[FF/ One Shot/ G/Mission Mathematicssible]

Author  : Sophie Maya

Title       : Mission Mathematicssible

Cast       : Kibum Super Junior, Park Gyuri KARA, Kyuhyun Super Junior, Siwon Super Junior

Support Cast      : another member Super Junior

Genre   : school-life

Rated    : G

Type      : –

Summary         : Namaku Kibum, nama gadis itu Gyuri. Dan satu hal: jangan sebut gadis itu cantik! Sumpah, aku bukan TOP atau Daesung yang tergila-gila pada goddess satu itu!

Disclaimer           : KARA, Super Junior isnt MINE. But this story is MINE.

P.s: jika selama ini kalian baca cerita soal Gyuri yang ditakdirin jadi gadis super cantik, sekarang kita lihat ‘sudut pandang’ lain dari beberapa orang yang menganggap Gyuri sama sekali tidak cantik di kelasnya xD

.

.

.

.

.

Matematika membuat kamu tahu bahwa saat kita hidup, kita ternyata tetap dihadapi sesuatu yang berbau kematian.

-Kibum, pelajar terpolos nomor dua versi Majalah Times, Seoul-

Matematika adalah pelajaran yang membuat kita berpikir kreatif, cepat, dan kritis. Dan jika sudah terdesak, ‘tangan Tuhan’ ada dimana-mana, percayalah…

-Choi Siwon, pelajar terpolos nomor satu versi Majalah Times, Seoul-

Matematika membuat kamu tidak bisa membedakan mana Cho Kyuhyun, mana Sonsaengnim, dan mana Monster…

– Gyuri, bukan pelajar yang polos dan bukan ahli teori filsafat apapun, Seoul-

Kamu mau lulus pelajaran Matematika saya, tidak? Jika iya, kamu harus ikhlas dengan segala tugas yang saya berikan. Ini demi keadilan, ketertiban, dan kemusyawaratan nilai-nilaimu!

-Cho Kyuhyun Sonsaengnim, Guru Matematika super galak, Seoul-

.

.

“Kata Siwon, Engkau selalu mengabulkan doa-doa orang yang teraniaya. Kau membuat orang-orang yang menderita menjadi terangkat derajatnya, menjadi sukses dalam hidupnya dan segala keinginannya terpenuhi dengan berdoa penuh ketulusan. Jika begitu Tuhan, hari ini aku datang mengadu pada-Mu. Sungguh, aku adalah orang yang teraniaya, orang yang menderita karena guruku. Tuhan, kembalikan Cho Sonsaengnim ke neraka secepatnya, atau jika tidak buatlah guruku itu kecelakaan hingga amnesia dan lupa kalau dia adalah seorang guru. Atau jika itu tidak bisa juga, kuharap Engkau membuatku sepintar Goo Hye Sun sehingga aku bisa langsung pergi ke Universitas Sungkyungkwan tanpa harus bertemu dengan Cho Sonsaengnim setiap hari. Amin.”

“Amin….”

Siwon tersenyum penuh kelembutan dan menganggukkan kepala. Menganggap doa Gyuri sama seperti doa jemaah lain yang datang ke gereja untuk meminta keselamatan bangsa yang terancam bahaya dari pihak luar.

“A-amin…”

Aku terkikik pelan sebelum akhirnya ikut mengucapkan amin atas doa aneh yang baru saja Gyuri panjatkan, itupun juga karena Siwon yang memelototiku dengan tatapan penuh ancaman. Aku langsung menundukkan wajah pura-pura khusyuk, ikut menangkupkan kedua tangannya dan berkomat-kamit tanpa suara.

“Tuhan menyayangi semua makhluknya…” Siwon mengatupkan kedua belah tangannya lalu menoleh pada Gyuri, gadis berambut panjang bergelombang acak-acakkan dengan garis bibir menekuk ke bawah, menunjukkan kejengkelan tiada tara. Siwon menarik napas panjang sebelum melanjutkan ucapannya, “Gyuri-ah…, kita bisa pergi dari sini sekarang? Sebentar lagi bel istirahat berbunyi.”

Aku ikut menoleh pada Gyuri yang akhirnya membuka matanya yang sedari tadi terpejam. Ia menatapku dan Siwon bergantian, sebelum akhirnya mendesis pelan seraya mengangguk.

“Baik,” ia beranjak bangun dari tempat doanya dan menarikku berdiri secara paksa, seakan-akan aku salah satu koleksi ransel butut miliknya. “Kibum, kkaja! Kita kembali ke kelas.”

Aku bangun dengan malas-malasan sembari mengacak rambutku sejenak, “Oke, sebentar… aku mau berdoa sebentar lagi…” aku memejamkan mata sebentar dan bergumam dalam hati, “Tuhan yang adil… sadarkanlah pikiran Gyuri yang aneh dengan segera. Sungguh, aku tidak bisa habis pikir bagaimana bisa seorang murid membenci gurunya sedemikian rupa. Kurasa Gyuri terlalu banyak makan daging keras sehingga otaknya ikut mengeras….ah, meski aku juga tidak tahu apakah ini semua ada hubungannya.”

“Kau berdoa apa?” tanya Gyuri curiga.

Aku mengatupkan kedua telapak tangan seraya menggeleng, “hanya berdoa semoga kedua orang tuaku disayang Tuhan seperti mereka menyayangiku sewaktu aku masih kecil,” karangku.

Gyuri jelas langsung memandangiku dengan tatapan ‘ya-ampun-Kibum-pantas-saja-kau-ini-disebut-anak-polos’.

Aku hanya diam dan tidak menanggapi tatapan Gyuri.

Namanya Gyuri. Seorang gadis yang sudah enam bulan ini menjadi teman sekelasku, pindahan dari Provinsi Gangnam di pertengahan semester lalu. Sudah enam bulan ini pulalah, ia duduk tepat di belakang meja kami—bersama si aneh Yesung.

Awalnya kukira Gyuri gadis yang biasa-biasa saja. Kecuali fakta bahwa suatu pagi Ryeowook si jenius Fisika datang terpogoh-pogoh ke dalam kelas sambil berteriak histeris, “ADA ANAK BARU!! ANAK BARU!!! ANAK BARUNYA CANTIK!!! BAKAL MASUK KE KELAS KITA!!” yang total membuat para pria masa-masa ababil seperti kami langsung heboh dan menari-nari mengitari tiang kelas.

Anak baru? Cantik? Masuk kelas kami? Oke, ini memang reaksi yang berlebihan. Tapi mengingat skala pria banding wanita di kelas ini adalah 4:1, maka jelas ini berita hujan di tengah musim kemarau. Diiiringi lirikan sinis para murid perempuan lainnya, kami mulai taruhan, berspekulasi, berdebat tentang masalah siapakah anak baru itu? Darimana asalnya? Secantik apakah dirinya? Dari mana Ryeowook mendapat informasi kalau anak baru itu cantik, yang dijawab Ryeowook dengan polosnya, “lho, bukankah semua anak baru itu harus kita bilang cantik atau cakep? Supaya heboh kayak di novel-novel gitu, teman-teman sekalian!”

Ryeowook sukses mendapat lemparan kapur dan penghapus papan tulis dari Kangin.

Lama berdiskusi akhirnya kami sampai pada kesimpulan sementara yang agak skeptis: Hipotesis ‘cantik’ menurut Ryeowook amat patut dipertanyakan.

Intinya: kami deg-degan siapa anak baru itu.

Lalu saat akhirnya sang anak baru masuk—Gyuri—lalu tahulah kami semua (terutama aku!!!) kalau Ryeowook memang butuh ‘asupan’ wanita lebih banyak untuk membedakan mana perempuan mana preman.

Gyuri adalah gadis dengan dandanan acak-acakan dan serampangan, rambut panjang bergelombangnya dibiarkan terurai sampai ke pinggang. Seragam sekolah dibiarkan keluar, ia tidak memakai ikat pinggang, dan rok lipatnya ditekuk dibagian atas sehingga menjadi amat pendek—yang sayangnya tidak lantas membuat kami terpesona. Gyuri terlanjur memberikan kesan tomboi dengan sikap cuek dan wajah penuh plester luka di wajahnya.

Preman. Ugal-ugalan. Doyan tawuran.

Itulah referensi yang kami dapat saat itu juga, membuat persepsi betapa Gyuri bukanlah ‘anak baru cantik’ yang digembar-gemborkan Ryeowook sejam lalu.

Diam-diam kami—beberapa pria yang tidak sependapat bahwa Gyuri cantik—melakukan telepati untuk merencanakan aksi pembantaian Ryeowook sepulang sekolah nanti. Kulihat Kangin bahkan sudah melipat lengan bajunya ke atas sembari meregangkan ototnya, Eunhyuk sudah mengipas-ngipas tubuhnya tidak sabaran dengan buku catatan Bahasa Inggris, sementara Siwon sibuk berdoa dan berkata ‘Tuhan maafkan hamba-Mu ini… maafkan atas bencana yang akan datang…’, membuatku bergidik saja.

Kemudian, bencana anak baru itu tidak sampai di situ saja. Saat istirahat pertama Gyuri tahu-tahu datang menghampiri mejaku dan Siwon dengan gaya perwira polisi hendak menginterogasi anak buah berpangkat paling rendah.

“Hai, kalian Siwon dan Kibum? Ah, aku tahu… wali kelas tadi bilang kalau kalian adalah duo-kompak di kelas ini. Kemana-mana selalu bareng. Rumahnya sebelahan, satu TK, satu SD, satu SMP, satu SMA, satu meja, satu nusa, satu bangsa, satu bahasa kita…” Gyuri memandangi kami berdua dari atas sampai bawah, seakan-akan ingin mendeteksi ada ganggang dan amoeba jenis apakah yang melekat di tubuh kami, si dua pria pria paling polos di dunia versi Majalah Times—majalah sekolah yang hampir bangkrut gara-gara kekurangan dana cetak produksi. Entah darimana julukan itu, tapi cukup sukses membuat seorang Kibum terkenal dengan julukan ‘Oh, Kibum? Kibum si yang tidak terkenal itu kan? Yang tiap hari nemenin si tampan Siwon berdoa di gereja?’

Satu tips dariku: jika kalian yakin kalian tidak punya kelebihan apapun—kecuali kelebihan berat badan dan maupun kelebihan kepercayaan diri—jangan pernah berteman dengan orang yang tampan, bertubuh atletis, keturunan pengusaha, dan pengurus gereja seperti Siwon. Jika tidak kalian hanya dikenal sebagai ‘temannya Siwon, ya?’

Gyuri menggoyangkan kepalanya. “Mulai sekarang, kalian jadi temanku ya. Kalian wajib nemenin aku kemanapun! Oke?”

“Heh?” Aku melongo kaget.

“Wali kelas menyuruhku untuk berteman dengan kalian. Katanya bagus untuk memulai hari-hariku di SMA ini…” jelas Gyuri sembari menggaruk kepalanya.

Aku dan Siwon saling lempar pandang. Yeah, bagus untuknya dan malapetaka untuk kami! Tidakkah Gyuri sadar penampilannya yang eksentrik dan diluar batas kamus seorang cewek yang seharusnya berpenampilan feminim, memilih berteman dengan peringkat satu dan dua pria terpolos versi Majalah Times merupakan bentuk kontroversial sosial di masyarakat?

Menjadi pria terpolos saja sudah merupakan kutukan—khususnya bagiku. Setahuku cuma Siwon yang merasa bahagia dengan julukan ‘polos’ itu, karena katanya itu berarti kami dikenal sebagai pria yang tidak nakal, baik… ck, tidak menarik.

Gadis mana sih yang suka sama pria baik? Bahkan di novel-novel ataupun drama telenovela, seorang gadis rela meninggalkan pria baik hanya demi pria nakal yang selalu membuatnya kesal hingga ingin melemparnya ke Sungai Han?

Dan kini, setelah julukan itu aku masih harus berteman dengan Siwon dan kini Gyuri…?

“Jika itu yang guru kita inginkan, aku jelas tidak bisa menolak.” Siwon tersenyum lembut, yang biasanya membuat seluruh gadis rela bertekuk lutut agar dapat melihat senyuman itu.

Aku bergidik, “Siwon, tapi… kita… kita kan bisa temenan berdua aja… kita…” aku menelan ludah. Kenapa kelihatannya aku jadi seperti ada apa-apanya sama Siwon? Aish!

Kepalaku mendongak ke atas dan menatap Gyuri yang masih melihat kami berdua dengan penuh minat.

“Well, oke… err… baiklah…” ucapku akhirnya. Mengalah. Terpaksa mengalah.

Gyuri tampak melonjak girang. “Hore!—“

“HOREE!!! ADA GOSIP BARU!!! GYURI SI ANAK BARU TEMENAN SAMA DUO-KOMPAK, PRIA TERPOLOS DI SEKOLAHAN!!!”

Ucapan Gyuri terputus saat tahu-tahu Ryeowook yang ternyata dari tadi menguping, berteriak girang sembari melompat ke atas meja. Seakan-akan baru mendapat gosip anak kembar yang tertukar selama bertahun-tahun dan baru ketemu di SMA ini.

“KIBUM, SIWON, BERSIAPLAH!!” Ryeowook menunjuk ke arah kami berdua dengan pandangan misterius, entah apa maksudnya. “HAHAHA, WOII!!! ADA BERITA BARU NIH….”

Tuh kan, aku rasa Ryeowook memang butuh asupan lain selain rumus Fisika. Lihat, dia jadi gila hari ini. Semoga tidak untuk besok dan seterusnya.

Atas nama Bapa aku berdoa, Amin….

.

.

.

.

“KIBUM, SIWON, BERSIAPLAH!!”

Kini aku tahu maksud ucapan Ryeowook waktu itu. Tepatnya dua hari setelah Gyuri resmi bersekolah di SMA kami, setelah hari-hari berjalan dengan cukup normal awalnya, hari itu datang juga.

Saat pelajaran Matematika…

Saat guru paling galak sesekolahan, Cho Sonsaengnim, masuk ke dalam kelas dengan langkah tegap dan sepatu berderap di lantai. Sudah menjadi rahasia umum jika Cho Sonsaengnim adalah guru yang paling disiplin dan tidak segan-segan menendang muridnya keluar kelas jika ketahuan berbicara satu patah katapun saat ia tengah mengajar.

Jadi lebih baik menyiapkan gembok rapat-rapat untuk mengunci mulut saat Cho Sonsaengnim masuk.

Sayangnya Gyuri justru bertingkah aneh dari pertama melihat ujung sepatu Cho Sonsaegnim nongol di pintu. Gadis itu langsung menarik-narik bangkuku dan berbisik dengan nada cemas.

“Bum, itu… jangan bilang guru Matematika kita?”

Aku menoleh ke belakang dan hendak menjawab, tapi hanya terdiam saat memandangi wajah Gyuri sudah pucat pasi.

“Uhm… yeah…” aku mengernyitkan dahi, “kenapa?”

“Aku…”

BRAK.

Belum sempat Gyuri selesai bicara, suara benda jatuh terdengar keras dari arah depan kelas, disusul dengan gelak tawa dari anak-anak. Aku langsung menoleh ke depan dan mencari tahu apa yang tengah terjadi. Anak-anak tertawa di jam pelajaran Cho Sonsaengnim adalah keajaiban dunia kedelapan di dunia.

“Siapa yang memotong kaki kursi ini??!!”

Astaga! Aku membelalakkan mata lebar saat melihat Cho Sonsaengnim terduduk di lantai dengan posisi terjengkang, sementara tepat dibawahnya sebuah kursi kayu teronggok dengan keadaan terbalik. Tampaknya tadi Cho Sonsaengnim berusaha menduduki kursi itu tetapi akhirnya malah terjatuh.

Cho Sonsaengnim berdiri perlahan sambil berusaha menahan rasa sakit. Terlebih, menahan rasa malu. Lihatlah wajahnya memerah sekarang. Sebetulnya tidak tega melihat guru paling galak bisa jatuh dengan konyol seperti itu, namun mau bagaimana lagi. Bahkan anak-anak tetap terus tertawa meski Cho Sonsaengnim kini menatap mereka penuh kegalakan.

“Siapa yang memotong kaki kursi ini?!” teriaknya lagi dengan suara keras.

Aku terdiam.

Bukan, bukan karena takut dengan suara Cho Sonsaengnim yang memang menakutkan. Bukan juga karena melihat sikut Cho Sonsaengnim lecet sedikit. Bukan itu.

Tapi ini karena kemudian aku merasakan Gyuri merangkul bahuku dengan akrab dan tertawa riang serta tanpa dosanya berkata nyaring, “Cho Sonsaengnim, yang memotong kaki kursi itu… saya, Siwon, dan Kibum!”

.

.

.

.

“Hei, kalian mau kemana? Kibum, Siwon!! Tunggu!”

Gyuri berlari-lari ke arah kami berdua yang jelas sengaja berjalan cepat mendahului langkahnya. Lengan besar Siwon bahkan setengah paksa menarikku agar terus mengikuti langkahnya yang terburu-buru, berjalan dengan kepala tertunduk, dan bahkan menabrak beberapa murid di depan kami.

Hari ini Siwon kacau sekali. Tadi Cho Sonsaengnim menjatuhkan hukuman pada kami bertiga, kami disuruh membersihkan lapangan upacara. L-a-p-a-n-g-a-n u-p-a-c-a-r-a! Hukuman paling tidak etis sepanjang dunia kegalakan Cho Sonsaengnim, kami diharuskan menyapu lapangan upacara, mengepelnya dan mengecat batas-batas yang dijadikan patokan dimana para siswa harus berbaris setiap hari Senin-nya.

Taraf ketidaketisan hukuman ini melebihi hukuman mengepel genteng sekolah yang pernah Cho Sonsaengnim berikan pada anak kelas tiga yang ketahuan tawuran.

Sekarang tengah musim gugur berangin. Musim dimana daun-daun rontok dan jatuh ke bawah karena pengaruh gravitasi, yang membuat lapangan outdoor tentu saja akan kotor dengan daun-daun pepohonan. Menyapunya butuh waktu dua jam, mengepelnya butuh waktu satu jam, dan mengecatnya butuh waktu seharian. Ditotal-total, jam kerja kami sudah masuk kategori cukup berpengalaman untuk jadi tukang bersih-bersih di sekolah.

Siwon yang tidak pernah melakukan perbuatan tercela apapun selama hidupnya, merasa dirinya amat bersalah dan terhina sekali. Ia merasa telah menjadi manusia tidak berguna dengan membuat seorang guru yang seharusnya dihormati, malah dikerjain—meskipun berkali-kali kubilang bahwa insiden itu bukan salahnya, ini hanya ucapan Gyuri yang ikut menyeret kami berdua dalam hal ini tanpa surat ijin terlebih dahulu!

Ternyata yang memotong kaki kursi itu adalah Gyuri, tetapi tidak perlu juga gadis itu ikut membawa kami dalam masalahnya itu.

Siwon bilang sekarang ia perlu bermalam di gereja untuk menyucikan diri dari segala dosa. Ia akan meminta ampun pada Tuhan.

Oke, aku jadi ikut-ikutan merasa bersalah—entah pada siapa.

Tetapi masalah ternyata tidak berhenti sampai disitu, karena Gyuri saat pelajaran Matematika selanjutnya justru seakan sengaja membuat kesalahan lagi.

Seperti saat ini, saat Gyuri asyik-asyiknya mendengarkan musik melalui headset, Cho Seonsaengnim yang tadinya menjelaskan penuh semangat tentang trigonometri, tahu-tahu berjalan ke belakang, melewati meja pertama dan kedua, melewati mejaku, lalu berhenti di samping meja Gyuri.

“Bagaimana kalau saya menyanyikan rumus-rumus trigonometri dan saya jadikan sebuah lagu, lantas kau perdengarkan di headset bodohmu itu?!” sindir Cho Sonsaengnim tajam.

Aku kontan menoleh ke belakang dengan perasaan cemas. Apakah guruku itu akan bertengkar lagi dengan Gyuri? Apa hari ini Siwon akan kembali menginap di gereja? Apa kami akan dibawa lagi dalam masalah Gyuri? Tidak, tidak, tidak! Aku tidak ingin menyapu dan mengepel apapun lagi!

Gyuri mendongakkan kepalanya dengan malas-malasan lalu melepas headsetnya, “apa?”

Tamat sudah. Pertanda buruk karena kulihat Cho Seonsaengnim mengepalkan kedua tangannya geram, matanya berkilat-kilat marah.

“Gyuri, saya sita headset dan mp3-mu!” seru Cho Sonsaengnim seraya merebut paksa headset dan mp3 Gyuri yang tergeletak di meja. Gadis itu berniat merampas kembali, tapi lalu Cho Sonsaengnim memberikan pelototan marah padanya.

“Anda tidak berhak merebut barang-barang saya!” teriak Gyuri dengan tatapan nanar.

“Saya berhak!” balas Cho Sonsaengnim.

Napas Gyuri terdengar memburu. “Kau… kau… kau ini cuma guruku!! Bukan Ayahku!! Jangan mengatur-ngaturku!!”

Aku menelan ludah. Aku menoleh ke belakang dan mengkodekan gadis itu supaya menutup mulutnya. Bisa mengamuk nanti Cho Sonsaengnim dibuatnya.

“Kau tidak akan selamat dari pelajaran Matematika, Park Gyuri. Selama masih ada saya disini!!” teriak Cho sonsaengnim dengan nada penuh emosi. Kelas mendadak sunyi, penuh rasa ketakutan. “Berdiri di depan kelas.” Kemudian Cho sonsaengnim kembali menambahkan, ”kamu mau lulus pelajaran Matematika saya, tidak? Jika iya, kamu harus ikhlas dengan segala tugas yang saya berikan. Ini demi keadilan, ketertiban, dan kemusyawaratan nilai-nilaimu!”

Gyuri tersenyum aneh, “Baik.” Tanpa pikir panjang Gyuri berdiri dari duduknya dan berjalan keluar dari mejanya. Namun adegan selanjutnya dari Gyuri justru membuatku benar-benar ingin melempar gadis preman itu ke Namsan Tower.

Gyuri berhenti di samping mejaku dan menatapku serta Siwon dengan penuh keramahan, “Kibum, Siwon, kkaja! Ayo kita berdiri di depan kelas, dibanding harus duduk dan mendengarkan celotehan guru ini.”

Atas nama Bapa aku berdoa, tolong kembalikan Gyuri ke sekolah asalnya. Atau paling tidak, buat dia amnesia dan melupakan statusnya sebagai temanku ataupun teman Siwon. Amin.

.

.

.

.

Tidak ada yang tahu kapan pertengkaran itu dimulai. Pertengkaran antara murid dan guru. Pertengkaran antara Gyuri dengan Cho Sonsaengnim. Entah siapa yang duluan memulai, setiap hari ada-ada saja yang dilakukan Gyuri disaat pelajaran Matematika. Tidak memperhatikan Cho Sonsaengnim saat menerangkan, tertawa keras-keras sembari mendengarkan radio, atau bahkan malah ngeloyor pergi tanpa peduli dengan Cho Sonsaengnim.

Sebaliknya dengan Cho Sonsaengnim, akhir-akhir ini sifat kegalakannya justru lebih sentralis, hanya berpusat pada Gyuri seorang. Setiap ada soal, selalu Gyuri yang selalu disuruh maju. Cho Sonsaengnim  juga tidak segan-segan menyuruh Gyuri mengambilkan perlengkapan OHP yang berat sekali di gudang untuk menerangkan materi tertentu atau juga kadang Cho Sonsaengnim sengaja menanyakan hal-hal yang tidak dimengarti Gyuri sehingga membuat gadis itu terpaksa dihukum depan kelas.

“Kalian berdua temannya Gyuri, pasti kalian sama nakalnya dengan Gyuri.” Tuduh Cho Sonsaengnim suatu saat ketika aku dan Siwon berjalan berdua dari kantin. Bel istirahat pertama baru saja berbunyi dan kami memutuskan untuk menghindar dari Gyuri yang ngotot mengajak kami bolos pelajaran selanjutnya, apalagi kalau bukan Matematika! Aneh sekali anak itu, entah ada apa dengan Matematika, tetapi dari sikapnya yang antipati terhadap Cho Sonsaengnim dan selalu berulah di setiap pelajaran Matematika, jelas ia punya masalah yang sampai saat ini belum kuketahui.

“Bukankah kamu ini Choi Siwon?” Cho Sonsaengnim menunjuk Siwon dengan telunjuknya dan tersenyum kaku, “apa kata orang tuamu kalau tahu kau berteman dengan anak berandal seperti itu?”

Siwon terdiam.

“…dan kau!” Cho Sonsaengnim kini menunjuk ke arahku. “Kibum si yang tidak terkenal itu? Pria terpolos nomor dua versi Majalah Times?

Aku mengangguk takut-takut.

“Saya tidak menyangka kalian bisa terpengaruh dengan perilaku Gyuri,” tambah Cho Sonsaengnim. Aku hanya menunduk dalam dan memandangi tali sepatuku.

“Memang ada apa dengan Gyuri, Saem? Dia… dia memang sedikit nakal, tetapi dia baik…” Siwon tampak membela Gyuri, meski dengan nada suara tidak meyakinkan.

Cho Sonsaengnim tertawa parau. “Baik darimana? Dia bahkan masuk ke sekolah ini karena di keluarkan dari sekolahnya saat mengacau Olimpiade Matematika Nasional tahun lalu! Membuat malu nama sekolah! Kasihan sekali SMA-nya waktu dulu, meletakkan kepercayaan wakil sekolah pada murid seperti itu, dan sudah saya bilang pada guru-guru, jangan menerima murid itu disini. Saya tidak ingin mengajar murid yang tidak menghargai Matematika sama sekali! Murid yang tidak bisa menghargai jerih payah guru yang setiap hari mengajarinya pengetahuan baru! Dihari pertama saya mengajarnya saja dia sudah mulai berulah! Yang seperti itu mana mungkin anak baik!!”

Aku dan Siwon saling berpandangan dengan sorot keterkagetan yang amat sangat, hingga membuat tubuh kami seakan tersentrum listrik beraliran tinggi.

Olimpiade Matematika?

Wakil sekolah?

Mengacau?

“Maksud anda apa, Cho Sonsaengnim?” tanyaku bingung.

Cho Sonsaengnim tampak agak gelagapan saat itu dan memilih untuk berdeham kecil, “ti-tidak, lupakan saja.”

.

.

.

.

Matematika membuat kamu tidak bisa membedakan mana Cho Kyuhyun, mana Sonsaengnim, dan mana Monster…”

Gyuri melempar batu kecil ke kubangan air kotor, memberikan efek suara ‘plung’ yang dalam saat batu itu menyentuh air. Ia tersenyum parau kemudian berjalan pelan mengitari kubangan itu. Hari ini kami memutuskan pulang bertiga: aku, Siwon, dan Gyuri. Tujuanku jelas karena ingin tahu lebih lanjut maksud ucapan dari Cho Sonsaengnim yang mengatakan kalau Gyuri pernah menjadi wakil di Olimpiade Matematika dan apa maksudnya dengan mengacaukan olimpiade? Aku benar-benar tidak mengerti.

“Lantas kenapa Cho Sonsaengnim tampak tidak suka denganmu? Aku tahu kau banyak sekali berulah, Gyuri… tetapi tetap saja perkataan Cho Sonsaengnim tadi siang di sekolah membuatku dan Kibum jadi ingin tahu… lebih lanjut…” Siwon menghentikan langkahnya dan memutuskan duduk di rerumputan terdekat. Kami bertiga memang memilih melalui jalan belakang sekolah yang masih dipenuhi perkebunan warga.

Gyuri menatap Siwon dengan mata bulat jernihnya. Saat itu juga aku tahu ada sinar gelap yang tersirat di matanya, ada kesedihan yang terpancar disana.

“Percaya tidak, aku ini dulu wakil sekolah lamaku untuk mengikuti Olimpiade Matematika.”

“Eiii…” aku mencibir geli.

“Ck, Kibum kau tidak percaya?” Gyuri berkacak pinggang dan tertawa keras. “Tetapi dihari pelaksanaan Olimpiade Matematika, aku menemukan banyak sekali wakil yang melakukan kecurangan saat mengerjakan soal. Mereka mendapat bocoran jawaban dari berbagai pihak, bahkan dari panitia, dari guru-guru mereka juga….” mata Gyuri menerawang jauh. “Aku pikir, Matematika itu adalah sebuah permainan dimana kita disajikan banyak level dalam setiap soalnya. Aku berpikir Matematika itu mengasyikkan sekali, bukan? Iya sangat mengasyikkan… sangat….”

Terdengar helaan napas berat dari bibir Gyuri.

“Tetapi kenapa ada juga orang yang bermain curang? Kenapa mereka menganggap olimpiade itu seperti ajang untuk menghalalkan segala cara demi mendapatkan nilai tertinggi? Kejuaraan?”

Aku melirik Gyuri yang kini merapikan rambut keriting bergelombangnya yang berayun tertiup angin hingga menutupi wajah. Untuk pertama kalinya sejak sebulan mengenal Gyuri, aku baru menyadari gadis itu ternyata cukup cantik.

Anak baru yang cantik, seperti kata Ryeowook.

“Aku kesal dan memutuskan untuk…,” Gyuri menelan ludah. Aku dan Siwon mendengarnya penuh penasaran. “…aku memutuskan untuk berkelahi dan memukul para peserta yang melakukan kecurangan itu… kau tahu, perkelahian terjadi, di olimpiade paling bergengsi di Korea ini. disaksikan oleh banyak orang, banyak orang tua, guru-guru dari sekolah lain… disaksikan oleh Dinas Pendidikan…”

Kadang kita tidak pernah tahu bagaimana sebuah persepsi kita terhadap seseorang terbentuk. Sama seperti aku yang tidak tau kenapa awalnya aku bisa mempersepsikan Gyuri sebagai gadis preman yang tidak tahu aturan dan suka mencari masalah—dan sama sekali tidak cantik seperti kata Ryeowook dulu. Tapi jika saja aku diberi kesempatan untuk mendengar cerita ini lebih awal, tentu kata-kata ‘perkelahian’ yang diucapkan Gyuri dalam kalimatnya pun tidak mengurangi rasa bersalah yang terlanjur memenuhi hati karena sudah salah mempersepsi dia sebagai gadis tidak baik.

Aku melihat luka dimata jernih itu. Dari gelagat kikuk Gyuri saat menceritakan masa lalunya, saat membuka kartu paling penting yang menjadi tonggak perilakunya selama ini.

“Pihak sekolah malu dan mengeluarkanku dari sekolah… tanpa mau mendengar alasanku. Hampir tidak ada sekolah yang mau menerima ‘pemberontak’—sebutan yang mereka lakukan padaku. Hihihi, menyedihkan bukan? Rasanya ditolak banyak sekolah… padahal dulunya aku sendiri adalah wakil… yang mewakili nama sekolah, yang akan membanggakan sekolah…”

Aku berjalan ke arah Gyuri dan menarik gadis itu dalam pelukanku. Pelukan pertemanan. Persahabatan.

Aku tahu berat sekali menghadapi ini.

“Tidak ada yang tahu seberapa aku mencintai matematika bahkan lebih dari diriku sendiri. Tapi ternyata matematika itu menghancurkan hidupku, bukankah ironis? Dan bahkan guru matematikaku sekarang bersikap amat menyebalkan…hiks, aku… makanya aku benci dengan matematika… hiks, tapi… aku tetap susah benci sama pelajaran satu itu… hiks, hiks, hiks…”

“Gyuri, sudahlah…” suara Siwon terdengar benar-benar lembut dan menenangkan. Pria itu kini beringsut mendekati Gyuri dan menepuk-nepuk kepalanya.

“Hiks, tuh kan aku jadi nangis… kalian sih pakai nanya-nanya soal Matematika segala….” Gyuri berusaha bercanda dengan tertawa kecil, namun saat dilihatnya Siwon ikut menangis dan aku semakin memeluknya erat, pertahanan gadis itu kembali runtuh.

Kami bertiga pun menangis bersamaan, di depan kubangan lumpur kotor, di dekat perkebunan warga, di belakang sekolah.

Aku tidak pernah tahu Matematika bisa lebih mengharukan dibandingkan Drama Korea Baker Kim Tak Goo sekalipun.

.

.

.

.

“Gyuri, Kibum, Siwon! Kalian dari mana? Tahu kan pelajaran saya tidak boleh telat?!” seru Cho Sonsaengnim marah saat kami bertiga menyeret tas kami masuk ke dalam kelas dengan wajah dingin. Dengan baju acak-acakkan dan dandanan orang kurang tidur, kami berjalan menuju bangku masing-masing. Siwon bahkan sempat salah ambil kursi disebelah Kangin sebelum akhirnya sadar dan buru-buru minta maaf sebelum Kangin memukulnya.

“Kami… belajar, Saem.” Jawab Siwon sembari menguap lebar.

“Belajar?” Cho Sonsaengnim memandangi kami satu persatu, “belajar apa? Belajar jadi berandalan?!”

Terdengar suara tawa dari anak-anak sekelas.

“Belajar soal Olimpiade Matematika, Saem.” Ucapku tegas. Membuat Cho Sonsaengnim memelototkan mata ke arah kami. “Sonsaengnim… anda pembina Olimpiade Matematika SMA ini, kan? Boleh kami mendaftar jadi anggota?”

“Kalian…”

“Kami bertiga, Saem…” jawab Siwon, “bertiga dengan Gyuri…”

“Dengan berandalan?” tunjuk Cho Sonsaengnim ke arah Gyuri.

Aku menahan napas untuk tidak balas memaki guru satu ini.

“Ya.”

Cho Sonsaengnim berjalan mendekati meja kami sembari memasang senyum anehnya. Ia meletakkan beberapa buku tebal di atas mejaku dan menepuk-nepuknya. “Kalau gitu kerjakan semua soal yang ada di buku-buku ini dan kumpulkan kepada saya besok, bagaimana? Jika lima puluh persen saja benar, kalian boleh masuk Klub Olimpiade Matematika. Jika tidak, kalian kembalilah jadi murid yang diam dan banyak bertingkah!”

Aku melirik buku setebal dosa itu dengan napas tertahan. Kemarin malam aku memang memutuskan untuk masuk ke Klub Olimpiade Matematika, sesuai dengan kesepakatan Siwon bahwa kami akan membantu Gyuri ‘secara tidak langsung’ agar ia mau kembali mengikuti Olimpiade Matematika. Gyuri bilang ia mau ikut olimpiade itu, jika kami berdua menemaninya ikut.

Entah setan jenis apa yang masuk ke tubuhku, aku langsung mengiyakannya. Sehingga semalaman berusaha mempelajari Matematika Dasar sebagai bahan utama untuk bisa ikut Klub Olimpiade Matematika.

“Gimana kalau jawabnya sekarang aja?” usul Gyuri seraya mengambil salah satu buku di atas mejaku dan membukanya sekilas. “Suatu perusahaan memproduksi 400 satuan barang pada tahun pertama dan menaikkan produksinya tiap tahun dengan 400 satuan. Hitungkan produksi dalam tahun ke-9 dan hasil produksi dalam 9 tahun…” Gyuri tertawa kecil, “eii, ini deret ukur berhingga ya? Pertama kita cari dulu l…”

Aku melihat Cho Sonsaengnim tersenyum samar saat memandangi Gyuri yang kini beringsut menuju papan tulis, lalu mengambil spidol, dan mulai mencoret-coret papan tulis dengan berbagai rumus.

l = a + (n-1) d = a9

= 400 + 8400

= 3600

S= n (a+l)

2

= 9 x 2000

= 18.000

“Jawabannya 18.000. Nah, lantas pertanyaan selanjutnya…”Gyuri kembali mencoret-coret papan tulis dengan asyiknya, tidak memperdulikan tatapan heran bercampur kagum anak-anak lain. Gyuri bagai lupa dengan semuanya dan hanya terpaku dengan spidol di tangannya, serta buku Matematika di tangannya.

“Aku yakin seharian ini kita hanya duduk dan memandangi sang mantan wakil Olimpiade Matematika itu menyelesaikan semua soal di buku…” bisik Siwon.

“Kau salah, Siwon…” aku tersenyum kecil, “dia bukan ‘mantan’, dia itu sang calon wakil Olimpiade Matematika… yang akan mewakili sekolah kita kelak.”

Siwon mengangguk setuju, “amin.”

“Selesai.” Sudah dua jam pelajaran penuh, Gyuri mengerjakan berpuluh-puluh soal, sampai papan tulis hanya berisikan coretan-coretan miliknya tanpa ada celah sedikit pun. Gadis itu  memutar tubuhnya dan mengangkat dagu tinggi-tinggi—gaya khasnya.

Anak-anak sontak melongo kagum. Cho Sonsaengnim menutup kedua tangannya dan menggelengkan kepala tak percaya—ternyata guru galak itu bisa bertingkah seperti Betty La Fea juga -_-

Aku sontak berdiri dari duduk dan bertepuk tangan penuh semengat. Tepukan tanganku memancing anak-anak lain untuk ikut bertepuk tangan. Suara gaduh dan riuh memenuhi kelas. Gyuri menunjukkan cengirannya, dan lesung pipit manisnya.. dia tampak cantik…

ASTAGA, APA YANG KAU PIKIRKAN KIBUM!!! DIA ITU GADIS YANG SAMA SEKALI TIDAK MENARIK SAAT PERTAMA KAU BERTEMU DENGANNYA!!!

“Anda… hebat…” puji Cho Sonsaengnim.

“Tentu saja! Matematika itu…” Gyuri menatap sekeliling, dan saat itu aku pikir Gyuri mengedipkan mata padaku saat berkata, “Matematika itu yang menakutkan hanya di bagian saat… kamu tidak bisa membedakan mana Cho Kyuhyun, mana Sonsaengnim, dan mana Monster…”

Aku melongo

Astaga Gyuri apa yang kau….

“Yaaakkk!!! Gyuri!!! Anak ini benar-benar murid kurang ajaaarrrr!!!” teriakan Cho sonsaengnim menggelegar. Dan pergulatan itu kembali dimulai.

Well, sekarang kupikir Gyuri sudah mau menerima takdirnya sebagai jagoan matematika dan mau kembali berjuang kembali sebagai wakil sekolah, tapi kalau soal masalahnya dengan Cho Kyuhyun—si guru titisan iblis itu… aku mana tahu ah! Sebodo!

.

.

.

.

Eh, Gyuri cantik ya? Ups, Kibum sadaaarrrr!!

-_-

.

.

.

.

END

.

.

.

.

Halooo Sophie in here! Nggak tahu kenapa bikin cerita gaje gini

Ya buat yang udah pernah baca ‘Jangan Bilang Gyuri Tidak Cantik’, dan ‘A Little Gaje Thing Called Yesung’, mungkin udah pada kenal sama pemeran2 ff diatas. Cuma kali ini aku menghadirkannya dalam sudut pandang Kibum. Inilah anggapan Kibum pas pertama kali Gyuri masuk kelas, sama sekali nggak cantik dan seratus delapan puluh derajat dari pikiran Gyuri terhadap dirinya sendiri! Hahaha!!! *digorok Gyuri*

Kritik komen sangat diharapkan ^^

42 thoughts on “[FF/ One Shot/ G/Mission Mathematicssible]

  1. “Matematika itu yang menakutkan hanya di bagian saat… kamu tidak bisa membedakan mana Cho Kyuhyun, mana Sonsaengnim, dan mana Monster…”
    Suka sama kata-kata itu ^ *tawa setan*😀😀😀

  2. Oke eonni sukses bikin aku ngakak gak berhenti baca ni FF -_-
    Btw aku jd teringet guru biologi ku yg killer wkwkwk masa murid
    aja langsung disuruh keluar haahahaha trus kalo gak bisa jawab bakal dimaki habis2an wkwk. Tp dia gak prnh marah sama aku eon soalnya aku anak osn bio wkwk😄 Anehnya guru itu kalo lg ngebimbing tim osn beda banget ama ngajar di kelas -_- di kelas bakal pasang muka judes tp kalo bimbing osn penuh senyuman .-.
    Jd lebih sadis kyu ya wkwk tp pesonanya kyu gak prnh mati :3

    • aduhh sama
      guru biologiku juga killer
      dan kita disuruh ngehapal sebelum pelajaran dimulai
      pas pelajaran dimulai, bakal ditanyain secara acak
      kalo ga bisa jawab disuruh keluar kelas dan nulis sepanjang sepuluh halaman lebih
      bener2 sadis
      untung bgt aku ga pernah kena huhuhuhuhuhu
      tapi ttp aja merinding disko typ pelajaran dia…

      wah guru mu kepribadian ganda tuh *plak

      hasyah pesona kyu dimatiin aja… bosen nih xD

  3. ini si kibumm gila bangeeettt..
    kata2nya normal2 aja..
    tapi klo ditelaah ngehina banget..
    kekekeke…😄
    kasian banget kibum yak?
    cuma dikenal sebagai temennya siwon..
    apes kayanya idupnya..
    ><

    omong2 mbak..
    kalimat ini nih..
    aku rada ga paham..

    "…jadi murid yang diam dan banyak bertingkah!"

    diam, tapi banyak tingkah?
    kok kayanya..
    berlawanan banget yah?
    @________@

    itu aja sih mbak..
    saya bingung mw komen apah..
    speechless dengan POV kibum yang.. super-malang-bin-melas..
    wkwkwkwkw…
    nice FF~~
    XDDDDD

    • kayaknya typo ya itu djiu
      dan sophie kan author malas ngedit *dzzziiig*

      kibum kan yesung wanna be
      jadilah POV dia hancur ina begicuuuu
      akakakakak
      kata2nya kalem tapi jleb yaa

  4. Annyeong….
    Hahaha baru mampir lagi euy…

    Hmmm aku tau sih kalo Gyuri itu bukan couple-nya Kibum, jadi pasti di FF ini kagak bakal ada ceritanya mereka cinta-cintaan. But still, aku kecewa berat saeng mereka kagak jadian atau apa gitu. Hiks…

    Habis lucu ajah kalo tipe cewe kayak Gyuri jadian sama cowo kayak Kibum. Bertolak belakang banget😀

    Aku suka cerita ini, ada matematikanya tapi gak bikin pusing, malah kocak. Dan tambahan, doa-doa yang ‘dipanjatkan’ Kibum beneran bikin aku ngekek hahahaha…

    Well udah ah mau buka puasa dulu, lanjutin nanti baca FF laen *kisseu Sophie saeng*

    • onnie ebenarnya ini ff yang mau aku iktin bluelf waktu itu
      cuma karna stuck saking sibuknya gugur di medan perang deh ni ff, ga selesai sesuai deadline
      hehehe
      astagaaa gyuri jadian ama kibum? buakakakaka eh jangan
      gyuri kan sukanya ama yesung onnie kekeke

  5. aku sih pasti tertekan kalo diajarin matematika sama guru galak kaya begitu -____- cuma ga boleh kurang ajar ky gyuri juga ya hehehe
    aku gak kebayang deh pas ryeowook – yang jenius fisika itu- lari-lari triak-triak bilang kalo ada anak baru yang cantik -____- pasti tampangnya ky ryeowook di attack on the pin-up boys wakakakak
    siwon religius sekali ya, eon, kibum sampe kebawa-bawa wakakak
    pas banget aku baca ff ini, nilai matematika aku di sekolah lagi ancur-ancuran wakakak sepertinya kejeniusan kyuhyun bisa dijadikan motivasi biar nilai aku bagus lagi, eon😉
    aku suka! nyehehehehe

    • buakakakakakakak tebakanmu seratus persen betul
      aku emang bayangin wookie yang disitu
      hahaha
      iya siwon religiusnya ckckckck bikin speechless
      hahaha makasih ya udah baca dan suka

  6. Kya~~!! ada yang baru >3< suka bgt sama karakter gyuri yg dsini hoho ternyata gyuri ini jenius toh xD jiakak~ skrg udh insyaf kali ga terlalu pgn diblg cantik..kemajuan wew~

    woahaha!! kasian siwon+kibum teraniaya~ .-. brasa TKI2 gmana gtu thor..keke

    spt biasa~ good story! author hebat xD daebak!!^^ keke btw chukae ya thor~ udh terbitin novel :3 kya ntar mau beli ah…o ya thor~ yg too young to marry lanjutannya jgn lama2 ya thor~ ya ya ya *_*

    • makasihhhh aku jadi malu di puji terus ih

      siwon ama kibum cocok kok jadi makhluk teraniaaya hahahaha *jahat

      oke ntar di beli di komen yaa kekeke
      wah too young too marry belum nyampe kuota komen yang kuajukan , jadi belum bisa di tulis part selanjutnya *ngeles* kekeke

  7. Wahaha ternyata gyuri benci matematika gara2 itu, demi apa -__- tp berasa dy pembela kebenaran gara2 gebukin tuh yg pada dapet bocoran olimpiade haha xD
    siwon sama kibum kasian amat yak, kalo gyuri bikin masalah pasti dibawa2 haha
    dan hayoo jgn2 yg trakhr itu si kibum mulai suka sm gyuri wkwk😄
    ini ga trlalu gaje ko soph kl dbndingin yg yesung, soalny kibum ga segaje yesung😄
    naiseuuu😀

    • iyaaaaa sebenarnya ini cerita beda bgt ama cerita yesung
      haahahaha sebenarnya pemerannya bukan gyuri
      tpi mau bagaimana lagi aku suka sama gyuri *plak*

      iya dong aku kan sudah mengurangi kadar kegajeanku seiring dengan bertambahnya umur *ihiiir

  8. Ternyta kmen sya tmpo hr gx msuk y?? *Celingak celinguk*
    gajeny dpt, tp Lbh sk yg vsi yesung, mungkn krna yesungny mang aneh, jd gajeny maksimal *? hahaha #plak. Okeh, Dtnggu next epep!

  9. Kak Sophie *sok kenal*, sebelumnya maaf dulu aku jadi sider disini. Tapi, kok rasanya ga enak ya, dan aku memutuskan jadi loud reader aja hehehe dan seharian tadi aku ubek2 ff kaka hehehehe
    I’m seriously become addicted loh. Beneran.
    Ff kaka keren2. Humornya dapet, galaunya ada, romantisnya juga ;A;
    Dan ini juga…….
    FFnya keren huhu minta ilmu nulisnya dong kak.. :3 *sok kenal lagi*

  10. Matematika adalah pelajaran yang membuat kita berpikir kreatif, cepat, dan kritis. Dan jika sudah terdesak, ‘tangan Tuhan’ ada dimana-mana, percayalah… saia bnar2 mengaminkan kutipan cwok terpolos vrs mjalah Times ini wkekeke. . . Aplg pas kta tangan Tuhan ada dimana2 jiahahaha. . .😄
    oh, t’nyata gyuri berulah kyk bgtu krn itu toh, ciee bg bumi (pnggilan syang ke kibum) ehem2 #gaje

  11. unnniieeee kangenn wkwkwkwkwk
    ahahaha ffnya kurang gaje eummm tambahin gaje 10000000000000000000000000000000000000% lagi yayayayayayaya ahahahahah
    kekejaman kyunya kurang kejam *loh? tambah kejam lagi atuh

    • iya aku kan sudah beralih ke author pure 99 persen romantis
      jadi ga gaje deh *kedip*
      *ditampol*

      kenapa ya kyu bisa jadi guru mat? aku juga mikir gitu
      menurutku kyuhyun mmg lebih cocok jd guru filsafat *kebawa ff assalamualaikum kyuhyun-ah*

  12. hahahaha…
    Gurunya se-horor pelajarannya.

    tapi kayaknya pas di a little gaje nya yesung, gyuri feminin deh.
    di sini kok preman?

    btw, di kelas yg ini ada yesungnya ga?
    trus dia masih duduk sama yesung ga?
    hahaha…
    foto ddangkoma dibakar ga?😀

    FF mu terasa lebih eksperimental(?) dari novel mu.
    Tapi dua-duanya tetap keren kok…🙂

    • gyuri kan feminim dari perspektif dia sendiri
      di mata kimbum sama sekali nggak
      haha kimbum agak aneh emang orangnya *ditampol*

      maksdnya eksperimental? ini ff ngasal sengasal2nya lohhh kekeke
      tengkyuuu yang novel itu aku juga ngga nyangka bisa bikin cerita yang kyk gitu
      :DD

  13. asalmula gyuri benci dgn matematikany,..
    dasar gyuri pmbuat masalah,..
    ckckckc,..
    kasian siwon n’ siwon si anak polos,..
    ooo, jd ini ad hbngany sm cerita lma ya,..
    ‘Jangan Bilang Gyuri Tidak Cantik’, dan ‘A Little Gaje Thing Called Yesung’
    kirain td cerita bru,..
    ckckckckc,..
    bkalan ngubek2 lgi nyari 2h ff,..
    ckckckck,..
    ap kibum bakaln suka am gyuri 2h,..
    ah, matematika,..
    i love matematics,..
    haahaha,..
    d’tunggu karya lainny,..
    fightinf sophie,..🙂

  14. Gyuri Keren!!

    haha jd inget jaman sekolah gue jg benci matematika. Bkn krn pnya knangan bruk sm olimpiade atau grunya tp krn emang otak sy yg gk pernh sinkron sm mapel terkutuk yg stu ini :p

    suka karakter’a wook dsni. O’on2 menggemaskan ><

  15. Hiyahahahaha….
    Tetep ya sophie…
    Aku selalu ngakak pas baca FFmu yang berhubungan ama Gyuri…
    Tapi OLIMPIADE… #sepertinya kau lagi demen ama olimpiade ya sophie???

    Hiyaaa… aku ga tau rumus2 diatas. jadi bagian itung-itungan aku skip. kekekeke

    Hayukkk bikin ff gyuri lagi dari versinya Kyu. kekekke

    Hahahahaha….
    FF kamu jadi obat stress saya lho sophie gegara saya pusing ama tugas kuliah yang menggunung. kekekek

    • sebenarnya ini aku bikin pas lagi refreshing dari Angan
      tapi ujung2nya malah nyangkut ke pelajaran lagi kekeke
      aduhhh jadi apa gyuri di mata kyu? tambah nista banget tuh cewek ntar
      kekekeke

      seneng deh kamu suka cerita ku
      oh ya minta pw di blog mu dooong

Just talking...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s