OREO [1/2]

Ji’s Roommate Rules:

  1. You must be a girl, I don’t even want to imagine that I will falling in love and having sex with my roommate.
  2. You must be a genius when it comes to kitchen, I can’t cook and don’t tell me to turning on the stove or our apartement will be on fire.
  3. You have paid 35% from the rent cost, why not 50%? Because it will be difficult kick you off when you have a half investement with this apartement.
  4. Don’t yelling at me or staring at me because I’m more pretty than you, and don’t even think to invite your boyfriend if you knew he will falling in love with me and broke your heart.
  5. We are roommate, we are best buddies, we are family, so feel free to naked in front of me—as long you proud of your belly button.

Regards,

Song Ji Hyo.

 

Author : Sophie Maya

Title     : OREO

Cast     : Song Ji Hyo, Lee Dong Hae

Support Cast:

Genre  : romance, i think sihh….

Rated  : PG-19+

Length: 1/2

Type    : ?

Summary         : Oreo; Song Ji Hyo Sandwich Cookies With Dong Hae Flavor

oreo34h

Disclaimer       : this story is MINE.

 

So, Ji Ji…”

Aku mengerjapkan mata malas mendengar panggilan pelan di belakang punggung. Layar komputer seratus kali lebih menarik dibanding sekedar menoleh ke belakang dan menggubris panggilan yang sungguh teramat tidak penting.

“Ji Ji?” Chae Rin menatapku penuh selidik dan mengintip dari balik punggungku. Gadis itu menyipitkan mata, aku tahu, seolah ingin menelisik sosok yang sibuk ber”gradak-gruduk” di belakangku.

Aku membiarkan Chae Rin terus menyipit dan berdoa agar matanya tidak tenggelam karena kelamaan menyipit begitu.

He called you… Ji Ji?” Chae Rin kembali memakukan pandangannya pada diriku, dan kali ini mulutnya melongo bulat sempurna. Gadis itu seperti tokoh sinetron antagonis yang baru dapat kabar kalau sang pemeran utama berhasil mengetahui jati dirinya sebagai anak orang kaya yang ditukar-tukar secara iseng.

“Mmm… yeah…” aku bergumam pelan, menaruh kesepuluh jariku di atas laptop dan mengetik cepat. Deadline majalah tinggal dua minggu dan aku tidak ingin kena semprot oleh Almighty Siwon Sialan, pemred paling sialan sepanjang abad, yang tidak pernah mengenal kata “terlambat, “cacat”, dan “maafkan aku, Bos”.

Siwon Sialan—aku menyebutnya begitu, meski kadang sering kusingkat jadi SS biar lebih kodetik dan rahasiatik—adalah pimpinan redaksi majalah InStyle. Pria angkuh dengan alis tebal seperti ulat kaki seribu yang suka sekali mengatur dan perfeksionis. Siwon selalu campur tangan terhadap masalah editing majalah, dengan alasan kesempurnaan yang harus dijaganya sampai tetes darah terakhir yang dihisap Edward Cullen, hingga aku yang bernotabene sebagai editor layout majalah InStyle jelas harus mengikuti ritme kerjanya. Yang kadang, membuatku gila.

Bayangkan, untuk halaman Top Topic saja, aku sudah mengeditnya tiga kali dan Siwon Sialan bilang, aku HARUS MENGEDIT UNTUK KEEMPAT KALINYA.

Aku sudah meminta pendapat Chae Rin dan bahkan Krissie, dan kedua gadis itu mengatakan karyaku sempurna. Tak perlu diedit.

Tapi Siwon Sialan berkata sebaliknya.

“Song-ssi, ini kurang sempurna… ayo kerahkan tenaga dan kreatifitasmu untuk mengedit bagian ini. Berpikirlah bahwa kamu mengerjakan ini sampai darahmu terhisap habis, sampai kau berada di ambang batasmu. We should give the best for everything, remember? That’s InStyle tagline.

Persetan dengan tagline InStyle. Aku rasa darahku sudah habis dan tak bisa terkuras lebih lagi.

Oh, apakah ada pendaftaran untuk jadi anggota keluarga Edward Cullen? Kalau ada, aku mau daftar. Jadi drakula, dan kupastikan Siwon akan merasakan bagaimana rasanya “darah terhisap habis” karena keperfeksionisannya itu.

“Ji Ji…”

Panggilan itu lagi.

Kali ini tak bisa kuabaikan. Karena sosok yang memanggilku sudah kadung menyenggol bahuku dengan sengaja. Mau tak mau aku menengadah, meski sempat pula kuintip ekspresi kaget bercampur bingung milik Chae Rin.

What?” aku melihat sosok di sampingku tersenyum manis.

Lee Dong Hae. Tengah mengangkat piring bawaannya dan memotong kecil-kecil daging bertabur lada dan entah jenis sayuran apa, yang tampak lezat dimataku.

“Coba kau cicipi, ada yang salah dengan kalkun ini?”

Aku menerima suapan dari Dong Hae, lalu memejamkan mata saat mengunyahnya perlahan.

How?” tanya Dong Hae.

Perfect, Hae Hae.” Aku menyeringai lebar.

Dong Hae mencubit pipiku. Dia menyeringai lebar. “Glad you like that. So, kalkun for next breakfast.

What? Serious? Kau ingin menyajikan kalkun saat sarapan? Kau ingin aku gemuk?” aku terhenyak kaget.

“Tidak, Ji Ji. Kita akan ke gym setelah sarapan. Tomorrow is weekend.”

“Oh, really?” aku menepuk jidatku. Sungguh, aku lupa besok adalah akhir pekan.

Yup, gym. Did you know, they have a new coach and he’s damn hot.”

“Oh, dasar tukang gosip,” cecarku sambil menyipitkan mata, tapi aku lalu tertawa senang. “Oke, akan kukosongkan jadwalku besok.”

You must do it, Ji Ji.” Dong Hae menyeringai.

Aku ingin kembali mengetik. Tapi segera saja sadar dengan tatapan penuh kekagetan, kebingungan, dan campur aduk dari Chae Rin.

Aku segera paham. Chae Rin belum pernah datang ke apartemenku sejak enam bulan lalu, jadi gadis itu tak paham apa yang terjadi di sini. Dan terutama, dia tak mengenal Dong Hae.

So… Dong Hae, this is Song Chae Rin, my friend from childhood and now she’s an accountant.” Aku mengenalkan Chae Rin pada Dong Hae. Lalu kutatap Chae Rin lekat, “dan Chae Rin, he’s Lee Dong Hae. We have a puppet name for calling each other, like you already heard. He called me Ji Ji and I call him Hae Hae.” Aku memberi jeda sesaat. “He’s my new roommate.

Your…” Chae Rin terbelalak kaget. Menatap Dong Hae dari atas sampai bawah. “I thought he’s your boy…

Nope. Just roommate.” Dong Hae memotong sambil tersenyum manis.

Chae Rin tampak seperti orang baru tersambar petir. Dia menatapku dan Dong Hae bergantian. Aku tahu arti tatapan Chae Rin dan aku tahu apa yang akan gadis itu katakana selanjutnya.

“Tapi, Ji Hyo… peraturan di apartemenmu… roommate-mu seharusnya…”

He’s gay, Chae Rin,” kataku cepat.

Chae Rin tersedak. “APAAA?”

Dong Hae dan aku saling berpandangan geli.

Yup, I’m gay, Chae Rin-ssi. Nice to meet you.”

.

.

.

.

.

.

I thought he was…” Chae Rin menyibak-nyibakkan tangannya, berusaha mencari kosa kata yang tepat diantara perbendaharaan sempit miliknya. “…normal.” Chae Rin mendesah, menatapku, dan berharap aku tak mengeluarkan reaksi negatif atas keterkejutannya.

Tapi aku hanya tertawa. Dan merapikan rambutku santai seolah tak ada hal serius yang perlu dibicarakan di sini.

“Bukan, dia Dong Hae. Dia roommate yang baru setelah… you know, setelah Tiffany, roommate terakhirku, nyaris membakar habis apartemenku dalam keadaan mabuk.”

Chae Rin meringis menatapku. Kutebak, gadis itu sedang mengingat kejadian mengerikan sembilan bulan silam. Saat Tiffany, roommate yang sudah bersamaku selama setahun, malam itu pulang dalam keadaan mabuk dan memecahkan seluruh guci impor China milikku (yang oh damn, harganya ratusan juta itu dan tiap mengingat betapa guci itu pecah tanpa dosanya, aku jadi ingin mencekik leher Tiffany), Tiffany lalu menyulutkan api dari pemantik yang dipegangnya, lalu melempar pemantik itu ke wallpaper ruang tamu.

Alhasil apartemenku terbakar, nyaris semua. Wallpaper membuat api merembes cepat. Aku yang tertidur langsung terbangun dan terpogoh menyelamatkan barang-barang berharga yang bisa diselamatkan. Sementara Tiffany sudah kabur setelah berhasil mencuri lipstick Maybelline-ku (oke ini absurd, aku tidak tahu kenapa dia bukannya mencuri ponsel atau notebook, melainkan Maybelline yang kubeli diskon 30%).

Polisi menangkap Tiffany tiga minggu kemudian dan gadis itu harus menerima hukuman 2 tahun penjara, itu dispensasi dari hukuman awal yang sebenarnya mencapai lima tahun. Tiffany terkena pasal perusakan barang orang lain dan kericuhan yang merugikan orang lain, tapi hakim meringankan hukumannya karena Tiffany punya hak setengah dari apartemen yang terbakar itu (oh, jangan kau tanyakan darimana undang-undang absurd ini bisa berlaku di negara sedemokratis Korea Selatan, tapi begitulah adanya. Tiffany selalu membayar 50% biaya sewa apartemen sehingga dia berhak melakukan apapun demi nama “setengah apartemennya”.)

Sejak saat itu, aku memilih pindah apartemen dan awalnya berusaha untuk tak bergantung pada roommate. Tapi berada di tengah kota metropolitan dan biaya sewa apartemen yang teramat tinggi, membuatku berpikir ulang untuk kembali mencari roommate.

Dengan catatan, roommate itu harus memenuhi syarat yang sudah kuajukan.

Ada beberapa orang yang mengajukan diri menjadi roommate. Ada Jessica, si artis naik daun yang kantor agensinya terletak di daerah Incheon. Tapi dia tidak memenuhi kriteria sebagai tukang masak yang baik dan dia selalu menatapku dengan sinis meski dirinya jauh lebih cantik dibandingku. Jadi, Jessica tidak lulus tes kelayakan roommate.

Ada juga Sooyoung wanita dari desa di Gyeonggi. Aku terpaksa menolaknya karena dia sudah bersuami dan SUAMINYA JUGA INGIN TINGGAL DI APARTEMENKU. Oh, plis, kuingatkan, apartemenku bukan panti asuhan sepasang suami-istri yang terlantar, jadi dengan senang hati kuusir keduanya dari apartemen.

Ada juga Naomi, gadis dari Jepang yang sungguh amat polos dan baik hati. Dia memenuhi hampir seluruh kriteria roommate yang sudah kutetapkan. Tapi kemudian Naomi bersikeras membayar sewa sebanyak lima puluh persen karena tak merasa nyaman jika dia membayar lebih murah dibandingkanku. Aku sudah menjelaskan panjang lebar pada Naomi bahwa aku trauma punya teman seapartemen yang hak nya sama denganku, yang akan bisa menghancurkan apartemenku sesuka hati, dan berlagak tak berdosa karena menyangka dia juga salah satu investor kehidupan di apartemen. Aku pikir dengan Naomi membayar lebih murah, dia tak akan berulah. Dan aku tak akan berulah pula (karena aku memang cukup banyak kerjaan sehingga tak butuh pakai acara berulah segala).

Tapi Naomi justru menangis dan bilang kalau dia sama sekali tak ingin merepotkanku, dia tak ingin kehidupan yang tak adil. Dan berhubung dia adalah mahasiswi hukum yang, oh shit, memegang teguh keadilan, baginya angka 50% : 50% adalah indeks yang sesuai untuk pembagian biaya sewa. Itu terdengar seperti lagu anak-anak, “50 untuk papa… 50 untuk mama…” yang kemungkinan penyanyinya sekarang juga sudah jadi mahasiswi hukum karena diajari keadilan sejak kecil.

Akhirnya aku terpaksa menolak Naomi. Ada beberapa pelamar lainnya yang datang, mereka tidak bisa memenuhi seluruh peraturan yang kubuat. Ada yang tidak bisa masak, ada yang tidak bisa melihat (ehm) kecantikanku dengan lapang dada, ada yang bahkan mengira iklan pencarian roommate ku di koran itu adalah iklan lamaran kerja. Too shit to be true.

Sampai akhirnya, sore di akhir Juli, Dong Hae datang ke apartemenku. Kukira awalnya dia adalah kreditur bank atau salesman karena jas hitam dan celana kainnya terlihat begitu manipulatif, tapi ternyata dia ingin melamar menjadi roommate. Yang jelas, langsung ketertawakan habis-habisan.

“Kau serius? Kau tahu peraturannya kan? Aku memasang iklan seharga jutaan agar bisa memuat semua persyaratan jadi roommate, dan kau pasti bisa baca syarat nomor satunya apa.” Aku bahkan menunjuk beberapa kertas yang sengaja kutempel di dinding. Tulisannya sama, semua tentang peraturan di apartemen.

“Ya, aku tahu.” Dong Hae meletakkan case hitamnya yang kuduga-duga adalah uang berisi milyaran rupiah atau justru catatan kredit.

“Kau…” aku memandangi Dong Hae dari atas sampai atas. “Kau tahu, peraturan pertama di apartemenku? Aku mencari teman seapartemen yang perempuan. Kutegaskan, perempuan. Kutegaskan lagi, kenapa harus perempuan: aku tak punya waktu untuk jatuh cinta karena bosku adalah orang paling sialan di dunia yang menyibukkanku dengan tugas kantor seabrek, dan aku juga bukan PSK yang butuh belaian kasih sayang pria dengan alibi mencari teman seapartemen.”

Dong Hae tersenyum menatapku. “Aku tahu, aku juga begitu. Aku cukup sibuk mengurusi restoranku di Gangnam dan aku bahkan baru putus dari pacarku karena dia terlalu protektif, menyebalkan, dan… well, tipikal para pria, kau tahulah. Sok berkuasa. Aku juga tahu kau bukan kupu-kupu malam dari agensi pekerja seksual manapun, dan kalau pun memang iya… like I care.” Dong Hae menyibakkan poninya.

Dan saat itu aku melongo sejadi-jadinya. Berusaha meresapi kata-kata yang diucapkan Dong Hae secepat kereta api ekpress kejar setoran. Dan ketika menyadari ada beberapa kata yang ganjal dalam kalimat Dong Hae, dan juga tingkahnya yang sedikit emm… mm… feminim… aku mencoba untuk berbasa-basi menanyakan status kejantanannya.

ARE YOU GAY?”

oh, maaf, aku tidak bisa berbasa-basi ternyata.

Dong Hae menegakkan kepalanya begitu mendengar pertanyaanku. Pemuda itu tak tampak tersinggung sedikit pun, tak tampak marah, dia justru tersenyum manis (serius, senyum Dong Hae termasuk senyuman yang bakal membuat orang ikut tersenyum jika melihatnya. Sedikit seksi dan menghipnotis.)

Yeah, Miss. I’m gay.”

Oke, cabut kata-kataku soal seksi dan menghipnotis. Senyuman Dong Hae langsung tampak seperti senyuman gadis polos yang menggoda iman om-om hidung belang begitu pemuda itu menyebutkan statusnya.

“Aku bisa masak, aku pemilik restoran Kim’s—kalau kau meragukanku. Aku tak akan menyuruhmu menyalakan kompor, memegang sepatula, atau memotong wortel. Tapi aku hanya ingin kau mencuci piring yang kotor karena kukuku sedikit alergi terhadap sabun cuci piring dan aku tidak kuat melihat buku-buku kukuku mengkerut terkena air lama-lama.

Aku tidak lebih cantik darimu, tapi mungkin aku akan lebih menarik dibandingkan dirimu dalam beberapa hal dan tenang saja aku bukan orang sirik yang suka sok-sok iri. Tapi aku juga perlu menegaskan bahwa kau juga tak boleh iri karena aku punya diskon spa gratis di Felin De Beau selama setahun yang bisa membuat kulitku tiga kali lebih mulus dibandingkanmu.

Aku akan membayar 35% uang sewa dan menganggap tak punya hak lebih atas apartemen ini. Tapi aku juga ingin kau tak boleh mengusirku hanya karena aku lupa mematikan hairdryer dan menonton ulang Glee di Sabtu malam, aku benar-benar menggilai Rachel dan kau harus memakluminya.

Aku baru saja putus dengan pacarku, Marcus, dan kuharap dengan begitu tak ada pria-pria yang datang karena mengencaniku. Tapi aku juga ingin kau meminta ijinku terlebih dahulu jika ingin mengajak pria masuk ke dalam apartemen, karena aku harus memastikan tidak memakai daster di dalam apartemen saat seorang pria datang berkunjung.

Dan yang terakhir, I like being your family.

Aku terdiam mendengar celotehan Dong Hae yang sungguh amat lancar seperti pidato calon presiden. Dan untuk semenit lamanya, aku sempat berpikir aku pasti sedang kecelakaan dan ini lagi di akhirat, makanya aku melihat hal-hal aneh melintas di depanku. Tapi ketika akhirnya aku sadar tidak ada yang sedang kecelakaan disini, dan semua masih dalam keadaan baik-baik saja, aku memutuskan untuk menghembuskan napas panjang, sepanjang yang pernah kuhembuskan.

“Oke… Lee Dong Hae… well…” aku tertawa kaku. “Ehm… aku… tidak tahu apakah kau sebenarnya mengerti peraturan yang kubuat atau tidak…” aku menggigit bibirku, dan lalu, berteriak penuh semangat. “TAPI DEMI TUHAN, KAU INI ROOMMATE PALING SEMPURNA!! SELAMAT DATANG DI APARTEMENKU!!”

Dong Hae dan aku berpelukan girang dan kami menari-nari seperti Mariana-Silvana, saudara kembar bagai pinang dibelah dua, yang akhirnya bertemu juga.

Sejak saat itu aku resmi tinggal bersama Dong Hae, pemilik restoran Kim’s yang benar-benar merupakan koki handal.

Kami punya banyak kesukaan dan kegilaan yang sama. Aku menyukai acara re-run How I Met Your Mother, dan Dong Hae dengan senang hati menyumpah-nyumpahi tingkah tolol Ted. Aku suka popcorn yang disantap sore hari saat meminum teh, dan Dong Hae selalu membuat popcorn terenak, yang bisa kami santap sambil bermain poker. Aku suka Maybelline, Revlon, serta Etude, dan Dong Hae selalu tahu jadwal diskon dari mal-mal di Gangnam. What a perfect life.

 

“Apa kau tak akan merasa ada apa-apa jika bersama Dong Hae? Maksudku… bagaimana pun juga dia kan…”

“Dia gay, Chae Rin.” Aku mencabut flashdisc ku dari laptop dan menyeringai lega. Akhirnya tugas dari SS kelar juga. “Dia itu partner paling sempurna.”

Chae Rin menatap wajah berbinar-binarku dengan senyum. “Oke, syukurlah kalau begitu, Ji Hyo. Aku senang kalau kau juga senang.”

Yup, you must.”

Well, by the way, aku baru ingat harus memberikanmu ini.”

Chae Rin mengeluarkan selembar kartu. “Bacalah, jika kau tak sibuk.”

Aku melirik kartu itu sejenak. “Ini apa?”

“Undangan.” Chae Rin mengerling sebal. “Ugh, undangan reuni SMA,” desisnya tak suka.

Aku memicingkan mata mengambil kartu itu, dan ikut-ikutan mendesis menatap kata demi kata yang ada di dalam kartu.

“Kita akan bertemu…”

“Suji, Nara, dan Ji Eun,” ucap Chae Rin. Gadis itu merosot di atas kursi.

Aku mencibir sebal, membuang kartu itu sembarangan dan kembali merapikan barang-barangku. “Persetan dengan itu. Ayo, antarkan aku ke redaksi. Aku harus bertemu SS sebelum alisnya semakin tebal dan bisa-bisa alisnya tumbuh di kumis, lalu dia akan jadi Pak Raden.”

Chae Rin tertawa kecil mendengar candaanku. Dia menyambar tas di atas meja dan melenggang mengikutiku.

.

.

.

.

.

.

Aku muntah.

Berkali-kali.

Seluruh makanan yang kumakan tadi sore di kafe bersama Chae Rin keluar begitu saja. Aku bahkan bisa merasakan cairan pekat mengalir dari hidungku. Perutku bergejolak dan tubuhku nyaris tak bisa diajak berdiri.

Dong Hae berlari pontang-panting membawakan teko berisi air panas dan cangkir bening, dia menuangkan air ke dalam cangkir dan menyuruhku berkumur dengan air hangat.

Aku kembali muntah.

Dong Hae menepuk-nepuk punggungku khawatir.

“Kenapa, Ji Ji?” tanyanya bingung. “Ada masalah?”

“Tidak ada…” aku bersendawa pelan. “Ugh, maaf…”

“Tidak masalah, kita sama-sama perempuan jadi tak usah malu untuk bersendawa.”

Aku tertawa pelan seraya memukul dada Dong Hae. “Kau ini…”

Dan aku tak bisa melanjutkan ucapanku karena kembali muntah. Dong Hae kembali menepuk-nepuk punggungku, bahkan memijat pelan tengkukku agar merasa lebih baik.

Setelah tubuhku lemas dan seluruh cairan di tubuh sudah dikeluarkan dengan paksa akibat insiden muntah itu, aku dan Dong Hae terbaring di atas sofa ruang tivi dengan tersengal-sengal. Perutku kosong dan wajahku pucat. Dong Hae menyuruhku makan bubur tapi aku hanya sanggup menghabiskannya sebanyak tiga sendok. Dong Hae tak memaksa, sebaliknya dia justru membawakan bajuku dari kamar dan menaruhnya di sampingku.

“Ganti bajumu. Bau muntah, tahu,” ujarnya.

Aku melirik malas ke arah daster pink milikku. Daster yang sama dengan daster yang dipakai Dong Hae. Kembaran. Kami membelinya dua bulan lalu saat Dong Hae memaksaku menemaninya mencari kado buat salah satu pegawai Kim’s.

“Capek… nanti dulu.”

“Bau, Ji Ji. Bau banget. Ugh…” Dong Hae menutup hidungnya dengan gaya dramastis.

Aku mengerang. Kubuka bajuku dan melemparnya sembarangan ke lantai, lalu menarik daster itu dan memakainya asal-asalan. Dong Hae menatapku dalam diam. Dia mengambil bajuku yang tergeletak di lantai, lalu melenggang ke kamar mandi. Mungkin mau meletakkan bajuku ke keranjang pakaian kotor.

Aku memejamkan mata, memijat-mijat keningku.

Beberapa menit kemudian Dong Hae kembali dan duduk di sampingku, di tangannya terdapat piring berisi Oreo rasa stroberi. “Ada masalah apa?”

“Uhm?”

Dong Hae memutar biskuit itu dan menggigiti cream stroberinya, kemudian meletakkan dua lapis biskuitnya ke atas piring.

“Kau tidak pernah muntah meski masuk angin atau telat makan,” ujar Dong Hae seperti hapal kebiasaanku. “Kecuali kau merasa gugup, atau sedang dilanda masalah sulit. Seperti saat kau tanpa sengaja menghilangkan file layout profile Emma Watson dan SS-ssi menskorsmu selama tiga hari, kau waktu itu benar-benar gugup dan muntah-muntah. Nah, sekarang, katakan, apa kau menghilangkan file penting lagi atau ada masalah sulit lainnya?”

Aku mengambil biskuit yang tidak dimakan Dong Hae. Aku dan Dong Hae sama-sama menyukai Oreo, dengan alasan yang berbeda dan menakjubkan. Dong Hae suka sekali dengan semua krim Oreo, entah itu cream cokelat, stoberi, atau vanilla. Dong Hae selalu menggigiti cream itu hingga bersih dari biskuitnya. dan lalu membuang biskuit cokelat Oreo itu. Dia tidak suka dengan biskuitnya, hanya cream-nya saja.

Kebalikan denganku yang justru hanya suka memakan biskuit Oreo, renyah dan nikmat. Aku tidak terlalu suka dengan cream-nya. Tapi tidak sampai membuang cream itu juga seperti yang dilakukan Dong Hae pada biskuitnya. Aku lebih suka menguliti cream Oreo, lalu menyimpannya di dalam kulkas, sampai Chae Rin atau Krissie berkunjung ke apartemen dan menghabiskan cream tersebut.

Dan lucu sekali saat aku mengetahui bahwa kami bisa saling melengkapi. Dong Hae hanya akan memakan cream Oreo dan aku memakan biskuit Oreo tersebut. Kami menggilai Oreo dan tidak pernah tidak memakan Oreo dalam sehari. Dan kami sama-sama bersyukur tak harus memutar otak mencari cara bagaimana menghabiskan bagian Oreo yang tak kami suka.

“Aku… mendapat surat undangan.” Aku mengunyah Oreo-ku, untuk sesaat lupa dengan rasa mualku.

“Undangan?”

“Reuni, SMA.”

“Lalu?”

Aku menoleh dan menatap Dong Hae dengan pasrah. “Aku benci mengakui hal ini, tapi ya… aku benci dengan masa SMA-ku.”

Dong Hae menatapku siap mendengarkan.

“Aku dulunya bersahabat dengan tiga orang temanku, tapi lalu kami sedikit ada cekcok. Dan kami tak pernah akur lagi.”

“Waktu berlalu dan seharusnya kau sudah melupakan itu, kan?”

Aku mengangguk. “Ya, tapi…”

“Tapi?”

“Tak semudah itu, Hae Hae… masalahnya…”

Aku memejamkan mata.

Masalahnya, mereka tentu akan mempermalukanku di pesta reuni itu, Hae Hae

Mereka akan mempermalukanku, sama seperti mereka memperlakukanku saat kelulusan SMA dulu…

Aku tak ingin mengatakan hal itu pada Dong Hae, rasanya malu saja membicarakan aib sendiri. Dan tampaknya Dong Hae mengerti situasiku, dia kembali mengikir cream Oreo-nya, dan memberikan biskuit Oreo yang tak dimakannya padaku.

“Ini.”

Aku menerimanya sambil tersenyum.

You know, Oreo is like us,” celetuk Dong Hae.

Why?

“Tahu tagline Oreo?”

“Chocolate Sandwich Cookies With Strawberry Flavor?”

Look? It’s like us. Song Ji Hyo Sandwich Cookies With Dong Hae Flavor. Kau hanya memakan cookies-nya, and let me eat the flavor.”

Aku mengerjapkan mata sejenak, dan lalu tertawa terbahak mendengar metafora Dong Hae yang amat sangat konyol itu. Dan entah kenapa, aku merasa jauh lebih baik setelah tertawa.

.

.

.

.

.

.

“Kau ingat Ji Yong?”

Aku berhenti mengetik ketika mendengar nama itu dari sambungan teleponku dengan Chae Rin. Nama itu sontak membuatku terpaku lama menatap kosong kea rah laptop.

“Ji Yong…?”

“Dia akan hadir di reuni.”

“Oh.”

“Ji, pastikan kau harus punya pengganti Ji Yong atau…” suara Chae Rin terdengar semakin mencicit, “kau bisa dipermalukan seperti dulu…”

Aku memejamkan mata. Tadi pagi aku sudah tidak mual lagi, tapi mendapat berita begini dari Chae Rin, aku ingin muntah. Lagi.

.

.

.

.

.

.

Next or stop?

Hello its me

okay okay i know, lo semua mau bilang: “what the hell soph, kita nungguin a cup of lee dan lo ngeluarin biskuit oreo??”

hahaha a cup of lee masih dalam pengerjaan dan jujur part yang selanjutnya mmg bakal agak berat karena you know, udah mendekati ending2 gitu deh

tadinya gue lagi ngetik a cup of lee, tapi pas gue istirahat, gue makan oreo dan mendadak ada ide nyeleneh masuk ke otak.

oke,sorry banget deh… gak tahu deh tahu2 malah jadi ini ff xDDDD

maaf ya kalo gaje dan aneh

sebenernya mau dijadiin one shot,

tapi entahlah gue pengin ini two shot aja

sekalian kita rehat dulu dari perselingkuhannya jihyo yang bikin puyeng itu, mari kita lihat sebetapa flavornya donghae xDDD

thanks for supporting this blog! love you all!

50 thoughts on “OREO [1/2]

  1. Ya ampuun Soph… aku melewatkan yang ini ternyata… ga nyadar looh,, padahal sering seliweran di sini…
    Hmm… Hae pake daster pink? Ga kebayang deh… itu tangan segede itu kayak apa yah bentuknya?
    Anyweii.. karakter Ji-nya asyiik banget… SS juga asyiik…
    Seruu nihh…
    Tumben kan aku suka Hae kayak gini… hihi.. Hyuk aku selingkuh dulu ya saysng..

  2. Damnshitcraphell!!!!
    Dan aku mengucapkan sumpah serapah krn dua hal
    -bodohnya aku terjengkang dari kursi karn lonctxx saking akutnya baca ff ini*ngalay mode on
    -AHMJJDMDDJHFGBB bloody hell! Ff kakak gila sekaleeeh. Memasuki taraf ‘mengerikan’ oke, just kidding. Ini keren, kak. Well, sekarng kakak bisa mengecam, BITCH, lo udh muterin blog gw kek komedi putar dan lo baru komen sekali disini, come on!!! Astaga ini too much. Maaf saja cewek ini emang radaxx*ngeh

  3. Pingback: Author’s Bank 5th edition: (01.01.2015 – 31.10.2015) | sophiemorore

  4. eh sorry demi tuhan emg aku bilang kalau author sophie gak berbakat??
    Aku gak bilang gt serius🙂
    Coba baca komentarku lg, mungkin kamu agak keganggu ya sama kalimat awal, itu cuma lucu2an aja ko. Aku emg merasakan grafiknya di ff ini, itu bukan berarti penilaian utk semua ffnya. Hanya yg ini.
    I’m really sorry sophie, jadi salah paham gini. Hanya berusaha utk objektif,

  5. AUTHORNYA BIASA AJA, TULISANNYA JUGA BIASA AJA.

    *jebakan batman* wkwk

    Oke aku emg baru baca ff yg ini, belum ubek ubek atau apa.
    Pemberdaharaan kata2 atau diksinya ngingetin aku sama kata2nya bang alit “gua gak bakat di nulis. Tapi gua punya usaha terus buat latihan nulis”
    Eeits bukan berarti kamu gak bakat, menurutku dari diksi kamu itu aku seperti melihat “usaha keras” kamu disitu. Ff ini punya grafiknya tersendiri, berkembang.
    Ayo patenkan ini “kamu harus punya 1 buku sebelum mati”
    Sipp, the last, salam kenal Aileen oka yg masih sama belajar kyk kamu🙂

    • Halooo cm mau ngasih tau aja mgkn km mmg baru pertama baca tulisan sophie onnie
      Aq jg tw mksdmu baik
      Aq hanya mau blg dr sudut pandangku, buatku ya…sophie itu berbakat. Km hrus nyoba bca ff dia yglain.
      Sbg penggemarnya, aq kagum bgt sama dy cz meski udh terkenal dan sibuk sama tugas akhirnya,dy sll nympatin diri buat ngisi blog ini krn reader2 yg mnta dy ngelanjutin typ ff nya. Meski dy tw jg bnyk sider, dy ttp nulis dan bikin page khusus spy kita smw bsa ttp komunikasi.

      Ada baiknya km baca2 ff dy yg lain jg
      Atau buku2 dy
      Dan mgkn kita saling nyampah d blog ini

  6. Haii *lambai-lambai*
    Aku new reader, izin baca kelanjutan ff ini yaa *kedipin mata*

    Ff ini idenya unikk, donghae yang senyumnya polos dan sekseh ituu, dirimu dengan sesuka hati menjadikannya seorang… GAY ?? *tepok jidat*

    Tapii, aku sukaaa😀

  7. Hei, soph!!
    Muahahahaha….
    Kau bisa2 nya jadiin donghae gay!
    Ya ampuuuuuunnnnnn……
    aq ga bisa! ga bisa bayangin betapa nistanya dia berdandan ala mbak-mbak centil berdaster pink.
    Najong bgt lho itu soph!😀

    Tapi tapi, ya…
    Kok aku mencium adanya cinlok ya d sini…
    Ya, aku sih berharap cinlok itu bisa bikin donghae tobat dan keluar dr jerat buruk kewanita-wanitaannya.
    Amiin…

  8. setelah komen di fb perihal oreo ini yg aku kira baekyeon /ha ha ha/ dan baru sempet baca sekarang..jeng.jeng.jeng….
    oh my sophie kenapa begitu tega my donghae menjadi gay?? ya tuhan ngebayangin donghae kibas poni dengan jari lentik……..mari hening sejenak……
    memang kebiasaan gadis bernama sophie maya ini membuat swsuatu yg bisa bikin orang nganga…..
    yatuhan donghae gw…….. /kemudianmelipir/ .-.
    ah sudalah mari baca part dua dulu hahahahahha😄 /ngacir/

  9. Oh my god eonni, what’ve you done with hae’s character? I can’t imagine that he is a gay, oh my god..😦
    mudah”an di chapter 2nya dia tobat..

  10. uwaw demi kolor leeteuk ahjussi >_<
    ini lagi berusaha bayangin gimana centilnya si haek haek pakai daster pinkeu mungkin gambarnya rapunsel kaya punya adik saya kali ya?
    oh, dengan sexy lips merah menggoda,
    ah hancur sudah image "Donghae The Handsome Man" pada dirimu haek :p

  11. Dan ini yg gue inget2 mulu adalah adegan jihyo buka baju dpn donghae dan si donghae diam aja gitu
    Whaaaattt butuh ditambahin itu pnjelasan apa yg ad d pkiran donghare lyt ji tnpa baju
    Hahaha scara dia gay

  12. astaga shoooppp !!!! Ini sangat absurd.. kamu tau ??! A-B-S-U-R-D-UD-UD-UD.. InnocentHae pake Daster ??!! OMG gue aja belom pernah pake baju yg namanya DASTER.. OK fix donghae gue panggil bik yem aja ye.. Wkwkwk

  13. kok aq jadi curiga kalo donghae tuh cuma nyamar jd gay ya? aq ngayalnya donghae sebenernya naksir kapten ji, dan supaya bisa deket dgn kapten ji dia bela-belain jd cowok gay…bener gak? atau itu cuma khayalanku aja?,hihihi

  14. woooow dont think that DH will be a true gay!!! uwoh bahasa DH thor bikin aku inget ma bences di lampu merah #eh

    yg jelas ni ff woooow bgt!! dan entah kenapa bikin aku senyum2 sendiri… apalagi bagian DH bilang “…like I care! ” buahaha tp pantes bgt dah dia dpt peran ginian buakakak #dijitak elfishy

  15. Donghae Gay?!! O.o
    Cuma pura2 apa beneran itu shop?
    Keren sekali seperti biasa na. Bahasa na segar, lugas, juga cerdas…
    Eh iya… donghae bilang mantan na nama marcus. Marcus itu kyuhyun bukan?

  16. DONGHAE PAKE DASTER IBU-IBU???
    IGE MWOYA!! -_-”

    author, lanjutkan kerja kerasmu. ^^
    next next next. I’am waiting~~

  17. unn tau kagak?? FFmu selalu bisa bikin ngakak xD
    sumpah dah belom pernah nemu author segila dirimu unnie!! pasti selalu ada aja konsep atau cerita gila yang berada di luar jangkauan pikiran manusia, yang bahkan alien aja berpikir dua kali buat bikin cerita gila kayak gini!! DAEBAK!! selalu suka ama cerita mu unn!!😉
    Akhhh uri yeobo siwon!! dia itu emang mr. perfect, maap aja dia begitu karena jarang diurusin sama aku unn’-‘)/ alisnya juga jarang di cukur makanya lebat kayak hutan hujan tropis tapi tenang saja walau seperti itu dia tetep yang paling ganteng dimata aku!!
    kenapa jadi ngomong ini?
    OKE LANJUTTTTT OREOO NYA!

  18. Oh my oh my god
    Donghae kenapa kau naaak?
    Ya ampun ngakak habis nih baca ini gk nyangka aja donghae disini melambai gilaaawkwkw
    Apalagi waktu dia bilang mantanya marcus hahaha asli lucu
    Trus juga waktu wawancara jadi roommatenya ji hyo hahaha
    Lanjut dong kak hehehe

  19. asik banget gaya bahasanya thor
    belum apa2 aku udah ketawa duluan sama peraturan jihyo dan masa lalunya bareng tiffany
    pfft boleh aku ngebayangin tiffany nya itu tiff snsd? soalnya kayaknya cocok banget gitu hahahahaha
    dan ya ampun sooyoung udah nikah
    hahahaha
    sayang banget cuma 2 chappy
    tapi aku harap meskipun chap nya pendek, updateannya bakal cepet *kedip kedip ke authornya

    love you too author

  20. good story thorr
    kekeke aduh ga nyangka kalo donghae bakal gay
    uhuk
    ff why why why jadi kenyataan gitu ya? hahaha

  21. Ji’s Roommate Rules:

    You must be a girl, I don’t even want to imagine that I will falling in love and having sex with my roommate.
    You must be a genius when it comes to kitchen, I can’t cook and don’t tell me to turning on the stove or our apartement will be on fire.
    You have paid 35% from the rent cost, why not 50%? Because it will be difficult kick you off when you have a half investement with this apartement.
    Don’t yelling at me or staring at me because I’m more pretty than you, and don’t even think to invite your boyfriend if you knew he will falling in love with me and broke your heart.
    We are roommate, we are best buddies, we are family, so feel free to naked in front of me—as long you proud of your belly button.
    Regards,

    Song Ji Hyo

    HAHAHAHAHAHA
    RULE MACAM APA ITU THOORRR?
    TAPI SUMPAH ITU PERTURAN PALING KEREN DEH
    DAN GARA2 KEABSURDAN TIFFANY LAH JIHYO SAMPE BEGINI
    KEKEKE
    DONGHAE MEMENUHI SEMUA KRITERIA ITU KECUALI NO 1
    HM…. SO… APA NANTI MEREKA BAKAL FALLING IN LOVE BENERAN ATAU NGGAK YAAA?😄

  22. aku selalu suka kalo sophie udah bikin cerita dengan POV orag pertama
    berasa bener2 bikin kita yang lagi ngalamin kejadian itu
    entah genrenya komedi, romance, atau sedih2an… semuanya dapet banget
    soph, kamu harus sering2 bikin crita dengan POV pertama dong
    serius keren banget tahu
    atau coba bikin novel dengan POV orang pertama? aku nunggu banget kalau itu… :DD
    dan itu lho julukan2 aneh buat siwon nggak nahan banget
    setuju sama komen sebelumnya, butuh ada adegan siwon dan jihyo
    aduhhh member2 super junior setampan siwon aja bisa jadi gaje ya dibuat sama sophie
    pokoknya ya soph… gue suka gaya lo deh
    keep writing my fav author!

  23. author tanggung jawab
    perutku sakit ini kebanyakan ketawa
    posternya nipuuu
    aku kira bakalsemacam fluff gitu
    anjir ternyata komedi
    gay pulaaaa
    aku bayangin si jihyo sama donghae duduk di depan tivi pake daster sambil nyumpah2in ted di how i met your mother
    mereka klop banget itu jadi ibu2 tukang gosip gang sebelah
    nggak tahu belum tahu ceritanya mau dibawa kemana, but its so sweet
    perumpamaan oreo nya ngena banget
    jihyo hanya bakal makan biskuitnya, dan donghae makan cream nya
    ughhh
    romantis? ehm berhubung donghae gay… aku ga tau harus menyebut ini romantis apa nggakkk

  24. next thor!
    HAHAHAHAHAHAHA
    donghae gaaaayyy
    dan entah kenapa aku bisa ngebayangin dengan jelas dia pake daster pink dan gaya jalannya melambai gilaaaaa
    hahahahahaha
    cocok banget *dibakar fishy*
    mereka (read: donghae jihyo) ttp aja klop mau gimana pun sifatnya donghae
    keren thor
    aku memang lebih setuju donghae jihyo dibanding sama eunhyuk kekeke

  25. NEXT
    INI HARUS NEXT
    PENGIN TAHU AKHIRNYA GIMANA
    YA KALI MASA DONGHAE SELAMANYA GAY?
    TAPI TAPI
    HMMM BELUM KETAUAN MASALAHNYA DIMANA
    TAPI PART INI CUKUP MENGEJUTKAN
    HIHIHIHI
    KEEP WRITING AUTHOR SAYAAAANGGGG

  26. pertama tama biarkan dulu syaa menjabat tangan anda, sophie…
    ditengah2 ngerjain skripsi masih ttp setia nerbitin ff
    dan nggak pernah tanggung2 kalo nulis ff
    selalu unik, beda dari blog2 lain…
    aaaa aku ngepans berat sama semua tulisanmu
    dan yang ini…. asdfghkl banget
    donghae yang gay, dan siwon si alis ulat bulu
    aku hanya berharap ada seorang pria normal di ff ini tapi entahlah aku benar2 menikmati baik narasi dan dialognya
    rasanya kayak nonton drama2 amerika gitu
    hihihi suka pakai banget

  27. memang tidak dianjurkan ini baca a cup off lee lalu habis itu baca OREO
    seratus delapan puluh derajat beda genrenya
    buakakakakak
    masih geli ini pas si donghae nyibakkin poni dan bilang “like i care”
    ya ampun kayak melambai banget deh
    hahahahahaaa
    masih ga percaya km tega ngasih peran donghae macam begini
    tapi ini keren banget
    aku malah ngerasa donghae terlampau sweet
    bisa nggak dia nggak gay?
    dia cocok itu sama jihyo….

    dan masalah reuni SMA serta ji yong ji yong itu… apa ada hubungannya nnti sama donghae ya? hmmm…

  28. sophieeee
    im cominngggggggggg
    fufufufu
    aku awalnya berharap ada a cup of lee dan kaget km ngeluarin ff baru
    oke two shot ya?
    bisa ga next partnya terbitnya cepetan?
    cius ini penasaran soalnya
    apa masalahnya
    apa yang terjadi
    belum keliatan
    but….
    donghae bener2 nendang banget disini
    selamat ya hae, aku rasa kamu jadi the king of nista di blog ini

    semua peranmu ga ada yang ga nista
    uhuuukkkk

    tapi lebih daripada itu
    mau senista apa peran donghae, dia kok cocok2 terus ya sama jihyo? wuaaa mereka mmg couple sejati iniii

  29. suka sama cerita ini
    bda banget sama ff2 lainnya
    sophie selalu daebak deh

    dan itu ya ji yong siapa soph? jangan bilang GD ? wkwkwkwkwk

  30. Alis ulat bulu?
    Siwon Sialan?
    SS-ssi?
    Wah tiga julukan aneh buat si tampan siwon
    Kekeke
    Nista banget dia disini
    Pengin bsk ada adegan dia sama ji dan ji keceplosan ngatain siwon gitu kan seru ><

    Ini kayak baca ff why why why atau a cup of lee versi konyooolll puooollll
    Pemerannya sama
    Ada chaerin, jihyo, donghae, siwon
    Jgn2 bsk ada eunhyuk jg
    Dia jd pasangan gay donghae mgkn? Hahaha
    Aku tdk bs mmbayangkannya
    Ini aja msh syok donghae di buat gay beneran
    Hahaha
    I love you soph
    You are the best author ever dehhh
    Kece bgt

  31. Hahaha
    Hahaha
    Ngakak mulu nihhh

    “Tidak ada…” aku bersendawa pelan. “Ugh, maaf…”

    “Tidak masalah, kita sama-sama perempuan jadi tak usah malu untuk bersendawa.”

    Aku tertawa pelan seraya memukul dada Dong Hae. “Kau ini…”

    Gokil banget
    Pas donghae blg dia itu perempuan, aq ampe kesedak
    Kekekeke
    Ini keren pakai banget
    Aq kok malah berharap mrk jadian? Wahahahaha
    Kece tuh jihyo jadian sama cowok gay
    Tapi kl gay nya kyk donghae…bolehlah
    Perfect banget

  32. Mwoooo?!!!
    Duh ide km soph
    Selalu aja nyeneh2 kyk gini
    But its really fun
    Kekekeke
    Kyknya blh jg punya rommate macam donghae
    He’s perfect hahaha
    Pinter masak dan baik hati gitu

  33. Kekekeke lumayan nih buat refreshing
    Stlh kmrn nangis2an d a cup of lee

    Demi apa y donghae gay,sarap lo thor
    But ceritanya kece bgt
    Donghae ya meskipun gay ttp aja sweet sama jihyo
    Hahhaa itu beneran gay?
    Masih ga percaya aku ><

  34. Sempet kecewa sih krn kyknya a cup of lee g terbit minggu ini,tapi cerita oreo worh it bgt deh
    Pengin tau apa yg terjadi selanjutnya
    Hahhaa dan masih kebayang kl donghae gay beneran
    Hahaha

  35. Marcus?
    Kyuhyun dong?
    Hahahaha
    Ini sumpah ngocol banget
    Bner2 refrshing

    Dan itu siwon si alis ulat kaki seribu
    Duh sophie…kok yo bisa toh kosa katamu nyentrik2 gini?
    I like it so much

  36. Tagline yang kece
    Kayaknya bsk2 kl makan oreo bakal keinget ff ini mulu
    Bisa aja ya kamu soph
    Cuma iseng makan oreo
    Eh dapat idenya unpredictable banget
    Sumpah ya itu donghae mantannya marcus?
    Jangan bilang kl donghae itu mantannya kyu?
    Lol lol lol
    Aduuuhhh kocak banget ini ff
    Bahkan dialog2nya aja lucu parah
    Nggak ngelawak tapi ttp kocak

    You nail it, girl

  37. ..
    Fufufufufufufu
    Hahahaha
    Buakakakaak
    Astaga
    Buahahahaa
    Aduh.duh
    Bentar thor,masih ga bisa percaya ini.si donghae dibuat melambai
    Gila lu thor kagak puas apa lo.pitnah2 donghae di why why why dikatain jd gay?
    Eh dalah sekarang malah dibikin gay beneran ancur ancur

    Tapi sumpah ya typ ff ji sama.donghae itu rasanya kyk liat love versi sweet bingits
    Beda sama ji dg hyuk yg kayaknya love versi cool gitu

    Itu demi apah juga donghae pake daster???
    Asdfghjkl
    Nistaaaa
    Nista bangeeet

    Lanjut ini !!!
    Harusss!!!

  38. duh,skrg siwon yg nistain.well,dia sering bgt dpt peran yg trlalu sempurna ,,skali2 visualnya sj dpt peran yg kyk gini.
    haha..eon demi apa donghae gay?bnr2 imagenya d ancurin bgt d sini.tp dia kyk klop bgt ma jihyo sbg roommate,,mrk py byk kesamaan.n jihyo nerima stlh denger curhatan pjg lebarnya yg spjg pidato itu.
    tp siapa yg tw klo diantara mrk,g terjadi apa2 scr mrk beda gender n tinggal 1 atap?*you know what i mean*
    ini cm twoshoot doang aj ya?wokeh,no problem skln sbg selingan nungguin a cup of lee~~
    aq nungguin lho a cup of lee nya,,^^fighting!!ganbatte!!

  39. NEXTTTTT!!!! astaga, blm pernah baca ff model gini :v ini ngga nyeleneh ngga gaje ngga aneh kok :p ngga masalah sama a cup of lee-nya, ibaratnya ini ff dijadiin refreshing =)) btw, sialan nih, donghe nya gay :s ngga bisa ngebayangin dia jadi lembek :v cos, baru aja liat fotonya dia di Icn airport dg manly-nya:/ dan apapula daster pink :v sungguh, ini ff pertamaku yg cast dunghe jadi lembek letoy kek gini xD tntg tiffany emg absurd story xP dan si SS, si alis tebal haha😀
    keep writing ya!!!!!!!!! and luv u *-* my lovely author *halahh =))

Just talking...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s