Don’t Trust The Liar In Apartement 13 (Part 7)

Author: Sophie Maya

Title     : Don’t Trust The Liar in Apartement 13 (Part 7)

Cast     : Yesung, Eunhyuk, Kyuhyun, and

Support Cast: Sophie Maya (-_-), and another member Super Junior

Genre  : comedy? Are you sure? Eum… Im not sure…

Rated  : PG-19+

Length: chaptered

Type    : ?

Summary         : Kim, Lee, Cho… siapa diantara kalian yang berbohong padaku?!

dont trust 2

Disclaimer       : this story is MINE.

Warning           : many SARA, discrimination, violance, sex harassment in here. So, before you read, I just wanna say… im not sorry :p

.

.

.

.

.

.

 

 

[Kyuhyun sad side story]

Sesuatu yang Tidak Kamu Ketahui

 

Hidup delapan belas tahun bersama dengan seseorang, membuat kamu terkadang merasa mual karena terlampau tahu luar dan dalam, baik dan buruk seseorang.

Hidup delapan belas tahun bersama dengan seseorang, juga membuat kamu menerima segala macam kebiasaan konyol, menjijikkan, bahkan memalukan seseorang.

Dan yang paling parahnya, hidup delapan belas tahun bersama dengan seseorang, membuat kamu otomatis menganggap orang itu seperti dirimu sendiri, nyaris seperti bayanganmu. Dan kalau kamu tipe orang narsis, ehm, kamu juga akan amat sangat mencintai orang itu seperti kamu mencintai dirimu sendiri.

“Jadi ini semua ada alasannya, bukan hanya sekedar tingkah yang tak berdasar pada hipotesa!” aku mendelik pada Sungmin yang duduk di seberangku, pria dengan kacamata setebal pantat teh botol Sosro, yang (kupaksa) sibuk mendengar ceritaku.

Alis Sungmin mengkerut-kerut pertanda dirinya tengah berpikir keras. “Tapi, Kyuhyun… itu bukan alasan yang membuatmu harus MENONTON CCTV APARTEMEN SOPHIE TIAP HARI, KAN?!”

Sungmin menunjuk laptop di depanku dengan gaya nyonya-nyonya menyebalkan. Wajahnya dibuat sedramatis mungkin mirip opera sabun di Broadway dan memulai khotbah mamah dedehnya, “astaga, Kyuhyun darimana kau dapatkan CCTV ini? Setahuku alat ini masih dalam pengembangan di Finlandia dan baru akan diluncurkan dua tahun lagi, bagaimana kau…?”

“Aku mendapatkannya dari Yesung.”

“Ah…” Sungmin mengangguk mengerti begitu mendengar nama si richie rich, “astaga, kau dan Yesung sama-sama psikopatnya pada Sophie.”

“Ini bukan psikopat, Sungmin!” tegasku sambil menunjuk kea rah laptop. “Aku hanya ingin memastikan Sophie baik-baik saja. Tahu sendiri, sejak putus dari makhluk mata uang korea itu, Sophie jadi sedikit berbeda. Kau tahu, dia semakin terobsesi untuk berdandan berlebihan sehingga seperti badut pasar malam. Dan ugh, aku tahu meskipun dia tak cerita, dia pasti amat terluka sehingga mengalihkan pikirannya ke hal-hal lain! Sebagai sahabatnya dari kecil, aku harus melindungi Sophie. Dia itu rapuh dan harus dijaga.”

“Tapi bukan begitu caranya Kyuhyun! Kau itu justru membuat Sophie semakin risih! Kau tidak sadar kejadian di lapangan basket tempo hari saat Sophie memakai seragam cheerleader dan pom-pom warna-warni? Kau bahkan langsung menghentikan pertandingan tiba-tiba dan memerintahkan semua orang untuk berpaling dari Sophie karena pakaiannya yang seperti orang lagi berjemur di pantai.”

Aku memutar bola mata sebal. Jelas aku tahu kejadian itu, Sophie datang dengan pakaian cheerleader paling seksi sejagat galaksi, dan berani bertaruh, semua mata pemain basket, bahkan para supporter yang notabene lelaki, tertuju pada Sophie.

Dan, sebagai sahabat yang baik dan ingin melindungi Sophie, aku langsung berteriak untuk menghentikan pertandingan dan menyuruh Sophie pergi dari lapangan.

“Tapi bukan hanya aku yang begitu. Eunhyuk dan Yesung juga. Eunhyuk menyuruh semua orang yang tadi sengaja maupun tak sengaja melihat Sophie, untuk mencuci mata mereka! MENCUCI! Biar kutegaskan! M.E.N.C.U.C.I!! PAKAI SABUN COLEK WINGS! KAU TAHU ITU LEBIH SADIS??” aku menekan-nekan telunjukku ke meja, “dan bahkan Yesung langsung menyuruh pabrik baju yang dipakai Sophie itu untuk tutup! TUTUP! Kutegaskan sekali lagi, PABRIK ITU DIPAKSA TUTUP DAN GULUNG TIKAR GARA-GARA SOPHIE MEMAKAI BAJU PRODUKSI MEREKA! Kami melakukannya semata-mata karena kami ingin melindungi Sophie, Sungmin…”

Sungmin geleng-geleng kepala, tampak tak terima akan argumenku. “Itu bukan melindungi, kalian itu membuatnya tersiksa. Ingat juga kah kau apa yang terjadi waktu tanpa sengaja CCTV-mu itu menangkap sosok Sophie yang ingin menonton siaran ulang Breakfast at Tiffany’s tengah malam?” tanya Sungmin.

Aku berusaha mengingat-ingat. “Iya… aku tahu, aku menelepon Anabelle untuk menemani Sophie, karena kupikir Sophie pasti butuh teman menonton dan ceritanya picisan semacam film itu, tentu tidak ingin ditontonnya bersama makhluk berjakun—para pria, maksudku.”

“Ya… dan kau tahu kan, padahal saat itu Anabelle sedang belajar untuk ulangan Statistika besok hari?”

Pertanyaan Sungmin membuatku terdiam. “Ta-tapi… Yesung dan Eunhyuk juga melakukan hal yang sama. Eunhyuk menyuruh gadis-yang-sedang-ditidurinya-dan-dia-lupa-siapa-nama-gadis-itu-karena-dia-hanya-melihat-gadis-dari-ukuran-serta-keseksian-pakaian-dalam-bukan-dari-nama, untuk memasak pie agar bisa dikirim ke apartemen Sophie. Jadi Sophie bisa menonton sambil makan.”

Sungmin memutar-mutar telunjuknya di depan wajahku. “Yeah, dan kau tahu kan… Eunhyuk dan gadis-yang-sedang-ditidurinya-dan-dia-lupa-siapa-nama-gadis-itu-karena-dia-hanya-melihat-gadis-dari-ukuran-serta-keseksian-pakaian-dalam-bukan-dari-nama sedang melakukan ronde ke lima? Ditengah-tengah ronde? Menyuruhnya berhenti dan memasak? Aku tidak bisa membayangkannya, terutama di bagian ronde-rondenya -_-…”

“Tapi itu sama saja dengan Yesung, dia bahkan membelikan Sophie TV flat merk LG yang seharusnya keluar dipasaran lima tahun lagi.”

That’s more ridiculous… si richie rich itu…” Sungmin menghela napas panjang, menatapku lamat-lamat, lalu berujar pelan, “Kyuhyun… kau, Eunhyuk, dan Yesung… kalian tidak boleh seperti itu.”

“Kenapa?” tanyaku bingung. Aku sama sekali tak menemukan keanehan pada apa yang kami lakukan. Semuanya terasa wajar. Aku yang meminta Anabelle menemani Sophie, Eunhyuk yang meminta gadis “ronde” (baiklah, aku malas menyebutkan istilah sang gadis yang teramat panjang itu) membuatkan pie, dan Yesung yang membeli TV yang sebenarnya belum keluar di pasaran. Itu kan hanya bentuk rasa sayang dan ingin melindungi Sophie saja. Apa yang salah?

“Kau selalu berpikir apakah Sophie baik-baik saja, apakah Sophie terluka atau tidak, apakah Sophie begini… Sophie begitu… tapi pernahkan kau memikirkan apakah orang-orang disekitarmu juga baik-baik saja? Apakah mereka terluka?”

“Maksudmu?” aku menatap Sungmin tak mengerti.

“Kau, Eunhyuk, dan Sungmin mungkin memang sudah menganggap Sophie seperti bagian terpenting dari diri kalian. Tapi apakah kalian tak berpikir bahwa ada orang yang juga menganggap kalian amat penting… namun kalian seolah tak peduli padanya?”

Aku memandang Sungmin cukup lama. Sampai dering ponselku berbunyi. Telepon dari Anabelle.

“Ya, Anabelle?”

Anabelle tak menjawab, hanya terisak-isak pelan.

“Anabelle? Kau disana?”

Kupandang Sungmin yang berkata tanpa suara, menanyakan apa yang Anabella katakan. Aku hanya mengangkat bahu tak mengerti.

Anabelle di seberang sana masih menangis.

“Anabelle…? Jika kau tidak cerita, aku tak akan mengerti.” Tanpa sengaja mataku menangkap layar laptop. Sophie baru saja masuk ke apartemennya, gadis itu melempar ransel ke atas sofa, berjalan sempoyongan sampai ke meja, berjongkok, dan bahunya naik-turun tak beraturan… Sophie menangis?

“Anabelle, a-aku… kita bisa bicara nanti, bagaimana? Sepertinya aku baru saja melihat Sophie menangis, aku akan menghubungi sahabatku lalu ke apartemen Sophie untuk memastikan gadis itu baik-baik saja.” Aku panik melihat Sophie kini mengusap matanya. Gadis itu benar-benar terlihat seperti orang habis menangis. Apakah ada sesuatu yang menyakitinya?

“Kyuhyun…” lalu, Anabelle bersuara juga.

“Ah, Anabelle. Aku akan menghubungimu nanti.” Aku buru-buru menutup laptop dan mengemasi barang-barangku.

“Tapi, Kyu…”

Bye, Anabelle Sayang… love you, I will call you later…

Sambungan telepon kututup dan aku segera beranjak dari kafe.

“Kau mau ke tempat Anabelle?” tanya Sungmin bingung melihat sikap khawatirku. “Anabelle kenapa?”

“Bukan… ke tempat Sophie. Dia… sepertinya menangis.”

Kutinggalkan Sungmin yang melayangkan tatapan aneh padaku. Aku menyetop taksi dan segera pergi, sembari sibuk mengirim pesan pada Eunhyuk dan Yesung agar cepat menyusul ke apartemen Sophie.

Sophie masih berjongkok di dekat meja ketika aku sampai di apartemennya. Sepi, tak ada seorang pun di sini. Dan benar dugaanku, Sophie menangis. Suara isakannya terdengar amat keras. Dia menangis dari tadi, pasti masalah yang menimpanya amat berat.

“Sophie… kau kenapa?” aku mendekati Sophie, menyentuh lengan gadis itu hati-hati.

Sophie menengadahkan kepala, menatapku nanar, dan kembali menangis. Lebih keras.

“Apa ada orang jahat yang melukaimu?” tiba-tiba, aku merasa emosi.

“Kau… kau kenapa disini?” tanya Sophie dengan suara bergetar. “Kenapa kau tidak bersama Anabelle saja, Kyu?!” suara Sophie mendadak naik, penuh emosi.

Aku menatapnya kebingungan. “Apa maksudmu?”

“Aku bertengkar dengan Anabelle.” Sophie menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Anabelle bilang, kau lebih sayang aku dibanding dia.”

Aku bungkam.

“Kyu… kau dan Anabelle itu sepasang kekasih! Dan aku hanya temanmu! Bagaimana mungkin kau lebih mengutamakanku dibanding Anabelle? Anabelle terluka, dia tampak menyedihkan, dia… dia… dia merasa sakit karena aku…”

Cerita Sophie membuatku tertegun. Benarkah Anabelle merasa terluka? Selama ini aku tidak tahu. Anabelle cemburu karena aku lebih memperhatikan Sophie?

“Anabelle bilang dia akan menjauh darimu. Dia tidak ingin terluka terus karenamu, Kyu.” Sophie menatapku penuh pedih, “dan itu karena aku… aku… aku sudah berbuat jahat pada Anabelle…”

“Tidak, Sophie kau tak begitu…” aku menggeleng. “Tidak mungkin Anabelle memutuskanku.”

“Tidak, Kyu! Itu benar! Ini karena aku! Karena kau, Eunhyuk, dan Yesung terlalu memperhatikanku! Orang-orang yang memperhatikan kalian jadi ikut terluka, apakah kau tak tahu soal itu?”

Sophie kembali menangis.

“Tinggalkan aku sendiri Kyu… aku tidak ingin bertemu denganmu, atau Eunhyuk dan Yesung…”

Aku berharap Sophie main-main dengan ucapannya, tapi gadis itu tak bergeming. Dia benar-benar mengusirku. Aku berbalik dan keluar apartemen dengan lesu. Eunhyuk dan Yesung Ponsel di tanganku terus berbunyi, sebuah pesan dari Anabelle:

We should take a break, Kyuhyun. Sorry, I should repair my broken heart. Thanks for everything. Take care.

Anabelle…

Gadis itu sungguh-sungguh… ingin menjauh?

Tanganku terasa kebas. Pandanganku memudar.

Ketika Eunhyuk dan Yesung datang menghampiri, aku langsung menghadang keduanya.

“Kyu?! Ada apa?” Yesung memegangi lenganku.

“Kita seharusnya tak begini…” aku memegangi ponselku. Kepalaku terasa berputar. “Anabelle…”

“Anabelle?” Eunhyuk mengulang ucapanku, “Sophie bagaimana? Kenapa kau malah cerita tentang Anabelle?”

Stop it, Hyung!” seruku parau. “Kita sudah salah, kita sudah salah dari awal. Yang rapuh itu bukan Sophie, Hyung! Yang selalu terluka itu bukan Sophie, Hyung!” Kutatap Yesung dan Eunhyuk bergantian. “Ada orang yang lebih rapuh dari Sophie… dan aku sudah menghancurkannya hingga berkeping-keping.”

Hidup delapan belas tahun bersama dengan seseorang, membuat kamu otomatis menganggap orang itu seperti dirimu sendiri, nyaris seperti bayanganmu. Tapi meski begitu, kau tidak boleh mencintai orang itu seperti kamu mencintai dirimu sendiri.

Karena tetap saja ada hal-hal yang tidak kamu ketahui

.

.

.

.

.

.

Don’t Trust The Liar In Apartement 13 (Part 7)

 tumblr_mcx31f6lX31rfzv66o1_500

Sophie membuka pintu dan menatap horor ke dalamnya. Kyuhyun, Eunhyuk, dan Yesung, saling berdiri dan memasang posisi siaga siap perang. Wanita itu melangkah masuk hati-hati, sambil terus mengganggam ponsel di tangan, dilihatnya Naomi masih terlelap dan tak tahu apa yang tengah terjadi, gadis itu juga (semoga saja) tak mendengar apa yang diucapkan oleh salah seorang dari sahabatnya barusan.

Dan Sophie tahu benar siapa pemilik suara itu.

Dan dia benar-benar tak percaya orang itu mengatakan sesuatu yang tak masuk akal begini.

This is just a bullshit, Kyu! You never do that!” teriak Sophie menunjuk Kyuhyun. “You… never… do that…!

Kyuhyun menolehkan kepala kea rah Sophie, wajahnya terlihat datar. “Sayangnya, aku yang melakukan itu, Sophie. Aku yang merencanakan ini semua. Aku-lah, pembohong di sini.”

“Tidak, kau bercanda!” Sophie menggeleng kepala tak mengerti. “Kau tak perlu melakukan ini, Kyu…”

“Aku bilang, aku pembohongnya, Sophie! Tidakkah kau mengerti?!” Kyuhyun balas membentak Sophie. Membuat gadis itu tertegun karena kaget.

“Seorang Kyuhyun tidak mungkin melakukan ini, aku tahu benar kau…”

Kyuhyun menggeleng. “Ini salahku. Aku yang membuat semuanya berantakan. Aku akan bertanggung jawab. Sekarang, perkara selesai!”

Bukk. Sebuah tinjuan mendarat di wajah Kyuhyun. Kyuhyun tersungkur di lantai. Sophie seketika menjerit kaget dan menatap sang pelaku yang tega melayangkan bogem mentah ke wajah professor Sungkyungkwan.

“Eunhyuk!!”

“Kau bilang perkara selesai?” Eunhyuk memicingkan mata. “Kau pikir dengan pura-pura mengaku, maka perkara ini bisa selesai?”

Kyuhyun menatap tajam Eunhyuk. “Aku tidak berpura-pura!”

“Hentikaaaaann!” Sophie berjalan di antara Kyu dan Eunhyuk, menatap kedua sahabatnya dengan pandangan kecewa yang kentara sekali. Sophie menghela napas sekali dua kali, berusaha menenangkan dirinya yang ikut-ikutan dilanda emosi melihat pertengkaran itu. “Kalian bertingkah kekanak-kanakkan. Sudah, kumohon, jangan lakukan ini.”

“Sophie, kau menjauhlah… jangan berada diantara kami,” desis Eunhyuk.

Sophie menoleh ke arah Eunhyuk dan memandanginya sinis. Namun Eunhyuk seolah mengabaikan Sophie dan hanya tetap menatap Kyuhyun.

Kyuhyun memegangi sudut bibirnya, mengetahui bahwa ada darah mengalir disana, pria itu langsung menggeram kesal. “Kau memukulku, Eunhyuk!”

Eunhyuk memicingkan mata. “Ya, benar! aku memukulmu! Apa rasanya sakit? Apa rasanya sama seperti terakhir kali aku memukulmu?”

Suara Eunhyuk menciptakan keheningan diantara mereka berempat. Pandangan Sophie mendadak berubah kosong dan tubuh wanita itu menjadi kaku. Kyuhyun hanya bisa menghela napas panjang dan memalingkan wajahnya.

Eunhyuk tak memperoleh jawaban memuaskan dari Kyuhyun, jadi pria itu menoleh pada Sophie dan menanyakan hal yang sama, “aku tahu kau pelupa, tapi apa kau ingat bagaimana aku memukul Kyuhyun dulu? Dan kenapa aku memukulnya?”

Kyuhyun menarik napas panjang. “Eunhyuk, hentikan…”

“Aku hanya akan memukul salah satu diantara kita ketika persahabatan ini terlihat mulai berantakan! Sama seperti kejadian belasan tahun lalu saat Kyuhyun dan Yesung memperebutkan Anabelle, kau ingat itu kan, Sophie?”

“Eunhyuk, hentikan!” Yesung maju dan menarik Eunhyuk menjauh. Ditatapnya Sophie sekilas, wanita itu masih tak bergeming.

“Aku tidak akan berhenti. Aku hanya ingin menegaskan agar kita semua mundur dari masalah ini. Tak ada yang perlu pura-pura mengaku, karena segalanya belum jelas. Dan meskipun kalian melakukannya atas dasar perasaan, aku minta, jangan lakukan itu!” seru Eunhyuk dengan napas tersengal-sengal.

“Jadi kau pikir sekarang… Yesung dan Kyuhyun juga… memperebutkan… Naomi?” Sophie membuka suara.

Yesung sontak menggeleng cepat. “Tidak, Sophie… aku…”

“Sudah kuduga…” Sophie tertawa getir. Jemarinya merapikan poni yang jatuh menutupi mata, lalu kemudian berjalan keluar dari kamar tanpa berkata sepatah katapun.

“Kau suka pada Naomi?” tanya Kyuhyun sepeninggalan Sophie.

“Astaga, tidak!” seru Yesung kesal. “Tidak! Bukan aku! Atau kau yang menyukai Naomi, Kyu?”

Kyuhyun terkejut. “Aku? Tidak… aku…”

“Aku tahu Kyuhyun menyukai Naomi sejak pria sialan ini bertemu Naomi pertama kali. Oh, kau pasti lupa bagaimana kejadiannya. Tapi aku ada di sana, di pesta itu, saat kau mendekati Naomi dan memakan banyak cokelat saking gugupnya. Kau mungkin lupa, tapi aku ingat benar… ekspresi wajahmu sama seperti kau melihat Anabelle.” Eunhyuk menepuk-nepuk kemejanya. “Dan kurasa, persahabatan kita sudah tak tertolong lagi…” pria itu menarik napas dalam-dalam, “karena kupikir, aku juga menyukai Naomi.”

Bukk. Dan Yesung pun langsung meninju Eunhyuk hingga pria itu tersungkur di lantai. “Kau…!!”

.

.

.

.

.

.

Yesung ingat kejadian belasan tahun lalu, tepatnya ketika umurnya menginjak sembilan belas tahun. Atau jika lebih spesifik lagi, kejadian ketika pesta ulang tahun mereka yang kesekian, di mana Sophie baru saja putus dari Siwon dan Yesung merelakan pasangannya menjadi pasangan Kyuhyun.

Namun yang tidak Yesung sadari, munculnya Anabelle di pesta itu membuat pria yang hanya tahu bagaimana cara mengurus ratusan perusahaan milik Tuan Kim diumur yang cukup muda, mulai mengenal bagaimana rasanya jatuh cinta.

Anabelle seperti dewi, yang tersandung dan jatuh ke bumi. Yesung tidak tahu apakah pernah melihat Anabelle sebelumnya, namun dia yakin bahwa Anabelle adalah tipikal gadis menyenangkan dan Nyonya Kim tak salah memilihkan pasangan (yang seharusnya menjadi pasangan untuk Yesung). Ketika Anabelle datang dan menggamit lengan Kyuhyun, Yesung tak bisa melepaskan pandangannya dari bagaimana rambut halus Anabelle yang berayun-ayun dengan gampangnya ketika tertiup angin, atau bagaimana mata itu membentuk siluet bulan sabit ketika bibirnya menyunggingkan senyum, dan Yesung sama sekali tak bisa melupakan ketika Anabelle menyapanya dengan sebutan paling aneh: “Yesung-colate”, karena kata Anabelle mereka pertama kali bertemu ketika Yesung sedang menghabiskan sebatang cokelat Cadburry tanpa berniat membagi sedikitpun pada Anabelle sampai akhirnya mereka bertengkar.

Anabelle bahkan berkata, dia selalu tertawa jika mengingat kejadian itu lagi. “Kita seperti akan menciptakan perang dunia ke-III hanya karena sebatang cokelat, dan hampir-hampir membuat dua pengusaha besar di dunia saling bertengkar karena anak-anak mereka berebutan cokelat sedemikian rupa,” cerita Anabelle di sela-sela tawanya.

Sungguh, Yesung tak ingat pertemuan pertamanya dengan Anabelle, pertengkaran karena cokelat atau hubungan kerja orang tuanya yang hampir kandas karena sebatang Cadburry. Alibi polos Yesung waktu itu, “oh, aku tentu masih kecil dan tidak tahu kalau Cadburry bisa merontokkan saham Tuan Kim sampai triliunan. Apa jangan-jangan, mungkin karena itu juga lah aku benci makan cokelat sampai saat ini?” Yesung menertawai leluconnya sendiri. Dan ketika Anabelle ikut tertawa, dia hanya bisa tertegun menikmati wajah gadis itu.

Ketika akhirnya Anabelle lebih memilih Kyuhyun sebagai pasangan hidupnya, saat itu hidup Yesung seperti berada di titik terbawah. Dia bahkan bertengkar hebat dengan Kyuhyun sampai Eunhyuk harus melerai keduanya, dan berujung pada merenggangnya persahabatan mereka. Yesung memutuskan untuk pergi ke Inggris selama beberapa tahun, beralibi mengurusi perusahaan Tuan Kim, padahal dia ingin membuang jauh-jauh segala kenangan yang dipunya. Lalu, saat mendengar kabar kematian Anabelle itulah yang menjadi titik balik persahabatan mereka.

Yesung kembali datang pada Kyuhyun dan mengulurkan tangannya pada pria itu. Yesung tahu Kyuhyun terluka, dan alangkahnya bodohnya jika dia tidak bersedia membantu Kyuhyun bangun dari keterpurukan. Yesung juga ikut terluka dengan kepergian Anabelle, namun dia lebih terluka lagi jika melihat sahabatnya nyaris seperti mayat hidup.

“Kau selalu bertanya padaku, apakah aku mencintaimu atau tidak, dan aku tak pernah menjawabnya. Sejujurnya, Yesung… ini bukan karena aku tak bisa menjawabnya, namun kurasa pertanyaan itu tak pantas ditujukan padaku. Seharusnya, justru aku yang bertanya padamu, ‘apakah kau mencintaiku? Apakah kau mencintaiku? Apakah kau… sungguh-sungguh… mencintaiku?’”

Yesung menatap wajah Sophie dalam diamnya. Wanita itu duduk di seberangnya, namun kedua mata Sophie tak langsung menatap tepat di bola mata Yesung. Yesung bisa merasakan Sophie tengah menghindarinya.

“Sophie…”

“Kau selalu meragukanku…, tapi apa kau pernah berpikir, bahwa aku lebih, lebih, lebih, lebih, meragukanmu?”

Yesung terdiam. Dilihatnya Sophie mengusap kedua matanya yang berair. Dan saat itu, Yesung sadar, Sophie benar. Dia selama ini selalu bertanya apakah Sophie sebenarnya mencintainya, namun yang Yesung lupakan adalah, bahwa sampai saat ini Yesung tak bisa melupakan perasaannya pada Anabelle. Bahwa Sophie pun mengetahui dari awal apa-apa saja yang telah Yesung lakukan untuk Anabelle dulu.

Wanita itu telah berusaha melupakan masa lalu Yesung dan berupaya untuk terus ada di samping Yesung dalam susah mau pun senang, namun ketika Eunhyuk kembali menyinggung soal Anabelle tadi, seluruh pertahanan Sophie seolah runtuh. Hal-hal yang berusaha dilupakannya seperti lahar panas yang meledak keluar ke permukaan.

“Kau mengenalku begitu lama, Yesung… tapi kenapa kau masih menganggapku seperti orang asing yang tak kau kenal luar dan dalam?”

“Sophie…”

“Pada kenyataannya, kau memang tidak pernah menganggapku mampu menggantikan Anabelle di hatimu, iya kan?”

“Sophie…” Yesung berdiri, berjalan pelan ke depan Sophie, lantas berjongkok di depan wanita itu. Tangannya menggenggam jari-jari Sophie erat, terasa dingin dan kaku. Yesung merasa bersalah, sungguh. Bahkan ketika dia sudah bertunangan dengan Sophie, dia masih meragukan Sophie. Bahkan ketika mereka terlah bersama dua puluh tahun lebih, Yesung masih saja mempertanyakan wanita ini. Sungguh, Yesung merasa telah jadi penjahat paling keji di dunia.

“Maaf, Sayang… aku minta maaf…” bisik Yesung lirih. “Aku amat mencintaimu, aku tahu aku tidak bisa membalas semua perasaanmu, tapi aku mencintaimu, sungguh. Oh Tuhan, apa yang telah kulakukan padamu, Sayang? Maafkan aku… dan sungguh, aku tidak pernah menyukai gadis tetangga kita dari Jepang itu, Sayang…”

Apa aku sebegitu jahatnya, sampai-sampai Sophie berpikir aku gampang jatuh cinta dengan gadis mana pun, kecuali dirinya?

Yesung mengusap wajah Sophie lembut, menenggelamkan wajah gadis itu di dekapan hangatnya. Dan ketika didapatinya Sophie menangis terisak, Yesung sungguh-sungguh menyesal atas semua kebodohannya selama ini.

.

.

.

.

.

.

Eunhyuk menyukai Naomi. Ha.ha.ha.ha.ha, silahkan tertawakan kebodohan pria itu. Siapa yang akan menyangka pria yang selalu memikirkan one night stand di atas segala-galanya, kini bertekuk lutut pada gadis ingusan yang baru saja menginjak umur 20 tahun? Kemana pergi ideologinya yang hanya akan melirik gadis di atas 23 tahun itu?

Eunhyuk tertawa getir mendapati bahwa terkadang Tuhan suka memberikan karma pada hamba-hambanya (well, sebenarnya Eunhyuk nyaris sama dengan Sophie yang tak percaya Tuhan itu ada, tapi persetan lah, sekarang dia sedang mencari sesuatu yang bisa dijadikan premis mengapa kesialan bisa menimpanya). Jika seseorang berkata dia membenci sesuatu, biasanya Tuhan justru akan mencoba memberikan hal yang dia benci itu. Untuk menguji kesabaran hambanya, atau mungkin hanya untuk iseng-iseng berhadiah.

Eunhyuk tidak tahu sejak kapan dia menyukai gadis bermata biji kelereng dengan rambut hitam bergelombang itu. Yang Eunhyuk tahu, dia selalu ingin melindungi Naomi dan kalau perlu mengurung Naomi dalam pelukannya agar gadis itu tak terluka.

Dan Eunhyuk sadar, Kyuhyun juga menyukai Naomi. Meski saat itu Kyuhyun belum sadar akan perasaannya, Eunhyuk sudah tahu Kyuhyun memberikan Naomi tempat yang spesial di hatinya. Mungkin Kyuhyun masih tetap memikirkan kesetiannya pada Anabelle karena itu Kyuhyun tak pernah benar-benar menunjukkan perasaannya.

Tapi kejadian barusan, saat Kyuhyun dengan mudahnya mengkambinghitamkan diri sendiri, Eunhyuk yakin cepat atau lambat Kyuhyun akan mengatakan perasaannya pada Naomi.

“Kenapa harus Naomi? Kenapa harus Naomi? Gadis itu…” Eunhyuk memukul-mukul lokernya. Napasnya memburu dan dadanya seperti akan meledak.

Dulu, saat Yesung dan Kyuhyun bertengkar karena Anabelle, Eunhyuk sudah bersumpah tidak akan menyukai gadis yang disukai oleh sahabatnya. Namun… sekarang semua menjadi kacau. Persahabatan itu rusak, sumpahnya, ideologinya, semua dilanggar. Ini namanya sudah jatuh tertimpa tangga, tertimpa kaleng-kaleng cat yang masih penuh pula. Mengenaskan.

“Bos? Anda ada di dalam?”

Terdengar suara pegawai Eunhyuk mengetuk pintu kamar ganti. Eunhyuk menjauhkan dirinya dari loker, memicingkan mata saat melihat pintu loker miliknya rusak akibat tinjuannya. Ah, mengingat tinjuan, pukulan dari Yesung di wajahnya terasa amat sakit. Bahkan luka di wajah ini sepertinya sembuh dalam waktu lama dan dengan perawatan khusus.

Eunhyuk melenggang keluar dari kamar ganti dan bersikap biasa saja. Meskipun pegawai yang melihat wajahnya saling berbisik-bisik bingung. Menebak-nebak siapakah yang telah melukai wajah pemilik pub. Dan Eunhyuk tidak mungkin bisa buka mulut soal ini. Dan mengaku kalau persahabatannya baru saja hancur karena cinta? Bullshit sekali!

.

.

.

.

.

.

Kyuhyun mendapati dirinya terduduk di bawah ranjang, yang menghadap sebuah meja panjang berisi deretan bingkai-bingkai foto. Ada fotonya ketika masih kecil dan sering ingusan, berpose disamping Eunhyuk yang mengenakan kaus bola, dan Eunhyuk dengan jas kaku ala konglomerat ciri khas keluarga Kim; ada pula foto ketika mereka bertiga plus Sophie, merayakan ulang tahun berbarengan untuk pertama kali; foto mereka berempat ketika kelulusan SMA, foto Kyuhyun bersama Cho Ahra, dan kemudian… foto-foto Kyuhyun bersama gadis dengan senyum seperti malaikat—Anabelle.

Kyuhyun memandangi foto Anabelle cukup lama. Merasakan setiap kenangan bersama wanita itu saat mereka masih bersama-sama, semua berkelebat dalam kepalanya, terasa nyata. Tangan Kyuhyun bergerak ke depan, seolah merasakan kehadiran Anabelle. Pria itu ingin merengkuhnya, merengkuh istri tercintanya, memeluk tubuh orang yang dia sayangi sampai di napas terakhirnya.

“Anabelle…” pada akhirnya, ketika Kyuhyun bersuara dengan nada parau, pria itu tahu benar keresahan hatinya terasa semakin nyata. “Apa benar aku menyukai gadis itu, Anabelle?”

Foto Anabelle mengenakan kemeja putih panjang dan rok yang berumbai-rumbai terus ditatap Kyuhyun. Kyuhyun masih berusaha mengingkari apa yang didengarnya dari Eunhyuk, tapi kemudian suara di hati kecilnya justru membenarkan semuanya. Ya, benar bahwa pria itu telah jatuh cinta lagi. Meski Kyuhyun sempat berjanji tak akan ada gadis lain di hatinya kecuali Anabelle.

“Tapi… aku tidak ingin melupakanmu Anabelle… dan aku tak ingin melupakan bagaimana banyaknya hal yang kukorbankan… jika aku harus memilih gadis itu atau persahabatan, menurutmu bagaimana, Anabelle?”

Kepala Kyuhyun tertelungkup di atas meja. Kini dia merasa amat penat.

“Aku… masa iya aku menyukainya, Anabelle?”

.

.

.

.

.

.

Naomi duduk dengan tak nyaman di kursi di ruang akademik. Di sampingnya ada Yoo Jung dkk yang kompak menundukkan kepala mengheningkan cipta, saling senggol-menyenggol dan lempar pelototan mata satu sama lain. Bagian akademik memanggil mereka semua ke ruang tata usaha yang serba tertutup. Awalnya Naomi pikir ini ada hubungan dengan seretnya Paman Eric membayar tunggakan kuliahnya (meski itu tidak mungkin karena plis, pamannya itu seperti ‘Paman Gober’ yang punya emas tak ada habisnya), tapi ternyata mereka dipanggil karena masalah seminggu lalu.

Beberapa dosen telah menyelidiki kecelakaan yang menimpa Naomi sampai gadis itu harus mengalami jahitan di bagian kaki dan tidak masuk kuliah. Seseorang yang telah memasukkan silet ke sepatu Naomi adalah Yoo Jung, si kakak angkatan yang memang dari awal sudah mencari-cari masalah dengannya.

Yoo Jung tampaknya masih dendam karena insiden berdarah kaset Tohoshinki-yang-istilahnya-panjang-sekali-itu.

Dan Yoo Jung sudah merencanakan untuk terus mencelakai Naomi. Maka, sebelum hal itu terlaksana, dosen dan bagian akademik mengambil tindakan tegas untuk gadis itu: Yoo Jung akan diskors selama satu semester. Tanpa dispensasi.

Sophie ikut hadir di ruang akademik sebagai wali Naomi, dan tersenyum lega ketika akhirnya keputusan menskors Yoo Jung keluar. Wanita itu juga sempat tak percaya bahwa mau tak mau kecelakaan itu terjadi karena TVXQ, karena salah satu boyband asuhannya. Meski pun tindakan Yoo Jung sudah sebegitu kejamnya, namun Sophie sempat mengatakan pada Yoo Jung akan menggantikan kaset yang telah Naomi rusak, bahkan beserta tanda tangan Yunho dan Changmin, bahkan kalau perlu kedua cecunguk (percayalah, Sophie menyebut Yunho dan Changmin seperti menyebut dua ekor tikus hitam menyebalkan yang siap ditendang sewaktu-waktu dari dapur rumah :p) itu mengantarkan langsung kaset limited edition ke tangan Yoo Jung.

“Sebenarnya aku memang sedeikit menyesal menciptakan gelombang hallyu wave, lihat saja mereka… gadis-gadis muda yang delusional dan berpikir kalau Yunho itu adalah pangeran tampan dari planet neptunus yang mungkin saja menyelamatkan mereka 12 tahun lalu. Mereka tidak sadar kalau mereka ini tak secantik Jun Ji Hyun, menyerupai Nikita Willy saja tidak, lalu bagaimana mungkin imajinasi mereka bisa sedemikian liar untuk mengikrarkan kalau Yunho bakalan jatuh cinta sampai kepati-pati pada mereka?” Sophie menarik napas sangat panjang akibat khotbahnya yang sebenarnya amat sangat tidak dimengerti Naomi karena percampuran antara bahasa inggris, perancis, dan bahasa minang (-_-).

Tapi kemudian Naomi sedikit heran ketika melihat Sophie hadir bersama Yesung. Setahunya, sepasang kekasih itu sedang bertengkar hebat selama beberapa hari. Meski Naomi tak mengerti penyebab pertengkaran mereka, kabarnya bahkan itu juga berpengaruh pada pertemanan Sophie, Yesung, Kyuhyun, bahkan juga Eunhyuk.

Yesung memang terlihat canggung saat menyadari kehadiran Kyuhyun di ruangan akademik, dan bagaimana Kyuhyun yang juga sengaja menghindari bersitatap dengan Yesung. Naomi tahu benar keduanya adalah orang yang sama-sama dewasa, tapi melihat betapa canggungnya mereka satu sama lain, seperti anak kecil saja.

“Apa kalian bertengkar?” Naomi akhirnya menanyakan perihal pertengkaran tersebut pada Sophie ketika urusan dengan Yoo Jung dan bagian akademik selesai.

Mereka berjalan menyusuri koridor kampus yang cukup ramai karena ini hari Senin, hari awal masuk kuliah. Terlebih beberapa orang juga sudah tahu Yesung dan Sophie akan datang hari ini, mereka ingin melihat rupa sepasang kekasih yang masuk daftar orang terkaya itu (dan untuk pertama kalinya, Naomi merasa bangga bisa mengenal orang yang teramat dikenal publik—terlepas dari status Naomi sebagai keponakan CEO Shinhwa Company yang super duper absurd itu).

“Maksudmu aku dan Yesung?” tanya Sophie memastikan.

“Ya…”

“Wah padahal kukira hanya aku dan Yesung yang tahu soal ini… ini masalah pribadi,” ujar Sophie.

“Tidak, kurasa semua orang tahu. Bahkan aku tahunya dari pihak ketiga kok, Onnie…”

Sophie membulatkan bibirnya. “Oh, ya? Apa kau membaca allkpop? Soompi? Naver?”

“Bukan… aku melihat berita pertengkaran kalian di majalah Winnie The Pooh…” Naomi memasang ekspresi aneh, “—dan sampai sekarang aku tidak mengerti kenapa ada berita kalian di majalah beruang madu dan babi merah muda.”

Sophie dan Yesung saling pandang, lalu tergelak.

“Astaga… berita pertengkaran kecil kita itu sampai kemana-mana ya efeknya?” Yesung tertawa renyah.

“Oh, kami memang sempat bertengkar. Tapi lihat, sekarang kami kembali akur.” Sophie merangkul lengan Yesung dengan mesra sembari menunjukkan cengirannya.

“Ah, syukurlah…” Naomi menganggukkan kepala.

“Sophie bukan tipe orang yang bisa diajak bertengkar dalam jangka waktu lama. Wanita ini, kalau disuruh mengingat kredit orang, sampai ratusan tahun dan jumlah komanya saja hapal, tapi kalau soal yang lain… bukankah sudah kubilang dia punya penyakit amnesia?” Yesung mencubit pipi Sophie gemas.

Naomi tertawa. “Tentu saja aku ingat soal itu.”

“Kurasa, masalah sebesar apapun tidak bisa membuatku berpaling dari Yesung.” Sophie menatap Yesung penuh binar, kemudian berpaling ke Naomi sambil berbisik, “dia seperti cenayang, pasti dia sudah memantraiku untuk tidak bisa marah padanya lama-lama.”

Honey, aku dengar bisikanmu yang keras itu lho…” celetuk Yesung pura-pura marah.

Naomi dan Sophie kompak terkekeh.

“Ah, tapi Onnie… yang kudengar pertengkaran kalian juga berimbas pada professor dan Paman Eunhyuk?” tanya Naomi lagi.

Sophie menatap Yesung. Yesung menatap Sophie. Dan keduanya saling membuang pandang.

“Oh, dear… its just… mm… masalah antara aku dan Yesung beda dengan masalah yang sedang menimpa pertemanan kami. Tapi tenang saja, bukan masalah serius.” Sophie melempar senyum manisnya.

Mereka kembali berjalan menuju parkiran. Yesung sengaja berjalan di belakang, membiarkan Sophie dan Naomi beriringan di depannya.

“Beda ya…” Naomi tampak memikirkan sesuatu. “Rasanya tidak nyaman, Onnie.”

“Tidak nyaman kenapa, dear?”

Naomi menggeleng pelan. “Kalian bertiga adalah sahabat yang aku tahu amat dekat, dari kecil, kan?” Naomi tersenyum tipis mengingat cerita-cerita pertemanan Sophie, Kyuhyun, Yesung, dan Eunhyuk yang selalu diceritakan Sophie padanya. “Sekarang melihat kalian ada dalam satu ruangan tanpa saling melempar canda atau bertegur sapa… apa itu tidak nyaman?”

Naomi menoleh pada Sophie dan menatapnya lekat-lekat. Saat itu dilihatnya Sophie tersenyum tipis, bukan senyuman yang biasa ditunjukkan wanita itu padanya. Senyuman Sophie mengandung kesedihan dan kepiluan.

Onnie, kenapa?” Naomi merasa bersalah karena mulai sadar bahwa dirinya telah menanyakan pertanyaan yang salah. “Onnie… maafkan aku… aku tidak bermaksud… aku…”

“Tidak apa-apa, Naomi sayang…” Sophie mengelus pipi Naomi lembut. Matanya menerawang kosong ke depan. “Aku hanya saja mulai berpikir, sepertinya ucapanmu benar. Aku… juga… tidak nyaman dengan ini semua…”

Onnie…”

“Menurutmu aku harus melakukan apa ya, Naomi?” Sophie mendesah pelan. “Kyuhyun, Yesung, dan Eunhyuk, dan aku… kami jadi begini…”

Naomi menggigit-gigit bibir bawahnya gusar. Jujur, dia ingin membantu memecahkan masalah Sophie meskipun tak begitu mengerti apa yang menyebabkan keempat sahabat ini bertengkar. Naomi menatap Yesung yang sibuk menelepon dan berbicara dengan bahasa asing, pria itu tak begitu memperhatikan pembicaraan antara Naomi dan Sophie.

Mendadak Naomi mendapat akal, dia tersenyum kecil, dan mengkodekan Sophie untuk mendekat padanya. Lalu membisikinya sesuatu.

.

.

.

.

.

.

Kyuhyun berulang kali mengecek harum napasnya dan memastikan bahwa harum macaroon yang disantapnya setengah jam lalu tidak meninggalkan aroma manis yang menguar ketika mulutnya berbicara nanti. Macaroon? Dosen? Dosen dan macaroon? Oh, peeeeuuhhlis, Kyuhyun! Jika ada teman-teman lamanya yang tahu, seorang Kyuhyun kembali makan makanan manis, mereka semua akan langsung mengerubunginya dengan membawa panci dari rumah masing-masing, sambil berteriak: “astaga demi naga bonar jadi tiga kali tiga sama dengan sepuluh kurang satu!! Kyuhyun… kau mau gembul lagi?! Kau ingin menghancurkan program gym dan diet ketat yang selalu dilakukan supaya perut nasi kotak-kotakmu itu tidak berubah jadi perut gelembung balon?!”

Dan mungkin saja almarhum Anabelle bakal kaget dan sampai melompat dari akhirat untuk mengocehinya panjang lebar, “sayang… kamu katanya nggak mau jadi teletubbies lagi? Oke, aku tahu kau pernah terobsesi dan menjadi delusi, menganggap dirimu adalah jelmaan Poo lalu melakukan gerakan-gerakan aneh sok imut yang menjijikkan pangkat sepuluh, tapi itu kan dulu sekali, Sayaaaaanggg…. Kau sudah tua, kau sudah hampir kepala tiga, bentar lagi kepalamu beruban, bentar lagi kau akan terdeteksi osteoporosis—well, sebenarnya aku tak mengharapkanmu mengidap penyakit itu. Tapi demi Tuhan, Sayaaaaanggg… serius? Kamu mau jadi gembul lagi? Di usia begini? Sayaaaannggg… jangan bikin aku balik hidup lagi cuma buat memberimu hidayah, kayak sinetron-sinetron di Indonesia itu yang mayatnya sok-sok suka bangkit dari kubur ituuu!”

Aduh, membayangkannya saja sudah membuat Kyuhyun bergidik, dan merutuki kenapa dia bisa sebegitu khilafnya untuk memakan hal-hal yang manis. Kyuhyun sudah berjanji untuk mengontrol makan, tapi kenapa akhir-akhir ini sarapan pagi, makan siang, dan makan malamnya selalu diisi dengan permen, cokelat, macaroon, gulali, dan semua yang berbau glukosa?

Jadi, ketika tadi sore Sophie mengiriminya pesan singkat untuk bertemu di bar di apartemen mereka, Kyuhyun langsung berkomat-kamit agar Sophie jangan sampai tahu dia makan macaroon. Meskipun status pertemanan mereka sedang dipertanyakan, bagaimanapun juga Sophie adalah salah seorang yang dulu mendorongnya untuk menguruskan badan. Dan catat, ocehan Sophie bisa lebih kejam dari Anabelle kalau sudah soal obesitas. Kalau Anabelle bisa bangkit dari kubur, mungkin Sophie bisa buruk lagi—wanita itu akan bangkit dari samping tempat tidur Kyuhyun SETIAP PAGIII!!

Kyuhyun tidak bisa membayangkan sebelum tidur dan saat bangun pagi, wajah orang yang dilihatnya adalah Sophie.

Sungguh, Kyuhyun tidak ingin mati muda.

Kyuhyun melangkah memasuki bar dan melihat Sophie duduk di booth biasa. Sendirian. Kyuhyun mendesah lega. Sophie menepati janjinya untuk bicara hanya empat mata dengan Kyuhyun. Jujur, Kyuhyun masih bingung jika harus menghadapi Eunhyuk dan Yesung disaat seperti ini. Diantara mereka semua, Kyuhyun paling bisa mentolerir kemarahannya pada Sophie, mungkin juga karena Sophie tidak terlibat dalam permasalahan kali ini.

“Hai, professor… kau telat dua menit lima belas detik,” sapa Sophie sambil memeluk Kyuhyun, seolah mereka sudah lama tak bertemu. Dan, memang mereka sudah lama tak bertemu. Sudah hampir dua minggu Sophie dan Yesung memilih untuk pergi dari apartemen Kyuhyun dan berpaling ke apartemen Tiffany.

Kyuhyun membalas pelukan Sophie dengan hangat, bahkan sempat mengacak-acak rambut sahabatnya itu. Rasanya Kyuhyun merindukan Sophie sedikit.

Oke, bukan sedikit, banyak sekali malah.

“Jadi, bagaimana harimu?” tanya Kyuhyun tak tahu harus memulai percakapan darimana.

Sophie memanggil Nexus dan memesankan cranberry dan carbonara untuknya dan Kyuhyun.

“Baik… tapi kami harus kembali ke Manhattan tiga hari lagi. Urusan di Korea sudah hampir selesai, tapi masih banyak lagi yang perlu dibereskan di Manhattan. Lalu setelah itu kami akan ke Jepang dan Taiwan. Astaga, kalau diingat-ingat, jadwalku penuh sampai akhir tahun.”

“Penuh untuk menemani Yesung, eh?” goda Kyuhyun.

Sophie tertawa kecil. “Yeah, begitulah… nasibku buruk sekali, ya?”

“Tidak juga. Kurasa semua gadis di dunia rela mati untuk berada di posisimu.”

Sophie tersenyum kecil. “I’ll take that as a compliment.”

As you please,” kata Kyuhyun.

Pesanan datang ke booth mereka. Kyuhyun menyambutnya dengan senang hati, namun baru saja dia ingin mengambil minumannya, dari arah pintu muncul Eunhyuk dengan jas rapi dan langkah mantap. Eunhyuk melambai kea rah Sophie, tapi begitu melihat kehadiran Kyuhyun, pria itu berhenti melangkah. Memasang tampak sama terkejutnya dengan Kyuhyun.

“Sophie… apa maksudnya ini?” Eunhyuk melempar pandangan kesal dan tak terima.

Sophie mengangkat bahu. “Oh, duduklah dulu, Eunhyuk. Sebentar lagi Yesung juga akan datang.”

“Yesung?” ujar Kyuhyun dan Eunhyuk terkejut.

“Astaga, lihat, kalian kompak sekali.” Sophie mengedipkan matanya.

Kyuhyun dan Eunhyuk mendengus, lalu saling membuang muka.

Tak lama kemudian, Yesung datang dan ekspresi yang ditunjukkannya sama dengan Eunhyuk. Dia tidak menyangka akan ada dua sahabatnya—Kyuhyun dan Eunhyuk disini. Tadi Sophie mengirimkan pesan bahwa hanya dirinya dan wanita itu yang akan makan malam di bar ini. Oh, seharusnya Yesung curiga kenapa Sophie memilih tempat ini. Kenapa tak terpikirkan, sih?

“Kalian semua sudah berkumpul disini. Aku senang sekali,” ujar Sophie bersemangat.

“Jadi kau yang merencanakan ini semua? Kau berbohong pada kami?” Yesung menatap Sophie sedikit kecewa.

Sophie hanya menunjukkan cengirannya. “Sebenarnya, bukan hanya aku yang merencanakan ini. Naomi juga…” Sophie menunjuk ke arah podium bar yang biasanya digunakan untuk band-band pop, kini justru dialihfungsikan sebagai panggung dengan latar taman bermain. Ada beberapa pohon tiruan dan bunga-bunga plastik menghiasi sekeliling panggung.

Kyuhyun, Yesung, dan Eunhyuk masih tak mengerti maksud Sophie. Tapi Sophie tak berniat menjelaskan lebih jauh dan hanya menyuruh ketiga sahabatnya untuk menonton panggung itu.

Panggung yang awalnya gelap, kini terang benderang, dan barulah ketiga pria itu sadar ada sebuah kereta dorong dan ketiga pemuda di atas panggung… yang memakai topeng bergambar Kyuhyun, Eunhyuk, dan Yesung!

Lalu terdengarlah rekaman tangisan bayi yang entah darimana, dan pemuda dengan topeng Eunhyuk mengangkat boneka dari dalam kereta bayi. “Lihat, dia justru berhenti menangis. Sudah kubilang, dia menangis karena melihat makhluk tampan—

Lolipopku!! Tidak, boneka ini, ah maksudku bayi ini!! Dia mengencingi kita!!” teriak pemuda bertopeng Kyuhyun.

Sophie mengencingi kita!!” pemuda bertopeng Yesung ikut-ikutan bersuara.

Kyuhyun, Yesung, dan Eunhyuk sontak tertegun melihat adegan itu.

“Tidak mungkin…” Kyuhyun menunjuk panggung.

“Itu… kita…?” Eunhyuk menatap lekat-lekat kea rah panggung. Itu adalah kejadian masa kecil mereka yang dipentaskan di panggung. Eunhyuk langsung menoleh pada Sophie, dan gadis itu hanya berkata agar jangan banyak komentar dan lanjutkan saja menonton. “Pemuda itu memakai topeng dengan wajahku yang paling tampan. Darimana dia mendapatkannya? Apa dia papparaziku? Apa dia dari website fansite Lee Hyuk Jae?”

Tidak ada yang ingin menjawab pertanyaan melantur Eunhyuk.

Kemudian muncul Naomi, yang kali ini mengenakan topeng Sophie. Naomi sempat tersenyum kea rah booth Sophie sebelum akhirnya berjalan masuk ke panggung dengan menggunakan gaun pesta.

“Kita akan mengadakan pesta ulang tahun yang transportasi, biaya penginapan, dan biaya lain-lainnya ditanggung oleh Yesung!” ujar Naomi dengan aksen perancis yang berantakan. “Ah, menyenangkannya, tahun ini usiaku enam belas tahun dan tahun ini aku masih bisa merayakannya dengan kalian.”

“Ya, terlebih karena ulang tahun kita jatuh pada tanggal yang sama. Kita ini kan, generasi 13—generasi paling keren, iya kan?” pemuda bertopeng Kyuhyun merangkul bahu Naomi.

“Hei, aku punya ide! Bagaimana kalau kita juga sekalian menyiapkan surat untuk masing-masing dari kita? Tentang harapan kita jika sudah tua, tentang cita-cita kita, lalu kita simpan dalam kapsul waktu?” tawar pria bertopeng Eunhyuk.

“Setuju!”

Mereka semua mengeluarkan selembar kertas dan berakting seolah-olah tengah menuliskannya.

“Selesai!” seru Naomi. “Bagaimana kalau kita membacakannya terlebih dahulu? Mulai dari aku, ya?” Naomi tersenyum lebar, membuka gaunnya yang ternyata dilapisi dengan piyama bergambar princess, dan Naomi mengenakan wig berwarna putih. “Kalian tahu cita-citaku saat kecil? Aku ingin jadi princess, dan sekarang… umurku sudah lima puluh tahun… uhukk… uhukk…namun, sekarang aku adalah princess untuk suamiku. Dan tetap jadi yang paling cantik diantara kita… uhukk… uhukkk…”

Pemuda bertopeng Eunhyuk mengangkat tangan dan berkata akan membacakan suratnya juga. Dia membuka kaos bola yang dikenakannya, yang ternyata dilapisi oleh jas hitam rapi. “Halo, inilah Eunhyuk saat usianya enam puluh tahun. Tetap tampan dan menawan diantara semua anggota generasi 13, sst! Jangan protes! Perawatan di salon memang yang terbaik dan hiburan dari gadis-gadis cantik juga yang terbaik diantara yang terbaik, aku mencintai kalian semua. Cita-citaku? Aku sempat ingin jadi pemain bola, tapi lalu beralih menjadi atlet lari, dan sempat bekerja jadi pemilik bar. Kalau sekarang? Aku adalah pengusaha susu bubuk bayi terbesar di dunia… dan tetap tampan luar biasa… uhukkk… hei, aku tidak terlalu tua seperti Sophie… hihihi.”

Pemuda bertopeng Kyuhyun maju dan membuka kaos kebesaran miliknya, yang dilapisi dengan kemeja di belakangnya. “Cita-citaku: aku ingin jadi kurus. Ehem, sepertinya minggu ini beratku turun 0,00001 kg. Semangat, Kyuhyun! Besok-besok dan bahkan bertahun-tahun yang akan datang, kamu akan jadi seseksi Leonardo DiCaprio. Dan, Anabelle, terimakasih atas kehadiranmu. Sulit mengatakannya, tapi kau tahu kan aku mencintaimu bahkan lebih dari yang aku sadari.”

Kemudian pemuda bertopeng Yesung maju dengan pelan. Dia membaca suratnya dengan suara berat. “Sahabat-sahabatku, ketika kita membaca kembali surat ini, aku ingin tahu apakah keinginan kita sudah jadi kenyataan. Apakah kita tumbuh menua dengan baik. dan yang paling penting, apakah kita tetap bersama-sama? Kita bertemu dengan sederet garis merah yang sudah ditakdirkan Tuhan. Aku di masa lalu, aku di masa sekarang, dan aku di masa yang akan datang, adalah karena kalian yang terus bersamaku. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana aku menghabiskan waktu jika tanpa kalian. Jika kita sudah berumur lima puluhan, apa kita masih melakukan hal-hal konyol seperti berebutan channel tivi kabel? Apa kita masih suka berkumpul di Kim’s? Aku hanya ingin kalian tahu, sekarang atau lima puluh tahun lagi, aku tetap menyayangi kalian.”

Naomi maju ke depan panggung bersama ketiga pemuda yang memakai topeng. Suara tepukan tangan terdengar dari penjuru bar. Gadis itu membuka topengnya, lalu memamerkan senyuman lebarnya. Wajahnya tampak sembab karena berusaha menahan tangis.

“Kata Sophie Onnie, ini adalah sepenggalan surat yang kalian tulis belasan tahun lalu dan masih kalian simpan untuk dibaca puluhan tahun yang akan datang…” Naomi menatap Kyuhyun, Yesung, Eunhyuk, dan Sophie bergantian. “Dan bisa kalian bayangkan? Mungkin saja yang terjadi di panggung ini… adalah apa yang akan terjadi puluhan tahun kemudian, saat kalian kembali membuka kapsul waktu yang sudah disimpan.”

Kyuhyun, Yesung, dan Eunhyuk saling pandang dengan canggung.

“Bukankah rasanya indah, jika ketika membuka kapsul itu, kita tetap bersama-sama?” bisik Sophie, menggenggam tangan Kyuhyun dan Eunhyuk erat.

Kyuhyun mengangkat kepalanya, menatap Sophie, menatap Eunhyuk, dan kemudian Yesung. Lalu, mendeah pelan, “…ya, rasanya pasti menyenangkan.”

“Aku seperti bisa melihat masa depan kita di panggung itu… jadi kenyataan…” ujar Yesung pelan.

Eunhyuk menganggukkan kepala pelan. “Bukankah menyenangkan disaat umurmu enam puluh tahun, wajahmu masih seperti topeng yang mereka pakai?”

Sophie tertawa sambil menahan air matanya. “Jadi, tunggu apa lagi? Kita berbaikan, kan?”

Yesung, Kyuhyun, dan Eunhyuk saling berpandangan sesaat, kemudian kompak menganggukkan kepala. Mereka berempat berpelukan erat-erat dan tertawa penuh lega.

Entah masalah yang terjadi kemarin-kemarin, mereka sudah melupakannya. Mereka ingin memulai segalanya dari awal, dengan lebih baik. Ada hal yang lebih penting dari ego mereka, yaitu kebersamaan mereka.

Dan Naomi dari atas panggung sibuk menyeka air matanya yang berlinangan. Dia berterimakasih pada Tuhan karena sempat diperlihatkan persahabatan yang begitu indah di depan matanya.

.

.

.

.

.

.

“Jadi, siapa tadi pemuda bertopeng itu?” tanya Yesung.

“Ah, itu… anak-anak SHINee. Membudidayakan anak didikku adalah yang terbaik dan tergratis,” cengir Sophie.

Mendengar jawaban kekasihnya, Yesung langsung mengetuk kepala wanita itu gemas. “Kau ini masih… saja pelit…”

“Aduh, salahkan gen minangku dong.” Sophie berusaha membela diri.

“Hei, tapi tadi aktingmu bagus, Naomi,” puji Eunhyuk. “Kau terlihat lima puluh tiga kali lebih cantik dibanding Sophie dalam balutan piyama itu.” Eunhyuk menyeruput scotch miliknya lalu berdecak pelan, “apa kau bisa menggunakan piyama itu lagi jika ke apartemenku?”

“Wah, terimakasih, Paman.” Naomi tersenyum, lalu menambahkan dengan raut serius. “Tapi soal tantangan berpiyama di apartemen 13, aku menolaknya, Paman. I know your motive, you son of a bitch.

“Aku yang mengajarkan Naomi mengumpat, aku hebat kan?” celetuk Sophie ketika dilihatnya ekspresi Eunhyuk hampir terjengkal dari kursi mendengar umpatan Naomi.

“Kau mengajarkan kekurangajaranmu itu pada gadis lain?” Yesung mengerang, “oh, itu baru tunanganku.” Yesung mengecup pipi Sophie, yang langsung disambut dengan lemparan garpu dari Kyuhyun. Sementara Naomi hanya tertawa-tawa.

“Kau pintar akting, Naomi… ada niat untuk keluar dari Sungkyungkwan dan bergabung dengan SM Academy tidak?” tanya Kyuhyun. “Biar bebanku berkurang.”

Naomi mengerucutkan bibirnya. “Aduh, maaf ya, Professor. Hobi saya itu membebani professor.”

“Sialan kau, Naomi,” gerutu Kyuhyun, “…oh, sialan juga kau, Sophie. Kau apakan muridku sampai dia seperti ini?” Kyuhyun mengumpat-umpat sebal, dan membuat semuanya tertawa. Mereka semua tengah berkumpul di booth biasa setelah pementasan selesai. Keadaan menjadi lebih santai dan cair.

“Hei, Naomi… meskipun sebenarnya tidak pantas membahas masalah ini sekarang, tapi aku mau tanya… bagaimana hasil tes kehamilanmu?” tanya Yesung.

“Hm, sudah keluar. Hasilnya negatif.”

“Alhamdulillah…!” seru Eunhyuk.

Sophie langsung melotot. “Sejak kapan kau beragama?”

Dan yang ditanya hanya tertawa. “Oh, ayolah. Sekali-kali aku tobat tak masalah, kan? Ah, tapi kalau misalnya hasilnya negatif… berarti masalah ini selesai kan?”

Naomi berpikir sesaat. “Ya, sepertinya sih begitu…”

Tiga hari lalu Naomi memang sudah ke rumah sakit dan mengecek hasilnya. Dia sampai melompat-lompat kesetanan mendapati dirinya tidak mengalami gejala-gejala kehamilan atau apapun itu. Dan dilihat dari hasil itu pun, Naomi mulai berpikir mungkin ucapan Mia tempo hari ada benarnya. Bahwa mungkin saja memang hanya kesalahpahaman dan tak terjadi apa-apa. Syukurlah kalau begitu… syukur sekali.

“Tapi, aku masih penasaran, kenapa bisa kita semua terbangun dalam satu ruangan dengan kondisi seperti itu, ya?” tanya Kyuhyun sambil menopang dagunya.

“Sebenarnya, aku juga masih penasaran…” Naomi ikut menopang dagunya.

“Jangan mengikuti poseku.” Kyuhyun mendorong pelan dagu Naomi. Gadis itu langsung membelot sebal.

“Itu… kau waktu itu… berbohong kan, Kyu? Bukan beneran?” tanya Yesung sambil meringis. “Yang kau akui di kamar Naomi tempo hari…” bisiknya.

“Oh, come on… Kyuhyun bukan pelakunya, kalian seharusnya tahu.” Eunhyuk merapikan jasnya.

Yesung menoleh ke Eunhyuk. “Kau yakin sekali Kyuhyun bukan pelakunya… kau… jangan-jangan kau tahu siapa pelakunya?” tembak Yesung curiga.

Eunhyuk tertawa kecil dengan gaya angkuh. “Tentu saja. Sudah kubilang di awal kan, aku mulai ingat semuanya. Aku ingat bagaimana ekspresi Kyuhyun dan Naomi… oke, lewatkan bagian itu. Intinya, aku sudah ingat SEMUANYA.”

Kini semua orang di booth saling berpandangan.

“Jika kau sudah ingat, apakah kau tahu siapa yang berbohong?” tanya Naomi hati-hati.

Please…” Eunhyuk tersenyum penuh kemenangan. “… jelas aku tahu.”

Semua masih saling berpandangan.

“Tidak ada yang ingin mengaku sekarang juga?” Eunhyuk menggoyang-goyangkan gelas scotch-nya dengan gaya dramastis, memandangi Naomi, Kyuhyun, Yesung, dan Sophie bergiliran. Ketika bersitatap dengan Sophie, Eunhyuk mengacungkan gelasnya ke depan wajah wanita itu. “Sophie…? Bagaimana? Kau juga sudah mulai ingat siapa yang melakukannya kan?”

Kyuhyun melongo. “Sophie?” Kyuhyun menatap Sophie dan Eunhyuk bingung. “Kau ingat?”

“Oh, shit. Sophie yang pelupa saja ingat. Kenapa aku tidak?” gerutu Yesung pelan.

Please, of course she remember.” Eunhyuk mengedipkan mata. “Sebenarnya—“

“Sebenarnya, aku pembohongnya.”

Ucapan Eunhyuk terputus saat Sophie angkat bicara. Wanita itu mendorong gelas Eunhyuk sedikit kencang dan isinya tumpah ke meja. Eunhyuk mendelik kaget.

“Sophie?” Yesung hampir-hampir menjatuhkan garpunya.

“Yap, our princess…” Eunhyuk mengangguk sok tampan..

“Onnie…?”

Sophie menunjukkan cengirannya. Bola matanya menatap satu persatu penghuni booth dengan tatapan bersalah namun disertai tawa kecil yang penuh kegelian. “Sudah saatnya aku mengaku ya? Jadi, dengarkan ini baik-baik: Actually… I’m… the liar… in apartement 13.

.

.

.

.

.

.

To be continued

Hahahaha apa ini? guajeee banget sumpah ya oloh… maapin aku… ini cerita makin lama makin absurd dan aku ampe sakit perut sendiri bikinnya

xDDDD

hahahaha, kritik, saran, bashing, peluk, cium, duit, kue, dan spagheti, semua diterima. feel free buat ngomen😀

 

20 thoughts on “Don’t Trust The Liar In Apartement 13 (Part 7)

  1. Ternyata bukan Kyuhyun. Tapi Loh! ternyata si Sopie yang jdi biangnya, gimna bisa. Nggak nyangka dan aku nggak ngira2 bakalan dia. ckk.

    Aku terharu banget dibagian generasi 13 ngulas surat kapsul yang mereka bikin, the best scane deh di part ini. Manisnya persahabatan mereka😄

  2. Whaaaaaatttt
    Jadiiii
    Dari part 1 ampe part 6 itu kita diarahkan ke pelaku yang salahhh?
    Apa maksudnya sophie pembohongnyaaa?
    Demi apa???
    Dia yng paling waras disini menurutku
    Dan trnyt dia pembohongnyaaaaaa???!!!!!

    Sumpah dehhh

  3. jiirrrrrr-_- dr part 1 sampe 7, dg prolog” yg kece tentang persahabatan mereka, tp part ini sedikit lebay ._.v oh bukan sedikit tp memang lebay v._.v *itu menurutku* aku tungguin siapa sebenernya yg bohong dr ketiga laki” itu, tp knp akhirnya sophie yg bohong :vv sophie si pelit, the liar in apartement 13, the L.I.A.R!!! *oke ini sedikit lebay* dan selama ini sophie cuma akting gitu? *luar biasa :v tpi yasudahlah, ini kewenangan author, yg ngibulin aku sampe part 7 ini-____- apasih motif sophie sebenernya, penasaran nih thor gegara kamu :3 dan btw, kemungkinan diatas ada 2 typo xP
    Keep writing ya!!!! tinggal 1 part kan :3

  4. hah? buat apa sophie begitu? o.O
    Iya sih lumayan gaje, persahabatannya ga gerefet gitu, aku ga nge-feel.
    semoga aku bisa dpt feel-nya ya thor.

  5. oke, ini sedikit lebay.
    Tp ini indah sekali soph!😀
    Berantem lalu berbaikan krn drama musical dadakan dgn shinee sbgai pemeran utama.
    sweet bgt!!😀
    Btw, bs kau paparkan peran onew, jonghyun, key, minho & taemin di dramus dadakan itu sop?

    Trus knp si naomi bs tb2 nangkring di apatemen 13?
    hohoho…
    Aq penasaran.

  6. Eah, prolognya sumpah sophie bikin envy deh, ke3 sahabatmu bisa kau hibahkan ke aku ga ? Oh ia sebenarnya bagaimana perasaan yesung ke shopie ? Ku pikir semenjak yesung jadi pasangan shopie dan relain anabelle jadi pasangan kyuhyun di situ yesung mulai menyukai shoppie. Dan lg kenapa eunhyuk di ff ini selalu jadi paling nista wkwkwk poor hyuk sayang.. Untung saja hyuk ga sampe nggugat shoppie ke pengadilan agama -_-

  7. Aiss…. aq kira beneran kyuhyun. Ternyata cuma ngaku2. Udah mau tamat kah sop? Sedikit ga rela sih…
    Waktu kyuhyun monolog sambil pegang foto na annabelle rasa na ikutan nyesek. Itu jadi adegan fav aq di chap ini. Semoga kyu bisa terbuka sama perasaan na ke naomi. Penasaran jg sih sama motif na sophie. Apa dia sengaja ya deketin kyu sama naomi? Ahh…au deh. Di tunggu lanjutan na ya sop!!
    Kok aq kangem sama mia ya… chap depan nongol ga itu anak?

    • iya besok part terakhir
      kita bakal tau apakah ehmmm kyu sama naomi
      hyuk sama naomi
      atau aku sedang gila dan merencanakan hal absurd lain seperti… sophie kabur dari altar dan nikah sama naomi?
      *plak
      who know dehh xD

      chap besok mgkn dia nongol
      kalo aku mood hahaha *digetok mia

  8. ya ampun ternyata ‘Sophie Maya’ pelakunya..
    kak sophie bener bener deh bikin ketiga cecunguk itu kelimpungan merasa bersalah..
    yah aku harap akhir yang bahagia untuk kyuhyun. Amien
    hehe

  9. wuiih sempet syok d kira kyuhyun oppa yg nidurin naomi,trnyata dia pura2 mengakui spy mslhny slesai,tp mlh bikin kacau ampe dia d hajar eunhyuk oppa.yesung oppa jg mlh ikutan,,jdny tmbh kacau kan?! kerasa bgt konflikny d situ..aplg pas mrk ber4 brtengkar hebat
    sm prologny jg bikin nyesek yg nyeritain knp annable mnjauh dr kyuhyun krn kyuhyun lbh.merhatin sophie shbtny..pdhl sophie udh blg klo annable lbh butuhin perhatian kyuhyun.jdny,annable nganggep klo kyuhyun suka sm sophie,trs akhirny sms yg d trima kyuhyun dr annable yg bikin kyuhyun sadar..
    oh,jd trnyata dlu yesung oppa suka sm annable yg udh d jodohin sm ortu,tp sygny annable suka sm kyuhyun n dia relain annable bwt kyuhyun..oh oppa kau trlalu baik,,
    naomi jg tau aj klo mrk br4 lg brtengkar,fuiih..untung aj dia gtw klo yg jd bhn prtengkaran mrk itu dia.itu lbh baik drpd naomi tw,n klo dia tw bkln ngerasa brslh lg krn bikin prshbtn mrk renggang
    sophie eon,,mkin mndkti klimaks udh dpt clue siapa ngebo’ong,jd g sabar gmn akhirny ntr..
    n bwt penutup..smangat y sophie eon bwt skripsiny,smoga lancar n cpt lulus ^_^

    • Iyaa naomi mah terlalu polos buat mengerti apa yang tengah terjadi
      Yeahhh meskipun dia juga udh terkontaminasi sama si sophie
      Iyaaa anabelle itu dulu direbutin ama yesng ama kyu,tapi yesung ngalah
      Dan sempet ngejauh
      Itu juga yang jd alasan knp yesung ga tgl bareng kyu sama eunhyuk d korea

      Betewe ini episode dua terakhir
      Jd part selanjutnya adalah part ending
      Ditunggu yaa

Just talking...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s