A Cup Of Lee (Part 2)

Sebagai penulis, aku akan memberitahumu akhir kisah ini: bahagia.

Menurutku sih, begitu.

Tapi aku tidak bisa menentukan apakah akhir kisah ini akan bahagia bagimu atau tidak.

Kutegaskan, konsep kebahagiaan berbeda-beda tiap orang.

Aku akan memberimu gambaran, cerita ini tentang Song Ji Hyo, wanita yang mencintai Lee.

Tapi dia bertemu dengan Lee lain yang membuatnya menggila.

Dan sampai pada satu titik, wanita sialan ini harus menentukan kebahagiaannya sendiri.

Lee mana yang harus dipilih?

Tenang saja, cerita ini akan berakhir bahagia.

Setidaknya, menurutku sih begitu.

.

.

.

Author : Sophie Maya

Title     : A Cup Of Lee (Part 2)

Cast     : Song Ji Hyo, Lee Hyuk Jae, Lee Dong Hae

Support Cast: –

Genre  : unknown

Rated  : PG-19+

Length: chaptered

Type    : ?

Summary         : Lee itu seperti toxin, kau bisa jadi zombie jika terkena virusnya. Kau bisa jadi zombie… yang sedang jatuh cinta… dan hidup dengan satu tujuan: mencintainya.

acolcredit poster: glin @ cafeposterart

 

Disclaimer       : this story is MINE.

 

 

.

.

.

.

.

.

Kalau Ji Hyo itu Lee Ji Eun, dia pasti udah teriak tiga oktaf dengan ekspresi ala artis opera sabun di Broadway. Tapi sayangnya, Ji Hyo cuma punya modal wajah cantik. Dan ugh, kalau soal suara, dia bakal mundur teratur dari barisan dengan sukarela. Walau begitu, gimanapun juga, Ji Hyo tidak bisa untuk tidak menatap stilletonya dengan pandangan mengerikan, seperti dia baru saja terkena petir berkali-kali tanpa ampun. Bola matanya seakan ingin mencuat, lalu kabur lari tunggang-langgang.

Ji Hyo bisa merasakan bagaimana mati suri itu terjadi. Dia memang seperti orang yang nyawanya baru saja dicabut dari raga, dia bahkan tidak bisa bergerak sama sekali, dan dia bahkan melihat malaikat kematian di hadapannya.

Malaikat kematian… yang tengah mengangkat tinggi-tinggi stiletto merahnya dengan pandangan bingung.

“Stilletoku!!” jerit Ji Hyo keras.

Sang malaikat kematian menatap stiletto Ji Hyo sejenak, mencari-cari apa ada yang salah dengan stiletto itu, dan ketika sadar memang ada yang salah, ekspresi di wajahnya langsung berubah. “Oh, maaf Nona! Aku membuat heels stiletto-mu terlepas!”

“Yaa!!!” Ji Hyo segera berdiri, merebut paksa stiletto merah di tangan sang malaikat kematian—yang baru saja mencabut nyawa stiletto Ji Hyo.

Lihatlah, lihatlah, lihatlah… stiletto Ji Hyo kini rusak. Heelsnya masih tersangkut di lubang gorong-gorong, catat, masih tersangkut! Yang itu berarti stillettonya kehilangan heelsnya! Seperti garpu yang kehilangan sendok, roti yang kehilangan selai, dan idola yang kehilangan fans. Stiletto tanpa heels benar-benar terlihat nista!

“Aduh, maafkan aku, Nona…”

Ji Hyo masih meratapi stiletto miliknya, kedua bola mata besarnya berkaca-kaca. “Bagaimana bisa aku pergi ke reuni SMA-ku jika tanpa stiletto? Aku tidak membawa sepatu yang lain…”

Sang malaikat kematian menggaruk-garuk kepalanya kebingungan. “Begini ya, Nona, aku sebenarnya mau saja ganti rugi atas stiletto-mu, aku akan membelikannya yang baru. Tapi masalahnya, ada yang harus kuurus sebentar di tempat kerjaku, Aldantѐ, kau tahu tempat itu, kan? Nah, aku harus kesana sekarang juga—“

Ji Hyo seketika menghentikan ratapan anak tirinya begitu mendengar nama Aldantѐ disebut-sebut. Itu adalah nama restoran miliknya, tepatnya, milik keluarganya. Ji Hyo bahkan melupakan sebab musabab tragedi yang baru menimpa (hal yang sebenarnya nyaris sulit untuk dilupakan oleh tipikal gadis stiletto-hollic seperti dirinya).

Gadis dengan rambut bergelombang tersebut menoleh kepada sang malaikat kematian dengan alis berkerut-kerut. “Al…dan…tѐ?”

“Ah, restoran itu tampaknya memang benar-benar terkenal. Semua orang di Seoul tampaknya mengenal restoran itu.”

Ji Hyo menyelipkan beberapa helai rambutnya ke belakang telinga, berusaha memastikan topik pembicaraan yang sedang dibahas sang malaikat kematian. Dia tidak mungkin salah dengar kan? Malaikat kematian ini kerja di Aldantѐ? Serius? Beneran? Sumpah demi apa?

“Jadi kau kerja di Aldantѐ?”

“Ya, hm… anggaplah aku baru kerja hari ini. Karena ini hari pertamaku di Incheon juga—“

Hari pertama kerja?

Ji Hyo teringat cerita Joong Ki soal asisten dapur yang baru bekerja hari ini di restoran keluarga mereka, Aldantѐ. Mata Ji Hyo melirik paper bag sang malaikat kematian sembari mengenang ucapan Joong Ki beberapa jam lalu.

 

“…tapi ck… perlu kau tahu, asisten dapur kita yang baru agak payah, dia bilang dia belum selesai belanja buah-buahan sejak sore! Dan dengan santainya menolak untuk menjemput chef…”

 

Mata Ji Hyo menangkap pemandangan buah-buahan yang menjadi penghuni paper bag, dan seketika Ji Hyo menyeringai lebar, kedua alisnya terangkat tinggi-tinggi. Ah, jadi ini asisten dapur yang payah itu?

“Nona… permisi… apa arwah anda masih di tubuh anda?” sang malaikat kematian melambai-lambaikan tangannya, keheranan melihat sikap Ji Hyo yang mendadak aneh.

“Jadi kau si asisten dapur yang baru itu!” teriak Ji Hyo tiba-tiba.

“Asisten…” pria itu tampak bingung, lalu wajahnya terlihat seperti orang tersedak biji markisa, “a-apa?”

Ji Hyo menyibakkan rambutnya. Memasang tampang angkuh seperti nenek sihir salah tempat. “Asisten dapur yang baru di restoran Aldantѐ, yang dari tadi sore berbelanja buah-buahan tapi tak kunjung kembali, dan membuat sang bos kelabakan…”

“Eh? Maksud—”

“Jangan menyela ucapanku!” Ji Hyo mengangkat tangan, menyuruh pria di depannya berhenti bicara. “Kau sepertinya harus diajari sopan santun pada atasanmu. Restoran Aldantѐ adalah restoran modern di Incheon, pelanggannya adalah para turis luar negeri, dan kredibilitas Aldantѐ diperhitungkan di dunia kuliner, pegawai payah sepertimu tidak bisa dibiarkan berleha-leha seenaknya di restoran itu!”

“Maksud anda?”

“Ssst! Jangan menyela ucapanku!” Ji Hyo menggeleng-gelengkan kepala. Astaga, ternyata cerita Joong Ki benar sekali. Asisten dapur ini kurang ajar sekali. Baiklah, Ji Hyo butuh mengajarkannya tata-krama dan sopan santun. Tapi, pertama-tama… “Siapa namamu?”

“Namaku?”

“Iya! Siapa namamu? Kau tak punya nama? Atau harus kupanggil ‘si payah’?!” Ujar Ji Hyo setengah membentak.

Dan dibentak seperti itu jelas membuat pria di depannya tampak terkejut dan kebingungan, lalu buru-buru menjawab dengan nada rendah.

“Lee Dong Hae.”

“Ah… jadi asisten dapur kita yang baru ini bernama Lee Dong Hae…” Ji Hyo menggeleng-gelengkan kepala dengan gaya dramastis. “Kau perlu tahu siapa aku, aku ini… Song Ji Hyo… kakak pemilik restoran Aldantѐ.

Ji Hyo bersumpah dia bisa melihat ekspresi kaget terpatri di wajah malaikat kematian bernama Dong Hae itu.

“Jadi kau kakaknya… Direktur Joong Ki?”

Ji Hyo mengangguk-angguk angkuh. “Astaga, kau ini benar-benar menyebalkan ya. Membeli buah dari sore sampai sekarang, dan tak kunjung kembali ke restoran. Lalu… kau membuat stiletto-ku rusak, dan astaga… kau tadi berkata apa? Ingin menggantikan stiletto mahalku? Kau tidak tahu berapa harga stiletto ini? Gajimu setahun pun tak cukup membeli stiletto ini!”

Dong Hae memandangi Ji Hyo dengan tatapan paling sulit diartikan. Tapi Ji Hyo sudah tidak peduli. Meskipun Ji Hyo tidak bisa membantu Joong Ki menjemput chef baru mereka, tapi Ji Hyo bertekad akan membantu Joong Ki mengatasi asisten dapur payah yang satu ini.

Maka, segera saja gadis itu menarik tangan Dong Hae kuat-kuat.

“Kau… ikut aku! Ke reuni SMA-ku! Sekarang!”

“A-apa?”

“Jangan banyak bantah! Kau ini bawahanku!”

.

.

.

.

.

.

Kalau Dong Hae itu Lee Hyuk Jae Super Junior yang punya pacar si Lee Ji Eun super-imut-super-kecil-super-ukuran-S, Dong Hae tidak akan merepet panjang lebar dalam hati buat ngegedong cewek itu kemana-mana. Tapi persoalannya, Dong Hae bukanlah Hyuk Jae si tukang-nari-tukang-pamer-abs-ceking-kemana-mana, dia itu cuma chef polos, tidak berdosa, dan sedikit rajin menabung, mirip-mirip dengan Pororo-lah. Dan catat, Dong Hae dan gadis ini… ugh, siapa? Ji Hyo? Nah, iya, Dong Hae dan Ji Hyo ini bukan sepasang kekasih. Buat apa mereka pakai acara gendong-gendong kayak acara cari jodoh begini? Satu lagi, satu lagi, gadis ini berat… sekali…

“Apa Nona tidak bisa jalan sendiri? Kenapa harus digendong?” tanya Dong Hae berusaha menarik kaki-kakinya untuk melangkah. Amat sulit, karena gadis bernama Ji Hyo ini tampaknya punya berat bada dua kali lipat dari yang terlihat di luar.

“Stilleto-ku rusak, mau gimana?”

“Kan bisa nyeker?”

“Telapak kakiku mahal perawatannya. Aku cuma pakai sabun khusus dari Italia untuk menyabuni kakiku.”

Dong Hae menyipitkan mata. “Sebegitunyakah?”

“Asisten dapur sepertimu mana mengerti soal ini. Kakiku itu…hm… mungkin seharga dengan seluruh tubuhmu?”

“Begitu, ya?” Dong Hae menggeleng-gelengkan kepala.

Sebenarnya punggung Dong Hae sudah lelah sekali. berjam-jam duduk di pesawat membuatnya letih dan ingin berguling-guling di kasur, namun tampaknya hal itu masih lama terjadi. Dong Hae terjebak bersama Ji Hyo, yang terus menganggapnya sebagai asisten dapur atau apapun itu. Dan Dong Hae bahkan tak punya kesempatan untuk menjelaskan, karena Ji Hyo selalu meracau panjang lebar tentang peraturan-peraturan pegawai Aldantѐ—yang sebenarnya sudah Dong Hae hapal, pheeeulisss.

Atau mungkin saja, Ji Hyo ini tidak bisa membedakan mana asisten dapur, dan mana chef? Tipe-tipe gadis seperti Ji Hyo tampaknya tipe gadis buta dapur. Gadis yang tidak akan bertahan lama hidup kalau tidak punya suami yang pandai memasak. Tipe-tipe gadis seperti ini, cocoknya menikah saja dengan seorang chef seperti dirinya…—

Uhuk! Wait, tunggu, chakkaman! Apa tadi yang barusan dipikirkannya?

Dong Hae menggeleng-gelengkan kepala. Dia pasti benar-benar terlampau lelah sampai otaknya melantur-lantur tak jelas.

“Kau sedang apa? Kenapa menggeleng-geleng? Kau sedang melamun jorok, ya?” tanya Ji Hyo melihat kelakuan aneh Dong Hae.

“Iya, begitulah.”

“UUUAPPPAA?” Ji Hyo tersedak, langsung memukul-mukul punggung Dong Hae. “Ya! Kau pasti melamun jorok tentangku! Aku tahu, aku bukan Maria Ozawa, tapi aku punya ukuran tubuh yang membuat pria sejenis Ken—pacarnya barbie—berbaris seperti tentara militer.”

Dong Hae mau tak mau tertawa keras mendengar celoteh Ji Hyo. Meskipun, demi Tuhan, punggungnya benar-benar sakit dipukuli gadis ini, tapi celotehan gila Ji Hyo membuatnya sakit perut.

Dan, sepanjang jalan menuju hotel tempat reuni Ji Hyo, keduanya selalu bertengkar tanpa henti. Seperti kucing dan ikan. Ya, mereka memang kucing dan ikan, sih…

.

.

.

.

.

.

Chae Rin mengabsen penampilan Song Ji Hyo dari atas sampai bawah dengan pandangan tidak percaya yang kentara sekali didramatisir.

“Kau Song Ji Hyo?” tanyanya dengan ekspresi pemain kolosal murahan.

“Bukan, aku Yoona SNSD,” ucap Ji Hyo sekenanya.

Meledaklah tawa Chae Rin.

“Astaga, Ji Hyo… selera humormu masih juga tersisa. Kau tidak banyak berubah, kecuali…” Chae Rin kembali menatap Ji Hyo dari atas hingga bawah. “astaga, tampar aku! Tampar aku! Kau semakin cantik dan terlihat luar biasa!!!” Chae Rin menjerit seperti gadis busung lapar yang histeris.

“Chae Rin-ah! Aku tidak bisa menampar wanita secantikmu, kau tahu! Aku bisa kena marah Tuhan karena menyakiti makhluk-Nya yang indah. Lebih baik kau saja yang memukulku karena aku nyaris tak percaya melihatmu bertambah anggun. Hei, apa kau memakai make-up merk baru? Kulitmu masih terlihat seperti kulit bayi!” Ji Hyo memeluk Chae Rin erat-erat. Dan mereka tertawa-tawa seperti gadis rambut blonde papan atas di Hollywood.

Tapi setelah melepas pelukannya dari Chae Rin, Ji Hyo menyadari Dong Hae mengernyit asing melihat tingkah dirinya dan Chae Rin. Ji Hyo bertanya “ada apa?” tanpa suara ke arah Dong Hae.

“Kalian berdua kapan terakhir bertemu?” bisik Dong Hae pada Ji Hyo.

Ji Hyo tersenyum lebar. “Dua hari lalu.”

“Astaga, dua hari lalu dan kalian saling memuji berlebihan seolah sudah lima puluh tahun tidak bertemu?” Dong Hae memelototkan mata lalu menggeleng-gelengkan kepala. “Dasar wanita…”

Ji Hyo hanya mengangkat bahu. Memang, dimana letak salahnya? Lagipula, setiap wanita memang begitu. Baru bertemu dua jam lalu dan kembali bertemu lagi, mereka pasti akan mengucapkan “salam” histeris nan heboh seperti tadi. Yap, namanya juga wanita. Histeris itu wajar. Lagipula, tujuh dari sepuluh wanita di dunia dianugerahi suara yang lebih bagus dari pria. Harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, kan?

“Tapi… siapa pria tampan di sampingmu ini?” Chae Rin menyadari kehadiran Dong Hae yang terus menatap keduanya tanpa ekspresi.

“Dia…”

“Hei, ini tunanganmu, Ji?” Siwon tahu-tahu datang dari dalam. Pemuda maskulin itu segera menarik Ji Hyo ke dalam pelukannya, cipika-cipiki, dan menggelitiki pinggang Ji Hyo.

“Hentikan, Siwon. Geli… hahaha…” Ji Hyo menepuk-nepuk tangan Siwon.

Siwon adalah salah satu sahabatnya saat SMA. Pemuda itu sering bertingkah kebarat-baratan (maklum, Siwon memang berasal dari Perancis), setiap bertemu selalu berpelukan dan melakukan hal-hal lain layaknya orang barat. Ji Hyo sempat melihat ekspresi Dong Hae dan sedikit kaget mendapati bahwa Dong Hae bahkan bisa memasang tampang cool akan sikap Siwon. Terutama ketika Siwon mengajaknya berhigh five, Dong Hae mengikutinya tanpa canggung.

Oh ho… asisten dapur Aldantѐ ini cepat beradaptasi juga.

“Dia bukan tunanganku. Dia hanya… yah, aku sedang membully-nya saja, untuk hari ini. Aku baru lima menit lalu bertemu dengannya.” Ji Hyo mengangkat bahu cuek.

“Sungguh?” Siwon mendelik. “Hei, dude! Kesalahan apa yang kau lakukan sampai membuat preman pasar ini bertingkah?”

“Ya! Jangan sebut aku preman pasar!” Ji Hyo menonjok pelan lengan Siwon.

“Hahaha, jangan berusaha menyembunyikan sifat aslimu dibalik wajah manismu itu, Babe. Meskipun kau ini model papan atas, tapi semua murid SMA kita tahu betapa bar-bar nya dikau saat SMA.”

Ji Hyo mencibir. “Oh, astaga. Sial kau, Siwon…”

So, dude… let me repeat this… apa kesalahan yang kau buat?” Siwon menatap penuh minat kea rah Dong Hae. Berharap Dong Hae menceritakan satu kisah dahsyat yang mampu mengguncangkan wilayah Seoul setempat saat ini juga.

Dong Hae menatap Siwon sejenak. Memandang Ji Hyo malas, kemudian berkata pelan, “Aku tanpa sengaja membuat heels stiletto gadis ini rusak…”

Siwon dan Chae Rin saling berpandangan, lalu kompak tertawa heboh.

“Astaga! Im sorry to hear that!” Chae Rin terkekeh-kekeh. “Another weird story about Kapten Ji, right?”

Right!” Siwon mengangguk-angguk setuju.

“Diam atau kusumpal mulut kalian.” Ji Hyo menggeram gerah.

Siwon tampak tak peduli. Dia ingin mengulik-ngulik lebih lanjut tentang Dong Hae dan kesialan pria itu. “So, si preman pasar ini menyuruhmu melakukan apa?”

“Dia menyuruhku menggendongnya dari perempetan di depan… sampai ke tempat ini.”

“ASTAGA!!! YA! SLUTTY GIRL! YOU JUST CRAZY!!” Chae Rin terpingkal-pingkal. Membayangkan pria malang bernama Dong Hae, yang menggendong tubuh Ji Hyo, sungguh amat lucu. Ji Hyo itu meski terlihat kurus seperti orang-orangan sawah, tapi berat aslinya seperti sekarung beras. Chae Rin pernah merasakan bagaimana sensasi menggendong Ji Hyo, dan setelah itu dia harus mengalami encok di bagian punggung selama berhari-hari. Dia harus menjalani fisioterapi selama dua belas kali dan dilanjut dengan rutin berenang untuk proses penyembuhannya. And for your information, dari SMA, gaya renang yang Chae Rin bisa cuma gaya batu kali. Alias, begitu nyemplung, langsung kelelep dan bye bye jia jien. Bisa dibayangkan seberapa menderitanya Chae Rin dengan terapi itu.

Siwon ikut tertawa. Meski sebagai sesama pria, dia seharusnya bersimpati pada Dong Hae karena mengalami “kiamat kecil” akibat Ji Hyo, tak bisa dipungkiri, geli sekali membayangkan sang preman pasar menyuruh pria yang baru dikenalnya untuk menggedongnya.

Tapi mereka terpaksa harus menghentikan aksi menggosip di depan pintu Gracia Hotel Ballroom karena acara reuni mau dimulai. Chae Rin menggiring Ji Hyo untuk duduk di salah satu meja sambil keduanya terus saling memuji penampilan masing-masing. Sementara Siwon (yang tampaknya masih penasaran maksimal dengan cerita pertemuan Dong Hae dengan Ji Hyo) dengan rela hati menarik Dong Hae ke meja bagian para lelaki.

Chae Rin memanggilkan pelayan untuk menghampiri meja dan memberikan menu pada Ji Hyo.

“Air putih saja,” ucap Ji Hyo sambil tersenyum manis.

Pelayan itu mengangguk dan berlalu setelah mengatakan akan membawa pesanan Ji Hyo tidak lebih dari lima menit.

Ji Hyo beralih pada Chae Rin yang kini sudah berdiri di atas podium kecil dan membuka secara resmi acara reuni mereka yang diiringi dengan tepuk tangan dari para tamu. Ji Hyo mengedarkan pandangan untuk mengamati wajah-wajah temannya yang kini mulai berubah mengikuti usia. Sudah lebih dari sepuluh tahun mereka berpisah dan beberapa diantaranya nyaris tak pernah bertemu. Sehingga tak jarang Ji Hyo melihat ekspresi haru yang tergambar di wajah para tamu.

“Kalian tahu apa artinya ‘reuni’?” Chae Rin menunjukkan senyuman terbaiknya ketika melanjutkan kalimat dengan nada setengah menggoda, “mempertemukan dua orang yang sudah lama tak bertemu… yang mungkin saja belum menyelesaikan urusan masa lalu mereka…”

Kalimat Chae Rin disambut sorakan membahana. Gadis itu tertawa lebar, merasa bahwa tebakannya memang betul.

Ji Hyo sendiri tidak begitu memperhatikan ucapan sambutan dari Chae Rin, karena ketika itu, kekasihnya mengirimi sebuah pesan.

 

[Message from Lee]

Aku akan terlambat menjemputmu, kau bisa habiskan waktu lebih lama. Jam sebelas aku mungkin tiba di tempat reunimu, Nona Song.

 

Ji Hyo tersenyum kecil dan mulai mengetik balasan untuk kekasihnya.

 

[Message to Lee]

Jika kau terlambat lima menit, hukumanmu menciumku sekali. terlambat sepuluh menit, kau harus menciumku dua kali. Terlambat lima belas menit, kau harus menciumku tiga kali. Terlambat dua puluh menit…

 

Ji Hyo merasakan seseorang tengah menatapnya. Ketika kepalanya terangkat dan memandang sekitar, tidak ada seorang pun yang memandanginya. Semua sibuk dengan urusan masing-masing.

Mungkin hanya perasaanku, gumam Ji Hyo kembali meneruskan pesannya.

 

[Message from Lee]

Wah, kau membuatku tergoda untuk terlambat berjam-jam lamanya… agar aku bisa menciummu sepanjang malam ini. Kau nakal sekali, Nona Song… :p

 

Ji Hyo terkikik kecil menerima balasan dari kekasihnya. Ketika itu, Chae Rin sudah menyelesaikan sambutannya dan kembali ke tempat duduknya, di samping Ji Hyo. Mereka duduk di meja bundar yang ditempati sekitar lima sampai tujuh orang. Di meja Ji Hyo sendiri terdapat teman-teman sekelasnya dulu.

“Sampai kapan kau akan membully pria yang baru kau temui itu, Ji?” bisik Chae Rin tepat ketika gadis itu menjatuhkan pantatnya di kursi. Chae Rin adalah ketua panitia reuni sehingga dia selalu bolak-balik mengurusi tamu yang terus berdatangan. “Kau bahkan menahannya di acara reuni ini. Dasar kau… hihihi…”

Ji Hyo memalingkan wajah dari ponsel dan berdecak. “Oh, come on… Chae Rin. Jangan bahas pria itu dulu. Aku sengaja melakukan hal itu karena dia amat pantas mendapatkannya. Kami memang baru bertemu, tapi aku tahu benar seberapa pantasnya pria itu untuk dikerjai lebih lanjut.” Ji Hyo mengedipkan mata.

Chae Rin terkekeh. “Seharusnya kau membawa Hyuk Jae ke reuni ini. Bukan pria itu.”

“Aku sudah membujuknya, tapi pria itu tidak mau. Dia bersikukuh tidak ingin menemaniku.” Kilat mata Ji Hyo berubah sedih sebentar, namun kemudian gadis itu kembali ceria. “Tapi dia akan menjemputku nanti.”

“Oh, ya?” Chae Rin memandangi Ji Hyo sebentar. “Mungkin dia kelelahan… kau tahu latihannya itu amat padat. Seharusnya juga, dia tidak menjemputmu, kan?”

“Ya, begitulah…ah, sebentar, Chae Rin… Eunhyuk meneleponku.” Ji Hyo berdiri dari duduknya dan pamit keluar ruangan.

.

.

.

.

.

.

 

Lee Dong Hae melihat dengan seksama ketika Song Ji Hyo bangkit berdiri dan berlalu keluar. Saat itu Song Ji Hyo juga melewati meja Dong Hae, dan pemuda itu bersumpah dia bisa mencium aroma parfum mahal dari tubuh gadis itu. Dan jika dirunut dari puncak kepala hingga ujung kaki Ji Hyo, segala merk barang mahal melekat di sana. Gaun pendek hitam merk Dior yang melekat pas di tubuh rampingnya, jaket Armani warna ungu tua dan berbulu-bulu yang menutupi tubuh hingga selutut, dipadukan clutch Gucci keluaran terbaru, dan jangan lupakan make-up Ji Hyo yang dilihat dari warna eyeshadow serta pewarna bibirnya, adalah merk MAC. Dong Hae sudah bisa mengira-ngira berapa juta yang dihabiskan gadis itu hanya untuk sekali berdandan.

Tapi kalau diingat-ingat dari obrolan yang sempat Dong Hae tangkap tadi, Ji Hyo adalah model terkenal di Korea. Mungkin itu yang membuat gadis itu rela dan terbiasa berpenampilan super duper mewah begini.

“Hei, man… jangan lihatin Ji Hyo terus. I know she’s gorgeus. Tapi dia bukan pajangan etalase yang bisa dipandangi gratisan berjam-jam.” Tahu-tahu Siwon menyenggol lengan Dong Hae, pemuda itu tertawa renyah mendapati Dong Hae mengekori kepergian Ji Hyo.

Dong Hae berdeham-deham kecil. “Aku tidak begitu.”

“Oh, ya?” Siwon menuangkan minuman di gelas, menawari Dong Hae yang dijawab dengan gelengan kepala. “Tapi, kalau aku boleh tahu…” Siwon menghabiskan minumannya sekali teguk, “kau ini terlihat familiar, lho.”

“Masa?” Dong Hae berusaha mengatur nada suaranya. Meski dalam hati dia penasaran, apa benar Siwon mengenalinya sebagai chef pasta yang baru menyabet kejuaran memasak internasional di Venezuela tahun lalu?

“Hm, seperti wajahmu tak asing.” Siwon mengangkat bahu. “Kalau aku boleh tahu, kau ini siapa ya? Maksudku, selain fakta kau adalah victim dari aksi pembully-an Kapten Ji,” Siwon tertawa sejenak saat menyebut Dong Hae sebagai “victim”, tapi pemuda itu lalu melanjutkan dengan nada serius. “Sepertinya kau bukan orang biasa.”

Dong Hae tersenyum lebar. Berusaha menyembunyikan kesenangannya karena finally God, ada orang yang kenal dia! Meski Siwon tampaknya juga masih mereka-reka, tapi setidaknya, Dong Hae tahu wajahnya ini cukup dikenal. “Ya, anggap saja aku ada misi rahasia di Korea Selatan. Semacam menyelematkan dunia. Tapi, yang harus diselamatkan tidak sebesar dunia juga, sih… hanya yah, istilahnya, itu dia—aku punya misi mulia nan penting.”

Siwon mengangguk-anggukkan kepala. “I see… sejenis power ranger?”

Dong Hae sedikit melongo mendengar julukan yang Siwon berikan. “Power ranger?”

“Ya, mereka juga menyelamatkan dunia, lho.” Siwon menuangkan minumannya lagi. “Dan, mereka berwarna-warni.”

Dong Hae hampir tersedak mendengar ucapan absurd Siwon. Dan, kemudian, Dong Hae menyadari Siwon sudah sedikit mabuk. Wajah pemuda itu memerah dan dia bersendawa beberapa kali. Pantas saja ucapannya ngalor-ngidul begitu.

Sial, padahal tadi Dong Hae sudah senang maksimal begitu Siwon familiar dengan wajahnya.

Dong Hae memutuskan untuk tak bicara lagi dengan Siwon dan memutar kepala kea rah meja Chae Rin. Ji Hyo belum juga kembali ke tempatnya. Acara reuni sudah mulai dan Dong Hae merasa risih berada di tengah-tengah alumni SMA, yang bukan SMA-nya. Maka, Dong Hae memutuskan untuk keluar dari ballroom dan mencari Ji Hyo. Daripada dia garing kayak keripik singkong akibat kelamaan di dalam ballroom.

Dong Hae tak menemukan sosok Ji Hyo dimanapun. Tidak di depan pintu ballroom, tidak juga di toilet wanita atau pun lobby hotel. Dong Hae menggaruk kepala bingung. Masa iya, Ji Hyo meninggalkannya sendiri di sini? Yang reuni kan Ji Hyo?

Dong Hae memutuskan untuk benar-benar keluar dari hotel. Buat apa balik lagi ke ballroom? Toh, reuni itu kan bukan acaranya. Tapi saat Dong Hae baru keluar dari pintu hotel, pemuda itu justru menemukan Ji Hyo sedang berdiri di samping tong sampah kaleng di luar hotel.

Sedikit bingung, Dong Hae menghampiri Ji Hyo. Saat itulah, Dong Hae melihat Ji Hyo sedang menghisap rokok. Gadis itu menyandarkan tubuhnya di dinding kaca, sementara satu kakinya (yang entah kenapa bisa memakai sandal hotel) diangkat ke belakang. Gadis itu menatap kosong kea rah depan, dengan asap masih mengepul-ngepul dari bibirnya.

“Kau merokok?” Dong Hae tidak bisa menemukan kalimat yang tepat untuk menyapa Ji Hyo. Dong Hae sedikit antipati dengan gadis yang merokok, gimana pun juga, merokok itu tidak baik buat kesehatan. Tapi, kali ini, dia memaksa tetap berdekatan dengan Ji Hyo karena gadis itu terlihat berbeda dari saat mereka bertemu di dalam ballroom tadi.

“Oh, ya.” Ji Hyo mengangkat kepala dan mengangguk kecil.

“Kenapa tidak kembali ke dalam, Nona?”

“Sebentar lagi. Tunggu habis sebatang.”

Dong Hae diam saja.

“Ya sudah, ayo kembali ke dalam.” Setelah beberapa menit kemudian, Ji Hyo memutuskan membuang rokoknya yang masih setengah, dan menarik tangan Dong Hae kembali masuk ke ballroom.

Tangan Ji Hyo terasa dingin sekali. Dan Dong Hae tak henti-hentinya memandangi sandal hotel yang dipakai Ji Hyo.

“Kau ternyata bisa pakai sandal juga, kukira hanya pakai stiletto.” Nada bicara Dong Hae setengah menyindir.

Ji Hyo berdecak pelan. “Mau bagaimana lagi? Terpaksa. Hotel ini melarang siapapun buat merokok. Aku harus merokok di luar dan aku tidak punya waktu memanggilmu ke dalam ballroom hanya untuk digendong ke luar hotel. Jadi, aku pinjam saja sandal hotel.”

“Oh.”

Dong Hae memandangi punggung Ji Hyo dalam diam. Mereka telah tiba di ballroom tepat ketika Chae Rin meminta salah seorang relawan untuk maju ke podium dan bernyanyi.

Awalnya Dong Hae tidak ngeh, tapi tiba-tiba saja, dia merasakan lengannya terangkat ke atas tinggi-tinggi, diiringi teriakan melengking Ji Hyo. “Disini! Disini!” Ji Hyo berseru penuh semangat. “Uri Dong Hae mau bernyanyi!!” teriaknya sambil melompat-lompat.

Dan Dong Hae seperti terlompat dari tempatnya saat itu juga. Apa? What? Wae? Siapa yang mau nyanyi?

Suara gemuruh tepuk tangan yang menyuruh Dong Hae naik ke podium seketika memenuhi ballroom. Ji Hyo mendorong-dorong tubuh Dong Hae untuk melangkah maju. Tak peduli dengan penolakan pemuda itu.

“Ayolah sekali ini saja,” ujar Ji Hyo setengah merengek.

“Tapi aku tidak tahu satu lagu pun.”

“Ya ampun, terserah kau mau nyanyi lagu apa. Lagu pop, rock, bahkan lagu pansori pun boleh. Sana…sana…sana…” Ji Hyo terus-menerus mendorong Dong Hae.

Chae Rin bahkan ikut turun untuk menarik Dong Hae. Jadilah, dengan pasrah Dong Hae menuruti keinginan mereka. Dia pun digelandang ke atas podium.

Sejujurnya, Dong Hae memang tak tahu menahu soal lagu, apalagi lagu Korea. Dia hanya tahu boyband bernama Super Junior dan Big Bang, itu pun karena sepupunya, Henry, adalah salah satu member Super Junior. Tapi Dong Hae tetap tak tahu lagu Super Junior. Ya ampun, bahasa Korea-nya saja masih patah-patah begini.

Dong Hae memandangi seluruh alumni yang kini memandanginya penuh harap, dan juga kelompok musik di belakangnya yang sibuk menanyakan mau diiringi dengan musik yang bagaimana. Dong Hae menghela napas panjang sekali. Dia berbisik pada salah seorang gitaris di podium untuk meminjamkan gitar dan kursi. Dong Hae menggeret kursi itu sampai ke tengah-tengah podium. Setelah itu, duduk di atasnya dengan gitar di pangkuan.

Jemarinya memetik gitar perlahan, dan bibirnya mulai bernyanyi…

 

Fratelli d’Italia l’Italia s’ѐ desta

Dell’elmo di Scipio s’ѐ cinta la testa, dov’ѐ vittoria?

Le porga la chioma, che schiava di Roma Iddio la crѐo.

Stringiamoci a coorte, siam pronti alla morte

 

…bernyanyi, lagu Kebangsaan Italia versi akustik.

.

.

.

.

.

.

Sosok Dong Hae terlihat begitu jelas dari tempat Ji Hyo berdiri saat ini, dan tampak begitu menawan ketika pemuda itu memetikkan gitar dengan nada syahdu. Meski tak satu pun syair yang didendangkan Dong Hae dimengertinya, tapi tak apa. Ji Hyo terbuai dengan bagaimana pemuda itu memainkan gitar dan menghayati lagunya.

“Eeeyyy… ternyata pemuda yang kau bully ini tidak buruk-buruk amat, Kapten Ji.” Chae Rin yang berdiri di samping Ji Hyo menyeletuk. Gadis itu sama terbuainya dengan Ji Hyo. “Meski hell yah, dia sudah bikin stiletto-mu rusak, tapi takaran ketampanan dan suara merdunya bisa membuat kesalahannya termaafkan.”

Ji Hyo tidak bisa menampik ucapan Chae Rin ada benarnya. Untuk ukuran orang yang di bully dan asisten dapur Aldantѐ, Dong Hae jauh dari kata buruk.

“Entah lagu apa yang dinyanyikannya… dan bahasanya, sepertinya itu bahasa itali, kalau boleh kutebak?” Chae Rin menambahkan. “Wah, wah, wah… dia terlihat seksi.”

“Hei, pulihkan kesadaranmu, Chae Rin. Mana mungkin itu bahasa itali? Mungkin saja itu bahasa daerah, mungkin saja itu bahasa Jeolla-do. Memangnya kau kira Dong Hae itu bagaimana? Dia itu payah, tahu…” Ji Hyo menyibakkan rambutnya. Dan ketika itu, dia langsung melihat Chae Rin mendengus sembari menutup hidung. “Kenapa?”

“Kau bau asap rokok, Kapten Ji.”

“Masa?” Ji Hyo mengendus-ngendus tubuhnya dan menemukan bau tembakau masih melekat. Dia lupa menyemprotkan parfum sanitizer sebelum masuk ke ballroom.

“Kau merokok lagi, Ji? Kau kan hanya merokok saat kau ada masalah…” ujar Chae Rin lagi.

Ji Hyo menatap Chae Rin sebentar, dan tertawa sumbang. Bersahabat lama dengan Chae Rin membuat Ji Hyo tidak bisa berbohong pada gadis itu. Salah satu kebiasaannya jika sedang ada masalah memang melampiaskannya pada sebatang rokok.

“Kau ada masalah, Ji?” tanya Chae Rin lagi.

Ji Hyo menghela napas panjang. Menatap Chae Rin sejenak, kemudian mengangguk lesu. Sebenarnya tadi, Eunhyuk menelepon Ji Hyo untuk membatalkan janji pemuda itu menjemputnya. Eunhyuk bilang, dia mendadak ada janji dengan pelatihnya untuk membahas progress latihan mereka. Eunhyuk berulang kali minta maaf dan berjanji besok-besok jika dia tidak ada jadwal, dia akan menemani Ji Hyo kemana pun deh, seharian penuh deh.

Dan hal itu membuat Ji Hyo drop seketika. Mood nya yang baik langsung hancur berkeping-keping.

Ji Hyo tahu, sebenarnya itu masalah sepele. Hm, gimana menjelaskannya yah? Ji Hyo termasuk tipe gadis sunflower, gadis yang kalau sudah jatuh cinta, bisa nyemplung sampai dalam sekali. Ji Hyo sudah merasa Eunhyuk sebagai endorfinnya. Mental Ji Hyo bisa sedemikian lemah jika sudah berkaitan dengan masalah Eunhyuk.

Terdengarnya sih menye-menye dan terkesan picisan. Ji Hyo tahu, untuk takaran mantan tukang bully waktu sekolah dulu, mustahil seorang Ji Hyo bisa sebegitu tunduk jika sudah berhadapan dengan lelaki. Tapi that’s so true, Ji Hyo memang bisa tunduk. Lee Hyuk Jae itu bagai zat adiktif baginya.

Dan dijauhkan sedikit dari dopping nya itu, Ji Hyo seperti kehilangan semangat.

“…aku sedang tidak ingin membicarakannya padamu, Chae Rin. Aku lagi tidak sanggup…” desah Ji Hyo.

Chae Rin menatapnya iba. “Baiklah, anytime… kalau kau sudah punya waktu. Aku siap buat jadi tong sampah atau plastik kresek tempatmu untuk memuntahkan segalanya.”

Ji Hyo tersenyum penuh terimakasih atas kebaikan Chae Rin. Dan kemudian tertegun, ketika mendengar suara Dong Hae dari atas panggung.

So, I have a bonus for you, I will sing one more song. Hm, sebenarnya ini bonus buat seseorang yang udah maksa-maksa naik ke atas podium dan kelihatannya dia butuh sedikit endorfin supaya mata pandanya tidak terlihat jelek gara-gara merengut terus dari tadi…”

Ji Hyo memutar tubuhnya menghadap panggung, memandang bingung kea rah Dong Hae yang saat itu juga menatapnya… dengan seringai jahil yang uh, benar-benar seksi.

Suara petikan gitar kembali terdengar memenuhi ballroom dan Dong Hae menyanyikan sebuah lagu yang plisss darimana Dong Hae tahu kalau itu lagu favorit Ji Hyo?

 

Let me explain, the vision in my brain

Close my lids and see you, then I get an eye strain

Then the migraine, as I enchain my melody

Me spend the week like my name is Jake Sully

I could be the kid and you can be karate

You could be My Angie and I could be Your Brad Pitt

Fill me up like a cup poured in the coffee

I don’t really mind just know that you got me

 

“Astaga… apa orang yang dimaksud Dong Hae itu, kau… Song Ji Hyo?” bisik Chae Rin, yang entah kenapa, membuat perut Ji Hyo tergelitik dan bulu kuduknya sedikit meremang.

Ji Hyo menatap Dong Hae lekat-lekat. Masa iya lagu itu buat dirinya? Masa iya Dong Hae tahu kalau dari tadi dia lagi bad mood? Dan lirik lagunya itu lho, Ji Hyo benar-benar penggemar Jeff Bernat dengan suara rendah-serak-seksinya itu. Dan Dong Hae berhasil membawakan lagu tersebut dengan versi lima kali lipat lebih bagus… lima kali lipat lebih seksi…—

Kedua bola mata hitam jernih Dong Hae memandang Ji Hyo lekat-lekat, dan saat itu, Ji Hyo merasa… lagu itu memang buatnya.

Untuk ukuran asisten dapur, tampaknya Dong Hae tak bisa diremehkan.

.

.

.

.

.

.

To be continued

.

.

.

.

.

.

[Author’s Cucuap Cuap-ap: Dong Hae’s Ideal Type]

“Tipe gadis idealku?” Dong Hae menyesap Java Chip miliknya penuh kenikmatan sembari matanya terus-menerus memandangiku. “Gadis yang punya rambut lurus panjang, wajahnya seperti boneka, baik hati, tidak merokok, dan selalu bersikap manja padaku. Gadis yang selalu terlihat cantik dimanapun dia berada, jadi dengan mudah aku bisa mengenalinya meski jarak kami berkilo-kilometer jauhnya.”

Aku terkekeh mendengar jawaban Dong Hae yang sebegitu spesifiknya, dan ah, sebegitu tidak rasionalnya juga. “Kau ini sedang menyebutkan tipe gadis idealmu atau boneka barbie yang dipajang di etalase pertokoan?”

“Tentu saja tipe gadis idealku,” sahut Dong Hae tak terima. “Aku menyukai gadis yang seperti itu… apa salah?”

Aku menggeleng-gelengkan kepala. “Oh, oh, tidak… tentu saja kau tidak salah, Dong Hae.”

Dong Hae terus menatapku, kali ini matanya sengaja benar disipitkan, seolah dia ingin menyelidiki apa ada hal yang tengah kusembunyikan atau tidak. “Kau tidak sedang merencanakan sesuatu yang mengerikan untukku, bukan?”

Aku tergelak mendengar tuduhan tanpa buktinya itu. “Oh, astaga… tentu saja tidak, Dong Hae.”

“Aku tidak percaya padamu, Sophie Maya.”

Aku menunjukkan cengiran polosku dan kemudian mulai mengutak-atik buku jurnal di tanganku. “Ya, ya, ya… kau memang tidak boleh percaya padaku, Lee Dong Hae. Meskipun ditanganku ini… ada takdir kehidupanmu, kau tidak boleh percaya padaku, kau mengerti?” ujarku dengan kepala tertunduk.

Dong Hae mengangguk-angguk. “Yeah, My Almighty Author, Sophie Maya. Aku memang tidak boleh percaya padamu. Karena aku tidak tahu kau mau apakan aku di ceritamu kali ini. Entah kau ingin membuatku mati ketabrak mobil atau kau ingin membuatku mati karena penyakit ganas atau kau ingin membuatku jadi alien bodoh yang mati… astaga, jangan buat aku mati di cerita ini! Bisakah?”

Aku tertawa renyah. “Aduh, bagaimana ya? Aku tidak berani janji.”

“Sialan kau, Sophie Maya,” umpat Dong Hae sebal.

Aku hanya menunjukkan cengiranku. Yeah, you know it, Lee Dong Hae. Aku memang penulis sialan. Dan kau…, kau ini salah satu tokoh utama dari cerita yang dibuat penulis sialan ini. Apa aku harus menyebutmu ‘tokoh utama sialan’ juga?

Dong Hae kembali menyeruput Java Chip nya. “Hei, tapi apakah kau tahu, Sophie Maya? Tadi… aku baru saja mengalami hari aneh.”

“Aneh?”

“Ya, aneh. Aku bertemu gadis di traffic light… dia gadis yang… so not my style—you know it, My Almighty Author…”

Dong Hae mulai bercerita panjang lebar tentang kejadian yang menimpanya seharian ini. Aku hanya tertawa kecil menanggapinya. Sebagai penulis cerita ini, kukatakan pada kalian semua, bahwa salah satu tokoh utama di ceritaku, sudah mulai bertemu dengan gadis-yang-amat-bukan-tipe-idealnya, rupanya.

Menurutku sih, begitu.

.

.

.

.

.

.

See you next part~

51 thoughts on “A Cup Of Lee (Part 2)

  1. oke kapten ji salah paham ternyata, dia itu Lee. chef terkenal yg kemampuan bahasa inggrisnya di ff ini boong banget /dirajam/

    ahaha apa banget nyanyiin lagu kebangsaan versi akustik, apa bener-bener gak ada lagu lain bang? :v

  2. hallo,, sophie, aku reader baru dsni, salam kenal🙂
    sebenarnya aku baca yg why,,why,,why,, dulu, aku gk dpt feelnya krn menurutku humornya terlalu banyak,, jd mian aku gk lanjutin baca ff why..3x, krn aku gk bsa baca ff kalau aku gk nyaman baca dan gk dpt feelnya.
    tp kalau ff ini aku suka bngt,, humornya pas jd aku nyaman bacanya..🙂

  3. “Almighty Author”-nya keliatan deket sekali sama Donghae ((ciee))
    Sial amat hari pertamanya balik lagi k Korea, haha, dia kan chef, eh dikata asisten dapur😀
    Jihyo merokok loh. So, she is not his ideal style, right?😉

  4. Sukaaaa ama posternya.. cakep.. cakep…
    eheemm,, si Jihyo.. gualakk… salah paham..
    Trus, Lee Hyukjae – Lee Ji Eun? Tukang nari-tukang pamer abs(tp kamu suka kaan?)-ceking ama si super super super SSS itu? Excuse me, are you Eunhyuk-IU shipper? Dr G.Na ke IU… ayolaah..–> uups, kayaknya pernah baca ini deh.. _*
    Donghae=Pororo.. oke,, sedikit miriplah ya.. sedikit imut dan ngegemesin..hhee..
    Yaa.. mrk memang kucing dan ikan sih (cetak miring) ::> ada yg liat kucing ngganggurin ikan? Nahlo Hae, udah takdir lo bt jd ‘santapan’ Ahjuma,ups, Jihyo.. /mending jd Pororo aj/
    Eh,ada Siwon..pa kabar Won?
    Trus temennya Jihyo.. yg mukanya mirip jodohnya Kang Maroo.. Jongkiii… mungkin wanita ini jodoh kamu Nak?
    Dan Donghae… bonus songnya bisaaa banget deh.. ‘call you mine’.. kek semacem.. ehem.. kode… eheem…
    Ok, atas nama Lr Hyukjae.. saya pengen ngajuin komplain resmi kpd Sophie Maya:
    – knp porsi dia dikiit banget yah? Ayolah.. bukankah dia slh satu tokoh utama?
    – ada apa dgn karakternya? Dia semacam antagonis nyebelin gini: udh ingkar janji, trus kepedean bgt klo jihyo cuma akan selalu selamanya cinta ke dia.
    – selain jd atlit lari yg selalu kelelahan, dia itu termasuk: pacar yg nyebelin, ga romantis.. trus apq point bagus dia?
    Nah sekian.
    Soph, kamu ga adil ke Hyukjae… bwuahaha… (ini nangis Soph, bukan ketawa)
    Kieut.

    • Hmmm pertanyaan kamu masuk akal
      Tumben kamu nanya yang masuk akal? *plak
      Lee hyuk jae belum jatahnya muncul aja
      Sekali2lah donghae dibanyakin
      Kmrn dia udh nyembah2 sama aku supaya adegannya dibanyakin sih xD
      Oke deh part besok udh muncul seoonggok hyuk jaenya kok
      Jangan nangis ya
      Nanti kamu tambah cantik kl nangis
      Nanti aq jd tersaingi
      Buahaha

      • Hm,, perasaan semua yg aku omongin msk akal deh Soph.. kamu aja kali yg pilih-pilih, mana yg muat y msk.. y engga y udah.. /emang nyobain sepatu/
        Waah.. si Donghae ampe nyembah-nyembah? Wiiidih,, musrik kali Hae nyembah Sophie.. tobat Hae tobat…
        Aasyiik.. onggokan Eunhyuk menanti d part selanjtnya… okee cuuiuusss,,, yuk Choco.. kita temui papi Eunhyukkie… kajaaaaaaaa!!!!

        • masak sih?
          aduh nggak tahu deh
          maklum yaa
          buat aku semuanya terasa ga masuk akal dan delusi
          aku bahkan ga yakin namaku sophie atau nggak
          hahahaha

          aduh hae itu menjerumus musrik emang
          demi ga dapat peran metong lagi
          ya udah dibiarin aja
          paling bentar lagi tobat
          kan bentar lagi puasa

          • Walaah.. authornya galau labil gini /slap/
            Yakinlah kalo kamu Sophi maya, author yg demenannya bikin Hyukjae menderita /tapi jatohnya ttp keren/
            Nah.. breaking info doang.. tnyata stlh gw teliti pake kaca pembesar.. kebanyakan reader d sini udh kena semacam sindrom Sophie gtu.. jd komennya kebanyakan absurd juga… hhaha… bkn aku doang.. hahahaha….

            • emaaaak ada yang ngatain gue maaakkk huaaa huaaaa
              emang sih disini ga ada yang ngomen absurd
              ente juga tuh
              to anaaaa to aniiii samiaaaahhh *ngikutin andre ovj* xD

  5. demi apa ini bikin aku ngakak, bwahaha~
    hoho, ini cinta segi3 hukjae-jihyo-donghae .. tapinya aku ko sukanya jihyo ama donghae ya haha/slapped/ soalnya prtemuan awal mereka lebih berkesan😄

    eh tp ini masih part2 awal sih yaaa… mungkin aku bisa berubah pikiran kalo baca gimana kisah cinta hyukjae-jihyo😄

    aku tunggu next part nya😀

    • hahaha boleh boleh kamu boleh ngepans sama syp aja
      tenang aja, ini the most crack couple dan aku suka galau memasangkan jihyo diantara dua cecunguk
      jadi kadang jgn ditebak deh cerita ini si ji bakal jadian sama siapa *slapped

      okee betewe part selanjutnya udah ada lohhh

  6. donghae selalu menawan…
    dan sophie maya, selalu bisa membuat pembaca penasaran…. aseliiiiiii……
    aku percaya dengan akhir yang bahagia deh….

  7. kasihan amat si dongdonghae kena bully terus ama kk sophie dan song jihyoXD
    kk sophie please banget buat uri donghae bahagia kali ini:D

  8. Ya ampunn.. Sophie, sekali2 kirim naskah ke penerbit coba, aku suka bgt gaya penulisan km. Berasa baca novel..
    G mau cuap2 bnyk seperti biasa ff mu sllu bisa bikin org cekikikan xD dan aku menantikan saat Jihyo akhirnya tau siapa Dong hae xD
    Next part dtunggu yaa^^

  9. duh,perasaan slalu aj ad yg jd korban nistaan sophie eon,wkwkwk..
    donghae oppa kshn amat dr awal udh d nistaiin,d suruh ngendong lah,d paksa nyanyi d dpn tmn2 SMA ji hyo,d kirain asisten dapur pdhl udh jls2 dtg k korea bwt jd chef d restony keluarga jihyo.br aj dtg tp udh kena apes..#poordonghae#
    d sini jihyo mulai brmslh sm tunangannya,krn kesibukan yg bikin mrk jrg ktmu bhkn hny skdr mnjmpt jihyo,hrs d klhkn sm platih hyuk jae yg pgn bicarain soal progress lthn .jls bikin jihyo kecewa krn bikin wkt kbrsamaan mrk brkurang..

    wah,dg munculny donghae,bs2 ntr jihyo mlh jatuh cinta lg,d tmbh dia chef d restony,ap bs dia brtahan stahun sampe dia nikah sm hyuk jae,tunangany?
    just wait next part..

    • iya dong wajib itu mah
      kayaknya kalo ga ada yang dinistain itu… kurang seru aja gituhhh

      biarin si donghae
      siapa suruh dia mau jadi pemeran utama di ff ku
      tau sendiri semua pemeran utama disini gimana hahahahahaahaha

      iya itu salah satu penyebabnya, dan…. yup masih banyak kejutan lain yang belum kutunjukkin liat next part yaaa buahahahaha

  10. Sophieeee ini kenapa nggak dijadiin novel aja? Kece pake banget ini looohhh
    Merinding baca author cucuap cuap-ap nya… sophie banget deh!
    Itu donghae keliatannya jd cool nya?
    Fufufufu
    Si jihyo bodor banget masa donghae dikira asisten daur
    Dibully pulak
    Kalau ketahuan joongki habis deh tuh anak
    Udh nggak mau jemput chef, eh bgt ketemu malah ngerjain chefnya

    Donghae jg apa banget deh, pake ngasih2 bonus lagu bikin melting

    Lanjutannya ditunggu

  11. Haloooo sophieee

    Kalau Dong Hae itu Lee Hyuk Jae Super Junior yang punya pacar si Lee Ji Eun super-imut-super-kecil-super-ukuran-S, Dong Hae tidak akan merepet panjang lebar dalam hati buat ngegedong cewek itu kemana-mana. Tapi persoalannya, Dong Hae bukanlah Hyuk Jae si tukang-nari-tukang-pamer-abs-ceking-kemana-mana, dia itu cuma chef polos, tidak berdosa, dan sedikit rajin menabung, mirip-mirip dengan Pororo-lah.

    Suka bgt sama kata2 di atas, lugas dan bikin ketawa dan kecium bau2 eun-u shipper hahahaha
    Ga nyangka aja sophie bakal ngehadirin donghae sebagai sosok cool tapi konyol kyk gini
    Biasanya kan dong hae rada mellow
    Tpi tapi ttp aja berasa romantisnya
    Dimana2 donghae g bsa jauh2 dr kata romantis sih yaaa
    Entah knp aq jd tergila2 beneran ama jihyo donghae
    Brharap mrk asli couple an mski itu g mgkn bgt yaaa?
    Penasaran nasib jihyo besok bgitu tahu donghae bkm asisten dapur tapi chef hahaha

    P.s itu siwon dan power ranger.. kocak!

    • wuaaahhh komenmu selalu yaaa panjang bener kayak kereta api
      nggak apa2 lanjutkan
      gue suka gaya lo xD

      sip bener banget sengaja nyelipin eun-u ship kirain ga ada yang ngeh ternyata ada toh HAHAHAHAHAA

      hmmm donghae kan emang rajanya romantis, sekaligus rajanya angst juga sih *eh

      siwon memang kecehhh

  12. akhirnya aku baca ffmu juga :3 dongekk itu gimana, katanya ngga tau lagu sama sekali -_- model siwon ngapa kek gitu :v dan di bagian terakhir, ada kamunya thor -_- ngomong sama dongekk lagi QAQ btw,sebenernya kamu siapanya dongekk?? *kepo mode on
    lanjutannya ya ^^ aku nungguin loh *apadahh
    keep writing author!!!

    • iya tau tuh si donghae
      dia mah banci mike, awalnya aja malu2 kucing eh begitu udah pegang mike ga mau lepas tuh~ *author jahat, cast sendiri dikata2in*
      iya dong ada aku
      aku lagi suka ngeksis gimana dong
      soalnya kapan lagi aku bisa eksis? masa kudu harus ada yesung baru aku bisa eksis? hahahahaha *ditabok

      yaaa makasih ya buat semangatnya

  13. Itu…kapten ji…ya ampun…mirip sama why why why
    Jangan2 dong hae ada hubungannya sama dong hae yg di why why why? Eh nggak mungkin kan ya
    Selalu deh kamu nyajiin gaya bahasa yg unik dan enak bgt buat di baca
    Dan betewe, lagi kangen sama semcam one shot2 kamu yg biasanya nge jleb banget itu… bikin lagi dong…

    Hehe balik ke ff
    Suka sama lagunya jeff, mmg romantis bgt
    Bayangin dong hae nyanyi lagu itu…akustikan…pengin d jadiin pajangan deh xD

    Romantis dan matureny dapet,kayknya mmg ff2 d blog ini d buat smkn mature mengikuti umur sang penulis yg beranjak tante2 *ditendang sophie

    Lanjut ya… suka bgt ama cerita ini
    Dan don trust the liar nya jg d lanjutin :33

    • nggak kok ga ada hubungannya
      ini ceritanya 100 persen beda
      tau sendiri aku paling ogah kalo buat sekuel2 kekeke
      apa lagi cerita yang nyambung jadi satu itulah indonesia
      nggak dulu dehhh

      ini beda cerita kok tenang aja
      aduhhh lagi prei bikin one shot soalnya lagi syibuk bgt
      kmrn aja pas ada lomba doang bru bikin

      dan plis aku bukan tante2 yaaa… aku masih 20 ini.. masih muda imut dan unjuh unjuh xDD

  14. Yes, tengkyu uda di update ff ini neng shop, oh ya aku tetep jihyo-donghae shipper jadi di ff ini banyakin scene mereka ya #ngarep tar aku kasih permen deh neng shop.. Dan soal ceritanya itu donghae sudah kenal jihyo kan, sebelumnya ? ko dia tahu lagu fav jihyo bukankah dia ga tau lagu sama sekali ?

  15. Yes, tengkyu uda di update ff ini neng shop, oh ya aku tetep jihyo-donghae shipper jadi di ff ini banyakin scene mereka ya #ngarep tar aku kasih permen deh neng shop.. Dan soal ceritanya itu donghae sudah kenal jihyo kan sebelumnya ko dia tahu lagu fav jihyo bukankah dia ga tau lagu sama sekali ?

  16. first kah?
    wuaaaahhh seneng banget
    side storynyaaa!!!! sumpah ada sophie , bikin suasana ga jadi romantis *dikeplak
    dan sama deh jeff bernat, aku juga suka suaranya
    dan aku suka karena lagu yg dimainin dong hae itu kan lagu latar belakang mv why why why versi kedua, iya kan? aaaa kangen why why why *efek www kayaknya terlampau gede nih neng sophie* hahhaa

    ji hyo di sini baddass banget
    Kapten Ji still alive~!
    dan dong hae cool tapi romantis tapi nggemesin
    ga bisa dijabarin ini gimana dong
    suka posternya jugaaa :3
    lanjutannya yang cepet yaa~ didoain deh revisiannya cepet kelar ^^
    semangat~

Just talking...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s