A Cup Of Lee (Part 4)

Sebagai penulis, aku akan memberitahumu akhir kisah ini: bahagia.

Menurutku sih, begitu.

Tapi aku tidak bisa menentukan apakah akhir kisah ini akan bahagia bagimu atau tidak.

Kutegaskan, konsep kebahagiaan berbeda-beda tiap orang.

Aku akan memberimu gambaran, cerita ini tentang Song Ji Hyo, wanita yang mencintai Lee.

Tapi dia bertemu dengan Lee lain yang membuatnya menggila.

Dan sampai pada satu titik, wanita sialan ini harus menentukan kebahagiaannya sendiri.

Lee mana yang harus dipilih?

Tenang saja, cerita ini akan berakhir bahagia.

Setidaknya, menurutku sih begitu.

.

.

.

Author : Sophie Maya

Title     : A Cup Of Lee (Part 4)

Cast     : Song Ji Hyo, Lee Hyuk Jae, Lee Dong Hae

Support Cast: Song Joong Ki, Ryeowook

Genre  : unknown

Rated  : PG-19+

Length: chaptered

Type    : ?

Summary         : Lee itu seperti toxin, kau bisa jadi zombie jika terkena virusnya. Kau bisa jadi zombie… yang sedang jatuh cinta… dan hidup dengan satu tujuan: mencintainya.

acol 3

Disclaimer       : this story is MINE.

.

.

.

.

.

.

Pagi tidak pernah benar-benar seburuk ini sepanjang Ji Hyo menatap dunia. Dia harus melakukan pemotretan dan memamerkan wajah super cantiknya ke depan kamera, menahan hawa dingin karena beberapa kali harus melakukan pemotretan di luar. Lalu, menjalani latihan dan fitting untuk runaway esok lusa. Dia bahkan lupa untuk sarapan. Dia berlari-lari seperti orang yang dikejar penjahat, dari satu tempat pemotretan ke tempat pemotretan lainnya. Menuruni anak tangga demi anak tangga dengan kecepatan penuh tanpa menoleh kebelakang.

Josh mengikuti dengan tak kalah terburu-buru, pontang-panting membawakan seabrek perlengkapan. Pria itu sibuk berteriak agar Ji Hyo memperlambat langkah sebelum stiletto yang dikenakan gadis itu patah dan membuat model kesayangannya itu jatuh menggelundung lantas terkena amnesia mendadak. Tapi Ji Hyo tak menghiraukan Josh, dia hanya berteriak, “kita bisa terlambat, Josh! Kita bisa terlambat!”

Ji Hyo hanya punya waktu sampai pukul sebelas untuk melakukan seluruh jadwal pemotretan kemudian dia harus menjadi upik abu malang di restoran miliknya sendiri. Oh, mulai sekarang Ji Hyo fix membenci dongeng Cinderella.

“Ji, kau tak serius kan mau memakai baju itu?” Josh terpekik kaget ketika di dalam taksi, Ji Hyo membuka jaket tebalnya, dan menunjukkan pakaian kemeja lusuh hitam nan gombrong yang dipadu dengan jins putih yang nggak banget. Dan kekagetan Josh tak terhenti sampai di situ, karena Ji Hyo lalu menggulung ke atas rambutnya secara asal-asalan, mengambil kapas dari kotak make-up dan membersihkan seluruh polesan bedak di wajahnya. “Ji!!” seru Josh berusaha menghentikan Ji Hyo.

“Ssst… diamlah, aku sedang make over!” Ji Hyo menatap kaca spion taksi dan memastikan penampilannya benar-benar natural, ehm, kalau boleh dibilang sih, penampilannya malah terlalu natural, nyaris menyerupai gelandangan yang tiga hari tak menyentuh air. “Bagaimana?” tanya Ji Hyo menoleh pada Josh.

Josh mengerjapkan mata cepat, mulutnya masih menganga lebar. “Apanya?” cicit Josh kehilangan kata-kata. Dia hampir-hampir tak percaya yang duduk di sampingnya ini Song Ji Hyo model terkenal, bukannya tukang bakso yang biasa mangkal di perempatan.

Ji Hyo mengerjapkan matanya yang bebas eyeliner dan bulu mata palsu. “Penampilanku…”

“Kau yakin agensi kita mengontrakmu karena kecantikan wajahmu?”

“Sial kau, Josh.” Ji Hyo memukul pelan lengan Josh. Menatap kembali bayangannya di kaca spion, lalu memberengut.

Kemarin Dong Hae berkata agar Ji Hyo tak boleh mengenakan apapun yang bisa menunjukkan bahwa dia seorang model, pemilik restoran, atau tante-tante doyan dandan (shit, ingin sekali Ji Hyo melempar Dong Hae dengan batu pualam saat pemuda itu dengan wajah tanpa dosa mengata-ngatainya “tante-tante”). Ji Hyo harus berdandan sealami mungkin, bisa juga menyerupai gembel dengan tampilan dua tingkat lebih rapi, tapi tidak boleh rapi-rapi amat. Ribet sekali penjelasan Dong Hae, seperti penjelasan dosen statistiknya saat kuliah, yang membuat Ji Hyo harus mengulang statistik tiga kali sebelum akhirnya menyerah dan pasrah meratapi nilai C di Kartu Hasil Studi-nya. Dan omong-omong, Ji Hyo sampai harus mencari referensi di Naver bagaimana cara orang-orang gembel berdandan. Ji Hyo pikir, mungkin saja Dong Hae itu reinkarnasi dosennya, dan bisa memberinya nilai C untuk mata kuliah “Etika Berpenampilan Gembel”.

“Kenapa sih si Chef Itali itu menyuruhmu dandan maha buruk begini?” Josh sudah mulai memberi nama julukan untuk Dong Hae. Ji Hyo membalas perkataan Josh dengan senyum masam.

“Dia bilang tak ada seorang pun yang boleh tahu aku ini model.”

“Tidak akan ada yang tahu, kujamin. Penghuni Aldantѐ itu primitif, mereka hanya tahu lada dan garam, bukan Jun Ji Hyun atau Kim Soo Hyun.” Josh tampak semakin sengit.

“Josh, aku tahu itu. Aldantѐ memang menyebalkan, orang-orang di dalamnya juga menyebalkan. Aku juga pikir tak akan ada yang tahu, astaga, mereka saja tak tahu kalau aku ini salah satu pemilik Aldantѐ! Bacaan sehari-hari mereka hanya catatan pesanan, bukan Vogue ataupun Harper’s Bazaar.” Ji Hyo menarik napas panjang dan merasa perutnya mulai keroncongan, tapi sengaja dibiarkannya. “Tapi Dong Hae menyuruhku begini. Jadi, aku mau berbuat apa?”

Josh menepuk kepala Ji Hyo pelan. “Andai saja aku ini pengusaha triliunan, mungkin aku sudah membawamu kabur dan tak harus berurusan dengan Aldantѐ dan segala tetek bengeknya, Sayang…”

Ji Hyo tertawa kecil. “Sayangnya kau ini manajerku, ya. Hei, apa saat kau lahir, kau ada melakukan kesalahan di akhirat sampai tidak bisa sedikit lebih kaya?”

Tuk. Josh langsung mengetuk kepala Ji Hyo keras. “Kau pikir aku bisa rekues aku mau lahir sebagai apa, dalam keluarga bagaimana, dan memiliki apa saja? Jika itu bisa dilakukan, yang kupinta pertama kali adalah tidak ditakdirkan menjadi manajermu, Ji!”

Ji Hyo tertawa renyah, lalu menggelayut manja di lengan Josh. “Jangan begitu, Joshie…” Ji Hyo dan manajernya itu selalu bertengkar kapan pun dimanapun, tapi baik keduanya sama-sama tahu bahwa mereka sudah merasa sayang satu sama lain. Seperti adik dan kakak. Bagi Ji Hyo, meski terkadang Josh menyebalkan, tapi Josh selalu ada untuk mendorongnya maju dan menghadapi tantangan.

Taksi yang mereka tumpangi sudah sampai di depan Aldantѐ. Josh menatap Ji Hyo khawatir saat gadis itu bersikeras agar tak diantar masuk. Ji Hyo mengatakan dia tak akan dimakan oleh Dong Hae ataupun Joong Ki. Dan kalau itu terjadi, dalam waktu sepuluh menit Ji Hyo pasti sudah menelepon Josh. Josh ada di speed dial nomor tiga-nya—setelah nomor Lee Hyuk Jae dan restoran samgyetang.

Aldantѐ belum buka, pintu depannya masih tertutup. Ji Hyo lewat pintu belakang yang terletak sedikit di bawah tanah dan tersembunyi, dia harus menuruni beberapa anak tangga, lalu masuk ke koridor panjang kedap suara. Saat itu, Ji yo berpapasan dengan seorang pelayan yang sedang membawakan nampan berisi tissue.

“Ah, kau lagi…” geram Ji Hyo ketika tahu pelayan itu adalah Ryeowook.

Ryeowook menatap Ji Hyo sesaat dan mengernyitkan dahi. “Maaf, apa saya mengenal anda?”

Ji Hyo mau membuka mulut dan membeberkan “kekurangpintaran” Ryeowook kemarin, tapi dia ingat kalau itu bisa saja membongkar identitasnya. Ji Hyo berdeham pelan dan merapikan rambutnya. “Ehm, tidak… kita baru pertama kali bertemu.”

“Oh…” Ryeowook mengangguk. “Apa anda asisten dapur II yang baru dipekerjakan Chef?”

“Ya, seperti itulah. Kau bisa antar aku ke ruangannya? Aku perlu bicara padanya.” Ji Hyo ingin sekali langsung menyerobot masuk ke dalam kantor seperti kemarin, tapi entah kenapa kemeja hitam dan jins putih ini seakan membuat kepercayaan dirinya mundur ratusan langkah.

Ryeowook mengangguk dan mengisyaratkan Ji Hyo untuk mengikutinya. Mereka sampai di depan kantor. Ji Hyo harus pura-pura ragu untuk mengetuk pintu sampai Ryeowook yang dengan baik hatinya menyemangati gadis itu.

“Aku tahu Chef memang orang galak, tapi tenang saja ada aku disini.” Ryeowook menyunggingkan senyum ala dewi persahabatan dan itu membuat Ji Hyo sedikit bergidik. “Lagipula, kita dari satu kampung yang sama, kan? Dari Busan.”

“Busan?” Ji Hyo menaikkan sudut bibirnya heran.

“Chef bilang asisten dapur II yang mulai bekerja hari ini berasal dari Busan.”

Sejak kapan aku lahir di Busan? Ji Hyo melongo lebar. Dia yakin seyakin-yakinnya lahir di Anyang, di tempat yang banyak kuda dan gunung-gunung. Bukan di tepi pantai dan berbau ikan amis.

Tapi Ji Hyo tak sempat mengoreksi ucapan Ryeowook ketika tiba-tiba pintu di depannya terbuka, dan kepala Dong Hae menyembul dari baliknya.

“Kau sudah kutunggu,” ujar Dong Hae datar.

“Semangat, ya, saudara sekampung!” Ryeowook menepuk-nepuk bahu Ji Hyo terlampau ramah.

“Singkirkan tanganmu dari bahuku,” desis Ji Hyo galak. Tapi tampaknya si baik Ryeowook terlalu polos untuk mengetahui maksud ucapan Ji Hyo. Ryeowook semakin melebarkan senyumnya dan berbisik bahwa semua akan baik-baik saja. Ugh, peuhhlisss, Ji Hyo akan baik-baik saja itu kalau Ryeowook menggeser tangannya!

Dong Hae mengedikkan kepala, mengkodekan Ji Hyo untuk masuk. Ji Hyo mengikuti dan sejenak menghela napas lega karena harus terlepas dari Ryeowook, tapi teringat lagi kalau mulai hari ini dia akan sering bertemu dengan bocah itu, dia jadi semakin sebal.

Di dalam ruangan itu ada Joong Ki, sedang menonton tayangan ulang drama Sungkyungkwan di KBS. Joong Ki menyadari kehadiran Ji Hyo dan menatapnya dengan mata berkaca-kaca sembari menyapa dramastis, “Noonaaa!!”

“Sst, simpan kelebaianmu dan menonton tivi saja sana!”

Joong Ki terkekeh kecil sambil membentuk tanda “oke” dengan jari-jarinya. Kemudian, matanya kembali terpaku pada layar tivi.

Dong Hae berjalan menuju meja kerjanya, lalu mengeluarkan sebuah kacamata kotak, menimang-nimangnya beberapa saat, dan kembali memasukkannya. Tapi kemudian tangannya menarik sebuah kacamata besar bulat, memandanginya sebentar, lalu mengangguk.

Dong Hae berbalik dan mendekati Ji Hyo, memasangkan kacamata ke wajahnya.

“Apa ini?” tanya Ji Hyo kaget, sontak mundur selangkah.

“Kacamata,” jawab Dong Hae datar. “Kau tidak pernah lihat kacamata?”

Ji Hyo memutar bola matanya. Bukan begitu, tentu dia pernah melihat benda bulat berlensa itu. “Buat apa aku memakai ini?”

Dong Hae tak menjawab pertanyaan Ji Hyo dan hanya berkata, “Mulai sekarang namamu Cheon Ji Yeon, dari Busan. Kau tinggal dengan dua orang adik perempuan yang masih kecil, berusia tiga dan empat tahun. Sementara ibumu menjadi penyanyi opera kecil di Busan dan ayahmu menjadi nelayan yang pulang lima bulan sekali. Kau tinggal di Seoul dengan temanmu dan merasa bersalah karena selalu menghabiskan persediaan sabun mandi tanpa pernah menggantinya, itulah yang membuatmu melamar pekerjaan di Aldantѐ.”

“Heh?”

Kuping Ji Hyo terasa gatal mendengar celotehan Dong Hae. Excuse me, pardon… apa tadi itu? Dong Hae baru saja mengarang sebuah dongeng aneh yang lebih aneh dari pada alien ganteng sejenis Do Min Joon?

“Kenapa kau mengganti namaku sesuka hati? Kau bahkan sudah menyuruhku berpenampilan begini, tidakkah itu cukup?

Dong Hae memiringkan kepalanya. “Aku sudah memberimu kacamata, memberimu nama, dan memberimu latar belakang kehidupan… dan kau malah protes?” tanya Dong Hae super duper polos.

Ji Hyo mengerang. “Bukan begitu…” ditolehnya Joong Ki yang sibuk dengan tontonannya. “Joong Ki-ah, coba kau jelaskan pada chef baru kita ini. Bahwa betapa berharganya nama Song Ji Hyo, bagaimana pun juga aku ini putri pertama keluarga Song.”

Joong Ki menoleh, menatap Ji Hyo dan Dong Hae bergantian. “Oh, Noona, nama Cheon Ji Yeon itu bagus dan cerita yang dikarang Dong Hae itu sudah lulus sensor kok. Tadinya kau mau dibuatkan latar belakang sebagai buruh selundupan dari Vietnam, ayahmu baru saja tertembak mati dalam peperangan di Palestina, dan Ibumu jadi wanita malam. Hm, kau juga pernah coba-coba jadi wanita malam dan akhirnya merasa bosan karena kau tidak bisa terbangun saat malam tiba, kau punya penyakit ngantuk akut yang—“ Joong Ki berhenti berceloteh begitu melihat wajah penuh sinar-sinar iblis dari kakaknya. Joong Ki berdeham gugup dan berkata dengan takut-takut, “ta-tapi, Noona… cerita yang dikarang Dong Hae juga lebih bagus dari karangan yang aku usulkan. Tadinya, aku mengusulkan kalau kau itu sebenarnya ratu In Hyeon yang terhisap lubang mesin waktu dan mendarat di atap rumah seorang pemuda miskin dari Jeolla-do, dan kau dijuluki Ratu Atap!”

“Song Joong Ki…” Ji Hyo melipat lengan kemejanya dan berlari ke arah adik sematang wayangnya yang super menyebalkan. Tanpa bisa Joong Ki menghindar, Ji Hyo sudah melompat dan memukul punggung Ji Hyo dengan kalender duduk yang disambarnya di atas meja.

“Noona… Noona… hentikan! Aduh, maafkan aku!” teriak Joong Ki mengaduh kesakitan. Joong Ki berlarian mengitari ruangan, dan Ji Hyo benar-benar belum puas sebelum melihat adiknya terkapar megap-megap. Kalau perlu, Ji Hyo harus mengorek otak Joong Ki keluar dari kepala dan merendamnya dengan oralit agar bersih dan terhindar dari bakteri.

“Hentikan,” ujar Dong Hae pelan.

Tidak ada yang mendengar, Ji Hyo dan Joong Ki tetap berlarian tak beraturan.

“AKU BILANG HENTIKAN!”

Brak. Dong Hae melempar buku tebal ke lantai hingga menimbulkan bunyi berdebam yang keras.

Ji Hyo dan Joong Ki berhenti berlari, memandangi ekspresi Dong Hae yang berubah menyeramkan. Dong Hae menaikkan kedua alisnya tinggi-tinggi dan berkacak pinggang, “Direktur, anda bisa kembali kerja sekarang juga?” ucapan Dong Hae terdengar seperti perintah, meskpun secara teknis Joong Ki adalah atasannya.

Namun Joong Ki langsung patuh dan mengendap-endap menuju mejanya, dan pura-pura menulis sesuatu. Entah itu hanya buletan-buletan kecil, atau namanya yang dihias sedemikian rupa. Joong Ki diam membisu.

Dong Hae beralih ke arah Ji Hyo yang memandangnya dengan ekspresi campur aduk; kaget, bingung, takut, dan gugup.

“Kau…”

“Y-ya, Chef…” Ji Hyo mundur selangkah.

Dong Hae maju dua langkah lalu berteriak kencang, “BERSIAP KERJA!”

“Y-ya, Chef!”

Ji Hyo langsung berlari secepat kilat keluar ruangan. Tak mempedulikan tatapan karyawan lain yang penasaran dengan bunyi berisik dari dalam kantor. Ji Hyo langsung berjalan tergesa-gesa menuju ruang ganti.

Ini pertama kalinya dia melihat Lee Dong Hae, pria yang tempo hari dibullynya habis-habisan, kini berubah jadi monster galak.

.

.

.

.

.

.

Ji Hyo berbaris di samping Henry, asisten dapur I, di dekat wastafel. Para juru masak lainnya berjejer saling berhadapan di depannya, dipisahkan dengan kompor super besar yang belum menyala. Ji Hyo mengamati satu-persatu wajah sang juru masak dan semuanya tampak asing. Dan seluruh juru masak itu juga balik menatap Ji Hyo seolah melihat orang aneh masuk ke dapur. Juga, kejadian dua jam lalu di dalam kantor membuat mereka penasaran, apa yang sebenarnya tengah terjadi sampai seorang asisten dapur II lari terpontang-panting dari dalam kantor setelah bunyi benda jatuh yang cukup keras terdengar.

“Ini hari pertama asisten II bekerja, tapi sepertinya tadi dia sudah kena damprat oleh chef,” bisik salah satu koki.

“Chef Dong Hae memang mengerikan.”

Ji Hyo mendengar bisikan-bisikan itu dan berusaha tak mengindahkannya.

Mendadak suasana berubah sunyi ketika Dong Hae masuk ke dalam ruangan. Dong Hae menatap sekeliling dan menarik napas panjang. “Baik, kita mulai pesanan pertama.” Dong Hae menekan mesin di dekat meja dapur dan keluar kertas panjang yang menandakan jumlah pesanan mereka.

Suasana dapur menjadi sibuk dengan suara panci-panci beradu, desing minyak yang mendidih dan bumbu-bumbu yang ditaruh di atasnya. Ji Hyo mendatangi satu persatu koki untuk mengambil panci yang sudah tak terpakai, atau menaruh piring yang mereka minta ambilkan. Sepatu ketsnya berdecit-decit dengan cepat, secepat pergerakannya. Henry juga sama sibuknya. Tak ada yang berbicara, dan semua sibuk berkonsenterasi pada masakannya.

“Pasta seafood tiga, baik… pasta! Aku yang kerjakan.” Dong Hae mengambil tempat kosong dan mulai menyalakan kompor. Henry datang membawakan bahan-bahan dan menaruhnya di samping Dong Hae.

“Ini apa?” ujar Dong Hae mengangkat kotak yang Henry taruh.

“Udang, Chef.”

“Kau memberikanku udang yang sudah didinginkan?!” suara Dong Hae terdengar menggelegar. Beberapa juru masak langsung terpaku dan menatap cemas kea rah Henry. Sepertinya bocah itu akan kena semprot.

“Hanya ada udang itu, Chef…” Henry menjawab takut-takut.

“Aku mau udang yang segar!” seru Dong Hae.

“Chef… chef… maaf…”

Dong Hae mendengus kesal. Diangkatnya kotak berisi udang itu tinggi-tingi hingga sejajar dengan kepala Henry, dan melemparnya ke tempat sampah.

Terdengar seruan tertahan dari para juru masak.

“Apa yang kau lakukan?!” teriak Ji Hyo kaget campur marah. Gadis itu berjalan mendekat, mengambil udang dari tempat sampah, dan menghampiri Dong Hae. “Kau membuang udang?”

Semua orang kini melayangkan tatapan kalut pada Ji Hyo. Henry menahan tangan Ji Hyo, berusaha menyuruh gadis itu untuk tak ikut campur agar tak tambah runyam. Namun Ji Hyo tak mempedulikannya. Dia tahu benar udang apa yang sedang dipegangnya sekarang. Diimpor langsung dari Thailand dan harganya mahal sekali. Bagaimana bisa Dong Hae segampang itu membuang udang ke tempat sampah?

“Kau tidak tahu berapa harga udang ini?” Ji Hyo mengangkat kotak di tangannya.

Dong Hae menatap Ji Hyo datar. “Ji, kembali bekerja dan jangan ikut campur!”

“Harganya sama dengan hati angsa!” teriak Ji Hyo keras. “Bahkan lebih mahal!”

“Ji, kembali bekerja sekarang juga! Tempatmu bukan disini!”

“Aku tidak bisa membiarkanmu bermain-main dengan bahan makanan di sini.”

Dong Hae menarik napas panjang. “Udang itu, tak akan seenak jika dihidangkan segar-segar!”

“Apa bedanya? Toh itu tetap udang. Jika kau membuangnya, akan lebih runyam. Kau mau menghidangkan apa dipiring saat pelanggan memesan pasta seafood? Kau ingin menghidangkan pasta dengan potongan sol sepatu?!” ujar Ji Hyo sadis.

Lagi-lagi terdengar seruan tertahan dari para juru masak. Tak ada yang menyangka ada orang yang mampu berbicara sedemikian kurang ajar pada si monster galak Lee Dong Hae. Dan orang itu adalah orang yang menempati posisi terbawah di dapur.

Dong Hae menatap Ji Hyo lekat-lekat, sekilas melirik para juru masak yang tercengang dengan pertengkaran antara chef dan asisten dapur. Dong Hae berteriak menyuruh semua kembali kerja jika tidak pemutusan hubungan kerja bisa dikeluarkan sekarang juga. Suasana dapur kembali riuh dengan dentingan panci dan letupan kompor.

Dong Hae masih tetap memandangi Ji Hyo dan mengayunkan sepatulanya kea rah bahu Ji Hyo. Pemuda itu mendorong bahu Ji Hyo dengan sepatulanya yang masih berlumur saus. “Biar aku yang mengatasi pesanan ini dan biar Henry yang bertanggung jawab pada kesalahannya. Aku ini Chef, dan kau asisten dapur. Perhatikan posisimu!!” Dong Hae berteriak persis di depan wajah Ji Hyo, membuat telinga gadis itu berdenging-denging, dan kakinya spontan mundur beberapa langkah.

Seumur hidup, Ji Hyo tak pernah dibentak. Dan dia merasa Dong Hae sungguh keterlaluan. Ji Hyo menarik napas berkali-kali, berusaha menenangkan amarah yang menggerogoti dadanya. Dia ingin menangis dan ingin kabur dari dapur, dia tidak ingin lagi menjadi asisten dapur jika harga dirinya diinjak-injak terus menerus seperti ini.

.

.

.

.

.

.

“Sayang, kau sudah pulang? Aku merindukanmu… kau bisa mampir ke apartemenku sebentar? Aku merindukanmu, aku merindukanmu, aku merindukanmu…”

Ji Hyo menutup lokernya, sambil mengapitkan ponsel diantara telinga dan bahunya. Sementara tangannya sibuk memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas selempang yang dipakainya. Suara lembut Hyuk Jae di seberang sambungan membuatnya tak bisa berhenti tersenyum.

“Sayang, aku juga merindukanmu. Sangat. Aku ingin memelukmu, lalu menciummu, lalu… memelukmu lagi… lalu memelukmu, memelukmu, dan memelukmu…” Ji Hyo memejamkan mata dan terkekeh geli. “Aku akan mampir ke apartemenmu. Apa kau mau titip sesuatu?”

“Boleh, aku titip salam pada Ji Hyo-ku.”

Ji Hyo terkekeh-kekeh mendengar godaan Hyuk Jae. Pemuda itu, jika urusan menggoda, dia juaranya. Ji Hyo keluar dari ruang ganti dan berjalan menyusuri koridor, hampir sebagian besar pegawai sudah pulang, sehingga Aldantѐ nyaris sepi.

Tiba-tiba saja Ji Hyo melihat Dong Hae berjalan berlawanan arah dengannya. Ji Hyo menarik napas dan berusaha pura-pura tak melihat pemuda itu. Pertengkaran di dapur siang tadi membuatnya malas berurusan dengan chef monster satu itu.

Tapi ketika berpapasan dengan Dong Hae, mendadak Ji Hyo merasakan tangannya ditarik turun dan ditahan. Ji Hyo berhenti bicara dengan Hyuk Jae dan menoleh pada Dong Hae.

“Apa?” ketus Ji Hyo.

Dong Hae telah melepas baju chefnya. Pemuda itu mengenakan coat hitam dan syal cokelat muda yang melilit lehernya. Ji Hyo melepaskan pegangan tangan Dong Hae dan ingin beranjak pergi, namun Dong Hae kembali menarik tangan Ji Hyo.

“Kau mau apa sih?!” teriak Ji Hyo.

Dong Hae menghela napas panjang. “Ji…” ucapnya pelan, “mau temani aku jalan-jalan?”

“Hah? Apa? Kau gila.” Ji Hyo memicingkan mata curiga. Kenapa Dong Hae mendadak terlihat lebih manusiawi dan jadi baikan begini? Tidak, ini tentu hanya akal bulusnya dan Ji Hyo tak ingin terjebak. “Aku mau pulang.”

Dong Hae mengerjapkan mata. “Aku antar kau pulang.”

Dan, akhirnya untuk pertama kalinya dalam hari ini, Ji Hyo melihat Dong Hae tersenyum.

.

.

.

.

.

.

“Kau tahu restoran yang enak di daerah sini? Perutku keroncongan minta diisi…” Dong Hae mengedarkan pandangannya ke luar jendela, lalu mencolek lengan Ji Hyo penuh semangat. “Lihat, lihat, sepertinya restoran disana enak!”

Wajah Dong Hae menempel di kaca dan ekspresinya terlihat seperti balita yang menginginkan mainan karet.

Ji Hyo sedikit bingung akan perubahan sikap Dong Hae yang mendadak jadi aneh. ehm, sebenarnya, menurut Ji Hyo sikap Dong Hae “yang ini” terasa lebih normal dibanding tingkahnya di Aldantѐ sejak kemarin. Atau Dong Hae melakukan ini karena merasa bersalah telah memarahi Ji Hyo tadi?

“Kau mau makan samgyetang tidak? Sepertinya enak. Aku pernah mencicipi samgyetang saat ada Korean Food Festival di Itali dan rasanya lumayan enak. Kebetulan sekali kan, aku lagi ada di Korea, jadi aku bisa memakannya lagi.” Dong Hae kembali menyenggol lengan Ji Hyo. “Bagaimana? Samgyetang? Deal?”

Ji Hyo memandangi wajah Dong Hae cukup lama, lalu menatap jejeran restoran di luar jendela melalui celah di bahu Dong Hae. Ji Hyo ingin menolak dan mengatakan dia sudah lelah, tapi ketika Dong Hae membujuknya dan menunjukkan senyuman lebar, mau tak mau Ji Hyo menganggukkan kepala.

Mereka berhenti di depan restoran samgyetang langganan Ji Hyo. Gadis itu sudah menemukan semangatnya kembali tepat ketika lubang hidungnya menyesap aroma samgyetang dari luar. Dan dengan lagak bak pemandu wisata, dia berceloteh bahwa samgyetang merupakan satu dari tiga makanan terenak di Korea Selatan versi Song Ji Hyo. Mereka memesan dua porsi dan memakannya penuh lahap. Sejujurnya Ji Hyo kelaparan sejak tadi pagi dan ini pertama kalinya dia makan dalam hari ini.

“Ini enak, Ji! Lidahmu tidak bisa diragukan.” Dong Hae tertawa ringan. “Mungkin restoran ini akan jadi langgananku.”

Well, boleh saja. Asal kalau kau datang, kau harus menghubungiku.”

“Hm, kenapa?” Dong Hae menyesap minumannya. “Oh, kau ingin aku ajak kesini lagi?” cengirnya.

Ji Hyo menggeleng cepat. “Agar aku tidak datang ke sini. Aku tak ingin kita terjebak dalam situasi ‘kebetulan bertemu’ dan mengharuskanku semeja denganmu seperti sekarang.”

Dong Hae tertawa keras.

Ji Hyo memandangi wajah sumringah Dong Hae yang sibuk memakan makanannya. Pemuda itu berceloteh panjang lebar, menceritakan kehidupannya di Itali dan hal-hal yang sedikit membuatnya sulit beradaptasi dengan Seoul, terutama persoalan makanan yang rata-rata pedas dan membuat perutnya sakit. Tapi dia berkata untuk terus beradaptasi karena akan tinggal lama disini.

Beruntung Dong Hae punya keahlian untuk membersihkan apartemennya sendiri. Dong Hae bilang awalnya dia sempat cemas tinggal sendirian karena dulu di Itali dia menyewa sebuah rumah bersama teman-temannya dan mereka bisa bagi-bagi tuga bebersih rumah. Kini dia harus mengerjakan semuanya sendiri. Untung semuanya berjalan lancar. Soalnya Dong Hae tak begitu ingin untuk menyewa pembantu.

“Kau serius membersihkan sendiri apartemenmu?” tanya Ji Hyo tak percaya. “Seluruh lelaki yang kukenal, sungguh tidak bisa menjaga kebersihan tempat tinggal mereka.”

“Maksudmu Song Joong Ki atau siapa itu? Temanmu yang bernama Siwon?”

Ji Hyo mengangguk, dia tak berniat menambahkan nama Lee Hyuk Jae. “Ya.”

Dong Hae tergelak dan berkata jika pria-pria seperti itu tidak akan punya istri jika tak bisa mengubah sikap jorok mereka sedikit saja. Bayangkan saja jika istri mereka nanti harus kepayahan membersihkan hal-hal yang dibuat kotor suaminya. Dong Hae bertaruh tidak ada perempuan modern yang rela dibegitukan.

Ji Hyo diam saja tak menyahut.

Dong Hae bercerita tanpa henti dan bahkan mengeluarkan lelucon-lelucon yang membuat Ji Hyo terbahak. Mereka terjebak dalam suasana penuh tawa sampai berjam-jam lamanya. Dan Ji Hyo tak sadar jam telah menunjukkan pukul sepuluh malam.

“Ah, aku harus pergi ke suatu tempat…” Ji Hyo teringat harus mengunjungi apartemen Hyuk Jae. Tapi saat diliriknya keluar, ternyata sedang turun hujan dengan derasnya. “Oh, sial… hujan…”

“Apa kau terburu-buru?” tanya Dong Hae.

Ji Hyo mengangguk. “Ya.”

“Perlu kita pesan taksi lagi?”

“Tidak, aku naik bus saja. Tempat yang harus kutuju dekat dari sini.”

“Tapi halte bus juga cukup jauh dari sini,” ujar Dong Hae.

“Ah, iya…” Ji Hyo menggaruk kepalanya sedikit kesal. “Mungkin aku harus menerobos hujan.”

“Biar kutemani,” sahut Dong Hae.

Ji Hyo menoleh dengan kebingungan. “Maksudmu?”

Dong Hae tersenyum sembari mengedipkan matanya. “Kutemani kau menerobos hujan.”

“Ta-tapi…”

Ji Hyo tak sempat membantah. Dong Hae keburu menarik tangannya untuk berdiri, dan setelah membayar di kasir, mereka berlari ke luar restoran. Langkah Ji Hyo sempat tersendat begitu merasakan air hujan yang dibawa angin kencang menerpa wajahnya. Ji Hyo ingin mundur dan menimbang-nimbang untuk menunggu hujan reda saja, tapi tahu-tahu dia merasakan sesuatu yang gelap menaungi kepalanya.

Ji Hyo menengadah, menatap Dong Hae, yang merelakan coatnya menjadi payung untuk mereka berdua.

“Tak akan kubiaran kau kebasahan, Ji.” Dong Hae mengisyaratkan Ji Hyo merapat padanya agar mereka bisa muat bernaung di bawah coat hitam itu.

Ji Hyo tertegun, dia bergeser mendekat kea rah Dong Hae dan terus memandangi wajah pemuda itu ketika keduanya berlari menembus derasnya hujan. Dong Hae sadar Ji Hyo tengah menatapnya dan pemuda itu balik memandang sembari tersenyum manis. Dong Hae hanya mengenakan kaos putih tipis di balik coat tebalnya, tentu pemuda itu kedinginan. Tapi Ji Hyo tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun untuk menanyakan keadaan Dong Hae.

Lalu, Ji Hyo melirik lengan Dong Hae, dan mengernyit sesaat. Di sepanjang lengan kanan Dong Hae penuh luka sayatan. Panjang dan banyak sekali. Ji Hyo tak sadar ketika tangannya menyentuh lengan Dong Hae. “Tanganmu…”

Dong Hae melirik lengannya, tertegun sesaat, tapi kemudian menanggapinya dengan santai, “itu luka.”

“Kau melukai diri sendiri?”

“Apa kau tak pernah melukai diri sendiri?” Dong Hae justru balik bertanya. Mereka sudah sampai di halte. Bersamaan dengan itu bus tujuan Ji Hyo sudah datang.

Ji Hyo menatap Dong Hae lama. Dia masih ingin bertanya perihal luka itu, tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat. Ada pertanyaan lain yang ingin diajukannya sebelum hari ini berakhir.

“Terimakasih sudah membuatku tertawa hari ini.” Ji Hyo tersenyum kecil. “Aku tidak tahu apakah kau melakukan ini karena merasa bersalah atas pertengkaran kita di dapur atau tidak. Tapi kuharap, semoga hubungan kita di Aldantѐ besok bisa lebih baik.”

Dong Hae memandangi Ji Hyo. “Ji, hubungan kita tidak bisa lebih baik lagi jika di Aldantѐ. Ada hal-hal yang harus kupertahankan di dapur dan membuatnya tidak kacau.”

Ji Hyo memiringkan kepala tak mengerti.

“Kau jelas tak akan paham.” Dong Hae seolah bisa membaca pikiran Ji Hyo. “Tapi ketahuilah satu hal, kau jangan pernah menyamakan sosok Chef dan sosok yang sekarang berdiri di depanmu. Keduanya tak akan bisa jadi satu.”

Ji Hyo masih tak bisa mencerna perkataan Dong Hae.

“Sudahlah…, jangan memaksa untuk berpikir, sana… pergi ke tempat yang ingin kau datangi itu. Hari sudah semakin malam.” Dong Hae mendorong punggung Ji Hyo untuk naik ke bus.

Ji Hyo mengangguk kikuk dan membungkuk mengucapkan salam perpisahan. Gadis itu masih terus bertanya-tanya maksud ucapan Dong Hae yang terdengar aneh dan misterius itu. Ketika dia sudah sampai di atas bus dan menoleh ke halte, Dong Hae masih berdiri di sana, melambaikan tangan padanya sambil tersenyum hangat. “Hati-hati,” ucap Dong Hae tanpa suara, namun Ji Hyo seolah mampu mendengar ucapan itu menggaung di gendang telinganya.

Ji Hyo mengangkat tangannya, dan membalas lambaian Dong Hae ragu-ragu. “Terimakasih, kau juga… hati-hati…”

.

.

.

.

.

.

Hyuk Jae langsung memeluk Ji Hyo begitu gadis itu tiba di pintu apartemen. Ji Hyo balas memeluk, menyesap aroma maskulin Hyuk Jae sepuas-puasnya.

“Hei, Sayang… sepertinya kau lebih merindukanku dibanding aku yang merindukanmu ya?” goda Hyuk Jae.

Ji Hyo memejamkan mata dan mengangguk. “Belakangan ini aku semakin jarang bertemu denganmu. Aku kangen sekali.”

“Kalau begitu, mau nonton DVD semalaman ini, tidak?” tawar Hyuk Jae.

“Itu ide bagus,” kata Ji Hyo berseri-seri. Gadis itu melangkah ke ruang tivi dan menaruh tas selempangnya di sofa. Kemudian, pandangannya teralih pada baju-baju bekas pakai Hyuk Jae yang menumpuk di sudut ruangan, kaos kaki yang melentang dengan santainya di sandaran sofa, kaleng-kaleng makanan yang tak dibuang selama berhari-hari dan menimbulkan bau menyengat.

Ji Hyo terpaku melihat pemandangan berantakan dari kamar Hyuk Jae.

Biasanya tangan Ji Hyo langsung tergerak untuk memunguti semua kekacauan itu dan membereskannya. Namun, kali ini Ji Hyo justru berjengit mundur dan memasang tampang jijik.

“Ya Tuhan, Hyuk Jae? Kau tak akan punya istri jika sejorok ini!!!”

.

.

.

.

.

.

[Author’s Cucuap Cuap-ap: Hyuk Jae’s Dirtiness]

“Apa? Kenapa? Ada yang salah dengan tumpukan baju yang belum dicuci tiga hari, kaleng makanan yang belum dibuang, dan bau menyengat di apartemenku?”

Hyuk Jae duduk bersila dan mengutak-atik ponselnya seperti orang sibuk.

Aku terus menatapnya tanpa bicara.

Hyuk Jae menjadi risih, dia berganti posisi duduk dan berdeham. “Setidaknya, aku masih hidup, kan?”

“Aaaakuuu heran kenapa kau masih hiduppp, Lee Hyuk Jae…!” seruku sambil geleng-geleng kepala.

Hyuk Jae memberengut sebal. “Aku ini sibuk, tak ada orang yang membereskan apartemenku…”

“…kecuali Ji Hyo?” lanjutku.

Hyuk Jae mengangguk sembari meringis.

Aku berdecak pelan. “Kau ini butuh pembantu, bukan calon istri.”

Hyuk Jae memberengut lagi. Dan aku pura-pura tak peduli, aku sibuk mengetik di laptopku.

“Hei, Sophie Maya…” panggil Hyuk Jae.

“Hm?” aku tak berniat menoleh padanya.

“Kau tahu kan aku dan Ji Hyo sama-sama sibuk…”

“Aku tahu.”

“Oke, jadi begini… kalau kau saja yang datang ke apartemenku saat Ji Hyo tak sempat datang, bagaimana?”

Aku mendelik dan memandangi Hyuk Jae dengan mata pelototan maksimal. “Kau kira aku pembantu?!”

Hyuk Jae menunjukkan cengiran lebar. “Bukan begitu, kau tahu kan… kau juga yang membuat karakterku begini.”

“Oh, ya? Masa?”

“Sophie…”

Aku mengangkat bahu tak peduli.

Lee Hyuk mendesis sebal dan mulai mengetik sesuatu di ponselnya. Entah apa itu, aku tak tahu. Tebakanku sih, dia tidak sedang mengetik pesan pada agen pencari pembantu. Dan tidak juga mengetik pesan pada Ji Hyo.

Menurutku sih, begitu.

.

.

.

.

.

.

See you next part~

.

.

Haloooo gimana gimana? masih kependekan ya? haha, kemarin byk yg ngeluh krn partnya kependekan

hm… kl masih kurang panjang, besok aku tambahin lagi deh kekeke

oh ya buat yang rekues pengin banget banget hyuk jae dimasukkin, nih udah dimasukin, dikit sih sengaja gue lagi males sama si monyet *digampar*

nggak juga… jatah hyuk jae emang nnti ke belakangnya agak banyakan tenng aja kok

kritik, komen, bashing, parsel are welcome😀

 

 

60 thoughts on “A Cup Of Lee (Part 4)

  1. bagus bngt ceritanya,, sukaaa sama donghae yg galak bngt pas jd chef,, dan kembali normal pas gk jd chef,,
    karakternya pas, krn biasanya chef memang galak kan kalau di dapur.

  2. Baru ngeh banget disini Song Joong Ki jaman Kang Maroo yaa? Yah telat banget bacanya, sekarang jamannya Yoo Shi Jin lagi hits banget, dan hahaha cerita karangannya tentang latar belakang Jihyo parah abis😀
    Anw, jihyo pantes kok dipanggil tante ((ups)) ((digampar))

  3. ini nih yg ku tunggu-tunggu donghae jadi sok galak sok pinter sok romantis wkwkwk.. padahal aslinyaaaaa hhampir mirip cheon son yi… jangan kasih kesempatan buat hyuk *dilempar uang receh

Just talking...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s