A Cup Of Lee (Part 5)

Sebagai penulis, aku akan memberitahumu akhir kisah ini: bahagia.

Menurutku sih, begitu.

Tapi aku tidak bisa menentukan apakah akhir kisah ini akan bahagia bagimu atau tidak.

Kutegaskan, konsep kebahagiaan berbeda-beda tiap orang.

Aku akan memberimu gambaran, cerita ini tentang Song Ji Hyo, wanita yang mencintai Lee.

Tapi dia bertemu dengan Lee lain yang membuatnya menggila.

Dan sampai pada satu titik, wanita sialan ini harus menentukan kebahagiaannya sendiri.

Lee mana yang harus dipilih?

Tenang saja, cerita ini akan berakhir bahagia.

Setidaknya, menurutku sih begitu.

.

.

.

Author : Sophie Maya

Title     : A Cup Of Lee (Part 5)

Cast     : Song Ji Hyo, Lee Hyuk Jae, Lee Dong Hae

Support Cast: Song Joong Ki, Ryeowook

Genre  : unknown

Rated  : PG-19+

Length: chaptered

Type    : ?

Summary         : Lee itu seperti toxin, kau bisa jadi zombie jika terkena virusnya. Kau bisa jadi zombie… yang sedang jatuh cinta… dan hidup dengan satu tujuan: mencintainya.

acol 3

Disclaimer       : this story is MINE.

.

.

.

.

.

.

Weker berbunyi menggema di seluruh sudut ruang tidur, menunjukkan jam lima pagi. Kekosongan mengisi tiap rongga kamar yang sepi. Dong Hae telah terbangung bahkan sebelum weker berteriak-teriak histeris. Pemuda itu kini duduk manis di kusen jendela, tangan kanannya menggenggam secangkir kopi, menatap jalanan yang masih sepi, hanya beberapa mobil melintas dengan kecepatan di atas rata-rata karena belum ada polisi lalu lintas yang berjaga.

Asap kopi mengepul-ngepul mengenai wajah Dong Hae, membuat matanya berembun. Pemuda itu mengusap matanya perlahan, tapi tak ingin sedikit pun menggeser posisi cangkir di tangan.

Dulu saat di Itali, jika dia sedang duduk begini, seluruh keluarganya akan berteriak histeris dan menyeretnya menjauh dari jendela. Mereka mengikrarkan tempat-tempat tinggi seperti jendela di lantai sekian, jembatan penyeberangan, dan pinggir tower sebagai tempat yang wajib dijauhi Dong Hae. Biasanya, kakak laki-lakinya, Dong Hwa, yang akan terus mengawasi seolah seluruh matanya ada di tiap sudut Itali. Dong Hwa akan segera ada di tempat dimana Dong Hae ingin “melarikan diri” dari kehidupan.

“Bisakah kau berhenti melukai dirimu sendiri? Bisakah kau mendongak ke atas, menyaksikan bahwa langit belum runtuh, kiamat belum terjadi, jadi kau tak perlu bersiap-siap untuk cepat mati!” Dong Hwa selalu mencegah Dong Hae dan mengomelinya panjang lebar.

“Aku ingin berpikir semudah yang kau katakan, Kak! Tapi jika ternyata melakukan sesuatu lebih sulit dibanding mengatakannya, aku harus bagaimana?” Kadang Dong Hae selalu mengerang marah jika Dong Hwa sudah mengatakan hal yang menurutnya hanya omong kosong.

Kini Dong Hae berpikir dia mulai merindukan Dong Hwa, keluarganya, dan omelan-omelan mereka. Tak ada lagi yang melarang Dong Hae untuk duduk di pinggir jendela seperti ini. Bagaimana jika dia benar-benar nekat untuk melukai diri sendiri? Apa Dong Hwa akan datang ke Korea? Tidak ada seorang pun yang peduli dengannya di negara dingin ini…

Nada pesan tiba-tiba masuk. Ponsel Dong Hae berbunyi nyaring. Dong Hae nyaris terjungkal ketika melihat layar ponselnya dipenuhi nomor asing.

 

Ini masih pagi dan Chef tak berniat bunuh diri, kan?

Song Ji Hyo.

 

“Song Ji Hyo?” Dong Hae celingukan ke bawah, menyadari sebuah taksi baru saja melintas pelan melewati gedung apartemennya. Mungkin di dalamnya ada Ji Hyo, gadis itu selalu sibuk pemotretan sejak subuh.

 

Tahu dari mana nomorku?

 

Dong Hae mengetik cepat balasan untuk Ji Hyo. Dan tak sampai semenit, ponselnya kembali berbunyi.

 

Song Joong Ki. Kau lupa aku punya ADIK yang KEBETULAN jadi pemilik Aldantѐ? Sudahlah, sekarang kau menjauh saja dari jendela. Dari bawah sini, kau terlihat seperti orang yang ingin bunuh diri.

 

Senyum menyembul dari bibir Dong Hae. Pemuda itu turun perlahan dari kusen jendela dan berjalan menjauh, persis seperti yang diperintahkan Ji Hyo.

 

Tidak mau. Aku tidak mau turun dari jendela.

 

Bohong, aku sudah melihatmu turun :p

 

Dan kali ini senyum itu berubah jadi tawa terkekeh-kekeh. Dan Dong Hae larut dalam ponselnya, membalas pesan-pesan yang terus berdatangan dari Ji Hyo.

Mungkin Korea tak buruk-buruk amat. Memang, tidak ada keluarganya yang akan melarangnya bunuh diri, tapi ada Ji Hyo, dan gadis itu cukup membuat tawanya berderai di pagi hari.

.

.

.

.

.

.

Dong Hae mengucapkan kalimat aneh di pertemuan terakhir mereka tempo hari. Ji Hyo berusaha mencerna dengan otak super kecilnya, namun gagal. Yang ada, otaknya justru kesakitan sekarang, cenat-cenut, dan butuh protein tambahan. Ji Hyo punya otak pentium dua di jaman serba android, makanya dipaksa berpikir canggih sedikit saja, otak itu bisa berbunyi “ngiinggg ngiiingg” seolah berkata “sungguh aku tak sanggup lagi berpikir, Song Ji Hyo! Bunuh saja aku, bunuh aku, atau pulangkan aku pada kedua orang tuaku! Aku tak tahan lagi hidup sebagai otakmuuuu…”. Ji Hyo bisa merasakan jika sang otak bisa bicara, mereka akan mengatakan hal seperti itu, dan seketika membuat Ji Hyo merasa dia telah melanggar Hak Asasi Otak.

Ji Hyo bukan gadis bodoh, mm… dia hanya tak bisa diajak berpikir serius lebih dari lima menit. Dia sayang sama otaknya dan tak ingin otaknya meninggalkan kepalanya.

Itu saja.

Tapi walau begitu, ucapan Dong Hae tetap terngiang-ngiang di kepalanya. Telah beberapa kali Ji Hyo coba menanyakan hal itu pada Dong Hae disela-sela jam kerja mereka di Aldantѐ, tapi yang ada Dong Hae hanya memandanginya aneh dan berdesis pelan, “jangan bertanya yang tidak-tidak atau kupotong gajimu!”

Dong Hae seperti bukan sosok yang dikenalnya. Asing. Ji Hyo mundur teratur dan berjanji tak akan menanyakan hal itu daripada gajinya harus dipotong. Dan setelah itu Ji Hyo baru ingat, ugh, dia bahkan tak digaji sama sekali kan?

Dong Hae masih menjadi chef super galak, kegalakannya bertambah seiring dengan bertambahnya menit-menit yang berlalu. Semua juru masak dan karyawan di Aldantѐ selalu menundukkan kepala ketika Dong Hae melintas, tak berani memandang sosoknya, atau bahkan menyapanya. Suasana dapur tak membaik, hanya semakin memburuk. Bukan sekali dua kali, Dong Hae berteriak kasar dan membuang (huhuhu, Ji Hyo hampir selalu menangis melihat adegan ini) bahan-bahan makanan terbaik yang disediakan Aldantѐ ke tempat sampah. Dengan alasan yang hampir-hampir tak bisa ditolerir Ji Hyo, entah itu bahannya yang tak segar, atau kesalahan kecil (amat teramat sangat kecil) dari sang juru masak yang membuat masakan terasa berbeda.

“Kau yakin memperkerjakan chef terbaik? Bukan seseorang yang sebenarnya merupakan atlet bisbol yang suka membuat homerun dengan bahan-bahan makanan?” protes Ji Hyo suatu ketika pada Joong Ki. Ji Hyo sudah melempar baju kerjanya sembari memaki-maki Dong Hae dengan serapah kebun binatang.

Tapi adiknya seolah tak peduli dan hanya berkata, “that’s Dong Hae’s kitchen. Sepenuhnya keputusan ada padanya.”

Ji Hyo meradang dibuatnya. Iya, dia tahu, meskipun Joong Ki yang menggelontorkan banyak uang di sini, tapi tetap saja dapur itu adalah “dapurnya Dong Hae”, sesuai dengan peraturan di dunia masak-memasak. Tapi peuhlisss, Ji Hyo tidak tahu harus bereaksi bagaimana lagi melihat tingkah Dong Hae di dapur, di Aldantѐ, yang sungguh melampaui batas tingkah manusia sopan.

Tidak ada gunanya memberitahu Joong Ki betapa mengerikannya Dong Hae. Ji Hyo membuang muka dan meninggalkan adiknya, dan bertekad untuk melawan Dong Hae sendirian.

“Kau tahu kan kalau ini bukan sekedar dapur, ini adalah sebuah organisasi, di sebuah negara demokratis. Aku pikir kau tahu apa itu demokratis, kita tidak bisa punya chef otoriter disini, kan?” Ji Hyo meletakkan piring berisi pesanan di meja chef, sembari berkata dengan nada sinis.

Dong Hae mengambil piring, memperhatikannya seksama, lalu mendesah panjang. Seluruh juru masak menatap Dong Hae dan Ji Hyo harap-harap cemas, bukan rahasia umum lagi kalau asisten dapur II Aldantѐ terlampau sakit jiwa untuk bisa menentang serta cari gara-gara pada chef hampir tiap hari.

“Cheon Ji Yeon…,” panggil Dong Hae dengan suara rendah dan berat.

Ji Hyo menatap Dong Hae dengan kedua mata bulatnya. “Jika kau bilang ingin memotong gajiku, itu tak akan mempan lagi. Sekarang aku sudah sadar, aku bahkan tak akan digaji selama sebulan ini meski aku memintanya sambil berguling-guling di aspal atau pun menangis di bawah pancuran taman,” bisik Ji Hyo pelan. “Aku akan terus protes sebisaku, selama sisa masa kerja rodiku.”

Dong Hae seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi pemuda itu justru memicingkan mata, dan memajukan bibir beberapa senti. “Kau ini…” Dong Hae memutar bola mata kesekeliling, menemukan sebuah sepatula menganggur, yang langsung disamparnya, dan diketukkannya ke kepala Ji Hyo.

Tuk!

“KEMBALI BEKERJA!” teriak Dong Hae. “Kau ingin menghabiskan waktu dengan percuma hanya bicara hal-hal yang percuma?!”

Ji Hyo meringis kesakitan. Sungguh, jidat lebarnya kini sedang berdenyut-denyut ria, dan si raja tega Dong Hae malah membentak-bentaknya?!

“Noona… Noona… sudah hentikan, kita kembali bekerja saja…” Henry yang tahu situasi akan semakin memburuk jika Ji Hyo dibiarkan berada dalam radius kurang dari seratus senti dengan Dong Hae, buru-buru menarik lengan Ji Hyo dan mengajaknya (tepatnya, setengah menyeretnya) ke ruangan pendingin. Bertingkah bahwa ada banyak udang yang harus diambil dan dibersihkan, lalu Henry menutup ruangan pendingin rapat-rapat.

“Henry kau… kenapa kau menarikku pergi?! Aku masih ingin menghabisi chef itu! Masih banyak yang harus kukatakan padanya!” Ji Hyo berniat pergi, tapi Henry buru-buru menarik dan mengunci tubuh Ji Hyo ke pojok ruangan.

“Astaga, Noona! Kau ini…!” Henry melirik ke luar ruangan melalui jendela kecil di pintu. Mendapati bahwa keadaan dapur sudah tidak semenegangkan tadi, pemuda itu menghela napas lega.

“Kau minggir dariku!” Ji Hyo mendorong tubuh Henry.

“Baiklah, tapi Noona janji tak akan buat keributan lagi?” Henry menatap penuh mohon.

“Aku tak pernah buat keributan. Chef gila itu yang memulainya.”

“Iya, Noona. Aku tahu. Chef memang galak, tapi kau juga tak punya hak untuk menentangnya. Kau dan aku… kita ini asisten dapur, Noona. Kita tak pernah punya hak melakukan itu.”

Ji Hyo terdiam mendengar ucapan Henry.

Menatap lekat kedua bola mata pemuda di depannya, yang penuh kecemasan. Henry mungkin takut dipecat, atau takut akan mendapat masalah karena bagaimana pun juga Ji Hyo adalah rekan sejawatnya di sini. Jika Ji Hyo membuat masalah, maka mereka berdua lah yang harus bertanggung jawab. Ji Hyo sih tak masalah, karena dia sebenarnya tak pernah ingin kerja di restorannya sendiri. Tapi Henry? Dia tak tahu menahu soal ini.

“Oh… oke, aku mengerti. Aku tak akan melakukan itu lagi,” ujar Ji Hyo, suaranya melunak. “Bisa kau minggir dari hadapanku?”

Henry membiarkan Ji Hyo berjalan melewatinya.

Ji Hyo baru ingin memutar kenop pintu, ketika dia menoleh lagi ke belakang dan tersenyum jahil. “Tapi kalau chef kita mulai nyebelin…”

“Noona, jangan coba-coba deh…,” rengek Henry.

Ji Hyo tertawa renyah. “Oke oke… jangan nangis, dong! Aku hanya bercanda.”

Keadaan lebih tenang sampai akhirnya jam istirahat tiba. Ji Hyo dan Henry membersihkan dapur sementara juru masak mulai meninggalkan dapur menuju pantry. JI Hyo menata piring-piring pada tempatnya, menggantung wajan, dan menyusun sepatula. Dia mendapat telepon dari Josh yang mengabarkan akan ada fitting pakaian untuk runaway dan latihan sampai tengah malam. Josh menggadang-gadang agar Ji Hyo jangan terlalu lelah dan jangan sampai membuat telapak tangannya keriput karena akan terlihat jelek.

“Jangan kebanyakan mencuci, aduh… aku tak bisa bayangkan apa yang dikatakan agensi jika melihat tanganmu kapalan, Ji…” keluh Josh.

Ji Hyo berjalan agak menyudut agar obrolannya dengan Josh tak terdengar Henry. “Tenang saja, Josh… aku masih utuh disini. Ehm, kecuali kesabaranku, yang berkurang hingga puluhan persen. Aku tidak yakin akan sesabar Ji Hyo yang dulu.”

“Ah, pasti chef dan adikmu itu membuat gara-gara ya padamu? Sudah kubilang kan, Ji… ini ide yang buruk. Astaga, kenapa sih dengan seluruh orang di Aldantѐ? Mereka selalu bertindak seenak jidat.”

“Josh, jangan bicara begitu. Begini-begini, aku besar di lingkungan Aldantѐ…” Ji Hyo menarik napas pendek, “aku mengerti, memang Aldantѐ dan kehidupanku amat berbeda jauh. Tapi mau bagaimana pun juga, Aldantѐ sudah seperti rumah bagiku.”

Ada jeda hening di antara keduanya.

Sampai akhirnya terdengar Josh menghela napas panjang. “Baiklah Ji Hyo, Sayang… aku tak bisa mengatakan apapun… jika kau sendiri yang menginginkan tetap bertahan di Aldantѐ. Aku jemput kau sepulang dari Aldantѐ ya. Kita ada latihan jalan untuk runaway.”

Ji Hyo mengangguk kecil. “Ya, Josh.”

Ketika Ji Hyo menutup telepon dan berbalik, dilihatnya Henry baru saja meletakkan pasta di atas piring. Pemuda itu menyadari kehadiran Ji Hyo dan menyuruh Ji Hyo mendekat.

“Kau membuat pasta?” bisik Ji Hyo dengan mata membulat. “Hei, kau tahu kan kita tak boleh menggunakan bahan-bahan dapur sembarangan…”

“Ssst, Noona, aku hanya ingin mencoba membuat pasta.” Henry tersenyum sembari mengedipkan mata. “Cobalah.”

Henry mengambilkan garpu untuk Ji Hyo.

“Kau ini…” Ji Hyo memelintir pasta di garpunya, menakar agar pasta yang diambil tidak terlalu banyak. Bagaimanapun juga dia model dan makan makanan berkarbo hanya akan membuatnya terlihat seperti gelembung. “Kalau yang lain tahu, kita dalam masalah.”

“Makanya jangan kasih tahu siapa-siapa, Noona,” cengir Henry. “Impianku dari dulu adalah membuat pasta. Itu juga yang membuatku kerja di sini, begitu aku tahu chef baru di sini akan lebih fokus ke pasta.”

“Oh ya?” Ji Hyo menyuapkan pasta ke mulutnya. Mengunyahnya beberapa kali, dan mengernyit. Rasanya lumayan enak, hanya saja tekstur pastanya tidak sekenyal yang seharusnya.

“Bagaimana?” tanya Henry penuh harap. “Enak kah? Aku meniru cara Chef Dong Hae memasak…”

“Hm… begini…”

“Apa yang kalian lakukan di sini?”

Suara Dong Hae membuat Ji Hyo dan Henry kaget. Mereka berbalik menatap pintu dapur, dan terlonjak melihat Dong Hae sudah berkacak pinggang dengan tatapan membunuh yang terarah ke keduanya.

Dong Hae berjalan mendekat dengan penuh arogan, melirik kea rah piring pasta di atas meja, lalu menunjuknya dengan sikap menyebalkan.

“Siapa yang memasak ini?” tanya Dong Hae dengan suara galak.

Ji Hyo dan Henry saling pandang. Henry jelas tampak ketakutan, bola matanya bergerak-gerak gelisah.

“Kalian tahu kan menggunakan dapur untuk urusan pribadi sangat dilarang?” Dong Hae memandangi Ji Hyo dan Henry bergantian. “Sekarang katakana padaku, siapa yang membuat pasta ini?”

Dong Hae melipat kedua tangan di depan dada dan menunggu jawaban.

Henry baru ingin membuka mulut, tapi lengannya langsung disenggol Ji Hyo. Gadis itu mengisyaratkan Henry untuk diam. “Saya, Chef…” Ji Hyo lalu membuka suara sambil mengacungkan jari. “Saya yang membuat pasta itu…”

“Noona…” Henry menggeleng cepat. Tapi Ji Hyo hanya memandanginya dan menyuruhnya untuk tak banyak komentar.

Dong Hae menatap Ji Hyo lekat-lekat. Lalu pandangannya berlalih kea rah piring berisi pasta. Tangan Dong Hae terulur kea rah Ji Hyo, membuat gadis itu sontak mundur ke belakang, berpikir bahwa Dong Hae mungkin saja akan memukulnya atau apa. Tapi Dong Hae justru mengambil garpu dari tangannya, dan menyendokkan pasta di piring, kemudian menyuapkannya ke dalam mulut.

Ji Hyo merasakan jemari Henry meremas kemejanya. Pemuda itu pasti kaget, bingung, cemas, campur takut melihat Dong Hae memakan masakannya.

“Kau tahu ada yang salah dengan pasta yang kau buat ini?” tanya Dong Hae sambil terus menatap Ji Hyo.

Ji Hyo terdiam sebentar, tapi akhirnya mengangguk kecil. “Pasta ini dimasak terlalu lama sehingga rasanya tidak sekenyal yang seharusnya.”

“Lalu?”

“Daging seharusnya dimasukkan setelah pasta dimasak beberapa saat, sehingga tidak terlalu hancur dan menyatu dengan bumbu pasta. Rasanya akan sedikit rancu.”

Dong Hae meletakkan garpu di atas piring. “Kau tahu teori membuat pasta, kenapa kau tidak bisa mempraktekkannya?”

Ji Hyo menundukkan kepala. Dia tak mungkin mengaku kalau pasta itu buatan Henry. Bisa-bisa Dong Hae akan mengamuk kalau tahu dibohongi.

“Maaf, Chef… aku tadi kurang perkiraan…”

“Kalau kau mengatakan itu pada pelanggan, mereka akan langsung melempar serbet ke wajahmu dan mencacimu. Kau tahu itu?” ujar Donghae.

Ji Hyo mengangguk kecil. “Maaf, Chef.”

“Aku tak akan memarahi kalian kali ini karena membuat sesuatu tanpa sepengetahuanku. Tapi ingat, jangan lakukan ini lagi. Sekarang, bereskan semuanya.”

“Ya, Chef,” jawab Ji Hyo dan Henry kompak. Lalu langsung sigap membereskan peralatan dapur yang tadi telah terpakai.

Dong Hae berjalan keluar dapur, namun sebelum pemuda itu benar-benar keluar, dia berbalik dan memanggil Ji Hyo. “Cheon Ji Yeon…”

“Ya, Chef?” Ji Hyo mengangkat kepalanya menatap Dong Hae.

“Darimana kau belajar teori membuat pasta?”

“A-aku…” Ji Hyo menggaruk kepalanya. “Sebenarnya aku hanya menebak-nebaknya saja, Chef…”

Dong Hae mengangguk. “Tebakanmu benar, kau tahu?”

“Ah… ya… kurasa…” Ji Hyo meringis kecil.

Dong Hae mengangkat bahu. “Mungkin kau tak sadar kalau sebenarnya kau itu tetap mewarisi darah seorang koki walau bagaimanapun, iya kan?”

Ji Hyo menatap punggung Dong Hae yang telah berbalik dan meningggalkan dapur. Darah seorang koki? Dirinya?

“Kau keturunan koki, Noona?” tanya Henry kaget. “Wah, aku malah baru tahu. Berarti kau pasti pintar memasak ya, Noona?”

Ji Hyo menggeleng. “Tidak, aku tidak pintar memasak…” Ji Hyo menundukkan kepala. “Aku…” Aku bahkan benci dengan restoran milik keluargaku…

.

.

.

.

.

.

“Jadi sekarang Ji Hyo kerja di Aldantѐ?”

“Ya, begitulah. Sedikit membingungkan jika kujelaskan duduk perkaranya, tapi intinya Ji Hyo harus bekerja di sana untuk sementara waktu.”

Hyuk Jae mengikat tali sepatunya yang tadi terlepas. Lalu pemuda itu menyandarkan tubuhnya di kursi penonton di tribun. Pelatih baru saja menyuruh Hyuk Jae dan tim untuk beristirahat sebentar, sehingga Hyuk Jae bisa menemui Josh yang sengaja mengunjunginya di lapangan siang ini.

Sepagi tadi Josh memang menelepon Hyuk Jae dan bilang ingin bertemunya untuk membicarakan sesuatu. Dan ternyata sesuatu itu adalah berita tentang Ji Hyo dan Aldantѐ.

“Kau tahu kan, Ji sangat benci Aldantѐ?” Hyuk Jae membuang napas panjang. “Gadis itu bahkan alergi kalau dekat-dekat Aldantѐ.”

“Ya… aku tahu…” Josh mengangkat bahu.

“Aldantѐ itu sudah menghancurkan hidupnya,” ujar Hyuk Jae. Saat Josh menoleh ke arahnya, Hyuk Jae kembali melanjutkan, “Ji Hyo jadi model karena dia tidak ingin garis hidupnya ditakdirkan untuk jadi koki. Aldantѐ selalu membuatnya menderita.”

“Aku sebenarnya tak tahu apa masalah Ji Hyo dan Aldantѐ sebenarnya, tapi tampaknya begitu buruk ya?” tanya Josh.

Hyuk Jae mengangguk, matanya menerawang memandangi atap stadion. “Buruk sekali. Salah satu penyebab Ji Hyo kecelakaan lima tahun lalu… adalah Aldantѐ.” Hyuk Jae meneguk minumannya dengan rakus. Tenggorokannya benar-benar kering, dia kehausan sedari tadi, dan suhu tubuhnya selalu turun akhir-akhir ini. Hyuk Jae hanya berharap dia takkan pingsan ketika giliran permainan tiba.

“Kalau begitu, sudah seharusnya aku dan kau menjauhkan Ji Hyo dari Aldantѐ, ya?” tanya Josh ketakutan. “Jika memang Aldantѐ yang menjadi penyebab Ji Hyo kecelakaan lima tahun lalu… seharusnya gadis itu amat trauma bekerja disana. Astaga, seharusnya aku tak percaya ketika Ji Hyo mengatakan dia baik-baik saja.”

Hyuk Jae melempar senyum pada Josh. “Tenang saja, Josh… aku akan membicarakan hal ini pada Ji Hyo. Setidaknya aku akan membujuknya untuk tidak terlalu berurusan dengan Aldantѐ. Aku sayang pada Ji, dan aku tidak ingin gadisku kenapa-kenapa.”

“Ya, kau benar,” kata Josh.

“Terimakasih sudah memberitahukanku masalah ini, Josh.”

“Sama-sama, Hyuk Jae. Kau adalah pria yang baik dan tunangan Ji Hyo, bagaimana mungkin aku tak menceritakannya padamu?” Josh tersenyum.

Hyuk Jae balas tersenyum dan kembali menenggak minumannya.

“Oh, ya… jangan lupa, hari Minggu besok ada wartawan yang ingin mewawancarai kalian sehubungan dengan rencana pernikahan. Kalian bisa datang ke Kim’s, kan? Aku sudah mengatur tempat dan jadwalnya. Tapi kupikir, lebih baik kau yang mengadakan janji dengan Ji Hyo-nya, bagaimana?”

“Itu tak masalah Josh.” Pandangan Hyuk Jae menerawang, “sama sekali tak masalah.”

.

.

.

.

.

.

Langit Seoul benar-benar gelap malam ini dan anginnya berhembus sangat kencang. Ji Hyo mengenakan beberapa lapis baju dan coat tebal namun masih saja merasa kedinginan, padahal dia masih berada di dalam ruang ganti pegawai. Beberapa pegawai menyapanya ketika mereka berpapasan hendak pulang. Ji Hyo balas menyapa dan tersenyum sekedarnya. Mulai hari ini, Ji Hyo diharuskan pulang paling terakhir untuk mengecek keadaan dapur ketika seluruh pegawai pulang.

Dong Hae yang menugaskan gadis itu tadi. Ji Hyo tak banyak protes dan hanya mengangguk meski dengan setengah hati. Sepertinya Dong Hae sengaja menyuruh Ji Hyo begitu sebagai bentuk hukuman karena memakai peralatan dapur untuk membuat pasta siang tadi.

Ya, kan tidak mungkin si chef galak itu akan melepaskannya begitu saja tanpa sebuah hukuman?

Dapur sudah bersih, peralatan dapur tertata di tempat masing-masing. Ji Hyo semakin merapatkan coat begitu udara dingin berhembus dari salah satu jendela yang terbuka di dekat pintu dapur. Gadis itu bergerak mendekat ke jendela dan hendak menutupnya, ketika sebuah tepukan mendarat di bahunya.

“Hei!”

Ji Hyo menoleh dan terkejut mendapati Dong Hae berdiri di belakangnya.

“Che-chef…!” Ji Hyo terlonjak dan reflek mundur beberapa langkah.

“Kenapa kau seperti orang yang baru melihat hantu begitu?” Dong Hae mengerjapkan mata dan terkekeh melihat kelakukan Ji Hyo.

“Kau… membuatku kaget, Chef! Mengagetkan orang tiba-tiba begitu…” Ji Hyo mengelus dada.

Dong Hae semakin tertawa kencang. “Aduh, maaf… maaf… tapi kau tak punya penyakit jantung kan? Jadi aku tak perlu takut kau akan pingsan karena kaget, iya kan?”

Ji Hyo menggerutu pelan. “Tidak sih, Chef… tapi…”

“Ssst, jangan panggil aku ‘Chef’, jam kerja kita kan sudah selesai. Panggil aku Dong Hae saja, Ji Hyo…” Dong Hae mengetuk-ngetuk pelan kepala Ji Hyo sambil tersenyum.

Ji Hyo tertegun memandangi ekspresi bersahabat Dong Hae. Lagi-lagi Dong Hae menunjukkan raut muka dan tingkah yang berbeda 180 derajat dibanding Dong Hae yang tadi siang.

“Hei, kau mau kubuatkan pasta?” tanya Dong Hae.

“Pasta?”

“Ya, pasta. Akan kubuatkan pasta yang lebih enak dari pasta buatan Henry tadi siang.”

Ji Hyo mengerjapkan mata beberapa kali. “Kau tahu Henry yang membuat pasta itu?”

Dong Hae terkekeh. Pemuda itu berjalan masuk ke dapur. Ji Hyo mengikutinya dengan ragu-ragu.

“Jelas tahu lah, masakanmu tak akan tak seenak itu, ya kan?” Dong Hae mengambil wajan dari gantungan dan menyalakan salah satu kompor.

Ji Hyo ingin protes dan mengatakan bahwa Dong Hae tak boleh menggunakan peralatan dapur untuk kepentingan pribadi, tapi gadis itu mengurungkannya.

“Asal kau tahu, begitu aku tahu kau adalah Song Ji Hyo pemilik restoran Aldantѐ dan Joong Ki menceritakan semua tentangmu padaku, aku langsung bertekad untuk datang ke Aldantѐ.”

“Oh, ya?” Ji Hyo menyipitkan mata. “Jadi itu alasanmu menyuruhku datang ke restoran yang berujung jadi pengontrakkanku sebagai asisten dapur II?”

“Ya, itu salah satu alibiku selain karena kau juga harus mengganti stiletto-stilleto yang kuberikan itu,” cengir Dong Hae. “Awalnya aku tak berpikir untuk memperkerjakanmu. Tapi… sepertinya aku ingin kau terus datang ke restoran ini. Bagaimana dong? Jadinya, aku bertekad, ya, kau harus terus datang ke restoran ini. Ya, aku harus membuatmu jadi asisten dapur II dan mencicipi pastaku.” ujar Dong Hae dengan nada usil.

Ji Hyo memandang Dong Hae tak percaya. Sungguh? Hanya itu alasannya? Eii, pemuda itu pasti bercanda!

“Joong Ki pernah cerita padaku, meski kau memasak makanan gosong atau lupa memasukkan bahan, hasil masakanmu tetap enak. Sepertinya tanganmu itu benar-benar tangan ajaib, ya?”

Ji Hyo tersenyum kecil mendengar celotehan Dong Hae. “Tidak juga. Aku sebenarnya juga tidak jago masak…” Ji Hyo kembali merapatkan coatnya dan mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Aneh, mendadak saja dia merasa begitu menggigil.

“Jika sudah dimasak, diamkan dulu spaghetti di dalam air dingin selama beberapa menit…” Dong Hae menuangkan pasta ke dalam tirisan. Pemuda itu melirik sekilas kea rah Ji Hyo, lalu menghampirinya.

“Kenapa?” tanya Ji Hyo menengadahkan kepala.

Dong Hae memandanginya tanpa berkata-kata dan itu membuatnya sedikit risih. Tapi lalu pemuda itu melepas syal yang melilit di leher kemudian memasangkannya di leher Ji Hyo.

“Kau kedinginan,” ujar Dong Hae pendek.

Pemuda itu balik badan dan kembali mendekati kompor. Dong Hae benar-benar sibuk dan mondar-mandir menyiapkan pasta. Sementara Ji Hyo memandangi punggung pemuda itu penuh tanda tanya.

“Boleh aku bertanya, kenapa sikapmu sekarang beda sekali dengan sikapmu tadi saat kita kerja?” Ji Hyo menyentuh syal pemberian Dong Hae, rasanya hangat dan nyaman. “Kau ini aneh sekali, Chef.”

“Jangan panggil aku Chef, panggil aku Dong Hae.” Dong Hae melempar senyum pada Ji Hyo. “Dong Hae dan Chef itu orang yang berbeda.”

“Apa maksudmu?” Ji Hyo sama sekali tak mengerti. Apa Dong Hae sedang bercanda? Bagaimana mungkin Chef dan Dong Hae adalah orang yang berbeda? Apa mereka kembar begitu?

“Aku pasti membuatmu bingung… tapi memang begitulah. Aku tidak akan bisa bersikap begini ketika aku sedang ada di dapur. Aku tahu, kalian mengatakan aku chef galak dan menyebalkan…” Dong Hae menahan senyum saat melihat ekspresi bersalah muncul di wajah Ji Hyo, “tapi aku tak bisa menahan diri untuk tak bersikap seperti itu.”

Ji Hyo mengangkat wajahnya dan bertanya heran, “memangnya, kenapa?”

“Aku belum bisa memberitahumu.” Bersamaan dengan itu, pasta buatan Dong Hae telah selesai. Pemuda itu mengambil piring dari rak dan meletakkan pasta di atasnya penuh hati-hati. Setelah membersihkan saos pasta yang sedikit mengotori ujung piring dengan tissue, Dong Hae kembali menghampiri Ji Hyo dengan piring di tangan dan senyum manis tersungging di bibir.

Wajah Dong Hae terlihat sumringah dan tampan di saat bersamaan. Ji Hyo terus memandangi wajah Dong Hae ketika pemuda itu berbicara agar Ji Hyo mengomentari pastanya dan harus berjanji untuk membuatkan pemuda itu pasta yang sama suatu saat nanti.

“Dong Hae…” panggil Ji Hyo.

“Ya?”

“Aku tak mengerti dengan penjelasanmu tadi sebenarnya, tapi alangkah baiknya jika kau tetap memasang senyum manis seperti ini pada pegawai di Aldantѐ…” Ji Hyo menunjuk wajah Dong Hae dan tersenyum kecil. “Mereka pasti tak akan merasa begitu tertekan saat di dapur.”

“Aku tak bisa melakukannya, Ji…” Dong Hae masih terus tersenyum. “Ada baiknya sikapku yang seperti ini tak diketahui mereka. Jadi, jangan kau katakan ini pada siapa-siapa.”

Kedua alis Ji Hyo saling bertaut. “Kenapa?” tanyanya pelan, kembali menunjuk wajah Dong Hae dan berkata, “kau terlihat lebih bagus jika begini…”

Dong Hae meraih tangan Ji Hyo yang menunjuk wajahnya, dan menggenggamnya lembut. “Atau kau ingin membuatku mati?”

Ucapan Dong Hae membuat Ji Hyo tertegun. Saat mengatakan kalimat tadi, wajah Dong Hae terlihat seperti orang yang terluka dan memendam kepedihan. Mata yang bersinar itu meredup sejenak, senyum di bibirnya memudar, dan Ji Hyo bisa merasakan suhu dingin tubuh Dong Hae mengalir melalui genggaman pemuda itu.

Kenapa? Ji Hyo ingin terus bertanya “kenapa?”, “kenapa?”, dan “kenapa?”, namun bibirnya terkatup rapat. Seolah dia tak mampu lagi berkata-kata.

Sungguh, Ji Hyo merasa aneh sekarang. Karena entah mengapa kepalanya mengangguk tanpa bisa dicegah…

…—lebih daripada itu, genggaman tangan Dong Hae yang dingin, perlahan membuat dadanya menghangat… dan berdebar-debar.

.

.

.

.

.

.

Aku punya beberapa pasien yang seperti itu, mereka seolah punya dua kepribadian yang bertolak belakang. tapi sesungguhnya itu sebuah penyakit, Kapten Ji…

 

Penyakit?

 

Iya, Kapten Ji… kami biasa menyebutnya bipolar disorder.

 

“Kau mau pesan apa, Sayang?”

Ucapan Hyuk Jae menghentikan aktifitas Ji Hyo yang sibuk menghubungi Siwon, sahabatnya saat SMA yang kini jadi dokter di ST.Marcia Hospital. Ji Hyo mengangkat kepala dan tersenyum kecil.

“Teh tanpa gula dan salad.”

“Baik…” Hyuk Jae menyebutkan ulang pesanan Ji Hyo pada pelayan di samping mereka. Kemudian setelah sang pelayan pergi, Hyuk Jae kembali menatap Ji Hyo. “Sayang…”

“Hm…?”

“Saat aku bilang ingin menemuimu di kafe Kim’s, itu bukan berarti aku hanya ingin menatap wajahmu dan membiarkanmu mengacuhkanku begini.”

“Oh, aduh, maaf, Sayang…” Ji Hyo buru-buru meletakkan ponsel di tas dan tersenyum lebar pada Hyuk Jae. Mereka sedang menunggu kedatangan wartawan dan sengaja datang satu jam lebih awal untuk membicarakan rencana pernikahan mereka. “Tadi aku sedang mengirim pesan pada Siwon, aku ingin menanyakan sesuatu padanya…”

“Apa kau sakit?” tanya Hyuk Jae cemas.

“Tidak…” Ji Hyo tertawa. “Tentu saja tidak… itu… aku hanya bertanya soal temanku… Siwon bilang temanku itu sepertinya punya penyakit yang cukup serius.”

“Oh, kukira kau yang sakit…” Hyuk Jae meregangkan bahunya dan bersandar di sofa.

Ji Hyo tersenyum sambil mencuri-curi pandang ke ponselnya. Berharap Siwon membalas pesannya lagi. Ji Hyo tadi bertanya pada Siwon tentang gejala-gejala keanehan yang terjadi pada Dong Hae dan apakah itu termasuk penyakit atau bukan. Tentu Ji Hyo tak menyebut-nyebut nama Dong Hae, karena Siwon tahu siapa itu Dong Hae, dan kemungkinan Siwon akan heboh dan menodong Ji Hyo dengan penjelasan macam-macam karena sampai saat ini Ji Hyo masih berhubungan dengan pemuda yang di bully nya saat reuni SMA tempo hari.

“Sayang, aku sudah merencanakan kita akan mengadakan pemotretan untuk pernikahan kita minggu depan. Kau bisa mengosongkan jadwalmu?” tanya Hyuk Jae.

“Minggu depan, ya? Sepertinya bisa…” Ji Hyo mengangguk.

“Harus bisa, Sayang… kalau tidak bisa, aku akan mendatangi Joong Ki dan memarahinya karena membiarkan kakak satu-satunya kerja jadi asisten dapur di restoran miliknya sendiri.”

Ji Hyo terdiam mendengar perkataan Hyuk Jae. “Kau… sudah tahu?”

“Dari Josh.”

Ji Hyo meringis tak nyaman. “Maaf, Sayang… aku tak memberitahumu soal ini… aku…”

“Jangan memaksakan diri, Ji… jangan terlampau lemah. Kau ini, kenapa tidak seperti Ji Hyo yang kuat dan tukang bully orang sih?” Hyuk Jae terkekeh kecil, tapi kemudian wajahnya berubah serius. “Aku tak ingin terlalu mengekangmu, tapi kuingatkan padamu, Sayang… kalau kau tak tahan, kau harus cerita padaku. Aku akan melakukan apapun agar kau tetap baik-baik saja. Perlu aku bicara dengan Joong Ki agar mempersingkat masa kerjamu?”

Ji Hyo menganggukkan kepala. “Iya, Sayang… ini hanya sebulan kok. Dan sudah berjalan seminggu lebih. Tenang saja, hanya tinggal tiga minggu.”

Hyuk Jae menggenggam tangan Ji Hyo. “Baiklah, untuk sementara aku mengalah. Ingat, Sayang, ini untuk sementara. Kalau nanti aku tahu ternyata kau semakin repot dan tersiksa di sana, aku akan langsung mendatangi Joong Ki.”

Ji Hyo mengangguk lalu memasang seringai kecil. “Baik, tentu saja.”

“Dan kau harus jaga diri, jangan sampai kepincut chef ataupun pegawai disana.” Hyuk Jae mencubit hidung Ji Hyo gemas.

“Hahaha tidak mungkin… mereka bahkan menganggapku gadis udik dari kampung.” Ji Hyo tertawa. “Tapi aku tidak tahu kalau ternyata aku yang kepincut dengan seseorang di Aldantѐ, bagaimana?” goda Ji Hyo.

Giliran Hyuk Jae yang tertawa. “Aduh, Sayang… kalau yang itu sih tidak mungkin.” Hyuk Jae menatap Ji Hyo lekat-lekat. “Kau kan hanya mencintaiku seorang, Ji. Mana mungkin, kan?”

Ji Hyo mengangguk lagi. “Ya, mana mungkin…” Ji Hyo kembali melirik ponselnya gusar. Mana mungkin dia menyukai pria selain Hyuk Jae?

Iya, kan?

… mmm… ya tidak, sih?

.

.

.

.

.

.

Tapi bolehkan Ji Hyo berkata, bahwa perkataannya pada Hyuk Jae beberapa hari lalu adalah sebuah kesalahan besar? Bahwa sekarang Ji Hyo harus menelan mentah-mentah ucapannya sendiri?

Tidak akan ada yang tahu bagaimana sebuah perasaan bisa berubah. Apalagi ketika Tuhan sedang jahilnya menggeser-geser takdir manusia. Sama kasusnya seperti ketika Tuhan menggerakkan tangan-Nya untuk membuat perasaan Ji Hyo lebih melunak menanggapi kegalakan serta sikap menyebalkan Dong Hae selama menjadi Chef. Dan membuat Ji Hyo lebih menikmati nyamannya bersama Dong Hae ketika mereka hanya berdua saja.

Tuhan sedang iseng, benar-benar iseng, dan membuat Ji Hyo menganggap Dong Hae seribu kali lebih tampan dan menawan di tiap kebersamaan yang mereka buat.

“Jika kutanya apa alasanmu kembali ke Korea dan menerima tawaran jadi chef di restoran ini, apa yang akan kau jawab?”

Dong Hae membalikkan badannya tepat ketika Ji Hyo menutup kalimat pertanyaannya dengan gerakan kepala dimiringkan dan bola mata bulat yang mengerjap pelan. Ji Hyo menunggu reaksi Dong Hae atas pertanyaannya.

Ralat, Ji Hyo AMAT SANGAT menunggu reaksi Dong Hae atas pertanyaannya yang meski terdengar basa-basi, tapi mengandung seribu makna didalamnya.

Tangan Dong Hae tidak sedang kosong. Pemuda itu memegang piring berisi pasta yang baru diangkat dari panci dapur. Tangan kekarnya meletakkan piring itu tepat di atas meja tempat Ji Hyo duduk.

“Ada empat alasan,” ujar Dong Hae dengan santai.

Ji Hyo menyelipkan rambut di belakang telinga dan kembali mengerjapkan mata. “Apa saja?”

Dong Hae menarik kursi di depan Ji Hyo dan menghempaskan pantat di atasnya. “Sembari makan, akan kujelaskan.” Dong Hae mengisyaratkan Ji Hyo untuk tidak mengacuhkan pasta buatannya yang telah tersaji.

No problem. Perutku lapar dan ada pasta di depanku. Bagaimana mungkin aku menolaknya?” Ji Hyo tersenyum sekilas. Mengambil garpu di samping piring lalu mulai memelintir pasta di piring. Dalam beberapa detik, gulungan pasta di garpu telah berpindah ke mulutnya.

Ji Hyo mengunyahnya selama beberapa saat, kemudian mengangkat wajah dan memandang Dong Hae dengan tatapan tak biasa.

Damn, pemuda ini selain tampan, rasa pasta buatannya pun menawan.

Sekarang, tiap malam setelah selesai kerja, Dong Hae selalu menghadangnya di dapur dan membuatkan Ji Hyo beragam pasta hasil ciptaan pemuda itu. Lalu, mereka akan mengobrol panjang lebar sampai hari semakin malam.

“Alasan pertama karena restoran ini butuh chef baru setelah chef yang lama memutuskan untuk berhenti bekerja dan kembali ke Itali.”

I get that.”

Dong Hae tersenyum tipis menanggapi ucapan Ji Hyo. Dan Ji Hyo hampir tersedak melihat senyum pemuda itu.

“Alasan kedua, karena pemilik restoran ini adalah sahabat lamaku dan dia pikir sudah saatnya aku ditarik kembali dari Itali untuk mengembangkan pasta di Korea.”

“Sejauh ini, itu alasan yang standar ya.” Ji Hyo menyuapkan kembali pasta ke dalam mulut dan bersumpah dia akan diet selama tiga hari untuk menghilangkan karbohidrat sialan yang ada dalam pasta. Agensi tentu akan mengutuknya jika tahu hari ini dia sudah makan karbohidrat banyak sekali. “Lalu, apa alasan ketiga dan keempat?”

Dong Hae meregangkan bahunya dan membuat tubuh bidangnya sedikit tercetak di balik seragam chef yang digunakannya. Ji Hyo buru-buru mengalihkan matanya dan memandang kea rah lain. Entah kenapa Ji Hyo berpikir, fantasi gilanya bisa bermain-main saat ini juga ketika melihat lekuk tubuh sempurna milik Dong Hae.

“Alasan ketiga karena aku… chef.” Dong Hae menunjukkan cengiran kecil ketika mengatakan itu. Sontak membuat Ji Hyo tergelak.

“Oh, kau memang chef. Kalau kau office boy, kau tidak akan memakai baju itu. Kau tidak akan memasak pasta untukku. Dan kau… kau sekarang seharusnya membersihkan dapur restoran.” Ji Hyo memutar-mutar garpu di depan wajah Dong Hae. Sengaja benar seolah mengingatkan siapa asisten dapur yang selalu menderita di sini.

“Hahaha, aku tahu itu.”

Ji Hyo melanjutkan kegiatan makannya. Sementara Dong Hae memandanginya lekat-lekat tanpa bersuara. Selama dua menit, tanpa bicara. Dan akhirnya Ji Hyo kembali menegakkan kepala hingga tatapannya beradu dengan tatapan Dong Hae.

“Kenapa kau terus menatapku?” ketus Ji Hyo sedikit risih.

Tatapan Dong Hae membuat cairan hormon di tubuhnya tak terkendali. Jika Dong Hae tetap nekat lanjut menatapnya, bisa jadi Ji Hyo akan menggila lalu melompat untuk mencium pemuda itu.

Ji Hyo menggelengkan kepala cepat.

Apa yang dipikirkannya tadi? Sinting!

“Berhenti menatapku,” erang Ji Hyo seraya mengetuk-ngetukkan garpu di pinggir piring. Pasta di piring hampir habis disantap. Rasanya benar-benar lezat. Dong Hae pintar menciptakan rasa yang sempurna dari resep yang dipelajarinya di Itali dan bahan-bahan khas dari Korea.

Dong Hae berdiri dan berjalan menuju tape kecil yang ada di sudut ruangan. Pemuda itu menyetel lagu klasik yang musiknya langsung membuat gendang telinga Ji Hyo termanjakan.

Kemudian Dong Hae berjalan menuju pintu keluar sambil melepas satu-persatu kancing seragam. Mungkin pemuda itu akan berganti baju di kantornya. Diam-diam Ji Hyo mengekori gerakan Dong Hae.

“Hei, Dong Hae! Kau belum menyebutkan alasan yang keeempat!” seru Ji Hyo ketika tangan Dong Hae meraih gagang pintu.

Dong Hae berbalik dan menatap Ji Hyo lama.

“Oh, ya. Aku lupa,” ucapnya pelan, kemudian memandang Ji Hyo lekat. “Alasan keempat, aku bisa membawa gadis yang kusuka ke restoran ini dengan alibi untuk mencicipi pasta buatanku.”

Ji Hyo hampir tersedak atas perkataan Dong Hae barusan.

Hei, hei, hei… apa yang tadi Dong Hae bilang? Dia bisa membawa… gadis yang disuka… ke restoran… dengan alibi untuk mencicipi pasta buatannya?

 

“…Awalnya aku tak berpikir untuk memperkerjakanmu. Tapi… sepertinya aku ingin kau terus datang ke restoran ini. Bagaimana dong? Jadinya, aku bertekad, ya, kau harus terus datang ke restoran ini. Ya, aku harus membuatmu jadi asisten dapur II dan mencicipi pastaku.”

 

Ji Hyo benar-benar ingat ucapan Dong Hae tempo hari. Astaga, masa iya, ada hubungannya dengan ini semua? Astaga, Ji Hyo kira itu hanya lelucon, ternyata…

“Sialan kau, Dong Hae… sialan… sialan…” kutuk Ji Hyo berkali-kali. Debaran di dadanya berpacu lima kali lebih cepat. “Jadi itu alasanmu mengajakku ke restoran ini?”

Tiba-tiba terdengar nada panggilan masuk ke ponsel. Ji Hyo merogoh pouch miliknya dan menatap layar ponsel yang berkedap-kedip.

Hyuk Jae calling…

Seluruh tubuh Ji Hyo bergetar hebat sekarang. Ji Hyo mengangkat wajah dan tepat ketika itu Dong Hae telah kembali ke ruangan dengan coat hitam dan syal biru yang tampak seksi di tubuhnya.

Ji Hyo melirik layar ponsel yang masih berkedap-kedip ketika Dong Hae semakin melangkah mendekat, dan berkata pelan padanya.

“Ada apa?” tanya Dong Hae.

Ji Hyo meneguk ludah. “Aku ingin bertanya padamu.”

Dong Hae memiringkan kepala. “Tentang?”

“Tentang alasan keempat.” Ji Hyo meletakkan kedua jempolnya masing-masing di atas tombol merah dan hijau pada layar. Ponselnya sengaja diposisikan di bawah meja, di atas pangkuannya.

“Alasan keempat yang tadi?” Dong Hae mengerutkan kening sebentar, kemudian tersenyum kecil. “Kenapa memangnya?”

Ji Hyo menahan napas. “Alasan itu… tentang—”

“Tentang kau, Song Ji Hyo. Alasan keempat itu tentang kau.” Dong Hae mengulurkan tangannya ke depan wajah Ji Hyo, memotong ucapan Ji Hyo penuh keyakinan. “Mau pergi menyusuri jalanan Gangnam di malam hari?”

Ji Hyo terdiam. Jantungnya mungkin sudah meledak sekarang. Ji Hyo mengangguk sambil menerima uluran tangan Dong Hae. “Ya, tentu saja.”

Kemudian, untuk pertama kali dalam hidup, jempol Ji Hyo menekan tombol merah di layar ponsel—tombol reject—atas panggilan telepon dari tunangannya di seberang sana.

[Satu panggilan tak terjawab dari Hyuk Jae]

 

“… kalau ternyata aku yang kepincut dengan seseorang di Aldantѐ, bagaimana?”

“Aduh, Sayang… kalau yang itu sih tidak mungkin. Kau kan hanya mencintaiku seorang, Ji. Mana mungkin, kan?”

 

Hyuk Jae Sayang, kalau Tuhan sedang jahil, tidak ada sesuatu yang tak mungkin, kan?

.

.

.

.

.

.

“Atas nama Lee Dong Hae. Saya temannya.”

“Ah, nomor 303, Nona.”

“Terimakasih.”

Wanita itu mengangguk dan kembali mengenakan sunglass hitamnya. Rambut pirangnya dibiarkan berkibar-kibar saat berjalan melewati lobby, sedikit tersenyum pada orang-orang yang menyadari sosoknya. Dia tidak ingin kedatangannya diketahui banyak orang, tapi dia tak bisa memungkiri bahwa cepat atau lambat keberadaannya di Korea akan terendus media dan berita tentangnya akan ada dimana-mana.

Baiklah, itu tak masalah. Dia meyakinkan diri sendiri untuk tak mundur dan lari dari kenyataan. Karena bagaimana pun juga, disinilah dia. Di korea di dalam gedung yang sama dengan Lee Dong Hae.

It’s the time girl… sekarang atau tidak sama sekali, kan?” Wanita itu menatap pintu apartemen di depannya. Apartemen 303.

Tangannya bergerak menyusuri mesin kunci apartemen, jarinya memencet-mencet tombol dengan angka yang sudah dihapalnya. Dan ketika menyadari kode yang dimasukkannya benar dan pintu itu bisa terbuka, wanita itu langsung menggeleng sedih.

“Dia belum berubah juga… Lee Dong Hae itu…”

 

.

.

.

.

.

.

“Kenapa kau takut naik mobil pribadi, Ji?”

Ji Hyo merasakan angin malam membelai tengkuknya, membuat coatnya sedikit berkibar ketika dia melangkah menyusuri pinggir sungai. Dong Hae melangkah di sampingnya, memperlambat langkahnya agar tetap sejajar dengan Ji Hyo.

“Entahlah… aku juga tak begitu ingat…” Ji Hyo melempar senyum tipis pada Dong Hae.

“Kudengar kau sempat kecelakaan?”

“Ya, kecelakaan…” Ji Hyo menyipitkan mata sejenak. “Yang kuingat, aku kecelakaan mobil. Dan sejak saat itu aku selalu takut naik mobil pribadi. Mungkin aku trauma.”

“Ya, mungkin karena itu…”

“Tapi sesungguhnya, aku merasa bukan hanya itu yang membuatku trauma,” celetuk Ji Hyo kemudian. “Kecelakaan itu… aku sungguh tak mengingatnya, kenapa aku bisa kecelakaan… dan detil-detil kejadian saat kecelakaan, aku tak tahu sama sekali. Ketika aku berusaha mengingatnya, aku hanya akan sakit kepala dan jika dipaksa, aku bisa pingsan. Tapi jika aku tak berusaha mengingatnya, aku seolah sedang melewatkan sesuatu yang penting.”

“Oh, ya?”

“Ya… sesuatu yang menurutku tak boleh kulupakan…” Ji Hyo menendang angin demi merontokkan gejala dingin yang menjalar di kakinya. “Tapi keluargaku bilang aku tak boleh memaksakan diri. Mereka bahkan menyuruhku mencari kegiatan lain yang lebih bermanfaat.”

“Seperti jadi model?”

Ji Hyo menoleh pada Dong Hae. “Kau sudah tahu banyak tentangku ya?” godanya.

Dong Hae tertawa. “Ya, sedikit banyak. Joong Ki sering bercerita tentangmu, tapi dia tak menceritakan semuanya. Yang kutahu, Joong Ki bilang kau akhirnya memutuskan menjadi model karena kau menolak untuk dekat-dekat dengan Aldantѐ.”

“Iya, memang begitu. Ibuku menawarkan aku menjadi juru masak di sana, tapi entah mengapa aku benar-benar tidak ingin kerja di Aldantѐ. Kupikir aku sama sekali tak bisa masak. Dan lebih dari itu, aku sepertinya membenci Aldantѐ, meski tanpa sebab. Akhirnya aku memutuskan untuk jadi model agar kedua orang tuaku tak merecokiku perihal Aldantѐ.”

Dong Hae berhenti melangkah. “Berarti aku salah ya menyuruhmu kerja di Aldantѐ?” tanyanya dengan wajah menyesal.

“Iya, salah.” Ji Hyo menganggukkan kepala. tapi lalu tertawa kecil, “tapi tak masalah, ini kan hanya sebulan. Dan bonusnya, aku bisa bertemu dengan orang-orang menyenangkan seperti Henry dan juru masak lainnya.”

“Dan aku juga?” tanya Dong Hae sembari menyeringai.

Ji Hyo menggelengkan kepala. “Eum, tidak juga…”

Keduanya sama-sama tertawa.

Dong Hae merentangkan kedua tangannya lalu memejamkan mata rapat. Rambut hitamnya berayun lembut dipermainkan angin. Menyingkap wajah teduhnya yang terlihat empat kali lebih tampan dari biasa. Ji Hyo ikut tersenyum begitu melihat Dong Hae tersenyum. Dan gadis itu ikut-ikut merentangkan tangan sembari memejamkan mata. Rasanya sungguh menyenangkan.

“Ji Hyo-ah…” panggil Dong Hae.

“Hm?”

“Kupikir, aku nyaman bersamamu. Kalau aku ingin kau terus disampingku seperti sekarang, menurutmu apakah itu ide yang buruk?”

Ji Hyo tertegun mendengar ucapan Dong Hae. Gadis itu membuka matanya, menoleh ke arah Dong Hae yang masih memejamkan mata.

Angin malam mempermainkan rambut Ji Hyo hingga wajahnya tertutup helaian-helaian rambut. Angin malam menyembunyikan wajah Ji Hyo yang memucat dan putih pasi. Angin malam… Ji Hyo tak tahu harus bagaimana lagi…

.

.

.

.

.

.

.

[Author’s Cucuap Cuap-ap: Dong Hae’s Ideal Type? Geotjimal! ]

Dong Hae tersenyum lebar menatapku yang sama sekali tak tersenyum membalas tatapannya. Pemuda itu melipat kedua tangan di dada dan menarik napas panjang.

“Sophie… aku…”

“Bagaimana kabar gadis etalase yang jadi tipe idealmu itu?” aku memicingkan mata menggoda.

Dong Hae tertawa salah tingkah.

“A-aku…” Dong Hae, “itu masih jadi tipe ideal…”

“Ei, geotjimal…” aku mengibas-ngibaskan tanganku ke depan wajah Dong Hae disertai seringai super jahil.

Dong Hae kembali tertawa, wajah putihnya memerah, bahkan sampai ke leher. Astaga, pemuda itu sungguh sedang merona-rona.

“Gadis yang punya rambut lurus panjang, wajahnya seperti boneka, baik hati, tidak merokok, dan selalu bersikap manja. Gadis yang selalu terlihat cantik dimanapun dia berada, jadi dengan mudah kau bisa mengenalinya meski dari jarak berkilo-kilo meter,” aku mengulangi ucapan Dong Hae tempo hari. Sungguh, aku sedang ingin membuat bocah Itali itu kelabakan karena salah tingkah. Seringaiku menyembul semakin jelas. “…kurasa gadis bernama Ji Hyo akan dapat nilai nol untuk mata kuliah ‘Wanita Ideal Dong Hae’.”

“Sophieeee…” Dong Hae mulai merengek agar aku berhenti menggodanya.

Aku tertawa puas, sungguh puas.

“Bukannya cinta itu tidak pandang apapun?” Dong Hae mencoba bersikap serius.

Aku mengangguk sambil menahan tawaku. “Ei, gotjimal… tipe idealmu itu benar-benar memandang segala sesuatunya.”

Dong Hae menutup wajahnya dengan kedua tangan sementara tawaku kembali menyembur.

“Tapi Hae… kamu belum cerita pada Ji Hyo?”” tanyaku, tiba-tiba teringat sesuatu.

“Belum.”

Aku menghela napas. “Kau harus cerita, Hae… jika kau masih ingin menatap wajahnya.”

Dong Hae memandangiku dengan tatapan kosong. “Sophie, aku akan cerita jika tiba waktunya.”

“Sampai Samantha datang menemuimu, begitu?”

Dong Hae terdiam. Matanya berpaling kea rah jendela kafe. Salju turun dengan derasnya, cuaca semakin dingin, dan malam semakin larut.

Aku ikut memandang ke luar jendela. Menyesap susu hangat pesananku lamat-lamat.

“Hae…”

“Hm?”

“Jangan dekat-dekat jendela, ya.”

Dong Hae menatapku lagi, kali ini tanpa ekspresi. “Sophie…”

“Ya?”

…kau mulai terdengar seperti Samantha.

.

.

.

.

.

.

See you next part~

Halo ini Sophie

kuharap ini cukup panjang hahahaha

beri cinta untuk ff ini ya🙂

53 thoughts on “A Cup Of Lee (Part 5)

  1. aku bingung sekarang mau komen apa, semuanya terlalu berbelit dan sayangnya otakku sejenis sama otak jihyo :3

    aku jg lagi galau, komentarku terkirim semua gak ya? kalo nggak gimana? padahal komenku sebelumnya bisa dijadiin cerpen, tinggal dikasih judul tadaaa cerpen absurd selesai

    hhh.. semoga yg ini terkirim ya kak

  2. penasaran apa yg di sembunyikan donghae, apa penyebab ji hyo kecelakaan,, apa kecelakaan itu ada hub.nya sama donghae..
    lanjut next part,,!!!

  3. Hai, Sophie. Saya baru saja brkunjung ketika iseng-iseng search ff rekomendasi. And one of them is your blog.
    Awalnya baca drabble yg running man, terus coba lagi yg lain sampai nemu ff chaptered dgn judul a cup of love. Harusnya sih dr part 1 bacanya, tapi lgsung ke part 5, haha, kebiasaan. Dan trnyata its good to read this. Keren sekali!! :))
    Ketika kamu sudah bertunangan, dan tibatiba saja kamu menemukan pria yg lebih ‘hot’ dari tunanganmu, apa jadinya?
    So excited to read until part 9, yg ternyata diproteksi ya? Hehe

Just talking...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s