah menoleh kea rah kami, mendekat perlahan, dan berbisik-bisik agar tak terdengar, sayangnya aku masih bisa mendengar apa yang mereka bisikkan. Kata-kata “putus”, “dicampakkan”, dan “mana mungkin” menggema seperti dengungan semut.

Aku melihat Suji, berdiri di belakang Ji Yong, menatapku dengan senyum penuh kemenangan. Seolah berkata, “apa kau ingat apa yang pernah kukatakan dulu, Ji? Kau tak cocok dengan Ji Yong…”

Aku memejamkan mataku yang terasa perih. Kata-kata Suji beberapa bulan lalu seolah menamparku.

“Aku menyukai Ji Yong, Ji… aku tahu Ji Yong kekasihmu. Tapi aku tetap dan akan terus menyukainya.”

“Jika kau pikir pantas untuk membenciku, bencilah aku. Tapi sebenarnya, yang seharusnya dibenci disini adalah kau, Ji.”

“Apa kau tahu bahwa, kau tidak bisa mendapatkan apapun hanya karena kau cantik? Aku tahu kau gadis paling cantik di sekolah, aku tahu kau pantas dengan Ji Yong, tapi kau terlalu naïf karena berpikir tak ada orang lain lagi yang pantas bersanding dengan Ji Yong selain dirimu.”

“Kau itu… naïf dan menyebalkan, Song Ji Hyo… aku membencimu karena kau cantik.”

Aku menatap Ji Yong sekali lagi. Pemuda dengan mata sipitnya, pemuda dengan rambut acak-acakkannya, pemuda dengan bibir hitamnya, pemuda yang membuat hatiku hancur berkeping-keping.

“A-aku…”

Mataku memburam, ketika Suji mendekati Ji Yong dan melingkarkan tangannya di lengan Ji Yong. Aku segera berbalik dan berlari menjauh, sepatuku berdebam-debam di sepanjang koridor sekolah. Air mataku turun membasahi wajahku.

.

.

.

.

.

.

It’s everything okay?”

Chae Rin menatapku cemas.

“Tubuhmu lemas sekali, Song Ji Hyo.”

Aku menekan-nekan pelipisku dan berusaha tersenyum.

“Aku tidak apa-apa, hanya bermimpi buruk semalam.”

Chae Rin memandangi cemas. “Mimpi apa?”

“Mimpi bahwa aku masih secantik dulu.”

Aku tahu, ucapanku barusan membuat Chae Rin menahan napas. Gadis itu tahu benar masa laluku. Masa-masa kelamku. Masa dimana aku terjatuh, ketika semua orang yang tadinya kupikir menyayangiku, hanya ingin menjatuhkanku dalam keterpurukan.

“Suji… dia sahabat paling buruk, ya…” desah Chae Rin kemudian.

Aku tersenyum getir. “Kurasa punggungku menyentuh pisau yang sudah disiapkannya saat itu.”

“Ya, dia menusukku tepat di belakang.”

Aku tertawa hambar. Suji dan aku memang teman dekat, awalnya. Aku, Suji, Ji Eun, dan Nara, kami genk anak perempuan paling terkenal. Aku ketuanya dan Suji sudah seperti wakil ketuanya. Semua berjalan menyenangkan sampai akhirnya Suji menyatakan bahwa dia menyukai Ji Yong, pacarku. Dan mendeklarasikan diri untuk merebut Ji Yong dariku. Persahabatan kami jelas retak, terlebih ketika akhirnya Suji berhasil membuat Ji Yong berpaling dariku. Suji berpikir bahwa aku tidak lagi pantas disebut sebagai ketua genk, dan menghasut Ji Eun serta Nara menjauh dariku.

Chae Rin memiringkan kepalanya. “Mungkin saja dia akan balas dendam lagi padamu… dia ingin mempermalukanmu lagi, Song Ji Hyo… di reuni nanti.”

“Entahlah, mungkin.” Aku mengangkat bahu, lalu menghela napas panjang. “Apa yang harus aku lakukan, Chae Rin?”

Chae Rin tampak berpikir sebentar, kemudian menjawab pelan, “kau harus cari pasangan… yang bakal mendapingimu saat reuni nanti…” Chae Rin memutar-mutar pelunjuknya di atas meja. “… yang bisa mengalahkan Ji Yong dalam segala hal…”

Aku memejamkan mata. Itu tidak mungkin, sampai saat ini, bahkan sosok Ji Yong masih terus terngiang di kepalaku. Sulit melupakan keberadaannya. Meski kami berpisah dengan cara menyakitkan, tapi bagaimanapun juga pemuda itu adalah cinta pertamaku. Orang yang tak bisa kau lupakan dengan mudah meski mati-matian kau berusaha melakukannya.

Ini menyedihkan. Ini menyakitkan. Ini terdengar begitu naïf. Tapi ini yang sebenarnya terjadi.

“Aku rasa aku tak bisa menemukan yang bisa… menggantikan…”

“Sst, kau tak bisa berkata begitu.” Chae Rin menggenggam tanganku erat-erat. Ekspresi wajahnya terlihat tidak yakin, tapi gadis itu menatapku penuh ketulusan saat berkata, “kau harus, harus, harus melupakan Ji Yong. Aku akan membantumu mencari pasangan yang pantas untuk reuni nanti. Aku janji.”

Aku tak bisa melakukan apapun selain menganggukkan kepala.

.

.

.

.

.

.

 

Kedua tanganku dengan patuh saling menggenggam dan kepalaku tertunduk, menunggu kalimat apapun yang keluar dari bibir Siwon. Pria itu sibuk mengecek hasil kerjaku, mengamatinya lamat-lamat, dan mengusap-usap dagunya seolah otaknya itu ada di dagu.

Oke, aku tahu aku terdengar sarkastik. Tapi ini semata-mata karena aku sudah menunggu komentar SS sejak dua jam lalu. Dan aku terus berdiri dengan posisi bak anak SD siap dihukum, selama dua jam, tanpa istirahat. Kakiku sudah kram dan kepalaku seperti mau copot dari tubuhku. Aku sampai berburuk sangka kalau SS dulu adalah teacher wannabe yang suka sekali sama latihan upacara. Atau mungkin SS tahu kalau sudah belasan tahun aku tidak ikut upacara bendera, jadi dia mau iseng melatih kemampuanku berdiri tanpa tumbang? Uh, oh, kalau begitu kenapa tidak sekalian saja dia memasang lagu Mengheningkan Cipta?

“Song-ssi…”

Oh, Yesus, thanks! Akhirnya Siwon ngomong juga!

Aku buru-buru mengangkat kepala dan memasang cengiran super manis dan manja demi menunggu SS melanjutkan ucapannya. Diam-diam aku berdoa agar Siwon tak menyuruhku melakukan revisi lagi atau lebih baik aku ikut audisi KPOP STAR dan jadi artis saja. batas kesabaranku sebagai editor layout ada batasnya, sungguh. Meski harga diriku rendah, serendah gajiku, tapi menyangkut kesabaran aku benar-benar punya limit.

“Ya, Pak Bos?”

“Ini sudah bagus.”

Finally yeaaaaayyy! Hidup Siwon Sialan!

“Terimakasih, Pak Bos.” Aku tersenyum berlebihan tanpa bisa kucegah. Oh kasur, akhirnya aku bisa mencicipinya karena sudah dua hari ini aku bergadang dan mataku sudah balapan dengan panda bermaskara.

Aku baru akan beranjak keluar saat tiba-tiba sebuah ide terlintas di otakku. Ide yang sedikit nyeleneh, tapi mungkin bisa jadi salah satu jawaban atas masalahku.

“Hm, Pak Bos…”

“Ya?”

Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. “Sabtu ada acara?”

“Ya, kenapa?”

“Oh…” aku mendesah kecewa. “Tidak apa-apa.”

Siwon menghentikan kegiatannya. “Memang kenapa?”

“Tidak ada, Pak Bos.”

Alis ulat kaki seribu Siwon berkerut-kerut. “Kalau saya sabtu tidak ada acara, memangnya kenapa?”

Aku maju sedikit dengan ragu-ragu. “Err, tadinya mau minta tolong… untuk menemani saya ke acara reuni SMA.”

“Reuni SMA kamu?”

“Iyalah, reuni SMA saya. Masa reuni SMA Taeyon SNSD, Pak.”

Siwon memandangiku lekat-lekat. “Wah, sayang sekali… sebenarnya saya ingin sekali menemanimu. Tapi saya sudah keburu ada janji dengan sepupu saya yang baru datang ke Seoul, saya mau ajak dia jalan-jalan.”

“Oh, tidak masalah, Pak Bos. Saya hanya ingin bertanya… saya juga… yah, tak terlalu memaksa dan yah… anggap saja ini seperti omong kosong belaka.” Aku menunjukkan cengiran super garing.

Siwon masih tetap menatapku. “You know, Song-ssi… aku pernah datang ke reuni SMA-ku dan gadis-gadis di sana selalu hebring akan satu hal: pasangan mereka. Mereka akan membanggakan pasangan yang dibawa masing-masing gadis seperti pasangan itu adalah pajangan boneka bali. Dan sejak saat itu aku mengerti, ‘ah, ini memang tradisi para perempuan saat reuni, mengenalkan pasangan masing-masing’…” Siwon mengambil jeda sesaat, “dan karena aku tahu benar kau adalah gadis metropolitan yang masih melajang dan selama ini lebih mementingkan pekerjaan di atas segala-galanya, aku yakin ini adalah masalah besar buatmu. Kau tentu tak punya pasangan untuk reuni nanti.”

Tek.Tek.Tek. Siwon seperti biksu yang sedang memukul batok kelapa. Semua ucapanya tepat mengena sasaran. Dan hal itu langsung membuatku diam seribu bahasa.

“Hm… apa perlu aku menyuruh Eunhyuk dari bagian iklan untuk menemanimu ke pesta? Dia pria yang cukup tampan dan ideal untuk diperbincangkan, lho,” ujar Siwon menawari. “Kau mau aku yang menelepon Eunhyuk dan menyuruhnya?”

“A-ah, jangan, jangan, Pak Bos!” aku buru-buru mencegah Siwon. Aduh, aku malu berat. Apa kata orang-orang nanti kalau tahu aku sedesprate ini hanya untuk mencari pasangan reuni SMA? Sampai-sampai bos besar harus turun tangan? Woaaaah, kurang heboh badai apa lagi?

“Saya… bisa cari… sendiri kok.” Aku menelan ludah super duper canggung.

Siwon menatapku penuh selidik. “Benar?”

Aku mengangguk. “I-iya, benar. Pak Bos tidak perlu melakukan apapun.”

Siwon menganggukkan kepala. “Maaf sekali ya, Song-ssi. Saya sebenarnya sungguh ingin menemanimu, membantumu dalam kesulitan, karena ya kalau bukan saya, saya juga bingung mau siapa lagi, iya kan?” Siwon menarik napas panjang. “Semoga kamu bisa menemukan pasangan yang benar-benar ideal, ya…”

Aku mengangguk-angguk tolol. “Iya, Pak Bos…”

Siwon tersenyum tulus dan mempersilahkanku untuk keluar dari ruangan. Aku berbalik dan berjalan dengan linglung. Sebenarnya kejadian ini cukup aneh juga, kenapa tiba-tiba SS baik sekali padaku? Sampai repot-repot mau menelepon karyawan dari bagian periklanan segala. Atau jangan-jangan aslinya SS memang baik hanya aku saja yang tak menyadari karena terlalu terpaku pada kegalakan dan alis ulat kaki seribunya?

Diam-diam aku terharu. Oh, selama ini aku sudah salah menilai SS. Bahkan SS berkata dia juga ikut bingung kalau bukan dirinya siapa lagi yang akan menemaniku ke acara reuni? Itu seolah mengisyratkan bahwa SS…

Aku terdiam, berpikir sebentar.

Wait, wait, wait, kalau Siwon merasa tidak ada yang pantas menemaniku selain dirinya, bukannya itu berarti… Siwon itu merasa puaaaliiinggg guanteng segalaksi?!

Aku berhenti melangkah, dan kembali membuka pintu ruangan Siwon.

“Lho, Song-ssi, ada apa?” Siwon bingung melihat kepalaku menyembul dari balik pintu.

“Pak Bos, maksud Bapak mengatakan kalau tidak ada pria lain yang pantas menemani saya itu… artinya… tidak ada pria lain yang seideal Bapak, begitu?”

Siwon menatapku sebentar, lalu mengedipkan mata. “Iyalah.”

“Oh, shit, saya sudah kadung terharu dengan sikap bapak! Permisi!” aku merutuk kesal dan setengah membanting pintu ruangan saat pergi.

Terdengar suara umpatan-umpatan Siwon dari dalam ruangan, tapi aku tak mempedulikannya. Ck, rasa haruku pada Siwon Sialan sudah kubuang jauh-jauh. Sekali menyebalkan, bosku itu tetap saja menyebalkan, seumur hidup.

.

.

.

.

.

.

So, Ryeowook said that he couldn’t help you. He has another schedule with his Mom.” Chae Rin mencoret nama Ryeowook dari daftar nama yang dibuatnya di selembar kertas bekas belanja. “So… kita masih punya… satu, dua, tiga, empat… oke, sepuluh orang lagi untuk ditanyai.”

Aku mengerang kesal. “Oh, bisakah kita hentikan ini? Aku sudah menanyai semua orang yang kukenal dan mereka tidak bisa menolongku di acara reuni nanti. Aku sudah meminta Minho, sepupuku, tapi dia sedang berlibur di Amrik. Aku sudah minta pada Sunggyu, teman kuliahku, tapi dia punya banyak kerjaan hingga dua minggu mendatang. Aku sudah minta pada tukang es krim yang biasa mangkal di dekat taman dan dia memelototiku dengan tatapan aneh. Argh, aku menyerah…” aku menggelesor di atas meja, menelungkupkan kedua wajahku, lalu mendesah keras.

Chae Rin menepuk-nepuk kepalaku saat mendengarku mulai menggerutu panjang pendek.

“Ji Hyo… kita harus terus mencari orang yang mau membantumu… hei, kenapa kau menolak tawaran Siwon untuk mencarikanmu pasangan? Tawarannya menyuruh Eunhyuk menemanimu tampaknya tak begitu buruk. Kudengar orang-orang di bagian periklanan selalu hot dan menantang.”

“Ergh, dan kau ingin seisi kantor tahu bahwa aku ini cuma wanita 25 tahun yang melajang dan bahkan tak punya pasangan untuk dipamerin saat reuni SMA?” Aku menggeliat-geliat sebal.

“Song Ji Hyo… hei, hei, jangan patah semangat begitu, dong. Bagaimana pun juga, kau ini masih Song Ji Hyo, si ratu prom saat SMA. Walaupun si pendek Ji Yong itu memutuskanmu dengan alasan paling tak masuk akal, tapi kau tetap saja cantik. Hei, kau ingat… aku dulu salah satu fansmu. Oke, kau memang bukan idol yang bisa menari dan bernyanyi, tapi aku salah satu orang yang mengagumimu sejak SMA. Orang yang selalu duduk persis di belakang bangkumu dan selalu berkhayal agar bisa dekat denganmu. Kau tahu, sampai kapanpun, kau ini idolaku. Bagiku, kau ini hebat. Song Ji Hyo yang cantik, pintar, dan baik.”

Celotehan Chae Rin tak ayal membuatku tersenyum, haru. Kadang aku berpikir bagaimana mungkin dulu saat SMA aku tak pernah menoleh pada Song Chae Rin yang jelas-jelas sekelas denganku? Berteman dengan Suji sungguh membuatku menjadi gadis yang hanya melihat ke atas tanpa sempat mengintip ke bawah.

Saat SMA, Chae Rin bukan termasuk murid kategori terkenal. Chae Rin bertubuh gembul dan berkacamata tebal. Jalannya selalu menunduk seperti orang mencari receh jatuh. Dia pendiam dan saat guru menyuruhnya membaca puisi di depan kelas, dia justru menangis saking groginya. Chae Rin berhati tulus, dia yang memberikanku sapu tangan dan menepuk bahuku ketika semua orang mendadak menjauhiku. Dia menyerahkan jatah makan siangnya dan berkata aku butuh banyak asupan energi karena terlalu sering menangis.

Aku tak akan pernah melupakan kebaikan Chae Rin hingga sekarang. Bagiku, Chae Rin adalah permata yang sudah kutemukan saat aku terjerembab di lumpur. Ya, kau tahu ungkapan itu kan? Bahwa kadang saja, kita bisa menemukan permata di antara kubangan lumpur?

“Tapi Chae Rin, aku lelah… hari ini hari terburukku, aku ditolak lebih dari sepuluh pria dalam sehari. Apa itu masuk akal? Aku rasanya… ingin menyerah saja,” ujarku murung.

Chae Rin menggeleng. “Jangan! Jangan menyerah!” Chae Rin mengetuk-ngetukkan jarinya lagi di atas meja, kebiasaan gadis itu kalau sudah mulai resah. “Mmm… kau… sudah tanya Dong Hae?” katanya setengah berbisik.

Aku mengernyit. “Dong Hae?”

Chae Rin mengangguk. “Ya, Dong Hae… kau sudah menanyakannya? Mm… mungkin saja… dia bisa… membantumu…?”

“How dare you are!” pekikku spontan, dan buru-buru mengecilkan suaraku saat melihat semua mata pengunjung kafe tertuju padaku. “Kau gila? Kau menyuruhku bertanya pada Hae Hae-ku? Hae Hae yang itu? Yang teman seapartemenku?” aku menoleh ke kanan dan ke kiri seolah topic pembicaran Chae Rin tadi menyangkut teroris yang menghilangkan pesawat MH370. “Kau sudah gila, ya?!”

“Song Ji Hyo, aku tidak gila. Kau tahu itu. Dan ya, benar, Dong Hae si Hae Hae itu, teman seapartemenmu! Kenapa tidak kau coba tanya apakah dia bisa menolongmu untuk menemanimu saat reuni SMA?”

“Ucapanmu itu seolah kau baru saja menyuruhku untuk bercinta dengan seorang perempuan,” cicitku dengan mata disipit-sipitkan.

“Hei, tidak ada yang salah disini, menurutku. Dong Hae pria, kau tahu itu. Dia punya hal-hal yang bisa kau sebut sebagai ‘pria’—you know what I mean, adam apple, bass’s voice, sperm… and etc—jadi menurutku, Dong Hae cukup seksi, lebih dari cukup malah, untuk menandingi Ji Yong.”

“What? Seksi?” aku jamin suaraku sudah seperti tikus terjepit kaki meja. Aku mengerjapkan mata berkali-kali dan memastikan Chae Rin benar-benar masih waras. Apa Chae Rin baru saja makan permen karet? Atau cumi-cumi? Kata-kata yang meluncur dari bibirnya sungguh bermasalah. “Kau lihat dari sudut mana sih, Hae Hae itu seksi?”

“Ya ampun Ji Hyo… masa sih kau ini tidak sadar? Aku yang baru sekali bertemu Dong Hae saja tahu.” Chae Rin mendekat padaku. “Apa kau tak menyadari kalau Dong Hae punya otot-otok yang keren? Apa kau tak tahu bahwa suara Dong Hae itu seperti Jeff Bernat? Apa kau tidak tahu bahwa Dong Hae itu gambaran kalau Justin Bieber sudah dewasa nanti?”

Mulutku melongo habis-habisan. Kupegang jidat Chae Rin dan kuyakini gadis itu fix, fix sudah gila.

“Kau tahu…” aku masih mengeluarkan suara ala tikus terjepit, “menurutku Dong Hae itu seperti Jessica SNSD yang baru saja menjadi ikon baru perusahaan boneka barbie! Gosh, dia itu… dia… dia gay…” aku menggigit-gigit bibirku. “Aku tidak yakin Dong Hae mau menolongku untuk yang satu ini. Ini seperti… ini seperti… menyuruh Jessica SNSD untuk naik motor gede dan berburu binatang buas. Kau akan melihatnya menjerit dan menyumpahiku karena sudah merusak cat kukunya.”

Chae Rin sama sekali tak tertawa dengan metafora ngawur yang kukatakan. Wajah Chae Rin tetap lempeng seperti batu kali, pertanda bahwa gadis itu sedang serius. Aku berdeham tak enak dan membenarkan posisi dudukku. Apa aku keterlaluan?, bisikku dalam hati.

Aku menyesal, aku tahu Chae Rin hanya berusaha menolongku dari kemungkinan terburuk yang akan terjadi saat reuni. Tapi aku malah menentang semua usulnya. Ugh, aku ini jahat sekali.

Aku menarik napas panjang-panjang. “Oke, Chae Rin… aku akan coba menanyakan pada Dong Hae…” sekilas, kulihat sinar mata Chae Rin kembali berbinar. “Tapi, aku tak jamin dia akan setuju lho,” sambungku cepat.

“Oke… tak masalah. Yang penting coba kau tanyakan dulu.” Chae Rin tersenyum manis. “Aku punya feeling kuat dia akan menolongmu.”

Aku tersenyum masam. Anehnya, aku punya feeling kuat Dong Hae akan melemparku dari balkon apartemen.

.

.

.

.

.

.

Kamar Dong Hae tertutup rapat begitu aku tiba di apartemen. Aku menaruh tasku dan melempar sepatuku sembarangan. Tubuhku sedikit lengket, tapi aku tak punya keinginan untuk mandi. Aku melangkah menuju dapur dan mengambil sebotol air dingin di kulkas. Aku memutuskan untuk menemui Dong Hae di kamarnya selesai aku minum.

Biasanya, jam segini Dong Hae sudah pulang dan menonton serial amerika di televisi. Tapi mengherankannya tidak ada suara-suara dari ruang tivi. Aku mengetuk kamar Dong Hae dan berharap, mungkin saja pemuda itu sedang menulis resep baru di kamarnya (satu-satunya hal yang membuat Dong Hae bisa melupakan serial amerika favoritnya). Sebuah suara berat menyuruhku masuk ke dalam kamar.

Aku menyeringai. Dong Hae benar-benar ada di dalam kamar ternyata.

Saat pintu kubuka, Dong Hae tengah duduk di pinggir ranjang dalam posisi memunggungiku. Tiga roll rambut bertengger di atas kepala Dong Hae, mengingatkanku pada tokoh ibu-ibu mertua cerewet di drama korea di tivi. Aroma vanili, aroma khas Dong Hae menyeruak masuk ke lubang hidung dan tak bisa kupungkiri aku selalu menyukai aroma Dong Hae yang satu ini.

“Hae Hae…” panggilku pelan. Aku meremas tanganku yang mendadak gugup. Entahlah, aku tak tahu harus memulai percakapan ini dari mana. Dan semuanya terasa ganjil saja. bagaimanapun, dimataku Dong Hae seperti saudara perempuan yang menyenangkan. Dan kemudian aku mengajaknya untuk kencan? Oh, yang benar saja.

“Aku ingin bicara sesuatu padamu.”

Aku dan Dong Hae bicara bersamaan.

Aku terdiam. Dong Hae juga terdiam. Sunyi.

Dong Hae berbalik dan menatapku. Aku baru menyadari Dong Hae sedang membereskan baju-bajunya, tumben sekali malam-malam begini pemuda itu beres-beres.

“Kau duluan…” aku mempersilahkan Dong Hae bicara. “Ada apa, Hae?”

Dong Hae memandangiku lekat-lekat, kemudian menghela napas. “Aku akan pergi.”

“Pergi?” aku mengerutkan alis. “Kemana?”

“Ke apartemen Marcus.”

“Marcus? Mantanmu?”

Dong Hae mengangguk. “Kami balikan.”

“Oh…”

“Jadi, aku akan pergi ke apartemennya.”

Aku mengangguk-ngangguk. “Oke, tidak apa-apa. Tapi ini sudah malam, kenapa tidak besok saja? Apa tidak sopan bertamu malam-malam ke rumah orang?”

“Ji Hyo…” Dong Hae menarikku untuk duduk di sampingnya. “Aku… akan… pergi… ke tempat Marcus… bukan untuk bertamu, tapi aku akan tinggal disana.”

Aku terdiam kaget. “Tinggal disana?” dadaku mendadak berdebar. “Sampai kapan?”

“Entahlah, mungkin selamanya.” Dong Hae menarik sweater biru mudanya, lalu melipat-lipatnya. “Aku akan bertunangan dengan Marcus sabtu ini.”

“A-apa?” suaraku seperti susah keluar. Sabtu? Hari itu kan bertepatan dengan reuni SMA-ku.

Dong Hae mengangguk. “Aku akan senang sekali kalau kau datang ke pertunangan kami.”

Aku memandangi Dong Hae tanpa bicara sepatah katapun. Aku syok, kaget, dan tidak percaya dengan apa yang baru dikatakan Dong Hae. Tunangan? Dengan Marcus? Lalu tinggal bersamanya? Dong Hae akan keluar dari apartemen ini untuk selama-lamanya?

Itu berarti Dong Hae akan meninggalkanku?

Aku tidak tahu bagaimana rupaku saat berusaha mencerna semua ini. Kulihat wajah Dong Hae sungguh bersinar, pemuda itu tampak bahagia, dia tersenyum manis dan menatapku penuh kelembutan.

Aku berdiri dari dudukku dan menyeret kakiku yang terasa lemas. Seperti orang linglung. Aku menyenggol kaki meja dan hampir terhuyung jatuh jika tidak buru-buru memegang gagang pintu.

“Ji Ji, kau tidak apa-apa?” tanya Dong Hae cemas.

Aku menggeleng kencang, berusaha menunjukkan bahwa aku baik-baik saja.

“Eh, jadi apa yang mau kau katakan padaku, Ji Ji?” tanya Dong Hae lagi.

“Tidak ada. Aku… lupa.” Suaraku seperti orang tercekat.

“Ck, dasar pikun. Ya sudah, nanti kalau ingat saja, baru katakan padaku.”

Aku mengangguk tanpa berani menoleh pada Dong Hae. Aku buru-buru keluar dari kamar Dong Hae dan masuk ke kamarku. Aku mengunci pintunya dua kali, dan tubuhku merosot seketika ke lantai.

Dong Hae akan pergi…

Dong Hae akan pergi…

Dong Hae akan meninggalkanku…

Teman seapartemenku akan pergi…

Dia akan bertunangan di hari aku pergi reuni…

Aku tidak tahu lagi mana yang lebih menyesakkan, apakah itu kenyataan bahwa Dong Hae tidak akan bisa menemaniku ke reuni SMA, atau kenyataan bahwa Dong Hae akan meninggalkanku selamanya untuk bertunangan dengan pria lain.

Aku lalu menangis, terisak-isak.

.

.

.

.

.

.

“Kau sakit, Ji Ji?”

Dong Hae mencoba menyentuh keningku, tapi aku reflek menjauh. Pemuda itu menatapku sebentar dan seolah menyadari aku sedang tidak mood untuk diajak bicara, dia kembali melanjutkan sarapannya dalam diam.

Ini sudah hari ketiga semenjak Dong Hae mengumumkan pertunangannya dengan Marcus padaku. Awalnya kupikir aku bisa bersikap biasa dan menyelamati Dong Hae, tapi aku justru bersikap dingin dan seperti orang ngambek.

Dong Hae sepertinya juga tahu bahwa aku sedang ngambek. Dia pernah bertanya apa aku marah atas kepindahannya, dan dia merasa bersalah akan meninggalkanku sendiri. Dan aku pergi begitu saja saat dia mulai membahas tentang kepindahannya.

Ini sulit. Bagiku Dong Hae sudah seperti satu bagian penting dalam hidupku. Oke, kami baru mengenal beberapa bulan, tapi tidak pernah ada orang selain Dng Hae yang membuatku merasa luar biasa nyaman.

Aku kembali mengenang kata-kata Dong Hae, perumpamaan Oreo yang dia buat. Bahwa kami tak akan terpisahkan. Bahwa kami saling melengkapi.

Mendadak pandanganku memburam.

Oh Tuhan, jika Dong Hae pergi dari hidupku, siapa yang akan memakan krim Oreo-ku?

“Ji Ji… kau menangis?”

Suara Dong Hae membuatku menengadah, dan aku menemukan raut penuh kecemasan memenuhi wajah putih bersih Dong Hae.

Aku mengusap air mataku dan melanjutkan sarapan. Air mataku terus beleleran meski aku sudah menghapusnya berkali-kali.

“Ji Ji…” suara Dong Hae terdengar semakin khawatir. “Ji Ji… jangan begini terus… bicara padaku, Ji Ji…” Dong Hae menaruh garpunya di atas piring. “Ji Ji… kau boleh berteriak, memaki, atau memukulku. Aku tahu keputusanku berat, jadi marahlah padaku. Aku lebih suka kau marah daripada kau diam seperti ini… Ji Ji…”

Aku sudah tidak tahan lagi. Tanganku melemas dan roti yang kupegang jatuh ke atas piring. Aku menutup wajahku dengan kedua tangan. Bahuku berguncang hebat dan napasku terasa sesak. Aku menangis, tangisanku bertambah keras dengan cepat tanpa bisa dicegah.

Dong Hae berdiri dan berlari ke arahku, pemuda itu memelukku erat-erat. “Ji Ji… Ji Ji… jangan menangis…” suara Dong Hae terdengar merengek. “Ji Ji… cerita padaku, ada apa? Kau marah padaku? Ji Ji…”

Aku meraung keras. Pelukan Dong Hae membuat tangisanku semakin meledak. Aku benar-benar merasa sedih akan kehilangan Dong Hae. Aku tidak ingin Dong Hae pindah, aku menginginkannya tetap ada di sini. Tapi aku tahu aku tak boleh begitu, Dong Hae mungkin saja amat mencintai Marcus. Dong Hae sudah berkomitmen serius menjalani hubungan dengan Marcus. Aku tidak bisa sejahat ini melarangnya pergi. Tapi… tapi… tapi… aku menginginkan Dong Hae ada disisiku.

“Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku…” ujarku terbata-bata. “Tidak seharusnya aku menangis. Tidak sepantasnya. Maafkan aku… maafkan aku… maaf—“

“Ssst…” Dong Hae menghentikan ucapanku. Pemuda itu mengecup puncak kepalaku lembut dan mendekapku semakin erat. “Ji Ji, kau tak perlu minta maaf… kau tak bersalah. Kau tidak pernah bersalah dalam hal ini.”

Aku menundukkan kepala.

Tangan Dong Hae menepuk-nepuk punggungku seperti seorang ibu yang tengah menenangkan anaknya. Aku merasa nyaman sekaligus merasa bersalah karena begitu jahatnya membuat Dong Hae khawatir begini.

Mungkin pada akhirnya, aku memang harus merelakan Dong Hae.

.

.

.

.

.

.

“Kau yakin dengan keputusanmu?” terdengar suara Krissie di seberang telepon. “Kau akan datang ke reuni sendiri?”

“Iya. Kupikir aku bisa menangani semuanya sendiri.”

Terdengar helaan napas di seberang sambungan. “Aku sudah dengar cerita lengkapnya dari Chae Rin. Ji Hyo dengar, aku tak terlalu mengerti apa yang terjadi padamu saat SMA, tapi sebagai salah satu sahabatmu, aku bisa menolongmu kok. Apa perlu aku yang menemanimu ke reuni?”

Aku tertawa kecil mendengar tawaran Krissie. “Terimakasih sepupuku yang merangkap sebagai sahabatku tersayang ini… tapi aku bisa mengatasi semuanya sendiri. Aku akan baik-baik saja, percayalah.”

Percakapanku dengan Krissie berlangsung beberapa menit kemudian, sampai akhirnya aku berkata pada Krissie bahwa aku harus mandi dan bersiap-siap pergi ke pesta. Aku memutuskan sambungan dan keluar dari kamar hendak mengambil handuk. Apartemen sepi, jam-jam segini Dong Hae masih ada di restoran. Meski pemuda itu bilang dia akan pulang lebih cepat, dan pergi ke rumah Marcus menyiapkan pesta pertunangan. Aku sudah bilang aku akan menghadiri pesta Dong Hae tapi akan datang sedikit terlambat karena ada urusan. Aku sengaja tak memberitahu Dong Hae bahwa reuni SMA-ku jatuh pada hari ini.

Sambil mengambil handuk, aku mengedarkan pandangan ke sekeliling. Apartemen ini akan jadi sepi setelah kepergian Dong Hae. Mungkin aku sebaiknya mulai mencari teman seapartemen yang baru. Atau mungkin tidak perlu?

Aku menundukkan kepala. Aku tidak yakin teman seapartemenku yang baru akan sebaik Dong Hae.

Aku baru saja melewati meja makan saat mataku menangkap sebuah kotak tergeletak di atas meja. Dengan sebuah surat diatasnya. Aku mengernyit heran dan mengambil kotak tersebut, dari Dong Hae ternyata. Mungkin pemuda itu mampir sebentar ke sini tanpa sepengetahuanku.

 

Hai, Ji Ji… jangan lupa dandan yang super cantik hari ini, aku tidak ingin mengakui keberadaanmu di depan semua orang jika kau dalam keadaan kumal seperti J.Lo baru masuk kubangan lumpur.

 

Aku tertawa membaca baris pertama surat dari Dong Hae. Pemuda itu benar-benar ya, apa dia tidak tahu, aku tak mandi lima hari pun masih terlihat cantik?

 

Hari ini adalah hari yang penting karena aku baru saja memutuskan untuk memilih hal yang paling berharga dalam hidupku. Awalnya, ini pilihan yang sulit. Tapi lalu, entah mengapa, aku seolah disadarkan, bahwa pilihan yang kuambil ini adalah yang terbaik.

Aku ingin memberimu sesuatu, aku membelinya buru-buru. Semoga kau menyukainya (aku yakin pas dengan ukuranmu). Pakai ini ya, biar kau semakin cantik.

With Smile,

Hae Hae-nya Ji Ji.

P.S. aku membuatkanmu sup ayam di panci, di makan ya. Jangan sampai busung lapar.

 

Surat Dong Hae membuatku tertawa kecil. Kapan pemuda ini mampir dan sempat membuat sup ayam tanpa kusadari? Astaga, tiba-tiba saja aku merindukan Dong Hae.

Aku membuka kotak pemberian Dong Hae. Isinya cincin. Cincin emas putih polos.

“Ya Tuhan Dong Hae… kau memang yang terbaik…” aku memakai cincin itu dan sungguh pas dengan ukuranku. Aku mendekap tanganku di depan dada. Baiklah, sekarang saatnya mandi dan bersiap pergi. Hari ini, aku akan tampil amat cantik sesuai keinginan Dong Hae.

.

.

.

.

.

.

Deerth Ballroom. Chae Rin melambaikan tangan padaku ketika aku masuk ke dalam ballroom. Chae Rin menggandeng pacarnya, Sungyeol, dan menyeret pemuda ringkih itu mendekat ke arahku.

“Kau cantik Ji,” puji Chae Rin tulus.

“Kau tidak bersama pasanganmu—aduh!” Sungyeol mengerang saat Chae Rin dnegan sengaja menyikut perutnya.

Aku hanya tersenyum kecil memaklumi tindakan Chae Rin. Reuni ini ramai, didatangi tiga angkatan sekaligus. Aku bertemu beberapa adik kelasku yang kini bahkan sudah bersuami dan menggendong anak. Dan juga beberapa teman seangkatanku yang semuanya menggendeng seorang pria di samping mereka. Benar kata Siwon, reuni itu jadi ajang untuk memamerkan pasangan masing-masing.

Pandanganku berhenti ketika Suji, Nara, dan Ji Eun datang mendekat. Mereka menggandeng pria-pria tampan di samping mereka.

“Ji Hyo… long time no see, sweety…” ujar Suji dengan suara manja. “Kenalkan, ini tunanganku, Jung Soo. Sayang, ini Ji Hyo, dia dulu sahabatku waktu SMA.” Suji menoleh padaku dan pria bertubuh jangkung disampingnya dengan senyum lebar.

Aku tersenyum menyalami Jung Soo yang terus menatapku lekat-lekat.

“Hei, apa kau artis?” tanya Jung Soo ramah.

Aku menggeleng dan memasang senyum seadanya. “Tidak.”

“Wajahmu seperti wajah artis.” Jung Soo tersenyum kecil.

“Kuanggap itu pujian,” cengirku.

“Ji Hyo, kamu ke sini sama siapa?” tanya Nara sambil celingukan. “Kamu tidak bawa pasangan?”

Pertanyaan Nara membuatku tak nyaman, tapi aku terus berusaha tersenyum.

“Apa dia lagi memarkirkan mobil? Mungkin sebentar lagi datang, iya kan? Kami ingin melihat pacarmu yang sekarang, Ji…” timpal Ji Eun.

Suji tertawa kecil. “Iya, Ji.”

Chae Rin mengkodekanku untuk segera pergi menjauh dari Suji dkk. Tapi Suji tampaknya melihat gelagat Chae Rin dan berkata lagi.

“Ji Hyo, kau masih ingat Ji Yong?” tanya Suji.

Aku terdiam.

Nara dan Suji saling berpandangan dan tersenyum penuh arti.

“Kami tadi bertemu Ji Yong di dekat pintu. Ah, apa perlu kupanggilkan Ji Yong?” Nara berbalik dan menghilang di balik kerumunan orang tanpa sempat kucegah.

Aku mendesah gusar. “Aku tak perlu bertemu Ji Yong.”

“Kenapa tidak perlu?” ujar Suji sambil tersenyum aneh. “Kalian kan masih punya urusan yang belum selesai.”

Aku menelan ludah. Tampaknya aku salah karena masih saja berdiri disamping Suji sekarang. Suji masih begitu dendam padaku dan sepertinya ucapan Chae Rin tempo hari, Suji ingin mempermalukanku lagi.

“Ji Hyo, ayo pergi sekarang…” bisik Chae Rin menarik tanganku.

“Ji Hyo, jangan pergi dulu.” Suji menahan tanganku. “Jangan pergi dulu… nah, itu Ji Yong sudah datang!”

Napasku seperti berhenti ketika melihat Nara menarik seorang pemuda berjas biru tua mendekat. Itu Ji Yong. Pemuda itu sama sekali tak berubah. Masih tetap terlihat tampan dan menarik. Masih terlihat… aku memegangi dadaku… masih terlihat mempesona.

“Kau benar-benar picik, Suji.” Chae Rin berbisik pelan. Matanya mengawasi Suji dengan tajam.

Suji mendorong Ji Yong mendekat padaku. Gadis itu menyibakkan rambutnya dan berkata dengan nada manja yang terdengar menyebalkan di telingaku. “Ji Yong, kau masih ingat Ji Hyo?”

Ji Yong memandangiku dengan mata sipitnya. Dan aku merasa seperti kehabisan napas saat itu juga.

Seluruh kenangan buruk SMA seolah kembali berputar di kepalaku. Ji Yong yang mengatakan betapa cantiknya aku, Ji Yong yang menyatakan perasaannya padaku, Ji Yong yang mencampakkanku di depan semua orang, Ji Yong yang membuatku ditertawai banyak orang…

“Song Ji Hyo…?” Ji Yong maju selangkah, reflek membuatku mundur selangkah.

Ji Yong tersenyum tipis.

Beberapa orang menoleh kea rah kami dan penasaran apa yang sedang terjadi. Aku memejamkan mata. Tidak, ini sama persis seperti saat SMA. Tidak, keterlaluan… ini…

“Song Ji Hyo…” Ji Yong maju selangkah. “Kau sendirian?”

Aku meneguk ludah susah payah. “A-aku…”

Ji Yong memiringkan kepalanya. “Kenapa ketakutan begitu?” Ji Yong tertawa kecil. “Apa kau pikir aku akan menyakitimu?”

Aku menggelengkan kepala. Chae Rin menggenggam tanganku erat-erat. Tangan Chae Rin terasa dingin dan itu membuatku tambah gugup. Aku melepaskan tangan Chae Rin agar kegugupanku berkurang.

“Song Ji Hyo, kau tau… kau tidak berubah sama sekali, kau tetap saja cantik…” Ji Yong kembali melangkah mendekat. Aku berusaha mundur selangkah lagi. “Kenapa mundur terus? Apa kau sebegitu takutnya padaku?” Ji Yong tertawa keras. “Kau… masih suka padaku ya?”

Kerumunan di sekeliling membuatku sulit bergerak. Dan ketika aku berusaha mundur selangkah lagi, aku justru menabrak seseorang.

Saat itu aku melihat Chae Rin melotot kaget menatapku, tangannya menunjuk ke arahku, mulutnya bergerak-gerak tanpa suara. Aku mengernyit bingung dan bertanya maksud ucapan Chae Rin.

Tapi kemudian orang yang berada tepat di belakangku, justru mengalungkan tangannya di pundakku.

Babe, aku nyariin kamu dari tadi.”

Aku terdiam, kaget. Ji Yong mengangkat kepalanya dan memandangi sosok di belakangku dengan kening berkerut. Kulihat Suji, Nara, dan Ji Eun saling berpandangan dengan raut kesal.

Aku melirik tangan pria yang terkalung di leherku dan mengernyit. Siapa orang yang lancang mengalungkan tangan di pundakku?! Aku menoleh ke belakang bermaksud setidaknya mendamprat pemuda kurang ajar yang sudah seenaknya merangkulku.

Tapi saat kepalaku berputar, aku justru kaget bukan kepalang melihat sosok Dong Hae berdiri tegap di belakangku. Ya, ya, ya, tak salah lagi, itu Dong Hae! Dong Hae si Hae Hae-ku!

Aku melongo.

Astaga… astaganaga… kenapa Dong Hae bisa ada disini?

Dong Hae tidak sedang melihatku. Pemuda itu menatap lurus kea rah Ji Yong. Dong Hae beberapa senti lebih tinggi dariku, sehingga aku bisa melihat dengan jelas rahang pemuda itu yang mengeras saat mengeluarkan kalimat selanjutnya, “Babe, kenapa ramai begini? Orang ini siapa? Dia gangguin kamu?”

Napasku tersendat-sendat dan aku bingung bagaimana menyusun kalimat yang baik. “Kau…disini… bagaimana…”

“Parkiran penuh tadi, susah sekali cari parkiran, Babe,” potong Dong Hae cepat, lalu menoleh padaku sambil memamerkan senyuman manisnya. Senyuman yang sama dengan senyum saat Dong Hae pertama kali datang ke apartemenku. Senyuman yang sungguh mempesona.

Aku terhipnotis untuk membalas senyuman Dong Hae dengan tak kalah manis.

“Jadi, Ji Hyo… kau sudah punya pacar rupanya?” tanya Ji Yong sambil terus menatap Dong Hae tajam. “Kenalkan, aku Ji Yong. Dulunya mantan pacar Ji Hyo waktu SMA.”

Dong Hae tertawa. “Oh, mantan… kukira siapa.” Dong Hae melepaskan rangkulan tangannya dariku, lalu menyalami Ji Yong. “Aku Lee Dong Hae. Tunangan Ji Hyo.”

Aku menoleh cepat ke Dong Hae. APA? TUNANGAN? SIAPA YANG TUNANGAN?!

“Wah, kalian sudah tunangan rupanya,” ujar Ji Yong sambil tersenyum masam.

Dong Hae mengangguk lalu tanpa bilang-bilang, malah mengangkat tanganku. “Sebenarnya siang tadi, aku baru melamar Ji Hyo.”

Dong Hae menunjukkan cincin di tanganku… dan lalu menunjukkan cincin yang sama, yang terpasang di tangannya!

Aku mengerjapkan mata cepat. Cincin yang sedang kupakai adalah cincin pemberian Dong Hae tadi siang, tapi tidak tahu Dong Hae punya cincin yang sama denganku. Bagaimana bisa Dong Hae…? Aku kan tidak bilang apa-apa soal reuni…? Lalu bagaimana…? Kok bisa…? Astaga… astaga… astaga…

Pikiranku penuh dengan tanda tanya. Aku terus menatap Dong Hae yang berbicara pada Ji Yong (dan seolah berbicara pada semua orang di sekitar kami) bahwa ini adalah hari membahagiakan untuknya. Dan Dong Hae kemudian sadar bahwa aku terus memandanginya sedari tadi, pemuda itu menoleh dan tersenyum. Aku ingin menanyakan sesuatu padanya, tapi pemuda itu justru menepuk pipiku lembut.

I know, Ji Ji… you wanna say ‘I love you’, right? I love you too, Babe.

Dan bisa kupastikan terdengar seruan penuh godaan dari teman-temanku di sekolah dulu memenuhi ballroom.

.

.

.

.

.

.

Dong Hae tertawa lepas sambil menyeruput es lemonnya. Aku juga tertawa, kencang. Pemuda itu sungguh gila, tidak waras, sakit! Sudah setengah jam lebih kami menertawakan ekspresi aneh Ji Yong, Suji, Nara, dan Ji Eun tadi. Tapi rasanya masih belum puas. Aku masih ingin tertawa, terus dan terus.

Dong Hae sudah menceritakan padaku semuanya, bahwa Chae Rin lah yang menceritakan perihal reuni dan kemungkinan Suji akan berbuat buruk padaku. Dong Hae memutuskan untuk menyusun rencana dan berpura-pura menjadi tunanganku, mengagetkan semua orang (termasuk aku) dan membuat mereka sadar bahwa seorang Ji Hyo bukan Ji Hyo yang pernah terluka dulu.

“Aku tidak punya kecurigaan apa-apa saat kau menghadiahkanku cincin itu, kau ini benar-benar sialan!” aku meninju lengan Dong Hae pelan.

Dong Hae tertawa terkekeh-kekeh. “Masa sih kau tidak tahu? Padahal clue di suratnya itu sudah jelas loh, aku menyuruhmu dandan cantik supaya bisa kukenalkan ke semua orang—kukenalkan sebagai tunanganku…”

Aku memukul lengan Dong Hae kembali dan kami berdua tertawa lagi.

“Tapi, Hae…” pandanganku meredup. “Bukannya kau seharusnya sedang bersiap-siap di rumah Marcus? Kau kan sebentar lagi tunangan sama Marcus, Hae Hae. Kenapa malah disini?”

“Ji Ji, tidak ada yang akan tunangan lagi hari ini kecuali aku dan kau.”

Aku mengernyit. “Maksudmu?”

Dong Hae memainkan gelasnya. “Aku… memutuskan untuk menunda pertunanganku dengan Marcus.”

Aku kaget mendengar ucapan Dong Hae. “Kau serius? Maksudku, kenapa? Kau kan ingin berhubungan serius dengan Marcus?”

Dong Hae tersenyum kecil. “Setelah kupikir-pikir, tidak juga… aku justru masih ingin tinggal denganmu. Malah, aku ingin terus tinggal denganmu. Kau tahu, aku sudah menahan diri lebih dari tiga hari dan membuatku tersiksa.”

“Menahan diri?”

Dong Hae mengangguk. “Iya, menahan diri untuk mengabaikan keinginanku sebenarnya.” Dong Hae menoleh dan menatapku. “Tapi seperti yang sudah kubilang sebelumnya di surat tadi siang, aku sudah membuat pilihan. Aku memilih untuk melaksanakan keinginanku sebenarnya. Yaitu, terus berada di sisimu. Aku nyaman bersamamu dan tahukah kau? Aku tersiksa saat melihat kau menangis belakangan ini. Aku merasa sungguh jahat dan terus-menerus merutuki diriku sendiri. Mulai sekarang, aku tak ingin meninggalkanmu sampai kau bisa menemukan teman seapartemen yang bisa membuatmu tidak bersedih ketika aku pergi. Aku akan terus ada disisimu… sampai saat itu tiba… entah itu satu tahun, dua tahun, lima tahun, atau selamanya.”

Mataku berkaca-kaca mendengar ucapan Dong Hae. “Kau tahu, itu ucapan paling romantis dari seorang gay yang kukenal…”

Dong Hae memelukku erat. “Aku tahu, aku memang romantis, kok.”

Aku memejamkan mata. “Ya, memang…” aku mendesah, “terimakasih banyak untuk hari ini, Hae Hae.”

“Ya.”

Aku tersenyum kecil. “Kupikir aku harus menghindari Marcus untuk sementara waktu. Dia pasti marah padaku karena merebutmu. Mungkin dia akan menjambak rambutku sampai rontok jika kami bertemu nanti.”

Dong Hae tertawa. “Tidak juga, dia tidak boleh marah padamu. Dia tidak boleh menyakitimu.” Napas Dong Hae berhembus mengenai tengkukku. “Selama ada aku, tidak boleh ada seorang pun yang menyakitimu, Ji Ji.”

Aku membalas pelukan Dong Hae. Mendekap pemuda itu erat, amat sangat erat. Aroma vanili Dong Hae menyeruak masuk ke dalam hidungku dengan begitu menenangkan.

“Jadi, hari ini kita pura-pura tunangan?” tanyaku lagi.

Dong Hae tersedak. “Iya, nih. Pura-pura tunangan.”

Aku menyeringai, memandangi cincin yang berkilau di jari manisku.

.

.

.

.

.

.

“Kau tahu kan mereka pura-pura tunangan?”

Sungyeol menyenggol lengan Chae Rin. Pemuda itu menatap Dong Hae dan Ji Hyo dari kejauhan. “Kau sendiri bilang, kalau Dong Hae itu gay.”

Chae Rin melipat kedua tangannya di depan dada. “Iya, Dong Hae memang gay.”

Sungyeol menunggu kelanjutan kalimat dari bibir Chae Rin.

Chae Rin tertawa. “Kalau gay itu adalah perilaku normal, maka mulai sekarang, dapat dikatakan Dong Hae berperilaku menyimpang.”

“Maksudmu?” Sungyeol mengernyit bingung.

“Mereka memang berbohong pada semua orang kalau mereka saling mencintai…, tapi…” Chae Rin tersenyum kecil menatap pemandangan Dong Hae yang sedang mengusap kepala Ji Hyo dan menceritakan lelucon hingga membuat Ji Hyo terbahak-bahak. “…mereka tidak sadar kalau sebenarnya mereka itu tidak berbohong.”

Sungyeol menatap Chae Rin sebentar, kemudian ikut menoleh kea rah Dong Hae dan Ji Hyo. Memperhatikan kedua manusia itu lekat-lekat selama beberapa saat, kemudian menganggukkan kepala mengerti.

Chae Rin tersenyum lebar. Dia sudah tahu dari awal ini akan terjadi.

Sudah dia bilang kan, feelingnya selalu benar?

.

.

.

.

.

.

END

Holaaa heloooo akhirnya selesai juga Oreo kita satu ini *kunyah kunyah Oreo*

Well aku senang karena kalian memahami imajinasiku yang sedikit menyimpang ini

Kritik, komen, bashing, parcel, are welcome!

Keep support our sophiemorore’s blog!

39 thoughts on “OREO [2/2-END]

  1. aduh kak sophiee, kenapa karya2 mu selalu kereeeen bangeeeet sihh. bisa banget ya, makan oreo aja bisa bikin two shoot wkwk. aku jadi termotivasi belajar nulis juga nih hehehe. terus terang kak, aku gapernah bosen jadi readers setia hasil karya2 mu hehehe. teruslah berkarya ya kak, semoga sukses!

  2. Kelarr…!!!
    Ini pendapat aku yaah.. menurutku Hae itu tetep dan masih gay looh… Aku rasa, alasan dia pengen stay ama Jihyo ya karena dia sayang ama Jihyo, sebagai sesama ‘wanita’. Soalnya menurutku, Hae itu kan berjiwa feminin dan orang kayak Hae ini biasanya kalo udah sayang ama orang lain, bisa sayang ampun-ampunan.. Jadi ya gitu, Hae nya jadi sayang banget ama Ji yang emang lovely dan nerima Hae apa adanya. Hubungan mereka itu simbiosis mutualisme banget.. gitu deh..
    If this is continue, aku pikir mereka akan tetep tinggal bareng, dengan Ji yang akhirnya jatuh cinta ke Hae. Dengan Hae yang akhirnya memutuskan bahwa dunianya dengan Ji itu udah cukup.
    Yapp,, gitu deh hasil analisis singkat-soktau-sokbanget dari aku.

    “Apa kau tak menyadari kalau Dong Hae punya otot-otok yang keren? Apa kau tak tahu bahwa suara Dong Hae itu seperti Jeff Bernat? Apa kau tidak tahu bahwa Dong Hae itu gambaran kalau Justin Bieber sudah dewasa nanti?” —>>> iniii… ini sosok Hae yang orisinil. Setuju ama otot-ototnya, suaranya… minus JB nya.. hihi…

    Daan… Siwon Sialan itu sesuatu banget looh…
    Daaan… Eunhyuk cowok HOT ituuuu… true banget,,, thank you loooh jeng
    Daaan… ada Ji yong.. nih orang mo dikasih peran utama, peran pendukung, orang baek, orang nyebelin.. dapet aja karakternya… kangen looh ama si crooked satu ini…

    Yapp, sekian komenku yang ga panjang banget.. kezel ama koneksi,, kezel.. kezel…

    Salam Tayaang buat yang tersayaang… *lirik Eunhyuk

  3. That’s sweeeeet!
    Selalu suka diksi yang dipakai unnie awawaaaaw
    Dan oreo… aduh kepikiran banget bikin cerita gara gara oreo, great job!
    Aku jadi ship jihyo-donghae nih semenjak baca key of heaven dulu :”)

  4. udah lama pengen ngomen akhirnya kesampean😄
    heloww to the wow wow wow~ donghae jadi gay itu berasa…jakbdhgftuwofysk😄 okelah, jari2 songong(?)mu berkuasa banyak menistakan karakter mereka😄 tp, kok aku tetep suka ya? *pensive*
    seperti biasa, tulisanmu yg nyeleneh tapi tetep keren :v walopun rada kurang maksud sama endingnya tapi justru jd senjata ampuh bikin aku menerka-nerka, penasaran setengah gila, sampe tahap pengen jambak rambut sendiri *lebay sih kalo yg ini😄

    ada yg baru ya? mr. headstone? cuss aah, mau ngacak2 blog kamu😄
    *terbang sambil jilat oreo*

  5. Huwaaaa, aku NGGAK pernah BISA nerima kalau Dong Hae jadi gay. Baik itu di ff, apalagi di dunia nyata. Oh God. Nggak bisa dan nggak mau ngebayangin. Wkwkwkwk… Syukur Hae lebih milih Ji Hyo daripada Marcus. Secara, Ji Hyo kan emang lebih menggoda daripada si Marcus itu. Kekeke.. *DipelototinMarcus*

  6. cuci kaki cuci tangan, dan tinggalkan jejak disini dulu.
    Agar tidak menjadi pembaca gelap atau pengunjung ilegal wkwk.
    *read bareng kyu

  7. aaaaaaaaaaaaaaa………………..
    sweet bgt!!
    Sumpah, aku suka endingnyaaaa……
    Serius!!!
    Hahahaha….
    Jadian! jadian!
    kawin! kawin!
    Donghae! tobat! tobat!
    Ayo lah, jihyo itu lebih menggda dr pd marcus mu!! :*

  8. Wokeee…ngebayangin hae jadi gay itu rasanya…
    Asdfghjkl
    Unbelievable
    Anyway jadi akhirnya hae itu jd normal or gmn ya?

  9. okay….ntah mesti bilang apa dan mesti ngapain nerima kenyataan donghae disini gay .-.
    astaga ngebayangin donghae ngeroll rambut?? NGE-ROLL RAMBUT??!! gw bisa struk mendadak hahahha
    sudalah lupakan masalah donghae gay /meskipun masih belum rela nerima kenyataan/ u,u
    tapi over all selalu suka sama ff nya sophie ini. ff nya nyante kita bacanya anteng hihihi dan selalu sukaaaa kaka😀

  10. Aduh eon ampun dah ini ffnya, unpredictable banget.. di chapter pertama bikin g nyangka karna eonni bikin karakter si hae jadi gay, disini si hae dibikin jadi tunangan pura”nya si ji hyo, tadinya aku sempet mikir si hae ngasih cincin ke ji hyo karna hae udah tobat hahaha ternyata aku salah sangka saudara”.., gapapalah yg penting JiHae bisa tetep berdua tanpa ada yg halangin #lirikmarcus

  11. Hallo authooor😀 ini ff rekomendasi dari eonnie ku hhehe

    Daaaan emang ff ini keren kaya yg eonnie aku bilaaang
    Daebak, unpredictable…

    kereen thoooor

  12. iyess… imajinasi saya tambah parah. bagaimana meletakkan sosok Donghae yang sedang mengenakan mahkotanya aka roll tiga buah yang dengan apiknya bersarang di rambutnya…
    saya setuju, dimana anda dapat menistakan donghae. saya lelah dengan image “Innocent Man” miliknya. *Dikira Song Joong Ki*
    Nuunaa…lanjutkan fanfictmu yang lain kalu bisa yang dinistakan itu haek haek atau hyuk hyuk saja😀

  13. uri siwon… akhh dia emang selalu begitu unn jadi maklumkan saja yaa xD saya sebagai istrinya minta maaf aja sama neng jihyo dengan tingkah laku siwon yg kelewat akal manusia xD

    kereeeeeen! demen banget sama jihyo, absurdnya nggak pernah bisa ilang><
    wakakak apalagi ucapan donghae yg emang kayak gay beneran/?
    okeee aku rasa akan ada sequel nih, karena feeling aku selalu benarr :p unnie harus buat sequel!!

  14. jadi intinya Donghae itu sebenernya serius ga tunangin Jihyo? /lirik Chaerin Seungyeol/ di part itu soalnya sedikit ganjil /?

    Ah pokonya ini ff tergregedh setelah Why Why Why xD

    from: Skylar Ziv a.k.a Sabella Friska S. L (?)
    -your secret admired-

  15. Yeay senang bgt bgitu lyt blog ini udh ada update an br lg
    Oreo lg …
    Aku duka bgt sama tingkah donghae
    Dy kyk shbt yg bakal nolong ji kpnpun dmn pun
    What a sweet storyyy

    Dan aq suka gmn gokilnya ji ngata2in bosnya sndiri
    Siwon emg parah tuh
    Haha

  16. ff nyempil(?) diantara on going-nya a cup of lee ini :3 ngga tau mau bilang apa :v cos, i’m pretty sure, that i never ever read a story like this (y) wanna make a sequel?? xD
    aduhh.. keinget si ‘Alis ulat kaki seribu’ lagi :v sophie selalu bikin julukan baru nih di setiap ff nya haha😀 oh, masa’ dunghe sama marcus😥 tunangan lagi-_- *apa banget u.u
    keep writing ya!!

  17. hae hae romantiiiisss……
    ♡♡♡♡♡♡♡♡

    tinggal nunggu kelanjutan a cup of lee…
    smoga akhir cerita chef donghae sama dengan chef hae haenya ji ji….. ♥♥♥

  18. Sophieeeeeeeeeee
    Igr mwoyaaaaaaaaaa
    Paraaaahhhh,pertama ya
    Aq bayangin jiyong itu GD bigbang
    Deskripsinya mndkati

    Dan siwon???

    Aaaaa bos ss
    Sok gnteng
    Paraaaahhhh
    Buakakaaakkkk

    Ceritanya kompleks bgt
    Apalgi donghae romantis bgt
    U.u

  19. Yeeeeeeeeeeeeeeeeay
    Ternyata tebakan aku bener hahahaahahhaa
    Donghae bakalan datang jadi pasangan ji hyo
    Ihhh sumpah beneran deh siwon mah nyebelin banget huahaha
    Semoga mereka berdua jadian deh yaaaa

  20. Speechlessss
    Thor lo itu aslinya cewek apa cowok sih? Lo pinter bgt ngegombal
    Fiks
    Bgitu masuk scene donghae gay amit2 cabang bayi itu gue ttpg bs nolak jamuan romantisme yg ditawarkan donghae

    Kl gue jd jihyo gw bkal kejar donghae smpe dpt
    Gue rebut dr marcus

    Ugh kinda creepy …marcus loves donghae
    Yacthhh

  21. keren min, Donghae kece banget. engak nyangka kalo donghae dapet peran gay tapi bisa bisa bersikap layaknya pria normal -,- seruuuuuuuu

  22. Lucuuuu
    Manis,kayak oreo
    Pengin banget ini punya roomate macam donghae
    Please thor itu donghae jangan tunangan sama marcus….huhu
    Marcus sama aq ajaa

  23. So sweeeettt
    Kece badaaaiii
    Njir ngakak gila2an pas scenenya jihyo siwon
    Dan berlanjut dg pipi bersemu2 merah liat tingkah donghae yang bak ksatria ituuu,aaa ayo tunangan beneran
    Need sekuel
    I really need sekuel

  24. Sweettt
    Aaaa
    Bayanganku ttg donghae terngiang2 melulu
    Aku tw dia gay,tp dia keren
    Dan kyk kta chaerin
    Donghar kyknya menyimpng deh,dia gay yg ehem jatuh cinta sama ji? Kekeke

  25. aduh kayaknya butuh sequel deh itu hae haenya berarti masi tetep gay apa udah tobat ya.

    trus hubunganya sm markus itu beneran apa cuma ngarang aja sih.

    tp kalaupun donghae disini gay tetep aja dia jadi seorang laki2 yang manis banget, ga heran jihyo jg sampe terlena.

  26. duh,kshn bgt jihyo d khianatin ma shbtnya,suji.n ngerebut jiyong pcrnya,,tega bnr..bhkn suji pke ngajak2 shbtnya nara ma jieun bwt ngejauhin jihyo,,untung aj msh ad chaerin ma krissie yg setia d sampingnya,baik bgt mrk mpe bantuin jihyo bwt nyariin partner pesta reunian SMAnya jihyo,,
    haha..ujung2nya mlh roommatenya sndr yg jd tunangannya jihyo,wlopun pura2,,
    well,yg namanya roommate yg perhatian,g akn tega ninggalin tmn sekmrnya yg lg ksusahan meskipun dia sndr jg ad hal yg lbh penting,,

Just talking...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s