[FF/chapter/S/PG-19/난 너뿐이라고: Part 2]

[FF/Chapter/ S/ PG-19/ Nan neopponirago : Part 2]

Author  : Sophie Maya

Title       : Nan neopponirago

Cast       : Lee Hongki FT.Island, Mir Mblaq, Lizzy After School.

Support cast: Lee Joon Mblaq, Heechul Super Junior, Nana After School, etc.

Genre   : romance/?

Rated    : PG-19

Type      : straight

Summary             : Jika aku bilang ini hanya karena kamu, apa kamu merasa senang? Bahkan kamu dan dia… sama, tapi tetap saja punya hati yang jauh berbeda!

Disclaimer          : FT. Island, Mblaq, After School isn’t mine, but this plot is MINE. This story 100% just imagination! No copas!

Warning               : do you hate the CAST? DONT READ, its simple. And one more, NO BASHING oke? And last, i really hate silent readers! So, dont be silent!

Part 2

“Jadi kuharap aku bisa… nggg…” Mir menghentikan ucapannya. Ia mendadak terlihat salah tingkah. “Aku bisa meminta nomor handphone mu? Ah, ini bukan apa-apa sekedar untuk memantau kondisimu dan Hongki. Eng, nomor lamamu sudah diganti kan? Aku tidak bisa menghubungi kau lagi, dan engg…” Mir berbicara tersendat-sendat. “…kalau tidak boleh juga tidak apa-apa sih.” Sambungnya cepat saat melihat ekspresiku yang datar.

“Oppa…” panggilku pelan.

“Eh, iya?”

Aku tersenyum miris.

“Nih, nomor hapeku, Oppa. Dicatat ya…”

Mir tersenyum. Segera saja mencatat nomor yang kuberikan. “Ah, aku.. engg.. kau tahu, Lizzy… sejak aku debut menjadi member Mblaq, hapeku ganti, nomorku ganti, dan otomatis aku kehilangan semua kontak teman-teman SMA dulu. Jadi kalau aku menghubungi, mungkin yang tertera di layar hapemu adalah nomor asing.”

“Eum…” gumamku pendek.

“Ta-tapi aku tidak akan menghubungi kau jika tidak ada yang penting. Tenang saja aku tidak akan mengganggu waktumu.” Tambah Mir buru-buru.

“Eum…” aku kembali bergumam. Tepatnya, aku kehilangan kata-kata. Melihat Mir gugup seperti itu membuatku bertambah canggung. Rasanya sudah sangat lama aku tidak berbicara berhadap-hadapan dengannya seperti sekarang. Sudah seratus tahun kah? Kenapa seperti baru saja bertemu dengannya sejak beratus-ratus tahun lalu?

“Aku antarkan kau pulang bagaimana?” tawar Mir lagi. “Sekarang kau tinggal—“

“Di apartemen, Oppa. Aku tidak mau selalu merepotkan orang tua dengan tinggal bersama mereka.” Ucapku tersenyum. Aku tidak mau tinggal di kamar lamaku yang penuh dengan kenangan tentang Oppa selama SMA dulu. Aku bisa gila jika seperti itu caranya.

“Oh, baiklah. Aku antar ya. Tidak akan ada yang marah kan?” tanya Mir.

“Eum?”

Mir terkekeh pelan. “Lizzy, jangan bilang ada yang marah jika aku mengantarmu pulang ke apartemen.”

“Jika maksudmu yang marah itu pacar, tentu ada yang marah.” Jawabku. Mir kontan membulatkan matanya.

“Siapa?”

“Hongki.” Aku mengerling dan tertawa pelan.

Mir yang tadinya memasang wajah serius sontak ikut tertawa renyah. “Hahaha, dasar kau ini! Kukira siapa.”

Oppa… Oppa… memang kau kira siapa lagi, heh?

.

.

.

.

*Author POV*

“Tuan Hongki hari ini jam tujuh lewat lima belas ada jadwal terapi untuk tangan kiri Tuan…” seorang suster mendatangi Hongki yang tengah membolak-balik album foto berwarna cokelat tua. Hongki menoleh dan menatap tajam suster itu. Membuat perempuan paruh baya tersebut mundur beberapa langkah seraya menggigit bibir bawahnya.  “Ah, Tuan… kalau anda menolak terapi lagi, bisa-bisa—“

“Siapa yang menolak terapi?!” bentak Hongki keras. Suster itu membelalakkan mata kaget. Tapi masih dengan posisi menjauh dari Hongki.

Hongki menutup album fotonya dan meloncat turun dari ranjang. Merapikan rambutnya sekilas dengan tangan kanan—tangan yang tidak diperban. Lalu tersenyum lebar. “Ayo, terapi!” serunya sambil berjalan keluar kamar sambil bersiul-siul pelan. Hongki berhenti di depan pintu kamar dan mengernyit sebentar. “Suster, anda tidak digaji untuk terus tetap berdiri disitu.” Ujarnya saat melirik suster yang masih terpaku di tempatnya. Tak bergerak sedikitpun.

“Ah.. an-anda benarr…” suster itu tersenyum dan buru-buru menyusul Hongki. “Untunglah anda sekarang mau diterapi, Tuan…” ucap suster itu.

Hongki mengangguk-anggukkan kepala. “Ya. Tapi besok aku boleh keluar sebentar ya dari rumah sakit ini…”

Suster menoleh, “tapi anda belum sembuh…”

Hongki balik menatap sang suster dengan pandangan tajam. “Aku mau keluar besok. Titik.”

Hongki berjalan duluan menuju ruang terapi dengan langkah riang. Wajahnya bersinar-sinar semangat.

Dan suster yang bersama Hongki hanya menelan ludah. Dia sudah ketakutan menghadapi pasien satu ini yang tiap hari kerjaannya hanya memikirkan dirinya sendiri tanpa memperhatikan kesehatan tubuh. Andai saja pasien ini cepat keluar dari rumah sakit, itu lebih bagus. Sayangnya Dokter Park Kyusang masih melarangnya.

Suster itu menundukkan kepala. Belum pernah dia lihat pasien se-rese ini sebelumnya.

.

.

.

.

You have one message from Lee Joon

Mir berdecak pelan. Membenarkan kacamatanya sekilas dan dengan langkah terburu-buru menyusuri koridor-koridor yang memantulkan wajahnya di kaca transparan. Mir menenggelamkan kepalanya semakin ke bawah. Menghindari tatapan bingung orang-orang sekitar yang melihat dirinya. Seorang pria dengan baju serba hitam berkilau dan kacamata yang menutupi hampir sebagian wajah.

Jangan salahkah Mir di saat Seoul sepanas ini, dia harus memakai baju serba hitam. Ini bukan karena dia tengah mengikuti tren-tren dandanan ala mafia China, atau bukan karena dia termakan film-film yang juga sering memakai baju hitam berkilau seperti ini. Masalahnya tadi Mir baru saja menyelesaikan jadwal manggungnya di KBS, dan sehabis itu langsung cabut ke sini. Diam-diam menyelinap meninggalkan member Mblaq lainnya. Tidak sempat berganti baju dengan yang lebih normal dari ini. Tidak sempat membersihkan make-up yang melapisi wajahnya, sehingga kacamata menjadi pilihan terakhir menyembunyikan wajahnya.

Kamu di mana?

Hyungnya mengirimkan sms pada Mir. Mir hanya termangu beberapa saat sebelum akhirnya memilih mengabaikan sms itu.

Katakan padaku, kamu dimana, MIR?

Sebuah sms datang lagi. Masih dari Lee Joon hyung. Mir hanya membacanya sekilas dan kembali memasukkan hapenya ke dalam kantong celana.

Sekarang dia sudah berada di bagian Administrasi. Seorang pria botak menyambutnya dengan wajah jutek. “Anda siapa?” pria itu menyusuri pandangannya ke Mir dari atas hingga bawah. Dahinya berkedut-kedut tanda tengah berpikir keras apakah Mir merupakan mahasiswa kampus ini.

“Ah, maaf. Saya cuma mau tanya… ngg…” Mir mengeluarkan sebuah catatan kecil dari dompetnya. Melihatnya sebentar dan mengangguk. “Dimana letak Kelas Mata Kuliah Statistika Jurusan Komunikasi?”

.

.

.

.

Lizzy memanyun-manyunkan bibirnya, berusaha membuat inovasi relaksasi baru untuk membunuh kejenuhannya menunggu Dosen Statistika yang lagi-lagi diperkirakan telat datang—atau bahkan tidak akan datang. Kebiasaan dosennya yang satu itu, membuat muridnya menunggu, dan ujungnya pulang ke rumah masing-masing tanpa mendapat apa-apa. Aslinya Lizzy cukup malas untuk datang kuliah, tapi Sunny, teman satu apartemennya itu memaksa Lizzy untuk menemaninya di kelas. Sunny bilang dia bisa garing jika menunggu di kelas tanpa kehadiran Lizzy. Huhuhu, lebeh banget si Sunny. Padahal biasanya juga Sunny pergi kemana-mana sendirian. Kadang malah suka ninggalin Lizzy di kampus tanpa babibu.

“Lizzy, bagus ini atau ini?” Sunny menunjukkan dua buah foto stiker bergambar Mblaq yang mungkin baru dibelinya kemarin saat berjalan-jalan di mall.

“Entahlah aku tidak begitu tertarik.” Lizzy menelungkupkan wajahnya.

Sunny cemberut. “Kurasa bagusan yang ini, yang Lee Joon-nya cakep.” Gumam Sunny seorang diri.

“Pilih yang Mir-nya terlihat jelek.” Sahut Lizzy masih dengan wajah tertelungkup. Sunny menoleh dan langsung mengernyit. “Ah, maksudku, yang mana saja boleh.” Lizzy langsung meralat ucapannya. Tadi dia terbawa emosi saat mendengar nama Mblaq disebut-sebut. Mengingat Mblaq, mengingatkannya pada Mir. Dan mengingat Mir mengingatkannya kembali pada kejadian kemarin, seharian yang melelahkan. Untung saja kemarin saat Mir mengantarkannya ke apartemen, Sunny sudah tertidur pulas. Gadis itu tidak tahu kalau Lizzy pulang diantar salah satu member boyband kesayangannya itu. Jika tahu, Lizzy tidak bisa menebak apa yang terjadi pada Mir.

Mungkinkah Mir akan diculik Sunny dan dijadikan pajangan di apartemen mereka? Mengingat betapa tergila-gilanya Sunny pada Mblaq.

Atau bisa saja Sunny akan bertanya ini-itu tanpa selesai-selesai dan memaksa Mir untuk mengantarnya menemui member Mblaq lainnya? Bisa jadi, mengingat kadar member favorit pilihan Sunny tidak jatuh pada Mir, melainkan Lee Joon, member yang pernah bermain bersama Rain di film Hollywood Ninja Assasin.

Dan apapun yang dilakukan Sunny pada Mir jika gadis itu mengetahui Lizzy dekat dengan Mir—semua adalah spekulasi yang buruk. Lizzy tidak berani bertaruh dan membayangkan apa yang akan terjadi.

Sunny begitu gila—jika sudah menyangkut soal Mblaq.

Salah satu alasan mengapa Lizzy memilih untuk menyewa apartemen berkamar dua adalah, dia tidak ingin sekamar dengan Sunny. Yang dimanapun celah dalam kamarnya ditempeli segala jenis poster Mblaq. Yang setiap hari dari kamarnya terdengar lagu-lagu mulai dari Oh Yeah hingga Monalisa. Lizzy tidak sanggup sekamar dengan Sunny. Dia bisa ikutan gila. Dan mungkin memilih pulang ke rumah dan tidur dikamar lamanya yang dipenuhi foto Mir semasa belum jadi Mblaq.

Sunny begitu gila. Sama seperti Lizzy yang semasa SMA juga sempat gila.

Jika Sunny sekarang tergila-gila dengan Mblaq. Maka Lizzy dulu tergila-gila dengan Mir.

Sama-sama gila, kan?

“Kamu nggak terlalu suka musik sih, Liz.” Sunny malah meledek. “Kamu adalah satu-satunya orang yang kutemui, yang tidak menyukai Mblaq. Hihihi…”

Lizzy menoleh dan mencibir. “Iya, habisnya kamu sukanya ngumpul bareng sesama penggemar Mblaq sihh..”

“Idih, Lizzy ngambek ya…” Sunny menggamit lengan Lizzy manja. “kan cuma bercanda tahu.”

“Hahaha, iya tahu kok Sun…” Lizzy tersenyum lebar.

Lizzy akhirnya memilih untuk mengobrol dengan Sunny. Sampai tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan histeris dari luar kelas. Derap langkah terdengar hingga kedalam. Begitu riuh. Begitu ramai. Membuat Lizzy dan Sunny saling berpandang bingung. Ada apa sih?

“Itu Mir Mblaq!!!”

Sebuah teriakan seorang gadis diluar sana menyentakkan Lizzy dan Sunny. Sama-sama kaget , tapi dengan alasan berbeda.

“…oppa?” desis Lizzy tak percaya.

“Mir Mblaq ke sini? Mau ngapain yaa??” Sunny terkikik-kikik senang.

Lizzy mendesah. Tanpa babibu lagi, tanpa pikir panjang lagi, dia langsung merunduk ke bawah meja. Bersembunyi agar tidak terlihat Mir. Firasat Lizzy mengatakan Mir tengah mencarinya—meski dia tidak tahu apa sebabnya, kenapa Mir mencarinya.

Apa Mir ingin meminta bon hutang makan bersamanya kemarin malam? —itu tidak mungkin. Mir bukan orang yang seperti itu. Mir adalah tipe namja yang akan selalu mentraktir yeoja, tipe seorang namja yang begitu sopan terhadap yeoja, tipe seorang namja

“Oppa, Mir Oppa?!!” teriakan anak-anak sekelas semakin terdengar riuh. Lizzy merasakan langkah kaki Mir masuk ke dalam kelasnya. Lizzy menelan ludah. Buat apa Mir datang ke kampusnya lagi?

“Iya, ini aku.”

Lizzy mendengar suara manis Mir dalam jarak beberapa meter. Mir meladeni anak-anak yang menanyainya dengan pertanyaan ini-itu. Bahkan Lizzy yakin Mir sekarang tengah meladeni permintaan tanda tangan maupun foto bareng. Terbukti dari suara riuh rendah yang memenuhi kelasnya. Bahkan Sunny yang tadinya duduk di sebelah Lizzy sekarang ikut bergabung bersama anak-anak yang merubungi Mir. Sunny melonjak-lonjak girang melihat Mir, seperti melihat boneka barbie edisi terbaru.

“Oppa ingin kuliah di sini?” tanya suara seorang yeoja yang Lizzy tidak tahu siapa itu. Wajar saja, ia masih bersembunyi di bawah meja seperti domba tersesat.

“Tidak. Aku hanya ingin melihat seseorang,” jawab Mir ramah. “Tapi sepertinya dia tidak ada di kelas ini.”

Lizzy mendengarkan seksama apa yang Mir ucapkan. Beruntung sekali rasanya jika Mir tidak menyadari kehadiran Lizzy di sini.

Saat Lizzy tengah menghembuskan napas lega, tahu-tahu saja ia merasakan bayangan gelap menyelimutinya dari atas meja. Bayangan itu merunduk pelan kebawah dan menatap Lizzy dengan mata hitam jernihnya. Bayangan itu lalu berubah menjadi sosok Mir yang uh oh, Lizzy kaget setengah mati melihatnya.

Annyeong, Lizzy!” sapa Mir sambil tersenyum lebar. “Kau tetap sama seperti tiga tahun lalu, suka sekali bersembunyi dibawah meja. Apa kau tidak malu? Bukankah kau sudah jadi mahasiswi?”

……EH?

Lizzy melongo tak percaya. Antara kaget dan malu. Seperti anak kecil yang ketahuan mencuri buah rambutan milik tetangga sebelah. Wajahnya memerah. Mir terus menatapnya dengan senyum menggoda, juga Lizzy sempat melihat raut keheranan teman-teman sekelasnya yang turut melongokkan kepala ke bawah meja tempatnya bersembunyi.

Lizzy merasa dia benar-benar seperti pencuri yang sudah ketahuan warga satu komplek!

.

.

“Lizzy di mana?” Cho Junhwa, pemimpin redaksi Majalah Kacamata, masuk kedalam kelas 2-A dan mengedarkan kepalanya sekeliling.

“Kami tidak tahu dia dimana, seonsaengnim…” ujar anak-anak sekelas kompak.

Cho Junhwa mengangguk. Agak sedikit kesal dia bergumam pelan, “jika kalian melihat Lizzy, katakan seonsaengnim mencarinya mengenai artikel olahraga yang dia buat. Bilang padanya, artikel itu tidak fokus dan harus diulang sekarang juga!”

Anak-anak sekelas mengangguk. Dan seonsaengnim bernama Cho Junhwa itupun pergi. Lizzy yang sedari tadi bersembunyi di bawah meja guru menghela napas lega. Dia ketakutan seonsaengnim akan menemukannya dan memarahinya berkaitan artikel itu. Lizzy benci menulis artikel mengenai olahraga, dan seonsaengnim terus memaksanya membuat artikel itu. Sekarang akibatnya, artikel itu jelek. Sangat jelek dan tidak memenuhi standar penulisan artikel yang baik. Lizzy menyadari hal itu dan nekat tetap menyerahkan artikel itu ke seonsaengnim.

Lizzy baru saja menghela napas dan hendak keluar dari bawah meja saat dilihatnya wajah Mir berada persis di depannya! Mir masih dengan seragam SMA nya tersenyum sangat lebar dengan binar-binar matanya yang lucu.

“Oppa?!” Lizzy tercekat.

“Kau bersembunyi lagi, heh?” Mir tertawa-tawa. “Dasar, Lizzy! Hanya gara-gara tidak ingin bertemu orang, lantas kau pikir bersembunyi di bawah meja adalah ide terbaik? Hahaha, kau salah!” Mir menepuk-nepuk kepala Lizzy lembut, tapi masih dengan ekspresi gelinya. “Oppa akan selalu menemukanmu jika kau bersembunyi seperti ini terus…”

.

.

“Bangunlah, anak kecil…” ledek Mir meraih tangan Lizzy dan membantunya berdiri. Lizzy berdiri tegak dan menundukkan kepalanya. Semburat merah muncul di pipinya. Seiring dengan ledekan-ledekan jahil dari teman-teman sekelasnya.

“Hahaha, kau bersembunyi di bawah sana, Lizzy?” ledek Yonghwa komting kelasnya—atau bahasa mudahnya, ketua kelas di saat kamu kuliah, itulah komting.

“Kau tengah mencari duit receh, Liz?” sambung Hye Jin tertawa geli.

Lizzy menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dan Mir ikut tertawa bersama teman-teman Lizzy. Ugh, adakah momen memalukan yang lebih dari ini? Semua orang menertawakan kebodohan yang baru saja dilakukannya. Rasanya Lizzy ingin mengubur diri dalam-dalam.

“Oppa, kamu kenal sama Lizzy?” Lizzy melihat Sunny dengan ekspresi linglungnya menatap Mir penuh heran. Wajahnya menatap Lizzy dan Mir berganti-ganti. Anak kelas lainnya ikut memandang Mir penuh ingin tahu. Penasaran ada hubungan apa seorang member Mblaq dengann Lizzy hingga sampai mengetahui namanya?

Mir tersenyum menanggapi pertanyaan Sunny. Dan Lizzy menahan napas mendengar pertanyaan spontan temannya itu.

“Oppa, kamu siapanya Lizzy?” tanya Sunny lagi. Semakin penasaran.

Lizzy terdiam. Menatap Mir yang juga tengah menatapnya.

‘Oppa, kamu siapanya Lizzy?’. Benar, Mir itu siapanya Lizzy? Atau lebih tepatnya, pertanyaan itu seharusnya berbunyi, ‘Lizzy, Mir itu siapanya kamu?’

“Dia…” Mir mengeluarkan senyum hangat miliknya, yang bisa membuat semua gadis terpesona dengan wajah innocentnya. Dan Lizzy merasa semua gadis di kelasnya, yang tadinya terpesona, kini menjadi terpana saat melihat tangan Mir merangkul bahu Lizzy dan mengacak-acak rambut Lizzy gemas. “…Lizzy itu orang yang penting untukku saat ini, tahu?”

……….

………………..

Oppa bodoh!

Lizzy mendengar teriakan kaget dari teman-temannya dan ekspresi tak percaya tergambar diwajah mereka. Tepatnya, ekspresi iri yang teramat sangat dalam.

“Boleh aku meminjamnya pergi?” tanya Mir lagi. Erangan tak terima menggema di sekeliling. Tapi Mir tampaknya cukup tak tahu malu dan justru menikmati saat-saat ini. Dasar pria absurd—apa semua pria memang absurd?

“Aku ada kuliah sehabis ini, Oppa.” Tolak Lizzy. Mir meremas bahu Lizzy pelan. Menatap gadis itu lekat-lekat.

“Kau bisa bolos dan akan kuabsenkan.” Suara Sunny membuyarkan tatapan Mir. Mir menoleh ke gadis itu dan tersenyum lega. “Terima kasih, kau teman Lizzy yang baik.”

Dan Lizzy melihat Sunny tersenyum penuh malu. Ughhh.

.

.

.

.

Mir melemparkan tas Lizzy ke jok belakang. Mempersilahkan gadis itu naik ke mobil dan duduk di jok penumpang. Hari ini Mir membawa mobil sedan kecil, bukan mini van seperti kemarin. Bisa Lizzy tebak, ini adalah mobil pribadi milik Mir.

“Ini mobilku sendiri. Jadi tidak perlu pakai sopir.” Tuh benar kan tebakan Lizzy barusan.

Lizzy tersenyum masam. “Kau membuat kehebohan di kampusku, Oppa.”

“Apa kau tidak menerima sms dari Hongki?” Mir mengalihkan pembicaraan.

“Eum?” Lizzy mengernyit tak mengerti.

“Kau sudah mengecek hape-mu?” Mir kembali bertanya.

Lizzy menggelengkan kepala dan mengeluarkan hapenya dari kantung celana. Lizzy bukan tipe gadis yang suka menenteng hape tiap detiknya, tidak ada seseorang yang perlu ditunggui untuk mengirimkan sms padanya.

“Tadi aku mendapat telepon dari dokter Park Kyusang. Dia bilang hari ini Hongki memaksa ijin keluar dari rumah sakit untuk pergi ke suatu tempat bersamamu. Apakah Hongki ada meng-sms mu?”

Ucapan Mir membuat Lizzy langsung mengecek hapenya. Dan benar saja, ada satu buah sms dari nomor tak dikenal yang masuk ke hapenya. “Bagaimana Hongki bisa tahu nomorku?”

“Kemarin kau mengisi formulir dari rumah sakit kan? Hongki meminta suster mengambilkannya untuk melihat nomor hapemu.” Jelas Mir. Lizzy termangu. Kemarin dia memang mengisi formulir sejenis formulis pertanggung jawaban terhadap kesehatan Hongki—Lizzy baru tahu ada formulir seperti itu. Lizzy mengisinya tanpa pikir panjang.

Lizzy, ini kamu? Ah, aku tidak menemukan nomormu di daftar hapeku. Ini kesalahanku, maaf! Tapi bisakah kau datang ke tempat pertama kali kita datangi setelah kau memberiku album foto di hari ulang tahunku? Aku ingin bermain bersamu, serius! Cepat datang atau kita PUTUS!

Pertama kali Lizzy membaca sms itu, dia tersenyum. Hongki meminta maaf karena tidak mengetahui nomornya, hal yang sebenarnya tidak perlu Hongki lakukan. Karena toh sebenarnya Hongki tidak mengenal Lizzy, jadi otomatis dia tidak pernah mengetahui nomor hape Lizzy sebelumnya.

Sayangnya setelah membaca sms itu sampai akhir, wajah Lizzy mendadak berubah pucat.

……..tempat pertama kali dia dan Hongki datangi setelah hari ulang tahun Hongki?

Ngg… mungkin maksudnya tempat pertama kali dia dan Mir datangi setelah hari ulang tahun Mir?

“Ada apa? Ada sms dari Hongki?” tanya Mir yang masih fokus pada jalanan di depannya. Mobil yang mereka naiki perlahan meninggalkan halaman kampus. “Aku menjemputmu untuk mengantarkanmu ke tempat janjianmu dengan Hongki. Jadi katakan, dimana kalian janjian?”

Lizzy menelan ludah dengan berat. Ditatapnya Mir dengan gamang.

“Aku sudah lupa, Oppa…” desis Lizzy parau. Mir langsung memandangnya bingung.

“Lupa apa?” alis Mir bertaut. Tapi wajahnya tetap menatap ke depan.

Lizzy terdiam. Kenangan tiga tahun seperti berputar-putar kembali di otaknya. Berputar seperti komedi putar dan membuatnya pusing.

Hal yang perlu diketahui—tapi Lizzy tidak akan mengakuinya di depan Mir atau siapapun—Lizzy sudah mulai melupakan kejadian dia selama tiga tahun. Semenjak dia lulus, semua kenangan SMA berusaha dia kubur dalam-dalam, dia berusaha mengaburkan otaknya dari semua tempat bersejarah di masa SMA nya. Memang tidak semua berhasil dilupakan Lizzy, masih tersisa sedikit-sedikit memori yang masih dia ingat.

Tapi jujur, masalah kenangannya bersama Mir sudah hampir terlupakan semua. Dan jika tadi Hongki sms untuk datang ke tempat pertama kali Lizzy kunjungi setelah hari ulang tahun, LIZZY SAMA SEKALI TIDAK INGAT TEMPAT APA ITU!!

“Aku lupa…” Lizzy masih terus berdesis, membuat Mir semakin kebingungan.

“Lupa apa?”

Lizzy menarik napas dalam-dalam. “Hongki mengirimku sms untuk bertemu di tempat pertama kali kita bertemu setelah hari ulang tahun dan aku memberikannya album foto.” Lidah Lizzy terasa kelu mengucapkan kalimat demi kalimat. “… tapi, Oppa… aku lupa dimana tempat kita bertemu, aku melupakannya.”

Ckkitttt.

Bruk.

Mir langsung mengerem mobilnya mendadak. Kepalanya membentur setir mobil. Dan Lizzy terantuk dasbor mobil dengan suksesnya, sakit, dan jidatnya langsung berdenyut seketika.

Mir menatap Lizzy dengan pandangan yang sulit diartikan. Pria itu menelan ludah dan bertanya pada Lizzy dengan suara serak, “jadi kau melupakannya?”

“Oppa, aku…” Lizzy merasa bersalah. Dia menggaruk-garuk kepalanya.

Mir tertawa kering. “Hahaha, jadi hanya aku saja yang mengingatnya?” tanya Mir yang membuat kepala Lizzy menoleh ke arah pria itu.

“Kau mengingatnya, Oppa?” Lizzy tersenyum gembira. “Baguslah, jadi kita tidak perlu berpikir susah-susah dan bisa langsung ke tempat Hongki sekarang—“

BRAK. Tangan Mir memukul setir dengan emosi. Lizzy terlonjak kaget dan terdiam seketika. Rahang Mir mengeras dan matanya menatap tajam ke arah depan. Mobil mereka masih berhenti di tengah jalan, diiringi klakson-klakson dari mobil di belakang yang marah karena mobil mereka mengganggu kelancaran arus lalu lintas.

Mir tampaknya tak perduli. Tangannya mengepal sesaat dan dia mulai bertanya dengan nada aneh, “jadi untung sekali bukan, aku mengingat album foto itu sementara kau melupakannya?”

Lizzy mengerjapkan mata dan menatap manik mata milik Mir dengan datar.

“Jadi sekarang kita bisa ke tempat Hongki berada.” Sambung Mir masih dengan nada suara yang aneh.

Lizzy mengangguk cepat dan tersenyum lebar. “Ya, tentu, Oppa. Ayo sekarang ke sana.” Serunya gembira.

Mir menarik napas panjang dan mulai menyalakan mesin mobil lagi. Lalu menjalankannya dengan kecepatan yang cukup untuk menyaingi mobil-mobil balap di arena pertandingan. Lizzy mengalihkan pandangannya ke depan dan menatap jalanan penuh serius, seakan tengah menatap jalannya pertandingan bola yang bahkan sama sekali tidak dia minati.

Tanpa sepengatahuan Mir, bibir Lizzy membentuk sebuah senyuman tipis, yang cukup tipis hingga tidak ada yang menyadarinya kecuali Lizzy sendiri.

Oppa masih mengingat album sialan itu? Buat apa mengingatnya? Apa Oppa begitu senangnya mengingat masa-masa bersama kita? Padahal aku saja mati-matian berusaha melupakan semua tentang kita.

.

.

.

.

Jadi tempat pertama yang Lizzy dan Mir kunjungi setelah Lizzy memberikan Mir album foto, itu adalah Lotte World?

Dan benar saja, Lizzy melihat Hongki tengah berdiri di pintu masuk sambil mengunyah buah pisang. Tangan kiri namja itu masih diperban, tapi beberapa plester di wajahnya sudah dibuka dan menyisakan memar yang samar-samar terlihat. Lizzy turun dari mobil dan menawarkan Mir untuk ikut bersamanya. Tapi Mir menolak.

“Aku takut Lee Joon akan marah. Kau tahu, tadi saja aku pakai acara kabur untuk menjemputmu dikampus.” Mir tertawa renyah. Lizzy membulatkan mata.

“Kau kabur, Oppa?!”

Mir kembali tertawa. Dia menyerahkan tas Lizzy dan segera pamit pergi.

Lizzy berjalan menuju Hongki yang sepertinya sudah menunggu sedari tadi. Benar saja, begitu melihat Lizzy, Hongki langsung berlari dan memukul kepala gadis itu kesal. Tuk!

“Kau bodoh!” serunya marah.

“Hongki!! Kau apa-apaan sih?!” pekik Lizzy kesal.

“Apakah memang cuma aku yang selalu menunggumu? Kau telat! Dan aku kesal!” seru Hongki lagi.

Lizzy terpana sesaat sebelum akhirnya tertawa kecil. “Oke, oke, oke. Maaf.”

“Tapi aku senang kau ingat bahwa tempat yang kumaksud Lotte World.” Hongki tersenyum sumringah. Dikeluarkannya album foto  berwarna cokelat tua dan diserahkannya ke Lizzy. “Seperti tiga tahun lalu, saat hubungan kita dimulai, ayo kita bermain sepuasnya di sini!!” Hongki menarik tangan Lizzy masuk. Sepertinya luka akibat kecelakaan tidak bisa menahannya untuk tetap bersemangat.

Lizzy tersenyum kecil. Ditatapnya album berwarna cokelat yang kini ada di tangannya. Album yang tadi sempat membuat perbincangan antara dirinya dan Mir menjadi canggung. Album yang menuangkan segala kenangan tiga tahun lalu. Album yang Lizzy benci, kini ada di tangannya.

Lizzy membuka halaman pertama album itu, dua buah foto terpajang disana. Satunya foto Mir, dan satunya lagi foto Lizzy.

Hari ini adalah hari ulang tahunku, orang yang paling aku sayang, orang yang paling menyayangiku, si Lizzy bodoh, memberikan album ini padaku. Dia bilang, aku harus mengisi banyak hal yang aku lewati bersamanya di album ini. Hahaha, ini menarik. :p

Tangan Lizzy gemetar melihat tulisan itu. Melihatnya seakan membuat tubuhnya tersedot kembali ke dimensi tiga tahun lalu. Saat hari ulang tahun Mir, saat Lizzy bingung harus memberikan apa pada kakak kelas yang selalu menolongnya dalam menulis artikel, dan akhirnya memilih membelikan album foto murahan yang sesuai dengan uang jajan Lizzy saat itu. Mir menerimanya dengan senang, sangat senang malah. Dia sampai terlonjak dan memeluk Lizzy erat-erat. Benar-benar seperti anak kecil ala SMA.

‘orang yang paling aku sayang’. Ya, Mir memang menyayangi Lizzy, menyayangi—mengerti kan? Menyayangi sebagai seorang sunbae kepada hoobae? Lizzy sangat mengerti arti kata-kata ‘sayang’. Karena ‘sayang’ itu berbeda dari ‘cinta’. Lizzy tahu apa bedanya karena Lizzy pernah melihat Mir mengucapkan ‘cinta’ pada seorang gadis—yang bukan Lizzy tentunya.

“Tempat ini berbeda dari yang kita datangi tiga tahun lalu ya.” Ujar Hongki menengadah menatap sekeliling arena permainan yang cukup terkenal di Korea itu. Bukan cukup lagi, tapi sangat cukup. Karena yang Lizzy tahu, banyak turis asing berbondong-bondong datang ke sini tiap tahunnya.

Lizzy tersenyum simpul. Merasa bahwa amnesia Hongki sedikit aneh dan unik. Jenis amnesia mana yang hanya mengingat kejadiaan yang dialami oleh orang lain? Hongki hanya mengingat kejadiaan yang dialami Mir tiga tahun lalu. Aneh bukan?

“Sekarang kita ke Lotte World buat bersenang-senang, kau mau main apa?” tanya Hongki berputar-putar layaknya anak kecil. Lizzy sampai heran, seperti Hongki sudah sembuh atau hanya pura-pura saja?

“Menurut kau mau apa?” Lizzy balik tanya.

“Kincir angin!” Seru Hongki bersemangat.

Lizzy menaikkan alisnya tinggi-tinggi. Sebuah kenangan yang dibencinya, kembali menyambar pikirannya. Dan sebuah foto di halaman album yang tengah dipegangnya, terpampang jelas seakan menggambarkan bagaimana nyatanya kejadian tiga tahun lalu di Lotte World.

Hari ini aku ke Lotte World bersama Lizzy. Membuat artikel untuk tempat wisata semenarik ini? Kurasa Lizzy pasti bisa. Dia bodoh, tapi soal artikel yang seperti ini, pasti bisa! Hahaha.

Foto gambar Lotte World tiga tahun lalu itu menggiring Lizzy kembali ke tiga tahun lalu. Di tempat ini. Di Lotte World.

.

.

“Kenapa seonsaengnim menyuruh kita liputan di sini?” tanya Lizzy berputar-putar dengan semangatnya. Memegang kamera pemberian Cho Junhwa, seonsaengnim mereka, dengan erat. Lizzy memakai kemeja tanpa lengan berwarna biru dan rok putih berenda. Rambutnya sengaja dikuncir tinggi, salah satu kebiasannya jika tengah menjalankan tugas liputan.

Seonsaengnim tahu aku kemarin ulang tahun, jadi dia menyuruh kita liputan di sini.” Ucap Mir senang. “Sekalian kita bisa bersenang-senang, gitu katanya.”

“Kita?” Lizzy menatap Mir. “Oppa, kenapa hampir di setiap liputan, aku harus selalu ditemani olehmu?!” geram Lizzy pura-pura kesal.

“Karena kau masih bodoh dalam mengambil gambar yang bagus.” Ledek Mir sambil tertawa-tawa. “Nah, kita sudah sampai di Lotte World. Ada ide mau mengambil fokus artikel tentang apa?”

Lizzy menggeleng. “Tidak ada.”

“Hei, pikirkanlah! Kau ini reporter! Otakmu harus berjalan cepat dan jangan seperti kura-kura!” seru Mir menarik tangan Lizzy berjalan beberapa langkah dan memperhatikan sekeliling Lotte World.

“Kau membuatku tampak seperti wartawan parasut!” Lizzy menyebut istilah ‘wartawan parasut’ yang berarti wartawan yang datang ke TKP untuk meliput tapi tidak tahu apa-apa soal apa yang mau diliputnya.

“Hmmm begitu ya..” Mir mengelus-elus dagunya dan tersenyum menggoda. “Ya sudah, kita main-main saja kalau begitu.”

“Mau main apa, Oppa?” Lizzy mulai tertarik. “Kincir angin?”

Mir berpikir sebentar dan lalu menggeleng cepat. “Aku takut naik kincir angin…” bisiknya yang kontan langsung membuat Lizzy melotot dan tertawa terbahak-bahak.

“BUAHAHAHA, Oppa?! Kau takut kincir angin? Memalukan!”

.

.

“Aku bisa naik kincir angin seratus kali tanpa rasa pusing sedikitpun.” Celoteh Hongki dengan pedenya. Lizzy tertawa pelan.

“Kau tidak takut?”

“Tidak, memang kenapa?” Hongki balik bertanya.

Lizzy menggeleng. “Entahlah. Hanya iseng bertanya.” Lizzy mengikuti langkah Hongki menuju kincir angin—mainan yang ditakuti Mir, tapi sepertinya disukai oleh saudara kembarnya, Hongki.

.

.

.

.

Nama Lee Hongki

Kuliah di Universitas di Jepang.

Jadi Hongki tinggal di Jepang?

Riwayat pendidikan….

Makanan kesukaan… sushi?

Lizzy memperhatikan tulisan-tulisan yang tertera di buku catatan yang diberikan Mir kemarin. Setidaknya Lizzy harus membantu Hongki mengingat kembali walau hanya sedikit-dikit.

“Kau sangat suka pisang ya, Hongki?” tanya Lizzy melihat Hongki lagi-lagi mengeluarkan pisang dari dalam tas selempang yang dibawanya. Hongki mengunyahnya secepat kilat dan lalu mengeluarkan satu buah pisang lagi dari dalam tasnya. Melihat hal itu Lizzy jadi tersenyum geli. Sepertinya Hongki benar-benar kelaparan.

“Mau makan sushi?”

“Sushi?” Hongki terdiam dan memiringkan kepalanya. “sushi itu apa?”

Makanan kesukaanmu, bodoh, ujar Lizzy dalam hati. “Kau akan menyukai sushi.”

“Tidak. Kepalaku sakit jika mendengar kata sushi.” Hongki menggeleng. “Sepertinya aku sangat membenci sushi.”

“Kau tidak membencinya kok.” Sahut Lizzy berusaha membujuk.

“Entahlah, aku…” Hongki memegangi kepalanya. Tubuhnya terasa limbung hingga menabrak Lizzy.

“Hei, kau kenapa?” Lizzy panik melihat Hongki. Ditahannya tubuh Hongki dan didudukkan di kursi.

“Kurasa aku benci sushi, Lizzy…” Hongki menengadah dan menatap Lizzy lekat. “kupinta jangan mengucapkan kata-kata itu didepanku lagi.”

Lizzy terdiam. Ada sebuah rasa aneh yang menjalar di dadanya melihat tatapan Hongki, tatapan yang sedikit kesepian? Sedih? Perih? Entahlah, tatapan yang sejenis seperti itu pastinya.

“Tapi kau dulu menyukainya.” Bisik Lizzy. “kau menyukai sushi, Hongki…”

Lizzy menyerah saat melihat wajah Hongki semakin pucat. Diliriknya kembali catatan yang diberikan Mir.

Selain sushi, tertulis disitu Hongki menyukai salad.

“Bagaimana kalau kita makan salad?”

“KEPALAKU PUSING!” Hongki menjambak rambutnya kesal dan berdiri dengan gamang. Langkahnya terseret-seret meninggalkan Lizzy yang tercenung sendirian.

“Lantas kau menyukai apa, Hongki? Aku bingung sekarang…” gumam Lizzy lirih seraya meremas catatan ditangannya.

.

.

.

.

Makanan kesukaanku dan si Lizzy: Sandwich! Dan entah mengapa aku suka sandwich pisang dan Lizzy tetap dengan sandwich daging sapi miliknya.

Lizzy menghela napas panjang. Hongki tengah mengunyah sandwich berisi pisang dengan lahapnya. Sementara Lizzy menatap gambar di dalam album foto berwarna cokelat dengan perasaan campur aduk. Antara bingung dan gamang.

Tuhan mungkin memang tengah mengutuknya.

Hongki sekarang semakin mirip Mir, menyukai sandwich pisang. Ini membuatnya sesak.

“Kau makan cepat, atau aku akan menghabiskan sandwichmu!” ancam Hongki saat dilihatnya Lizzy terus termangu dan tak menyentuh sandwich sedikitpun. “Aku harus pulang jam satu. Dokter dan suster di rumah sakit pasti kangen padaku. Hari-hari di rumah sakit akan sepi jika tanpaku.” Cerocos Hongki panjang lebar.

“Oh, ya?” tanya Lizzy teringat wajah cemas dokter yang dia temui tempo hari. Mengingat ucapan dokter yang sepertinya kalang kabut mengurus Hongki. Lizzy rasa pihak rumah sakit justru lega jika Hongki menghilang dari rumah sakit. “Baiklah, Hongki. Setelah ini kita kembali ke rumah sakit.”

.

.

.

.

-to be continued-

annyeong ini Sophie. Terima kasih bagi readers yang udah mengikuti cerita neorago sampai part ini. aku mengucapkan kamsahamnida sebanyak2nya. di komen ya dikomen, hihi. apakah ada yang kurang? eung…. saya pusing sekali membuat ff ini, arghhh!!! *banting Mir* haha

no silent readers

i hate it

with love,

Sophie

22 thoughts on “[FF/chapter/S/PG-19/난 너뿐이라고: Part 2]

  1. Kyknya si mir suka ama lizzy deh apa dia ngerasa gk adil gitu gara” cuman dia doang yg inget ama kenangan 3 taun yg lalu aduuh si mir untung temen” lizzy baek” semua kalo ada yg bully dia gmn coba -_- si hongki amnesia nya absurd beneran masa’ iyaa dia malah seolah” jadi mir coba aja si mir amnesia abis tu paling dia seolah” jd hongki kali yaaa wkwk

  2. I’m back eonn^^ Hongki aneh bgt–” gara-gara liat album foto itu aja langsung mikir Lizzy pacarnya?? Kikikii padahal Lizzy awalnya juga engga tau sapa Hongki. Kabur dulu ya eonn

  3. hai unnie, aku datang lagi(?)
    cie mireu marah lijjinya lupa u.u

    aneh ya, kok kayaknya sebagian jiwa Mir pindah ke hongki😐
    apa cuma gara-gara hongki ngeliat album foto itu jadi dia semacam tersugesti(?)?
    anyway unn, hongki juga lupa kalo dia punya sodara kembar? .-.

  4. pantes aja kamu cinta banget ma ff ini.
    Bagus banget!
    nyesek nya si Lizzy, kesepiannya hongki, kemarahannya Mir.
    Semuanya terasa.

    FF romance nya berhasil deh soph.
    semoga nanti ketika cast nya yesung juga bisa sebagus ini ya…
    Amiin…😀 *dikemplang*

    speechless aku nya soph…
    Bukannya ga mau komen, tapi ga tau mau komen apa lagi.😀

    SEKIAN…
    DAN…
    DAEBAK!!!

  5. Apa Mir ingin meminta bon hutang makan bersamanya kemarin malam? —itu tidak mungkin. Mir bukan orang yang seperti itu.

    apa ini apa ini ditengah keromantisan saya membaca ada kata2 yang membuat saya terbahak-bahak .. hahahahha

    sumpah deh sop … mosok si lizzy bisa mikir kaya gitu ,, hahahaha aje gile dehh

    ceritanya makin unik ,,
    kenapa hongki ga suka sushi ama salad malah sukanya sama pisang??
    pasti ada rahasia dibalik rahasia .. hahahaha

    lanjut next chap ahhh

  6. YA AMPUN HONGKI TUH APAAN SIH!
    TERLALU KEKANAK-KANAKAN JANGAN-JANGAN DIA MERASA MASIH USIA PLAYGROUP KALI YA? *DITAMPOL HONGKI*
    HMM~
    MIR LO BAKALAN NYESEL MIR!
    GUE KASIH TAHU YAH SEKALI LAGI LO BAKAL NYESEL!
    LO HARUS INGAT ITU MIR!
    LO NTAR KEHILANGAN LIZZY MIR! KEHILANGAN! *ALA FITROP*
    HAHAHA😄
    KOK JADI KEA MONKEY GITU YA MAKANAN FAVORITNYA PISANG KKK~
    ASIK BANGET TUH LOTTE WORLD AH, GUE PENGEN >.<
    SUNNY!? ITU ADA SUNNY!? JANGAN BILANG NTAR DIA JADI AMA JOON!?
    GUE BUNUH LO SOPH KALO HAL ITU SAMPER TERJADI!
    *NODONG PAKE PISANG*
    SNSD -,-
    NICE FF SOPH LANJUT!

    -SEKIAN-

    • OH FITROP DI SINI LU
      PANTES GUE CARIIN DI TRANS TIVI KAGAK ADA

      YA GUE GA TAU NIH CHING SIAPA YANG BAKAL NYESEL NANTI
      HONGKI , MIR, LIZZY ATAU JUSTRU HEECHUL. HAHAHAHAAHA

      IYA MAKANAN KESUKAAN HONGKI PISANG SIH , GA TEGA MISAHIN DIA SAMA PISANG HAHAHAHA

      SUNNY NTARAN JADIAN AMA JOON AH HAHAHAHAHAHA *DITABOK*

      WAH LIAT AJA YAAA AKU KOK GA ADA NIAT BIKIN JADIAN2 GITU YAAA BUAHAHAHAHAA SUNNY IS MINE *YURI KUMAT*

  7. I’M HERE !!!
    Part 2nya keren!! suka bgt ama bagian di mana Mir keLihatan cmburu, Mir suka ama Lizzy sbg cwek tp bkn sbg adik ya?? hayooooooooo~
    nyahahah~
    btw~ emg beneran yaa~ nma.a Mir?? tanggung bgt gitu ye kedengaran.a kkk #PLAKK!

    dan seperti biasa si Hongki sabLengnya keLewatan ckckckck …
    ksihan suster.a kkk

    • onnie sayangg!!! hihihi iya makasih ya
      uhh si Mir cemburu ga ya? hahahaha, ada deh ada dehhhh

      nama aslinya bang… siapa ya? lupa onn… bukan mir nama aslinya. aku lupa nama aslinya, habis agak aneh sih namanya hehehehe

      dan hongki always setipe sama icul hihi

  8. akhirnya part 2 keluar jugaaa =]
    btw, btw, itu si lizzy amnesia juga apa yakk? masa ga inget ama kejadian masa lalu gitu, smpe ga inget dimana pertama kali ia ketemu si mir?
    cocok deh kalo gitu si hongki ama lizzy, amnesia couple (?) XDD
    ngakak aku pas lizzy sembunyi di bawah meja, ahahaha, lucuuu x3
    si hongki apalagi deh, kalo diingetin tentang dirinya yang asli malah kepalanya sakitt, terus gimana dong caranya ngembaliin ingatannya hongki yang asli?
    yang ada bukannya ntar hongki malah ingetnya dia itu mir..
    sabar yah lizzy ngehdepin orang kaya gitu😄
    lanjuuttt yaahhh…
    sekian komen gaje dari saya *sibak rambut ala syahrini (?)* =D

    • *sibak rambut ala rosalinda*
      jiahhhh kenapa tren sibak rambut jadi merebak akhir2 iniii??? hahaha

      hhehehe kan udah di jelasin si lizzy itu udah berusaha cuci otak sama masa lalu nya. dia trauma sama kejadian masa lalunya. gitu onn

      pasangan amnesia? hahaha boleh juga

      yup sabar lizzy meghadapi orang seperti itu. oke ntar tak lanjut tapi kayaknya aga lama. nih mood ku mendadak turun drastis onn hehehe

      sekian balasan dari saya
      jamaah oi jamaah

      *sibak rambut lagi*

  9. HIYAAAA…. PART 2 KELUAAAARRR

    Lizzy bego amat ya? #plak. dilempar ke jurang
    Hongki ini makin kacau dah. lama2 jiwanya ketuker ama Mir. #inget drama Secret Garden dah. wkwkwkwkw

    Kenapa dirimu membuat FF Romance begini seru??? #oke komen gaje…

    Mian! #ala Suzy
    Nyolong baca lagi. wkwkwkw

    • hahahaha part nya udah keluar dari kemarin sih nyonyaaaa hehehe

      lizzy bego? u.u dia pan sodara kembar saya
      masa anda katain bego???

      hahaha tapi dia emang bego sih *plakplakplak*

      hongki pan absurd
      udah saya bilang dia absurd
      jadi jangan kaget kalo di sini sikapnya absurd
      *sibak rambut*

      hahaha
      kayak secret garden?? hihihi jadi inget hyunbin pake bra #inget.yang.nggak.nggak

      serukah? aku kira malah guaaajjeeee kekekekkekk

      oke, MIAN BALIK! *suzy mode on juga*

      dan anda nyolong tepat di saat saya publish ini link di fb . hahaha

      • aq ga bilang anda bego…. aq cuma bilang Lizzy. #ngeles.

        haduh! masak adegan ntu masih diinget mulu sih? ckckcck….. Hyubin cocok noh kalo tongkrongannya bukan di Caffe lagi tapi di Taman Lawang. #jangan tanya itu tempat apa. wkwkwkw #dilempar.

        aq khan baru baca semalem. wkwkwkw… walau koneksi lemot tapi masih jalan. wkwkwkw

      • DASAR! HAHAHAH

        iya adegan itu kan adegan berhargaaa hahahaha

        di taman lawang? pasti sejenis taman KB di semarang, hahaha

        uh oh gitu kamu internet pake apa sih??? kok sepertinya sangat lemot hahahaha xD

  10. mau koreksi dikit, itu dibagian pas Mir ngomong “Kemarin kau mengisi formulir dari rumah sakit kan? Hongki meminta suster mengambilkannya untuk melihat nomor hapemu.” Jelas Hongki.
    harusnya kan jelas Mir hoho

    si hongki amnesianya aneh benjet ya. konyol juga /plak
    oya, author emg suka nulis dengan bahasa yg santai ya? hihi

    • ah iya itu lupa! hihi kamsahamnida udah ingetin. ini udah ku edit kok ^^

      eum, hongki kan aneh, ya wajarlah kalo dia amnesia juga aneh

      iya aku suka nulis bahasa sante, biar mudah dicerna aja🙂

Just talking...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s