A Cup Of Lee (Part 1)

Sebagai penulis, aku akan memberitahumu akhir kisah ini: bahagia.

Menurutku sih, begitu.

Tapi aku tidak bisa menentukan apakah akhir kisah ini akan bahagia bagimu atau tidak.

Kutegaskan, konsep kebahagiaan berbeda-beda tiap orang.

Aku akan memberimu gambaran, cerita ini tentang Song Ji Hyo, wanita yang mencintai Lee.

Tapi dia bertemu dengan Lee lain yang membuatnya menggila.

Dan sampai pada satu titik, wanita sialan ini harus menentukan kebahagiaannya sendiri.

Lee mana yang harus dipilih?

Tenang saja, cerita ini akan berakhir bahagia.

Setidaknya, menurutku sih begitu.

.

.

.

Author : Sophie Maya

Title     : A Cup Of Lee (Part 1)

Cast     : Song Ji Hyo, Lee Hyuk Jae, Lee Dong Hae

Support Cast: –

Genre  : unknown

Rated  : PG-19+

Length: chaptered

Type    : ?

Summary         : Lee itu seperti toxin, kau bisa jadi zombie jika terkena virusnya. Kau bisa jadi zombie… yang sedang jatuh cinta… dan hidup dengan satu tujuan: mencintainya.

a cup of lee

Disclaimer       : this story is MINE.

.

.

.

.

.

.

“Akhirnya kau jawab juga teleponmu. Aku sudah mencoba menghubungi ratusan kali selama tiga jam terakhir. Aku baru saja bertaruh akan menghubungi 911 jika kali ini tak kau angkat, melaporkan kalau kau baru saja diculik alien tampan—tapi kurang tampan dibandingku— dari planet antah berantah yang sudah menetap di Seoul selama 400 tahun, menjalani wajib militer 29 kali, memperbarui identitas tiap sepuluh tahun sekali, dan memiliki tanah nyaris di tiap sudut Seoul.”

Kata-kata itu menerjang gendang telinga Song Ji Hyo, bahkan sebelum gadis itu berkata “Halo”. Bahkan sebelum dirinya benar-benar menempelkan ponsel di telinga. Suara cempreng dengan kadar nyaris mencapai 3 oktaf, mirip rentetan teriakan ibu-ibu yang tengah berebutan diskon di mal terdengar begitu mengusik. Dan mendengar betapa absurdnya konten sang pembicara, Ji Hyo  sudah bisa menebak siapa yang meneleponnya.

Hal itu membuat gadis dengan rambut bergelombang bercat kemerahan tersebut berdecak pelan dan berkata dengan nada rendah, “Song Jong Ki, sudah kuperingatkan sebelumnya bukan? Kau harus mencuci otakmu dengan bayclean dulu sebelum meneleponku. Sepertinya hanya umurmu saja yang bertambah tua, tapi pikiranmu masih seperti balita playgroup. Lebih dari itu, tolong kecilkan sedikit suaramu. Aku tidak ingin kau membangunkan tunanganku.”

Song Joong Ki, adik (yang terpaksa harus menjadi) satu-satunya yang dimiliki Ji Hyo itu tertawa melengking ala ibu-ibu tiri di drama Korea ber-rating rendah. Lalu kemudian kembali menyahut, “oh, jadi karena kau sedang bersama tunanganmu, kau mengacuhkan panggilan teleponku?”

“Aku tidak SEDANG bersama. Aku BARU akan bersama.” Ji Hyo mendengar bunyi “biip” berbunyi, seseorang membukakan pintu apartemen dan mengisyaratkannya untuk masuk. Ji Hyo melempar senyum kecil pada sosok yang kini berbalik dan melangkah mendahuluinya, kembali masuk ke dalam kamar sambil menggaruk-garuk rambut kepalanya yang berantakan.

“Kau ke apartemen dia lagi?” pekik Joong Ki. “Kau tidak bisa ya sehari saja tidak ke apartemen tunanganmu itu?”

“Ohoho, tentu tidak bisa. Kau tahu itu.” Ji Hyo melepas stiletto merah dan meletakkannya di rak sepatu, sekaligus mengenakan sandal rumah berhiaskan kepala kucing warna cokelat favoritnya. Ji Hyo baru saja selesai melakukan pemotretan baju musim dingin untuk Ce Ci, lalu melaksanakan kebiasannya untuk mengunjungi apartemen tunangannya di Incheon, sebelum pulang ke rumah atau melakukan aktifitas lainnya. “Apartemennya sudah seperti apartemen pribadiku.”

“Yeah, kau kan babu di sana. Kau wajib membersihkan apartemennya yang tidak pernah mengenal kata ‘bersih’ dan memasakkan makanan gratis untuknya.” Terdengar nada menyindir dari Joong Ki, seketika membuat  Ji Hyo memberengut kesal.

“Ya! Aku tidak membabu! Kau asal bicara, dia tunanganku! Bukan majikanku! Dan dengarkan, kata-kata ‘wajib’ yang kau katakan itu membuatku merasa seperti kau ingin mengkonstruksikan keadaanku seseram tentara wajib militer. Tapi asal kau tahu saja adik kecilku, aku sama sekali tidak keberatan membersihkan apartemen yang dipenuhi bau maskulin pria ini.” Ji Hyo meletakkan clutch oranye blink-blink miliknya di samping televisi, lalu memunguti beberapa kemeja pria yang tergeletak sembarangan di lantai, kaos olahraga, dan kaos kaki basah yang menggeliat pulas di sofa kuning gading, kesemuanya dibawa gadis itu ke dalam mesin cuci.

Hal selanjutnya yang dilakukan Ji Hyo adalah menaruh air di panci dan memasaknya di perapian, sembari menunggu mendidih, gadis itu meraih dua tangkup roti di lemari makan dan memanggangnya.

Suara Joong Ki masih terdengar di seberang telepon, mengomentari betapa sebalnya pemuda itu dengan tunangan Ji Hyo yang bla bla bla—Ji Hyo tidak pernah benar-benar mendengarkan keluhan angin lalu adiknya itu, karena Ji Hyo tahu dari awal adiknya tak pernah akur dengan tunangannya.

Terserahlah adiknya yang masih bercita-cita menjadi Kang Ma Roo wanna be itu berkomentar apa, mulutnya hanya perlu disumpal dengan kepingan kaset drama bajakan agar bisa diam. Dan Ji Hyo hampir selalu melakukan hal itu—“menyumpal” mulut adiknya itu, maksudnya.

“Dan… setelah sepuluh menit lebih tiga detik,” Ji Hyo melirik jam dipergelangan tangan, menghitung sudah berapa lama adiknya mengoceh tentang tunangannya, “sebenarnya apa tujuanmu meneleponku, wahai adikku yang berlebihan?”

“Ah, aku sampai lupa! Gara-gara kau, Noona!” Joong Ki menepuk jidatnya. Lalu terdengar suara “srek srek” dari seberang telepon. Bisa ditebak, Joong Ki tengah membuka agenda kerja yang selalu dibawa kemana-mana. “Noona, aku mau minta tolong menjemput orang di bandara. Kau bisa kan? Aku sibuk sekali. Jam delapan nanti aku bertemu dengan klien di Gangnam, padahal pesawat mendaratnya juga pukul delapan. Kau bisa menggantikanku, kan? Aku benar-benar tidak bisa…”

“Pukul delapan ya?” Ji Hyo kembali menatap jam-nya. “Baiklah. Kau sebutkan saja nama dan ciri-ciri orang yang harus kujemput.

Joong Ki mendesah lega. “Baiklah, Noona. Nanti akan kukirim pesan ke ponselmu tentang nama dan ciri-cirinya. Terimakasih. Orang itu amat sangat penting bagi kelangsungan restoran keluarga kita.”

“Oh, ya?” Ji Hyo terlihat tak tertarik. Joong Ki meneruskan bisnis restoran keluarga mereka di area Incheon, hal itu semata-mata karena Joong Ki “sedikit lebih pintar” mengurusi bisnis macam itu dibandingkan Ji Hyo. Hal-hal berbau restoran is really not Ji Hyo’s style. Ji Hyo lebih suka bernarsis-narsis ria di depan kamera demi pemenuhan kepuasan akan kecantikkan dirinya, dibanding harus berpusing-pusing ria mengurusi manajemen uang karyawan, laba, debit, etc etc etc.

Tapi dibawah arahan Joong Ki, restoran keluarga mereka tetap bisa bertahan dan menjadi salah satu restoran terkenal. Mungkin Joong Ki tidak hanya “sedikit lebih pintar”, tapi memang benar-benar pintar. Pemuda itu, meski ucapannya seperti nenek-nenek uzur pecinta drama, tapi cekatan mengurus hal-hal berbau uang.

Kalau Ji Hyo? Ahaha, gadis itu bahkan sanggup membuat uang satu juta won raib dalam sepuluh detik. Kemampuan shopping gila-gilaannya tidak diragukan lagi. Segala merk tas, baju, sepatu, make-up terlihat lebih lezat dibandingkan sederet menu di restoran keluarga mereka.

“Ya. Dia chef baru kita, chef yang lama mengundurkan diri karena akan kembali ke negaranya. Sebenarnya tadi aku menyuruh asisten dapur kita yang baru untuk menjemput sang chef, tapi ck… perlu kau tahu, asisten dapur kita yang baru agak payah, dia bilang dia belum selesai belanja buah-buahan sejak sore! Dan dengan santainya menolak untuk menjemput chef. Ck, kalau kau ketemu asisten dapur itu, sepertinya perlu diberi pelajaran sekali-kali, Noona!” ujar Joong Ki menggebu-gebu.

Ji Hyo tidak pernah tahu perkembangan restoran mereka. Dia bahkan baru tahu kalau mereka punya asisten dapur dan chef yang baru. Tapi mendengar asisten dapur yang begitu lelet dan dengan gampangnya menolak tugas dari atasan, mau tak mau membuat Ji Hyo kesal juga.

“Ohoho, don’t worry, Joong Ki… aku saja yang akan memberinya pelajaran, bagaimana? Aku akan membuat dia tahu hak dan kewajibannya sebagai asisten dapur. Setelah aku menjemput new chef kita, aku akan mampir ke restoran dan membully asisten dapur kita.”

“Benarkah itu, Noona?”

“Benar! Kau tidak percaya padaku?”

“Tentu saja percaya. Aku amat percaya dengan kemampuan membullymu. Bukankah kau dulu preman pasar di sekolah kita?”

“Preman pasar? Gr…, sialan kau! Tidak sampai jadi preman juga kali!”

“Hahaha…!”

Percakapan Ji Hyo dengan Joong Ki harus diakhiri karena Joong Ki sudah bersiap akan pergi ke tempat janjian dengan kliennya. Sementara roti yang dipanggang Ji Hyo sudah matang dan air yang dimasaknya pun telah mendidih. Ji Hyo mengoleskan mentega, saus tomat, mayonnaise di atas salah satu roti. Mengambil sosis yang sebelumnya telah digoreng, dipotong tipis jadi tiga dan diletakkan diatas selada, lalu ditutup dengan roti. Sandwich sederhana buat tunangannya yang pasti sedang kela—

“Kau membuat sandwich?”

Klek. Suara pintu kamar terbuka. Sosok yang tadi membukakan pintu untuknya, kini berjalan keluar kamar dengan tatapan ala bocah lima tahun yang baru saja diberitahu jadwal kartun Spongebob bakal tayang seharian penuh.

Ji Hyo mengangkat kepala dan melambai-lambaikan tangan,  menyuruh sosok itu mendekat.

Sosok itu menarik kursi di depan Ji Hyo, dan duduk dengan mendekat kedua tangan di pipi. Wajahnya terlihat lelah dan sedikit pucat, sementara matanya sedikit memerah.

“Apa kau tidak bisa menyuruh pelatihmu berhenti menyiksamu berlebihan seperti ini, Sayang?” Ji Hyo menatap prihatin pada sosok pemuda di depannya. Jemari lentiknya menyentuh kening pemuda itu, mengusapnya lembut sampai ke pipi.

Pemuda itu mendongak dan tersenyum kecil. “Ji Hyo-ah, musim pertandingan sudah semakin dekat. Bisa-bisa aku digantung di pohon beringin jika mengatakan omong kosong seperti itu.” Pemuda itu mengedikkan bahu dan mengedipkan mata setengah menggoda, “yang penting, aku tetap terlihat tampan menurut standarmu, kan?”

Ji Hyo mencubit pipi pemuda itu sambil terkekeh. “Kau ini…”

Pemuda itu meraih sandwich buatan Ji Hyo, menggigitnya perlahan, mengunyahnya penuh kenikmatan. Sampai-sampai matanya terpejam merasakan kenikmatan sandwich buatan Ji Hyo. “Kurasa darahmu sebagai putri pemilik restoran tidak bisa dipungkiri. Bahkan sandwich sesederhana ini saja tetap terasa nikmat,” ucapnya di sela-sela kunyahan.

Ji Hyo mengerjapkan matanya dan tersipu malu. Tunangannya ini selalu tahu bagaimana cara meluluhkan hatinya. Bagaimana membuatnya selalu salah tingkah dan semakin jatuh cinta padanya, di tiap detiknya.

“Kurasa aku harus keluar sebentar, Sayang. Adikku meneleponku tadi, memintaku untuk menjemput orang di bandara. Kau tidak apa-apa?” tanya Ji Hyo melepas celemek dan menaruhnya di gantungan samping kulkas.

“Kau mau menjemput orang di bandara? Apa sempat? Bukannya kau juga ada reuni SMA di Gracia Ballroom Hotel?”

Ucapan pemuda itu membuat Ji Hyo berhenti bergerak, otak kecilnya berputar cepat, dan lalu… “ASTAGA! ASTAGA! AKU LUPA!” Ji Hyo menjerit kaget kaget. Astaga, dia lupa! Hari ini ada reuni SMA yang harus dihadirinya.

Chae Rin, teman SMA-nya, sudah mewanti-wanti agar Ji Hyo datang. Sungguh, Ji Hyo sama sekali tidak ingat kalau reuni SMA-nya jatuh pada tanggal 23 Desember pukul delapan—hari ini!

Mendadak, Ji Hyo menjadi panik. Gadis itu berjalan bolak-balik sambil menggigit-gigit bibir bawahnya.

“Bagaimana jika aku yang menjemput orang itu di bandara?” tanya tunangannya.

“Tidak, jangan!” Ji Hyo menggeleng cepat. “Aku mana tega menyuruhmu pergi, kau kelelahan begini…” Ji Hyo melempar pandangannya pada wajah pucat tunangannya. Demi Tuhan, sebaiknya tunangannya itu tetap di rumah dan tidak pergi dengan udara dingin begini. Ji Hyo tahu benar, tunangannya alergi udara dingin. Meskipun tunangannya seorang atlet lari, tapi payah sekali jika menghadapi suhu rendah. Jika dibiarkan pergi di tengah salju seperti ini, bukannya sampai ke bandara, tunangannya bisa-bisa berakhir di rumah sakit.

“Aku saja, Sayang… daripada kau kebingungan begini…” tunangannya kembali menawarkan.

Ji Hyo menggeleng tegas. Tidak, tidak, tidak. “Aku akan mengirim pesan pada Joong Ki kalau aku tidak bisa menjemput orang itu. Aku akan meminta Joong Ki menyuruh pegawai restoran yang lain, tentunya masih banyak,” putus Ji Hyo. Ya, lebih baik begitu. Joong Ki pasti bisa mencari orang lain untuk menjemput new chef restoran mereka.

Ji Hyo meraih ponsel dan mengetikkan pesan untuk Joong Ki. Menunggu sampai pesan itu benar-benar terkirim, barulah gadis itu melenggang menuju ruang tivi untuk mengambil clutch miliknya. Sekarang dia harus benar-benar pergi, tapi kali ini ke Gracia Ballroom Hotel.

“Sayang, jika kau sudah selesai makan, taruh piringnya di wastafel. Kalau kau ingin menyeduh teh, air di teko sudah kupanaskan, kau tinggal menuangnya sesukamu. Oh ya, baju kotormu sudah kucuci dan kujemur di balkon belakang. Kau tidur saja ya, Sayang. Besok pagi kau ada jadwal latihan, kan?”

“Ya…”

Ji Hyo bisa mendengar langkah terseret-seret tunangannya. Ji Hyo mengira tunangannya akan kembali ke kamar untuk tidur, namun tebakannya salah. Karena tahu-tahu lengan kekar pemuda itu melingkari pundak Ji Hyo, diiringi sebuah kecupan kecil di puncak kepala Ji Hyo.

Untuk beberapa detik, Ji Hyo lupa bagaimana caranya bergerak.

Kemudian, gadis itu tersenyum manis. “Aku pergi dulu, ya…”

“Hanya melihatmu kurang dari lima belas menit sehari benar-benar menyiksaku, Ji…” bisik pemuda itu dengan suara berat, tepat di telinga Ji Hyo.

Ji Hyo menyentuh jari-jari pemuda itu dan mengusapnya pelan. Ya, akhir-akhir ini kegiatan keduanya sama-sama luar biasa sibuk. Jadwal latihan tunangannya semakin padat memasuki pertandingan awal tahun nanti, dan Ji Hyo adalah model yang sedang naik daun akhir-akhir ini setelah kolaborasinya dengan salah satu idol untuk baju sport.

Intensitas mereka bertemu semakin berkurang. Kadang tunangannya terlalu lelah untuk sekedar bicara dengan Ji Hyo, sehingga hanya bisa membukakan pintu apartemen ketika Ji Hyo datang, kemudian kembali tidur di kamar. Tapi Ji Hyo memaklumi hal itu. Mereka sama-sama tengah berada di puncak karir.

“Aku juga, Sayang… tapi kau tahu, setelah pertandinganmu… kita akan sama-sama mengambil cuti dan melakukan hal yang selama ini kita inginkan.” Ji Hyo memutar tubuhnya dan memandang lekat sosok tegap di depannya.

“Tentu saja. Mulai tahun depan, aku akan bertemu denganmu lebih dari lima belas menit. Aku bahkan bisa bertemu denganmu dua puluh empat jam. Yang paling membahagiakan, aku bisa melihat wajahmu di pagi hari, benar-benar efektif untuk menambah kantung persediaan semangatku.”

Ji Hyo mengangguk pelan. Ya, mulai tahun depan… mereka akan hidup bersama-sama… menjalani pernikahan… dan hidup bahagia selama-lamanya seperti pasangan lainnya.

“Kalau begitu, kita bisa kan bertahan sampai tahun depan… sampai saat itu tiba?” ujar Ji Hyo.

Pemuda di depannya mengangguk pelan, mengecuap bibir Ji Hyo lembut. “Tentu saja Song Ji Hyo…”

Rasa asam saus tomat berbaur dengan manisnya mayonnaise terasa di bibir Ji Hyo. Gadis itu terkikik pelan dan memejamkan mata menikmati kecupan manis pemuda ini.

“Ya, kita akan bertahan sampai saat itu tiba… Lee Hyuk Jae…”

.

.

.

.

.

.

Lee Dong Hae berdiri di depan pintu bandara, sebelah tangannya berkacak pinggang, sementara satunya lagi sibuk menerima telepon dari Song Joong Ki.

“Kau bilang, tidak bisa menjemputku?” Dong Hae menghembuskan napas panjang. “Kau bilang, kau yang akan menjemputku, Joong Ki-ssi!”

Joong Ki berkali-kali melontarkan permintaan maaf. Dong Hae hanya bisa geleng-geleng kepala. Orang yang katanya akan menjadi direkturnya mulai saat ini, orang yang menyuruhnya pulang dari Italia untuk bekerja di restoran, benar-benar mengecewakannya. Dong Hae baru sekali bertemu dengan Joong Ki saat di Italia dua tahun lalu, sejak saat itu mereka sering berhubungan lewat e-mail. Sampai akhirnya sebulan lalu Joong Ki menawari Dong Hae bekerja di restoran menggantikan chef-nya yang akan mengundurkan diri.

“Aku sudah menyuruh Noona-ku untuk menjemputmu, tadi dia sudah menyetujuinya. Tapi tiba-tiba saja dia mengirimiku pesan dan mengatakan kalau dia tidak bisa menjemput karena ada acara penting. Sialnya, aku baru membaca pesan itu tiga puluh menit kemudian, dan kini kesulitan mencari orang yang bisa menggantikanku menjemputmu.” Suara Joong Ki terdengar amat menyesal. “Maafkan aku, Dong Hae-ssi…”

Dong Hae menggaruk-garuk kepalanya, sedikit frustasi. Pemuda itu berusaha menenangkan diri dengan menghela napas sebanyak-banyaknya, namun tetap saja gagal. Bayangkan saja, dia sudah terdampar di bandara setengah jam lebih, terluntang-lantung seperti amoeba bodoh. Menunggu Joong Ki yang berjanji menjemput dan mengantarkan langsung ke apartemen yang sudah dipersiapkan Joong Ki untuk Dong Hae tinggali selama di Korea.

“Ya sudahlah, aku pergi ke apartemenku sendiri saja.” Dong Hae memutuskan. “Aku dulu juga sempat tinggal di Korea, meskipun ingatanku samar-samar tentang Incheon… tapi kurasa aku tidak akan tersasar jika pergi ke apartemenku sendiri.”

“Sungguh?” suara Joong Ki semakin terdengar tak nyaman. “Maafkan aku, Dong Hae-ssi… astaga lihat apa yang kulakukan, menelantarkan chef restoranku…”

“Sudahlah, itu tak masalah.” Beruntung Dong Hae orang yang simple sehingga dia bahkan tidak membawa baju ganti dari Italia. Dan hanya membawa tas jinjing bergambar ikan nemo—pemberian sepupunya yang selalu mengatakan betapa miripnya Dong Hae dengan ikan badut yang sama sekali tidak lucu itu—tapi bagaimana pun juga, tas yang tampak kekanak-kanakkan cukup menampung barang-barang pribadinya. “Katakan saja nanti pada Noona-mu itu, dia seharusnya tidak membatalkan janji disaat-saat terakhir. Setidaknya, dia tidak boleh membuat orang menunggu seperti butiran debu asing di pintu bandara begini…”

“Ya, ya, ya… aku mengerti, Dong Hae-ssi. Aku akan menyampaikan pada Noona-ku nanti. Sekali lagi, aku minta maaf.”

Dong Hae mengakhiri pembicaraan dengan Joong Ki.

Lalu melangkah keluar dari area bandara. Alih-alih memanggil taksi, Dong Hae justru terus melangkah sambil mengaktifkan GPS di ponsel. Baiklah, mumpung lagi di Incheon, dia akan berjalan-jalan sebentar.

Dong Hae masuk ke salah satu supermarket dan membeli beberapa buah kesukaannya: apel, jeruk, dan markisa. Dia adalah penggila buah-buahan sejati. Saat hendak membayar, Dong Hae menyempatkan diri mengecek GPS di ponsel, dia akan berjalan terus ke arah selatan. Ternyata apartemennya terletak tak jauh dari bandara.

Sudah lama sekali sejak terakhir pemuda itu pergi ke Korea. Keadaannya benar-benar berubah, jalanan semakin ramai dan malam masih seperti pagi, aktivitas manusia yang tak kunjung berhenti bisa dengan mudah ditemukan di sudut mana pun. Bahkan, saat hendak menyeberang seperti yang Dong Hae lakukan saat ini, di tengah orang-orang yang berdesakan menunggu traffic light berubah warna dari hijau menjadi merah.

Kemudian, saat lampu akhirnya berubah menjadi merah, Dong Hae buru-buru menyeberang mengikuti arus. Saat itu, Dong Hae tidak sempat melihat kiri-kanan atau pun depan-belakang, dia sibuk menjaga agar buah-buahan yang dipegangnya tak sampai menggelinding keluar paper bag.

Kemudian hal itu terjadi. Dong Hae tidak melihat ketika seorang gadis menyeberang dari arah berlawanan, dengan tergesa-gesa, memandang bolak-balik ke arloji di tangannya sampai-sampai tak melihat jalan.

Lalu, ketika gadis itu mengangkat kepala, alangkah terkejutnya dia melihat paper bag Dong Hae persis berada di depan matanya. Dong Hae juga kaget, melihat sosok gadis yang begitu dekat dengannya.

Sebelum sempat dicegah, keduanya bertabrakan.

Dengan. Amat. Keras.

.

.

.

.

.

.

Ji Hyo benar-benar telat menghadiri reuni SMA-nya, dia sudah berusaha lari sekuat tenaga, tapi stiletto sialan yang melekat di kaki jenjangnya membuat kecepatan langkahnya jadi setara dengan kura-kura tua bangka. Ponselnya menjerit-jerit dari tadi, panggilan dari Chae Rin. Sengaja tak Ji Hyo angkat karena dia tahu sahabatnya akan marah besar begitu tahu Ji Hyo belum sampai juga ke tempat acara.

Salahkan jalanan Incheon yang begitu padat. Taksi yang disewa Ji Hyo terjebak macet, sehingga mau tak mau gadis itu keluar dan memutuskan jalan kaki, berhubung Gracia Ballroom Hotel sudah tidak jauh lagi.

Ji Hyo menunggu traffic light berubah warna dari hijau ke merah, lalu berlari tergesa-gesa sampai tidak memperhatikan jalan. Ji Hyo sadar benar berlari di garis penyeberangan berbahaya, apalagi ada begitu banyak orang yang juga menyeberang sepertinya, dari arah yang sama maupun berlawanan. Tapi mau bagaimana? Waktu terus berjalan, lebih cepat dari langkah kakinya.

Ji Hyo terus berlari, tanpa sadar dirinya berlari lurus ke arah seorang pemuda yang membawa paper bag penuh buah-buahan. Saat Ji Hyo mengangkat kepala, dia kaget bukan kepalang melihat kepalanya sudah berhadapan dengan paper bag. Tanpa bisa dicegah, Ji Hyo dan pemuda di depannya tabrakan, hingga terjatuh.

Sebenarnya, terjatuh saja tidak masalah.

Tapi, Tuhan sedang senang melihat Jihyo menderita. Jadi, dibuatlah paper bag yang dipegang sang pemuda terjatuh… membuat buah-buahan yang keseluruhan berbentuk bulat itu menggelinding tanpa tahu diri, ke berbagai arah.

“Astaga!” Ji Hyo terpekik kaget.

Pemuda di depannya juga ikut kaget.

Dan sementara, orang-orang disekitar mereka tidak ada yang peduli dan terus lanjut menyeberang.

Ji Hyo langsung berjongkok  memunguti buah-buahan itu dan menaruhnya kembali ke paper bag. Pemuda itu juga melakukan hal sama. Lampu traffic light berubah dari merah ke hijau. Orang-orang sudah berhenti menyeberang. Mobil-mobil mulai berjalan, yang otomatis kaget melihat dua anak manusia masih sibuk memunguti buah-buahan di garis penyeberangan.

Sirene mobil terdengar bersahut-sahutan.

Ji Hyo panik, tangannya semakin cepat memungut buah-buahan itu. Sementara sang pemuda  pemilik paper bag sudah berhenti memunguti buah dan meneriaki Ji Hyo untuk pergi dari garis penyeberangan.

“Sudahlah, biarkan saja buah-buahan itu, Nona!” teriak sang pemuda.

Ji Hyo menatap sekilas pemuda itu. “Tapi…”

“Sudahlah, ayo! Kau mau mati, Nona?!” Pemuda itu menarik tangan Ji Hyo. Sembari memeluk paper bag miliknya, pemuda itu berlari membawa Ji Hyo ke pinggir jalan, diiringi dengan sirene-sirene mobil dan teriakan marah dari para pengemudi jalanan.

Ji Hyo menyipitkan mata refleks. Sirene itu membuat telinganya berdenging-denging ngilu.

Tapi, seperti yang sudah dibilang, Tuhan sedang ingin membuat gadis cantik bernama Ji Hyo itu menderita, dan stiletto Ji Hyo memang sedang pantas-pantasnya disebut sebagai “stiletto sialan”, maka saat gadis itu melangkah melewati gorong-gorong ujung garis penyeberangan, heel stilletonya justru tersangkut di lubang gorong-gorong.

“Kenapa?” pemuda yang menarik Ji Hyo kebingungan melihat Ji Hyo justru berhenti melangkah.

Ji Hyo menarik-narik kakinya panik. Ji Hyo merasakan keringat membasahi keningnya. Kenapa di saat-saat genting seperti ini, stilletonya justru cari perkara?

Sang pemuda menyadari stiletto Ji Hyo sedang bermasalah. Dia menurunkan paper bag ke pinggir jalan dan membantu Ji Hyo menarik stilletonya.

“Nona, kalau aku bilang tiga, kita tarik bersama-sama, ya,” ujar pemuda itu, yang disambut anggukan Ji Hyo. “Satu… dua…”

“…TIGA!!”

Ji Hyo terjungkal ke belakang, pantatnya mencium aspal dingin dan terasa perih sekali. Pemuda di depannya terhuyung sedikit ke belakang, tapi di tangannya tergenggam stiletto milik Ji Hyo yang berhasil “dibebaskan”.

Ji Hyo tersenyum luar biasa lega. Mengacuhkan posisi jatuhnya yang jelek sekali. Sebaliknya Ji Hyo justru menghembuskan napas bahagia dan melayangkan pandangan penuh terimakasih pada pemuda yang ikut tersenyum sembari mengulurkan tangan untuk membantu Ji Hyo berdiri.

Mereka sama-sama orang asing, baru pertama kali bertemu, dan kejadian-kejadian aneh yang dialami sepersekian menit barusan benar-benar tak bisa diduga. Tapi syukurlah semuanya berakhir. Meskipun pantat Ji Hyo masih nyut-nyutan menahan rasa perih, tapi dadanya terasa lega melihat anak kesayangannya (baca: stiletto merah) yang dipegang oleh pemuda di depannya ini dalam keadaan baik-baik sa—… “ASTAGA, DEMI TUHAN!! APA YANG TERJADI DENGAN STILLETO-KU???!!!

.

.

.

.

.

To be continued

Feel Free to follow @sophiemorore

48 thoughts on “A Cup Of Lee (Part 1)

  1. ada bebebkuh *-* aduuh songsong siblings..

    ada kisah do minjoon nyempil dikit, dan joongki kenapa kamu jadi nenek-nenek drama sayang? *ditabok*

    uugh awal pertemuan sama lee02 yg terlalu drama: tabrakan di tengah jalan, mungutin sesuatu yg beserakan, ada kendala lagi, dibantuin, jatoh bareng (untung gak ada tragedi ciuman di pertemuan pertama :v)

    aduuh ampuni aku kak sophie, udah bacanya telat *banget* banyak komen lagi hihihi

  2. Yah . . ! Penasaran pemeran utamanya siapa ya? D0nghae apa eunhyuk? Dan itu, astaga kasian bnget ji hyo kesialan berentet with d0nghae. Haha part ini emang tuhan lg senang liat ji hyo mendrita.

  3. annyeong..
    seru critanya thor..
    smga aja jihyo ama donghae aj y..
    tp kyaknya jihyo udh cnta mati ama hyukjae bktinya mau ada mbabu di apartmn hyuk..

  4. Bwuaahahaaha….
    Aku ga inget bener paragraf-paragraf awal cerita ini.. /faktor x: xngantuk/mian/ tapi.. sepertinya itu kisah Do Min jun, Lelaki yang datang dari bintang. Haha..
    Lantas, seinget aku cerita menuju Jihyo yang /mengutip sabda song jongki/ yang sukarela menjadi ‘babu’ Lee Hyukjae /aku juga ikhlas hyuk/ dan entahlah.. imaji bergulir menuju Kang Maroo si Innocent Man/ lupakan si cerewet Jongki dan segala drama dengan rating rendahnya..
    Trus.. trus… setelah Lee Donghae muncul bak cerita dengan rating lumayan, adegan tabrakan dan bla bla bla nya… dunia suram sesuram apartment Hyukjae. –> efek nonton video trailernya.
    Dan benar,, entah setelah ini kemungkinan aku bakal dibakar authornya… tapi aku kira, prolognya bener-bener ga tepat, paling engga sampe part satu ini!!
    Karena ga ada yang bahagia.
    Jihyo :: si model yang ditakdirkan menderita seharian
    Hyukjae :: si atlit yang kelelahan
    Kang Maroo wannabe :: yang memang menggilai drama terutama adegan yang menderita dan berurai air mata
    Donghae :: chef yang hari pertamanya di Seoul dimulai dengan menyebalkan /betul Hae? / nggangguk GA LO HAE???/
    Jadi Sophie… jangan menipukuuu… arra!!!
    *bantingpintu*
    *aaaaauuuurgg*
    /kejepitpintu/

    • Hahahahhaa slap slap slap
      Tampar aq deh tampar aq krn ini pada menderitaaa
      Tapi tenang aja cerita ini punya unsur kebahagiaan kok
      Mungkin belum keliatan aja kali *ngeles banget gue
      Tapi tenang aja
      Ini cerita happy kok
      Aq kan ga bisa bikin cerita sad sad gtu yang panjang2
      Kl buat oneshot mgkn bisa
      Aq kan cewek baik
      Ga tega bikin yg sedih2 buahahaha

      • Waahh..kirain bakal dibakar gw,, jd reader yg tnggal baca aja cerewet bener kayak song Jongki.. ternyata Sophie cuma ketawa-ketawa.. malahan minta ditampar *mirip tanda-tanda stress sih ya.. atau gila?*
        Sippo… aku tunggu sebuah kebahagiaan versi Sophie deh ya… *ongkos kirim 8.000 ya Soph*
        Sampe jumpaaa!!!
        #cling*
        *mendarat di kasur Eunhyuk* /teleportasi sukses, arigato Doraemon/

        • hHAHAHA tenang aja mah buat apa aku marah
          kan hak hak reader mau ngomen kayak gimance
          tapi aku juga ragu sih sebenarnya sama identitas kewarasan aku xDD

          oke deh tunggu aja next part
          ga usah ditungguin juga nggak apa2
          gue bukan tukang PHP
          ntar takutnya ga muncul2 terus lo lompat dari jembatan lagi sambil meraung2
          kan ribet urusan

          • Emang… php doang..dan sprtnya aku udh lama curiga dgn tngkat kewarasan kamu… hmm, untung nyadar..
            Next…next..next part pliss…

            • hahahhaa aduh sebenarnya udah nyadar dari dulu
              cuma suka lupa aja
              eh aku nya ga waras
              readernya lebih ga waras dong
              mau aja baca tulisan orang ga waras *gak mau dibilang gila sendirian*~

  5. Ah, kamu seneng bgt bikin cinta segitiga eunhyuk-jihyo-donghae soph…😀
    Dan seperti biasa, aq hanya menginginkan jihyo jd milik eunhyuk selamanya.
    Ikan nemo lbh cocok sm aku.😀
    Sonh joongki jg boleh.😀

  6. Wah ceritanya menarik bgt
    Dan gaya bahasanya gurih banget
    Udh lama ga main ke blog ini dan trnyata tambah kece2 aja ini…
    Aku lanjut next part ya,.soph

  7. keren banget
    mau nangis bacanya
    soalnya udah dibuat galau sama dua pria kece ini
    aduh sindrom why why why kayaknya bakal pindah ke sini deh
    plis jangan bikin dong hae dan eunhyuk trll sempurna sampe2 susah dipilih ya neng sophie
    suka bgt sama tata bahasanya yg santai, kece badai

  8. Keren thor..
    Udah baca prolognya juga, dan ternyata pas baca part 1 apa yg jadi tebakan aku bener, tunangannya ji hyo itu eunhyuk dan chefnya itu donghae.., hehe

  9. Ya ampun… aq ketipu. Ternyata tunangan na ji hyo enhyuk to..
    Habis na sempet ada kata2 ” pandangan
    Kekanakan” na sich. Kan itu bang ikan banget. Enhyuk jadi manly di sini. Good idea, fress, ga mainstrem…
    Lanjut soph..😀
    Joong ki lagi suka do min joon kayak na.. joong ki oppa udah liat energency couple belum? Pemeran utama cewek na mirip kakak na situ lho… :p

  10. Waaahhh total kebalikannya why why why!!!

    Total super excited karena ada joong ki dan masih bertahan dg gila dramanya!!
    Hm… ga tau nii endingnya bakal gmn
    Udh ada jaminan garansi *??* bahagia, tp konteks bahagianya neng sophie kan agak2 aneh gitu -_-
    Jadi no comment -_-
    Sejujurnya aku amat suka sekali dg couple jihyo donghae
    Aku hrap si mrk bareng2 terus
    Tapi eunhyuk entah knp sll digambarkan perfect kl d blog ini, jadi gmana dongg? Aku galau….

  11. jadi di ff ini kebalikannya why 3x jihyo ganti tunangannya sama hyuk. Dan donghae orang ke 3. Janji nikah sethun lginya batal. Maunya sama donghae hehe bisa kan neng shop ?

  12. yes! tebakanku benar😄 s eunhyuk yg tunangan😀
    eonnie demi apapun aku lagi bikin ff dengan salah satu adegannya itu insiden di zebra cross, kok bisa samaan sih ><
    eh iya, nebak aja nih, eonni lagi suka sama si Kris ya? soalnya di ff yg don't trust ada Kris disebut-sebut trus ada kalimat "is not Ji Hyo's style" yg sangat identik dgn kata2 Kris di showtime haha😄

  13. eeeaaaaaa bahagia :3 tapi feelingku bilang pasti endingnya sama hyuk -_- kan aku maunya sama si donghae xD stilleto merahmmu kenapa hyo?? patahkah? xP btw, author punya facebook atau instagram atau sosmed lain gitu ngga? ^^ aku penasaran sama kamu thor ><
    keep writing!!!!!!!

  14. wuih,trnyata eunhyuk yg jd tunangannya jihyo…
    ttp aj joong ki si maniak drama,ap skrg2 ngaku do min joon,alien ganteng yg nyasar..
    dr why,why,why sifatny g berubah.
    aq ngerasa aura yg beda d ff ini,absurdny jd brkrg.hore…akhirny sophie eon brhasil bikin ff yg normal~~

  15. Bener chef nya donghae..
    Donghae emg lbh cocok sihh jd chef ktimbang eunhyuk xD
    Bisakh hubungan Jihyo & Lee hyukjae brthn smpai tahun depan? jwbn msh dragukan..
    enth knp sy lbh suka jihyo nya sm donghae aj ╮(ˇωˇ)╭
    Tp trserah sophie nya Jihyo nya brakhir sm siapa yg psti in happy ending kn?! xD
    Next part d.tunggu yaa^^

Just talking...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s