Why, Why, Why?! (Part 7)

Yaaaakkk! Lee Donghae! Apa sih kurangnya aku? Song Ji Hyo! Cantik, pintar, kuat, cantik, dan cantik! Aku ini c.a.n.t.i.k! Sempurna! Idaman sejuta umat laki-laki di Anyang, bahkan Seoul! Kini kau tega-teganya mengkhianatiku dengan pria lain! Terlalu kau! Aku tidak perduli kau mengatakan dirimu gay atau apalah! Aku bersumpah akan membuatmu jatuh cinta lagi padaku, Lee Donghae bodoh! (Song Ji Hyo, ending planner, 29 tahun)

Kau tahu, Lee Donghae itu memang bodoh! Bodoh sekali! Kau bilang dia tampan, baik, dan menarik? Astaga, engsel-engsel di otakmu pasti sudah berkaratan semua! Kau ini gila atau apa? Atau kau ini tante-tante tua yang sudah kebelet mau nikah, sih? Pria gay seperti itu saja kau kejar-kejar seperti mengejar layangan putus yang terbang tidak ada juntrungan! (Lee Hyuk Jae, host club, 28 tahun)

Bukankah cinta itu tidak memandang apapun? Dan satu lagi, tidak ada yang tahu kenapa, apa, dan bagaimana semua bisa berjalan seperti ini. (Lee Dong Hae, news anchor, 28 tahun)

.

.

.

.

Author                                   : Sophie Maya

Title                                       : Why, Why, Why?! (Part 7)

Cast                                       : Song Jihyo, Lee Donghae, Lee Hyukjae, Song Joongki

Support Cast                          : another Super Junior member, Mia Narafa

Genre                                     : complicated romance, lil bit humor I think

Rated                                     : PG-19

Length                                   : chaptered

Type                                       : ?

Summary                               : Why? Everything becomes crazy. Why? I must stuck in here. Why? With you, WHY?WHY? WHY?!!

eunhaemini15b

Disclaimer                              : this story is MINE.

Warning                                 : do you hate the CAST? DONT READ, its simple. And one more, NO BASHING oke? Its just for fun! Oh right, one more again I HATE SILENT READERS, so comment this story right? ^^

Just turn back the time…

.

.

“Kau sakit?”

Dong Hae menyentuh lembut pipiku, menatapku dengan sebaris senyum tipis di bibirnya. Aku memandang kedua bola mata hitam Dong Hae tanpa kata-kata. Lelaki itu lebih tampan jika tersenyum meski wajahnya seperti mayat hidup sekarang, benar-benar pucat. Seulas senyum Dong Hae seperti tangan dan kakiku, bisa menopang tubuh rapuhku. Sudah kubilang sebelumnya kan, sepertinya aku benar-benar kecanduan makhluk bernama Lee Dong Hae. Makhluk yang mungkin dilahirkan dengan banyak kandungan zat adiktif yang membuatku membutuhkannya setiap waktu—hampir sama kapasitasnya dengan kebutuhan oksigenku.

Ini masih akhir Desember, musim salju belum berhenti. Tapi pagi ini tidak satupun butiran beku jatuh turun, seolah tahu ada malaikat musim semi yang tengah berdiri memandang langit. Malaikat musim semi yang menebarkan senyuman hangatnya, yang mampu membuat bunga-bunga bermekaran. Malaikat musim semi-ku—Lee Dong Hae.

“Song Ji Hyo… kau beneran sakit?” wajah Dong Hae semakin mendekat, bola matanya menatapku dengan guratan khawatir.

Aku menggeleng pelan sembari menurunkan hati-hati tangan Dong Hae. “Yang sakit itu kau, bukan aku…” kataku pelan disertai seulas senyum.

Dong Hae menjauhkan wajahnya, menatapku sebentar, lalu mengembuskan napas. “Iya, ya… aku lupa,” sahutnya, kali ini sambil terkekeh. “Sudah berapa lama aku tidur disana, ya? Kurasa badanku benar-benar bau sekarang.”

Aku menggeleng pelan sambil tetap tersenyum. Kau bukan tidur, Lee Dong Hae… kau baru saja sadar dari koma…

“Kau mau makan?” tanyaku menunjuk piring berisi sayuran lengkap dan daging, aku memintanya ke pantry begitu mengetahui Dong Hae sadar. Dong Hae bilang dia lapar dan ingin makan di taman rumah sakit. Sebenarnya suster melarang Dong Hae berjalan-jalan ke luar kamar sebelum Siwon datang memeriksanya. Tapi sepertinya aku memang bakat merengek karena dalam waktu lima menit saja suster tersebut sudah luluh dan membiarkanku pergi bersama Dong Hae.

“Aku mau, aku lapar.” Dong Hae menepuk-nepuk perutnya. “Kau mau menyuapiku, Ji?”

Aku mengangguk. “Tentu saja.”

Dong Hae makan dengan lahapnya seperti anak kecil yang dibiarkan main seharian lalu kembali ke rumah dalam keadaan amat sangat kelaparan. Aku berkali-kali harus memperingatkan Dong Hae untuk mengunyah pelan-pelan, tapi pemuda itu justru menanggapinya dengan tawa menggemaskan. Hal yang seperti itu, membuatku kehilangan koleksi kata-kataku. Membiarkan Dong Hae bertingkah apa yang diinginkannya, dan hanya memandangnya dalam senyum.

Tuhan, hari ini adalah hari paling bahagia yang pernah ada. Dong Hae-ku sudah sadar, dia telah melewati masa-masa sulitnya, mata indahnya kembali terbuka, bibir tipisnya kembali menjalin senyum, tangan lembutnya kembali menyentuh kepalaku. Semua ini rasanya menyenangkan. Rasanya begitu sempurna.

“Ji, kau mau mengantarku ke suatu tempat? Sekarang?” tanya Dong Hae tiba-tiba.

“Kemana? Kau kan masih sakit, Dong Hae.”

Dong Hae mengangkat bahu. “Entahlah, yang pasti tempat itu jauh dari sini. Aku ingin ke tempat itu, dari dulu. Bersamamu. Aku merasa sehat sekali hari ini, kurasa aku bisa ke sana sekarang.”

Aku mengerjapkan mata. Bimbang.

“Ayolah, bagaimana? Hanya sebentar saja…” ujar Dong Hae.

“Tapi kau tidak bisa keluar dari rumah sakit sekarang. Kau tahu kan, sebenarnya kau pun tidak boleh keluar dari kamar sampai Dokter Siwon datang. Sekarang kau malah mau ke luar rumah sakit.”

“Kumohon.”

“Tidak, Lee Dong Hae. Lagipula aku tidak bisa membawamu melewati pintu rumah sakit begitu saja, dengan wajah pucat dan selang infusmu itu? Tidak, tidak, tidak…”

Dong Hae memandangiku lurus-lurus. Alisnya mengerut pertanda dia tengah memikirkan sesuatu. Kemudian pemuda itu tersenyum lebar dan terkekeh pelan. “Kau tahu, kurasa kita bisa melakukan ini…” pemuda itu menarik paksa selang infusnya hingga terlepas seraya mengerjapkan mata, lalu menggenggam tanganku dan menarikku berdiri, “kurasa, kau ahli melakukan ini di sekolah dulu. Sekarang aku yakin kau masih bisa melakukannya.”

.

.

.

.

.

.

flasback

“A-aku…”

“Yak! Lee Dong Hae! Jangan bicara keras-keras!” aku membekap mulut Dong Hae kencang, menatap ke sekeliling. Tidak ada seorang pun di sini, keadaan aman. “Kau ikuti aku, aku ahli dalam hal ini.”

Dong Hae menatapku nanar. Kepalanya menggeleng berkali-kali sementara kedua tangannya mendekap tas miliknya di depan dada. “Song Ji Hyo… aku takut ketahuan, kau tahu kita bisa kena hukum. Kita kan bisa lihat liputan pertandinganya di televisi tanpa harus melihatnya langsung!”

“Ck, kau tidak mengerti juga, ya… pertandingan sepak bola itu lebih menyenangkan jika dilihat langsung. Lagipula bukan salahku kan kalau klub sepak bola Anyang dan klub sepakbola Bucheon tandingnya di jam sekolah seperti ini? Satu-satunya cara menonton mereka, ya bolos!”

Aku memanjat dinding pagar belakang sekolah, salah satu keahlianku selain bermain bola adalah bisa memanjat apapun dengan cepat. Dong Hae masih tertinggal di bawah, bocah itu ketakutan dan terus menerus menggelengkan kepala. Aku berdecak sebal. Bagaimana sih? Aku tahu Dong Hae itu penurut sekali pada guru. Tapi tidak masalah kan bolos sekolah satu hari saja?

“Dong Hae, ini akan jadi hari yang bakal kamu ingat. Untuk pertama kalinya dalam tiga belas tahun hidup di dunia, seorang Lee Dong Hae memanjat pagar dinding. Setelah hari ini… aku yakin kau akan terbiasa memanjat pagar dinding setinggi apapun.”

Wajah Dong Hae berubah semakin cemas, membuatku berdecak.

“Baiklah, baiklah… maksudku, aku yakin ini akan jadi kali pertama dan terakhir kamu memanjat dinding,” ralatku.

Dong Hae memandangiku dengan bimbang. “Kalau bukan karena kau, Ji… aku tidak akan bolos sekolah!” katanya.

Aku mengangguk. “Ya, aku tahu. Terimakasih ya, Lee Dong Hae. Sekarang cepat panjat pagar ini, jangan banyak mikir lagi!”

Dong Hae melangkah maju mendekati pagar. Mencari-cari sisi mana yang bisa dipanjat dengan mudah. “Kalau bukan karena kau, Ji… aku tidak akan memanjat dinding sialan ini,” katanya lagi.

Aku kembali mengangguk, tidak sabaran. Kuulurkan tanganku untuk menyambut Dong Hae. “Cepat naik! Nanti pertandingannya keburu mulai!”

Sebelah kaki Dong Hae menginjak bagian pagar yang tidak rata untuk tempat tumpuan, sementara aku menarik tubuhnya sekuat tenaga hingga ke atas pagar. Perlu waktu beberapa menit karena Dong Hae terus bergoyang-goyang tidak stabil. Tapi kemudian pemuda itu berhasil memanjat pagar. Kami berdua ada di atas pagar yang memisahkan bangunan sekolah dengan lapangan kosong tidak terpakai.

Dong Hae mendekap tasnya semakin erat dan tertawa lega karena berhasil melakukan sesuatu yang paling ekstrem sepanjang 13 tahun dia hidup.

“Ya! Ji! Kalau bukan karena kau, aku pasti tidak akan melakukan semua hal gila ini.”

Aku tertawa terkekeh-kekeh. “Kau memang selalu gila jika bersamaku, kan?” kedipku.

Dong Hae mengetuk kepalaku gemas, “kau tahu, aku rasa aku tidak akan memanjat dinding ini lagi jika kau yang meminta!”

“Hmmm… jika begitu, aku akan berdoa pada Tuhan, suatu saat nanti kaulah yang malah memintaku menemani memanjat dinding.”

“Aku yakin aku tidak akan pernah memanjat dinding lagi, apalagi minta ditemani,” kilah Dong Hae. “Aku yakin itu.”

Flashback off

.

.

.

.

.

.

“Kau sudah ahli sekarang…,” godaku sambil melirik Dong Hae.

Pemuda itu spontan tersedak minuman di tangannya, lalu terbatuk-batuk.

Aku tertawa-tawa dengan puasnya. Astaga, wajah Dong Hae memerah sekarang, benar-benar menggemaskan. Aku sampai bingung harus bagaimana.

“Aku ahli karena kau yang mengajariku memanjat dinding itu,” sela Dong Hae.

“Ya, kau belajar dari masternya.” Aku mengangguk.

Dong Hae tersenyum lebar. Kami berdiri di pinggir lapangan sepak bola kosong di pinggiran kota Seoul. Dong Hae mengajakku ke tempat ini tanpa kutahu apa maksudnya. Pemuda itu tampaknya begitu menikmati detik-detik saat memandangi rumput lapangan yang bergoyang tertiup angin semilir. Matanya dipejamkan dan bibirnya mengeluarkan desahan lega.

“Ji…” panggil Dong Hae pelan.

“Hm?” Aku meneguk minuman kalengku.

“Ajari aku… main bola.”

Aku hampir tersedak. Kutatap Dong Hae dengan pandangan tak percaya. “Apa?”

“Ajari aku main bola,” ulangnya. “Sebenarnya aku mau mengajakmu ke lapangan sepak bola di Anyang. Tapi aku ingat lapangan sepakbola itu sudah berubah jadi kompleks perumahan. Dan jarang sekali kutemukan lapangan sepakboa outdoor saat ini, kecuali di tempat ini. Jadi aku mengajakmu kesini agar kau bisa mengajariku bermain bola.”

Aku menggeleng tak percaya. Dong Hae tidak pernah bermain bola. Seumur hidupnya Dong Hae adalah satu-satunya pria yang kukenal yang membenci bola setengah hidup. Jika bukan aku yang memaksanya menonton pertandingan sepak bola, pemuda itu lebih memilih meringkuk di antara tumpukan buku-buku.

“Kau bercanda.”

“Memangnya tampangku seperti orang bercanda?” tukas Dong Hae.

“Kau…”

Dong Hae meletakkan kaleng minumannya di undakan pinggir lapangan. Pemuda itu berbalik keluar lapangan dan masuk ke salah satu toko kecil yang jaraknya beberapa meter dari lapangan. Lima menit kemudian, pemuda itu sudah kembali dengan benda berbentuk bundar di tangannya.  Dan memanggilku dengan suara nyaringnya.

“Aku sudah membeli bola. Bukankah sayang sekali jika kita tidak coba memainkannya?”

Dong Hae berlari-lari kecil mendekatiku sambil memutar-mutar bola di tangannya, sengaja benar ingin menunjukkan benda favoritku sepanjang masa. Mau tak mau aku tersenyum dibuatnya. Kulangkahkan kakiku mendekati Dong Hae dan berhenti tepat di depan pemuda yang terus memasang senyum manisnya itu.

“Kau yakin mau kuajari main bola? Kau tahu, aku ini orang yang tegas kalau sudah urusan bola,” kataku pura-pura mengancam.

“Tidak masalah,” ujar Dong Hae santai. “Yang membuatku jatuh cinta padamu salah satunya adalah ketegasanmu.”

Aku meringis menahan malu. “Kau ini… pintar sekali merayuku.” Aku memukul lengannya pelan. Lalu meraih bola di tangan Dong Hae dan mulai berlari ke tengah lapangan. Angin sore bertiup cukup kencang membuat rambutku dan rambut Dong Hae berayun-ayun seperti terkena tornado.

Dong Hae tertawa keras saat melihat rambutku sukses menutupi seluruh wajahku.

“Ya! Jangan tertawakan pelatihmu! Kalau tidak kuhukum kau!” ancamku, jelas hanya untuk bercanda. Kubereskan helaian-helaian rambut yang mengganggu pemandangan.

“Baik, Saem!” seru Dong Hae memberi hormat ala opera sabun padaku. Kemudian berlari menyusulku dan terus menyerocos bagaimana caranya menggelindingkan bola yang baik dan benar. Astaga, kau dengar apa yang Dong Hae ucapkan? ‘menggelindingkan bola’? Kurasa hari ini aku harus ekstra keras mengajari pria dengan wajah paling tampan se-Anyang ini.

-Song Ji Hyo POV end-

.

.

.

.

.

.

Siwon menarik napas keras-keras. Lengan kirinya meninju dinding di sampingnya dengan keras hingga terdengar bunyi berdebum, tiga orang perawat di depannya saling lempar pandang dan mengerut ketakutan.

“Pasien Lee Dong Hae. Ruang 402 B. Hilang.” Siwon memejamkan mata. “Kenapa kalian tidak mengawasinya?!”

“Dokter… itu… tadi…Tuan Dong Hae bersama Nona Ji Hyo… kami juga tidak tahu kenapa mereka bisa hilang tiba-tiba.”

Siwon menarik rambutnya demi meredam kekesalan dan kekhawatiran yang merajai seluruh pori-pori kulitnya. Dia bisa gila begini caranya. Bagaimana mungkin Dong Hae pergi tanpa sepengetahuannya? Bagaimana bisa pemuda itu mengambil tindakan super bodoh? Apa pemuda itu tidak tahu bahaya yang tengah mengancamnya?

Tiba-tiba saja pikiran buruk menghantui Siwon. Semakin dia berusaha mengenyahkan pikiran itu, semakin mengganas pula. Tidak, tidak, tidak. Ya Tuhan… jangan sampai…

“Cari Dong Hae sampai dapat! Cari!” teriak Siwon. “Demi Tuhan, kalian ini perawat! Apa kalian tidak tahu separah apa Pasien Dong Hae jika kambuh? Apa kalian tidak tahu Pasien Dong Hae bisa kambuh kapan saja, jika dia merasa kelelahan??!! KALIAN PERAWAT ATAU BUKAN?!!”

.

.

.

.

.

.

-Lee Hyuk Jae POV-

“Kau serius akan mengambil kesempatan itu?”

“Ya. Lagipula sudah lama aku tidak bertemu sahabat-sahabatku, juga seluruh keluargaku ada disana dan aku rindu pada mereka. Aku sudah mempersiapkan ini dari lama, Sungmin-ah.”

Aku memasukkan baju-bajuku ke dalam tas, terdiam sebentar memikirkan barang apa yang terlupakan. Aku menyadari Sungmin terus mengawasi dari depan pintu kamar dengan ekspresi tak terjabarkan. Pemuda itu melipat kedua tangan di dada dan menggigit apelnya pelan-pelan, dia tidak berkata apa-apa. Dan aku juga tidak ingin mengatakan apapun. Aku tidak bisa mengatakan apapun, tepatnya.

“Kapan…” Sungmin menarik napas, “kau akan pergi?”

“Besok.”

“Besok?”

“Ya, besok.”

“Kau tidak ada niat untuk memundurkan waktu kepergianmu? Kau sudah punya banyak pelanggan di sini, bagaimana cara aku menjelaskan pada mereka tentang kepergianmu? Terutama, bagaimana aku menjelaskan pada Kyuhyun tentang kepergianmu? Kau tahu kan, dia satu-satunya pelanggan pria yang mengidolakanmu lebih dari dia mengidolakan pacar atau pun PSP-nya sendiri.”

“Oh, astaga… kau mengingatkanku kalau aku punya pelanggan seorang member Super Junior yang kelakuannya agak melenceng. Sial kau!” erangku sembari memijat-mijat kening. Mendadak saja mentalku terjun ke jurang mendengar nama itu. Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya. “Katakan saja pada Kyuhyun, atau pada pelanggan-pelangganku yang lain, kalau Lee Hyuk Jae kembali ke kampung halamannya di Manhattan untuk membuka usaha bar di sana karena tidak ingin dieksploitasi jadi PSK oleh mucikari bernama Lee Sung Min.”

“Sial kau! Siapa yang mucikari!” Sungmin melemparku dengan apel yang dipegangnya, dan mengerikannya, apel itu menabrak jidat tampanku dengan sempurnanya.

YA!

Sakit, benar-benar sakit. Matilah kau Sungmin. Kudoakan kau cepat mati sebelum umurmu empat puluh tahun!  Mentang-mentang aku bukan lagi salah satu “aset”-nya, seenaknya om-om sok necis itu melempariku dengan buah.

Aku meresleting tasku dan memastikan tidak ada lagi barang yang tertinggal. Kupandangi kamarku yang kosong melompong, hanya tersisa barang-barang asli dari flat. Sungmin ikut mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.

“Kau… serius akan pindah ke Manhattan dan meninggalkan semuanya?”

“Aku tidak punya urusan di sini lagi, Sungmin-ah.” Aku menepuk-nepuk lengan bajuku yang tidak kotor. “Lagipula rasa-rasanya aku hanya akan menambah banyak masalah jika terus disini.”

“Masalah? Contohnya?”

“Chae Rin dan Siwon, kehadiranku hanya membuat mereka sulit bersatu. Mia dan si labil Kyuhyun, mereka berdua selalu punya alasan random untuk—ehem… memperebutkanku. Lalu… Nara dan kau!” aku menunjuk dahi Sungmin. “Kau tidak bisa berbohong padaku, meski kau hacker paling hebat di Korea Selatan, meski kau pemilik bar yang berpenampilan seperti om-om mesum, aku tahu kau menyukai Nara. Dan aku hanya akan membuat Nara tidak melihatmu karena terus terpesona dengan ketampananku.”

Sungmin mengerjapkan matanya, bibirnya terbuka lebar dan ekspresinya terlihat bodoh sekali. Lalu kemudian pemuda itu mengeluarkan ucapan, “hei… baiklah, meski kau mengucapkannya dengan cara yang menjijikkan, tapi kau memang benar. Aku memang menyukai Nara.” Sungmin mengernyit sebentar. “Tapi menurutku kau tidak pernah menambah masalah apapun, Lee Hyuk Jae. Kau justru menyelesaikan banyak masalah. Kau ini pria terbaik di bar ku. Kau menyelesaikan permasalahan hati para pelanggan. Kau membuat mereka merasa lebih baik ketika pulang dari bar. Bukankah itu lebih dari cukup?”

Aku tersenyum kecil. “Sungmin-ah… kau tahu kan bukan cuma itu saja yang membuatku memutuskan meninggalkan Seoul?”

Sungmin termenung mendengar perkataanku. Kemudian pemuda itu mengangguk pelan. “Ya… aku tahu…”

Aku mendesah pelan. “Aku tidak ingin membuat kecewa banyak orang lagi. Aku ingin semua berjalan normal kembali. Terutama… aku tidak ingin membuat sedih gadis itu. Kau mengerti, kan, Sungmin-ah?”

“A-aku mengerti…”

“Jika begitu, kau bisa kan merelakanku kembali ke Manhattan dan menjalani kehidupan baruku disana? Kau bisa kan menyampaikan salam dan permintaan maafku pada semua pelanggan?”

Sungmin tersenyum sedih lalu mengangguk kecil. “…ya. Akan kucoba, Lee Hyuk Jae.”

-Lee Hyuk Jae POV-

.

.

.

.

.

.

Ini sudah kali keduapuluh Siwon meneleponku. Siwon sudah seperti orangtua yang amat sangat khawatir karena anak bungsunya tak kunjung pulang padahal sudah hampir tengah malam. Aku mengabaikan panggilan kesekian Siwon. Jika kujawab, kemungkinan besar berakhir dengan teriakan dan ceramah panjang lebar yang bisa membakar gendang telingaku. Yayaya, aku tahu. Membawa kabur pasien dari rumah sakit bisa dikategorikan tindak kriminal. Tapi bagaimanapun juga Dong Hae-lah yang memaksaku. Dan lihatlah, sampai pukul setengah sepuluh malam kondisi Dong Hae tetap baik-baik saja tanpa kurang apapun. Tidak terlihat seperti orang yang terkena kanker.

“Kapten Ji…” panggil Dong Hae pelan.

“Sudah lama kau tidak memanggilku ‘Kapten Ji’,” cengirku.

Dong Hae terkekeh pelan. Kami masih menunggu datangnya bus di halte, beberapa orang berdiri di antara tiang-tiang halte. Dong Hae memaksa seorang pemuda SMA menyerahkan tempat duduknya untukku. Katanya, aku bisa kelelahan jika berdiri lama-lama. Ck, padahal yang seharusnya dikhawatirkan itu dirinya sendiri.

“Hari ini menyenangkan,” ujar Dong Hae dengan mata menerawang. “Aku senang kita bisa akur dan menjalani seharian ini dengan senang.”

Ya! Kita memang akur dari dulu!” semburku gemas.

Dong Hae memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana. Matanya menatapku lurus. Dari posisiku sekarang, Dong Hae terlihat sangat jangkung sekali. Sepertinya koma beberapa hari di rumah sakit membuat tubuhnya bertambah tinggi berapa senti. “Beberapa minggu ini hubungan kita terombang-ambing karena banyak kesalahpahaman. Melihat kau ada di rumah sakit menemaniku dan tidak lagi histeris mendengar nama Siwon, aku yakin kau sudah mengerti apa yang terjadi sebenarnya. Aku minta maaf atas sikapku yang menyebalkan… juga sikap Siwon yang mungkin membuatmu kesal, atau justru keadaan yang membuatmu nyaris gila. Awalnya kupikir, dengan tanpa menceritakan apa yang terjadi, kau akan baik-baik saja. tapi ternyata aku salah, kau justru jauh menderita karena kebohonganku. Sekali lagi, aku minta maaf… dan kumohon lupakan kejadian yang lalu.”

“Kau tidak pernah berbuat salah padaku, Lee Dong Hae.” Aku tersenyum tipis. “Ya, benar. awalnya aku kecewa sekali atas kebohongan sempurnamu itu. Ya, benar… keadaan beberapa minggu lalu bukan saja nyaris membuatku gila, tapi nyaris membuatku ingin jadi pembunuh—jangan kau tanya kenapa karena aku sama sekali tak ingin mengingatnya. Tapi lalu aku sadar, aku bisa memaafkanmu hanya dengan melihatmu sadar. Ya, hanya dengan memastikan kau bisa kembali membuka mata dan berdiri di depanku seperti sekarang ini, seluruh kesalahanmu sudah dimaafkan…”

Dong Hae membungkukkan badannya hingga wajahnya sejajar dengan wajahku. Aku mengerjapkan mata, otomatis menjauh seraya memasang wajah kaget. Aroma khas Dong Hae menyeruak masuk ke dalam hidungku, membuat mataku berkunang-kunang dan kepalaku seperti ditaburi kupu-kupu. Dan Demi Tuhan aku tidak berbohong, Dong Hae semakin lama semakin mendekat hingga wajahnya nyaris-hampir-sedikit-lagi menyentuh wajahku.

“K-kau… mau apa…? Orang-orang melihat kita… jangan berbuat yang tidak-tidak…”

“Aku tidak berbuat yang ‘tidak-tidak’… aku hanya berbuat yang ‘iya-iya’…”

Mengabaikan tatapan serta bisikan orang-orang di halte, Dong Hae mengecup bibirku. Lembut, seperti biasa. Manis, seperti biasa. Tangan Dong Hae memegang tengkukku dan memperdalam ciumannya.

Aku seharusnya berteriak dan mendorongnya menjauh, seharusnya aku melarang pemuda itu melakukan hal seperti ini di depan umum, tapi hal itu tinggal wacana ketika tatapan Dong Hae meruntuhkan seluruh pertahananku. Pemuda itu benar-benar curang, dia tahu bahwa satu-satunya kelemahanku adalah dirinya. Sehingga aku rela melakukan yang “iya-iya” hanya demi dirinya.

Gila? Ya, Song Ji Hyo memang gila. Tergila-gila dengan Dong Hae. Amat sangat.

Dong Hae melepas ciumannya lalu mengedipkan mata jahil. Pemuda itu menarikku berdiri dan masuk ke dalam bus yang baru tiba di halte. Tangan Dong Hae terasa dingin dan sedikit berkeringat, membuatku tersenyum kecil. Apa pemuda itu gugup? Eii, apa yang kau pikirkan Ji?

Jalanan Seoul dipenuhi oleh gedung-gedung besar, semakin bertambahnya tahun, semakin banyak pula gedung pencakar langit yang tiap malam menunjukkan kerlap kerlip keindahannya. Dong Hae selalu membiarkanku duduk di dekat jendela ketika berada dalam bus karena aku suka memandangi tiap jengkal pemandangan di luar sana. Hari ini hanya lampu-lampu gedung yang bisa kulihat, selebihnya aku memilih melihat wajah Dong Hae yang duduk tenang di sampingku.

“Ji, aku mau tidur… tidak apa-apa, kan?” tanya Dong Hae.

“Tidurlah, aku juga ingin tidur.”

Dong Hae menggeliatkan tubuhnya dan mulai menguap. Aku mengalihkan pandangan ke luar jendela. Langit mulai gelap dan jalanan Seoul semakin padat. Aku berusaha memejamkan mataku namun nyatanya aku sama sekali tak mengantuk. Mungkin karena aku masih terlalu bersemangat menghadapi hari ini. Hari yang kupikir tidak akan datang, saat-saat dimana Dong Hae kembali bersikap manis dan mempesona. Rasanya bahagia sekali.

Telepon dari Siwon kembali mengisi layar. Astaga, dokter satu itu tak kunjung menyerah. Aku menarik napas panjang. Baiklah, akan kuangkat. Lagipula sebentar lagi kami akan tiba di rumah sakit.

Yoboseo?”

“Dimana kalian? Kenapa dari tadi kau tidak mengangkat teleponku? Bagaimana keadaan Dong Hae?”

“Dokter Siwon yang terhormat, kau bisa tidak bertanya satu-satu?” tanyaku sebal. Astaga, Siwon benar-benar berbakat jadi ibu rumah tangga. “Aku dan Dong Hae ada di dalam bus, sebentar lagi sampai di rumah sakit, jadi kau tenang saja. kami hanya jalan-jalan sebentar kok. Tidak terjadi apa-apa, dan keadaan Dong Hae baik-baik saja. dia sedang tidur… apa mau kubangunkan?” satu-satunya cara untuk menghadapi sikap Siwon dengan bersabar diri dan tidak ikut terpancing emosi. Aku menoleh kea rah Dong Hae, sedikit tidak tega harus membangunkannya, tapi demi dokter yang sudah mencemaskan pemuda ini seharian lebih, kurasa dibangunkan sebentar bukanlah perbuatan jahat.

“Dong Hae-ya… Dokter Siwon menelepon… Dong Hae-ya…” aku mengguncang bahu Dong Hae pelan. Pemuda itu tidak bergerak, ck… tidurnya sangat pulas. “Lee Dong Hae… bangun…” sekali lagi kucoba membangunkan Dong Hae, kali ini kupegang lengannya dan tertegun.

Lengan Dong Hae benar-benar dingin.

“Dong Hae-ya…”

Dong Hae tidak bergerak sama sekali. Kuraba wajahnya, kutepuk-tepuk pipinya, tapi tidak ada respon sama sekali.

“Dong Hae-ya… Dong Hae—“

Mendadak saja sesuatu seakan masuk ke alam sadarku. Kudekatkan telunjukku ke bawah hidung Dong Hae untuk mengecek napasnya, namun tidak ada udara yang keluar sama sekali. Tanganku meraih pergelangan Dong Hae dan mengecek nadinya, tidak ada denyut sama sekali. Astaga…

Astaga, astaga, astaga, astaga….

“Dong Hae-ya, Dong Hae-ya, Dong Hae-ya… bangun… Dong Hae-ya!!” aku tidak peduli lagi suaraku sudah menciptakan gelombang perhatian para penumpang bus. Aku tidak peduli lagi suara Siwon terus memanggilku dari seberang sambungan. Aku benar-benar panik dan berdiri dari duduk, kuguncang-guncangkan lagi tubuh Dong Hae. Tidak ada reaksi dan itu membuat seluruh duniaku seolah runtuh. Mataku mulai berkaca-kaca dan lututku gemetaran.

Tidak mungkin… Tuhan, kau bercanda, kan?

Air mataku jatuh. Para penumpang berdatangan ke kursi dan ikut mengecek kondisi Dong Hae. Ekspresi mereka tampak kaget dan tidak percaya, beberapa orang berteriak pada sopir bus untuk pergi ke rumah sakit terdekat, sementara sebagian penumpang lainnya menahan tubuhku yang nyaris ambruk saking kalutnya.

Dong Hae… pemuda yang amat kucintai…, tidak pernah membuka matanya lagi setelah itu.

.

.

.

.

.

.

Namaku Song Ji Hyo.

Umurku 29 tahun.

Aku adalah gadis paling cantik, pintar, kuat, cantik, dan cantik se-Anyang… bahkan Seoul.

Pekerjaanku?

Ending Planner

Orang yang bertugas mengurusi upacara kematian seseorang.

…..

…….

Namaku Song Ji Hyo.

Umurku nyaris 30 tahun.

Aku adalah gadis paling cantik, pintar, kuat, dan memiliki segalanya.

Pekerjaanku?

Pekerjaan yang paling kubenci saat ini—Ending Planner

Ya, aku benci jadi ending planner karena aku tidak pernah menyangka akan mengurusi upacara kematian orang yang paling kucinta. Aku tidak pernah tahu kalau Lee Dong Hae bahkan sudah mendaftarkan kematiannya di kantorku jauh sebelum dia masuk ke rumah sakit. Aku bahkan tidak bisa berdiri dengan baik sepanjang acara pemakaman.

Siwon datang bersama tunangannya—Song Chae Rin—menyemangatiku untuk bisa tabah menghadapi keadaan. Song Chae Rin, gadis yang dulu tersedu-sedu di pelukanku saat kematian ayahnya, kini meminjamkan bahunya untuk menampung tangisanku.

Siwon terus memandang peti Dong Hae sambil berkata betapa cintanya pemuda itu padaku. Dong Hae sudah tahu bahwa dia tidak akan pernah bisa sembuh dan umurnya tinggal menghitung hari, tapi bahkan di detik terakhir hidupnya, hal yang dipikirkan pemuda itu hanyalah diriku.

Mendengar hal itu membuat tangisku kembali meledak. Song Ji Hyo, Song Ji Hyo, Song Ji Hyo… bukankah kau bodoh sekali? Kau sudah menuduh orang yang kau cintai gay, kau membuatnya tersiksa hanya untuk mencintaimu, kau… kau… betapa beruntungnya kau, Song Ji Hyo…

Ada banyak orang datang ke upacara kematian Dong Hae, beberapa wartawan bahkan ikut meliput. Kedua orang tua Dong Hae dan kakak Dong Hae—Dong Hwa—sibuk menjamu para tamu meski tubuh mereka didera kelelahan. Aku memutuskan untuk ikut membantu mereka walau Chae Rin sempat melarangku.

Song Joong Ki berjalan ke arahku dengan wajah cemas. “Noona, kau duduk saja di bangku. Jangan ikut menjamu tamu,” katanya prihatin.

Aku menggeleng pelan. “Tidak apa-apa. Aku masih kuat. Lagipula, aku juga panitia upacara ini… aku kan ending planner.” Aku menepuk dadaku, berusaha menunjukkan aku baik-baik saja.

Tiba-tiba tiga orang pelayat datang masuk ke dalam ruangan. Awalnya kukira mereka merupakan rekan Dong Hae di SBS, tapi kemudian aku malah melihat siluet Sungmin diantara ketiganya.

Ya, tiga orang pelayat itu adalah Lee Sungmin… Ha Nara… dan Lee Hyuk Jae…

Lee Hyuk Jae berjalan paling depan dengan kepala tertunduk, di belakangnya menyusul Sungmin dan Nara yang berjalan bersisian. Ketiganya melangkah menuju peti Dong Hae dan melakukan penghormatan terakhir.

Kemudian saat itu datang, ketika mata Eunhyuk dan mataku saling bertemu pada satu titik. Kami terdiam lama diantara pusaran para pelayat yang sibuk berseliweran di sekeliling. Eunhyuk menyemir rambut hitamnya menjadi pirang, hal itu membuatnya lima kali lipat lebih tampan dibanding hari biasa. Tatapan matanya mengintimidasi sekaligus membius, hingga tanpa sadar aku menahan napas melihatnya bergerak mendekatiku. Disusul Sungmin dan Nara.

“Kami turut berduka cita, Song Ji Hyo-ssi…” ujar Sungmin tulus, raut wajahnya sedih campur kusut. “Kau yang tabah.”

Aku mengangguk.

Sungmin menatap sejenak kearahku dan Eunhyuk lalu memutuskan untuk pamit pergi seolah paham situasi. “Aku duluan,” ujarnya pelan.

Eunhyuk mengangguk tanpa suara.

“Annyeonghaseo, Song Joong Ki imnida. Sepertinya aku baru pertama melihatmu, Hyungnim. Kau temannya Song Ji Hyo Noona atau Lee Dong Hae Hyung, ya?” tanya Joong Ki seraya memasang senyum.

Eunhyuk melirik sekilas ke arahku sebelum menjawab pelan, “dua-duanya.”

“Ah… begitu ternyata… maaf, aku sama sekali belum pernah melihatmu. Apa kau pernah main ke Anyang sebelumnya? Ji Hyo Noona dan Dong Hae Hyung sering membawa teman-teman mereka main ke sini, mungkin kau juga pernah…”

“Ya, tentu saja.” Eunhyuk menarik sudut-sudut bibirnya hingga membentuk senyuman kaku. “…aku pernah main ke Anyang.”

Aku menatap Eunhyuk lekat. Ada banyak hal yang ingin aku katakan padanya. Tapi saking banyaknya aku justru tidak tahu darimana harus memulai.

Ingatanku tentang artikel yang diberikan Sungmin kembali menyelimuti otak. Lee Hyuk Jae adalah orang yang dua puluh tiga tahun lalu menyiramku dengan kotoran kuda, Lee Hyuk Jae adalah orang yang membuatku malu setengah mati, Lee Hyuk Jae adalah…

“Hari ini aku akan kembali ke Manhattan.”

Ucapan Eunhyuk membuatku tersadar dari lamunan. Pemuda itu masih memasang wajah datar. Biasanya, Eunhyuk selalu tersenyum. Kini melihat wajahnya tidak dihinggapi senyum terasa asing sekali.

“Man…hattan…?”

“Ya, Manhattan.”

“Kenapa kau harus pergi ke Manhattan?” suaraku mendadak serak. Joong Ki menatapku dan Eunhyuk keheranan, namun bibirnya tetap terkunci rapat.

“Karena rumahku di Manhattan…” jawab Eunhyuk. “Kau pasti tahu kan, bocah asal Seoul yang mengundurkan diri dari tim sepakbola Seoul dua puluh tiga tahun lalu adalah blasteran Manhattan?”

Mendadak napasku terasa berat. “Yeah… aku… tahu… itu…” jawabku susah payah. Ya, aku jelas tahu. Aku mengingat seluruh informasi tentang bocah pirang yang dulu menantangku bermain bola.

“Sebelum aku pergi, ada yang ingin kujelaskan padamu. Aku mencarimu selama bertahun-tahun dan mungkin ini kesempatan terakhirku bertemu denganmu, untuk menyelesaikan masalah kita yang terpotong selama dua puluh tiga tahun lamanya.”

Aku terkesiap

“Sungmin sudah memberitahu semua padaku. Kalau kau sudah tahu tentang siapa sebenarnya diriku. Tapi sebenarnya, ada banyak hal juga yang belum kau ketahui. Aku ingin menceritakannya padamu sebelum aku pergi ke Manhattan. Aku akan menunggumu sore ini di bekas lapangan sepak bola.” Eunhyuk menggerakkan kepala kaku, lalu berbalik dan pamit pergi. Meninggalkanku dalam keadaan membingungkan.

Eunhyuk akan pergi? Ke Manhattan? Dia akan… tapi bagaimana… tapi seharusnya…

Noona, jangan bilang kalau dia Lee Hyuk Jae yang itu? Yang waktu kita kecil…” celetuk Joong Ki baru menyadari sesuatu. Adikku itu melongo lebar dan menatap punggung Eunhyuk yang mulai menjauh.

Aku melirik padanya dan mengangguk lemah. “Ya.”

“Bagaimana kau bisa bertemu dengannya lagi, Noona?”

“Entahlah… seharusnya aku marah mengetahui kalau pria itu adalah Lee Hyuk Jae si bocah pirang. Tapi melihatnya datang ke sini hari ini, kenapa aku justru… ah, aku bingung…” Aku memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam.

Aku tahu Joong Ki kini melemparkan tatapan penuh menuntut padaku. Aku tahu ekspresi itu menggambarkan kekecewaan yang tidak terjabarkan. Tapi aku tidak mau tahu kenapa Joong Ki menunjukkan ekspresi seperti itu.

Aku memandang ke luar. Sosok Lee Hyuk Jae sudah menghilang. Dan aku merasa separuh diriku ikut menghilang.

Noona…” Joong Ki memegang bahuku. “Pergilah…”

Aku menoleh ke arah Joong Ki dan membuat tatapan penuh tanya.

“Dia… Dia Lee Hyuk Jae, Noona… kau sudah menemukannya. Lee Hyuk Jae…”

“Hentikan, Song Joong Ki,” tukasku cepat. “Aku tidak akan mengatakan padanya, dan kau jangan memaksaku untuk mengatakan padanya!”

Joong Ki memandangku prihatin. Lalu menggaruk kepalanya frustasi.

“Noona, sebenarnya ada yang belum kuceritakan padamu… tentang kejadian dua puluh tiga tahun lalu…

.

.

THE END?

.

.

Jika kamu pikir Ji akan pergi menemui Eun Hyuk, pergi ke Let Time Go By

Jika kamu pikir Ji tidak akan menemui Eun Hyuk, pergi ke Go Back To The Past

 

Halo ini Sophie Maya

ini adalah part terakhir dari Why Why Why

disini kalian bisa memilih ending yang kalian suka

semoga saja ending yang kalian pilih adalah ending yang terbaik🙂

Kalau mau tanya password lewat twitter aja ya…

@sophiemorore

95 thoughts on “Why, Why, Why?! (Part 7)

  1. D0nghae bner2 mninggaL ( T.T )
    Knp hrus d bwt mninggaL ??

    Hiks…hiks…
    Qu jd nngis nie😥

    MninggaL dg damai., tnang., tnp skit n tnp beban.. Qu sk cara Chingu mndeskripsikanya pd kmatian D0nghae ^^

    Tp knp d detik2 ending da Lg kejutanya ??
    Mkin rumit🙂

  2. Tangan yg dingin dan berkeringat… Q pernah pegang Sop, jadi sedih T.T
    Ini salah satu ff bikin q jd sentimentil

  3. kamu bilang tidur? tidur untuk selamanyakah?? aku baru bisa baca sekarang😥
    tapi alur ff ini ngga pernah mboseni, dan ternyata bener.. donghae meninggal u.u Keep writing author!!!!!!!!!!!!

  4. Aku udah feeling kalau Hae bakal meninggal waktu dia bilang ingin tidur. Huweeee~ Aku nangis sesegukan karena endingnya T_T

  5. ah, kasihan haeppa meninggal..
    sebenarnya udah merasa haeppa bakal pergi pas dy bilang mau tidur..
    ah thor, aku mw PWnya dong
    tp, ga punya twitter, klo FB ada ga?

  6. kox,akhir na Hae mati sich th0r…
    Kan mw na happy ending sma Hae tr0z Hyuk dpat cew laen…
    Tpi gpp,ksluruhan na ttap ok kox th0r…
    Oa mnta PW buat 2 FF why2 y’ d protect donx th0r…
    Jdi End na Qta tentuin dg 2 FF it y mksud na -msih g’ ngerti sma mksud 2FF it-

    • memang mati
      dia terlalu lama hidup di dunia *eh
      ide awalnya mmg di akhir donghae mati…
      hehehe
      kalau mau minta lewat twitter ya
      oh berhubung ini akhir tahun, aku berbaik hati membuka pw why why why lohh
      cekidot

  7. ji hyo pasti trpukul sekaligus shock berat bgt,donghae oppa menutup mata utk slamany d pelukan jihyo..d pelukan org yg d sygi..

    sophie eonni,bnr2 brhasil ngocok2(?) emosi nih,stlh d buat pnsrn d part sblmny..dan..taraa..d part ini,bikin org mewek..TT TT

  8. hae meninggal? +-+ kasian…dia br aja sadar..aku kira hae emg sepenuhnya pulih..tp ternyata ;;;

    dan utk endingnya weeh nyesek laah..jd ending planer utk kekasihnya sendiri o.o ga sanggup da aku mah unn..meningan ganti kerjaan aja yg lebih happy ><

    dae to the bak

  9. waah aku barungikutin ff ini dan ngebut bacanya,,
    maaf baru comment di part ini hiks T.T
    omo si ikan meninggal ya?? poor donghae..
    kenapa gak sedekahin aku aja *plaak ngarep hehe
    oh aku pengen baca epilognya tapi dikunci😮

    • Sebenarnya km sebaikny ngomen d typ part..
      Sbg bntuk apresiasi aja krn aq jg bikinnya ga ngebut sekali jd🙂

      Kl nnti main ke sini atau blog2 author lain, sebaiknya ngomen typ part yaaa🙂

      Iya epilog dikunci, pwnya mnta di twitter

  10. Donghae astagaaa donghae nasibmu knp menyedihkan sekali nak? Sophie kayanya seneng banget bikin kamu menderita, yang sabar yaa nak (?)😄
    aku udah curiga donghae tiba2 aja udah kaya orang sembuh gitu itu pasti pertanda dy bakal mati sbntr lagi😦
    eunhyuk kasiann, lg kontroversi hati (?) hehe dy akhirnya jd balik ke manhattan ga ni soph?😮
    jihyo juga dilemaa bgt itu, disatu sisi donghae br aja meninggal, di sisi lain eunhyuk mau pergi ke manhattan. Si joongki kayanya tau deh kl si jihyo punya perasaan sm si eunhyuk.
    Ini gantung banget laah part terakhirnya, mau doong baca endingnya. Milih yg mana ya? Kalo baca dua2nya boleh nggak? Hehe.
    Ntar d wa ajaa yaa🙂

    • Ya ampun aq emang seneng bgt onn lyt donghae menderita
      Kyknya tuh bahagia itu mudah, hny dgn mmbuat donghae mati di typ ffku xD

      Dan plis…. eunhyuk kontroversi hati? Lol

      Km bs plh ending yg km suka onn… suka2 km lahhh…. baca dua duanya jg blh

  11. Waoow…ini ending ya? Yaap.
    Aku pengen ngomenin Donghae dulu ah.. Hae,,ckckck.. yg baru bangun dr ‘tdr’ bisa mkn banyak gitu..trus kabur dr RS manjat pagar -Sophie,,ini Hae MANJAT pagar looh!- trus lanjut maen bola??! DaeBak!! Beneran aku lega Hae pergi dgn cara yg menyenangkan.. dan scene terakhirnya yg bis..entah kenapa kok biasa ya Soph? -aduuh mian- tapiii suiiiiit banget.. ~ dan pas baca ini,berasa Jjong tau-tau nyanyi So Goodbye depan aku,,hehe… So goodbye Hae-ah.. kisah kamu manis bangett ^^
    Dan di ending ini..entah kenapa aku mendapuk kalo sad ending itu milik Eunhyuk. Why..why..why?? Soalnya Hyuk hrs pergi dr hidupnya yg skrg. Ninggalin Kyu dan Mia yg terlalu ekstrim menyukainya..haha,ninggalin Min yg udh jd temen curhatnya selama ini, ninggalin hobby dan profesinya jd ‘angel’ bt org2 kesepian dan ninggalin first lovenya selama 23 thn ini…whuaaaaa sediiiiih.. т.т Sophie, why..why..why…?!!
    Ji Hyo… nyesek banget bt scene terakhir: jadi ending planner bt seorang Lee Dong Hae. Kenapa kamu bt Ji jomblo di umurnya yang sekarang Sophie? Why..why..why…?
    //hahaha..sepertinya aku terlalu emosional// mian, absurd// makasih utk part 1-7 plus special part for the ending.. I enjoy your story sooo muuuchh… Love :’)

    • Wuaaaa i really love your comment
      Make me full of spirit
      Thank youu….:3

      Yup aq mmg sudah bertekad utk melepas donghae dengan cara yang semestinya *?* seenggaknya yang manusiawi
      Anggap ini sebagai permohonan maafku karena sudah menistakan makhluk tampan itu selama di ff ini hihihi

      Oh ya ini sebenarnya bukan ending juga sih… ada dua ending version yng bs km plh sndiri
      Kamu jg bisa baca dua2ny dan lalu menentukan mana ending version yg km ska dan km jadiin acuan itulah ending www yg sbenarnya🙂

  12. ini kisah bener2 manis neng sophie, sayang endingnya seperti ini *ga rela donghae mati* aku ampe nangis gara2 ini, argg bener2 sedih aku -_- buatin hae-hyo lg dong, ni couple uda feel aku.

  13. huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa somplaaaak authorrrr aku mau uts tapi malah baca ff mu dan akhirnya aku nangis!!!! nangis dihadapan buku fisika aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa di introgasi kan jadinya…. udah lah itu dong dong nya napa alamrhum????? udahlah udahlah ahhhh dong dong….

  14. AAARRRGGGHHHH KENAPA MUSTI PILIH ENDING SENDIIIRIIIII INI PILIHAN YANG SULIIIIT
    anyway.
    Eonni, kau ngikutin MV BoA yg Disturbance yg ada Tetemnya itu yak? Kayaknya itu grammarnya salah deh, harusnya Let the time goes by.
    KENAPA GUE JADI GRAMMAR-NAZI BERJALAN GINI
    ah tapi ya udahlah. AKU MAU BACA ENDINGNYA DUA DUANYA DULU YAH HAHAH

    • Iya mmg ngikutin mv nya boa hihihi grammarnya emang salah tapi aku biarin aja.coz aq kan soundtrack ff ini pke lagu boa jg hahahahhaa

      Ya udahlah sip.mari kita salahkan boa dan lee soo man hihi

  15. Pas bangeeet,,,lagi pengen nangis baca ini…
    Hikssss…T_T
    Ngena bgt laaah, ditambah donghae emng biaskuu… Mati pula… T_T (nangis bertubi tubi #abaikan)

    Itu jongkinya berasa bijak gtu yaaa…hahah

    Kalo ujungnya sma eunhyuk g apa2 deh..hihii…
    Tapi masa baru dtnggal donghae langsung sma eunhyuk siiihh…
    Pengen lanjutan 22nya…:-D
    Udh follow twitter, tp di gembok ya twitternya???

  16. huhuhuhu donghae akhirnya mati
    ya ampun, so sweet banget
    habis main bola mati hahahaha
    onnie gimana caranya dapatin pw? aku udah mention di twtter
    di balas yaaa
    aku penasaran sama joongki
    entah rahasia apa yang belum terkuak disini
    kenapa semua bikin penasaraaaann
    aaahhh

  17. apa-apaan ini endingna??? kenapa mesti ngasih dua opsi???

    Donghae mati ya? baguslah. #plak
    kasihan ah kalo sakit mulu. ikhlasin ya Hyo…. #puk2 Hyo
    beruntungnya kamu nyampah di FB jadi aq bisa liat linknya. hahaha

    Ahhh… emosi Ji Hyo kurang nendang disini. sedihnya kurang soph. #ditendang sophie
    PW mana PW? bagi sini… #malak

  18. Eonn sophsoph, tolong pollback -@watisoetandyo- twitter aku ga bisa dibuka jadi pake punya mama TT_TT gapapa kan eonn sophsoph, yaya eonn soph???

  19. Tuh kan…tuh kan…
    Donghae na bangun cuma buat say good bye ke ji hyo. Innalillahi dech si donghae. Tp dia meninggal di samping orang yang dia sayang…
    Romantis sekali…
    Baru aq baca joong ki ga oon di sini. Dan seperti na dia juru kunci di sini. Secara joon ki tau sesuatu menyangkut eunhyuk sama ji hyo…
    Arhhh…..keren sekali. Sop, bagi pass na dong. Berhubung udah lama ga maen twitter dan pass na juga lupa, boleh ga pass na by email?

  20. kyaaaaaa !!!! ini ini ini~ kenapa begini ? aku galau galau galau banget ya Allah ~
    donghae meninggal ~ uuuhhh sedih. terus hyukjae gimna ? jihyo gimana ? ini ada sesuatu nih pasti. apa yang gak diceritakan sama joongki ? apa yang gak mau jihyo katakan sama hyukjae.. aaaaaaa password juseyoo ~~~🙂 boleh minta ? aku penasaran hihihihi

  21. huuuaaaaaaa meewwweeeekkk, donghaeny meninggal.. gak nyangka. gila air mata sampai jatuhh.. seddiihhh.. thor daebak deh…

  22. huaaaaaa….hiks…hiksss😦
    suamiku kenapa metong?????
    kesiaannnnn,,
    itu sebenernya joongki tahu apaan?? 23 thn.. apa yg terjadi 23 tahun lalu??
    PENASARANNNNNNN !!!!

    Thor, saya gak punya twitter😦
    minta paswordnya, lewat koment aja yaaaaaa
    plissss..plisssss..plisssssss

  23. Diriku first kah? Uwoooow *nyalain petasan*

    Tuh kaaaaan sudah aku duga pasti si donghae bakalan kenapa2 deh akhirnya *tebar bunga ke muka donghae*
    Itu unyuk aku ngapain pulang ke manhattan? Kampung halaman dia kan di indonesia bersama diriku *hyuk: huek! | sialan -_-*
    Nah loh nah loh, ada apaan nih antara unyuk sama jihyo? Trus ngapa tuh si joongki juga ngomong gitu? Kepo sophieeeeee!!! *acak2 bulu choco*

    Aku minta pw why why why-nya ya sophie, aku penasaran sama mereka berdua. Aku bukan sider kok, kan aku syelalu komen sophie cantik *baik2in sophie dulu biar dikasih pw*

    Cepat konfirm twitterku! Ga sabaaar *eeh?*

    • huhuhu turut berduka cita atas kematian donghae
      unyuk mau bangun bar di manhattan
      sama mau menenangkan diri hahahahahaha
      dia ga mau lagi jadi PSK-nya Sungmin ~~ *duagh

      ya ampun unyuk ke indo… nanti aku jadiin om om di lampu merah kalo gt ceritanya *plak

      ayo kepo loh kepooo

      pw nya udah kukasih
      maaf ya agak telat
      kemarin itu lagi agak trouble say

Just talking...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s