[FF/Oneshot/G/Sunday Monday]

Author: Sophie Maya

Title                 : Sunday Monday

Cast                 : Cho Kyuhyun, Moon Chae Won (OC)

Support Cast   : Lee Sungmin

Genre  : romance

Rated  : G

Length: oneshot

Summary         : kita tak akan pernah bertemu pada satu titik.

sunday monday

Disclaimer       : Super Junior isnt MINE. But this story is MINE.

Warning          : do you hate the CAST? DONT READ, its simple. And one more, NO BASHING oke? Oh right, one more again I HATE SILENT READERS, so comment this story right? ^^

 

Untukmu, yang selalu memunggungi dan tak sekalipun menoleh.

.

.

.

.

.

.

Orang bilang kami tidak cocok. Kami—Cho Kyuhyun dan aku. Mereka bertanya-tanya bagaimana caranya aku dan pemuda musim dingin itu bertemu, bagaimana dengan bodohnya aku dan dia saling jatuh cinta, bagaimana mungkin kami menebar kerinduan dalam sepasang manik mata yang saling bersitatap ini.

Tapi kupikir, itu omong kosong. Cho Kyuhyun dan aku pantas bersanding, bersejajar dalam sebaris langkah. Cho Kyuhyun dan aku… punya kisah manis yang tak mereka ketahui, tentang pertemuan kita, tentang bagaimana manisnya kita saling jatuh cinta, tentang… bagaimana Cho Kyuhyun dan Moon Chae Won bertukar rindu di tiap detiknya, penuh cinta…

“Kau bertanya kapan pertama kita bertemu?” Cho Kyuhyun baru saja masuk ke ruangannya, membawa setumpuk diktat-diktat tebal. Kedua alis tebalnya bertaut, dan bibirnya sedikit mengerut. “Itu… penting?”

“Ya,” jawabku, buru-buru menyongsong Kyuhyun dan barang bawaannya. Kami berdua seolah sudah terbiasa saling bergotong royong membawa buku-buku super tebal milik Kyuhyun, yang entah sumbangan dari alumni siapa tahun berapa yang sempat menjadi mahasiswa didik Kyuhyun.

Buku-buku itu diletakkan di belakang kursi Kyuhyun, di antara tumpukan-tumpukan buku sumbangan lainnya.

“Kau perlu lemari baru, Kyuhyun-ah,” ujarku bersimpati pada nasib buku yang sebegitu membludaknya di sekeliling meja kerja Kyuhyun.

Kyuhyun hanya mengedikkan bahu. “Ya, nanti saja.”

“Atau mau aku yang belikan?” tawarku lagi, sembari menahan lengan pemuda itu agar tak beranjak dahulu. “Aku kenal pemilik toko furniture terbagus di dekat sini, dan kujamin dia bisa memberikan diskon tinggi jika aku yang membelinya. Kau tinggal pilih, mau model dua pintu atau tiga pintu?”

“Nanti saja.” Kyuhyun mendorong tanganku pelan, pemuda itu kembali sibuk memunguti kertas-kertas yang tadinya berada di atas meja, sebelum terjatuh akibat tersenggol saat kami menaruh buku-buku.

Aku menggeleng semangat, mengikuti langkah Kyuhyun, dan mengikuti tingkahnya memunguti kertas-kertas. Ide membeli lemari menurutku amat cemerlang, ruangan Kyuhyun tampak seperti tempat buku loak dibanding ruang kerja dosen. Bahkan dosen lain seperti Profesor Taeyon atau Profesor Woo Hyun tidak separah keadaan Kyuhyun. Ruangan mereka terlihat lebih doseniawi dibanding Kyuhyun.

“Warna krem, hitam, atau putih? Aku tahu kau suka warna ungu, tapi apa tidak aneh kalau menempatkan lemari warna ungu di sini? Mahasiswamu akan menertawaimu habis-habisan.” Aku terus berceloteh, membayangkan ekspresi kaget mahasiswa semester akhir yang ingin konsul dengan Kyuhyun misalnya, akan terkena radiasi ultraviolet karena keberadaan lemari ungu Kyuhyun. Dan tidak bisa untuk tidak tertawa karena terus menerus membayangkannya.

“Nanti saja. Aku sibuk, aku tidak punya waktu untuk mengurus lemari atau apa pun itu.”

“Aku bisa membuat toko furniture itu mengerahkan kurir mereka untuk mengangkut lemari dari toko ke kampus—“

“Moon!” Kyuhyun tiba-tiba menaikkan nada suaranya, nyaris berteriak.

Aku terdiam. Kyuhyun tidak pernah memanggil namaku, pemuda itu biasanya hanya memanggilku dengan “hei”, “kau”, dan “yang di sana”. Kyuhyun juga pernah memanggilku dengan sebutan “sayang”, tapi itu hanya bertahan selama dua minggu pertama kami jadian. Selebihnya Kyuhyun merasa terlalu tua untuk mengucapkan nama panggilan yang menurutnya terlampau labil. Dan, hanya ada satu alasan jika Kyuhyun sampai memanggil namaku: dia mulai muak.

“Nanti saja, Moon. Tidakkah kau lihat? Aku sedang sibuk. Tidakkah kau lihat antrian di depan ruang jurusan? Sepuluh diantara mereka adalah anak didikku yang ingin konsul dan belum kupanggil sama sekali, padahal aku masih ada kelas sampai jam tiga sore nanti,” ujar Kyuhyun dengan nada penuh penekanan.

Aku mengerjapkan mataku beberapa saat. “Ya… aku tahu itu… aku hanya… mencoba membantu…”

Aku sungguh merasa bersalah. Tak pernah aku berpikir untuk membuat Kyuhyun marah. Aku tahu Kyuhyun dosen, aku tahu Kyuhyun begitu sibuk dengan jadwalnya yang padat. Tiga dosen Sungkyungkwan baru saja pensiun bulan lalu, dan untuk sementara tugas-tugas yang mereka tinggalkan beralih ke tangan Kyuhyun sebagai wakil ketua jurusan. Pasalnya, ketua jurusan kami, Profesor Im Hwan, sudah cukup sibuk dengan undangan universitas di luar negeri dan jarang berada di tempat.

“Jika kau ingin membantuku, kau antarkan OHP dan layarnya ke ruang B303.”

Kyuhyun menunjuk OHP dan gulungan layar di sudut meja.

“Ya… baiklah.” Aku mengangguk pelan. Menarik OHP dan gulungan itu, sambil tetap memperhatikan ekspresi frustasi Kyuhyun. Pemuda itu mengacak-acak rambutnya sampai berantakan.

“Dan, setelah itu kau bisa pulang, Moon. Kau selalu berada di kampus tiap hari padahal kau sudah semester akhir…”

“Aku ingin bertemu dengan Profesor Taeyon untuk membahas skripsi, tapi dia selalu sibuk dan jarang datang.”

Kyuhyun menatapku tajam. “Kalau begitu, hubungi saja dia. Ditelepon atau kirim pesan padanya.”

“Tak pernah dijawab,” ujarku pelan sambil menundukkan kepala.

Kyuhyun menghela napas kencang. “Jadi, kau ini sekarang statusnya mahasiswa nganggur, ya? Mahasiswa yang datang ke kampus tapi tidak melakukan apapun. Apa kau tidak bosan? Pulang saja sana, daripada kau menunggu seperti ini dan malah merecokiku.”

Ucapan Kyuhyun membuat langkahku terhenti. Kutatap sepasang sepatuku, yang perlahan-lahan buram. Aku mengerti, Kyuhyun bukan tipe pemuda romantis, dia tidak akan membawakan sebuket bunga di tiap kencan kami, dia tidak bisa berdamai dengan mulut tajamnya, dia selalu berkata jujur apa adanya meski itu menyakitkan, dia tidak bisa bertingkah manis dan cenderung kaku seperti hujan salju—tajam, dingin, dan menyakitkan.

“Apa aku benar-benar membuatmu terganggu?” tanyaku dengan suara parau, kutahan mati-matian untuk tak menangis. Aku memunggungi Kyuhyun dan sibuk bersumpah jangan sampai Kyuhyun tahu wajah sembabku saat ini.

“Kau tahu kan statusku di sini? Aku dosen, dan aku wakil ketua jurusan. Kau mahasiswa, semester akhir pula. Aku super sibuk, dan kau super senggang.”

Jari-jariku mencengkeram gulungan layar kuat-kuat. Suasana pembicaraan kami tidak akan semakin membaik jika begini caranya. Dan aku tidak pernah menginginkan perdebatan kosong seperti ini menghancurkan pertahananku.

“Aku… harus membawakan OHP ini ke B303.” Aku mengalihkan pembicaraan. “Kau rapikan saja dulu rambutmu. Kau tidak boleh terlihat kusut di depan anak didikmu nanti. Mmm… sampai bertemu di B303.”

Aku maju selangkah, namun teringat sesuatu, aku kembali berhenti. Tanpa berbalik memandang Kyuhyun, aku melanjutkan ucapanku. “Di pesta. Kita bertemu di pesta temanmu dan jatuh cinta pada pandangan pertama. Mungkin kau lupa, atau sengaja melupakannya karena hal itu terdengar konyol dan yah… seperti yang kau bilang, terlalu tua untuk usiamu. Tapi percayalah, saat kita bertemu, kita seperti sepasang anak SMP yang jatuh cinta dan tak tahu harus berbuat apa selain menenggak minuman sebanyak-banyaknya dan menelan puluhan permen cokelat tanpa sadar.”

Selesai berkata begitu, aku buru-buru keluar dari ruangan Kyuhyun sebelum pemuda itu menyusulku dan menyadari wajahku sudah sembab. Air mataku merebak tanpa bisa kubendung lagi, meleleh membasahi wajahku. Dan dadaku seperti trampolin yang diinjak-injak ribuan beruang. Sesak, rasanya sulit sekali bernapas.

Tapi, Kyuhyun tidak boleh tahu tentang ini. Kyuhyun tidak boleh tahu, terkadang mulut tajamnya sungguh menyakitiku. Kyuhyun tidak boleh tahu, sikap dinginnya kadang membuatku menggigil hingga beku. Kyuhyun tidak boleh tahu… karena yang hanya boleh diketahui Kyuhun adalah, Moon Chae Won selalu ada untuknya kapanpun dimanapun tanpa merasa jenuh.

.

.

.

.

.

.

 

Orang bilang kami adalah sepasang ketidakmungkinan yang terjadi di dunia. Mungkin saja, Tuhan salah menggoreskan takdir hidup sehingga aku bisa-bisanya bertemu dengan Cho Kyuhyun. Sebagaimana sang mentari yang terlambat tenggelam dan akhirnya membuatnya bertemu sang rembulan. Sesuatu yang tak mungkin terjadi.

“Kau sudah bilang pada Kyuhyun?” Krystal menyeruput Grape Punchnya sambil memencet-mencet android di tangan kirinya.

“Belum,” jawabku seraya meringis.

Krystal menghentikan kegiatannya, menatapku dengan sebelah alis terangkat, dan kemudian berseru sebal, “oh my Moon… kau belum bilang? Kenapa, sih?”

Aku menggoyang-goyangkan kepala salah tingkah. Sungmin datang membawa nampan penuh dengan tiga piring carbonara dan tiga gelas minuman, berjalan menuju mejaku, dan lalu menjitak pelan kepala Krystal begitu menyadari gadis itu sudah memesan minuman terlebih dahulu.

“Kenapa kau beli Grape Punch duluan? Aku sudah membelikan Orange Juice untukmu, Krissie. Kau bilang kau ingin minum Orange Juice?” Sungmin menyipit-nyipitkan matanya, berlagak seperti orang ingin marah.

“Kau terlalu lama, Sungmin. Aku dehidrasi, lima menit saja aku tidak minum, aku bisa megap-megap.” Krystal membela diri.

“Kau bukan Ariel si Putri Duyung, Krissie.” Sungmin berdecak, masih kesal dengan Krystal. Tapi kemudian pemuda itu tersenyum manis ketika menatap wajahku. “Moon, Hot Chocolate satu?” ujarnya sambil mendorong secangkir cokelat panas ke depanku.

Aku tersenyum lebar dan mengangguk. “Terimakasih, Sungmin.”

Sungmin duduk di sampingku, menaruh ranselnya di antara kami berdua. Sungmin membagi-bagikan carbonara dan minuman sambil berceloteh tentang antrian panjang di kantin.

Tapi Krystal kembali memberengut kesal ketika Sungmin menanyakan apakah tadi aku bertemu dengan Kyuhyun, karena Kyuhyun adalah salah satu dosen pembimbing skripsi Sungmin namun Sungmin begitu malas bertemu Kyuhyun. Alasannya, begitu melihat Kyuhyun, Sungmin bisa terkena nocturnal selama seminggu dan berakhir di ruang bebas rokok untuk merokok seharian penuh karena stres. Sungmin sebenarnya tidak ingin menempuh skripsi, dia masih ingin main-main menikmati hidup, tapi tuntutan sebagai mahasiswa semester akhir membuatnya harus cepat-cepat memakai toga.

“Kenapa kau cemberut, Krissie?” tanya Sungmin heran. “Yang bermasalah dengan Profesor Kyuhyun itu aku, yang dosen pembimbingnya dia itu… Lee Sungmin. Bukan kau, Krissie…”

“Ini bukan soal skripsi, Sungmin. Aku sedang sensitif mendengar nama Kyuhyun karena seseorang baru saja gagal membuat acara double date terlaksana.”

Kristal memutar bola mata ke arahku. Dan Sungmin langsung mengangguk-angguk mengerti begitu melihat wajahku.

Aku terkekeh salah tingkah. Sebenarnya Krystal dan aku memang sedang merencanakan acara double date dengan pasangan masing-masing. Aku dengan Kyuhyun dan Krystal dengan Steven. “Salahku, sih… aku salah memilih topik pembuka pembicaraan kami,” ujarku penuh penyesalan.

Krystal mengerjapkan mata. “Memang kau bicara apa pada Kyuhyun?”

“Aku bertanya tentang pertemuan pertama kami dan yah, semacam itulah. Tapi kurasa Kyuhyun begitu sibuk hingga dia mengacuhkan pertanyaanku begitu saja dan oh, astaga… kau tidak tahu betapa berantakannya ruangan Kyuhyun, dan jadwal mengajarnya benar-benar padat! Profesor Im Hwan harus segera kembali dari Austria untuk mengatur ulang jadwal Kyuhyun sebelum pemuda itu terkapar kelelahan! Hei, asal kau tahu, di sepanjang jurusan, penuh dengan mahasiswa semester akhir yang mengantri untuk konsul dengan Kyuhyun. Kalian tahu sendiri ruang tunggu jurusan amat pengap, aduh apa mereka tidak kehabisan oksigen, ya? Ah, tadi itu juga aku mengikuti mata kuliah Kyuhyun tentang Perubahan Sosial—“

“Moon…”

Sungmin menyentuh punggung tanganku, menggenggamnya erat. Kedua bola mata Sungmin memandangiku penuh iba. “Moon… kau sedang mengalihkan pembicaraan, ya?”

Ucapan Sungmin membuatku tertegun. Krystal berhenti mengunyah carbonara, tatapan sebalnya berganti dengan tatapan penuh kasihan. Gadis itu bahkan menarik kursinya hingga ke sampingku, dan merangkulku lembut.

“Moon… kau diapakan lagi sama Kyuhyun?” bisik Krystal halus.

Tiba-tiba saja aku ingin menangis. Menatap Krystal dan Sungmin yang memandangiku sedemikian rupa, membuatku tak kuasa menahan diriku.

“A-ku…”

Kurasakan Krystal mendekapku, helaan napas gadis itu terasa di tengkukku. Sungmin tidak lagi menggenggam tanganku, namun tangan pemuda itu beralih menepuk-nepuk punggungku.

“Aku tidak kenapa-kenapa… kalian… kalian… jangan bertingkah berlebihan…” suaraku terdengar bergetar. “Aku baik-baik saja. Kyuhyun tidak… berbuat apapun…”

“Oh, Moon… kau tidak bisa berbohong pada kami. Aku dan Sungmin ini sahabatmu, Moon. Meski kau susah payah menyembunyikannya, kami akan tahu. Kau selalu mengalihkan pembicaraan jika sedang berbohong, aku tahu benar itu, aku tahu benar.”

Ucapan Krystal membuat dadaku sesak.

“Apa Kyuhyun mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan padamu, Moon? Apa dia membuatmu terluka? Moon, walau Kyuhyun dosenku, aku tidak segan-segan meninjunya jika dia memperlakukanmu dengan buruk.” Sungmin berujar geram.

“Ssst, jangan begitu, Sungmin. Aku tidak apa-apa…” aku menundukkan kepala. Mengusap air mata yang membasahi pipiku. “Kyuhyun sedang sibuk, itu saja. Aku mungkin menganggu pekerjaannya, makanya dia marah. Aku tahu, ini salahku. Dia—kalian mengerti kan, sesibuk apa dosen kita itu?”

Krystal dan Sungmin saling melempar pandang.

“Kyuhyun dosen, dan dia wakil ketua jurusan. Aku mahasiswa, semester akhir pula. Kyuhyun super sibuk, dan aku super senggang.” Aku mengikuti ucapan Kyuhyun tadi.

“Kau dan dia… seperti dua kutub berlawanan yang tak akan bertemu pada satu titik. Kyuhyun seperti hari senin yang super sibuk dan serba tergesa-gesa, sementara kau seperti hari minggu yang super senggang dan… selalu ada kapanpun untuk Kyuhyun, bahkan ketika Kyuhyun tidak pernah melihatmu.”

Aku menoleh ke Sungmin, ingin kusangkal ucapan Sungmin yang meragukan hubunganku dengan Kyuhyun, sama seperti yang dilakukan orang-orang lainnya. Namun entah kenapa, segala perkataan Sungmin terasa benar. Kyuhyun seperti senin, yang selalu berada selangkah di depanku, yang selalu memunggungiku, yang tak pernah menghentikan pergerakannya hanya untuk menemani kesengganganku.

Apa mungkin inilah maksud orang-orang yang selalu mempertanyakan hubungan kami. Seperti dua kutub berbeda yang tak akan bertemu dalam satu titik, seperti hari senin dan minggu…—seperti itukah Cho Kyuhyun dan aku?

.

.

.

.

.

.

Semua orang butuh waktu untuk memulihkan diri dari hari kerja, sebagian dari keributan dan kepadatan, sebagian lagi dari kenyataan yang begitu nyata yang dihadirkan hari-hari produktif itu. Memilih untuk bersantai adalah pilihanku, yang sebenarnya menjadi pilihan terpaksaku.

Krystal sedang berkencan dengan Steven (dia tetap makan malam dengan si tampan meski rencana double date gagal), dan Kyuhyun harus menghadiri pertemuan dosen Hukum se-Korea Selatan di Incheon (aku tidak tahu kenapa pertemuan itu bisa-bisanya dilakukan di minggu malam seperti ini). Kyuhyun bilang pertemuan itu memakan waktu tiga hari: Sabtu, Minggu, dan Senin dari siang hingga malam. Hari Senin nanti Kyuhyun berencana untuk mengambil jadwal mengajar hanya sampai jam dua belas siang, setelah itu langsung ke Incheon.

Aku mengetahui jadwal padat Kyuhyun selama tiga hari ini ketika akhirnya menanyai apakah Kyuhyun punya jadwal akhir pekan karena aka nada double date bersama Krytal-Steven. Dan Kyuhyun dengan singkatnya menjawab pertanyaanku dengan: “Kau baca ini.”

Dan aku diberikan surat undangan pertemuan dosen itu, dan tahulah aku Kyuhyun tak akan bisa mengikuti double date.

“Kau sibuk sekali ya, Kyu?” tanyaku waktu itu, sambil kembali menyerahkan surat undangan. “Mm… kalau misalnya double date-nya, misalnya lho, hanya misal… mm… double date-nya diundur minggu depan…?” kutatap Kyuhyun harap-harap cemas.

“Belum tahu,” jawab Kyuhyun singkat.

“Oh, begitu ya…”

Jadilah aku di sini sekarang, di apartemen, sendirian, dan ditemani therapy candle serta keadaan kamar yang sengaja dibuat gelap gulita. Beberapa potong ketimun sudah terpotong manis dan diletakkan dalam porselen biru tua.

Jam menunjukkan pukul sepuluh malam dan aku baru saja masuk ke dalam kamar setelah sebelumnya mengambil MP3 yang kuletakkan di dekat televisi. Ritual menenangkan diri dimulai, aku tersenyum puas memandang keadaan kamar.

Tanganku bergerak menekan tombol “play” di MP3, namun ketika aku meletakkan MP3 di samping bantal, perutku terasa melilit perih.

“Tidak… astaga… jangan…” aku meringis kesakitan. Berjongkok di bawah kasur untuk meredakan rasa sakit yang begitu tiba-tiba namun benar-benar menusuk. Dan saat itu aku ingat, ugh, sepertinya aku telat makan tadi siang. Ugh, bodoh sekali kau, Moon Chae Won!

Aku mencari-cari ponsel dan menghubungi Krystal. Dering ketiga, gadis itu mengangkat dengan suara terburu-buru. “Moon, ada apa?”

“Krissie, kau masih bersama Steven?” ujarku memejamkan mata. Rasa sakit benar-benar membuatku lumpuh.

“Ya, Steven sedang mengantarku pulang—dadah, Sayang! Hati-hati di jalan!” suara Krystal terdengar menjauh sesaat. Lalu kembali terdengar, “nah, kalau sekarang Stevennya sudah pergi. Ada apa, Moon?”

“Aku…” kutekan-tekan perutku, kepalaku terasa berputar-putar dan asam lambungku mulai naik. Aku mual. “Mmm… apa kau lelah?”

“Ya, sangat, Moon. Astaga, tadi kami jalan-jalan di Sungai Han bertelanjang kaki, sekarang aku perlu merendam kakiku di baskom berisi air hangat agar tidak bengkak-bengkak.” Krystal tertawa kecil. “Ada apa, Moon?”

“Mm… Krissie, kau tahu obat maag yang bagus?”

“Oh, tahulah. Kakakku, Jessica selalu makan obat maag tiap hari, kami punya persediannya di kotak P3K, bisa untuk setahun.” Krystal terdiam sebentar, kemudian seakan tersadar sesuatu, gadis itu menjerit tertahan, “Moon… kau maag?!”

Aku meringis kecil. “Sepertinya, sih… aku telat makan, Krissie… tapi tenang, tidak parah.” Aku bohong. Aku punya maag kronis dan jika sudah kambuh, aku bisa pingsan dan terbangun di rumah sakit keesokkan harinya. Tapi aku tidak ingin Krystal khawatir, dia baru saja pulang dan kelelahan.

“Kau tidak punya persediaan obat maag di apartemen?” tanya Krystal.

“Sudah habis dan aku lupa membelinya.”

“Apa mau kuantar obat kakakku ke apartemenmu?”

“Tidak, Krissie… jangan. Aku bisa mengatasi hal ini.”

“Tidak, tidak, tidak, Moon. Aku tahu bagaimana kacaunya Jessica begitu maag menyerang. Aku bisa membayangkan keadaanmu sekarang.”

“Aku akan menyuruh Sungmin ke apartemenku,” potongku cepat. “Krissie, kau tenang saja. Aku akan menyuruh Sungmin membawakan obat maag, kau istirahatlah. Kau bilang kau kecapekan. Ingat, besok hari Senin dan kita harus ke kampus.”

Terdengar gumaman Krystal. Tampaknya dia bimbang dengan saranku. Namun kemudian dia mendesah panjang, “baiklah. Kau telepon Sungmin sekarang juga, ya.”

“Ya…”

Aku memutus sambungan telepon dengan Krystal dan mulai memencet-mencet layar, mencari nama Sungmin di deretan kontak. Namun rasa sakit benar-benar membuatku sulit berkonsenterasi. Posisiku bahkan sudah menggelesot di lantai, sambil terus memegangi perutku. Keringat dingin membasahi piyama dan tubuhku gemetaran. Mataku berkunang-kunang dan kupikir ini akan lebih buruk lagi.

Namun sebelum itu terjadi, terdengar suara sambungan yang diangkat di seberang telepon. Aku berusaha berbicara di ponsel, meski terbata-bata. “Sungmin-ah… kau bisa ke apartemenku sekarang? Bawakan aku obat maag, obat di apartemenku habis—“

“Hei…”

Aku terdiam. Suara berat di seberang sambungan bukanlah milik Sungmin. Kulirik layar ponsel dan terkejut menyadari bahwa tanpa sepengetahuanku, aku bukan menelepon Sungmin, melainkan Kyuhyun!

“K-kyu…?”

“Kau kenapa?” tanya Kyu dengan nada datarnya.

Aku berdeham sebentar, berusaha menetralisir nada suaraku. “Tidak ada apa-apa, Kyu… hahaha.” Kenapa aku tertawa? Aku merutuki diriku sendiri. Kau akan terlihat bodoh di mata Kyuhyun. Tapi itu lebih baik dibanding Kyuhyun tahu penyakitku, dia sedang sibuk sekarang dan aku tak mungkin mengganggunya. “Mm… bagaimana pertemuan dosennya? Belum selesai?”

“Belum, sebentar lagi aku akan maju ke podium untuk memberikan beberapa materi.”

“Oh…”

Perutku benar-benar pedih dan tak bisa ditahan lagi.

“A-aku… putus dulu teleponnya, ya. Takut mengganggumu. Semangat ya, semoga kau membawakan materimu dengan baik. Jangan lupa minum air putih yang banyak supaya suaramu tidak hilang di tengah-tengah pembicaraan nanti.”

Kyuhyun terdiam lama. Entah apa yang sedang dilakukannya, pemuda itu sepertinya menjauhkan ponsel dan berbicara dengan seseorang di sebelahnya. Kemudian baru menjawab ucapanku dengan sebuah kata super pendek: “…ya.”

Aku buru-buru memutus sambungan dan menelepon Sungmin. Kali ini tak boleh salah lagi. Beruntung, Sungmin langsung menjawab teleponku di dering pertama, dan berkata akan langsung melesat ke apartemenku membawakan obat maag.

Sementara itu aku bersusah payah menggerakkan tubuhku, menyeretnya hingga ke ruang tamu demi menunggu kedatangan Sungmin. Tanganku menggapai lengan sofa dan bersender di sana, mengatur napasku yang terputus-putus sembari menenangkan diri. Sebentar kemudian, terdengar suara bel berbunyi. Aku baru saja akan berdiri membukakan pintu untuk Sungmin, ketika tiba-tiba terdengar suara tombol kode dipencet dan pintu berhasil terbuka.

Hei, aku tidak pernah memberitahukan Sungmin kode apartemenku. Jadi siapa yang…

Aku terkejut melihat kehadiran Kyuhyun di depan pintu apartemen. Pemuda itu memakai jaket hijau beludru miliknya, dengan tudung putih yang kumal, dan kacamata baca yang biasanya hanya dipakai Kyuhyun saat mengajar di kelas. Kyuhyun menatapku dengan tajam, napasnya tersengal-sengal, dan bibirnya seolah membeku akibat suhu rendah malam hari.

Kedua tanganku menutup mulutku yang terbuka lebar. Aku tak percaya dengan apa yang kulihat sekarang. Kyuhyun, bukannya pemuda itu sedang ada pertemuan dosen di Incheon? Kenapa ada di sini…?

Kyuhyun berjalan masuk dan membuka sepatunya. Lalu menghampiriku, setengah memaksaku untuk tetap duduk di sofa saat aku mau membantunya membuka jaket.

“Kau sakit,” ujar Kyuhyun.

“Darimana kau…”

“Telepon salah sambungmu atau apalah itu—“ Kyuhyun menarik napas panjang, mengangkat plastik hitam di tangannya, seolah ingin menjawab kebingunganku. “Obat maag-mu.”

Aku terdiam menatap bungkusan di tangan Kyuhyun. Aku tidak ingat apa saja yang sudah kukatakan saat salah mengira Kyuhyun sebagai Sungmin. Tapi tampaknya Kyuhyun tahu aku sedang sakit.

“Aku tidak bermaksud untuk merepotkanmu. Seharusnya kau tidak datang ke sini, Kyu… bagaimana dengan pertemuanmu? Kenapa kau malah datang ke sini?” aku benar-benar bingung dengan sikap Kyuhyun.

“Kau…” Kyuhyun meletakkan plastik di atas meja, menatap kedua mataku lekat-lekat. “Dengar, pertemuan sialan itu tidak penting.”

“Tidak penting?”

“Ya, tidak penting dibandingkan mengetahui kau sedang sakit.” Kyuhyun menghela napas panjang. “Kenapa kau malah menghubungi siapa itu? Sungming? Sungmin? Entahlah. Kenapa kau menghubungi dia dibanding menghubungi aku? Aku tahu kau punya penyakit maag kronis dan aku tahu kau bisa pingsan jika terlambat diobati.”

Perkataan Kyuhyun membuat dadaku menghangat, namun sekaligus merasa bersalah. “Tapi… kau… meninggalkan pertemuan itu…”

“Ssst…” Kyuhyun meletakkan telunjuknya di depan bibirku. Kemudian, pemuda itu menarikku dalam pelukannya. “Kau pikir, aku hanya memikirkan pekerjaan saja?”

“Kau ini sibuk, Kyuhyun…”

“Aku tahu.”

“Penyakitku sebenarnya tidak penting. Sungmin bisa datang.”

“Suruh dia pulang saja nanti.”

“Kyu, kau yang harus pergi. Kau harus kembali. Acaramu itu penting!”

Rasa panikku seolah mengalahkan rasa sakitku. Sekarang aku jauh memikirkan bagaimana nasib pekerjaan Kyuhyun jika pemuda itu meninggalkan pertemuan begitu saja.

Kyuhyun menggeleng, semakin mendekapku erat. “Oh, Moon… percayalah, tidak ada yang merasa direpotkan di sini. Aku adalah kekasihmu, aku tahu aku sibuk, tapi bagaimanapun juga, kau selalu ada di list nomor pertama, Sayang…”

Sayang…

Sayang…

Aku memejamkan mata. Kyuhyun memanggilku “Sayang”, tubuhku merespon ucapan Kyuhyun dengan penuh nyaman. Sudah lama sekali Kyuhyun tak memanggilku begitu dan memang ucapan itu terasa labil, namun entah sihir apa yang Kyuhyun gunakan, tak sedikit pun terasa aneh dalam pengucapannya.

“Maafkan aku jika sempat membuatmu terlupakan. Tapi sesungguhnya, semua terasa tidak penting jika dibandingkan dengan urusanmu, Sayang…”

Sayang…

Aku memejamkan mata, menikmati panggilan manis dari Kyuhyun.

Meski Kyuhyun adalah hari senin yang super sibuk dan selalu memunggungiku, meski aku adalah hari minggu yang super senggang dan selalu mengikuti jejak Kyuhyun dalam diam, dan meski orang-orang berkata tidak akan ada satu titik di mana hari minggu dan hari senin bertemu—tak ada titik di mana aku dan Kyuhyun bisa bersama, namun aku akan tetap menunggunya, tetap mengikutinya.

Aku juga menyayangimu, Kyuhyun Sayang…

 

.

.

.

.

.

.

Suara gelas-gelas kaca beradu memenuhi hall, terdengar obrolan pria dan wanita yang duduk di meja-meja bundar bertaplak kain putih bersih.

Kyuhyun mengambil tempat duduk di samping Im Hwan yang sedang sibuk berbicara dengan dosen Universitas Seoul. Tapi kemudian Im Hwan beralih menatapnya untuk mengajaknya bicara. “Kyu, akan ada acara minum-minum bersama dosen Universitas Seoul minggu depan. Kau mau ikut?”

“Minggu depan?” Kyu menoleh dan tersenyum sekilas pada sang dosen Universitas Seoul.

“Ya, hari Minggu jam empat sore. Sekalian kita menikmati waktu senggang sesama dosen. Dan kebetulan tidak ada undangan keluar negeri pada hari itu jadi jadwalku kosong,” kelakar Im Hwan.

Kyuhyun tersenyum datar, lalu menggelengkan kepala. “Maaf, tapi jadwalku yang terisi, Im Hwan.”

“Oh, ya?” Im Hwan terlihat kecewa. “Memang ada pertemuan di mana?”

“Di Aldantѐ jam dua siang, dilanjut nonton bioskop sampai malam.”

Im Hwa mengernyitkan dahi. “Pertemuan apa itu?”

Double date,” ujar Kyuhyun tanpa bisa menyembunyikan senyumnya.

Im Hwa mengangguk paham, meski gatal rasanya ingin menggoda Kyuhyun yang biasanya kaku, kini tampak salah tingkah. “Aduh, profesor kita satu ini seperti anak muda saja. Ditengah-tengah kesibukannya, masih tetap memperhatikan kekasihnya.”

Im Hwan dan sang dosen Universitas Seoul saling melempar pandang, lalu tertawa.

“Kau bisa saja.” Kyuhyun tersenyum kecil.

“Hei, itu Taeyon! Taeyon… kau lama sekali…” Im Hwan melambaikan tangan pada Taeyon yang baru masuk ke hall.

“Apakah acaranya sudah mulai?” tanya Taeyon tergesa-gesa.

Im Hwan menggeleng. “Belum. Sebentar lagi. Dan Kyuhyun akan jadi pembawa materi pertama.”

Taeyon menoleh kea rah Kyuhyun dan tersenyum. “Wah, dosen hebat kita satu ini…”

Kyuhyun tersenyum, kemudian mendekatkan wajahnya ke Taeyon. “Hm… Profesor, kalau aku hebat, kau mau memberiku hadiah?”

“Hah? Hadiah? Kenapa tiba-tiba minta hadiah?” Taeyon mengernyit bingung.

Kyuhyun mengangkat bahu sembari memasang ekspresi memohon yang sengaja diimut-imutkan. Hal itu membuat Taeyon tergelak dan mengiyakan apapun hadiah yang Kyuhyun minta.

Kyuhyun tersenyum lebar. “Permintaanku cukup sederhana Profesor, hm… aku hanya ingin kau menjawab telepon dan pesan dari mahasiswa yang ingin konsul denganmu. Jangan menyulitkan mereka dengan jarang datang ke kampus. Mereka bisa kecapaian menunggumu, kasihan sekali. Ada baiknya kau beritahu kapan kau bisa ditemui, jadi mereka punya kepastian.”

Taeyon memandangi Kyuhyun sebentar, lalu kemudian tertawa. “Apa ini karena salah seorang mahasiswaku… kau sampai meminta begini?” tanyanya dengan nada menggoda.

Kyuhyun hanya mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi, “Iya sih…”

“Astaga, Kyuhyun… hahaha.”

Kyuhyun menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Wajahnya memerah salah tingkah. Apalagi ketika Taeyon lalu menceritakan perihal permintaan Kyuhyun pada Im Hwan. Kedua professor itu dengan senang hati menertawakan Kyuhyun habis-habisan.

“Kyuhyun… Kyuhyun… demi Tuhan, kau benar-benar mencintai gadis itu, ya?”

Dan Kyuhyun hanya membalas pertanyaan itu dengan senyuman lebar, yang seolah menjelaskan semuanya.

.

.

.

.

.

.

Sebenarnya, kita sering bertemu dalam satu titik kan?, tanya hari minggu pada hari senin.

Ya, tentu saja…, jawab hari senin sambil mendekap erat hari minggu. Selalu, kita selalu bertemu pada satu titik.

.

.

END


Holaaaa…. Sophie in here
Another Kyuhyun oneshot, i hope you like this story
somehow, kalian kalau ada yang ngerasa kehidupannya kayak cerita di atas, ayo share disini
Cerita ini didedikasikan buat seluruh pasangan ! atau yang udah pernah berpasangan, atau yang akan berpasangan kelak deh xD
Hm… kadang kita ngerasa pasangan kita nggak perhatian dan super nggak kita banget deh, tapi sebenarnya kita nggak pernah tahu kan apa yang dipikirn sama pasangan kita?
kayak si Kyuhyun, di depan nyebelin, but we never knew that he’s a romantic guy ever. May be? aselinya sih kagak, ya kan kyu? *towel2 dagu kyu pake cerurit* xD

60 thoughts on “[FF/Oneshot/G/Sunday Monday]

  1. aduuuh jadi pengen punya pacar dosen(?) ahaha kalo dosennya kyu sih dengan sukarela bakal ngantri buat jadi pacar

    kyu kebiasaan nih mulutnya minta diamplas biar gak tajem lagi *peace*

    aduuh kak endingnya bikin senyum gaje, ff kakak emang beda dari yg lain. castnya doang pake nama korea, bahasanya indonesia asli.. hihih komennya kepanjangan ya? gapapa kan?

  2. noona ini apaan(?) kok ya sweet gini ~kkkk😀
    jadinya kan pingin dipanggil sayang sama hyukjae😀
    keep fighting noona

  3. Uwooow, favorit! aku suka ceritanyaa, apalagi castnya moon chae won. Cerita ringan yg ada di kehidupan sehari-hari tapi dikemas apik dan so sweet. Mau lagi ff yg kayak gini, kyu sama moonie lucu jg hihihi

  4. Idenya dapat aja yah kamu… titlenya keren,, Sunday Monday.. pesennya juga dapet.. ceritanya ringan dan bikin senyam-senyum… keren deh Sophie… ciee..cieee…
    Coba ketemu ama cowok kek Kyuhyun gitu.. kayaknya aku bakal kurang sabar deh.. Moonnya sabar banget di sini,, bener-bener karakter Sunday yang super lenggang.. tapi terlalu cinta ke Kyu, ampe takuuut banget ngeganggu si Kyu yang notabene cowoknya.. hhmm, kurang suka ama sisi dia yang ini.. aku sukanya cinta yang equal.. mungkin Kyu-nya sebenarnya perhatian tapi menurutku cinta harus ada bukti nyata, biar pasangan tahu, jangan dipendem doang.. Ahaaa.. lets talk about love /Seungri lewat.. ngamen.. xD
    Aku pikir aku akan milih Sungmin aja.. tapi dia udah not available.. hihi..

    One note, Sophie bisa romantis eeuuy..

  5. Ff pertama yg aku baca nih., seruu. Seneng bacanya. Cara nulisnya bagus.. Sederhana dan bikin yg baca ngerti. Inti dari menulis kan itu ya sebenernya hehhe.
    Seneng banget, ngerasa aja karakternya ngena ke Kyuhyun. Hahha lol
    Seneng sama karakter2 yg dingin tapi sebenarnya penyayang… Deg2 serrrr gitu ngadepin org kaya gitu. Hihihi.
    Anyway, ijin baca yg lain yaaa. Keep writing (:

  6. suka banget sama kiasannya dan alur ceritanya lalu karakter kyuhyun kemudian betapa beruntungnya Moon Chae Won ><
    ini manis bangett!!! haaah pokoknya ditunggu cerita2 kyuhyun selanjutnya, hehehe

  7. Permainan kata2ya as always soppphh
    Suka banget
    Heran knp aq br nemuin ff ini skrg hoho
    Aku menjelajah blog kamu lagi deh
    Sepertinya bnyk harta karun d sini wkwkwk

  8. Keren chingu…
    Hohoho…
    Awalnya aq baca nee ff karna moon…
    Tp ternyata kereeeeen tambah backsound pake what is love nya exo..

  9. Kyuhyun!!!!!!!!!
    Aku meleleh aaaakkkkk~!!!!
    Gila dah, emang ya cuek tuh bukan berarti ngga peduli
    Di balik cueknya Kyu tersimpan beribu sifat romantis, aku ngga kuat/?

  10. Pertama, mau komen posternya
    Suka bangeeettt
    Kesannya klasik sendu gimana gitu
    Dan judulnya bener2 punya makna banget
    Sunday si chaewon,monday si kyuhyun
    Awalnya sebel sama tingkah kyu
    Tapi di akhir2 tahu banget betapa sweetnya kyu

  11. Wah.. Suka banget sama Ceritany xD
    Pertama kali Kesal banget sm sifat Kyuhyun -__-
    tp pas Ending nya Suka Banget Hahahaha
    KerenThor😀

    di tunggu FF Selanjutnya ya

  12. Huaaaaa >_< ini pas banget sama aku neng shop, sebenernya aku suka tipe cowo yg perhatian tapi entah kenapa aku menyukai cowo super dingin gt, pokoknya dia itu moodboosterku, susah mendapatkan perhatiannya, sampe2 aku musti ngilangin gengsi. Dia respon kalo aku menghubunginya, tp sulit sekali untuk mendapatkan momen dia menghubungiku duluan, Arggg pokoknya tipe cowo yg kek begini musti dikasih pencerahan, sebenernya mungkinkah dia juga menyukaiku ??? aku slalu mengharapkannya.. #edisi curhat bersama neng shopie

    • ayo ayo shareee
      ya ampunnn siapakah cowok sialan ituuu??? xD
      apa dia mirip kyuu???
      hahahahhaaa
      ada yang lagi pedekate ini ceritanyaaa hahahahaseeekkk
      terus2 sejauh ini hubungan kalian statusnya apa???

      yup tipe cowok kayak gitu, harus disentil pake obeng biar sadar kekekeke

      • ga mirip kyu sama sekali hahahah tp ga kalah ganteng sich.. Ecieee di belain.. Hubungan masih rumit.. Apa coba ?? Aku malah di jodohin sama kakaknya😦

        • hahahahaha cieee cakep iniii
          aduh kok bisa? kamu deket gitu sama dia ga sih?
          biasanya sih kalo orang suka itu masih malu2 dan malah jodoh2in ke orang lain
          biasanya sih gitu hihihi

          • yg jodohin itu mbknya.. jadi awalnya aku di kenalin adeknya yg bontot lalu aku dijodohin sama adeknya yg kedua… nah tuchdi situ aku sudah terlanjur sukanya sama si bontot(?).. sekarang yg kejer deketin aku si kakaknya.. si dia malah cuek, mau ga mau gitu… trus aku musti gimana ?? aku uda kayak bola aja di lempar2 -_-

            • Ya udh sama yg bontot ajaa
              Bontot kan brrti kyuuu xD

              Hmmm tp kok aq ngerasa si co ada rasa sama kmu ya? Soalny co.itu biasanya main pake otak, dan kalo udh sok makcomblng gitu bukan co bgt deh. Kecuali ada udang di balik penggorengan…

              Km ada sering cerita ttg adek2nya di depan dy gitu gak? Kl iya…mgkn itu yg bikin dia bersikap kyk gitu
              Itu pun ada 2 alasan, krn dy pngin bntu km deket atau krn bwt nutupin sesuatu. Eaaaaa xD

  13. FF nya bikin aku terharuuuuuuuuuuu T________T Kyuuuu asdfghjkl pesonamu gak prnh matiii❤
    Aku bngung ya prnh ngalamin itu apa gak wkwk soalnya dulu prnh punya pacar kk kelas yg super sibuk gara2 UN tp dia nya mah perhatian malah akunya yg cueeek+gak peka banget -___-a Trus dia gak tahan ama aku trus end wkwk curcol nih eon wlwkwkwk Eh aku jd ngebayangin pny cowo yg cuek dingin kaya karakter kyu gmna ya –"
    Ditunggu FF lainnya eon! Tulisan eonni selalu meninggalkan kesan :3

    • hmm berarti seharusnya kakak kelasmu yang baca ff ini dan share gimana pengalamannya dicuekkin kamu habis2an xDD
      eh eh eh tapi aku sama kok kayak kamu, aku lebih sering cuek dan ga perhatian. but in another time, im become overdosis romantic, dan kalo udah kejadian, dia bakal noyor kepalaku sambil bilang: “kembali lah ke alammu wahai setaaaaannn!” hahaha, nggak, dia paling cuma ngetuk2 kepalaku sambil bilang supaya aku ga usah lebai hahahaha

      wah, kalo urusan kamu, si pacar kesekian mu itu adalah si moon , kasian2,.. pacarmu maag ga? *eh

      hm… kalo kamu udah agak dewasa kamu bakal nemuin cowok yang cuek2 gimana2 gitu kok,bertebaran di kampus dan cenderung menyebalkan, sedikit menyulut emosi, dan membuat imajinasi liar untuk mencemplungkannya ke kolam taman kampus –”

      tengkies ya udah baca ff ku~

  14. Bagus banget eon :DDD
    Sampe menye menye bacanya T^T apalagi pas si moon nya sakit itu, duh itu mah realnya aku/? kalo lagi kumat maag nya -_________-v
    overall daebaaaaak😀
    btw yang ff tbc”nya itu lanjutin dong eon, apalagi yang Don’t Trust The Liar in Apartement 13😀
    ngebet baca ini😀

    • huaaa jangan nangis
      waaahhh kamu maag juga? samaa! ayo toss sama aku!! xDD
      iya kalo udah maag itu ampe nggak bisa ngapa2in dan udah ampe berimajinasi kalo hari ini hari terakhir membuka mata gitu deh *plak
      soalnya emang sakit banget. apalagi maag kronis, huhuhuhu aku pengin nangis aja kalo udah kambuhhh

      iya dilanjutin kok, sbenernya udah ditulis setengah tapi sengaja ga di post
      refrsh dulu dari tbc tbc an dan cabe cabe an *??
      makanya aku terbitin oneshot
      refreshing sebelum enek liat wajah kyu-yesung-eunhyuk-donghae bersodara

      • kita samaan eon *.*/\
        tapi aku ga sampe segitu kalo mengkayal :3
        iya sih eon kalo lagi kambuh gitu jadi dilema sendiri, mau makan nasi masih mual, gak makan tambah mual /.\
        jadi bingung mau beli obat maag yang mujarab di toko material mana .__.
        but, aku nunggu selalu loh ff nya eon *.* walaupun eon lagi anu sama ‘mereka’ >.<

  15. ah, co cwit amat!!
    jd pengen pacaran ma kyu. *plakk*
    tp ga deh. bs makan ati aku dijuteki dia terus.

    Tp klo kt org sih ya, justru yg bertolak belakang itu malah yg cocok.
    saling melengkapi.
    yah, at least percaya aja bahwa yg berada d sisi kita adalah yg terbaik utk kita.
    Nice story soph…
    Suka.😀

  16. kyuhyun itu di sini sebenarnya sweet banget, cuman karakternya aja yang gk cocok untuk romantis and menggombal ria:D
    sunday k monday sangat dekat tapi dari monday k sunday lama banget;D
    kk sophie this is sweet story:’)
    like it so much:)) jd pengen baca lg:D

  17. hohohoho bener bener alih genre dari gaje jadi romance gini hahaha aduhhh kyu kok bisa manis .-. padahal aku odah mau move on dari kyu tapi gegara baca ini jadi jatuh lope lagi ahhhh –”
    kak sopiii tadi ada typo ya?
    “Apa aku benar-benar membuatku terganggu?” dikit sih gak apa apa da tetep keren gak ngubah alur /?
    seperti biasa aku kangen tulisan ngocol kak sopi keya diary yesung lagi :3

  18. untung aj kyu oppa g d nistain d sini,klo g aq bkln ngejer2 sophie eon klo smpe ngenistain kyu oppa hahaha..
    klo ff d atas blm prnh ngalamin,coz aq g prnh pcrn sih..tp aq suka sm cerita d atas,sesibuk-sibukny qt sm kerjaan ato sst apapun itu jgn sampai lupa dg org yg qt sygi *bwt yg py pcr*ato pun yg udh py pndamping stidakny prhatiin dia wlopun hal2 sepele skalipun.
    yh wlo kyu oppa d sini kyk g pduli gt sm chae won,mhs skaligus pcrny tp sbnrny cwk prhatian,bhkn dia rela ninggalin seminar demi chae won yg maagny lg kambuh,trs nganterin obat k apartemenny chae won..tuh kn trnyata wlo sibuk dia msh py wkt ngurusin chae won..so sweet n gentelman(><)
    chae won,jgn negative thinking sm kyu oppa,tuh buktiny msh d perhatiin..

    • wah first reader, sebentar siapin kembang api dulu

      pyaarrr pyaaaarrrr~!! asiikkk xDDD
      hmm lagi ga pengin ngenistain kyuhyun akibat ancaman dia bakal ngerebut daku yang manis ini dari pelukan yesung
      daku jadi takutttt~~~ hihihihi
      aduh, kami belum pacarn? nggak apa2 ada suatu saatnya kamu bakal pacaran dan may be ngalamin hal yang kayak gini, ngerasa kayak nya pasangan kita itu nyebelin nan amat tak perhatian kekekke

      iyaa si moon harusnya ga negatif thinking
      hm may be kyu juga salah, dia ga lebih terbuka dengan moon chae won
      ngomong apa yang ada di pikirannya
      kan si moon jadi ga berpikiran buruk muluuuu xDD

      • kykny g bs bygin kyu d pasangin sm sophie eon deh,agak2 gmn gt..absurd +evil gmn jdny ya?

        emgny kyu mw gt sm sophie eon?emgny dia ad niatan ngerebut sophie eon dr yesung oppa?bknny kyu oppa bkln balik nindas sophie eon gr2 nistain dia..hahaha

        • Aku ga masalah dgn diriku,aq takutnya yesung bakal terluka dan tersakiti,.lantas terperosok sampai ke.titik terbawah hidupnya
          Bagaimana mgkn aq bikin hancur makhluk kaya, tampan, kaya, dan kaya seperti si yesung ituuuu?
          *Plak

          Eh tapi aq jg g bs bayangin gmn klo seandainya, hanya seandainya,,,, sophie dipasangin sama kyu…
          Err… kyaknya cuma cck bwt temenan gitu dehhhh
          Hahahaha
          Bisa gempar dunia kalo jadian xD

Just talking...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s