A Cup Of Lee (Part 3)

Sebagai penulis, aku akan memberitahumu akhir kisah ini: bahagia.

Menurutku sih, begitu.

Tapi aku tidak bisa menentukan apakah akhir kisah ini akan bahagia bagimu atau tidak.

Kutegaskan, konsep kebahagiaan berbeda-beda tiap orang.

Aku akan memberimu gambaran, cerita ini tentang Song Ji Hyo, wanita yang mencintai Lee.

Tapi dia bertemu dengan Lee lain yang membuatnya menggila.

Dan sampai pada satu titik, wanita sialan ini harus menentukan kebahagiaannya sendiri.

Lee mana yang harus dipilih?

Tenang saja, cerita ini akan berakhir bahagia.

Setidaknya, menurutku sih begitu.

.

.

.

Author : Sophie Maya

Title     : A Cup Of Lee (Part 3)

Cast     : Song Ji Hyo, Lee Hyuk Jae, Lee Dong Hae

Support Cast: Song Joong Ki, Ryeowook

Genre  : unknown

Rated  : PG-19+

Length: chaptered

Type    : ?

Summary         : Lee itu seperti toxin, kau bisa jadi zombie jika terkena virusnya. Kau bisa jadi zombie… yang sedang jatuh cinta… dan hidup dengan satu tujuan: mencintainya.

wpid-a-cup-of-lee-jpg1cr pic: shinme @cafeposterart

Disclaimer       : this story is MINE.

.

.

.

.

.

.

Ji Hyo membuka mata tepat ketika Tiffany dan kawan-kawan menjerit-jerit mengganggu dengan sapaan “yeoboso? Moshi-moshi? Hallo?” yang didengungkan berulang-ulang dan sukses membuat gendang telinga Ji Hyo jumpalitan di pagi hari. Gadis itu sukses menggeliat keluar dari selimut beludrunya, uhm, tidak terlalu sukses sih, karena begitu berhasil keluar dari balutan beludru berwarna cokelat tua yang dibelinya di Paris dua tahun lalu, gadis itu justru berguling jatuh ke lantai, dan lututnya terantuk meja rias di samping tempat tidur.

Ji Hyo mengaduh, meringis, dan mengumpat serapah. Tapi gadis dengan rambut bergelombang itu masih belum cukup sadar untuk sekedar mengecek keadaan lututnya. Dia menguap lebar, dan mengesot malas-malasan keluar kamar. Lupakan fakta bahwa baru dua minggu lalu iklan vitamin anti aging-nya mendapat sambutan positif dengan konsep putri tidur yang terlihat tetap muda, cantik, dan menarik. Pada kenyataannya, Ji Hyo lebih mirip monster peranakan Hulk jika sedang tidur.

Dan keadaan gadis itu lebih parah lagi ketika dirinya terbangun dari tidur. Maka dari itu, cermin di depan pintu kamar sengaja benar tidak dilirik Ji Hyo.

Gadis itu terus mengesot, hingga sampai ke sofa depan tivi. Suara Tiffany sialan itu berasal dari alarm di ponsel, dan ponselnya tergeletak di lengan sofa. Ji Hyo meraih ponsel itu, lalu dengan tatapan ala ibu tiri, memencet tombol “dismiss alarm”.

Selamat tinggal Tiffany dan SNSD, sampai jumpa lagi dengan suara cempreng kalian besok pagi.

Ada beberapa pesan mampir di ponsel Ji Hyo. Gadis itu merangkak naik ke sofa dan membacanya dengan mata sipit, pesan itu dari Josh, manajernya. Ada tiga pemotretan pagi ini dan dilanjut dengan kasting untuk video iklan jam tiga sore nanti. Ceklis, ceklis, ceklis. Ji Hyo memasang alarm pada jam-jam yang disebutkan Josh, lalu mengirimkan pesan pada Josh bahwa mereka akan bertemu di tempat pemotretan pertama.

Ji Hyo berjalan ke dapur, menyalakan frypan, dan mengocok telur serta mencampurkannya dengan soda kue dan terigu. Gadis itu sedang membuat pancake ketika ponselnya berbunyi. Telepon dari Josh.

“Ada apa lagi, Josh? Aku sudah membaca pesanmu dan sedang bersiap-siap.” Ji Hyo menguap lebar dan berharap aroma mulutnya bisa tercium Josh, karena terkadang sikap manajernya itu cukup menyebalkan.

“Ji Hyo, kenapa sih kau selalu tidak mau aku jemput? Aku tidak percaya kau bisa datang tepat waktu di permotretan pertama hari ini.” Suara rendah Josh terdengar di seberang sana.

“Josh, kukatakan berkali-kali. Aku tidak pernah naik mobil pribadi, aku lebih suka naik angkutan umum. Kau tahu kan sebabnya.” Ji Hyo memutar bola mata sebal, karena sungguh, dia malas jika Josh terus mempermasalahkan hal ini. Bukankah seharusnya Josh senang karena tidak perlu susah paya mengantar dan menjemput Ji Hyo kemana pun?

“Oh, come on, Ji Hyo… kau harus move on. Kau kecelakaan mobil sudah lima tahun lalu, tapi kenapa masih parno, sih?” Josh menggerutu.

Ji Hyo menarik napas dalam-dalam. Kecelakaan lima tahun lalu yang dialaminya saat sedang mengendarai mobil seorang diri cukup membuatnya trauma. Semenjak saat itu, betapa padat jadwalnya, gadis itu tak pernah mau diantar pakai mobil pribadi. Dia lebih suka naik mobil angkutan umum yang menurutnya lebih aman.

“Josh, lima belas menit lagi aku sampai di sana. Aku… oh, astaga! Pancakeku!” Ji Hyo melirik ke kompornya dan menyadari ada asap mengepul-ngepul diatasnya. “I will call you back, Josh.” Dan Ji Hyo memutuskan sambungan Josh, kemudian berlari cepat ke arah kompor. Gadis itu kocar-kacir mematikan kompor dan berusaha mengangkat pancake yang gosong. Sekali lagi, dia mengumpat kesal melihat sarapan paginya berantakan.

Ji Hyo menaruh ponselnya di dekat wastafel ketika dia mengambil piring untuk pancake. Beruntung hasil pancake itu tak buruk-buruk amat. Rasanya tetap nikmat meski pancake itu tak berbentuk. Ji Hyo mengunyahnya beberapa potong, lalu menenggak air putih, baru setelah itu dia berlari cepat ke kamar mandi. Setidaknya, meski paginya (selalu) berantakan seperti ini, dia tetap tak boleh terlambat sampai di tempat pemotretan.

Beberapa detik kemudian, apartemen yang sepi itu hanya menggaung suara shower dari kamar mandi. Dan tidak ada yang mengindahkan layar ponsel milik Ji Hyo yang terus berkedap-kedip di samping wastafel.

Song Jong Ki calling…

.

.

.

.

.

.

Ini musim salju, dan majalah Elle meminta Ji Hyo untuk pemotretan musim panas. Gadis itu memakai baju renang keluaran Choi Haris, salah satu desainer ternama di Korea, dan berpose di atas balokan es dalam studio yang sengaja dirancang oleh tim kreatif sebagai “miniatur kutub utara”.

Ji Hyo merasakan sensasi luar biasa dingin, dan tubuh ringkihnya seolah menjadi bangunan Eskimo yang kaku. Mr.Choi datang dengan sikap melambainya, berdadah-dadah ria kepada semua kru yang tengah bersiap diri, kemudian pria berperawakan jangkung itu melihat sosok Ji Hyo yang seketika membuat matanya berkilat semangat.

Sweety… kau datang tepat waktu, as always, Ji Hyo is the best. Thats why, aku tidak mau jika rancangan super ku ini bukan kau yang memakainya, Sweety…” Mr. Choi memeluk Ji Hyo, mereka cipika-cipiki, dan saling melempar senyum.

“Terimakasih sudah mempercayakan pemotretan ini padaku, Mr.Choi. tapi bisakah kita mulai sekarang? Sebelum aku mati beku dan Korea akan kehilangan salah satu model mereka.”

Mr.Choi tertawa. “Baiklah, Sweety… aku tidak akan memintamu untuk bergaya ini-itu. Just the way you think, aku tahu posemu selalu sempurna.”

Ji Hyo mengulum senyum mendengar pujian Mr.Choi. Pemotretan berlangsung selama dua jam dan Josh langsung menempelkan hotpack ke sekujur tubuh Ji Hyo begitu dilihatnya gadis itu keluar dari studio dengan gerakan robot rusak. Kaku, patah-patah, dan sepertinya seluruh tulang Ji Hyo beneran bakal patah.

“Bi…bi…sakah… kita makan… sesuatu yang hangat dulu… setelah ini…?” tanya Ji Hyo dengan bibir bergetar karena kedinginan.

Pemotretan musim panas di musim dingin benar-benar pemotretan yang amat dibenci Ji Hyo. Berpose ala orang kepanasan sementara suhu udara benar-benar mengajak mati, seperti orang idiot yang cari gara-gara dengan mengerjakan soal kalkulus.

Jika bukan karena keprofesionalannya, Ji Hyo lebih baik mendekam di bawah selimut beludrunya saja.

Josh mengalungkan handuk tebal disekujur tubuh Ji Hyo dan memandang gadis itu penuh bersalah. “Sebenarnya aku mau-mau saja, tapi pemotretan selanjutnya dimulai dua puluh menit lagi. Dan letak studionya jauh dari sini, kita tidak akan sampai tepat waktu jika makan.”

“Oh…, si…al…an,” umpat Ji Hyo masih dengan tubuh kedinginan. Dia duduk sebentar di kursi kayu, menarik napas panjang. Sementara Josh memberikan minuman jahe hangat padanya. Hal itu cukup membuat Ji Hyo sedikit merasa baik.

Mr. Choi datang dan mengucapkan banyak terimakasih pada Ji Hyo, pria itu puas sekali dengan pose-pose yang diberikan Ji Hyo saat pemotretan tadi. Dan mengantar Ji Hyo sampai ke parkiran dan menatap sampai taksi yang disewa Josh dan Ji Hyo menghilang di balik tikungan.

Beruntung pemotretan kedua dan ketiga sama sekali bukan pemotretan musim panas. Pemotretan kedua mengambil setting christmast dan Ji Hyo memakai jaket beludru super hangat berwarna hijau tua. Ji Hyo tak bisa berhenti tersenyum di depan kamera karena dia merasa seperti memakai selimutnya sendiri. Dan pemotretan ketiga berlokasi di kafe kawasan Cheongdam, di bagian outdoornya. Salju sedikit bersahabat sehingga pemotretan berjalan amat lancar. Dan Ji Hyo langsung melompat memeluk Josh begitu melihat manajernya itu membawakan samgyetang saat pemotretan ketiga berakhir.

Perutnya sudah berbunyi dari tadi.

“Terimakasih, Josh. Kau yang terbaik!” Ji Hyo mengacungkan kedua jempolnya sambil menyesap dalam-dalam aroma samgyetang.

“Hahaha, kau baru menyadarinya, Ji?” Josh tertawa bangga. “Makan pelan-pelan dan jangan sampai tersedak, ingat, satu jam lagi kita ada kasting video. Kau harus tampil sempurna agar bisa menjadi model video JYJ.”

“JYJ?” Ji Hyo menghentikan suapannya dan terbelalak. “JYJ? Ada Yoochun-ku berarti?!” Ji Hyo mengidolakan Yoochun dari lama, jadi dia kaget ternyata akan kasting video JYJ.

Josh mengangguk bangga. “Aku susah payah mendapatkan spot kasting ini karena aku tahu kau mengidolakan pangeran balkon itu.”

Ji Hyo terkekeh. Sejak Yoochun bermain di drama Rooftop Prince, Josh selalu meledek pria itu dengan “Pangeran Balkon”.

“Tapi aku mau tanya, apa kau meninggalkan ponselmu di apartemen? Sedari tadi Joong Ki menghubungiku terus. Aku ingin memberitahumu, tapi lupa terus karena jadwal kita hari ini padat…”

“Joong Ki?” Ji Hyo mengobrak-abrik tas untuk mencari ponselnya, dan menyadari bahwa ponselnya memang ketinggalan, di wastafel seingatnya. Ji Hyo meminjam ponsel Josh dan mencoba menghubungi Joong Ki. Karena biasanya, adiknya yang super sibuk itu tak akan rela menghubunginya jika bukan karena masalah serius. Ditambah, Ji Hyo juga masih merasa bersalah karena menelantarkan chef baru mereka kemarin.

Pada dering ketiga, Joong Ki mengangkat telepon.

“Joong Ki?” sapa Ji Hyo.

“Noona? Oh, syukurlah! Akhirnya!” terdengar erangan keras Joong Ki. “Noona, aku sudah berusaha menghubungimu, ratusan kali, catat, ratusan kali! Tapi kau tak mengangkat ponselmu! Aku sudah mengirimi pesan dan kau tak menjawabku! Kau ada dimana? Aku hampir saja menghubungi FBI untuk mencarimu, kupikir kau diculik tentara korea utara—“

“Adikku yang kusayang,” potong Ji Hyo cepat, berusaha menghentikan Joong Ki sebelum imajinasinya lebih liar dibanding kera liar sekalipun. “Ponselku ketinggalan di apartemen. Ada apa sih?”

“Noona, ini gawat sekali. Kau dimana sekarang?” tanya Joong Ki.

“Aku di Cheongdam, ada pemotretan.”

“Kau harus ke Aldantѐ sekarang juga.”

“Apa? Kenapa?”

“Pokoknya jangan banyak tanya, kau harus ke Aldantѐ sekarang atau fasilitas hidupmu akan kukurangi!”

Ji Hyo mengerang. Apa-apaan ini? Di siang bolong begini Joong Ki sudah meracau yang tidak-tidak, menyuruhnya datang ke Aldantѐ? Dengan ancaman fasilitas dikurangi?

Ji Hyo sadar benar kalau apartemen berkamar dua super mewah yang disewanya itu menggunakan uang adiknya, tepatnya, uang Aldantѐ. Tapi itu kan semata-mata karena orang tua mereka ingin agar meski sang kedua anak beranjak dewasa dan sudah kerja, tapi tetap ada biaya hidup yang ditanggung orang tua. Namanya juga orang tua, keinginannya selalu aneh-aneh.

“Kalau kau mengurangi fasilitasku, which is, kau mengurangi apartemenku, itu berarti kau akan membom sebagian apartemenku, begitu?” seloroh Ji Hyo sebal.

“Ish, sudahlah. Jangan banyak bicara, Noona. Pokoknya kau harus ke Aldantѐ sekarang. Ini gawat maksimal, berkaitan dengan kelangsungan restoran kita. Meski aku yakin kau tak akan peduli jika pegawai Aldantѐ berakhir jadi gelandangan di Incheon, tapi plis plis plis, sekali ini kau harus langsung datang ke Aldantѐ.”

Tampaknya benar-benar ada masalah gawat di restoran dan Joong Ki tak sedang main-main. “Tapi aku ada kasting, Joong Ki-ah…” Ji Hyo teringat dengan kesempatannya beradu akting dengan Yoochun.

“Plis, Noona… plis, plis, plis…” suara Joong Ki terdengar nyaris merengek.

Ji Hyo melempar pandangan bimbang pada Josh yang tak mengerti apa-apa. Kemudian, gadis itu mendesah panjang. “Well, aku datang. Astaga, masalah sepenting apa sih sampai aku harus ada di Aldantѐ?”

.

.

.

.

.

.

Aldantѐ baik-baik saja ketika Ji Hyo tiba dengan taksi bersama Josh. Josh mengeluh panjang pendek tentang bagaimana kecewanya dia karena Ji Hyo batal ikut kasting. Ji Hyo hanya mengatup kedua bibirnya rapat, kalau boleh sih, dia juga ingin berteriak meradang meraung-raung di bawah pancuran shower, meratapi kesempatan ikut dalam video JYJ.

Dan Ji Hyo bersumpah, jika masalah yang diutarakan Joong Ki tak segawat prakiraannya, Ji Hyo akan langsung menggigit adiknya itu. Terserah, kanibal itu pilihan saat kepepet kan? Which is, dia bisa juga lah jadi kanibal.

Ji Hyo mendorong pintu kaca Aldantѐ, beberapa pelayan menyambutnya, dan menawarkan table yang kosong. Hampir tidak ada pelayan Aldantѐ yang tahu kalau Ji Hyo adalah salah satu pemilik Aldantѐ, dan Ji Hyo tak pernah mempermasalahkan itu. Tapi dia hampir meledak marah, ketika salah seorang pelayan dengan name tag “Ryewook” bersikap super duper ramah tapi setengah memaksanya untuk duduk di salah satu table dekat jendela.

“Aku ke sini bukan untuk makan, anak muda. Aku kesini untuk memastikan apakah Aldantѐ masih baik-baik saja, tidak di bom, atau tidak dibajak teroris,” ujar Ji Hyo memandang sekeliling.

Pelayan bernama Ryeowook itu menautkan dua alisnya heran. “Nona yang cantik, anda bicara apa barusan?”

“Lupakan.” Ji Hyo mengibaskan tangan cepat. “Bawa aku ke direktur kalian sekarang.”

“Maaf?” alis RYeowook semakin mengkerut-kerut. Dan pria polos itu menyangka bahwa ada salah satu dari ucapannya telah menyinggung Ji Hyo sehingga gadis itu ingin melaporkannya ke direktur. “Nona yang cantik, anda ingin bertemu…?”

“Direktur kalian. Song Joong Ki.” Ji Hyo mulai sebal karena menyadari bahwa otak Ryeowook selambat kura-kura untuk bisa mengerti ucapannya. “Oh, lupakan. Biar aku menemuinya sendiri.”

Ji Hyo baru saja akan melangkah masuk ke ruang bagian pegawai ketika Ryeowook dengan paniknya menghentikan Ji Hyo. “Nona, saya tidak tahu kesalahan apa yang sudah saya buat pada anda. Tapi menemui direktur sebegini tiba-tibanya tentu akan membuat pelanggan lain berpikir yang tidak-tidak…”

“Hei, dengar ya, anak muda.” Ji Hyo mendesah panjang. Di belakangnya Josh hanya berdiri diam dan tak berusaha membantu. “Aku ingin bertemu Joong Ki, kau mau halangi aku atau aku teriak?!”

Ryeowook langsung mundur mempersilahkan Ji Hyo.

Josh terkikik pelan. Ji Hyo mengibaskan rambut dan berjalan dengan langkah lebar-lebar menuju kantor Joong Ki. Dan dilihatnya Joong Ki berdiri di depan kantornya, mondar-mandir gelisah. Begitu dilihatnya sosok Ji Hyo, Joong Ki langsung berlari dan menarik Ji Hyo menepi.

“Noona, kau lama sekali!” serunya setengah menghardik.

“Kau jangan tanyakan padaku kenapa aku lama. Kau tanyakan saja pada pelayan baik hati bernama Ryeowook di depan sana,” gerutu Ji Hyo.

Joong Ki melirik Josh meminta penjelasan akan maksud ucapan Ji Hyo. Tapi Josh hanya akan bahu dan menunjukkan ekspresi “kau sogok aku lima juta won pun aku tak akan cerita”. Joong Ki dan Josh punya hubungan yang tak baik karena bagaimana pun juga Joong Ki sebenarnya kurang suka jika Ji Hyo jadi model dan punya manajer yang mengantarnya kemana-mana.

“Baiklah, terserah kau saja. yang penting, aku butuh kau disini.” Joong Ki menarik napas panjang sekali, “Noona kau tahu kan kemarin malah saat kuminta kau untuk menjemput chef baru kita, kau justru membatalkannya? Nah, masalahnya sekarang, chef itu marah sekali dengan kelakuanmu. Katanya dia mengalami malam yang cukup buruk karena KAU BATAL menjemputnya. Dia kedinginan di luar sana semalaman dan punggungnya sakit sekali!”

“Hah, kenapa bisa begitu?” Ji Hyo kaget mendengar cerita Joong Ki. “Apa kau tidak menemukan orang penggantiku untuk menjemputnya?”

“Mana sempatlah, Noona! Kau memberitahuku di waktu yang mepet. Dia sudah landing-lah saat itu…”

“Aduh, terus bagaimana dong?”

“Sekarang dia marah BESAR! Dia bilang tidak akan mulai bekerja jika belum bertemu denganmu dan menanyakan kenapa kau bisa sedemikian teganya tak menjemput dia di bandara! Dia bahkan membawa kotak banyak sekali dan menyuruhku keluar sampai kau datang!” Joong Ki menarik lengan Ji Hyo agar gadis itu lebih mendekat, lalu Joong Ki berbisik, “dia adalah chef yang terkenal paling kejam di dunia. Profesional tapi perfeksionis dan kaku. Kau tahu, dia lebih mengerikan daripada ayah kita!”

Ji Hyo bergidik, menggigit bibir gusar. Lebih kejam dari ayah mereka? Uh, terdengar buruk sekali. Ji Hyo tak menyangka urusan jemput menjemput ini bisa jadi sedemikian parah. Tapi sebegitu marahnya kah chef baru itu sampai tak mau bekerja? Mereka kan membayar sang chef dengan mahal untuk kerja, bukan untuk marah-marah seperti ini!

“Hhh… baiklah, baiklah, biar aku yang bicara padanya.” Ji Hyo menggulung lengan sweaternya dan memicingkan mata. “Kita sudah mengontraknya, dan dia harus kerja. Aku akan menjelaskan kenapa aku tak bisa menjemputnya kemarin. Sekejam apapun dia, aku akan berusaha meyakinkan dirinya bahwa aku tak sepenuhnya salah dan membuatnya jadi menderita.”

Ji Hyo berjalan menuju kantor Joong Ki yang digunakan bersama dengan kantor chef karena untuk sementara waktu kantor chef yang lama tengah dibereskan. Ji Hyo menatap papan nama di atas pintu bertuliskan “Director and Chef’s Room”, lalu mendorong kasar pintu kayu itu.

“Chef…”

Ji Hyo memanggil sang chef, dan tubuhnya seketika membeku melihat pemandangan di dalam kantor. Stilleto berjejer rapi memenuhi lantai, memenuhi atas meja kerja Joong Ki, di atas bangku, lemari, bahkan di pinggir-pinggir kusen jendela.

“…chef?” Ji Hyo menebak-nebak siapakah yang tengah mengalami disorientas seksual seperti ini. Apakah Joong Ki yang membeli seluruh stiletto ini? Astaga, ternyata adiknya bukan hanya jadi Kang Ma Roo wannabe, tapi juga jadi tante-tante stiletto wannabe. Ji Hyo bergidik membayangkan Joong Ki memakai stiletto dan berlenggak-lenggok di perempatan jalan dengan lipstik merah tebal di bibirnya. Astaga… astagaa… astagaa…

“Bagaimana menurutmu?” tanya sang chef.

Ji Hyo menyipitkan mata. Chef itu berdiri membelakanginya, dia hanya melihat punggung tegap berseragam putih.

“Apa?” Ji Hyo bertanya bingung.

“Ini semua, menurutmu bagaimana?”

Ji Hyo mengernyit, lalu memandang sekeliling dan menyimpulkan sesuatu yang membuatnya terbelalak kaget. “Jadi yang disorientasi seksual itu bukan adikku… tapi kau?!” seru Ji Hyo ngaco.

“Disorientasi?” nada suara sang chef tampak heran. “Aku bicara tentang gajiku selama setahun… yang ternyata bisa mengganti stiletto-mu, bahkan bisa mendapatkannya berkali-kali lipat.”

“Gaji… mengganti stiletto…” Ji Hyo memutar bola mata penuh tanya. Dan saat itu, sang chef berbalik badan menunjukkan sosoknya.

Siluet pemuda berkulit putih bersih dengan tatapan mata tajam dan kedua tangan yang terlipat di depan dada. Tapi bukan itu yang membuat Ji Hyo langsung mundur dan hampir kehilangan keseimbangan. Kedua mata Ji Hyo membelalak lebar dan mulutnya terbuka penuh rasa tak percaya.

Ji Hyo mengenal persis wajah itu…

Wajah itu… wajah pemuda yang semalam bersamanya!

“Kau… kau…” Ji Hyo kehilangan suaranya. “Kau… asisten dapur…”

Pemuda itu memutar papan nama yang tadi sengaja di taruhnya dalam keadaan terbalik, papan nama itu ditunjuknya dengan ekspresi dingin.

Ji Hyo menatap papan itu dan napasnya seperti dicuri penjahat.

Chef Lee Dong Hae

Chef Lee Dong Hae

Chef Lee Dong Hae

……CHEF?!!

“Kau… bukan asisten dapur?” tanya Ji Hyo dengan suara serak.

Pemuda itu menggeleng.

“Kau…” Ji Hyo merasa kepalanya berputar-putar. Astaga, wajar saja chef ini muaaaraaahhh besar padanya. Ji Hyo bukan hanya tak menjemputnya, Ji Hyo bahkan mengerjainya habis-habisan kemarin malam. Menyuruh pemuda itu menggendongnya, mengerjainya untuk nyanyi di depan umum, bahkan menghardiknya tanpa tahu malu.

Aduh, aduh, aduh. Ji Hyo hanya berharap setelah ini sang chef akan memaafkannya. Tapi sepertinya tak mungkin, karena sang chef, Lee Dong Hae, lalu angkat suara dengan nada super dingin.

“Aku marah padamu.”

Iyaa…aku tahu, Ji Hyo meringis dalam hati. Suara Dong Hae terdengar menusuk gendang telinganya.

“Aku sudah mengganti stiletto-mu.” Dong Hae memandang sekeliling. “Dan ternyata kau salah, gaji setahunku CUKUP untuk membeli stiletto sebanyak ini.”

Ji Hyo tak berani menatap, bahkan melirik stiletto-stilleto yang memenuhi kantor ini. Stiletto itu seolah tengah mengejeknya dan menyuruhnya untuk terjun dari Seoul Tower sekarang juga daripada menanggung beban malu.

“Kau tak menjemputku, kau membuatku nyaris tersesat di Incheon, kau bahkan memarah-marahiku, dan menyuruhku menggendongmu…” Dong Hae berkata tanpa ekspresi. “Tambahan lagi, aku bahkan membelikanmu segini banyak stiletto. Hebat, ya, dirimu…”

“Maaf, Chef…” Ji Hyo menundukkan kepala dalam-dalam. “Aku tak tahu kalau itu kau.”

“Kau tahu kan kalau aku bisa saja pergi dan tak kerja disini? Dan membuat Aldantѐ bangkrut? Mungkin aku bisa mengatakan penyebab keputusanku itu pada Joong Ki…”

“Jangan, kumohon, jangan pergi.” Ji Hyo bergerak maju, dan sedikit mengumpat karena tersandung beberapa pasang stiletto. “Jangan, Chef… aku tahu kau marah padaku. Aku tahu aku keterlaluan, aku akan mengganti semuanya. Biaya stiletto ini, dan kerugian-kerugian itu… tapi kumohon jangan tinggalkan Aldantѐ.”

Ji Hyo merutuk dalam hati. Kenapa dia jadi sedemikian lemah di depan Dong Hae? Dia bukan gadis yang gampang ditekan seseorang, tapi entah kenapa menghadapi Dong Hae membuat nyalinya amat ciut. Dong Hae yang ada di hadapannya pun seolah menjadi Dong Hae yang berbeda dengan yang ditemuinya semalam. Dong Hae yang ini… terasa seperti salju di musim dingin…

“Baiklah, aku tak akan pergi jika kau berniat mengganti semuanya.” Dong Hae menarik selembar kertas dan pulpen, lalu melemparkan ke lantai, jatuh di atas jejeran stiletto. “Ambil kertas dan pulpen itu.”

Ji hyo merasa risih dengan tingkah kurang ajar Dong Hae, tapi dia tak punya pilihan selain mengambil kertas serta pulpen itu dari lantai.

“Tulis apa yang aku katakan,” ujar Dong Hae.

Ji Hyo sedikit bingung tapi tetap menganggukkan kepala.

“Aku… Song Ji Hyo, dengan ini menyatakan…” Dong Hae mengejakan beberapa kalimat untuk Ji Hyo. “Aku akan bekerja sebagai asisten dapur II di Aldantѐ selama sebulan—“

“APAAA???” Ji Hyo memekik kaget mendengar ucapan Dong Hae. “Kau bilang apa?”

“Bekerja sebagai asisten dapur II selama sebulan,” ulang Dong Hae.

Ji Hyo menunjuk dirinya tak percaya. “Aku? Asisten dapur? Di restoran ini?”

Dong Hae tak menanggapi dan kembali meneruskan, “tanpa digaji sama sekali.”

“APAAAAA??!!”

Jika ada petir, Ji Hyo ingin sekali disambar sekarang juga. Tubuhnya seperti sudah meledak dan tinggal lenyap saja. ucapan Dong Hae seperti bom atom dan dia nyaris tak percaya apa yang baru dikatakan pemuda itu.

“Sudah kau tulis disana?” tanya Dong Hae.

“Aku tidak mau jadi asisten dapur! Pekerjaan macam apa itu? Lagipula aku ini model, jadwalku padat dan aku tak punya waktu untuk mengurusi dapur!” seru Ji Hyo.

“Aku tak peduli. Kau tidak bisa menolaknya, kau janji akan mengganti semuanya.”

“Kau keterlaluan,” dengus Ji Hyo.

“Kau mau atau tidak? Kau ingin aku pergi atau tidak?” Dong Hae memasang wajah super datar yang membuat Ji Hyo ingin melompat dan menggaruk wajah pemuda itu.

Ji Hyo mengerang frustasi. Kertas di tangannya diremas hingga lucek. Tapi dia tak berani untuk membantah perintah Dong Hae. Joong Ki dan kedua orangtuanya sangat mengharapkan kehadiran chef ini mampu membuat Aldantѐ lebih terkenal. Dan Ji Hyo, meskipun dia adalah putri keturunan Song yang super kurang ajar dan tak tahu diri, dia masih cukup berperasaan untuk mempertahankan Aldantѐ.

Ji Hyo menggoreskan tinta hitam di atas kertas putih dengan wajah cemberut. “Baiklah, kuturuti kau. Aku… Song Ji Hyo… mulai saat ini akan berkerja sebagai asisten dapur II untuk Aldantѐ.”

Dan Ji Hyo tak menyadari senyum terkulum yang berusaha ditahan Dong Hae mati-matian.

.

.

.

.

.

.

“Aku bisa tidur dengan lega malam ini!”

Dong Hae berguling-guling di atas kasur empuknya, menarik napas panjang dan tertawa keras-keras. Tapi kemudian pemuda itu meringis kesakitan menyadari bahwa punggungnya masih encok gara-gara kejadian kemarin malam. Uh, teringat kejadian kemarin malam membuat mood Dong Hae kembali down.

Dong Hae berdiri dan berjalan mengelilingi apartemen, sebelum akhirnya berhenti di depan jendela yang langsung berhadapan dengan lalu lintas super padat di bawah sana. Suara berat dari bibirnya keluar begitu saja begitu melihat begitu ramainya Incheon saat ini. Dong Hae memilih untuk berjalan ke dapur dan menyeduh secangkir teh, kemudian kembali ke jendela dan menjadikan mobil-mobil yang berseliweran sebagai tayangan menarik.

Angin malam Incheon sedikit menyingkap lengan bajunya. Dong Hae memandang sekilas ke arah lengannya, dan menatapnya kosong.

Telepon berdering kemudian. Dari Joong Ki. Direkturnya itu kembali menanyakan perihal perjanjian antara Dong Hae dan Ji Hyo tadi siang.

“Kau serius mau menjadikan Noona ku sebagai asisten dapur II? Kau tak bercanda kan? Dia itu model, Dong Hae. Mungkin kau tak tahu soal ini karena baru datang dari Itali, tapi percayalah, dapur akan gempar besok hari jika melihat kehadiran model terkenal sekaliber Ji Hyo disana.”

Dong Hae hanya berdecak pelan menanggapi ucapan Joong Ki lalu berujar pendek, “akan kubuat dia tak seperti model.”

“Hah? Apa maksudmu, Dong Hae?”

“Kau tenang saja. ini masalah antara aku dan Ji Hyo dan kami ingin menyelesaikannya secara adil.”

“Oh Tuhan… bukankah ini hanya masalah jemput menjemput itu?”

“Bukan itu saja, ada banyak… dan kau tak perlu tahu, Direktur.” Dong Hae menyesap tehnya. “Yang hanya kau perlu lakukan, kau harus menyetujui ini saja.”

“Bagaimana bisa? Dia kakakku, Dong Hae… dan apa kata orangtuaku jika tahu aku menjadikannya di posisi terbawah di dapur?” Joong Ki terdengar frustasi.

Tapi Dong Hae tak terlalu ambil peduli karena menurutnya itu bukan masalah besar. Dong Hae tak ingin memperpanjang pembicaraan dengan Joong Ki, jadi dia berkata dirinya tengah mengantuk dan ingin tidur cepat. Lalu menutup telepon begitu saja.

Dong Hae melempar ponselnya ke kasur dan melenggang menuju dapur. Senyum mengembang di bibirnya ketika mengingat kejadian dua hari ini yang sebenarnya cukup menggelikan. Sebenarnya, dia ingin tertawa sampai terguling-guling saking gelinya.

“Astaga… siapa yang sangka gadis bernama Song Ji Hyo itu benar-benar lucu?” gumam Dong Hae.

.

.

.

.

.

.

Ji Hyo tidak bisa merasa bangga sama sekali dengan tatapan iri Chae Rin ketika mampir ke apartemennya malam itu. Chae Rin sibuk membuka ratusan kotak sepatu berisi stiletto dan memuji-muji betapa beruntungnya Ji Hyo bisa mendapat sepatu sebanyak itu.

Ji Hyo sama sekali tak merasa beruntung, biar gadis itu tegaskan. Sesudah menyetujui perjanjian dengan Dong Hae, gadis itu bahkan bertengkar hebat dengan Josh. Manajernya marah besar karena menganggap Ji Hyo memutuskan segala sesuatunya secara sepihak. Jadwal mereka amat pada sebulan ke depan dan bagaimana mungkin Ji Hyo bisa menjalankan dua profesi sekaligus?

Ji Hyo sudah menenangkan Josh dengan berkata bahwa Aldantѐ buka dari jam dua belas sampai jam delapan malam. Jadi, Ji Hyo tetap bisa menjadi model dari jam tujuh pagi sampai jam sebelas, lalu dari jam delapan malam sampai jam dua belas malam. Josh menatapnya dengan tajam dan berkata bahwa Ji Hyo akan pingsan sebelum tahun 2012 berakhir.

Josh memang benar. Ji Hyo tak sekuat wonder woman, tapi mau bagaimana lagi, ini sudah konsekuensi yang harus dijalaninya.

“Dong Hae atau siapapun itu… dia benar-benar lebih menyebalkan dibanding Joong Ki! Ah, tidak, mereka sama menyebalkannya! Seluruh penghuni Aldantѐ semua menyebalkan, mereka seolah selalu menghalangi karirmu sebagai model, Ji!” seru Josh ketika pemuda itu menurunkan Ji Hyo di depan apartemen.

Ji Hyo tak menjawab dan hanya membungkuk mengucapkan salam perpisahan.

Tapi setelah sampai di apartemen, gadis itu langsung menjerit kencang melampiaskan rasa frustasinya.

“Ternyata, pemuda itu adalah chef? Bukan asisten… wah, benar-benar dramatik sekali ya, Ji. Akhirnya, senjatamu makan tuan juga,” cengir Chae Rin. “Makanya jangan suka mengerjai orang!”

Ji Hyo memberengut kesal dan melempar bantal sofa ke wajah Chae Rin. “Bukannya menenangkanku, kau malah membuatku tambah kesal. Pulang saja sana jika kau berada dalam pihak si chef itu!”

Chae Rin tergelak mendengar gerutuan Ji Hyo. Gadis itu berjalan mendekati Ji Hyo dan merangkulnya. “Jangan ngambek…”

Ji Hyo masih memanyunkan bibir.

“Jadi kau akan mulai kerja besok? Tapi bagaimana kalau ada orang yang kenal kalau kau itu model? Mereka pasti tidak enak menyuruh-nyuruhmu dan dapur akan heboh.”

“Entahlah, Dong Hae bilang dia akan membuatku tak terlihat seperti model.” Ji Hyo memicingkan mata. “Aku punya firasat buruk untuk itu.”

“Oh, sudahlah, jangan terlalu skeptis. Bagaimana kalau malam ini kita bersenang-senang, sepertinya Hyuk Jae tidak akan pulang semalaman ini jadi kau tidak perlu mampir ke apartemennya, kan?”

“Oh, ya? Aku tidak tahu Hyuk Jae tidak pulang,” ujar Ji Hyo heran.

Chae Rin tertawa kecil. “Astaga, kan kau yang bilang kemarin padaku.”

“Oh, begitu?” Ji Hyo mengernyitkan dahi bingung. Dia sama sekali tak ingat, aduh otaknya pikun sekali memang. Ji Hyo mengambil ponsel dan mengetikkan pesan kepada Hyuk Jae agar tetap bersemangat dan jangan lupa makan. Setelah itu, Ji Hyo menyanggupi ajakan Chae Rin untuk pergi ke bar yang baru buka sambil mencoba salah satu stiletto dari ratusan stiletto yang diberikan Dong Hae.

.

.

.

.

.

.

[Author’s Cucuap Cuap-ap: Ji Hyo’s Carma]

Aku tertawa terbahak-bahak ketika siang ini melihat penampilan super duper berbeda dari Ji Hyo, gadis yang selama ini kukenal penuh dengan aksesoris berkilauan seperti toko perhiasan berjalan.

“Jangan tertawa,” ujar Ji Hyo sambil duduk di sampingku, dan menyalakan rokoknya. “Jangan tertawa, Sophie Maya! Berhenti tertawa! Tawamu terasa busuk di telingaku!” hardiknya.

Aku benar-benar tak bisa berhenti tertawa. Dan justru memegangi perutku yang mulai kesakitan. “Dimana Song Ji Hyo si model terkenal itu? Astaga, Ji… lihat apa yang kau pakai!”

Ji Hyo menatap pakaiannya dan mendengus.

“Kau tahu, seorang pria baru saja menghancurkan hidupku.”

Really?” aku menaikkan kedua alisku tinggi-tinggi. “Apa pria itu bau ikan?”

“Hei… darimana kau tahu?”

I know you so well…” kedipku.

Ji Hyo mengerang bete. “Aku rasa ini yang namanya karma. Aku mengerjai orang dan sekarang aku dikerjai habis-habisan. Kau tahu, ada pria… namanya Lee Dong Hae dan dia menyuruhku untuk jadi asisten dapur. Dan tambahannya, dia menyuruhku berdandan ala gadis culun agar tak seorang pun yang mengenaliku sebagai model. Keterlaluan banget, kan?”

Aku memandangi penampilan Ji Hyo dari atas sampai bawah. Gadis itu mengenakan kemeja hitam kedodoran dan jins putih. Ji Hyo mengenakan kacamata besar dan rambut panjangnya diikat keatas secara tak teratur. Dia tak seperti Ji Hyo si model terkenal, dia seperti Ji Hyo si gelandangan.

Dan lalu, aku kembali tertawa keras.

“Oh, diamlah! Kau mulai membuatku muak.” Ji Hyo mengepulkan asap rokoknya dan pergi meninggalkanku. Tapi sebelum dia keluar dari kafe, dia sempat berbalik dan bertanya dengan enggan, “hei, sebulan itu tak lama, kan?”

“Hm… tidak terlalu,” jawabku.

“Oh, thank’s God. Sebulan memang tak lama. Kuharap aku masih bisa hidup setelah sebulan ke depan dan tidak terjadi apa-apa padaku,” gerutu Ji Hyo sambil berbalik dan akhirnya benar-benar pergi dari hadapanku. Gadis itu sedikit kerepotan karena mengenakan celana super kedodoran.

Aku kembali tertawa.

Baiklah, sebagai penulis cerita ini, kukatakan pada kalian semua, sebulan memang tidaklah lama. Tapi, aku tak menjamin bahwa tak akan ada kejadian apapun selama sebulan ini.

Menurutku sih, begitu.

.

.

See you next part~

*bow* *bow* *bow* *bow*

okeh gue tahu meskipun lo pada ga bilang, gue sadar banget lo pasti pada ngegerundel ngeliat udpatean blog ini yang tumben lama bingits

kemarin gue baru selesai ujian bab 1 skripsi jadi bener2 syibuk bingits, makanya ga bisa nyentuh blog sama sekali

*bow again*

gue janji ga bakal lama2 lagi, doain juga yaa… gue bisa nyelesain a cup of lee cepet

dan buat dont trust the liar sebenernya udah selesai dibuat, tapi lg nunggu poster, sabar aja yaaak :3

42 thoughts on “A Cup Of Lee (Part 3)

  1. terererettetetoret(?) /ceritanya musik mamacita/
    pembalasan dendam sang chef dimulai yeeee /dibunuh kapten ji/

    ahaha bagian joongki lebay tetap jadi favorit. eh itu lengan montok donghae kenapa? terus omongan chaerin agak mencurigakan, apa dia ada main sama hyukjae? hmm mending lanjut baca hahaha

  2. hahaha,, akhirnya “si preman” kena batunya,, makanya jgn asal ngebully orang,,
    hmm,, itu lengannya donghae knp apa ada hub.nya sama kecelakaan ji hyo,,??
    ok, biar gk penasaran, lanjut part selanjutnya,, meluncur,,!!!

  3. Konsep kebahagiaan memang berbeda tergantung versinya masing-masing, jadi tinggal tunggu aja mana Lee yang benerbener jadi toxin buat jihyo,
    Yuk baca sampe akhir!😀

  4. Suka banget ma alur critanya next chap
    Semoga donghae gak dibikin mati lagi ya kaya cerita cerita yang lainnya ya unnie

  5. Halo sophie
    Aku nemuin blog kamu dari salah satu blog yg ngerekomendasiin kamu
    Dan akhirnya ni ngebut baca a cup of lee dr part awal
    Skrg saatnya buat komentar
    Aku suka cara km bikin penjabaran di cerita.ini
    Nyaman banget aq bacanya dr awal sampe akhir
    Ada beberapa author yg biasanya nulis dg kalimat super baku ada jg yg ga baku sama.skali
    Tapi kamu gabungan keduanya dan jatuhnya asik banget suer deh
    Ga trll mengerti sama couple2 yg dibicarain sama komen2 sebelumnya,tpi tampaknya ji hyo sering dibikinin ff d blog ini ya?
    Kebetulan aku juga suka running man
    Kita klop ini
    Hihihi
    Aq lanjut baca next part ya

  6. Fix
    Jatuh cinta sama ff ini
    Temanya sih biasa
    Tapi aku mencium bau2 ff yg ga biasa juga disini *apasih

    Dan kl melihat.ff sebelum2nya
    Kyknya kok jihyo bakal balik lg berpasangan sama donghae?
    Wahhh selamat y donghae kl gini
    Impianmu untuk nggak metong mulu di tiap ff, akhirnya berbuah juga
    Hahahaha

    Jujur aku lebih suka ji smaa donghae
    Krn yg stu keras kepala
    Yg satu lemah lembut
    Jadi cocok aja

  7. Baca nya dr sini dlu ya sop…
    Ihhh sumpah deh ini ff kok jd ngegemesin kyk gini? Nggak kuku bgt liat si donghae yg berubah2 dr romantis jd ngebetein
    Eh trus romantis lagi
    Ini anak mnta diapain ya?

    Dan jihyo…
    Aduh duh ga bsa bayangin dia seleboran gitu :3

  8. baca a cup for lee sambil dengerin i wanna love u – eunhae pas banget dah, pantesan aja lama postnya lama ternyata, but thank u for updates n good luck for u shopie maya, part ini sebenarnya pendek tapi ga apalah dari pada ga sama sekali. Aku penasaran kejadian apa aja yg akan terjadi sebulan ke depan.. Wait~~

    • hahhaa aduhhh jadi keinget lagu itu jugaaa aaaa xDDD
      iya maaf ya
      tapi updatean selanjutnya diusahain lebih cepet kok
      kemarin emang sempat zong bbrp minggu
      sebenarnya mau nge post
      tapi kok kepalaku ga nyampe begitu nulis ff
      makanya aku ampe kelas ujian aja baru nulis

      • Ciuuuuuss? Miapaah?
        Hahaha…
        Baiklah… aku nurut deh ama yg punya cerita… tar dibanned lg kebanyakan protes dan bawa-bawa tong kosong…
        See you next part sayaang… kalo ada Hyukjae aku komennya sepanjang jalan kenangan deh…
        Paipaii..paipaii… ^^

        • hahaha beneran adaaa
          kekeke
          tapi turunkan dulu ekspetasimu soalnya mungkin next part kamu bakal mencak2 liat hyuk jae muncul di saat yang amat tidak tepat sekali
          well, tunggu beberapa hari lagi deh… pasti di publish

          • Waaah.. waah… I’m expecting so much…
            Hmm… Hyukjaeku bakal diapain sama kamu Soph… please,, kalopun menderita,, harus tetep keren yaaah…
            Yeeiii.. minggu ini yah b’arti?
            Sippo… will wait patiently..
            Semangaaat author sayang… ^^

  9. What? apa ini?
    knp donghae jd sok jahat gitu?
    Ga pantes!!😛

    Oh, my jihyo~
    Jgn mau dijadiin asisten dapur. jgn mau!
    Itu modusan donghae doank.
    Udah deh ah, tumben kamu ga mudeng sama modusan cowok. #IniApa

    Soph, knp hyukjae dikit amat?
    Tumben kamu pelit ngasi scene k si anchovy itu.
    Pokoknya endinga nya jihyo harus sm hyukjae ya win. Oke?😀

    Btw, titip salam utk kang maroo. *peluk cium*

    • Hahaha liat trailernya onn…kamu pasti bakal tau knp dia kayak gitu
      Oke deh kita liat itu modua atau bukan
      Ay ay ay
      Banyak bgt yang protes ga ada hyuk
      Pehlis ini knp pada ngepans sama hyuk sih?
      Bikin bete deh, tujuanku kan bkn bkin eunhyuk jd makhluk super keren d blog ini xD
      Aaaa
      Aku gagal xD

  10. Ngakaaaaaaaaak bingits
    Sumpah gk nyangka aja balas dendamnya donghae ke ji hyo itu ya begitu itu hehehe
    Gak kebayang jihyo yg glamor menjadi ji hyo yg gelandangan xD
    Hyukjae manaaaa? T.T berharap aja ji hyo gk kesengsem sama si ikan mokpo semoga /.\
    Ditunggu next partnya^^ fighting~

  11. akhirnya keluar juga ni part 3nya,

    ah keren, bkal diapain tuh jihyo sm donghae di aldante,
    trus soal kecelakaan itu apa ada hubunganya y sm donghae, penasaran deh, tetep semangat aja yah buat lanjutanya.

  12. Hahaha jihyo kena batunya kn, g kebayang seorang model papan atas jadi asisten dapur II, kasian ckckck..,
    wah, lg nyusun skripsi? Berarti aku manggil author eonni dong? hehe
    good luck buat skripsinya eon and keep writing cause i’ll be waiting for the next chapter..😉

  13. lagi skripsi? berarti 2010 ya?
    gila, kerrreeennn.. bsa ttp nulis di tengah2 skripsinya… semangat ya, skripsinya.. smoga lancar… dan tdk menghambat part selanjutnya #eh…piisss….
    bikin donghae yg super nyebelin, tapi ttp imut dan bsa mengalihkan dunia ji hyo, ampe lupa apa peliharaannya…hihi
    duduk manis nunggu part selanjutnya… ^^

  14. Yaak aku bakal sabar nunggu kok :33 meskipun agak lupa sama alur ceritanya -_- btw, itu poster kece xD si ikaaaaannnn jiaaaahhhhh XDD aduh keinget si yoochun di rooftop prince jadian😀 pangeran balkon lol
    keep writing thoooorrrr😀

  15. bwahahaha..jihyo unnie kena batuny skrg,g k byg dia jd asisten dapur yg g d gaji sbln penuh..mkny jihyo unnie jgn seenakny ngerjain org mn org itu chef donghae yg super duper dingin n ngeselin.,tuh jd kena apes mn kena apesny g tanggung2 lg.jihyo unnie yg seorg model hrs jd asisten dapur bwt byr kslhn krn udh ngerjain donghae?ap jihyo bs brtahan nih?ahayy..ato justru dia betah n mlh suka sm donghae?
    waiting next part~~
    nb: ngakak bc sesi curhatan jihyo unnie sm sophie eon,kshn bgt jihyo unnie blg bkln d dandanin culun sm donghae,xD

    • fufufufufu iyaaaa sekali kali dia menuai atas prilaku jahilnya ituuu

      brrrbbb aku juga ga bisa bayangin sesi curhatan itu jadi kenyataan jihyo pasti malang bener deh xDD tenang aja, masih banyak kemalangan dia
      aku lagi pengin nistain dia mulu nih hihihi

  16. unnie kau daebak sangat!!! akhh kenapa pas bagian imajinasi joongki di potong ama jihyoo padahal kan pengen denger rentetan imajinasi joong ki yang diluar akal manusia semanusia manusia/?
    woahhh donghae sengaja nohh pengen deket deket ama jihyo wakakak xD
    Next part ditunggu!! suka banget ama tulisan unnie yang enak dibaca dan kerennnn!! aku suka ide ceritanya tapi hyukjae jarang terlihat yaa di part part ini?? wakaka mungkin dia mau istirahat dulu setelah kebanyakan dirinya di why why why wakakak xD
    akhhh kangen ama rambut takenoi merah!! nanti hadirin yaa unn di part selanjutnya kkkk kangen sangat ama si magnae evil itu dan perdebatannya xD
    fighting thor fighting!!

    • buahahaha ucapan joongki kena sensor itu namanya
      akan semakin absurd dan ga lulus KPI kalo ditayangin kekekkee

      hmm… hyuk jae akan muncul jika sudah saatnya
      dia lagi syibuk
      maklum aja, selain ff ini kan dia juga ada di ff dont trust, jadi authornya agak2 bosen melempem gitu sama si apek unyuk *plak plak

      aahhh si kyu yaa
      sayang kayaknya dia ga muncul di ff ini hahaha
      cz kalo dia muncul… ehem… kamu mau… mia juga muncul lagi ? xDDD

      oke ditunggu aja ya jadwal publishnya, minggu depan mungkin🙂

Just talking...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s