[FF/ One Shot/ PG-17/Assalamualaikum, Kyuhyun-ah…]

[FF/ One Shot/ PG-17/Assalamualaikum, Kyuhyun-ah…]

Author  : Sophie Maya

Title       : Assalamualaikum, Kyuhyun-ah…

Cast       : Kyuhyun, Mia Narafa (OC)

Genre   : romance

Rated    : PG-17

Type      : straight

Summary         : Apa yang kau harapkan dari cerita ini? Kau pikir ini akan berakhir miris atau apa?!

Disclaimer           : Super Junior,isnt MINE. But this story is MINE.

Warning               : do you hate the CAST? DONT READ, its simple. And one more, NO BASHING oke? Oh right, one more again I HATE SILENT READERS, so comment this story right? ^^

P.S: FF ini mengandung SARA, diskriminasi, dan beberapa kata yang mungkin terlalu frontal. Diharapkan memakluminya.

Namanya Kyuhyun. Cho Kyuhyun. Umurnya 23 tahun. ada banyak hal menarik yang ada pada diri Kyuhyun, hingga setiap pria itu berjalan menyusuri koridor, semua mahasiswi akan tertarik padanya.

Dia dosen. Dosen Filsafat.

Dosen filsafat-ku.

Penampilannya tidak bisa disebut sebagai dosen—jika kau melihatnya setiap hari hanya mengenakan kemeja kedodoran dan celana jeans yang robek di bagian lutut, serta sandal gunung yang sibuk bertengger manis di kakinya.

Dia Kyuhyun.

Dosen Filsafatku yang paling nyentrik. Yang paling aneh. Yang paling nyeleneh.

Tidak peduli bagaimana surat-surat edaran dari kampus memperingatkan penampilannya yang urakan melebihi urakannya mahasiswa yang tidak mandi selama tiga hari demi mengejar tugas skripsi, atau juga panggilan langsung dari rektor yang memperingatkan tentang etika-mengajar-dosen-yang-baik. Kyuhyun tetaplah menjadi dosen yang seperti itu—kau tahu kan, selalu berpenampilan serba seenaknya.

Kyuhyun selalu berjalan dengan dagu terangkat dan senyum anehnya yang mengundang banyak bisikan dari para mahasiswa maupun mahasiswi. Pria itu selalu membawa setidaknya dua tiga tumpuk buku filsafat, etika, dan moral yang dibaca kata pengantarnya pun akan membuatmu muntah seember. Dan memutuskan berjalan-jalan ke mall dibanding harus meresapi sejuta pertanyaan skeptis yang dilayangkan pengarang buku filsafat. Benar kata orang—jika kau tidak ingin tumbuh tua dengan pikiran kolot, hindari buku filsafat adalah salah satu hal mujarab.

Kelas pada mata kuliah filsafat adalah kelas paling tidak membosankan, diisi dan diminati oleh 80% murid di kampus, terutama para gadis. Tidak jarang kau hanya akan menemukan satu sampai lima pria saja di jam mata kuliahnya, selebihnya para gadis yang begitu semangat mendengar pencerahan kuliah darinya duduk menjamur di berbagai penjuru ruangan.

Sesungguhnya aku ingin mengatakan, pelajaran filsafat amat sangat membosankan. Tapi tidak dengan kelasnya, tidak dengan para siswanya—tidak dengan Kyuhyun-nya.

Dia senantiasa bisa membuat pikiran mahasiswa terpaku pada materi yang diajarkannya, memberi contoh real dari teori yang terkesan muluk dan bulukan. Menyelipkan candaan berkelas yang membuat seluruh mahasiswa terpesona melihat kecerdasannya.

Jadi, filsafat itu membosankan. Tapi Kyuhyun membuatnya menyenangkan.

Kyuhyun selalu menyiapkan materi power point dan menjelaskannya setelah satu kelompok disuruh menjelaskan materi itu terlebih dahulu, tujuannya biar tercipta diskusi di kelas dan Kyuhyun bisa membetulkan hal-hal yang salah kaprah yang dilontarkan kelompok itu.

“Dia tampan, kau tahu itu kan Mia…” Yumi mengaduk-aduk tasnya dan mengeluarkan tempat foundation. Tangannya membuka tempat itu perlahan dan mulai mengusapkan spons lembut ke wajahnya. “Apa bedakku ketebalan?” tanyanya lagi.

Aku menggeleng. “Kau terlihat cantik.”

“Oke, terima kasih.” Yumi tersenyum puas. Dan memasukkan kembali foundation-nya ke tas. Kini gadis blasteran Jerman itu kembali ‘fokus’ pada pandangan di depan kelas sana.

“Apa dia sudah punya istri?” kali ini, Chaerin, yang duduk disebelah kiriku ikut-ikutan menimbrung. Menatapku penuh kegalauan yang bahkan tidak pernah kulihat saat ia putus dengan Key atau dicampakkan oleh Sungyeol sekalipun. Ini tumben sekali.

“Kurasa… belum…” aku mengedikkan bahu. Jujur, aku tidak tahu, apakah dosen filsafatku yang nyentrik ini sudah punya istri, pacar, atau anak? Kyuhyun tidak pernah tiba-tiba curhat tentang kehidupannya pada kami, tidak seperti dosen lain yang kadang menyelipkan sisa-sisa ingatan perjuangan mereka semasa kecil dengan penuh haru dan semangat—kadang bahkan lebih semangat dibanding menerangkan materi.

“Dosen kita itu pintar.” Yumi kembali menyeletuk. Matanya menerawang pada Kyuhyun yang kini menjelaskan definisi tentang etika, etis, etik, dan sejenisnya. “Sayang…”

“Sayang…” Chaerin menyambung, menatapku meminta dukungan, “…dia atheis…”

“Dia tidak punya agama.” Yumi sedikit mencibir saat mengatakannya.

“Dia tidak percaya Tuhan.” Chaerin kembali menambahkan.

Kami bertiga terdiam. Menghentikan obrolan dan kembali menatap Kyuhyun yang sepertinya sudah menyelesaikan penjabaran materinya. Pria itu tertawa kecil hingga matanya hampir tenggelam.

“Kenapa kelas ini seperti kuburan?” candanya. “Apa kalian sudah duluan menjadi tengkorak mendahului saya? Saya tahu pelajaran filsafat memang membuat kalian cepat tua.” Kelakarnya.

Sebagian besar anak-anak kompak tertawa geli.

“Ada yang mau bertanya?” Kyuhyun mengerjapkan matanya dan menatap mahasiswanya satu-persatu.

“Pak, menurut bapak… apakah yang dimaksud ‘bermoral’ itu?” Taemin mengangkat tangannya tinggi-tinggi, dengan kacamata tipis dan rambut pirangnya, pria itu tersenyum tipis dan menatap tajam Kyuhyun. “Moral itu terlalu muluk sekali… itu yang saya tanggapi dari teori ahli jaman dulu… jadi, saya ingin bertanya pada Pak Kyuhyun… moral itu apa, Pak?”

“Moral adalah bagaimana kita harus hidup. Moral mengemukakan apa yang boleh, apa yang tidak boleh, dan apa yang wajib kita perbuat. Memang benar moral itu muluk—terdengar lebih muluk dari etika. Karena kalau kasar kata, moral itu ajaran paling tinggi setinggi-tingginya… tanpa cela.”

“Lantas Pak, contohnya seperti apa?” Taemin bertanya lagi.

“Apa yang kita argumentasikan atau kita perbuat didukung akal yang baik dan berdasar pertimbangan tidak memihak dari siapapun. Seperti contoh transplatasi pada bayi yang divonis akan mati, orang tuanya menginginkan agar organ-organ sang bayi bisa disumbangkan ke yang membutuhkan, tapi disatu sisi banyak yang menentang bahwa itu sama saja seperti ‘menggunakan orang lain’ sebagai sarana mencapai sesuatu, dan itu bagi moral.. tidak diperbolehkan.”

“Apa orang bermoral pasti beretika?” Yumi ikut bertanya.

“Jelas sekali.” Kyuhyun mengangguk.

“Apa etika itu berasal dari pendapat mayoritas?”

“Bisa iya bisa tidak.”

“Menurut Bapak, apakah seorang atheis itu beretika atau tidak? Karena pendapat mayoritas, atheis itu… selalu negatif…” Yumi melirikku dan Chaerin penuh arti. Aku tahu, Yumi bertanya seperti itu hanya untuk menguji Kyuhyun, atau setidaknya untuk mendapat perhatian atas pertanyaannya yang frontal itu. Kebiasaan Yumi.

“Atheis…” Kyuhyun memutar bola matanya dan menatap seisi kelas. “Ada yang bisa menjawab?”

“Atheis itu tidak bermoral, Pak.” Jawab Gabriel tegas.

“Ya, tidak bermoral.” Dukung Hanis menganggukkan kepala. “Menyalahkan agama Islam.. kepercayaan pada Tuhan…”

Kyuhyun tersenyum samar. Matanya menyusuri setiap mahasiswanya dengan tajam.

“Orang atheis belum tentu tidak beretika, jangan sembarangan memasukkan agama manapun di materi ini…” sahutku sambil mengutak-atik isi kotak pensil. “Bukankah etika itu lebih menjurus tentang baik buruknya perilaku kamu. Etika membahas bahwa membunuh itu salah, mencuri itu salah, tapi tidak dengan agama.”

Aku tahu apa yang kubicarakan ini kini membuat seluruh anak menatapku lekat.

Aku melanjutkan, “Atheis itu… juga bisa orang beretika. Atheis kan bukan pembunuh, bukan pencuri, dia.. tetap orang baik…”

Kutatap wajah Kyuhyun yang kini memalingkan mukanya dan menahan tawa sekeras mungkin. Aku tahu pria itu hampir saja menertawakan keluguanku yang amat sangat kentara sekali, bisa ditebak dengan mudah. Kyuhyun berbalik mendekati papan tulis dan menghapusnya cekatan.

“Oke, teman kalian benar. Atheis tidak ada hubungannya dengan moral dan etika. Ah, siapa nama anda tadi?” Kyuhyun memutar kepalanya dan menatapku. Ia mengeraskan rahangnya saat menatapku, dan berusaha tidak tersenyum sedikitpun.

“Mia Narafa, Pak Dosen.” Jawabku menundukkan kepala dalam.

.

.

.

.

Flashback

“Mia!! Kau kuliah disini?” Kyuhyun berlari mendekatiku dan sedikit menjauh mendapati hal yang aneh dariku.

“Kau juga kuliah disini?” jawabku kaget. Mendapati Kyuhyun, mantan tetanggaku saat di kompleks rumah dulu membuatku terkejut. Pria ini sudah lama sekali tak terlihat kabarnya. Lima tahun lebih mungkin. Tahu-tahu malah bertemu disini, di kampus ini.

“Kau kenapa…?” Kyu menarik sedikit ujung jilbabku dengan raut bingung.

“Ssstt… aku memang pakai jilbab sekarang, kenapa?” decakku geram. “Jangan menyentuhku. Bukan muhrim!” kusingkirkan tangan Kyu dengan sadis. Pria itu menatapku takjub.

“Wow, si tomboi ini benar-benar berubah feminim dengan jilbab… hahaha, kau bukan lagi si Mia yang suka nyolong rambutan tetangga kan?” godanya.

Aku menggeleng marah. “Aku udah tobat! Grrr…”

“Hahaha. Oke, oke, sekarang kau lagi apa?” tanyanya bingung.

“Habis sholat dan setelah ini aku ada mata kuliah baru, Ilmu Filsafat. Kakak angkatanku berkata itu pelajaran membingungkan sekaligus menyenangkan, apalagi katanya dosennya lucu dan cukup… tampan? Hahaha, entahlah. Aku belum tahu. Maklum, mahasiswa baru.” Aku tertawa lebar. “Hei, kau masuk jurusan apa? Eihhh.. bukannya kau sudah cukup tua untuk jadi mahasiswa? Jangan bilang kau tidak lulus-lulus dan jadi mahasiswa abadi di kampus ini?”

“Mana mungkinlah!” Kyuhyun tertawa lagi. tawanya terdengar ringan dan lepas. “Oke… kau masuk mata kuliah Ilmu Filsafat, ya…. baik…” Kyu memutar bola matanya penuh arti. “Aku duluan, ya. Jangan sampai telat masuk kelas. Biasanya dosen Filsafat itu galak dan ngusir mahasiswanya yang telat, nggak pake alasan apapun!”

“Iya, iya, iya, aku juga tahu itu! Kakak kelas juga bilang, dosen itu nggak peduli mahasiswanya sholat apa nggak. Atheis gitu katanya si dosen…” rutukku sambil membereskan peralatan kuliah. Kulihat beberapa mahasiswi berbisik-bisik menatap kami, uh oh… mungkin sindrom melihat pria tampan memang tidak bisa dihilangkan di jenjang pendidikan apapun, SD maupun kuliah. Yang namanya cewek liat cowok keren dikit saja, matanya sudah kemana-mana. Dan memang kali ini kuakui, Kyuhyun amat tampan… dia tumbuh begitu tampan sebagai seorang pria.

“Dia memang atheis… kenapa? Nggak suka cowok atheis ya?” Kyuhyun terkekeh kecil. Memperlihatkan tampang menyebalkannya. “Aku duluan ya. Kau cepat masuk, jangan sampai telat! Dahhh…”

Aku tersenyum tipis, “Assalamualaikum, Kyuhyun…” ucapku.

Kyuhyun tersenyum dan mengangguk. Tak menjawab salamku dan hanya berlari ke lantai tiga di gedung A. Ah, dan bahkan aku lupa menanyakan dia masuk jurusan apa. Bodohnya aku…

Flashback end.

.

.

.

.

“Dia dosen!!! Dosen!! Kau benar-benar bodoh, Mia! Berpikir kalau dia adalah mahasiwa disini? Hah, pikiran macam apa itu??!!! Aneh sekali!!! Dia dosen Ilmu Filsafat! Yang bahkan tadi kau mengata-ngatai dosenmu itu di depannya! Argghhh… apa pendapat dia nanti!!”

Oke, oke, oke, semua makhluk bumi boleh menyalahkanku sekarang. Aku memang tolol sekali, ya? Aku baru tahu Kyuhyun itu dosenku tadi, saat masuk ke kelas dan melihat Kyu sudah berkacak pinggang di depan papan tulis sembari menatapku tajam plus sinar-sinar kegalakan muncul dari matanya. Aku belum mengerti kenapa Kyu melakukan itu dan hanya tersenyum lebar, aku belum tahu pria jahil itu ternyata malah jadi dosenku.

Benar-benar-mengejutkan-sekali.

Malu sangat rasanya.

Kuliah Ilmu Filsafat selesai jam tujuh malam. Saat itu kampus sudah benar-benar sepi dan penjaga kampus sibuk mengunci beberapa pintu kelas dan gerbang kecil di bagian depan. Mahasiswa hanya diperbolehkan melewati gerbang belakang, dekat parkiran.

Yumi sudah pulang duluan karena ada acara, dan si bodoh Chaerin itu sedang berkencan dengan si kaku dari jurusan Biologi, siapa lagi kalau bukan MyungSoo yang amat sangat tidak bisa bicara kecuali sok keren dengan senyum mautnya itu.

Berjalan menyusuri parkiran bukanlah hal yang baik bagi seorang gadis sepertiku, yang mungkin hanya mengandalkan angkot dan bus kampus untuk sampai ke rumah.

“Mia! Mau kuantar?”

Sebuah suara mengejutkanku.

Kyuhyun!

Pria jahil dosenku itu berlari-lari kecil mensejajari langkahku. Ransel di punggungnya terlihat penuh dan menggembung. Ia terkekeh sebentar sebelum akhirnya merapikan rambut berantakannya.

Suasana parkiran begitu temaram dan hanya ada beberapa lampu taman dengan watt kecil mengelilingi kami. Aku bisa melihat jelas guratan kokoh wajah Kyuhyun. Dan matanya yang benar-benar memikat.

“Aku bisa pulang sendiri.” kutundukkan kepalaku. “Pak Dosen pulang duluan saja…”

“Ya! Aku cuma dosenmu di pelajaran Filsafat, bodoh!” Kyu tergelak. “Ini sudah terlalu malam. Mending kuantar pakai motor, lebih cepat. Gimana?” tawarnya lagi.

Aku menatapnya bimbang. “Tapi… kan nggak baik cewek cowok boncengan… berduaan.. bukan muhrim… nanti ditengahnya setan lagi…”

Aku benar-benar meras bodoh saat mengatakannya. Merasa seperti lulusan pondok pesantren. Dan merasa Kyu mungkin kini menatapku dengan sorot anehnya lagi.

Tidak ada jawaban dari Kyu. Kukira pria itu sudah mengalah dan membiarkanku pulang sendiri.

Tapi lalu ia malah melepas ransel beratnya itu dan menyodorkannya padaku.

“Nih.” Kyu meregangkan bahunya. “Kita boncengan nggak berdua kok. Bertiga. Jadi ditengahnya bukan setan, tapi ransel super beratku ini. Aku di depan, ransel ini di tengah sambil kamu pegang di belakang. Kalaupun aku sengaja ngerem mendadak, kamu bakal nabrak ini ransel… bukan nabrak aku. Gimana?”

Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Kyuhyun, ia bersikap biasa saja dengan penyataanku tadi dan malah tetap membujuk mengantarku.

“Oke. Baiklah.” Aku tersenyum.

“Baik. Sip!”

Kyuhyun hampir saja menarik tanganku sebelum akhirnya ia sendiri tersentak dan buru-buru menjaga jarak menghindariku.

“Bukan muhrim ya? Gak boleh narik-narik tangan sembarangan?” cengirnya.

Dan aku hanya bisa tertawa melihat tingkahnya.

.

.

.

.

Hari ini pelajaran Filsafat datang lagi. Dan aku telat lagi.

Jadwal sholat ashar yang mepet dengan jadwal mulai kuliah membuatku harus menyelesaikan kewajiban yang tidak bisa ditunda-tunda satu itu.

Kyuhyun hanya menatapku diam dan membiarkanku duduk. Anak-anak menatapku tegang dan berbisik penuh kelegaan saat tidak ada komentar apapun dari Kyuhyun tentang keterlambatanku.

Satu yang kutahu dari para kakak kelas dan teman-temanku ini: Kyuhyun super disiplin! Ia tidak menerima alasan terlambat apapun!

Kami belajar lagi tentang etika, kali ini yang dibahas lebih mengenai tentang perilaku yang dianggap masyarakat dominan tidak baik. Seperti kelompok gay, lesbi, dan sebagainya. Banyak perdebatan, kadang sindir menyindir kekurangan sendiri, dan akhirnya berhasil mencapai kesimpulan materi.

“Saya tidak ingin kalian pulang malam, itu berbahaya bagi keselamatan kalian di perjalanan. Maka kuliah saya akhiri sampai disini.”

Kyuhyun membubarkan kelas. Sebelumnya mengopi materi di desktop komputer untuk bahan kopian anak-anak.

“Padalah pengin diajar lama sama Kyuhyun…” rengek Chaerin kenes. Ia melirik Kyuhyun yang tengah membereskan buku-buku materi di meja dosen.

“Eh, sejak kapan sih dia atheis?” tanya Yumi tiba-tiba.

“Sejak empat tahun lalu sepertinya.” Jawab Chaerin mengingat-ingat.

“Empat tahun lalu?” aku balik bertanya. Aku tidak tahu sejak kapan Kyu atheis. Dulu aku tidak pernah berpikir ia punya keyakinan atau tidak terhadap suatu agama.

“Tapi dia memang keren. Aku setuju pendapat kamu, Mia. Orang itu beretika atau tidaknya gak ditentuin oleh agama. Orang itu tampan atau tidaknya juga gak ditentuin oleh agama.” Chaerin nyengir. Perumpamaan yang tidak nyambung.

Kulirik Kyu yang beranjak keluar kelas di tengah keramaian mahasiswa yang sibuk berkemas.

Entah setan apa yang merasukiku, dengan terburu-buru kuraih tas selempangku dan berlari mengejar Kyu keluar kelas. Aku tidak berani mensejajari langkahnya. Jadi hanya berjalan persis dibelakangnya dan berusaha agar sepatu high heelsku tidak berbunyi dilantai dan membuatnya tahu aku sedang mengikutinya.

“Mahasiswi disini selalu membicarakan tentang keyakinanku, ya…”

Kyuhyun menghentikan langkahnya. Aku juga ikut berhenti dan menahan napasnya. Tak menyangka Kyu tahu aku mengikutinya.

“Mereka pikir kau… keren…” aku tidak berhasil menemukan kata-kata yang tepat untuk berbicara.

“Keren bagaimana? Gaya mengajarku?” tanya Kyu dengan tanpa membalikkan badannya.

Aku memutar bola mata. “Ya, salah satunya. Kau cocok sekali menjadi dosen.”

“Tapi mereka selalu mengatakan aku atheis… dengan raut asing…” terdengar tarikan napas Kyu. “Di negara ini atheis bukanlah sebuah pilihan yang baik, ya?”

“Tidak juga.” Jawabku cepat.

“Berarti kau menganggap aku tidak aneh?”

“Sama sekali tidak.”

Kyuhyun kembali melangkah. Aku mengikutinya dengan langkah pelan. Koridor mulai gelap dan suasana benar-benar sepi.

“Aku kaget melihat kau berjilbab.” Ucap Kyu memecah kesunyian.

Aku tersenyum. “Aku minta maaf sudah mengucapkan ‘assalamualaikum’ padamu, maaf.”

“Tidak apa-apa.” Kyuhyun berjalan lagi. “Aku mentolerir semua agama. Kau tahu… aku menghargai agama apapun.”

“Aku juga.” Jawabku cepat, lagi.

“Aku ingin mengatakan hal ini dari dulu… kau tahu, kau terlihat cantik.”

Aku kaget mendengar ucapan Kyu yang begitu tiba-tiba. Merasa jantungku berdegup sepuluh kali lebih cepat dari yang pernah kualami biasanya.

“Terima kasih. Kau juga.. sekarang… yeah, tampan… sedikit,”

“Hahaha. Aku dulu sempat menyukaimu, kau tahu. Sebelum kau pindah rumah.”

“Aku juga,” aku benar-benar gila saat menyatakan hal itu. Kelepasan. Keceplosan. Atau apapun itu istilahnya, yang pasti aku benar-benar terdiam mendengar ucapanku sendiri.

“Aku dosenmu. Aku atheis.” Nada suara Kyuhyun terdengar lirih. “Kau mahasiswiku. Kau… isla…”

“Yeah,” potongku cepat.

Kyuhyun kembali menghentikan langkahnya. Kali ini ia memutar tubuhnya hingga berhadapan denganku. Sorot mata pria itu benar-benar teduh dan dalam. Ia tersenyum tipis.

“Besok jangan telat masuk ke kelasku. Aku tidak menerima alasan apapun. Sholat asharnya wudhu-nya yang cepet, pake jilbab-nya jangan yang ribet-ribet… biar bisa cepet masangnya.”

“Iya, Pak Dosen.” Aku bingung mau dibawa kemanakah arah pembicaraan kami ini. “Jadi?”

“Jadi?” Kyuhyun memandangku.

“Jadi apa?” tanyaku.

Kyuhyun memiringkan kepalanya. “Apa?”

Aku menggeleng lemah. “Tidak.. tidak… aku pikir tadi setelah kau menyatakan perasaanmu.. kita…”

“Ta’aruf? Kau mau itu?” Kyuhyun memandangku dengan pandangan tajam.

Aku tertawa, entah mengapa ada rasa pahit di dadaku mendengar hal itu.

Oke, aku akan berusaha jujur. Aku menyukai dosenku itu, Kyuhyun, yang penampilannya selalu urakan meskipun ia dosen. Yang kata-katanya bagai air murni di padang pasir. Yang semua perbuatannya begitu amat mengagumkan dan tutur sapanya halus. Mungkin dia agak jahil dan nakal, dan yeah sok disiplin dan menyebalkan.

Dan aku juga sadar yang satu ini, dia… atheis.

Tidak percaya Tuhan itu ada.

“Kalau kita pacaran, kukira akan jadi skandal mahasiswi dan dosen.” Kelakarku.

Kyu tertawa. “Jadi kau mau bagaimana? Tidak ada yang bisa diharapkan dari cerita ini. Apa kau mau berakhir miris saja?”

Aku dan Kyu saling bertatapan.

Untuk kali pertama dalam hidupku, aku merasa dia pria atheis yang benar-benar bermoral dan beretika.

Sial.

Apa aku perlu menangis?

Kurasa iya. Aku akan menangis.

Semalaman.

.

.

.

.

END

Gaje yaaa?? Maap ya ini curhatan saya

Saya lagi jatuh cinta ama seseorang… atheis… huhuhuu *nangis*

menggalau lah saya

ini anggap aja settingnya di Indonesia ya, biar berasa aja… ini lah yang sehari2 dibahas di kampus saya, SARA mulu bawaannya hahaha

aku udah bilang ini ff penuh SARA, tapi aku ga bermaksud memojokkan suatu kaum. ini semata2 ff aku ambil dari materi kuliah filsafat, moral dan etika :DD

aku harap kalian hanya mengambil nilai positif dari ff ini ^^

About these ads

169 thoughts on “[FF/ One Shot/ PG-17/Assalamualaikum, Kyuhyun-ah…]

  1. oo.. author-nim, ini ceritanya beda bngt dari yg lain.. terkesan ada SARA nya emang.. tp ya ga frontal bngt yg smpai men-judge suatu golongan

  2. Sebenarnya aku bingung mau komentar apa, soalnya gambaran ceritanya sangat menarik meski terkesan frontal namun banyak sekali yang bisa kita ambil hikmahnya. Romantis yang penuh etika. Love it…

    semangat buat authornya.

  3. sukak ama Fanfictnya… endingnya nyesek banget ^^ padahal pas awal baca udah kayak orang gila senyum-senyum sendiri pas akhirnya JLEBB banget…

  4. Jadi ikutan galau juga. Gimana ya ngomongnya(?). Ending yang nggak ketebak, nyesek dan sungguh keren banget. ekspresi-ekspresi kyuhyun dicerita ini suka banget, kebayang jelas di memori imajinasi aku(?). pokoknya gitu aja deh intinya keren!!!!!

  5. suka baca2 ff disini…baru berani komen (bukan mksud jd sider, hanya suka merasa kecil dgn pemikiran “wow orang ini keren!dan km belum bisa menghasilkan karya sepertinya -dilema manusia sok banyak mikir- ^^)
    ini ff nya, super keren sekali…feelnya dapet banget…nyesek..
    P.S : salam kenal Jeng Sofi…semoga tak pernah bosan utk berkarya :))

    • halo penikmatsenja
      jangan pernah merasa ragu buat komen disini
      aku nggak sehebat pemikiranmu kok
      kita sama2 belajar aja yaaa
      makasih udah baca dan komen ff disini
      dan salam kenal juga

  6. Yah thor, endingnya belum jelas itu. masih gantung. lagi seruserunya itu thor. sequel thor, jebal :3 ya? ya? ya?
    seru thor ffnya, 717rius dah ._.v *tampangmeyakinkan*

  7. daebak buat ff nya!!
    aku lebih suka org yg model bgini. Atheis ya atheis aja. Di kampusku malah ada yg ngaku beragama tapi pemikiran atheis, thor.. miris deh..
    suasana hati sempet kebawa nih gara2 ni ffmu :’)

  8. baca ff dengan bahan cerita yg totally different? ya cuma ff ini.mungkin kalimat yg pas buat ff in aku suka karena berbeda. ide bagus yg terbentuk walaupun hanya dari perjalanan kehidupan yg cukup pelik dan ya walaupun ada typo dan kata2 kedaerahan yg dibawa tapi tolerir selalu berlaku kan?hahaha tapi sumpah deh keren :D
    dan penggambaran dosen nya a.ka kyuhyun itu beneran sama kyk yg ‘aslinya’? kalo gitu keren dong wahaha

  9. baru nemu blog kamu. dan baru baca ff yang ini. dan langsung jatuh cinta sama kyuhyun, upss salah, sama blog kamu maksudnya.ff-nya keren ^^b
    jadi pengen ikutan kuliah filsafat deh. seru ga? kata orang, ada orang2 filsafat yang saking pintarnya jadi mempertanyakan Tuhan dan agama, jadinya malah atheis deh.
    semangat sama si kakak atheis-nya yah, hehehe.

  10. 1 kata “DAEBBAK”
    Sumpah, ni ff beda dri cerita yg lain^^ belum pernah ada bca ff kyk beginian
    aQ suka, mskipun singkat tpi cerita.a jelas + feel.a dpet bgt^^
    dpet bgt nilai agama, moral + etika^^ komplit

Just talking...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s