Why, Why, Why?! (Part 5)

Yaaaakkk! Lee Donghae! Apa sih kurangnya aku? Song Ji Hyo! Cantik, pintar, kuat, cantik, dan cantik! Aku ini c.a.n.t.i.k! Sempurna! Idaman sejuta umat laki-laki di Anyang, bahkan Seoul! Kini kau tega-teganya mengkhianatiku dengan pria lain! Terlalu kau! Aku tidak perduli kau mengatakan dirimu gay atau apalah! Aku bersumpah akan membuatmu jatuh cinta lagi padaku, Lee Donghae bodoh! (Song Ji Hyo, ending planner, 29 tahun)

 

Kau tahu, Lee Donghae itu memang bodoh! Bodoh sekali! Kau bilang dia tampan, baik, dan menarik? Astaga, engsel-engsel di otakmu pasti sudah berkaratan semua! Kau ini gila atau apa? Atau kau ini tante-tante tua yang sudah kebelet mau nikah, sih? Pria gay seperti itu saja kau kejar-kejar seperti mengejar layangan putus yang terbang tidak ada juntrungan! (Lee Hyuk Jae, host club, 28 tahun)

 

Bukankah cinta itu tidak memandang apapun? Dan satu lagi, tidak ada yang tahu kenapa, apa, dan bagaimana semua bisa berjalan seperti ini. (Lee Dong Hae, news anchor, 28 tahun)

.

.

.

.

Author           : Sophie Maya

Title    : Why, Why, Why?! (Part 5)

Cast    : Song Jihyo, Lee Donghae, Lee Hyukjae, Song Joongki

Support Cast: another Super Junior member, Shinhwa member, Mia Narafa

Genre            : complicated romance, lil bit humor I think

Rated : PG-19

Length: chaptered

Type   : ?

Summary      : Why? Everything becomes crazy. Why? I must stuck in here. Why? With you, WHY?WHY? WHY?!!

www part5

Disclaimer    : this story is MINE.

Warning        : do you hate the CAST? DONT READ, its simple. And one more, NO BASHING oke? Its just for fun! Oh right, one more again I HATE SILENT READERS, so comment this story right? ^^

.

.

.

.

Orang bilang cinta pertama bukan berarti menjadi cinta terakhir, namun cinta pertama adalah orang yang melintas pada jalan hidup kita untuk memberikan sesuatu yang tidak akan kita lupakan. Dia datang bukan tanpa arti, dia adalah bagian dari kepingan-kepingan kenangan yang membuat kita berdiri hingga saat ini.

Inilah kisah cinta pertamaku, 23 tahun lalu…

“YA! Pirang!”

Hyunseung berlari menghampiriku dengan senyum lebarnya, rambut keriting acak-acakkannya bergoyang-goyang tertiup angin.

Aku melempar seringai kecil padanya. Sementara tanganku menggenggam kaleng softdrink, menenggaknya sesekali.

Hyunseung masih memanggilku ‘Pirang’, sebutan yang sedikit menyebalkan sebenarnya. Tapi mau bagaimana lagi, DNA rambutku memang pirang dari kecil dan tidak bisa dirubah kecuali aku mengecat rambutku.

Memiliki Eomma yang bukan orang Korea membuatku sedikit berbeda dibanding anak kebanyakan. Masalahnya, yang berbeda hanyalah warna rambut. Jika saja wajahku mengikuti wajah Eomma yang kelahiran Manhattan, aku yakin aku akan lebih tampan dibanding manekin di pertokoan…—yah, setidaknya bukan campuran wajah korea dan rambut seperti hutan afrika.

Eomma bilang kau datang pagi tadi saat aku masih di sekolah. Yaaahh… sekolah di Seoul sudah memasuki masa liburan sekolah, ya?” Hyunseung melompat ke atas pagar yang kududuki. Tubuh pendeknya sedikit kesulitan saat melompat, jadi dia memanjat undakan pagar terlebih dulu. “Kau bukannya menungguku di rumah dulu, malah jalan-jalan. Dasar anak Seoul!” cibir Hyunseung.

Aku tertawa terkekeh-kekeh. Menyibak poni pirangku dengan gaya keren. “Aku tahu kau akan datang untuk mencariku. Aku tidak takut tersesat di Anyang, kau tenang saja. Otakku ini pintar sekali, loh!” aku sengaja mengetuk-ngetuk kepalaku, lalu kepala Hyunseung.

Aku tahu benar sepupuku itu—Hyunseung—sedikit punya masalah di bagian otaknya. Bukan, bukan, dia bukannya gila atau kurang waras. Hanya saja, dia sedikit bermasalah memahami pelajaran tambah-tambahan di sekolah. Eomma-nya sepagi ini terus bercerita betapa kurang pintarnya Hyunseung di sekolah. Jika saja ini bukan masa liburanku, aku pasti lebih memilih kembali ke Seoul dan mulai bertobat untuk belajar sangat rajin di sekolah.

Angin bertiup kencang seharian ini. Anyang memiliki udara bersih yang menyegarkan. Ini pertama kali aku menghabiskan liburan jauh dari kota Seoul. Jika saja Appa tidak menjanjikan membeli Tamagochi terbaru, tidak akan pernah ada niatku untuk ke Anyang.

Oh, Seoul jelas-jelas lebih baik dari provinsi yang kelewat tenang ini. Hanya beberapa jam saja, aku sudah mulai bosan melihat kuda berkeliaran dimana-mana dan mulai merindukan jalanan penuh mobil.

“Oh, lihat itu… ck, udara berangin seperti ini masih mau latihan bola,” celetuk Hyunseung tiba-tiba.

Bola mata Hyunseung terarah ke lapangan tidak jauh dari tempat kami.

Aku memicingkan mata. Mengikuti arah pandang Hyunseung.

Hyunseung melipat kedua tangan di dada dan mulai meracau panjang lebar. “Ck, benar-benar deh… kau tahu, mereka selalu seenaknya memakai lapangan rumput itu seperti lapangan milik pribadi. Aku juga punya tim sepak bola sendiri, tapi jarang diberi kesempatan oleh mereka untuk menggunakan lapangan itu. Aish, katipalis sekali!”

“Maksudmu, ka-pi-ta-lis?” ralatku.

“Ah…, itulah. Sama saja, kan?” dengus Hyunseung.

Segerombolan anak laki-laki melintas, bersiul-siul rendah, dan saling bercanda. Pakaian mereka terlihat lusuh dan hanya memakai sandal jepit yang alasnya sudah tipis. Suara tersaruk-saruk langkah mereka terdengar samar-samar.

Ah, anak kampung bermain bola… aku mengedikkan kepala dan kembali meminum softdrink. Tepat saat itu—entah Tuhan sedang mempermainkan nasibku atau tidak—bola mataku terpaku pada sosok yang berjalan paling depan, asyik memutar bola dengan jari telunjuknya. Sosok itu berjalan dengan dagu terangkat, rambut lurus sebahunya tertiup angin. Permen karet yang dikunyahnya berkali-kali ditiupkan hingga membentuk balon kecil.

“Hei, aku baru tahu kalau sepakbola itu pake cheerleader,” tunjukku ke arah lapangan dengan menggunakan dagu. Tepatnya, ke sosok yang sibuk mengunyah permen karet tersebut. “Cantik juga,” kekehku.

Hyunseung memicingkan mata sebentar, lalu menyenggol bahuku sedikit kasar. “Cheerleader darimana? Dia itu kapten tim mereka!”

“Kapten…?!” Aku melongo kaget. Menatap kembali sosok itu.

Seorang gadis dengan mata bulat yang menghipnosis, dan senyum lebar yang membingkai gigi-gigi putih ratanya. Masa sih itu kapten sepakbola? Dia lebih mirip kembang sepatu desa dibanding orang yang memimpin gerombolan pemuda kampung bermain benda bundar hitam-putih itu.

“Namanya Kapten Ji, orang-orang memanggilnya begitu!” suara Hyunseung terdengar sedikit emosi. “Argh, dia itu wajahnya saja yang begitu. Sifatnya benar-benar deh, bikin emosi. Jangan pernah berpikir soal jenis kelamin jika bertengkar dengannya, Pirang! Dia bisa menggigitmu dan meninjumu tanpa pandang bulu.”

Aku menatap gadis itu lagi.

Kapten Ji, ya… ah, aku baru sadar kalau gadis itu memang terlihat seperti pimpinan di tim tersebut.

“Memangnya dia bisa bermain bola?” tanyaku lagi, sangsi.

Hyunseung tertawa getir. “Hahaha, bisalah. Permainan Kapten Ji itu lebih bagus dari laki-laki.”

Aku menoleh dan menatap Hyunseung. “Masa? Bahkan lebih baik dari aku?”

Hyunseung mengangguk sambil menggerutu. “Mungkin,” katanya pendek.

Aku melompat turun dari pagar, membuang kaleng softdrink yang telah kosong ke sembarang tempat. Aku bisa merasakan angin sore berhembus semakin kencang.

Gadis yang dijuluki “Kapten Ji” itu, terlihat berlari-lari dengan semangat di sepanjang lapangan. Mata bulatnya berbinar-binar cerah seperti matahari pagi yang tidak kunjung redup.

Ini pertama kalinya aku melihat gadis, cantik, dan sepakbola berada dalam satu kalimat yang menggambarkan sosok seseorang.

“Hei, Pirang… aku punya ide bagus!” celetuk Hyunseung tiba-tiba.

Aku berbalik dan menatap Hyunseung yang kini melompat turun sembari menepuk-nepuk celana kargonya yang kotor. Hyunseung menyeringai lebar. “Kau kan anggota tim sepakbola Seoul… jadi, bagaimana kalau kau membantu timku melawan tim Kapten Ji?”

Aku memicingkan mata. “Apa kau bilang?”

“Ayolah, Pirang… bantulah sepupumu ini untuk bisa bermain di lapangan itu. Bagaimana? Sekali saja, ya… kau lawan gadis itu, bagaimana?”

Kepalaku berputar seratus delapan puluh derajat ke belakang. Memandang lurus ke arah lapangan.

“Ayolah… bukankah sepupuku, Lee Hyuk Jae ini, sudah terbiasa bermain bola di Seoul? Mengalahkan gadis itu gampang sekali, bukan?”

Aku menelan ludah.

Saat itu, Tuhan sepertinya benar-benar tengah mempermainkanku.

Tuhan mempermainkan seorang Lee Hyuk Jae, untuk melawan gadis yang membuatnya terpesona untuk pertama kali.

pada akhirnya, memang tidak semua kisah cinta pertama berjalan dengan baik, bukan?

.

.

.

.

Oppa, kau pucat…”

Mia menempelkan tangan di dahiku, wajahnya berkedut cemas.

“Sungmin Oppa, kau seharusnya tidak membuat Eunhyuk Oppa bekerja saat sedang demam begini!” teriakan Mia membuat beberapa pengunjung menoleh ke arahku.

Aku langsung meringis. Mengangkat hati-hati tangan Mia dan menggenggamnya pelan. “Aku baik-baik saja,” bisikku parau.

Mia jelas tidak percaya dengan ucapanku. Dia menenggak margaritanya sekali teguk, lalu melenggang masuk ke ruangan kecil di sudut bar yang berfungsi sebagai kantor manajerial, tempat Sungmin berada. Bisa dipastikan perang dunia kesekian akan terjadi di dalam kantor beberapa saat lagi.

Aku tidak bisa menyusul Mia karena masih banyak pelanggan yang harus kulayani. Lagipula, tubuhku terlampau lemas sekedar untuk bergerak. Aku bahkan menyajikan minuman dengan duduk di kursi.

Dua kali terkena hujan salju jelas membuat stamina tubuhku drop pada titik terendah. Kemarin saat mengantar Ji Hyo kembali ke kantornya, aku kembali pingsan.

Sungmin harus mengantarku lagi ke rumah sakit, dia tidak memarahiku, melainkan hanya diam membisu. Hal itu justru membuatku tidak enak. Pembicaraan beberapa hari lalu dengan Sungmin masih menyisakan lubang besar di otakku.

 

“Karena dia Song Ji Hyo.”

“Apa maksudmu?”

Sungmin mengangkat wajahnya, memandangiku lekat-lekat. “Karena… dia… Song Ji Hyo…” Sungmin menaruh apel yang tengah dikupasnya di atas piring. Helaan napas panjang keluar dari bibir tipisnya. “Sudah saatnya aku mengatakan hal ini padamu. Aku pernah berkata padamu, kau sudah sepantasnya tidak bertingkah seperti lelaki yang amat memahami wanita. Aku tahu masa lalumu, Lee Hyuk Jae. Kamu selalu mengiyakan semua permintaan wanita, karena kau pernah membuat seorang wanita menangis…—kau membuat wanita yang kau sukai menangis.”

Aku menundukkan kepala. Sungmin selalu bisa mengetahui segalanya dengan baik. Bersahabat dengannya selama beberapa tahun, pemuda itu bahkan lebih mengerti diriku dibanding aku sendiri.

“Lalu apa hubungan semua ini dengan Jihyo? Kau sedang tidak merencanakan sesuatu antara aku dan Jihyo, bukan?”

Sungmin selalu membujukku untuk mulai memikirkan menetapkan hati pada satu orang gadis, bukan memberikan harapan menggantung pada banyak gadis. Sungmin menganggap aku tidak bisa menjadi host terus-menerus. Pada kesimpulannya, Sungmin ingin aku hidup normal seperti pria lain di usia 28 tahun. Menemukan gadis yang kusukai, berhenti menjadi host, membuat garis kehidupan yang baru…—menikah.

“Jihyo adalah gadis yang pantas untukmu, Eunhyuk. Kamu bisa mendekatinya mulai sekarang.”

“Kau gila!” semburku. Tidak menyangka kata-kata itu keluar dari bibir pria seperti Sungmin. Aku sudah mengenal Sungmin dengan baik dan dia mengerti benar keadaanku. “Jihyo itu kekasih Donghae, aku bekerja untuk menyatukan kembali keduanya.”

Sungmin menggeleng pelan. Tangannya merogoh kantung jaket dan mengeluarkan selembar foto dari dalam. “Kutebak, kau pasti belum melihat foto yang kudapatkan saat mencari profil Jihyo di situ…—foto Jihyo dan Donghae.”

Aku meraih foto di tangan Sungmin dan menatapnya dalam. Foto masa kecil Jihyo dan Donghae yang tergabung dalam kelompok musik.

“Kau pernah berkata padaku, Lee Hyuk Jae, kau selalu merasa bersalah karena pernah menyiram kotoran kuda pada gadis yang kau sukai saat masih kecil dulu. Kau pernah berkata padaku, Lee Hyuk Jae, jika kau diberi kesempatan mengulang waktu, kau ingin mengatakan pada gadis itu, jika kau sama sekali tidak berniat membuatnya terluka. Kau justru ingin mengatakan kau menyukai gadis itu sejak pertama kali bertemu dengannya.”

Tidak ada satu pun di dunia yang mampu membuatku menghadapi kejutan besar dalam foto itu. Tidak ada hal lain di dunia ini yang mampu membuat wajahku sekaget sekarang… ketika menyadari wajah kecil Jihyo adalah wajah gadis yang pernah hadir dalam masa laluku.

Ketika menyadari bahwa Song Ji Hyo adalah… Kapten Ji.

“I-ini… tidak mungkin…” jemariku meraba foto itu. Aku tidak pernah tahu jika Jihyo adalah orang yang pernah kusiram dengan kotoran kuda, orang yang pernah kubuat malu di depan umum, orang yang menangis karena kalah melawanku…

“Jihyo adalah Kapten Ji, Eunhyuk. Dia cinta pertamamu. Kau tidak perlu mengulang waktu untuk bertemu dengannya. Kau telah dipertemukan dalam keadaan seperti ini. Jadi, lakukan apa yang dari dulu ingin kau lakukan… kau harus menyatakan semua padanya—pada Kapten Ji-mu itu.”

“Sebenarnya kau bisa saja cuti, kan, Eunhyuk?” Ucapan Nara membuatku terjaga dari lamunan. Nara memandangiku dengan tatapan prihatin. Dia mendengar pembicaraanku dengan Mia tadi. “Aku tahu Sungmin tidak setega itu membiarkanmu tetap bekerja.”

Aku menarik-narik sudut bibirku, menciptakan  sebuah senyuman kecil yang gagal. “Memang, Sungmin sudah melarangku. Tapi sepertinya aku sadar, aku punya sifat keras kepala.”

“Kau ini benar-benar mencemaskan.” Nara menyentuh punggung tanganku. “Kau membuat para pelanggan wanitamu khawatir… termasuk aku.”

Aku tersenyum lagi. “Maaf membuatmu khawatir.”

Nara merapikan rambutnya dan beranjak ke kantor Sungmin. Berpapasan dengan Mia yang baru keluar dari kantor Sungmin dengan raut bersungut-sungut.

Gadis itu duduk di depanku sambil berkacak pinggang. “Ternyata kau yang keras kepala, Oppa. Bukan Sungmin Oppa.”

Sepertinya Mia sudah mendengar alasan Sungmin dan tahu apa yang terjadi. Dan sepertinya tidak ada perang dunia di dalam tadi, syukurlah.

Aku tertawa kecil. Tawaku terdengar lemah sekali. Aku menepuk kepala Mia dan kembali melanjutkan mencampur minuman-minuman.

Pikiranku masih berkutat pada obrolanku dan Sungmin tempo hari. Juga pada kejadian saat aku menemui Jihyo di stasiun. Aku belum mengatakan pada Jihyo siapa diriku sebenarnya. Aku juga belum mengatakan apa yang terjadi dengan Donghae. Entahlah, akhir-akhirnya ini semua terasa semakin rumit.

Pintu pub terbuka. Enam orang pemuda berjalan masuk dan langsung duduk di samping Mia. Beberapa pengunjung melirik kea rah mereka sambil berbisik-bisik. Tapi tampaknya keenam pemuda itu tidak peduli dengan tatapan semua orang. Salah satu diantara mereka memesan wine padaku.

“Samakan saja semuanya,” kata pemuda itu.

Aku mengangguk mengerti, dan mulai kembali bekerja.

“Maaf, bukannya kau Minwoo Shinhwa?” tanya Mia hati-hati pada pemuda di sampingnya.

Aku menoleh dan mengernyit.

“Ah, ya. Aku Minwoo.” Pemuda bernama Minwoo itu tersenyum.

“Oppa, mereka Shinhwa!” teriak Mia histeris, menarik-narik lengan kemejaku hingga aku nyaris terhuyung jatuh.

“Ah… iya…” aku meringis. Aduh, Shinhwa… siapa sih? Aku tidak terlalu tahu. (-_-)

Mia sepertinya tahu aku tidak mengenal Shinhwa. Gadis itu langsung berdecak sebal sambil mengerucutkan bibir. “Oppa, mereka itu terkenal loh… lebih terkenal dari Super Junior!” tekan Mia. “Maknaenya Shinhwa lebih tampan dibanding maknae Super Junior!” tambahnya lagi.

Mau tidak mau aku menyeringai menahan tawa. Aku tahu maksud Mia jika sudah menyangkut “maknae”.

Mia dan Kyuhyun sekarang adalah musuh bebuyutan yang kalau pun reinkarnasi berlaku, mereka pasti akan tetap jadi musuh di masa depan. Beruntung Kyuhyun sedang sibuk-sibuknya dengan jadwal Super Junior sehingga tidak bisa berkunjung ke pub. Beruntung sekali… karena asal tahu saja,jika ada mereka, pub terasa seperti arena tinju. Mia dan Kyuhyun selalu beradu mulut, bahkan sambil sikut-sikutan seperti saudara tiri yang kurang kasih sayang. Jika saja netizen tahu kelakuan berlebihan maknae Super Junior itu, dunia internet bisa heboh dan ELF bisa malu. Oh, aku yang bukan ELF saja malu melihat tingkah Kyuhyun (-_-)

Pemuda bernama Minwoo itu tampak mengobrol serius dengan pemuda di sampingnya. Dari Mia aku tahu jika pemuda itu bernama Eric. Eric sendiri sesekali menjawab telepon yang terus di pegangnya.

“Kurasa Sungkyungkwan adalah universitas yang bagus,” kata Minwoo. “Keponakanmu masuk ke sana saja.”

“Tapi dia bilang dia tidak ingin ke Korea. Dia bilang dia tidak ingin satu negara denganku.” Eric memajukan bibirnya dan terlihat merajuk. “Aku akan membujuknya, setidaknya kalau ada Moon Chae Won di Korea, aku bisa menitipkan anjingku padanya jika ada tour.”

Minuman pesanan Minwoo dan kelima pemuda lainnya kutaruh di atas meja. Mereka masih terlibat pembicaraan serius, sampai akhirnya Minwoo menyadari kehadiranku dan bertanya.

“Hei, apa menurutmu Sungkyungkwan itu sekolah yang bagus?” tanyanya.

“Ya,” jawabku sambil menganggukkan kepala. “Jika ingin bertanya soal Sungkyungkwan, kau bisa tanyakan pada gadis di sampingmu. Dia kuliah di sana.”

Minwoo dan Eric menoleh kepada Mia dan terlihat kaget. “Kau kuliah di Sungkyungkwan?”

Minwoo dan Eric menunjukkan tampang ‘masa-sih-gadis-berambut-merah-dan-main-ke-pub-ini-adalah-mahasiswa-sungkyungkwan?’. Mia terlihat menyeringai lebar, wajahnya terlihat innocent walau aku tahu itu cuma aktingnya belaka jika sudah tertangkap basah melakukan perbuatan buruk.

“Yah, Sungkyungkwan bagus… ah, jangan melihat aku sebagai role student-nya. Aku bukan mahasiswi yang baik, tapi aku bisa menjamin Sungkyungkwan amat bagus.”

“Yah, kau memang tidak bisa dilihat sebagai role student.” Eric mengangguk-angguk menyetujui.

Mia menyeringai, semakin merasa bersalah. Dia buru-buru mengalihkan pembicaraan ke arah lain. “Ah, memang siapa yang mau masuk kesana?”

“Keponakanku. Moon Chae Won. Dia baru SMA, mungkin dua tahun atau tiga tahun lagi dia ke Korea,” jawab Eric.

“Dia orang luar negeri? USA?” tanya Mia.

Eric menggeleng. “Orang Jepang. Namanya Naomi Nishikado. Moon Chae Won itu nama Koreanya.”

“Eric punya banyak keluarga yang tersebar di seluruh penjuru dunia,” cengir Minwoo menambahkan. “Kurasa dia juga punya satu, di Afrika.”

Eric sontak memukul Minwoo, wajahnya memberengut sebal. Sepertinya kata “Afrika” amat sensitif di telinga Eric. Kapan-kapan kutanyakan hal itu pada Mia, mungkin saja gadis itu tahu.

Selanjutnya aku tidak terlalu mendengar percakapan Mia dan pemuda-pemuda itu karena seorang host lain melambaikan tangan dari depan pintu, memanggilku untuk keluar. Sebenarnya tubuhku masih lemah, tapi nampaknya keperluan yang ingin dibicarakan host itu benar-benar penting.

“Ada yang ingin bertemu denganmu,” katanya setengah berbisik. “Laki-laki. Namanya Choi Siwon.”

-Lee Hyuk Jae POV end-

.

.

.

.

-Song Ji Hyo POV-

Noona, kau yakin ingin menginap di kantor?”

Gwangsoo menatapku dengan sorot tidak percaya. Tangannya menarik ujung kemejaku seolah mengisyaratkan agar aku pulang ke rumah ketimbang menginap di kantor seorang diri.

“Tidak masalah Gwangsoo, aku sedang tidak ingin tidur di Anyang.” Aku melepas tangannya dan menyunggingkan sebaris senyum. “Lagipula kantor ini cukup nyaman.”

“Tapi di sini ada hantu, Noona!” seru Gwangsoo cemas. Wajahnya berubah sedikit horor. “Kata orang-orang, disini suka ada yang jalan malam-malam… kalau kau ditakut-takuti bagaimana?”

“Eiii, mana mungkin ada hantu.” Aku mengibaskan tanganku ke depan wajah Gwangsoo. Aku mengangkat beberapa berkas yang tergeletak di kursi, memindahkannya di atas brankas besi. Gwangsoo terus mengekori gerak-gerikku dari belakang. Terus membujukku agar tidak menginap di kantor. Tapi pada akhirnya, pemuda itu pun angkat tangan.

“Tapi jika ada apa-apa, kau harus menghubungiku, Noona. Janji, ya?”

Aku mengangguk cepat. “Janji.”

Gwangsoo berbalik hendak pergi, tapi kemudian pemuda itu kembali menoleh dengan cemas. Ia pun berkata, “Noona, apapun masalah yang terjadi di Anyang… jangan pernah ada niat untuk bunuh diri, ya?”

Aku tertegun beberapa saat, sebelum akhirnya mengangguk setengah geli. Astaga, apa Gwangsoo menyadari aku sedang ada masalah besar dan mengira aku amat frustasi sampai ingin mengakhiri hidup?  Pemuda yang biasanya membuatku kesal setengah mati itu kini menjadi super duper baik nan perhatian. Diam-diam aku merasa terharu.

“Iya, Gwangsoo. Terimakasih, ya.”

Gwangsoo berjalan keluar sambil mematikan satu demi satu lampu di ruangan sebelah. Ruangan mendadak menjadi lebih gelap dari beberapa menit sebelumnya. Gwangsoo menyisakan beberapa lampu tetap dinyalakan, sehingga ada sedikit cahaya yang masuk sampai ke ruanganku. Gwangsoo berjalan keluar pintu dan menutupnya hingga terdengar bunyi mengekeret yang panjang. Lalu, sunyi.

Ponselku berkedap-kedip. Telepon dari makhluk ber-DNA drama addicted, Song Joongki. Aku sama sekali tidak berminat mengangkatnya. Mungkin Joongki ingin menanyakan keberadaanku yang mendadak menghilang saat makan malam tiba. Tapi aku tidak sanggup jika harus menjawab teleponnya dan menceritakan apa yang terjadi. Aku tidak sanggup membiarkan keluargaku tahu apa yang menimpaku.

Aku terduduk di lantai ruangan yang dingin. Udara dingin seoul membuat tubuhku mengigil. Ada cermin besar di dekat pintu, aku menoleh dan mengamati bayangan yang terpantul disana.

Gadis dengan rambut berantakan. Make-up luntur. Mata membengkak. Dan wajah pucat.

Aku ingin bertanya siapa gadis dalam cermin itu, tapi menyadari jika gadis itu adalah diriku sendiri.

“Song Jihyo bodoh, apa yang kau lakukan dengan wajah cantikmu ini?” bisikku lirih, sembari meraba pipiku hati-hati. Ada kedinginan yang menjalar melalui ujung-ujung kukuku. Kali ini bukan karena udara dingin Seoul. Entahlah, mungkin lebih karena perasaanku telah membeku seperti bebatuan es.

Di atas meja, berderet foto Donghae dan diriku. Dari kami SD, SMP, SMA hingga kuliah. Foto saat Donghae baru saja keterima kerja, dan saat Donghae menyiapkan seratus balon untuk merayakan dua tahun hubungan kami. Ada banyak kenangan Donghae di ruangan ini… —dan lebih banyak lagi kenangan Donghae di hatiku.

“Kita adalah pasangan paling sempurna se-Anyang, Lee Donghae! Donghwa Oppa mengatakannya begitu padaku. Apa menurutmu Donghwa Oppa berbohong?”

Aku ingat ketika Donghae sibuk meniup balon berwarna biru muda satu-persatu dengan mulutnya. Kuingatkan berkali-kali agar pemuda itu menggunakan pompa ban, tapi dia tetap keras kepala meniup sendiri seratus balon di tangannya.

“Hmm… coba kutebak,” Donghae menghentikan tiupannya, menatapku dengan senyum lembut. Lalu tanpa peringatan terlebih dahulu, sebuah kecupan singkat mendarat di bibirku. “Menurutmu?” seringainya.

“Donghae! Aku menyuruhmu menjawab pertanyaanku, bukan menciumku!” aku memukul-mukul bahu Donghae. Wajahku memerah, semerah-merahnya.

Donghae malah tertawa lebar, dan menciumku lagi.

Kali ini lebih lama, lebih lembut. Bibir Donghae seperti permen strawberry yang manis.

“Jika saja aku bisa mengulang waktu, Lee Dong Hae… jika saja aku bisa mengulangnya…” aku membiarkan mataku menyusuri bingkai-bingkai foto di atas meja. Menikmati sesak yang menjalari dada secara perlahan. “…aku akan mencari seribu cara untuk tidak bertemu denganmu.”

-Song Ji Hyo POV end-

.

.

.

.

-Lee Hyuk Jae POV-

Siwon berdiri di dekat tiang halaman pub. Bahu tegapnya menyandar di tiang, sementara kedua tangannya di masukkan ke kantung celana. Siwon menyadari kehadiranku, dan membuat posisi berdirinya berubah lebih tegap. Pemuda itu tersenyum tipis dan mengangkat satu tangannya.

“Hei, Eunhyuk-ssi,” sapanya.

Aku merapatkan jaket tebal yang menyelimuti tubuhku. “Kau kenapa kesini?” tanyaku heran.

“Ingin melihat tempatmu bekerja.”

“Oh.”

Hening beberapa saat. Siwon memilih menatap tanah bersalju tanpa bersuara.

“…hanya itu saja?” tanyaku memecah kebisuan.

Siwon menengadah, menatapku sebentar, lalu menggeleng. “Ada yang ingin kutanyakan padamu.”

“Tentang Song Chae Rin?”

“Bukan.” Siwon menyepak tumpukan salju yang ada di sekitar sepatunya. “Aku datang ke sini dengan peran utama sebagai dokter yang ingin melindungi informasi pasiennya, bukan sebagai calon tunangan Song Chae Rin.”

Aku menahan napas.

“Kau mengenal Lee Dong Hae?”

“Tidak…—iya.”

Siwon mengernyit mendengar jawaban ambiguku. “Tidak atau iya?” tanyanya memastikan.

“Donghae tidak mengenalku, tapi aku mengenalnya,” kataku.

Siwon mengangguk kecil. “Kau bisa… rahasiakan soal penyakit Donghae? Kau tahu profesi Donghae, kan… dia news anchor terkenal. Orang-orang bisa heboh mendengar berita soalnya. Terlebih jika berita itu sampai ke kekasihnya—“

“Maksudmu, Song Jihyo?”

“Kau kenal Song Jihyo?”

Aku mengedikkan bahu. “Dia sering kesini.”

“Jangan ceritakan padanya,” sahut Siwon cepat. “Juga, jangan ceritakan pada siapapun soal Donghae.”

Siwon berjalan mendekat. Wajahnya terlihat tegang sekali. Berkali-kali pemuda itu menghela napas lalu membuangnya susah payah. “Ini rahasia pasien…”

“Tapi seseorang harus tahu rahasia ini,” selorohku.

Siwon menggeleng pelan. “Maksudmu, seseorang itu… Song Jihyo?”

Aku mengangguk pasti.

“Kau…” Siwon kehilangan kata-kata selama beberapa saat. Dia memijat-mijat keningnya sebentar. “Mungkin Jihyo adalah pelanggan pub ini, mungkin kau memang mengenalnya. Tapi kau tidak mengerti apa yang terjadi antara Ji Hyo dan Donghae. Mereka saling mencintai, dan Donghae sama sekali tidak ingin mengecewakan Jihyo.”

“Dengan mengatakan dirinya gay, apakah itu tidak mengecewakan Jihyo? Juga, mengatakan bahwa ingin pergi ke New Zealand… tidakkah itu telah menghancurkan hatinya lebih dari cukup?” aku menggertakkan gigiku. “Kau dan Donghae lah yang tidak mengerti Song Jihyo sama sekali, Pak Dokter.”

Siwon menatapku dengan sorot yang sulit diartikan. “Kau hanya host, Eunhyuk-ssi.” Siwon terlihat berusaha berhati-hati dalam memilih kalimat. “Aku tidak tahu darimana kau tahu soal New Zealand, tapi nampaknya Jihyo sering bercerita padamu. Walau bagaimana pun, kau tidak punya hak untuk menceritakan perihal ini, Eunhyuk-ssi.”

“Kenapa tidak?” emosiku sedikit terpancing. “Kenapa tidak?!” ulangku, dengan nada tinggi.

Pandangan Siwon menerawang. “Donghae pergi ke New Zealand… itu artinya, Donghae akan mulai dirawat intensif di rumah sakit karena metabolismenya semakin menurun. Donghae bukan pergi ke New Zealand, Eunhyuk-ssi… tapi Donghae akan pergi ke rumah sakit… dan mungkin waktunya sudah tidak lama.”

Jantungku terasa berhentik berdetak.

Siwon kembali melanjutkan, “kau bisa tidak, membiarkan Jihyo tidak melihat keadaan mengenaskan pemuda yang amat dicintainya?”

.

.

Kalau aku bilang aku baik-baik saja, aku telah melakukan kebohongan besar dalam hidupku. Kalau aku bilang aku sanggup untuk berdiri dan berjalan di tengah salju, itu berarti otakku sudah terbentur pagar beton dengan keras. Tapi pada kenyataannya, aku justru menghabiskan waktu berjam-jam di luar pub, duduk di atas bangku kayu pinggir jalan.

Sungmin berlari keluar pub setelah mendapat berita bahwa seseorang mencariku di luar dan aku nekat berjalan menembus dinginnya udara salju. Sungmin menenteng coat tebal dan syal beludru di tangannya. Pemuda itu mendesah lega ketika melihatku mengenakan jaket. Dia berpikir aku akan bertingkah konyol dengan melenggang keluar pub hanya mengenakan kemeja putih tipis.

Tanpa berkata-kata, Sungmin melilitkan syal yang dipegangnya ke leherku. Lalu duduk di sampingku. Sama-sama menatap jalanan padat Seoul.

Who’s him?” tanya Sungmin dengan  suara rendah.

Someone.”

Someone… who?

“Choi Siwon.”

“Choi Siwon yang itu?” Sungmin menoleh kepadaku dengan alis berkerut-kerut bingung.

Aku mengangguk. Ada jeda selama beberapa menit yang menjadi kebisuan diantara kami berdua. Sungmin tampaknya tengah memutar otaknya, berpikir apa yang tengah terjadi. Aku belum menceritakan soal pertemuanku dengan Siwon di acara pertunangan Chaerin tempo hari. Aku berani bertaruh jika kuceritakan, tampang Sungmin akan berubah menjadi labu saking kagetnya.

Sungmin sepertinya ingin mengatakan sesuatu, tapi aku segera menepuk bahunya dan berkata, “aku baik-baik saja. Aku akan membereskan masalah ini, kau tenang saja.”

Sungmin terdiam memandangku. “Maksudmu?”

Aku tersenyum tipis. “Kedatangan Siwon membuatku sadar aku tidak bisa keras kepala.Tapi aku tidak akan mengikuti saran yang Siwon berikan padaku. Jihyo harus tahu soal penyakit Donghae.”

“Donghae punya penyakit?” Sungmin justru terlonjak mendengar penuturanku barusan.

Aku mengangguk. “Aku belum bisa menjelaskannya dengan detail, Hyung… tapi aku menegaskan satu hal padamu,” aku menarik napas panjang. “…cinta pertama itu penting.”

“Ya…” Sungmin memiringkan kepala. Dia tetap mengangguk meski ekspresi wajahnya menyiratkan kebingungan.

“Cinta pertama mungkin bukan jadi cinta terakhir, tapi cinta pertama adalah momen yang mengubah sedikit banyak kehidupan kita selanjutnya.”

“Ya, tentu saja begitu.”

Aku tersenyum tipis. Menengadah menatap butiran salju yang turun dari langit. Langit Seoul terlihat berwarna-warni terkena bias lampu gedung yang berkedap-kedip penuh semangat. Suara decitan motor dan klakson mobil terdengar semakin kencang menandakan hari telah beranjak semakin malam.

“Aku… kurasa, Jihyo tidak perlu tahu siapa aku sebenarnya. Dia mungkin cinta pertamaku, tapi dia punya cinta pertamanya sendiri. Orang yang teramat disayanginya. Aku… tidak punya hak sama sekali untuk menyatakan perasaanku padanya.”

-Lee Hyuk Jae POV end-

.

.

.

.

-Song Ji Hyo POV-

Aku terbangun ketika ringtone ponsel berdering-dering nyaring, awalnya ingin kubiarkan saja karena kukira itu telepon dari Joongki. Tapi ternyata nama yang tertera di layar justru Lee Hyuk Jae. Aku menggeram pelan dan mengangkat telepon itu dengan mata setengah terpejam.

“Eoh?”

Good morning, Miss… are you okay?”

“Hm…” aku mengusap mataku. Sedikit begidik mendengar nada suara Eunhyuk yang tidak biasa. “Kenapa kau mendadak berbahasa inggris, Eunhyuk? Membuatku merinding.”

Tawa Eunhyuk terdengar berderai di seberang sana. “Hari ini aku ingin mengajakmu ke suatu tempat agar kau merasa lebih tenang.”

“Oh ya? Kemana?” aku menggeliatkan tubuhku, mengubah posisi tidur menjadi duduk. Kantor masih sepi. Belum ada satu pun karyawan yang datang.

“Kalau aku ceritakan, tidak akan seru.”

Aku mencibir mendengar ucapan Eunhyuk. “Kau akan memberiku kejutan?”

“Semacam itulah…”

Aku mengangguk-angguk kecil.

“Bagaimana tidurmu? Apakah nyenyak? Aku sudah menyarankan kau tidur di hotel, tapi kau tidak mau.”

“Uangku habis untuk tidur di hotel. Kau ingat terakhir kali kita, eh, maksudku… aku, ke hotel? Aku membuat lampu tidur seharga berjuta-juta won pecah dan harus menggantinya. Aku tidak ingin mengulang pengalaman yang sama.”

Eunhyuk tertawa lagi. “Baiklah kalau begitu. Satu jam lagi aku menjemputmu, bagaimana?”

“Baiklah.”

“Kau ingin kubawakan apa? Makanan?”

“Ya. Makanan… apa saja.”

“Baiklah…” Eunhyuk terdiam sesaat. Kukira pemuda itu akan memutus sambungan telepon, tapi kemudian aku justru mendengar suaranya berkata dengan sangat lembut, “aku akan tiba secepatnya…—jadi jangan menangis dulu…”

Jika saja Eunhyuk tahu, ucapannya yang penuh perhatian barusan justru membuatku ingin menangis. Aku tahu Eunhyuk hanya melakukan pekerjaannya sebagai host. Namun selama ini, Eunhyuk selalu berada di barisan pertama untuk menolongku dalam keadaan apapun. Tidak mempedulikan tingkahku yang mungkin menyebalkan dan mengganggunya, pemuda itu tetap tersenyum dan mengulurkan tangan padaku.

Aku tidak ingin membiarkan pikiranku semakin terbebani. Aku memutuskan berjalan keluar kantor, menghirup udara segar di pagi hari. Belum banyak orang yang berlalu lalang di sepanjang jalan. Tapi langkahku terhenti ketika melihat segerombolan bocah masuk ke dalam gedung kecil yang menyempil diantara kantor pos dan gedung administrasi. Selama bertahun-tahun melintas di jalan ini,  aku baru menyadari gedung itu adalah lapangan futsal indoor.

Lebih banyak orang yang memilih bermain di lapangan indoor jika musim salju sudah tiba. Dari luar, keadaan lapangan terlihat mulai ramai.

Aku tersenyum kecil.

Kurasa jika bermain bola sebentar, tidak masalah kan?

-Song Ji Hyo POV end-

.

.

.

.

-Lee Hyuk Jae POV-

Kupikir aku bisa bersikap seperti biasa.

Aku baru saja menyendokkan nasi goreng ke dalam kotak Tupperware dan memasukkannya ke ransel. Ponselku tiba-tiba berbunyi. Telepon dari Chaerin. Gadis itu mengatakan ingin mengundangku ke rumahnya besok, dan aku mengiyakan seperti biasa. Yang tidak biasa adalah, ketika aku menutup ponsel, Sungmin sudah menghadiahiku dengan tatapan tajam. Dia membawa loyang berisi brownies panas, dan bahkan tatapan matanya terasa lebih panas dibanding loyang tersebut.

Aku hanya mengatakan “waeyo?” sepintas, berusaha mengalihkan pandangan dari Sungmin.

Sungmin terlihat tidak senang dengan kepergianku pagi ini. Kondisiku belum pulih dan belakangan aku menjadi sedikit sensitif dengan salju. Tetapi walau raut mukanya terlihat kesal, pemuda itu tidak melontarkan satu kalimat protes pun.

Semenjak pembicaraan kami semalam, Sungmin memandangiku seolah aku makhluk asing dari negeri timur yang tidak mengerti masalah pertempuran Korea  Selatan dan Korea Utara. Tidak, sebenarnya kenyataannya tidak selebai itu, tapi Sungmin bersikeras tingkahku sudah menyerupai alien akhir-akhir ini.

“Jika kau bilang kau tidak ingin memiliki orang yang kau cintai, kau pasti bukan manusia…—kau mungkin alien dari planet Paddle Pop,” cecar Sungmin dengan sinisnya.

Sungmin antipati sekali dengan keputusanku yang akan merahasiakan pada Jihyo siapa seorang Lee Hyuk Jae sebenarnya, dan juga sepotong masa lalu yang belum diketahuinya sejak saat ini.

Tapi bagaimana pun keputusanku ini sudah bulat.

Aku melangkah meninggalkan flat dan memanggil salah satu taksi yang berseliweran. Setengah berharap bahwa Jihyo akan menyukai nasi goreng yang kubuat dengan terburu-buru—aku baru menyadari kemungkinan gadis itu tidak makan sejak semalam.

Kantor Jihyo masih sepi. Seorang karyawan bernama Gary menyambutku dengan raut curiga yang berlebihan saat kutanya apakah ada Jihyo di dalam. Gary sepertinya tidak tahu perihal Jihyo yang menginap di kantor. Kuputuskan untuk menghubungi Jihyo, memastikan keberadaan gadis itu.

“Kakiku terkilir…”

Suara Jihyo di seberang sana membuatku melongo seketika.

“Terkilir? Bagaimana bisa? Kau dimana?” tanyaku berentetan. Aku mulai panik.

Aku segera berlari menyusul Jihyo di tempat yang telah disebutkan. Sedikit berjengit menyadari bahwa gedung tempat Jihyo berada adalah gedung futsal.

Jihyo terduduk di salah satu bangku kosong. Mata bulatnya sembab seperti habis menangis. Kepalanya tertunduk ke bawah. Ketika kutanya, dia mengaku baru saja bermain futsal dengan beberapa bocah.

“Tapi aku lupa kalau aku masih memakai sepatu heels, kaki terkilir…” mata bulat Jihyo kembali berkaca-kaca. Bibirnya bergetar. “…aku… aku…”

Aku mendesah panjang. Berjongkok di depan Jihyo dan mengecek keadaan kakinya. Bengkak sekali. Aku jamin Jihyo tidak bisa berjalan dengan kondisi seperti ini. “Kan sudah kubilang… kau jangan menangis lagi…”

Aku melepas ranselku dan menyuruh Jihyo yang mengenakannya. Awalnya gadis itu terlihat ragu, tapi pada akhirnya ransel itu menggantung sempurna di punggungnya.

Aku berbalik, masih terus berjongkok. Perlahan melepas sepatu uggboat di kaki Jihyo. Heelsnya cukup tinggi, sekitar tujuh sentimeter. Sepasang sepatu itu kumasukkan ke dalam ransel. “Sini, biar kugendong saja kau.”

Jihyo memelototkan matanya. “Hah? Ta-tapi…”

“Aku akan mengajakmu ke tempat yang jauh…” aku menepuk-nepuk punggungku dengan satu tangan. “Memapahmu sampai ke tempat tujuan lebih melelahkan dibanding menggendongmu.”

“Tapi, Eunhyuk-ssi…”

“Aku tidak menerima kata ‘tapi’,” tandasku cepat.

Jihyo akhirnya menyerah. Dia naik ke punggungku sembari terus bertanya apakah aku tidak kenapa-kenapa menggendongnya seperti ini.

“Aku berat, kau tahu—”

“Kau ringan,” potongku sambil berdiri tegak. “Lihat, kau ringan sekali.”

Jihyo terdiam. Gadis itu lalu mengalungkan tangannya di sekitar leherku. “Kau dulu berkata, badanku berat…”

“Oh, ya? Aku tidak ingat,” cengirku.

Jihyo terkekeh pelan. “Kau tahu, saat aku melihat banyak bocah kecil bermain bola… aku rindu masa kecilku. Dulu, aku kapten bola di desaku. Aku bisa mencetak gol sebanyak-banyaknya. Tapi sekarang usiaku sudah bertambah, ah… aku tidak lagi lihai bermain bola.”

Aku tersenyum datar menanggapi cerita Jihyo.

“Apa kau bisa bermain bola, Eunhyuk-ssi?” tanya Jihyo lagi.

Aku tertegun, lalu menggelengkan kepala. “Tidak terlalu bisa.” aku tahu aku tengah berdusta. Aku tidak tahu mengapa aku harus berdusta. Tapi kalimat sanggahan itu meluncur begitu saja dari mulutku tanpa bisa dicegah.

“Aku akan mengajarkanmu kapan-kapan… tidak sekarang, kakiku sedang terkilir.” Rambut Jihyo menyentuh leherku. Jihyo menempelkan kepalanya di punggungku. “Kau tahu, aku bertemu dengan Donghae… karena sepakbola, jadi bagaimanapun juga, sepakbola menjadi kenangan tersendiri untukku.”

Aku berjalan semakin jauh. Beberapa kepala melihat ke arahku dan Jihyo. Berpikir apakah kami sedang melakukan syuting film atau bukan.

“Kau…, apa kau pernah jatuh cinta, Eunhyuk-ssi? Bagaimana kisah cinta pertamamu?”

“Cinta pertamaku?” aku memiringkan kepala. “…tidak berakhir bahagia sepertimu. Gadis itu bahkan tidak tahu aku menyukainya.”

“Benarkah? Kau tidak menyatakan perasaanmu?”

“Tidak bisa. Aku melakukan kesalahan besar padanya.”

“Kesalahan?”

“Aku…” aku menyiramnya dengan kotoran kuda, aku ingin mengatakan hal itu pada Jihyo. Tapi mulutku seolah terkunci. Bagaimanapun aku sudah berjanji tidak akan mengatakan hal ini. Jadi aku memilih diam saja.

Tak lama kemudian aku tiba di depan gedung yang dituju. Jihyo menatapku bingung melihatku yang tiba-tiba berhenti dan menurunkannya dari punggung. Gadis itu merapikan rambutnya yang berantakan terkena angin.

“Kita sebenarnya mau kesini?” tanyanya tidak yakin.

Tapi aku mengangguk pasti. Melirik sekilas gedung di depanku. Susah payah menelan ludah. Ada sebersit rasa sakit yang tertoreh di dadaku, tapi berusaha kuabaikan. “Ya, ke New Zealand,” kataku serak.

“New Zealand?” kedua alis Jihyo bertaut. “Lee Hyuk Jae-ssi, ini bukan New Zealand…—ini kan St.Mary’s Hospital…?”

.

.

.

.

To be continued

96 thoughts on “Why, Why, Why?! (Part 5)

  1. Kisah cinta yg rumit..
    Bhkan smua’nya d awaLi saat msih kciL., sngguh takdir yg ir0nis skaLi🙂

    Sbner’nya Qu mnanti Happy Ending., apkah bs ??
    Tp Qu bhkan takut Liat chap. ending’nya !!
    Haha…

  2. Jadi si Eunhyuk itu anak berdarah campuran? Iya? Beneran? Pirangnya asli? Ga cat-cat an?
    Ohmaigad…
    Ji Hyo cinta pertamanya Eunhyuk? Iya kali smua orang kalo disiram kotoran kuda bakalan bengep
    Hhh… Eunhyuk ternyata baek ya… Mo ngalah sama Donghae

    • Iya asli
      Ehem ceritanya looohhh
      Dia asli manhattan
      Orang tuanya cere saty tgl di manhattan satu d seoul
      Makanya hyuk bisa bolak balik
      Kayknya aq mmg ga jelasin latar eunhyuk di sini
      Tapi di dont trust the liar ya tapi anggap aja sama walau cerita ini dan ntuh ga bisa disama2in xD

  3. ternyata bocah dengan rambut pirang yang kaya orang2an sawah itu enyuk toh..
    dan ternyata cinta pertama enyuk itu jihyo,,
    ckckck,,, ini kaya istilah dunia selebar daon kelor,,,

  4. TU KAN…. Tuuuuu kaaaaannnnn~~~
    Mesti ada benang merah antara Jihyo sama hyukjae deeeh…. #Cemburu
    Ini apa segala dilempar kotoran” segala~ xD
    Trus ceritanya si hyukjae jadi anak blasteran disini??? Buakakakaka~ Itu lucu beneran Soph….
    Okesip, kita tungguin nextnya~ Semangat sophieeeee…. >.<

  5. hello !! aku baru main kesini. aku suka bngt ff yg ini muehehe itu hae sbnernya gak gay kan, ah kasian juga hae nya punya penyakit. kenpa gak jujur aja. aku juga jadi galau ~ hyuk suka ama jihyo … mungkin kah nanti jihyo sama hyuk hehe hyuk baik bngt soalnya. ditunggu next part ya🙂

  6. ASLIII!!!spechless bgt bacany,,
    ohw,,jd tnyata eunhyuk itu udh suka ma jihyo dr kecil,,so sweet >< cm dia ngalah krn jihyo lbh suka ma donghae n dia ngebiarin mrk brsama,,oh oppa km gentleman skali.
    sophie unnie,cptn bikin kputusan jihyo ma siapa?donghae ato eunhyuk?
    makin pnasaran n complicated nih,,

  7. donghaehaehaehaeuncleee T____T

    hyuknya gimanaa T___T hyuk uncle kelwat baiiiiiik T_____T

    lanjutin cepetaaaan jangan berbulan bulan keburu lupaaaaa T____________T

    eunchovy uncleeeeeeee 퓨ㅅ퓨
    우아ㅏㅏㅏㅏㅏ

  8. kasihan donghae oppa
    dibikin sembuh dong thor
    apa kamu mau jodohin hyuk sama jihyo yah
    tp, hyuk juga so sweet banget sama jihyo
    jadi binggung mw dukung sapa
    ditunggu next partnya yah thor..

    • hmmm dibikin sembuh ga ya? kasih tahu nggak yaa?
      hayoloh
      kok pada bingung maunya ji sama hae atau eunhyuk? aku kan jadinya ikut bingung juga *nah loh*
      tunggu next part aja yaa

  9. aaaa telat baca yg part 5ini😦 mana hae kuuuuu ngga nongol2😦 tapi sedih bgt kalo jadi eunhyuk huhuhu bener-bener cinta pertma emang gabisa dilupain karna itu kenangan tersendiri pengantar ke cinta terakhir #abaikan hehehe sumpah kapten ji harus bener2 siap mental bener2 harus kuat jiwa raga buat tau apa yg bakal terjadi sama hubungan dia dan my fishy hohoho

  10. aaaaaaakkkkkkkkk baru baca part 5,.. #telat
    aduh sophie kenapa eunhyuk keren bnget di part ini,..
    why-why-why kok jd judulnya,..
    hahahaha,..

    ooo, ternyata song jihyo first love eunhyuk,.. —> OMG /lebay/
    n’ pada waktu i2 bukanny menyataain cinta malah bikin jihyo nangis,..
    ngelempar kotoran kusa,.. #tegabngetsih
    eunhyuk pabo!!!!
    donghae kgk ke new zealand beneran, donge sebenarnya melakukan perawatan ke rumah sakit,.. T_T
    aduh, dongenya jgn die dong kasian jihyo,..
    tapi kl jihyo bersatu lgi am hae, kasian eunhyuk dong,..
    walaupun tanpa sadar, eunhyuk udah punya rasa am jihyo n’ skrng eunhyuk kl jihyo gadis masa kecil,..
    Ya udah kl gitu hae aj yg mati deh,.. #tega /digamaparrame2/
    eh, ad shinwa ikutan nongol 2h,.. pasti nanti ad hubunganny,..
    trs Moon Chae Woon ikutan jg,.. ><
    rela berkorban demi melihat orang yang dicintai bahagia,.. :")

    Pkkny ditgg lanjutanny sop,.
    Fighthing,..😀
    ehm, tema baru ya nih,..

    • hahhaa ada banyak cerita kok waktu mereka umur 5 tahun itu
      dan belum aku ceritain semua
      nanti yaaa kekeke
      eunhyuk keren kan
      cieee suami siapa dulu donggg hahahahaha

      galau deh galau mau jihyo sama siapa ,
      kita liat next part aja yaaa
      iyaa tema baru, dan ini baru ganti tema lagi xD

  11. ya ampuun laki gue bisa juga romantis yah,,, waaaahhh laki gue hatinya baek banget yaaahh padahal dia juga suka ama kapten Jinya,, mumumuu makin lophe gue ama lu bang,,, next soph ^^

  12. eunhyuk kenapa so sweet gitu sih? -_- gapapa deh daripada yadong mulu yah wakakakak
    jihyo kasiaan ._. ayo ayo jihyo harus cepet-cepet tau kalo donghae bukan gay! duuh, orang seganteng donghae kok gay sih ._.
    part 6 ya eon, gak sabar sama endingnya nih😄

  13. Waah ini so sweet sekali ya… Dan Eunhyuk ceritanya anak blasteran, hmmmm… (ngebayangin Eunhyuk) Mukanya agak-agak gimana gitu ya? Hehe… Tapi keren deh… Ditungguin next partnya oennie…

  14. Waah ini so sweet sekali ya… Dan Eunhyuk ceritanya anak blasteran, hmmmm… (ngebayangin Eunhyuk) Mukanya agak-agak giman gitu ya? Hehe… Tapi keren deh… Ditungguin next partnya…

  15. Demi rambut mia yg ga jelas kayak mie dicelup saos! knp eunhyuk cool banget di sini?
    Agak ngenes, kasian, tp sweet.
    Aduuuhhh…

    Btw, knp bawa2 shinhwa? jadi cameo nih ceritanya??😀

    Eh, soph! emang bener ya itu nama jepangnya Chae won??

  16. annyoeng thor…
    Aq reader bru,slam knal…
    Aq ska ma crta na,smga aj Hae bsa sma ma jihy0 y…
    Gary jga jdi cameo y d crta ne,jdi monday couple dsni broken y….hehheeee

  17. Part5!!!
    Ini seriusan deh Soph *sokkenal*Hyuk jadi keren bgt disini..
    Jadi,,begituu.. kapten Ji itu cinta pertamanya Eunhyuk tooh?? Ciee,,ciee Eunhyuk…what if he, in the end, be her last love? *sebenarnya itu saya yg ngarep aiih _* maka happy endinglah bt Eunhyuk… hehe,,
    Dan krn ternyata ingetan saya sgt2 lemah.. saya bingung mo komen apa lagi di ff yg keren sekeren Eunhyuk inih.. jujurnya,saya baca ff ini udah lama,dr tgl dipost.. udahpengen bgt komen,tp blm sempet… dan skrg saya sempet komen..eh,mlh bingung kann..mian,,
    Ending part ini sedih.. saya gamau juga klo Donghae ga ada lagi.. tapi kan cerita udah ditulis ya.. /atau belum..
    Pengen baca dr part awal lagi,br tambah mudeng..soalnya ini baca dan komenjg nyolong2 jam kerja,hehe..
    Ditungguin next partnya…
    Makasiiiih bkn hyuk loveable kek gini yaah..
    fighting sophiemaya!! /sukaaa ma nama kamu ini…🙂

    • aduhaduh adh
      makasih banyak ya udah mau dikomen
      aku jadi terharu disempet2in ngomen padahal kamunya lagi sibuk
      kekekekkee
      kita berharap semoga happy ending
      semogaaa *berkaca kaca

  18. akhirnya setelah menunggu beberapa lama keluar juga yaaaay \^_^/ hmm makin penasaran ama lanjutannya, dan seandainya aku jd jihyo bakal susah banget memilih donghae atau eunhyuk karena disini eunhyuk keren bangeeeeet hahahaha kalo aslinya sih aku pasti langsung milih donghae tentu😛 satu kata buat author: KEREN🙂

    • hahahahahaha aduh aku terharu kamu mau nungguin cerita abal2 kuhh iniiii
      jangankan jihyo
      ini authornya aja dilema mau jadiin jihyo sama siapa hahahahaha

      makasih y udah baca dan komen

  19. Terjawab sudah kenapa hyuk bisa ngomong inggris. Keturunan bule ternyata..
    Napa itu ada shinhwa segala sop? Lg suka sama om-om itu ya? Ooo…jadi naomi = moon chae woon.
    Chap ini feel nyesek na kerasa banget. Susah buat ku buat memihak eunhyuk ato donghae. Mereka mencintai ji hyo begitu besar dengan cara mereka sendiri. Semoga ji jyo bisa bahagia dengan salah satu dari mereka. Ga nyangka first love na hyuk indah sekali cerita na…

    Oke…di tunggu kelanjutan na. Selamat menikmati KKN dan selamat puasa..

    • iya keturunan bule belanda nyasar hahahahaha
      iya lagi suka sama shinhwa tapi juga ada hubungannya kok hihihihi

      hmmm ayo dipilih salah satu
      lebih sreg jihyo ama eunhyuk atau sama donghae? xD

  20. Eunhyuk-jihyo-donghae sekarang jadi galau mau jihyo sama siapa😐 kalo sama eunhyuk kasian donghae dooong ;_; tp si eunhyuk juga kayanya segitu cintanya sama jihyo..
    Apa donghae bakal mati terus jihyo bakal jd cinta terakhirnya unyuk? Ga rela donghae mati tapinya /galau/
    eiiii, aku kira member shinhwa cuma jadi cameo, trnyata ada kaitannya sama sesuatu toh? /baca komen d bawah/
    haduh gimana ini kalo si jihyo tahu ternyata donghae sakit?
    Lanjutannya beneran abis kkn nih sop? Lamaaa amat =_=
    anyway, nice FF🙂

    • ehhh donghae bisa menderita ya on kalo jihyo ama eunhyuk *smirk*
      *kembali ke watak asal author yang suka nyiksa donghae* xDD

      ehmmm nanti deh member shinhwanya
      yang pasti mereka om om yang suka manggil saya di pengkolan depan *plak*
      hahahaha

      iya kyknya habis KKN
      tapi ga tau onn dpt sinyal inet apa g di tmpt KKN, kmrn aja nyari sinyal hape harus ngangkat2 hape ke atas segala. kan aku pesimis jadinya -_-

      tengkyu ya onn udah bacaaa

  21. suingggg udah muncul aja part 5 hahahaha
    g tau mau ngomong apa lagi udah kehabisan kata-kata nih eonnn udah cukup udah

    cieeeee ganti tema lagi , kemaren manis manis serba pink kaya kolornya key kwkwkwk sekarang sangar sangar deh temanya
    kayanya aku gak bisa komen panjang soalnya nie ff bikin jantung dag dig dug huuuuuuh kerennn banget🙂

    • iyaaa dong udah muncul

      asyik deh ganti tema
      eh bukan sangar, tapi semacam dorky-weird gitu
      shinhwa kan aneh2 membernya
      om2 yang nggak ada benernya sama sekali xDDD

      makasih ya udah dibaca dan dikomen ^^

  22. kyaaa….saeng…akhirnya release juga part 5 nya..
    daebakkk
    huwaaa…aq seriusan cinta sm unyuk disini..
    tq ya sophhh uda bikin karakter hyuk sekeren ini :*

  23. eonni, astaga!!
    Ini complicated banget
    tiga orang (absurd) itu trnyata berhubungan dari kecil
    huft~
    dan ini bikin mewek *cengeng* T.T
    ksian donghae-ny, kasian hyukjae-ny, kasian jihyo-ny
    smua kasian , suer!
    Moga” entar harapanku terkabul, donghae itu cinta pertama jihyo, hyukjae itu cinta terakhir jihyo
    btw, itu kenapa planet paddle pop di bawa” juga? Ckck~
    udah ga ada joongki, jdi ming yg ngawur bawa” paddle pop -_-
    joongki jgn mncul dlu ya, bkin feel angst.ny ilang entar *deziig*
    trus mentang” marga sama aja moon chaewon dijadiin keponakan eric . Dan kenapa mendadak shinhwa nongol disini, mana bandingin maknae shinhwa sma maknae SJ pula -..-
    eonni, to be continued.ny salah tempat itu
    part berikutnya, huft~ aku harap secepatnya
    ah ya, inget lagi
    sejak kapan emak hyukjae ada darah manhattan? Ksian amat darah blasteran jdinya mlah kya’ gitu *diinjek jewel*
    bai bai ^o^

    • cup cup cup jangan nangisss
      bulan puasa
      ntar batal lohh hahaha
      aduh gimana ya, kita liat next part deh yaaa
      hahaha joongki nya lagi istirahat
      aduh kok malah pada senang sih sama joongki *plak

      btw aku baru nyadar itu knp umin yang jadi gaje ya -_-a
      hahahaha

      iyaaaa MOON ERIC sama MOON CHAEWON
      HAHAHAHA mereka sodaraaaaaaaaaaaaaa lalalalallaa
      eh Andy Shinhwa emang lebih cakep dibanding Kyuhyun SJ kan? *dor

      p.s itu manhattan aku cocok2in aja gara2 rambut eunhyuk kan pirang getooohhh hahahaha, dan dia suka sok2 inggris kan hahahah *dibakar

      next part ditunggu aja yaa
      .
      .

  24. Saengiiiiii~ itu kenapa tiba2 muncul ‘to be continued’ heh?! Menggangguuuuu >_____<
    Nah kan makin kepo sayaa ._____. *jedotin kepala pake panci*

    Sudah saya duga, pasti Eunhyuk itu udah kenal lama sama si Ji Hyo!
    Suami aku kenapa keren banget sih disini? Mana point of view-nya dia banyak lagi. Kyaaaaaaa *kejer Eunhyuk* *cipok* *Hyuk: puasa weeey!!! | oh maap bang saya terlalu bernafsu* * dikentutin Siwon*

    Saeng, kok Joongki ga dimunculin sih? Seru tau dengerin kicauan dia yg berambisi jadi pemeran drama korea yg berujung dg cerita fairytale. Khukhukhu~
    Semakin di baca semakin aku menginginkan Ji Hyo jadinya sama Unyuk. Ternyata gegara nyiram Ji Hyo pake kotoran Siwon *baca: kuda* ngebuat Unyuk ngerasa bersalah toh. Ah elah baru juga kotoran kuda, belum pernah kesiram kotoran ikan kan? *ditampol Ji Hyo*

    Btw kok part ini mini sekale? Baru juga baca udah ketemu aja sama si tubikontinyu. Ga mau tau, part selanjutnya mesti cepet dan panjaaaang! *salah satu reader ngelunjak*
    Tapi gapapa deh, paling ga ke-kepo-an saya sama apa yg di omongin Sungmin terjawab sudah. Eh ngomong2 Sungmin kok oke sih disini? Jadi naksir *dibakar labu* #eh

    Yesungdahlah saya bingung mau komen apaan lagi ini nah hahaahahaha~
    Aku tunggu part selanjutnya yoo, yg panjang loh yah part-nya, kl perlu sepanjang jalan kenangan deh *sarap*

    Deeeeeeh~~~~ *dadah ala miss Afrika*

    • eeehh onnie kayaknya ini udah panjang sepanjang2na dehhh hahahahaha

      aduh kotoran kuda kan bau onn, kotoran ikan mah ga terlalu *pernah ngerasain kena kotoran ikan* xD

      setuju kalo onnie bilang eunhyuk keren di sini
      aku setujuuuu!! hahahahaha
      eit tapi kenapa onnie ngelirik umin juga? wah parah niii -_-

      part selanjutnya ditunggu ya, mgkn agak lama karena aku kan mau KKN onn
      keke

      • Sebenernya sih aku ngarang aja tuh soal kotoran ikan, gatau juga ky gimana hahahahaha😄

        Tuh kaaan, suami aku disini emang keren banget. Yauda sih kl Ji Hyo gamau sama Eunhyuk, kan udah sama aku Unyuk-nya *Hyuk: rugi dong gw? | aseem! -_-*

        Nah kan, salahkan dirimu mengapa membuat Sungmin begitu bersinar disini *matiin lampu tembak di belakang Sungmin* *silau bang!* #acuhkansaja

        Semangat KKN-nya Saengi, biar bisa lanjut FF-nya *modus*
        Hihihihi~

        • haaa kamu ngarang onnie, sini aku jejelin kotoran ikan… baunya bau donghae *eh* xDD

          kita liat mana yang sisa, ntar buat onnie. ama joongki mau ga onn? hahahaha

          pdhl karakter umin biasa aja loh onn, kok kamu bisa kesengsem ya? wah kamu perlu periksa ke dokter gigi deh onn *apa hubungannya?????*

          oke onnie makasih buat semangatnya *kecup basah jarak jauh

        • Daripada di jejelin kotoran ikan bau Donghae, gimana kl dijejelin Donghae-nya aja sekalian *ketawa setan* *dicekek Eunhyuk*

          Boleh tuh sama Joongki, tapi dia operasi otak dulu biar ga konslet. Kan bahaya lagi ngobrol tiba2 dia berubah jadi Kang Maroo trus ujung2nya jadi ibu peri yg salah dongeng .___. *dikubur Joongki*

          Gatau aku juga kenapa disini Umin keyen banget. So sweet aja gitu dia sama si Unyuk *eeh?*

          • dasar
            ini puasa tahu puasaaa hahahahahaha

            aduh si joongki hahahaha
            tapi kan lucu cowok aneh kayak gitu buahahahaha

            aduh ini kok random banget ya
            ada yng ngepans sama unyuk, joongki ama umin. -_-

  25. woaa aku speechless..
    jd eunhyuk co yg bkn jihyo malu wkt kecil dl?tp eunhyuk jg lah yg bkn jihyo ktm ama donghae dong,kl d pkir2…

    keinget nama naomi,jgn2 ada hubungany ama ff dont trus the liar in apt.13? wah… makin penasaran

    aq rasa eunhyuk bkal ama jihyo,tp kasian donghae..aq ngrasa donghae d sni sweet bgt,apalagi pas adegan dy niup 100balon,.hihi

    next ff cpet yaa..

    • iyaa eunhyuk, jihyo, dan donghae sebenarnya ada dalam satu tempat yang sama waktu kecil dulu
      *baca ulang part 1 lagi deh* ntar pasti lebih berasa sense nya kekeke

      hmmm soal naomi, no comment ahhh hahahaha
      ditunggu ya part selanjutnyaaa

  26. soph… ini postinganna yang emang double ato pcq yang error? hahahahaha

    Shinhwa ini sisipan biar readers tahu kalo authorna lagi suka ama shinhwa. ya kan? hahahahahah
    sumpah deh… pas awal baca aq pikir pov pertama itu donghae. ternyata eunhyuk.

    nah khan… eunhyuk ama jihyo mulai keliatan ada gimana2 gitu. hahahahaha

    ditunggu ya soph…. hehehehe

    • bukan ini human error ku
      tadi aku kepaste dua kali jadinya begitu de
      tapi udah kuperbaiki kok

      eit, shinhwa masuk ke sini soalnya dia ada hubungannya deh pokoknya, ga mau kasih tahu dulu xD

      hihihihi kalo donghae nggak mungkin se sok cool kayak gitu HAHAHAHA *dibakar jewels

      jangan nebak2 dulu deh
      tunggu next part
      insyaallah kalo udah selesai KKN *lama amat
      hiks hiks iyaaa soalnya kan kayaknya sinya inet
      ga mendukung disana
      tapi g tw juga dehh

  27. astaga hyukjae disini so sweet banget;; ngakak pas dibagian di pas ada Shinhwa nya itu xD lanjutin ya thor jgn lama-lama kekeke^^

Just talking...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s