A Cup Of Lee (Part 6)

Sebagai penulis, aku akan memberitahumu akhir kisah ini: bahagia.

Menurutku sih, begitu.

Tapi aku tidak bisa menentukan apakah akhir kisah ini akan bahagia bagimu atau tidak.

Kutegaskan, konsep kebahagiaan berbeda-beda tiap orang.

Aku akan memberimu gambaran, cerita ini tentang Song Ji Hyo, wanita yang mencintai Lee.

Tapi dia bertemu dengan Lee lain yang membuatnya menggila.

Dan sampai pada satu titik, wanita sialan ini harus menentukan kebahagiaannya sendiri.

Lee mana yang harus dipilih?

Tenang saja, cerita ini akan berakhir bahagia.

Setidaknya, menurutku sih begitu.

.

.

.

Author : Sophie Maya

Title     : A Cup Of Lee (Part 6)

Cast     : Song Ji Hyo, Lee Hyuk Jae, Lee Dong Hae

Support Cast: Song Joong Ki, Ryeowook

Genre  : unknown

Rated  : PG-19+

Length: chaptered

Type    : ?

Summary         : Lee itu seperti toxin, kau bisa jadi zombie jika terkena virusnya. Kau bisa jadi zombie… yang sedang jatuh cinta… dan hidup dengan satu tujuan: mencintainya.

ACOL 6b

Disclaimer       : this story is MINE.

Cek video trailer disini

.

.

.

.

.

.

Uap mengepul dari bibir Dong Hae ketika dia menyapa penjaga lobi apartemen. Hari sudah sangat larut dan Dong Hae buru-buru bergegas masuk ke apartemen. Dia tidak merasakan dingin sama sekali, tapi justru mengantuk. Ya, Dong Hae ingin tidur cepat agar besok dia bangun pagi untuk… hm, Dong Hae tak tahu pasti untuk apa, tapi dia ingin duduk di pinggir jendela, menatap sepinya jalanan Seoul, dan mm… berharap kalau-kalau kendaraan Ji Hyo kembali melintas dan gadis itu akan kembali mengiriminya pesan.

Membayangkan itu tanpa sadar membuat bibir tipis Dong Hae mengulas senyum. Pemuda itu menggenggam tali ranselnya erat-erat dan sedikit melompat kegirangan ketika berjalan meniti koridor apartemen.

Tapi hal itu tak berlangsung lama, begitu sampai di apartemen, Dong Hae sempat terdiam beberapa saat melihat sepasang heels tersimpan manis di rak sepatunya.

Sepatu milik siapa?

Dong Hae langsung masuk ke dalam apartemen untuk memeriksa keadaan. Kemudian dia menemukan seorang wanita yang berdiri di samping jendela yang terbuka.

“Dong Hae? Kau kah itu?”

Sosok itu berbalik dan menoleh. Dong Hae menatapnya tanpa berkedip.

“Bagaimana bisa… kau…?” Dong Hae memandang sekeliling.

“Bagaimana aku bisa masuk?” wanita itu tersenyum, sorot matanya tampak sedih. “Kau tidak pernah mengganti seluruh passwordmu, masih sama saja… masih menggunakan tanggal jadi kita…”

Dong Hae membuang muka. Napasnya memburu cepat. Dia mengepalkan tangan kuat-kuat hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangan dan menimbulkan jejak kemerahan.

“Dong Hae…” wanita itu memanggil pelan. “Aiden…”

Dong Hae berusaha mati-matian menahan gejolak yang timbul ketika wanita itu menyebut nama panggilan akrabnya.

“Aiden…” wanita itu mendekati Dong Hae pelan-pelan. “Kau… tinggal di apartemen tanpa jendela. Kau, jangan dekat-dekat jendela, ya…”

Dong Hae mengangkat wajahnya dan memandangi lekat-lekat wajah wanita di depannya. “Samantha…”

.

.

.

.

.

.

“Kau gila, oh benar… kau memang gila. Gila, gila, gila…!” Ji Hyo memukul-mukul kepala dengan tangannya sambil terus memaki dirinya sendiri. “Gila, gila, gila!” teriak Ji Hyo lagi.

Ya, dia sudah benar-benar gila. Bagaimana mungkin dia bisa tertarik dengan pemuda lain sementara dia sudah punya seorang tunangan yang sempurna di segala-galanya? Bagaimana mungkin dia bisa luluh dengan senyum tanpa dosa Dong Hae saat tunangannya Hyuk Jae, selalu membuatnya mabuk kepayang?

Gila, gila, gila! Song Ji Hyo benar-benar gila!

Ini tidak benar, sungguh-sungguh tidak benar!

Ji Hyo menggigit bibir bawahnya kuat. Ini namanya selingkuh, bodoh. Kau selingkuh! Astaga, kau ini kan gadis paling setia! Hubunganmu dengan Hyuk Jae nyaris memasuki sepuluh tahun pacaran dan kau selingkuh? Kau ini memalukan martabat wanita korea! Kau selingkuh!

Ji Hyo mengumpat-umpat dalam hati.

Dia tidak pernah begini sebelumnya. Setomboi-tomboinya dia, sepreman-premannya dia, jika urusan menyukai seseorang dia tak akan pernah main-main. Hubungan Ji Hyo dan Hyuk Jae tak pernah begini sebelumnya. Mereka sudah berkomitmen untuk saling mencintai bahkan sampai kakek dan nenek.

Lee Hyuk Jae adalah pria yang amat baik, nyaris tanpa cacat. Dia memperlakukan Ji Hyo seolah gadis itu adalah sesuatu yang amat berharga. Ketika Hyuk Jae menatapnya, Ji Hyo merasa seluruh bebannya terangkat. Ketika Hyuk Jae tersenyum, Ji Hyo merasa mampu untuk tetap berdiri tegap. Ketika Hyuk Jae menyentuh bahunya, Ji Hyo merasa tak butuh siapapun di dunia asal pemuda itu tetap di sampingnya.

Hyuk Jae berkata dia amat mencintai Ji Hyo dan mungkin kata “amat” itu semacam konotasi lembut dari “aku nyaris gila jika tak ada dirimu”. Yang Ji Hyo ingat dulu, bahkan saat dirinya masih kuliah dan Hyuk Jae masih atlet baru, pemuda itu selalu menjemputnya sepulang sekolah. Hyuk Jae sering menang melawan atlet lain, dia adalah pelari terbaik di timnya. Dan dalam tiap wawancara, Hyuk Jae selalu mengatakan kemenangan persembahan untuk kekasihnya.

Hyuk Jae tak pernah mengeluh meskipun mereka memang selalu jarang bertemu. Pemuda itu tetap saja mengiriminya pesan singkat atau pun pesan suara tanpa bosan.

Jadi, bagaimana mungkin Ji Hyo tak mencintai pemuda selalu membuatnya merasa istimewa?

Dan, bagaimana mungkin sekarang Ji Hyo justru menyukai orang lain?

“Gila, kau benar-benar gila! Kau sudah tidak waraaaaasss!!” teriak Ji Hyo sekencang-kencangnya.

“Ya, Song Ji Hyo. Kau memang gila!”

Seseorang berteriak padanya.

Ji Hyo menoleh ke belakang dan mendapati Mr.Kim memandanginya sambil geleng-geleng kepala. tampaknya Mr.Choi sudah berdiri di sana cukup lama. Cukup lama untuk bisa mendengar ratusan kata “gila” yang keluar dari bibir Ji Hyo.

“Sweety… ini sudah jam dua pagi. Aku tahu aku perfeksionis dan aku ingin runaway ini sukses besar. Tapi aku tak ingin semua orang disini tampak stress. Aku sudah memulangkan model yang lain, tapi kenapa kau belum pulang juga? Kau harus istirahat. Aku tak ingin kau jatuh pingsan saat runaway tiba.” Mr.Choi melenggang kea rah Ji Hyo, berjongkok di dekat gadis itu. Memandangi penuh heran wajah Ji Hyo yang penuh peluh. “Kau sakit, Sweety?”

Ji Hyo menggeleng lemah. “Tidak, aku…”

“Kamu punya masalah?” suara Mr.Choi melembut. “Kau model kesayanganku. Jika terjadi sesuatu padamu, aku bisa khawatir maksimal. Kau tahu itu, kan?”

Ji Hyo mengangguk, senyum tipis menyembul di bibirnya. Dia berputar sampai berhadap-hadapan dengan Choi Haris. Pria melambai itu menggenggam tangan Ji Hyo erat, menepuk-nepuknya lembut, dan berkata pelan. “Sekarang pulanglah ke apartemenmu, istirahat yang banyak, dan aku ingin saat bertemu denganmu esok hari, wajahmu sudah sedikit lebih cerah.”

Mr.Choi membantu Ji Hyo berdiri dan membereskan barangnya. Josh masuk ke ruang latihan dan memapah Ji Hyo yang sepertinya benar-benar lelah.

“Mr.Choi…” panggil Ji Hyo begitu melewati pintu.

“Ya, Sweety?”

Ji Hyo membungkukkan badan dalam-dalam. “Terimakasih.”

Mr.Choi menganggukkan kepala.

Ji Hyo pulang ke apartemen dan merebahkan dirinya di kasur. Dia membiarkan Josh merapikan barang-barangnya dan membersihkan apartemennya (biasanya Ji Hyo paling enggan merepotkan manajernya untuk urusan begini, tapi sekarang dia terlampau lelah untuk protes). Ji Hyo mencoba memejamkan mata, tapi bayangan kejadian bersama Dong Hae di pinggir sungai terus terngiang-ngiang. Perkataan Dong Hae, yang sejujurnya, membuat dirinya berdebar-debar. Ji Hyo tak bisa menghilangkannya dari kepalanya.

 

“Kupikir, aku nyaman bersamamu. Kalau aku ingin kau terus disampingku seperti sekarang, menurutmu apakah itu ide yang buruk?”

 

 

Ji Hyo menutup wajahnya dengan bantal. Pipinya terasa panas.

Kenapa Dong Hae bisa menjadi sosok yang berbeda di siang dan malam hari? Dan kenapa… kedua sosok itu tetap saja membuatnya salah tingkah?

Aduh, apa dia sungguh-sungguh sudah dikategorikan sebagai seseorang yang selingkuh?

“Gila, kau, Ji… kau gila beneran…” Ji Hyo berguling-guling resah di kasurnya.

.

.

.

.

.

.

Mata Ji Hyo bengkak.

Seperti mata panda pakai maskara, benar-benar hitam di bawah kantung mata dan terlihat jelek sekali. Saat melihat cermin pagi tadi, Ji Hyo langsung menjerit histeris. Berusaha menghilangkan kepenatan dengan menghisap dua batang rokok, tapi tak kunjung berhasil.

Gadis itu berjalan sempoyongan memasuki Aldantѐ. Dia ngantuk, lelah, dan sekujur tubuhnya seperti ingin rontok. Mungkin sebentar lagi tubuhnya akan mengajukan surat pensiun dini. Ji Hyo bahkan tadi sempat menabrak sesuatu yang menyebabkan kepalanya berdenyut sakit sekali. Ji Hyo ingin membentak siapa saja yang menjadi penghalan jalannya itu, tapi ketika sadar yang ditabraknya adalah tiang pintu Aldantѐ, Ji Hyo terpaksa menelan umpatannya. Dia bisa-bisa dikira kesambet jika nekat untuk memaki-maki tiang pintu.

Ji Hyo mendekap tas selempangnya dan berjalan setengah memejamkan mata, berkali-kali menguap karena ngantuk. Di dalam ruang ganti pegawai, tak biasanya seramai siang ini. Begitu dia masuk, beberapa waitress dan asisten dapur I seperti tengah merubungi sesuatu.

“Noona… Noona…!” Henry menyadari kehadiran Ji Hyo dan melambaikan tangan menyuruh Ji Hyo mendekat. “Noona ada kabar heboh—astaga Noona kau habis nonton The Ring, ya?!” Henry berteriak kaget menyadari penampilan super berantakan Ji Hyo.

“The Ring?” Ji Hyo menguap sambil membenarkan kacamatanya. “Tidak…”

“Kau mirip sadako, Noona,” sambung Ryeowook dengan nada geli.

Ji Hyo memelototkan matanya. “Kau mau aku bawa ke sumur dan kutenggelamkan?” tanyanya setengah bercanda.

Ryeowook dan Henry kompak tertawa geli.

“Eh, eh, Noona… lihat ini, Ryeowook tadi membawa majalah milik kakak perempuannya. Kau kenal sama Hyuk Jae kan? Atlet lari nasional itu? Katanya dia akan menikahi pacarnya! Song Ji Hyo, si model terkenal. Lihat, lihat, ada beritanya…” Henry menunjuk halaman depan sebuah majalah, bagian interview utama bulan ini.

Ji Hyo menyipitkan mata, melihat sosoknya dan Hyuk Jae ada di majalah itu.

“Wah, mereka berdua pasangan serasi ya. Song Ji Hyo memang cantik dan Hyuk Jae tampan.” Henry mengomentari dengan semangat.

“Ah, ya, ya… terimakasih…” ujar Ji Hyo.

Henry menatapnya bingung. “Kok Noona berterimakasih, sih?”

“Ehm, maksudku… benar… mereka cocok sekali…” Ji Hyo buru-buru meralat ucapannya.

“Tapi Noona, kau tahu hal yang lebih besar dari berita pernikahan mereka?” Ryeowook memasang wajah sok misterius. “Ada rumor beredar, kalau sebenarnya Song Ji Hyo itu salah satu pemilik Aldantѐ, restoran kita!”

“Iya, Noona… katanya Ryeowook pernah lihat Song Ji Hyo tempo hari, dan dia langsung menyerobot masuk ke kantor Direktur Song Joong Ki. Kalau bukan karena Song Ji Hyo pemilik Aldantѐ, mana berani kan berbuat begitu?” ujar Henry.

Ji Hyo mengerjapkan matanya. Kesadarannya sedikit pulih akibat mendengar celotehan kedua cecunguk di depannya.

“Ya, kalau Song Ji Hyo ternyata salah satu pemilik Aldantѐ, buat apa dia bersusah payah jadi model? Dia punya banyak sekali uang dan tak perlu bekerja!” ujar salah seorang waitress. “Lagipula model terkenal seperti Song Ji Hyo tidak ada tampang jadi pemilik Aldantѐ. Kudengar dia bahkan sedikit alergi kalau harus masak banyak-banyak.”

“Tapi marga direktur dan model terkenal itu sama loh!”

“Mungkin hanya kebetulan?”

“Lagipula rumor itu sebenarnya sudah ada sejak lama, tapi sepertinya itu hanyalah rumor belaka.”

Ji Hyo menggaruk-garuk kepalanya. Sebenarnya dia mau mengeluarkan pendapat, tapi nanti yang ada dia justru mengacaukan segalanya. Penginnya sih, marah sama waitress yang mengata-ngatainya tak punya tampang sebagai pemilik Aldantѐ. Penginnya sih, Ji Hyo menyambar sapu ijuk di sudut ruangan, lalu berlari melompat kea rah waitress dengan gaya volunteer siap perang plus teriakan ‘haleluya’ bernada melengking, dan lalu mereka jambak-jambakkan ala sinetron murahan. Tapi jika itu terjadi, yang ada semua orang bisa tahu jati dirinya yang sebenarnya.

“Nah, Noona, kalau menurutmu bagaimana? Song Ji Hyo itu pemilik Aldantѐ atau bukan?” tahu-tahu Henry menoleh ke Jihyo dan meminta pendapatnya.

“Hah? Menurutku?” Ji Hyo menggaruk kepalanya bingung. “Menurutku… menurutku…” Ji Hyo mendesis pelan. “Mereka berdua, Song Ji Hyo dan Hyuk Jae, cocok sekali jadi pasangan. Titik.”

Ji Hyo menaruh tas selempangnya lalu bergegas keluar dari ruang ganti. Di luar, gadis itu mengumpat-umpat sebal. Dia tak menyangka para pegawai Aldantѐ bisa juga membaca majalah gosip. Mereka itu sebaiknya membaca buku resep saja, menyusahkan!

Ji Hyo ingin mengeluarkan rokok, ketika tiba-tiba pintu depan Aldantѐ terbuka. Ini bukan saatnya Aldantѐ beroperasi, dan seluruh pegawai diwajibkan untuk datang dari pintu belakang. jadi siapa yang membuka pintu depan?

Pertanyaan Ji Hyo segera terjawab tatkala sosok Dong Ha menyembul dari balik pintu. Pemuda itu mengenakan coat biru muda dan syal putih gading. Tapi Dong Hae tak sendirian, di belakangnya seorang gadis melangkah dengan ragu memasuki Aldantѐ.

Ji Hyo menyipitkan mata. Dia tak pernah melihat gadis itu sebelumnya. Dan sepertinya orang asing, wajahnya bukan wajah orang korea.

Dong Hae membiarkan gadis yang baru datang itu untuk duduk dimanapun, pemuda itu seakan acuh dan terus melangkah ke dalam.

Henry keluar beberapa saat kemudian dan melihat Ji Hyo berdiri dengan muka bengong. “Noona kenapa keluar tiba-tiba tadi?” tanyanya.

Ji Hyo menoleh. “Ah, tidak ada…”

Henry masih memandangi Ji Hyo.

“Noona cemburu, ya?”

“Apa?” Ji Hyo menoleh kea rah Dong Hae dan wajahnya memerah tanpa bisa dicegah. “Mana mungkin aku cemburu pada chef galak!” elaknya salah tingkah.

Dong Hae berjalan melewati mereka tanpa menyapa. Ji Hyo hanya bisa melongo melihat tingkah Dong Hae. Sejujurnya dia ingin menyapa Dong Hae, sejujurnya dia ingin bicara pada Dong Hae, sejujurnya… tapi… pemuda itu kembali jadi si kaku Dong Hae…

“Siapa yang membicarakan Chef? Aku bicara soal Hyuk Jae…” Henry memutar bola mata menggoda, “Noona sama saja dengan gadis se-Korea saat ini, pasti sedang cemburu berat melihat atlet nasional kita tunangan dengan Song Ji Hyo si model terkenal…”

Ji Hyo berani sumpah, saat itu dia melihat Dong Hae berhenti melangkah. Dia sendiri kaget dengan ucapan Henry dan buru-buru menoleh kea rah Henry dengan tatapan sinis.

“Siapa yang cemburu?” bisik Ji Hyo geram, dia melirik punggung Dong Hae dan dadanya berdebar-debar kencang. Apa Dong Hae mendengar ucapan Henry barusan? Apa Dong Hae tahu kalau dirinya sudah tunangan? Bagaimana pendapat Dong Hae jika tahu dia akan menikah? Apa pemuda itu akan marah padanya?

Ji Hyo terus menebak-nebak dalam hati. Dan sejujurnya dia kesal dengan dirinya sendiri karena berharap Dong Hae tak mengetahui masalah pertunangannya.

Astaga, bitchy sekali dia.

“Noona, kalau kau tak cemburu… kenapa kau tiba-tiba keluar dengan tampang bête begini?” Henry balas berbisik, sambil mencubit pipi Ji Hyo seolah pipi itu adonan pempek yang elastis maksimal.

Ji Hyo semakin menatap sinis Henry yang tak sadar akan perubahan moodnya. Akhirnya, mau tak mau Ji Hyo kembali berkata, “Henry aku bisa menjelma jadi sadako beneran dan muncul di tivimu tiap jam dua belas malam jika kau tak lepaskan tanganmu dari pipiku sekarang juga!”

Henry menyeringai lebar mendengar ancaman Ji Hyo dan langsung melepaskan tangannya. “Oke, oke, Noona… maafkan aku…”

Ji Hyo mendengus kesal. Gadis itu berbalik dan berlari menyusul Dong Hae yang sudah berjalan menuju ruang kantor.

“Dong Hae-ah! Dong Hae…” Dong Hae sama sekali tak menoleh meski Ji Hyo yakin teriakannya cukup keras didengar. Ji Hyo mempercepat larinya, dan langsung menahan kenop pintu yang sudah dibuka oleh Dong Hae. “Dong Hae-ah…” Ji Hyo tersengal-sengal. Akhirnya dia berhasil menyusul Dong Hae.

Dong Hae menatap Ji Hyo dengan tatapan datar. Ji Hyo sedikit ragu untuk melanjutkan tingkahnya. Sorot mata itu bukan sorot mata seorang Dong Hae yang ingin diajaknya bicara. Sorot mata itu dingin dan seolah tengah membentengi diri dari siapapun.

Tapi Ji Hyo merasa dia harus bicara pada Dong Hae sekarang juga atau tidak sama sekali.

“Kau… mendengarnya?” tanya Ji Hyo super hati-hati. Bola matanya menyusuri wajah Dong Hae, mengamati kalau-kalau ekspresi Dong Hae berubah.

“Mendengar apa?”

“Mendengar…” Ji Hyo jadi gugup sendiri. Dia merutuk dalam hati. Untuk apa dia kudu memastikan Dong Hae mendengar percakapannya dengan Henry atau tidak? Untuk apa dia begitu penasaran akan respon Dong Hae atas pertunangannya?

Dada Ji Hyo naik turun tak beraturan. Oh, Tuhan… dia benar-benar telah gila. Sekarang ketika dilihatnya Dong Hae tak lagi bersikap dingin, melainkan bersikap AMAT SANGAT DINGIN, Ji Hyo merasa seluruh persendian kakinya ikut membeku.

“Kau ingin bicara apa?” tanya Dong Hae.

Pegangan Ji Hyo pada kenop pintu melonggar. Posisi gadis itu terlalu dekat dengan Dong Hae dan itu merupakan kerugian di pihaknya. Harum napas mint Dong Hae membuat wajah Ji Hyo memanas di tingkat maksimal. Dan rambut Dong Hae, Ji Hyo baru sadar, sejak kapan Dong Hae mewarnai rambutnya jadi cokelat? Helaian rambut itu terlihat begitu mempesona bersanding dengan wajah tampannya.

“A-aku…” Ji Hyo meremas kedua tangannya. “Hm… hanya ingin bertanya apa kau mendengar…” Ji Hyo menarik napas amat panjang. “… errr… membaca mungkin…” astaga, Demi Yesus, dadanya sungguh berdebar tak karuan. “…berita hari ini?”

Dong Hae menyipitkan mata. “Tidak,” jawabnya datar.

“Hm… kalau begitu pembicaraanku dengan Henry tadi…”

“Kenapa?”

“Hm…” Ji Hyo memutar bola mata dan mendesah pelan, “… ah, tidak jadi.”

Dong Hae masih terus menatapnya.

“Eh, siapa wanita yang di depan itu? Aku merasa familiar tapi siapa ya? Dia artis? Kau punya teman artis?” Ji Hyo buru-buru mengubah topik pembicaraan.

“Cheon Ji Yeon…” panggil Dong Hae. “Mana yang lebih penting? Bersiap kerja atau sibuk menanyakan hal tak penting begini?!” Dong Hae berteriak agak keras.

“Ber… bersiap kerja…” Ji Hyo meringis takut.

“SEKARANG BERSIAP KERJA, SANA!”

Ji Hyo memejamkan mata. Teriakan Dong Hae berdenging-denging di gendang telinganya. “Ya… aku akan bersiap kerja…”

Ji Hyo membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan Dong Hae.

“Cheon Ji Yeon,” panggil Dong Hae lagi.

Ji Hyo berhenti melangkah, namun tak menoleh.

“Jangan panggil aku ‘Dong Hae’, panggil aku ‘Chef’.”

Kali ini leher Ji Hyo berputar nyaris 180 derajat, gadis itu menoleh ke Dong Hae. Dan menatapnya dengan nanar.

“Ya, Chef.”

.

.

.

.

.

.

Ji Hyo membiarkan telur orak-ariknya mengebul-ngebul di atas frying pan. Pandangannya kosong ke depan. Dan gadis itu tampaknya tak berniat mematikan whistle kettle yang sudah berdenging-denging di kompor sebelah. Sampai akhirnya Siwon beranjak dari kursi dan mematikan kettle itu. Lalu memandangi Ji Hyo dengan tatapan super aneh.

“Kapten Ji, are you okay?”

Ji Hyo mengangkat kepalanya. “Yes, I am.”

“So, could you take this… fried egg? Oh, aku tak merasa masakan ini masih pantas dibilang ‘telur goreng’.”

Ji Hyo mematikan kompor dan mengangkat telur ¾ gosong, menaruhnya di atas piring datar lengkap dengan garpunya. Kemudian, gadis itu menyodorkan piring tersebut pada Siwon. “Makanlah.”

Siwon memandang jijik telur itu. “Kau ingin membuatku mati? Aku masih cinta hidupku.”

Ji Hyo menyipitkan mata dan berdecak, “kubilang makan!”

Siwon melempar pandangan kesal. Pemuda itu menusukkan garpu ke permukaan telur, dan mengunyah potongan kecil telur.

“Bagaimana?”

Siwon mengunyah telur lamat-lamat, matanya terus memandang Ji Hyo, lalu berkata, “bagaimana bisa telur ini masih terasa enak?”

“Oh, sial. Dia benar.” Ji Hyo melempar serbet, lalu melenggang kesal keluar dapur.

Siwon mengikuti Ji Hyo dengan bingung. “Kenapa, Kapten Ji?”

Ji Hyo menghempaskan pantatnya di atas sofa. Dia memejamkan mata.

“Kapten Ji?” Siwon memanggil Ji Hyo.

“Seseorang… mengatakan padaku… tanganku ajaib.” Ji Hyo mengangkat telapak tangannya sejajar dengan wajahnya. Membolak-balik tangan itu dengan pandangan luruh. “Saat dia mengatakan hal itu, entah kenapa, untuk sesaat, aku jadi suka kemampuan memasakku.”

“Bukannya kau benci memasak?” tanya Siwon.

“Ya, seharusnya begitu. Aku benci memasak. Seharusnya memang begitu.”

Sofa yang ditempatinya sedikit bergoyang ketika Siwon ikut menghempaskan tubuh di sampingnya. “Tapi Ji Hyo, sebenarnya ada yang ingin kutanyakan padamu dari dulu.”

Ji Hyo menatap Siwon.

“Aku sebenarnya tak ingin menanyakan ini. Keluargamu melarangku untuk menanyakan hal ini. Song Chae Rin juga berkata agar kami semua tak bertatanya macam-macam padamu tentang ini. Tapi aku sungguh penasaran, kenapa kau benci memasak? Dulu, sebelum kau kecelakaan… kau paling suka memasak, Ji.”

Alis Ji Hyo berkerut. “Aku? Suka memasak?”

Siwon tampak kebingungan atas respon Ji Hyo. “Ya, kau ahlinya. Kau yang terbaik, kau kan putri pemilik Aldantѐ dan kemampuan masak ayahmu sungguh menurun padamu.”

Ji Hyo menatap Siwon lekat-lekat. “Aku tak ingat aku pernah menyukai masakan.” Ji Hyo menelan ludah. “Sungguh? Kau tidak main-main dengan apa yang kau ucapkan? Aku suka memasak?” Ji Hyo menunjuk dirinya sendiri dengan tak yakin.

“Kapten Ji.. maafkan aku sudah mengungkit hal ini. Astaga, tak seharusnya aku bertanya ini. Chae Rin benar…” Siwon tersenyum tak nyaman.

“Tunggu sebentar,” Ji Hyo menahan tangan Siwon. Dipandanginya pemuda itu lekat-lekat. “Aku tidak pernah mengingat apapun dengan benar sejak kecelakaan lima tahun lalu. Tidak ada orang yang bisa memberiku kejelasan dengan pasti tentang siapa diriku dan bagaimana aku dulu. Bisa kau ceritakan, seperti apa aku enam, tujuh, delapan tahun lalu?”

“Kapten Ji…”

“Kau kan dokter psikologi!” Ji Hyo menaruh pandangan memohon pada Siwon. “Jadi kumohon, bantu aku mengingatnya.”

.

.

.

.

.

.

Satu-satunya hal yang diingat Ji Hyo ketika terbangun dari koma panjang saat kecelakaan lima tahun lalu: dia begitu merindukan Eunhyuk. Sampai ketika dia membuka mata, Eunhyuk lah yang pertama dicarinya. Eunhyuk yang pertama ditangisinya karena pemuda itu tak kunjung membesuknya. Dan Eunhyuk mampu membuat seluruh rasa sakit di tubuh Ji Hyo raib karena kehadiran pemuda itu. Ji Hyo tak mampu mengingat dengan jelas bagaimana dirinya sebelum kecelakaan. Tapi lewat cerita-cerita Eunhyuk, Ji Hyo sedikit mengingat bahwa dia adalah gadis paling kuat di sekolah, bahwa mereka pacaran sejak lama, bahwa semua orang merindukan kesembuhan Ji Hyo.

Tapi sejujurnya, ingatannya tentang kecelakaan dan beberapa hal kecil lainnya masih tampak abu-abu. Ji Hyo awalnya memang mengabaikan hal itu karena merasa sudah cukup bahagia bersama Eunhyuk. Namun entah kenapa, hal-hal kecil itu seolah mengganggunya. Seakan ada sesuatu yang berusaha disembunyikan semua orang yang tahu kronologis kecelakaannya. Semua orang, entah itu orang tuanya, Joong Ki, atau Eunhyuk. Atau mungkin ada orang lain yang juga mengetahui kecelakaan ini.

Seperti Chae Ri si sahabat terbaik, misalnya.

“Kau memintaku menceritakan kronologis kecelakaan mobil?” Chae Rin menatap Ji Hyo tak percaya. “Memang kenapa, Kapten Ji? Ada sesuatu yang mengganggumu? Ada seseorang yang bertanya padamu?”

“Bukan begitu, Chae Rin. Aku hanya penasaran saja.”

“Kau tak pernah merasa penasaran pada hal ini,” potong Chae Rin cepat.

“Chae Rin…” Ji Hyo menggenggam erat kedua tangan Chae Rin. “Aku hanya ingin tahu saja. Akhir-akhir ini aku sering bertanya kenapa semua orang bilang aku pantas jadi koki. Jadi aku…”

“Siapa yang mengatakan itu padamu?” potong Chae Rin lagi.

“Mm… Chef di Aldantѐ dan Siwon… mereka bilang masakanku selalu enak…”

“Kalau begitu kau harus menjauhi Chef itu dan Siwon!”

“Chae Rin-ah!” Ji Hyo menatap Chae Rin bingung. “Kau ini kenapa sih?”

Chae Rin mengerjapkan mata. “Apanya yang kenapa?”

“Kau menyuruhku… menjauhi… mereka?”

Chae Rin menepuk-nepuk tangan Ji Hyo. “Ji… kau ingin jadi model, kau benci memasak. Aldantѐ membuatmu seperti neraka. Apa kau tak ingat semua itu? Bagian mana yang kurang jelas? Kau bisa saja pintar memasak, tapi jika kau membencinya, itu memang karena kau tak menyukainya. Ji Hyo, kau ini gadis paling cantik yang pernah kukenal dan karirmu menanjak. Semua orang iri padamu. Mungkin malah ingin menjatuhkanmu. Kau harus hati-hati dan harus menjauhi mereka.”

“Maksudmu, Dong Hae dan Siwon ingin menjatuhkanku?” cicit Ji Hyo.

Chae Rin menganggukkan kepala. “Ya, mereka berpotensi besar membuatmu jatuh. Sadar atau tidak mereka sadari. Jadi, jauhi mereka. Aku akan bicara pada Joong Ki soal ini dan membujuknya untuk mengakhiri masa hukumanmu secepatnya. Berada di Aldantѐ berpengaruh buruk padamu, Kapten Ji…”

Ji Hyo mengerjapkan mata. Dia bingung bagaimana harus merespon. Siwon adalah salah satu teman baiknya, teman baik Chae Rin juga. Bagaimana mungkin Chae Rin mengatakan hal seperti itu? Dan Dong Hae, meski pemuda itu punya penyakit bipolar disorder dan selalu membuat Ji Hyo patah arang, tapi Dong Hae adalah pemuda yang membuat hari-harinya berwarna. Jadi bagaimana mungkin mereka berdua akan menjatuhkannya.

“Tapi, Chae Rin…”

“Kudengar ada pembukaan audisi untuk runaway di Victoria Park, kau mau mendaftar? Jika kau lulus, pamormu akan benar-benar naik.” Chae Rin mengalihkan pembicaraan.

“Ya, tentu saja aku mau ikut.” Ji Hyo menganggukkan kepala.

“Bagus, memang harus begitu. Bukankah itu memang cita-citamu?” Chae Rin tersenyum lebar.

.

.

.

.

.

.

Seharian ini benar-benar sibuk. Dong Hae menyiapkan seribu lebih pesanan dan itu sukses membuatnya ingin tidur di kasur jika sudah tiba di apartemen tadi. Tapi dia pikir hal itu tak akan terjadi ketika melihat sosok Samantha masih duduk di salah satu meja di Aldantѐ. Ryeowook dan Henry bergumul di dekat meja kasir berbisik-bisik sambil menunjung kea rah Samantha. Dong Hae sempat mendengar kata-kata “artis”, “Itali”, dan “tandatangan” dari bibir keduanya. Dong Hae terus melangkah melewati Ryeowook dan Henry, masuk ke dalam ruang kantornya.

Disana, Joong Ki duduk sambil menandatangani beberapa dokumen. Terdengar musik klasik memenuhi ruang kerja.

“Kakakmu sudah pulang, Direktur?”

“Ya. Kusuruh pulang cepat, dia sedang tak enak badan.”

“Saharusnya kau tak membuatnya pulang cepat.” Dong Hae melepas seragamnya dan hanya memakai kaos oblong warna putih di tubuhnya. “Dia masih harus membereskan dapur.”

“Dia sedang sakit, kubilang.”

“It’s not a reason.” Dong Hae mengambil coat biru tua dan mengenakannya. Menyambar syal di gantungan dan melilitkan di lehernya.

“Itu benar-benar alasan.” Joong Ki berhenti menulis. Pemuda itu mengangkat kepala, memandang Dong Hae lekat. “Dengar, kurasa kita harus bicara soal Song Ji Hyo.”

“Ada apa dengan Cheon Ji Yeon?” Dong Hae menatap datar Joong Ki.

Joong Ki menarik napas panjang. “Kau harus membebaskannya.”

Dong Hae memiringkan kepala. “Maksudnya?”

“Kau harus mengakhiri hukuman konyol kakakku. Dia tidak perlu lagi bekerja di Aldantѐ.”

Sebelah alis Dong Hae terangkat tinggi.

“Listen, I know this sounds ridiculous, but have you ever think what the best think for my sister? Yep, you’re not her brother. So, you don’t know every little think that she had step away. Kau tidak tahu apa yang terjadi padanya dan kau tak akan paham bahwa sebenarnya hal yang kau lakukan sekarang ini sudah membuatnya menderita.”

Dong Hae masih memandangi Joong Ki tanpa ekspresi.

“Aku tahu, mungkin kau kesal karena kakakku menjahilimu tempo hari. Tapi, jika kau ingin balas dendam, ini sudah keterlaluan. Ini bukan lagi sebuah kejahilan, ini penyiksaan.”

“Kenapa penyiksaan?” Dong Hae bertanya.

“Ji Hyo benci memasak. Ji Hyo benci Aldantѐ. Ji Hyo tidak ingin jadi chef, juru masak, atau asisten dapur.”

“Kenapa dia benci memasak?”

Joong Ki menghela napas. “Karena dia benci.”

“Kenapa dia benci?” Dong Hae melipat kedua tangan di dada. “Apa alasannya? Kalau kau tak memberiku alasan jelas, aku tidak akan melepaskannya.”

Joong Ki menatap tajam Dong Hae. “Aku memang selalu mengalah padamu Dong Hae, tapi untuk kasus ini… aku akan memaksa, dengan cara bagaimanapun, agar Ji Hyo menjauh darimu…” Joong Ki mengusap matanya yang mendadak berair. Dong Hae tak boleh melihat sikap lemahnya yang satu ini. “…aku benci padanya, tapi demi Tuhan, aku tak ingin melihat kakakku menderita…”

.

.

.

.

.

.

Samantha. Dong Hae sudah lama sekali tak mendengar nama wanita itu. Samantha dengan senyum manisnya, Samantha dengan rambut lurus panjangnya, Samantha dengan postur tubuhnya nyaris menyerupai barbie dalam kotak kaca. Samantha yang berkilo-kilo meter saja, Dong Hae sudah tahu betapa mempesonanya wanita itu.

Samantha, tipe gadis ideal Dong Hae. Gadis yang akan membuat Dong Hae brtekuk lutut. Dan memang, gadis itu membuat Dong Hae bertekuk lutut berkali-kali, tapi itu dulu.

Dong Hae dan Samantha sempat berpacaran dulu, selama dua tahun. Tapi mereka putus karena Samantha memilih menikah dengan orang lain, seorang produser terkenal di Itali yang mendebutkan Samantha menjadi artis terkenal.

Dong Hae ingat bagaimana mereka berdua bertengkar hebat hampir sebulan, membahas masalah ini. Dong Hae mencintai Samantha namun Samantha memilih melepaskan diri dari Dong Hae. Dan hal itu membuat dunia Dong Hae seolah runtuh tanpa ampun. Samantha berkata hidupnya tak akan bahagia jika bersama Dong Hae, impiannya menjadi artis tak akan pernah terwujud. Samantha tak bisa mengharapkan apapun dari seorang juru masak rendahan seperti Dong Hae. Dapur bukan sesuatu yang akan menghasilkan, begitu kata Samantha. Dan calon suaminya, Jim, bisa menjanjikan banyak hal pada Samantha.

Samantha memilih Jim, lantas meninggalkan Dong Hae dalam lorong sepi kehidupan.

“Aiden…”

“Ya?”

“Kau sedang apa?”

Dong Hae diam, matanya terus memandangi acara televisi di tengah kafe yang tengah menayangkan gosip.

Samantha menusuk-nusuk lembut pipi Dong Hae. “Kenapa kau hanya diam dari tadi?”

“Memangnya apa yang harus kulakukan selain diam?”

“Astaga, kenapa kau jadi sinis begini? Apa semua orang kau sinisi?”

“Ya, semua.”

Samantha terkekeh-kekeh. “Kau tidak seharusnya sinis padaku.”

“Kau orang yang seharusnya paling kusinisi.” Dong Hae menatap Samantha. Pesona gadis itu tak bisa hilang, dengan menyesal Dong Hae harus mengakui hal itu. Tapi melihat Samantha pun menumbuhkan luka-luka lama di hati Dong Hae. Dong Hae tak ingin itu terjadi. Dia sudah berusaha keras untuk menyembuhkannya, namun kenapa gadis itu justru datang tepat disaat Dong Hae merasa seribu kali lipat lebih baik dibanding bertahun-tahun lalu?

“Kau sedang apa sih?” Samantha gerah karena Dong Hae kembali mengacuhkannya. Samantha membalikkan badan, mengikuti arah pandang Dong Hae dan terpaku pada layar kaca yang tengah ditonton Dong Hae. “Ah, Lee Hyuk Jae, aku kenal dia. Dia pacar temanku sesama model. Wah, sekarang sudah tunangan ya?”

Dong Hae menatap punggung Samantha. Gadis ini kenal Ji Hyo?

“Eh, sepertinya sudah putus ya…” Samantha memperhatikan layar kaca itu lagi. “Dia tunangan sama orang lain?”

Dong Hae menunduk pura-pura melihat ponsel ketika Samantha kembali berbalik dan memandanginya. “Astaga, ternyata kau malah nonton gosip. Hihi, kau ini lucu sekali, Aiden.” Samantha terkikik.

Dong Hae masih tetap tak bergeming.

Samantha menghela napas melihat kelakukannya.

“Aku akan bercerai.” Samantha merasa senang melihat Dong Hae memberi perhatian atas ucapannya barusan. “Aku akan bercerai dengan Jim.”

Samantha menunggu respon dari Dong Hae. Namun pemuda itu tak melakukan apapun selain menyeruput secangkir teh hangat di depannya.

“Aku masih mencintaimu, Aiden. Aku ingin kita kembali seperti dulu, saat-saat kita masih bahagia dan polos mengenai cinta. Saat hari kita diisi dengan tawa dan senyum, bukan dengan kesinisan dan skeptisme seperti ini.”

Dong Hae menundukkan kepala.

“Aiden… kau mau kembali bersamaku?” tanya Samantha berusaha meraih tangan Dong Hae, namun pemuda itu menepisnya kasar.

“Jangan pernah berkata seperti itu,” ujarnya dingin.

Samantha memandangi Dong Hae dengan bingung. “Dong Hae…”

“Aku bukan Dong Hae yang seperti dulu.” Dong Hae memandangi Samantha. Gadis itu masih mempesona, ya memang. Tapi hati telah punya antibody untuk menangkal pesonanya. “Aku bukan Dong Hae yang akan berlutut dan berjanji mencintaimu sampai mati.”

“Aiden…”

“Itu karena, Lee Dong Hae yang dulu memang sudah mati bertahun-tahun lalu. Jadi cintaku pun sudah lenyap.”

“Aiden…” Samantha mulai terisak. “Aku bercerai karena aku tak bahagia bersama Jim. Aku… aku… aku… mencintaimu…”

Dong Hae memalingkan wajah kea rah jendela. Sejujurnya, sekujur tubuh Dong Hae terasa bergetar melihat tangisan Samantha. Namun apa yang dilakukan gadis itu padanya membuat Dong Hae sulit untuk merasa baik-baik saja.

“Kumohon, tak bisakah kau memberiku kesempatan? Aku masih mencintaimu dan aku akan memperbaiki semuanya, semuanya. Kita mulai dari awal.”

“Aku tak bisa.”

“Tidak, kau bisa, Aiden. Aku tahu kau sangat mencintaiku. Sampai-sampai ketika aku meninggalkanmu, kau selalu ingin bunuh diri. Aku tahu dari ibumu, luka di tanganmu… itu karena aku, kan?” Samantha menunjuk lengan Dong Hae yang tertutup coat. “Maafkan aku soal itu, aku sungguh menyesal, sungguh-sungguh menyesal.”

Dong Hae meraba lengannya dan sorot matanya melemah. Ya, saat ditinggal Samantha, Dong Hae memang seperti orang gila. Dia depresi, hingga keluarganya ingin membawa Dong Hae ke rumah sakit jiwa. Ibunya selalu melarang Dong Hae untuk dekat jendela atau tempat-tempat tinggi lainnya bukan tanpa alasan. Dong Hae pernah hampir menjatuhkan diri dari gedung berlantai tiga puluh sebelum akhirnya dihentikan petugas keamanan. Dong Hae mencoba bunuh diri dengan melukai lengannya dan mengurung diri di kamar. Ibunya menemukan Dong Hae terkapar nyaris kehabisan darah.

“Aiden! Jika kau terus begini, bangun, Nak! Ibu sayang kamu! Ibu sayang kamu!” Dong Hae sempat mendengar ibunya berteriak dan menangis sebelum akhirnya pingsan. Ketika dia terbangun, dokter berkata Dong Hae sudah koma selama tiga minggu lamanya. Dan selama itu ibunya terus menangis tanpa henti.

Dong Hae tertegun. Hatinya teriris pedih melihat kondisi ibunya yang jauh lebih menderita dibanding dirinya. Sebodoh itukah dirinya hingga membuat seluruh orang yang dicintainya tersiksa hanya demi orang yang dia cintai? Sebodoh itu kah dia sampai tak bisa melihat masih banyak orang yang memeluknya saat dia tak bisa lagi memeluk Samantha? Sejak itu Dong Hae sadar dan bertekad untuk tak membuat kesalahan serupa.

Dong Hae dipaksa cuti untuk jadi juru masak demi memulihkan kondisinya. Saat itulah Dong Hae perlahan-lahan membangun dirinya. Mengumpulkan sisa-sisa semangatnya. Sulit memang, hingga akhirnya Dong Hae memilih membentengi dirinya dari sakit hati. Dia akan fokus mengejar cita-citanya sebagai Chef. Dia tak akan pernah main-main, ataupun bersikap lemah ketika di dapur. Menjadi Chef terhebat adalah ambisi satu-satunya sekarang. Dia tak akan tersenyum di dapur, dia tak akan membiarkan orang memandang rendah pekerjaan Chef. Dia akan membuat semua orang tahu seberapa pentingnya pekerjaan menjadi Chef.

“Tidak ada yang perlu dimaafkan, Sam…” Dong Hae meletakkan cangkirnya di atas meja, lalu berdiri dari duduk. Dipandanginya bola mata sembab milik Samantha dengan tatapan dingin. “Jangan membuat permainan konyol lagi, jangan memainkan hatiku lagi.” Dong Hae meletakkan beberapa lembar uang di atas meja kafe dan beranjak pergi meski Samantha terus memanggil-manggil namanya. Namun baru beberapa langkah, Dong Hae berhenti sejenak. “Kau ingat apa yang dulu kau katakan padaku?” Dong Hae kembali menoleh pada Samantha. “Seorang chef… tak akan pernah berhasil. Seseorang yang berada di dunia dapur yang sebegitu sempit, tak akan mampu melihat luasnya dunia.”

Samantha memandangi Dong Hae nanar.

“Kau salah, Samantha. Kau salah.”

Dong Hae berbalik dan kali ini benar-benar pergi tanpa menoleh kebelakang lagi.

.

.

.

.

.

.

Ji Hyo membuka matanya, lebar-lebar. Dari keningnya mengalir bulir-bulir keringat yang turun ke wajah, leher, dan merembes ke piyama. Dadanya naik turun cepat. Napasnya tersengal-sengal. Jam masih menunjukkan pukul satu pagi. Ji Hyo baru saja bermimpi buruk, tidak terlalu jelas, tapi cukup membuat jantungnya berpacu cepat.

Di dalam mimpi itu, Ji Hyo berada di sebuah lorong gelap, sempit, nan becek. Tidak ada cahaya dan hanya suara tetesan air entahdimana yang menggaung di gendang telinganya. Ji Hyo mencoba memanggil nama semua orang, kedua orang tuanya, Song Joong Ki, tapi tak ada yang berhasil. Ji Hyo berlari, namun kakinya tersangkut sesuatu hingga dia jatuh berdebam. Wajahnya terkena cipratan yang dia yakini air. Baunya agak busuk dan lengket.

Kemudian, Ji Hyo mendengar suara seseorang, berkata dengan nada berat, “Seorang chef… tak akan pernah berhasil. Seseorang yang berada di dunia dapur yang sebegitu sempit, tak akan mampu melihat luasnya dunia.”

Suara itu menggema, membuat kupingnya kesakitan. Suara itu berputar berulang kali, dan tiap suara itu berbunyi, tubuh Ji Hyo semakin melemah.

“Seorang chef… tak akan pernah berhasil. Seseorang yang berada di dunia dapur yang sebegitu sempit, tak akan mampu melihat luasnya dunia.”

“Seorang chef… tak akan pernah berhasil. Seseorang yang berada di dunia dapur yang sebegitu sempit, tak akan mampu melihat luasnya dunia.”

Ji Hyo tidak ingin menjadi Chef. Ini tak akan membuatnya berhasil…

 

Bunyi bib bib di ponsel menyadarkannya. Gadis itu menoleh dan mendapati ponselnya berkedap-kedip. Ada panggilan masuk tak terjawab, banyak sekali. sekitar dua puluhan. Dari Joong Ki, Siwon, dan Dong Hae. Juga ada pesan singkat.

Ji Hyo mengecek inboxnya dan menscrollnya hingga ke bawah. Dia membuka pesan singkat yang paling awal masuk, dari adik semata wayangnya, Song Joong Ki.

 

Noona, aku tadi sudah mendiskusikan mengenai masa kerjamu di Aldantѐ dengan Chef Lee Dong Hae. Menimbang bahwa kau punya seabrek kegiatan yang amat sibuk dan tak memungkinkan kami mengambil waktu 12 jam dari waktumu sehari untuk kerja di Aldantѐ, maka kami memutuskan untuk menyudahi masa kerjamu. Lee Dong Hae sudah memaafkanmu dan membiarkanmu kembali fokus pada pekerjaanmu sebagai model. Mulai besok, kau tidak perlu lagi kerja di Aldantѐ, Noona.

 

“Aku tak lagi bekerja di Aldantѐ?” Ji hyo mengerjapkan mata, kesadarannya masih belum pulih benar. dan tulisan di ponselnya terlihat bergoyang-goyang. Ji Hyo membaca sekali lagi pesan sigkat yang sama sekali tak singkat itu, dan benar, mulai besok dia tak lagi kerja di Aldantѐ.

Kenapa bisa begini?

Ji Hyo bingung. Tapi sedetik kemudian dia tahu, ini karena Chae Rin, temannya itu tentu sudah bicara dengan Joong Ki. Secepat itu kah? Tapi jika melihat bagaimana tiba-tibanya keputusan Joong Ki, ya, sepertinya memang karena Chae Rin telah menceritakannya pada Joong Ki.

Apalagi, ada pesan kedua dari Joong Ki yang baru saja Ji Hyo buka, berbunyi:

 

Noona, jangan terlalu dekat dengan Chef Dong Hae. Dia orang yang baik, aku tahu, meski kadang bersikap kasar. Tapi kuharap hubunganmu dan Dong Hae hanya sebatas teman kerja. Ini demi kebaikanmu, Noona.

 

Ji Hyo menarik napas.

Chae Rin-ah… kau hebat sekali, ya…

Ji Hyo melihat pesan selanjutnya, dari Siwon.

 

Ji Hyo, maaf aku sudah membuatmu terluka. Kurasa kita tak perlu bertemu dulu untuk sementara waktu. Aku menyayangimu, Kapten Ji.

 

“Chae Rin-ah… ige mwoya… apa yang sudah kau lakukan?” Ji Hyo menggeram kesal. Sungguh dia tak tahu dampak perbincangannya dengan Chaerin kemarin malam bisa sampai serumit ini. Joong Ki menyuruhnya tak lagi bekerja di Aldantѐ dan Siwon menjauhinya. Ji Hyo menscroll layar ponsel ke atas dan menemukan beberapa pesan dari Dong Hae.

“Chae Rin-ah, jangan bilang kau juga membuat Dong Hae menjauhiku?” tebak Ji Hyo sambil membuka pesan dari Dong Hae. Ji Hyo sudah mengira pesan itu akan berisi permohonan maaf Dong Hae dan permintaan pemuda itu agar Ji Hyo menjauhi Aldantѐ.

Tapi gadis itu salah.

Pesan dari Dong Hae tak berbunyi seperti itu.

 

Song Ji Hyo… apa kau sedang sibuk? apa kau sakit sungguhan? Apa sakitnya gawat? Kau sudah minum obat? Apa kau lagi istirahat?

 

Ji Hyo mengernyitkan dahi. Ada empat pesan lagi yang belum terbaca, dan semua dari Dong Hae. Ji Hyo membukanya satu-persatu.

 

Aku baru tahu kau sudah tunangan, cukup kaget. Joong Ki tak pernah cerita tentang tunanganmu padaku. Apa aku membuatmu risih?

 

Ji Hyo membuka pesan kedua

 

Ji Hyo, kurasa kini giliran aku yang sakit, dan aku tak menemukan obat yang tepat untuk menyembuhkan sakitku. Kalau kau sudah tak sibuk, bisa belikan aku obat dan antarkan ke apartemenku? Aku tidak tahu harus meminta tolong pada siapa lagi.

 

Ji Hyo membuka pesan ketiga

 

Gadis yang datang ke Aldantѐ, dia Samantha. Dia satu-satunya alasan terciptanya luka di tanganku. Dia ingin kembali, tapi aku tak menyediakan tempat untuknya kembali.

 

Ji Hyo tertegun beberapa saat, jemarinya sedikit ragu saat memencet pesan keempat.

 

Tidurlah, aku tak mau mengganggumu. Aku tak mau membuatmu menderita. Aku tak mau melukaimu. Aku tak ingin membuatmu bersedih. Aku akan melepasmu. Aku ingin kau bebas. Aku ingin kau bahagia. Aku tak mau mengganggumu. Aku tak mau membuatmu menderita. Aku…

Maaf…

Karena aku menyayangimu.

 

Air mata mengalir turun membasahi pipi Ji Hyo. Dipeluk ponsel di tangannya erat-erat, dan tangisannya semakin kencang terdengar di kamarnya yang sepi. Ya Tuhan, Ya Tuhan, Ya Tuhan… apa yang sudah Ji Hyo lakukan? Dong Hae menyukainya, Dong Hae menyayanginya. Dong Hae yang selalu kasar padanya, pemuda itu menyayanginya. Dong Hae yang seharusnya Ji Hyo jauhi, pemuda itu tulus menyayanginya.

Ya Tuhan… Ya Tuhan…

Tetes demi tetes air mata terus mengalir. Ji Hyo menyibak selimutnya, berjalan menyambar jaket tebal bulukan di atas meja rias. Ji Hyo tak terpikir untuk membuka lemari dan berganti baju, gadis itu sudah berlari keluar apartemen, keluar gedung.

Ji Hyo menyetop taksi pertama yang melintas di depan gedung, gadis itu menyuruh sang sopir mempercepat laju taksi dan Ji Hyo berhenti di apotik. Ji Hyo membeli nyaris semua obat dari penyakit yang muncul di kepalanya: “Obat pusing, demam, pilek, sakit perut, mata merah, sesak napas, batuk… mm, apa kau menjual obat sakit hati?”

Ji Hyo berlari keluar apotik membawa banyak bungkusan, sampai sopir taksi keluar dan membantunya membawa seluruh obat-obatan. Gadis itu tiba di apartemen Dong Hae sepuluh menit kemudian, dan langsung berlari masuk ke dalam gedung. Satpam sempat menghentikannya, tapi saat Ji Hyo berkata dia adalah teman Lee Dong Hae di apartemen 303, satpam itu langsung memberikan jalan masuk bagi Ji Hyo.

Ji Hyo mencoba menghubungi ponsel Dong Hae namun tak aktif. Apa pemuda itu sudah tertidur? Terakhir kali Dong Hae menghubunginya setengah jam lalu. Apa pemuda itu mumutuskan berhenti menelepon karena sudah menyerah?

Ji Hyo sampai di depan pintu apartemen 303 dan kebingungan karena tak tahu password Dong Hae. Ji Hyo menyentuh pintu apartemen itu dan berusaha mencari bel, saat tiba-tiba pintu itu terbuka.

Sedari tadi, pintu itu tak terkunci sama sekali.

Ji Hyo melangkah masuk. Seluruh lampu masih dinyalakan atau memang belum dimatikan? Ji Hyo memandang sekeliling mencari sosok Dong Hae. Ini pertama kalinya Ji Hyo masuk ke apartemen Dong Hae dan keadaannya memang sungguh rapi. Rapi dan sedikit kaku.

Ji Hyo memanggil nama Dong Hae namun tak ada jawaban. Sepatu pemuda itu ada di rak dan itu berarti Dong Hae ada di dalam. Ji Hyo meletakkan bungkusan di atas meja ruang tamu dan bergerak mengelilingi apartemen, nyaris bingung karena tak mendapati Dong Hae dimanapun. Tapi akhirnya Ji Hyo melihat pemuda itu berjongkok, di ruang kecil antara sofa ruang tamu dan dinding. Pantas saja Ji Hyo tak melihatnya.

Dong Hae mendongakkan kepala ketika Ji Hyo menyentuh bahu pemuda itu.

Ji Hyo berjongkok di samping Dong Hae. Keadaan Dong Hae sungguh mengerikan, pemuda itu terlihat pucat dan penuh peluh. Kaos putih yang dikenakannya basah kuyup. Mata tajam Dong Hae terlihat kosong.

“Chef—“

Ji Hyo merasakan tangan Dong Hae menariknya, lalu menenggelamkannya dalam pelukan. Basah dan dingin. Napas Dong Hae menderu mengenai tengkuk Ji Hyo.

Ji Hyo memejamkan mata. Napas Dong Hae terdengar putus-putus dan Ji Hyo ikut tersayat melihat kondisi Dong Hae. Ji Hyo menepuk-nepuk punggung Dong Hae lembut. Dan pemuda itu menangis pelan.

Ji Hyo memeluk Dong Hae erat-erat. Tangisan Dong Hae membuat dadanya bergemuruh dan matanya ikut memanas.

Tuhan, beri kami kekuatan.

Hari ini sungguh berat. Besok-besok, juga sepertinya akan berat.

Tuhan, beri kami kekuatan.

Tuhan, beri anak-anak-Mu ini ketabahan.

.

.

.

.

.

.

[Author’s Cucuap Cuap-ap: Jihyo’s and Her Thought ]

“Entahlah… ini… ini… ketika melihatnya menangis, aku tak perlu tahu alasan kenapa dia menangis, aku pikir aku perlu memeluknya, aku rela menangis untuknya begitu saja. Aku… aku…”

Ji Hyo menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Aku berdiri dan berjalan menyeberangi meja. Kupeluk gadis itu, menenangkan bahunya yang bergonjang hebat menahan pilu.

“Maukah kau disini menemaniku? Aku pikir aku butuh teman mengobrol… aku… aku… pikir…”

“Katakan apa yang kau pikirkan, aku selalu disini,” ujarku lembut.

Aku mengusap lembut kepala Ji Hyo saat gadis itu menceritakan semuanya dengan terbata-bata. Saat dia mulai berpikir bahwa dia tidak lah sekuat yang orang bayangkan. Saat dia mulai berpikir, mungkin saja selama ini dia telah banyak memilih hal yang salah…

Kehidupannya… karirnya… atau orang yang dicintainya…

.

.

.

.

.

.

See you next part~

54 thoughts on “A Cup Of Lee (Part 6)

  1. samantha.. duh ini cewek gak tau malu banget sih, dia pikir abis menghianati ikan terus mau balik lagi dengan kata “cinta” donghae bakal dengan begonya balik sama dia? ugh pheulissss donghae bukan hewan peliharaan yg setia nunggu majikannya -_- ugh greget tingkat dewa liat ini cewek, udah matre suka seenak jidat lagi. mending kasar ples badas kek kapten ji, tapi setia walaupun sekarang udah meragukan status setianya :v

    oh iya, joongki akhirnya gak pea lagi. btw chaerin kok jadi nyebelin gitu, kan kasian siwon tiba2 harus menjauh :’
    ah pokoknya banyak banget tentang part ini yg mau aku tulis, tapi berhubung lagi males ngetik /lu udah ngetik banyak/ ahahah sampai disini komentar absurdku

  2. Kebawa sedihnya juga baca part ini. It seems hard to be a person like Lee Donghae. Tergila-gila tapi pada akhirnya tetap ditinggalkan.
    Well, mungkin Jihyo bisa nyembuhin hatinya yg patah, or maybe they can heal their heart each other.

  3. hai @sophiemorore
    aku pembaca blog kamu loh
    semua bagus, apalagi yg diary yesung
    err rasa”nya sampe pengen geplak aja
    kekeke
    anyway, i’m still reading on a cup of lee, which is good plot and storyline
    but i need to tell you a thing
    psikologi bukan ilmu kedokteran, so i think salah alamat sekali misal bilang siwon adalah dokter psikologi
    juga donghae tidak sama sekali bipolar disorder, karena dia memang tidak memiliki gejala itu
    misal perubahan pembawaan diri donghae chef dan donghae normal dijadikan basis, it’s not absolutely right
    katakanlah, itu bentuk profesionalisme donghae di tempat kerjanya
    i hope in the future, before you put some new terminologies in your fanfiction, be better you check it up on google or any other sources
    i hope i dont offend you, darl
    i just feel a bit uncomfort with that
    hehehe

    by the way, im a psychology student
    nice to meet you😉

  4. aduh itu donghae kenapa sih?
    jihyo juga kenapa?
    kenapa pada nangis?
    dududuh… chaerin sama joongkinya mendadak jadi nyebelin
    dan bikin pusing
    aku pengin next part nih thor
    huhuhuu
    kasihan liat kehidupan donghae

    • aduh komenku kepotong kan —
      sebenernya tadi mau ngat2in samantha
      dan setuju sama komen di bawah
      ga bisa bayangin wajah si nenek sihir samantha itu kayak gimana
      ughhhh
      aku harap ending yg terbaik deh
      karena aku ga tau ini kamu manya masangin jihyo sama siapa sop

  5. ooooohhh ternyata itu alasan kenapa ada luka di tangannya donghae? ckckck miris #freepukpukuntukdonghae…

    yep yep yep aku penasaran banget kenapa temen-temen dan keluarganya ji hyo ngelarang ji hyo buat deket” dapur Aldante dengan alasan ji hyo emang benci dapur?? dan sebenernya 5 tahun lalu ji hyo ngalamin kecelakaan apa? trus ucapan” di mimpinya ji hyo kok sama kayak apa yang diucapin ulang sama donghae ke samantha? jangan-jangan…..

    heeemmm daripada tebak-tebak buah manggis, aku tungguin aja chapter selanjutnya, hehehe…🙂 semangat eonni…😀

  6. sophiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiieeeeeeeeeeeeeeeee…………..
    Muahahahahahahahahahaha………….
    Oke, fix! ini sedih! dan menyiksa!
    Hahahaha…
    Tp aq suka bgt!
    apalagi scene peluk-pelukan donghae-jihyo!
    Sesak bgt! Aku suka~😀

    Oke, gue penasaran sm masa lalunya Ji. Masa lalu donghae jg.
    Jgn bilang mereka terikat oleh hal ga penting d masa lalu.😀
    Terus apa kbr hyukjae?
    Pun Jgn bilang kamu mau misahin couple favoritku ini ya!
    Jihyo ttp milik si jelek hyukjae! Hyukjae itu jelek soph!
    Jd berhentilah menyebutnya atlet tampan, tampan, tampan! Cih~ *digampar*

    Tp maaf, aku kehilangan imajinasi liar utk manusia bernama samantha.
    Otakku random pas d scene yg ada dianya.😀
    Mungkin kamu bisa bikinin foto utk dia soph.
    Artis korea mana aja jg boleh.😀

  7. aigoooo penasaran deh ama hidup jihyo sebelum kecelakaan, apa donghae adalah org dari masa laluny jihyo? aku sedikit menaruh curiga sama chaerin. gak sabar nunggu kelanjutanny, tetap semangat ya kk sophie:)

  8. oh,jd yg bikin sikap donghae dingin kyk gt gr2 d putusin samantha,serem jg ya donghae sampe frustrasi gt mpe coba bunuh diri.samantha itu cwek matre bgt,masa cm diiming2 d debutin dia mutusin donghae n nikah sm jim si produser??ckckck,trs skrg dia minta balikan lg?duh itu cwek,bikin gregetan aj,udh tw donghae nolak tp dia ttp maksa.
    ini jg chae rin sm keluarga jihyo,mrk kyk nyembunyin sst ttg kecelakaan jihyo 5 th yg lalu n g ngasih tw jihyo knp dia hrs ngejauhin donghae ma aldante,pdhl kt siwon shbtnya jihyo mewarisi bkt masak dr ayahnya.ini yg ganggu pikiran jihyo,dia pgn tw ap yg trjd sbnrnya tp org2 trdktnya mlh bungkam.
    sophie eon,mkin seru aj nih ceritanya ><..aq jd pnsrn ap rahasia yg d sembunyiin chae rin ma keluarga jihyo soal kecelakaan jihyo 5 th yg lalu!!
    n gmn klanjutan cinta segi 4 jihyo,hyuk jae,donghae ma samantha,jg perasaan trlarang jihyo k donghae,,
    d tunggu klanjutannya ya,sophie eon.. ^^
    FIGHTING!!!

  9. Dr kmrn udh baca tp blm smpet komn
    Gregetan bgt sama jihyo
    Knp dia bs sebegitu tergila2nya ama donghae
    Oke aku thu donghae mempesona
    Tp dia udh tunangan
    Mau nikah lagiii
    Ckckck
    Semoga jihyo sama hyuk

  10. Cool story!!!
    Sumfah ini kece badai thor
    Aq ampe pusing ini nebak2 kemungkinan yg trrjadi
    Bisa aja nih author satu

  11. daebak thor sumpah..
    ente tega bner nyiksa donghae..
    iya psti happy ending.. tp gak tau happynya buat hyuk apa hae..
    dr pnulisan cast.. hae durutan k3 stlah ji n hyuk.. brarti story ini akn happy en buat ji n hyuk.. tp ane pngennya happy buat hae..

  12. Donghae frustasi gara-gara patah hati toh. Ihh…samantha ini yah, udah ditinggal kawin eh minta balikan. Baru nyesel kan sekarang.
    itu kenapa kata-kata na samantha buat donghae kok bisa sama kayak di mimpi na ji hyo ya? Emang ji hyo juga pernah di hina kayak gitu kah?

    “Ah, Lee Hyuk Jae, aku kenal dia. Dia pacar temanku sesama model. Wah, sekarang sudah tunangan ya?” “Eh, sepertinya sudah putus ya…” Samantha memperhatikan layar kaca itu lagi. “Dia tunangan sama orang lain?”
    Ini yang di maksud samantha bukan ji hyo ya? jangan-jangan…

  13. Gilaaa sebel banget sama samantha
    Apaan begitu
    Minta ngajak donghae balikan
    Ini jihyo juga
    Lo jadi cewek php banget sih!!
    Kasian itu donghae😥
    Ya ampun menderita maksimal ya donghae ya di ff ini huhuhu
    Jahat lo.soph
    Jahat bener
    Lo ga bisa ya bikin donghae fine2 aja
    Tampan baik hati menarik dan penuh keberuntungan di tiap ff lo?
    Dendam apa sih lo sama donghae?
    Kayaknya lo ga puas kl g nyiksa donghae ya?😥

    Aq doain akhir yg terbaik deh buat donghae

  14. covernya bikin mupeng neng shop.. Donghae is mine !!! Part ini lebih dalem ya neng shop, jadi tau kenapa donghae ga boleh deket jendela. Kasian donghae ketika dia bisa melupakan samantha, malah wanita itu kembali lagi, dan ketika donghae menyukai jihyo, dia di paksa sakit lg karna jihyo sudah punya tunangan. Ah ya aku juga benci dengan perselingkuhan, jadi segera putuskan hyukjae jika ingin bersama donghae, oh ya apa hyukjae punya wanita lain kenapa samantha bilang hyuk punya kekasih lain ? Entahlah sepertinya donghae tidak tahu apa2 tentang masa lalu jihyo, kemarin kupikir dia tau dan sengaja memperkerjakan jihyo di aldante. Jadi apa masa lalu jihyo,donghe,hyuk berkaitan ?

  15. Sophieeeee
    Janji kaaan
    Ini cerita bakal happy end?
    Janji ya?
    Soalnya kok makin lama aq makin ga yakin ini bakal happy end
    Gimana dong
    Jihyo suka sama dua cowok yg sama2 sempurna
    Kasian kl ditinggalin salah satunya
    Haduuuhhh😦

  16. Kenapa foto donghae yg ditengah itu mirip stevan william ya? :O
    Bener mirp bgt thor
    Tau stevan william ga?
    Yg main siti blink.blink
    Dia cakep banget loh thor
    Coba liat wajahnya deh
    *Oot banget, oke back to the topic*

    Makasih ya thor udh bikin cerita yg menyentuh hati gini
    Serius ini seharusnya aq g ngedukung org selingkuh
    Tp kok makin kesini aq makin setuju sama jihyo dan donghae?
    Hmmmm….

    Aq menantikan bagian hyuk
    Paling nggak, aq menantikan author cuap2 bagian eunhyuk
    Aku rasa ada yg perlu hyuk jelasin
    Suruh dia jelasin ttg kecelakaan ji, dong thor
    Yayaya?

    Udh dulu ya thor
    Maap kepanjangan dan gaje pisan
    Bawaannya pengin nyampah mulu kl di blog ini soalnya hahha

    Keep writing
    Semangaaattt~

  17. Pagi2 baca cerita ini adalah sebuah kesalahan besar!!!
    Aq nangis
    Bahkan aq g tau aku nangis krn apa
    Beneran aq jd kyk jihyo
    Hanya tau kondisi donghae dan lyt pemuda itu nangis
    Aq ikutan nangis
    Huhuhu

    Aq tau sophie pasti sll baca komen2 disini
    Km author paling baik dan keren
    Aq bakal sll jd pembaca setiamu, soph!
    Walau may be banyak.bgt silent reader, jgn patah semangat
    Keep writing
    Fighting

  18. Kmrn.sih udh liat ada kiriman baru dr sophie
    Tp baru sempat baca skrg
    Dan wow.suprise
    Latar belakang donghae bahkan lebih mengerikan dr latar belakang jihyo yg dibuat donghae
    Hmmmm wajar sih kalo akhirnya donghae kyk punya duabkepribadian
    Dia cuma punya satu tujuan dlm hidup
    Jd chef
    Dan dia bakal berbuat apapun bwt jd.chef
    Wajar sikapnya super sensitif kl di dapur
    *Ngangguk2 ngerti

    Tp aq jd bingung sama.jihyo
    Dia juga dulu jd chef?
    Ada apa sih dgn dia sebelum kecelakaan lima tahun lalu?
    Itu beneran dia tunangan hyuk?
    Aduh somebody please tell me what happen here

  19. Apaaaaa
    Itu donghae kenapaaaaa
    Kenapa dia nangissss
    Tadi dia fine2 ajaaaa
    Pas sama samantha malah cewek itu dimarah2i donghaeeee
    Tp tp tp ini kenapa donghae jadi lemah begini
    Apa gara2 dia tau soal pertunangan jihyooo?
    Dia kelihatan cuek pas di aldante, pas jihyo nanyain,.tapi ternyata dia kepikiran, begitu?

    Cup cup cup donghae jgn nangis
    Aduh itu fotonya di atas mendukung banget lagi
    Donghae kayak anak polos siap di adopsi dri panti asuhan
    Huhuhu sini sini sama tante ajaaaa, naaakkk

    Aku sell kebawa2 deh kl baca ff buatanmu
    Kata2 km itu loh
    Kosakatanya dapet dr mana bisa ngalir lancar
    Km ga kayak penulis yg nulis formal2 pake bahasa baku
    Tapi kl dibilang bahasa gaul juga nggak
    Ini keceeehh
    Intinya fun aja buat dibaca
    Keep writing

  20. Wohoooo
    Suprise bgt sama part ini
    Ternyata itu toh penybab luka di tangan donghae
    Donghaenya udah berubah gara2 samamtha
    Huhuhu
    Jahat banget sih si samantha itu

    Betewe aq meyayangkan tindakan joongki yg nyuruh ji ga ke aldante lg
    Kesannya si joongki ga tegas bgt
    Kmrn dia maksa2 kakaknya kerja
    Skrg tau2aja d suruh brenti
    Pdhl kyknya jihyo fine2 aja d aldante
    Dia malah temenan baik sama duo absurd (read:henry wookie)

    Dan soal hyuk aq curiga theres something with him
    May be kasusnya sama kyk why why why
    Begitu make sudut pandang hyuk bakal kebongkar rahasia yg slm ini tersembunyi
    Hm…
    Bener2 penasaran

  21. Tidaaaaaaaaaaaaaaak T.T
    Ff nya makin seru dan makin buat aku tambah penasaran huhuhu
    Sebenarnya ji hyo kenapa bisa kecelakaan sih? Trus dulunya dia mau jadi chef gitu? Hubungan dia sama hyuk itu beneran gk sih? Soalnya pas ji hyo sadar dr koma hyuk gk ada datang buat jenguk dia.
    Kasihan donghae di tinggal kawin sama pacarnya ckck sampe mau bunuh diri lg aduuuh bener tuh jangan sampe terulang ke 2 kalinya mending gk usah aja di terima lg samanthanya.
    Aku masih meragukan nih hubungan hyuk sama ji hyo mereka emang udh lama pacaran gitu atau enggak?
    Aaaaaaa penasaraaaaaan u.u

  22. Samantha
    Hmmmp
    Nyebelin😦
    Jihyo.mulai bsk brrti ga kerja d aldante lagi?😦
    Aduh makin nyesek ini ff nya

  23. Aku benci samantha
    Aku juga benci sama jihyo
    Dua2nya bikin donghae patah hati
    Sabar ya akang donghae
    Sama aku aj sini

    Sumpah kl skrg aq jd bingung baiknya jihyo sama syp..
    Sophie sma skali g ngasih petunjuk

  24. Apa yang dikatakan samantha kok mirip sama yang ada di mimpi jihyo?

    Aku merasa kecelakaan jihyo ada hubungannya sama hae
    Iya ga sih?
    Next part semoga cepet🙂

  25. Wuaaa
    Udah terbit

    Tidurlah, aku tak mau mengganggumu. Aku tak mau membuatmu menderita. Aku tak mau melukaimu. Aku tak ingin membuatmu bersedih. Aku akan melepasmu. Aku ingin kau bebas. Aku ingin kau bahagia. Aku tak mau mengganggumu. Aku tak mau membuatmu menderita. Aku…

    Maaf…

    Karena aku menyayangimu.

    Ini bagian favoritku
    Bayangin donghae ngomong gitu dengam suara lembut rendahnya
    Dan tatapan speechlessnya
    Ya ampunnnn
    Anak orang kenapa kamu bikin menderita gini?:'(

    Itu pria romantis banget
    Setuju sama komen2 sbumnya
    Meski ga tau knp donghae nangis
    Aq ttp aja ikut nangis ….

  26. Onnie
    Whuaaaaa
    Ige mwoya
    Suer itu gambar donghae bikin meleleh
    Kalimat tagline nya bikin merinding
    God please save us😦
    Ya ampun donghae ternyata kamu ttp aja merana ya kalo jadi cast disini
    Mau kamu sok galak sok romantis
    Teteup aja yaaa
    Onnie mah gitu… dendam apa coba sama ikan😦

    Dan aq nangis loh pas bagin ending
    Ngga tau apa sebabnya
    Pas jihyo berdoa gitu
    Aq nangis aja…
    Sama aku kyk jihyo
    Aq ga ngerti apa masalahnya tp air mataku ttp ga bisa dibendung huhuhu

  27. Gilaaaaaa
    Apa iniii
    Bipolar disorder
    Masa lalu hae kelam banget
    Cewek itu samantha
    Ugh dia nyebelin bgt
    Dan chaerin jg nyebelin
    Joongki jg….
    Aaa smwnya main rahasia2an

    Ya ampun pas donghae nangis itu kok mesakke banget ya
    Aku ikut sedih

  28. Jd pengin donghae sama jihyo jadian
    Dan ini kyknya bakal berakhir berdua deh
    Hyuk nya ga muncul2 nii
    Dan itu chaerin kok jd agak nyebelin y?:/
    Trus kyk ada yg disembunyiin smw org dr jihyo
    Rahasia jihyo
    Smw next.part kebongkar

  29. Huhuhu kok malah jadi sedih?
    Kalo kyk gini udh deh donghae ama jihyo aja
    Apalagi itu cover donghae kece bangeeettt
    Cakep badaiii
    Astagaaaaa aku jd gila ini

  30. Jihyo dan Donghae.. okefix.. aku merestui kalian. Tinggalkan Eunhyuk buatku saja.
    Hmm.. ada beberapa typo, but I understand you.. msh bs update di saat2 super sibuk kamu..
    Agak /banyak/ kecewa krn ga ada Hyuk /lagi/ dan emang lg fokus ke Donghae kayaknya… but, the rule, the plot is yours.. so.. its up to you..
    Karena aku plg ga suka ama selingkuh hati.. please lets Jihyo with Hae.. atau bukan dgn siapapun..
    Dan kalaupun akhirnya Eunhyuk skt hati.. please,, don’t be so hurt dan kayak pengen mati.. dia seorang yg tegar dan berhak bahagia. |Hidup Hyukjaeku|
    Sekian dan terima kasih.
    — calling Hyuk: sebaiknya kita nonton world cup aj,,otte Hyuk?

  31. see u next part~ ngga nyangka kalo part ini diakhiri sedih”an gini.. terkuak sudah masa lalu donghae. jadi, apa kelanjutannya?? duo lee, song jihyo? part selanjutnya kalian gimana??
    author, sophie selalu bikin akunya jadi penasaran sama kaget di stiap ff nya :v dan utk dua ff yg pernah tak baca, siwon juga selalu jadi dokter :3
    keep writing ya!!

Just talking...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s