[FF/ One Shot/ S/ PG-17/MAYDAY? MAYDAY!!]

Judul : MAYDAY? MAYDAY!!

Author : Sophie Maya

Cast : Sungmin Super Junior as himself, Na Eun A-Pink as Yoonji, Jiyeon T-ara as Jiyoon, Suzy, Seungri, Taeyeon and many more as…. u will know later

Genre : unknown? Hahaha, i think its complicated romance :p

Length : (Just Oneshot)

Disclaimer : Sungmin isnt Mine, Yoonji is Mine and Tika’s. This story is MINE.

Summary         : “Jika kau mati, maka aku akan mati. Tapi jika aku mati, kau akan baik-baik saja. Percayalah…”

“Siapa nama gadis itu?”

“Jiyoon. Shin Jiyoon. Hampir sama dengan namamu, bukan? Aku benar-benar pintar memilih gadis.”

“Kau memilih gadis yang mirip denganku, ani, maksudku namanya mirip denganku? Sengaja atau ketidaksengajaan?”

“…menurutmu?”

“Aih, kau pasti sengajaaaa…”

“Hahaha, mana mungkin sengaja. Aku tidak sengaja bertemu dengannya, tidak sengaja pula jatuh cinta dengannya, dan yang lebih tidak disengaja lagi namanya cukup mirip denganmu. Hihihi…, ini menarik. Aku ingin tahu apa gadis ini benar-benar bisa menyamaimu, paling tidak aku ingin dia menjadi sainganmu.”

“Maldoooo…andwaeee…. lalalala… mana mungkin ada seorang gadis di dunia ini yang bisa mirip denganku… weeekkkk!!”

“Hahaha, mungkin sajaaaaa lalalallaa… mungkin sajaaa…, Shin Yoonji! Hahahahaaa!!”

Yoonji menghela nafas. Lagi. Untuk kesekian kalinya dalam satu jam ia duduk di pelataran berubin hitam pekat dengan tiang-tiang berpelitur di sisi kiri kanannya. Tangannya terlipat rapi dan diletakkan diatas lututnya yang sengaja ditekuk hingga menempel pada dagu. Sudut matanya menangkap sosok Suzy dalam balutan baju hitam berbahan perban atau tissue toilet? Entahlah, mode yang dikenakan gadis itu tampak aneh akhir-akhir ini. Terutama lagi dengan rambut panjang pirang yang selalu dibanggakannya itu semakin membingungkan saja bentuknya.

“Tatapanmu bisa membunuhku, Yoonji.” Suzy melirik kesal Yoonji. Tangan rampingnya menyibak rambut panjang itu dengan penuh hati-hati. “Katakan, pasti ada kau ada masalah dengan si bodoh Sungmin itu?” Suzy berjalan mendekat ke Yoonji dan mendudukkan pantatnya disebelah gadis itu. “Aku benar kan?” tebaknya sambil memasang wajah serius.

Yoonji menggeleng dan tertawa. “Deng ding dong! Salah…”

“Masa salah?” Suzy menggoyang-goyangkan rambutnya dengan gaya ala gadis bintang iklan shampo. Seandainya gadis itu bukan merupakan bagian terpenting disini, Yoonji tentu penuh keikhlasan akan memberi Suzy pelajaran atau kalau perlu mendepaknya dari tempat ini.

“Kau tidak pintar meramal, itu bukan kepribadianmu.” Ledek Seungri yang tahu-tahu muncul di balik punggung Yoonji sambil memain-mainkan tongkat besi kesayangannya. Seperti biasa, Seungri bocah sok tahu sok indigo dan sok suka muncul dimana-mana—sejujurnya Yoonji agak kesal sekaligus iri dengan kemampuan Seungri satu ini.

“Lantas apa?” Suzy pura-pura tertarik, atau tertarik beneran, entahlah. Yoonji selalu menganggap segala bentuk ketertarikan Suzy terhadap sesuatu adalah bentuk promosi kecantikan yang diam-diam dilakukan gadis itu. Suzy selalu menganggap gadis yang cantik adalah gadis yang ‘nyambung’ diajak bicara siapapun. Alasan konyol memang, jadi silahkan saja tertawa.

Seungri memandang Yoonji lekat-lekat, memantau lekuk wajah Yoonji sembari menyeringai jahil. Yoonji tahu sedetik saja Seungri menatap wajahnya, didetik itu pulalah pria itu bisa menebak apa yang tengah ia pikirkan. Inilah susahnya berteman dengan orang indigo. Yoonji ingin tukaran teman saja dengan Seungri Big Bang yang tampan itu, daripada Seungri yang ini. Yang menyebalkan sekali.

“…. ah, lagi-lagi karena Jiyoon.” Seungri sepertinya sudah membaca pikiran Yoonji. Pria itu menghempaskan tubuhnya di teras lantai dan menatap kelabu yang menggelantung di langit-langit. Bibirnya terlihat manyun ke depan.

“Jiyoon?” Suzy menjentikkan jarinya. Siapa yang tidak tahu nama itu? Nama yang benar-benar terkenal disini. “Kenapa lagi dengan wanita rese itu?” cecarnya kesal.

“Tidak ada yang salah dengan dia.” Yoonji menahan tawa mendengar Suzy menyebut Jiyoon dengan ‘wanita rese’. Diam-diam ia mengakui ucapan Suzy ada benarnya. “Sungmin hanya tidak boleh aku muncul saat ia lagi dengan Jiyoon. Dan ia menyuruhku menjaga kalian semua agar tidak muncul.” Ketus Yoonji.

“Wow, diskriminasi sekali.” Sinis Taeyeon yang hampir sama dengan Seungri, tahu-tahu muncul di belakang mereka dan ikut nimbrung. “Aku memang tidak suka dengan gadis itu sejak Sungmin mengenalnya. Gadis itu terlihat…” Taeyeon menimbang-nimbang sesaat, “…mengerikan…”

Yoonji tersenyum. Taeyeon benar, Jiyoon memang agak… err, mengerikan. Sayang pendapatnya yang kali ini amat berbenturan dengan pendapat Sungmin.

.

.

.

.

“Oppa, kau mau minum apa?”

Jiyoon meletakkan cangkir kosong di depan Sungmin dan mengambil dua buah teko di tangan kanan dan kirinya. “Teh atau kopi?”

“Teh.” Sungmin meraih teko berisi cairan cokelat bening di tangan kanan Jiyoon dan menuangkan isinya ke cangkir. Harum panas teh menguar masuk ke hidungnya. “Ada apa mengajakku bertemu begitu tiba-tiba? Apa ada yang ingin kau tanyakan? Atau sekedar kau nyatakan?” Sungmin sengaja memainkan kata-katanya, berharap itu bisa menjadi lelucon bagi Jiyoon. Berharap agar gadis itu tertawa sehingga tidak menambah kegugupan dan ketakutan yang melanda pikiran Sungmin.

Jiyoon menatap Sungmin lekat. Bola mata indahnya berpendar dan seakan ingin masuk lebih dalam pikiran Sungmin.

“Oppa, kemarin waktu di Lotte World—“

“Kemarin waktu di Lotte World aku benar-benar di luar kendali, maafkan aku, Jiyoon… euhhh… kuharap… kuharap kau mengerti alasan aku melakukan itu.” Potong Sungmin cepat, dan penuh gugup.

Jiyoon memasang senyum tipisnya. “Oppa, gotjimal…

Sungmin menegakkan kepalanya. “Mworago…?”

Gotjimal…” Jiyoon meletakkan cangkirnya di atas meja dan duduk menghadap Sungmin, lebih mendekatkan wajahnya ke wajh pria itu. “Oppa… kau…” Jiyoon menoleh kekanan, entah apa maksudnya. Ia lalu kembali menatap Sungmin dan mengecilkan suaranya. “…aku tahu kau punya kepribadian ganda…. kau punya alter, iya kan, Oppa?”

Prakk.

Sungmin terdiam. Tanpa sengaja ia sedikit membanting cangkirnya ke meja hingga beberapa tetes air jatuh ke taplak meja bermotif bunga krisan. Tangannya ragu ingin menyentuh pundak Jiyoon untuk sekedar menenangkan deru nafas gadis di depannya yang terlihat mulai memburu, terlihat gelisah, dan agak kecewa. Hampir sama dengan Sungmin, ia juga merasakan hal serupa. Bahkan lebih dari yang dirasakan Jiyoon. Segala ketakutannya terbukti sudah.

“Bagaimana…?”

“Aku bisa tahu?” Jiyoon menebak pikiran Sungmin tepat sasaran.

Sungmin ragu-ragu mengangguk.

“Oppa apa kau lupa aku ini mahasiswi psikologi?” tekan Jiyoon. “Aku jelas tahu hal ini. tapi kenapa kau tidak pernah memberitahunya padaku? Dan hei, Oppa, kau bahkan sadar bahwa kau ini berkepribadian ganda dan kau tidak melakukan apapun?!” seru Jiyoon.

Sungmin terdiam.

Jiyoon menghembuskan nafas. “Aku sudah curiga dari awal, Oppa. Kau terkadang terlihat seperti orang yang kukenal… tapi terkadang tidak. Dan kemarin saat kita kencan di Lotte World, aku sudah menemukan jawabannya sendiri dari altermu yang bernama Yoonji itu.”

“Yoonji mengatakannya padamu?” Sungmin terlihat kaget. Jiyoon hanya mengangguk pelan.

Sungmin menarik napas dalam-dalam. Biasanya tidak akan ada orang yang tahu jika ia punya alter yang suka mengambil alih tubuhnya, tidak ada orang yang tahu bahwa ia berkepribadian ganda.

Ya.. Sungmin memang punya masalah dengan kepribadiannya yang suka berubah-rubah. Dalam beberapa waktu saja, ia sudah bisa menjadi ‘orang lain’ yang amat berbeda dari dirinya yang asli.

Dan anehnya, ajaibnya, mungkin satu-satunya kasus kepribadian ganda yang berbeda dari lainnya yang ada didunia. Sungmin sadar sepenuhnya ada ‘orang lain’ yang menghuni tubuhnya selain dirinya, yang membuat sifatnya terkadang amat bertolak belakang. Orang-orang disekitarnya mencap Sungmin moodysuka berubah-ubah. Satupun dari mereka tidak tahu bahwa sebenarnya saat Sungmin ‘tampak berbeda’ itu karena tubuhnya memang tengah dihuni oleh sesuatu yang lain. Jelas saja, kasus kepribadian ganda sering dianggap remeh dan sekedar akal-akalan saja, oleh masyarakat awam.

Alter sendiri adalah istilah untuk kepribadian lain selain kepribadian asli, bisa dibilang bayang-bayang kepribadian kita. Sungmin tahu ia punya banyak sekali alter di tubuhnya, puluhan… ratusan… ribuan.. bahkan mungkin jutaan. Tapi alter yang paling terkuat diantara semua alter itu adalah Yoonji, yang bisa… istilahnya… merasuki Sungmin. Mengambil alih tubuh pria itu dan bertindak sesuai yang Yoonji inginkan. Awalnya Sungmin merasa kesal dengan Yoonji karena ia dianggap aneh oleh orang-orang, tapi lantas Yoonji selalu membantunya dalam hal apapun.

Yoonji alter yang sangat kuat, dan ia sangat baik. Ia membantu Sungmin yang pemalu untuk ikut audisi apapun, untuk sekedar memberanikan diri mengangkat tangan menjawab pertanyaan guru, atau sekedar menyatakan keinginannya masuk Super Junior—yang awalnya ditentang keluarganya.

Yoonji yang melakukan itu semua. Tingkat kepercayaan diri berlebihan dari Yoonji membuat Sungmin bisa melakukan hal-hal tak terduga.

Satu lagi keunikan kasus kepribadian ganda Sungmin adalah, ia bisa bebas berkomunikasi dengan Yoonji di sebuah ruang bernama hati nurani—kata Yoonji itu nama ruang yang menjadi wilayah kekuasaannya. Tapi hanya dengan Yoonji, tidak dengan alter lain. Karena alter lain tidak cukup punya kekuatan untuk berbicara dengan sang pemilik tubuh sesungguhnya. Sungmin hanya mendengar beberapa alter yang biasa Yoonji ceritakan, ada Suzy alter suka ikut campur masalah orang lain, atau Seungri si alter indigo, atau Taeyeon alter sinisme. Ada banyak alter lain, tapi mereka begitu lemah dan jarang berbicara dengan Yoonji saking takutnya.

Yoonji memang seperti pemilik kekuasaan alter-alter di tubuh Sungmin.

“Aku kemarin hanya iseng mengajakmu naik bianglala, aku tahu kau takut ketinggian… tapi kau berani. Dan selama di bianglala.. sikapmu berubah padaku.” Jiyoon memecah keheningan yang melanda. Sekaligus membuyarkan lamunan Sungmin barusan.

Sungmin mengernyit, “Bianglala?”

Ah, Sungmin ingat! Ia benar-benar ketakutan waktu diajak Jiyoon naik bianglala kemarin, dan langsung merengek pada Yoonji agar menggantikan dirinya. Sungmin mendorong Yoonji keluar menggantikannya sementara ia bersembunyi di dalam tubuhnya, menghindari rasa takutnya.

“Apa yang dia—ah, Yoonji ucapkan?”tanya Sungmin hati-hati.

Jiyoon tersenyum. “Dia tahu aku adalah psikolog, dan karena itu dia menceritakan semuanya padaku. Dan ia ingin agar kau bisa memilih gadis yang terbaik…” Jiyoon menghentikan ucapannya sesaat, matanya menatap tajam Sungmin. “Aku tidak suka dengan Yoonji—dia menganggapku gadis tidak baik. Aku marah dan aku meninggalkanmu di Lotte World.”

Sungmin sudah tahu cerita ini. Yoonji sudah menceritakannya. Tapi ia tetap saja masih tidak percaya alter kepercayaannya itu akan bertindak sejauh ini. Sungmin sudah ketakutan Jiyoon akan membahas hal ini, dan ternyata benar kan?

“Jiyoon-ah…, kau tahu… aku mencintaimu…” ucap Sungmin pelan. Tersenyum semanis yang ia bisa, meskipun ia bingung sekali dengan keadaan serba aneh ini.

“Aku juga, Oppa. Aku mencintaimu…” Jiyoon mengusap pipi Sungmin lembut. “Tapi aku membenci keperibadianmu yang bernama Yoonji itu…”

.

.

.

.

“Kau… sebegitunyakah mencintai, Jiyoon, euh?”

“Dia sudah kuanggap jiwaku, Yoonji-ah…”

“Ck, menggelikan sekali kau ini. Kau sebegitu butanyakah melihat gadis bernama Jiyoon itu hingga rela melakukan apapun demi dia? Kau bahkan sama sekali tidak lagi memberiku kesempatan untuk keluar dan memakai tubuhmu sejak kejadian Lotte World itu. Salahku kalau akhirnya Jiyoon tahu siapa kau sebenarnya? Dia terus mendesakku, aku tidak bisa berbuat apapun kecuali mengakuinya!!”

“Jaga ucapanmu, Yoonji-ah! Aku memang mencintai Jiyoon.. dan kau sudah tahu kan, aku akan menjatuhkan pilihanku padanya. Dimasa depan nanti, aku akan menikah dengannya, dia akan menjadi ibu dari anak-anakku. Jelas sekarang aku ingin melakukan yang terbaik untuknya, apa itu salah? Pikiranmu sempit sekali, Yoonji. Kau hanya berpikir untuk terus menggunakan tubuhku!! Iya kan??!”

“Mwo?! Menggunakan tubuhmu?! Kau berpikir aku seperti ITU??”

Yoonji mengatupkan rahangnya keras-keras. Menahan rasa sakit yang masuk hingga menyerang sistem kekuatan tubuhnya. tangannya meraih udara, mencari-cari pegangan tiang yang bisa digunakan untuk menopang tubuhnya yang semakin lemah. Wajahnya jelas terlihat pucat, pakaiannya semakin lusuh, dan bahkan kepalanya semakin pusing karena kebanyakan menangis.

Semalam ia bertengkar dengan Sungmin. Masalah Jiyoon lagi. Jiyoon. Jiyoon. Jiyoon! JIYOON MELULU!!

Kali ini Sungmin meminta permintaan paling berat sepanjang hidup Yoonji.

Sungmin ingin Yoonji dan alter-alter lainnya menghilang dari tubuhnya… atau paling tidak, tak akan menampakkan diri lagi.

Ini sebuah penghinaan terbesar bagi Yoonji.

Selama ini ia merasa sudah menjadi bagian dari tubuh Sungmin, membuat pria itu selalu bisa melakukan apapun dengan sebaik mungkin.

Ini sebuah permintaan paling berat.

Sulit melepas keinginan Yoonji untuk tetap tinggal di tubuh Sungmin, karena pria bodoh itu acap kali membuat keputusan tanpa berpikir ulang yang berakibat mencelakakan dirinya.

Yoonji selalu ingin melindungi Sungmin sesusah apapun, bagaimanapun susahnya. Tapi sepertinya Sungmin yang sekarang tidak lagi mengerti niat tulusnya.

“Aku…dibilang… hanya ingin menggunakan tubuhnya….” Yoonji tertawa pelan, jelas ada nada sedih dalam tawanya. Ia hendak berdiri tegak tapi tubuhnya yang semakin lemah membuatnya justru terjatuh di lantai dingin dan kelam.

“…. menyedihkan, hiks…” tangan Yoonji mengepal lemah, memukul-mukulnya tanpa tenaga ke lantai. Lagi-lagi Yoonji mengeluarkan air mata menangisi betapa ingin ia bertemu dengan Sungmin dan menjelaskan semuanya, membuat Sungmin mengerti keadaan yang sesungguhnya.

Sayang, berkali-kali ia memanggil Sungmin, tidak terdengar jawaban darinya.

Sepi….

Di ruangan ini sepi….

Di dalam tubuh Sungmin yang hangat ini, ada kedinginan beku yang menyergap.

“Apa kita akan menghilang…?” Suzy yang sedari tadi bersembunyi di sudut ruangan menatap Yoonji penuh khawatir. Ia tidak berani mendekati gadis itu, dengan keadaannya yang serba berantakan, jelas Yoonji menolak didekati siapapun.

Para alter lain menurut dan hanya menatap Yoonji dari jauh. Mereka sama cemasnya dengan Yoonji. Mereka tahu apa yang tengah dipikirkan Yoonji saat ini, dan mereka berharap itu tidak akan jadi kenyataan. Semoga tidak.

“Gadis bernama Jiyoon itu keterlaluan. Bagaimana bisa ia tidak menerima Sungmin apa adanya?” Taeyeon berdecak sebal, setengah iba saat seketika itu juga terbayang apa yang mungkin saja bisa terjadi disini.

“Cinta itu memang buta.” Sambung Seungri tanpa bermaksud apa-apa. “Dan sayangnya cinta itu membuat Sungmin sepertinya akan kehilangan alter kesayangannya…”

Suzy menoleh pada Seungri dengan senyum cemas. “Aku benci mendengar ada yang mengatakan itu, tapi itu memang benar.”

“Jika Sungmin tidak lagi menginginkan ada alter yang bisa menguasai tubuhnya… maka semua alter-alter akan mati… terkubur untuk selama-selamanya. Sesuai kehendak sang pemilik tubuh.” Seungri menarik nafas pelan. Menepuk bahu teman-teman sesama alter. Seungri yakin, dalam diam para alter itu tengah berdoa untuk hari paling buruk yang sebentar lagi akan menimpa mereka.

.

.

.

.

Flashback.

“Kau ingin aku APAA???!!” Sungmin membulatkan mulut tak percaya saat pagi ini Jiyoon datang ke asrama Super Junior dengan membawa sebuah map berisi surat rujukan rumah sakit.

Para member Super Junior hanya menatap Sungmin dan Jiyoon dari jauh, enggan mendekat karena berpikir pasti ada masalah pribadi yang tengah mereka berdua bicarakan.

“Kita harus ke psikiater.” Ucap Jiyoon sambil membolak-balikkan surat rujukan itu pada Sungmin dan menjelaskan apa saja yang harus dilakukan pria itu di tempat psikiater nantinya.

“Kau ingin aku menghilangkan alter-alterku?!” jerit Sungmin kaget, tapi ia buru-buru menutup mulutnya karena ia tidak ingin ada member Super Junior yang tahu. sejauh ini, mereka menganggap Sungmin normal dan kepribadiannya beres-beres saja. Sungmin tidak ingin mereka curiga jika mengetahui ia akan pergi ke psikiater.

Jiyoon mengangguk semangat. “Aku masih belajar, jadi aku tidak yakin bisa menghilangkan dan menggabungkan mereka menjadi keperibadian utuh. Kurasa kita butuh psikiater handal untuk melakukan hal ini.” Oke, Jiyoon agak berlebihan sekarang. Setelah kemarin Sungmin membuka rahasia terbesarnya pada Jiyoon, kini gadis itu malah seakan membujuknya pergi ke psikiater, memeriksakan diri atau apalah itu yang pasti: bisa menyebabkan alternya hilang.

Sungmin menatap Jiyoon tak berkedip. “Aku tidak mau melakukannya.”

“Kenapa?” Wajah Jiyoon berubah mengeras. “Oppa, mereka sudah mengganggumu… arra?”

Sungmin terdiam. Merasa perkataan Jiyoon ada benarnya, meskipun tak sepenuhnya. Terkadang ia merasa seakan tidak bisa bebas dengan tubuh ini karena ada Yoonji yang terkadang mengambil alih tubuhnya, tapi Sungmin juga merasa Yoonji tidak sepenuhnya salah. Yoonji justru banyak membantunya melewati masa-masa sulit dan berbagai kejadian yang tidak ia inginkan.

Jadi bagaimana?

“Kuberi kau waktu satu hari untuk berpikir dan berbicara dengan altermu itu, Oppa.” Wajah Jiyoon melunak. Ia menepuk bahu Sungmin penuh kasih sayang, hingga membuat semua beban Sungmin seakan hilang tak berbekas, “Oppa…, apa kau pernah dengar istilah ‘alter itu sebenarnya hanya ingin memanfaatkan tubuh pemiliknya saja?’”

Flashback end.

.

.

.

.

Kyuhyun menatap Sungmin penuh curiga. Dua jam sudah berlalu tapi hyungnya itu tidak lelah-lelahnya berjalan mondar-mandir dari ruang tamu sampai dapur asrama sembari menggumamkan sesuatu yang tidak jelas. Kyuhyun paham Sungmin orangnya moody, kadang suka bertingkah aneh dan tidak sewajarnya. Kadang Kyuhyun melihat Sungmin begitu tenang dan pendiam, tapi kadang juga amat periang dan humoris. Sesuai dengan orang lainnya, Kyu ikut menjuluki Sungmin sebagai si moody.

Tapi kali ini ada yang aneh dengan hyungnya, jauh lebih aneh dari segala tingkah anehnya selama ini.

Sungmin terlihat punya masalah cukup berat, dan mungkin memang berat, atau bahkan sangat berat. Wajah hyungnya terlihat frustasi dan kusut. Bajunya lusuh dan konsenterasinya selalu buyar jika diajak berbicara latihan konser. Pandangannya benar-benar tidak fokus dan seperti orang kehilangan jiwanya.

Kyuhyun hanya berdiri diam menatap Sungmin tanpa mau bertanya. Ia pikir itulah jalan terbaik daripada terlalu ikut campur masalah Sungmin.

Dan penantian Kyuhyun berbuah juga saat akhirnya Sungmin memutuskan duduk disebelahnya dan langsung menyender nyaman di bahu Kyu. Kebiasaan Sungmin kalau ia sudah benar-benar penat, menggunakan bahu dongsaeng kesayangannya untuk sekedar berbagi kesulitan. Dan Kyuhyun menerimanya dengan senang hati. Selama ini hanya Sungmin yang bersikap biasa saja dengan sikap nakalnya, jadi Kyu pun mentolerir semua sikap aneh Sungmin. Hubungan timbal balik yang menguntungkan.

“Aku mau bertanya.” Sungmin mendesah panjang sembari meregangkan otot-otot lehernya. “Mana yang kau pilih…” Sungmin terdiam lama.

“Apa pilihannya?” bisik Kyu datar. Tapi jelas ada bentuk perhatian di nada suaranya.

Sungmin tersenyum tipis. Mulai merasa nyaman dan bisa membuka diri. “Seorang gadis yang kau cintai… atau seorang gadis yang selalu bersamamu setiap saat?”

Kyuhyun tertegun mendengar pertanyaan Sungmin. Butuh waktu lama untuk memikirkan apa maksud ucapan Sungmin. Apa hyungnya ada masalah dengan Jiyoon atau apa? Atau hubungan mereka tidak direstui atau apa? Pertanyaan itu berputar-putar di otak Kyuhyun.

“Yang mana, Kyu?” tanya Sungmin lagi.

Kyuhyun mengerutkan kening sebentar. “Ini pilihan paling mudah, hyung…”

Sungmin melirik Kyu kebingungan.

“Mudah sekali malah.” Kyuhyun tersenyum lebar. “tanyakan saja di dalam ruang hati nuranimu, hyung. Hati nurani tidak pernah berbohong.”

Perkataan Kyuhyun membuat Sungmin terpaku, bukan karena ucapannya yang tumben-tumbenan benar dan terdengar baik—karena selama ini baik ucapan maupun perbuatan Kyu diragukan nilai kebaikannya.

Tapi ucapan Kyuhyun kali ini membuat Sungmin teringat sesuatu yang sudah ia lupakan berhari-hari.

Ruang hati nurani….

….bukankah itu ruang singgasana alter kesayangannya?

.

.

.

.

“Kau serius menyuruhku ikut audisi SM? Kau gila?” Sungmin menjerit kaget saat Yoonji menggerakkan tubuhnya menuju pendaftaran audisi SM Entertainment. Sungmin bagai boneka kayu yang digerakkan secara paksa oleh sel-sel tubuhnya sendiri—yang ironisnya tidak bisa dikendalikannya.

“Kau punya suara bagus, tampang bagus, dan hanya kepribadianmu saja sih yang kurang bagus.” Teriak Yoonji entah menyemangati atau membuat Sungmin tambah minder.

Sungmin menggeleng cepat. “Aniya! Kau gila, Yoonji! Aku orangnya gugupan kalau ada di depan orang! Nanti yang ada aku tidak bisa nyanyi saking gugupnya!”

“Aish, kan ada aku! Nanti kalau kau takut, biar aku yang nyanyi! Setidaknya pita suaramu bagus dan aku bernyanyi asal-asalanpun sudah terdengar merdu!” Yoonji ngotot membawa Sungmin mendekat stand pendaftaran, sementara Sungmin berusaha melarikan diri dari tempat itu secepatnya. Orang-orang yang tidak mengerti pasti menganggap Sungmin sudah gila. Tubuh pria itu seakan tengah ditarik kedepan dan ke belakang oleh sesuatu yang tidak terlihat, hiii…

“Kau ini ya, tidak bisa dibilangin!” Yoonji menggeram kesal dan penuh kekuatan mendorong Sungmin hingga terperosok masuk ke dalam basecamp para alter, hati nuraninya. Yoonji tersenyum puas dan langsung menguasai tubuh Sungmin sepenuhnya. Berjalan angkuh menuju stand pendaftaran audisi dan mengambil formulir pendaftaran. Sesekali ia menebar senyum pada para juri yang kebetulan lewat, ia tahu ada Lee Soo Man, Kangta, dan beberapa staff SM lainnya.

“Lihatlah, Sungmin… aku akan membuatmu terkenal. Bukankah menjadi terkenal itu menyenangkan?” Yoonji terkikik sendiri saat mengisi formulir itu, mengabaikan jeritan putus asa Sungmin yang sama sekali tidak ingin ikut audisi. Percuma saja, Yoonji tidak akan mendengarkannya!

Sungmin tersentak bangun dengan keringat bercucuran membasahi tubuhnya. diliriknya jam di dinding, masih jam tiga malam. Dan ia sudah dikejutkan dengan berbagai mimpi buruk yang silih berganti datang. Dalam kegelapan kamarnya Sungmin bisa melihat Kyuhyun yang tidur menyebelahinya, tengah mendengkur pelan sembari memeluk guling. Matanya juga menangkap beberapa foto antara dirinya dan Kyuhyun yang sedang melakukan berbagai hal, entah itu bercanda, tertawa, latihan di studio, jalan-jalan ke sebuah tempat, atau apapun.

Sungmin tersenyum. Satu yang semua orang tidak tahu, wajah Sungmin di foto itu bukan dirinya. Yang berfoto bersama Kyuhyun itu bukan dia. Lantas siapa? Tentu saja Yoonji! Si alter nakal itu suka sekali diam-diam mengajak jalan Kyuhyun dan melakukan apapun dengan pria itu. Dasar! Sungmin tahu Yoonji tertarik pada Kyu, karena Kyu hampir punya sikap yang sama dengannya—sama-sama jahil, kurang ajar, dan tidak mau diatur! Haha. Mereka seperti kedua sahabat yang tidak bisa dipisahkan. Mungkin sama—sama seperti Sungmin sendiri yang tidak bisa memisahkan dirinya dari Yoonji…

“Dia bahkan lebih dari sekedar alter…” helaan nafas berat keluar dari bibir pucat Sungmin. “Tapi kenapa juga ia tetap tidak bisa lebih dari sekedar alter…? Argh.” Sungmin menenggelamkan kepalanya. Entah apa yang tadi baru ia ucapkan. Ia pasti masih mengigau, masih mengantuk, sehingga meracau tidak jelas seperti itu. Ugghh..

.

.

.

.

Yoonji tersenyum bahagia saat hari ini Sungmin memanggilnya keluar, menggantikannya lagi.

Ingin rasanya ia bersujud syukur dan memeluk tubuh Sungmin—meskipun itu berarti ia memeluk tubuhnya sendiri.

Sungmin sudah tidak lagi marah padanya, tidak lagi berdiam diri dan menyiksa perasaannya ini.

Yoonji baru saja hendak berterima kasih tepat ketika ia membuka mata dan sosok yang dilihat di depannya justru Jiyoon—bersama seorang laki-laki tua berpakaian putih-putih.

“Kau!” Yoonji menunjuk Jiyoon penuh amarah. “Kenapa kau ada disini?!” bentaknya kasar.

Jiyoon tersenyum tipis. Matanya mengerling pada laki-laki disampingnya. “Dokter Park, ini Yoonji. Yang tadi itu Sungmin.”

Yoonji menatap tak mengerti pada Jiyoon. Matanya berputar ke sekeliling ruangan yang tampak asing. Sebuah ruangan kecil serba putih dengan sofa kecil yang tengah ia duduki, kursi plastik yang diduduki Jiyoon dan sebuah meja kecil disudut ruangan.

“Ini ada apa?” tanya Yoonji bingung.

“Wow wow wow… kau tidak tahu apa-apa?” Jiyoon memasang wajah kaget yang terlihat menyebalkan dimata Yoonji. “Apa Sungmin Oppa tidak memberitahukannya padamu, Yoonji… alter yang sok kuat…?” ada nada mengejek disana.

Yoonji memalingkan wajah. Perasaannya campur aduk. Bingung, sedih, marah, kecewa, sakit… entahlah, ini tidak bisa dijabarkan secara jelas. Semua terasa menyesakkan didadanya.

“Kau sudah terlalu lama bermukim di tubuh Sungmin Oppa. Kau dan semua alter-alter itu harus dilenyapkan…”

Yoonji terkesiap. “Dilenyapkan?” suaranya terdengar parau.

“Dan difusikan, digabungkan.” Lanjut Jiyoon. “Iya kan, Dokter Park?” Jiyoon menatap laki-laki disampingnya.

“Aku tidak ingin ada alter sepertimu ditubuh orang yang aku cintai.” Jiyoon tersenyum. Yoonji bersumpah senyum sinis Taeyeon bahkan jauh lebih indah dibanding senyum Jiyoon.

“Aku dan Sungmin—dan semua alter-alter itu, kami adalah satu.”

“Kau benar-benar percaya diri,”

“Memang begitu keadaannya. Aku dan Sungmin itu tak bisa dipisahkan.” Yoonji membusungkan dadanya.

Jiyoon tersenyum lagi. “Tapi maaf, Yoonji… sekarang kau tengah berada di rumah sakit, di tempat psikiater. Kau sekarang harus dilenyapkan… Sungmin yang menghendakinya, maaf ya.”

“Sungmin?” Yoonji terdiam. Dan Jiyoon mengangguk.

“Nak, kau kuberikan obat penenang ini dulu… supaya kau tenang.” Dokter Park memberikan sebuah tablet pada Yoonji. “Memang pria yang bernama Sungmin lah yang menyatakan dengan sendirinya kalau ia ingin bisa berdiri lagi tanpa bantuan alter-alternya. Saya harap anda sebagai alter bisa mengerti…”

Yoonji melongo tak percaya.

Sungmin? Pria itu? Jadi itu maksudnya memanggil Yoonji keluar?!

.

.

.

.

Sungmin-ah…

Aku tidak bisa bernapas, mayday? YES, MAYDAY!

Hatiku terasa sakit sekali, seperti ditusuk pedang … benar-benar sakit…

Waktu akan berlalu dan melayang terbang, apa kau bisa mendengar panggilanku, Sungmin-ah?

Pernahkah kau berfikir untuk melihatku sekali saja dengan seluruh matamu? Benar-benar matamu… semuanya… dengan jelas, bisakah?

Aku tidak bersinar terang, tidak tampak secantik bidadari, dan aku memang berbeda dari semuanya

Sungmin-ah…

Aku hanya seorang Yoonji yang menangis seperti orang bodoh, diruangan gelap setiap hari setiap malam…

Aku tahu meskipun kita satu, kau tidak akan pernah mengerti hatiku, selama apapun kita bersama, ya kan?

Aku tahu aku terlihat benar-benar seperti gadis yang hilang harapan…

Tapi kumohon, selamatkan aku…

“Apa yang kau lakukan pada Yoonji?” Sungmin menatap tajam Jiyoon. Ia tersadar beberapa jam setelah meminum teh yang diberikan dokter bernama Park itu. Dan saat ia terbangun, ia tahu ada hal yang tidak beres tengah terjadi. Perasaannya terasa campur aduk tak karuan.

“Aku membunuhnya.” Ucap Jiyoon tersenyum lebar.

“Mworago?!!” Sungmin terkesiap. “Kau… a-apakan dia?”

“Bukankah hari ini kau mau ikut ke tempat psikiater karena akhirnya kau sudah memutuskan untuk melenyapkan Yoonji?” Jiyoon bertanya heran.

Sungmin menggeleng cepat. “Tidak, aku kesini untuk mengatakan secara tegas pada seluruh dokter psikiater kalau perlu, bahwa aku butuh alterku! AKU BUTUH DIA!! AKU TIDAK AKAN MELAKUKAN TERAPI APAPUN UNTUK MENGHILANGKANNYA!!!” Sungmin melirik teh yang tertata di meja sudut ruangan, ia tadi meminum teh itu dan tahu-tahu tertidur? Apa mereka membiusnya dengan minuman itu agar ia tak sadarkan diri? Apa jangan-jangan…. “KAU BENARAN MEMBUNUHNYA???”

Sungmin melompat bangung dan mencengkram kerah baju Jiyoon. Pikirannya kalut dan seketika itu juga lupa bahwa yang tengah ia marahi adalah gadis yang ia cintai.

Persetan dengan cinta!

Sungmin menatap Dokter Park tajam.

“KALIAN APAKAN YOONJI???!!!” Jerit Sungmin frustasi.

“Obat penenang…” Dokter Park menjawab ketakutan.

“Obat penenang? Buat apa?” Sungmin melepaskan cengkraman tangannya dan berlari menuju cangkir tehnya. Benar saja, ada bau obat tidur tersisa disana. SIAL!

Sungmin menatap geram. “Ka….li…aannn….”

“Kumohon tolong kami, Sungmin!” sebuah suara mengejutkan Sungmin tiba-tiba. Suara dari dalam tubuhnya. Terdengar keras dan penuh kepanikan. Itu bukan suara Yoonji, suara siapa?

Sungmin terhuyung kebelakang. Matanya nanar menatap Jiyoon dan Dokter Park bergantian. Ia tadi menyetujui keinginan Jiyoon ke sini karena ia ingin secara langsung menolak untuk diterapi, tapi tidak disangka Dokter Park membiusnya hingga tertidur. Itu pasti secara tidak langsung membangunkan Yoonji yang memang selalu muncul tepat ketika Sungmin merasa terancam bahaya.

“Sungmin Oppa.. aku melakukan ini karena aku mencintaimu…” Jiyoon mulai terisak. Tidak pernah melihat Sungmin semarah ini sebelumnya.

“Cinta?” Sungmin tersenyum mengejek. “Jika kau tidak mencintaiku apa adanya, itu namanya bukan cinta! Jika kau berusaha membunuh Yoonji, itu berarti kau juga membunuhku!!” Teriak Sungmin penuh emosi. Ia berlari keluar dari ruangan dan mengabaikan teriakan-teriakan Jiyoon. Sungmin merasa ia dibohongi mentah-mentah oleh gadis itu. Ia benar-benar kesal.

“Tolong… kami…” sebuah suara muncul lagi di kepala Sungmin. Membuat pria itu menghentikan langkahnya yang semakin melemah. Kepalanya terasa berputar-putar.

“Kau siapa?” bisik Sungmin tanpa suara.

“Kami altermu, Sungmin! Tolong kami!!”

Suara-suara itu semakin gaduh. Membuah kepala Sungmin ingin pecah. Membuat tubuh Sungmin melemah dan kakinya semakin tidak bisa digerakkan.

Lalu semua mendadak gelap.

.

.

.

.

Begitu tersadar, Sungmin tahu ia sekarang sudah berada di dalam ruang hati nurani, di dalam tubuhnya sendiri, tempat Yoonji dan ia biasa menghabiskan waktu. Tempat mereka biasa bercengkrama dengan riang dan terkadang berselisih pendapat.

Kali ini ruangan itu terlihat penuh dengan ratusan pria berbaju dan bertopeng yang berdiri menghadang langkahnya. Sungmin yakin mereka bukanlah para alternya.

“Mana Yoonji?” langkah Sungmin tertatih menghampiri ratusan pria itu.

“Semua alter akan kami lenyapkan.” Ucap salah seorang pria diantara ratusan pria itu.

Sungmin mengacak rambutnya kesal. “AKU MAU KETEMU YOONJI!”

“Semua alter akan kami lenyapkan.” Jawaban sama, membuat Sungmin semakin kesal. Ia maju selangkah.

Sungmin mengusap peluh di dahinya. “Kalian siapa?”

“Kami obat penenang, kami akan melenyapkan semua alter dan memfusikannya.”

Sungmin mengerti sekarang apa yang sudah diberikan Jiyoon pada Yoonji tadi—obat penenang? Apa Jiyoon berpikir Yoonji itu pasien sakit jiwa?!!. Dan seketika emosinya kembali memuncak.

“Kalau kalian tidak mau mempertemukanku, aku akan memaksa kalian!” Sungmin berlari ke arah para pria itu, menendang mereka, menerjang kerumunan itu sebisanya. Meski ia tahu ia kalah jumlah, ia tidak menyerah.  Meski satu persatu pukulan dan hantaman diarahkan pada tubuhnya membuat Sungmin harus terpental berkali-kali ke belakang, ia tidak peduli.

Sungmin menarik seorang pria dan menendang tepat di ulu hatinya, menangkis pukulan yang diterimanya dari pria lain. Pria lainnya berhasil melempar Sungmin hingga menabrak tiang di sekeliling ruangan, membuat wajah Sungmin berdarah dan hidungnya terasa patah.

“Menyerahlah, Sungmin. Kami tidak ingin menyakitimu. Hanya tinggalkan alter-alter tidak berguna ini.” ujar salah seorang pria tampak kewalahan menghadapi Sungmin.

Sungmin menggeleng keras. Kepalanya terasa berdenyut-denyut dan pandangannya memburam, tapi ia tetap memaksa bergerak maju.

“Aku ingin Yoonji! Aku harus menyelamatkannya! Aku tidak ingin dia lenyap!” seru Sungmin nyaris tak terdengar.

Sungmin melihat sebuah tongkat tergeletak di dekat tiang, mungkin tongkat milik Seungri atau alter lain. Tanpa membuang kesempatan, Sungmin menyambar tongkat besi itu dan mengujamkan ujungnya pada setiap pria berbaju dan bertopeng hitam di depannya. Dengan membabi-buta Sungmin berputar-putar di sekeliling ruangan dan membunuh siapa saja yang menghalanginya untuk maju. Darah di kepalanya ikut mengucur deras seiring dengan beberapa pukulan yang diterimanya dari mereka yang sempat melawan, sebelum akhirnya pria yang bernotabene jelmaan obat penenang atau apalah itu bisa lenyap dari ruang ini.

Sungmin berlari semakin masuk ke bagian tengah ruangan untuk mencari Yoonji, beberapa pria yang masih hidup terus mengejarnya tanpa lelah. Berteriak-teriak memanggilnya untuk kembali.

Sungmin terpaku saat melihat tabung-tabung raksasa berdiri berjejer di depannya. Tabung-tabung raksasa berisi para alternya dengan air yang membubung memenuhi puncak tabung. Mereka tampak tertidur lelap dan perlahan-lahan lenyap tak membekas. Meninggalkan tabung itu tanpa penghuninya.

“Yoonji kamu dimana?!” teriak Sungmin mencari satu persatu tabung di depannya. Begitu banyak tabung berisi alter, Sungmin tidak tahu mana yang berisi Yoonji. Dan kenapa mereka semua harus ditaruh di tabung?!

“Ini pasti gara-gara obat penenang sialan itu. Aku tidak akan pernah meminumnya, tidak akan.. sadar atau tidak, aku tidak akan meminumnya lagi!” desis Sungmin penuh amarah. Ia berlari-lari dari satu tabung ke tabung lainnya. Beberapa alter sudah mulai menghilang, dan setiap ada alter yang hilang Sungmin merasa kekuatannya semakin pulih. Seharusnya ia senang, tapi pada kenyataannya ia bahkan berharap tidak punya kekuatan lagi asalkan para alter ini bisa hidup.

“Yoonji… kamu dimana?” teriak Sungmin parau.

Sungmin-ah…

Aku tidak bisa bernapas, mayday? YES,MAYDAY!

Hatiku terasa sakit sekali, seperti ditusuk pedang … benar-benar sakit…  Sungmin-ah, mayday? MAYDAY!

Mata Sungmin terpaku pada sebuah tabung tak jauh di depannya. Seorang gadis berambut panjang dan rambut itu bahkan menutupi seluruh wajahnya. Gadis itu mengenakan gaun putih yang berjumbai-jumbai ke segala arah. Tabung yang mengurungnya tertutup amat rapat dan kacanya amat tebal. Tapi Sungmin tidak putus asa, ia memukul-mukul tongkat besi yang dibawanya ke arah kaca itu, berharap kaca itu bisa pecah.

“Yoonji, bangunlah… dasar bodoh! Disaat seperti ini kenapa malah memejamkan mata?” bisik Sungmin tanpa tenaga. Ia terlihat lelah dan tubuhnya gemetaran. Yoonji hanya diam tak bergerak sedikitpun.

PRANGG!

Sungmin memukul tongkat itu sekuat mungkin, tangannya meraih pegangan tabung dan menjatuhkan tabung itu hingga menggelinding kelantai.

BRAK.

Tabung itu pecah berantakan. Tubuh Yoonji keluar bersama air yang memenuhi tabung itu tadinya. Gadis itu masih tidak sadarkan diri.

“Bodoh!!! BANGUN!!!!” Sungmin menarik tubuh Yoonji kedalam pelukannya dan menangis sejadi-jadinya. “Yoonji!!! Bangun!!! Aku tidak peduli kamu alter atau bukan, aku tidak ingin kamu menghilang!!”

Perlahan Yoonji membuka matanya sedikit dan tersenyum tipis.  Sungmin agak terkejut melihat keajaiban itu dan semakin erat memegangi tubuh Yoonji.

“Kau tahu kenapa Jiyoon bersikeras ingin melenyapkanku?” Yoonji menatap wajah lebam-lebam Sungmin, wajah tampannya terlihat jelek sekali sekarang. Juga matanya yang biasa berbinar terang, sekarang meredup tanpa cahaya seperti ini. “Karena saat di Lotte World, aku bilang… aku bukan hanya sekedar altermu…” Yoonji menyusuri hidung Sungmin yang sedikit bengkok, aish… apa hidung ini patah? Apa patah gara-gara menyelamatkannya? “aku bilang pada Jiyoon, kalau aku alter yang mencintaimu…”

Sungmin terdiam. Merasakan hatinya sakit mendengar pengakuan Yoonji barusan.

“Kau jangan mati. Kalau kau mati, aku akan mati.” Bisik Sungmin menguatkan.

Yoonji menggeleng. ““Jika kau mati, maka aku akan mati. Tapi jika aku mati, kau akan baik-baik saja. Percayalah…”

Sungmin terdiam sesaat. “Aku mencintaimu, juga…” ucapnya pelan. “Aku tahu ini salah, bagaimana mungkin aku mencintai alter… itu berarti aku mencintai diriku sendiri? Ini gila. Tapi asal kau tahu, satu-satunya alasan aku mencintai Jiyoon karena gadis itu punya banyak kemiripan denganmu.” Sungmin menunduk dan menatap dalam-dalam wajah Yoonji. “Aku ingin mencari gadis yang seperti alter yang kucintai ini… bodoh, ya?”

Yoonji menggeleng lemah dan tersenyum. “Aku sudah tahu semua, Seungri sudah memberitahukannya.” Yoonji bisa melihat Sungmin tampak salah tingkah dan jujur ia menyukai ekspresi Sungmin saat ini. “Terima kasih sudah mengatakan yang sebenarnya,” Yoonji menarik kepala Sungmin menunduk padanya dan dipeluknya pria itu erat-erat. “Terima kasih sudah menjawab ‘mayday’ ku…”

Yoonji memberi cengiran lebar sekali. Sebelum akhirnya badannya terlampau lemah dan mungkin ini sudah saatnya obat sialan itu bekerja pada dirinya.

“Kau.. tidak akan pergi kan?” Sungmin menatap Yoonji nanar. Sungmin tahu jawaban dari pertanyaannya itu sudah jelas, saat dilihatnya perlahan tubuh Yoonji mulai tampak samar dimatanya.

“Jadilah manusia seutuhnya, Sungmin. Kami para alter benar-benar menyayangimu, terutama kau tahu—aku amat sangat mencintaimu…”

.

.

.

.

“Hyung kau kenapa!!” Kyu, Wookie, dan Kibum berlarian menghampiri Sungmin yang datang ke gedung SBS dengan pakaian compang-camping dan lebam-lebam disekujur tubuhnya. Pria itu tampak seperti habis berkelahi dengan preman jalanan.

Langkah kaki Sungmin terseok-seok mendekati Kyu dan langsung ambruk di pundak dongsaengnya itu, tidak pingsan, hanya merasa amat lelah hingga tidak sanggup berdiri lagi. nafasnya tersengal-sengal seakan mau habis, dan kepalanya berdenyut-denyut nyeri.

“Panggil petugas kesehatan!” perintah Kyu pada Wookie. Wookie langsung mengangguk panik dan berlari menemui staff SBS, berteriak-teriak seperti orang kebakaran jenggot.

Neo gwenchana?” para idol lain yang kebetulan satu ruang rias dengan mereka ikut mendatangi sungmin. Mereka kaget melihat Sungmin datang ke gedung recording dengan penampilan kacau seperti itu. Bagaimana kalau ada fans yang melihat dan malah salah sangka?

“Kau jangan tampil saja nanti. Istirahat saja.” Ucap Leeteuk berwibawa. Meski raut bingung dan khawatir tercetak jelas di wajahnya.

Sungmin berusaha tersenyum meski bibirnya terasa perih. Ia juga bingung kenapa tadi begitu ia terbangun setalah dirasanya ia pingsan di sudut koridor rumah sakit, penampilannya sudah seperti ini. entah apa yang terjadi saat ia pingsan tadi. Saking bingungnya, Sungmin langsung berlari meninggalkan rumah sakit dan menuju gedung SBS karena ingat Super Junior ada jadwal manggung hari ini. ia tidak boleh terlambat.

“Kau kenapa?” bisik Kyu dengan nada tajam. “Kau tidak melakukan hal-hal aneh, kan?”

Sungmin menggeleng. “Aku juga tidak tahu… aku tidak ingat kenapa tahu-tahu waktu aku terbangun… aku bisa sekacau ini…” Sungmin memejamkan matanya. Berusaha mengingat kejadian terakhir yang dialaminya, tapi tidak bisa. Ia hanya ingat ia datang ke rumah sakit bersama Jiyoon dan marah dengan gadis itu tanpa sebab, ah… Sungmin benar-benar tidak bisa mengingatnya…

“Sudahlah, biarkan saja ia tenang dulu.” Bisik Wookie sambil membawa staff yang memegang kotak P3K. Staff itu tanggap membersihkan luka disekujur tubuh Sungmin.

“Hidungmu patah, Nak…” ucap staff itu cemas.

“Benarkah?” Sungmin meraba hidungnya dan merasakan tulang hidung itu bengkok. Aneh, kenapa bisa patah? Apa tadi ia habis berkelahi dengan para preman? Dan mungkin sekarang ia amnesia? Praduga tak bersalah Sungmin.

“Kau harus istirahat, Oppa.” Jia Miss A menepuk bahu Sungmin memberikan semangat. “Oppa, kami tampil dulu ya… kau jangan tampil dengan penampilan seperti ini. istirahat saja dulu…”

Sungmin hanya bisa mengangguk. Ia tida punya tenaga menjawab pertanyaan Jia, ataupun pernyataan dari semua idol yang kini menatap iba padanya. Ia terlalu lelah… terlalu letih… dan sialnya tidak ingat apa-apa…

Ia ingin tidur saja sekarang…

“Baju kalian bisa membuat decak kagum para fans!”

Sungmin mendengar sebuah suara gaduh tak jauh darinya. Seungri Big Bang tengah memberi semangat pada anggota Miss A. Ah, ada Big Bang juga yang akan manggung hari ini?

“Baju perban atau tissue toilet ini?” Suzy menyibakkan rambutnya hati-hati. “Sok meramal kau! Hahaha.”

“Ye… aku kan jenius… indigo.” Canda Seungri tertawa penuh sok kepintaran.

“Ckckck, bodoh kali kau Seungri…” member SNSD yang dari tadi menatap tingkah Seungri berdecak gemas.

“Bajumu aneh, tapi setidaknya tidak seaneh bajuku.” Sinis Taeyeon menatap coordi di depannya kesal.

“Ya! Jangan memarahi Yoonji! Dia memang coordi-mu, tapi dia gadis yang paling kuidolakan lebih dari semua idol disini!” seru Seungri jahil.

Oke, mungkin karena terlalu banyak idol di ruangan ini justru membuat Sungmin semakin pusing. Sebagian orang masih mengelilinginya dan mengkhawatirkannya. Sebagian lagi bersiap-siap akan manggung sebentar lagi. Ada banyak grup penyanyi disini, tapi tetap saja Sungmin yang sesungguhnya masih kesakitan dengan lukanya justru tertegun mendengar obrolan Seungri barusan.

“Ada yang kulewatkan kah?” bisik Sungmin pelan. Ia tahu, ia dekat dengan Big Bang, Miss A, dan SNSD dan semua idol lainnya. Tapi baru kali ini ia merasa amat rindu dan seperti amat mengenal baik siapa itu Seungri, Suzy, maupun Taeyeon….

Deja vu?

Apa iya?

Lantas kalau de javu

Sungmin melirik coordi Taeyeon yang sepertinya siap melawan semua ocehan gadis itu. Jarang sekali Sungmin melihat coordi seberani itu terhadap idol. Sungmin tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena rambut panjangnya menutupi sebagian wajah kecilnya.

Apa ini dejavu?

Mayday? Aku butuh mayday… aku butuh pertolongan…” gumam Sungmin lirih.

.

.

.

.

END

Wuahhh sumpah ini ff oneshot terpanjang yang pernah aku buat, hahaha. Buat Tika si penyelenggara lomba:  maap ye elu ga hepi end ama umin! Selama yang buat nih cerita Sophie mahhh… nehi nehi lahhh xD *difetok Tika*. Eniwei cerita ini jenisnya memang psikologi-romance gitu. dengan sedikit imajinasi yang berlebihan tentunya, dan kayaknya belum ada deh cerita orang jatuh cinta sama alter sendiri,,,, hihihi jadi narcissus gitu kan ya? Kok jatuh cinta sama diri sendiri coba xD dasar cerita aneh! *lha ini kan cerita yang bikin elu ndiri soph! -_-*. Dan adegan si Umin yang cakep itu berantem, sedikit terinspirasi dari SIGN nya BEG. Makanya judulnya aku pake kayak lirik lagunya BEG, hahahaha . eniwei ni ceritanya kayaknya galau-gagal-gaje deh hahahaha xDDD *kaburrrr*

p.s ini nih ff yang jadi juara satu lomba ff, hadiahnya sihhh album SNSD The Boys . Awalnya ikut lomba ini krn pengin juara tiga (juara tiganya dapat buku, makanya pengiiinnn xD) , ga nyangka malh juara pertama.

cerita aneh giniiii xDD

kritik+komen+like are love ^^

19 thoughts on “[FF/ One Shot/ S/ PG-17/MAYDAY? MAYDAY!!]

  1. Keren bgt…
    Suka…, tapi koq gantung gtu si? T.T.
    Baru xadar ternyata bxak ff bgus yg tidk trsentuh ama aku,
    g’ slah dpet juara 1 ni ff ka, daebak asli, dan g’ jauh bda ama ff ka2k yg laen yg g mdah di tebak,
    jiyeonxa bkin aku bingung, satu sisi aku stuju ma dia, tpi dia juga ngeselin bgt,
    324 jempol dah bwt kak thorxa,
    Bwt sequelxa dong kak thor,..

    • hahahaha sengaja gantung
      masa sungmin jadian sama dirinya sendiri kan ga mungkin
      soal sosok yang terakhir muncul, ditebak sendri siapa diaaaa
      dan bagaimana kelanjutannya kekeke

  2. wiiihhh kern, ku sk bgtttt sm crt tntng ky gn,,,, mngngtkn ku sm novel ny shidney sheldn yg jdlny tell me your dreams,,,,, pnts nie crt dpt juara 1, plokk,,,plokk”bny tpk tngn”

  3. berasa kenal ma nih judul. ini judul lagu buat ost fugitive plan b bkn? mirip loh soalny xD

    buat lomba? ini harus menang! ini terlalu SUPER-junior-SEKALI *msh kebawa ff diary Yesubg xD*

    eon, bikin FF humor SJ lg dong. kan lucu tw eon

    ini ff oneshoot yah? kayak twoshoot loh. puanjang ny minta ampun xD

    eonni mw baca FF ak gx? lg belajar nih kk

    • heh? nggak.. ini judulnya aku ambil dari simbol permintaan tolong, hehehehe

      ini udah menang kok
      juara satu
      alhamdulillah dapat album SNSD HAHAHA *bangga to the max*

      ntaran deh aku buat ff gaje lagi

      emang sengaja panjang biar total *??

      aku mau dong baca ff? mana mana?😀

  4. eonnnnn aku sukaaaa
    kau telah menepati janjimu untuk ngepost ceritamu yang iniii
    sungminnya unyu sekaliii
    eh akhirnya itu sungmin ketemu gak sama yoonji yang asli?
    sepertinya tidak yah
    5 thumbs up *minjem satu jempolnya temen di sebelah aku* ^^

  5. Ah jadi ini ff oneshot yang menang terus dapet album SNSD itu??
    Wew, emang ceritanya unik banget kok, pantes deh kl menang😀
    Ga nyangka itu suzy yoonji, dkk trnyata kepribadian gandanya sungmin, aku kira mereka temen skelas pas lagi ngomong2 pertama itu kkk xD
    ngeri juga btw si sungmin jatuh cinta sama alternya sendiri hehe :3
    anyway aku bingung sama satu hal, mayday itu apa sih soph? Kok si sungmin sama yoonji bilang ‘aku butuh mayday’ gitu😮
    well, ditungguin sequelnya yang star itu yaaa.
    Naiseu😀

  6. pertanyaannya : apakah kepribadian ganda disebabkan oleh alter??

    Keren!
    bikin pengen nyari tahu kebenaran tentang kepribadian ganda.😀

    ini buat lomba??
    sophie ikut lomba ya??
    moga menang ya…
    Amiin…

    btw, keren!
    jarang2 ada genre psychology-romance gini.🙂
    keep writing sop..!

  7. Hah???
    Ini FF buat lomba???
    Wuuuiiiihhh…
    Aku dulu juga pengen bikin ff yang basicnya psikologi gitu. cuma karena aku ga belajar psikologi jadinya ya ga mudeng. hahahha…
    basicku sekarang politik sama perang2 sih. jadi ga bakalan nyambung kalo dijadiin ff romance. wwkwkwkw

    Aku pikir Yoonji-nya baik. dia mau bantuin cowokna buat maju. jiyeonnya juga bner sih. ga bisa di pungkiri kalo kita terlalu obsesi ama sesuatu jatuhnya malah bukan jadi diri sendiri. hahahah #komen gaje.

    Seru dah sophie….. bikin sequelnya yyaaaaa

    • ini ff yang menang lomba
      udah menang gio… udah menang *kibas kibas album SNSD*
      aduh kamu kebalik2 namanya. aku jadi pusing
      hahaha ke paku sama jiyeon yaa?
      itu sengaja aja tak kasih foto2 artis karna aku kurang bisa mendalami kalo OC *duagh*

Just talking...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s