[FF/Chapter/S/PG-19/There is no princess barbie! (part 1)]

Author  : Sophie Maya

Title       : There is no princess barbie!

Cast       : Leeteuk Super Junior, GD BigBang, Kyuhyun Super Junior, Donghae Super Junior, 7 princess barbie

Support cast: Taeyeon

Genre   : /?

Rated    : PG-19

Type      : straight

Summary             : Dia orang yang benar-benar membenci barbie.

Disclaimer           : Super Junior, Big Bang, and other idol isnt mine. But this story is mine

Warning               : do you hate the CAST? DONT READ, its simple. And one more, NO BASHING oke? And last, i really hate silent readers! So, dont be silent!

“Uri… keumanhaja.”

“Waeyo?”

“Aigo, Oppa… nan…”

“Saranghae.”

“Oppa….”

“Jebal gajimarayo. Saranghae.”

“Oppa… Oppa tahu ada banyak gadis yang lebih baik dari aku diluar sana?”

“Tidak ada.”

“Oppa jangan naif!”

.

.

.

  1. Charismatic Princess Barbie: Victoria

Tangan Victoria bergerak tertatih merogoh kantung tasnya. Vic merasakan bau anyir menusuk indera penciumannya dan memaksa gadis itu bergerak lebih cepat. Tubuhnya sudah tidak bisa diajak kompromi akibat minuman sialan yang baru saja diteguknya tadi, yang sukses membuat sendi-sendi tubuhnya mati rasa. Victoria menggeser sedikit tubuhnya hingga tanpa sengaja gadis itu menjatuhkan beberapa buku dari dalam tasnya hingga buku-buku itu jatuh ke lantai dan menimbulkan suara gema disekeliling ruangan. Vic masih terus mencari handphone, benda yang paling ia butuhkan saat ini, saat secarik kertas ikut melayang jatuh ke lantai. Diliriknya kertas itu.

1.Charismatic

Ketemu!

Tangan Vic akhirnya berhasil meraih hape. Dengan cepat dan dipaksa sekuat tenaga, ia menekan-nekan tombol handphonenya.

….charismatic.

Vic melirik untuk melihat kertas yang tadi jatuh dari dalam tasnya. Dan lalu ia menghela napas panjang.

“Seonsaengnim.” Ucap Vic dengan nada lemas. Tenggorokannya semakin tercekat dan perutnya bertambah sakit.

“Victoria?”

“Seonsaengnim…,” Vic menarik napas sebentar, “…nan…nan…”

BRUK

.

.

.

.

Pagi ini Narin Girls Academy sudah ramai dengan para muridnya yang berebut masuk ke kelas, atau sekedar bergosip di pinggir koridor, maupun belajar di kantin. Sekolahan yang berdiri hampir seratus tahun dan cukup menjadi panutan sekolah lain yang masih baru. Meski sebenarnya tidak ada yang istimewa dengan sekolah ini, kecuali ini adalah sekolah asrama puteri, yang hanya boleh dihuni para siswa puteri. Selebihnya para guru pun kebanyakan perempuan dibanding laki-laki. Sekolah ini bukan sekolah favorit. Jika ingin mengakui betapa hanya prestasi sebagai ‘sekolah paling tua’ sajalah yang dipandang oleh masyarakat.

“Jika saja larutan kemarin kita beri zat nitrogen, akan ada hasil yang menarik. Satu lagi, rumus fisika yang kemarin di bapaknya terdapat kekeliruan. Kamu nyadar nggak? Ituloh… pas bapaknya malah nge-ehem ehem-in kamu, dia ngejelasin bahwa energi potensial yang terjadi pada buah apel yang ada di halaman sekolah itu, dipengaruhi juga oleh energi—hppp!”

Lizzy membekap mulut Eunji, teman sekelasnya yang berwajah 11-13 sama buku ensiklopedia milik perpus yang letaknya di lemari kaca, nggak boleh disentuh, nggak boleh dipinjam, hanya untuk pajangan itu.

“Eunji, ganti topik.” Rengek Lizzy kesal.

Eunji tertawa. “Oke. Kamu tahu… guru Bahasa Inggris kita…”

“Jangan soal guru kita juga.” Elak Lizzy.

Eunji mengerling. “Lalu… bagaimana soal polisi yang datang dua hari lalu ke sekolah kita?”

Langkah Lizzy terhenti. Ekor matanya menatap Eunji resah. “Andwae…” desisnya pelan. “Jebal andwae…”

Eunji menatap bingung Lizzy sebelum akhirnya mengangkat bahu begitu mendengar dua orang kakak kelas mereka tengah bertengkar di tengah koridor.

Lizzy dan Eunji sama-sama tahu siapa mereka. Jessica Onnie dan Bom Onnie. Mereka selalu bertengkar. Jessica Onnie adalah tetangga Bom Onnie dari sejak SD. Mereka selalu satu kelas, satu sekolah, satu SMP, satu SMA, satu jurusan, satu meja. Tapi sudah menjadi hal yang lumrah terjadi jika mereka selalu berantem dan tidak pernah akur. Mereka bukan sahabat, bukan teman, bukan saudara. Semua orang di sekolah ini tahu mereka adalah musuh. Dan pertengkaran merupakan makanan sehari-hari mereka. Pertengkaran yang lagi-lagi karena—

“Donghae dan aku sudah putus sejak dulu.” Jessica menyibakkan rambutnya dan menatap tajam Bom. Rahangnya mengeras.

“Aku… kaya, kau tahu itu.” Bom tersenyum sinis. “…dan aku membencimu, kau tahu itu.”

Jessica terkikik. “Lantas jika kau kaya, kau mau apa heh?” tantangnya.

Bom memicingkan mata. Diangkatnya dagu Jessica. Kuku-kuku palsu miliknya menekan-nekan pipi gadis itu dengan angkuh. “Karena aku kaya, maka aku bisa membunuhmu.

“Mereka selalu bertengkar soal cowok.” Eunji berbisik pelan, mengerlingkan matanya sebelum terkikik geli melihat ekspresi Lizzy yang berubah pucat.

“Waeyo?” Eunji terdiam. Ia mengibas-ngibaskan tangan ke depan wajah Lizzy.

“Lizzy, waeyo?”

Lizzy menelan ludah.

Menatap gamang pada koridor kelas yang ramai.

Lizzy, waeyo?

.

.

.

Bukannya Lizzy tidak tahu masalah kedatangan polisi dua hari lalu. Bukan juga ia malas untuk membicarakan masalah yang tengah hangat-hangatnya menjadi berita terkini di sekolah ini. Bukan, benar, bukan. Bukan karena itu semua.

Lizzy takut. Hanya takut saja.

Bukan, bukan ‘hanya’, tapi ‘sangat’.

Lizzy sangat takut.

Dua hari lalu sekolah mereka didatangi para polisi yang menyelidiki kematian Ketua OSIS mereka, Victoria. Yang ditemukan tewas di ruang OSIS dengan diduga overdosis obat-obatan. Dugaan sementara itu membuat kasus kematian Ketua OSIS itu sebagai kasus bunuh diri. Tidak bisa dielak, Victoria, ketua OSIS yang sangat berkharisma dan berwibawa itu memang punya kecenderungan meminum obat tidur. Alasan Victoria memakai obat itu agar dia bisa tetap tidur lelap sesibuk apapun mengurus masalah kesiswaan di sekolah ini.

Pihak polisi menemukan tubuh Victoria tergeletak di lantai di sebelah meja OSIS dengan mulut berbusa. Barang bukti berupa cangkir berisi minuman, handphone, dan kertas-kertas yang ditemukan, disita polisi. Ruang OSIS ditutup dan dipasang garis polisi, sampai saat ini. Semua murid dilarang masuk maupun mendekat ke situ.

Langkah Lizzy terhenti di depan loker. Sedari tadi ia berjalan, tapi ia terus saja melamun. Memikirkan kejadian dua hari lalu dan sesuatu yang ia lihat berada dekat di Tempat Kejadian Perkara itu. Sesuatu yang sama yang ia miliki?

Krek.

Lizzy memutar badannya dan menarik laci loker pelan. Matanya beredar menyusuri loker miliknya. Buku-buku yang berantakan, baju olahraga yang belum sempat dicuci, sepatu balet yang sangat kotor, boneka pemberian kakaknya, dan kertas itu.

5. Beautiful

Mata Lizzy terpejam erat. Gadis itu mengatur napasnya yang terasa sesak.

“Tahu tidak? Polisi bilang, mereka menemukan kertas aneh di dekat mayat Victoria Onnie.”

“Mwo? Kertas apa? Proposal?”

“Aniyo. Proposal aniyeyo. Semacam… errr… card kecil, seperti kertas origami.”

“Oh, tugas sekolah mungkin?”

“Entahlah. Kertas itu cukup aneh. Berwarna putih dengan tulisan merah.”

“Tulisan? Kertas itu ada tulisannya?”

“Ne, isseoyo. Satu… charismatic. Itu tulisannya. Aneh kan?”

Lizzy meraba kertas berwarna putih dengan tulisan merah darah yang tengah di pegangnya itu. Hembusan napas lagi-lagi keluar dari bibir tipis gadis itu.

Perlahan dimasukkan kertas itu ke dalam loker lalu Lizzy mengunci lokernya rapat-rapat.

.

.

.

.

“Seonsaengnim! Annyeong!” Jessica menyapa Guru Kimia mereka yang berjalan melewatinya. Guru itu berhenti sebentar dan mengetuk kepala Jessica pelan.

“Kapan mau datang bimbingan? Bukannya kamu remidi ulangan kemarin?” tanya guru itu galak.

Jessica tertawa kecil. Ditatapnya kemeja biru tua yang melekat di tubuh seonsaengnim dan Jessica kembali tertawa. Ia menggerak-gerakkan poninya dan mengerjap pelan.

“Neo… Donghae, neo jeongmal babo-ya.” Bisik Jessica masih dengan terkikik-kikik. Membuat seonsaengnim di depannya mendelik.

“Babo?” seonsaengnim berusaha menenangkan emosinya.

“Ini hari Jum’at, euh? Memakai baju biru untuk hari jumat? Bukankah peraturan sekolah kita hari Jum’at untuk para guru memakai baju putih? Donghae, kamu pikun.”

Jessica menatap lembut seonsaengnim didepannya yang kini tampaknya mulai sadar dengan kesalahannya. Seosaengnim menatap kemeja bajunya gamang dan kemudian mengacak pelan rambutnya. Seonsaengnim terlihat sedikit bingung. Ia mendesah panjang dan menunduk dalam.

“Menjadi guru itu… jangan patah semangat. Nggak apa-apa salah baju, paling cuma kena hukum kan? Hehe. Ayo jangan lesu. Donghae Seonsaengnim semangat!” teriak Jessica.

Seonsaengnim menegakkan kepalanya. Dan lalu tersenyum manis.

“Jangan lupa datang bimbingan ya!” seru seonsaengnim.

Jessica mengernyit. “Kalau itu males….”

.

.

.

.

Namanya Donghae. Lee Donghae.

Jessica mengenal Donghae cukup lama. Sangat lama malah.

Donghae… si pendek yang entah kenapa berubah menjadi tampan itu dari dulu adalah mantan pacar Bom. Kalian mengenalnya, Bom yang itu, Bom yang menjadi musuh bebuyutan Jessica, yang setiap detik bertengkar dengannya.

Itu jugalah yang sebenarnya yang membuat Jessica mendekati Donghae. Sungguh bukan karena gadis itu menyukai wajah lembut Donghae, atau kekakuan sikap Donghae jika bertemu seseorang. Jessica mendekati orang yang kini menjadi guru di sekolahnya itu semata-mata hanya untuk membuat Bom marah. Hanya ingin membuat Bom merasa kesal dengan Jessica.

Orang bilang hubungan Jessica dan Bom itu aneh. Setiap saat bertengkar, tapi setiap saat mereka selalu bersama-sama: bersama-sama untuk saling mencecar satu sama lain.

Jessica juga pikir sikapnya ini memang aneh. Yang ada di pikirannya setiap waktu hanyalah membuat Bom kesal.

Bom yang selalu satu sekolah dengannya itu, hampir selalu diperhatikan. Hampir semua orang menyukai Boom, dan Jessica iri. Sangat iri dengan Boom. Apalagi Boom bukan gadis yang ramah—setidaknya Jessica lebih ramah dibanding Boom.

Mendekati Donghae adalah salah satu yang membuat Bom kesal. Jessica tahu, Bom masih menyukai pria itu. Meski sudah sangat dulu Donghae dan Bom mengakhiri hubungan mereka. Tapi sejak Donghae diterima menjadi guru baru di sekolah ini, Bom tampaknya ingin kembali dekat dengan Donghae.

Menyebut Donghae sebagai pacarnya adalah hal yang Jessica sukai. Karena itu adalah hal yang Bom benci.

“Melamun!”

Kyuhyun Seonsaengnim mengetuk kepala Jessica. Sontak membuat gadis itu kaget dan melongo.

“Jessica Jung!” bentak Kyuhyun, guru matematikanya setengah berteriak.

“Cho Kyuhyun seonsaengnim!” seru Jessica balas berteriak.

Kyuhyun menghela napas. Jessica memang merupakan peringkat kedua siswi ter-kurang ajar di sekolah ini. Yang pertama tentu saja Bom. Menghadapinya harus ektra sabar karena tidak ada yang bisa membuat gadis itu ketakutan sedikitpun. Bahkan sampai kepala sekolah pun, tidak pernah Jessica takuti.

“Jawab soal nomor dua.” Tegas Kyuhyun.

“Mollayo!” teriak Jessica singkat. Ia mengibaskan tangannya dan malah beralih pada layar hapenya yang terus berkedap-kedip. Lalu mati. Lalu kedap-kedip lagi.

Kyuhyun ikut menatap hape Jessica dan lalu membalikkan hape itu hingga layarnya berada di posisi bawah, mencium alas meja. Jessica tidak bisa melihat siapa yang menghubunginya.

“Lalu kenapa kamu mau ikut bimbingan Matematika jika kamu tidak mau menjawab satu soal pun?” Kyuhyun memelankan suaranya.

Jessica mengedikkan bahu. Ia merampas hapenya dan beranjak dari bangku hingga beberapa anak yang sekarang juga mengikuti bimbingan Matematika sontak menatapnya dengan pandangan aneh. “Karena aku mau…” Jessica kehilangan kata-kata, “aku…”

Hapenya kembali berkedap-kedip.

Jessica melirik layar hapenya dan tertegun.

Bom is calling.

Keajaiban dunia seorang Bom menelepon Jessica?

Penuh kebingungan, Jessica mengangkat teleponnya dan mendengarkan suara Bom yang sangat pelan.

“Bom?”

“Hahh… dasar bodoh. Ucapan…ku… be-benar—“

Tiit.

Telepon terputus. Tangan Jessica yang masih menggenggam hape mulai bergetar pelan. Seluruh anak-anak kini menatapnya, dan Kyuhyun Seonsaengnim terus memandanginya seakan meminta penjelasan apa yang tengah gadis itu lakukan.

“Aku tidak ingin pulang lebih dari jam tujuh malam seonsaengnim…” Suara Jessica terdengar lirih. Perlahan air mata mengalir di pipi Jessica. “Biarkan…” suaranya mulai bergetar hebat, “biarkan a…aku.. pulang…”

.

.

.

.

  1. Hillarious Princess Barbie: Park Bom.

Jessica, aku benar kan, gadis bodoh. Musuh-ku yang paling bodoh.

Semua perkiraanku, semua dugaanku, itu benar.

Aku sudah bertaruh segalanya untukmu.

Dasar bodoh, kau benar-benar tidak percaya padaku?

Sekarang… aku sudah membuktikannya. Ucapanku benar kan?

Jika aku meneleponmu, maka itu akan jadi awal dan akhir aku bertemu denganmu.

Musuhku yang sangat bodoh. Beri tahu seseorang soal ini. Kumohon… bukankah kau adalah si empat… pretty?

Aku memohon padamu bodoh, beritahu seseorang.

Kumohon….

Bom tersenyum pada seseorang di depannya. Senyum paling tulus dari koleksi senyum angkuh yang biasa ia tampilkan. Kali ini sangat tulus hingga Boom merasa ia sudah gila sekarang.

“Dia membencimu…”

Bom menganggukkan kepala.

“Jadi maumu apa?” Bom tertawa mendengar ucapannya sendiri.

“Aku benci padamu.”

“Oh ya?” Bom kembali tertawa. “Lantas kau mau aku… melompat dari atas atap ini?” Bom melirik pemandangan di belakangnya. Halaman sekolah yang tampak kecil dari lantai sepuluh sekolah ini. Dan satu lagi, langit yang gelap hingga sekarang terlihat semakin menakutkan.

“Karena kau mirip dengannya—“

“Kita lihat siapa yang menang.” Tantang Bom.

“Lihat saja.” Orang itu tersenyum dan memukul kepala Bom sekuat tenaga hingga gadis itu terhuyung kebelakang dan jatuh dari atas atap.

.

.

.

.

“Anda siapanya Bom?”

Polisi menginterogasi Jessica. Menanyakan perihal kasus pembunuhan yang terjadi semalam. Seseorang diduga memukul kepala gadis itu dan mendorongnya dari atap gedung. Masalahnya, tepat saat itu Bom menelepon Jessica, sehingga Jessica menjadi orang terakhir yang tahu keadaan Bom. Jessica sendiri hanya bisa menangis tersedu-sedu. Ia memegangi lututnya yang gemetaran dan tak sanggup berbicara sepatah katapun.

“Dia…” Jessica ingin mengatakan sesuatu, tapi dengan cepat ia menggelengkan kepala.

Polisi tampak putus asa. Ini adalah kasus kematian kedua yang terjadi dalam sepekan, di sekolah yang sama. Yang bahkan kasus kematian pertama belum terugkap apakah itu murni bunuh diri atau pembunuhan.

Para guru yang berdatangan mulai menghibur Jessica yang tampak terpukul. Gadis itu terlihat sangat pucat.

“Seonsaengnim… aku juga… aku juga… kenapa aku yang diteleponnya?” Jessica memeluk Taeyeon, guru Bahasa Inggrisnya.

Taeyeon menepuk-nepuk bahu Jessica pelan.

“Aku… bukankah… aku tidak boleh ketakutan seperti ini?” suara Jessica terdengar bergetar.

“Sst… tenanglah.” Hibur Taeyeon.

Para polisi ikut menenangkan Jessica. Mereka meninggalkan gadis itu dan kembali ke TKP dimana Bom ditemukan tewas dengan kepala berlumuran darah. Lantai sepuluh itu cukup tinggi, dan jelas gadis itu bisa tewas seketika.

“Bisakah anda melindungi kami?” tanya Jessica pelan.

Polisi itu menoleh.

Jessica menelan ludah. Wajahnya terlihat sembab. “Bisakah anda menolong kami, bahkan mungkin… anda harus menolongku??”

.

.

.

.

“Kalian tahu, dari tas sekolah milik Bom ditemukan secarik kertas seukuran origami, berwarna putih, dengan tulisan warna merah?”

“Oh ya? Tulisan apa?”

“Dua… hillarious?”

“Hei, itu hampir sama dengan kertas milik Victoria Onnie kan?”

“Ini aneh.”

Lizzy berjalan cepat melewati kerumunan anak-anak yang terus saja membicarkan kematian Boom Onnie. Ia memutar tubuh ke arah berlawanan jika ada temannya yang mengajaknya membicarakan hal ini. Menghindari topik yang membuatnya semakin ketakutan.

“Siapa selanjutnya!!”

DEG.

Eunji tiba-tiba mengagetkan Lizzy. Ia menepuk bahu gadis itu dan sukses membuat Lizzy terlonjak hingga memasang wajah sepucat-pucatnya.

“Aku yakin ini pembunuhan.” Ujar Eunji sambil memasang cengiran di wajahnya.

Lizzy memiringkan wajah. “Pembunuhan? Kau membicarakan apa?”

Eunji menatap Lizzy malas. “Oh, ayolah.. masalah Bom Onnie.”

“Aku tidak mau dengar.” Lizzy menutup kupingnya.

“Hei, memang kenapa?” Eunji menarik tangan Lizzy.

“Tidak. Tidak. Hanya tidak mau mendengar.” Lizzy terus mengelak.

Eunji tersenyum. “Ck, kau tahu… kertas itu… di kematian Victoria Onnie sama Bom Onnie, sama-sama ditemukan kertas origami dengan tulisan merah. Ini seperti cerita-cerita pembunuhan yang biasa terjadi di tivi kan?”

“Aku nggak mau dengar, Eunji!!” rengek Lizzy.

“Hei, ayolah… aku sedang menceritakan persepsiku mengenai masalah ini. Ck,kau ini kenapa ketakutan? Apa kau juga mendapat kertas yang sama dengan Victoria Onnie dan Bom Onnie?”

Lizzy terdiam.

Eunji tertawa. Lalu ditepuknya bahu Lizzy pelan. “Baguslah kalau begitu.” Ia mengerling. “Karena aku juga dapat kertas itu.”

.

.

.

.

To be continued

 Jeongmal mianhae!

dua kata yang aku ucapin itu bener2 ngungkapin permohonan maaf aku atas keterlambatan FF ini

yang awalnya coming soon awal sept, ngaret jadi hampir akhir sept! ohooo~~~

ini gara2 block writing sehabis bikin video trailer ff ini hahaha

anyway aku masih bingung sama part ini, aku buat seadanya dulu ya. mian jelek.

dikritik ya ayo, ^^

57 thoughts on “[FF/Chapter/S/PG-19/There is no princess barbie! (part 1)]

  1. Ayoo eonn!! lanjut!!

    kEreN lo FF nya..

    Sica Nya jangan sampe mati yah.. kalo perlu ditambah rivalnya..

    Habis ini yg mati siapa?

    jangan lama2 eonn!!

  2. kereeen!!! coz aq br prtama kali bca ff genre misteri kyk gini!!

    jd pnsrn ntr lizzy sm ga y kyk korban sblmny?ninggalin kertas origami?trs ap mksdny korban sblm kmatianny d ksh kertas origami?? * bikingregetan*

  3. kereeennn!!coz aq br prtama kali bca ff genre misteri kyk gini

    jd pnsrn ap ntr lizzy sm dgn korban sblmny?ninggalin kertas origami brtuliskn tinta merah??
    kira2 ap mksd plakuny??dn siapa plakuny??*bikin gregetan* ><

  4. wha br baca lg ff,,,

    kesan pertama : keren!!!
    kesan kedua : yh wlopun aq g begitu suka genre ini,,tp ceritany gampang d ikutin,,
    kesan ketiga : lanjutin!!!jd pnsrn ntr lizzy kyk gmn d bunuhny??trs siapa dalangny??

  5. kyaa.. keren kereen.. baru kali ni baca ff misteri. BOM:Hilarious barbie = tepat bangeet..! ayo sophie,, aku sungguh menantikan karya ini..

  6. uwooooh ini keren :O
    lizzy sama eunji juga dapet kertasnya ya?
    liizy mati ke lima fong D:
    eunji ke berapa?
    pembunuhnya siapa?
    aaaaaaa aku penasaran bangeeeeet, ayo lanjutannya unnie ipaaar :3

  7. Huaaaah keren saeng….
    Aku suka banget….
    Bikin penasaran….

    Wah sedih nie Bom eonni keburu meninggal juga😦

    Maish ada lanjutannya kan ya? Eh Bang Naga juga belum muncul, Teukie juga…
    Wah makin penasaran nie…
    Masih banyak teka-teki yang belum kejawab….

    Ayo semangat buat bikin lanjtannya ya saeng🙂

    • hikksss maafkan sayaa
      saya sejujurnya ga tega
      dan eh, baru sadar ini ep ep belum pernah kusentuh sama sekali yaa hahaha *digetok
      kukira ini ff gagal jadi aku takut ngelanjtinnya
      tapi ntar kulanjutin lagi dehhh

  8. Keren banget..,

    .. Kakak., keren banget!! Meski ini cerita pembunuhan., nggak berat untuk di baca. Ringan tapi tetap berisi..
    .. Kakak., kapan lagi updatenya?
    .. Lamakah?
    .. Semoga cepet ya..
    .. Amin..
    ..🙂

  9. Woahhh..,
    .. Kakak., keren banget!! Meski ini cerita pembunuhan., nggak berat untuk di baca. Ringan tapi tetap berisi..
    .. Kakak., kapan lagi updatenya?
    .. Lamakah?
    .. Semoga cepet ya..
    .. Amin..
    ..🙂

  10. sopp ayammm … baru bacaaa nihh akuuuu .. huwwaaaaa
    mian mian baru buka blogmuu .,. abis lu pan kagak ngabarin guweee ,..

    si lizzy bakalan jadi korban selanjutnya nih?
    huwaaaa ,.. jadi angka itu urutan kematian merekaaaa ..

    ayoo sopp lanjutkaannnn

    • iya ga papa onnn
      emang sengaja kagak ngabarin hehehe, lagi males ngabar2in onn, pan aye bukan tukang kabar *??*

      hmm ga tau, kok agak dilema ya sama ini ff liat mood aja onn ini mau dilanjutin pa kaga :p

  11. hiyaaa,, berarti selanjutnya eunji!!!! andwae!!! dia baru nongol bentaran udah mo dimatiin aja….

    saya mau maen tebak-tebakkan ahh… yang bunuh pasti laki-laki… hahahaha
    soalnya si laki-laki sedih diputusin pacarnya cuma karena pacarnya bilang ada banyak cewe yg lebih baik darinya *ngarang bebas*

    aku penasaran sama kelanjutannya!! gyaaahhh! lanjutkan!! \(^o^)/

    • eunji ya? *lirik nomor*

      wuaaa baru nyadar, eunji ya? kembaranku selain lizzy??!!!

      hahahaha lihat aja ntar

      hm pembunuhnya co? hahaha rahasia ahhhhh

      oke ditunggu ya. eh jangan ditunggu ding, kayaknya bakal lama nge post nya *plak*

  12. Lagi buka-buka blog, ehhhh, udah update toh ternyataaa, kenapa ga ngabarin? aku nungguin nih FF lhoo~😄
    oh ternyata urutan 1, 2, 3, 4 sampe 7 itu urutan kematian mereka ya? ah ya, kalo kaya gitu aku ga mau masuk urutan princess barbie deh *emang siapa juga yang mau masukin? .__.*
    ngeri deh, siapa sih yang ga suka ama gadis-gadis cantik gitu? apa jangan-jangan yang ngomong di adegan pertama itu ya sop? yang bilang ‘jangan pergi’, ‘oppa, jangan bohong’ itulahhh… jangan-jangan itu cewenya jeles ya gara-gara cowonya suka ama cewe cantik-cantik ya?? *cuma nebak*
    bom ama jessica musuh tapi kaya sahabatan gitu deh yaa, tapi aku agak sedikit terharu pas jess jadi orang terakhir yang di telepon bom. kok kayanya mereka saling menyembunyikan rasa sayangnya gitu yah? .__.
    lanjut ah soph,
    saya penasaran ini siapa yang bunuh mereka, jadi galau ini (??)😄
    baguslahh, aku malah ga begitu bisa buat FF genre kaya beginian, hehe..
    nice nice =D

    • hahaha iya iya iyaaa
      memang sengaja nggak ngabarin
      habis lagi males sih onn kekekekk

      hmmmm menurut onn gimana dengan urutan itu??? kekekekekkk

      iya aku aja entah mengapa nangis pas adegan jessica nangis hahaha
      gaje ahhh

      galau iniii

      aku belum tentu bisa bikin lanjutannya
      takut gagal xD

Just talking...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s